Nur Rohmah
JPMP Volume 2 Nomor 1, Januari 2018, (Hal. 54- 60)
Jurnal Pendidikan MIPA Pancasakti
http://e-journal.ups.ac.id/index.php/jpmpemail: [email protected]
Penerapan Metode Pembelajaran Inkuiri untuk Meningkatkan Aktifitas dan Hasil
Belajar IPA Materi Sistem Transportasi
Nur Rohmah
SMP Negeri 1 Larangan, Brebes, Indonesia
Kata Kunci:
Pembelajaran Inkuiri, Aktifitas Belajar, Hasil Belajar IPA, Sistem Transportasi
Abstrak
_________________________________________________________________ Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan aktifitas hasil belajar menggunakan metode pembelajaran inkuiri pada materi sistem transportasi di kelas VIIIC SMP Negeri 1 Larangan, Kabupaten Brebes Semester 2 Tahun Pelajaran 2016/2017. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan kegiatan meliputi perencanaan, pelaksanaan observasi dan refleksi. Data pencapaian hasil belajar pada siklus I meningkat sebesar 50% dari prasiklus dan pada siklus II meningkat sebesar 7% dari siklus I. Ketuntasan klasikal pada siklus I sebesar 64% belum memenuhi indikator pencapaian KKM minimal ≥ 75. Pencapaian KKM ditingkatkan melalui perbaikan ahsil belajar dan aktifitas belajar yang dilakukan pada siklus II, dengan pencapaian sebesar 82,22% dan telah memenuhi indikator KKM. Aktivitas belajar pada siklus II terjadi peningkatan sebesar 31% dari 22% pada siklus I menjadi 53% pada siklus II. Hasil tanggapan siswa secara klasikal menunjukkan tanggapan yang positif terhadap pembelajaran inkuiri. Sebanyak 75% peserta didik merasa senang dan 25% merasa sangat senang dengan pembelajaran inkuiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar kelas VIIIC SMP Negeri 1 Larangan, Kabupaten Brebes.
PENDAHULUAN
Di dalam pembelajaran IPA, peserta didik didorong untuk menemukan sendiri dan
mentransformasikan informasi kompleks,
mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama di dalam pikirannya, dan merevisinya apabila aturan-aturan tersebut tidak sesuai lagi.Konsep dasar tentang pembelajaran adalah pengetahuan yang tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke peserta didik.Peserta didik harus didorong untuk mengonstruksi pengetahuan di dalam pikirannya.Agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, maka peserta
didik perlu didorong untuk bekerja
memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, dan bersusah payah dengan ide-idenya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan peserta didik untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar peserta didik menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi kepada peserta didik anak tangga yang membawa mereka ke pemahaman yang lebih tinggi. Dengan catatan bahwa peserta didik sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut.Bagi peserta didik, pembelajaran harus bergeser dari “diberi tahu” menjadi “aktif mencari tahu.”Peserta didik harus didorong sebagai “penemu dan pemilik” ilmu, bukan sekedar pengguna atau penghafal pengetahuan. Salah satu model pembelajaran yang mampu mengaktikan “rasa ingin tahu” peserta
didik adalah pembelajaran inkuiri.
Pembelajaran inkuiri adalah pembelajran yang melibatkan peran aktif siswa dengan cara menemukan sendiri materi pelajaran sesuai
dengan arahan guru. Dalam proses
pembelajaranya siswa melakukan serangkaian kegiatan ilmiah seperti yang dilakukan oleh para ilmuwan. Ciri pembelajaran inkuiri adalah mengajukan pertanyaan (rumusan masalah), mengajukan hipotetsis, mencari
data, menyimpulkan. Menurut National
Research Council (2000) pembelajaran berbasis inkuiri mengacu pada cara ilmuwan
bekerja ketika mempelajari alam, yaitu mencari penjelasan melalui bukti yang dikumpulkan dari dunia di sekitar mereka. Pembelajaran inkuiri juga dapat meningkatkan pemahaman konsep serta kreativitas peserta didik (Kurniawan: 2013).
Berdasarkan pengamatan selama satu semester dapat dikatakan bahwa aktifitas belajar belum menunjukkan sikap yang positif terutama pada sikap verbal, lisan, mendengar, dan emosional. Dari hasil belajar ulangan akhir semester satu tahun pelajaran 2016/2017 dapat dikatakan belum mencapai ketuntasan . Adapun hasil belajar IPA ulangan akhir semester satu di kelas VIIIC dapat diklasifikasikan berikut yaitu sangat baik 0%, 25% anak nilainya baik, 25% anak nilainya cukup, dan 50 % anak nilainya kurang. Atas dasar pertimbangan di atas, maka diperlukan adanya upaya guru secara terus-menerus dan sistematis untuk meningkatkan aktifitas belajar mata pelajaran IPA di SMP Negeri 1 Larangan terutama kelas VIIIC. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memilih dan menerapkannya model pembelajaran inkuiri sehingga dapat memberikan kesempatan secara luas kepada siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran sehingga hasil belajar menjadi lebih baik.
METODE
Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas pada gambar 1 (Kemmis & Mc. Taggart; 1988). Pengunaan pembelajaran inkuiri digunakan sebagai obyek penelitian untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Proses perbaikan pembelajaran dilakukan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahapan yang terdiri dari tahapan persiapan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pembelajaran inkuiri diterapkan pada kedua siklus. Siklus I dilakukan untuk memperbaiki aktifitas dan hasil belajar yang belum memenuhi tujuan yang diharapkan pada prasiklus. Sedangkan siklus II bertujuan memperbaiki hasil belajar dan aktivitas yang belum tercapai di siklus I.
Nur Rohmah Subyek penelitian adalah siswa kelas VIIIC
dengan jumlah siswa 36 orang terdiri atas 16 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Lokasi penelitian berada di SMP Negeri 1 Larangan. Data penelitian yang digunakan adalah hasil belajar siswa, aktivitas belajar siswa serta catatan lapangan. Metode dan teknik pengambilan data yang digunakan meliputi tes tertulis, angket tanggapan siswa, lembar observasi aktifitas belajar, dan dokumentasi kegiatan belajar. Tes tertulis digunakan untuk mendata hasil belajar siswa. Angket tanggapan siswa dan lembar observasi guru digunakan untuk menilai aktivitas belajar siswa, serta catatan lapangan digunakan
sebagai data dokumetasi kegiatan belajar siswa.
Validasi instumen dilakukan sebelum digunakan untuk pengambilan data meliputi validasi instumen tes dan non-tes.
Analisa data dilakukan untuk mengukur ketercapaian hasil ketercapaian hasil belajar dan aktivitas belajar peserta didik. Indikator ketercapaian hasil belajar jika
aspek
pengetahuan peserta didik mencapai nilai ≥
75. Indikator ketercapaian aktifitas belajar
peserta didik jika ketuntasan klasikal
mencapai tuntas ≥ 75.
Gambar 1. Alur Siklus PTK (Kemmis & Taggart; 1988)
HASIL
Data hasil belajar peserta didik tersaji dalam Tabel 1.
Tabel 1. Data hasil belajar
Hasil Belajar Prasiklus Siklus I Siklus II
Nilai terendah 30 30 30 Nilai tertinggi 84 100 100 Nilai rerata 56,86 73,19 82,22 Prosentase Ketuntasan 14% 64% 81% Tuntas 2 22 29 Tidak Tuntas 34 14 7
Perolehan hasil belajar secara diagramatik dari data yang tersaji pada tabel 1 dapat dilihat pada Gambar 2
Gambar 2. Perbandingan hasil belajar prasiklus, Siklus I dan Siklus II.
Aktifitas Belajar
Data aktifitas belajar peserta didik ditunjukkan pada tabel 2.
Tabel 2. Data aktifitas belajar
Kategori Observasi Siklus 1 Siklus 2 Sangat baik 6% 14% 19%
Baik 22% 22% 53%
Kurang 73% 64% 28%
Data aktifitas belajar pada tabel 2 disajikan dalam Gambar 3.
Gambar 3. Aktivitas Belajar Siswa antarsiklus
Tanggapan siswa terhadap pembelajaran inkuiri
Indikator dari tanggapan siswa pada pembelajaran inkuiri meliputi komponen:
1. Animasi pembekuan darah.
2. Gaya guru.
3. Animasi penyerapan air.
4. Percobaan osmosis.
5. Carta sel darah.
6. Animasi peredaran darah.
7. Pembelajaran kelompok
8. Konsep pelajaran IPA.
9. Materi system transportasi
0 25 25 50 22 39 33 5 53 25 8 14 0 10 20 30 40 50 60 Sangat BaikBaik Cukup Kurang
Perolehan hasil belajar prasiklus, siklus I dan siklus II
Hasil Belajar Observasi Awal
Hasil Belajar Siklus 1 Hasil Belajar Siklus 2
6 22 73 14 22 64 19 53 28 0 20 40 60 80
Sangat Baik Baik Kurang
Perbandingan aktifitas belajar pada prasiklus, siklus I dan siklus II
Aktifitas Belajar Observasi Awal Aktifitas Belajar Siklus 1 Aktifitas Belajar Siklus 2
Nur Rohmah
Gambar 4. Tanggapan Siswa terhadap pembelajaran inkuiri
Tanggapan siswa terhadap pembelajaran inkuiri ditunjukkan dengan pencapaian minat belajar peserta didik. Minat pada pembelajaran inkuri berdasarkan gambar 4 ditunjukkan dengan 75% peserta didik merasa senang, dan 25 % peserta didik merasa sangat senang. PEMBAHASAN
Data awal sebelum diterapkan pembelajaran inkuiri menunjukkan perolehan hasil belajar yang masih berada dibawah nilai KKM. Nilai rerata hasil belajar prasiklus sebesar 58,86 menunjukkan jika hasil belajar peserta didik berada dibawah indicator pencapaian KKM minimal ≥ 75. Sedangkan data aktifitas belajar menunjukkan kategori kurang dengan pencapaian 73%. Atas dasar data observasi awal tersebut, maka diterapkan pembelajaran inkuiri dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar peserta didik.
Pembelajaran inkuiri adalah pembelajran yang melibatkan peran aktif siswa dengan cara menemukan sendiri materi pelajaran sesuai dengan arahan guru. Tujuan pembelajaran
inkuiri menurut Agustanti, T.H (2012) diantaranya membekali peserta didik dengan (1) kemampuan pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari menggunakan penguasaan konsep sains, (2) kemampuan sikap pengambilan keputusan berdasarkan konsep yang dikuasai, dan (3) kemampuan bertindak dan berpikir secara ilmiah dalam memecahkan permasalahan yang ditemui.
Data pencapaian hasil belajar pada siklus I meningkat sebesar 50% dari prasiklus dan pada siklus II meningkat sebesar 7% dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Hal serupa dinyatakan oleh Agustanti (2012) bahwa penerapan pembelajaran inkuiri mampu melatih siswa untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapi pada saat pembelajaran. Pembelajaran inkuiri juga mampu mengembangkan cara berpikir siswa secara kontektual (Kusuma, 2016), hal tersebut sesuai dengan tujuan dari pembelajaran inkuiri.
Tabel 3. Ketuntasan Hasil Belajar
Hasil Belajar Pra siklus Siklus I Siklus II
∑ % ∑ % ∑ % Tuntas 2 5,55 22 61,11 29 80,56 Tidak Tuntas 34 94,45 14 38,89 7 19,44 0 10 20 30 40 50 60 70 80 P elaj ar an IP A M ate ri T ra ns por ta si A nim as i P enyer ap an A ir P er co baan Osm os is Car ta Se l d ar ah A nim as i P em bekuan … A nim as i P er ed ar an … B er kelo m po k Gaya Guru
Tanggapan siswa terhadap pembelajaran inkuiri
Sangat Senang (%) Senang (%) Tidak senang (%)
Keberhasilan penerapan pembelajaran inkuiri juga terlihat pada pencapaian indikator ketuntasan belajar secara klasikal. Terdapat peningkatan ketuntasan belajar sebesar 55,56% dari siklus I jika dibandingkan pada tahap hasil belajar prasiklus. Namun peningkatan ketuntasan belajar klasikal masih memiliki kelemahan pencapaian KKM sebesar 73,19 dan belum memenuhi ketercapaian ketuntasan minimal ≥ 75, sehingga perlu dilakukan perbaikan dengan menerapkan siklus II. Pada siklus II terjadi peningkatan ketuntasan belajar sebesar 19,45% dari siklus I sekaligus tercapai KKM minimal ≥ 75 yaitu sebesar 82,22. Pemenuhan ketuntasan klasikal dan KKM hasil belajar menjadi salah satu indicator yang menguatkan keberhasilan penelitian PTK (Hudi, 2017). Penerapan pembelajaran inkuri memberikan pengaruh peningkatan secara spesifik terhadap hasil belajar peserta didik (Dewi, Dantes & Sadia; 2013).
Peningkatan hasil belajar peserta didik dipengaruhi oleh ragam dan variasi dalam pembelajaran inkuiri. Ragam dan variasi tersebut diantaranya pembelajaran menggunakan carta, animasi dan melakukan percobaan ilmiah. Adanya ragam dan variasi belajar juga mampu meningkatkan aktifitas belajar peserta didik.
Aktivitas belajar adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun mental (Sardiman; 2007). Selama kegiatan belajar kedua aktivitas itu harus selalu terkait. Secara fisik aktifitas belajar yang diamati dalam penelitian ini adalah visual, lisan, mendengarkan. Secara mental yang dapat diamati adalah emosional rasa senang dan tidak senang terhadap pembelajaran inkuiri. Berdasarkan tabel 2, aktifitas belajar peserta didik pada kategori sangat baik mengalami peningkatan sebesar 8% dari pra siklus 6% menjadi 14 % pada siklus I, sedangkan pada siklus II mengalami kenaikan 5% dari siklus I. Pada kategori baik, terjadi kestabilan aktivitas belajar antara prasiklus dan siklus I sedangkan pada siklus II terjadi peningkatan sebesar 31% dari 22% pada siklus I menjadi 53% pada siklus II.
Peningkatan aktifitas belajar peserta didik dalam penerapan pembelajaran inkuri dipengaruhi oleh penggunaan media yang beragam serta metode pembelajaran yang tidak monoton. Menurut Isa (2016) bahwa pembelajaran inkuiri berbantuan multimedia efektif untuk meningkatkan minat serta pemahaman peserta didik. Carta, animasi, percobaan ilmiah serta kegiatan belajar berkelompok merupakan ragam media dan variasi metode yang digunakan selama pengambilan data penelitian. Hal tersebut dilakukan dalam rangka meningkatkan minat belajar serta aktivitas belajar peserta didik. Selain mampu meningkatkan aktifitas belajar, pembelajaran inkuiri dapat mengembangkan ketrampilan pemecahan masalah yang dimiliki oleh siswa (Kurniawan, 2013).
Tanggapan pembelajaran inkuiri diberikan oleh siswa melalui pengisian angket respon belajar. Komponen penilaian angket terdiri dari 9 butir komponen yang yang dijabarkan dari indikator konsep pelajaran IPA, gaya belajar guru, penggunaan media belajar, serta metode belajar yang digunakan. Hasil tanggapan siswa secara klasikal menunjukkan tanggapan yang positif terhadap pembelajaran inkuiri. Sebanyak 75% peserta didik merasa senang dengan pembelajaran inkuiri dan 25% merasa sangat senang dengan pembelajaran inkuiri. Tanggapan positif peserta didik disebabkan karena adanya keterlibatan secara aktif dalam pembelajaran sekaligus merasakan kesenangan sehingga meningkatkan motivasi dalam belajar. Hal serupa disampiakan oleh Isa (2016) bahwa peserta didik yang tertarik dan memiliki minat yang tinggi dalam pembelajaran akan memberikan tanggapan positif.
SIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terjadi peningkatan hasil belajar dan aktifitas belajar secara signifikan dengan penerapan metode pembelajaran inkuiri. Saran yang dapat diberikan untuk pengembangan penelitian selanjutnya antara lain:
Nur Rohmah a. Guru perlu melakukan perencanaan
pembelajaran inkuiri secara lebih detail, sehingga mampu mengatasi kendala belajar yang dialami oleh siswa
b. Pemberian motivasi menjadi salah satu faktor keberhasilan pada pembelajaran inkuiri.
DAFTAR PUSTAKA
Agustanti, T. H. (2012). Implementasi Metode Inquiry Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Biologi. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 1(1).
Dewi, N. L., Dantes, N., & Sadia, I. W. (2013). Pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap sikap ilmiah dan hasil belajar IPA. PENDASI: Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia, 3(1).
Hudi, M. (2017). PENGGUNAAN METODE
EKSPERIMEN UNTUK
MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS III PADA MATA PELAJARAN IPA MATERI MAKHLUK HIDUP SD
NEGERI KEDUNGBUNGKUS 02
KECAMATAN TARUB KABUPATEN
TEGAL TAHUN PELAJARAN
2015/2016. PSEJ (Pancasakti Science Education Journal), 2(1).
Isa, A. (2016). Keefektifan pembelajaran berbantuan multimedia menggunakan metode inkuiri terbimbing untuk meningkatkan minat dan pemahaman siswa. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 6(1).
Kemmis, S., & Taggart, M. R. (1988). The action research planner.
Kurniawan, A. D. (2013). Metode Inkuiri Terbimbing dalam Pembuatan Media Pembelajaran Biologi untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Kreativitas Siswa SMP. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 2(1). Kusuma, M. (2016). PENGEMBANGAN
PERANGKAT PENILAIAN PETA
KONSEP UNTUK MENGEVALUASI PROSES BERPIKIR PADA TOPIK ANIMALIA. PSEJ (Pancasakti Science Education Journal), 1(1).
National Research Council. 2000. Inquiry and the National Science Education Standards: A
Guide for Teaching and Learning.
Washington, DC: The National
Academies Press.
https://doi.org/10.17226/9596.
Sardiman AM. 2007. Interaksi Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.