I. LATAR BELAKANG
Dewasa ini, ilmu ekonomi telah berkembang pesat menjadi cabang ilmu yang sangat penting untuk dipelajari dan dipahami dalam mengembangkan sebuah negara maupun perusahaan. Ilmu ekonomi dapat dijelaskan dan dibahas berdasarkan ukuran ruang lingkup perekonomian. Ekonomi dalam skala kecil seringkali dikenal dengan microeconomics. Selain itu, ruang lingkup perekonomian dalam skala besar disebut sebagai macroeconomics. Pembahasan ekonomi mikro (microeconomics) biasanya mencakup skala kecil yaitu mengenai bagaimana pembentukan harga dalam pasar. Sedangkan ekonomi makro (macroeconomics), cakupannya jauh lebih luas, seperti mengenai kebijakan pemerintah dalam mengatur perekonomian negara. Dalam pembahasan kali ini, penulis akan mengulas tentang perekonomian dalam skala besar, yaitu macroeconomics.
Macroeconomics merupakan ilmu perekonomian yang kompleks karena banyak membahas hal-hal yang mempengaruhi sebuah negara. Pembahasan macroeconomics meliputi GDP, inflation, goods market, financial market, mengendalikan keadaan ekonomi makro agar dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan melalui pengaturan jumlah uang yang beredar dalam perekonomian. Usaha tersebut dilakukan agar terjadi kestabilan harga dan inflasi serta terjadinya peningkatan output keseimbangan.
untuk mengkaji pengaruh kebijakan moneter (monetary policy) terhadap perubahan tingkat suku bunga bank.
II. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sebuah kebijakan moneter berpengaruh terhadap tingkat suku bunga bank?
2. Mengapa tingkat suku bunga bank memegang peranan yang cukup krusial dalam perekonomian sebuah negara?
3. Apa dampak dari perubahan suku bunga bank terhadap perekonomian di Indonesia?
III.Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh kebijakan moneter terhadap tingkat suku bunga bank.
2. Untuk mengetahui pentingnya peranan tingkat suku bunga bank terhadap perekonomian negara
3. Untuk mengetahui dampak dari perubahan tingkat suku bunga bank terhadap perekonomian di Indonesia.
IV. Teori Dasar
Pengertian Kebijakan Moneter
Tujuan Kebijakan Moneter, meliputi : Memelihara stabilitas harga
Kebijakan moneter mempunyai sasaran untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan uang agar tidak terjadi kelebihan atau kekurangan uang yang dapat berakibat pada keguncangan harga
Mendukung pertumbuhan ekonomi yang rill dan mantap
Mantapnya kegiatan investasi dan usaha peningkatan produksi merupakan prasyarat tercapainya pertumbuhan ekonomi yang mantap. Pertumbuhan ekonomi yang ingin dicapai adalah pertumbuhan rill yakni pertumbuhan dalam ukuran jumlah barang dan jasa yang dihasilkan bukan pertumbuhan dalam hitungan uang semata-mata.
Mendukung tercapainya tingkat pengangguran yang rendah
Pengangguran yang tinggi merupakan musuh setiap perekonomian. Setiap negara berusaha melakukan kebijakan untuk menguranginya, antara lain dengan kebijakan moneter.
Kebijakan moneter yang dilakukan dalam rangka pengendalian jumlah uang beredar (JUB), dapat dilakukan melalui beberapa instrumen. Adapun instrumen kebijakan moneter di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi:
a) Kebijakan Moneter Kualitatif adalah kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam bentuk himbauan moral kepada para pemimpin bank-bank umum agar ikut mengamankan apa yang menjadi kebijakan Bank Indonesia. Wujud kebijakan moneter kualitatif ini antara lain: bujukan moral (moral suasion); kredit selektif dan lainnya.
b) Kebijakan Moneter Kuantitatif adalah kebijakan moneter dalam rangka pengendalaian jumlah uang yang beredar melalui pengendalian besaran moneter yang berujud angka-angka atau kuantitatif. Wujud kebijakan moneter kuantitatif antara lain:
menaikkan atau menurunkan tingkat menurunkan tingkat bunga pada bank. Tingkat bunga yang dapat diatur pemerintah adalah tingkat bunga pinjaman dari bank sentral kepada bank-bank umum.
- Politik operasi pasar terbuka adalah kebijakan pemerintah untuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar dengan cara menjual atau membeli surat-surat berharga milik negara.
- Kebijakan syarat cadangan kas pada bank adalah kebijakan pemerintah untuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar dengan cara menetapkan jumlah minimum cadangan kas yang harus ada pada setiap bank.
Kebijakan moneter memiliki peran dan fungsi. Adapun peran dan fungsi kebijakan moneter adalah sebagai berikut :
Peran Kebijakan Moneter
1. Mempertahankan iklim investasi
Dengan tingkat inflasi yang rendah, maka iklim investasi akan tetap hidup. Jika inflasi rendah, suku bunga bank juga cenderung rendah. Rendahnya suku bunga bank akan mendorong orang untuk melakukan investasi atau usaha baru.
2. Memperluas kesempatan kerja
Kebijakan moneter dapat menciptakan iklim kondusif bagi berlangsungnya berbagai kegiatan ekonomi. Setiap kegiatan ekonomi membutuhkan tenaga kerja. Adanya kegiatan ekonomi berarti pula memperluas kesempatan kerja.
3. Menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi
Neraca pembayaran nasional dikatakan baik jika mengalami surplus atau nilai ekspor melebih nilai impor. Untuk mencapai kondisi tersebut, kebijakan moneter yang terkait dengan mata uang atau nilai kurs sangat diperlukan. Kebijakan moneter dapat mempertahankan stabilitas kurs maupun menurunkan ke tingkat yang diinginkan. Dengan suatu tingkat kurs tertentu, diharapkan barang-barang produksi dalam negeri akan bisa lebih murah dibanding produk dari negara lain. Kondisi ini meningkatkan daya saing produk dalam negeri sehingga pada akhirnya akan memperbesar volume ekspor (menciptakan neraca pembayaran yang surplus).
5. Menjaga kestabilan nilai kurs mata uang
Untuk menjaga agar nilai kurs mata uang stabil sesuai yang diharapkan, maka Bank Indonesia melakukan kebijakan moneter berupa operasi pasar terbuka. Dalam keadaan apabila nilai kurs mata uang rupiah merosot tajam dibanding dollar Amerika Serikat, maka Bank Indonesia melakukan intervensi pasar dengan menjual dollar. 6. Menjaga kestabilan harga barang dan jasa
Masyarakat membutuhkan keadaan dimana harga barang dan jasa tetap stabil sehingga dapat menjalankan usahanya. Untuk menciptakan keadaan seperti itu, maka Bank Indonesia dapat melakukan kebijakan moneter berupa menaikkan atau menurunkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Tujuan kebijakan ini adalah untuk menurunkan atau menaikkan jumlah uang yang beredar (JUB). Apabila harga barang dan jasa naik terus-menerus (tidak stabil) maka Bank Indonesia menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia agar jumlah uang yang beredar berkurang sehingga laju kenaikan harga barang dan jasa dapat dikurangi.
7. Menurunkan laju inflasi
lainnya yaitu reserve requirements. Untuk menurunkan laju inflasi berarti jumlah uang yang beredar harus dikurangi. Untuk itu, dengan kebijakan reserve requirements, Bank Indonesia menetapkan kenaikan cadangan minimum dari bank-bank umum.
Fungsi Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter berfungsi sebagai instrumen/cara untuk mempengaruhi perekonomian. Kebijakan moneter sebagai sebuah cara, dipergunakan untuk mencapai tujuan/sasaran ekonomi yang diharapkan, di antaranya adalah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, mengatasi pengangguran, memperbaiki neraca pembayaran yang defisit, dan menjaga stabilitas nilai uang.
Menurut Karl dan Fair (2001:635) suku bunga adalah pembayaran bunga tahunan dari suatu pinjaman, dalam bentuk persentase pinjaman yang diperoleh dari jumlah bunga yang diterima tiap tahun dibagi dengan jumlah pinjaman.
Pengertian suku bunga menurut Sunariyah (2004:80) adalah harga dari pinjaman. Suku bunga dinyatakan sebagai persentase uang pokok per unit waktu. Bunga merupakan suatu ukuran harga sumber daya yang digunakan oleh debitur yang harus dibayarkan kepada kreditur.
Lalu bagaimana penggunaannya di masyarakat? Dana yang dipinjam dari bank merupakan suatu beban atas peminjaman sejumlah uang tertentu di masa datang dan akan menjadi kewajiban berupa bunga kepada masyarakat.
semakin tinggi keinginan masyarakat untuk meminjam uang di bank. Artinya, pada tingkat suku bunga rendah maka masyarakat akan lebih terdorong untuk meminjam uang di bank demi memenuhi kebutuhannya. Adapun fungsi suku bunga menurut Sunariyah (2004:81) adalah :
Sebagai daya tarik bagi para penabung yang mempunyai dana lebih untuk diinvestasikan.
Suku bunga dapat digunakan sebagai alat moneter dalam rangka mengendalikan penawaran dan permintaan uang yang beredar dalam suatu perekonomian.
Pemerintah dapat memanfaatkan suku bunga untuk mengontrol jumlah uang beredar.
Bunga dalam hal ini memungkinkan masyarakat yang kekurangan dana mempunyai alternatif untuk meminjam dana dari bank. Begitupun sebaliknya masyarakat yang kelebihan dana akan menyimpan dana ke bank atau lembaga keuangan lainnya. Masyarakat yang meminjam dana dibebankan bunga sebagai harga dana yang dipinjam. Jadi, tingkat bunga adalah harga dari pinjaman.
PENGARUH KEBIJAKAN MONETER TERHADAP PERMINTAAN AGREGAT
Kurva permintaan agregat menunjukan jumlah permintaan barang dan jasa dalam perekonomian pada setiap tingkat harga. Seperti telah kita pelajari pada pembahasan sebelumnya, kemiringan kurva permintaan agregat bergerak menurun karena tiga alasan sebagai berikut:
· Pengaruh kekayaan: Tingkat harga yang lebih rendah menaikkan nilai riil uang yang dipegang oleh rumah tangga, sedangkan kesejahteraan yang lebih tinggi ini mendorong belanja konsumen.
mereka pegang, sedangkan suku bunga yang lebih rendah mendorong pengeluaran untuk investasi.
· Pengaruh nilai tukar: Apabila tingkat harga yang lebih rendah menurunkan tingkat suku bunga, investor memindahkan sebagian dari dana mereka ke luar negeri dan menyebabkan mata uang domestik mengalami depresiasi relatif dengan mata uang asing. Depresiasi ini membuat barang-barang didalam negeri menjadi lebih murah dibandingkan dengan barang-barang luar negeri dan akibatnya mendorong belanja ekspor neto.
Disini, kita mengembangkan teori tentang bagaimana suku bunga ditentukan yang disebut dengan teori preferensi likuiditas (theory of liquidity preference). Setelah kita mengembangkan teori ini, kita menggunakannya untuk memahami kemiringan kurva permintaan agregat yang menurun serta bagaimana kebijakan moneter mengubah kurva ini.
Teori Preferensi Likuiditas
Teori preferensi likuiditas (theory of liquidity preference) –teori Keynes yang menyatakan bahwa suku bunga berubah-ubah untuk membuat jumlah uang yang beredar dan permintaan uang menjadi seimbang.
Anda mungkin masih ingat bahwa para ekonom membagi suku bunga menjadi dua macam, yaitu suku bunga nominal –suku bunga yang umum dilaporkan dansuku bunga riil –suku bunga yang telah dikoreksi dengan pengaruh inflasi. Dalam analisis yang akan kita bahas, tingkat inflasi harapan diasumsikan konstan. Oleh karena itu, apabila suku bunga nominal naik atau turun suku bunga riil yang diinginkan oleh masyarakat juga naik atau turun.
Jumlah Uang yang Beredar. Bagian pertama dari teori preferensi likuiditas adalah jumlah uang yang beredar. Seperti telah kita bahas, jumlah uang yang beredar dikendalikan oleh Bank Sentral. Karena ditetapkan oleh kebijakan bank sentral, jumlah uang yang beredar tidak dipengaruhi oleh variabel-variabel ekonomi lainnya. Secara khusus jumlah uang yang beredar tidak bergantung pada suku bunga. Setelah bank sentral memutuskan kebijakannya, jumlah uang yang beredar tidak berubah, tanpa memandang suku bunga yang berlaku. Kita menggambarkan jumlah uang yang beredar tetap dengan kurva penawaran vertikal.
Permintaan Uang. Bagian ke dua dari teori preferensi likuiditas adalah permintaan uang. Meskipun ada banyak faktor yang memengaruhi jumlah permintaan uang, faktor yang digaris bawahi oleh teori preferensi likuiditas adalah suku bunga. Alasannya adalah suku bunga merupakan biaya kesempatan untuk memiliki uang. Artinya, apabila kita memiliki kekayaan berupa uang tunai didompet, bukan berupa obligasi berbunga, kita kehilangan bunga yang seharusnya kita peroleh. Kenaikan suku bunga menaikkan biaya kepemilikan uang sehingga mengurangi jumlah permintaan uang. Penurunan suku bunga mengurangi biaya kepemilikan uang dan menaikkan jumlah permintaan. Oleh karena itu, kurva permintaan uang miring ke bawah.
Keseimbangan dalam Pasar Uang. Menurut teori preferensi likuiditas, suku bunga berubah-ubah untuk menyeimbangkan jumlah uang yang beredar dan permintaan uang. Ada dua jenis suku bunga yang disebut dengan suku bunga keseimbangan yang menyebabkan jumlah permintaan uang tepat seimbang dengan jumlah uang yang beredar. Apabila suku bunga berada ditingkat lain, orang akan berusaha menyesuaikan portofoloio asset mereka sehingga mendorong suku bunga ke titik keseimbangannya.
Analisis pengaruh suku bunga terhadap permintaan agregat barang dan jasa dapat dirangkum menjadi 3 langkah, (1) tingkat harga yang lebih tinggi meningkatkan permintaan uang, (2) permintaan uang yang lebih tinggi menyebabkan suku bunga menjadi lebih tinggi, (3) suku bunga yang lebih tinggi mengurangi jumlah permintaan barang dan jasa. Hasil akhir analisis ini adalah hubungan negatif antara tingkat harga dan jumlah permintaan barang dan jasa yang diilustrasikan oleh kurva permintaan agregat yang miring ke bawah.
Perubahan Jumlah Uang yang Beredar
Sejauh ini, kita telah menggunakan teori preferensi likuiditas untuk menjelaskan bagaimana jumlah keseluruhan permintaan barang dan jasa dalam perekonomian berubah seiring dengan berubahnya tingkat harga. Artinya, kita mengamati pergerakan disepanjang kurva permintaan agregat yang miring ke bawah. Namun, teori ini juga menjelaskan beberapa peristiwa lain yang mengubah jumlah permintaan barang dan jasa. Setiap jumlah permintaan barang dan jasa berada pada tingkat harga tertentu, kurva permintaan agregat pun bergeser.
Satu variabel penting yang menggeser kurva permintaan agregat adalah kebijakan moneter: Apabila bank sentral menaikkan jumlah uang yang beredar, suku bunga turun dan jumlah permintaan barang dan jasa untuk tingkat harga tertentu naik yang menyebabkan kurva permintaan agregat bergeser ke kanan. Sebaliknya, apabila bank sentral menurunkan jumlah uang yang beredar, suku bunga naik dan jumlah permintaan barang dan jasa untuk tingkat harga tertentu turun, yang menyebabkan kurva permintaan agregat bergeser ke kiri.
Bagaimana bank sentral memengaruhi perekonomian? Sebelumnya telah kita bahas bahwa bank sentral memberlakukan jumlah uang yang beredar sebagai instrumen kebijakan moneter. Cara lain bagi bank sentral untuk melakukan kebijakan moneter adalah dengan menargetkan suku bunga pinjaman jangka pendek bagi bank-bank.
Keputusan bank sentral untuk menargetkan suku bunga pada dasarnya tidak mengubah analisis kita terhadap kebijakan moneter. Teori preferensi likuiditas memberi satu prinsip penting: Kebijakan moneter dapat dijelaskan, baik dalam terminologi jumlah uang yang beredar maupun terminologi suku bunga. Apabila target suku bunga telah ditetapkan, misalnya 6 persen, penjual obigasi bank sentral seakan-akan diberitahu:”Lakukan segala operasi pasar terbuka yang diperlukan untuk memastikan bahwa suku bunga keseimbangan sama dengan 6 persen”. Dengan kata lain, apabila bank sentral menetapkan target suku bunga, bank sentral berkomitmen untuk menyesuaikan jumlah uang yang beredar untuk membuat keseimbangan dipasar uang guna mencapai target tersebut.
Hasilnya, perubahan kebijakan moneter dapat dipandang, baik sebagai target suku bunga yang berubah-ubah maupun sebagai perubahan jumlah uang yang beredar. Prinsipnya: Perubahan kebijakan moneter yang bertujuan untuk memperluas permintaan agregat dapat dijabarkan, baik sebagai kenaikan jumlah uang yang beredar atau sebagai penurunan suku bunga.
V. Rangkaian Kerja
yang bersangkutan. Namun dikarenakan sulitnya untuk melakukan wawancara langsung dengan Bank Indonesia, maka kami tidak akan melakukan wawancara tersebut. Kami akan lebih menggali informasi dari artikel- artikel yang terkait dengan tema serta mengulas lebih jauh mengenai tiga rumusan masalah utama yang kami pilih. Rumusan masalah yang pertama yaitu bagaimana sebuah kebijakan moneter berpengaruh terhadap tingkat suku bunga bank. Rumusan kedua yaitu mengapa tingkat suku bunga bank memegang peranan yang cukup krusial dalam sebuh perekonomian. Dan rumusan masalah yang terakhir yaitu apa dampak dari perubahan suku bunga bank terhdap perekonomian di Indonesia.
Rencana kerja kedua adalah dengan melakukan pengamatan terhadap suku bunga bank. Hal ini sangat penting untuk dilakukan agar kami tetap mengetahui perkembangan dari suku bunga bank yang ada di Indonesia. Seperti yang kita ketahui juga bahwa saat ini suku bunga bank di Indonesia sangat dinamis dan tidak dapat diprediksi. Pengamatan ini dapat kami lakukan dengan melihat artikel atau berita- berita terbaru yang sedang hangat di masyarakat. Rencana kerja ketiga adalah melakukan hipotesa. Hipotesa atau dugaan baiknya juga dilakukan sehingga dapat memperdalam ulasan rumusan masalah. Hipotesa ini juga dilakukan agar dapat melihat suatu masalah atau fenomena dari sudut pandang yang berbeda.
pihak terkait atau pemerintah agar masalah kebijakan moneter terhadap tingkat suku bunga bank dapat diatasi dengan baik.
Daftar Pustaka
http://nhuehayati.students.uii.ac.id/2014/06/23/pengaruh-kebijakan-moneter-dan-fiskal-terhadap-permintaan-agregat/
Macroeconomics
Kebijakan Moneter Terhadap Tingkat Suku Bunga
INCLUDEPICTURE "https://media.licdn.com/media/p/6/005/07a/29b/39dc5f2.jpg" \*
MERGEFORMATINET