• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR PEMBUATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR PEMBUATAN"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

I. Pre-Lab

Bagian Pre-Lab membahas perbedaan molaritas, molalitas, dan normalitas, serta perbedaan berbagai satuan konsentrasi seperti molar (M), normal (N), %(b/v), %(v/v), %(b/b), ppm, dan ppb. Selain itu, dijelaskan perbedaan teknik pengenceran larutan HCl dan H₂SO₄ dari larutan pekatnya. Analisis menunjukkan pemahaman yang baik terhadap konsep dasar konsentrasi larutan dan prosedur pengenceran yang aman.

1.1 Perbedaan Molaritas, Molalitas, dan Normalitas

Molaritas (M) mendefinisikan jumlah mol zat terlarut per liter larutan. Molalitas (m) menyatakan jumlah mol zat terlarut per kilogram pelarut. Normalitas (N) memperhitungkan jumlah ekivalen zat terlarut per liter larutan, mempertimbangkan ion-ion yang terlibat dalam reaksi. Ketiga satuan ini memberikan cara yang berbeda untuk mengekspresikan konsentrasi, dengan molaritas dan molalitas yang lebih umum digunakan dalam perhitungan kimia dasar. Perbedaan utama terletak pada penyebut yang digunakan, yaitu volume larutan (molaritas), massa pelarut (molalitas), dan ekivalen zat terlarut (normalitas).

1.2 Perbedaan Satuan Konsentrasi

Laporan menjelaskan perbedaan berbagai satuan konsentrasi. Molaritas (M) dan normalitas (N) telah dijelaskan sebelumnya. Persen berat/volume (% b/v) menyatakan gram zat terlarut per 100 mL larutan, persen volume/volume (% v/v) menyatakan mL zat terlarut per 100 mL larutan, dan persen berat/berat (% b/b) menyatakan gram zat terlarut per 100 gram larutan. ppm (part per million) dan ppb (part per billion) masing-masing merepresentasikan jumlah zat terlarut dalam satu juta dan satu miliar bagian larutan. Pemahaman terhadap berbagai satuan ini penting untuk melakukan konversi dan perhitungan konsentrasi yang tepat.

1.3 Perbedaan Pengenceran HCl dan H₂SO₄

Pengenceran larutan HCl dilakukan dengan menambahkan aquades ke dalam larutan HCl pekat. Sebaliknya, pengenceran H₂SO₄ dilakukan dengan menambahkan larutan H₂SO₄ pekat ke dalam aquades. Perbedaan ini disebabkan oleh reaksi eksotermis yang kuat dari H₂SO₄ dengan air, yang dapat menyebabkan percikan dan bahaya jika air ditambahkan ke asam pekat. Prosedur ini menekankan pentingnya keselamatan dalam penanganan larutan pekat.

II. Tinjauan Pustaka

Bagian ini memberikan definisi larutan, sifat-sifatnya, pengertian konsentrasi, dan perhitungan berbagai konsentrasi larutan (molaritas, molalitas, normalitas, fraksi mol, ppm, ppb). Juga dibahas aplikasi larutan dalam teknologi pertanian. Analisis menunjukkan literatur yang digunakan cukup relevan dan mendukung percobaan yang dilakukan.

2.1 Pengertian dan Sifat Larutan

Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen dua zat atau lebih yang saling melarutkan. Sifat-sifat larutan meliputi komposisi dan ukuran partikel yang seragam, tidak adanya bidang batas antara zat terlarut dan pelarut, serta ukuran partikel yang sama (ion, atom, atau molekul). Dalam larutan cair, pelarut adalah komponen dengan volume terbesar. Pemahaman terhadap sifat-sifat ini penting untuk memahami perilaku larutan.

2.2 Pengertian Konsentrasi dan Perhitungan

Konsentrasi menyatakan hubungan kuantitatif antara zat terlarut dan pelarut. Laporan menjelaskan perhitungan molaritas, molalitas, normalitas, fraksi mol, ppm, dan ppb. Rumus-rumus yang diberikan akurat dan lengkap. Pemahaman perhitungan ini esensial untuk menentukan dan mengontrol konsentrasi larutan dalam berbagai aplikasi.

2.3 Aplikasi Larutan dalam Teknologi Pertanian

Bagian ini secara singkat menyinggung aplikasi larutan dalam teknologi pertanian, termasuk pembuatan pestisida, pencegahan kerusakan hasil panen, dan pembuatan pupuk. Meskipun penjelasannya singkat, hal ini menunjukkan relevansi konsep-konsep yang dipelajari dalam konteks aplikasi praktis.

III. Diagram Alir

Diagram alir memberikan gambaran visual langkah-langkah pembuatan berbagai larutan (NaCl 0,1 M, NaCl 100 ppm, etanol 96% (v/v), gula 5% (b/v), dan HCl 0,1 M dari larutan HCl 32%). Analisis menunjukkan diagram alir yang disajikan jelas dan mudah dipahami, memudahkan pembaca untuk mengikuti prosedur percobaan.

IV. Data Hasil Praktikum

Tabel data hasil praktikum menunjukkan data kuantitatif dari pembuatan berbagai larutan. Analisis data menunjukkan adanya sedikit perbedaan antara nilai teoritis dan nilai praktikum. Perbedaan ini akan dibahas lebih lanjut di bagian pembahasan.

V. Pembahasan

Bagian pembahasan membahas hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan larutan dari padatan dan cairan, langkah-langkah pembuatan larutan NaCl 10 M dan 100 ppm serta pengencerannya menjadi 1 M, pembuatan larutan HCl 0,1 M dari larutan HCl pekat 37%, pembuatan larutan NaCl 100 ppm dan larutan gula 10% (b/v). Analisis menunjukkan diskusi yang mendalam tentang potensi kesalahan dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil percobaan.

5.1 Hal yang Harus Diperhatikan dalam Pembuatan Larutan

Pembahasan menekankan pentingnya keselamatan kerja, ketelitian dalam penimbangan dan pengukuran, serta perhitungan konsentrasi yang akurat. Kesalahan dalam prosedur dapat mengakibatkan hasil yang tidak akurat atau bahkan kecelakaan. Penjelasan tentang pentingnya keselamatan dan ketelitian sangat penting.

5.2 Pembuatan dan Pengenceran Larutan NaCl

Langkah-langkah pembuatan dan pengenceran larutan NaCl dijelaskan secara detail, termasuk perhitungan massa dan volume yang dibutuhkan. Pembahasan juga menyinggung potensi kesalahan dalam proses pembuatan dan pengenceran, seperti kesalahan dalam penimbangan dan pengukuran volume. Penjelasan yang komprehensif membantu pembaca memahami detail teknis percobaan.

5.3 Pembuatan Larutan HCl 0,1 M dari Larutan Pekat

Pembahasan menjelaskan langkah-langkah pembuatan larutan HCl 0,1 M dari larutan HCl pekat 37%, termasuk perhitungan molaritas dan volume yang diperlukan. Aspek keselamatan dalam menangani asam pekat juga dibahas. Penjelasan langkah demi langkah menunjukkan pemahaman yang baik tentang proses pengenceran asam.

5.4 Pembuatan Larutan NaCl 100 ppm dan Larutan Gula 10% (b/v)

Laporan menjelaskan secara detail tentang pembuatan larutan NaCl 100 ppm dan larutan gula 10% (b/v). Penjelasan mencakup perhitungan massa dan volume, serta langkah-langkah yang terlibat. Detail langkah-langkah kerja yang dijelaskan memastikan reproduksibilitas percobaan.

VI. Analisa Prosedur

Bagian ini menganalisis prosedur pembuatan setiap larutan, termasuk alat dan bahan yang digunakan serta langkah-langkah yang dilakukan. Analisis menunjukkan pemahaman yang baik tentang metode dan teknik yang digunakan dalam percobaan.

VII. Analisa Hasil

Bagian ini menganalisis data hasil praktikum dan membandingkannya dengan nilai teoritis. Penyebab perbedaan hasil antara nilai teoritis dan nilai praktikum dibahas secara rinci, termasuk kesalahan sistematik dan acak. Analisis kesalahan menunjukkan kemampuan mahasiswa untuk mengidentifikasi dan menjelaskan sumber-sumber kesalahan dalam percobaan.

VIII. Kesimpulan

Kesimpulan merangkum tujuan dan hasil praktikum. Kesimpulan menyatakan bahwa tujuan praktikum tercapai, meskipun terdapat sedikit perbedaan antara hasil percobaan dan nilai teoritis. Perbedaan tersebut dijelaskan dan dikaitkan dengan sumber kesalahan yang telah diidentifikasi. Kesimpulan yang ringkas dan jelas.

IX. Daftar Pustaka

Daftar pustaka mencantumkan sumber-sumber literatur yang digunakan dalam laporan. Daftar pustaka yang lengkap dan terformat dengan baik.

Referensi Dokumen

  • Pembuatan 100 ml larutan HCl 0,1 M dari larutan HCl pekat 37% ( Rohman, 2007 )
  • Pembuatan 100 ml larutan NaCl 100 ppm ( Gandjar, 2009 )
  • Pembuatan 100 ml larutan etanol 20% (v/v) ( Mulyani, 2010 )
  • Pembuatan 100 ml larutan gula 5% (b/v) ( Sulami, 2006 )
  • Pembuatan 100 ml larutan HCl 0,1 M dari larutan HCl 32% ( Suminar, 2011 )
  • Kesalahan dalam pengukuran analitik ( Keenan, 2010 )
  • Faktor kesalahan dalam pengukuran ( Petrucci, 2008 )
  • Pembuatan 100 ml larutan NaCl 0,1 M ( Baroroh, 2009 )

Referensi

Dokumen terkait

6. Lima buah erlenmeyer 100 ml dan gelas arloji 7. Pipet tetes, pipet volum dan gelas ukur 9. Sediakan 4 buah tabung reaksi dan isi masing-masing tabung tersebut dengan

a) Pipet sejumlah larutan standar stock ke dalam labu ukur. b) Tambahkan larutan asam pengencer hinga tanda batas labu ukur. c) Kocok perlahan larutan standar hingga homogen. d)

2.5 Pengertian spatula, fungsi dan gambar (sitasi) 2.6 Pengertian pipet ukur, fungsi dan gambar (sitasi) 2.7 Pengertian pipet volume, fungsi dan gambar (sitasi) 2.8 Pengertian

Labu ukur atau volumetric flask adalah jenis labu yang digunakan untuk penyiapan larutan untuk kimia analitik dengan volume yang telah diketahui.. Umumnya labu ukur

Sedangkan pada percobaan pengenceran H 2 SO 4 pekat digunakan tabung reaksi yang tahan terhadap panas sebagai wadah H 2 SO 4 pekat dan aquades bereaksi dengan digunakan gelas

Alat yang digunakan untuk uji pengendapan protein dengan logam dan asam organik adalah tabung reaksi dan pipet ukur/pipet tetes.. Bahan yang digunakan untuk uji pengendapan

a.Pada tabung 2 tambahkan larutan HCl 0,1 M tetes demi tetes sampai terjadi perubahan warna dibandingkan dengan tabung pertama2. Catat jumlah tetes dan tentukan pH

Selanjutnya ditambahkan dengan aquades hingga tanda batas 3.6.3 Pembuatan Larutan Amonia 100ml 10% dalam etanol 70% Pipet 40 ml amonia pekat 25% menggunakan pipet ukur kemudian