• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEMANTIK MARAH DALAM BAHASA INDONESIA (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SEMANTIK MARAH DALAM BAHASA INDONESIA (1)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

SEMANTIK MARAH DALAM BAHASA INDONESIA

DEBBIE PRATIWI 110701017

[email protected]

abstrak

Penelitian ini menganalisis mengenai Verba emosi marah dengan menggunakan kajian bahasa Indonesia. Menyangkut menetukan subkategori verba emosi marah, perangkat yang digunakan yaitu makna asali dari teori Metabahsa Semantik Alami digunakan sebagai alat analitis. Hasil penelilitian ini bahasa Indonesia dicirikan sebagai ‘X merasa sesuatu yang buruk bukan karena X mengiginkannya’.

Kata kunci : Verba emosi marah bahasa Indonesia Metabahasa Semantik Alami.

1. PENDAHULUAN

(2)

digunakan dalam situasi dimana seseorang merasa tidak baik saat terjadi sesuatu padanya. Yang membedakannya adalah aspek waktu.

Berkaitan dengan analisis komponen makna, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti :

1. Pembeda makna

2. Hubungan antarkomponen makna 3. Langkah analisis komponen makna

Dalam artikel yang saya kaji mengenai semantik kata marah dalam bahasa Indonesia, akan menjelaskan sesuai point point diatas berdasarkan acuan teori-teori ahli semantik.

2. KONSEP, LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 KONSEP

Metabahasa Semantik Alami (MSA) diakui sebagai pendekatan kajian semantik yang dianggap mampu memberi hasil analisis makna yang memadai karena dengan teknik eksplikasi dapat menghasilkan analisis makna suatu bahasa yang mendekati postulat ilmu semantik yang menyatakan bahwa satu bentuk untuk satu makna dan satu makna untuk satu bentuk, dengan kata lain satu butir leksikon mampu mewahanai satu makna atau satu makna diungkapkan dengan satu butir leksikon agar tidak terkesan bahwa pemerian makna yang berputar terhadap satu leksikon (Sudipa, 2012: 1).

Teori Metabahasa Semantik Alamai (MSA) dirancang untuk mengeksplikasi semua makna, baik makna leksikal, makna ilokusi maupun makna gramatikal. Dalam teori ini, eksplikasi makna dibingkai dalam sebuah metabahasa yang bersumber dari bahasa alamiah yang pada umumnya bisa dipahami oleh semua penutur asli (Wierzbicka, 1996: 10 dan band. Mulyadi, 1998: 34). Asumsi dasar teori ini bertalian dengan prinsip semiotik yang menyatakan bahwa analisis makna akan menjadi diskret dan tuntas, dalam arti bahwa kompleks apapun dapat dijelaskan tanpa harus berputar-putar dan tanpa residu dalam kombinasi makna diskret yang lain (Goddard, 1996: 24; Wierzbicka, 1996: 10; Sutjiati Beratha, 1997: 10, Mulyadi, 1998: 35).

(3)

Makna asali adalah perangkat makna yang tidak dapat berubah karena diwarisi manusia sejak lahir (Goddard, 1996: 2; Mulyadi, 1998: 35). Makna ini merupakan refleksi dari pikiran manusia yang mendasar. Makna asali mencakup ranah bahasa yang luas secara tipologis maupun secara genetis.

Dalam perkembangannya, Wierzbicka memperkenalkan Sintaksis MSA yang merupakan perluasan dari sistim makna asali, menyatakan bahwa makna memiliki struktur yang sangat kompleks dan tidak hanya dibentuk dari elemen sederhana, seperti: seseorang, ingin, dantahu, tetapi juga dari komponen berstruktur kompleks. Sintaksis MSA terdiri atas kombinasi butir-butir leksikon makna asali universal yang membentuk proposisi sederhana sesuai dengan perangkat morfosintaksis. Misalnya : ingin akan memiliki kaidah universal tertentu dalam konteks: Saya ingin melakukan ini (Wierzbicka, 1996: 19).

2.2 LANDASAN TEORI

Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai semantic emosi kata sedih dalam bahasa Minangkabau. Seperti yang kita ketahui semantic adalah ilmu dalam mengkaji makna, maka disini akan dibahas bagaimana emosi sedih itu terjadi dan apa penyebabnya serta akan dibahas juga akibat dari munculnya emosi atau perasaan marah dalam diri seseorang.

Dalam penelitian ini diterapkan teori Metabahasa Semantik Alami (MSA). Teori yang dipelopori oleh Anna Wierzbicka (1991, 1992, 1996a, b, c) ini dianggap mampu mengungkapkan nuansa semantis di antara anggota-anggota verba emosi statif. Eksplikasi maknanya tampaknya mudah dipahami oleh banyak orang, khususnya penutur jati dari bahasa yang dibicarakan, sebab eksplikasinya dibingkai dalam sebuah metabahasa yang bersumber dari bahasa alamiah. Teori MSA, dengan demikian, sangat cocok untuk aplikasi praktis.

(4)

Prinsip ketiga ialah bahwa makna asali digunakan sebagai metabahasa universal, artinya konsep-konsep ini dileksikalkan pada bahasa alamiah. Konsep leksikalisasi dalam teori ini mempunyai pengertian yang luas sebab konsep-konsep primitif tidak hanya disandi pada kata-kata atau morfem, tetapi disandi juga pada morfem terikat dan frase. Keempat, teori MSA menganjurkan ”prinsip isomorfis” dari makna asali yang berbasis pada leksikon dan sintaksis. Prinsip ini berasumsi bahwa kendatipun ada perbedaan ’resonansi’ antara dua eksponen yang berbeda pada makna asali yang sama dari dua bahasa yang berbeda, kedua eksponen ini bersesuaian secara semantis.

2.3 TINJAUAN PUSTAKA

Dalam teori ini, eksplikasi makna dibingkai dalam sebuah metabahasa yang bersumber dari bahasa alamiah yang pada umumnya bisa dipahami oleh semua penutur asli (Wierzbicka, 1996: 10 dan band. Mulyadi, 1998: 34). Asumsi dasar teori ini bertalian dengan prinsip semiotik yang menyatakan bahwa analisis makna akan menjadi diskret dan tuntas, dalam arti bahwa kompleks apapun dapat dijelaskan tanpa harus berputar-putar dan tanpa residu dalam kombinasi makna diskret yang lain (Goddard, 1996: 24; Wierzbicka, 1996: 10; Sutjiati Beratha, 1997: 10, Mulyadi, 1998: 35). Kosakata emosi adalah label label verba yang digunakan untuk menggambarkan mengekspresikan status emosi yang dialami oleh penutur (Ortony dan clore, dalam morgan dan Heisse ).

Kategori semantis didasarkan pada pengalaman hidup seseorang dengan oranglain dalam lingkungan masyarakatnya. Seperti yangtelah dijelaskan pada bagian arval tulisan ini tiap budaya memiliki kata-kata untuk semua kelompok benda maupun perbuatan yang dianggap signifikan pada budaya tersebut. Demikian juga halnya dengan emosi. Emosi memiliki pengelompokan kategori semantis yang mestinya merupakan kategori universal, meskipun anggota (member) dari setiap kelompok bisa berbeda dari saru budayake budaya lainnya karena adanya kekhasan budaya

(5)

Emosi yang positik dapat dikelompokan menjadi gembira , senang, riang , dan bangga . Emosi yang negative dapat dikelompokan menjadi sedih , marah , takut , malu , kecewa (Wijongkoko,1997)

3. METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini teknik yang digunakan untuk mengkaji semantik emosi ini dilakukan beberapa metode. Pendahuluan dalam kajian ini kita dapat terlebih dahulu mengumpulkan beberapa data atau sumber untuk melakukan kajian makna yang terdapat dari kata marah dalam bahasa Indonesia dengan cara mencari komponen maknanya berdasarkan sumber Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kemudian dapat kita telusuri hasil yang didapat dengan beberapa teori dalam mengkaji struktur emosi semantik yang telah dijabarkan oleh beberapa ahli.

Setelah proses pengumpulan data, selanjutnya melakukan pengelompokan data. Fungsi dari pengelompokkan data adalah memudahkan kita dalam menganalisis atau memparafrasekan data yang sudah ada menjadi lebih praktis.

Langkah berikutnya yang perlu dilakukan adalah analisis data yang telah diperoleh dengan landasan teori yang ada. Dengan berpedomankan teori para ahli, kajian akan lebih terarah pada sasarannya.

Langkah akhir dari metode penelitian adalah menyajikan hasil yang diperoleh kedalam pembahasan. Menyajikan hasil data dengan memuat teori yang ada dari para ahli.

Teori yang digunakan dalam kajian ini adalah teori Metabahasa Semantik Alami (MSA). Teori MSA bermula sebagai metode analisis leksikal yang berbasis pada paraphrase reduktif, maksudnya adalah makna kata-kata kompleks dieksplesikan dengan kata-kata yang lebih sederhana, yang lebih mudah dimengerti. Penggunaan metode paraphrase reduktif bertujuan menghindari analisis makna yang berputar-putar dan kabur.

4. PEMBAHASAN

(6)

dan aktif.Perbedaan keduanya didasarkan pada sejumlah gagasan semantis, seperti kendali, pengetahuan, kesengajaan, tindakan, dan perkataan.Dalam teori MSA, kelima gagasan itu direalisasikan melalui berbagai kombinasi dari elemen PIKIR, TAHU, INGIN, LAKU, dan KATA.Dengan menggunakan kontras bineri, pemetaan elemen semantis itu pada verba emosi diringkas pada tabel berikut.

Sebagai pemahaman akan mengkaji terlebih dahulu apa itu emosi menurut beberapa ahli : 1. Goleman, 2002 : Dorongan untuk bertindak senang-tertawa sedih-menangis.

2. Chaplin, 2005 : Reaksi kompleks yang berkaitan dengan kegiatan dan perubahan secara mendalam yang diikuti perasaan kuat atau keadaan afektif.

3. AbinS. M, 2005 : Suatu suasana yang kompleks (A complex feeling state) dan getaran jiwa (A Strid Up State) yang menyertai atau mucul sebelum dan sesudahnya terjadinya perilaku.

4. Franken, 1993 : Hasil interaksi manusia dalam mengadaptasi lingkungannya dan tampak jelas dalam ekspresi wajah.

Dalam artikel ini akan dibahas mengenai semantik Marah dalam bahasa Indonesia. Kategorisasi dan penjelasan mengenai makna asali wajib dilakukan sebelum meparafrasekan masing-masing kosa kata yang termasuk kedalam kategori sedih.Wierzbicka (1996:9) mengatakan bahwa kunci untuk berbicara tentang makna dengan teliti dan mendalam terletak pada gagasan 'makna asali'. Dalam bahasa Indonesia emosi marah memiliki beberapa relasi makna yang sama sama mengacu pada makna ‘marah’. Kata –kata yang memiliki relasi makna yang mengacu pada emosi marah adalah :

1. Kesal 2. Murka 3. Sebal 4. Jengkel 5. Dongkol

(7)

7. Berang 8. Ambek 9. Kalap 10. Muak 11. Sewot 12. Palak

Dari daftar kata yang berelasi maknanya dengan marah diatas, dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok kata saja, sesuai padanan makna dan faktor pembentukannya. Pengelompokkan kata dilakukan untuk mempermudah memparafrasenya sehingga lebih sedikit cakupannya dan lebih jelas analisisnya.

Kelompok kata A = Murka, berang, kalap

Kelompok kata B = Dongkol, Kesal, Sebal, Jengkel Kelompok kata C = Geram, palak,

Kelompok kata D = Muak, ambek, sewot

Pada dasarnya, emosi marah hanya satu saja. Kata yang lain seperti jengkel, ambek, kalap, kesal murka dll, adalah kata-kata yang menyertainya. Atau dapat disebut pula relasi maknanya. Kata marah memiliki pengertian yang cakupannya cukup luas, mulai dari emosi marah yang disebabkan oleh adanya faktor eksternal seperti X mengalami kejadian yang buruk karena Y, kejadian yang sama sekali tidak ia duga akan terjadi dan tidak ia inginkan terjadi. Sehingga, X merasa tidak senang kepada Y dan merasakan sesuatu yang buruk pada Y. Sampai pada emosi marah yang disebabkan oleh faktor internal seperti mengenang kembali kejadian buruk yang pernah terjadi yang membuatnya tidak senang.

(8)

‘aku tidak dapat berpikir sekarang’

‘aku tidak tau apa yang dapat aku lakukan’ dan ‘aku tidak menginginkan ini terjadi’

1. Marah

X memiliki rasa marah (pada Y)=

Kadang-kadang seseorang berpikir seperti ini (tentang Y): Y telah melakukan sesuatu yang buruk

Y tahu aku tidak ingin Y melakukan sesuatu seperti ini Aku merasakan sesuatu yang buruk karena itu

Aku ingin Y tahu ini, bukan karena aku mengatakan apapun tentang ini Karena ini, orang ini merasakan sesuatu yang buruk

X merasakan seperti ini

Pada parafrase kata emosi marah diatas, terdapat kata ‘telah’ yang menyatakan bentuk lampau dari suatu kejadian. Karena yang terjadi tidak sesuai dengan harapan, maka X merasa tidak senang pada Y. X ingin Y mengetahui bahwa X akan melakukan sesuatu karena ini. Komponen yang mencakup parafrase diatas adalah masalah waktu. Marah tidak hanya dibatasi oleh kejadian pada masa lampau, akan tetapi marah juga dapat terjadi dimasa sekarang maupun yang akan datang. Dimasa depan, emosi marah akan berubah karena beberapa komponen dan sebagai akibat dari emosi yang tidak pernah mereda yaitu menjadi kata dendam.

Dendam dapat kita parafrasekan sebagai berikut : X merasa sesuatu yang buruk terjadi karena Y Maka X ingin Y tahu bahwa ia tidak merasa baik X ingin melakukan sesuatu pada Y, bukan sekarang

X tidak ingin Y tahu bahwa ia akan melakukan sesuatu pada Y dimasa depan

Kata akan dalam kalimat terakhir jelas menggambarkan bentuk waktu masa depan yang ingin dilakukan X sebagai pengalam terhadap Y sebagai pelaku.

Contoh ilustrasi untuk kata marah seperti

- Kakak marah kepada temannya yang telah menyakiti hatinya

- Kakak ingin melalukan sesuatu pada temannya nanti, agar ia merasa puas

2. Murka

(9)

Kadang-kadang X berpikir seperti : Y telah melakukan sesuatu yang buruk

Y tahu X tidak ingin Y melakukan sesuatu seperti ini X merasakan sesuatu yang buruk karena itu

X ingin Y tahu bahwa X tidak suka Y melakukan ini Karena ini, orang ini merasakan sesuatu yang buruk Karena ini, X ingin melakukan sesuatu pada Y X merasakan seperti ini

Pada parafrase diatas, yaitu parafrase mengenai kata atau emosi murka sebagai relasi dari emosi marah. Namun, dalam konteks pembentukannya, kata murka memiliki identitas yang paling tinggi dari relasi-relasi marah yang lainnya. Murka, amuk, berang, kalap adalah satu deretan kata yang memiliki identitas yang tertinggi dari marah. Karena, pada kata murka, perasaan marah yang dirasakan oleh X begitu memacunya untuk melakukan sesuatu yang buruk pada Y. Emosi ini terjadi untuk masa sekarang atau yang sedang terjadi karena luapan emosi yang tidak tertahan oleh X, maka X ingin secepatnya melakukan sesuatu pada Y, agar Y tahu bahwa X tidak suka Y melakukan itu.

Contoh kalimat ilustrasi untuk kata murka adalah : Raja itu murka terhadap para Selirnya

Raja ingin memberikan perhitungan kepada para selirnya, agar para selirnya tahu bahwa Raja tidak ingin selir-selirnya melakukannya lagi.

3. Dongkol

X dongkol kepada Y

Karena itu, kadang-kadang X berpikir seperti:

Y melakukan sesuatu yang buruk X tidak ingin Y melakukan ini

Y tahu X tidak ingin Y melakukan ini

X tidak ingin Y tahu bahwa X merasa sesuatu yang buruk

Dalam konteks diatas kata ‘tidak ingin’ menjadi pembeda dengan kata marah dan murka. Ini disebabkan oleh identitas kata dongkol ada pada level paling rendah dalam relasi kata emosi marah. Dongkol hanya dirasakan dalam hati oleh seseorang, tidak ada akibat tindakan buruk yang dilakukan oleh pengalam kepada pelaku dalam konteks ini. Pengalam juga tidak ingin pelaku tahu bahwa ia merasakan sesuatu yang buruk karenanya. Relasi emosi marah yang memiliki identitas rendah termasuk kata dongkol, kesal, sebal, dan jengkel.

Contoh kalimat ilustrasi untuk kata dongkol sebagai berikut: - Aku dongkol sekali pada teman sebangku ku

(10)

4. Geram

Relasi kata marah selanjutnya adalah kata geram. Ketika X merasa geram terhadap Y, X berpikir sesuatu seperti pada parafrase berikut ini:

Y melakukan sesuatu

X tidak ingin Y melakukan ini

X merasa sesuatu yang buruk terhadap Y Y tidak tahu X merasa sesuatu yang buruk

X tidak ingin melakukan sesuatu pada Y karena ini X menahan diri untuk melakukan sesuatu kepada Y Karena itu X merasakan ini

Berdasarkan parafrase diatas, terlihat perbedaannya ditinjau dari kata ‘menahan diri’. X tidak ingin melakukan suatu yang buruk pada Y karena emosinya atas perbuatan Y. X sedang mengontrol emosinya terhadap Y. Sebenarnya, identitas dan komponen pembangun kata geram tidak jauh beda dengan kata dongkol dan relasinya, yang mebedakannya hanya tingkat luapan emosinya. Kata dongkol lebih tinggi tingkatnya daripada kata geram seperti yang telah dijelaskan dalam parafrase diatas.

Contoh kalimat ilustrasi untuk kata geram seperti berikut:

- Rina geram terhadap saudara kembarnya yang memakai barangnya sesuka hati - Saudara kembarnya tidak tahu bahwa Rina tidak menyukai ia melakukan itu

5. Muak

Relasi kata emosi marah yang terakhir adalah muak. X merasa muak pada Y

Karena itu, X berpikir seperti ini

Y melakukan sesuatu yang buruk pada X Y tahu bahwa X tidak ingin Y melakukan ini Y terus melakukan ini

X merasa jenuh terhadap Y karena ini Karena itulah X merasakan ini

(11)

tidak ingin lagi melihat kelakuan Y yang melakukan hal yang buruk terus menerus. Maka X merasa muak terhadap Y. Emosi ini terjadi pada masa lampau. Kata muak memiliki relasi yang setara komponennya, seperti kata ambek.

Seluruh kelompok kata yang mencakup relasi makna emosi dasar marah telah dianalisis dengan mengujinya melalu parafrase diatas. Untuk itu jelas sudah kita ketahui bahwa kata marah memang memiliki relasi kata yang terkait, namun, dalam setiap kata terdapat perbadaan komponen baik komponen akibat dan komponen waktu. Dalam ilmu semantik, ini perlu dilakukan secara lebih rinci untuk menuai pemahaman mengenai kajian makna pada kata marah . karena dalam melakukan analisis komponen untuk semantik marah, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu pembeda makna, hubungan antarkomponen makna, dan langkah analisis komponen makna.

5. KESEIMPULAN

Verba komponen emosi dasar marah dapat batasi dengan ciri ‘X merasakan sesuatu bukan karena X menginginkannya’. Dalam konteks ini otomatis mencakup tentang ‘sesuatu yang buruk terjadi’ dan diaplikasikan pada beberapa kata yang berkaitan dengan komponen verba emosi itu. Maka, ‘X merasakan sesuatu karena suatu yang buruk terjadi’.

6. SARAN

Kajian yang dilakukan pada artikel ini didasarkan oleh teori MSA (Metabahasa Semantik Alami). Menyangkut juga dalam menetukan subkategori verba emosi marah, perangkat yang digunakan yaitu makna asali dari teori Metabahsa Semantik Alami digunakan sebagai alat analitis.

(12)

Goddard, C. 1998. “Semantic Analysis”. The Sematic of Emotion, 86-110.

Wierzbicka, A. (1995). Emotion and Facial Expression: A Semantic Perspective. Journal Culture & Psychology, 1, 227-258.

Mulyadi, 1998.“Struktur Emosi Statif dalam Bahasa Melayu Asahan” Tesis S2, Linguistik Denpasar.

Widhiarso,W. 2010.”Struktur Semantik Emosi dalam Bahasa Indonesia”.Jurnal & Psikologi. Universitas Gadjah Mada, Yogjakarta.

Mogan, L.J. 1995. The Definition of a Problem: Emotion Theory in the Nineties. Retrived March, 20, 2004.

Morgan, R & Heisse, H. 1998. Sructure of Emotions. Social Psychology Quarterly, 51, 19-31.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini berjudul Analisis Makna Peribahasa dalam Bahasa Melayu Riau Kabupaten Kepulauan Meranti: Kajian Semantik. Desa Selatpanjang di Kecamatan Tebing Tinggi

Mulyadi dan Siregar, 2006.‘Aplikasi Teori Metabahasa Makna Alami dalam Kajian Makna’.Universitas Sumatera Utara dan Politeknik Negeri Medan[diakses 16 Maret 2015].

Mengikuti pandangan semantik kognitif, metaforisasi dilihat sebagai prinsip analogikal dan melibatkan konseptualisasi satu unsur struktur konseptual melalui struktur

Perkuliahan ini memberikan dasar-dasar pengetahuan yang memadai mengenai kajian makna (semantik), yang mencakup hakikat dan sejarah semantik, ilmu antardisiplin

Bidang semantik sangat menarik untuk dilakukan kajian karena bidang ini mampu mengungkap makna tersendiri sebuah kata, khususnya verba seperti verba

Bahasa tulis yang terdapat “Representasi Semboyan Edukasi Ki Hajar Dewantara Kajian Semantik (Pendekatan behavioral) tersebut mengandung makna atau arti, apa yang

Penelitian yang berjudul Verba “Memotong” dalam Bahasa Bali: Kajian Metabahasa Semantik Alami ini mengangkat tiga masalah pokok yang berkenaan dengan aspek semantik, yakni

Asumsi-asumsi yang menjadi dasar hipotesis fitur semantik ini ialah: (a) Fitur- fitur makna yang digunakan oleh kanak-kanak dianggap sama dengan fitur makna yang dipakai