• Tidak ada hasil yang ditemukan

Banyuwangi, Maret 2018 BUPATI BANYUWANGI. H. ABDULLAH AZWAR ANAS, M.Si.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Banyuwangi, Maret 2018 BUPATI BANYUWANGI. H. ABDULLAH AZWAR ANAS, M.Si."

Copied!
189
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Dengan memanjatkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) Kabupaten Banyuwangi Tahun 2017 dapat diselesaikan, sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP).

Penyusunan Laporan Kinerja berpedoman pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Secara substantif merupakan sarana pelaporan kinerja dalam rangka mengimplementasikan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah yang menginformasikan penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan kebijakan, serta pencapaian sasaran dalam mewujudkan tujuan, misi dan visi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Selain itu, Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) Kabupaten Banyuwangi Tahun 2017 merupakan media pertanggungjawaban kinerja yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Banyuwangi Tahun 2016–2021, hal ini sebagai perwujudan penyelenggaraan pemerintahan yang transparan dan akuntabel serta menciptakan Good Governance dan

Clean Government.

Hasil pencapaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan Kabupaten Banyuwangi tidak terlepas dari kerjasama dan kerja keras semua pihak yaitu masyarakat, swasta dan aparat pemerintah daerah, baik dalam perumusan kebijakan, implementasi maupun pengawasannya.

Akhir kata, semoga Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) Kabupaten Banyuwangi Tahun 2017 ini, bermanfaat dan dapat dijadikan parameter terhadap pencapaian kinerja pelaksanaan pembangunan tahun 2017 dan dijadikan sebagai bahan masukan untuk penyempurnaan dan meningkatkan kinerja dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat.

Banyuwangi, Maret 2018 BUPATI BANYUWANGI

(3)

ii

Dalam rangka penyelenggaraan tata pemerintahan daerah yang baik dan bersih (clean and good

governance) pada pengelolaan administrasi publik dan pelaksanaan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah,

merupakan hal yang harus dilakukan di era reformasi. Reformasi Birokrasi merupakan perwujudan responsibilitas dan sensitifitas pemerintah terhadap tuntutan dan aspirasi masyarakat dalam mencapai tujuan dan cita-cita kehidupan berbangsa, bernegara dan bertanah air. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berupaya menyelenggarakan pemerintahan dengan berprinsip pada pemerintahan yang baik (Good Governance) dan berorientasi kepada hasil (Result Oriented Government) sesuai dengan kewenangannya dan manajemen pemerintahan yang diimplementasikan adalah akuntabilitas kinerja. Akuntabilitas kinerja memuat visi, misi, tujuan dan sasaran yang memiliki arah dan tolok ukur yang jelas atas rumusan perencanaan strategis organisasi, sehingga gambaran hasil yang ingin dicapai dalam bentuk sasaran tersebut dapat terukur, dapat diuji dan dapat diandalkan.

Selanjutnya dengan berpedoman pada Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 7 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun 2016-2021 dan Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 31 Tahun 2017 tentang Indikator Kinerja Utama Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 41 Tahun 2017, untuk mewujudkan Visi lima tahun kedepan telah ditetapkan 5 Misi, 9 Tujuan, 22 Sasaran Strategis dan 44 Indikator Kinerja Utama. Adapun pencapaian kinerja untuk masing-masing indikator sasaran untuk tahun kedua (tahun 2017) periode perencanaan 2016-2021 adalah sebagai berikut :

 Misi I terdapat 3 tujuan, 8 sasaran dan 14 indikator kinerja :

 Capaian indikator sasaran, sebanyak 9 indikator sasaran atau 64.29 % kategori baik sekali (lebih dari 100 %) dan 4 indikator sasaran atau 28.57 % kategori baik (lebih dari 75 % sd. 100 %) serta 1 indikator sasaran atau 7.14 % kategori cukup (55 % sd. 75 %).

 Misi II terdapat 1 tujuan, 5 sasaran dan 9 indikator kinerja :

 Capaian indikator sasaran, sebanyak 4 indikator sasaran atau 44,44 % kategori baik sekali (lebih dari 100 %) dan 4 indikator sasaran atau 44,44 % kategori baik (lebih dari 75 % sd. 100 %) serta 1 indikator sasaran atau 11.11 % kategori cukup (55 % sd. 75 %).

(4)

iii

 Misi III terdapat 3 tujuan, 3 sasaran dan 8 indikator kinerja :

 Capaian indikator sasaran, sebanyak 4 indikator sasaran atau 50 % kategori baik sekali (lebih dari 100 %) dan 4 indikator sasaran atau 50 % kategori baik (lebih dari 75 % sd. 100 %).

 Misi IV terdapat 1 tujuan, 3 sasaran dan 5 indikator kinerja :

 Capaian indikator sasaran, sebanyak 5 indikator sasaran atau 100 % kategori baik sekali (lebih dari 100 %).

 Misi V terdapat 1 tujuan, 3 sasaran dan 8 indikator kinerja :

 Capaian indikator sasaran, sebanyak 2 indikator sasaran atau 25 % kategori baik sekali (lebih dari 100 %) dan 6 indikator sasaran atau 75 % kategori baik (lebih dari 75 % sd. 100 %).

Berkenaan dengan ketercapaian indikator sasaran terhadap target yang telah ditetapkan sebagaimana di atas, Hasil analisis pencapaian Pengukuran Kinerja terhadap 22 (dua puluh dua) Sasaran Strategis dan 44 (empat puluh empat) Indikator Kinerja Utama, diketahui bahwa 24 indikator sasaran atau 54,55 % bermakna Baik Sekali, 18 indikator sasaran atau 40,91 % bermakna Baik, dan 2 indikator sasaran atau 4,55 % bermakna Cukup.Rata-rata capaian kinerja pada tahun 2017 sebesar 117,86 %, mengalami peningkatan jika dibandingkan rata - rata capaian kinerja pada tahun 2016 sebesar 113,53 %, dan dikategorikan Baik Sekali. Jadi capaian kinerja Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2017 bermakna Baik Sekali dan lebih meningkat dibandingkan capaian kinerja tahun 2016 yaitu mengalami peningkatan sebesar 4.33 %.

(5)

iv

KATA PENGANTAR ... i

IKHTISAR EKSEKUTIF ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ……... v

DAFTAR GAMBAR ... vii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Gambaran Umum Kabupaten Banyuwangi ... 2

1.3. Pertumbuhan Ekonomi ...……... 9

1.4. Kondisi Pemerintahan …...……...………... 11

1.5. Jumlah Aparatur Sipil Negara ...………...… 17

BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA 2.1. Rencana Strategis Tahun 2016 – 2021 ... 18

2.1.1. Visi ... 19

2.1.2. Misi ... 20

2.1.3. Tujuan dan Sasaran ………...…... 20-24 2.1.4. Strategi dan Arah Kebijakan ... 2.1.4.1. Strategi Pembangunan Daerah ... 2.1.4.1. Arah Kebijakan ………... 29 30 35 2.2. Indikator Kinerja Utama ( IKU ) ... 39

2.3. Rencana Kinerja Tahunan ( RKT ) ... 43

2.4. Perjanjian Kinerja ..………...………...………. 44

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA 3.1. Capaian Kinerja Pemerintah Kabupaten Banyuwangi Tahun 2017 ... 50

3.2. Analisis Capaian Kinerja Pemerintah Kabupaten Banyuwangi Tahun 2017 ... 54

3.3. Akuntabilitas Keuangan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi Tahun 2017 ... 99

BAB IV PENUTUP ... 106 LAMPIRAN :

1. Pernyataan Telah Direviu Oleh Inspektorat Kabupaten Banyuwangi 2. Pengukuran Kinerja Pencapaian Sasaran RPJMD Kabupaten

Banyuwangi Tahun 2017 3. Perjanjian Kinerja Tahun 2017

4. Rencana Kinerja Tahunan 2018 Pemerintah Kabupaten Banyuwangi

5. Matrik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun 2016-2021

6. SOP Penyusunan LKjIP Kabupaten Banyuwangi 7. Penghargaan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2017

(6)

v

Tabel 1.1. Jumlah Kecamatan, Desa dan Kelurahan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2017

Tabel 1.2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur Kabupaten Banyuwangi Tahun 2017

Tabel 1.3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Kabupaten Banyuwangi Tahun 2017

Tabel 1.4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2017

Tabel 1.5. Urusan Pemerintahan Kabupaten Banyuwangi

Tabel 1.6. Jumlah Aparatur Sipil Negara Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi Berdasarkan Data SIMPEG Tahun 2017

Tabel 2.1. Matrik Hubungan Antara Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Pembangunan Kabupaten Banyuwangi

Tabel 2.2. Indikator Kinerja Utama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi Tabel 3.1.1. Pencapaian Indikator Sasaran

Tabel 3.1.2. Persentase Kategori Pencapaian Indikator Sasaran

Tabel 3.2.1. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 1 Meningkatnya akses pelayanan bidang pendidikan

Tabel 3.2.2. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 2 Meningkatnya kualitas layanan pendidikan

Tabel 3.2.3. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 3 Meningkatnya akses pelayanan bidang kesehatan

Tabel 3.2.4. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 4 Meningkatnya kualitas kesehatan

Tabel 3.2.5. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 5 Tercukupinya ketersediaan pangan

Tabel 3.2.6. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 6 Meningkatnya ketenteraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat

Tabel 3.2.7. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 7 Meningkatnya perlindungan sosial dan masyarakat

Tabel 3.2.8. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 8 Meningkatnya kesadaran dan pemahaman masyarakat akan keragaman budaya

Tabel 3.2.9. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 9 Menurunnya kesenjangan antar wilayah

Tabel 3.2.10. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 10 Menurunnya tingkat pengangguran

(7)

vi

Tabel 3.2.11. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 11 Meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi sektor unggulan

Tabel 3.2.12. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 12 Meningkatnya investasi PMA dan PMDN

Tabel 3.2.13. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 13 Meningkatnya Pemanfaatan Potensi Pariwisata dan Kebudayaan Bagi Masyarakat

Tabel 3.2.14. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 14 Meningkatkan infrastruktur ekonomi yang berkualitas

Tabel 3.2.15. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 15 Meningkatnya infrastruktur sosial yang berkualitas

Tabel 3.2.16. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 16 Meningkatnya Kualitas Lingkungan

Tabel 3.2.17. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 17 Meningkatnya kapasitas pemberdayaan kelompok masyarakat

Tabel 3.2.18. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 18 Terwujudnya pemberdayaan dan pembangunan yang Pengarustamaan Gender

Tabel 3.2.19. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 19 Meningkatnya perlindungan terhadap perempuan dan anak

Tabel 3.2.20. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 20 Meningkatnya akuntabilitas instansi pemerintah dan kualitas layanan publik

Tabel 3.2.21. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 21 Meningkatnya Kinerja Laporan Keuangan dan Kinerja Birokrasi

Tabel 3.2.22. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 22 Meningkatnya Penggunaan Sistem Informasi Daerah

Tabel 3.3.1. Realisasi Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2017 Per 31 Desember 2017

Tabel 3.3.2. Realisasi Belanja Daerah Tahun Anggaran 2017 Per 31 Desember 2017

Tabel 3.3.3. Realisasi Pembiayaan Daerah Tahun Anggaran 2017 Per 31 Desember 2017

(8)

vii

Gambar 1.1. Luas Kabupaten Banyuwangi Dibedakan Menurut Penggunaannya

(9)

1 Pelaksanaan Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaran Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, telah diterbitkan Instruksi Presiden Nomor 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, yang kemudian Instruksi Presiden diganti dengan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP). Dalam Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 pasal 3 dinyatakan bahwa Azas-azas Umum Penyelenggaraan Negara, meliputi : Azas Kepastian Hukum, Azas Tertib Penyelenggaraan Negara, Azas Kepentingan Umum, Azas Keterbukaan, Azas Proporsionalitas, Azas Profesionalitas, dan Azas Akuntabilitas. Azas akuntabilitas adalah setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara negara harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, bahwa Bupati / Walikota menyusun Laporan Kinerja tahunan pemerintah kabupaten / kota dan menyampaikannya kepada Gubernur, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dan Menteri Dalam Negeri paling lambat 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Dengan demikian, Laporan Kinerja yang disusun secara periodik setiap akhir tahun anggaran tersebut menjadi media pertanggungjawaban dan sebagai perwujudan kewajiban instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan program dan kegiatan yang telah diamanatkan para pemangku kepentingan dalam rangka mencapai misi organisasi secara terukur dengan sasaran atau target kinerja yang telah ditetapkan. Selain itu juga berperan

(10)

2 sebagai alat kendali, alat penilai kinerja dan alat pendorong terwujudnya Good Governance atau dalam perspektif yang lebih luas berfungsi sebagai media pertanggungjawaban kepada publik.

1. 2.1 Kondisi Geografis

Kabupaten Banyuwangi secara geografis terletak di ujung timur Pulau Jawa dengan sebutan The Sunrise of Java. Wilayah daratannya terdiri atas dataran tinggi berupa pegunungan yang merupakan daerah penghasil produk perkebunan dan dataran rendah dengan berbagai potensi produk hasil pertanian serta daerah sekitar garis pantai yang membujur dari arah utara ke selatan yang merupakan daerah penghasil berbagai biota laut. Topografi wilayah daratan Kabupaten Banyuwangi bagian barat dan utara pada umumnya merupakan pegunungan dan bagian selatan sebagian besar merupakan dataran rendah. Tingkat kemiringan rata - rata pada wilayah bagian barat dan utara 400, dengan rata - rata curah hujan lebih tinggi bila dibanding dengan bagian

wilayah lainnya. Daratan yang datar sebagaian besar mempunyai tingkat kemiringan kurang dari 150, dengan rata - rata curah hujan cukup memadai untuk ketersediaan budidaya pertanian.

Kabupaten Banyuwangi merupakan kabupaten paling luas se-Jawa Timur, dengan luas wilayah 5.782,50 km2. Wilayah Kabupaten Banyuwangi sebagian besar masih merupakan daerah

kawasan hutan, karena besaran wilayah yang termasuk kawasan hutan lebih banyak kalau dibandingkan kawasan - kawasan lainnya. Area kawasan hutan mencapai 183.396,34 ha atau sekitar 31,72 persen; daerah persawahan sekitar 65.457 ha atau 11,39 persen dan perkebunan dengan luas sekitar 82.143,63 ha atau 14,21 persen; sedangkan yang dimanfaatkan sebagai daerah permukiman mencapai luas sekitar 127.454,22 ha atau 22,04 persen. Sisanya telah dipergunakan oleh penduduk Kabupaten Banyuwangi dengan berbagai manfaat yang ada, seperti jalan, ladang dan lain - lainnya.

Berdasarkan data statistik, potensi lahan pertanian di Kabupaten Banyuwangi berada dalam peringkat ketiga setelah Kabupaten Malang dan Kabupaten Jember. Tidaklah mengherankan kalau Kabupaten Banyuwangi menjadi salah satu lumbung pangan di Provinsi Jawa Timur. Disamping potensi dibidang pertanian, Kabupaten Banyuwangi merupakan daerah produksi

(11)

3 tanaman perkebunan dan kehutanan, serta memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daerah penghasil ternak yang merupakan sumber pertumbuhan baru perekonomian rakyat. Dengan bentangan pantai yang cukup panjang, dalam perspektif ke depan, pengembangan sumberdaya kelautan dapat dilakukan dengan berbagai upaya intensifikasi dan diversifikasi pengelolaan kawasan pantai dan wilayah perairan laut.

Gambar 1.1

Luas Kabupaten Banyuwangi Dibedakan Menurut Penggunaannya

Sumber : Banyuwangi Dalam Angka 2017

Kabupaten Banyuwangi memiliki panjang garis pantai sekitar 175,8 km, serta jumlah pulau sebanyak 15 buah. Seluruh wilayah tersebut telah memberikan manfaat besar bagi kemajuan ekonomi penduduk Kabupaten Banyuwangi. Dataran rendah yang terbentang luas dari selatan hingga utara di mana di dalamnya terdapat banyak sungai yang selalu mengalir di sepanjang tahun. Di Kabupaten Banyuwangi tercatat 35 DAS, sehingga disamping dapat mengairi hamparan sawah yang sangat luas juga berpengaruh positif terhadap tingkat kesuburan tanah.

Hutan (31,72 %)

Sawah (11,39 %)

Lain-lain (17,53 %)

Ladang (2,80 %)

Perkebunan (14,21 %)

Permukiman (22,04 %)

Tambak (0,31 %)

(12)

4 Berdasarkan garis batas koordinatnya, posisi Kabupaten Banyuwangi terletak antara 7 o

, 43 – 80o, 46 Lintang Selatan dan 113o,53 - 114o, 38 Bujur Timur. Wilayah Kabupaten Banyuwangi mempunyai ketinggian antara 25 – 100 meter di atas permukaan air laut. Secara administratif Kabupaten Banyuwangi mempunyai batas daerah sebagai berikut :

a. Sebelah Utara : Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Bondowoso. b. SebelahTimur : Selat Bali.

c. Sebelah Selatan : Samudera Indonesia.

d. Sebelah Barat : Kabupaten Jember dan Kabupaten Bondowoso.

Gambar 1.2

Wilayah Administrasi Pemerintahan Kabupaten Banyuwangi terbagi atas 25 Kecamatan, 189 Desa dan 28 Kelurahan, dengan rincian sebagai berikut :

(13)

5 Tabel 1.1

Jumlah Kecamatan, Desa dan Kelurahan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2017

No. Kecamatan Jumlah

Desa Kelurahan 1. Banyuwangi - 18 2. Giri 2 4 3. Glagah 8 2 4. Kalipuro 5 4 5. Tegaldlimo 9 - 6. Muncar 10 - 7. Cluring 9 - 8. Gambiran 6 - 9. Tegalsari 6 - 10. Glenmore 7 - 11. Kalibaru 6 - 12. Genteng 5 - 13. Srono 10 - 14. Rogojampi 10 - 15. Pesanggaran 5 - 16. Kabat 14 - 17. Singojuruh 11 - 18. Sempu 7 - 19. Songgon 9 - 20. Purwoharjo 8 - 21. Licin 8 - 22. Siliragung 5 - 23. Bangorejo 7 - 24. Wongsorejo 12 - 25. Blimbingsari 10 - JUMLAH 189 28

(14)

6 1.2.2. Kondisi Demografis

Dalam pengambilan kebijakan pembangunan, kepadatan penduduk dalam suatu wilayah sangat penting diketahui dan salah satu bahan pertimbangan dalam merencanakan pembangunan wilayah tersebut. Semakin padat suatu wilayah maka semakin besar perhatian yang diperlukan dalam penyusunan kebijakan pembangunan. Jika dihubungkan dengan masalah-masalah sosial dan lingkungan hidup, maka semakin padat suatu wilayah, semakin besar kemungkinan terjadinya kerawanan sosial dan dampaknya terhadap lingkungan sekitarnya. Jumlah penduduk Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2017 mencapai 1.693.630 jiwa. Tingkat Kepadatan Penduduk rata – rata 0,341 jiwa / km² dari luas wilayah sebesar 5.782,50 km².

Tabel 1.2

Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur Kabupaten Banyuwangi Tahun 2017

No Kelompok Umur / Tahun Jumlah Prosentase

1 0 - 4 61.743 3.65 2 5 - 9 117.739 6.95 3 10 - 14 124.103 7.33 4 15 - 19 135.920 8.03 5 20 – 24 123.737 7.31 6 25 - 29 123.171 7.27 7 30 - 34 121.848 7.19 8 35 - 39 138.449 8.11 9 40 - 44 136.938 8.09 10 45 - 49 141.149 8.33 11 50 - 54 123.737 7.31 12 55 - 59 103.873 6.13 13 60 - 64 79.971 4.72 14 65 - 69 60.887 3.60 15 70 - 74 42.827 2.53 16 > 75 57.538 3.40 JUMLAH 1.693.630 100.00

(15)

7 Penduduk Kabupaten Banyuwangi sebagian besar bermata pencaharian Bidang Wiraswasta yang mendominasi keseluruhan jumlah penduduk yaitu mencapai 368.449 jiwa atau 21.75 % dari Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Kabupaten Banyuwangi tahun 2017 sebesar 1.693.630 jiwa. Secara terperinci jumlah penduduk yang dikelompokkan berdasarkan mata pencaharian, diuraikan dalam tabel berikut :

Tabel 1.3

Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Kabupaten Banyuwangi Tahun 2017

No Mata Pencaharian Jumlah Prosentase

1. Belum / Tidak Bekerja 484.759 28.62

2. Pelajar / Mahasiswa 314.019 18.54

3. Pertanian / Peternakan / Perikanan 40.737 2.41

4. Perdagangan 2.650 0.16 5. Industri 3.818 0.23 6. Jasa Kemasyarakatan 2.461 0.15 7. Konstruksi 39.674 2.34 8. Pemerintah 252.831 14.93 9. Swasta 183.238 10.82 10. Wiraswasta 368.449 21.75 11. Lainnya 994 0.06 JUMLAH 1.693.630 100.00

(16)

8 Sedangkan jumlah penduduk berdasarkan kelompok tingkat pendidikan masih didominasi oleh kelompok pendidikan Tingkat SD / Sederajat yaitu sebesar 569.111 atau 33,60 % dari jumlah penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kabupaten Banyuwangi tahun 2017 sebesar 1.693.630 jiwa, secara rinci dapat diuraikan dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 1.4

Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2017

No Tingkat Pendidikan Jumlah Prosentase

1. Belum / Tidak Sekolah 478.485 28.25

2. SD / Sederajat 569.111 33.60 3. SLTP / Sederajat 292.272 17.26 4. SLTA / Sederajat 293.642 17.34 5. Diploma 15.161 0.90 6. Strata I 42.832 2.53 7. Strata II 1.985 0.12 8. Strata III 142 0.01 Jumlah 1.693.630 100.00

(17)

9

Melambatnya perekonomian nasional, Kabupaten Banyuwangi tetap optimis dengan laju positif perekonomian daerah.Dalam APBD 2017, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun 2017 berada pada posisi 6,06 % hingga 6,31 %. Berdasarkan kerangka ekonomi makro yang telah dibahas dan disepakati bersama Pemerintah Daerah dan DPRD, APBD tahun 2017 disusun sebagai upaya pemerintah melakukan berbagai langkah, antara lain mendorong ekonomi, meningkatkan kinerja perbankan, meningkatkan gerak dan transaksi ekonomi. Oleh karena itu seluruh proyeksi baik pendapatan, belanja, dan pembiayaan diharapkan dapat secara efektif menstimulasi pertumbuhan ekonomi, meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), dan menurunkan angka kemiskinan di Kabupaten Banyuwangi. Untuk mencapai sasaran pembangunan dan kapasitas fiskal yang semakin kuat, upaya yang harus dilakukan adalah meningkatan, menggali mengembangkan sumber-sumber pendapatan asli daerah secara menyeluruh dan profesional.

Selain daripada itu, Kabupaten Banyuwangi juga akan mengubah strategi ekonominya yaitu dengan menciptakan destinasi wisata dan spot-spot selfie baru, serta terus menyempurnakan kemasan Banyuwangi Festival sebagai daya tarik dan ajang promosi budaya Banyuwangi untuk mengerek traffic wisatawan yang ujungnya akan mampu menggerakkan ekonomi daerah. Salah satu strategi yang diterapkan agar roda perekonomian tetap meningkat yaitu dengan melihat tingginya tingkat hunian hotel akibat kunjungan wisatawan dan penggunaan jasa transportasi. Saat kunjungan tinggi, hotel-hotel akan mengalami high season. Ini biasa terjadi pada akhir tahun, karena banyak instansi yang menggelar pertemuan di Kabupaten Banyuwangi dan sebaliknya, saat awal tahun banyak hotel yang mengalami low season. Kondisi ini akan coba dikendalikan dengan menggeser beberapa even Banyuwangi Festival ke waktu-waktu low season. Sehingga, saat sedikit instansi yang menggelar meeting ke Banyuwangi, hunian hotel tetap bisa tinggi yaitu dengan hadirnya wisatawan yang ingin menyaksikan gelaran Banyuwangi Festival.

Belanja daerah tahun anggaran 2017 dilaksanakan dan diarahkan pada peningkatan proporsi belanja yang memihak pada kepentingan publik, terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar, disamping tetap menjaga eksistensi penyelenggaraan pemerintahan. Sehingga penggunaannya harus mengedepankan prinsip ekonomis, efisiensi, dan efektivitas sesuai dengan prioritas. Dari keseluruhan program pembangunan, sektor ekonomi menjadi fokus utama yang

(18)

10 digenjot pertumbuhannya, sebab sektor ini berkaitan langsung dengan upaya mendongkrak kesejahteraan ekonomi masyarakat. Kesejahteraan ekonomi warga akan menjadi pondasi kuat dalam proses pembangunan daerah secara keseluruhan. Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Banyuwangi terus melejit terjadi karena semua sektor perekonomian daerah bergerak bersama-sama, mulai pertanian, perikanan, UMKM, sektor barang dan jasa hingga pariwisata. Selain itu Pemerintah daerah maupun swasta turut serta menggeliatkan perekonomian daerah. Masing-masing memiliki peran penting mendorong semua sektor perekonomian. Tugas Pemerintah daerah menjadi trigger bagi perkembangan daerah dan mengejawantahkan lewat kebijakan sehingga mampu memicu sektor perekonomian warga. Masyarakat dan sektor swasta di Kabupaten Banyuwangi memiliki peran besar dalam menggerakkan roda industri dan proses kreatif di masyarakat. Karena itu dalam kurun waktu lima tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Banyuwangi selalu berada pada tren positif. Pertumbuhannya pun senantiasa di atas rata rata Jawa Timur dan nasional.

Dalam meningkatkan pemerataan akses dan kualitas pendidikan, Pemerintah Kabupaten juga terus mendorong program afirmasi untuk memastikan seluruh rakyat Banyuwangi, baik yang tinggal di perkotaan maupun di pelosok desa mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan berkualitas. Berdasarkan perkembangan pertumbuhan ekonomi yang cukup menjanjikan, maka diperkirakan stabilitas ekonomi di Kabupaten Banyuwangi dalam tahun 2017 tetap terjaga dan diharapkan pertumbuhan ekonomi tersebut dapat menumbuhkan sektor modern seperti jasa dan manufaktur, namun tetap harus dipastikan pertumbuhan juga terjadi di sektor – sektor menengah ke bawah, sehingga ekonomi kerakyatan dapat terwujud. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah daerah merumuskan tujuh kebijakan utama yang terdiri atas peningkatan belanja infrastruktur, meningkatkan efisiensi belanja daerah, memantapkan reformasi birokrasi untuk meningkatkan pelayanan publik, pengurangan kesenjangan antar kelompok pendapatan dan antar wilayah melalui pemerataan pembangunan, mendukung efektifitas, berkeberlanjutan program nasional Sistem Jaminan Sosial Nasional dan perbaikan pelayanan kesehatan.

(19)

11 Berdasarkan Undang - Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah, telah dilakukan penataan kembali Organisasi Perangkat Daerah berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 8 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Banyuwangi.

Susunan Perangkat Daerah berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 8 Tahun 2016 sebagai berikut :

a. Sekretariat Daerah merupakan Sekretariat Daerah Tipe A; b. Sekretariat DPRD merupakan Sekretariat DPRD Tipe A;

c. Inspektorat merupakan Inspektorat Tipe A yang melaksanakan fungsi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah;

d. Dinas Daerah, terdiri dari :

1. Dinas Pendidikan merupakan Dinas Tipe A yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang pendidikan;

2. Dinas Kesehatan merupakan Dinas Tipe A yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang kesehatan;

3. Dinas Pekerjaan Umum, Cipta Karya dan Penataan Ruang merupakan Dinas Tipe B yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang pekerjaan umum dan penataan ruang; 4. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan merupakan Dinas Tipe B yang melaksanakan urusan

pemerintahan bidang pekerjaan umum dan penataan ruang;

5. Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman merupakan Dinas Tipe C yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang perumahan dan kawasan permukiman; 6. Dinas Sosial merupakan Dinas Tipe B yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang

sosial;

7. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi merupakan Dinas Tipe B yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang tenaga kerja dan bidang transmigrasi;

8. Dinas Perhubungan merupakan Dinas Tipe A yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang perhubungan;

(20)

12 9. Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian merupakan Dinas Tipe B yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang komunikasi dan informatika, bidang statistik dan bidang persandian;

10. Dinas Kebudayan dan Pariwisata merupakan Dinas Tipe A yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang Kebudayaan dan bidang Pariwisata;

11. Dinas Koperasi dan Usaha Mikro merupakan Dinas Tipe B melaksanakan urusan pemerintahan bidang koperasi dan usaha mikro;

12. Dinas Pertanian merupakan Dinas Tipe A yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang pertanian;

13. Dinas Perikanan dan Pangan merupakan Dinas Tipe A yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang kelautan dan perikanan, dan bidang pangan;

14. Dinas Perindustrian dan Perdagangan merupakan Dinas Tipe A yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang perindustrian dan bidang perdagangan;

15. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa merupakan Dinas Tipe B yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang pemberdayaan masyarakat dan desa;

16. Dinas Lingkungan Hidup merupakan Dinas Tipe A yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang lingkungan hidup;

17. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu merupakan Dinas Tipe A yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang penanaman modal;

18. Dinas Pemuda dan Olahraga merupakan Dinas Tipe B yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang kepemudaan dan olahraga;

19. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan merupakan Dinas Tipe B yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang perpustakaan dan bidang kearsipan;

20. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana merupakan Dinas Tipe A yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, bidang pengendalian penduduk dan keluarga berencana;

21. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil merupakan Dinas Tipe A yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang administrasi kependudukan dan pencatatan sipil;

22. Satuan Polisi Pamong Praja merupakan Dinas Tipe A yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang ketentraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat, yang terdiri dari sub urusan ketentraman dan ketertiban umum, dan sub urusan kebakaran.

(21)

13 e. Badan Daerah, terdiri dari :

1. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah merupakan Badan Tipe A melaksanakan fungsi penunjang urusan pemerintahan bidang perencanaan, dan bidang penelitian dan pengembangan;

2. Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah merupakan Badan Tipe A melaksanakan fungsi penunjang urusan pemerintahan bidang keuangan;

3. Badan Pendapatan Daerah merupakan Badan Tipe A menyelenggarakan fungsi penunjang urusan pemerintahan bidang keuangan;

4. Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan merupakan Badan Tipe A melaksanakan fungsi penunjang urusan pemerintahan bidang kepegawaian, pendidikan dan pelatihan.

f. Kecamatan, terdiri dari :

1. Kecamatan Banyuwangi merupakan Kecamatan Tipe A; 2. Kecamatan Giri merupakan Kecamatan Tipe A;

3. Kecamatan Glagah merupakan Kecamatan Tipe A; 4. Kecamatan Wongsorejo merupakan Kecamatan Tipe A; 5. Kecamatan Kalipuro merupakan Kecamatan Tipe A; 6. Kecamatan Singojuruh merupakan Kecamatan Tipe A; 7. Kecamatan Kabat merupakan Kecamatan Tipe A; 8. Kecamatan Rogojampi merupakan Kecamatan Tipe A; 9. Kecamatan Songgon merupakan Kecamatan Tipe A; 10. Kecamatan Srono merupakan Kecamatan Tipe A; 11. Kecamatan Muncar merupakan Kecamatan Tipe A; 12. Kecamatan Cluring merupakan Kecamatan Tipe A; 13. Kecamatan Purwoharjo merupakan Kecamatan Tipe A; 14. Kecamatan Tegaldlimo merupakan Kecamatan Tipe A; 15. Kecamatan Pesanggaran merupakan Kecamatan Tipe A; 16. Kecamatan Bangorejo merupakan Kecamatan Tipe A; 17. Kecamatan Gambiran merupakan Kecamatan Tipe A; 18. Kecamatan Genteng merupakan Kecamatan Tipe A; 19. Kecamatan Sempu merupakan Kecamatan Tipe A; 20. Kecamatan Glenmore merupakan Kecamatan Tipe A; 21. Kecamatan Kalibaru merupakan Kecamatan Tipe A;

(22)

14 22. Kecamatan Licin merupakan Kecamatan Tipe A;

23. Kecamatan Tegalsari merupakan Kecamatan Tipe A; 24. Kecamatan Siliragung merupakan Kecamatan Tipe A; 25. Kecamatan Blimbingsari merupakan Kecamatan Tipe A.

Selain Perangkat Daerah sebagaimana tersebut di atas, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik masih ditetapkan sebagai perangkat daerah yang melaksanakan urusan pemerintahan dibidang kesatuan bangsa dan politik, sambil menunggu peraturan perundang-undangan yang berlaku / mengatur Urusan Pemerintahan Umum. Begitu juga Perangkat Daerah yang melaksanakan Sub Urusan Pemerintahan Bidang Bencana yang dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 16 Tahun 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Banyuwangi, tetap melaksanakan tugasnya sampai dengan dibentuknya Perangkat Daerah baru yang melaksanakan Sub Urusan bencana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Tabel 1.5 Urusan Pemerintahan

Berdasarkan Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2014 Yang Menjadi Kewenangan Daerah

NO. URUSAN WAJIB

(PELAYANAN DASAR) KETERANGAN

1

Pendidikan Pendidikan Dasar, PAUD dan Non

Formal

2 Kesehatan -

3 Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang; -

4 Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman -

5 Ketentraman dan Ketertiban Umum serta Perlindungan Masyarakat

-

(23)

15 NO. URUSAN WAJIB

(NON PELAYANAN DASAR)

KETERANGAN

1 Tenaga Kerja -

2 Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

-

3 Pangan -

4 Pertanahan -

5 Lingkungan Hidup -

6 Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil

-

7 Pemberdayaan Masyarakat dan Desa -

8 Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana

-

9 Perhubungan -

10 Komunikasi dan Informatika -

11 Koperasi, usaha kecil, dan menengah Koperasi dan Usaha Mikro

12 Penanaman Modal -

13 Kepemudahaan dan Olah Raga -

14 Statistik -

15 Persandian -

16 Kebudayaan -

17 Perpustakaan -

(24)

16

NO. URUSAN PILIHAN KETERANGAN

1 Kelautan dan Perikanan Perikanan

2 Pariwisata -

3 Pertanian -

4 Perdagangan -

5

Kehutanan Pengelolaan Taman Hutan Raya

(TAHURA) Kabupaten 6

Energi dan Sumber Daya Meneral Penerbitan izin pemanfaatan langsung panas bumi dalam daerah Kabupaten

7 Perindustrian -

8 Transmigrasi -

(25)

17 Salah satu instrumen penunjang pokok pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Perangkat Daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat adalah pegawai dengan kuantitas dan kualitas yang memadai. Jumlah Aparatur Sipil Negara di lingkungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berdasarkan data Simpeg Tahun 2017 sebanyak 10.994 orang yang terdiri dari laki-laki sebanyak 6.058 orang dan perempuan sebanyak 4.936 orang.

Tabel 1.6

Jumlah Aparatur Sipil Negara

Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi Berdasarkan Data SIMPEG Tahun 2017

NO TINGKAT PENDIDIKAN LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH

1. SD / Sederajat 90 5 95

2. SLTP / Sederajat 186 10 196

3. SLTA / Sederajat 1.662 664 2.326

4. Diploma I, II, III, IV 463 948 1411

5. Dokter Spesialis 16 11 27

6. Strata I 3.467 3.250 6.717

7. Strata II 170 48 218

8. Strata III 4 4

Jumlah 6.058 4.936 10.994

(26)

18 Dokumen Perencanaan jangka Menengah Pemerintah Daerah (5 tahun) atau yang disebut dengan Rencana Strategis merupakan suatu proses perencanaan yang berorientasi pada hasil yang ingin dicapai selama kurun waktu tertentu berisi visi, misi, tujuan, sasaran, dan strategi yang dilaksanakan melalui kebijakan dan program Kepala Daerah. Perencanaan strategis juga merupakan langkah awal yang harus dilakukan oleh instansi pemerintah agar mampu menjawab tuntutan lingkungan strategis, baik lokal, nasional maupun global dan tetap berada dalam tatanan Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan pendekatan perencanaan strategis yang jelas dan sinergis, instansi pemerintah lebih dapat menyelaraskan visi dan misinya dengan potensi, peluang, dan kendala yang dihadapi dalam upaya peningkatan akuntabilitas kinerjanya.

Dokumen Perencanaan Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun 2016 - 2021 merupakan Dokumen perencanaan strategis yang disusun dan dirumuskan setiap lima tahun (perencanaan jangka menengah) yang menggambarkan visi, misi, tujuan, sasaran, strategi dan kebijakan, program dan kegiatan pembangunan daerah. RPJMD secara sistematis mengedepankan isu – isu lokal, yang diterjemahkan ke dalam bentuk strategi kebijakan dan rencana pembangunan yang terarah, efektif dan berkesinambungan sehingga dapat diimplementasikan secara bertahap sesuai dengan skala prioritas dan kemampuan anggaran pembiayaan.

(27)

19 2.1.1. Visi

Berdasarkan kondisi Kabupaten Banyuwangi dewasa ini, serta peluang, tantangan dan isu strategis yang akan dihadapi dalam 5 tahun mendatang, pasangan H. ABDULLAH AZWAR ANAS (Bupati) – YUSUF WIDYATMOKO (Wakil Bupati) membuat Visi Kabupaten Banyuwangi tahun 2016 - 2021 sebagai berikut :

“TERWUJUDNYA MASYARAKAT BANYUWANGI YANG SEMAKIN SEJAHTERA, MANDIRI, DAN BERAKHLAK MULIA MELALUI PENINGKATAN PEREKONOMIAN DAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA.”

Penjelasan dari Visi sebagai berikut:

1) Meningkatnya Kualitas SDM Banyuwangi

- Peningkatan kapasitas dan kualitas suatu daerah melalui pembangunan SDM yang unggul merupakan tugas bersama dalam menciptakan bangsa yang kuat dan negara yang makmur. Melalui SDM yang unggul, tangguh dan berkualitas baik secara fisik dan mental akan berdampak positif tidak hanya terhadap peningkatan daya saing dan kemandirian suatu daerah, namun juga dalam mendukung pembangunan nasional. Peningkatan kualitas SDM terutama diupayakan melalui : 1) pendidikan yang berkualitas, berkarakter, bermoral dan berakhlak mulia, 2) layanan kesehatan yang terjangkau, merata dan berkualitas.

2) Meningkatnya Perekonomian Daerah

- Modal untuk melakukan pembangunan ekonomi adalah adanya pertumbuhan ekonomi, sehingga pembangunan ekonomi akan tercapai dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi. Partisipasi masyarakat memiliki peran yang penting dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan pendapatan perkapita, sehingga melalui tercapainya pembangunan ekonomi maka akan berdampak kepada peningkatan perekonomian Kabupaten Banyuwangi. Basis ekonomi Banyuwangi diletakkan pada 3 komponen utama yaitu 1) pertanian dalam skala luas yang meliputi pertanian tanaman pangan, perikanan dan kelautan, kehutanan, perkebunan, dan hortikultura, 2) pariwisata alam dan budaya dengan segala kekhasannya di Banyuwangi, 3) UMKM dan perdagangan tradisional yang menjadi mata pencaharian sebagian besar masyarakat.

(28)

20 3) Masyarakat Banyuwangi Yang Semakin Sejahtera Berlandaskan Semangat Gotong Royong

- Semangat gotong royong yang melandasi pergerakan perekonomian dimana didalamnya terkandung nilai moral yaitu adanya rasa ikhlas untuk berpartisipasi, kebersamaan dan saling membantu antar sesama karena lebih mengutamakan kepentingan bersama yang akan berdampak meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat.

4) Kemandirian Masyarakat dan Daerah

- Mandiri dan majunya suatu daerah tentu bersumber dari kemandirian dan kemajuan rakyatnya dan oleh sebab itu kemandirian masyarakat adalah gerbang utama menuju kemajuan dan kesejahteraan. Kemadirian daerah akan memacu kemampuan produktif guna memenuhi kebutuhan dasar dan mekanisme untuk tetap dapat bertahan dalam situasi krisis.

2.1.2. Misi

Untuk mewujudkan Visi pasangan H. ABDULLAH AZWAR ANAS (Bupati) dan YUSUF WIDYATMOKO (Wakil Bupati) ditetapkan 5 (lima) Misi sebagai berikut :

1) Mewujudkan aksesibilitas dan kualitas pelayanan bidang pendidikan, kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya;

2) Mewujudkan daya saing ekonomi daerah melalui pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutan berbasis potensi sumberdaya alam dan kearifan lokal;

3) Meningkatkan kuantitas dan kualitas infrastruktur fisik, ekonomi, dan sosial

4) Optimalisasi sumberdaya daerah berbasis pemberdayaan masyarakat, pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan;

5) Mewujudkan tata pemerintahan yang baik dan bersih (Good and Clean Governance) serta layanan publik yang berkualitas berbasis Teknologi Informasi.

2.1.3. Tujuan dan Sasaran

Berdasarkan visi dan misi pembagunan daerah Kabupaten Banyuwangi ditetapkan 7 (tujuh) tujuan, yaitu sebagai berikut :

Tujuan 1 : Peningkatan layanan bidang pendidikan yang berkualitas, merata dan terjangkau bagi seluruh masyarakat.

(29)

21 Sasaran :

1) Meningkatnya akses pelayanan bidang pendidikan Indikator Kinerja :

 Indeks Pendidikan

2) Meningkatnya Kualitas Layanan Pendidikan Indikator Kinerja :

 Presentase PAUD formal berakreditasi A

 Rasio Lembaga Pendidikan terakreditasi A

Tujuan 2 : Peningkatan layanan bidang kesehatan yang berkualitas, merata dan terjangkau bagi seluruh masyarakat.

Sasaran :

1) Meningkatnya akses pelayanan bidang kesehatan Indikator Kinerja :

 Cakupan KB Aktif

 Cakupan Pelayanan Kesehatan Masyarakat

 Indeks Kesehatan Keluarga Banyuwangi 2) Meningkatnya kualitas kesehatan

Indikator Kinerja :

 Angka Kematian Ibu per 100.000 Kelahiran Hidup

 Persentase Fasilitas Kesehatan Terakreditasi

 Tingkat Kesehatan Rumah Sakit

Tujuan 3 : Peningkatan pemenuhan kebutuhan dasar lainnya. Sasaran :

1) Tercukupinya ketersediaan pangan Indikator Kinerja :

 Persentase keamanan pangan

2) Meningkatnya ketentraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat Indikator Kinerja :

 Indeks rasa aman

(30)

22 3) Meningkatnya perlindungan sosial dan masyarakat

Indikator Kinerja :

 Persentase angka PMKS

4) Meningkatnya kesadaran dan pemahaman masyarakat akan keragaman budaya

Indikator Kinerja :

 Indeks gotong royong

Tujuan 4 : Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan iklusif. Sasaran :

1) Menurunnya kesenjangan antar wilayah Indikator Kinerja :

 Indeks Gini

2) Menurunnya tingkat pengangguran Indikator Kinerja :

 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)

3) Meningkatkan Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektor Unggulan Indikator Kinerja :

 Persentase Pertumbuhan Sektor Industri Olahan Dalam PDRB

 Persentase Usaha Kecil Menengah Terhadap UMKM

 Persentase Pertumbuhan Sektor Pertanian Dalam PDRB

 Persentase Pertumbuhan Sektor Perdagangan Dalam PDRB

 Persentase Koperasi Berkualitas 4) Meningkatnya Investasi PMA dan PMDN

Indikator Kinerja :

 Realisasi investasi PMA dan PMDN

5) Meningkatnya Pemanfaatan Potensi Pariwisata dan Kebudayaan Bagi Masyarakat

Indikator Kinerja :

(31)

23 Tujuan 5 : Meningkatkan Infrastruktur Ekonomi yang Berkualitas

Sasaran :

1) Meningkatkan infrastruktur ekonomi yang berkualitas Indikator Kinerja :

 Persentase panjang jalan kondisi baik dengan kecepatan > 20 KM

 Indeks angka kecelakaan lalu lintas

 Persentase ketersediaan air pada musim hujan dan musim kemarau (degradasi DAS)

 Proporsi jaringan irigasi dalam kondisi baik dan teknis

 Peningkatan Jumlah bangunan pelayanan publik berfungsi baik Tujuan 6 : Meningkatkan Infrastruktur Sosial yang Berkualitas

Sasaran :

1) Meningkatnya Infrastruktur Sosial yang Berkualitas Indikator Indikator Kinerja :

 Jumlah keluarga miskin yang terlayani sanitasi dasar

 Persentase Kecukupan Luasan RTH Publik

Tujuan 7 : Meningkatkan Kualitas Lingkungan Hidup dalam Menjamin Pembangunan Berkelanjutan

Sasaran :

1) Meningkatnya Kualitas Lingkungan Indikator Kinerja :

 Indeks Kualitas Lingkungan Hidup

Tujuan 8 : Meningkatkan Sumber Daya Daerah Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Dan Pengarustamaan Gender serta Perlindungan Anak

Sasaran :

1) Meningkatnya kapasitas pemberdayaan kelompok masyarakat Indikator Kinerja :

 Indeks Desa Membangun (IDM)

 Jumlah Atlit berprestasi tingkat Provinsi dan Nasional

 Persentase pemuda mandiri

2) Terwujudnya pemberdayaan dan pembangunan yang Pengarustamaan Gender

(32)

24 3) Meningkatnya perlindungan terhadap perempuan dan anak

 Persentase penanganan kasus kekerasan perempuan dan anak serta trafficking

Tujuan 9 : Meningkatkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Bersih serta Layanan Publik yang Berkualitas Berbasis Teknologi Informasi

Sasaran :

1) Meningkatnya akuntabilitas instansi pemerintah dan kualitas layanan publik Indikator Kinerja :

 Nilai / predikat AKIP

 Indeks kepuasan masyarakat (IKM)

 Persentase terpenuhinya aspek kualitas dalam dokumen perencanaan

 Persentase kebijakan berdasarkan policy brief

2) Meningkatnya Kinerja Laporan Keuangan Dan Kinerja Birokrasi Indikator Kinerja :

 Opini WTP BPK terhadap LKPD

 Indeks reformasi birokrasi

3) Meningkatnya Penggunaan Sistem Informasi Daerah Indikator Kinerja :

 Persentase Cakupan Jangkauan TIK

 Persentase Perangkat Daerah dan Unit Kerja yang Mengimplementasikan IT Baik

(33)

25 Tabel 2.1.

Matrik Hubungan Antara Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Pembangunan Kabupaten Banyuwangi

Visi : TERWUJUDNYA MASYARAKAT BANYUWANGI YANG SEMAKIN SEJAHTERA, MANDIRI, DAN BERAKHLAK MULIA MELALUI PENINGKATAN PEREKONOMIAN DAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA

Misi Tujuan Sasaran Strategis

Uraian Indikator Kinerja Uraian Indikator Kinerja

1 2 3 4 5 I Mewujudkan Aksesibilitas Dan Kualitas Pelayanan Bidang Pendidikan, Kesehatan Dan Kebutuhan Dasar Lainnya 1 Peningkatkan Layanan Bidang Pendidikan yang Berkualitas, Merata dan Terjangkau bagi Seluruh Masyarakat Indeks Pendidikan 1 Meningkatnya akses pelayanan bidang pendidikan 1 Indeks Pendidikan 2 Meningkatnya kualitas layanan pendidikan 2 Presentase PAUD formal berakreditasi A 3 Rasio Lembaga Pendidikan terakreditasi A 2 Peningkatan Layanan Bidang Kesehatan yang Berkualitas, Merata dan Terjangkau bagi Seluruh Masyarakat Cakupan Pelayanan Kesehatan Masyarakat 3 Meningkatnya akses pelayanan bidang kesehatan 4 Cakupan KB Aktif 5 Cakupan Pelayanan Kesehatan Masyarakat 6 Indeks Kesehatan Keluarga Banyuwangi 4 Meningkatnya kualitas kesehatan

7 Angka Kematian Ibu per 100.000 Kelahiran Hidup 8 Persentase Fasilitas Kesehatan Terakreditasi 9 Tingkat Kesehatan Rumah Sakit

(34)

26 3 Peningkatan

Pemenuhan Kebutuhan Dasar Lainnya

Indeks rasa aman

Persentase angka PMKS 5 Tercukupinya ketersediaan pangan 10 Persentase keamanan pangan 6 Meningkatnya ketenteraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat

11 Indeks rasa aman

12 Persentase resiko bencana pada KRB 7 Meningkatnya perlindungan sosial dan masyarakat 13 Persentase angka PMKS 8 Meningkatnya kesadaran dan pemahaman masyarakat akan keragaman budaya 14 Indeks gotong royong II Mewujudkan Daya Saing Ekonomi Daerah melalui Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas dan Berkelanjutan Berbasis Potensi Sumberdaya Alam dan Kearifan Lokal 4 Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas dan Iklusif Indeks Gini Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 9 Menurunnya kesenjangan antar wilayah 15 Indeks Gini 10 Menurunnya tingkat pengangguran 16 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 11 Meningkatkan Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektor Unggulan 17 Persentase Pertumbuhan Sektor Industri Olahan Dalam PDRB 18 Persentase Usaha Kecil Menengah Terhadap UMKM 19 Persentase Pertumbuhan Sektor Pertanian dalam PDRB 20 Persentase Pertumbuhan

(35)

27 Sektor Perdagangan dalam PDRB 21 Persentase Koperasi Berkualitas 12 Meningkatnya Investasi PMA dan PMDN 22 Realisasi investasi PMA dan PMDN 13 Meningkatnya Pemanfaatan Potensi Pariwisata dan Kebudayaan Bagi Masyarakat 23 Spending Of Money III Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas Infrastruktur Fisik, Ekonomi, dan Sosial 5 Meningkatkan Infrastruktur Ekonomi yang Berkualitas % panjang jalan kondisi baik dengan kecepatan >20 Km 14 Meningkatkan infrastruktur ekonomi yang berkualitas 24 Persentase panjang jalan kondisi baik dengan kecepatan > 20 KM 25 Indeks angka kecelakaan lalu lintas 26 Persentase ketersediaan air pada musim hujan dan musim kemarau (degradasi DAS) 27 Proporsi jaringan

irigasi dalam kondisi baik dan teknis 28 Peningkatan Jumlah bangunan pelayanan publik berfungsi baik 6 Meningkatkan Infrastruktur Sosial yang Berkualitas Jumlah keluarga miskin yang terlayani sanitasi dasar 15 Meningkatnya Infrastruktur Sosial yang Berkualitas 29 Jumlah keluarga miskin yang terlayani sanitasi dasar

(36)

28 30 Persentase Kecukupan Luasan RTH Publik 7 Meningkatkan Kualitas Lingkungan Hidup dalam Menjamin Pembangunan Berkelanjutan Indeks kualitas lingkungan hidup 16 Meningkatnya Kualitas Lingkungan 31 Indeks Kualitas Lingkungan Hidup IV Optimalisasi Sumberdaya Daerah Berbasis Pemberdayaan Masyarakat, Pembangunan Berkelanjutan dan Berwawasan Lingkungan 8 Meningkatkan Sumber Daya Daerah Berbasis Pemberdayaa n Masyarakat Dan Pengarustama an Gender serta Perlindungan Anak Indeks Desa Membangun (IDM Indeks pemberdayaan gender (IDG) Persentase penanganan kasus kekerasan perempuan dan anak serta traficking 17 Meningkatnya kapasitas pemberdayaan kelompok masyarakat 32 Indeks Desa Membangun (IDM) 33 Jumlah Atlit berprestasi tingkat Provinsi dan Nasional 34 Persentase Pemuda Mandiri 18 Terwujudnya pemberdayaan dan pembangunan yang Pengarustamaan Gender 35 Indeks pemberdayaan gender (IDG) 19 Meningkatnya perlindungan terhadap perempuan dan anak 36 Persentase penanganan kasus kekerasan perempuan dan anak serta traficking V Mewujudkan

Tata

Pemerintahan yang Baik dan Bersih (Good and Clean Governance) serta Layanan Publik yang Berkualitas 9 Meningkatkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Bersih serta Layanan Publik yang Berkualitas Berbasis Nilai / predikat AKIP Indeks kepuasan masyarakat (IKM) Opini WTP BPK terhadap LKPD 20 Meningkatnya akuntabilitas instansi pemerintah dan kualitas layanan publik

37 Nilai / predikat AKIP

38 Indeks kepuasan masyarakat (IKM) 39 Persentase terpenuhinya aspek kualitas dalam dokumen perencanaan

(37)

29 Berbasis Teknologi Informasi Teknologi Informasi Persentase Cakupan Jangkauan TIK 40 Persentase kebijakan berdasarkan policy brief 21 Meningkatnya Kinerja Laporan Keuangan Dan Kinerja Birokrasi 41 Opini WTP BPK terhadap LKPD 42 Indeks reformasi birokrasi 22 Meningkatnya Penggunaan Sistem Informasi Daerah 43 Persentase Cakupan Jangkauan TIK 44 Persentase Perangkat Daerah dan Unit Kerja yang Mengimplementasik an IT Baik

2.1.4. Strategi dan Arah Kebijakan

Untuk mewujudkan visi dan menjalankan misi pembangunan daerah serta mencapai tujuan dan sasaran RPJMD 2016-2021, diperlukan startegi, arah kebijakan pembangunan yang jelas, terarah dan terukur. Strategi dan arah kebijakan pembangunan disusun dari serangkaian proses perencanaan strategik, yang dirumuskan dengan mempertimbangan isu-isu strategis pembangunan daerah yang harus dihadapi selama 5 tahun kedepan. Strategi disusun dengan memperhatikan faktor-faktor internal dan eksternal yang berada di dalam lingkup ekologi (lingkungan) pembangunan di Kabupaten Banyuwangi. Pendekatan yang digunakan dalam merumuskan strategi adalah analisis SWOT, sehingga rumusan strategi merupakan hubungan yang saling berpengaruh antara Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman.

(38)

30 2.1.4.1. Strategi Pembangunan Daerah

Pemerintah daerah mempunyai peran srategis dalam fungsinya sebagai fasilitator yang mengupayakan akses modal, promosi dan pasar bagi swasta dan masyarakat; regulator yang menekankan pada fungsi regulasi dan administratif perijinan, dokumen / akta, kartu identitas; serta fungsi konsultatif yang memberikan bimbingan teknis, pembinaan dan aktifitas yang dilakukan oleh seluruh stakeholder. Secara konseptual, suatu strategi secara spesifik dikaitkan dengan satu sasaran atau sekelompok sasaran dengan kerangka logis.

Perumusan strategi membutuhkan kesatuan tujuan untuk mendapatkan kesatuan tindak. Satu strategi juga dapat terhubung dengan pencapaian satu sasaran. Beberapa sasaran bersifat inherent dengan satu tema, satu strategi dapat dirumuskan untuk mencapai gabungan beberapa sasaran. Penentuan alternatif strategi pencapaian dari setiap indikator sasaran atau kumpulan sasaran yang inherent adalah dengan dengan terlebih dahulu melakukan analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, dan threats). Bahan utama yang digunakan dalam analisis SWOT adalah hasil telaah dari isu-isu strategis yang telah dirumuskan dalam bab sebelumnya, yang selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan pengaruh faktor internal dan eksternal yang melekat pada masing-masing isu. Identifikasi faktor internal dan ekternal, serta analisis SWOT yang dimaksud nampak dalam gambar dibawah ini :

Strength (Kekuatan)

1. Adanya peningkatan penegakan peraturan daerah dan kepala daerah

2. Meningkatnya kualitas perumahan yang terjangkau air bersih,

sanitasi, layak huni dan tidak kumuh

3. Perlunya penguatan penataan ruang eksisting Kabupaten

Banyuwangi

4. Meningkatnya peran perempuan dalam organisasi dan

pembangunan

5. Meningkatnya penyelesaian pengaduan perempuan dan anak dari

tindak kekerasan

6. Banyuwangi telah memiliki sistem informasi daerah yang cukup baik

dalam pelaksanaan pemerintahan

7. Pola kepemimpinan yang visioner

8. Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah setiap tahun

membaik

Weakness (Kelemahan)

Opportunity (Peluang)

Threat (Ancaman)

1. Momentum penurunan tingkat pengangguran terbuka

2. Besarnya afirmasi dan tuntutan pemerintah pusat terhadap

reformasi birokrasi

3. Banyaknya program prioritas pemerintah pusat yang

ditempatkan di daerah-daerah potensial yang berorientasi

pada hasil

4. Banyaknya kunjungan Pemda lain untuk studi banding terkait

tatakelola pemerintahan

5. Kekayaan dan potensi Wisata yang beragam

1. Rendahnya cakupan akses layanan PAUD

2. Belum tercapainya akses pendidikan wajib belajar 12 tahun 3. Rendahnya akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi 4. Kurang optimalnya layanan pendidikan inklusif

5. Belum optimalnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan dasar

6. Belum optimalnya ketersediaan dan mutu sediaan farmasi, pembekalan dan alat kesehatan

7. Masih rendahnya akses dan kualitas lingkungan sehat 8. Masih rendahnya kualitas layanan kesehatan di Rumah Sakit 9. Terlambatnya akses pelayanan sosial dasar bagi PMKS 10. Belum optimalnya kualitas dan daya saing sektor UMKM 11. Belum optimalnya kualitas dan kuantitas SDM 12. Belum efektif dan efisiennya bisnis proses birokrasi

pelayanan publik

13. Rendahnya kemampuan dan kapasitas pelaku usaha 14. Belum terlihatnya peran koperasi sebagai pelaku sektor riil 15. Rendahnya pertumbuhan wirausaha baru yang berkualitas 16. Belum optimalnya pemasaran produksi pertanian 17. Belum efektif dan efisiennya sarana dan sarana pertanian

dalam menunjang produktivitas

18. Belum intensifnya pemasaran pariwisata berbasis IT 19. Lemahnya daya dukung infrastruktur dan SDM lokal

pariwisata

1. Peningkatan potensi ancaman budaya asing terhadap budaya lokal

2. Besarnya tekanan dan tuntutan untuk mengakomodir pemberlakuan ASEAN Community

3. Struktur pelaku usaha didominasi usaha mikro yang informal dengan produktivitas terbatas

4. Belum terciptanya kondisifitas dan dominasi afirmasi terhadap Usaha Kecil Menengah 5. Konsistensi peningkatan investasi belum mampu menjawab tingginya permintaan 6. Masih relatif tingginya gini rasio

7. Belum meratanya sebaran pendudukKabupaten Banyuwangi 8. Perlunya perluasan jaringan kemiteraan pariwisata

9. Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan 10.Masih relatif tingginya pembangunan tidak ber-IMB

11.Belum kuatnya karakter dan pondasi perekonomian perdesaan 12.Meningkatnya pencemaran lingkungan dan sumberdaya alam 13.Besarnya tuntutan UU No 5 Tahun 2014 Tentang Desa

14.Belum optimalnya penyelenggaraan pelayanan publik berbasis teknologi informasi

E

K

S

T

E

R

N

A

L

IN

T

E

R

N

A

L

20. Rendahnya kualitas fasilitas publik 21. Rendahnya kuantitas fasilitas publik

22. Rendahnya panjang trotoar Kabupaten Banyuwangi 23. Belum optimalnya kualitas infrastruktur perhubungan 24. Belum optimalnya kualitas sarana lalu lintas 25. Banyaknya kasus pengaduan masyarakat

26. Masih rendahnya cakupan fasilitas teknologi, informasi dan komunikasi

27. Belum optimalnya penyediaan akses sanitasi dan air bersih 28. Masih rendahnya manajemen pelayanan korban bencana

alam dan bencana sosial

29. Masih rendahnya kesiagaan bahaya kebakaran 30. Belum tercukupinya RTH Publik 20% dari total 30% RTH

Wilayah

31. Rendahnya kualitas infrastruktur perdesaan 32. Belum terbangunnya optimalisasi peningkatan

pemberdayaan masyarakat di perdesaan

33. Masih rendanya keberpihakan pembangunan terhadap anak 34. Lemahnya koordinasi lintas sektoral aparatur

35. Belum optimalnya akuntabilitas kinerja aparatur pemerintah daerah

36. Terbatasnya kapasitas pemerintahan pemerintah desa 37. Belum optimalnya pelayanan publik

(39)

31

Strength (Kekuatan)

1. Adanya peningkatanpenegakan peraturan daerahdan kepala daerah

2. Meningkatnya kualitas perumahan yang terjangkau airbersih,

sanitasi,layakhuni dan tidak kumuh

3. Perlunya penguatanpenataan ruang eksisting Kabupaten

Banyuwangi

4. Meningkatnya peran perempuan dalam organisasi dan

pembangunan

5. Meningkatnya penyelesaianpengaduan perempuan dan anak dari

tindak kekerasan

6. Banyuwangi telahmemiliki sistem informasi daerahyang cukup baik

dalam pelaksanaanpemerintahan

7. Pola kepemimpinanyang visioner

8. Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahsetiaptahun

membaik

Weakness (Kelemahan)

Opportunity (Peluang)

Threat (Ancaman)

1. Momentum penurunan tingkat pengangguran terbuka

2. Besarnya afirmasi dan tuntutan pemerintah pusat terhadap

reformasi birokrasi

3. Banyaknyaprogramprioritas pemerintah pusat yang

ditempatkan di daerah-daerah potensial yang berorientasi

pada hasil

4. Banyaknyakunjungan Pemda lain untuk studi banding terkait

tatakelola pemerintahan

5. Kekayaan dan potensi Wisata yang beragam

1. Rendahnya cakupan akses layanan PAUD

2. Belum tercapainya akses pendidikan wajib belajar 12 tahun

3. Rendahnya akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi

4. Kurang optimalnya layanan pendidikan inklusif

5. Belum optimalnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan

dasar

6. Belum optimalnya ketersediaan dan mutu sediaan farmasi,

pembekalan dan alat kesehatan

7. Masih rendahnya akses dan kualitas lingkungan sehat

8. Masih rendahnya kualitas layanan kesehatan di Rumah Sakit

9. Terlambatnya akses pelayanan sosial dasar bagi PMKS

10. Belum optimalnya kualitas dan daya saing sektor UMKM

11. Belum optimalnya kualitas dan kuantitas SDM

12. Belum efektif dan efisiennya bisnis proses birokrasi

pelayanan publik

13. Rendahnya kemampuan dan kapasitas pelaku usaha

14. Belum terlihatnya peran koperasi sebagai pelaku sektor riil

15. Rendahnya pertumbuhan wirausaha baru yang berkualitas

16. Belum optimalnya pemasaran produksi pertanian

17. Belum efektif dan efisiennya sarana dan sarana pertanian

dalam menunjang produktivitas

18. Belum intensifnya pemasaran pariwisata berbasis IT

19. Lemahnya daya dukung infrastruktur dan SDM lokal

pariwisata

1. Peningkatan potensi ancamanbudayaasing terhadapbudayalokal

2. Besarnyatekanan dan tuntutanuntukmengakomodirpemberlakuanASEAN

Community

3. Struktur pelaku usahadidominasiusahamikro yang informal dengan produktivitas

terbatas

4. Belum terciptanyakondisifitasdandominasiafirmasi terhadapUsahaKecilMenengah

5. Konsistensi peningkataninvestasi belummampumenjawabtingginyapermintaan

6. Masih relatiftingginyagini rasio

7. Belum meratanyasebaranpendudukKabupaten Banyuwangi

8. Perlunyaperluasan jaringan kemiteraan pariwisata

9. Kurangnyakesadaran masyarakatterhadappelestarianlingkungan

10.Masih relatiftingginyapembangunantidak ber-IMB

11.Belum kuatnyakarakter dan pondasi perekonomianperdesaan

12.Meningkatnyapencemaranlingkungan dansumberdayaalam

13.Besarnyatuntutan UU No5 Tahun2014Tentang Desa

14.Belum optimalnyapenyelenggaraanpelayanan publik berbasisteknologiinformasi

E

K

S

T

E

R

N

A

L

I

N

T

E

R

N

A

L

20. Rendahnya kualitas fasilitas publik

21. Rendahnya kuantitas fasilitas publik

22. Rendahnya panjang trotoar Kabupaten Banyuwangi

23. Belum optimalnya kualitas infrastruktur perhubungan

24. Belum optimalnya kualitas sarana lalu lintas

25. Banyaknya kasus pengaduan masyarakat

26. Masih rendahnya cakupan fasilitas teknologi, informasi dan

komunikasi

27. Belum optimalnya penyediaan akses sanitasi dan air bersih

28. Masih rendahnya manajemen pelayanan korban bencana

alam dan bencana sosial

29. Masih rendahnya kesiagaan bahaya kebakaran

30. Belum tercukupinya RTH Publik 20%dari total 30% RTH

Wilayah

31. Rendahnya kualitas infrastruktur perdesaan

32. Belum terbangunnya optimalisasi peningkatan

pemberdayaan masyarakat di perdesaan

33. Masih rendanya keberpihakan pembangunan terhadap anak

34. Lemahnya koordinasi lintas sektoral aparatur

35. Belum optimalnya akuntabilitas kinerja aparatur

pemerintah daerah

36. Terbatasnya kapasitas pemerintahan pemerintah desa

37. Belum optimalnya pelayanan publik

(40)

32

Strength (Kekuatan)

1. Adanya peningkatan penegakan peraturan daerah dan kepala daerah

2. Meningkatnya kualitas perumahan yang terjangkau air bersih,

sanitasi, layak huni dan tidak kumuh

3. Perlunya penguatan penataan ruang eksisting Kabupaten

Banyuwangi

4. Meningkatnya peran perempuan dalam organisasi dan

pembangunan

5. Meningkatnya penyelesaian pengaduan perempuan dan anak dari

tindak kekerasan

6. Banyuwangi telah memiliki sistem informasi daerah yang cukup baik

dalam pelaksanaan pemerintahan

7. Pola kepemimpinan yang visioner

8. Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah setiap tahun

membaik

Weakness (Kelemahan)

Opportunity (Peluang)

Threat (Ancaman)

1. Momentum penurunan tingkat pengangguran terbuka

2. Besarnya afirmasi dan tuntutan pemerintah pusat terhadap

reformasi birokrasi

3. Banyaknya program prioritas pemerintah pusat yang

ditempatkan di daerah-daerah potensial yang berorientasi

pada hasil

4. Banyaknya kunjungan Pemda lain untuk studi banding terkait

tatakelola pemerintahan

5. Kekayaan dan potensi Wisata yang beragam

1. Rendahnya cakupan akses layanan PAUD

2. Belum tercapainya akses pendidikan wajib belajar 12 tahun 3. Rendahnya akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi 4. Kurang optimalnya layanan pendidikan inklusif

5. Belum optimalnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan dasar

6. Belum optimalnya ketersediaan dan mutu sediaan farmasi, pembekalan dan alat kesehatan

7. Masih rendahnya akses dan kualitas lingkungan sehat 8. Masih rendahnya kualitas layanan kesehatan di Rumah Sakit 9. Terlambatnya akses pelayanan sosial dasar bagi PMKS 10. Belum optimalnya kualitas dan daya saing sektor UMKM 11. Belum optimalnya kualitas dan kuantitas SDM 12. Belum efektif dan efisiennya bisnis proses birokrasi

pelayanan publik

13. Rendahnya kemampuan dan kapasitas pelaku usaha 14. Belum terlihatnya peran koperasi sebagai pelaku sektor riil 15. Rendahnya pertumbuhan wirausaha baru yang berkualitas 16. Belum optimalnya pemasaran produksi pertanian 17. Belum efektif dan efisiennya sarana dan sarana pertanian

dalam menunjang produktivitas

18. Belum intensifnya pemasaran pariwisata berbasis IT 19. Lemahnya daya dukung infrastruktur dan SDM lokal

pariwisata

1. Peningkatan potensi ancamanbudaya asing terhadapbudaya lokal

2. Besarnya tekanan dan tuntutanuntukmengakomodirpemberlakuanASEAN

Community

3. Struktur pelaku usaha didominasi usaha mikro yang informal dengan produktivitas

terbatas

4. Belum terciptanya kondisifitas dandominasi afirmasi terhadapUsaha Kecil Menengah

5. Konsistensi peningkataninvestasi belummampumenjawabtingginya permintaan

6. Masih relatif tingginya gini rasio

7. Belum meratanya sebaranpendudukKabupaten Banyuwangi

8. Perlunya perluasan jaringan kemiteraan pariwisata

9. Kurangnya kesadaran masyarakat terhadappelestarianlingkungan

10.Masih relatif tingginya pembangunantidak ber-IMB

11.Belum kuatnya karakter dan pondasi perekonomianperdesaan

12.Meningkatnya pencemaranlingkungan dansumberdaya alam

13.Besarnya tuntutan UU No5 Tahun2014 Tentang Desa

14.Belum optimalnya penyelenggaraanpelayanan publik berbasis teknologi informasi

E

K

S

T

E

R

N

A

L

I

N

T

E

R

N

A

L

20. Rendahnya kualitas fasilitas publik 21. Rendahnya kuantitas fasilitas publik

22. Rendahnya panjang trotoar Kabupaten Banyuwangi 23. Belum optimalnya kualitas infrastruktur perhubungan 24. Belum optimalnya kualitas sarana lalu lintas 25. Banyaknya kasus pengaduan masyarakat

26. Masih rendahnya cakupan fasilitas teknologi, informasi dan komunikasi

27. Belum optimalnya penyediaan akses sanitasi dan air bersih 28. Masih rendahnya manajemen pelayanan korban bencana

alam dan bencana sosial

29. Masih rendahnya kesiagaan bahaya kebakaran 30. Belum tercukupinya RTH Publik 20% dari total 30% RTH

Wilayah

31. Rendahnya kualitas infrastruktur perdesaan 32. Belum terbangunnya optimalisasi peningkatan

pemberdayaan masyarakat di perdesaan

33. Masih rendanya keberpihakan pembangunan terhadap anak 34. Lemahnya koordinasi lintas sektoral aparatur

35. Belum optimalnya akuntabilitas kinerja aparatur pemerintah daerah

36. Terbatasnya kapasitas pemerintahan pemerintah desa 37. Belum optimalnya pelayanan publik

Gambar

Tabel 1.5  Urusan Pemerintahan

Referensi

Dokumen terkait

Seksi Kerja Sama dan Informasi Keamanan Pangan mempunyai tugas melaksanakan koordinasi, pengkajian, penyusunan dan pelaksanaan kebijakan, pemantapan, serta pemberian

Sedangkan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan kepada masyarakat yang menjadi konsumen PDAM di Desa Muara Ancalong mengatakan pendistribusian air minum

Dari hasil observasi peneliti, didapatkan bahwa Stupp Macaroni, Sayur Ikan Gereh, Gudeg, Sosis Solo dan Es Puter Jawa tidak dapat ditemukan di area Keraton Surakarta maupun

Mural sering kali dikaitkan dengan Street art (Seni jalanan) karena lokasinya yang terkadang berada di jalan-jalan umum. Perbedaannya dengan coret-coretan cat

Dalam penelitian ini, unit analisis struktur pesan diteliti dengan melihat penyajian sisi pesan dan jenis penyampaian informasi dalam artikel majalah Potret Negeriku.. Adapun

Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh yang signifikan pada penerapan model pembelajaran non direktif terhadap civic disposition siswa pada kompetensi

Persoalan yang dikaji dalam tulisan ini difokuskan pada operator Bahasa Bima, yaitu bentuk dan fungsi operator bahasa Bima. Secara lintas bahasa, operator dikenal sebagai