Pengawasan pemerintah terhadap predaran

Teks penuh

(1)

Pengawasan pemerintah terhadap perkuat regulasi atasi obat palsu masih di nilai lemah, karena masih banyak pengaduan dari pemilik merek obat terdaftar yang dipalsukan hal ini sangat benar-benar merugikan podusen dan konsumen, bagi produsen bisa menurunkan penjualan dan pencemaran nama baik atas merek obat yang di palsukan, bagi konsumen mengakibatkan kerugian kesehatan.

Dalam kasus obat palsu dan ilegal, regulasi atau aturan masih lemah. Belum ada peraturan spesifik terkait dengan perdagangan obat palsu dan ilegal, kurang ketatnya pengawasan terhadap penyebaran di pasaran yang menyebabkan konsumen sulit mengenali keaslian produk. penyebaran juga di lakukan di dunia maya yang menyebabkan gampangnya penyebaran obat palsu dan ilegal, kementrian komunikasi dan informatika di nilai tidak mampu dalam mengatasi masalah penyebaran obat palsu dan ilegal di dunia maya, seharusnya mereka selaku badan terkait lebih memperketat aturan dan regulasi terhadapa penyebaran obat palsu dan ilegal. Banyak produsen yang di rugikan dengan maraknya obat palsu dan ilegal yang memakai merek pemilik obat yang terdaftar yang membuat produsen sangat di rugikan.

Pasal 76 UU-15-2001 merek

(1) Pemilik Merek terdaftar dapat mengajukan gugatan terhadap pihak lain yang secara tanpa hak menggunakan Merek yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya untuk barang atau jasa yang sejenis berupa:

a. gugatan ganti rugi, dan/atau

b. penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan Merek tersebut.

Pelanggaran dan sanksi bagi pelaku tindak pidana di bidang merek, Sanksi bagi orang/pihak yang melakukan tindak pidana di bidang merek ya itu:

1. Pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) bagi barangsiapa yang dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan merek yang sama pada keseluruhannya dengan

merek terdaftar milik pihak lain u ntuk barang dan/atau jasa sejen is ya ng diprod uksi dan/atau diperdagangkan (Pasal90 UUM).

2. Pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah) bagi barangsiapa yang dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan merek yang sama pada pokoknya dengan merek terdaftar mil ik pi ha k lain untu k barang dan/atau jasa sejenis yang diprod uksi dan/atau diperdagangkan (Pasal91 UUI\Il).

Pemerintah harus lebih memperketat lagi aturan dan regulasi agar penyebaran obat terlarang dan ilegal dapat di atasi sehinnga tidak ada lagi pihak yang di rugikan baik dari produsen dan konsumen.1

1 Prof.Dr.Ahmad M.Ramli. S.H.,M.H.,FCBarb, 2013, Panduan Hak Kekayaan Intelektual, halaman 28

(2)

Perlindungan konsumen adalah perangkat hukum yang diciptakan untuk melindungi dan terpenuhinya hak konsumen. Dalam kasus ini konsumen sangat di rugikan karena konsumen tidak bisa melaporkan pelaku, padahal konsumen merupakan orang pertama yang sangat di rugikan dari praktik penjualan obat palsu dan ilegal.

Pasal 4 UU-8-1999 tentang perlindungan konsumen

a. hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;

b. hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;

UU Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Republik Indonesia menjelaskan bahwa hak konsumen diantaranya adalah hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengonsumsi barang dan atau jasa, hak untuk memilih barang dan atau jasa serta mendapatkan barang dan atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan; hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif, hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan atau penggantian, apabila barang dan atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya; dan sebagainya.2

Fenomena yang menggambarkan dengan persis keadaan perlindungan hukum bagi para konsumen saat ini, Faktor utama yang menyebabkan lemahnya kondisi dan kedudukan konsumen di Indonesia adalah tingkat pengetahuan hukum dan kesadaran konsumen akan hak dan bagi para konsumen terus dilakukan. Dan, upaya ini mendapat momentum yang kuat sejak disahkannya UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK). UUPK ini yang mendorong pemerintah, lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat dan masyarakat konsumen untuk melakukan pemberdayaan melalui pendidikan dan pembinaan.3

Dalam hal ini pemerintah harus berperan penting dalam mengawasi penyebaran obat palsu dan ilegal agar konsumen tidak rugikan lagi.

Pasal 29 UU-8-1999

(1) Pemerintah bertanggung jawab atas pembinaan penyelenggaraan perlindungan konsumen yang menjamin diperolehnya hak konsumen dan pelaku usaha serta dilaksanakannya kewajiban konsumen dan pelaku usaha.

2 Prof. Dr. O.C Kaligis. S.H.,M.H, 2012, teori-teori praktik merek dan hak cipta, halaman 33 3 Prof. Mr. Dr. Sudargo Gautama dan Rizwanto Winata. S.H., 1997, Pembaharuan Hukum Merk Indonesia(DALAM RANGKA WTO.TRIPS) 1997, halaman 8

(3)

Pengawasan dan Perlindungan konsumen di Indonesia dirumuskan dengan mengacu pada filosofi pembangunan nasional, dimana dalam pembangunan nasional melekat upaya yang bertujuan memberikan perlindungan kepada rakyat Indonesia.

Pelaksanaan pembinaan atas penyelenggaraan perlindungan konsumen sesuai Undang-undang Perlindungan Konsumen berada pada Menteri Perdagangan. Secara hierarki (struktural dan fungsinya) tugas tersebut dilimpahkan kepada Direktorat Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen, yang kemudian dilaksanakan oleh Direktorat Pemberdayaan Konsumen.

Sesuai dengan tugas pokok, fungsi dan perannya, upaya tersebut terkait dengan perumusan kebijakan, standar, norma, kriteria dan prosedur, bimbingan teknis, serta evaluasi pelaksanaan di bidang kerjasama, informasi dan publikasi pemberdayaan konsumen, analisis penyelenggaraan pemberdayaan konsumen, bimbingan konsumen dan pelaku usaha, pelayanan pengaduan serta fasilitasi kelembagaan perlindungan konsumen.

Selain hal tersebut, dilaksanakan juga kegiatan untuk membudayakan gerakan konsumen cerdas, melakukan kemitraan dengan lembaga konsumen yang didukung oleh peran aktif kepemimpinan di setiap lini serta secara cerdas pula merekomendasikan penerbitan berbagai "smart regulation". "Smart regulation" merupakan regulasi teknis yang bukan hanya melindungi konsumen, tetapi juga memperkuat pasar dalam negeri terhadap masuknya produk impor yang tidak memenuhi persayaratan perlindungan konsumen.

Pada intinya, peran Direktorat Pemberdayaan Konsumen adalah menciptakan lingkungan yang kondusif dimana konsumen dan pelaku usaha dapat bertransaksi dengan percaya diri, dan keduanya dapat merealisasikan hak-hak serta kewajibannya dengan sebaik-baiknya.

Kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah adalah menetapkan peraturan per-undang-undangan, mengendalikan pengukuran melalui pengawasan pasar dan mengembangkan serta memelihara infrastruktur yang dapat mendukung akurasi pengukuran tersebut (melalui ketertelusuran) yang sangat mendasar untuk melengkapi peran pemerintah.4

Pasal 30 UU-8-1999

(2) Pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan konsumen serta penerapan ketentuan peraturan perundangundangannya diselenggarakan oleh pemerintah, masyarakat, dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat.

4 http://ditjenspk.kemendag.go.id/id/direktorat-pemberdayaan-konsumen, 2015

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...