• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faisal Basri Ingatkan Pemerintah. Tak Jadi Tong Sampah Cina

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Faisal Basri Ingatkan Pemerintah. Tak Jadi Tong Sampah Cina"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1 Tanggapan:

Faisal Basri Ingatkan Pemerintah

Tak Jadi Tong Sampah Cina

From:Chan CT

Sent: Sunday, January 24, 2016 9:48 AM

To:GELORA_In

Subject: Fw: [GELORA45] Faisal Basri Ingatkan Pemerintah tak Jadi Tong Sampah Cina

Bung Oey, ... satu tanggapan yang sangat menyejukkan!

Tapi menggunakan pernyataan “CINA” belum tentu begitu yang digunakan bung Faisal, ... bisa saja wartawan “Republika” yang meliput, apalagi ditengah-tengah liputannya juga sekali gunakan Tiongkok. Namun sudah seharusnya sebutan TIONGOK/TIONGHOA inilah yang digunakan, tidak gunakan CINA lagi!

Mengenai pernyataan “Indonesia Jangan menjadi Tong Sampah Tiongkok”, tentunya akan menimbulkan pertanyaan: Apakah pantas dan layak “BANTUAN” Tiongkok disaat Pemerintah Jokowi mulai meningkat dan segera akan menyingkirkan AS-Jepang? Bukankah dengan demikian orang segera akan berkesan kalau bung Faisal Basri hanya akan mempertahankan ketergantungan ekonomi Indonesia pada AS-Jepang, dengan menyudutkan usaha Tiongkok investasi di Indonesia saja!

Benar tidak atau sampai dimana kelebihan produksi baja Tiongkok sehingga begitu getol dan “memaksa” nya Tiongkok mengeksport teknologi Kereta-Cepat itu, tentu masih bisa didiskusikan lebih lanjut, ... boleh-boleh saja orang berpendapat agresif Tiongkok dalam usaha investasi keluar adalah sedang membuang SAMPAH-SAMPAH! Masalah lebih lanjut, bagi negara-negara yg hendak menerima “SAMPAH” itu sendiri saja bagaimana? Berguna tidak “SAMPAH” itu bagi negaranya??? Jadi, dilihat dari sudut keuntungan dibangun HST JKT-BDG bagi usaha pembangunan ekonomi Indonesia sendiri bagaimana? Pantaskah BANTUAN yang diberikan Tiongkok dikatakan itu SAMPAH, ...? Mendorong maju atau akan merugikan dan mengemplang RI dengan hutang yg melilit?

Saya tidak ada kemampuan yamenyoroti masalah ini, tapi yang terlihat dari gerak sepak terjang pemerintah Jokowi setahun lebih ini, arah usaha melepaskan diri dari jerat cekik AS-Jepang sudah mulai nampak, dengan makin banyaknya usaha Tiongkok masuk

(2)

2

menanamkan modalnya di Indonesia. Mulai mendesak modal AS-Jepang di Indonesia. Ini pertanda baguuus! Harus diteruskan! Begitu juga dengan usaha HST JKT-BDG ini, berita yg saya dengar juga akan mendorong pembangunan kota-ekonomi baru disekitar Bandung. Belum lagi pemikiran yang diajukan bung Oey itu, yang juga sudah ada pemberitakan akan membangun pabrik gerbong HST di Surabaya, ... dengan demikian gerbong-gerbong HST bisa diproduksi sendiri di Indonesia. Satu pemikiran yang sangat bagus, untuk kemungkinan jangka panjang melanjutkan pembangunan HST JKT-SBY dan selanjutnya di luar Jawa! Mengapa tidak? Bagaimana bentuk dan konkritnya saya tidak jelas, ... bukankah ini merupakan gerak mendorong maju ekonomi nasional, menambah usaha yang cukup baik untuk menampung penggangguran, ...

Salam, ChanCT

From:mailto:[email protected]

Sent: Saturday, January 23, 2016 7:41 PM

To:[email protected] ; Sunny

Subject: Re: [GELORA45] Faisal Basri Ingatkan Pemerintah tak Jadi Tong Sampah Cina

WAH, bung Basri kok masih pakai istilah Cina sana sini?

Bung, negara baru berkembang itu membutuhkan FDI (foreign direct investment) namun harus pandai pandai memilih milah 3 jenis FDI

1. Mengolah kekayan alam

2. Pasar produknya dalam negeri 90% 3. Pasar Produknya 90% export.

FDI 1 dan 2 , itu merupakan asset negara yang sangat berharga, harus dimanfaatkan sebesar besarnya bagi kepentingan bangsa, karena sifatnya sumber bahan atau pasar dalam negeri, maka investasi harus dalam negeri, tak bisa dipindahkan keluar negeri,&nb sp;maka pemerintah harus bersikap tegas dalam memberikan izin usaha itu, bagi kepentingan negeri sebesar besarnya. Kita yang berhak menentukan FDI mana yang paling menguntungkan bagi negeri.

Dalam hal FDI 3. maka pemerintah harus bersikap memberikan pelayanan pada perusahaan asing yang maksud investasinya hanya mencari beaya lebih murah saja bagi produknya yang berpasaran dunia, manufaktur dimana saja tak jadi masalah. dan pesaing

(3)

3

yang ingin menampung tidak saja hanya NKRI, masih banyak lagi negara lain yang berlomba lomba memberikan fasilitas yang lebih baik, untuk menarik FDI jenis 3 ini..

Dalam hal HST = High speed Train (KRC Kereta Rel Cepat) Jakarta Bandung, jelas adalah jenis 1 dan 2 gabungan, pasarnya dan sumber daya alam (tanahnya) ada dalam negeri, jelas sikap pemerintah Jokowi-JK, menunjukkan sikapny a yg memilih hasil tender antara Jepang dan Tiongkok secara mementingkan kepentingan RI, dimana syaratnya adalah BtoB, karena Pemerintah membutuhkan dana untuk keperluan investasi diluar Jawa lebih banyak, Maka keputusan itu dipenuhi oleh pemerintah Tiongkok, sudah benar. Dana seluruhnya ditanggung Tiongkok, dengan partner Konstruksi bangunan dari pihak Indonesia sudah benar adanya, memberikan kesempatan kepada kontraktor kita pengalaman kerja untuk selanjutnya pasti porsi WIKA akan menjadi lebih besar lagi di pembangunan selanjutnya. Kalau boleh usul saya akan sarankan; Tiongkok harus mendirikan satu bekerja sama dengan pabrik baja lokal yang sudah established, sebuah pabrik baja untuk produksi rel dan komponen lainnya dalam negeri. Untuk keperluan tenaga listrik, kita minta Tiongkok mendirikan atau kerja sama dibidang pembuatan solar panel dan sistem kaitanya dalam negeri, terpasang diatas sepanjang rel kereta listrik, bentuknya seperti sar an rel kereta api.

Kritikan Bung Basri bahwa RI jangan jadi tempat buangan sampah luberan industri Cina yang lagi mengalami kesulitan tidak terjadi. Apalagi menurutku memang Ekonomi Tiongkok lagi merosot, kelebihan produksi apa tepat penggunaan istilah itu? Padahal sbg ekonom handal Bung Basri semestinya menyadari bagaimanapun menurunnya ekonomi "Cina", masih tumbuh 6,8% tahun 2015 yang lalu, dan menurunnya perkembangan "GDP" itu mungkin saja adalah tindakan yang disengaja, untuk mengerem perkembangan yang terlalu panas, yang pasti, bentuk kerangka ekonomi yang dulunya mengandalkan eksport barang manufaktur low and medium tech, sekarang hendak dialihkan menjadi ekonomi membangkitkan pasar konsumsi dalam negeri, dan menggantikan eksport produk barang lebih high tech. Suatu masa transisi yang harus dilakukan oleh negeri berkembang men uju ekonomi kuat dan maju. Jadilah ini suatu kesempatan untuk menampung kelebihan ekonomi lowtech untuk dialihkan ke NKRI. bukan kita yang harus menjadi tempat buangan sampah pabrik kelebihan produksi "Cina". Alangkah baiknya bila Bung Basri yang mempunyai koneksi dengan Jokowi yang dekat mampu memberikan saran membangun, bukan saran yang anti "Cina" nota bene rencananya untuk "One Road One Belt" bagi kepentingan negara berkembang untuk membangun sarana infra struktur, sebagai jalan mula (pengalaman dalam negeri Tiongkok) negara dalam pembangunan ekonomi yang mandiri, kerjasama yang win win, bukan sebagai tempat pembuangan sampah "Cina".

(4)

4

HST mutlak diperlukan, suatu policy Jokowi yang sudah mantap sedang dimulai pelaksanaannya. secara bertahap pengalihan teknologi medium tech seperti rel kereta, dan solar panel electric generation sudah selayaknya kita usahakan alih teknologinya setahap menuju high tech pembuatan gerbong dan lokomotif motor listrik maupun sistem pengendalian HST dan lain lain, sebagai tujuan selanjutnya pengembangan lebih lanjut HST.

Jadi saya yakin kita bukan tempat sampah industri "Cina yang sedang merosot", bila kita mampu mengkelola dan kerja keras memanfaatkan asset kita yang sangat berharga itu dalam pembangunan ekonomi yang makin mandiri, yang menjadi cita cita Boeng Karno. Yang rela berkorban demi bangsa yang telah menolak investasi Freeport (FDI jenis1), yang sangat merugikan bangsa.

Sekian komerntarku, mudah mudahan Bung Basri dapat memberikan komentar balik demi kepentingan pembangunan infra struktur gagasan Pres Jokowi.

OYT.

http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/16/01/22/o1cs30382-faisal-basri-ingatkan-pemerintah-tak-jadi-tong-sampah-cina

umat, 22 Januari 2016, 19:01 WIB

Faisal Basri Ingatkan Pemerintah tak Jadi Tong Sampah Cina

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Nur Aini Image: Shaun Robinson/Shutterstock.com

kereta cepat Cina.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah diingatkan untuk tidak sekedar menjadi "tong sampah" atas melimpahnya kapasitas industri di Cina. Ekonom senior dari Universitas Indonesia Faisal Basri mengatakan, pemerintah seharusnya tidak terlena dengan pinjaman yang diberikan oleh

(5)

5 Cina. Karena, saat ini kondisi perekonomian Cina tengah dalam kondisi yang tidak baik.

"Tiongkok itu kan ekonominya sedang terjerembab," kata Faisal, usai memberikan pemaparan tentang outlook kelistrikan di PLN Pusat, Jakarta, Jumat (22/1).

Menurut Faisal, saat ini terjadi kelebihan kapasitas pada industri di Cina. Oleh karena itu, mereka harus membuang kelebihan kapasitas tersebut ke seluruh dunia, salah satunya dengan ikut proyek prestisius kereta cepat.

"Terjadi massive over capacity dari industri (Cina), dia harus salurkan itu kelebihan kapasitasnya ke seluruh dunia. Jangan mau kita buat buang sampahnya Tiongkok dong," ungkap Faisal.

Tak hanya itu, kata Faisal, Cina juga tengah dihantui dengan demonstrasi dan pemogokan para buruh dan kalangan menengah. Mereka meminta kenaikan upah yang lebih tinggi. "Itu karena growing middle class-nya nggak bisa ditekan terus oleh Partai Komunis. Nah oleh karena itu mereka minta upah lebih tinggi," katanya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meresmikan pembangunan proyek kereta cepat rute Jakarta-Bandung di Kota Walini, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Proyek ini merupakan kerja sama business to business antara Indonesia dengan Cina.

Sebanyak 60 persen pembiayan proyek ini didapat dari hasil pinjaman lunak ke China Development Bank (CDB). Sementara sisanya dibiayai Indonesia, melalui konsorsium kereta cepat.

Referensi

Dokumen terkait

Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, Peraturan Daerah Kabupaten Nomor 7 Tahun 2001 tentang Retribusi dan Sewa Pemakaian Kekayaan Daerah (Lembaran Daerah

Pada kegiatan administrasi yang ada di SMP Strada Santo Fransiskus Xaverius 2 akan ditangani oleh bagian tata usaha, dan pada tahap ini akan menangani semua hal tentang

Kondisi SM Rimbang Baling sangat memprihatinkan saat ini, dan sangat disayangkan jika pada akhirnya, pemasalahan yang terjadi di kawasan konservasi menyebabkan

Hal ini menunjukkan bahwa Sektor Pertambangan belum mampu menarik sektor-sektor lain (sektor hulu) untuk memenuhi kebutuhan (input) bagi industri pertambangan dan

ii. dan telah ditetapkan, dengan alokasi digunakan untuk memaksimumkan laba perusahaan dengan kendala teknologi produksi. Poin i sampai poin iv merupakan asumsi

 Mempraktikkan Tilawah Al Quran dengan tartil bertajwid secara mandiri. Langkah-Langkah Pembelajaran :

Pendapatan regional sering didefinisikan sebagai nilai produksi barang-barang dan jasa-jasa yang diciptakan dalam suatu perekonomian di dalam suatu wilayah selama satu

Media booklet materi keragaman jenis jamur makroskopis di sekitar kota lubuklinggau, dapat dimanfaatkan sebagai media pendukung, untuk membantu menyampaikan materi