((
Un
Un ca
carr ia gambie
ia gambier
r
R.) DARI FASE ETIL ASETAT
R.) DARI FASE ETIL ASETAT
TERHADAP MENCIT PUTIH JANTAN SECARA
TERHADAP MENCIT PUTIH JANTAN SECARA
II N V
N VI V O
I V O
SKRIPSI
SKRIPSI
Diajukan sebagaDiajukan sebagai salah satu syari salah satu syarat untuk at untuk memperolememperoleh gelar Sarjana Fh gelar Sarjana Farmasi (S. Fararmasi (S. Far))
Disusun Oleh : Disusun Oleh : DEVY HILPIANI DEVY HILPIANI NIM : NIM : 107102001521071020015244
PROGRAM STUDI FARMASI PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA JAKARTA
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia Nya penulis dapat menyusun laporan skripsi ini hingga selesai. Shalawat dan salam karunia Nya penulis dapat menyusun laporan skripsi ini hingga selesai. Shalawat dan salam tak lupa kami tujukan kepada Rasulullah saw semoga kita sebagai umatnya mendapat tak lupa kami tujukan kepada Rasulullah saw semoga kita sebagai umatnya mendapat syafaat darinya hingga akhir zaman. Penulis sadar bahwa akan banyak terdapat kekurangan syafaat darinya hingga akhir zaman. Penulis sadar bahwa akan banyak terdapat kekurangan dalam penyusunan skripsi berjudul Uji Toksisitas Akut Isolat Katekin Gambir (
dalam penyusunan skripsi berjudul Uji Toksisitas Akut Isolat Katekin Gambir (UncariaUncaria Gambier
Gambier R.) dari Fase Etil Asetat Terhadap Mencit PR.) dari Fase Etil Asetat Terhadap Mencit Putih Jantan Secarautih Jantan Secara In Vivo In Vivo..
Penulis sangat menyadari bahwa laporan skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa Penulis sangat menyadari bahwa laporan skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan
bantuan dari dari berbagai berbagai pihak. pihak. Oleh Oleh karena karena itu, itu, pada pada kesempatan kesempatan ini ini perkenankan perkenankan penulispenulis mengucapkan berjuta-juta terimakasih kepada:
mengucapkan berjuta-juta terimakasih kepada: 1.
1. Motivator terbesar penulis, orang tua tersayang mama Sri Supeni, S.Pd dan bapak M.Motivator terbesar penulis, orang tua tersayang mama Sri Supeni, S.Pd dan bapak M. Hilman yang selalu mengiringi setiap langkahku dengan doa.
Hilman yang selalu mengiringi setiap langkahku dengan doa. 2.
2. Ibu Nurmeilis, M.Si, Apt dan ibu dr. Dyah Ayu Woro Setyaningrum selaku dosenIbu Nurmeilis, M.Si, Apt dan ibu dr. Dyah Ayu Woro Setyaningrum selaku dosen pembimbing yang telah memberikan kesabaran, nasehat,
pembimbing yang telah memberikan kesabaran, nasehat, serta serta dukungan, dukungan, sehinggasehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 3.
3. Prof. Dr (HC) dr. MK Tadjudin, Sp. And sebagai dekan Fakultas Kedokteran dan IlmuProf. Dr (HC) dr. MK Tadjudin, Sp. And sebagai dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 4.
4. Dr. M. Dr. M. Yanis Musdja, Yanis Musdja, M.Sc, Apt M.Sc, Apt selaku ketua selaku ketua Program Studi Program Studi Farmasi UniversitasFarmasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 5.
5. Seluruh dosen beserta stSeluruh dosen beserta staff aff Fakultas Kedokteran dan IlFakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Terimakasih atasmu Kesehatan. Terimakasih atas kerjasamanya.
kerjasamanya. 6.
6. Staff Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas IndonesiaStaff Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 7.
7. Untuk seluruh keluarga besar JOGJA, mbah putri dan (Alm) mbah kakung, bude SriUntuk seluruh keluarga besar JOGJA, mbah putri dan (Alm) mbah kakung, bude Sri Surahmi, pade Subanjar, pade Subono, bude Endang Katmiati, bulik Sri Sureni dan pak Surahmi, pade Subanjar, pade Subono, bude Endang Katmiati, bulik Sri Sureni dan pak Rudi yang telah mendukung penulis baik secara moral maupun materi.
Rudi yang telah mendukung penulis baik secara moral maupun materi. 8.
8. Untuk kakak Untuk kakak – – kakakku Rista Maryani, Novline Angella, Amelia Hidayat, Yuncikakakku Rista Maryani, Novline Angella, Amelia Hidayat, Yunci
Perdani Putri dan Yeni Safitri untuk kesabaran, dukungan dan semangatnya. Perdani Putri dan Yeni Safitri untuk kesabaran, dukungan dan semangatnya. 9.
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia Nya penulis dapat menyusun laporan skripsi ini hingga selesai. Shalawat dan salam karunia Nya penulis dapat menyusun laporan skripsi ini hingga selesai. Shalawat dan salam tak lupa kami tujukan kepada Rasulullah saw semoga kita sebagai umatnya mendapat tak lupa kami tujukan kepada Rasulullah saw semoga kita sebagai umatnya mendapat syafaat darinya hingga akhir zaman. Penulis sadar bahwa akan banyak terdapat kekurangan syafaat darinya hingga akhir zaman. Penulis sadar bahwa akan banyak terdapat kekurangan dalam penyusunan skripsi berjudul Uji Toksisitas Akut Isolat Katekin Gambir (
dalam penyusunan skripsi berjudul Uji Toksisitas Akut Isolat Katekin Gambir (UncariaUncaria Gambier
Gambier R.) dari Fase Etil Asetat Terhadap Mencit PR.) dari Fase Etil Asetat Terhadap Mencit Putih Jantan Secarautih Jantan Secara In Vivo In Vivo..
Penulis sangat menyadari bahwa laporan skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa Penulis sangat menyadari bahwa laporan skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan
bantuan dari dari berbagai berbagai pihak. pihak. Oleh Oleh karena karena itu, itu, pada pada kesempatan kesempatan ini ini perkenankan perkenankan penulispenulis mengucapkan berjuta-juta terimakasih kepada:
mengucapkan berjuta-juta terimakasih kepada: 1.
1. Motivator terbesar penulis, orang tua tersayang mama Sri Supeni, S.Pd dan bapak M.Motivator terbesar penulis, orang tua tersayang mama Sri Supeni, S.Pd dan bapak M. Hilman yang selalu mengiringi setiap langkahku dengan doa.
Hilman yang selalu mengiringi setiap langkahku dengan doa. 2.
2. Ibu Nurmeilis, M.Si, Apt dan ibu dr. Dyah Ayu Woro Setyaningrum selaku dosenIbu Nurmeilis, M.Si, Apt dan ibu dr. Dyah Ayu Woro Setyaningrum selaku dosen pembimbing yang telah memberikan kesabaran, nasehat,
pembimbing yang telah memberikan kesabaran, nasehat, serta serta dukungan, dukungan, sehinggasehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 3.
3. Prof. Dr (HC) dr. MK Tadjudin, Sp. And sebagai dekan Fakultas Kedokteran dan IlmuProf. Dr (HC) dr. MK Tadjudin, Sp. And sebagai dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 4.
4. Dr. M. Dr. M. Yanis Musdja, Yanis Musdja, M.Sc, Apt M.Sc, Apt selaku ketua selaku ketua Program Studi Program Studi Farmasi UniversitasFarmasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 5.
5. Seluruh dosen beserta stSeluruh dosen beserta staff aff Fakultas Kedokteran dan IlFakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Terimakasih atasmu Kesehatan. Terimakasih atas kerjasamanya.
kerjasamanya. 6.
6. Staff Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas IndonesiaStaff Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 7.
7. Untuk seluruh keluarga besar JOGJA, mbah putri dan (Alm) mbah kakung, bude SriUntuk seluruh keluarga besar JOGJA, mbah putri dan (Alm) mbah kakung, bude Sri Surahmi, pade Subanjar, pade Subono, bude Endang Katmiati, bulik Sri Sureni dan pak Surahmi, pade Subanjar, pade Subono, bude Endang Katmiati, bulik Sri Sureni dan pak Rudi yang telah mendukung penulis baik secara moral maupun materi.
Rudi yang telah mendukung penulis baik secara moral maupun materi. 8.
8. Untuk kakak Untuk kakak – – kakakku Rista Maryani, Novline Angella, Amelia Hidayat, Yuncikakakku Rista Maryani, Novline Angella, Amelia Hidayat, Yunci
Perdani Putri dan Yeni Safitri untuk kesabaran, dukungan dan semangatnya. Perdani Putri dan Yeni Safitri untuk kesabaran, dukungan dan semangatnya. 9.
9. Untuk adik Untuk adik – – adikku Ayu Punarsih, Riska Ferdian, dr. Aemsina, Layli alfia dan anak adikku Ayu Punarsih, Riska Ferdian, dr. Aemsina, Layli alfia dan anak
GS (Prita, Bunga, Pia, Ade, Pepe dan Acan) buat doa dan semangat. GS (Prita, Bunga, Pia, Ade, Pepe dan Acan) buat doa dan semangat.
iso, nia, mba and, simpatisan (mba ifti dan silfi) dan ayi (selaku pembimbing ketiga) iso, nia, mba and, simpatisan (mba ifti dan silfi) dan ayi (selaku pembimbing ketiga) sangat berterima kasih untuk kalian semua untuk bantuan, canda dan kesulitan yang sangat berterima kasih untuk kalian semua untuk bantuan, canda dan kesulitan yang kita hadapi bersama.
kita hadapi bersama. 11.
11. CIELO Band Bang BM, Marwah, Ricky, dan Adis makin kompak dan makasih untuk CIELO Band Bang BM, Marwah, Ricky, dan Adis makin kompak dan makasih untuk bantu instal laptop.
bantu instal laptop. 12.
12. Untuk temanUntuk teman – – teman FKIK, NAFTALEN, PASIFIK, PSM UIN Jakarta, ASPI 2007,teman FKIK, NAFTALEN, PASIFIK, PSM UIN Jakarta, ASPI 2007,
ASPI 2008 dan Kosan Al
ASPI 2008 dan Kosan Al – – Mu’Mu’na yang telah mengisi hari-hari ku.na yang telah mengisi hari-hari ku.
13.
13. Semua Semua pihak pihak yang yang terlibat terlibat baik baik langsung langsung maupun maupun tidak tidak langsung langsung yang yang namanya tidak namanya tidak dapat disebutkan satu persatu.
dapat disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kesalahan dalam penyusuna Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kesalahan dalam penyusuna skripsi ini. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi hasil yang lebih skripsi ini. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi hasil yang lebih baik .
baik . Penulis berharap Penulis berharap penyusunan skripsi penyusunan skripsi ini mendatangkan ini mendatangkan banyak manfaat banyak manfaat dan pelajarandan pelajaran bagi semua orang khususnya para pembaca.
bagi semua orang khususnya para pembaca.
Ciputat, 2012 Ciputat, 2012
Penulis Penulis
JUDUL : UJI TOKSISITAS AKUT ISOLAT KATEKIN GAMBIR (Uncaria gambier R.)
DARI FASE ETIL ASETAT TERHADAP MENCIT PUTIH JANTAN SECARA IN VIVO
Katekin yang diperoleh dari gambir (Uncaria gambier R.) memiliki khasiat antiinflamasi, antioksidan, antibakteri, antitumor, dan antivirus. Pengujian toksisitas ini bertujuan untuk menentukan LD50dari katekin yang diberikan secara oral serta pengaruhnya terhadap histopatologi organ hewan uji. Hewan uji berupa mencit putih jantan galur DDY sebanyak 25 ekor yang dikelompokkan menjadi 5 kelompok. Variasi dosis katekin yaitu 1000 mg/kgBB, 2000 mg/kgBB, 4000 mg/kgBB, dan 8000 mg/kgBB serta Na CMC 0,5 % sebagai kontrol. Pengamatan dilakukan selama 24 jam sampai 14 hari meliputi gejala toksik, jumlah hewan yang mati, dan pengamatan histopatologi organ. Pengamatan histopatologi dilakukan setelah pembedahan terhadap hewan uji dan penimbangan organ hati, ginjal, limpa, dan usus. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai LD50sebesar 9141,132 mg/kgBB. Hasil pengamatan histologi menunjukkan gejala patologis pada organ hati dan organ usus pada dosis 8000 mg/kgBB. Hasil analisis data menunjukkan terdapat perbedaan secara bermakna (p ≤ 0,05) pada bobot organ hati dan ginjal.
TITLE : ACUTE TOXICITY TEST ETHYL ACETIC PHASE CATECHIN GAMBIR
(Uncaria gambier R.) ISOLATE ON MALE WHITE MICE
Catechin which is obtainable from gambir (Uncaria gambier R.), known as anti inflammation, antioxidant, antibacterial, antitumor, and antiviral agents. The aim of this toxicity research are looking for catechin’s LD50 by oral administration and its side effect toward animal’s hystopatology and behavior. 25 male white mice which is DDY heritage used as animal research. The mice devided by 5 group. Catechin dosage’s were 1000 mg/kg BB, 2000 mg/kg BB, 4000 mg/kg BB, 8000 mg/kg BB and CMC sodium 0.5% for control group. The test observation was 24 hours to 14 days including toxic symptom, amount of animal death, and observation of microscopic histopatology organ. The observation of microscopic histopatology organ was performed after mice surgical and weighning organ (liver, kidneys, spleen, and intestine). The value of catechin’s LD50 by the experiment is 9141.132 mg/kg BB. The observation of microscopic histopatology organ showed patologic effect on liver and on intestine at 8000 mg/kgBB dose. The result showed liver and kidney have significant of different organ’s weight in 0.05 value of test.
Halaman KATA PENGANTAR ABSTRAK DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DARTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 1.2. Perumusan Masalah 3 1.3. Tujuan Penelitian 3 1.4. Manfaat Penelitian 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tanaman Gambir 4 2.2. Katekin 7 2.3. Hewan Uji 8 2.4. Simplisia 8 2.5. Ekstrak 12 2.6. Uji Tosisitas 14 2.7. Histologi Organ 18 2.8. Potensi Penelitian 22
2.9. Kerangka Konsep Penelitian 23
BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian 24 3.2. Alat dan Bahan Penelitian 24
3.3. Prosedur Penelitian 25
3.4 Alur Penelitian 38
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian 39
4.2. Pembahasan 45
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Hasil Penelitian 50
5.2. Saran 50
DAFTAR PUSTAKA 51
Halaman
Tabel 1. Kategori toksik 15
Tabel 2. Pembagian kelompok dosis 33 Tabel 3. Dosis percobaan pendahuluan 34
Tabel 4. Dosis uji toksisitas 34
Tabel 5. Identifikasi gambir 39
Tabel 6. Uji penapisan fitokimia 40 Tabel 7. Pengujian karakteristik katekin 41
Tabel 8. Uji pendahuluan 41
Tabel 9. Uji toksisitas 42
Tabel 10. Pengamatan tingkah laku 42 Tabel 11. Rata-rata bobot mencit 43 Tabel 12. Rata-rata bobot organ 43 Tabel 13. Pengamatan histopatologi 44 Tabel 14. Perhitungan persentase kadar katekin sampel 61 Tabel 15. Dosis uji pendahuluan 65
Tabel 16. Dosis uji toksisitas 67
Tabel 17. Perhitungan nilai LD50 69
Tabel 18. Bobot badan mencit 77
Halaman
Lampiran 1. Hasil determinasi tanaman 55 Lampiran 2. Sertifikat katekin pembanding 56 Lampiran 3. Skema isolasi katekin gambir (uncaria gambier r.) 57 Lampiran 4. Hasil karakteristik ekstrak 58 Lampiran 5. Skema kerja uji pendahuluan 63 Lampiran 6. Skema kerja uji toksisitas 64 Lampiran 7. Pembuatan bahan uji pendahuluan 65 Lampiran 8. Pembuatan bahan uji toksisitas 67 Lampiran 9. Perhitungan nilai LD50 69 Lampiran 10. Foto
–
foto penelitian 70 Lampiran 11. Pembacaan preparat organ hati 73 Lampiran 12. Pembacaan preparat organ limpa 74 Lampiran 13. Pembacaan preparat organ ginjal 75 Lampiran 14. Pembacaan preparat organ usus 76 Lampiran 15. Penimbangan bobot badan mencit dan organ 77 Lampiran 16. Hasil statistik bobot organ mencit 79PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Upaya menyembuhkan berbagai penyakit terus dilakukan yaitu salah satunya dengan pencarian obat baru, hal ini mendorong para peneliti untuk berusaha menemukannya dengan memanfaatkan tumbuhan asli Indonesia. Di dalam hutan tropis Indonesia diperkirakan terdapat sekitar 30.000 jenis tumbuhan. Diduga dari jumlah tersebut sekitar 9.600 jenis diketahui berkhasiat sebagai obat dan 200 jenis diantaranya merupakan tumbuhan obat penting bagi industri obat tradisional (Sriningsih dkk., 2006).
Salah satu tumbuhan asal Indonesia yang telah digunakan sebagai obat tradisional yaitu Gambir (Uncaria gambier R.). Manfaat gambir adalah sebagai campuran obat, seperti luka bakar, sakit kepala, diare, disentri, obat sariawan, serta obat sakit kulit. Selain itu juga gambir digunakan sebagai pelengkap untuk mengkonsumsi sirih. Saat ini penggunaan gambir berkembang menjadi bahan kebutuhan berbagai jenis industri, seperti industri farmasi, kosmetik, batik, cat, penyamak kulit, bio pestisida, hormon pertumbuhan, pigmen dan sebagai bahan campuran pelengkap makanan (Ermiati, 2004).
Senyawa utama gambir yaitu katekin dapat berperan sebagai antiinflamasi, antioksidan (Gu, 2006), antibakteri, antitumor, dan antivirus (Nakagawa, 2005). Hingga saat ini penelitian senyawa katekin banyak dilakukan untuk menemukan potensi katekin lebih dalam. Oleh karena itu uji toksisitas katekin total gambir perlu dilakukan untuk menilai keamanan dosis obat tradisional yang di uji. Uji toksisitas terdiri atas 2 jenis yaitu : uji toksisitas umum (akut, subakut/subkronis, kronis) dan uji toksisitas khusus (teratogenik, mutagenik, dan karsinogenik) (Depkes RI, 2000).
Tujuan uji toksisitas akut adalah untuk mendeteksi adanya toksisitas suatu zat, menentukan organ sasaran dan kepekaannya, memperoleh data bahayanya setelah pemberian suatu senyawa secara akut dan untuk memperoleh informasi awal yang dapat digunakan untuk menetapkan tingkat dosis yang diperlukan untuk uji toksisitas selanjutnya. Disamping itu data kematian yang diperoleh ditentukan nilai LD50 pada mencit jantan (Ariens, 1986).
Oleh karena itu, diperlukan penelitian uji toksisitas akut dari katekin gambir (Uncaria gambier R.) dengan menggunakan mencit putih jantan galur DDY yang diberikan secara per oral dengan metode Probit. Setelah pemberian obat tersebut, diperlukan pengamatan lebih lanjut untuk mengetahui perubahan bobot badan dan histopatologis organ mencit putih jantan. Evaluasi yang dilakukan tidak hanya mengenai LD50, tetapi juga
1.2 Perumusan Masalah
1. Apakah katekin gambir (Uncaria gambier R.) memiliki efek toksik terhadap organ mencit putih jantan ?
2. Berapakah nilai LD50 katekin gambir (Uncaria gambier R.) yang diberikan per oral pada mencit putih jantan ?
3. Bagaimana pengaruh katekin gambir (Uncaria gambier R.) terhadap perubahan tingkah laku dan histopatologi organ mencit putih jantan?
1.3 Tujuan Penelitian
Untuk menentukan toksisitas akut isolat katekin gambir ( Uncaria gambier R.) yang diberikan secara per oral pada mencit putih jantan
dengan penentuan LD50serta pengaruhnya terhadap histopatologi organ.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai toksisitas akut isolat katekin gambir (Uncaria gambier R.) yang dapat bermanfaat dalam penentuan dosis sediaan gambir yang kemungkinan dapat dijadikan sebagai bahan obat sehingga nantinya diharapkan dapat bermanfaat bagi dunia kesehatan.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Gambir (Un cari a gambier R.)
Uncaria gambier R. merupakan spesies tanaman berbunga genus Uncaria dan anggota famili Rubiaceae dan telah terbukti mengandung senyawa-senyawa yang bersifat farmakologi. Spesiesnya terdistribusi secara luas di daerah tropis, yang berbeda-beda tergantung daerahnya. Gambir biasanya digunakan untuk mengatasi diare dan sebagai obat astringent di Negara Asia. Penggunaannya meningkat sebagai pelengkap pengobatan mencegah potensi oksidan, untuk mengurangi kondisi inflamasi dan meningkatkan kondisi kesehatan di negara berkembang (Anggraini, 2011).
2.1.1 Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta Super Divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Sub Kelas : Asteridae Ordo : Rubiales Famili : Rubiaceae Genus : Uncaria
Sinonim : Ourouparia gambir Roxb. Nauclea gambir (Hariana, 2004)
2.1.2 Nama Daerah
Sumatera : Gambe, gani (Aceh), kacu (Gayo), sontang (Batak), gambe (Nias), gambie (Minangkabau), pengilom, sepelet (Lampung).
Jawa : Santun, Gambir (Jawa), ghambhir (Madura). Kalimantan : Kelare (Dayak), abi (Kayan).
Sulawesi : Gambere (Sangir), gambele (Gorontalo), gambere (Makassar), gaber (Majene).
Nusatenggara : Tagambe (Bima), gamur (Sumba), gabi (Sawu), gambe (Flores), nggame (Roti) (Depkes RI, 1989).
Maluku : Kampir, kambir, ngamir, gaamer, tagabere, gambe. Halmahera : Gabi, gagabere (Hariana, 2004)
2.1.3 Uraian Tanaman
Gambir merupakan ekstrak yang dihasilkan dari daun dan ranting tanaman gambir yang dipanen atau dipangkas setelah tanaman berumur 1,5 tahun dan dilakukan 2 -3 kali setahun dengan selang waktu 4
–
6 bulan. Pangkasan daun dan ranting harus segera diolah karena jika pengolahan ini ditunda lebih dari 24 jam, volume getahnya akan berkurang (Hayani, 2003).Gambir berasal dari tumbuhan perdu yang membelit dan memiliki batang keras. Tinggi 1-3 cm. Batang tegak, bulat, percabangan simpodial warna cokelat pucat. Daun tunggal, berhadapan, bentuk elips, tepi bergerigi, pangkal bulat, ujung meruncing,
panjang 8-13 cm. lebar 4-7 cm, warna hijau. Bunga majemuk, bentuk lonceng, di ketiak daun, panjang lebih kurang 5 cm, mahkota 5 helai berbentuk lonceng, tongkol-bulat, terdiri dari bunga kecil-kecil yang berwarna putih. Buah berbentuk bulat telur, panjang lebih kurang 1,5 cm berwarna hitam (Haryanto, 2009).
2.1.4 Makroskopik
Umumnya berbentuk kubus tidak beraturan atau agak silindrik pendek. Kadang-kadang bercampur dengan bagian-bagian yang remuk, tebal 2 cm sampai 3 cm, ringan, mudah patah dan berliang renik-renik, warna permukaan luar coklat muda sampai coklat tua kemerahan atau kehitaman, warna permukaan yang baru dipatahkan coklat muda sampai coklat kekuningan, kadang-kadang terlihat garis-garis yang lebih gelap (Depkes RI, 1989).
2.1.5 Mikroskopik
Dilihat dalam kloralhidrat terlihat adanya pollen, sel batu besar, dinding agak tipis, lumen besar atau kadang-kadang kecil memanjang, lumen sempit. Sel parenkim besar, dinding tipis. Hablur kalsium oksalat bentuk jarum dan bentuk prisma. Rambut penutup terdiri dari satu sel ujung runcing (Depkes RI, 1989).
2.1.6 Kandungan Kimia
Menurut Thorpe dan Whiteley, senyawa utama yang terkandung dalam gambir adalah pseudotanin katekin dan phlobatanin asam katekutanat dengan persentase masing-masing yaitu 7-30% dan 22-55%. Adanya perbedaan kadar katekin pada gambir dipengaruhi oleh kondisi daun yang diekstrak. Daun gambir muda memiliki rendemen ekstrak lebih tinggi daripada daun tua. Komponen yang terdapat dalam gambir yaitu katekin 7-33%, asam katekutanat 20-55%, pyrocathecol 20-30%, gambir fluoresensi
1-3%, red catechu 3-5%, quersetin 2-4%, fixed oil 1-2%, lilin 1-2% dan sedikit alkaloid (Amos, 2010).
2.1.7 Manfaat Tumbuhan
Gambir dapat merangsang keluarnya getah empedu sehingga membantu kelancaran proses di perut dan usus. Fungsi lain gambir adalah sebagai campuran obat, seperti sebagai luka bakar, obat sakit kepala, obat diare, obat disentri, obat kumur-kumur, obat sariawan, serta obat sakit kulit (dibalurkan), penyamak kulit, dan bahan pewarna tekstil untuk industri batik. Selain itu juga gambir digunakan penduduk sebagai ramuan untuk mengkonsumsi sirih dan obat untuk sakit perut. Saat ini berkembang menjadi bahan kebutuhan berbagai jenis industri, seperti industri farmasi, kosmetik, batik, cat, penyamak kulit, bio pestisida, hormon pertumbuhan, pigmen dan sebagai bahan
campuran pelengkap makanan sehingga mulai diekspor besar-besaran (Ermiati,2004).
2.2 Katekin
Katekin (C15H14O6) merupakan ekstrak dari gambir yang berpotensi sebagai anti inflamasi, antioksidan, antibakteri, antitumor, dan antivirus (Nakagawa, 2005). Katekin bersifat asam lemah (pKa1 = 7,72 dan pKa2 = 10,22), larut dalam alkohol dingin, etil asetat, air panas serta asam asetat glacial dan aseton. Katekin relatif sukar larut dalam air dingin dan ester. Tidak larut dalam CHCL3, metil eter, dan benzene. Sangat tidak stabil di udara terbuka. Katekin bersifat mudah teroksidasi pada pH mendekati netral (pH 6,9) dan lebih stabil pada pH rendah (2,8 dan 4,9). Katekin juga bersifat mudah terurai oleh cahaya dengan laju reaksi lebih besar pada pH rendah (3,45) dibandingkan pH 4,9 (Lucida dkk, 2006). Katekin terdiri dari katekin (C), epikatekin (EC), epikatekin galat (ECG), epigalokatekin (EGC) dan epigalokatekingalat (EGCG) (Zaveri, 2005 ).
2.3 Hewan Uji
Dalam pengujian toksisitas akut katekin gambir ini menggunakan hewan yaitu mencit putih jantan.
Kingdom : Animalia Class : Mamalia Ordo : Rodentia Sub ordo : Myomorpha Familia : Muridae Sub famili : Murinae Genus : Mus
Species : Mus muculus L
Galur : DDY (Deutsch Denken Yoken)
2.4 Simplisia
Keberadaan simplisia atau sumber bahan baku obat tradisional di Indonesia cukup melimpah di setiap daerah tumbuh tanaman obat. Pemilihan simplisia yang mutunya baik merupakan langkah awal yang harus diperhatikan untuk menjamin mutu suatu obat tradisional. Masing-masing industri obat tradisional hendaknya mempunyai standar minimal untuk simplisia yang digunakan untuk memberi keyakinan akan kebenaran dan kualitas simplisia yang diperoleh (Depkes RI, 1999).
Simplisia ada yang lunak seperti rimpang, daun, dan akar kelembak. Ada yang keras seperti biji, kulit kayu, kulit akar. Simplisia yang lunak mudah ditembus oleh cairan penyari, oleh karena itu pada penyarian tidak perlu diserbuk sampai halus. Sebaliknya pada simplisia yang keras perlu dihaluskan terlebih dahulu sebelum dilakukan penyarian.
Faktor yang mempengaruhi kecepatan penyarian adalah kecepatan difusi zat yang larut melalui lapisan-lapisan batas antara cairan penyari dengan bahan yang mengandung zat tersebut.
Zat aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan ke dalam alkaloid, glikosida, flavonoid dan lain-lain. Struktur kimia yang berbeda-beda akan mempengaruhi kelarutan serta stabilitas senyawa terhadap pemanasan, logam berat, udara, cahaya dan derajat keasaman. Dengan diketahuinya zat aktif yang dikandung simplisia akan mempermudah pemilihan cairan penyari dan cara penyarian yang tepat (Depkes RI, 1999).
2.4.1 Pengelolaan Simplisia
a. Pengumpulan Bahan Baku
Tahapan pengumpulan bahan baku sangat menentukan kualitas bahan baku. Faktor yang paling berperan dalam tahapan ini adalah masa panen. Berdasarkan garis besar pedoman panen, pengambilan bahan baku tanaman dilakukan sebagai berikut
(Gunawan, 2004) :
Daun dan Ranting
Panen daun atau herba dilakukan pada saat proses fotoseintesis berlangsung maksimal, yaitu ditandai dengan saat-saat tanaman mulai berbunga atau buah mulai masak. Untuk pengambilan pucuk daun, dianjurkan dipungut pada saat warna pucuk daun berubah menjadi daun tua.
b. Sortasi Basah
Sortasi basah adalah proses pemilahan hasil panen ketika tanaman masih segar yang dilakukan terhadap tanah, kerikil, rumput-rumputan, bahan tanaman lain atau
bagian lain dari tanaman yang tidak digunakan, dan bagian tanaman yang rusak yang terdapat dalam simplisia. Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing lainnya dari bahan simplisia (Gunawan, 2004).
c. Pencucian
Pencucian simplisia dilakukan untuk membersihkan kotoran yang melekat, terutama bahan-bahan yang berasal dari dalam tanah dan juga bahan-bahan yang tercemar pestisida. Pencucian bisa dilakukan dengan menggunakan air yang berasal dari mata air, sumur dan PAM.
Pencucian yang dilakukan dengan mata air harus memperhatikan kemungkinan pencemaran yang diakibatkan oleh adanya mikroba dan pestisida. Pencucian yang
dilakukan dengan air sumur perlu memperhatikan pencemaran yang mungkin timbul akibat mikroba dan air limbah buangan rumah tangga. Pencucian yang dilakukan dengan air PAM (ledeng) sering tercemar oleh kapur klor (Cl). Sebelum pencucian terkadang diperlukan proses pengupasan kulit luar, terutama untuk simplisia yang berasal dari kulit batang, kayu, buah, biji, rimpang dan bulbus (Gunawan, 2004).
d. Pengubahan bentuk
Tujuan pengubahan bentuk simplisia adalah untuk memperluas permukaan bahan baku. Semakin luas permukaan bahan baku, maka akan semakin cepat kering. Proses pengubahan bentuk meliputi perajangan untuk rimpang, daun dan herba; pengupasan untuk buah, kayu, kulit kayu, dan biji-bijian ukuran besar; pemiprilan untuk biji-bijian; pemotongan untuk akar, batang, kayu, kulit kayu dan ranting; dan penyerutan untuk kayu
e. Pengeringan
Tujuan proses pengeringan simplisia, yaitu untuk menurunkan kadar air agar simplisia tidak mudah ditumbuhi kapang dan bakteri, untuk menghilangkan aktivitas enzim yang dapat mengurai lebih lanjut kandungan zat aktif, dan memudahkan pengelolaan proses selanjutnya dalam hal mudah disimpan dan lebih tahan lama. Hal-hal yang perlu diperhatikan selama proses pengeringan adalah suhu pengeringan, kelembapan udara, aliran udara, waktu pengeringan, dan luas permukaan bahan (Gunawan, 2004).
f. Sortasi kering
Sortasi kering adalah pemilihan bahan setelah mengalami proses pengeringan. Pemilihan dilakukan untuk memisahkan benda-benda asing seperti bahan-bahan yang rusak, benda-benda asing yang tertinggal atau dari kotoran-kotoran (Gunawan, 2004). g. Penyimpanan
Setelah mengalami proses pengeringan dan sortasi kering, maka simplisia perlu ditempatkan dalam suatu wadah tersendiri agar tidak saling bercampur antara simplisia satu dengan yang lainnya. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam proses penyimpanan simplisia, yaitu cahaya, oksigen atau sirkulasi udara, reaksi kimia yang mungkin terjadi antara kandungan zat aktif tanaman dengan wadah, kemungkinan terjadinya dehidrasi, dan pengotoran atau pencemaran baik yang disebabkan oleh serangga, kapang atau hewan lain.
Untuk persyaratan wadah yang akan digunakan sebagai pembungkus simplisia adalah harus inert, artinya tidak mudah bereaksi dengan bahan lain, tidak beracun,
mampu melindungi bahan simplisia dari cemaran mikroba, kotoran, serangga, penguapan kandungan aktif serta dari pengaruh cahaya, oksigen dan uap air (Gunawan, 2004).
2.4.2 Pemeriksaan Mutu Simplisia
Dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan organoleptik (makroskopik), pemeriksaan mikroskopik (anatomi histologi simplisia), memisahkan bahan organik lain, pemeriksaan cemaran mikroba, cemaran jamur dan cemaran pestisida. Faktor-faktor yang harus diperhatikan sehubungan dengan pemeriksaan mutu simplisia, yaitu simplisia harus memenuhi persyaratan umum dari pustaka resmi, tersedia contoh sebagai simplisia pembanding dalam jangka waktu tertentu, harus dilakukan pemeriksaan mutu lengkap
dan fisik simplisia, Untuk memperoleh prosedur baku ketersediaan dan pengerjaan bahan yang memenuhi persyaratan umum maka harus didapat dari sumber-sumber resmi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI (Gunawan, 2004).
2.5 Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan cair yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukakn sedemikian sehingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Depkes RI, 1995).
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Simplisia yang akan diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang tidak dapat larut dan mempunyai struktur kimia yang berbeda-beda yang dapat mempengaruhi kelarutan
dan stabilitas senyawa-senyawa tersebut terhadap suhu, udara, cahaya, dan logam berat (Depkes RI, 2000).
2.5.1 Ekstraksi dengan Menggunakan Pelarut a. Cara dingin
1). Maserasi
Suatu metode ekstrak menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar). Secara teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian konsentrasi pada keseimbangan. Maserasi kinetik berarti dilakukan pengadukan yang kontinu (terus menerus). Remaserasi berarti
dilakukan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama dan seterusnya.
2). Perkolasi
Proses ekstraksi dengan pelarut yang baru sampai sempurna (exhaustive extraction) yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan. Proses terdiri dari tahapan pengembangan bahan, tahap maserasi antara, tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak), terus menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) yang jumlahnya 1-5 kali bertahan.
b. Cara panas
1). Refluks
Proses ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik. Umumnya dilakukan pengulangan proses pada residu pertama sampai 3-5 kali sehingga dapat termasuk proses ekstraksi sempurna.
2). Soxhlet
Proses ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
3). Digesti
Proses maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan (kamar), yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40
–
50oC. 4). InfusProses ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur penangas air (bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih, temperatur terukur 96-98oC selama waktu tertentu (15
–
20 menit).5). Dekok
Proses
infus pada waktu yang lebih lama ≥ 30
menit dan temperatur sampai titik didih air (Depkes RI. 2000).2.6 Uji Toksisitas
Pemeriksaan toksisitas diperlukan untuk mengetahui berapa dosis yang dapat menyebabkan keracunan sehingga dapat diketahui jumlah penggunaan dosis yang tepat. Tingkat dosis yang dapat menyebabkan keracunan ditentukan dengan Letal Dosis 50 (LD50). LD50 adalah dosis dari suatu bahan yang menyebabkan 50% kematian dalam suatu populasi. Dengan melihat hubungan efektifitas dosis dalam bentuk rasio LD50, maka dapat diketahui batas keamanan pemakaian suatu zat atau obat. Semakin besar nilai
indeks terapi suatu obat, maka semakin aman obat tersebut. Sebaliknya akan semakin berbahaya suatu obat jika indeks terapinya kecil. Uji toksisitas terdiri atas 2 jenis yaitu : uji toksisitas umum (akut, subakut/subkronis, kronis) dan uji toksisitas khusus (teratogenik, mutagenik, dan karsinogenik) (Depkes RI, 2000).
Tabel 1. Kategori Toksik (Lu, 1995)
Kategori LD50
Super Toksik 1 mg/kg atau kurang Amat Sangat Toksik 1 - 50 mg/kg Sangat Toksik 50 - 500 mg/kg Toksik Sedang 500 - 5000 mg/kg Toksik Ringan 5000 - 15000 mg/kg Praktis Tidak Toksik > 15000 mg/kg
2.6.1 Uji Toksisitas Akut
Uji toksisitas akut seringkali disebut sebagai uji jangka pendek atau short term test (STT). Percobaan meliputi single dose experiment yang dievaluasi 3-14 hari sesudahnya. Tujuan uji toksisitas akut adalah untuk mendeteksi adanya toksisitas suatu zat, menentukan organ sasaran dan kepekaannya, memperoleh data bahayanya setelah pemberian suatu senyawa secara akut dan untuk memperoleh informasi awal yang dapat digunakan untuk menetapkan tingkat dosis yang diperlukan untuk uji toksisitas selanjutnya. Disamping itu data kematian yang diperoleh ditentukan nilai LD50 dengan menilai berbagai gejala klinis, spektrum efek toksik, dan mekanisme kematian pada mencit jantan (Ariens, 1986).
Untuk penentuan LD50 ini biasanya menggunakan mencit atau tikus putih yang telah diaklimatisasi terlebih dahulu (Radji, 2004). Kriteria pengamatan yang dilakukan meliputi pengamatan gejala klinis, berat badan, persentase kematian, patologi organ (makroskopik dan mikroskopik) dan juga dilakukan pemeriksaan histopatologis terhadap jaringan atau organ tertentu (Lu, 1995).
2.6.2 Uji Toksisitas Sub Akut dan Kronis
Percobaan ini termasuk uji toksisitas jangka panjang, mencakup pemberian obat secara berulang selama 1-3 bulan untuk percobaan sub akut dan selama 3-6 bulan untuk percobaan kronis. Tujuan dari percobaan toksisitas jangka panjang ini adalah menguji
keamanan obat dengan melalui serangkaian percobaan terhadap hewan.
Pada percobaan toksisitas ini segala perubahan berupa akumulasi, toleransi, metabolisme dan kelainan khusus di organ atau sistem organ tertentu harus dipelajari. Dan pada waktu tertentu sebagian hewan harus dimatikan untuk mengetahui pengaruh bertahap obat terhadap organ (Lu, 1995).
2.6.3 Metode Toksisitas a. Metode Weil, CS
Keterangan :
m = harga LD50
D = dosis terkecil yang digunakan d = log r (kelipatan dosis)
Rentang LD50 dapat ditentukan dengan:
Batas atas LD50
= antilog (log m + 2 δ log m)
Batas bawah LD50 = antilog (log m -2 δ log m)
δ log m = d x δ f
δ f = faktor dalam table biometrik.
b. Metode Farmakope III
Syarat yang harus dipenuhi dalam metode ini adalah perlakuan harus menggunakan seri dosis dengan pengenceran berkelipatan tetap, jumlah hewan percobaan atau jumlah biakan jaringan tiap kelompok harus sama, dan dosis diatur
sedemikian rupa sehingga memberikan efek dari 0 % sampai 100 % dan perhitungan dibatasi pada kelompok percobaan yang memberi efek dari 0 % sampai
100 %.
Keterangan : m = log LD50
a = logaritma dosis terendah yang masih menyebabkan jumlah kematian 100 % tiap kelompok.
b = beda logaritma dosis yang berurutan.
pi = jumlah hewan yang mati menerima dosis, i dibagi dengan jumlah hewan seluruhnya yang menerima dosis i.
c. Metode Grafik Probit
Dengan menggunakan metode ini maka dibutuhkan kertas grafik persen vs probit atau kertas probit dan sebuah tabel probit. Bila frekuensi (% respon) efek yang ditimbulkan dihubungkan dengan dosis dalam skala logaritma, akan diperoleh kurva terbentk sigmoid (menyerupai
∫, mirip huruf S tapi panjang). Bagian yang relatif tidak
lurus dapat diluruskan dengan memprobitkan. Prosedur ini digunakan untuk menghitung nilai LD5 atau LD95 atau bila respon kematian pada uji toksisitas kurang dari 16 % atau lebih dari 84 %.Metode ini diperkenalkan oleh Miller dan Tainter. Dalam hal adanya populasi campuran dari dua populasi yang jelas berbeda, maka kurva dosis-reaksi akan membentuk dua bagian berbentuk S dan LD50masing-masing kelompok dapat ditentukan. Satuan probit digunakan karena sulitnya menentukan harga ED95 dan LD50 dari kurva yang berbentuk S karena pada bagian ini kurva mempunyai kemiringan yang sangat kecil.
2.7 Histologi Organ 2.7.1 Histologi Limpa
Limpa merupakan organ limfoid terbesar dan terletak di antara fundus lambung dan diafragma. Limpa dibungkus peritoneum dan berhubungan dengan lambung, diafragma, dan ginjal kiri oleh lipatan peritoneum yang disebut ligamen gastrolienal, frenikolienal dan lienorenal. Limpa berfungsi sebagai imun terhadap antigen yang terbawa oleh darah, mengakumulasi limfosit dan makrofag, dan degradasi eritrosit.
Limpa dibungkus oleh kapsula, yang terdiri atas dua lapisan, yaitu satu lapisan jaringan penyokong yang tebal dan satu lapisan otot halus. Perpanjangan kapsula ke
dalam parenkim limpa disebut trabekula. Trabekula mengandung arteri, vena, saraf, dan pembuluh limfe . Parenkim limpa disebut pulpa yang terdiri atas pulpa merah dan pulpa putih . Pulpa merah berwarna merah gelap pada potongan limpa segar. Pulpa merah terdiri atas sinusoid limpa . Pulpa putih tersebar dalam pulpa merah, berbentuk oval dan berwarna putih kelabu. Pulpa putih terdiri atas pariarteriolar limphoid sheats (PALS), folikel limfoid, dan zona marginal. Folikel limfoid umumnya tersusun atas sel limfosit B, makrofaga, dan sel debri (Fawcett, 2002).
2.7.2 Histologi Hati
Hati merupakan organ terbesar dalam tubuh, menempati hampir seluruh bagian atas rongga abdomen. Hati terdiri atas lobus kanan, lobus kiri, lobus caudatus dan lobus quadratus. Aliran darah di hati dari vena portae dan arteria hepatica. Fungsi hati, yaitu :
Berperan dalam metabolisme protein, lemak dan karbohidrat Memproduksi protein plasma dan empedu
Penting untuk pembekuan darah, yaitu sumber dari protombin, fibrinogen dan
mengabsorpsi vitamin K dan garam empedu.
Berperan dalam eritropoiesis
Berperan dalam detoksifikasi bakteri, mineral dan hormon
Dalam hati terdapat 3 jenis jaringan yang penting, yaitu sel parenkim hati, susunan pembuluh darah dan susunan saluran empedu. Ketiga jaringan ini erat, sehingga kerusakan satu jenis jaringan dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lain. Histologi hati terdiri atas lobulus. Ada 2 macam lobulus, yaitu lobulus anatomik dan lobulus fungsional. Tetapi dalam mempelajari patologi, lobulus anatomi lah yang lebih berperan.
Pemeriksaan histopatologi meliputi perubahan berat organ dan penampilan warna hewan uji. Warna dan penampilan sering dapat menunjukkan sifat toksisitas, seperti perlemakan hati atau sirosis. Biasanya berat organ merupakan penunjuk yang sangat peka
dari efek pada hati. Dan pemeriksaan mikroskopik dapat menggunakan mikroskop cahaya untuk mendeteksi berbagai jenis kelainan, seperti perlemakan, sirosis, nekrosis, nodul hiperplastik, dan neoplasia (Lu, 1995).
2.7.3 Histologi Ginjal
Ginjal merupakan organ yang berperan mengatur keseimbangan cairan tubuh, elektrolit dan asam basa dengan cara menyaring darah yang melalui ginjal, reabsorpsi selektif air, elektrolit dan non elektrolit serta mengekskresi kelebihannya sebagai kemih. Mencit mempunyai sepasang ginjal yang berbentuk seperti kacang dan terletak rongga retriperitoneum bagian dorsal tubuh, dan berseberangan dengan columna vertebralis (Green, 1966).
Sel granular pada dinding arteri glomerulus bagian afferent dapat dengan mudah dilihat pada mencit, berbeda dengan manusia. Terdapat perbedaan relatif jumlah dan tipe kapsula Bowman pada mencit jantan dengan betina. Pada mencit betina dan muda banyak ditemukan sel parietal pada epitaliumnya, dan kapsula Bowman pada jantan yang dewasa dibatasi dengan sel kuboid (Green, 1966).
Pemeriksaan patologi mikroskopik dilakukan dengan menimbang berat ginjal hewan uji. Bila terdapat perbedaan dengan hewan pembanding sering menujukkan terjadinya lesi ginjal. Dan pemeriksaan mikroskopik dapat mengungkapkan tempat, luas, dan sifat morfologik lesi ginjal (Lu, 1995).
2.7.4 Histologi Usus
Dinding usus halus terdiri dari 4 lapisan dasar mucosa, submucosa, muscularis, dan yang terluar tunika adventitia atau serosa. Yang paling luar, atau lapisan serosa, dibentuk oleh peritoneum. Peritoneum mempunyai lapisan visceral dan parietal, dan ruang yang terletak di antara lapisan-lapisan ini dinamakan rongga peritoneum. Fungsi dari peritoneum ini adalah untuk mencegah pergesekan antara organ-organ berdekatan dengan mensekresi cairan serosa yang berperan sebagai pelumas.
Otot yang meliputi usus halus mempunyai dua lapisan. Lapisan luar terdiri atas serabut-serabut longitudinal yang lebih tipis, dan lapisan dalam berupa serabut-serabut sirkular. Penataan demikian membantu gerakan peristaltik usus halus. Lapisan submukosa terdiri atas jaringan penyambung, sedangkan lapisan mukosa bagian dalam tebal, banyak mengandung pembuluh darah dan kelenjar.
2.8 Potensi Penelitian
Senyawa utama gambir yaitu katekin dapat berperan sebagai antiinflamasi, antioksidan, antibakteri, antitumor, dan antivirus (Nakagawa, 2005). Hingga saat ini penelitian senyawa katekin banyak dilakukan untuk penggalian potensi katekin lebih
dalam. Oleh karena itu uji toksisitas katekin gambir perlu dilakukan untuk menilai keamanan dosis obat tradisional yang di uji.
Pada tahun 1999, F.A. Gunawijaya,dkk telah meneliti tentang efek pemberian katekin teh hijau pada pertumbuhan tumor kelenjar susu mencit strain GR. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan katekin teh 400 mg/kg BB/ hari mempunyai efek penghambatan terbentuknya tumor sebesar 34,29%.
Ira Arundina, pernah meneliti tentang efek anti inflamasi katekin pada marmut dengan metode pembentukan oedema yang diinduksi suspensi karagenik menunjukan hasil pada pemberian katekin dosis 100 dan 200 mg/kg bb mempunyai daya antiinflamasi tetapi efeknya lebih kecil dari aspirin.
Pada tahun 2007, peneliti Tadakatsu Simamura, dkk dan Hirasawa, dkk telah meneliti tentang mekanisme aksi dan potensi katekin sebagai antiinfektif agent. Epigalokatekin galat yang berperan dalam aktifitas antiviral dan anti bakteri dengan mekanisme mengikat struktur peptide pada mikroba.
Pada bulan januari 2011, Tuty anggraini, dkk telah melakukan pengujian aktifitas antioksidan katekin dari 4 macam gambir yang berasal dari Sumatera Barat. Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa aktifitas antioksidan katekin gambir
Ekstraksi
dan
Isolasi
2.9 Kerangka Konsep Penelitian
Khasiat gambir secara empiris yaitu sebagai adstringens, obat sakit kepala,obat diare,obat disentri,obat sariawan, serta obat sakit kulit
Uncaria gambier
R.
Telah terbukti memiliki efek sebagai imunomodulator (Amalia,2010), analgetik dan antiinflamasi (Sari H,
2010), dan efek hipoglikemik (Sari G, 2010) LD50 gambir sebesar 7127,173 mg/KgBB (Lestari, 2010)
Katekin
Terbukti memiliki efek sebagai antitumor (Gunawijaya, 1999), antiviral dan antibakteri (Simamura, 2007), antioksidan (anggraini, 2011) Diperlukan uji toksisitas untuk keamanan penggunaan katekin secara in vivo menggunakan mencit putih jantan
LD
50katekin
Histopatologi
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Berlangsung mulai dari bulan Juli sampai November 2011.
3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat
Alat-alat yang digunakan terdiri dari tabung reaksi, pipet tetes, corong pisah, erlenmeyer, gelas becker, gelas ukur, spatula, batang pengaduk, kaca arloji, cawan penguap, piknometer, vial, kurs porselen, timbangan analitik, lumpang, alu, blender, hot plate, kapas, kertas saring, thermometer, spektrofotometer UV, desikator, furnace, oven, rotari evaporator, sonde, kandang mencit, masker, sarung tangan, timbangan hewan, papan bedah, alat bedah steril, kaca objek, dan mikroskop elektrik.
3.2.2 Bahan Yang Digunakan a. Simplisia
Bahan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstrak air kering gambir (Uncaria gambier R.) yang diperoleh dari
b. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan yaitu; etil asetat, etanol 70 %, aquadest, ammoniak, kloroform, HCL, NaCl, pereaksi Dragendroff, pereaksi Stiasny (Formaldehid 30 % : HCL pekat = 2:1), pereaksi Liebermann-Burchard (2 tetes asam asetat anhidrat dan 1 tetes H2SO4 pekat), pereaksi Mayer, amil alkohol, serbuk Mg, eter, H2SO4 anhidrat, H2SO4 pekat, FeCl3, NaOH, , Na CMC, silica gel 60 F254 dan formalin 10 %.
3.2.3 Hewan Uji
Mencit putih jantan galur DDY berumur 2-3 bulan dengan berat badan 20-30 gram. Mencit yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak
50 ekor yang diperoleh dari Laboratorium Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB).
3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Determinasi Tanaman
Bahan yang digunakan adalah ekstrak air kering gambir (Uncaria gambier R.) yang diperoleh dari Payakumbuh-Padang, Sumatra Barat. Sebelum dilakukan penelitian terhadap tumbuhan, terlebih dahulu dideterminasi daun gambir untuk mengidentifikasi jenis simplisia. Determinasi dilakukan di Herbarium Bogoriense, Puslit Biologi Bidang Botani LIPI Cibinong.
3.3.2 Penyiapan Simplisia yang Digunakan
Penyiapan gambir yaitu dengan cara membersihkannya dari pengotor, gambir yang digunakan yaitu berupa bongkahan ekstrak air
gambir yang diperoleh dari Payakumbuh - Padang Sumatera Barat. Bongkahan gambir kemudian dihaluskan sampai menjadi serbuk. Serbuk gambir tersebut diidentifikasi dan skrining fitokimia serbuk gambir.
3.3.3 Identifikasi Gambir
1. 2 mg serbuk gambir ditambahkan 5 tetes asam sulfat P warna coklat merah
2. 2 mg serbuk gambir ditambahkan asam sulfat 10 N warna coklat muda
3. 2 mg serbuk gambir ditambahkan 5 tetes Na hidroksida 5% dalam etanol warna coklat merah
4. 2 mg serbuk gambir ditambahkan 5 tetes ammonia 25% warna coklat merah
5. 2 mg serbuk gambir ditambahkan 5 tetes larutan FeCl3 5% coklat kehitaman (Depkes RI, 1989).
3.3.4 Identifikasi Urea
Melarutkan 100 mg dalam 1 ml air, tambahkan 1 ml asam nitrat P ; terbentuk endapan hablur putih. (Depkes, 1979).
3.3.5 Uji Penapisan Fitokimia
dengan kuat, kemudian disaring. Filtrat berupa larutan organik diambil (sebagai larutan A), sebagian dari larutan A (10 ml) diekstraksi dengan 10 ml larutan HCl 1:10 dengan pengocokan dalam tabung reaksi, diambil larutan bagian atasnya (larutan B). Larutan A diteteskan beberapa tetes pada kertas saring dan ditetesi dengan pereaksi Dragendorff. Jika
terbentuk warna merah atau jingga pada kertas saring maka hal itu menunjukkan adanya senyawa golongan alkaloid dalam sampel.
Larutan B dibagi dalam dua tabung reaksi, masing-masing ditambahkan pereaksi Dragendorff dan Mayer. Jika terbentuk endapan merah bata dengan pereaksi Dragendorff dan endapan putih dengan pereaksi Mayer maka menunjukkan adanya senyawa golongan alkaloid
(Fransworth, 1969).
b. Identifikasi golongan flavonoid
1 gram sampel ditambahkan 50 ml air panas, dididihkan 5 menit dan disaring, filtrat yang akan digunakan sebagai larutan percobaan. Ke dalam 5 ml larutan percobaan (dalam tabung reaksi) ditambahkan serbuk atau lempeng magnesium secukupnya dan 1 ml HCl pekat, serta 5 ml butanol, dikocok dengan kuat lalu dibiarkan hingga memisah. Jika terbentuk warna pada lapisan butanol (lapisan atas) maka hal itu menunjukkan adanya
senyawa golongan flavonoid (Fransworth, 1969). c. Identifikasi golongan saponin
menit. Jika dalam tabung reaksi terbentuk busa yang stabil dan jika ditambahkan 1 tetes HCl 1% busa tetap stabil maka hal itu menunjukkan adanya senyawa golongan saponin (Fransworth, 1969).
d. Identifikasi golongan steroid dan triterpenoid
1 gram sampel ditambahkan dengan 20 ml eter, dibiarkan selama 2 jam dalam wadah dengan penutup rapat lalu disaring dan diambil filtratnya. 5 ml dari filtrat tersebut diuapkan dalam cawan penguap hingga diperoleh residu. Ke dalam residu ditambahkan 2 tetes asam asetat anhidrat dan 1 tetes asam sulfat pekat (pereaksi Libermann-Burchard). Jika terbentuk warna hijau atau merah maka hal itu menunjukkan adanya senyawa golongan steroid dan triterpenoid dalam simplisia tersebut (Fransworth, 1969).
e. Identifikasi golongan tanin
2 gram sampel ditambahkan 100 ml air, dididihkan selama 15 menit lalu didinginkan dan disaring dengan kertas saring, filtrat yang diperoleh dibagi menjadi dua bagian. Ke dalam filtrat pertama ditambahkan 10 ml larutan FeCl31%, jika terbentuk warna biru tua atau hijau kehitaman maka hal itu menunjukkan adanya senyawa golongan tanin.
Ke dalam filtrat yang kedua ditambahkan 15 ml pereaksi Stiasny (formaldehid 30% : HCl pekat = 2 : 1), lalu dipanaskan di atas penangas air sambil digoyang-goyangkan. Jika terbentuk endapan warna merah muda menunjukkan adanya tanin katekuat. Selanjutnya endapan disaring,
tetes larutan FeCl31%, jika terbentuk warna biru tinta maka menunjukkan adanya tanin galat (Fransworth, 1969).
f. Identifikasi golongan kuinon
5 ml larutan percobaan dari percobaan b (identifikasi golongan flavonoid), lalu dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan beberapa tetes larutan NaOH 1 N. Jika terbentuk warna merah maka hal itu
menunjukkan adanya senyawa golongan kuinon (Fransworth, 1969). g. Identifikasi golongan minyak atsiri
Sejumlah 2 gram sampel dalam tabung reaksi, ditambahkan 10 ml pelarut petroleum eter dan dipasang corong (yang diberi lapisan kapas yang telah dibasahi dengan air) pada mulut tabung, dipanaskan selama 10 menit di atas penangas air dan didinginkan lalu disaring dengan kertas saring. Filtrat yang diperoleh diuapkan dalam cawan penguap hingga diperoleh residu. Residu dilarutkan dengan pelarut alkohol sebanyak 5 ml lalu disaring dengan kertas saring. Filtratnya diuapkan dalam cawan penguap, jika residu berbau aromatik/menyenangkan maka hal itu menunjukkan adanya senyawa golongan minyak atsiri (Fransworth, 1969). h. Identifikasi golongan kumarin
2 gram sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 10 ml pelarut kloroform dan dipasang corong (yang diberi lapisan kapas yang telah dibasahi dengan air) pada mulut tabung, dipanaskan selama 10 menit di atas penangas air dan didinginkan lalu disaring dengan kertas saring.
Larutan tersebut dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 0.5 ml larutan ammonia (NH4OH) 10 %. Lalu diamati di bawah sinar lampu ultraviolet pada panjang gelombang 365 nm. Jika terjadi fluoresensi warna biru atau hijau maka hal itu menunjukkan adanya senyawa golongan
kumarin (Fransworth, 1966). 3.3.6 Isolasi Katekin Gambir
Ekstrak air kering gambir diserbuk. Kemudian sebanyak 500 g serbuk diekstraksi dengan pelarut air pada temperatur mendidih 90 - 960C selama 15 menit sambil diaduk. Kemudian infusa disaring dalam keadaan panas dengan menggunakan corong yang dilapisi kertas saring. Ekstrak
kemudian dipartisi menggunakan etil asetat dengan perbandingan 1:½ dan ditambahkan NaCl sampai jenuh. Kemudian diambil fase etil asetat dan fase air dipartisi berulang dengan etil asetat. Fase etil asetat kemudian diuapkan dengan evaporator sampai kental kemudian dicuci dengan air dingin, dan disaring. Katekin yang menempel pada kertas saring dikeringkan dalam oven 70o(Hargono, 1986).
3.3.7 Pemeriksaan Katekin Gambir a. Penetapan Kadar Katekin
Membuat katekin standar konsentrasi 1 mg/ml dengan menimbang 50 mg katekin standar dilarutkan dalam etil asetat hingga 50 ml. kemudian diencerkan menjadi 0,02 mg/mL, 0,03 mg/mL, 0,04 mg/mL, 0,05 mg/mL dan 0,06 mg/mL. Diukur serapan
Sampel katekin ditimbang sebanyak 50 mg dan dilarutkan dalam etil asetat hingga 50 ml. Lalu dibuat berbagai konsentrasi 0,02 mg/mL, 0,03 mg/mL, 0,04 mg/mL, 0,05 mg/mL dan 0,06 mg/mL. Diukur serapan dengan menggunakan spektrofotometer UV pada panjang gelombang maksimum dan dihitung kadar katekin
menggunakan kurva kalibrasi. b. Kadar Abu
1 gram serbuk katekin ditimbang dan dimasukan ke dalam krus porselen. Dipijarkan perlahan-lahan selama ± 1 jam dan pemijaran disempurnakan dengan tanur bersuhu tinggi 900o ± 20o C. Sampai diperoleh abu berwarna abu-abu. Didinginkan dalam desikator, kemudian ditimbang serta dicatat pengurangan beratnya (Depkes RI, 2000).
c. Kadar Air
1 gram serbuk katekin dimasukkan dan ditimbang seksama dalam wadah yang telah ditara. Katekin dikeringkan pada oven suhu 105oC selama 5 jam dan ditimbang. Pengeringan dilanjutkan dan ditimbang pada jarak 1 jam sampai perbedaan antara 2 penimbangan berturut-turut tidak lebih dari 0,001 g (Depkes, 2000).
d. Jarak Lebur
Serbuk katekin dimasukan ke dalam pipa kapiler secukupnya, lalu dipanaskan dalam penangas. Kemudian suhu dicatat sebagai
suhu 165-170oC diatur kenaikannya sekitar 1oC per menit (DepKes, 1979). Jarak lebur katekin pada literatur adalah 175-177oC (WHO, 1998).
e. Rendemen Katekin
Dihitung dengan membandingkan berat awal serbuk gambir dengan berat akhir katekin yang diperoleh.
% rendemen= ℎ
× %
3.3.8 Penyiapan Hewan Uji
Hewan percobaan yang digunakan adalah mencit putih jantan berumur 2-3 bulan dengan berat badan 20-30 gram. Hewan tersebut diaklimatisasi terlebih dahulu selama 2 minggu agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan selama proses adaptasi dilakukan pengamatan kondisi umum serta dilakukan penimbangan berat badan setiap hari. Hewan uji yang sakit, dengan ciri-ciri aktivitas berkurang, lebih banyak diam, dan bulunya berdiri, tidak akan diikutsertakan dalam penelitian. Pengelompokkan hewan uji yang sehat dilakukan sebelum melaksanakan uji pendahuluan.
3.3.9 Uji Toksisitas Akut
Hewan uji dipilih sebanyak 50 ekor mencit jantan secara acak untuk dibagi menjadi 5 kelompok, dihitung berdasarkan rumus Federer : (n-1) (t-1) ≥15
Jumlah hewan uji yang digunakan adalah : (n-1) (t-1) ≥15 (n-1) (5-1) ≥15 (n-1) (4) ≥15 (4n-4)≥15 4n≥19 n ≥4,75 ≈5
Tabel 2. Pembagian Kelompok Dosis
Kelompok Jumlah Mencit Perlakuan
I 5 Kontrol, diberi larutan Na CMC 0.5 % II 5 Diberi katekin gambir dosis I
III 5 Diberi katekin gambir dosis II IV 5 Diberi katekin gambir dosis III
V 5 Diberi katekin gambir dosis IV
3.3.10 Penentuan Dosis
Dosis bahan uji yang digunakan yaitu berdasarkan pada jurnal penelitian sebelumnya dengan penggunaan katekin teh sebagai antitumor pada mencit sebesar 400 mg/kg BB.
3.3.11 Percobaan Pendahuluan
Hewan percobaan dikelompokkan berdasarkan bobot kemudian dibagi kedalam 4 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4 ekor mencit dan diberi bahan uji secara oral dengan kelipatan dosis sebanyak 5 kali.
Tabel 3. Dosis Percobaan Pendahuluan
Kelompok Jumlah Mencit Dosis (mg/kgBB)
1 4 400
2 4 2000
3 4 10000
4 4 50000
Setelah diberikan bahan uji kemudian diamati hingga 3 jam pertama, kemudian dilihat jumlah kematian yang terjadi setelah 24 jam.
Setelah didapatkan jumlah mencit yang mati kemudian ditentukan dosis yang akan digunakan sebagai acuan untuk melakukan uji toksisitas akut hingga diperoleh nilai LD50.
Dosis terkecil dalam kelompok mendekati dosis dimana dalam uji pendahuluan terdapat kematian 0 %, sedangkan dosis terbesar mendekati
dosis dimana terdapat kematian 100 %. Tabel 4. Dosis Uji Toksisitas
Kelompok Jumlah Mencit Dosis (mg/kgBB)
1 5 1000
3.3.12 Percobaan Toksisitas Akut
Setelah didapatkan dosis dari percobaan pendahuluan maka dilakukan percobaan selanjutnya untuk memperoleh nilai LD50 yang sebenarnya. Mencit dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan. Setiap kelompok terdiri dari 5 ekor mencit jantan. Mencit sebelumnya diaklimatisasi terlebih dahulu selama 2 minggu. Selama aklimatisasi mencit ditimbang setiap hari untuk mendapatkan bobot yang tetap. Pada pengujian toksisitas akut ini digunakan 4 tingkatan dosis pada 4 kelompok perlakuan, sedangkan 1 kelompok lainnya yaitu sebagai kelompok kontrol
normal yang hanya diberi larutan Na CMC 0,5%.
Sebelumnya, pada hari ke-0 dilakukan penimbangan mencit dan diamati aktifitasnya, kemudian pada hari ke-1 diberikan larutan uji. Sebelum penyondean, mencit dipuasakan terlebih dahulu dan masih diberi minum secukupnya. Katekin tersebut diberikan secara oral dengan menggunakan sonde. Pemberian dosis disesuaikan dengan hasil uji pendahuluan. Setelah pemberian dosis, diamati gejala dan tingkah laku
yang terjadi selama 3-4 jam pertama. Kemudian setelah 24 jam diamati kembali dan dihitung jumlah mencit yang mati dari tiap kelompok. Bila terdapat mencit yang mati maka dilakukan pembedahan dan dilakukan penimbangan terhadap organ hati, ginjal, usus dan limpa. Pengamatan dilanjutkan hingga 14 hari, sedangkan pada hari ke-15 untuk mencit yang masih bertahan perlu dilakukan pembedahan untuk ditimbang organnya
limpa kemudian dibandingkan dengan kontrol normal. Setelah itu dihitung nilai LD50dengan menggunakan metode Probit.
Pemeriksaan histopatologi ini dilakukan untuk melihat pengaruh dari pemberian katekin terhadap organ mencit. Organ yang telah diambil kemudian dicuci dengan NaCl 0,9 % lalu di fiksasi dengan larutan formalin 10 % dan siap untuk di buat preparat. Setelah itu dilakukan pengamatan histopatologi dengan menggunakan mikroskop untuk melihat
adanya kelainan pada jaringan tersebut.
Cara pengambilan organ mencit :
1. Mencit yang akan dibedah dibunuh dengan cara pembiusan.
2. Mencit yang sudah mati kemudian ditelentangkan pada papan bedah. 3. Kulit perut bagian bawah mencit diangkat dengan pinset, kemudian
pada bagian tersebut digunting menggunakan gunting bedah untuk memberi jalan bagi pembedahan.
4. Dari bagian pengguntingan tersebut ke arah perut atas dari sisi kanan dan kiri hingga mencapai bagian bawah kedua kaki depan mencit sehingga seluruh bagian rongga perut mencit terlihat.
5. Pengambilan organ dengan menggunakan gunting bedah.
6. Organ yang telah diambil dicuci dengan NaCL 0,9% dan direndam dalam formalin 10%.
7. Pembuatan preparat organ dilakukan di Laboratorium Hewan Departemen Patologi Anatomi Universitas Indonesia. Dan pembacaan
3.3.13 Pengolahan Data
Data yang diperoleh diolah secara statistik menggunakan SPSS. Analisis yang dilakukan yaitu uji homogenitas dan uji kenormalan, selanjutnya dilakukan analisis varian one way ( ANOVA ) untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan bermakna antara kelompok perlakuan.
Bila terdapat perbedaan bermakna, maka untuk mengetahui perbedaan antar kelompok perlakuan dilanjutkan dengan uji beda nyata
terkecil ( BNT ). Hipotesis :
Ho : tidak ada perbedaan yang bermakna antara setiap kelompok. Ha : terdapat perbedaan yang bermakna antara setiap kelompok. Pengambilan Keputusan :
Jika nilai signifikansi ≥ 0,05, maka Ho diterima.
Fase etil asetat dievaporasi Penyaringan
Penyaringan Fase etil asetat pekat dicuci
dengan air dingin 3.4 Alur Penelitian
Penapisan fitokimia Serbuk Gambir
(Uncaria gambier R.)
Reekstraksi secara infusa pada suhu 90-96oC
selama ± 15 menit
Partisi dengan Etil Asetat (1:½), ditambahkan NaCl
sampai jenuh
Kertas saring yang terdapat katekin dikeringkan pada
oven 70oC Aklimatisasi hewan
mencit putih jantan Galur DDY 14 hari
Serbuk Katekin Pemberian katekin
kepada hewan uji
Pengamatan Selama 14 Hari (Pembedahan, Perubahan
Berat Badan, Aktivitas Tingkah Laku, dan Jumlah
Hewan Mati
Analisa Data LD50
Histopatologi
Penetapan kadar katekin, kadar air,
dan kadar abu
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Determinasi Gambir
Determinasi ekstrak air kering gambir telah dilakukan di laboratorium Herbarium LIPI Bogor, Jawa Barat. Hasil determinasi telah menunjukan bahwa gambir yang menjadi sampel adalah Uncaria gambier (W.Hunter) Roxb. dari famili Rubiaceae (Lampiran 1).
4.1.2 Hasil Identifikasi Gambir dan Uji Cemaran Urea
Bongkahan gambir yang telah diperoleh dilakukan identifikasi dengan menggunakan H2SO4P, H2SO410 N, NaOH 5 %, Ammonia 25 %, dan FeCl3 5 % (Depkes, 1989). Hasil dapat dilihat pada gambar 14 serta pada tabel berikut ini:
Tabel 5. Identifikasi Gambir
Pengujian Syarat Hasil Serbuk + H2SO4P coklat merah + Serbuk + H2SO4 10 N coklat muda + Serbuk + NaOH 5 % coklat merah + Serbuk + Ammonia 25% coklat merah + Serbuk + FeCl3 5% coklat kehitaman +
Sedangkan dari hasil identifikasi urea yang telah dilakukan diketahui bahwa tidak ditemukannya kandungan urea dalam gambir yang diperoleh dari
daerah Payakumbuh-Padang, Sumatra Barat (Lampiran 10).
4.1.3 Uji Penapisan Fitokimia
Berdasarkan hasil penapisan fitokimia yang telah dilakukan pada Gambir (Uncaria gambier R.) diperoleh beberapa golongan senyawa kimia yang hasilnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 6. Uji Penapisan Fitokimia
No Golongan Senyawa Gambir Katekin
1 Alkaloid + _ 2 Flavonoid + + 3 Saponin + _ 4 Steroid _ _ 5 Triterpenoid _ _ 6 Tanin + + Tanin Katekuat + + Tanin Galat _ _ 7 Kuinon _ _ 8 Kumarin _ _ 9 Minyak Atsiri _ _
4.1.3 Pengujian Karakteristik Katekin
Pengujian Karakteristik Katekin menurut WHO dan The Merck Index. Hasil dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 7. Pengujian Karakteristik Katekin
Karakteristik Syarat Katekin Standar Katekin Sampel Warna Putih – Kuning
Kecokelatan
Kuning Putih Kekuningan
Bau Khas Khas Khas
Bentuk Serbuk Serbuk Serbuk
Rasa Kelat Kelat Kelat
Kadar Air Maks 7% 0,047% 0,046 % Kadar Abu Maks 7% 0,053% 0,034 %
Rendeman Min 40% _ 49,52%
Jarak Lebur 175-177oC 174-177oC 171-175oC Spektrum UV 279 nm 292 nm 292 nm
Kemurnian 100% 93,32% 79,73%
4.1.5 Hasil Uji Pendahuluan Tabel 8. Uji Pendahuluan
Kelompok Jumlah Mencit Dosis Katekin (mg/KgBB) Jumlah Kematian % Kematian 1 4 400 0 0 2 4 2000 1 25 3 4 10000 _ _ 4 4 50000 _ _
4.1.6
4.1.6 Hasil Hasil Uji Uji ToksisitasToksisitas Tabel 9. Uji Toksisitas Tabel 9. Uji Toksisitas
4.1.7
4.1.7 Hasil Hasil PengamataPengamatan n Tingkah Tingkah LakuLaku Tabel 10. Pengamatan Tingkah Laku Tabel 10. Pengamatan Tingkah Laku
Dosis
Dosis Tingkah Tingkah LakuLaku Dosis I
Dosis I (1000 mg/kg BB) (1000 mg/kg BB)
Setelah pemberian dosis mencit terlihat Setelah pemberian dosis mencit terlihat banyak
banyak minum minum dan dan jantung jantung berdetak berdetak kencang. Hari berikutnya mencit beraktivitas kencang. Hari berikutnya mencit beraktivitas seperti biasa. seperti biasa. Dosis II Dosis II (2000 mg/kg BB) (2000 mg/kg BB)
Setelah pemberian dosis mencit terlihat Setelah pemberian dosis mencit terlihat lemas, aktivitas menurun dan jantung lemas, aktivitas menurun dan jantung berdetak
berdetak kencang. kencang. Hari Hari berikutnya berikutnya mencitmencit beraktivitas seperti biasa.
beraktivitas seperti biasa.
Dosis III Dosis III (4000 mg/kg BB) (4000 mg/kg BB)
Setelah pemberian dosis mencit terlihat Setelah pemberian dosis mencit terlihat lemas, bulu dan ekor berdiri, aktivitas lemas, bulu dan ekor berdiri, aktivitas menurun dan jantung berdetak kencang. menurun dan jantung berdetak kencang. Beberapa hari kemudian ada mencit yang Beberapa hari kemudian ada mencit yang mati dan selebihnya beraktivitas seperti mati dan selebihnya beraktivitas seperti biasa. biasa. Dosis IV Dosis IV (8000 mg/kg BB) (8000 mg/kg BB)
Setelah pemberian dosis mencit terlihat Setelah pemberian dosis mencit terlihat lemas, bulu dan ekor berdiri, aktivitas lemas, bulu dan ekor berdiri, aktivitas menurun dan jantung berdetak kencang. menurun dan jantung berdetak kencang. Beberapa hari kemudian ada mencit yang Beberapa hari kemudian ada mencit yang Kelompok Jumlah Kelompok Jumlah Mencit Mencit Dosis Campuran Dosis Campuran (mg/KgBB) (mg/KgBB) Hasil % Hasil % Kematian Kematian 1 1 5 5 1000 1000 0 0 00 2 2 5 5 2000 2000 0 0 00 3 3 5 5 4000 4000 2 2 4040 4 4 5 5 8000 8000 2 2 4040 Nilai LD
Nilai LD5050isolat katekin gambir adalah sebesar isolat katekin gambir adalah sebesar 9141,132 mg/kgBB9141,132 mg/kgBB menggunakan metode Probit