BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian
Peran birokrasi ialah yang paling terdepan dalam pelayanan terhadap masyarakat, selain sebagai penggerak birokrasi juga sebagai salah satu aspek yang menentukan kemajuan administrasi di suatu daerah. Dengan menggunakan operasional yang optimal maka akan timbul peran yang penting dalam menjalankan sistem birokrasi di Indonesia, khususnya di daerah pedesaan, tetapi birokrasi seakan hancur karena kurangnya pemaknaan atas pentingnya birokrasi dalam suatu organisasi aparatur pemerintahan seakan lupa dengan kepentingan birokrasi sebagai pelayanan yang terbaik dalam suatu sistem kinerja yang di lakukan oleh pegawai.
sehingga tidak mempunyai daya ikat emosional dengan instansi dan tugas-tuganya, tingginya penyalagunaan wewenang (KKN), serta produktivitas dan disiplin yang rendah.
Kinerja diartikan sebagai hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi sesuai dengan aturan yang berlaku dalam rangka pencapaian tujuan organisai. Artinya segala sesuatu yang berhubungan dengan pelayanan publik sangat bergantung kepada hasil kerja yang diberikan oleh aparatur negara, sebagaimana telah dijelaskan dalam Undang-Undang Nomer 43 tahun 1999 tentang pokok-pokok kepegawaian yang dalam penjelasanya menyatakan bahwa kelancaran penyelengaraan tugas pemerintahan dan pembangunan nasioanl sangat tergantung pada kesempurnaan aparatur negara khuhsnya pegawai negeri.
Realitanya organisai pemerintahan yang bergerak dalam pelayanan publik memerlukan pegawai dengan performa yang sangat baik karena kinerja pegawai menghasilkan penilaian langsung dari costumer yakni masyarakat itu sendiri. Salah satu bentuk pemerintaha yang langsung berinteraksi dengan masyarakat ialah kantor desa (KADES). Dalam Undang-Undang Desa yang baru UU NO. 6 Tahun 2014, diartikan bahwa : “Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya di sebut desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul dan/atau hal tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Neagara Kesatuan Republik Indonesia (Pasal 1)
optimal. Segenap jajaran pegawai Pemerintahan Desa memerlukan perhatian ekstra dari berbagai pihak sebagai bahan pertimbangan para pembuat kebijakan, sehingga apa yang di harapkan oleh masyarakat dapat diwujudkan.
Kepemimpinan menyangkut proses mempengaruhi sosial dengan pengaruh yang disengaja digunakan oleh seseorang terhadap orang lain untuk mengorganisir kegiatan-kegiatan dan hubungan-hubungan dalam organisai.
Dalam kepeimpinan yang paling penting adalah menginterpretasikan peristiwa-peristiwa, memetakan jalannya organisai untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sekecil apapun organisasi, peranan pemimpin sangat dominan dalam menciptakan, mengembangkan, memelihara dan meningkatkan kerja sama baik vertikal, horizontal maupun diagonal. Hal tersebut mempengaruhi semua bawahan atau pengikut agar dapat memberikan pengabdian untuk mencapai tujuan organisai.
Berdasarkan penjajagan yang telah dilakukan di Kntor Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, terdapat indikator-indikator masalah terkait kinerja pegawai kantor Desa tersebut, antara lain :
1. Kualitas Kerja, pegawai Rendah sehingga pelaksaan tugas pokok dan fungsi menjadi terhambat. Contoh : masih ada pegawai yang duduk santai ditengah jam kerja, padahal masih memiliki pekerjaan yang belum diselesaikan. 2. Sikap, pegawai dalam melaksanakan pekerjaan tidak ramah sehingga
pelayanan yang diberikan pegawai Kantor Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung tidak maksismal. Contoh: masih ada pegawai yang tidak memberikan senyum dan sapa ketika memberikan pelyananan kepada masyarakat.
1. Kepala Desa Tidak memberikan pengalaman-pengalaman terkait proses pelayanan sehingga menghabat dalam pengembangan organisasi. Contoh : kepala desa tidak memberikan contoh kepada pegawai dalam memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.
2. Kepala Desa kurang memberikan stimulas pada pegawai dalam melihat permasalahan dari perspektif baru sehingga menghambat dalam memberikan pelayanan kepada masyrakat. Contoh : kepala desa membiarkan pegawai melihat pelayanan dengan perspektif lama dimana masyarakat harus mau menerima pelayanan pegawai tanpa disertai sikap yang lebih baik.
Berdasarkan latar belakang penelitian diatas, Peneliti tertarik untuk mengkaji dan mengadakan penelitian lebih lanjut yang dituangkan dalam bentuk karya ilmiah Usulan Penelitian dengan Judul “ANALISIS KEPEMIMPININ AFILIATIF KEPALA DESA CIPELAH KECAMATAN RANCABALI KABUPATEN BANDUNG” dimana peneliti akan melakukan penelitian tentang seberapa besar Analisis kepemimpininan afiliatif terhadap kepala desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka peneliti merumuskan permasallahan yaitu : bagaimana bisa kinerja pegawai kantor Desa Cipelah rendah dan Rendahnya kinerja pegawai disebabkan belum efektifnya kepemimpinan afiliatif diterapkan oleh Kepala Desa.
1.3. Tujuan Penelitian
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1 Kegunaan Praktis
Penelitian ini dilaksankan oleh penulis dengan harapan agar laporan penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak, diantaranya:
1. Bagi Penulis
a) Penulis dapat menerapkan dan juga mebandingkan perbedaan teori yang telah didapat dibangku kuliah dengan aplikasi yang ada dilingkungan kerja.
b) Penulis dapat mempersiapkan dan melatih diri agar memiliki kemampuan akademik dengan keprofessionalan atau keahlian profesi yang juga dapat memotivasi penulis untuk terus mengembangkan daya berfikir yang kreatif dan inovatif dalam mencermati dunia kerja.
c) Penulis dapat memberikan informasi pada masyarakat tentang professionalisme kerja pegawai dalam pemenuhan kualitas pelayan publik yang dapat memberikan kontribusi positif untuk pengembangan dan perbaikan diri kearah yang lebih baik juga khususnya peningkatan kinerja yang lebih baik lagi dikemudian hari.
2. Bagi Instansi
a) Memberikan informasi bagi responden yang terlibat dalam pemberian pelayanan publik, sengga melatih secara mandiri profesionalitas kerja yang mereka miliki sebagai bekal dalam pemenuhan kualitas pelayanan saat mereka berkerja dikemudian hari.
b) Memberikan masukan pada instansi yang bersangkutan khususnya agar dapat lebih meningkatkan kinerja mereka dalam menjalankan pekerjaan dengan memberikan perhatian dan pelatihan yang berkaitan dengan pengembangan profesionalitas kerja untuk mendukung terlaksananya pelayanan yang optimal.
1.4.2. Kegunaan Teoritis
di Jurusan Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pasundan Bandung dan pengembangan Ilmu Administrasi Negara Umumnya, Khususnya mengenai peran profesionalisme Kerja Pegawai terhadap Kualitas Pelayanan Publik.
1.5. Kerangka Berfikir
Berdasarkan latar belakang serta perumusan masalah, peneliti mengunakan kerangka berfikir yang dijadikan landasan teori, pendapat dari para pakar berhubungan dengan variabel yang menjadi kajian dalam melaksanakan penelitian, yakni : Makna Kepemimpinan Afiliatif (variabel bebas). Berikut ini penelitian akan mengemukakan beberapa pengertian Kepemimpinan Afiliatif, yakni :
Kepemimpinan yang afiliatif adalah seorang pemimpin yang memberikan jalan bagi angotanya untuk bertindak. Seorang pemimpin mengedepankankebahagiaan dari angotanya, setiap angotanya memiliki kesempatan yang sama dalam memberikan ide-ide untuk kemajuan organisasi. Pemimpin akan sangat disenangi oleh semua bawahan atau angotanya karena dalam organisasi semua memiliki sifat terbuka. Akan terjadinya keharmonisan antara pemimpin dan bawahannya karena adanya keterbukaan. Sehingga dalam mencapai tujuan organisasinya dapat saling bekerja sama dengan baik, kelebihan paling utama ialah para anggotanya merasa senang karena pemimpin memprioritaskan semua kegiatan dan tujuannya pada angotanya.
Kepemimpinan tipe apapun sangat berpengaruh terhadap organisasi dan optimal tidaknya kinerja pegawai. Tipikal Kepemimpinan afiliatif dimaksud
Kinerja merupakan penampilan kerja atau hasil kerja dari seorang atau sekelompok orang, pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya atau untuk kerja
secara optimal, dapat dikatakan pada bahwa kinerja adalah hasil dari suatu proses pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan yang diharapkan.
Mangkunegara (2010:09) mengemukakan pengertian kinerja sebagai berikut:
“kinerja karyawan (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya
sesuai dengan tangung jawab yang diberikan kepadanya”
1.6 Lokasi dana Lamanya Penelitian
1.6.1 Lokasi penelitian dilaksanakan dengan mengambil lokasi pada Desa
Cipelah, Kecamtan Rancabali, Kabupaten Bandung.
1.6.2 Lamanya penelitian yaitu tahap penjajagan pada tangal 3-4 agustus dan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. 1 Pengertian Kecerdasan Emosional
Istilah Emotional Quotien (EQ) dan Emotional Intelligence (EI)
dalam penggunaannya sering disamakan. Namun secara garis besar ada
berbedaan titik tekan dari penggunaan kata tersebut. Intelligensi adalah
potensi yang dimiliki seseorang untuk beradaptasi dengan lingkungannya.
Adapun Quotient adalah satuan ukuran yang digunakan untuk intelligensi.
Jadi, kalau panjang di ukur dengan meter, berat di ukur dengan gram,
maka kercerdasan di ukur dengan quotient. Karenanya tingkat kecerdasan
selama ini dikenaldengan IQ.4
Berbicara mengenai masalah kecerdasan emosi, tidak lepas dari kata
emosi, istilah yang makna tepatnya masih membingungkan baik para ahli
psikologi maupun ahli filsafat selama lebih dari satu abad. Secara harfiah,
emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap. Akar kata emosi adalah movere, kata kerja bahasa latin yang berarti “menggerakkan”, “bergerak” di tambah awalan “e” untuk memberi arti “bergerak menjauh” menyiaratkan kecenderungnya bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi.
Hal tersebut sebagai akibat dari suatu stimulan yang menyebabkan
munculnya suatu keinginan untuk bertindak Emotion are the effective
states of feeling we experience when ourneeds are satisfied or frustated
and as such, that influence all otheraspects of our behavior.6
Emosi diartikan sebagai perasaan atau perkataan efektif yang kita alami
manakala kebutuhan kita tercukupi atau terhalang dan hal tersebut
mempengaruhi segala aspek tingkah laku kita yang lain. Sebenarnya
gambaran tentang emosi itu mengandung watak dan kondisi lebih jelas.
Oleh karena itu Syamsu Yusuf memandang emosi sebagai suatu peristiwa
psikologis yang mengandung ciri-ciri sebagai berikut:
a. Lebih bersifat subjektif dari pada peristiwa psikologi lainnya,
seperti pengamatan dan berfikir.
b. Bersifat fluktuatif (tidak tetap)
c. Banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca
indra.7
Dengan demikian gejala-gejala seperti senang, sedih, marah, takut, tegang
dan relaxs itu merupakan beberapa proses manifestasi dari keadaan emosi
pada diri seseorang.
Memahami dan secara efektif menerapkan daya kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi dan pengaruh yang manusiawi. Dan menurut Daniel Goleman mengenali konsep kecerdasan emosi dapat dilihat dalam buku “Emotional intelligence” yang menyatakan “emotional intelligence: abilities such as being able to motivate oneself and persist in the face of frustrations, to control impulse and delay gratification, to regulate one’s moods and keep distress from swamping the ability to think, to empathize and to hope”.
Kecerdasan emosi adalah kemampuan-kemampuan seperti kemampuan memotivasi diri sendiri dan bertahan dalam menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak berlebihan, mengatur suasana hati dan menjaga agar tetap berfikir jernih, berempati dan berdoa.
Inilah hakekat kecerdasan emosi yang ditawarkan, oleh Daniel Goleman
menurutnya inti konsep yang menjadi titik tekan dalam pandangannya
adalah merujuk pada kecerdasan diri dan kecerdasan sosial.
Pendapat Goleman ini serupa dengan dua kecerdasan yang
tercantum dalam multiple intelligence yang dikembangkan oleh Howar
Gardner lewat project spectrum, yakni interpersonal intelligence dan
intrapersonal intelligence.
Dalam penelitian ini Gardner mendapatkan bahwa otak manusia
memungkinkan untuk memiliki sampai delapan jenis kecerdasan, yaitu
sebagai berikut:
a. Kecerdasan linguistik, yaitu kemampuan dalam hal membaca, menulis dan
berkomunikasi dengan kata-kata.
b. Kecerdasan logika dan matematika, yaitu kemampuan untuk menalar dan
berhitung.
d. Kecerdasan spasial dan visual
e. Kecerdasan kinestik atau kecerdasan fisik.
f. Kecerdasan interpersonal yaitu kemampuan untuk berhubungan dengan
orang
lain.
g. Kecerdasan intrapersonal atau kecerdasan instrospektif, yaitu kemampuan
untuk memiliki wawasan, mengetahui jati diri. Jenis kecerdasan ini
memungkinkan manusia untuk mengeluarkan informasi-informasi yang
disimpan dalam pikiran bawah sadar.
h. Kecerdasan Naturalis, yaitu kemampuan untuk bekerja sama dan
menyelaraskan diri dengan alam. Perbedaan antara keduanya itu terletak pada
titik tekannya. Pandangan Goleman lebih mengeksplorasi wilayah emosi
manusia, sedangkan Gardner kesemua multiple intelligence hanya berkutat
pada kognitif atau rasio manusia.
2.1.2 Dimensi-Dimensi Kecerdasan Emosional
Untuk mengetahui EQ yang dimiliki seseorang dapat dilihat dari
sikap dan perilakunya.Sekilas dapat terlihat unsur-unsur EQ melalui
penjelasan EQ di atas. Namun hal tersebut di bahas lebih mendalam oleh
para pakar psikologi, diantaranya pendapat Goleman juga Salovey dan
Mayer menjelaskan bahwa EQ mencakup lima dasar, namun Goleman
mengelompokkan menjadi dua bagian dalam buku nya Emotional
a. Kecakapan pribadi
Kecakapan ini menentukan bagaimana mengelola diri sendiri. Adapun kecakapan ini mencakup:
1) Kesadaran diri (self - Awareness); mengetahui apa yang kita rasakan pada suatu saat dan menggunakannya untuk memenuhi pengambilankeputusan diri sendiri, memiliki tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat, dengan ciri-cirinya:
a) Kesadaran diri: mengenali emosi diri sendiri dan efeknya, mereka yang memiliki kompetensi ini:
- Mengetahui emosi mana yang sedang mereka rasakan dan mengapa
terjadi.
- Menyadari keterkaitan antara perasaan mereka dengan yang mereka
pikirkan.
- Mengetahui bagaimana perasaan mereka mempengaruhi kinerja. - Mempunyai kesadaran yang menjadi pedoman untuk nilai-nilai dan
sasaran mereka.
b) Pengukuran diri secara akurat: mengetahui kekuatan dan batasbatas diri sendiri, mereka yang memiliki komptensi ini:
- Sadar tentang kekuatan-kekuatan dan kelemahannya.
- Menyempatkan diri untuk merenung, belajar dari pengalaman - Terbuka terhadap umpan balik yang tulus, perspektif baru, mau terus
belajar dan mengembangkan diri.
- Mampu menunjukkan rasa humor dan bersedia memandang diri sendiri dengan perspektif yang luas.
c) Kepercayaan diri: keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri, mereka yang memiliki kompetensi ini:
- Berani tampil dengan keyakinan diri, berani menyatakan keberadaannya.
- Berani menyatakan pandangan yang tidak populer dan bersedia berkorban demi kebenaran.
- Tegas, mampu membuat keputusan yang baik kendati dalam keadaan
2) Pengaturan diri (self-regulation): Menangani emosi kita sedemikian rupa sehingga berdampak positif kepada pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran mampu segera pulih kembali dari tekanan emosi. Dengan ciri-cirinya:
a. Mengendalian diri: mengelola emosi-emosi dan desakan-desakan hati yang merusak, mereka yang memiliki kompetensi ini:
- Mengelola dengan baik perasaan-perasaan impulsif dan emosiemosi
yang menekan mereka
- Tetap teguh, tetap postif dan tidak goyah bahkan dalam situasi yang
paling berat.
- Berfikir dengan jernih dan tetap terfokus kendali dalam tekanan.
b. Sifat dapat dipercaya: memelihara norma kejujuran dan integritas, mereka
yang memiliki kompetensi ini:
- Bertindak menurut etika dan tidak pernah mempermalukan orang. - Membangun kepercayaan lewat keandalan diri dan otentisitas. - Mengakui kesalahan sendiri dan berani menegur perbuatan tidak etis
orang lain.
- Berpegang pada prinsip secara teguh.
c. Sifat bersungguh-sungguh: bertanggung jawab atas kinerja pribadi, mereka yang memiliki kompetensi ini:
- Memenuhi komitmen dan mematuhi janji
- Bertanggung jawab sendiri untuk memperjuangkan tujuanmereka. - Terorganisasi dan cermat dalam bekerja.
d. Inovasi: mudah menerima dan terbuka terhadap gagasan, pendekatan dan
informasi-informasi baru, mereka yang memilikikompetensi ini:
- Selalu mencari gagasan baru dari berbagai sumber - Menciptakan gagasan-gagasan baru
- Berani mengubah wawasan dan mengambil risiko akibat pemikiran
baru mereka.
memiliki kompetensi ini:
- Terampil menangani beragamnya kebutuhan, bergesernya prioritas
dan pesatnya perubahan.
- Siap mengubah tanggapan dan taktik untuk menyesuaikan diri dengan keadaan.
- Luwes dalam memandang situasi Pengendalian diri ini terkait dengan
kemampuan kita untuk tahan menghadapi cobaan, kemampuan untuk
tetap tenang dan berkonsentrasi, tahan menghadapi kejadian yang gawat dan tetap tegar menghadapi konflik.
3) Motivasi (motivation): menggunakan hasrat kita yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun menuju sasaran, membantu kita mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif, serta untuk bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi, dengan ciri-cirinya.
a. Dorongan untuk berprestasi : dorongan untuk menjadi lebih baik atau memenuhi standar keberhasilan, mereka yang memiliki kompetensi ini:
- Berorientasi kepada hasil, dengan semangat juang tinggi untuk meraih tujuan dan memenuhi standar.
- Menetapkan sasaran yang menantang dan berani mengambil resiko
yang telah diperhitungkan.
- Mencari informasi sebanyak-banyaknya guna mengurangi ketidakpastian dan mencari cara yang lebih baik.
- Terus berjalan untuk meningkatkan kinerja mereka.
b. Komitmen : menyesuaikan diri dengan sasaran kelompok atau perusahaan mereka yang memiliki kompetensi ini:
- Siap berkorban demi pemenuhan sasaran organisasi yang lebih penting.
- Merasakan dorongan semangat dalam misi yang lebih besar. - Menggunakan nilai-nilai kelompok dalam pengambilan keputusan
dan penjabaran pilihan-pilihan.
- Aktif mencari peluang guna memenuhi misi kelompok.
- Siap memanfaatkan peluang
- Mengejar sasaran lebih dari pada yang dipersyaratkan atau diharapkan dari mereka.
- Berani melanggar batas-batas yang tidak prinsip bila perlu agar tugas
dapat dilaksanakan.
- Mengajak orang lain melakukan sesuatu yang tidak lazim dan bernuansa petualangan.
d. Optimisme : kegigihan dalam memperjuangkan sasaran kendati ada halangan dan kegagalan, mereka yang memiliki kompetensi ini:
- Tekun dalam mengejar sasaran kendati banyak halangan dan kegagalan.
- Bekerja dengan harapan untuk sukses bukannya takut gagal. - Memandang kegagalan dan kemunduran sebagai situasi yang dapat
dikendalikan ketimbang sebagai kekurangan pribadi.
2.2 Kecerdasanan Emosional Dalam Kepemimpinan
Menurut Goleman dalam buku nya “Emotional intelligence” bahwa :
Ketrampilan sosial (social skills) menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial, berinteraksi dengan lancar, menggunakan ketrampilan-ketrampilan ini untuk mempengaruhi dan memimpin, bermusyawarah dan menyelesaikan perselisihan, serta untuk bekerja sama dan bekerja dalam tim, dengan ciri-cirinya:
a. Pengaruh: memiliki taktik-taktik untuk melakukan persuasi, mereka yang memiliki kompetensi ini:
- Terampil dalam persuasi
- Menyesuaikan persentasi untuk menarik hati pendengar
- Menggunakan strategi yang kuat seperti memberi pengaruh, tidak langsung untuk membangun consensus dan dukungannya.
b. Komunikasi: mengirimkan pesan yang jelas dan meyakinkan, mereka yang memiliki kompetensi ini:
- Menghadapi masalah-masalah yang sulit tanpa ditunda - Mendengarkan dengan baik, berusaha saling memahami dan bersedia
berbagi informasi secara utuh.
- Menggalakkan komunikasi terbuka dan tetap bersedia menerima kabar buruk sebagaimana kabar baik.
c. Manajemen konflik: negosiasi dan pemecahan silang pendapat, mereka yang memiliki kompetensi ini:
- Menangani orang-orang sulit dan situasi tegang dengan diplomasi dan taktik.
- Mengidentifikasi hal-hal yang berpotensi menjadi konflik,
menyelesaikan perbedaan pendapat secara terbuka dan membantu mendinginkan situasi.
- Menganjurkan dekat dan diskusi secara terbuka. - Mengantar kesolusi menang-menang.
d. Kepemimpinan: membangkitkan inspirasi dan memandu kelompok dan orang lain, mereka yang memiliki kompetensi ini:
- Mengartikulasi dan membangkitkan semangat untuk meraih visi serta
misi bersama.
- Melangkah di depan untuk memimpin bila diperlukan, tidak peduli
sedang dimana.
- Memandu kinerja orang lain namun tetap memberikan tanggung jawab kepada mereka.
- Memimpin lewat teladan.
2.3 Teori The New Leader
Pemimpin yang efektif menurut Goleman buku Primal
Leadership Kepemimpinan berdasarkan kecerdasan emosional mengatakan :
Misalnya dia memiliki gaya pembimbing tapi di situasi lain
dia juga memiliki penentu kecepatan. Kriteria seorang pemimpin yang
ideal, banyak yang akan menekankan sifat-sifat seperti kecerdasan,
ketangguhan, tekad, dan visi. Studi terbaru menunjukkan bahwa personal
qualities juga penting, yang sering disebut kecerdasan
emosional (emotional intelligence).
Pemimpin yang efektif menurut Daniel Goleman (2007) dalam buku Primal Leadership mengatakan bahwa : dibedakan oleh tingkat tinggi kecerdasan emosional, yang mencakup kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial. Seorang pemimpin yang baik, tentunya harus menyadari akan pentingnya memiliki kesadaran yang tinggi tentang apa yang disebut emotional intelligence. Bukan berarti bahwa IQ dantechnical skill tidak penting atau tidak relevan. Keduanya merupakan modal dasar sebagai seorang pemimpin, namun emotional intelligence tidak kalah pentingnya. Bahkan, terdapat hubungan yang erat antara emotional intelligenceyang dimiliki seorang pemimpin dan keefektifan performa kinerja.
Terdapat hubungan positif antara emosional intelligence dan performa
yang efektif, terutama pada pemimpin. Dan akan dipaparkan
bagaimana emotional intelligence sangat berperan dalam kepemimpinan
organisasi. Emotional intelligence memainkan peran penting dalam level
tertinggi sebuah perusahaan, di mana perbedaan pada technical
skills sudah tidak terlalu penting. Semakin tinggi tingkatan seseorang,
semakin perluemotional intelligence capabilities ditonjolkan sebagai
alasan keefektifan pemimpin. Emotional intelligence tidak hanya
menciptakan seorang pemimpin yang luar biasa, tetapi juga berhubungan
dengan performa yang kuat.
Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk
mengarahkan pengikut-pengikutnya untuk bekerja sama dengan
kepercayaan serta tekun mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh
pimpinan mereka. Kepemimpinan dapat juga di artikan sebagai
kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk
melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama.
Menurut Oteng Sutisna ( 1983 ) dalam buku Motivasi, Kepemimpinan,
dan Efektifitas Kelompok ( 2012 : 55 ) mengatakan bahwa :
“Kepemimpinan adalah kemampuan mengambil inisiatif dalam situasi social untuk menciptakan bentuk dan prosedur baru, merancang dan mengatur perbuatan, dan dengan berbuat begitu membangkitkan kerjasama kearah tercapainya tujuan “.
Sedangkan menurut D.E Mc Farland ( 1978 ) mengemukakan bahwa :
“ Kepemimpinan adalah suatu proses dimana pimpinan dilukiskan akan memberi perintah atau pengaruh, bimbingan atau proses mempengaruhi pekerjaan orang lain dalam memilih dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan “.
Menurut J.M Pfifner, “ Kepemimpinan adalah seni mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok
untuk mencapai tujuan yang diinginkan”.
Dapat disimpulkan , bahwa kepemimpinan merupakan tindakan yang
dilakukan oleh seseorang kepada bawahan dan memberi arah dalam
pekerjaan , sehingga menjadi pengaruh dalam setiap kegiatan organisasi.
Banyak tipeitipe kepemimpinan berdasarkan kecerdasan emosional menurut Daniel Goleman (2007), tipe tersebut terbagi menjadi 6 tipe :
visioner (Visionary), pembingbing (Coaching), afiliatif (Afiliative), demokratis (Democratic), Penentu Kecepatan(Pacesetting), dan memerinta (Commanding).
Daniel meyakini empat dari keenam tipe atau gaya kempemimpinan seperti
visioner (visionary), Pembimbing (coaching), Afiliasi(Affiliative) dan Demokr
atis (Democratic) dapat menciptakan resonansi yang dapat memajukkan
kinerja sementara dua gaya lainnya dapat berguna untuk beberapa
situasi tertentu namun perlu diperhatikan penggunaannya. Menurutnya
keberhasilan seorang pemimpin dalam mencapai hasil yang terbaik tidak
hanya menggunakan satu gaya kepemimpinan saja, tetapi kombinasi dari
keenamnya. Berikut keenam gaya kepemimpinan menurut Goleman tersebut.
1.
Pemimpin Visioner (Visionary )
Pemimpin jenis ini diyakini merupakan tipe pemimpin yang
lebih efektif dibanding yang lainnya. tipe pemimpin ini mampu
mengartikulasikan suatu tujuan yang baginya merupakan tujuan yang
sejati dan selaras dengan nilai bersama dengan orang-orang yang
dipimpinnya. Pemimpin jenis ini dapat menjadi terbuka kepada
bawahannya dengan membagikan berbagai informasi serta pengetahuan,
sehingga orang-orang yang berada di semua tingkat perusahaan merasa
dilibatkan danmampu membuat keputusan yang terbaik. Pemimpin
visioner meyadari dan meyakini bahwa penyebaran informasi adalah
langkah awal menuju sukses sehingga mereka secara terbuka akan berbagi
ini disebut sebagai pemimpin yang sangat aktif dan exspressive. Namun
dari kesemuanya itu empatilah yang menurutnya paling penting. Mengerti
masalah dari sudut pandang orang lain merupakan ciri yang utama yang
dimiliki oleh pemimpin visioner karena dengan begitu mereka akan mudah
mengartikulasikan visi yang benar-benar inspiratif.karena dampak
positifnya tersebutlah, maka pemimpin visioner dapat berfungsi dengan
baik di banyak situasi bisnis.
Meskipun gaya "kepemimpinan"ini cukup memiliki daya kuat, namun
tidak selalu cocok digunakan dalam setiap situasi, karena dikhawatirkan
ada beberapa pihak yang memandang sinis gaya"kepemimpinan" ini, dan
pada akhirnya akan berakibat bagi kinerjanya selain itu gaya
kepemimpinan ini tidak cocok diterapkan untuk jenis pekerjaan yang
sifatnya kelompok.
2.
Gaya Pembimbing (Coaching)
Dari tipenya membimbing kita pasti sudah tahu bahwa pemimpin
seperti ini sangat menyukai hal-hal yang berhubungan dengan membimbing
karyawannya. Gaya pemimpin seperti ini senang melakukan percakapan
dan perbincangan mendalam dengan seorang pegawai, yang berisi seputar
kehidupan sehari-hari kehidupan seseorang, termaksud tujuan dan impian
hidupnya serta karirnya. Sungguh suatu hal yang jarang sekali dilakukan
oleh seorang pemimpin seperti biasanya. Walaupun jenis pembimbingan
yang diberikan oleh gaya pemimpin seperti ini hanya berfokus pada
umumnya cukup kuat untuk dapat memprediksi respon positif dan emosi
dari karyawan dan hasil kinerja yang lebih baik.
Karena dengan melakukan perbincangan yang erat dengan karyawannya
tanpa disadari pemimpin jenis ini telah membangun tembok kepercayaan
bagi karyawannya. karena ini dalah bukti kepeduliaan seorang pemimpin
kepada bawahannya, bukan hanya sekedar memandang bawahan sebagai
alat untuk sekedar mencapai tujuannya semata.
Gaya ,"kepemimpinan" ini sangat membantu dalam membangun
komunikasi antara bawahan dan atasan yang berkelanjutan, dan membuat
karyawan menjadi mau terbuka terhadap feedback yang diberikan oleh
pemimpin, karena mereka menggap setiap masukan yang diberikan oleh
atasan adalah penunjang aspirasi bagi mereka sendiri dan bukan untuk
kepentingan atasan.
3.
Pemimpin Afiliatif (Affiliative)
Menutur Daniel Goleman (2007) dalam buku nya Primal Leadership mengatkan bahwa : Pemimpin jenis ini sangat menghargai perasaan-perasaan orang-orang yang bekerja untuk dia, karena dia tidak menekankan pada hasil atau pencapaian tujuan , tetapi lebih pada kebutuhan emosi para karyawannya.Gaya ini sangat cocok sekali bagi perusahaan yang memiliki iklim kelompok. Ciri dari pemimpin ini adalah menyenangi kerjasama, harmonisasi, interaksi yang ramah, membangun relasi yang baik dengan orang yang dipimpinnya. Oleh karena itu jenis pemimpin ini sangat menghargai waktu-waktu senggang, karena dengan begitu dia dapat melakukan pendekatan dengan bawahan untuk membantu mereka melewati masa-masa sibuk nantinya.empati sangat dikedepankan olehnya karena ia ingin peduli pada karyawannya secara keseluruhan bukan hanya berdasarkan tanggung jawab tugas.
Karena gaya pemimpin ini kelihatannya baik sekali terhadap karyawan,
sendiri karena dikhawatirkan akan membuat bawahan berpikir bahwa setiap
kesalahan yang mereka buat akan selalu ditoleransi oleh jenis pemimpin
seperti ini.
4.
Pemimpin Demokratis (Democratic)
Mendengarkan adalah kekuatan kunci dari pemimpin jenis ini. Mereka
selalu bertindak dan berprilaku ingin menjadi pendengar yang baik
terhadap bawahannya, karena mereka memang peduli kepada bawahannya,
dia juga adalah jenis pemimpin yang kolaboratif, artinya dapat bekerja
sebagai anggota kelompok, tetapi juga dapat menjadi pemimpin teratas
dalam kelompok. Dan dia juga mampu meredakan konflik dan membangun
harmonisasi dalam kelompok kembali.
5.
Penentu Kecepatan (Pacesetting)
Pemimpin memegang teguh dan melaksanakan standard kerja yang
tinggi. Ia bersikap obsesif, bahkan segala sesuatu bisa dikerjakan dengan
baik dan lebih cepat, bahkan ia meminta dan menuntut hal yang sama dari
orang lain, ia sangat cepat menunjuk para pekerja yang memiliki kinerja
yang buruk.pemimpin jenis ini tidak memberikan garis petunjuk yang
jelas mengenai kinerja buruk seseorang, karena dia berpikiran bahwa
setiap pengikutnya sudah dapat menerka bagaimana dan apa yang
diinginkannya.
Mereka senang menekan tanpa memberi arah, yang akhirnya dapat
berakibat kinerja yang lebih buruk bahkan bisa membuat karyawanstress di
6.
Gaya Memerintah (Commanding)
Gaya memimpin seperti ini kadang disebut sebagai gaya intimidasi,
pemimpin seperti ini, sangat menuntut bawahannya patuh pada perintahnya
secara langsung, tanpa menjelaskan apa alasannya ingin bawahannya
mendengarkan perintahanya tersebut. Dia selalu ingin memantau dan
mengontrol setiap situasi sebisanya. Walaupun kadang dia memberikan
umpan bali, umpan balik hanya berfokus pada kesalahan buka pada hal-hal
baik yang telah dilakukan, maka dari itu tidak heran bila
jenis,"kepemimpinan"yang seperti ini yang dianggap tidak efektif sama
sekali. Karena sikap jarang memujinya tersebut yang membuat karyawan
menjadi patah semangat, sehinga berpengaruh pada kinerjanya nanti.
Walaupun segala tugas dalam organisasi tidak dikerjakan sendiri oleh
seorang pemimpin, tetapi bimbingan dan hasil interaksi antara bawahan dan
atasan diperkuat dapat membantu tercapainya suatu tujuan organisasi. Tetapi
tetap saja fungsi-fungsi penting banyak ditanggung oleh seorang pemimpin.
2.6 Pengertian Organisasi
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal berbagai jenis
organisasi yang mempengaruhi semua tingkatan kehidupan. Fakta
menunjukkan bahwa kebanyakan di antara kita menjalani sebagian besar
dari kehidupan dalam organisasi. Organisasi merupakan elemen yang amat
diperlukan didalam kehidupan manusia .Organisasi membantu kita
individu. Disamping itu, dapat dikatakan lagi bahwa organisasi-organisasi
membantu masyarakat..
Menurut Sutarto (1983) mengatakan dalam buku Studi tentang
Ilmu Administrasi (2009 :123 ): bahwa organisasi dapat dikelompokkan dalam 3 macam , yaitu:
1. Organisasi sebagai kumpulan orang
2. Organisasi sebagai proses pembagian kerja
3. Organisasi sebagai sistem kerja sama, sistem hubungan atau sistem social
Sedangkan menurut Max Weber , organisasi atau kelompok kerja
sama sebagai suatu tata hubungan sosial yang dihubungkan dan dibatasi
oleh aturan-aturan mempunyai unsur sebagai berikut :
1. Organisasi merupakan tata hubungan social , dimana setiap individu yang melakukan kerja sama melakukan proses interaksi dengan individu lainnya.
2. Organisasi mempunyai batasan-batasan tertentu, dimana individu yang melakukan interaksi dengan individu lainnya tidak didasarkan atas kemauan sendiri, melainkan berdasarkan dan dibatasi oleh peraturan-peraturan yang telah disepakati.
3. Organisasi merupakan suatu kumpulan tata aturan , yang bisa membedakan suatu organisasi dengan kumpulan-kumpulan kemasyarakatan lain.
Selanjutnya dikemukakan pengertian dari organisasi yang
dikemukakan oleh Siagian ( 1997 ) sebagai berikut :
seorang/sekelompok orang yang disebut pimpinan dan seorang/sekelompok orang lain yang disebut bawahan.
Selain itu ciri-ciri organisasi yang dikemukakan oleh Siagian (1997) sebagai berikut:
Ciri-ciri organisasi :
1) Terdapat tujuan yang jelas
2) Terdapat organisasi harus dipahami oleh setiap orang didalam organisasi
3) Tujuan organisasi harus diterima oleh setiap orang dalam organisasi 4) Adanya kesatuan arah ( unity of direction )
5) Adanya kesatuan perintah ( unity of command )
6) Adanya keseimbangan antara wewenang dan tangung jawab seseorang 7) Adanya pembagian tugas ( distribution of work )
8) Struktur organisasi harus disusun sesederhana mungkin 9) Pola dasar organisasi harus relative permanen
10) Adanya jaminan jabatan ( security of tenure )
11) Balas jasa yang diberikan kepada setiap orang harus setimpal dengan jasa yang diberikan
12) Penempatan orang sesuai dengan keahlian ( the right man in the right place ).
Dengan demikian,organisasi disimpulkan merupakan kolektivitas
sekelompok orang yang melakukan interaksi berdasarkan hubungan kerja
berdasarkan pembagian kerja yang tersusun dalam suatu struktur untuk
mencapai tujuan.
2.7 Pengambilan Keputusan
Dalam hubungannya dengan aktivitas kerja sama kelompok atau
organisasi dimana ada pemimpin dan bawahan, maka aktivias pengambilan
keputusan merupakan tugas utama dari pimpinan.
“Keputusan adalah suatu pengakhiran atau pemutusan suatu proses pemikiran tentang suatu masalah atau problema untuk menjawab pertanyaan apa yang harus diperbuat guna mengatasi masalah tersebut, dengan menjatuhkan pilihan ( choice ) pada salah satu alternatif yang tertentu”.
Sedangkan pendapat Siagian ( 1981 ) bahwa :
Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap suatu masalah yang dihadapi yang menyangkut pengetahuan tentang hakikat dari masalah yang dihadapi, pengumpulan fakta dan data yang relevan dengan masalah yang dihadapi, analisis dengan mempergunakan fakta dan data,mencari alternative pemecahan , menganalisis setiap alternative sehingga ditemukan alternative yang palin rasional dan penilaian hasil yang dicapai sebagai akibat daripada keputusan yang diambil.
Dengan demikian,dapat disimpulkan pengambilan keputusan adalah
kegiatan yang dilakukan oleh seorang pimpinan dalam usaha memecahkan dan
mencari solusi dari suatu problema yang dihadapi dengan
merumuskan,menetapkan berbagai alternative. Satu dari beberapa alternatif yang
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Subjek dan Objek Penelitian 3.1.1 Subjek Penelitian
Penelitian kualitatif ini, yang menjadi subjek penelitian adalah peneliti sendiri. Selanjutnya menurut Nasution dalam bukunya Sugiyono yang berjudul Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (2013 : 306):
3.1.2 Objek Penelitian
Peneliti tertarik untuk meneliti Kepemimpinan Kepala Desa Cipelah Kecamatan Rancabali sehinggah objek dari penelitian ini adalah aparatur desa dan warga masyarakat yang berkenaan dengan sikap dan perilaku kepala desa cipelah pada masa jabatannya saat ini.
Sejarah berdirinya Desa Cipelah mempunyai hubungan sangat erat dengan sejarah bangsa Indonesia dalam menantang kaum penjajah untuk menegakkan kemerdekaan bangsa. Oleh karena itu, desa cipelah pada masa revolusi fisik 1945 dan sebelumnya merupakan suatu daerah basis perjuangan dan sebagai kantong-kantong dan daerah gerilya pejuang pada waktu itu. Perlu dijelaskan pula bahwa pemberian nama “Desa Cipelah” berasal dari nama tumbuhan yaitu “Rotan Pelah”, adapun cikal bakal/letak Desa Cipelah sebenarnya terletak di Dusun II “Kp. Muara” disitu pula mengalir sungai yang diberi nama “Cai Pelah” yang artinya adalah air rotan.
Berdirinya Desa Cipelah diperkirakan pada tahun 1926, adapun tokoh pendiri Desa Cipelah adalah Partadiredja (Alm), Sapri (Alm), dan Tatang Partadinata (Alm). Semula desa cipelah termasuk ke dalam wilayah Desa Lebak Muncang, desa cipelah sebelum dimekarkan mempunyai daerah yang cukup luas :
Wilayah sebelah timur mencakup Pondok Datar.
Wilayah sebelah utara mencakup Ciparay.
Wilayah sebelah barat mencakup Cisabuk (Batas Desa Ps. Kuda Kab. Cianjur).
Wilayah sebelah selatan mencakup Desa Ps. Kuda dan Ds. Padasuka Kab Cianjur.
Dengan berdasarkan Keputusan Mendagri mengenai pemekaran desa-desa yang jumlah penduduknya padat, maka Desa Cipelah dimekarkan dan Desa pemekarannya adalah Desa Sukaresmi.
Tanah sawah : 61 ha
Tanah kering : 1.138 ha
Tanah hutan : 748 ha
Berdirinya Desa Cipelah diperkirakan pada Tahun 1926. Jumlah penduduk sebesar 8.265 jiwa dan jumlah kepala keluarga sebanyak 2.855 kepala keluarga (Data Penduduk bulan Juli tahun 2015).
a) Pemerintah Desa Cipelah
Tahun 1926 Desa Cipelah didirikan dan dijadikan Pemerintahan Desa yang dipimpin oleh Partadiredja dan setelah perang Revolusi Fisik Tahun 1945 Desa Cipelah dipimpin oleh Sapri dan sampai dengan saat ini telah 9 (sembilan) kali berganti pimpinan kepala Desa. Di bawah ini adalah daftar nama kepala desa cipelah dari periode ke periode:
1. Partadiredja (1926-1940). 2. Sapri (1940-1948).
3. Tatang Partadinata (1948-1962). 4. Adang Sasmitawidjaya (1962-1980). 5. Aam Sumarna (1980-1988).
6. Udin Kono Sumarno (1988-1997). 7. Opan Sopandi (1997-2007). 8. Opan Sopandi (2007-2013). 9. H. Ade Hidayat (2013-Sekarang).
Pemerintah Desa Cipelah memiliki visi dan misi sebagai berikut :
Visi :
“Bersama Masyarakat Desa Cipelah berjuang menuju kesejahteraan
a. Membina dan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah SWT melalui kegiatan dakwah dan syiar agama.
b. Meningkatkan produktifitas lahan pertanian yang tersedia agar berdayaguna dan berhasilguna yang tinggi.
c. Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pembentukan Kader Pembangunan Desa (KPD) dalam mendorong semangat peranan masyarakat untuk turut serta giat membangun Desa.
d. Membina dan meningkatkan seni dan budaya yang diarahkan kepada penanaman kesadaran masyarakat Desa akan hak dan kewajibannya terhadap Desa.
e. Mendukung dan melaksanakan berbagai program Pemerintah yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pelayanan masyarakat.
b) Struktur Organisasi Pemerintah Desa Cipelah
1) Sekretaris desa mempunyai tugas sebagai berikut :
Sekretaris desa berkedudukan sebagai unsur staff yang membantu kepala desa dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya serta memimpin sekretariat desa.
Sekretaris desa mempunyai tugas menjalankan fungsi administrasi desa, pembangunan dan kemasyarakatan. Untuk menjalankan tugas sekretaris desa mempunyai fungsi :
a. Pelakasanaan surat menyurat, kearsipan dan laporan. b. Pelaksanaan urusan keuangan.
c. Pelaksanaan urusan administrasi pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.
2) Bendahara
Bendahara memiliki tugas sebagai berikut:
a. Melaksanakan kegiatan pencatatan mengenai penghasilan kepala desa dan perangkat desa yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Mengumpulkan dan menganalisa data sumber penghasilan desa yang baru untuk dikembangkan.
desa dan membantu kegiatan pencatatan pajak rumah tangga serta pajak lainnya.
d. Melakukan kegiatan administrasi keuangan desa (Anggaran Penerimaan Pengeluaran Keuangan Desa) baik rutin maupun pembangunan.
e. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh sekretaris desa. 3) Kepala Seksi Umum
Kepala Seksi Umum mempunyai tugas sebagai berikut:
a. Menerima dan mengendalikan surat masuk dan surat keluar, serta melaksanakan tata kearasipan.
b. Melaksanakan pengetikan surat-surat hasil persidangan dan rapat-rapat serta hasil lainnya.
c. Melaksanakan penyediaan, penyimpanan dan pendistribusian alat-alat tulis kantor, serta pemeliharaan dan perbaikan peralatan kantor.
d. Menyusun jadwal serta mengikuti perkembangan pelaksanaan piket.
e. Melaksanakan dan mengusahakan ketertiban dan kebersihan kantor serta bangunan lain milik desa.
f. Melaksanakan kegiatan kemasyarakatan termasuk kegiatan keamanan dan ketertiban serta Perlindungan Masyarakat (LINMAS). g. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala desa.
Tugas-tugas maksimal 3 (tiga) seksi lainnya yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi desa yaitu melaksanakan kegiatan-kegiatan administrasi bidang kesejahteraan rakyat pelaksanaan perkembangan perekonomian di desa dan pelaksanaan pembangunan di desa.
4) Kepala Seksi Keuangan
Kepala Seksi Keuangan mempunyai tugas sebagai berikut :
c. Menyiapkan, merencanakan dan mengelola APBD. d. Menyiapkan bahan laporan keuangan desa.
e. Mengiventarisir sumber pendapatan dan kekayaan desa. f. Melakukan tugas lain yang diberikan oleh sekretaris desa 5) Seksi Pemerintahan
Seksi Pemerintahan mempunyai tugas sebagai berikut:
a. Mengumpulkan, mengolah dan menyiapkan data dibidang pemerintahan desa, ketentraman, ketertiban dan perlindungan masyarakat.
b. Mengumpulkan dan menyiapkan bahan dalam rangka pembinaanwilayah termasuk rukun warga dan rukuntetangga serta masyarakat.
c. Melaksanakan administrasi pelaksanaan pemilihan umum, pemilihan presiden, pemilihan gubernur, pemilihan bupati, pemilihan kepala desa dan kegiatan sosial politik.
d. Melaksanakan administrasi kependudukan, catatan sipil dan monografi.
e. Melaksanakan tugas dibidang pertanahan.
f. Melakukan administrasi peraturan desa, peraturan kepala desa dan keputusan kepala desa.
g. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala desa. 6) Seksi Kesra
Seksi Kesra mempunyai tugas sebagai berikut :
a. Melaksanakan pelayanan kepada masyarakat dibidang kesejahteraan rakyat.
b. Mengumpulkan, mengolah dan menyiapkan data pendidikan,
kesehatan, keagamaan, kepemudaan dan olahraga.
c. Membabtu kegiatan administrasi dan perkembangan pemberdayaan kesejahteraan keluarga.
miskin.
e. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala desa. 7) Seksi Ekbang
Seksi Ekbang mempunyai tugas sebagai berikut :
a. Mengumpulkan, mengolah dan menyiapkan data dibidang ekonomi dan pembangunan.
b. Mengumpulkan dan menyiapkan bahan dalam rangka pembinaan dan pengembangan serta koordinasi kegiatan dibidang ekonomidan pembangunan.
c. Melakukan administrasi dan membantu pelaksanaan pelayanan dibidang tera ulaang, prmohonan izin usaha, izin bangunan dan lain-lain.
d. Menghimpun data potensi didesanya serta menganalisadan melihara untuk dikembangkan.
e. Melakukanadministrasi hasil swadaya masyarakat dalam pembangunan dan hasil pembangunan lainnya.
f. Melakukan administrasi dan mempersiapkan bahan untuk pembuatan daftar usulan rencana dan proyek, daftar usulan kegiatan, daftar isian proyek maupun daftar isian kegiatan.
g. Membantu pelaksanaan kegiatan tknis organisasi dan administrasi lembaga pembrdayaan masyarakat desa maupun lembaga-lembaga dibidang pertanian, perindustrian dan pembangunan lainnya.
h. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala desa. 8) Kepala Dusun
Kadus atau Kepala Dusun mempunyai tugas sebagai berikut :
a. Membantu pelaksanaan tugas kepala desa dalam wilayah kerjanya.
b. Melakukan pembinaan dalam rangka meningkatkan swadaya
c. Melakukan kegiatan penerangan tentang program pemerintah kepada masyarakat.
d. Membantu kepala desa dalam pembinaan dan
mengkoordinasikan kegiatan rw dan rt di wilayah kerjanya. e. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala desa. Sedangkan fungsi Kepala Dusun adalah sebagai berikut:
a. Melakukan koordinasi terhadap jalannya pemerintah desa, pelaksanaan pembangunan dan pembinaan masyarakat diwilayah dusun.
b. Melakukan tugas dibidang pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan yang menjadi tanggung jawabnya.
c. Melakukan usaha dalam rangka meningkatkan partisipasi dan swadaya gotong royong masyarakat dan melakukan pembinaan perekonomian.
d. Melakukan kegiatan dalam rangka pembinaan dan pemeliharaan ketrentaman dan ketertiban masyarakat.
e. Melakukan fungsi-fungsi lain yang dilimpahkan oleh kepala desa.
c) Pembagian Wilayah
Desa Cipelah terbagi dalam empat wilayah Kadusunan, 14 RW dan 48 RT, adapaun pembagian wilayahnya sebagai berikut :
1) Wilayah Dusun I terdiri dari :
5 Rukun Warga: RW 1, RW 2, RW 3, RW 4, dan RW 14.
17 Rukun Tetangga.
2) Wilayah Dusun II terdiri dari :
3 Rukun Warga: RW 5, RW 6, dan RW 7.
10 Rukun Tetangga.
3 Rukun Warga: RW 8, RW 9, dan RW 10.
12 Rukun Tetangga.
4) Wilayah Dusun IV terdiri dari:
3 Rukun Warga: RW 11, RW 12, dan RW 13.
9 Rukun Tetangga.
Jarak Pusat Pemerintahan Desa dengan:
Ibukota Kecamatan: 18 km
Ibukota Kabupaten: 51 km
Ibukota Provinsi: 62 km
d) Prasarana Pemerintahan Desa Cipelah Balai Desa: 1 unit
Kantor Desa: 1 unit
Kantor BPD: 1 unit
Rumah Dinas Kepala Desa: 1 unit
Banyaknya bengkok perangkat desa (tanah kering): - ha
Tanah kas desa untuk kepentingan desa: 2 ha
e) Sarana Pemerintahan Desa Cipelah Telepon: - unit
Komputer: 1 set
Laptop: 1 unit
In Focus: - unit
Printer: 6 unit
Mesin tik: 1 buah
Meja kerja: 9 buah
Kursi kerja: 9 buah
Meja dan kursi tamu: 2 set
Kursi lipat: 4 buah
Kursi plastik: 30 buah
Filing Cabinet: 2 buah
Lemari Data: 2 buah
Mesin hitung: 2 buah
Radio tape (Wareless): 1 buah
Timbangan firbang: - unit
Ruang rapat: 1 lokal
Gedung serbaguna: 1 lokal
3.2 Pendekatan dan Jenis Penelitian
Metode yang digunakan bersifat analisis deskriptif, artinya penelitian yang dilakukan adalah untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang bersifat alamiah atau rekayasa manusia. Fenomena yang dimaksud adalah melukiskan dan menganalisis permasalahan yang ada dalam masyarakat Desa Cipelah. Menurut Sugiyono dalam bukunya Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (2013:15) :
analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.
Metode yang digunakan bersifat analisis deskriptif, artinya penelitian yang dilakukan adalah untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang bersifat alamiah atau rekayasa manusia. Fenomena yang dimaksud adalah melukiskan dan menganalisis permasalahan yang ada dalam masyarakat Desa Cipelah. Menurut Sujarweni dalam bukunya yang berjudul Metodologi Penelitian (2014:11) penelitian deskriptif adalah :
Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai masing-masing variabel, baik satu variabel atau lebih sifatnya independen tanpa membuat hubungan maupun perbandingan dengan variabel yang lain. Variabel tersebut dapat menggambarkan secara sistematik dan akurat mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu.
3.3 Penetapan Informan
Dalam Penelitian ini, maka peneliti menggunakan informan untuk memperoleh dari berbagai informasi yang diperlukan selama proses pembuatan penelitian ini yang meliputi informan kunci (key informan) dan informan biasa. Adapun yang menjadi informan kunci (key informan) dalam penelitian ini adalah Kepala Seksi Pemerintahan Desa Cipelah sedangkan yang menjadi informan biasa adalah beberapa warga masyarakat yang tinggal di Desa Cipelah yang merasakan dan memberi saran mengenai kinerja dari seorang pimpinan yakni kepala desa cipelah. Ini merupakan upaya peneliti untuk mendapatkan informasi mengenai kinerja baik sikap dan tindakan yang dilakukann kepala desa cipelah selama masa jabatannya, terutama peneliti mengkaitkan dengan kepemimpinan Afiliatif.
3.4 Sumber Data
1. Sumber data primer diperoleh dari sumber pertama melalui prosedur dan teknik pengambilan data yang berupa interview, observasi, maupun penggunaan instrumen pengukuran yang khusus dirancang sesuai dengan tujuannya. Sumber data primer atau data tangan pertama dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dapat memberikan informasi yang dibutuhkan peneliti. Perolehan data primer pada penelitian ini dilakukan melalui kegiatan wawancara dengan pihak yang terlibat dalam kepemimpinan Afiliatif yang meliputi pihak pemerintah desa dan masyarakat sebagai objek yang merasakan adanya harapan-harapan dari sikap dan kinerja seorang kepala desa cipelah. 2. Sumber data sekunder atau data tangan kedua adalah data yang diperoleh
melalui pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subyek penelitiannya. Sumber data sekunder atau data tangan kedua adalah data yang diperoleh dari bacaan, literatur, dan dokumentasi dari Pemerintah Desa maupun masyarakat yang relevan dengan penelitian ini.
4. Teknik Pengumpulan Data
Sumber data dalam penelitian kualitatif terdiri dari beragam jenis, yakni melalui manusia, peristiwa dan tempat atau lokasi, benda, serta dokumen atau arsip. Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, dalam hal ini agar mempermudah pencarian data guna mendapatkan jawaban mengenai permasalahan yang sedang penulis teliti. Metode pengumpulann data dalam penelitian kualitatif secara umum dikelompokkan kedalam dua jenis cara, yaitu metode atau teknik pengumpulan data yang bersifat interaktif dan noninteraktif (Goetz & LeCompte dalam Sutopo, 2006).
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Dalam penelitian ini dilakukannya studi kepustakaan untuk menambah pemahaman yang lebih jelas mengenai masalah yang diteliti. Peneliti melakukan pengumpulan data dan penelaahan kepustakaan melalu mencari informasi dan mempelajari referensi-referensi. Referensi yang diproleh dari data-data tertulis dan tercetak yang relevan seperti buku-buku, dokumen-dokumen, karya ilmiah, penelitian terdahulu dan teori-teori yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.
2. Observasi
Peneliti melakukan pengamatan langsung ke kantor pemerintahan desa cipelah dalam istilah sederhana adalah proses peneliti dalam melihat situasi penelitian di Desa Cipelah. Teknik ini sangat relevan untuk digunakan dalam penelitian yang meliputi pengamatan kondisi interaksi pembelajaran mengenai kepemimpinan. Pengamatan ini dapat dilakukan secara bebas dan terstruktur guna memperoleh gambaran realistis perilaku atau kejadian yang tepat mengenai masalah dan hambatan yang dihadapi serta upaya perbaikan yang diperlukan. Akan tetapi peneliti tidak ikut serta dalam pelaksanaan pekerjaan yang diteliti. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan observasi terus terang atau tersamar. Observasi terus terang atau tersamar menurut Sugiyono dalam bukunya yang berjudul Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (2013 : 306) adalah :
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah cacatan peristiwa yang lampau, berupa tulisan, lisan dan gambar. Peneliti menggunakan teknik dokumen berbentuk tulisan dan gambar. Dokumen yang berbentuk tulisan seperti cerita, peraturan, kebijakan. Sedangkan dokumen yang berbentuk gambar seperti foto. Maka dapat disimpulkan bahwa dokumen merupakan sumber data yang digunakan untuk melengkapi penelitian.
4. Trianggulasi
Menurut Sugiyono dalam bukunya yang berjudul Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (2013: 331), Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Trianggulasi merupakan cara pemeriksaan keabsahan data yang paling umum digunakan dan didasari pola pikir fenomenologi yang bersifat multiperspektif. Cara ini dilakukan dengan memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk membanndingkan satu sama lainnya. Adapun peneliti lakukan adalah peneliti mengumpulkan dan menggunakan Trianggulasi Sumber yaitu menggunakan beragam sumber data yang berbeda-beda yang tersedia dari narasumber yang berbeda-beda pula posisinya dengan teknik wawancara, sehingga informasi dari sumber yang satu dapat dibandingkan dengan informasi dari narasumber lainnya dan bisa teruji kemantapan dan kebenarannya. Artinya guna menarik suatu kesimpulan yang mantap dari berbagai sudut pandang yang berbeda.
Data Wawancara Bawahan (anggota)
Masyarakat desa cipelah
5. Wawancara
Teknik yang digunakan peneliti adalah wawancaran mendalam. Pengumpulann data dengan cara tanya jawab sambil tatap muka antara pewancara dengan informan atau narasumber, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara. Dengan mengajukan pertanyaan terbuka secara lisan kepada pihak yang bersangkutan berkaitan permasalahan yang diteliti. Dalam hal ini wawancara dilakukan terhadap kepala desa cipelah, bawahan atau anggota, dan Masyarakat desa cipelah.
Langkah-langkah wawancara dalam penelitian ini meliputi :
a. Menetapkan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan.
b. Menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi pembicaraan.
c. Mengawali atau membuka alur wawancara. d. Melangsungkan alur wawancara.
e. Mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya.
f. Menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan.
g. Mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh.
Alat-alat wawancara yang digunakan peneliti meliputi:
a. Kertas dan alat tulis yang berfungsi untuk mencatat poin-poin penting yang disampaikan oleh narasumber.
3.6 Teknik Analisis Data
Dalam penelitian kualitatif, data yang diperoleh dari berbagai sumber dengan menggunakan teknik trianggulasi dan dilakukan secara terus menerus sampai data tersebut jenuh. Menurut Silalahi (2010 : 339) menyatakan bahwa :
“Analisis data kualitatif dilakukan apabila data empiris yang diperoleh adalah data kualitatif berupa kumpulan berwujud kata-kata dan bukan rangkaian angka serta tidak dapat disusun dalam kategori-kategori/struktur klasifikasi”.
Analisis data kualitatif bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan hubungan tertentu atau menjadi hipotesis yang dirumuskan berdasarkan data. Metode ini bertujuan untuk menarik suatu kesimpulan terhadap hal- hal mengenai data yang telah dikumpulkan melalui berbagai teknik yang akan disimpulkan secara umum berdasarkan fakta atau kenyataan di lapangan dan berdasarkan teori. Namun, analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai di lapangan.
1. Reduksi data adalah bentuk analisis yang mengarahkan berupa kegiatan merangkum, memilih hal-hal pokok, membuang yang tidak perlu dan lebih memfokuskan pada hal-hal yang terpenting sesuai dengan tujuan penelitian. Hal ini bertujuan agar mepermudah dan mendapatkan makna hubungan variabel-variabel sehingga dapat digunakan untuk menjawab masalah yang dirumuskan dalam penelitian, karena tujuan dari penelitian kualitatif adalah temuan.
2. Penyajian data merupakan kegiatan ketika sekumpulan informasi disusun dalam bentuk uraian singkat, teks naratif (bentukk catatan lapangan), matriks, grafik, jaringan dan bagan, sehingga memberikan kemungkinan akan adanya penarikan kesimpulan.
3. Verifikasi (penarikan kesimpulan) adalah hasil analisis yang dapat digunakan untuk mengambil tindakan, penarikan kesimpulan dapat bersifat sementara dan akan berubah jika tidak ditemukan bukti-bukti yang valid dan kuat untuk mendukung pada pengumpulan data. Oleh karena itu harapan peneliti dapat menemukan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada ataupun belum jelas kebenarannya.
Dengan demikian, model analisis interaktif ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Dalam hal ini pengumpulan data model ini peneliti selalu membuat data dan sajian data sampai penyusunan kesimpulan. Artinya data yang didapat di lapangan kemudian peneliti menyusun pemahaman arti segala peristiwa yang disebut reduksi data dan diikuti penyusunan data yang berupa cerita secara sistematis.
Gambar 1. Model Analisis Interaktif Milles dan Hubberman
3.7 Teknik Pengecekan Keabsahan Data
3.7.1 Validitas membuktikan apa yang diamati oleh peneliti sesuai dengan
apa yang sesungguhnya ada dalam dunia kenyataan, ada apakah
penjelasan yang di berikan tentang dunia memang sesuai dengan yang
sebenarnya ada atau terjadi.
3.7.2 Relibilitas berkenaan dengan pertanyaan apakah penelitian itu dapat
yang sama. Jadi relibilitas menunjukan adanya konsistensi, yakni
memeberkian hasil yang konsisten atau kesamaan hasil sehingga dapat
dipercaya.
3.8 Lokasi Lamanya Penelitian 1. Lokasi Penelitian
a. Kantor Desa Cipelah Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung.
b. Desa Cipelah Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung.
2. Lamanya Penelitian
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pemimpin
Pemimpin merupakan orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat,
sikap dan gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain .Seorang
pemimpin boleh berprestasi tinggi untuk dirinya sendiri, tetapi itu tidak memadai
apabila ia tidak berhasil menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik
dalam diri bawahannya. Selain itu pribadi yang harus dimiliki pemimpin baik ,
selain itu pemimpin dengan sifat-sifat didalam kepribadiannya harus bisa
menyesuaikan diri dengan kepribadian anggota kelompok atau organisasinya,
demikian sebaliknya.
4.2 Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi dalam menentukan
tujuan organisasi , sehingga kepemimpinan itu perlu dimiliki oleh pemimpin yang
baik .
Dalam kehidupan organisasi pemimpin sangat dibutuhkan untuk
membangun suatu keberhasilan dalam organisasi dan masyarakat . Begitu pula
dengan kepala desa di Cipelah H Ade Hidayat . Kepemimpinan nya diperlukan
untuk membangun desa menjadi lebih baik . selain itu peran beliau sebagai
Wawancara yang telah dilakukan dengan informasi kunci yaitu kepala
seksi pemerintahan desa Cipelah menyatakan tentang bagaimana beliau
memimpin desa Cieplah yang sebenarnya beliau baru menjabat menjadi kepala
desa selama 3 tahun ,sebelum menjadi kepala desa beliau adalah kaka dari kepala
desa yang lalu . Sebagai kepala desa beliau mempunyai peran penting untuk
merubah desa menjadi lebih baik ,apalagi yang menjadi permasalahan sekarang
berupa kesejateraan masyarakat, yang dimana kesejateraan masyarakat yang
selalu harus di perhatikan oleh kepala desa, selain itu juga aspek keamanan desa
yang di sampaikan oleh bapak Ridwan sekertaris desa bahwa masing kurang nya
keamanan di desa cipelah.
Wawancara dengan kepala desa tersebut dapat dipahami bahwa masih
banyaknya kekurangan fasilitas yang baik di desa Cipelah,selain itu dalam
wawancara pun beliau menjelaskan pentingnya gotong royong sesama masyarakat
di desa Cieplah harus semakin ditingkatkan , baik dalam kegiatan rapat di kantor
desa , maupun kegiatan diluar desa , seperti kegiatan kerja bakti , siskamling,acara
maulid Nabi dan kegiatan lainnya .Masyarakat bisa saling bergotong royong
dalam suatu kegiatan di desa , sehingga masyarakat juga bisa memberi saran dan
memberi keluhan kepada kepala desa untuk permasalahan di desa Cipelah.
Di kantor desa Cipelah ,sebagai kepala desa bapak H Ade Hidayat datang
pada pukul 09.00. Ada kegiatan maupun tidak , beliau datang lebih pagi dari
pegawainya , untuk memberikan contoh yang baik sebagai kepala desa,meskipun
masyarakat apabila membutuhkan keperluan , masyarakat bisa mendatangi
rumahnya .
Dapat disimpulkan peneliti bahwa kepemimpinan yang ada pada desa
Cipelah dapat memberi pengaruh besar dalam kepentingan umum sehingga
pemimpin mempengaruhi pekerjaan lain dan memberi dampak dalam mencapai
tujuan ( D.E Mc Farland : 1978 )
Berlanjut wawancara dengan beliau, pada tanggal 17 Agustus di adakan
acara 17an di desa untuk masyarakat mengenai jasa pahlawan bangsa Indonesia,
sekitar jam 5 sore setelah acara selesai, peneliti mengunjungi rumah nya untuk
bertanya tentang desa dan kepemiminan beliau, pedekatan emosional beliau yang
sangat baik bisa di artikan bahwa beliau mengunakan kecerdasan emosional
dalam kepimimpinan yang beliau jalankan dengan mengunakan gaya
kepemimpinan Afiliatif (Daniel Goleman, 2007)
Selain pada beliau , wawancara dilakukan pada ketua Rw 04 bernama
bapak Ujang . untuk mengetahui lebih dalam mengenai kepemimpinan kepala
desa Cipelah , beliau menjelaskan bahwa kepemimpinan kepala desa Cipelah ini
baru menginjak 3 tahun,tapi sudah ada progam yang berhasil beliau kerjakan ,
diantaranya dalam irigasi , kemudian dalam perbaikan jalan dari desa Sukaresmi
menuju ke desa Cipelah .
Masalah keamanan di desa Cipelah , dimana ketua Rw 04 sudah mengajak
masyarakat sekitar desa untuk di sekitar masyarakat Rw 04 jaga malam di desa
kambling selama malam hari, untuk keamanan desa perlu regulasi peraturan desa
yang jelas agar masyrakat sadar untuk saling melindungi satu sama lain.
Menurut beliau,kurangnya respon dari masyarakat yang masih kurang
akan kesadaran gotong royong, selain itu harus adanya sosialisasi terhadap
masyarakat bagaimana cara memperbaiki akan keluhan keamanan di desa
Cipelah, seperti adanya penjagaan pos-pos di setiap Rt agar tidak adanya
pencuruian motor dan barang dagangan yang berada di pasar desa Cipelah.
Dengan begitu peneliti menyimpulkam melihat kurangnya komunikasi
masyarakat dengan pemimpin , yang dimana dalam kepemimipinan,pemimpin
harus bisa memberi arah kepada individu atau kelompok agar mencapai tujuan
yang diinginkan ( J.M Pfifner )
Wawancara berikutnya dilakukan dengan kepala desa mengenai mata
pencaharian yang dimana mata pencaharian di desa Cipelah adalah sebagai petani
teh dan menjadi tempat perdangan katena ada pasar di desa Cipelah biasanya
pasar tersut ramai di hari minggu dan di hari biasa sampai jam 15.00 wib. Mata
pencaharian disini memang kebanyakan sebagai petani dimana masyarakat
sebagai petani pemetik teh dari perkebunan di desa cipelah dan sisanya bekerja di
pasar .
Kemudian pada hari Kamis, tepatnya tanggal 21 Agustus kami dan
di adakan untuk terjalinya interaksi para penelitia atau mahasiswa yang berada
selama di temapat penelitian atau di desa cipelah.
4.3 Konsep Organisasi
Baik pegawai , maupun masyarakat harus bisa bekerja sama untuk
mencapai tujuan bersama. Untuk mencapai tujuan tersebut , tidak mungkin semua
tujuan hanya dijalankan oleh orang-orang tertentu saja .
Wawancara yang dilakukan pada Kepala Desa Cipelah, bahwa dalam
organisasi pemerintahan sudah dilakukan ,tetapi ada pegawai yang belum paham
akan tugas-tugas mereka sebagai pegawai ,selain itu partisipasi dari masyarakat
yang kurang memberi tanggapan yang baik, sehingga saat ada kegiatan di desa,
tidak pernah mengikuti kegiatan yang mengikut sertakan masyarakat .Hal ini tentu
saja menjadi penghambat dalam kegiatan organisasi dalam mencapai
pembangunan desa .Untuk menjadikan desa menjadi lebih maju , dibutuhkan
perhatian dari masyarakat desa juga ,sebagai pelengkap untuk menicptakan desa
yang lebih baik, karena dengan adanya masyarakat , bisa mengetahui
progam-progam apa saja yang ada di desa .
Peneliti menyimpulkan bahwa konsep organisasi belum berjalan secara
maksimal. Untuk bekerja secara efektif dalam organisasi, dalam organisasi harus
ada hubungan sosial yang baik dimana individu dengan kelompok saling
berinteraksi , bukan didasarkan atas kemauan sendiri , sehingga ada kerja sama
4.4 Konsep Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan dimaksudkan untuk merumuskan kebijaksanaan
umum. Kegiatan pengambilan keputusan berlangsung tidak lain karena
dihadapkan pada suatu problema tentang bagaimana mencapi tujuan yang
diinginkan, sebagaimana masalah bisa terjadi pada waktu merencanakan suatu
kegiatan atau pada saat kegiatan sedang berlangsung . Untuk mengatasi suatu
masalah maka perlu diambil keputusanyang tepat untuk dilaksanakan hingga
tujuan bisa tercapai.
<