BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pelayanan Sosial dan Fungsi Pelayanan Sosial 2.1.1 Pengertian Pelayanan Sosial
Pelayanan sosial (Social Service) merupakan istilah yang tidak mudah untuk di jelaskan (Romanyshyn,1971;Wickenden, 1976). Pertama-tama, kesulitannya karena kata service mempunyai berbagai arti seperti pekerjaan atau kewajiban yang dilakukan untuk pemerintah, perusahaan, atau militer. Kata ini juga dapat berarti bagian dari suatu organisasi pemerintah seperti Civil Service dan Diplomatic Service. Kata service juga dapat diartikan perawatan dan perbaikan kendaraan dan mesin secara reguler; dan juga digunakan sebagai pukulan awal dalam tenis atau badminton. Kata ini juga sering diartikan sebagai jasa seperti dalam goods and services, yaitu barang dan jasa dan sebagainya.
kadang-kadang lima pelayanan sosial tersebut diperluas yang meliputi pelayanan lain seperti pekerjaan, pelayanan nasihat dan penjagaan ketertiban. Dikatakan oleh spicker bahwa penggunaan istilah pelayanan sosial tidak konsisten dan berada dari satu negara dengan negara lainnya.
Kesejahteraan sosial sebagai suatu kondisi dapat terlihat dalam rumusan Undang-undang Republik Indonesia nomor 11 tahun 2009 tentang ketentuan-ketentuan pokok Kesejahteraan Sosial Pasal 2 Ayat 1 : “kesejahteraan sosial adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial materil maupun spiritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan, dan ketentraman lahir dan batin, yang memungkinkan bagi setiap warga negara untuk mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah, rohaniah, sosial yang sebaik-baiknya bagi diri keluarga serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak-hak asasi serta kewajiban manusia sesuai dengan pancasila”.
Romanyshyn (1971) memberikan arti pelayanan sosial sebagai
usaha-usaha untuk mengembalikan, mempertahankan, dan meningkatkan keberfungsian sosial individu-individu dan keluarga-keluarga melalui (1) sumber-sumber sosial pendukung, dan (2) proses-proses yang meningkatkan kemampuan individu-individu dan keluarga-keluarga untuk mengatasi stres dan tuntutan-tuntutan kehidupan sosial yang normal. Pengertian yang dikemukakan oleh Romanyshyn ini mendekati pengertian dan fungsi pekerjaan sosial.
a) Pelayanan sosial dalam arti luas adalah pelayanan sosial yang mencakup fungsi pengembangan termasuk pelayanan sosial dalam bidang pendidikan, kesehatan, perumahan, tenaga kerja, dan sebagainya.
b) Pelayanan sosial dalam arti sempit atau disebut juga pelayanan kesejahteraan sosial mencakup program pertolongan dan perlindungan kepada golongan yang tidak beruntung seperti pelayanan sosial bagi anak terlantar, keluarga miskin, cacat, tuna sosial dan sebagainya.
Maka dapat diartikan bahwa pelayanan sosial adalah kegiatan-kegiatan atau program-program yang dilakukan oleh lembaga-lembaga kesejahteraan sosial dimana Sepanjang kegiatan-kegiatan itu diarahkan pada tujuan-tujuan kesejahteraan sosial, maka kegiatan-kegiatan itu dikatakan sebagai pelayanan sosial. Pada umumnya baik kualitas maupun kuantitas dari pada pelayanan sosial akan berbeda-beda sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemakmuran suatu negara dan juga sesuai dengan faktor sosiokultur dan politik yang juga menentukan masalah prioritas pelayanan.
masalah yang dihadapi klien.Yang dikaji menggunakan pendekatan Pelayanan Sosial menurut Sulistyani (2010:83) yaitu:
1. Tahap penyadaran dan pembentukan perilaku menuju perilaku sadar dan peduli sehingga merasa membutuhkan peningkatan kapasitas diri.
2. Tahap transformasi kemampuan berupa wawasan pengetahuan, kecakapan- kecakapan ketrampilan agar terbuka wawasan dan memberikan dasar sehingga mengambil peran dalam pembangunan
3. Tahap peningkatan kemampuan intelektual, kecakapan ketrampilan sehingga terbentuklah inisiatif dan kemampuan inovatif untuk mengantarkan pada kemandiran.
2.1.2 Fungsi-fungsi Pelayanan Sosial
Pelayanan sosial dapat dikategorikan dalam berbagai cara tergantung dari tujuan klasifikasi. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengemukakan fungsi pelayanan sosial sebagai berikut :
a. Peningkatan kondisi kehidupan masyarakat b. Pengembangan sumber-sumber manusiawi
c. Orientasi masyarakat terhadap perubahan-perubahan sosial dan penyesuaian sosial.
d. Mobilisasi dan pencipta sumber-sumber masyarakat untuk tujuan pembangunan
Pelayanan sosial untuk sosialisasi dan pengembangan dimaksudkan untuk mengadakan perubahan-perubahan dalam diri anak dan pemuda melalui program-program pemeliharaan, pendidikan (non formal) dan pengembangan. Pelayanan sosial untuk penyembuhan, perlindungan dan rehabilitas mempunyai tujuan untuk melaksanakan pertolongan kepada seseorang, baik secara individual maupun didalam kelompok/keluarga dan masyarakat agar mampu mengatasi masalah-masalahnya.
Dengan adanya berbagai kesenjangan, maka pelayanan sosial disini mempunyai fungsi sebagai “akses” untuk menciptakan hubungan bimbingan yang sehat antara berbagai program, sehingga program-program pelayanan tersebut dapat berfungsi dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang membutuhkannya.
2.2 Kemiskinan atau Keluarga Miskin
2.2.1 Pengertian Kemiskinan atau Keluarga Miskin
Berbicara tentang kemiskinan berarti berbicara tentang harkat dan martabat manusia. Jika ditinjau dari pihak yang mempersoalkan dan mencoba mencari solusi atas masalah kemiskinan, dapat dikemukakan bahwa kemiskinan merupakan masalah pribadi, keluarga, masyarakat, negara, bahkan dunia. Demikian halnya dengan negara, baik ditingkat pusat maupun daerah, melalui berbagai kementerian, dinas maupun badan memiliki berbagai program penanggulangan masalah kemiskinan.
adalah suatu fakta dimana seseorang atau sekelompok orang hidup dibawah atau lebih rendah dari kondisi hidup layak sebagai manusia disebabkan ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sementara kemiskinan sebagai suatu proses adalah proses menurunnya daya dukung terhadap hidup seseorang atau sekelompok orang sehingga pada gilirannya ia atau kelompok tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dan tidak pula mampu mencapai taraf kehidupan yang dianggap layak sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia
Castells (1998) mengemukakan kemiskinan adalah suatu tingkat
kehidupan yang berada dibawah standar kebutuhan hidup minimum agar manusia dapat bertahan hidup. Adapun standar kebutuhan minimum dimaksud pada umumnya ditetapkan berdasarkan kebutuhan pokok pangan. Hal ini berarti bahwa justru kondisi miskin itulah yang kemudian mengakibatkan manusia memasuki kehidupan dengan standar tertentu yang dianggap layak dari segi kemanusiaan. Dengan demikian keluarga miskin adalah keluarga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan fisik minimumnya sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia.
2.2.2 Ciri-ciri Kemiskinan
Suatu studi menunjukkan adanya lima ciri-ciri kemiskinan, yakni :
1. Mereka yang hidup dibawah kemiskinan pada umumnya tidak memiliki faktor produksi sendiri, seperti tanah yang cukup luas, modal yang memadai, ataupun ketrampilan yang memadai untuk melakukan suatu aktivitas ekonomi sesuai dengan mata pencahariannya.
3. Tingkat pendidikan pada umumnya rendah, misalnya tidak sempat tamat SD, atau hanya tamat SD. Kondisi seperti ini akan berpengaruh terhadap wawasan mereka. Beberapa penelitian antara lain menyimpulkan bahwa waktu mereka pada umumya habis tersisa semata-mata hanya untuk mencari nafkah sehingga tidak ada lagi waktu untuk belajar atau meningkatkan ketrampilan.
4. Pada umumnya mereka masuk ke dalam kelompok penduduk dengan kategori setengah menganggur. Pendidikan dan ketrampilan yang sangat rendah mengakibatkan akses masyarakat yang miskin ke dalam berbagai sektor formal bagaikan tertutup rapat. Akibatnya mereka terpaksa memasuki sektor-sektor informal.
5. Banyak diantara mereka yang hidup dikota masih berusia muda, tetapi tidak memiliki ketrampilan atau pendidikan yang memadai. Sementara itu kota tidak siap menampung gerak urbanisasi dari yang makin deras.
2.2.3 Jenis-jenis Kemiskinan
1. Kemiskinan Absolut
Kemiskinan absolut adalah suatu kondisi, dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga orang tersebut memiliki taraf kehidupan yang rendah, dianggap tidak layak serta tidak sesuai dengan harkat dan martabat sebagai manusia.
2. Kemiskinan Relatif
Kemiskinan relatif dikenal jika kita melakukan kajian atas kemiskinan berdasarkan bagaimana kita memandang dan mengkajinya. Lebih khusus lagi, kemiskinan relatif justru ditemukan jika kajian kita tentang kemiskinan tersebut didasarkan pada komparasi kondisi kehidupan antara seseorang dengan orang lain atau antara satu kelompok dengan kelompok lain.
3. Kemiskinan Massa
Kemiskinan massa dapat diartikan sebagai kemiskinan yang dialami secara massal penduduk dalam suatu lingkungan wilayah.
4. Kemiskinan Non Massa
Secara umum kemiskinan non massa adalah lawan dari kemiskinan massa. Secara sederhana dapat dikemukakan bahwa kemiskinan non massa adalah kemiskinan yang dihadapi oleh segelintir orang.
5. Kemiskinan Alamiah
6. Kemiskinan Kultural
Kemiskinan kultur atau kemiskinan budaya dalam kasus ini budaya diidentifikasi sebagai faktor penyebab terjadinya kemiskinan tersebut. Hal ini merupakan konsekwensi logis dari fakta, bahwa membicarakan budaya sesungguhnya kita telah memasuki wilayah dengan unsur-unsur yang sangat sensitif dan sangat berpeluang menimbulkan polemik.
7. Kemiskinan terinovasi
Kemiskinan terinovasi merupakan bentuk dan kondisi khusus dari kemiskinan kultural. Ciri khusus kemiskinan terinovasi adalah telah terinternalisasi nilai-nilai negatif dalam diri seseorang atau sekelompok orang dalan memandang diri dan kebutuhannya, sehinga mereka menganggap kehidupan dengan segala kondisinya sebagai sesuatu yang tidak dapat berubah.
8. Kemiskinan Struktural
Kemiskinan struktural juga ditemukan jika masalah kemiskinan dikaji dari segi faktor-faktor penyebab kemiskinan itu. Konsep kemiskinan struktural antara lain mendeskripsikan bahwa struktur sosial masyarakat itu sedemikian rupa, sehingga menghambat masyarakat tersebut mengembangkan kahidupannya.
9. Kemiskinan situasional
10.Kemiskinan buatan
Kemiskinan buatan merupakan konsep yang ditemukan jika kajian kemiskinan dititikberatkan pada aspek penyebab. Dimana konsep kemiskinan buatan secara khusus ingin memberikan pesan, agar seseorang atau sekelompok orang, terutama mereka yang mengalami kehidupan yang dikategorikan miskin tidak dengan mudah menyalahkan alam sebagai penyebab kemiskinan yang mereka alami.
2.3 Program Pemerintah Dalam Mengatasi Masalah Kemiskinan.
Pola perekonomian subsistem yang berarti bahwa aktivitas ekonomi, khususnya pertanian hanya sekadar memenuhi kebutuhan dasar yang diterapkan secara turun-temurun oleh pada umumnya rakyat indonesia pun terusik secara mendasar. Ketidak seimbangan jumlah penduduk indonesia dengan jumlah aparatur penjajah dijadikan dasar untuk melakukan pembeda-bedaan rakyat secara umum hukum.
Kemiskinan terutama sebagai akibat ketimpangan ekonomi yang terjadi di antara masyarakat indonesia merupakan fakta yang sudah sangat tua. Ketimpangan itu semakin nyata lagi, saat mana beberapa nama pengusaha Indonesia tercantum dalam deretan daftar orang terkaya di Asia. Sejak awal pembangunan, pemerintah Indonesia tentu sudah mengetahui fakta kemiskinan yang senantiasa eksis sejak zaman penjajahan.
program pemberdayaan masyarakat yang secara khusus ditetapkan dalam upaya mengatasi masalah kemiskinan.
Dengan demikian berikut program-program pemerintah dalam mengatasi masalah kemiskinan:
a. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri).
PNPM mandiri dapat diartikan sebagai program penanggulangan kemiskinan yang berbasis pemberdayaan masyarakat.
b. Program Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) dilatarbelakangi upaya mempertahankan tingkat konsumsi Rumah Tangga Sasaran sebagai akibat adanya kebijakan kenaikan harga BBM.
c. Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan.
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan yang dikenal dengan CSR (Corporate Social Responsibility) adalah suatu bentuk tanggungjawab perusahaan dalam bentuk keterlibatan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat yang ada disekitarnya
d. Program Asuransi Kesejahteraan Sosial (AsKessos)
dikumpulkan dari kontribusi bersama dan merupakan sumber bagi pembayaran klaim.
e. Program Keluarga Harapan
PKH merupakan suatu program penanggulangan kemiskinan, yang memberikan bantuan tunai Kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM).
f. Program Beras Untuk Rakyat Miskin (Raskin)
Program beras untuk rakyat miskin (Raskin) merupakan pemenuhan kebutuhan pangan yang menjadi hak setiap warga negara, maka pemerintah menetapkan kebijakan penyediaan dan penyaluran beras bersubsidi bagi kelompok masyarakat miskin (raskin).
2.4 Program Keluarga Harapan (PKH)
2.4.1 Latar Belakang Program Keluarga Harapan (PKH)
PKH serupa dengan program di negara lain yang dikenal dengan istilah Conditional Cash Transfers (CCT) atau bantuan tunai bersyarat. Program diberikan
dalam rangka membantu rumah tangga miskin mempertahankan daya belinya pada saat pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM. Di Indonesia, PKH sudah berjalan sejak 2007, menurut Mensos cukup berhasil dilihat dari tingkat partisipasi anak usia sekolah yang pergi ke sekolah terus meningkat, begitu juga dengan partisipasi ibu hamil yang memeriksakan kandungannya sehingga berdampak pada menurunnya angka kematian ibu dan anak.
bahwa seluruh peserta PKH merupakan penerima jasa kesehatan gratis yang disediakan oleh program Jamkesmas dan program lain yang diperuntukkan bagi orang tidak mampu. Bagi Peserta PKH yang tidak mempunyai kartu Jamkesmas, untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dengan menunjukkan kartu PKH asli dan menyerahkan foto copy kartu PKH karena peserta PKH secara tidak langsung merupakan peserta Jamkesmas, sehingga memiliki hak yang sama dengan peserta Jamkesmas lain dibidang kesehatan. Kartu PKH bisa digunakan sebagai alat identitas untuk memperoleh pelayanan kesehatan bagi warga rumah tangga sangat miskin (RTSM).
Program Keluarga Harapan di Bidang kesehatan ini sangat besar manfaatnya, pihak yang tidak memahami dan tidak bertindak konsisten dengan kenyataan bahwa sumber daya manusia sangat dipengaruhi oleh mutu gizi, kesehatan, dan pendidikan di usia dini dan di masa pertumbuhan anak. Kesehatan terintegrasi dengan berbagai sektor, karena kesehatan tidak akan lepas dari keadaan sosial masyarakat, terutama dalam hal perekonomian. Status ekonomi menjadi tonggak utama yang menyokong kesehatan itu sendiri, karena itu dalam upaya peningkatan status kesehatan sangat diperlukan adanya kerjasama yang berkesinambungan, baik dalam pelaksanaan maupun dalam hal pengawasan.
Program ini dilakukan untuk mengurangi angka kemiskinan dan memutus rantai kemiskinan, meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, serta merubah perilaku Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) yang relatif kurang mendukung peningkatan kesejahteraan.
PKH dirancang untuk membantu penduduk miskin kluster pertama yakni Bantuan dan Perlindungan Sosial Kelompok Sasaran. Dalam jangka pendek PKH akan memberikan income effect kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) melalui pengurangan beban pengeluaran rumah tangga, sedangkan untuk jangka panjang, program ini akan memutus rantai kemiskinan antar generasi melalui peningkatan kualitas kesehatan atau nutrisi, pendidikan, dan kapasitas pendapatan anak di masa depan (price effect). Dengan adanya PKH diharapkan RTSM memilikiakses yang lebih baik untuk memanfaatkan pelayanan sosial dasar, yaitu kesehatan, pangan dan gizi termasuk menghilangkan kesenjangan sosial, ketidakberdayaan dan keterasingan sosial yang selama ini melekat pada diri warga miskin.
PKH merupakan program lintas Kementerian dan Lembaga, aktor utamanya adalah dari Dinas Sosial, kemudian dibantu oleh BPS, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, PT. Pos Indonesia, Departemen Komunikasi dan Informasi, Kantor PKH kecamatan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan Masyarakat. Dengan demikian, PKH membuka peluang terjadinya sinergi antara program yang mengintervensi sisi pelayaanan (supply) dan Rumah Tangga Sangat Miskin (demand) dengan tetap mengoptimalkan desentralisasi, koordinasi antar sektor, koordinasi antar tingkat pemerintahan, serta antar pemangku kepentingan (stakeholder).
Kota medan sumatera utara melaksanakan Program Keluarga Harapan (PKH), untuk mengurangi tingkat kemiskinan serta meningkatkan kesejateraan keluarga, yang salah satunya dalam pengertian PKH jelas disebutkan bahwa komponen yang menjadi fokus utama dalam bahasan ini adalah bidang kesehatan dan pendidikan. Dinas Sosial 2016 jumlah Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) di Kota Medan yang aktif menerima Program Keluarga Harapan yaitu 14.366 RTSM. Dengan 21 kecamatan yang berhasil disalurkan dari tahun 2008 hingga 2016 saat ini. dan salah satu kecamatan di Kota Medan yang masih aktif menerima Program Keluarga Harapan (PKH)dan mengikuti pelayanan FDS di Kecamatan Medan Baru adalah berjumlah 108 KPM.
secara tidak langsung merupakan peserta Jamkesmas, sehingga memiliki hak yang sama dengan peserta Jamkesmas lain dibidang kesehatan.
Program Keluarga Harapan (PKH) memberikan dampak positif kepada masyarakat Kota Medan Baru. Program ini meningkatkan akses kesehatan bagi peserta dan memiliki cara yang berbeda dengan bantuan tunai lainnya atau program jaminan lainnya, karena peserta PKH memiliki kewajiban-kewajiban bidang kesehatan yang dibebankan kepada peserta dan harus dijalankan sebagai syarat. Program Keluarga Harapan (PKH) ini memiliki kelebihan apabila dibandingkan dengan program bantuan sosial lainnya, karena program ini memiliki kewajiban yang harus dilakukan oleh peserta PKH dan peserta juga didampingi oleh pendamping, sehingga peserta PKH dapat terpantau dengan baik melalui pendamping disetiap wilayah.
2.4.5 Pengertian Program Keluarga Harpan (PKH)
Program Keluarga Harapan (PKH) adalah suatu program yang memberikan bantuan tunai kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RSTM), jika mereka memenuhi persyaratan yang terkait dengan upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM), yaitu pendidikan dan kesehatan.
Program Keluarga Harapan merupakan program perlindungan sosial yang termasuk dalam klaster pertama bagi strategi penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Kesinambungan dari program ini akan memberikan kontribusi dalam mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium DevelopmentGoals). Ada lima komponen tujuan MDGs yang didukung melalui
PKH, yaitu:
2. Pencapaian pendidikan dasar.
3. Kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. 4. Pengurangan angka kematian anak.
5. Peningkatan kesehatan ibu (Kemensos, 2013:1). 2.4.6 Sasaran Program Keluarga Harapan (PKH)
Sasaran atau Penerima bantuan PKH adalah Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) yang memiliki anggota keluarga yang terdiri dari anak usia 0-15 tahun dan/atau ibu hamil/nifas dan berada pada lokasi terpilih. Penerima bantuan adalah lbu atau wanita dewasa yang mengurus anak pada rumah tangga yang bersangkutan (jika tidak ada lbu maka: nenek, tante/ bibi, atau kakak perempuan dapat menjadi penerima bantuan). Dengan cakupan imunisasi, pemeriksaan kehamilan, angka partisipasi sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama, sekolah menengah atas dan disabilitas. Jadi, pada kartu kepesertaan PKH pun akan tercantum nama ibu/wanita yang mengurus anak, bukan kepala rumah tangga. Untuk itu, orang yang harus dan berhak mengambil pembayaran adalah orang yang namanya tercantum di Kartu PKH.
Calon Penerima terpilih harus menandatangani persetujuan bahwa selama mereka menerima bantuan, mereka akan: (1) Menyekolahkan anak 7-15 tahun serta anak usia 16-18 tahun namun belum selesai pendidikan dasar 9 tahun wajib belajar; (2) Membawa anak usia 0-6 tahun ke fasilitas kesehatan sesuai dengan prosedur kesehatan PKH bagi anak; dan (3) Untuk ibu hamil, harus memeriksakan kesehatan diri dan janinnya ke fasilitas kesehatan sesuai dengan prosedur kesehatan PKH bagi lbu Hamil.
Rendahnya penghasilan menyebabkan keluarga sangat miskin tidak mampu memenuhi kebu-tuhan kesehatan dan pendidikan, bahkan untuk tingkat minimal sekalipun. Pemeliharaan kesehatan ibu hamil yang tidak memadai berakibat pada buruknya kondisi kesehatan bayi yang dilahirkan dan seringkali menyebabkan tingginya kematian bayi. Rendahnya kondisi kesehatan keluarga sangat miskin juga berdampak pada tidak optimalnya proses tumbuh kembang anak, terutama pada usia 0-5 tahun. (Aspek Kesehatan) Pedoman Umum PKH 2016.
Berdasarkan laporan Education for All Global Monitoring Report yang dirilis UNESCO 2011, tingginya angka putus sekolah menyebabkan peringkat indeks pembangunan rendah. Karenanya, Mendorong anak untuk tetap bersekolah pada usia remaja menjadi hal mendasar. Keikutsertaan mereka yang berada di luar sistem sekolah pun harus menjadi perhatian utama. Hal ini karena meningkatnya resiko anak putus sekolah rentan menjadi korban eksploitasi, termasuk perdagangan anak. Bahkan mereka rentan pula terhadap pelanggaran hukum dari penyalahgunaan obat terlarang sampai dengan kriminalitas. Pada usia ini mereka rawan terjangkit HIV/AIDS. Kondisi sosial dan budaya di Indonesia ikut andil meningkatkan resiko tersebut, terutama terhadap para remaja putri. Sampai saat ini tingkat partisipasi anak dalam bersekolah, baik di satuan pendidikan formal maupun informal masih rendah. (Aspek Pendidikan) Pedoman Umum PKH 2016.
2.5 Program PelayananFamily Development Session (FDS)
2.5.1 Pengertian Family Development Session (FDS)
Pertemuan peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) atau lebih dikenal dengan Family Development Session (FDS) merupakan proses belajar peserta PKH berupa pemberian dan pembahasan informasi praktis di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi dan kesejahteran keluarga yang disampaikan melalui peretemuan kelompok bulanan (Kemensos, 2016:28).
FDS merupakan program pengembangan dari PKH yang nantinya diharapkan dapat membantu pendamping PKH dalam meningkatkan kapasitas diri dan mengubah pola hidup keluarga yang miskin menjadi keluarga yang mapan. Program FDS ini adalah Program pemberdayaan masyarakat melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran memang seringkali berlangsung lambat, tetapi perubahan yang terjadi akan bertahan lama. Proses belajar dalam pemberdayaan bukanlah proses “menggurui”, melainkan menumbuhkan semangat belajar bersama yang mandiri dan partisipatif (Mead, dalam Mardikanto & Soebiato, 2013:68-69) Pedoman Umum PKH dan FDS 2016.
2.5.2 Tujuan Program FDS.
Setiap program mempunya tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Adapun tujuandari FDS antara lain:
1. Meningkatkan pengetahuan praktis mengenai kesehatan, pola asuh dalam keluarga, ekonomi, dan kesejahteraan keluarga.
3. Menjaga dan memperkuat perubahan perilaku positif terkait pendidikan, kesehatan dan kesadaran dalam pertemuan kelompok peserta PKH.
4. Meningkatkan keterampilan orangtua dalam pola pengasuhan anak.
5. Meningkatkan kemampuan peserta untuk mengenali potensi yang ada pada dirinya dan lingkungannya agar dapat digunakan dalam peningkatan kesejahteraan keluarga dan masyarakat.
6. Memberikan pemahaman kepada peserta untuk menemukan potensi lokal agar dapat dikembangkan secara ekonomi (Kemensos, 2016:28-29).
2.7.3 Mekanisme Pelaksanaan FDS
Program FDS menggunakan strategi pelaksanaan kegiatan secara partisipatif. Strategi ini bertujuan agar peserta dapat mengetahui teknik-teknik partisipasi dalam menyelenggarakan pertemuan, kegiatan ataupun musyawarah warga guna memaksimalkan penyerapan materi demi hasil yang disasar dalam kegiatan FDS. Adapun mekanisme pelaksanaan FDS antara lain:
a. Program FDS ini ditujukan kepada para peserta PKH yang memasuki masa transisi dan dapat dimungkinkan untuk graduasi.
b. Setiap kelompok diskusi FDS dapat berjumlah 10-15 rumah tangga anggota PKH yang tempat tinggalnya berdekatan.
c. Fasilitator dalam kegiatan FDS, yaitu pendamping PKH. Sebelum melakukan fasilitasi FDS, pendamping PKH harus mengikuti diklat FDS terlebih dahulu. d. Waktu dan lokasi pembelajaran ditentukan oleh kesepakatan antara
bergantian dari satu rumah ke rumah peserta PKH lainnya (Kemensos, 2013:1-2).
2.5.4 MATERI PEMBELAJARAN FAMILY DEVELOPMENT SESSION (FDS)
Berikut materi pembelajaran FDS terdiri dari 4 modul yang terbagi menjadi beberapa sesi yaitu :
1. MODUL PENGASUHAN DAN PENDIDIKAN ANAK a. Sesi Menjadi Orangtua Yang Lebih Baik
Dalam sesi ini memberikan pembelajaran bahwa orang tua memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perilaku anak sehingga diperlukan pemahaman orang tua terhadap perilaku mendidik anak serta konsekuensi dari perilaku positif dan negatif, dari orang tua terhadap anak. Dalam sesi ini pendamping secara aktif mengajak para peserta pelatihan untuk melakukan simulasi ‘menggenggam pasir” yang sesuai dengan modul sesi. Dalam simulasi “menggenggam pasir” ini dimaksudkan bahwa dalam mengasuh anak itu, tidak boleh mengekang anak terlalu berlebihan, diibaratkan seperti menggenggam pasir di tangan, pasir itu akan semakin lama semakin sedikit dan habis saat digenggam dengan erat.
b. Sesi Memahami Perilaku Anak
perilaku buruk anak, dengan memberikan batasan-batasan tertentu pada anak namun tidak mengurangi hak mereka sebagai anak, misalnya membatasi anak menonton acara televisi dengan memberikan jadwal dan mendampingi mereka ketika menonton acara di televisi.
c. Sesi Memahami Cara Anak Usia Dini Belajar
Dalam sesi ini orang tua di berikan gambaran bahwa bermain sebagai sebuah media untuk anak belajar sesuatu dan juga mengajarkan kepada orang tua tentang berbagai kegiatan bermain sebagaimana kegiatan tersebut nantinya dapat membantu proses pengembangan kemampuan bahasa anak Dunia anak-anak adalah dunia bermain, maka seharusnya orang tua bisa memenuhi hak mereka. Kemampuan berbahasa yang baik, juga dapat membantu anak-anak dalam belajar, semakin tinggi kemampuan anak dalam berbahasa dan berkomunikasi, semakin tinggi pula tingkat kecerdasan anak. Untuk itu, orang tua harus mampu mengarahkan anak mereka agar bisa bermain sekaligus belajar berbahasa dan berkomunikasi dengan baik.
d. Membantu Anak Sukses Di Sekolah
2. MODUL PENGELOLAAN KEUANGAN DAN PERENCANAAN USAHA
a. Sesi Mengelola Keuangan Keluarga
Membantu peserta mengatur pengeluaran agar seimbang dengan pendapatan, dimana sesi ini mencakup cara-cara seperti: menghitung rata-rata pendapatan dan pengeluaran bulanan serta membuat anggaran bulanan berdasarkan prioritas pengeluaran, mengendalikan pengeluaran sesuai anggaran tersebut. Pada modul pengelolaan keuangan keluarga, para peserta lebih banyak diajak untuk berinteraksi melalui pelatihan-pelatihan soal yang diberikan dan dikerjakan dirumah hasil dari pelatihan soal yang dikerjakan dirumah (PR). Dengan sering memberikan simulasi dan latihan-latihan soal menghitung keuangan, diharapkan nantinya peserta bisa terbiasa menyeimbangkan keuangan keluarga dengan belajar menghitung pemasukan dan pengeluaran keluarga.
b. Sesi Cermat Meminjam Dan Menabung
memulai menyusun rencana untuk menabung adalah beberapa cara yang disampaikan dalam pelatihan agar para peserta benar-benar bisa keluar dari permasalahan keuangan keluarga, sedikit demi sedikit.
c. Sesi memulai Usaha
Dalam sesi ini peserta dibantu memahami dasar-dasar untuk memulai mengembangkan, dan memantau keberlanjutan usaha agar dapat menjadi sumber pendapatan keluarga. Dimana langkah perencanaan usaha yang dipelajari meliputi: mengindentifikasi, mengembangkan, dan menilai kelayakan ide usaha, merencanakan keuangan dan pemasaran usaha serta mengelola usaha Dalam modul pengelolaan keuangan dan perencanaan usaha RTSM di berikan pengetahuan dasar untuk mengasah ketrampilan dalam mengelola pendapatan dan pengeluaran sehingga mampu mengurangi permasalahan keuangan dalam keluarga serta mampu merencanakan sebuah usaha demi tercapainya kehidupan ekonomi yang mandiri.
3. PERLINDUNGAN ANAK
a. Pencegahan Kekerasan Terhadap anak
Kekerasan terhadap anak adalah setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, mental, seksual, psikologi, termasuk penelantaran dan perlakuan buruk yang mengancam integritas tubuh dan merendakan martabat anak (Buku Pintar peserta PKH).
b. Pencegahan Penelantaran dan Eksploitasi Terhadap Anak
Penelantaran adalah tidak dilakukannya kewajiban dan tanggung jawab orang tua dalam memenuhi kebutuhan dasar anak termasuk kasih sayang dan perhatian terhadap anak. Sedangkan eksploitasi anak adalah pemanfaatan anak untuk memperoleh keuntungan materill maupun immaterill (Buku Modul Perlindungan Anak). Kasus kekerasan pada anak yang marak belakangan ini juga menjadi topik bahasan dalam pelatihan FDS dalam sesi Kekerasan Terhadap Anak disini pendamping menjelaskan tentang akibat dan dampak dari kekerasan terhadap anak, yang terbagi menjadi 2 (dua), yaitu: (1) Dampak fisik , misalnya memar pada tubuh, luka luar maupun luka dalam, lebam pada wajah, dan sebagainya. (2) Dampak non-fisik (psikis), misalnya anak menjadi penakut, kurang percaya diri, anak menjadi emosional, dan tidak mampu berkonsentrasi dengan baik, adalah beberapa contoh yang disampaikan oleh pendamping.
4. KESEHATAN DAN GIZI
persalinan, seperti Asfiksia, Sepsis, dan Komplikasi Berat Lahir Rendah (Depkes RI, tahun 2008). Untuk itu, pengetahuan tentang kesehatan ibu dan bayi menjadi sangat penting untuk disampaikan, terutama pada masyarakat yang dirasa sangat minim informasi tentang hal tersebut, dan peserta PKH menjadi salah satu sasaran dalam menginformasikan hal ini. Materi tentang kesehatan ibu dan anak ini terbagi menjadi 8 (delapan) sub bagian yaitu:
a. Pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan
Agar anak menjadi pintar dan tumbuh optimal, keluarga perlu memperhatikan masa penting dalam pertumbuhan, yakni 1000 hari pertama kehidupan, dimulai selama kehamilan 9 bulan sampai dengan 2 tahun pertama sejak anak dilahirkan. Seribu hari pertama merupakan periode penting di mana gangguan yang muncul pada masa ini akan berakibat secara menetap dan tidak dapat diperbaiki. Peserta PKH diharapkan dapat memahami pentingnya memperhatikan perilaku-perilaku sehat dan gizi bagi ibu dan anak khususnya dalam masa penting 1000 hari mulai dari ibu hamil sampai anak berusia 24 bulan.
b. Gizi Ibu Hamil
Anak sehat di tentukan semenjak bayi tersebut di dalam kandungan, dimana hal tersebut di tentukan oleh bagaimana sang ibu mengkonsumsi makan sehari-hari, ibu hamil wajib memperhatikan makan-makan yang baik untuk tumbuh kembang si bayi, dari situlah materi ini di berikan agar peserta FDS dapat mengetahui gizi seimbang untuk kandungannya dan tidak lupa meminum tablet tambah darah.
c. Pelayanan ibu hamil
d. Persalinan dan Masa Nifas
Peserta FDS dapat memahami pentingnya melahirkan di fasilitas dan sarana kesehatan, dan juga memahami semua penyebab persalinan yang beresiko.
e. Air Susu Ibu
ASI adalah hal yang penting untuk bayi dimana bayi membutuhkan asi sampai usia 6 bulan tanpa makanan atau minuman pendamping, ASI saja sudah cukup untuk memenuhi gizi bayi dimana nantinya diharapkan peserta dapat mengetahui pentingnya asi bagi bayi sampai umur 2 tahun.
f. Makanan Pendamping ASI
Dimana peserta diharapkan mampu memahami pentingnya memberikan makanan pendamping bagi bayi setelah bertahap dimulai sejak bayi berusia 6 bulan.
g. BAB di jamban dan cuci tangan pakai sabun
Diharapkan peserta FDS memahami pentinganya BAB di jamban, dan menjelaskan bahwa membangun jamban itu tidak selalu mahal, serta pentingnya mencuci tangan khususnya di lima waktu penting.
h. Kesakitan Pada Anak
Para peserta FDS dapat mengenal kesakitan yang dapat menyebabkan gangguan gizi pada anak dan bagaimana cara mencegah dan menanggulanginya.
pemberdayaan yang dilakukan UPPKH melalui kegiatan FDS, peneliti menggunakan teori pemberdayaan yang mencakup proses pemberdayaan melalui kegiatan FDS, diantaranya yaitu:
1. Tahap penyadaran dan pembentukan perilaku menuju perilaku sadar dan peduli sehingga merasa membutuhkan peningkatan kapasitas diri. Pada tahap ini pihak pemberdaya/aktor/pelaku pemberdayaan berusaha menciptakan prakondisi, supaya dapat memfasilitasi berlangsungnya proses pemberdayaan yang efektif. Pada tahap ini pemberdaya harus mampu meningkatkan kesadaran para RTSM peserta PKH akan pentingnya kegiatan pemberdayaan dalam hal pengasuhan anak,pendidikan dan kesehatan. Untuk menunjang semua kegiatan ini, UPPKH Kecamatan Medan Baru, melalui Dinas Sosial Kota Medan, sudah menugaskan para pendamping FDS di Kecamatan Medan Baru untuk dapat melaksanakan kegiatan pemberdayaan melalui program FDS. Dengan semua pengalaman di lapangan, ditambah dengan pelatihan-pelatihan yang sudah diikuti oleh pendamping, maka diharapkan kegiatan FDS di wilayah Kecamatan Medan Baru yang dilaksanakan di Kelurahan Titi Rantai nantinya bisa berjalan dengan baik dan sesuai sasaran program
sulit untuk datang dalam pertemuan, namun kini sudah terlihat kemajuan dengan semakin menurunnya jumlah peserta tidak hadir dalam pertemuan. 3. Tahap peningkatan kemampuan intelektual, kecakapan ketrampilan sehingga
2.8 Kerangka Pemikiran
Pelayanan sosial bagi keluarga miskin melalui program keluarga harapan (PKH) di kota medan memiliki peran penting dalam mengatasi kemiskinan yang ada di kota medan terlebih khusus Kecamatan Medan Baru. Program keluarga harapan (PKH) yang dilaksanakan di kecamatan Medan baru Kelurahan Titi Rantai terdiri dari (Kel.Padang Bulan, Kel.darat dan Kel.Titi Rantai) yang dilakukan dalam rangka memberikan pelayanan sosial Kesehatan dan Pendidikan serta memberikan pelayanan pemberdayaan kepada masyarakat melalui program Family Development Session (FDS)yaitu bagaimana mengubah pola pikir keluarga sangat miskin untuk
bisa menjalani kehidupan keluarga yang sederhana dan mapan.Kecamatan Medan Baru merupakan wilayah yang masih aktif menerima program keluarga harapan (PKH) dan aktif melaksanakan FDS. Kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) yakni berdasarkan UU Nomor 13 tahun 2011 tentang penanganan fakir miskin paragraf 4 penyediaan pelayanan pendidikan dan paragfraf 5 penyediaan pelayanan kesehatan serta paragraf 7 Pelayanan Sosial Pasal 18 ayat (1) : pemerintah dan pemerintah daerah bertanggungjawab menyelenggarakan pelayanan sosial. Program ini dilaksanakan untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia terutama pada keluarga miskin.
2.9 Defenisi Konsep dan Defenisi Operasional 2.7.1 Defenisi Konsep
Konsep merupakan sejumlah pengertian atau ciri-ciri yang berkaitan dengan berbagai peristiwa, objek, kondisi, situasi, dan lain-lain yang sejenis. Konsep diciptakan dengan mengelompokkan objek-objek atau peristiwa-peristiwa yang mempunyai ciri-ciri yang sama. Defenisi konsep bertujuan untuk merumuskan sejumlah pengertian yang digunakan serta mendasar dan menyamakan persepsi tentang apa yang akan di teliti serta menghindari salah pengertian yang dapat mengaburkan tujuan penelitian (Siagian, 2011:134).
Untuk lebih memahami pengertian mengenai konsep-konsep yang akan digunakan, maka peneliti membatasi konsep yang digunakan sebagai berikut :
1. Pelayanan sosial adalah kegiatan-kegiatan atau program-program yang dilakukan oleh lembaga-lembaga kesejahteraan sosial dimana Pelayanan Sosial Bagi Keluarga
Miskin Melalui Program Keluarga Harapan Di Kecamatan Medan Baru
Pelayanan Sosial PKH : Family Development Session
(FDS)
Sepanjang kegiatan-kegiatan itu diarahkan pada tujuan-tujuan kesejahteraan sosial, maka kegiatan-kegiatan itu dikatakan sebagai pelayanan sosial.
2. Keluarga Miskin adalah keluarga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan fisik minimumnya sesuai dengan harkat dan martabatnya sebgai manusia.
3. Program Keluarga Harapan (PKH) adalah suatu program yang memberikan bantuan tunai kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RSTM), jika mereka memenuhi persyaratan yang terkait dengan upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM), yaitu pendidikan dan kesehatan.
4. Kecamatan Medan Baru Kelurahan Titi Rantai adalah lokasi yang digunakan peneliti untuk melakukan penelitiankarena kecamatan Medan Baru Kelurahan Titi Rantai merupakan wilayah yang masih aktif menerima bantuan program keluarga harapan (PKH) dan FDS dilaksanakan di kelurahan tersebut yang dihadiri oleh 3 kelurahan lainnya.
2.7.2 Defenisi Operasional
Adapun yang menjadi defenisi operasional dalam Pelayanan Sosial Bagi Keluarga Miskin di Kecamatan Medan Baru dapat di ukur melalui indikator yang akan dijelaskan seperti berikut :