LAPORAN PENDAHULUAN IMPETIGO
1.
Definisi
Impetigo adalah infeksi kulit superfisial yang sangat menular dan mudah
menularkan dari satu bagian tubuh ke tubuh lain, serta dari orang lain ke orang lain
melalui kontak. Penyakit ini terutama dijumpai pada anak tetapi dapat timbul pada
semua usia.
2.
Etiologi
Disebabkan oleh bakteri Stafilokokus atau Streptokokus grup A.
3.
Manifestasi Klinis
Adanya pustul di kulit yang dapat pecah dan membentuk krusta di setiap
bagian tubuh
Nyeri
Demam
4.
Komplikasi
Glomerulusnefritis paska stepkokus akut (Peradangan nefron ginjal) dapat
terjadi akibat pengendapan kompleks antibodi-antigen di ginjal (respon hipersensitivitas
tipe II).
5.
Penatalaksanaan
1. Antibodi sistemik dapat diberikan setelah pembiakan dan identifikasi
organisme.
2. Antibodi topikal apabila lesinya kecil
3. Sterilisasi handuk dan sering mencuci tangan merupakan tindakan untuk
mencegah penyebaran ke bagin tubuh lain dan penularan ke anggota
keluarga lain.
6.
Patofisiologi
Impetigo merupakan penyakit menular dan dapat menyebar ke bagian kulit
pasien yang lain atau ke anggota keluarga yang menyentuh psien atau memakai handuk
atau sisir yang tercemar oleh eksudat lesi. Meskipun impetigo dijumpai pada segala
usia, namun penyakit ini terutama ditemukan diantara anak-anak yang hidup dalam
kondisi higiene yang buruk. Seringkali impetigo terjadi sekunder akibat pediculosis
capitis (tuma kepala), skabies (penyakit kudis), herpes simpleks, gigitan serangga, getah
tanaman yang beracun (poison ivy), atau ekzema. Kesehatan yangburuk, higiene yang
buruk, dan malnutrisi dapat menjadi predisposisi terjadinya impetigo pada orang
dewasa. Daerah-daerah tubuh, wajah, tangan, lengan, leher dan ekstermitas yang
terbuka merupakan bagian yang paling sering terkena.
Impetigo bulosa. Bentuk dari impetigo bulosa merupakan kondisi yang lebih
jarang terjadi dibandingkan bentuk nonbulosa. Agen penyebab impetigo bulosa adalah
Staphylococcus aureus yang menghasilkan eksotoksin eksfoliatif ekstraselular disebut
exfoliatins A dan B. Eksotoksin ini menyebabkan adhesi sel di epidermis, di mana pada
gilirannya menyebabkan timbulnya suatu bula dan pengelupasan dari epidermis.
7.
Klasifikasi
Impetigo Bulosa
Impetigo Non Bulosa
8.
Diagnosa Penunjang
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN IMPETIGO
1.
Pengkajian
Pada anamnesis biasanya didapatkan keluhan, meliputi hal-hal berikut :
1. Pada impetigo nonbulosa, keluhan dimulai dengan adanya pembentukan
suatu makula eritematosa tunggal yang cepat berkembang menjadi vesikel
dan pecah, meninggalkan eksudat kuning dengan adanya erosi diatasnya.
Awitan impetigo bulosa biasanya lebih cepat membesar dan bula yang
pecah. Lesi biasanya tanpa gejala. Terkadang, pasien melaporkan rasa sakit
atau gatal. Pasien dengan impetigo biasanya didapatkan adanya riwayat
kontak dengan penderita impetigo lainnya.
2. Pada kedua jenis impetigo didapatkan adanya riwayat kondisi lingkungan
hidup yang penuh sesak, kebersihan yang rendah, atau lingkungan kerja
tidak higienis mendorong kontaminasi kulit oleh bakteri patogen yang dapat
menyebabkan impetigo.
3. Lesi impetigo biasanya sembuh tanpa jaringan parut. Jika tidak diobati, lesi
impetigo menghilang secara spontan setelah beberapa minggu.
Pada pemeriksaan fisik impetigo bulosa, biasanya didapatkan hal berikut :
1. Impetigo bulosa sering terjadi pada neonatus, tetapi juga terjadi pada
anak-anak yang lebih tuan dan orang dewasa.
2. Karakteristik lesi adalah vesikel yang berkembang menjadi sebuah bula
kurang dari 1 cm pada kulit normal, dengan sedikit atau tidak ada
kemerahan sekitarnya. Awalnya, vesikel berisi cairan bening yang menjadi
keruh.
3. Hampir semua bula akan pecah. Apabila bula pecah, sering meninggalkan
jaringan parut di pinggiran.
4. Lesi dapat lokal atau tersebar luas. Lesi sering ditemukan di daerah
intertriginosa seperti lipatan leher, ketiak dan lipatan paha, tetapi dpat juga
ditemukan di wajah atau di manapun pada tubuh.
5. Pada bayi, lesi yang luas dapat berhubungan dengn gejala sistemik seperti
demam, malaise, kelemahan umum, dan diare.
6. Impetigo bulosa dianggap kurang menular dari impetigo nonbulosa.
Pada pemeriksaan fisik impetigo nonbulosa, biasanya didapatkan hal berikut ini :
1. Kelainan terlihat pertama adalah makula kemerahan atau papul, dengan
diameter 2-5 mm.
2. Karakteristik lesi adalah vesikel yang mudah pecah dan menjadi papula atau
plak lebih kecil dari 2 cm dan dengan sedikit atau tidak ada kemerahan
sekitarnya.
3. Lesi berkembang di kulit normal atau pada kulit yang telah mengalami suatu
trauma atau pada kulit setelah mengalami penyakit kulit sebelumnya
(misalnya : varisela, dermatitis atopik) dan dapat menyebar dengan cepat.
4. Lesi terletak di sekitar mulut, hidung, dan terkena bagian tubuh (misalnya :
tangan, kaki), telapak tangan dan telapak kaki.
5. Limfadenopati lokal biasanya didapatkan.
6. Jika tidak diobati, lesi menyebar dan secara spontan sembuh setelah
beberapa minggu tanpa jaringan parut.
2.
Patoflow
Predisposisi adanya kontak dengan penderita impetigo, kesehatan yang buruk, higiene
yang buruk, dan malnutrisi
Invasi Bakteri
Piogenik
Makula yang
ruptur menjadi
krusta
Respons
Inflamasi Lokal
Respons Inflamasi
Sistemik
Respons
Psikologis
Kerusakan
Saraf Perifer
Kerusakan
Integritas
jaringan
Peningkatan
Suhu Tubuh
Kondisi
kerusakan
jaringan
kulit
Hipertermi
3.
Analisa Data
No
Data
Etiologi
Problem
1
Ds : - Pasien merasa
menggigil atau
kedinginan
Do : - Suhu pasien meningkat
di atas kisaran normal
- Kulit pasien terasa
hangat
Predisposisi adanya kontak dengan penderita impetigo,
kesehatan yang buruk, higiene yang buruk, dan
malnutrisi
Invasi Bakteri Piogenik
Makula yang ruptur
menjadi krusta
Respons Inflamasi
Sistemik
Peningkatan Suhu Tubuh
Hipertermi
Hipertermi
2
Ds : - Pasien mengeluh nyeri
pada area tertentu
- Pasien mengatakan
gelisah pada area nyeri
Do : - Pasien terlihat dilatasi
pada pupil
Predisposisi adanya kontak dengan penderita impetigo,
kesehatan yang buruk, higiene yang buruk, dan
malnutrisi
Invasi Bakteri Piogenik
Makula yang ruptur
menjadi krusta
Respons Inflamasi Lokal
Kerusakan Saraf Perifer
Nyeri
3
Ds : - Pasien mengatakan
adanya inflamasi pada
daerah kulit tertentu
Do : - Terlihat adanya pustul
di kulit pasien
Predisposisi adanya kontak dengan penderita impetigo,
kesehatan yang buruk, higiene yang buruk, dan
malnutrisi
Invasi Bakteri Piogenik
Makula yang ruptur
menjadi krusta
Respons Inflamasi Lokal
Kerusakan Integritas
Jaringan
Kerusakan
Integritas Jaringan
4
Ds : - Pasien mengatakan
kurang percaya diri
akibat penyakit yang
dideritanya
Do : - Terjadinya perubahan
peran keluarga pasien
akibat penyakit yang
dideritanya
Predisposisi adanya kontak dengan penderita impetigo,
kesehatan yang buruk, higiene yang buruk, dan
malnutrisi
Invasi Bakteri Piogenik
Makula yang ruptur
menjadi krusta
Kondisi kerusakan jaringan
Respons Psikologis
Gangguan gambaran diri
Gangguan
gambaran diri
4.
Diagnosa Keperawatan
No
Prioritas Masalah dan Diagnosa Keperawatan
1
Hipertermi b.d respons inflamasi sistemik sekunder dari proses supurasi lokal
2
Nyeri b.d respons inflamasi lokal sekunder dari kerusakan saraf perifer kulit
3
Kerusakan Integritas Jaringan b.d adanya luka
4
Gangguan gambaran diri b.d perubahan struktur kulit , perubahan peran keluarga
5.
Rencana Keperawatan
No Tgl
Dx
Perencanaan
Tujuan
Kriteria Hasil Intervensi
Aktivitas
1
Hiperter
mi b.d
respons
inflamasi
sistemik
sekunder
dari
proses
supurasi
lokal
NOC : Thermoregulat ion Suhu
tubuh
dalam
rentang
normal
Nadi dan
RR dalam
rentang
normal.
Tidak ada
perubahan
warna
kulit dan
tidak ada
pusing,
merasa
nyaman
NIC :
Fever
treatment
Monitor suhu sesering mungkin Monitor IWL Monitor warnadan suhu kulit Monitor tekanan
darah, nadi dan RR Monitor penurunan tingkat kesadaran Monitor WBC, Hb, dan Hct Monitor intake dan output Berikan anti piretik Berikan pengobatan untuk mengatasi penyebab demam Selimuti pasien Lakukan tapid sponge Berikan cairan intravena Kompres pasien
pada lipat paha dan aksila Tingkatkan
sirkulasi udara Berikan
pengobatan untuk mencegah terjadinya menggigil
Temperature
regulation
Monitor suhu minimal tiap 2 jam Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu Monitor TD, nadi, dan RR Monitor warnadan suhu kulit Monitor
tanda-tanda hipertermi dan hipotermi Tingkatkan
intake cairan dan nutrisi Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panas Diskusikan tentang pentingnya pengaturan suhu dan kemungkinan efek negatif dari kedinginan Beritahukan tentang indikasi terjadinya keletihan dan penanganan
emergency yang diperlukan Ajarkan indikasi dari hipotermi dan penanganan yang diperlukan Berikan anti
piretik jika perlu
Vital sign
Monitoring
Monitor TD,nadi, suhu, dan RR Catat adanya fluktuasi tekanan darah Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas Monitor kualitas dari nadi Monitor frekuensi dan irama pernapasan Monitor suara paru Monitor pola pernapasan abnormal Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit Monitor sianosis perifer
Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik) Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign
2
Nyeri b.d
respons
inflamasi
lokal
sekunder
dari
kerusaka
n saraf
perifer
kulit
NOC : Pain
Level,
Pain
control,
Comfort
level
Kriteria Hasil : Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunak an tehnik nonfarmak ologi untuk mengurang i nyeri, mencari bantuan) Melaporka n bahwa nyeri berkurang dengan menggunak an manajemen nyeri Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) NIC :Pain
Managem
ent
Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien Kaji kultur yangmempengaruhi respon nyeri Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang
ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau Bantu pasien dan
Menyataka n rasa nyaman setelah nyeri berkurang Tanda vital dalam rentang normal keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan) Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang Tanda vital dalam rentang normal ruangan, pencahayaan dan kebisingan Kurangi faktor presipitasi nyeri Pilih dan lakukan
penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi
dan inter personal) Kaji tipe dan
sumber nyeri untuk menentukan intervensi Ajarkan tentang teknik non farmakologi Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri Evaluasi keefektifan kontrol nyeri Tingkatkan istirahat Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri Analgesic Administration Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi Cek riwayat
alergi
Pilih analgesik yang diperlukan
atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri secara teratur Monitor vital
sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat Evaluasi
efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping)
3
Kerusakan
Integritas
Jaringan
b.d adanya
luka
NOC : Tissue Integrity : Skin and Mucous Membranes Kriteria Hasil : Integritas kulit yang baik bisa dipertahank an (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi) Tidak ada NIC : Pressure Managem ent Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar Hindari kerutan padaa tempat tidur Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan keringluka/lesi pada kulit Perfusi jaringan baik Menunjukk an pemahama n dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya sedera berulang Mampu melindungi kulit dan mempertah ankan kelembaba n kulit dan perawatan alami Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali Monitor kulit akan adanya kemerahan Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien Monitor status nutrisi pasien Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat
LAPORAN PENDAHULUAN FOLIKULITIS
1.
Definisi
Folikulitis adalah respons peradangan pada folikel rambut akibat infeksi folikel
rambut atau satu folikel rambut. Peradangan biasanya terbatas pada folikel superfisial
dan disebabkan oleh infeksi S. Aureus, atau bisa menjadi sekunder dari trauma folikuler
atau oklusi pada folikel.
2.
Etiologi
Disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus.
3.
Manifestasi Klinis
Pustul-pustul permukaan yang ditandai oleh kemerahan
Nyeri
Pembengkakkan.
4.
Komplikasi
Dapat terbentuk bisul (furunkel) apabila folikel yang meradang pecah dan
menyebarkan bakteri ke dermis. Nyeri dan peradangan memburuk. Dapat terjadi
pengeluaran pus dan selulitis.
5.
Penatalaksanaan
Air dan sabun serta antibiotik topikal
Mungkin diperlukan kompres hangat dan insisi lesi.
6.
Patofisiologi
Folikulitis sering berhubungan dengan higiene yang kurang baik, maserasi dan
kulit yang mengelupas sehingga memberikan indikasi masuknya kuman ke dalam
folikel rambut. Lesi bisa bersifat superfisial atau dalam. Papula atau pustula yang
tunggal atau multipel muncul di dekat folikel rambut.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN FULIKULITIS
1.
Pengkajian
Mula-mula nobula kecil yang mengalami peradangan pada folikel rambut,
kemudian menjadi pastula dan mengalami nekrosis dan sembuh setela pus keluar dan
meninggalkan sikatrik. Folikulitis sering terlihat di daerah dagu pada laki-laki yang
mencukur janggutnya dan pada tungkai wanita. Daerah lainnya adalah aksila, batang
tubuh, dan bokong.
2.
Patoflow
3.
Analisa Data
No Data
Etiologi
Masalah
1
Ds : - pasien
mengeluh
nyeri pada area
tertentu
- Pasien
mengatakan
gelisah pada
Invasi bakteri ke folikel rambut
Folikulitis
Respons inflamasi lokal
Nyeri
Nyeri
Invasi bakteri ke folikel rambutKerusakan saraf perifer Defisiensi Pengetahuan Folikulitis Respons inflamasi lokal
Ketidaktahuan tentang proses penyakit, perawatn, dan pencegahan berulangnya
penyakit
Pembentukan papula dan pustula di kulit
Nyeri
Kerusakan integritas jaringan
area nyeri
Do : - pasien terlihat
dilatasi pada
pupil
2
Ds : - pasien
mengatakan
adanya
inflamasi pada
daerah kulit
tertentu
Do : - terlihat adanya
pustul di kulit
pasien
Invasi bakteri ke folikel rambut
Folikulitis
Respons inflamasi lokal
Kerusakan integritas jaringan
Kerusakan integritas
jaringan
3
Ds : - pasien
mengatakan
kurangnya
pengetahuan
tentang
penyakit yang
dideritnya
Do : - pasien sering
menanyakan
tentang
penyakitnya
Invasi bakteri ke folikel rambut
Folikulitis
Respons inflamasi lokal
Pembentukan papula dan
pustula di kulit
Ketidaktahuan tentang proses
penyakit, perawatn, dan
pencegahan berulangnya
Defisiensi Pengetahuan
Defisiensi Pengetahuan
4.
Diagnosa Keperawatan
No
Prioritas Masalah dan Diagnosa Keperawatan
1
Nyeri b.d respons inflamasi lokal
2
Kerusakan integritas jaringan b.d respons inflamasi lokal
3
Defisiensi Pengetahuan b.d kurang pajanan
5.
Rencana Keperawatan
No Tgl D(x)
Keperawatan
Perencanaan
Tujuan
Kriteria Hasil Intervensi
Aktivitas
1
Nyeri
NOC : Pain
Level,
Pain
control,
Comfort
level
Kriteria Hasil : Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu NIC :Pain
Managemen
t
Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensi f termasuk lokasi, karakteristik, durasi,mengguna kan tehnik nonfarmak ologi untuk mengurang i nyeri, mencari bantuan) Melaporka n bahwa nyeri berkurang dengan mengguna kan manajemen nyeri Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) Menyataka n rasa nyaman setelah nyeri berkurang Tanda vital dalam rentang normal frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyam anan Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien Kaji kultur yang mempengaru hi respon nyeri Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefekti fan kontrol nyeri masa lampau Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan Kontrol lingkungan yang dapat mempengaru hi nyeri seperti suhu Mampu mengontrol nyeri (tahu
nyeri, mampu menggunaka n tehnik nonfarmakol ogi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan) Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunaka n manajemen nyeri Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang Tanda vital dalam rentang normal ruangan, pencahayaan dan kebisingan Kurangi faktor presipitasi nyeri Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi , non farmakologi dan inter personal) Kaji tipe dan
sumber nyeri untuk
Ajarkan tentang teknik non farmakologi Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri Evaluasi keefektifan kontrol nyeri Tingkatkan istirahat Kolaborasika n dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri Analgesic Administration Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi Cek riwayat alergi Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi
analgesik ketika pemberian lebih dari satu Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri secara teratur Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping)
2
Kerusakan
integritas
jaringan
NOC : Tissue Integrity : Skin and Mucous Membranes Kriteria Hasil : Integritas kulit yang baik bisa dipertahan kan (sensasi, elastisitas, NIC : Pressure Management Anjurkan pasien untuk menggunaka n pakaian yang longgar Hindari kerutan padaa tempat tidurtemperatur, hidrasi, pigmentasi ) Tidak ada luka/lesi pada kulit Perfusi jaringan baik Menunjukk an pemahama n dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya sedera berulang Mampu melindungi kulit dan mempertah ankan kelembaba n kulit dan perawatan alami Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali Monitor kulit akan adanya kemerahan Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien Monitor status nutrisi pasien Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat
3
Kurang Pengetahuan NOC : Kowlw dge : disease process Kowled ge : health Behavio r Kriteria Hasil Pasien dan keluarga menyataka n pemahama n tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan Pasien dan keluarga mampu melaksana kan prosedurNIC:
Teaching :
disease
Process
Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi,yang dijelaskan secara benar Pasien dan keluarga mampu menjelaska n kembali apa yang dijelaskan perawat/ti m kesehatan lainnya dengan cara yang tepat. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat Hindari harapan yang kosong Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit
pilihan terapi atau penanganan Dukung pasien untuk mengeksplora si atau mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat Rujuk pasien pada grup atau agensi di komunitas lokal, dengan cara yang tepat Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat