BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Arbitrage Pricing Theory (APT)
Arbitrage Pricing Theory (APT) merupakan model alternatif dari CAPM untuk menilai asset keuangan. Konsep yang dipergunakan dalam Arbitrage Pricing Theory (APT) adalah hukum satu harga (the law of the one price). Apabila aktiva yang berkarakteristik sama tersebut dengan harga yang berbeda, maka akan terdapat kesempatan untuk melakukan arbitrage dengan membeli aktiva yang berharga murah dan pada saat yang sama menjualnya
dengan harga yang lebih tinggi sehingga memperoleh laba tanpa risiko. 1
Arbitrage Pricing Theory (APT) didasarkan pada pemikiran yang menyatakan bahwa 2 kesempatan investasi yang mempunyai karakteristik yang sama
tidaklah bisa dijual dengan harga yang berbeda.2
APT disusun berdasarkan lima asumsi dasar. Pertama, pasar modal diasumsikan pada kondisi persaingan sempurna. Kedua, investor memiliki ekspektasi yang homogen terhadap return pada tiap-tiap saham. Ketiga, ekspektasi return ini berasal dari sejumlah faktor yang berpengaruh secara linier. Asumsi keempat, faktor umum menampung seluruh risiko sistematis
1
Zaenal Arifin, Teori Keuangan & Pasar Modal, (Yogyakarta: Ekonisa, 2007), hlm. 40.
2 Stephen A, Ross “ Pengantar Keuangan Perusahaan (Terjemahan) dalam Irham Fahmi,
dari asset yang dianalisis. Asumsi kelima, jumlah faktor umum jumlahnya
jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah asset yang dianalisis.3
Arbitrage Pricing Theory (APT) menggunakan sekian banyak variabel pengukur risiko untuk melihat hubungan return dan risiko atau dengan kata lain APT tidak menjelaskan faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi pricing. Secara matematis memang tidak mungkin menggunakan analisis faktor untuk mengidentifikasi secara pasti faktor-faktor apa yang melandasi
perubahan return.4 Sedangkan Copeland (1997) menyatakan bahwa paling
sedikit terdapat 3 atau 4 faktor yang mempengaruhi perkembangan harga dari surat‐surat berharga. Hal ini menunjukkan bahwa teori APT mendorong adanya pengembangan penelitian berdasarkan variabel atau faktor‐faktor yang diduga mempengaruhi perubahan sebuah sekuritas. Faktor‐faktor itu dapat dilihat dari kinerja fundamental perusahaan, kinerja saham di pasar, ataupun
keadaan pasar dan perekonomian.5
2. Return Saham
Return adalah keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan, individu dan institusi dari hasil kebijakan investasi yang dialakukannya. Adapun menurut R.J. Shook: 2002, return merupakan laba investasi, baik melalui
3 Zaenal Arifin, Teori Keuangan & Pasar Modal, (Yogyakarta: Ekonisa, 2007),hlm. 40. 4
Zaenal Arifin, Teori Keuangan & Pasar Modal, (Yogyakarta: Ekonisa, 2007),hlm. 42
5
Nicky Nathaniel, “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Return Saham (Studi Pada Saham-Saham Real Estate And Property Di Bursa Efek Indonesia Periode 2004-2006)”, (Semarang: Program Studi Magister Manajemen, Program Pasca Sarjana, UNDIP Semarang, 2008), hlm. 6.
bunga ataupun dividen.6 Return dibedakan menjadi dua, yaitu return realisasi (return yang terjadi atau dapat juga disebut sebagai return sesungguhnya) dan expected return (return yang belum terjadi, tetapi yang diharapkan oleh
investor akan terjadi pada masa mendatang).7
Return saham yang tinggi mengidentifikasikan bahwa saham tersebut aktif diperdagangkan. Return saham memungkinkan seorang investor untuk membandingkan keuntungan aktual ataupun keuntungan yang diharapkan yang disediakan oleh berbagai saham pada tingkatan pengembalian yang diinginkan. Disisi lain, return memiliki peran yang amat signifikan di dalam menentukan nilai dari sebuah saham. Return saham secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:
Keterangan:
R = Return sekarang Pt = harga saham sekarang Pt-1 = harga saham periode lalu
6
Irham Fahmi, Pengantar Pasar Modal, (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm. 189.
7
Najmudin, Manajemen Keuangan dan Aktualisasi Syar’iyyah Modern, (Yogyakarta: C.V Andi Offset, 2011), hlm. 130.
3. Analisis Faktor Fundamental
Analisis faktor fundamental merupakan suatu studi tentang ekonomi,
industri8, dan kondisi perusahaan untuk memperhitungkan nilai dari saham
perusahaan. Analisis fundamental menitikberatkan pada data-data kunci dalam laporan keuangan untuk memperhitungkan apakah harga saham sudah diapresiasi secara akurat.
Analisis fundamental mencoba memperkirakan harga saham di masa yang akan datang dengan mengestimasi nilai faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham di masa yang akan datang, dan menerapkan hubungan variabel-variabel tersebut sehingga diperoleh taksiran harga saham. Analisis fundamental mempelajari bisnis perusahaan dan mencoba membuka informasi baru terhadap harga saham, persaingan di antara para peneliti fundamental ini akan cenderung untuk membuat harga mencerminkan semua
informasi yang relevan dan perubahan harga tidak dapat diramalkan.9
Dalam analisis fundamental, investor akan mempelajari laporan keuangan perusahaan dengan tujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan perusahaan, mengidentifikasi kecenderungan atau pertumbuhan
8 David & Kurniawan, Manajemen Investasi, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), hlm 203. 9 Inung Adi Nugroho, “Analisis Pengaruh Informasi Fundamental Terhadap Return Saham
Studi Komparatif Pada Sub Sektor Industri Otomotif Terhadap Sub Sektor Industri Textil Sepanjang Periode Tahun 2003 Sampai Dengan Tahun 2007 Di Bursa Efek Indonesia”, ( Semarang: Program Studi Magister Manajemen Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang, 2009), hlm 13.
yang mungkin ada, mengevaluasi efisiensi operasional dan memahami sifat
dasar dan karakteristik operasional dari perusahaan tersebut. 10
Analisis faktor fundamental didasarkan pada analisis keuangan yang tercermin dalam rasio-rasio keuangan yang terdiri dari lima rasio diantaranya yaitu rasio likuiditas, rasio rentabilitas (profitabilitas), rasio solvabilitas
(solvency), rasio pasar dan rasio aktivitas.11 Dalam penelitian ini, analisis
fundamental mikro dicerminkan oleh rasio keuangan yang diproksikan oleh Earning Per Share (Rasio Profitabilitas), Debt to Equity Ratio (Rasio Solvabilitas), Price Earning Ratio (Rasio Pasar), dan Net Profit Margin (Rasio Profitabilitas).
a. Earning Per Share (EPS)
Earning Per Share atau pendapatan perlembar saham adalah bentuk pemberian keuntungan yang diberikan kepada para pemegang
saham dari setiap lembar saham yang dimiliki.12 Kenaikan earning per
share berarti perusahaan sedang dalam tahap pertumbuhan atau kondisi keuangannya sedang mengalami peningkatan dalam penjualan dan laba, atau dengan kata lain semakin besar earning per share menandakan
10 Amelia Yulian Lestari “Pengaruh Price Earning Ratio (PER) dan Earning Per Share (EPS)
Terhadap Return Saham (Studi pada Perusahaan Indeks LQ 45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia)”, (Tasikmalaya: Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi, 2011), hlm. 6.
11
Robert Ang “Buku Pintar Pasar Modal Indonesia” dalam Inung Adi Nugroho, “Analisis Pengaruh Informasi Fundamental Terhadap Return Saham Studi Komparatif Pada Sub Sektor Industri Otomotif Terhadap Sub Sektor Industri Textil Sepanjang Periode Tahun 2003 Sampai Dengan Tahun 2007 Di Bursa Efek Indonesia”, ( Semarang: Program Studi Magister Manajemen Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang, 2009), hlm. 14.
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bersih setiap
lembar saham. 13 Rasio ini secara matematis dapat dirumuskan sebagai
berikut:
b. Debt to Equity Ratio (DER)
Debt to Equity Ratio (DER) adalah rasio total hutang dengan modal sendiri, merupakan perbandingan antara total hutang dengan modal sendiri (ekuitas). Rasio ini menjelaskan proporsi besarnya sumber-sumber dalam pendanaan jangka panjang terhadap aset perusahaan. Sehingga, Semakin tinggi rasio ini mengakibatkan resiko finansial perusahaan yang semakin tinggi. Perusahaan yang memiliki resiko finansial tinggi cenderung dihindari oleh calon investor karena nilai return sahamnya
rendah.14 Rasio ini secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:
13
Desy Arista, Analisis Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Return Saham (Kasus Pada
Perusahaan Manufaktur Yang Go Public Di Bei Periode Tahun 2005 - 2009), (Semarang: Jurnal Ilmu Manajemen dan Akuntansi Terapan, Vol 3 Nomor 1, Mei 2012), hlm. 7.
14
Dedi Aji Hermawan, Pengaruh Debt To Equity Ratio, Earning Per Share Dan Net Profit Margin Terhadap Return Saham,(Semarang: Management Analysis Journal 1 (5) (2012), hlm.3.
Keterangan:
Total Debt = total utang jangka pendek dan total utang jangka
panjang.
Total Equity = total modal sendiri yang terdiri dari total modal saham disetor dan laba ditahan yang dimiliki perusahaan
c. Price Earning Ratio (PER)
Price Earning Ratio (PER) merupakan perbandingan antara harga suatu saham (price market) dengan EPS dari saham yang bersangkutan. Kegunaan dari PER ini adalah untuk melihat bagaimana pasar menghargai kinerja saham suatu perusahaan yang dicerminkan oleh EPS nya. Makin besar PER suatu saham maka menyatakan saham tersebut semakin mahal
terhadap pendapatan bersih per sahamnya. 15 Rasio ini secara matematis
dapat dirumuskan sebagai berikut:
d. Net Profit Margin (NPM)
Net Profit Margin (NPM) merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dibandingkan penjualan yang dicapai.
NPM diukur dengan pendapatan bersih perusahaan sebagai persentase dari
penjualan.16
Rasio ini menunjukkan keuntungan bersih dengan total penjulan yang diperoleh dari setiap penjualan. Penghasilan bersih menunjukkan
laba perusahaan setelah pajak.17 Secara matematis rasio ini dapat
dirumuskan sebagai berikut:
Dimana:
NIAT : Net Income After Tax (Laba bersih setelah pajak)
Net Sales : Penjualan
2. Pengungkapan Corporate Social And Responsibility (CSR)
CSR adalah komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperlihatkan tanggungjawab social perusahaan dengan menitikberatkan pada keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomi, social, dan
lingkungan.18
16
Artur J. Keown. et al. Manajemen Keuangan : prinsip dan penerapan, (Jakarta :PT INDEKS, 2011), Hlm 81.
17Bachtiar Effendi,” Analisis Pengaruh Debt to EquityRatio (DER), Return On Equity (ROE),
Return On Asset (ROA), dan Net Profit Margin (NPM) Terhadap Return Saham Pada Industri Properti dan Real Estate Yang Terdapat di Daftar Efek Syariah Priode 2010-2012”, Skripsi, STAIN Pekalongan, 2014, hlm. 56
Epstein dan Freedman menemukan bahwa investor individual tertarik terhadap informasi sosial yang diungkapkan dalam laporan keuangan perusahaan. Informasi tersebut mencakup keamanan dan kualitas produk,
etika, dan hubungan dengan karyawan dan masyarakat.Sehingga manajemen
perusahaan saat ini tidak hanya dituntut terbatas atas pengelolaan dana yang diberikan, namun juga meliputi dampak yang ditimbulkan oleh perusahaan
terhadap lingkungan alam dan sosial.19
Dari perspektif ekonomi, perusahaan akan mengungkapkan suatu informasi jika informasi tersebut akan meningkatkan nilai perusahaan. Dengan menerapkan CSR, diharapkan perusahaan akan memperoleh legitimasi sosial dan memaksimalkan kekuatan keuangannya dalam jangka panjang. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan yang menerapkan CSR mengharapkan akan direspon positif oleh para pelaku pasar. Literatur mengenai pengungkapan sukarela yang ada memberikan pemahaman bahwa pengungkapan informasi tersebut digunakan dalam penilaian perusahaan dan corporate finance.20Rumus perhitungan CSRI adalah sebagai berikut:
19Epstein dan Freedman, “Corporate Social Responsibility and Stock Market Performance”
dalam Anggraini, Fr. Reni Retno, “Pengungkapan Informasi Sosial dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan Informasi Sosial dalam Laporan Keuangan Tahunan (Studi Empiris pada Perusahaan-Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta)”, Simposium Nasional Akuntansi 9, (2006), hlm. 4.
20 Yosefa Sayekti dan Ludovicus Sensi Wondabio, “Pengaruh CSR Disclosure Terhadap
Earning Response Coefficient (Suatu Studi Empiris Pada Perusahaan yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta)”, (Makassar: Simposium Nasional Akuntansi X, UNHAS Makassar, 2007), hlm. 2.
Keterangan:
CSRI
j : Corporate Social Responsibility Disclosure Index perusahaan j
n
j : jumlah item untuk perusahaan j, nj ≤ 78
X
ij : dummy variable: 1 = jika item i diungkapkan; 0 = jika item i tidak
B. Penelitian Terdahulu
Beberapa peneliti telah melakukan penelitian yang berkaitan dengan beberapa faktor fundamental yang dihubungkan dengan prediksi return saham. Hasil dari beberapa peneliti digunakan sebagai bahan referensi dan perbandingan dalam penelitian ini.
Penelitian yang dilakukan oleh Tri Risqi Amalia (2015), dengan judul “Pengaruh Kinerja Lingkungan, Kinerja Keuangan, Pengunkapan Corporate Social Responbility (CSR) Terhadap Return Saham Pada Perusahaan-Perusahaan Yang Terdaftar Di Jakarta Islamic Index Periode 2008-2013”, dengan menggunakan alat analisis regresi linier berganda menghasilkan bahwa secara parsial dan simultan variabel independen dalam penelitian ini seperti PROPER, DER, PBV, EPS, dan CSR tidak berpengaruh terhadap return saham.
Bahtiar Effendi (2014),dalam penelitiannya “Analisis Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER), Return On Equity (ROE), Return On Asset (ROA), dan Net Profit Margin (NPM) Terhadap Return Saham Pada Industri Properti dan Real Estate Yang Terdapat di Daftar Efek Syariah Periode 2010-2012”, menyatakan bahwa baik secara parsial maupun simutan variabel DER, ROE, ROA, NPM tidak berpengaruh terhadap return saham.
Falasifah (2014) dalam penelitiannya “Analisis Pengaruh Earning Per Share (EPS), Econimic Vallue Added (EVA), Return On Investment (ROI), dan Price Earning Ratio (PER) Terhadap Return Saham Pada Perusahaan
Pertambangan Yang Terdapat di Daftar Efek Syariah (DES) Periode 2009-2013”. Dengan alat uji analisis regresi linier berganda menghasilkan simpulan bahwa EPS, EVA, ROI tidak berpengaruh terhadap return saham,dan hanya PER berpengaruh terhadap return saham.Sedangkan secara simultan variabel EPS, EVA, ROI, PER berpengaruh terhadap return saham.
Giovanni Budinalim (2013), dalam penelitiannya “Pengaruh Kinerja Keuangan dan Risiko Terhadap Return Saham Perusahaan Sektor Consumer Good di Bursa Efek Indonesia Periode 2007-2011”. Dengan menggunakan variabel independen Debt To Equity Ratio (DER), Earning Per Share (EPS), Net Profit Margin (NPM), menghasilkan bahwa CR, DER, ROA, ROE, EPS, BVPS dan Beta secara bersama-sama berpengaruh signifikan negatif terhadap return saham sektor consumer good. Secara parsial, variabel CR, DER, ROA, ROE, EPS, BVPS tidak berpengaruh terhadap return saham. Sedangkan Beta berpengaruh signifikan positif terhadap return saham sektor consumer good.
Penelitian Kurnia Adi Saputra dan Ida Bagus Putra Astika (2013), dengan
judul“Pengaruh Informasi Laba Akuntansi Dan Informasi Corporate Social And
Responsibility Pada Return Saham (Studi Pada Perusahaan Pertambangan Di BEI)”. Dengan menggunakan metode purposive sampling, mendapatkan hasil bahwa variabel Laba Akuntansi dan CSR berpengaruh positif terhadap return saham baik secara parsial maupun simultan.
Penelitian yang dilakukan oleh Dedi Aji Hermawan (2012) dengan judul penelitian “Pengaruh Debt To Equity Ratio, Earning Per Share Dan Net Profit Margin Terhadap Return Saham”. Secara parsial terdapat pengaruh negatif Debt to Equity Ratio (DER) terhadap return saham, Earning per Share (EPS) berpengaruh positif terhadap return saham, Net Profit Margin (NPM) tidak berpengaruh terhadap return saham. Sedangkan secara simultan Debt to Equity Ratio (DER), Earning per Share (EPS) dan Net Profit Margin (NPM) berpengaruh terhadap return Saham pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2008-2010.
Desy Arista dan Astohar (2012), dalam penelitiannya “Analisis Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Return Saham (Kasus Pada Perusahaan Manufaktur Yang Go Public Di BEI Periode Tahun 2005 - 2009)”. Dengan menggunaka variabel independen Return on asset (ROA), Debt To Equity Ratio (DER), Earning per share (EPS), Price to book value (PBV). Secara parsial mendapatkan hasil Return On Asset (ROA) dan Earning Per Share (EPS) tidak terbukti mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap return saham. Debt To Equity Ratio (DER) terbukti mempunyai pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap return saham. Sedangkan Price To Book Value (PBV) terbukti mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap return saham. Sedangkan secara simultan variabel ROA, DER, EPS, dan PBV berpengaruh terhadap return saham.
Rio Malintan (2011), dalam penelitian yang berjudul “Pengaruh Current Ratio (CR), Debt To Equity Ratio (DER), Price Earning Ratio (PER), Dan Return On Asset (ROA) Terhadap Return Saham Perusahaan Pertambangan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2005-2010”. Menghasilkan Variabel-variabel independen yang digunakan yaitu CR, DER, PER, dan ROA secara simultan dan parsial tidak memberikan pengaruh terhadap return saham perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2005-2010.
Tomas Setya Wahyu Budi (2011) dalam peneltiannnya yang berjudul “Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility Dan Kinerja Keuangan Perusahaan Terhadap Return Saham Perusahaan di Indeks LQ45 Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2010”. Menggunaka variabel independen NPM, ROA, EPS, PER, dan CSR dalam penelitiannya menunjukkan bahwa secara parsial CSR, ROA, EPS berpengaruh positif terhadap terhadap return saham, sedangkan NPM dan PER tidak berpengaruh secara positif terhadap return saham. Dan secara simultan CSR, ROA, EPS, NPM, PER berpengaruh positif terhadap return saham perusahaan yang terdaftar dalam Indeks LQ45 BEI periode 2008-2010.
Yeye Susilowati (2011), “Reaksi Signal Rasio Profitabilitas Dan Rasio Solvabilitas Terhadap Return Saham Perusahaan Profitability And Solvability Ratio Reaction Signal Toward Stock Return Company”. Penelitian ini menunjukkan bahwa Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh signifikan terhada
return saham . Dan Earning per Share (EPS), Net Profit Margin (NPM), Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Sedangkan secara simultan variabel DER, EPS, NPM, ROA, dan ROE berpengaruh terhadap return saham.
Nicky Nathaniel (2008), dalam penelitiannya “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Return Saham (Studi Pada Saham-Saham Real Estate And Property Di Bursa Efek Indonesia Periode 2004-2006)” menjelaskan bahwa secara parsial variabel Price to Book Value (PBV) yang berpengaruh signifikan terhadap return saham, sedangkan Debt to Equity Ratio (DER), Earning per Share (EPS) dan Net Profit Margin (NPM) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap return saham. Secara simultan, variabel DER, EPS, NPM, dan PBV berpengaruh terhadap return saham.
Tabel 2.1
Tabel Penelitian Terdahulu No Nama dan Judul
Penelitian
Variabel Penelitian
Alat Analisis Hasil Penelitian Persamaan Perbedaan
1. Tri Risqi Amalia
(2015) Pengaruh Kinerja Lingkungan, Kinerja Keuangan, Pengunkapan Corporate Social Responbility (CSR) Terhadap Return Saham Pada Perusahaan-Perusahaan Yang Terdaftar Di Jakarta Islamic Index Periode 2008-2013 Variabel Dependen: Return Saham variabel Independen: PROPER DER PBV EPS CSR Analisis Regresi Linier Berganda
Secara parsial dan
simultan variabel
independen dalam
penelitian ini seperti PROPER, DER, PBV, EPS, dan CSR tidak berpengaruh terhadap return saham.
- Menggunakan alat analisis yang sama yaitu regresi linier berganada. - Menggunakan studi kasus yang sama yaitu JII. - Sama-sama menggunakan return saham sebagai variabel dependennya. - Menggunakan 3 variabel independen yang sama, yaitu DER, EPS, dan CSR. - Periode tahun penelitian yang digunakan berbeda, yaitu 2010-1014. - Objek penilitian hanya pada perusahaan sektor properti di JII. - 2 variabel independen yang berbeda, yaitu PER dan NPM
2. Bahtiar Effendi
(2014)
Analisis Pengaruh Debt to Equity Ratio
Variabel Dependen : Return Saham Variabel Independen: - Debt to Equity Analisis Regresi Linier Berganda
Baik secara parsial maupun simutan variabel DER, ROE, ROA, NPM tidak berpengaruh terhadap - Sama-sama menggunakan saham perusahaan properti. - Menggunakan - Menggunakan saham yang terdapat di JII - Periode tahun penelitian yang
(DER), Return On Equity (ROE), Return On Asset (ROA), dan Net Profit Margin (NPM) Terhadap Return Saham Pada Industri Properti dan Real Estate Yang Terdapat di Daftar Efek Syariah Periode 2010-2012 Ratio (DER) - Return On Equity (ROE) - Return On Asset (ROA)
- Net Profit Margin (NPM)
return saham. alat anlisis yang sama yaitu regresi berganda. -Sama-sama menggunakan return saham sebagai variabel dependennya. - Menggunakan 2 variabel independen yang sama, yaitu DER dan NPM. digunakan berbeda, yaitu 2010-2014. - Variabel yang berbeda yaitu PER,EPS dan CSR. 3. Falasifah (2014) Analisis Pengaruh Earning Per Share (EPS), Econimic Vallue Added (EVA), Return On Investment (ROI), dan Price Earning Ratio (PER) Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Pertambangan Yang Terdapat di Daftar Variabel Dependen: Return Saham Variabel Independen:
- Earning Per Share (EPS) - Econimic Vallue Added (EVA) - Return On Investment (ROI) - Price Earning Ratio (PER) Analisis Regresi Linier Berganda
o EPS, EVA, ROI tidak berpengaruh terhadap return saham.
o PER berpengaruh terhadap return saham. o Secara simultan
variabel EPS, EVA, ROI, PER
berpengaruh terhadap return saham.
Menggunakan alat anlisis yang sama yaitu regresi linier berganda. Sama-sama menggunakan return saham sebagai variabel dependennya. 2 variabel independen yang sama yaitu EPS dan PER.
- Studi kasus pada perusahaan property yang terdapat di JII. - Periode tahun penelitian yang digunakan 2010-2014. - 3 variabel independen yang berbeda, yaitu DER, NPM, dan CSR.
Efek Syariah (DES) Periode 2009-2013 4. Giovanni Budinalim (2013) Pengaruh Kinerja Keuangan dan Risiko Terhadap Return Saham Perusahaan Sektor Consumer Good di Bursa Efek Indonesia Periode 2007-2011 Variabel Dependen: Return Saham Variabel Independen: - Current Ratio (CR) - Debt to Equity Ratio (DER) - Return On Asset (ROA) - Return On Equity (ROE)
- Earning Per Share (EPS)
- Book Value Per Share (BVPS) - Risiko Regresi Linier Berganda o CR, DER, ROA, ROE, EPS, BVPS tidak berpengaruh signifikan negatif terhadap return saham sektor consumer good. o Beta berpengaruh
signifikan positif terhadap return saham sektor consumer good. o Secara simultan
variabel-variabel independen
berpengaruh terhadap return saham sektor consumer good.
Menggunakan Alat analisis yang sama yaitu regresi linier berganda. Menggunakan
variabel dependen yang sama yaitu return saham. Variabel
independen yang sama yaitu DER, dan EPS. Studi kasus penelitian ini pada perusahaan sektor property yang terdapat di JII. Periode penelitian pada tahun 2010-2014. 3 variael independen yang berbeda, yakni PER, NPM, dan CSR.
5. Kurnia Adi Saputra
dan Ida Bagus Putra Astika (2013) Pengaruh Informasi Laba Akuntansi Dan Informasi Corporate Social And
Responsibility Pada Return Saham(Studi
Variabel Dependen: Return Saham Variabel Independen: - Laba akuntansi - CSR Regresi Linear Berganda Variabel Laba Akuntansi dan CSR berpengaruh positif terhadap return saham baik secara parsial maupun simultan.
Menggunakan alat analisis yang sama yaitu regresi linier berganda. Sama- sama menggunakan metode purposive sampling untuk menentukan sample penelitian. Studi kasus penilitian ini pada perusahaan properti yang trdaftar di JII. Periode penelitian tahun 2010-2014.
Pada Perusahaan Pertambangan Di BEI) Variabel independen yang sama yaitu CSR.
6. Dedi Aji Hermawan
(2012)
Pengaruh Debt To Equity Ratio, Earning Per Share Dan Net Profit Margin Terhadap Return Saham Variabel Dependen: Return Saham Variabel Independen: - Debt To Equity Ratio (DER) - Earning Per Share (EPS) - Net Profit Margin (NPM) Regresi Linear Berganda
Secara parsial terdapat pengaruh negatif DER terhadap return saham. Terdapat pengaruh
positif EPS terhadap return saham. Tidak terdapat
pengaruh NPM
terhadap return saham. Secara simultan DER,
EPS dan NPM
berpengaruh terhadap return Saham.
Menggunakan alat analisis yang sama yaitu regresi linier berganda. Variabel dependen yang dipakai memiliki kesamaan yaitu return saham Studi kasus penelitian ini pada perusahaan sektor property yang terdapat di JII. Periode penelitian pada tahun 2010-2014. Variabel independen yang berbeda yaitu PER dan CSR.
7. Desy Arista dan
Astohar (2012) Analisis Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Return Saham (Kasus Pada Perusahaan Manufaktur Yang Go Public Di BEI Periode Tahun 2005 Variabel Dependen: Return Saham Variabel Independen: - Return on asset (ROA) - Debt To Equity Ratio (DER) - Earning per share (EPS) - Price to book value (PBV) Regresi Berganda
o ROA dan EPS tidak terbukti mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan
terhadap return saham o DER terbukti
mempunyai pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap return saham. o PBV terbukti mempunyai pengaruh Variabel dependen yang dipakai memiliki kesamaan yaitu return saham Variabel independen yang sama yaitu DER dan EPS. Objek penelitian pada perusahaan property di JII. Periode penelitian tahun 2010-2014 Variael independen yang berbeda, yakni PER, NPM, dan CSR.
- 2009) yang positif dan signifikan terhadap return saham. 8. Rio Malintan (2011) Pengaruh Current Ratio (CR), Debt To Equity Ratio (DER), Price Earning Ratio (PER), Dan Return On Asset (ROA) Terhadap Return Saham Perusahaan Pertambangan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2005-2010 Variabel Dependen: Return Saham Variabel Independen: - Current Ratio (CR) - Debt To Equity Ratio (DER) - Price Earning Ratio (PER) - Dan Return On Asset (ROA) regresi linier berganda Variabel CR, DER, PER, dan ROA secara parsial dan simultan tidak memberikan pengaruh terhadap return saham perusahaan
pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2005-2010.
Menggunakan Alat anlaisis yang sama yaitu regresi linier berganda. Penelitian ini
menggunakan variabel dependen yang sama yaitu return saham. Variabel
independen yang sama yaitu DER, dan PER. Menggunakan variabel independen yang berbeda yaitu EPS, NPM dan CSR.
Studi kasus pada perusahaan properti di JII. Periode penelitian tahun 2010-2014. Variabel independen yang berbeda yaitu EPS, NPM, dan CSR.
9. Tomas Setya Wahyu
Budi (2011) Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility Dan Kinerja Keuangan Variabel Dependen: Return Saham Variabel Independen: - NPM - ROA - EPS - PER Regresi Linier Berganda CSR, ROA, EPS berpengaruh secara positif terhadap terhadap return saham.
NPM dan PER tidak berpengaruh secara positif terhadap
Menggunakan Alat anlaisis yang sama yaitu regresi linier berganda.
Penelitian ini
menggunakan variabel dependen yang sama yaitu
Objek penelitian ini adalah perusahaan properti di JII. Periode penelitian tahun 2010-2014. Variabel
Perusahaan Terhadap Return Saham Perusahaan di Indeks LQ45 Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2010 - CSR return saham. Secara simultan berpengaruh positif terhadap return saham. return saham Menggunakan variabel independen yang sama yaitu NPM, EPS, PER, CSR. independen yang berbeda yaitu DER. 10. Yeye Susilowati (2011)
Reaksi Signal Rasio Profitabilitas Dan Rasio Solvabilitas Terhadap Return Saham Perusahaan Profitability And Solvability Ratio Reaction Signal Toward Stock Return Company Variabel Dependen: Return Saham Variabel Independen: - Debt to Equity Ratio (DER) - Earning per Share (EPS) - Net Profit Margin
(NPM) - Return on Asset (ROA) - Return on Equity (ROE) Analisis regresi berganda DER berpengaruh signifikan terhada return saham . Dan EPS, NPM, ROA dan ROE tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham.
Menggunakan Alat anlaisis yang sama yaitu regresi linier berganda. Menggunakan variabel dependen yang sama yaitu return saham. Varibel independen yang sama yaitu DER, EPS, dan NPM. Objek penelitian pada perusahaan properti yang terdaftar di JII. Periode penelitian tahun 2010-2014. Variabel independen yang berbeda yaitu PER dan CSR. 11. Nicky Nathaniel (2008), “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Return Saham (Studi Pada Saham-Saham Variabel Dependen: Return Saham Variabel Independen: - Debt to Equity Ratio (DER) - Earning per Share (EPS) Analisis regresi berganda
Secara parsial hanya variabel PBV yang berpengaruh terhadap return saham.
Secara simultan variabel DER, EPS, NPM, PBV bersama-sama berpengaruh
Menggunakan Alat anlaisis yang sama yaitu regresi linier berganda. Menggunakan variabel dependen yang Objek penelitian pada perusahaan properti yang terdaftar di JII. Periode penelitian tahun 2010-2014. Variabel
Real Estate And Property Di Bursa Efek Indonesia Periode 2004-2006)”
- Net Profit Margin (NPM)
- Price to book value (PBV)
terhadap return saham. sama yaitu
return saham. Varibel
independen yang sama yaitu DER, EPS, dan NPM. Menggunakan
objek penelitian yang sama yaitu perusahaan properti.
independen yang berbeda yaitu PER dan CSR.
C. Signifikansi Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang berada pada posisi melanjutkan dari penelitian-penelitian terdahulu. Seperti yang diuraikan beberapa penelitian terdahulu diatas, peneliti mancoba untuk membuat penelitian dengan variabel dependen yang sama dengan berbagai perbedaan seperti variabel independen yang digunakan, data yang digunakan serta tahun penelitian yang dibuat lebih baru.
D. Kerangka Berpikir
Hubungan antar variabel terhadap Return Saham
1) Pengaruh Earning Per Share (EPS) terhadap Return Saham
EPS merupakan perbandingan antara laba bersih setelah pajak pada
satu tahun buku dengan jumlah saham yang diterbitkan.21 Kenaikan EPS
berarti perusahaan sedang dalam tahap pertumbuhan atau kondisi keuangannya sedang mengalami peningkatan dalam penjualan dan laba, atau dengan kata lain semakin besar EPS menandakan kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan keuntungan bersih setiap lembar saham. 22 Oleh karena
itu EPS sangat lah penting, karena salah satu indikator keberhasilan suatu perusahaan ditunjukkan oleh besarnya Earning per Share (EPS) dari perusahaan yang bersangkutan. Dari konsep tersebut dimungkinkan adanya
21
Robert Ang, Buku Pintar Pasar Modal Indonesia, (Jakarta: Mediasoft Indonesia, 1997), hlm. 622.
22
Desy Arista, “Analisis Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Return Saham (Kasus Pada Perusahaan Manufaktur Yang Go Public Di Bei Periode Tahun 2005 - 2009)”, (Semarang: Jurnal Ilmu Manajemen dan Akuntansi Terapan, Vol 3 Nomor 1, Mei 2012), hlm. 7.
pengaruh EPS terhadap return saham. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Nicky (2008), Dedi (2012) dan Tomas (2011) yang mengemukakan bahwa rasio EPS berpengaruh terhadap return saham. Berdasarkan uraian diatas maka dapat diajukan hipotesis:
H1 = Rasio Earning Per Share (EPS) berpengaruh terhadap Return Saham 2) Pengaruh Debt To Equity Ratio (DER) Terhadap Return Saham
Ang menyatakan semakin besar nilai Debt to Equity Ratio (DER) menandakan bahwa struktur permodalan usaha lebih banyak memanfaatkan hutang‐hutang relatif terhadap ekuitas. Semakin tinggi Debt to Equity Ratio (DER) mencerminkan risiko perusahaan yang relatif tinggi, akibatnya para investor cenderung menghindari saham‐saham yang memiliki nilai Debt to Equity Ratio (DER) yang tinggi.23
Penggunaan dana dari pihak luar akan dapat menimbulkan 2 dampak, yaitu: dampak baik dengan meningkatkan kedisiplinan manajemen dalam pengelolaan dana serta dampak buruk, yaitu: munculnya biaya agensi dan masalah asimetri informasi. Peningkatan beban terhadap kreditur akan menunjukkan sumber modal perusahaan sangat tergantung dari pihak
23 Robert Ang, “Buku Pintar Pasar Modal Indonesia” dalam
Nicky Nathaniel, “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Return Saham (Studi Pada Saham-Saham Real Estate And Property Di Bursa Efek Indonesia Periode 2004-2006)”, (Semarang: Program Studi Magister Manajemen Program Pasca Sarjana Universita Diponegoro Semarang, 2008), hlm. 14
eksternal, sehingga mengurangi minat investor dalam menanamkan dananya
di perusahaan yang bersangkutan.24
Tingkat Debt to Equity Ratio (DER) yang tinggi menunjukkan komposisi total hutang (hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang) semakin besar, apabila dibandingkan dengan total modal sendiri. Sehingga hal ini akan berdampak pada semakin besar pula beban perusahaan terhadap pihak eksternal (para kreditur). Dari konsep tersebut dimungkinkan adanya pengaruh DER terhadap return saham. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Nicky (2008), Ratna (2009) dan Yeye (2011) yang mengemukakan bahwa rasio DER berpengaruh terhadap return saham. Berdasarkan uraian diatas maka dapat diajukan hipotesis:
H2 = Rasio Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap Return Saham 3) Pengaruh Price Earning Ratio (PER) Terhadap Return Saham
Sulaiman dan Handi menjelaskan bahwa PER digunakan oleh para investor untuk memprediksi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba di masa yang akan datang. Perusahaan yang memiliki PER yang tinggi biasanya memiliki peluang tingkat pertumbuhan yang tinggi, begitu juga sebaliknya perusahaan yang memiliki PER yang rendah biasanya memiliki
24
Ratna Prihantini, “Analisis Pengaruh Inflasi, Nilai Tukar, ROA, DER dan CR Terhadap
Return Saham (Studi Kasus Saham Industri Real Estate And Property Yang Terdaftar Di Bursa Efek
Indonesia Periode 2003 – 2006), (Semarang: Program Studi Magister Manajemen Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro Semarang, 2009), hlm. 59.
tingkat pertumbuhan yang rendah.25 Semakin tinggi PER menunjukkan prospektus harga saham dinilai semakin tinggi oleh investor terhadap pendapatan per lembar sahamnya, sehingga PER yang semakin tinggi juga menunjukkan semakin mahal saham tersebut terhadap pendapatannya. Dapat disimpulkan bahwa PER yang tinggi akan mengakibatkan return saham naik. Hal ini berarti PER berpengaruh terhadap return saham. Kesimpulan tersebut didukung oleh hasil penelitian dari Rio (2011) yang menyatakan bahwa PER berpengaruh terhadap return saham. Berdasarkan uraian diatas maka diajukan hipotesis sebagai berikut:
H3 = Price Earning Ratio (PER) berpengaruh terhadap return saham 4) Pengaruh Net Profit Margin (NPM) terhadap Return Saham
NPM merupakan perbandingan antara laba setelah pajak (EAT) dengan penjualan. NPM termasuk dalam salah satu rasio profitabilitas. Rasio ini digunakan untuk mengukur rupiah laba yang dihasilkan oleh setiap penjualan. Rasio ini memberikan gambaran tentang laba untuk para pemegang
saham sebagai prosentase dari penjualan.26
25 Sulaiman dan Handi “Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham Pada
Perusahaan Manufaktur di BEJ ”, dalam Rio Malintan, “Pengaruh Current Ratio (CR), Debt To Equity
Ratio (DER), Price Earning Ratio (PER), dan Return On Asset (ROA) Terhadap Return Saham
Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2005-2010”,Jurusan AkuntansiFakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya, 2011, hlm 7.
26
Yeye Susilowati, “Reaksi Signal Rasio Profitabilitas Dan Rasio Solvabilitas Terhadap
Return Saham Perusahaan Profitability And Solvability Ratio Reaction Signal Toward Stock Return Company”, (Semarang: Program Studi Akuntansi Universitas Stikubank Semarang, 2011), hlm. 24.
NPM yang tinggi memberikan sinyal akan keberhasilan perusahaan dalam mengemban misi dari pemiliknya. Perusahaan yang mampu menghasilkan keuntungan akan mempengaruhi investor maupun calon investor untuk melakukan investasi. Investor akan bersedia membeli saham dengan harga lebih tinggi apabila memperkirakan tingkat NPM perusahaan naik, dan sebaliknya investor tidak bersedia membeli saham dengan harga
tinggi apabila nilai NPM perusahaan rendah.27 NPM perusahaan yang
meningkat akan menyebabkan investor memburu suatu saham perusahaan akibatnya return perusahaan tersebut akan meningkat pula. Dapat disimpulkan bahwa NPM yang tinggi akan mengakibatkan return saham naik. Hal ini berarti NPM berpengaruh positif terhadap return saham.
Dari konsep tersebut dimungkinkan adanya pengaruh NPM terhadap return saham. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Nicky (2008), yang mengemukakan bahwa rasio NPM berpengaruh terhadap return saham. Berdasarkan uraian diatas maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
H4 = Net Profit Margin (NPM) berpengaruh terhadap Return Saham
27
Bachtiar Effendi, “Analisis Pengaruh Debt to EquityRatio (DER), Return On Equity (ROE), Return On Asset (ROA), dan Net Profit Margin (NPM) Terhadap Return Saham Pada Industri Properti dan Real Estate Yang Terdapat di Daftar Efek Syariah Priode 2010-2012”, (Pekalongan: STAIN Pekalongan, 2014), hlm. 25.
5) Pengaruh Corporate Social And Responsibility (CSR) Terhadap Return Saham
Pengungkapan aktivitas perusahaan yang berkaitan dengan CSR merupakan salah satu cara untuk mengirimkan signal positif kepada stakeholders dan pasar bahwa perusahaan memiliki perhatian khusus atas
keberlangsungan perusahaan di masa yang akan datang.28
Menurut Sayekti, dari perspektif ekonomi, perusahaan akan mengungkapkan suatu informasi jika informasi tersebut akan meningkatkan nilai perusahaan. Dengan menerapkan CSR, diharapkan perusahaan akan memperoleh legitimasi sosial dan memaksimalkan kekuatan keuangannya dalam jangka panjang. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan yang menerapkan CSR mengharapkan akan direspon positif oleh para pelaku pasar. Literatur mengenai pengungkapan sukarela yang ada memberikan pemahaman bahwa pengungkapan informasi tersebut digunakan dalam
penilaian perusahaan dan corporate finance.29
Dari konsep tersebut dimungkinkan adanya pengaruh CSR terhadap return saham. Hal ini didukung oleh penelitian Thomas (2011) yang menyatakan bahwa CSR berpengaruh secara positif terhadap terhadap return
28 Kurnia Adi dan Ida Bagus Putra Astika Saputra, “Pengaruh Informasi Laba Akuntansi dan
Informasi Corporate Social And Responsibility pada Return Saham (Studi Pada Perusahaan Pertambangan di BEI”, (ISSN: 2302-8556 E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana Bandung 3.2 (2013), hlm. 411.
29 Yosefa Sayekti dan Ludovicus Sensi Wondabio, “Pengaruh CSR Disclosure Terhadap
Earning Response Coefficient (Suatu Studi Empiris Pada Perusahaan yang Terdaftar Di Bursa Efek
saham perusahaan yang terdaftar dalam Indeks LQ45 BEI periode 2008-2010. Penelitian lain dari Kurnia (2013) yang juga menyatakan bahwa CSR berpengaruh positif terhadap return saham.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
H5 = Corporate Social And Responsibility (CSR) berpengaruh terhadap Return Saham
6) EPS, DER, PER, NPM, CSR Terhadap Return Saham
Dalam berinvestasi, para calon investor tidak hanya melihat laba yang dihasilkan perusahaan, akan tetapi bagimana perusahaan dalam mengelola kinerja keuangannya juga menjadi pertimbangan apakah investor akan menanamkan modalnya atau tidak. Selain itu, juga melihat bagaimana kepedulian perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
Pengaruh variabel independen terhadap return saham dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menunjukkan tingkat sensitifitas fluktuasi dari masing-masing variabel independen (EPS, DER, PER, NPM dan CSR) terhadap return saham. Hal ini disebabkan oleh kepekaan suatu kelompok industri terhadap pasar bisa berbeda-beda terutama dalam tingkat profitabilitas, sovabilitas, likuiditas, aktivitas, peluang berkembang dan
prospek di masa depan.30
30
Suad Husnan, ”Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Manufaktur di BEJ” dalam Inung Adi Nugroho, 2009, “Analisis Pengaruh Informasi Fundamental
Perbedaan pengaruh informasi fundamental terhadap return saham bisa berbeda-beda, melalui analisis rasio keuangan dan rasio akuntansi di dalam sebuah perusahaan akan diketahui bahwa tingkat pengembalian saham (return saham) pada perusahaan tersebut akan berbeda-beda, hal inilah yang menyebabkan terjadinya fluktuasi tingkat pengembalian saham (return saham) pada setiap perusahaan.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
H6 = EPS, DER, PER, NPM, dan CSR beerpengaruh terhadap return
saham
Terhadap Return Saham”, Program Studi Magister Manajemen,Program Pascasarjana,Universitas Diponegoro Semarang, hlm 39.
31
Berdasarkan telaah pustaka dan hipotesis yang dikembangkan diatas maka dapat dikembangkan sebuah kerangka pemikiran teoritis yang disajikan pada Gambar 2.1 sebagai berikut:
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir
E. Hipotesis
X3
Corporate Social And Responsibility (CSR) Net Profit Margin (NPM) Price Earning Ratio (PER) Debt To Equity Return (DER)
Earning Per Share (EPS)
X5 X4 X2 X1
Return Saham (Y)
X6 X3
Corporate Social And Responsibility (CSR) (X5) Net Profit Margin (NPM) (X4)
Price Earning Ratio (PER) (X3)
Debt To Equity Return (DER) (X2)
Earning Per Share (EPS) (X1)
X5 X4 X2 X1
Return Saham (Y) X3
Corporate Social And Responsibility (CSR) (X5) Net Profit Margin (NPM) (X4)
Price Earning Ratio (PER) (X3)
Debt To Equity Return (DER) (X2)
Earning Per Share (EPS) (X1)
Earning Per Share (EPS) (X1)
X1 Debt To Equity Return
(DER) (X2)
X2
X6 X5 X4
X3 Return Saham (Y)
Price Earning Ratio (PER) (X3)
Net Profit Margin (NPM) (X4)
Corporate Social And Responsibility (CSR) (X5)
32
Berdasarkan uraian pada kerangka berpikir diatas, maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
a. H0 : Earning Per Share (EPS) tidak berpengaruh terhadap Return Saham
Ha : Earning Per Share (EPS) berpengaruh terhadap Return Saham
b. H0 : Debt To Equity Return (DER) tidak berpengaruh terhadap Return
Saham
Ha : Debt To Equity Return (DER) berpengaruh terhadap Return Saham
c. H0 : Price Earning Ratio (PER) tidak berpengaruh terhadap Return Saham
Ha : Price Earning Ratio (PER) berpengaruh terhadap Return Saham
d. H0 : Net Profit Margin (NPM) tidak berpengaruh terhadap Return Saham
Ha : Net Profit Margin (NPM) berpengaruh terhadap Return Saham
e. H0 : Corporate Social And Responsibility (CSR) tidak berpengaruh
terhadap Return Saham
Ha : Corporate Social And Responsibility (CSR) berpengaruh terhadap
Return Saham
f. H0 : Earning Per Share (EPS), Debt To Equity Return (DER), Price
Earning Ratio (PER), Net Profit Margin (NPM), dan Corporate Social And Responsibility (CSR) tidak berpengaruh terhadap Return Saham
Ha : Earning Per Share (EPS), Debt To Equity Return (DER), Price Earning
Ratio (PER), Net Profit Margin (NPM), dan Corporate Social And Responsibility