• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KETERSEDIAAN BAHAN ORGANIK PADA. DAYA PREDASI Mesocyclops aspericornis. TERHADAP LARVA Aedes aegypti SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH KETERSEDIAAN BAHAN ORGANIK PADA. DAYA PREDASI Mesocyclops aspericornis. TERHADAP LARVA Aedes aegypti SKRIPSI"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

DAYA PREDASI Mesocyclops aspericornis

TERHADAP LARVA Aedes aegypti

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Persyaratan

Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

AMANDA ARTA M. SIMANJUNTAK

G0008196

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Surakarta

2011

(2)

commit to user

vii

PRAKATA ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... ... 4

D. Manfaat Penelitian ... ... 5

BAB II. LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka ... ... 6

1. Aedes aegypti ... 6

a. Klasifikasi ... 6

b. Morfologi ... 7

c. Sifat hidup larva ... 8

(3)

commit to user

viii

a. Klasifikasi ... 12

b. Morfologi ... 12

c. Daur Hidup dan Habitat ... 13

d. Perilaku ... 15

4. Peranan Mesocyclops aspericornis sebagai Pengendali Hayati Larva 16

B. Kerangka Pemikiran ... ... 17

C. Hipotesis ... ... 17

BAB III. METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian ... 18

B. Lokasi Penelitian ... 18

C. Objek Penelitian ... ……... 18

D. Teknik Sampling ... ... ……. 18

E. Identifikasi Variabel ... ………… 18

F. Definisi Operasional Variabel ... ... 19

G. Alat dan Bahan ... ... 20

H. Rancangan Penelitian ... ... 21

I. Cara Kerja... ... 22

J. Teknik Analisis Data Statistik ... 24

BAB IV. HASIL PENELITIAN ... ……… 25

(4)

commit to user

ix

A. Simpulan ... ... 32

B. Saran ... ... 32

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(5)

commit to user

iv

ABSTRAK

Amanda Arta M. Simanjuntak, G0008196, 2011. Pengaruh Ketersediaan Bahan

Organik pada Daya Predasi Mesocyclops aspericornis terhadap Larva Aedes aegypti.

Skripsi Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh

ketersediaan bahan organik pada daya predasi Mesocyclops aspericornis terhadap

Larva Aedes aegypti.

Metode Penelitian: Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik dengan metode

post-test only control group design, dilakukan di Balai Besar Penelitian dan

Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP), Salatiga, Jawa Tengah

pada bulan Agustus 2011. Objek penelitian larva Aedes aegypti instar I dan II. Objek

penelitian dibagi menjadi 8 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 23 larva.

Teknik sampling yang digunakan adalah random sampling. Mesocyclops aspericornis

terlebih dahulu dipuasakan selama satu hari dan dipelihara dalam rendaman bahan

organik selama 3 hari, setelah itu baru dimasukkan larva Aedes aegypti. Pelihara

selama 2 hari. Pengamatan dilakukan pada jam pertama, kedua, keempat, kedelapan,

kedua puluh empat, dan keempat puluh delapan. Pengamatan dilakukan sebanyak 3

kali ulangan.

Hasil Penelitian: Hasil perhitungan uji statistik Anova dengan p = 0,048 (p<0,05)

menunjukkan ada perbedaan signifikan pada jumlah larva Aedes aegypti yang tersisa

pada kadar bahan organik I, II, II, dan IV. Hasil uji Post-Hoc antara kadar IV dengan

kadar yang lain menunjukkan nilai p < 0,05 menunjukkan bahwa kadar IV memiliki

perbedaan paling signifikan dibanding kadar lain.

Simpulan Penelitian: Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ketersediaan

bahan organik secara statistik berpengaruh pada daya predasi Mesocyclops

aspericornis terhadap larva Aedes aegypti. Ketersediaan bahan organik kadar tinggi

justru menurunkan daya predasi Mesocylops aspericornis terhadap larva Aedes

aegypti.

(6)

commit to user

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang

menjadi fokus utama kesehatan internasional. Insidensi virus Dengue telah

berkembang pesat di seluruh dunia akhir- akhir ini. Dua setengah milyar

orang, yaitu dua perlima dari populasi dunia sekarang berisiko terkena virus

Dengue. World Health Organization memperkirakan ada kurang lebih lima

puluh juta infeksi Dengue setiap tahunnya di dunia (WHO, 2009).

Demam Berdarah Dengue juga merupakan penyakit endemis di

Indonesia. Pada tahun 2010 telah dilaporkan sebanyak 2.603 kasus dengan

kematian 35 orang di 12 Provinsi yakni : Bangka Belitung, Lampung, Banten,

Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan

Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo,

dan Nusa Tenggara Timur (Ditjen PP & PL, 2010).

Penanggulangan DBD seperti juga penyakit menular lain, dapat

didasarkan atas pemutusan rantai penularan, dalam hal DBD ini komponen

penularan terdiri dari virus Dengue, Aedes aegypti, dan manusia penderitanya.

Manfaat penanggulangan penyakit DBD adalah pengurangan kesakitan,

kematian, serta penderitaan individu dan keluarganya. Namun karena sampai

(7)

commit to user

sekarang belum ditemukan obat/vaksinnya, maka salah satu penanggulangan

penyakit DBD adalah dengan cara pencegahan penularannya, yaitu dengan

memberantas vektornya. Pemberantasan vektor DBD stadium pradewasa

relatif lebih mudah daripada stadium dewasanya. Pemberantasan stadium

dewasa Aedes aegypti dapat dilakukan secara hayati atau kimiawi. Upaya

secara kimiawi menggunakan insektisida, semakin lama justru menimbulkan

resistensi nyamuk vektor. Jika dosis insektisida terus-menerus ditingkatkan,

pada suatu saat akan membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan.

WHO (1987) melaporkan bahwa di Karibia dan sekitarnya, jentik Aedes

aegypti telah resisten terhadap Malathion, Fenitrothion, Fenthion, dan

Temephos yang digunakan secara luas sejak tahun 1973. Melihat adanya

resistensi pemakaian larvasida kimia yang dimasukkan ke dalam tempat

penampungan air, termasuk air minum perlu mendapatkan perhatian yang

seksama. Alternatif lain yang lebih berwawasan lingkungan perlu

dipertimbangkan untuk mengendalikan vektor penyakit. Salah satu cara yang

banyak diteliti dan dikembangkan adalah penggunaan predator jentik nyamuk

dalam upaya pengendalian vektor secara hayati (Yuniarti & Widyastuti,

2000).

Mesocyclops adalah Cyclopoid Copepoda, dilaporkan sebagai

predator jentik Aedes dan jentik nyamuk dari genus atau spesies lain.

(8)

commit to user

Mesocyclops dapat bertahan hidup selama dalam penampungan air asalkan

ada air dan suplai makanan (Marten, 1989).

Mesocyclops aspericornis merupakan salah satu jasad hayati yang

terbukti efektif sebagai vektor kontrol yang digunakan untuk pengendalian

jentik nyamuk malaria dan demam berdarah. Mesocyclops aspericornis

memiliki tingkat predasi dan reproduksi yang tinggi dan mampu memakan

berbagai macam organisme seperti: Algae, Rotifera, Copepoda yang lain,

Protozoa, Chironomid, Oligochaeta, larva ikan, dan beberapa organisme

akuatik yang lain (Williamson, 1991).

Mesocyclops aspericornis merupakan spesies Copepoda yang hidup

bebas dan tersebar luas di danau air tawar, reservoir, parit, kolam, lubang

pohon, sumur dan liang/lubang kepiting. Menurut Williamson (1991)

Copepoda juga ditemukan berlimpah pada rawa, tanah basah, air payau,

empang, genangan air, dan beberapa spesies Copepoda dapat hidup pada celah

atau di bawah sistem permukaan tanah.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Yuniarti (1997) mengenai

daya predasi dan reproduksi Mesocyclops aspericornis dilaporkan bahwa

Mesocyclops aspericornis memiliki kemampuan makan terhadap jentik

nyamuk Aedes aegypti pada tempat penampungan air (air ledeng) berkisar

antara 77,77 - 99,34 % dan pada air sumur berkisar antara 97,32 – 100 %

(9)

commit to user

sedangkan reproduksi Mesocyclops aspericornis tertinggi terdapat pada

rendaman tinja marmut (97,59 ekor).

Oleh karena hal tersebut di atas, penulis berkeinginan untuk

mengendalikan faktor yang mempengaruhi daya predasi Mesocyclops

aspericornis, di antaranya adalah ketersediaan bahan organik seperti kondisi

di alam. Dalam penelitian kali ini penulis akan menggunakan media rendaman

kangkung dan rendaman tinja kelinci dalam berbagai kadar selama beberapa

hari untuk mengetahui efeknya pada daya predasi.

B. Rumusan Masalah

Apakah pengaruh ketersediaan bahan organik pada daya predasi

Mesocyclops aspericornis terhadap larva Aedes aegypti?

C. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pengaruh ketersediaan bahan organik pada daya

predasi Mesocyclops aspericornis terhadap larva Aedes aegypti.

D. Manfaat Penelitian

1. Teoritik :

Memperluas pengetahuan tentang pemberantasan vektor, khususnya

secara hayati dengan menggunakan Mesocyclops aspericornis.

(10)

commit to user

2. Praktis :

Mesocyclops aspericornis diharapkan dapat sebagai salah satu alternatif

pemberantasan vektor nyamuk Aedes aegypti sehingga dapat digunakan

dalam kehidupan sehari-hari di lapangan dan supaya dapat diketahui

media optimal untuk mengembangkan daya predasi Mesocyclops

(11)

commit to user

6

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Aedes aegypti

a. Klasifikasi

Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Subfilum

: Aceloturata

Kelas

: Insecta

Ordo

: Diptera

Famili

: Culicidae

Genus

: Aedes

Subgenus

: Stegomyia

Spesies

: Aedes aegypti

(12)

commit to user

b. Morfologi

Aedes yang berperan sebagai vektor penyakit semuanya tergolong

Stegomyia dengan ciri-ciri tubuh bercorak belang hitam putih pada dada,

perut, dan tungkai. Corak ini merupakan sisi yang menempel di luar tubuh

nyamuk. Corak putih pada dorsal dada nyamuk berbentuk seperti siku yang

berhadapan (Fitriasih, 2008).

Telur Aedes berukuran kecil (± 50 mikron), berwarna hitam, sepintas

tampak bulat panjang dan berbentuk oval menyerupai torpedo, di bawah

mikroskop, pada dinding luar (exochorion) telur nyamuk ini, tampak ada

garis-garis yang membentuk gambaran menyerupai sarang lebah. Larva Aedes

aegypti berbentuk lonjong, tampak seperti anyaman kasa pada dindingnya.

Larva Aedes aegypti mempunyai sifon panjang dan bulunya satu pasang, sisir

bergigi lateral, pelana tidak menutupi segmen anal (Juni Prianto, 1999).

1) Daur Hidup dan Habitat

Perkembangan Aedes aegypti melalui berbagai perubahan bentuk

(metamorphosis) : telur – jentik (larva) – kepompong (pupa) – nyamuk.

Perkembangan dari telur menjadi jentik memerlukan 2 – 3 hari, dari jentik

menjadi kepompong rata- rata 4 – 9 hari, dan dari kepompong sampai

menetas menjadi nyamuk diperlukan waktu 7 – 14 hari (Hardjanto, 2009).

Nyamuk Aedes aegypti, seperti halnya Culicines lain, meletakan

telur pada permukaan air bersih secara individual. Setiap hari nyamuk

(13)

commit to user

Aedes betina dapat bertelur rata-rata 100 butir. Telur membutuhkan

waktu satu sampai dua hari untuk menjadi larva (Pandujati, 2009).

Larva ini terbagi menjadi 4 stadium sebelum tumbuh menjadi

pupa (Hoedojo, 1993). Stadium larva biasanya berlangsung 6 - 8 hari

(Depkes RI, 1992). Dari stadium larva akan berubah menjadi pupa. Pupa

ini tidak makan tapi masih memerlukan oksigen yang diambil melalui

tabung pernapasan. Pupa ini sangat sensitif terhadap pergerakan air.

Stadium ini berlangsung antara 2 - 3 hari dan akan tumbuh menjadi

nyamuk dewasa (Soedarto, 1992). Pertumbuhan dari sejak telur keluar

sampai menjadi nyamuk dewasa kira-kira mencapai 7 - 14 hari

(Hardjanto, 2009).

c. Sifat Hidup Larva

Setelah telur menetas tumbuh menjadi larva yang disebut larva

stadium I (instar I). Kemudian larva stadium I ini melakukan 3 kali

pengelupasan kulit (ecdysis atau moulting), berturut- turut menjadi larva

stadium II, larva stadium III, dan larva stadium IV (Hoedojo, 1993).

Dalam air di wadah, larva Aedes bergerak sangat lincah dan

aktif, dengan memperlihatkan gerakan-gerakan naik ke permukaan air dan

turun ke dasar wadah secara berulang-ulang. Larva Aedes aegypti dapat

hidup di wadah yang mengandung air ber-pH 5,8 – 8,6. Jentik dalam

kondisi yang sesuai akan berkembang dalam waktu 6 – 8 hari dan akan

(14)

commit to user

melakukan pengelupasan kulit sebelum berkembang menjadi pupa

(Pandujati, 2009).

2. Pengendalian Vektor

Pemberantasan sebenarnya lebih tepat disebut pengendalian, tujuannya

menekan populasi serangga vektor sampai berada di bawah batas kemampuannya

dalam menularkan penyakit. Pengendalian nyamuk Aedes aegypti dapat

dilakukan pada beberapa stadium, yaitu telur, larva, pupa, dan nyamuk dewasa

(Soedarto, 1992).

Untuk stadium larva ada empat cara pengendalian, yaitu:

a.

Cara Kimia

Cara pemberantasan larva Aedes aegypti menggunakan

insektisida pembunuh larva lebih dikenal dengan istilah larvasida.

Larvasida yang biasa digunakan antara lain temephos. Formulasi

temephos yang digunakan adalah butiran. Dosis yang digunakan 1 ppm

atau 10 gram untuk tiap 100 liter air. Larvasida temephos mempunyai

efek residu 3 bulan. Selain itu dapat pula digunakan golongan insect

growth regulator (Depkes RI, 2003).

b.

Cara Biologi/Hayati

Menurut Jumar (1997), pengendalian hayati adalah pengendalian

serangga dengan cara biologi, yaitu dengan memanfaatkan

musuh-musuh alaminya (agensia pengendali biologi), seperti predator, parasit,

dan patogen.

(15)

commit to user

Beberapa keunggulan pengendalian hayati dalam Jumar (1997),

antara lain:

1) Aman, tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, tidak

menyebabkan keracunan pada manusia dan ternak.

2) Tidak menyebabkan resistensi terhadap sasaran.

3) Musuh alami bekerja secara selektif terhadap inang atau

mangsanya.

4) Bersifat permanen, untuk jangka panjang dinilai lebih murah

apabila keadaan lingkungan telah stabil atau telah terjadi

keseimbangan antara hama dengan musuh alaminya.

Selain itu ada beberapa kelemahan dalam pengendalian hayati, di

antaranya (Jumar, 1997) :

1) Hasil sulit diprediksi dalam waktu singkat.

2) Diperlukan biaya yang cukup besar pada tahap awal baik untuk

penelitian maupun untuk pengadaan sarana dan prasarananya.

3) Pembiakan masa di laboratorium kadang-kadang menghadapi

kendala, karena musuh alami menghendaki kondisi lingkungan

yang khusus.

4) Teknik aplikasi di lapangan belum banyak dikuasai.

c.

Cara Fisik

Cara ini dikenal dengan kegiatan 3M, yaitu menguras bak mandi,

bak WC, menutup tempat penampungan air rumah tangga, serta

(16)

commit to user

mengubur barang-barang bekas seperti kaleng dan ban. Pengurasan

tempat-tempat penampungan air perlu dilakukan secara teratur

sekurang-kurangnya seminggu sekali agar nyamuk tidak dapat

berkembang biak di tempat itu (Depkes RI, 2003).

d.

Cara Lingkungan

Cara ini dikenal dengan modifikasi lingkungan dan pengelolaan

lingkungan. Modifikasi lingkungan antara lain dengan (Depkes RI,

2000):

1) Perbaikan saluran air

Apabila aliran dan sumber air tidak memadai dan hanya tersedia

pada jam tertentu maka harus diperhatikan kondisi penyimpanan air

pada berbagai jenis wadah. Suplai air minum yang tersedia dalam

jumlah yang cukup, berkualitas baik, dan terus menerus sangatlah

penting agar penyimpanan air yang dapat digunakan sebagai tempat

perindukan larva dapat dikurangi.

2) Talang air atau tangki air bawah tanah dibuat antinyamuk

Perindukan larva Aedes aegypti di talang air atau tanki air

bawah tanah yang bangunannya terbuat dari batu harus dibuat

antinyamuk. Sedangkan pengelolaan lingkungan dilakukan dengan

mengeringkan instalasi penampungan air. Genangan air akibat

kebocoran di ruang berdinding batu, pipa saluran, katup pintu air,

(17)

commit to user

kotak keran hidran, meteran air dapat menjadi tempat perindukan

larva Aedes aegypti apabila tidak ditangani dengan baik.

3. Mesocyclops aspericornis

a. Klasifikasi

Kingdom

: Animalia

Phylum

: Arthropoda

Kelas

: Maxillopoda

Ordo

: Cyclopoida

Famili

: Cyclopidae

Spesies

: Mesocyclops aspericornis

(Myers, 2008)

b. Morfologi

Mesocyclops aspericornis berukuran 0,5 – 2,0 mm dan merupakan

Copepoda yang hidup bebas (Yuniarti dkk., 1995). Tubuhnya

bersegmen-segmen, terdiri atas segmen kepala dan dada yang menjadi satu (sefalotoraks)

dan segmen abdomen (Upiek, 1998). Di bagian abdomen dilengkapi 5 pasang

kaki, pada kepala terdapat mata median (Radiopoetro, 1996). Pada bagian

anterior dilengkapi alat mulut dan antena, bagian posterior dilengkapi ekor

(Upiek , 1998). Alat mulutnya dilengkapi dengan alat pemotong yang

bergigi-gigi disebut gnathobasis (Radiopoetro, 1996). Yang betina membawa

telur-telurnya di dalam dua kantung yang terletak di sebelah lateral dekat ujung

abdomen (Borror et al., 1992).

(18)

commit to user

Gambar 1. Morfologi Mesocyclops aspericornis

(labs1.eol.org)

c. Daur Hidup dan Habitat

Mesocyclops aspericornis mengalami reproduksi secara seksual. Baik

jantan maupun betina dapat melakukan perkawinan satu kali atau lebih

(Upiek, 1998).

Adapun siklus hidup atau metamorfosis Mesocyclops aspericornis,

adalah sebagai berikut (Pennak, 1978) :

1) Telur: bentuk bulat bergerombol yang diletakkan pada oviseas atau kantung

telur

2) Nauphillus I: tiga pasang bagian tubuh yang memendek diwakili oleh antena

pertama, kedua, dan mandibel.

3) Nauphillus II: setelah masa pemberian makanan, mempunyai maksila

tambahan.

4) Nauphillus VI: mempunyai semua bagian tubuh menyambung dengan

pasangan lengan kedua.

(19)

commit to user

5) Copepodid I: mempunyai empat ruas toraks, semua bagian tubuh

menyambung dengan pasangan lengan keempat.

6) Dewasa: Mesocylcops aspericornis dewasa dapat bertahan hidup sampai 2,5

bulan. Untuk jantan lebih cepat mati karena bersifat kanibal. Mesocyclops

aspericornis dewasa dapat kawin satu kali dan lebih.

Waktu yang dibutuhkan untuk mengalami siklus hidup yang sempurna,

dari telur hingga telur lagi merupakan variabel yang tinggi tergantung dari

spesies dan kondisi lingkungan, untuk Mesocyclops aspericornis berkisar 7

hingga 180 hari (Pennak, 1978).

Penelitian yang dilakukan oleh Yuniarti dkk. (1997) menunjukkan

bahwa reproduksi Mesocyclops aspericornis paling tinggi diperoleh dari

medium rendaman tinja marmut, diikuti oleh medium rendaman eceng

gondok, dan rendaman jerami. Di daerah tropis dan subtropis, distribusi

Mesocyclops tersebar luas terdapat dalam jumlah yang melimpah di danau air

tawar, reservoir (tendon air), parit, kolam, lubang pohon, sumur, dan liang

kepiting (Widyastuti, 1995). Mesocyclops aspericornis dilaporkan sebagai

hewan pemakan Algae, Rotifera, Protozoa, Chorinomid, Ologochaeta, ikan

kecil, dan beberapa organisme akuatik lainnya (Yuniarti, 1997).

(20)

commit to user

d.

Perilaku Mesocyclops aspericornis

Sama seperti predator pada umumnya, Mesocyclops aspericornis

sebagai predator bagi larva nyamuk (Jumar, 1997) juga memiliki ciri sebagai

berikut:

1) Predator dapat memangsa semua tingkat perkembangan mangsa (telur, larva,

nympha, pupa, dan imago). Dalam hal ini Mesocyclops aspericornis

memangsa nyamuk pada masa larva instar I dan II awal.

2) Predator membunuh dengan cara memakan atau menghisap mangsanya

dengan cepat.

3) Seekor predator memerlukan dan memakan banyak mangsa selama hidupnya.

Mesocyclops aspericornis memakan kurang lebih 15 larva per hari.

4) Predator membunuh mangsa untuk dirinya sendiri.

5) Kebanyakan predator bersifat karnivor, baik pada saat pradewasa maupun

sesudah dewasa (imago) dan memakan jenis mangsa yang sama atau beberapa

jenis mangsa.

6) Predator memiliki ukuran tubuh lebih besar dibandingkan tubuh mangsanya.

7) Dari segi perilaku makannya, ada predator yang mengunyah semua bagian

tubuh mangsanya, begitu juga Mesocyclops aspericornis.

8) Metamorfosis predator ada yang sempurna dan ada juga yang tidak sempurna.

4. Peranan Mesocyclops aspericornis sebagai Pengendali Hayati Larva

Mesocyclops aspericornis sebagai pengendali hayati larva Aedes aegypti

(21)

commit to user

paling disukai oleh Mesocyclops aspericornis sebesar 100 % pada perbandingan

25:20 dibandingkan Culex queneuefasciatus (50,66 %) dan Anopeles aconitus

(27,33 %). Kemampuan makan Mesocyclops aspericornis terhadap jentik nyamuk

Aedes aegypti paling besar dengan asumsi sebagai berikut:

a. Perilaku aktif jentik nyamuk Aedes aegypti yang aktif, karena menurut

monokov dalam Yuniarti, dkk (2000), Cyclopoida cenderung menangkap

mangsa yang lebih aktif, sedangkan mangsa yang kurang aktif dapat dideteksi

hanya setelah kontak.

b. Perilaku makan jentik Aedes aegypti bisa mengambil makanan di dasar,

sedang Mesocyclops aspericornis yang hidup di dasar memungkinakan

terjadinya kontak kedua organisme tersebut relatif tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian-penelitian yang telah dilakukan

berhubungan

dengan

keberhasilan

Mesocyclops

aspericornis

dalam

memangsa larva nyamuk Aedes aegypti, berarti bahwa Mesocyclops

aspericornis sebagai predator larva nyamuk sangat berperan dan bermanfaat

guna mengendalikan perkembangan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor

Dengue yang pada akhirnya akan menekan jumlah prevalensi penyakit Deman

Berdarah Dengue.

(22)

commit to user

B. Kerangka Pemikiran

C . Hipotesis

Ketersediaan bahan organik menurunkan daya predasi Mesocyclops

aspericornis terhadap larva Aedes aegypti.

Mesocylops aspericornis

dipelihara di tempat

penampungan air berisi bahan

organik

Larva Aedes aegypti

Faktor yang mempengaruhi:

1. Suhu udara

2. Suhu air

3. Air yang dipakai

4. pH

Kemampuan makan

(23)

commit to user

18

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan post

test only group design

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan

Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP), Salatiga, Jawa Tengah

C. Subjek Penelitian

Subjek penelitian yang dipakai yaitu Mesocyclops aspericornis dan larva

Aedes aegypti instar I atau II

D. Teknik Sampling

Pengambilan sampel dilakukan dengan cara random sampling

E. Identifikasi Variabel

:

1. Variabel bebas

: Jenis bahan oganik dan kadar bahan organik.

2. Variabel terikat

: Jumlah larva Aedes aegypti yang tersisa

3. Variabel luar (pengganggu)

a. Terkendali :

1) Suhu udara dan suhu air

2) Air yang dipakai

(24)

commit to user

b. Tidak terkendali:

Kemampuan makan Mesocyclops aspericornis

F. Definisi Operasional Variabel

1. Variabel bebas

a. Jenis bahan organik

Bahan organik yang digunakan adalah rendaman kangkung dan

rendaman tinja kelinci yang mengandung sumber makanan alternatif bagi

Mesocyclops

aspericornis

seperti

Algae,

Protozoa,

dan

Rotifera

(Setyaningrum dkk., 2008).

Skala : rasio

b. Kadar bahan organik

Konsentrasi rendaman kangkung dan rendaman tinja kelinci yang

digunakan masing-masing adalah 0%; 15%; 30%; dan 45%.

Skala : interval

2. Variabel terikat

Larva Aedes aegypti yang dipakai yaitu larva instar I atau II, berumur

sekitar 1-3 hari, sebanyak 3000 ekor. Diperoleh dari hasil pemeliharaan dan

pengembangan di laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan

Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VR) Salatiga, Jawa Tengah.

(25)

commit to user

3. Variabel luar (pengganggu)

a. Terkendali :

1. Suhu udara dan suhu air

Percobaan dilakukan pada suhu ruangan (kurang lebih 25

0

C).

Skala : interval

2. Air yang dipakai

Pada penelitian ini menggunakan air ledeng

3. Ukuran panjang Mesocyclops aspericornis

Berukuran panjang kurang lebih 1 mm

Skala : interval

4. pH

Percobaan dilakukan pada pH

b. Tidak terkendali:

Kemampuan makan Mesocyclops aspericornis tergantung selera makan

dan kondisi kesehatannya.

G. Alat dan Bahan

1. Wadah tempat pembiakan dari bahan plastik dengan volume 1 L

2. Pipet dengan diameter mulut pipet ± 4 mm untuk mengambil dan menghitung

jentik Aedes aegypti dan Mesocyclops aspericornis.

3. Jentik nyamuk Aedes aegypti instar I atau II ditaruh ke dalam gelas-gelas plastik

dengan pipet.

(26)

commit to user

4. Dog food yang sudah dihaluskan dengan blender untuk makanan jentik nyamuk

Aedes aegypti.

5. Mesocyclops aspericornis dewasa sebanyak 20 ekor yang dihitung secara manual

dengan pipet, ditaruh dalam nampan plastik berisi air.

6. Rendaman kangkung dan rendaman tinja kelinci

H. Rancangan Penelitian

Eksperimen

M e s o c y l o p s a s p e r i c o r n i s Pelih ara sela ma 3 hari Larva Aedes aegypti Bandingkan jumlah larva yang tersisa 850 ml air + 150 ml rendaman kangkung 550 ml air + 450 ml rendaman kangkung 700 ml air + 300 ml rendaman kangkung 1 L air

(27)

commit to user

.

I. Cara Kerja

Penelitian dilakukan menurut metode Endah Setyaningrum (2008) yang

dimodifikasi

1. Pembuatan media

a. Kangkung dan tinja kelinci dikeringkan kemudian ditimbang berat keringnya.

M e s o c y l o p s a s p e r i c o r n i s Pelih ara sela ma 3 hari Larva Aedes aegypti Bandingkan jumlah larva yang tersisa 850 ml air + 150 ml

rendaman

tinja kelinci

550 ml air + 450 ml rendaman tinja kelinci 700 ml air + 300 ml rendaman tinja kelinci 1 L air

(28)

commit to user

b. Bahan tersebut di atas yang sudah dikeringkan dipotong kecil-kecil kemudian

masing-masing sebanyak 5 gram direndam ke dalam ember berisi 1 L akuades

selama 4 hari.

c. Media siap digunakan untuk mengembangbiakkan Mescyclops aspericornis.

Setiap jenis media dijadikan sebagai perlakuan.

2. Rendaman media yang telah disiapkan kemudian disaring dengan saringan biasa

lalu diambil 150 ml, 300 ml, dan 450 ml .

3. Pada setiap wadah dimasukkan satu ekor Mesocyclops aspericornis dewasa

betina tanpa kantung telur yang sudah dipuasakan terlebih dahulu selama satu

hari. Pelihara selama 3 hari.

4. Lalu masukkan 25 ekor larva Aedes aegypti.

5. Wadah diletakkan pada suhu kamar 25

o

C dan pH 7

6. Dibiarkan selama 2 hari lalu jumlah jentik nyamuk yang tersisa dihitung pada

jam pertama, kedua, keempat, kedelapan, dan kedua puluh empat, dan keempat

puluh delapan.

7. Percobaan dilakukan sebanyak 3 kali ulangan (Munif, 1997).

Penentuan jumlah ulangan berdasarkan rumus

Keterangan:

n : jumlah ulangan

t : jumlah kelompok perlakuan

(29)

commit to user

Karena pada kelompok ini menggunakan 8 kelompok perlakuan, maka:

(n-1)(t-1) > 15

(n-1)(8-1) > 15

7n > 22

n > 3,14

jadi untuk setiap kelompok, ulangan harus lebih dari 3,14. Dalam penelitian ini

digunakan 3 kali ulangan dalam setiap kelompok.

J. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis secara statistik dengan

menggunakan Uji Analisis Varians (Anova) yang dilanjutkan dengan Post-Hoc

test untuk mengetahui kemaknaan antar kadar dan uji t untuk mencari letak

perbedaan antar jenis bahan organik (Subana dan Sudrajat, 2009).

(30)

commit to user

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang

menjadi fokus utama kesehatan internasional. Insidensi virus Dengue telah

berkembang pesat di seluruh dunia akhir- akhir ini. Dua setengah milyar

orang, yaitu dua perlima dari populasi dunia sekarang berisiko terkena

virus Dengue. World Health Organization memperkirakan ada kurang

lebih lima puluh juta infeksi Dengue setiap tahunnya di dunia (WHO,

2009).

Demam Berdarah Dengue juga merupakan penyakit endemis di

Indonesia. Pada tahun 2010 telah dilaporkan sebanyak 2.603 kasus dengan

kematian 35 orang di 12 Provinsi yakni : Bangka Belitung, Lampung,

Banten, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Barat,

Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi

Utara, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Timur (Ditjen PP & PL, 2010).

Penanggulangan DBD seperti juga penyakit menular lain, dapat

didasarkan atas pemutusan rantai penularan, dalam hal DBD ini komponen

penularan terdiri dari virus Dengue, Aedes aegypti, dan manusia

penderitanya. Manfaat penanggulangan penyakit DBD adalah pengurangan

(31)

commit to user

kesakitan, kematian, serta penderitaan individu dan keluarganya. Namun

karena sampai sekarang belum ditemukan obat/vaksinnya, maka salah satu

penanggulangan penyakit DBD adalah dengan cara pencegahan

penularannya, yaitu dengan memberantas vektornya. Pemberantasan vektor

DBD stadium pradewasa relatif lebih mudah daripada stadium dewasanya.

Pemberantasan stadium dewasa Aedes aegypti dapat dilakukan secara

hayati atau kimiawi. Upaya secara kimiawi menggunakan insektisida,

semakin lama justru menimbulkan resistensi nyamuk vektor. Jika dosis

insektisida

terus-menerus

ditingkatkan,

pada

suatu

saat

akan

membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan. WHO (1987)

melaporkan bahwa di Karibia dan sekitarnya, jentik Aedes aegypti telah

resisten terhadap Malathion, Fenitrothion, Fenthion, dan Temephos yang

digunakan secara luas sejak tahun 1973. Melihat adanya resistensi

pemakaian larvasida kimia yang dimasukkan ke dalam tempat

penampungan air, termasuk air minum perlu mendapatkan perhatian yang

seksama. Alternatif lain yang lebih berwawasan lingkungan perlu

dipertimbangkan untuk mengendalikan vektor penyakit. Salah satu cara

yang banyak diteliti dan dikembangkan adalah penggunaan predator jentik

nyamuk dalam upaya pengendalian vektor secara hayati (Yuniarti &

Widyastuti, 2000).

(32)

commit to user

Mesocyclops adalah Cyclopoid Copepoda, dilaporkan sebagai

predator jentik Aedes dan jentik nyamuk dari genus atau spesies lain.

Mesocyclops dapat bertahan hidup selama dalam penampungan air asalkan

ada air dan suplai makanan (Marten, 1989).

Mesocyclops aspericornis merupakan salah satu jasad hayati yang

terbukti efektif sebagai vektor kontrol yang digunakan untuk pengendalian

jentik nyamuk malaria dan demam berdarah. Mesocyclops aspericornis

memiliki tingkat predasi dan reproduksi yang tinggi dan mampu memakan

berbagai macam organisme seperti: Algae, Rotifera, Copepoda yang lain,

Protozoa, Chironomid, Oligochaeta, larva ikan, dan beberapa organisme

akuatik yang lain (Williamson, 1991).

Mesocyclops aspericornis merupakan spesies Copepoda yang hidup

bebas dan tersebar luas di danau air tawar, reservoir, parit, kolam, lubang

pohon, sumur dan liang/lubang kepiting (Brown dan Hendriksz, 1991).

Menurut Williamson (1991) Copepoda juga ditemukan berlimpah pada

rawa, tanah basah, air payau, empang, genangan air, dan beberapa spesies

Copepoda dapat hidup pada celah atau di bawah sistem permukaan tanah.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Yuniarti (1997) mengenai

daya predasi dan reproduksi Mesocyclops aspericornis dilaporkan bahwa

Mesocyclops aspericornis memiliki kemampuan makan terhadap jentik

(33)

commit to user

antara 77.77% - 99.34% dan pada air sumur berkisar antara 97.32- 100%

sedangkan reproduksi Mesocyclops aspericornis tertinggi terdapat pada

rendaman tinja marmut (97,59 ekor).

Oleh karena hal tersebut di atas, penulis berkeinginan untuk

mengendalikan faktor yang mempengaruhi daya predasi Mesocyclops

aspericornis, di antaranya adalah ketersediaan bahan organik seperti

kondisi di alam. Dalam penelitian kali ini penulis akan menggunakan

media rendaman kangkung dan rendaman tinja kelinci dalam berbagai

kadar selama beberapa hari untuk mengetahui efeknya pada daya predasi.

B. Rumusan Masalah

Adakah pengaruh ketersediaan bahan organik pada daya predasi

Mesocyclops aspericornis terhadap larva Aedes aegypti?

C. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pengaruh ketersediaan bahan organik pada daya predasi

Mesocyclops aspericornis terhadap larva Aedes aegypti.

D. Manfaat Penelitian

1. Teoritik

:

Memperluas pengetahuan tentang pemberantasan vektor, khususnya

secara hayati dengan menggunakan Mesocyclops aspericornis.

(34)

commit to user

2. Praktis

:

Mesocyclops aspericornis diharapkan dapat sebagai salah satu alternatif

pemberantasan vektor nyamuk Aedes aegypti sehingga dapat digunakan

dalam kehiduapan sehari-hari di lapangan dan supaya dapat diketahui media

optimal untuk mengembangkan daya predasi Mesocyclops aspericornis.

(35)

commit to user

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Aedes aegypti

a. Klasifikasi

Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Subfilum

: Aceloturata

Kelas

: Insecta

Ordo

: Diptera

Famili

: Culicidae

Genus

: Aedes

Subgenus

: Stegomyia

Spesies : Aedes aegypti

(36)

commit to user

b. Morfologi

Aedes yang berperan sebagai vektor penyakit semuanya tergolong

Stegomyia dengan ciri-ciri tubuh bercorak belang hitam putih pada dada,

perut, dan tungkai. Corak ini merupakan sisi yang menempel di luar tubuh

nyamuk. Corak putih pada dorsal dada nyamuk berbentuk seperti siku yang

berhadapan (Fitriasih, 2008).

Telur Aedes berukuran kecil (± 50 mikron), berwarna hitam, sepintas

tampak bulat panjang dan berbentuk oval menyerupai torpedo, di bawah

mikroskop, pada dinding luar (exochorion) telur nyamuk ini, tampak ada

garis-garis yang membentuk gambaran menyerupai sarang lebah. Larva Aedes

aegypti berbentuk lonjong, tampak seperti anyaman kasa pada dindingnya.

Larva Aedes aegypti mempunyai sifon panjang dan bulunya satu pasang, sisir

bergigi lateral, pelana tidak menutupi segmen anal (Juni Prianto, 1999).

1. Daur Hidup dan Habitat

Perkembangan Aedes aegypti melalui berbagai perubahan bentuk

(metamorphosis) : telur – jentik (larva) – kepompong (pupa) – nyamuk.

Perkembangan dari telur menjadi jentik memerlukan 2 – 3 hari, dari jentik

menjadi kepompong rata- rata 4 – 9 hari, dan dari kepompong sampai

menetas menjadi nyamuk diperlukan waktu 7 – 14 hari (Hardjanto, 2009).

Nyamuk Aedes aegypti, seperti halnya Culicines lain, meletakan

telur pada permukaan air bersih secara individual. Setiap hari nyamuk

(37)

commit to user

Aedes betina dapat bertelur rata-rata 100 butir. Telur membutuhkan

waktu satu sampai dua hari untuk menjadi larva (Pandujati, 2009).

Larva ini terbagi menjadi 4 stadium sebelum tumbuh menjadi

pupa (Hoedojo, 1993). Stadium larva biasanya berlangsung 6-8 hari

(Depkes RI, 1992). Dari stadium larva akan berubah menjadi pupa. Pupa

ini tidak makan tapi masih memerlukan oksigen yang diambil melalui

tabung pernapasan. Pupa ini sangat sensitif terhadap pergerakan air.

Stadium ini berlangsung antara 2-3 hari dan akan tumbuh menjadi

nyamuk dewasa (Soedarto, 1992). Pertumbuhan dari sejak telur keluar

sampai menjadi nyamuk dewasa kira-kira mencapai 7-14 hari (Hardjanto,

1997).

c. Sifat Hidup Larva

Setelah telur menetas tumbuh menjadi larva yang disebut larva

stadium I (instar I). Kemudian larva stadium I ini melakukan 3 kali

pengelupasan kulit (ecdysis atau moulting), berturut- turut menjadi larva

stadium II, larva stadium III, dan larva stadium IV (Hoedojo, 1993).

Dalam air di wadah, larva Aedes bergerak sangat lincah dan

aktif, dengan memperlihatkan gerakan-gerakan naik ke permukaan air dan

turun ke dasar wadah secara berulang-ulang. Larva Aedes aegypti dapat

hidup di wadah yang mengandung air ber-pH 5,8 – 8,6. Jentik dalam

kondisi yang sesuai akan berkembang dalam waktu 6 – 8 hari dan akan

(38)

commit to user

melakukan pengelupasan kulit sebelum berkembang menjadi pupa

(Pandujati, 2009).

2. Pengendalian Vektor

Pemberantasan sebenarnya lebih tepat disebut pengendalian, tujuannya

menekan populasi serangga vektor sampai berada di bawah batas kemampuannya

dalam menularkan penyakit. Pengendalian nyamuk Aedes aegypti dapat

dilakukan pada beberapa stadium, yaitu telur, larva, pupa, dan nyamuk dewasa

(Soedarto, 1990).

Untuk stadium larva ada empat cara pengendalian, yaitu:

a.

Cara Kimia

Cara pemberantasan larva Aedes aegypti menggunakan

insektisida pembunuh larva lebih dikenal dengan istilah larvasida.

Larvasida yang biasa digunakan antara lain temephos. Formulasi

temephos yang digunakan adalah butiran. Dosis yang digunakan 1 ppm

atau 10 gram untuk tiap 100 liter air. Larvasida temephos mempunyai

efek residu 3 bulan. Selain itu dapat pula digunakan golongan insect

growth regulator (Depkes RI, 2003).

b.

Cara Biologi/ Hayati

Menurut Jumar (1997), pengendalian hayati adalah pengendalian

serangga dengan cara biologi, yaitu dengan memanfaatkan

(39)

musuh-commit to user

musuh alaminya (agensia pengendali biologi), seperti predator, parasit,

dan patogen.

Beberapa keunggulan pengendalian hayati dalam Jumar (1997),

antara lain:

1. Aman, tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, tidak

menyebabkan keracunan pada manusia dan ternak.

2. Tidak menyebabkan resistensi terhadap sasaran.

3. Musuh alami bekerja secara selektif terhadap inang atau

mangsanya.

4. Bersifat permanen, untuk jangka panjang dinilai lebih murah

apabila keadaan lingkungan telah stabil atau telah terjadi

keseimbangan antara hama dengan musuh alaminya.

Selain itu ada beberapa kelemahan dalam pengendalian hayati, di

antaranya (Jumar, 1997) :

1. Hasil sulit diprediksi dalam waktu singkat.

2. Diperlukan biaya yang cukup besar pada tahap awal baik untuk

penelitian maupun untuk pengadaan sarana dan prasarananya.

3. Pembiakan masa di laboratorium kadang-kadang menghadapi

kendala, karena musuh alami menghendaki kondisi lingkungan

yang khusus.

(40)

commit to user

c.

Cara Fisik

Cara ini dikenal dengan kegiatan 3M, yaitu menguras bak mandi,

bak WC, menutup tempat penampungan air rumah tangga, serta

mengubur barang-barang bekas seperti kaleng dan ban. Pengurasan

tempat-tempat penampungan air perlu dilakukan secara teratur

sekurang-kurangnya seminggu sekali agar nyamuk tidak dapat

berkembang biak di tempat itu (Depkes RI, 2003).

d.

Cara Lingkungan

Cara ini dikenal dengan modifikasi lingkungan dan pengelolaan

lingkungan. Modifikasi lingkungan antara lain dengan (Depkes RI,

2000):

1. Perbaikan saluran air

Apabila aliran dan sumber air tidak memadai dan hanya tersedia

pada jam tertentu maka harus diperhatikan kondisi penyimpanan air

pada berbagai jenis wadah. Suplai air minum yang tersedia dalam

jumlah yang cukup, berkualitas baik, dan terus menerus sangatlah

penting agar penyimpanan air yang dapat digunakan sebagai tempat

perindukan larva dapat dikurangi.

2. Talang air atau tanki air bawah tanah dibuat antinyamuk

Perindukan larva Aedes aegypti di talang air atau tanki air

bawah tanah yang bangunannya terbuat dari batu harus dibuat

antinyamuk. Sedangkan pengelolaan lingkungan dilakukan dengan

(41)

commit to user

mengeringkan instalasi penampungan air. Genangan air akibat

kebocoran di ruang berdinding batu, pipa saluran, katup pintu air,

kotak keran hidran, meteran air dapat menjadi tempat perindukan

larva Aedes aegypti apabila tidak ditangani dengan baik.

3. Mesocyclops aspericornis

a. Klasifikasi

Kingdom

: Animalia

Phylum

: Arthropoda

Kelas

: Maxillopoda

Ordo

: Cyclopoida

Famili

: Cyclopidae

Spesies

: Mesocyclops aspericornis

(Myers, 2008)

b. Morfologi

Mesocyclops aspericornis berukuran 0,5 – 2,0 mm dan

merupakan Copepoda yang hidup bebas (Yuniarti dkk., 1995).

Tubuhnya bersegmen-segmen, terdiri atas segmen kepala dan dada

yang menjadi satu (sefalotoraks) dan segmen abdomen (Upiek, 1998).

Di bagian abdomen dilengkapi 5 pasang kaki, pada kepala terdapat

mata median (Radiopoetro, 1996). Pada bagian anterior dilengkapi alat

mulut dan antena, bagian posterior dilengkapi ekor (Upiek , 1998).

Alat mulutnya dilengkapi dengan alat pemotong yang bergigi-gigi

(42)

commit to user

disebut gnathobasis (Radiopoetro, 1996). Yang betina membawa

telur-telurnya di dalam dua kantung yang terletak di sebelah lateral dekat

ujung abdomen (Borror et al., 1992).

Gambar 1. Morfologi Mesocyclops aspericornis

c. Daur Hidup dan Habitat

Mesocyclops aspericornis mengalami reproduksi secara seksual.

Baik jantan maupun betina dapat melakukan perkawinan satu kali atau

lebih (Upiek, 1998).

Adapun

siklus

hidup

atau

metamorfosis

Mesocyclops

aspericornis, adalah sebagai berikut (Pennak, 1978) :

1. Telur: bentuk bulat bergerombol yang diletakkan pada oviseas atau

kantung telur

2. Nauphillus I: tiga pasang bagian tubuh yang memendek diwakili

oleh antena pertama, kedua, dan mandibel.

3. Nauphillus II: setelah masa pemberian makanan, mempunyai

maksila tambahan.

(43)

commit to user

4. Nauphillus VI: mempunyai semua bagian tubuh menyambung

dengan pasangan lengan kedua.

5. Copepodid I: mempunyai empat ruas toraks, semua bagian tubuh

menyambung dengan pasangan lengan keempat.

6. Dewasa: Mesocylcops aspericornis dewasa dapat bertahan hidup

sampai 2,5 bulan. Untuk jantan lebih cepat mati karena bersifat

kanibal. Mesocyclops aspericornis dewasa dapat kawin satu kali

dan lebih.

Waktu yang dibutuhkan untuk mengalami siklus hidup yang

sempurna, dari telur hingga telur lagi merupakan variabel yang tinggi

tergantung dari spesies dan kondisi lingkungan, untuk Mesocyclops

aspericornis berkisar 7 hingga 180 hari (Pennak, 1978).

Penelitian

yang

dilakukan

oleh

Yuniarti

dkk.

(1997)

menunjukkan bahwa reproduksi Mesocyclops aspericornis paling tinggi

diperoleh dari medium rendaman tinja marmut, diikuti oleh medium

rendaman eceng gondok, dan rendaman jerami. Di daerah tropis dan

subtropis, distribusi Mesocyclops tersebar luas terdapat dalam jumlah

yang melimpah di danau air tawar, reservoir (tendon air), parit, kolam,

lubang pohon, sumur, dan liang kepiting (Widyastuti, 1995).

Mesocyclops aspericornis dilaporkan sebagai hewan pemakan Algae,

Rotifera, Protozoa, Chorinomid, Ologochaeta, ikan kecil, dan beberapa

organisme akuatik lainnya (Yuniarti, 1997).

(44)

commit to user

d. Perilaku Mesocyclops aspericornis

Sama seperti predator pada umumnya, Mesocyclops aspericornis

sebagai predator bagi larva nyamuk (Jumar, 1997) juga memiliki ciri

sebagai berikut:

1. Predator dapat memangsa semua tingkat perkembangan mangsa

(telur, larva, nympha, pupa, dan imago). Dalam hal ini

Mesocyclops aspericornis memangsa nyamuk pada masa larva

instar I dan II awal.

2. Predator membunuh dengan cara memakan atau menghisap

mangsanya dengan cepat.

3. Seekor predator memerlukan dan memakan banyak mangsa

selama hidupnya. Mesocyclops aspericornis memakan kurang

lebih 15 larva per hari.

4. Predator membunuh mangsa untuk dirinya sendiri.

5. Kebanyakan predator bersifat karnivor, baik pada saat pradewasa

maupun sesudah dewasa (imago) dan memakan jenis mangsa yang

sama atau beberapa jenis mangsa.

6. Predator memiliki ukuran tubuh lebih besar dibandingkan tubuh

mangsanya.

7. Dari segi perilaku makannya, ada predator yang mengunyah

semua bagian tubuh mangsanya, begitu juga Mesocyclops

(45)

commit to user

8. Metamorfosis predator ada yang sempurna dan ada juga yang

tidak sempurna.

4. Peranan Mesocyclops aspericornis sebagai Pengendali Hayati Larva

Mesocyclops aspericornis sebagai pengendali hayati larva Aedes aegypti

sudah dibuktikan dengan hasil penelitisan Yuniarti, dkk bahwa larva Aedes aegypti

paling disukai oleh Mesocyclops aspericornis sebesar 100% pada perbandingan

25:20 dibandingkan Culex queneuefasciatus (50,66%) dan Anopeles aconitus

(27,33%). Kemampuan makan Mesocyclops aspericornis terhadap jentik nyamuk

Aedes aegypti paling besar dengan asumsi sebagai berikut:

a. Perilaku aktif jentik nyamuk Aedes aegypti yang aktif, karena menurut

monokov dalam Yuniarti, dkk (2000), Cyclopoida cenderung menangkap

mangsa yang lebih aktif, sedangkan mangsa yang kurang aktif dapat dideteksi

hanya setelah kontak.

b. Perilaku makan jentik Aedes aegypti bisa mengambil makanan di dasar,

sedang Mesocyclops aspericornis yang hidup di dasar memungkinakan

terjadinya kontak kedua organisme tersebut relatif tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian-penelitian yang telah dilakukan

berhubungan

dengan

keberhasilan

Mesocyclops

aspericornis

dalam

memangsa larva nyamuk Aedes aegypti, berarti bahwa Mesocyclops

aspericornis sebagai predator larva nyamuk sangat berperan dan bermanfaat

(46)

commit to user

Dengue yang pada akhirnya akan menekan jumlah prevalensi penyakit Deman

Berdarah Dengue.

B. Kerangka Pemikiran

C . Hipotesis

Ketersediaan bahan organik mempengaruhi daya predasi Mesocyclops

aspericornis terhadap larva Aedes aegypti.

Mesocylops aspericornis

dipelihara selama 3 hari di

tempat penampungan air

berisi bahan organik dengan

kadar bervariasi

Larva Aedes aegypti

Faktor yang mempengaruhi:

- Suhu udara

- Suhu air

- Air yang dipakai

- pH

Daya predasi Mesocylops

aspericornis

(47)

commit to user

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik

dengan post test only group design

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Balai Besar Penelitian dan

Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP),

Salatiga, Jawa Tengah

C. Objek Penelitian

Objek penelitian yang dipakai yaitu larva Aedes aegypti instar I

atau II

D. Teknik Sampling

Pengambilan sampel dilakukan dengan cara random sampling

E. Identifikasi Variabel :

1. Variabel bebas

: Jenis bahan oganik dan kadar bahan

organik.

2. Variabel terikat

: Jumlah larva Aedes aegypti yang

(48)

commit to user

3. Variabel luar (pengganggu)

Terkendali :

a.

Suhu udara dan suhu air

b.

Air yang dipakai

c.

pH

Tidak terkendali:

Kemampuan makan Mesocyclops aspericornis

F. Definisi Operasional Variabel

1. Variabel bebas

a. Jenis bahan organik

Bahan organik yang digunakan adalah rendaman kangkung

dan rendaman tinja kelinci yang mengandung sumber

makanan alternatif bagi Mesocyclops aspericornis seperti

Algae, Protozoa, dan Rotifera (Setyaningrum dkk., 2008).

Skala: rasio

b. Kadar bahan organik

Konsentrasi rendaman kangkung dan rendaman tinja kelinci

yang digunakan masing-masing adalah 0%; 15%; 30%; dan

45%.

(49)

commit to user

2.

Variabel terikat

Larva Aedes aegypti yang dipakai yaitu larva instar I

atau II, berumur sekitar 1-3 hari, sebanyak 3000 ekor.

Diperoleh dari hasil pemeliharaan dan pengembangan di

laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor

dan Reservoir Penyakit (B2P2VR) Salatiga, Jawa Tengah.

Skala : rasio

3.

Variabel luar (pengganggu)

a. Terkendali :

1. Suhu udara dan suhu air

Percobaan dilakukan pada suhu ruangan (kurang lebih

25

0

C).

Skala : interval

2. Air yang dipakai

Pada penelitian ini menggunakan air ledeng

3. Ukuran panjang Mesocyclops aspericornis

Berukuran panjang kurang lebih 1 mm

Skala : interval

4. pH

(50)

commit to user

b. Tidak terkendali:

Kemampuan makan Mesocyclops aspericornis tergantung

selera makan dan kondisi kesehatannya.

G. Alat dan Bahan

1. Wadah tempat pembiakan dari bahan plastik dengan volume 1 L

2. Pipet dengan diameter mulut pipet ± 4 mm untuk mengambil dan

menghitung jentik Aedes aegypti dan Mesocyclops aspericornis.

3. Jentik nyamuk Aedes aegypti instar I atau II ditaruh ke dalam

gelas-gelas plastik dengan pipet.

4. Dog food yang sudah dihaluskan dengan blender untuk makanan

jentik nyamuk Aedes aegypti.

5. Mesocyclops aspericornis dewasa sebanyak 20 ekor yang dihitung

secara manual dengan pipet, ditaruh dalam nampan plastik berisi

air.

(51)

commit to user

H. Rancangan Penelitian

Eksperimen

M e s o c y l o p s a s p e r i c o r n i s Pelih ara sela ma 3 hari Larva Aedes aegypti Bandingkan jumlah larva yang tersisa 850 ml air + 150 ml rendaman kangkung 550 ml air + 450 ml rendaman kangkung 700 ml air + 300 ml rendaman kangkung 1 L air

(52)

commit to user

.

I. Cara Kerja

Penelitian dilakukan menurut metode Endah Setyaningrum (2008) yang

dimodifikasi

1.

Pembuatan media

a. Kangkung dan tinja kelinci

dikeringkan kemudian

ditimbang berat keringnya.

M e s o c y l o p s a s p e r i c o r n i s Pelih ara sela ma 3 hari Larva Aedes aegypti Bandingkan jumlah larva yang tersisa 850 ml air + 150 ml

rendaman

tinja kelinci

550 ml air + 450 ml rendaman tinja kelinci 700 ml air + 300 ml rendaman tinja kelinci 1 L air

(53)

commit to user

b. Bahan tersebut di atas yang sudah dikeringkan dipotong

kecil-kecil kemudian masing-masing sebanyak 5 gram

direndam ke dalam ember berisi 1 L akuades selama 4 hari.

c. Media

siap

digunakan

untuk

mengembangbiakkan

Mescyclops aspericornis. Setiap jenis media dijadikan

sebagai perlakuan.

2. Rendaman media yang telah disiapkan kemudian disaring dengan

saringan biasa lalu diambil 150 ml, 300 ml, dan 450 ml .

3. Pada setiap wadah dimasukkan satu ekor Mesocyclops aspericornis

dewasa betina tanpa kantung telur yang sudah dipuasakan terlebih

dahulu selama satu hari. Pelihara selama 3 hari.

4. Lalu masukkan 25 ekor larva Aedes aegypti.

5. Wadah diletakkan pada suhu kamar 25

o

C dan pH 7

6. Dibiarkan selama 2 hari lalu jumlah jentik nyamuk yang tersisa

dihitung pada jam pertama, kedua, keempat, kedelapan, dan kedua

puluh empat, dan keempat puluh dua.

7. Percobaan dilakukan sebanyak 3 kali ulangan (Munif, 1997).

Penentuan jumlah ulangan berdasarkan rumus

Keterangan:

n : jumlah ulangan

t : jumlah kelompok perlakuan

(n-1)(t-1) > 15

(54)

commit to user

Karena pada kelompok ini menggunakan 8 kelompok perlakuan,

maka:

(n-1)(t-1) > 15

(n-1)(8-1) > 15

7n > 22

n > 3,14

jadi untuk setiap kelompok, ulangan harus lebih dari 3,14. Dalam

penelitian ini digunakan 3 kali ulangan dalam setiap kelompok.

J. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisa secara

statistik dengan menggunakan Uji Analisa Varians (Anova) yang

dilanjutkan dengan post-hoc test untuk mengetahui kemaknaan antar

kadar dan uji t untuk mencari letak perbedaan antar jenis bahan organik

(Subana dan Sudrajat, 2009).

(55)

commit to user

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Hasil penghitungan jumlah jentik nyamuk Aedes aegypti yang tersisa setelah

dimakan oleh Mesocyclops aspericornis selama 48 jam pada rendaman kangkung dan

rendaman tinja kelinci dengan kadar 0%;15%; 30%; dan 45%, serta ulangan sebanyak

3 kali adalah:

Tabel 1. Rerata Jumlah Jentik Nyamuk Aedes aegypti yang Tersisa setelah 48 Jam

Pengamatan

Kadar Bahan

Organik

Jenis Bahan Organik

Rendaman Kangkung

Rendaman Tinja

Kelinci

0% (I)

9

11,3

15% (II)

7,7

13

30% (III)

10

10

45% (IV)

17

14

Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui apakah distribusi data normal

atau tidak. Uji ini dapat dilakukan dengan menggunakan Kolmogorov Smirnov Test.

(56)

commit to user

Suatu data dikatakan mempunyai sebaran normal jika didapatkan nilai p > 0,05 pada

setiap kelompok (Dahlan, 2005).

Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Data

Variabel

Kelompok

Kolmogorov

Smirnov Z

Nilai p

Keterangan

Kadar bahan

organic

Kadar I

0,508

0,958

Distribusi

normal

Kadar II

0,534

0,938

Distribusi

normal

Kadar III

0,482

0,974

Distribusi

normal

Kadar IV

0,577

0,893

Distribusi

normal

Jenis bahan

organik

Rendaman kangkung

0,730

0,661

Distribusi

normal

Rendaman tinja

kelinci

0,554

0,919

Distribusi

normal

Tabel 2 menunjukkan sebaran data hasil analisis Kolmogorov Smirnov

(57)

commit to user

jenis bahan organik itu sendiri. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa semua data

dari berbagai variabel pada tiap kelompok terdistribusi normal (p>0,05).

Untuk mengetahui perbedaan antara rendaman kangkung dan rendaman tinja

kelinci maka dilakukan uji t. Terlebih dahulu dilakukan uji homogenitas dengan

Levene’s test yang menghasilkan data homogen dengan nilai p = 0,333. Data

dianggap homogen, karena nila p > 0,05. Sedangkan hasil uji t didapatkan nilai

signifikansi p = 0,505. Hasil tersebut membuktikan bahwa tidak

ada perbedaan

bermakna dari rendaman kangkung dan rendaman tinja kelinci.

Setelah uji t, dilakukan pula uji statistik Analisa Varians (Anova)

untuk

membandingkan rerata kadar organik yang dipakai. Terlebih dahulu dilakukan uji

homogenitas Levene’s test dengan nilai p = 0,261 yang berarti data homogen. Hasil

Anova didapatkan nilai signifikansi p = 0,048. Hasil uji tersebut menunjukkan bahwa

terdapat perbedaan rerata yang signifikan pada tiap kelompok kadar organik yang

dipakai. Untuk mengetahui kelompok mana yang mempunyai perbedaan yang

signifikan itu maka dilanjutkan dengan Post Hoc test dengan hasil seperti tertera pada

tabel 3.

(58)

commit to user

Tabel 3. Hasil Uji (Post Hoc) antar Kadar

Variabel

Kelompok

Perlakuan

Kelompok

Perlakuan

Nilai p

Kadar

Kadar I

Kadar II

0,938

Kadar III

0,938

Kadar IV

0,021

Kadar II

Kadar I

0,938

Kadar III

0,877

Kadar IV

0,025

Kadar III

Kadar I

0,938

Kadar II

0,877

Kadar IV

0,018

Kadar IV

Kadar I

0,21

Kadar II

0,25

Kadar III

0,018

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa kadar IV yang memiliki

perbedaan paling signifikan dilihat dari jumlah larva yang tersisa dibandingkan

dengan kadar yang lain. Setelah semua kadar dibandingkan, didapatkan bahwa kadar

4 mempunyai nilai yang signifikan p <0,05 jika dibandingkan dengan kadar 1,2 dan3.

Gambar

Gambar 1. Morfologi Mesocyclops aspericornis          (labs1.eol.org)
Gambar 1. Morfologi Mesocyclops aspericornis
Tabel  1.  Rerata  Jumlah  Jentik  Nyamuk  Aedes  aegypti  yang  Tersisa  setelah  48  Jam  Pengamatan
Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Data

Referensi

Dokumen terkait

Dalam Melakukan Pelayanan Terhadap Pengguna Pada Perpustakaan Universitas. Muhammadiyah

Langkah-langkah dalam proses penelitian dan pengembangan dikenal dengan istilah lingkaran research dan development yang terdiri atas, (a) meneliti hasil penelitian

Pemanfaatan Open Source Software Pendidikan Oleh Mahasiswa Dalam Rangka Implementasi Undang- Undang No.. 19 Tahun 2002 Tentang

Saat ini kebutuhan akan website sudah bukan menjadi kebutuhan perusahaan- perusahaan yang bergerak di bidang informasi saja, tetapi kepemilikian website sudah menjadi

Oleh sebab itu kami berinisiatif untuk membuat produk olahan dari tepung iles-iles berupa penganan ringan “konyaku iles - iles cokelat” yang enak, berserat tinggi,

Dalam penelitian ini menggunakan jenis data kuantitatif dimana dalam penelitian ini yang merupakan data kuantitatif adalah jumlah investasi di Provinsi Bali, data perkembangan PDRB

Pola pembinaan yang dilakukan oleh TK/TPA Al-Muliya Kelurahan Pannampu Kecamatan Tallo pada umumnya mengacu kepada pola pembinaan TK/TPA secara Nasional, yaitu

Akhirnya penyusun berharap semoga Tugas Akhir dengan judul Perencanaan Struktur Rumah Tinggal 2 Lantai ini dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan semua Civitas