• Tidak ada hasil yang ditemukan

TRI SETIOWATI. Kata Kunci : GRT, AKDR, Faktor Sosial

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TRI SETIOWATI. Kata Kunci : GRT, AKDR, Faktor Sosial"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM PADA AKSEPTOR KB GOLONGAN RISIKO TINGGI DI PUSKESMAS WILAYAH KEC. CIMAHI

SELATAN KOTA CIMAHI TAHUN 2008

TRI SETIOWATI

ABSTRAK

Program Keluarga Berencana (KB) merupakan pilar pertama dalam 4 pilar Safe Motherhood. Salah satu sasaran program KB adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang termasuk ke dalam Golongan Risiko Tinggi (GRT)/( Limiting Phase) yaitu PUS yang termasuk kedalam fase membatasi kelahiran, yang mana telah memiliki anak > 3 dan berumur > 34 tahun. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan salah satu Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) dan suatu alternatif pilihan yang tepat bagi PUS GRT. Proporsi penggunaan AKDR pada akseptor KB GRT di Puskesmas Wilayah Kecamatan Cimahi Selatan sangat rendah yaitu hanya 28,38%.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan faktor sosio demografi, budaya, akses terhadap pelayanan serta sosio psikologi dengan penggunaan AKDR pada akseptor KB GRT di Puskesmas Wilayah Kecamatan Cimahi Selatan dengan sampel penelitian sebanyak 260 responden (130 responden sebagai kasus dan 130 responden sebagai kontrol). Pengambilan sampel menggunakan metode

proportional random sampling. Metode analisis data menggunakan uji Chi Square dan uji regresi logistik ganda .

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara faktor sosio demografi (p value 0.001) , faktor budaya (p value 0.0005), faktor akses terhadap pelayanan (p value 0.0005) dan faktor sosio psikologi (p value 0.002) dengan penggunaan AKDR. Uji regresi logistik ganda menunjukkan faktor budaya merupakan faktor dominan mempengaruhi penggunaan AKDR (p value 0.0005).

Kesimpulan penelitian adalah faktor sosio demografi, faktor budaya, akses terhadap Pelayanan serta faktor sosio psikologi berhubungan dengan penggunaan AKDR dan faktor budaya merupakan faktor yang dominan. Saran penelitian ini adalah diharapkan para tenaga kesehatan di Puskesmas Cimahi Selatan dapat memberikan penyuluhan mengenai metode kontrasepsi difokuskan pada suami PUS GRT yang menggunakan metode kontrasepsi jangka pendek untuk dapat menggunakan AKDR.

Kata Kunci : GRT, AKDR, Faktor Sosial

A. PENDAHULUAN

Kondisi kesehatan reproduksi di negara Indonesia masih buruk, terbukti dari AKI yang masih tinggi dibandingkan dengan Negara-negara ASEAN lainnya. Pada tahun 1994 AKI di Indonesia adalah 390 per 100.000 kelahiran hidup. Penurunan AKI tersebut sangat lambat, yaitu 334 per 100.000 KH pada tahun 1997, 307 per 100.000 KH tahun 2003 dan 225 per 100.000 KH pada tahun 2005 (target pada tahun 2010 ditargetkan menjadi 125 per 100.000 KH).

Penyebab kematian maternal tersebut di atas dapat disebabkan oleh penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab langsung kematian ibu terjadi pada umumnya karena kondisi kehamilan dan persalinan yang tergolong kedalam risiko tinggi. Penyebab langsung AKI menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 adalah karena perdarahan (28%), eklampsi (24%), infeksi (11%), komplikasi puerperium (11%), abortus (5%), trauma obstetrik (5%), emboli obstetrik (5%), partus macet (5%) serta lainnya (11%). Menurut Azwar, faktor tidak langsung dapat dilihat dari dua sisi yaitu dari sisi Consumer, yaitu oleh karena tingkat pendidikan kaum ibu yang masih

(2)

rendah, tingkat sosial dan ekonomi kaum ibu yang masih rendah, keadaan sosial ekonomi dan budaya yang tidak mendukung, status gizi ibu hamil yang rendah, faktor lain adalah kedudukan dan peran ibu dalam masyarakat yang tidak mendukung. Dari sisi Provider, yaitu mencakup jumlah sarana dan pelayanan maternal, kualitas dan efektifitas pelayanan maternal, neonatal bayi dan balita yang belum memadai dan pelayanan yang diberikan masih bersifat pendekatan klinik serta sistem rujukan yang belum mantap.4 Namun Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2002-2003

menunjukkan bahwa penyebab tidak langsung kematian ibu adalah karena 22,4% ibu masih dalam keadaan “4 terlalu” yaitu 4,1% kehamilan terjadi pada ibu berumur kurang dari 18 tahun (terlalu muda), 3,8% terjadi pada ibu berumur lebih dari 34 tahun (terlalu tua), 5,2% persalinan terjadi dalam interval waktu kurang dari 2 tahun (terlalu sering) dan 9,3% ibu hamil mempunyai paritas lebih dari 3 (terlalu banyak).

Kondisi kesehatan reproduksi di Indonesia sangat mengkhawatirkan seperti yang dijelaskan di atas bahwa ternyata yang menjadi penyebab AKI di Indonesia masih tinggi selain dari faktor penyebab obstetrik dan ginekologi (klinik), ternyata faktor sosial ikut berperan sangat besar dalam terwujudnya suatu Quality of Life (QOL), sehingga untuk meminimalkan faktor penyebab AKI di Indonesia, maka kebijakan baru yang harus dilakukan adalah selain menggunakan pendekatan obstetrik dan ginekologi klinik (ObGinKl) juga harus diikuti dengan pendekatan Obstetri dan Sosial (ObSos) yang mampu berpengaruh terhadap perubahan kondisi kesehatan reproduksi di Indonesia.

Sesuai dengan kebijakan pemerintah, masalah kesehatan reproduksi dibagi dalam 5 program berdasarkan Life Cycle Approach yaitu Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Keluarga Berencana (KB), Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), Penyakit Menular Seksual/HIV/AIDS dan kesehatan Reproduksi Usia Lanjut yang terdiri dari Menopause dan Onkologi Ginekologi. Masalah kesehatan reproduksi di atas merupakan suatu masalah yang kompleks sehingga diperlukan intervensi yang mempunyai dampak nyata dalam waktu relatif pendek. Intervensi strategi dalam upaya Safe Motherhood dinyatakan sebagai Empat Pilar Safe Motherhood yaitu Pilar pertama program keluaraga berencana dilanjutkan dengan pilar-pilar yang lain ialah asuhan antenatal, persalinan bersih dan aman dan pelayanan obstetrik esensial. Walaupun keempat program tersebut di atas sama pentingnya dan perlu ditanggulangi, tetapi dalam penyelesaiannya, harus ada perbedaan dalam skala prioritasnya. Keluarga Berencana termasuk salah satu program kesehatan reproduksi yang muncul dalam urutan pertama dalam 4 pilar Safe Motherhood dan sangat erat kaitannya dengan program KIA.

Bertrand (1980) menyatakan bahwa ada tiga faktor yang mempengaruhi penggunaan kontrasepsi oleh PUS, yaitu faktor sosio demografi, sosio psikologis (sikap) dan faktor pelayanan (provider). Lain halnya menurut Budi Utomo dan kawan-kawan (1985) menyatakan bahwa pemaparan terhadap media informasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penggunaan kontrasepsi. Hasil penelitian yang dilakukan Hendrawan menunjukkan bahwa pengaruh dukungan suami

(3)

merupakan faktor dominan yang menentukan untuk pencarian pelayanan kesehatan dalam hal ini termasuk dalam pencarian pelayanan KB.

Sasaran program KB adalah seluruh Pasangan Usia Subur (PUS) baik yang menunda kelahiran anak pertama (posponing), menjarangkan anak (spacing) maupun membatasi jumlah anak yang diinginkan (limiting), semua sasaran di atas berperan penting. Karena keterbatasan waktu peneliti sehingga yang hanya menjadi bagian sasaran dari penelitian ini hanya Pasangan Usia Subur (PUS) yang termasuk ke dalam Golongan Risiko Tinggi (limiting phase). Fase penghentian kehamilan/kesuburan atau istilah lain adalah fase pembatasan kelahiran (limiting phase) merupakan suatu fase yang mana seseorang ibu masuk dalam kategori risiko tinggi dalam melahirkan yaitu yang mana seorang PUS memasuki usia >34 tahun dan dengan paritas >3. Kategori risiko di atas merupakan suatu fenomena yang terjadi di Indonesia. Berikut ini merupakan gambaran angka kejadian kategori risiko saat melahirkan di Indonesia pada tahun 1994, 1997 dan 2002-2003 :

Tabel 1. Angka PUS kategori risiko tinggi saat melahirkan di Indonesia Tahun 1994,1997 dan Tahun 2003-2003

No Kategori Risiko Persentase Melahirkan Berisiko pada 5

tahun sebelum survei

1994 1997 2002-2003

A Kategori Risiko Tinggi Tunggal 1. Umur ibu >34 tahun 2. Paritas >3 1,8 17,3 2,4 13,8 3,8 9,4 B Kategori Risiko Tinggi Ganda

Umur >34 Tahun dan paritas >3 8,9 8,7 8,5

Sumber : SDKI 1994, SDKI 1997 dan SDKI 2002-2003

Berdasarkan Data tersebut di atas menunjukkan bahwa kategori risiko tinggi tunggal dilihat dari karakteristik usia ibu mengalami peningkatan sedangkan dilihat dari karakteristik paritas dan dilihat dari segi kategori risiko tinggi ganda walaupun mengalami penurunan, tetapi angka penurunan tersebut sangat sedikit sekali sehingga hal tersebut masih merupakan penyebab tidak langsung dalam memberikan kontribusi peningkatan AKI di Indonesia yang masih tinggi yang disebabkan oleh karena 4 terlalu.

Penggunaan suatu metode kontrasepsi merupakan alternatif pemecahan masalah dalam menghindari kehamilan yang berisiko tinggi terutama ditujukan pada PUS GRT sehingga metode kontrasepsi yang diperlukan haruslah suatu metode kontrasepsi yang efektif, efisien dan aman. Metode kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) merupakan suatu pilihan yang tepat dalam pemenuhan kebutuhan metode kontrasepsi bagi PUS dengan golongan risiko tinggi.

Kota Cimahi merupakan suatu kota yang memiliki 3 (tiga) kecamatan yaitu kecamatan Cimahi Utara, Cimahi Tengah dan Cimahi Selatan dan keseluruhan kota Cimahi memiliki 9 Puskesmas binaan. Berdasarkan data dari laporan Badan Pengembangan Masyarakat Keluarga Berencana (BPMKB) Kota Cimahi Tahun 2007 menunjukkan bahwa jumlah PUS di Puskesmas wilayah

(4)

kecamatan Cimahi Utara sebesar 22.391 dengan pembagian PUS status ber KB sebanyak 17.559, sedangkan PUS dengan status tidak ber KB sebanyak 4828 orang. PUS dengan status akseptor KB dari 22.391 akseptor terdapat 429 orang yang termasuk kedalam golongan risiko tinggi (limiting phase)

,yang mana hanya 187 (43,6%) yang menggunakan kontrasepsi jenis MKJP, sedangkan 242 (56,4%) akseptor menggunakan jenis metode kontrasepsi Non MKJP. Kondisi jumlah PUS di Puskesmas di Kecamatan Cimahi Selatan sebesar 36.557 dengan pembagian PUS status ber KB sebanyak 26.030 akseptor sedangkan PUS dengan status tidak ber KB sebanyak 8541 orang. PUS dengan status akseptor KB dari 26.030 akseptor terdapat 532 orang yang termasuk kedalam golongan risiko tinggi yang mana hanya 151 (28,38%) yang menggunakan kontrasepsi jenis AKDR sedangkan 381 (71,62%) akseptor menggunakan jenis metode kontrasepsi Non AKDR , bila dibandingkan kondisi pemilihan metode kontrasepsi AKDR pada PUS GRT di Puskesmas wilayahkecamatan Cimahi Utara memiliki prosentase yang lebih tinggi dibandingkan dengan Puskesmas di wilayah Kecamatan Cimahi Selatan. Fenomena yang terjadi di Kecamatan Cimahi Selatan tersebut sangat mengkhawatirkan karena PUS dengan GRT tersebut sebaiknya tidak menggunakan jenis kontrasepsi jangka pendek karena angka kegagalan yang tinggi apabila tidak digunakan secara disiplin dan benar.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilaksanakan pada tanggal 24 – 26 Juni 2008 di Puskesmas Cipageran Kecamatan Cimahi Utara, yang dilakukan pada 30 Akseptor KB golongan risiko tinggi yang non AKDR menyebutkan bahwa alasan mengapa tidak menggunakan AKDR adalah sebagai berikut 19 (63%) : akseptor mengatakan takut untuk menggunakan AKDR karena takut menimbulkan nyeri pada saat pemasangan, takut perdarahan yang terus menerus (efek samping) dan takut AKDR berpindah tempat dari tempat yang seharusnya , 7 (21%) akseptor karena tidak boleh oleh suami dan 4 (16%) akseptor berpersepsi mahal apabila menggunakan AKDR, namun dari segi provider tidak menunjukkan suatu masalah yang berhubungan dengan penggunaan AKDR.

B. METODE PENELITIAN

Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi analitik dengan pendekatan studi kasus kontrol (case control) sedangkan subyek dalam penelitian ini adalah akseptor KB golongan risiko tinggi (limiting phase) yang menggunakan metode kontrasepsi jangka pendek yang disebut sebagai kasus dan yang menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim dijadikan sebagai kontrol, yang semuanya berada di Puskesmas wilayah Kecamatan Cimahi Selatan tahun 2007, yang berjumlah 532 orang, yang mana distribusi kasus sebanyak 151 orang sedangkan distribusi jumlah populasi sebanyak 381 orang.

Metode penarikan sampel yang digunakan pada penelitian ini, untuk jumlah sampel kasus minimal dihitung dengan menggunakan rumus desain penelitian kasus kontrol tidak berpadanan (Unmatching) dengan perbandingan kasus dan kontrol 1:1, sehingga berdasarkan hasil perhitungan didapatkan sampel sebesar 130 orang, dengan pembagian jumlah kasus 130 orang dan kontrol 130

(5)

orang, yang pada akhirnya jumlah seluruh responden sebesar 260 akseptor. Distribusi sampel per Puskesmas menggunakan teknik proportional random sampling. Adapun kriteria inklusi dalam penelitian ini terbagi menjadi 2 yaitu :

1. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah terbagi menjadi 2 (dua) yaitu : a. Kriteria inklusi yang menjadi Kasus

1) Akseptor KB baru wanita yang tercatat di Puskesmas Wilayah Kecamatan Cimahi Selatan Tahun 2007.

2) Akseptor yang menggunakan metode kontrasepsi jangka pendek (Metode kontrasepsi Pil dan Suntik)

3) Akseptor yang berumur > 34 tahun dan memiliki anak > 3 b. Kriteria Inklusi yang menjadi Kontrol

1) Akseptor KB baru wanita yang tercatat di Puskesmas wilayah Kecamatan Cimahi Selatan Tahun 2007.

2) Akseptor yang menggunakan metode kontrasepsi AKDR

3) Akseptor yang berumur 34 tahun dan memiliki anak > 3

2. Kriteria Eksklusi

a. Tidak bersedia menjadi responden

b. Semua responden yang mengisi kuesioner tidak lengkap.

Tekhnik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan menggunakan istrumen berupa angket/kuesioner untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap akseptor mengenai kontrasepsi AKDR.

C. HASIL PENELITIAN 1. Hasil Analisis Bivariat

a. Hubungan Faktor Sosio Demografi terhadap penggunaan AKDR

Distribusi frekuensi hubungan faktor sosio demografi terhadap penggunaan AKDR dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini :

Tabel 1 Distribusi Frekuensi Hubungan Faktor Sosio Demografi terhadap Penggunaan AKDR pada Akseptor KB GRT di Puskesmas Wilayah Kecamatan Cimahi Selatan Tahun 2008 Sosio Demografi Akseptor KB Total OR (CI:95%) P Value Kasus Kontrol N % n % N % 2,634 (1,482-4.683) 0.001 Rendah 107 82,3 83 63,8 190 73,1 Tinggi 23 17,7 47 36,2 70 26,9 Total 130 100 130 100 260 100

(6)

Faktor sosio demografi didalamnya meliputi unsur tingkat pendidikan dan pengetahuan, yang mana menurut Bertrand (1980) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penggunaan kontrasepsi termasuk didalamnya penggunaan metode kontrasepsi AKDR. Demikian pula hasil penelitian yang dilakukan Sujana Jatiputra (1982) di Jakarta, bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan semakin besar proporsi pemakaian alat kontrasepsi AKDR. Hal ini sejalan dengan penelitian Zanzibar (2003) yang menyatakan bahwa responden yang berpengetahuan tinggi mempunyai peluang untuk memakai AKDR sebesar 4,07 kali.

b. Hubungan Faktor Budaya terhadap Penggunaan AKDR

Distribusi frekuensi Hubungan faktor budaya yang dinyatakan dengan dukungan suami dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini :

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Hubungan faktor Budaya terhadap Penggunaan AKDR pada Akseptor KB GRT di Puskesmas Di Wilayah kecamatan Cimahi Selatan Tahun 2008

Budaya Akseptor KB Total OR

(CI:95%) P Value Kasus Kontrol N % N % N % Tidak Mendukung 105 80,8 16 12,3 121 46.5 29.925 (15.142 – 59.139) 0.0005 Mendukung 25 19,2 114 87,7 139 53.5 Jumlah 130 100 130 100 260 100

Hasil penelitian ini pun sejalan dengan penelitian Syamsiah (2002) dan Zanzibar (2003), bahwa hubungan dukungan suami sangat bermakna dalam pemakaian AKDR. Dukungan Suami sangat diperlukan dalam pemakaian AKDR, karena sebelum pemakaian AKDR harus ada bukti tertulis/ persetujuan tindakan medis (informed consent) dari pasangan. Informed Consent pada pemasangan AKDR diberikan kepada klien atau suaminya atas dasar informasi dan penjelasan mengenai tindakan medis yang akan dilakukan, bukti tersebut tertuang dalam formulir yang tersedia di tempat pelayanan KB.

c. Hubungan Faktor Akses Pelayanan terhadap Penggunaan AKDR

Distribusi frekuensi Hubungan faktor akses pelayanan terhadap penggunaan metode kontrasepsi AKDR dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini :

Tabel 3 Distribusi Frekuensi Hubungan Faktor Akses pelayanan dengan Penggunaan AKDR pada Akseptor KB GRT di Puskesmas Wilayah Kecamatan Cimahi Selatan Tahun 2008 Akses Terhadap pelayanan Akseptor KB Total OR (CI:95%) P Value Kasus Kontrol N % N % N % Sulit 48 36,9 13 10,0 61 23,5 5.268 (2.683-10.344) 0.0005 Mudah 82 63,1 117 90,0 199 76,5 Jumlah 130 100 130 100 260 100

(7)

Penelitian-penelitian yang mendukung hasil tersebut diantaranya adalah Budi Utomo (1985), bahwa media massa akan mempengaruhi pemakaian metode kontrasepsi. Penelitian yang dilakukan oleh Hadi Pratomo menunjukkan juga hal yang mendukung penelitian ini, yaitu bahwa ternyata ada pengaruh pemaparan pesan KB dengan pemakaian cara kontrasepsi. Dalam penelitian ini, banyak akseptor yang beranggapan bahwa harga penggunaan AKDR itu mahal sehingga akses pelayanan AKDR sulit untuk dijangkau , padahal penyediaan AKDR dari sisi pemerintah lebih efisient dengan jumlah penduduk miskin yang jumlahnya besar, dan dari sisi klien keluarga miskin akan sangat menguntungkan karena tidak banyak dituntut untuk pengeluaran uang yang berulang untuk transport dan meninggalkan rumah/pekerjaan. Disini persepsi yang menyatakan AKDR mahal sangat tidak tepat, karena untuk keluarga miskin alat tersebut dapat diperoleh pada pelayanan kesehatan di Puskesmas ataupun rumah sakit dengan gratis apabila memiliki kartu askeskin, dan untuk pemakaian jangka panjang lebih murah karena tidak membutuhkan kunjungan berulang dibandingkan dengan pemakaian suntik, sehingga persepsi repot juga tidak benar. Berdasarkan penelitian tersebut terjawab mengapa responden beranggapan bahwa AKDR mahal ternyata persepsi tersebut diasumsikan bila penggunaan AKDR didapatkan di bidan praktek swasta, padahal apabila metode kontrasepsi AKDR didapat di Puskesmas jauh lebih murah, hal ini karena ketidaktauan repsonden mengenai hal tersebut.

d. Hubungan Faktor Sosio Psikologi terhadap Penggunaan AKDR

Distribusi frekuensi Hubungan faktor Sosio Psikologi yang dinyatakan dengan sikap responden terhadap penggunaan AKDR dapat dilihat pada tabel 4 di bawah ini :

Tabel 4 Distribusi Frekuensi Hubungan Faktor Sikap terhadap AKDR Dengan Penggunaan AKDR pada Akseptor KB GRT di Puskesmas Wilayah Kecamatan Cimahi Selatan Tahun 2008

Sosio Psikologi Akseptor KB Total OR (CI:95%) P Value Kasus Kontrol N % N % N % Negatif 73 56,2 47 36,2 120 46.2 2.262 (1.374-3.722) 0.002 Positif 57 43,8 83 63,8 140 53.8 Jumlah 130 100 130 100 260 100

Menurut Royston (1994) salah satu hambatan dalam penerimaan kontrasepsi adalah malu karena ada larangan (tabu) untuk memanipulasi alat kelamin wanita, sehingga alat kontrasepsi tersebut menghilangkan minat wanita, dalam hal ini AKDR termasuk kedalam alat kontrasepsi tersebut. Penelitian tersebut sesuai dengan studi Kuantitatif dan kualitatif Winarni (2000) di Propinsi Bengkulu desas-desus yang berkembang di masyarakat menyatakan AKDR dapat jalan-jalan sampai ke jantung, AKDR masuk ke dalam rahim pada waktu terjadi kehamilan. Adanya perasaan takut pada akseptor KB yang disebabkan pengetahuan mereka tentang besarnya risiko AKDR sangat kurang, sehingga responden beranggapan bahwa risiko tersebut akan terjadi pada

(8)

mereka bila menggunakan AKDR. Kurangnya pengetahuan tentang risiko tersebut karena informasi yang diterima bukan dari provider tetapi dari tetangga atau teman.

2 Hasil Analisis Multivariat

a. Pemilihan Variabel Kandidat Multivariat

Pada penelitian terdapat variabel yang diduga berhubungan dengan penggunaan AKDR yaitu variabel sosio demografi, budaya, akses terhadap pelayanan dan sosio psikologi. Tahap ini dilakukan analisis bivariat untuk memilih variabel independen yang potensial atau dapat dimasukkan ke dalam seleksi pemilihan variabel kandidat yang masuk ke dalam model. Variabel yang dapat masuk ke dalam seleksi apabila nilai P < 0.25, pada analisis bivariat variabel yang mempunyai makna secara substansi dapat dijadikan sebagai kandidat yang akan dimasukkan ke dalam model multivariat. Hasil analisis bivariat antara variabel independen dan dapat dilihat pada tabel 5 berikut ini :

Tabel 5 Hasil seleksi bivariat variabel independen calon model analisis multivariat

No Variabel p value

1 Sosio Demografi 0.001

2 Akses Pelayanan 0.0005

3 Budaya 0.0005

4 Sosio Psikologis 0.001

Dari tabel diatas, semua variabel mempunyai P value < 0.25, sehingga semua variabel dapat dimasukkan dalam model awal multivariat.

b. Permodelan Multivariat

Setelah tahap pemilihan variabel kandidat untuk multivariat, tahap berikutnya adalah melakukan analisis multivariat secara bersama-sama. Variabel yang valid dalam model multivariat adalah variabel yang mempunyai p value < 0.05. Apabila dalam model multivariat ada variabel dengan p value > 0.05, maka variabel tersebut harus dikeluarkan dalam model, pengeluaran variabel dilakukan tidak serempak, melainkan bertahap satu-persatu dimulai dari p

value yang terbesar. Hasil model awal untuk analisis multivariat dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut :

Tabel 6 Model Awal Analisis Multivariat

Variabel B OR 95% CI p Value Sosio Demografi 0.079 1.082 0.43 – 2.424 0.847 Akses Pelayanan 1.002 2.724 1.126– 6.594 0.026 Budaya 3.310 27.376 12.927 – 57.974 0.0005 Sosio Psikologis 1.045 2.843 1.395 – 5.793 0.004 Konstanta -3.20 0.040

(9)

Model awal analisis multivariat di atas menunjukan variabel Sosio Demografi harus dikeluarkan dari pemodelan karena nilai p value nya > 0,05, dengan mempertimbangkan perubahan nilai OR masing-masing variabel, apabila perubahan nilai OR setelah salah satu variabel yang dikeluarkan besarnya kurang dari 10%, variabel tersebut dapat dikeluarkan dari analisis, tetapi apabila perubahan OR lebih dari 10%, maka variabel tersebut dinyatakan sebagai konfounding dan harus tetap berada dalam model, sehingga harus dimasukkan kembali dalam analisis. Setelah dilakukan analisis, variabel Sosio Demografi dapat dikeluarkan dari pemodelan, karena perubahan OR dibawah 10%.

c. Model Akhir

Hasil akhir model analisis multivariat dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 7 Model Akhir Analisis Multivariat

Variabel B OR 95% CI p Value

Akses Pelayanan 1.004 2.729 1.128 – 6.606 0.026

Budaya 3.329 27.919 13.519 – 57.658 0.0005

Sosio Psikologis 1.044 2.841 1.394 – 5.791 0.004

Konstanta -3.199 0.041

Tabel 7 menunjukan variabel yang masuk model akhir setelah melalui beberapa tahapan analisis regresi logistik ganda. Variabel yang berhubungan dengan pemilihan AKDR adalah variabel akses pelayanan, budaya dan sosio psikologis, variabel yang besar pengaruhnya terhadap pemilihan AKDR adalah variabel budaya (OR : 27.919).

Model persamaan regresi logistik pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

z = -3.199 + 1.004 (akses pelayanan) + 3.329 (budaya) – 1.044 (sosio psikologis) maka, probabilitas pemilihan AKDR dapat diketahui dengan perhitungan sebagai berikut :

) 044 . 1 329 . 3 004 . 1 199 . 3 (

041

,

0

1

1

)

(

+ +

+

=

x

p

= 42,86%

Berarti, ibu yang mempunyai akses pelayanan yang mudah, budaya yang mendukung, dan aspek sosio psikologis yang positif mempunyai probabilitas 0,4286 untuk memilih AKDR. Dapat disimpulkan bahwa pemilihan AKDR dipengaruhi oleh akses pelayanan, budaya dan sosio psikologi sebesar 42.86%, sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya yang tidak diteliti.

D. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan

a. Ada Hubungan antara faktor Sosio Demografi terhadap penggunaan AKDR pada akseptor KB GRT di Puskesmas wilayah Kecamatan Cimahi Selatan Tahun 2007. Faktor Sosio Demografi yang rendah pada kelompok kasus 2,634 kali untuk tidak menggunakan AKDR dibandingkan dengan akseptor KB GRT yang memiliki faktor sosio demografi yang tinggi.

(10)

b. Ada Hubungan antara faktor Budaya terhadap penggunaan AKDR pada akseptor KB GRT di Puskesmas wilayah Kecamatan Cimahi Selatan Tahun 2007. Faktor budaya dalam hal ini adalah dukungan suami pada kelompok kasus 29,925 kali untuk tidak menggunakan AKDR dibandingkan dengan akseptor KB GRT yang didukung oleh faktor budaya.

c. Ada Hubungan antara faktor Akses pelayanan terhadap penggunaan AKDR pada akseptor KB GRT di Puskesmas wilayah Kecamatan Cimahi Selatan Tahun 2007. Faktor Akses terhadap pelayanan yang sulit pada kelompok kasus 5,268 kali untuk tidak menggunakan AKDR dibandingkan dengan akseptor KB GRT yang mudah terhadap akses pelayanan AKDR.

d. Ada Hubungan antara faktor Sosio Psikologi terhadap penggunaan AKDR pada akseptor KB GRT di Puskesmas wilayah Kecamatan Cimahi Selatan Tahun 2007. Faktor Sosio Psikologi yang negatif terhadap AKDR pada kelompok kasus 2,262 kali untuk tidak menggunakan AKDR dibandingkan dengan akseptor KB GRT yang faktor sosio psikologi yang positif terhadap AKDR.

2. Saran

a. Ada Hubungan antara faktor Sosio Demografi terhadap penggunaan AKDR pada akseptor KB GRT di Puskesmas wilayah Kecamatan Cimahi Selatan Tahun 2007. Faktor Sosio Demografi Perlu penelitian lebih lanjut dengan populasi yang lebih representative, subyek yang lebih banyak dan metodologi yang lebih baik, agar mendapat kepastian bahwa faktor-faktor sosial yang dipermasalahkan pada penelitian ini, bias benar-benar teruji. Dengan demikian menambah dukungan terhadap teori yang menyatakan bahwa faktor-faktor sosial memang berpengaruh terhadap kegiatan klinik, termasuk pemakaian AKDR.

b. Mengingat adanya faktor – faktor sosial yang berpengaruh terhadap penggunaan AKDR, termasuk faktor budaya (Dukungan suami), perlu dilakukan intensifikasi penyuluhan kepada semua Pasangan Usia Subur (PUS)

c. Agar pengetahuan tentang adanya pengaruh faktor sosial terhadap penggunaan AKDR dipunyai oleh semua petugas kesehatan reproduksi, khususnya bidan, maka perlu diadakan penyempurnaan kurikulum, terutama dalam segi materi dan cara pembelajarannya.

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Affandi, Saifuddin, Enriquito. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, Yayasan Bina Pustaka Sarwono. Jakarta; 2003

Barus N. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemilihan MKJP pada akseptor KB di Kecamatan Persit Sei Tuan. Majalah Kesehatan Masyarakat No xxii FKM UI. Jakarta; 1994.

Bertand, J.T. Audience Research For Improving Family Palnning Communication Program. Community and Family Study Center. Chicago; 1980.

Jati Putra, S. Peserta Keluarga Berencana di DKI Jakarta, Laporan survey. Jakarta; 1982 Pratomo, H. Communication Aspect and their Aplication on the informationof family planning

program in Indonesia. Jakarta.

Rosyston, E. and Amstrong Sue. Pencegahan Kematian Ibu Hamil. Bina Rupa Aksara. Jakarta; 1994

Syamsiah. Peranan Dukungan Suami dalam Pemilihan Alat Kontraepsi Pada Peserta KB di Kelurahan Serasan Jaya, Soak Baru dan Balai Agung Kecamatan Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan Tahun 2002. Tesis. FKM UI. Jakarta; 2002

Utomo, B. Analisis logistik linier wanita. LP-UI. Jakarta; 1985.

Winarni, et al. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pemakaian IUD di Propinsi Bengkulu (Studi Kuantitatif dan Kualitatif ). BKKBN. Jakarta; 2000

Wiyono,W. Karakteristik Demografi, sosial dan ekonomi perempuan. Jakarta; 2006.

Zanzibar. Status Ekonomi dan Pengetahuan Kontrasepsi pada Akseptor KB serta Hubungannya dengan Pemakaian AKDR di Kecamatan Baturaja Timur Kabupaten Ogan Komering Ulu Tahun 2003, Tesis.FKM UI. Jakarta ; 2003

Gambar

Tabel 1. Angka PUS kategori risiko tinggi saat melahirkan di Indonesia Tahun 1994,1997 dan Tahun  2003-2003
Tabel  1  Distribusi  Frekuensi  Hubungan  Faktor  Sosio  Demografi  terhadap  Penggunaan  AKDR  pada Akseptor KB GRT di Puskesmas Wilayah Kecamatan Cimahi Selatan Tahun 2008  Sosio  Demografi  Akseptor KB  Total  OR  (CI:95%)  P  Value  Kasus  Kontrol  N  %  n  %  N  %                   2,634  (1,482-4.683)  0.001 Rendah 107 82,3 83 63,8 190 73,1  Tinggi  23  17,7  47  36,2  70  26,9  Total  130  100  130  100  260  100
Tabel 2  Distribusi Frekuensi Hubungan faktor Budaya terhadap Penggunaan AKDR pada  Akseptor KB GRT di Puskesmas Di Wilayah kecamatan Cimahi Selatan Tahun 2008
Tabel 4 Distribusi Frekuensi Hubungan Faktor Sikap terhadap AKDR Dengan Penggunaan AKDR  pada Akseptor KB GRT di Puskesmas Wilayah Kecamatan Cimahi Selatan Tahun 2008
+2

Referensi

Dokumen terkait

Customer Database, Supplier Database, Employee Database, Transaction Management, Inventory Management, Debt Management, Report Management, Payroll Management, Other Income

Frutablend asli adalah frutablend yang harus anda dapatkan, karena di luar sana, banyak sekali yang menjual frutablend KW, atau frutablend palsu. hal ini dapat diketahi dari harga

Hasil penyeleksian arsip dituangkan dalam daftar arsip usul musnah paling sedikit berisi: nomor, kode klasifikasi arsip, jenis arsip, tahun, jumlah, tingkat perkembangan,

Dengan cara kerja jemuran listrik otomatis diatas, dengan daya yang kecil yang disurvaykan pada beberapa populasi atau masyarakat yang berbeda, diharapkan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis maksim, jenis-jenis maksim yang dilanggar, dan makna penutur dalam penyimpangan maksim dalam dialog yang ditemukan di

Oleh karena itu pelayanan informasi yang cepat, tepat dan lengkap data sangat diperlukan Berdasarkan hal tersebut di atas, penulis ingin membuat sebuah web yang dapat mempermudah

pad cijene dionica ukazuje na to da je veći broj dioničara Porschea prodao svoje dionice odmah nakon priopćenja za javnost. Druga faza odnosi se na događaje koji su

Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan penyuluhan kepada masyarakat cara pemanfaatan air kelapa menjadi nata de coco dan penanganannya pasca panen, Memberikan petunjuk