Utilitas 1 (Teknik Kimia) - UPNYK 1
Utilitas
(Kode MKA 121452)
Penyiapan Air Industri
Bambang Sugiarto
Utilitas 1 (Teknik Kimia) - UPNYK 2
Deskripsi
Berisi deskripsi singkat tentang materi
Utilitas 1 (Teknik Kimia) - UPNYK 3
Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Utilitas 1 (Teknik Kimia) - UPNYK 4
KEPERLUAN AIR INDUSTRI
1. Air Servis
2. Air untuk Keperluan Pendingin
3. Air untuk Keperluan Proses
4. Air Minum dan Perkantoran
5. Air Umpan Boiler (BFW)
SUMBER AIR
Air Sungai
Air Mata Air/ SumurBor
Air Laut
Sumber Lainnya
Air Terdapat di Alam umumnya tidak Murni
(H
2O)
Sumber Air di alam :
1.Air Laut mempunyai rasa asin karena banyak mengandung
garam NaCl serta garam-garam mineral oleh karenanya air laut tidak memenuhi syarat sebagai air minum.
2.Air Hujan dalam keadaan murni sangat bersih, tetapi
karena adanya pengotoran udara, maka sampai kebumi sudah tidak bersih lagi.
3.Air Payau terjadi karena bercampurnya air laut dengan air
sungai atau air tanah, sehingga rasanya sedikit asin, tidak nyaman untuk air minum, dan kotor garam-garam mineral yg larut dari tanah.
Sumber Air di alam :
4.Air Lahan Gambut umumnya air jenis ini terkontaminasi
kotoran yang membentuk koloidal, sehingga sulit untuk dijernihkan, ada yang berwarna hitam, merah serta
mempunyai pH rendah.
5.Air Permukaan, umumnya mendapat pengotoran pada
pengaliran, seperti lumpur, kotoran industri, yang termasuk air permukaan adalah air sungai, air danau dan air rawa.
6.Air Tanah, umumnya air yang berasal dari dalam tanah
dan mengandung sedikit zat-zat yang tersuspensi serta keruh. Air tanah tergolong dari air tanah dalam, dan air tanah dangkal serta mata air.
PENCEMARAN AIR
Pencemaran secara Fisika seperti sampah, pasir,
yang bisa diolah secara fisika contoh Filtrasi Umumnya bahan tidak terlarut dalam air.
Pencemaran membentuk Koloidal ( KimiaFisika)
diolah secara Kimia Fisika contoh dibuat Flok dan difilter. Bahan terlarut membentuk Koloid.
Pencemaran secara Kimia seperti Keasaman,
kandungan Logam Berat, Mineral, Garamdll.
Umumnya senyawa terlarut sempurna dalam air
Secara umum zat pengotor air adalah
sebagai berikut
1.Padatan tersuspensi
2.Padatan terlarut
3.Gas terlarut
Padatan Tersuspensi dalam Air
Padatan tersuspensi merupakani stilah yang
diberikan atas keberadaan zat heterogen yang terkandung dalam air secara umum yang terdiri atas: lumpur, humus, limbah dan bahan buangan industri. Dengan kata lain padatan tersuspensi
adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air, tidak terlarut dan tidak dapat mengendap
langsung. Bila digunakan sebagai air umpan
ketelakan menjadi penyebab terbentuknya deposit, kerak dan busa. Sedang dalam air pendingin akan menimbulkan endapan dan korosi dibawah endapan tersebut. Kekeruhan yang berlebihan dalam air
minum sangat tidak diinginkan karena dapat menimbulkan rasa tidak enak.
Utilitas 1 (Teknik Kimia) - UPNYK
Padatan Terlarut dalam Air
Air merupakan pelarut yang baik sehingga mampu
melarutkan zat-zat dari bebatuan dan tanah yang terkontak dengan air tersebut. Bahan-bahan mineral yang dapat
terkandung dalam air karena kontaknya dengan bebatuan, antaral ain : CaCO3, MgCO3, CaSO4, MgSO4, NaCl, Na2SO4,
SiO2, dan sebagainya.
Untuk air yang akan dipakai sebagai pembangkit uap atau sistem pendingin ada dua parameter penting yang
merupakan akibat dari padatan terlarut yaitu kesadahan dan alkalinitas. Padatan terlarut lainnya, seperti garam terlarut, asam dan zat organik tidak dibahas disini.
Gas Terlarut
Berbagai gas dapat larut dalam air, antara lain : CO2, O2,
N2, NH3, NO2, dan H2S. gas-gas terlarut tersebut pada
umumnya tidak menimbulkan korosi kecuali CO2, O2 dan
NH3. Karbondioksida sesungguhnya adalah suatu asam jika
bergabung dengan air dan dengan demikian dapat
menyerang logam. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
CO2+ H2O H2CO3 H++ HCO3-(2.6)
Oksigen yang terlarut dalam air merupakan penyebab
utama korosi yang terjadi pada ketel dan sistem pendingin. Penghilangan oksigen dariair umpan ketel dapat dilakukan dengan cara deaerasi secara fisik dan kimia
Air Pendingin
Air yang lewat melalui alat penukar panas heat
(exchanger ) dengan maksud untuk menyerap dan exchanger) memindahkan panasnya
Syarat – Syarat Air
Stabil dalam proses pendinginan
Kemampuan membawa panas sebagai panas sensibel Efek Korosi sekecil mungkin
Bebas aktivitas mikroba terjadinya fouling akibat Menjamin kelancaran aliran
Utilitas 1 (Teknik Kimia) - UPNYK 14
Air Minum /Air Proses
Syarat-syarat Air Minum/Proses
1)Jernih/ tak berwarna
2)
Netral/ pH sekitar 7
3)
Bersih/Sehat, bebas bakteri dan bacilus
4)Tidak Mengandung logam berat
5)
Kandungan Mineral / logam dengan
syarat tertentu
AMAN DI KONSUMSI
Pengolahan Air Minum
Pengolahan Air Proses
FUNGSI MASING-MASING
UNIT
1.BAK PENAMPUNG SEMENTARA
Untuk menjamin kelancaran aliran
2.BAK PENGENDAP AWAL
Mengendapkan Padatan Padatan non Koloid
3.FLOKULATOR
Memberi kesempatan terbentuknya flok-flok , dari endapan koloid, setelah diberi koagulan
FUNGSI MASING-MASING
UNIT
4. CLARIFIER
Untuk memisahkan Flok-flok yang terbentuk
5. SARINGAN PASIR
Untuk Menyaring endapan Koloid yang tidak membentuk Flok.
6. BAK KAPORIT
Untuk memberi kesempatan kaporit bereaksi
membentuk Cl2 yang bersifat mengelantang dan membunuh bakteri (Pasteurisasi)
FUNGSI MASING-MASING
UNIT
7. KARBON AKTIV
Menyerap senyawa kimia penyebab Bau dan Warna
8. OZONISASI
Berfungsi membunuh bakteri (Pasteurisasi)
sebagai pengganti fungsi Chlorin. Tetapi tanpa mengelantang.
FUNGSI MASING-MASING
UNIT
9. ULTRA VIOLET
Penyinaran U.V pada frekuensi tertentu sekitar 27500 mikrowatt per centimeter persegi, dapat membunuh bakteri / bacilus,yang tahan
terhadap ozon.
STERILISASI 10. BAK DISTRIBUSI
Untuk Menjamin kelancaran Distribusi
AIR UMPAN BOILER
Syarat-syarat Air Untuk Umpan Boiler
Air Lunak /Bebas Sadah
Bebas Logam dan Mineral
Bebas Gas Tersuspensi
PROSES ANALOG DENGAN AIR PROSES
DILANJUTKAN DENGAN PROSES
PELUNAKAN, DEMINERALISASI DAN
DEAERASI.
Perlakuan lanjut Air Umpan Boiler
FUNGSI MASING-MASING
UNIT
1.Softener
untuk menghilangkan kesadahan
air / melunakan air.
2.Resin + dan -
sebagai penukar kation dan
anion / Demineralisasi. Resin jenis
tertentu dapat menghilangkan juga
mineral penyebab sadah.
3.Deaerasi untuk menghilangkan gas-gas
yang tersuspensi dalam air
SEDIMENTASI & FLOKULASI
(Proses External)
Proses pengolahan untuk memperbaiki kualitas air terdiri atas berbagai jenis dan penerapan
proses –proses tersebut disesuaikan dengan tujuan penggunaan air yang dikehendaki.
Sebagian besar jenis proses pengolahan air secara eksternal.
Proses-proses tersebut digunakan untuk
mengolah jenis pengotor(impurities) tertentu
dan pengolahan air secara eksternal ini dapat dibagi menjadi tiga katergori, yaitu:
Proses pendahuluan
(pre-treatment treatment)
Proses ini umumnya digunakan untuk
memperoleh kualifikasi air pendingin atau
sebagai proses awal untuk penyediaan air
dengan kualitas yang lebih tinggi.
Sedimentasi
Sedimentasi
adalah
suatu proses yang bertujuan
memisahkan/mengencapkan zat-zat padat
atau suspensi non-koloidal dalam air.
Pengendapan dapat dilakukan dengan
memanfaatkan gaya gravitasi.
Cara yang sederhana adalah dengan membiarkan padatan mengendap dengan sendirinya. Setelah partikel-partikel mengendap, maka air yang
jernih dapat dipisahkan dari padatan yang semula tersuspensi didalamnya.
Cara lain yang lebih cepat adalah dengan melewatkan air pada sebuah bak dengan
kecepatan tertentu sehingga padatannya terpisah dari aliran air dan jatuh kedalam bak pengendap tersebut. Kecepatan pengendapan
partikel-partikel yang terdapat didalam air bergantung kepada berat jenis, bentuk dan ukuran partikel, viskositas air dan kecepatan aliran dalam bak pengendap.
Jenis Sedimentasi
Kontinu
Intermittent (selang-seling)
Sedimentasi /settling secara intermittent
banyak dipakai dalam water treatment.
Effisiensi Sedimentasi tergantung :
Jumlah padatan dalam badan air
Kekasaran partikel terlarut
Waktu pengendapan
Bentuk rancangan alat:
Sirkuler
Rectangular
Dalam perancangan alat sedimentasi /settler tidak dirancang alat yg dp mengendapkan semua
padatan terlarut (suspended solid) scr sekaligus:
Tidak praktis Waktu tinggal>>> Tidak ekonomis(η<<) Perancangan ►eliminasiaruseddy ►scouring velocities ►kondisi yg menghambat pengendapan
Utilitas 1 (Teknik Kimia) - UPNYK 32
Kasus :
Kerugian waktu sedimentasi /
settling yg lama
Cara penanganan :
Dengan desinfektan: CuSO
4, khlorinasi, khor
aminsh galgae + m.o. lemah/mati
Degan roof/pelindung shg s.m. Terhambat
Waktu settling cepat, sebagai pertimbangan
perancangan alat
Kasus sebaliknya :
kekurangan oksigen
Jika kandungan oksigen rendah dalam badan
air olahan maka akan menjadi beban bagi unit aerator, apalagi jika dalam badan air banyak terdapat m.o an organik
Beban clarifier, untuk proses pengendapan Fe
sebagai Ferritri hidroksida
Perlu analisa kadar oksigen pada utilitas sistem:
baik pada air pendingin, air proses maupn air umpan boiler
Reaksi-reaksi :
Reaksi flokulasi
Reaksi-reaksi :
Reaksi flokulasi
Reaksi-reaksi :
Reaksi flokulasi
Teknik Kimia - U P N 'v' YK 39
Pengendap
clarifier
Alat yang digunakan untuk mengendapkan kotoran dalam suatu cairan antara lain adalah clarifier.
Teknik Kimia - U P N 'v' YK 40
Cara Kerja
Clarifier
Cairan masuk melalui pipa yang diletakkan dibagian tengah dari tangki besar, cairan akan turun kebawah. Cairan yang bening akan naik keatas sedang cairan yang kotor akan turun ke bawah. Kecepatan cairan keatas harus lebih rendah dari pada kecepatan pengendapan partikel-partikel padatan. Dengan demikian kapasitas clarifier
ditentukan oleh diameter ( luas permukaan) . Kedalaman juga sangat mempengaruhi pengendapan lumpur yang terkumpul. Kandungan padatan terlarut yang terikut dalam cairan yang ke atas harus dapat terkontrol dengan baik dengan jalan mengatur kecepatan pengeluaran.
Teknik Kimia - U P N 'v' YK 41
Cara Kerja
Clarifier
Metode lain untuk flokulasi mencakup
penggunaan bahan aktif permukaan dan
penambahan
bahan,
seperti
perekat,
gamping, alumina, atau natrium silikat
yang berfungsi menjaring partikel-partikel
tersuspensi untuk turun mengendap karena
gaya beratnya.
Teknik Kimia - U P N 'v' YK 42
Cara Kerja
Clarifier
Bahan-bahan yang berupa koloidal dengan ukuran bahan 0,1 – 0,001µ sangat sukar sekali untuk diendapkan dengan cara grafitasi, untuk itu bahan harus diketahui sifat-sifat fisisnya terlebih dulu baru dilakukan destabilisasi kemudian dilakukan flokulasi. Berdasarkan fungsi dari sistem pengendapat dapat di golongkan menjadi 2 yaitu : penjernihan (clarifier) dan pemekatan
(thickener). Untuk merancang tangki pengendapan diperlukan sifat-sifat fisis dari padatan yang tersuspensi dan biasanya diperlukan percobaan pelopor settling dan sedimentasi untuk menentukan diameter dan tinggi tangki yang diperlukan.
Teknik Kimia - U P N 'v' YK 43
Pengendap Bejana (
Settler
).
Pada operasi berkesinambungan, campuran
yang keluar dari tangki pencampur dialirkan
kedalam sebuah bejana yang cukup besar
sehingga
cukup
waktu
mengendapkan
campuran dan mengurangi turbulensi. Selain
bejana kosong biasa kadang dipakai buffle
mendatar untuk mengurangi turbulensi dan
jarak jatuh butir-butir cairan.
Teknik Kimia - U P N 'v' YK 44
Pengendap Bejana (
Settler
).
Kecepatan pengendapan butiran :
g C D V g g W S . 3 4 A Q Vt V Kecepatan maju t V V L Q A L . L Z V V t s s
V
Z
.
Waktu tinggal : V s V ZV Q Q A L. . . Volume tangki :Teknik Kimia - U P N 'v' YK 45
Pemekatan
(Thickening)
Pemekatan (thickening) adalah peristiwa
peningkatan kosentrasi padatan didalam badan cairan dengan tujuan akhir untuk memperoleh hasil berupa pasta atau kristal. Partikel yang tersuspensi didalam cairan berkisar antara 15 – 30 % yang terkumpul akibat peristiwa pengendapan dan pengguapan cairan.
Thickener adalah alat yang berfungsi untuk
meningkatkan kosentrasi. Peningkatan kosentrasi padatan dalam badan cairan dapat dilakukan dengan jalan pengendapan. Thickener dapat beroperasi secara batch maupun secara kontinyu (sinambung).
Teknik Kimia - U P N 'v' YK 46
Pemekatan
(Thickening)
Teknik Kimia - U P N 'v' YK 47
Pemekatan
(Thickening)
Peralatan dan cara kerja Thickener dapat digambarkan sebagai berikut :
Tangki yang besar agak dangkal dilengkapi dengan
penggaruk radial yang digerakkan lambat oleh motor yang dipasang pada bagian atas alat. Dasar alat bisa datar bisa pula berbentuk kerucut. Bubur umpan yang encer mengalir melalui palung miring atau meja cuci. Cairan mengalir secara radial dengan kecepatan yang kian berkurang, sehingga memungkinkan zat padat itu mengendap didasar tangki. Cairan jernih melimpah dari bibir tangki kedalam suatu palung. Lengan-lengan penggaruk itu mengaduk lumpur itu secara pelan, dan mengumpulkan dibagian tengah untuk dikeluarkan melalui pipa lumpur. Pada beberapa rancangan lengan pengaruk dapat diatur dengan dibuat engsel, sehingga dapat menjangkau semua area yang ada.
Teknik Kimia - U P N 'v' YK 48
Pemekatan
(Thickening)
Laju alir volumetrik cairan keatas melewati daerah tersebut sama dengan selisih laju alir cairan dalam slurry umpan dengan laju pengeluaran lumpur.
Bila : U = perbandingan cairan dengan zat padat di setiap titik di
thickener
V = perbandingan cairan-padatan di lumpur keluar
Maka laju cairan ke atas/laju umpan = U – V W = laju massa zat padat,
Laju cairan ke atas =
harus tidak melebihi laju pengendapan, Uc. A = penampang thictener
ρ = densitas cairan
Uc = laju pengendapan slurry
A harus dihitung untuk seluruh jelajah konsentrasi yang ada di thictener. A W V U ) ( A W V U UC ) ( C U W A U A ) (
Teknik Kimia - U P N 'v' YK 49
Pencampur – Pengendap (
Mixed Settler
)
Alat ini berupa sebuah tangki dengan pengaduk agar kedua cairan dapat kontak dengan baik. Pada pengadukan, suatu fasa tersuspensi pada fasa lainnya berupa butiran – butiran halus. Makin halus butiran makin luas kontak antar fasa muka kedua fasa tersebut. Dilain pihak bila butiran terlampau halus, akan sangat sukar untuk mengendap, sehingga pemisahan kedua fasa dibutuhkan waktu yang lama. Campuran dua fasa dipisahkan dalam alat yang lain yaitu pengendap. Kedua fasa akan memisah dan dapat dialirkan keluar secara terpisah.
Teknik Kimia - U P N 'v' YK 50
Utilitas 2 (Teknik Kimia) - UPNYK 51
FILTRASI
Pemisahan fluida cair dari impurities /
pengotor yang menyertai dengan
menggunakan media porous
Jenis proses: gaya fisis untuk pemisahan
Banyak dipakai di industri pengolahan
ProsesFiltrasi
Gaya yg dipakai untuk menggerakkan fluida
melalui media filter :
Gravitasi
Pengaruh gaya gravitasional pada
komponen-2
Jika menggunakan gaya sentrifugal gaya
diinduksi kedalam sistem sehingga
komponen-komponen produk terpisah
Klasifikasi Filter
1.Sand filter
•Terbuka
•Bertekanan
2.Filter Presses
•Chamber
•Plate & frame
3.Leaf filter
•Moore
•Kelly
•Sweet land
4.Rotary continousfilter
•Drum
•Leaf
•Top fluid
Gravity filter
Prinsip filtrasi
Open Rapid Filter
Perhitungan dalam filter
Utilitas 2 (Teknik Kimia) - UPNYK 70
Utilitas 2 (Teknik Kimia) - UPNYK 71
Ringkasan Materi
Berisi ringkasan materi dan latihan soal
Tugas untuk mahasiswa down load simulasi
filtrasi (grafity filter dan compressed filter untuk produksi air minum, waste water
treatment) dari youtube dan menjelaskan di
Utilitas 1 - UPN [v] YK 72
KESADAHAN DAN WATER SOFTENER
ZAT PENGOTOR (IMPURITIES)
Zat-zat yang diserap oleh air dalam perjalanan
daur hidrologi menyebabkan air tersebut menjadi tidak murni lagi.
Zat-zat itu disebut sebagai zat pengotor atau
impurities.
Berbagai jenis impurities dan karakteristiknya
dapat dikelompokkan dalam 3 golongan, yaitu:
1.Padatan tersuspensi 2.Padatan terlarut
Padatan Tersuspensi
Merupakan zat heterogen yang terkandung dalam
kebanyakan jenis air.
Terdiri atas Lumpur, humus, limbah dan bahan
buangan industri.
Padatan tersuspensi dapat menyebabkan air
keruh dan bila digunakan sebagai air umpan ketelakan menyebabkan terbentuknya deposit, kerak dan busa.
Padatan tersuspensi dalam air pendingin akan
menimbulkan endapan dan timbulnya korosi dibawah endapan tersebut
Kekeruhanyang berlebihan dalam air minum
sangat tidak diinginkan karena dapat menimbulkan rasa yang kurang baik
Utilitas 1 - UPN [v] YK
Padatan Terlarut
Air adalah pelarut yang baik, sehingga mampu
melarutkan zat-zat dari batu-batuan dan tanah yang terkontak dengan air tersebut.
Mineral yang terkandung dalam air krn
kontaknya dengan batu-batuan, antara lain :
CaCO3, MgCO3, CaSO4, MgSO4, NaCl, Na2SO4, silika, SiO2 dsb
Air yang akan dipakai untuk pembangkit uap atau
sistem pendingin ada dua parameter penting yang merupakan akibat dari padatan terlarut, yaitu kesadahan dan alkalinitas.
Kesadahan (Hardness)
Kesukaran pembentukan busa oleh sabun dalam
air merupakan indikasi kesadahan air
Kesadahan air terutama diakibatkan oleh adanya
ion-ion kalsium dan magnesium.
Sabun dalam air bereaksi lebih dulu dengan
ion-ion ini sebelum dapat berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan air.
Senyawa kalsium, magnesium dan senyawa lain
yang bereaksi dengan sabun, mempunyai ukuran yang disebut keadahan total (total hardness).
Kesadahan (Hardness)
Kesadahan total ditinjau dari macam
kation merupakan jumlah kesadahan
kalsium dan kesadahan magnesium
TH = CaH+ MgH
Kesadahan total dilihat dari anionnya
dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1) kesadahan karbonat (kesadahan sementara) 2) kesadahan non-karbonat (kesadahan tetap)
TH = KH + NH
Dengan keterangaan:
Utilitas 1 - UPN [v] YK 78
Kerugian yang dapat timbul akibat
adanya kesadahan dalam air industri
diantaranya adalah pembentukan kerak
dalam ketel dan sistem pendingin, selain
itu pemakaian sabun akan meningkat bila
kesadahan terdapat dalam air pencuci.
Alkalinitas(Alkalinity)
Alkalinitas air disebabkan adanya senyawa
alkalis dalam air
Alkalinitas merupakan ukuran dari
kapasitas air untuk menetralkan asam
Ada tiga jenis alkalinitas:
Alkalinitas(Alkalinity)
Penentuan alkalinitas dilakukan dengan titrasi
menggunakan larutan HCl.
Penetralan dilakukan dengan indicator phenolptalin menghasilkan alkalinitas-P,
sedangkan bila digunakan indicator metil jingga
akan dihasilkan alkalinitas-M. Reaksi yang
terjadi pada alkalinitas P dan M adalah sebagai berikut:
Reaksi yang terjadi pada alkalinitas P
dan M adalah sebagai berikut:
Penyebab alkalinitas tidak ada
bersama-sama dalam air.
Ada lima kemungkinan terdapatnya
senyawa penyebab alkalinitas, yaitu:
Tabel 2.2.
Alkalinitas dan hubungannya dengan kesadahan
Hubungan alkalinitas dengan
kesadahan
Water softener
Pelunakan air, perlu dikendalikan agar
tidak menggangguj alannya proses
Tujuan:
untuk menghindarkan
terbentuknya kerak akibat dari
terakumulasinya senyawa karbonat
Pertimbangan lain
: berhubungan dg
tingkat alkalinitas, Krn ada kalanya
alkalinitas yg tinggi diperlukan khususnya
pd air umpan boiler utk mencegah korosi
Menaikkan alkalinitas berarti menaikkan kesadahan
karbonat dan mengurangi kesadahan non-karbonat
Air baku pada umumnya hanya
mengandung alkalinitas-M saja(hanya
mengandung HCO3 saja) dengan pH
sekitar 7.
Alkalinitas yang cukup tinggi diperlukan
pada air umpan ketel untuk mencegah
korosi, akan tetapi kadar OH- yang terlalu
tinggi dapat menimbulkan kerapuhan
kaustik( Caustic Embrittlement).
WATER DEMINE
Proses demineralisasi (pengurangan kandungan
mineral) yg dikenakan pada air
Proses demineralisasi dilakukan pada:
Pengolahan air pada tahap persiapan, yaitu
dilakukan reaksi pembentukan flok pada unit flokulasi kemudian diendapkan pada clarifier sebagai sludge/lumpur
Pengolahan air umpan boiler, yaitu pada water
softener utk mengurangi kadar Ca dan Mg serta pada unit kation exchanger
Yang akan dibahas adalah pada unit kation-anion
exchange (ion exchanger, IE)
Ion exchange proses mrp reaksi kimia antara
ion dalam fase larutan dan ion dalam fase padat. Ion-ion tertentu dalam larutan
diadsorpsi oleh ion exchanger padatan, dan dlm rangka menjaga elektronetrality, maka padatan melepaskan ion penukar kedalam larutan.
Contoh: pada proses pelunakan air (water
softening), ion Ca+2dan Mg+2diambil dari
larutan dan padatan exchanger melepas kanion Na+ untuk menggantikan tempat Ca+2 dan
Mg+2 Reaksinya stokhiometri dan reversible.
Utilitas 1 (Teknik Kimia) - UPN[v]YK 88
Ion Exchanger
Zeolit adalah ion exchange yang pertama digunakan
untuk proses water softening. Tetapi sekarang
penggunaanya diganti oleh synthetic cation exchange resin dan synthetic anion exchange resin
Ion exchange digunakan pula dalam proses
pengeluaran anion dan kation dari dalam air, yang disebut proses demineralisasi. Ion exchange dapat pula digunakan untuk memindahkan ion-ion logam dari waste water, dan ion-ion itu kemudian
dikeluarkan bersama-sama pada saat regenerasi, seperti pada industri metal platting dengan ion-ionnya: Zn, Cd, Cu, Ni, Cr.
Struktur Ion Exchange Resin
1.PolimerMatrix, meliputi
Polystirenmatrix, mrp kopolimer stiren dan
divinil bezene. Terjadi secara polimerisasi suspensi, sehingga dihasilkan cross-link polymer dan tidak larut dalam air
Polyacrylicmatrix, mrp kopolimer acrylat/
acrylonitrile dengan divinil benzene, sehingga dihasilkan crosslink polymer
Struktur Ion Exchange Resin
2. Group Fungsional, ada 2 jenis
a.Cation Exchange Resin
Strongly Acidic (sulfonic group), Polystiren bead
ditambahkan H2SO4 pekat, sehingga dihasilkan resin dengan stabilitas kimia dan fisika yang
tinggi. Contoh: AmberliteIR 120, DuoliteC 20, LewatitS 100 TS
Resin ini mempunyai gugus aktif sulfonic group (-SO3H) dan dapat memindahkan seluruh kation
Weakly Acidic (carboxylic group), mrp reaksi
hidrolisa dari polymetilacrylate/polyacrilonitrile untuk membentuk poly matrik. Contoh:
Amberlite IRC 76 dan DuoliteC 433
Resin ini merupakan gugus aktif carboxylic group (-COOH), dapat mengeluarkan kation-kation dari basa lemah seperti: Ca 2+danMg 2+, mempunyai kemampuan terbatas
memindahkan kation-kation dari basa kuat, spt. : Na+ danK+
b. Anion Exchange resin
Strong Base, mempunyai grup aktif quaternary
ammonium. Ada 2 macam yaitu:
1) Type 1 Resin, paling kuat, dengan grup aktif benzyl dimentil etanol ammonium, dp memindahkan seluruh anion termasuk silika. Contoh: Duolite A 10
2) Type 2 Resin, dapat memindahkan seluruh anion, membebaskan anion-anion lebih mudah selama proses regenerasi dengan menggunakan larutan NaOH(efisiensi regenerasi tinggi), tetapi
menghasilkan silikaleakage lebih besar dari type 1. contoh: Duolite A 102
Weak Base, memp. Grup aktif amine,
dapat memindahkan anion-anion yang
terutama dari asam kuat seperti SO42-Cr,
NO3-dan terbatas untuk anion-anion dari
asam lemah seperti HCO3-, CO32-dan
SiO44-.
Kapasitas Ion Exchange
1. Total capacityMenyatakan kapasitas total grup aktif yang ada pada resin, dan dinyatakan dalam equivalent/unit.
2. Operating Capacity
menyatakan banyaknya kapasitas grup aktif yang dapat digunakan selama proses berlangsung.
Faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya operating capacity terhadap total capacity adalah:
analisa raw water ; kualitas air hasil yang diinginkan; laju alir service; suhu air ; jenis dan jumlah
regenerasi; laju alir regenerant; suhu regenerant dan waktu service yang diinginkan.
3. Regeneration Efficiency
Merupakan perbandingan antara operating capacity dan Jumlah regenerant yang
digunakan(keduanya dinyatakan Dalam eq/lt) dan dinyatakan dalam prosentase
4. Regenerant Ratio
Merupakan kebalikan dari regeneration efficincy, dan biasanya bernilai lebih besar dari 1.
Biasanya strongly acidic/strongly basic resin jarang menggunakan lebih dari 60% dari total
capacitynya. sebagaicontoh, strongly basic type 1 yang mempunyai total capacity 1,2 eq/lt, hanya menggunakan operating capacity 0,46 eq/lt.
Reaksi Ion Exchange
1.Cation Exchange, umumnya digunakan untuk
mengeluarkan ion-ion yang tidak diinginkan dari larutan tanpa merubah konsentrasi total ion atau pH. Resin biasanya menggunakan ion Na+ untuk menyerap, karena ion sodium biasanya
mempunyai affinitas yang rendah sehingga
mempunyai kemampuan untuk mengadopsi metal lain
Resin mempunyai afinitas yang besar untuk
ion-ion divalent, trivalent, tapi untuk ion-ion-ion-ion
monovalen afinitasnya yang rendah, sehingga resin ini mempunyai kapasitas yang tinggi untuk memindahkan ion Ca2+ dan Mg2+ dari larutan, tetapi untuk ion Na+ kapasitasnya kecil
2. Anion Exchange
Resin yang paling banyak digunakan untuk anion exchange adalah basa kuat dalam bentuk klorida. Contoh reaksinya adalah:
Hidroksida Ion Exchange
Bila larutan asam dilewatkan melalui resin
bentuk hidroksida, anion-anion teradopsi dan digantikan oleh hidroksida, sehingga terbentuk air murni.
Tahap Regenerasi
Regenerasi untuk kaiton exchange dengan
menggunakanl arutan asam, sedangkan
untuk anion exchange menggunakan
larutan caustic soda.
Reaksi yang terjadi:
Kesetimbangan Ion Exchange
Cation Exchanger (strong acid dg gugus
sulfonat–SO3H)mengadsorpsi
kation-kation dengan urutan sbb:
Sedangkan anion exchanger (strong base
yang mempunyai gugus quartenary
ammonium), mengadsorpsi anion-anion
dengan urutan sbb:
Actual reaction
Resin penukar kation
Resin penukar kation asam kuat yang
beroperasi dengan siklus H, regenerasi
dilakukan menggunakan asam HCl atau
H2SO4.
Reaksi pada tahap layanan adalah sebagai
berikut:
Konsentrasi asam keseluruhan yang
dihasilkan oleh reaksi diatas disebut Free
Mineral Acid ( FMA ). Jika nilai FMA turun,
berarti kemampuan resin mendekati
titik-habis dan regenerasi harus dilakukan.
Reaksi pada tahap regenerasi adalah
sebagai berikut:
Gugus Fungsi pada resin penukar kation asam
lemah adalah karboksilat (R-COOH). Jenis resin ini tidak dapat memisahkan garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat. Tetapi dapat
menghilangkan kation yang berasal garam bikarbonat untuk membentuk asam karbonat atau dengan kata lain resin ini hanya dapat menghasilkan asam lemah dengan siklus H, dinyatakan oleh reaksi-reaksi berikut:
larutan regenerasi dan reaksi yang terjadi pada
tahap regenerasi identik dengan resin penukar kation asam kuat.
Penukar resin anion
Resin penukar kation asam kuat siklus
hydrogen akan megubah garam-garam
terlarut menjadi asam, dan resin penukar
anion basa kuat akan menghilangkan
asam-asam tersebut, termasuk asam
silikat dan asam karbonat.
Reaksi-reaksi yang terjadi pada tahap
layanan dan regenerasi adalah sebagai
berikut:
Resin penukar anion basa lemah hanya
dapat memisahkan asam kuat seperti HCl
dan H2SO4, tetapi tidak dapat
menghilangkan asam lemah seperti asam
silikat dan asam karbonat, oleh sebab itu
resin penukar anion basa lemah acap kali
disebut sebagai acid adsorters
Reaksi-reaksi yang terjadi pada tahap
layanan adalah sebagai berikut
Resin penukar anion basa lemah dapat
diregenerasikan dengan NaOH, NH4OH
atau NaCO3 seperti ditunjukkan oleh
reaksi dibawah ini
Operasi Sistem Pertukaran Ion
Operasi sistem pertukaran ion dilaksanakan
dalam empat tahap, yaitu:
1)
Tahap layanan(service)
Tahap layanan ini dilakukan dengan cara
mengalirkan air umpan dari atas (down flow).
2)
Tahap pencucian balik(backwash)
3)Tahap regenerasi
4)
Tahap pembilasan
Tahap Pencucian balik
Tahap pencucian balik dilakukan jika kemampuan resin telah mencapai titik habis. Sebagai pencuci digunakan air produk, pencucian balik mempunyai sasaran senagai berikut :
Pemecahan resin yang tergumpal
Penghilangan partikel halus yang terperangkap dalam
ruang antar resin
Penghilangan kantong-kantong gas dalam unggun, dan Pembentukan ulang lapisan resin
Pencucian balik dilakukan dengan pengaliran air dari bawah keatas(up flow). Pada tahap ini terjadi
pengembangan unggun antara 50 hingga 75%.
Tahap Regenerasi
Tahap regenerasi adalah operasi penggantian ion yang terjerap dengan ion awal yang semula berada dalam matriks resin dan pengembalian kapasitas ketingkat awal atau ketingkat yang diinginkan.
Larutan regenerasi harus dapat menghasilkan titik puncak(mengembalikan kemampuan resin ketingkat awal) dari ion yang digantikan, karena hal ini dapat mengurangi waktu regenerasi dan jumlah larutan yang digunakan. Jika sistem dapat dikembalikan ke kemampuan pertukaran awal, maka ekivalen ion yang digantikan harus sama dengan ion yang dihilangkan selama tahap layanan. Jadi secara teoritik, jumlah larutan regenerasi (dalam ekivalen)yang dihilangkan (kebutuhan larutan regenerasi teoritik)
Tahap Regenerasi
Operasi regenerasi agar resin mempunyai
kapasitas seperti semula sangat mahal, oleh
sebab itu maka regenerasi hanya dilakukan untuk menghasilkan sebagian dari kemampuan
pertukaran awal. Upaya tersebut berarti bahwa regenerasi ditentukan oleh tingkat regenerasi (regeneration level) yang diinginkan. Tingkat regenerasi dinyatakan sebagai jumlah larutan regenerasi yang digunakan per volume resin.
Tahap Regenerasi
Perbandingan kapasitas operasi yang dihasilkan pada tingkat regenerasi tertentu dengan kapasitas
pertukaran yang secara teoritik yang dapat dihasilkan pada tingkat regenerasi itu disebuit efisiensi
regenerasi. Efisiensi regenerasi resin penukar kation asam kuat yang diregenerasikan dengan H2SO4 dan resin penukar anion basa kuat yang diregenerasikan dengan NaOH antara 20-50%, oleh sebab itu
pemakaian larutan regenerasi 2-5 kali lebih besar dari kebutuhan teoritik. Pada resin penukar kation dalam asam lemah dan resin penukar anion basa lemah
efisiensi dapat mendekati harga 100%, atau dengan kata lain kebutuhan larutan regenerasi untuk resin penukar golongan lemah lebuh sedikit.
Tahap Regenerasi
Besaran untuk menyatakan tingkat efisiensi
penggunaan larutan regenerasi adalah nisbah
regenerasi (regeneration ratio) yang didefinisikan sebagai berat larutan regenerasi dinyatakan
dalam ekivalen atau gr CaCO3 dibagi dengan beban pertukaran ion yang dinyatakan dalam satuan yang sama. Makin rendaah regenerasi makin efisien penggunaan larutan regenerasi. Harga nisbah regenerasi merupakan kebalikan harga efisiensi regenerasi dari atas.
Efisiensi Regenerasi dan Pemanfaatan kolom
Sebagai fungsi dari tingkat regenerasi
Tahap Pembilasan
Tahap pembilasan dilakukan untuk
menghilangkan sisa larutan regenerasi
yang terperangkap oleh resin. Pembilasan
dilakukan menggunakan air produk
dengan down flow dan dilaksanakan
dalam dua tingkat yaitu:
1. Tingkat laju alir rendah untuk menghilangkan larutan regenerasi dan
2. Tingkat laju alir untuk menghilangkan sisa ion.
Tahap Pembilasan
Limbah pembilasan tingkat laju alir rendah
digabungkan dengan larutan garam daan
dibuang. Sedangkan limbah pembilasan
tingkat laju alir tinggi disimpan dan
digunakan sebagai pelarut senyawa untuk
regenerasi.
Penghilangan Gas
Penghilangan gas dilakukan sebelum air
keluaran kolom kation diolah di kolam
resin penukar anion dimaksudkan untuk
mengurangi beban pertukaran pada kolom
penukar anion, yang berarti juga
mengurangi penggunaan larutan
regenerasi.
Penghilangan Gas
Setelah tahap pertukaran kation di resin
penukar kation siklus hydrogen, alkalinitas
bikarbonat yang dikandung dalam air
umpan akan di konversi menjadi asam
karbonat dan karbondioksida,seperti
disajikan pada reaksi di bawah ini:
Air keluaran resin penukar kation bersifat asam,
maka reaksi kesetimbangan di atas akan bergeser ke kiri. Air yang diolah di kolom
degasifier mengandung karbon dioksida yang
ekivalen dengan alkalinitas bikarbonat ditambah dengan jumlah karbon dioksida yang larut dalam air tersebut.
Cara kerja kolom degasifiermengikuti teori-teori
yang berlaku untuk proses stripping(pelucutan).
Kandungan CO2 dalam air dilucuti menggunakan udara yang dihembuskan oleh blower atau secara vakum. Pemakaian kolom mengurangi
kandungan karbondioksida menjadi sekitar 5 mg/l.
OperasionalIon Exchange
(Hook Up System)
Utilitas 1 (Teknik Kimia) - UPN [v] YK 127
Deaerasi
Daerasi merupakan usaha penghilangan gas
seperti oksigen, karbondioksida, dan ammonia dengan proses penaikan temperature saturasi air pada tekanan rendah.
Perbaikan perancangan pada campuran yang
mempunyai sifat berdekatan seperti air dengan steam dapat mengurangi sifat korosif gas pada pemanasan umpan air sebagai upaya
pencegahan korosi
Adanya oksigen akan menyebabkan lubang dan
korosi pada pemanas umpan, clossedheaters, economizer, boiler, dan return lines
Utilitas 1 (Teknik Kimia) - UPN [v] YK 128 gas oksigen dapat menimbulkan korosi 5 sampai 10 kali
lebih banyak dibandingkan gas karbondioksida untuk kuantitas yang sama
factor suhu144F akan mempunyai aktivitas 2-2.5 kali lebih
besar untuk kondensate yang sama pada suhu 140F
Adanya gas karbondioksida dalam sistem, bersam agas lain
dan bercampur dapat menimbulkan kira-kira10 %-40 % korosi
Jika korosi disebabkan oleh banyaknya karbondioksida
maka struktur dan komposisi baja merupakan factor yang sangat menentukan.
Utilitas 1 (Teknik Kimia) - UPN [v] YK 129
Fe+2+ 2H2O →Fe(OH)2+ 2H+
4Fe(OH)2+ O2+ 2H2O →4Fe(OH)3↓infeksi logam/korosi
Kondensat kemungkinan terdiri dari
karbondioksida yang dalam larutan akan membentuk H2CO3, dengan pH : 5.5-6.5
Mg/Ca →MgCO3/CaCO3(kerak)
Gas amonia sangat keras daya korosinya
terhadap tembaga dan campurannya. Korosi yang ditimbulkan misalnya terjadi pada fitting, turbine tube, condenser, serta tempat-tempat yang langsung berkontak dengan amonia.
Senyawa yang dibentuk dari hasil kontak ini adalah senyawa kompleks reaktif (Cu(NH4)++.
Utilitas 1 (Teknik Kimia) - UPN [v] YK 130
Teori Pelarutan
Dalton : PT=Σpi Henry : c/p= k dengan: k: koefisien kelarutan c: konsentrasi kelarutan gas dalam larutan p: tekanan gas
Berdasar prinsi phkDalton dan hkHenry,
perubahan kelarutan gas dari air dapat dilakukan dengan mengurangi tekanan parsial dari gas itu ke udara sekeliling, tanpa mempedulikan tekanan total dari sistem
Utilitas 1 (Teknik Kimia) - UPN [v] YK 131
Berdasar prinsip diatas maka dapat
dilakukan perancangan sbb:
Cara sederhana yang dapat dilakukan dengan
pengelembungan gas melewati air atau dengan
penyemprotan air dengan aliran countercurrent dengan aliaran gas. Pada cara ini konsentrasi pelarutan gas
atmosferis dikurangi dengan pengenceran gas. Tekanan parsial dari kelarutan gas dikurangi sesuai dengan hukum Henry, yaitu diperoleh dengan pencapaian kesetimbangan konsentrasi kelarutan gas dalam air secara proporsional terhadap pengurangan tekananparsial gas.
Karbondioksida dapat dilepaskan dari air dengan aliran
Utilitas 1 (Teknik Kimia) - UPN [v] YK 132
Gas oksigen dapat dipindahkan dengan air
yang melewati gas lain dengan aliran
berlawanan arah dengan aliran gasnya.
Udara tidak dapat dipergunakan pada
peristiwa ini karena prosentase oksigen
dalam udara tinggi (21%).
Kebanyakan proses penurunan kelarutan
oksigen dengan pemanasan umpan
menggunakan solven atau steam.
Pemilihan penggunaan steam lebih
disebabkan pertimbangan ekonomis.
Utilitas 1 (Teknik Kimia) - UPN [v] YK 133
Utilitas 1 (Teknik Kimia) - UPN [v] YK 135
Mekanisme pemindahan gas dari air
dengan memanfaatkan steam
Pencapaian kondisisaturasi dan pencapaian tekanan uap
dari solven liquid dan tekanan larutan dari kelarutan gas. Pada kondisi ini, semua gas menjadi tidak larut. Untuk
pelepasan gas diperlukan penghambat tray atau jet design dari pemanas umpan air pada suhu 212 F dan pada
tekanan atmosferis.
Difusigas keudara sekeliling (tanpa penggelembungan)
akibat dari tekanan internal dari cairan dan pelarutan gas lebih kecil dari tekanan yang dikenakan pada sistem.
Pemindahan gas amonia, disebabkan oleh kelarutan yang ekstrem dari gas ini dicapai dengan difusi.
Utilitas 1 (Teknik Kimia) - UPN [v] YK 136
Oksigen akan segera meninggalkan air
jika dipanaskan pada suhu saturasi dan
tekanan sistem
Utilitas 1 (Teknik Kimia) - UPN [v] YK 137
Pemindahan gas karbon dan gas amonia
Jika gas karbondioksida terlarut dalam air maka
akan menjadi komponen yang tidak stabil H2CO3.
CO2+ H2O →H2CO3 H2CO3→H++ HCO3- HCO3-→CO3-+ H+
Konsentrasiion hydrogen akan mengontrol pH CO2 yg tdp dalam 3 bentuk molekul ini. Hanya H2CO3 dan CO2 saja yang dapat dipindahkan dengan deaerasi.
Utilitas 1 (Teknik Kimia) - UPN [v] YK 138
Gas amonia yang dilarutkan dalam air, akan
membentuk senyawa yang tidak stabil, NH4OH
NH3+ H2O →NH4OH→NH4-+
OH-
Konsentrasiion hydroxyl akan mengontrol
penyebaran gas amonia dari dua bentuk
molekul tersebut. Dan hanya NH4OH saja
yang dapat dipindahkan dengan deaerasi
Utilitas 1 (Teknik Kimia) - UPN [v] YK 139
Peralatan
Sesuai dengan standart Heat Exchange Instute,
standart unit deaerasi untuk tekanan operasi atmosferis meliputi:
•Unit deaerasi •Condenser
•Pipa pemanas deaerasidan / atau valve pemasukan air dengan lubang condenser.
Kapasitas yg dapat menampung aliran air tidak
kurang dari 2 menit
Konstruksi dari bahan besi untuk tekanan operasi
atmosferis dan plate baja untuk tekanan operasi yang tinggi.
Utilitas 1 (Teknik Kimia) - UPN [v] YK 141
Referensi
Herri Susanto “ Diktat Kuliah Utilitas 2”
Departemen Teknik Kimia FT Industri, ITB, Bandung 2001
Jack Broughton, “Process Utility Sistem,
Introduction to Design Operation and
Maintenance” Institution of Chemical Engineers, 1994