PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENGELOLAAN LINGKUNGAN

56  Download (0)

Full text

(1)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA

MATERI PENGELOLAAN LINGKUNGAN

(Studi Eksperimen Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Rebang Tangkas Semester Genap Tahun Pelajaran 2014/2015)

(Skripsi)

OLEH NIA NELIANA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2016

(2)

ABSTRAK

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA

MATERI PENGELOLAAN LINGKUNGAN (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Rebang Tangkas Semester Genap Tahun Pelajaran 2014/2015)

Oleh Nia Neliana

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan Problem Based Learning terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 1 Rebang Tangkas semester genap TP. 2014/2015 pada Materi Pengelolaan Lingkungan.

Penelitian ini merupakan kuasi eksperimen dengan desain pretes postes non-ekuivalen. Sampel penelitian adalah siswa kelas VII A dan C yang dipilih dari populasi secara purposive sampling. Data penelitian ini berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa data yang diperoleh dari aktivitas belajar siswa yang dianalisis secara deskriptif, sedangkan data kuantitatif berupa data hasil belajar yang diperoleh dari rata-rata nilai pretes dan postes yang dianalisis secara statistik menggunakan Uji t melalui program SPSS 17. Dan

Hasil penelitian menunjukkan hasil belajar kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol (eksperimen = 82,69 dan kontrol 71,15). Rata-rata persentase

(3)

Nia Neliana

iii

aktivitas belajar siswa pada kelas eksperimen juga menunjukkan peningkatan yang lebih tinggi pada kelas eksperimen daripada kontrol (eksperimen = 51 dan kontrol = 40). Dengan demikian, penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning berpengaruh terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi pengelolaan lingkungan.

Kata kunci : Problem Based Learning, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar dan Pengelolaan Lingkungan

(4)

Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Terhadap Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa

pada Materi Pokok Pengelolaan Lingkungan (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1

Rebang Tangkas Tahun Pelajaran 2014/2015)

Oleh Nia Neliana

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

pada

Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2016

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Way Kanan, pada tanggal 08 Juni 1993, merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan Bapak Karmawan dengan Ibu Ishandari. Tempat tinggal penulis beralamatkan di Sumber Wangi Kec Rebang Tangkas Kab Way Kanan. (CP : 089611738293) Pendidikan yang ditempuh penulis adalah SD Negeri 1 Gunung Sari (1999-2005), SMP Negeri 1 Rebang Tangkas (2005-2008). SMA Negeri 1 Rebang Tangkas (2008-2011). Pada tahun 2011, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Unila melalui jalur PMPAP.

Penulis melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMP PGRI 1 Gunung Alip dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kabupaten Tanggamus (Tahun 2014), serta melakukan penelitian di SMP Negeri 1 Rebang Tangkas untuk meraih gelar sarjana pendidikan/S.Pd.

(9)

MOTO

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).

Dan hanya kepada Tuhanlah engkau berharap” (QS. Al-Insyirah, 6-8)

“Kesabaran dan usaha keras akan sanggup menghilangkan kesulitan dan melenyapkan rintangan”

(Mario Teguh)

“Untuk mendapatkan kesuksesan, keberanianmu harus lebih besar daripada ketakutanmu”

(10)

PERSEMBAHAN

Teriring doa dan rasa syukur atas kehadirat Allah SWT, kupersembahkan karya ini sebagai tanda cinta dan terimakasihku kepada:

Karmawan Ayahandaku dan Ishandari Ibundaku tercinta yang selalu mendoakanku, mencintaiku tanpa henti, mendukungku, dan mengajariku

untuk selalu berusaha mencapai impian.

Yogista Adikku tersayang yang selalu memberikan doa, dukungan, dan semangat untuk keberhasilanku.

Lia Andesta sepupuku yang selalu memotivasi dan selalu bisa membuatku tersenyum dalam berjuang meraih mimpi.

(11)

SANWACANA

Alhamdulillahirobbil’alamin. Puji Syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat nikmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat meraihnya gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Lampung. Skripsi ini bejudul “Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning terhadap Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Rebang Tangkas Tahun Pelajaran 2014/2015 pada Materi Pokok Peran Manusia dalam Pengelolaan Lingkungan untuk Mengatasi Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan)”.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari peran dan bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Muhammad Fuad, M.Hum., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung; 2. Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA FKIP Universitas

Lampung;

3. Berti Yolida, S.Pd., M.Pd., Selaku Ketua Program Studi Pendidikan Biologi dan Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan motivasi dalam proses penyelesaian skripsi ini;

(12)

4. Rini Rita T Marpaung, S.Pd., M.Pd., selaku Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan motivasi dalam proses penyelesaian skripsi ini; 5. Drs. Arwin Achmad, M.Si., selaku Pembahas yang telah memberikan

saran-saran dan motivasi yang berharga;

6. Herli Efendi, S.Pd., selaku Kepala SMP Negeri 1 Rebang Tangkas dan Suta Sanjaya, S.Pd., selaku guru mitra yang telah memberikan izin dan

memberikan bantuan selama penelitian;

7. Seluruh dewan guru, staf, dan siswa-siswi kelas VIIA dan VIIC SMP Negeri 1 Rebang Tangkas atas kerjasama yang baik selama penelitian berlangsung; 8. Sahabat-sahabat seperjuangan (Pendidikan Biologi 2011), kakak serta adik

tingkat pendidikan Biologi FKIP Unila, terimakasih atas bantuan dan dukungan yang sangat berharga;

9. Sahabat-sahabat seperjuangan KKN-KT 2014, terimakasih atas bantuan dan motivasi yang tiada henti;

10. Semua pihak yang membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini;

Akhir kata,

Bandar Lampung, februari 2016

Penulis

Nia Neliana NPM 1113024050

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xix

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 7

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Problem Based Learning (PBL) ... 8

B. Aktivitas Belajar... 11

C. Hasil Belajar ... 14

D. Kerangka Pikir...18

E. Hipotesis ...20

III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ... 21

B. Populasi dan Sampel ... 21

C. Desain Penelitian ... 21

D. Prosedur penelitian ... 22

E. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data ... 30

F. Teknik Analisis Data IV.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 38

B. Pembahasan ... 39

V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 45

B. Saran ... 45

DAFTAR PUSTAKA ... 46

(14)

xv LAMPIRAN

1. Silabus ... 50

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ... 56

3. Lembar Kerja Kelompok ... 72

4. Soal PretesdanPosttes ... 80

5. Kunci Jawaban ... 83

6. Rubrik Penilaian ... 87

7. Data Hasil Belajar ... 92

8. Data Aktivitas Belajar ... 96

9. Skor Perindikator C2 dan C3 ... 98

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Tahapan Pembelajaran Problem Based Learning ... 10

2. Lembar Observasi Aktivitas Belajar Siswa ... 35

3. Interprestasi Aktivitas Siswa ... 36

4. Persentase Rata-rata Aktivitas Belajar Siswa ... 37

5. Hasil Analisis Data Hasil Belajar ... 38

6. Hasil Analisis Indikator Kognotif ... 39

7. Daftar nilai pretes, postes, dan N-gain kelas eksperimen ... 94

8. Daftar nilai pretes, postes, dan N-gain kelas kontrol ... 95

9. Daftar nilai aktivitas belajar siswa ... 96

10.Skor perindikator kelas eksperimen ... 98

(16)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman 1. Hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat ... 19 2. Desain pretest-posttest kelompok tak ekuivalen ... 22 3. Foto-Foto Penelitian ... 102

(17)

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perubahan paradigma pelaksanaan pembelajaran menjadi students centered menuntut guru untuk inovatif dalam mendesain pembelajaran. Proses

pendidikan yang terencana diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, dalam arti lain pendidikan tidak boleh

mengesampingkan proses belajar. Pendidikan tidak semata-mata berusaha untuk mencapai hasil belajar, akan tetapi bagaimana memperoleh hasil atau proses belajar yang terjadi pada peserta didik (Sanjaya, 2011: 2).

Sebagaimana tertuang dalam peraturan pemerintah No.19 Tahun 2005 Pasal 19 tantang Standar Nasional Pendidikan, menyebutkan bahwa proses

pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesua dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik (Standar Nasional Pendidikan, 2009: 13).

Belajar merupakan suatu proses untuk mencapai suatu tujuan belajar. Hasil belajar siswa menjadi tolak ukur dalam suatu pembelajaran. Pengetahuan

(18)

2 bukan semata-mata seperangkat fakta, konsep atau prinsip-prinsip yang siap untuk diingat (Sanjaya, 2009: 170). Sebagaimana pandangan kontruktivisme guru tidak perlu memberikan informasi kepada siswa sepenuhnya, namun siswalah yang aktif dalam membangun pengetahuan sendiri. Hal ini senada dengan pendapat Brunner bahwa individu harus secara aktif dalam

membangun pengetahuan dan keterampilannya (Baharuddin, 2010: 115). Lebih lanjut Brunner menyatakan bahwa dengan berusaha sendiri mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya akan mengahsilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna (Trianto, 2010: 7).

Pembelajaran IPA menekankan siswa mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dirinya sendiri dan alam sekitar. Pembelajaran IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya didalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran IPA menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan proses sains. Keterampilan proses ini di antaranya meliputi mengajukan hipotesis, mengajukan pertanyaan, menggali dan memilah informasi faktual yang relevan untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari (BSNP, 2006: 167).

Proses pembelajaran yang berlangsung selama ini masih menggunakan metode-metode yang terpusat pada guru seperti ceramah. Siswa kurang dilibatkan dalam pembelajaran untuk mengontruksi sendiri pengetahuannya

(19)

3 dan terlihat dalam pemecahan masalah terhadap issue yang ada. Keterampilan pemecahan masalah penting diberikan kepada siswa, mengingat di era

globalisasi ini banyak permasalahan-permasalahan yang hadir dialam kehidupan sehari-hari seperti masalah lingkungan dan masih banyak lagi permasalahan yang perlu untuk diselesaikan. Melatih siswa dengan dilibatkan untuk memecahkan suatu masalah real dalam pembelajaran akan memberikan pengalaman yang konkret. Bekal keterampilan pemecahan masalah tersebut dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah serupa. Hal tersebut juga terjadi pada SMPN 1 Rebang Tangkas, proses pembelajaran masih terpusat pada guru dan hasil belajar yang dicapai oleh siswa tergolong rendah.

Hasil wawancara dengan guru IPA kelas VII SMP Negeri 1 Rebang Tangkas pada Oktober 2014, dalam kegiatan pembelajaran metode yang digunakan oleh guru adalah ceramah. Metode seperti ini masih bersifat teacher centered, guru menempatkan dirinya sebagai sumber informasi satu-satunya tanpa melibatkan siswa dalam mengontruksi pengetahuannya. Metode seperti ini kurang memfasilitasi siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Metode ceramah menyebabkan siswa diam dan terkadang tidak mendengarkan penjelasan guru. Hasil pengamatan di kelas VII A dan VII C pada saat guru

melaksanakan pembelajaran, guru mengajar dengan metode ceramah disertai mencatat. Aktivitas siswa dari kedua kelas tersebut tidak jauh berbeda. Siswa hanya diam mencatat materi bahkan beberapa siswa tidak mendengarkan penjelasan guru dan mengobrol dengan temannya. Aktivitas belajar seperti mengemukakan ide, memecahkan masalah, bertannya atau bertukar pendapat tidak muncul pada pembelajaran, guru kurang memotivasi dan mendampingi

(20)

4 siswa selama proses pembelajaran. Proses pembejaran yang demikian

berakibat siswa menjadi pasif karena kegiatan kurang tersaji dengan baik terutama aktivitas belajar siswa dalam pemecahan masalah ataupun diskusi, selain itu guru tidak dapat mengamati aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran secara maksimal. Guru mata pelajaran IPA kelas VII SMP Negeri 1 Rebang Tangkas mengakui penggunaan model pembelajaran berbasis pemecahan masalah belum pernah diterapkan disekolah tersebut, sehingga siswa belum terlatih dalam pemecahan masalah. Kondisi demikian mempengaruhi hasil belajar yang masih tergolong rendah. Hal ini ditunjukan dengan hasil pembelajaran IPA pada ujian semester ganjil (58%) siswa dinyatakan belum lulus dari standar kriteria ketuntasan minimal (KKM) pembelajaran IPA yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 65. Oleh karena itu dalam belajar IPA siswa membutuhkan model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar. Penggunaan model pembelajaran yang tepat akan mempengaruhi proses pembelajaran di kelas, sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar. Model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar adalah model Problem Based Learning (PBL).

Model pembelajaran PBL merupakan model pembelajaran dengan penyajian masalah untuk menimbulkan motivasi belajar (Rusman, 2012: 237). Melalui PBL siswa dilatih untuk memecahkan masalah yang ada dan bekerja dalam tim sehingga siswa lebih aktif dalam mengontruksi pembelajarannya.

Pembelajaran dengan model PBL memiliki beberapa keunggulan, diantaranya dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dan memudahkan siswa untuk memahami isi pelajaran (Sanjaya, 2011: 220).

(21)

5

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Risa (2012: 52) menunjukan bahwa hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA dengan menggunakan model PBL mengalami peningkatan dibanding dengan pembelajaran menggunakan metode diskusi.

Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian dengan judul “Perbandingan model pembelajaran PBL dengan metode diskusi terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa SMP Negeri 1 Rebang Tangkas pada materi Peran Manusia dalam Pengelolaan Lingkungan untuk Mengatasi Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana pengaruh penggunaan model pembelajaran PBL terhadap

aktivitas siswa SMP Negeri 1 Rebang Tangkas pada materi Peran Manusia dalam Pengelolaan Lingkungan untuk Mengatasi Pencemaran dan

Kerusakan Lingkungan”

2. Bagaimana pengaruh penggunaan model pembelajaran PBL terhadap hasil belajar siswa SMP Negeri 1 Rebang Tangkas pada materi Peran Manusia dalam Pengelolaan Lingkungan untuk Mengatasi Pencemaran dan

(22)

6 C. Tujuan penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui:

1. Penggunaan model pembelajaran PBL terhadap aktivitas siswa SMP Negeri 1 Rebang Tangkas pada materi Peran Manusia dalam Pengelolaan

Lingkungan untuk Mengatasi Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan” 2. Pengaruh penggunaan model pembelajaran PBL terhadap hasil belajar siswa

SMP Negeri 1 Rebang Tangkas pada materi Peran Manusia dalam Pengelolaan Lingkungan untuk Mengatasi Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan”.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari hasil penelitian ini sebagai berikut: 1. Bagi peneliti

Dapat menambah pengalaman dan pengetahuan dalam menggunakan model pembelajaran PBL serta menjadi bekal sebagai calon guru profesional

2. Bagi guru

a. Sebagai acuan yang mendasar untuk mengembangkan metode-metode pembelajaran yang lebih baik dan membantu siswa dalam

memudahkan mencapai hasil belajar yang diharapkan secara maksimal.

b. Dapat menggunakan model pembelajaran PBL sebagai alternatif pembelajaran dalam usaha meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada materi pencemaran lingkungan.

(23)

7 Mendapat pengalaman belajar yang berbeda dalam pembelajaran pada materi pokok pencemaran lingkungan.

Memberi masukan untuk mengoptimalkan penggunaan model

pembelajaran PBL dalam upaya peningkatan mutu sekolah dan kualitas pembelajaran.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Untuk menghindari berbagai macam perbedaan penafsiran tentang penelitian ini maka diberikan batasan sebagai berikut:

1. Model pembelajaran yang digunakan adalah Problem Based Learning (PBL) dan metode diskusi

2. Aktivitas yang di amati yaitu: 1. bekerjasama dengan teman

2. kemampuan mengajukan pertanyaan 3. mempersentasikan hasil diskusi kelompok 4. menyampaikan kesimpulan

3. Hasil belajar yang diukur yaitu pada aspek koognitif yang diukur melalui pretes postes.

4. Materi yang digunakan sesuai dengan KD 7.4 “Mengaplikasikan peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan

(24)

8

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Model Pembelajaran Problem Based Learning

Model Problem Based Learning (PBL) berkaitan dengan penggunaan inteligensi dari dalam diri individu yang berada dalam sebuah kelompok orang atau lingkungan untuk memecahkan masalah yang bermakna, relevan dan kontekstual, (Rusman 2010: 230). Bould dan Feletti dalam Rusman (2010: 230) mengemukakan bahwa, model PBL adalah inovasi yang paling signifikan dalam pendidikan. Menurut Tan dalam Rusman (2010: 232), model PBL merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada.

Sementara itu, Torp dan Sage (dalam Sahin dan Yorek) (2009 754) menggambarkan PBL sebagai berikut:

PBL as focused, experiential learning organized around the investigation and resolution of messy, real-world problems. They describe students as engaged problem solvers, seeking to identify the root problem and the conditions needed for a complete solution and in the process becoming self-directed.

(25)

9 Pernyatan di atas menjelasakan bahwa PBL sebagai fokus, pengalaman

belajar terorganisir dalam penyelidikan dan penyelesaian masalah di dunia nyata. Mereka menggambarkan siswa sebagai pemecah masalah yang aktif, berusaha untuk mengidentifikasi akar masalah dan kondisi yang diperlukan untuk mencari solusi.

Dalam PBL, siswa mengikuti pola eksplorasi tertentu yang dimulai dengan mempertimbangkan masalah yang terdiri dari kejadian yang membutuhkan penjelasan. Selama diskusi dengan anggota kelompoknya, siswa mencoba mengidentifikasi prinsip-prinsip dasar atau proses. Di sini, siswa dirangsang untuk menemukan suatu akar masalah yang perlu dilakukan penyelesaian lebih lanjut. Sebagai akibat dari hal ini, siswa meneliti hal-hal yang diperlukan dan kemudian mendiskusikan temuannya dan kesulitan dalam kelompok mereka (Selcuk, 2008).

Sementara itu, Rusman (2010: 232-233) mengemukakan sepuluh karakteristik model PBL, yaitu: (1) permasalahan menjadi awal dalam pembelajaran; (2) permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada di dunia nyata; (3) permasalahan membutuhkan perspektif ganda; (4) permasalahan

menantang pengetahuan yang dimiliki oleh siswa; (5) belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama; 6) pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam merupakan proses yang penting dalam PBL; (7) belajar melalui kolaboratif, komunikasi, dan kooperatif; (8) pengembangan keterampilan inquiry dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan; (9) keterbukaan dalam proses

(26)

10 PBL meliputi sintesis dan integrasi dari sebuah proses belajar; dan (10) PBL melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses belajar.

Selanjutnya, Nur dalam Rusmono (2012: 81) menyebutkan lima tahap pembelajaran dengan menerapkan model PBL, yaitu sebagai berikut: Tabel 1. Tahap pembelajaran PBL

Tahap Pembelajaran Perilaku Guru Tahap 1 :

Mengorganisasikan siswa kepada masalah

Guru menginformasikan tujuan-tujuan pembelajaran, mendeskripsikan

kebutuhan-kebutuhan logistik penting, dan memotivasi siswa agar terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah yang mereka pilih sendiri.

Tahap 2 :

Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Guru membantu siswa menentukan dan mengatur tugas-tugas belajar yang berhubungan dengan masalah itu. Tahap 3 :

Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok

Guru mendorong siswa mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, mencari penjelasan dan solusi.

Tahap 4:

Mengembangkan dan mempresentasikan hasil karya serta pameran

Guru membantu siswa dalam

merencanakan dan menyiapkan hasil karya yang sesuai seperti laporan, rekaman video dan model, serta membantu mereka

berbagi karya mereka. Tahap 5:

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa melakukan refleksi atas penyelidikan dan proses-proses yang mereka gunakan.

Smith dalam Amir (2010: 27) mengemukakan tentang manfaat model PBL, yaitu: meningkatkan daya ingat dan pemahaman mengenai materi ajar; meningkatkan fokus pada pengetahuan yang relevan; mendorong untuk berpikir; membangun kerja tim, kepemimpinan dan keterampilan sosial; membangun kecakapan belajar; dan memotivasi siswa.

(27)

11 C. Aktivitas Belajar

Aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting dalam interaksi pembelajaran sebab pada prinsipnya belajar adalah berbuat untuk mengubah tingkah laku. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Dalam kegiatan belajar, subyek didik atau siswa harus aktif berbuat. Dengan kata lain, bahwa dalam belajar sangat diperlukan adanya aktivitas (Sardiman, 2003:95). Dalam proses kemandirian belajar siswa diperlukan aktivitas, siswa bukan hanya jadi obyek tapi subyek didik dan harus aktif agar proses kemandirian dapat

tercapai.

Adanya kegiatan-kegiatan yang menunjang seperti melakukan ekperimen, diskusi, tanya jawab dan lain-lain, secara tidak langsung akan menuntut siswa dalam melakukan berbagai aktivitas belajar. Hamalik (2004: 175) berpendapat bahwa: Penggunaan asas aktivitas besar nilainya bagi pengajaran para siswa, oleh karena:

a. Para siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri. b. berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara

integral;

c. memupuk kerja sama yang harmonis di kalangan siswa; d. para siswa bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri; e. memupuk disiplin kelas secara wajar dan suasana belajar menjadi

demokratis;

f. mempererat hubungan sekolah dan masyarakat, dan hubungan antara orang tua dengan guru;

(28)

12 g. pengajaran diselenggarakan secara realistis dan konkret sehingga

mengembangkan pemahaman dan berfikir kritis serta menghindarkan verbalistis;

h. pengajaran di sekolah menjadi hidup sebagaimana aktivitas dalam kehidupan di masyarakat.

Aktivitas kerjasama siswa merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan siswa secara bersama-sama untuk mencapai perubahan tingkah laku dan untuk mencapai tujuan. Semakin banyak aktivitas yang dilakukan siswa, maka proses pembelajaran yang terjadi akan semakin baik. Seperti yang diungkapkan oleh Sardiman (2004: 21):

Pada prinsipnya belajar adalah berubah. Dalam hal ini yang dimaksudkan belajar berarti usaha merubah tingkah laku. Jadi belajar akan membawa suatu perubahan pada individu-individu yang belajar. Perubahan tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga terbentuk percakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri.

Tingkat keberhasilan dalam proses pembelajaran bergantung pada diri siswa. Berawal dari minat dengan segala aktivitas-aktivitas selama mengikuti pembelajaran menjadi salah satu penunjang keberhasilan pembelajaran. Oleh karena itu, aktivitas kerjasama siswa perlu diperhatikan sebab hal ini berperan penting dalam menentukan prestasi belajar siswa. Aktivitas siswa dalam bekerjasama meliputi aktivitas yang bersifat fisik maupun mental. Kegiatan belajar dua aktivitas tersebut saling terkait, sehingga dalam pembelajaran peserta didik diharapkan mempunyai keserasian antara aktivitas fisik dengan

(29)

13 aktivitas mental yang dilakukan sehingga akan menghasilkan pembelajaran berkelompok yang optimal.

Menurut Landsberger (dalam Wardany, 2013: 19) kerjasama atau belajar bersama adalah proses beregu (berkelompok) yang anggota-anggotanya mendukung dan saling mengandalkan untuk mencapai suatu hasil mufakat. Ruang kelas merupakan suatu tempat yang sangat baik untuk membangun kemampuan kelompok (tim), yang dibutuhkan kemudian dalam kehidupan. Kerjasama/belajar bersama adalah saling mempengaruhi sebagai anggota tim, Anda:

a. Membangun dan membagi suatu tujuan yang lumrah

b. Sumbangkan pemahamanmu tentang permasalahan: pertanyaan, wawasan, dan pemecahan

c. Tanggap terhadap, dan belajar memahami, pertanyaan lain, wawasan dan penyelesaian

d. Setiap anggota memperkuat yang lain untuk berbicara dan berpartisipasi, dan menentukan kontribusi (sumbangan) mereka

e. Bertanggung jawab terhadap yang lain, dan mereka bertanggung jawab pada Anda

f. Bergantung pada yang lain, dan mereka bergantung pada Anda.

Aktivitas kerjasama siswa dapat diukur dengan berpedoman pada besar nilai yang diperoleh siswa yang kemudian dinamakan tingkat keaktifan siswa. Seseorang dikatakan aktif jika dalam belajarnya mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan tujuan belajarnya, memberi tanggapan positif terhadap suatu

(30)

14 peristiwa dan mengalami atau turut merasakan sesuatu dalam proses

belajarnya.

Senada dengan hal di atas, Gie (1985: 6) menyatakan bahwa:

"Keberhasilan siswa dalam belajar tergantung pada aktivitas yang dilakukannya selama proses pembelajaran. Aktivitas belajar adalah segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas secara sadar yang dilakukan seseorang yang mengakibatkan perubahan dalam dirinya, berupa perubahan pengetahuan atau kemahiran yang sifatnya tergantung pada sedikit banyaknya perubahan".

Aktivitas kerjasama dalam proses belajar mengajar merupakan salah satu faktor penting yang dapat mendukung ketercapaian kompetensi pembelajaran siswa. Pengajaran yang efektif adalah pengajaran yang menyediakan

kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas sendiri (Hamalik, 2002:172). Aktivitas kerjasama haruslah difasilitasi oleh guru, seperti yang dijelaskan oleh Holubee (dalam Wardany, 2013: 18), menyatakan bahwa sama seperti seorang guru harus mengajarkan keterampilan akademis, keterampilan kerjasama juga harus diberikan kepada siswa, karena tindakan ini akan bermanfaat bagi mereka untuk meningkatkan kerja kelompok, dan menentukan bagi keberhasilan hubungan sosial dimasyarakat.

Dengan adanya aktivitas kerjasama dalam kegiatan berkelompok memberikan kesempatan bagi siswa untuk melatih materi baru dan mendapatkan umpan balik dari anggota kelompok yang lain serta mendorong perkembangan keterampilan sosial siswa (Eggen dan Don, 2012: 149).

C. Hasil Belajar Siswa

Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya. Bukti seorang telah belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, perubahan tingkah laku tersebut

(31)

15 merupakan hasil belajar (Hamalik 2001: 12). Menurut Bloom (dalam Thoha 1994: 27) hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang meliputi tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Hasil belajar siswa merupakan salah satu indikator menunjukkan tercapai tidaknya suatu tujuan pembelajaran. Suatu proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila hasil pembelajaran yang

didapatkan meningkat atau mengalami perubahan yang lebih baik.

Hamalik (2001: 103) mengungkapkan bahwa guru perlu mengenal hasil belajar dan kemajuan belajar siswa. Hal-hal yang perlu diketahui antara lain:

penguasaan pelajaran serta keterampilan belajar dan bekerja. Pengenalan hal-hal tersebut penting bagi guru karena dapat membantu atau mendiagnosis kesulitan belajar siswa, dapat memperkirakan hasil dan kemajuan belajar selanjutnya (pada kelas berikutnya), walaupun hasil-hasil tersebut dapat

berbeda dan bervariasi sehubungan dengan keadaan motivasi, kematangan, dan penyesuaian sosial. Hasil belajar dapat di bedakan menjadi tiga jenis ranah penting diantaranya adalah ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor.

Purwanto (2008: 91-93) secara umum menjelaskan jenis hasil belajar atau taksonomi tujuan pendidikan dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu (1) ranah kognitif, (2) ranah psikomotor, dan (3) ranah afektif. Secara rinci, uraian masing-masing ranah tersebut ialah:

1) Ranah kognitif, yakni tujuan pendidikan yang sifatnya menambah pengetahuan atau hasil belajar yang berupa pengetahuan.

2) Ranah psikomotor, yakni hasil belajar atau tujuan yang berhubungan dengan keterampilan atau keaktifan fisik (motor skills).

(32)

16 3) Ranah afektif, yakni hasil belajar atau kemampuan yang berhubungan

dengan sikap atau afektif.

Berikut ini struktur dari Dimensi Proses Kognitif menurut taksonomi yang telah direvisi oleh Anderson, (2001: 67-68) antara lain:

1. Remember (mengingat), yaitu mendapatkan kembali pengetahuan yang relevan dari memori jangka panjang. Terdiri dari mengenali dan mengingat kembali.

2. Understand (memahami), yaitu menentukan makna dari pesan dalam pelajaran-pelajaran meliputi oral, tertulis, ataupun grafik. Terdiri atas menginterpretasi, mencontohkan, mengklasifikasi, merangkum, menyimpulkan, membandingkan, dan menjelaskan.

3. Apply (menerapkan), yaitu mengambil atau menggunakan suatu prosedur tertentu bergantung situasi yang dihadapi. Terdiri dari mengeksekusi dan mengimplementasi.

4. Analyze (menganalisis), yaitu memecah-mecah materi hingga ke bagian yang lebih kecil dan mendeteksi bagian apa yang berhubungan satu sama lain menuju satu struktur atau maksud tertentu. Mencakup membedakan, mengelola, dan menghubungkan.

5. Evaluate (mengevaluasi), yaitu membuat pertimbangan berdasarkan kriteria dan standar. Mencakup memeriksa dan mengkritisi.

6. Create (menciptakan), yaitu menyusun elemen-elemen untuk membentuk sesuatu yang berbeda atau mempuat produk original. Terbagi atas

(33)

17 Hamalik (2001: 32-33) mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang

mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar antara lain: 1. Faktor kegiatan, penggunaan, dan ulangan.

2. Belajar memerlukan latihan, dengan jalan relearning, recalling, reviewing agar pelajaran yang terlupakan dapat dikuasai kembali.

3. Belajar hendaknya dilakukan dalam suasana yang menyenangkan. 4. Faktor asosiasi karena semua pengalaman belajar antara yang lama dan

baru, secara berurutan diasosiasikan agar menjadi kesatuan pengalaman. 5. Faktor kesiapan belajar. Siswa yang telah siap belajar akan dapat

melakukan kegiatan belajar lebih mudah dan lebih berhasil. 6. Faktor minat dan usaha.

7. Faktor-faktor fisiologis. Kondisi badan siswa yang belajar sangat berpengaruh dalam proses belajar. Badan yang lemah dan lelah akan menyebabkan perhatian tak mungkin akan melakukan kegiatan belajar yang sempurna. Oleh karena itu faktor fisiologis sangat menentukan berhasil atau tidaknya siswa yang belajar.

Evaluasi belajar dilaksanakan untuk meneliti hasil dan proses belajar siswa serta mengetahui kesulitan-kesulitan pada proses belajar itu. Evaluasi tidak mungkin dipisahkan dari belajar karena bagian mutlak dari pengajaran dan sebagai unsur integral di dalam organisasi belajar. Evaluasi sebagai suatu alat untuk mendapatkan cara-cara melaporkan hasil pelajaran yang dicapai serta memberikan laporan tentang siswa kepada siswa itu sendiri dan orang tuanya. Selain itu dapat dipakai untuk menilai metode mengajar yang digunakan dan

(34)

18 mendapatkan gambaran komprehensif tentang siswa, juga dapat membawa siswa pada taraf belajar yang lebih baik (Slameto, 1995: 51-52).

D. Kerangka Pikir

Pembelajaran IPA bukanlah suatu proses pemindahan pengetahuan langsung dari guru ke siswa. Biologi juga bukan hanya merupakan mata pelajaran hafalan, namun juga membutuhkan konsep-konsep IPA.

Konsep-konsep IPA mudah untuk dapat dikuasai oleh siswa, oleh sebab itu untuk mempermudah belajar memahami konsep siswa dapat menggunakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pada model pembelajaran siswa diberikan permasalahan yang ada disekitar mereka untuk didiskusikan sehingga dalam pembelajaran siswa dituntut lebih aktif (student center). Dengan memecahkan permasalahan yang ada disekitar mereka, menjadikan siswa lebih mudah memahami materi pembelajaran IPA sehingga hasil belajarnya dapat meningkat.

Salah satu model pembelajaran diduga dapat merangsang aktivitas belajar siswa dalam mengembangkan pengetahuan tersebut sehingga meningkatkan hasil belajar adalah model pembelajaran Problem Based Learning. Dalam PBL, siswa mengikuti pola tertentu yang dimulai dengan mempertimbangkan masalah yang terdiri dari kejadian yang membutuhkan penjelasan. Selama diskusi dengan anggota kelompoknya, siswa mencoba mengidentifikasi prinsip-prinsip dasar atau proses. Di sini, siswa dirangsang untuk menemukan suatu akar masalah yang dilakukam penyelesaian lebih lanjut dan mencari solusi. Dalam proses pembelajaran, aktivitas merupakan salah satu faktor

(35)

19 penting, karena aktivitas merupakan proses pergerakan secara berkala. Proses pembelajaran yang efektif tidak akan tercapai apabila tidak ada aktivitas. Setiap individu harus melakukan sendiri aktivitas belajar, karena belajar tidak dapat diwakilkan oleh orang lain. Aktivitas kerjasama siswa merupakan

rangkaian kegiatan yang dilakukan siswa secara bersama-sama untuk mencapai perubahan tingkah laku dan untuk mencapai tujuan. Semakin banyak aktivitas yang dilakukan siswa, maka proses pembelajaran yang terjadi akan semakin baik.

Penelitian ini mengunakan dua bentuk variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model

pembelajaran PBL (X), sedangkan variabel terikatnya adalah aktivitas (Y1) dan hasil belajar (Y2).

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, maka dapat dijelaskan dengan gambar paradigma pemikiran yang ditunjukan pada Gambar 1

Diagram Pemikiran Variabel Bebas model PBL (X) terhadap Variabel Terikat aktivitas (Y1) dan hasil belajar (Y2)

Keterangan: X = Model pembelajaran PBL Y1 = Aktivitas Y2 = Hasil belajar

Y

1

X

Y

2

(36)

20

E. Hipotesis

“Dengan menggunakan model PBL dapat mempengaruhi aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 1 Rebang Tangkas dalam pembelajaran materi pokok Peran Manusia dalam Pengelolaan Lingkungan”.

(37)

21

III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2014/2015, bertempat di SMP Negeri 1 Rebang Tangkas, Way Kanan

B. Populasi dan Sampel

Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa kelas V11 SMP Negeri 1 Rebang Tangkas yang terdiri dari enam kelas (V11 A - V11 F) dengan jumlah siswa sebanyak 211 siswa. Sampel penelitian siswa kelas V11 A dan V11 C SMP 1 Rebang Tangkas pada semester genap Tahun Ajaran 2014/2015. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu. Pertimbangannya adalah karena ada enam kelas V11 di SMP N 1 Rebang Tangkas maka untuk sampel penelitian

melihat hasil belajar sebelumnya dan memilih siswa kelas V11 A sebagai kelas eksperimen dan V11 C kelas kontrol.

C. Desain Penelitian

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain kelompok kontrol non-ekivalen. Desain ini merupakan desain penelitian dengan kelas kontrol

(38)

22

dan kelas eksperimen menggunakan kelas dengan memiliki kondisi yang serupa dalam hal jenjang pendidikan yaitu kelas VII dan diajar oleh guru yang sama. Kedua kelas diberi pretest sebelum pembelajaran pada pertemuan pertama dimulai. Kelas eksperimen diberi perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran PBL, sedangkan kelas kontrol belajar menggunakan metode diskusi. Posttest diberikan pada pertemuan terakhir setelah pembelajaran dengan soal yang sama pada saat pretest . Sehingga struktur desain dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

Keterangan:

I = Kelas Eksperimen (VII) II = Kelas Kontrol (VII) O1 = Pretest

O2 = Postest,

X = Pembelajaran dengan model problem based learning C = kontrol (pembelajaran dengan model diskusi)

Gambar 2. Desain penelitian pretes-postes kelompok tak ekuivalen (dimodifikasi dari Riyanto, 2001: 43).

D. Prosedur penelitian

Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu prapenelitian dan pelaksanaan penelitian.

Adapun langkah-langkah dari tahap tersebut adalah sebagai berikut : 1. Prapenelitian

a. Membuat izin penelitian pendahuluan ke FKIP untuk sekolah Kelas Pretes Perlakuan Postes

I O1 X O2 I O1 C O2

(39)

23

b. Mengadakan observasi ke sekolah tempat diadakannya penelitian, untuk mendapatkan informasi tentang keadaan kelas yang akan diteliti. c. Menetapkan sampel penelitian untuk kelas eksperimen dan kelas

kontrol.

d. Membuat perangkat pembelajaran yang terdiri dari silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Lembar Kerja Kelompok (LKK) untuk setiap pertemuan.

e. Membuat instrumen pengukuran yaitu soal pretest-posttes untuk pertemuan pertama dan terakhir, lembar observasi aktivitas siswa. 2. Pelaksanaan Penelitian

Kegiatan penelitian dilaksanakan dengan menerapkan model PBL untuk kelas eksperimen dan metode diskusi untuk kelas kontrol. Penelitian ini dirancang sebanyak dua kali pertemuan. Pretest diberikan sebelum pembelajaran dan posttest diberikan setelah pembelajaran (di akhir pertemuan). Langkah-langkah dalam penelitian ini sebagai berikut: 1) Kelas Eksperimen ( Model Pembelajaran PBL)

a. Kegiatan awal

Kegiatan Guru Kegiatan siswa Sintak PBL 1. Guru memberikan tes

awal / pretes tentang materi peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan 1. Siswa menjawab pertanyaan tes awal (pretes) 2. Guru membacakan Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), indikator, 2. Siswa mendengarkan serta memperhatikan

(40)

24 dan tujuan pembelajaran penjelasan guru 3. Guru memberikan apersepsi berupa mengajukan pernyataan: Pertemuan I: “Guru memberikan pertanyaan kepada siswa, jika kita sedang berjalan ke suatu tempat kita melihat ada sampah yang berserakan dijalan, apa yang akan kalian lakukan?”

Pertemuan II: “Salah satu Provinsi yang terkenal dengan hutannya adalah Kalimantan. Namun sering terjadi eksploitasi hutan besar-besaran di Kalimantan. Jika pepohonan yang ada di Kalimantan banyak yang ditebang, apa dampaknya bagi manusia dan lingkungan? Bagaimana peran pemerintah untuk mengatasi ekploitasi ini?” 3. Siswa menjawab pernyataan guru 4. Guru memberi motivasi: Pertemuan I: “sampah sebenarnya memeiliki nilai positif jika kita bisa

mengelolanya, contohnya kita bisa membuat suatu karya dari sampah organik

4. Siswa

mendengarkan penjelasan guru

(41)

25

maupun anorganik.” Pertemuan II:

“Pohon sangat banyak manfaatnya bagi manusia dan lingkungan, karena pohon termasuk paru-paru bagi lingkungan kita.”

b. kegiatan Inti

Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Sintak PBL 1. Guru membagi siswa

menjadi 7 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 4-5 siswa 1. Siswa berkumpul dengan kelompoknya masing- masing Orientasi siswa 2. Guru membagikan LKS kepada masing-masing siswa yang berisi kajian tentang peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran lingkungan 2. Siswa menerima LKS Mengorganisasi siswa untuk belajar

3. Guru membimbing siswa dalam menggali informasi dari berbagai sumber 3. Siswa memperhatikan penjelasan guru, dan melakukan kegiatan sesuai dengan petunjuk LKS Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok

4. Guru meminta siswa mencari informasi untuk menjawab LKS tersebut berdasarkan data yang mereka kumpulkan dari buku – buku IPA yang telah dianjurkan 5. Siswa menjawab LKS berdasarkan data yang mereka kumpulkan dari buku – buku IPA yang dianjurkan Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok 5. Guru memimbing siswa untuk 5. Siswa memperhatikan Mengebangkan, menyajika, dan

(42)

26 melakukan diskusi, menggali informasi menyiapkan bahan untuk persentasi sesuai dengan

petunjuk yang terdapat pada LKS penjelasan guru, dan melakukan kegiatan sesuai dengan petunjuk pada LKS mamerkan hasil karya

6. Guru meminta siswa untuk

mempersentasikan hasil diskusi

kelompok mengenai peran manusia dalam pengelolaan

lingkungan untuk mengatasi pencemaran lingkungan didepan kelas dan bersama moderator memfasilitasi diskusi kelas 6. Siswa mempersentasik an hasil diskusi kelompok dan melakukan diskusi kelas Menganalisis proes pemecahan masalah 7. Guru memberikan penjelasan dan penegasan lebih lanjut tentang peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran lingkungan serta memberikan kesempatan pada siswa untuk

menanyakan hal – hal yang belum dipahami, kemudian bersama dengan siswa membuat kesimpulan 7. Siswa memperhatikan penjelasan tentang peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran lingkungan dari guru dan menanyakan pertanyaan yang belum jelas kemudian membuat kesimpulan Mengevaluasi proses pemecahan masalah

8. Guru meminta siswa untuk melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang berlangsung 8. Siswa membuat refleksi terhadap pembelajaran yang berlangsung dan memperhatikan

(43)

27

penjelasan guru

c. kegiatan penutup

Kegiatan guru Kegiatan siswa 1. Guru meminta siswa

mengumpulkan LKS yang telah dikerjakan

1. Siswa mengumpulkan LKS yang telah dikerjakan

2. Guru memberikan kesimpulan

2. Siswa memperhatikan kesimpulan yang diberikan guru

3. Guru memberi soal postes pada pertemuan ke II

3. Siswa memperhatikan tugas yang diberikan guru

2. Kelas Kontrol (metode diskusi) a. Kegiatan Awal

Kegiatan Guru Kegiatan Siswa 1. Guru memberi tes awal /

pretes tentang materi peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran lingkungan

1. Siswa menjawab pertanyaan tes awal (pretes)

2. Guru membacakan Standar Kompetensi (SK),

Kompetensi Dasar (KD), indikator, dan tujuan pembelajaran

2. Siswa mendengarkan serta memperhatikan penjelasan guru

3. Guru memberikan apersepsi berupa mengajukan

pernyataan: pertemuan I: “Guru memberikan pertanyaan kepada siswa, jika kita sedang berjalan ke suatu tempat kita melihat ada sampah yang berserakan dijalan, apa yang akan kalian lakukan?”

Pertemuan II: “Salah satu Provinsi yang terkenal dengan hutannya adalah

3. Siswa menjawab pernyataan guru

(44)

28

Kalimantan. Namun sering terjadi ekploitasi hutan besar – besaran di Kalimantan. Jika pepohonan yang ada di Kalimantan banyak yang ditebang, apa dampaknya bagi manusia dan

lingkungan? Bagaimana peran pemerintahan untuk mengatasi ekploitasi ini?” 4. Guru memberi motivasi:

Pertemuan I: “sampah sebenarnya memeiliki nilai positif jika kita bisa mengelolanya, contohnya kita bisa membuat suatu karya dari sampah organik maupun anorganik.”

Pertemuan II: “Pohon sangat banyak mantfaatnya bagi manusia dan lingkungan, karena pohon termasuk paru-paru bagi lingkungan.”

4. Siswa mendengar penjelasan guru

b. Kegiatan Inti

Kegiatan Guru Kegiatan Siswa 1. Guru membagi siswa menjadi

7 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 4-5 siswa.

1. Siswa berkumpul sesuai dengan kelompoknya masing-masing

2. Guru membagikan LKS kepada masing-masing siswa yang berisi kajian tentang peran manusia dalam mengelola lingkungan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan

2. Siswa memperhatikan penjelasan guru, dan melakukan kegiatan sesuai dengan petunjuk LKS

3. Guru memberikan

pengarahan kepada siswa untuk melakukan diskusi, menggali informasi dari buku-buku yang relevan dan dari sumber lain,

3. Siswa memperhatikan penjelasan guru, dan melakukan kegiatan sesuai dengan petunjuk LKS

(45)

29

menyiapkan bahan untuk persentasi sesuai dengan petunjuk yang terdapat pada LKS

4. Guru meminta siswa mempersentasikan hasil diskusi kelompok tentang peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi

pencemaran dan kerusakan lingkungandidepan kelas

4. siswa mempersentasikan hasil diskusi kelompok

5. Guru memberikan penjelasan dan pengetahuan lebih lanjut mengenai peran manusia dalam pengelolaan

lingkungan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan serta

memberikan kesempatan pada siswa untuk

menanyakan hal-hal yang belum dipahami, kemudian bersama dengan siswa membuat kesimpulan

5. Siswa memperhatikan penjelasan guru mengenai peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran lingkungan serta mennyakan yang kurang jelas kepada guru kemudian membuat kesimpulan

6. Guru meminta siswa untuk melakukan refleksi

pembelajaran yang berlangsung

6. Siswa membuat refleksi terhadap pembelajaran yang berlangsung dan memperhatikan penjelasan guru

c. Kegiatan Penutup

Kegiatan Guru Kegiatan Siswa

1. Guru meminta siswa mengumpulkan LKS yang telah dikerjakan

1. Siswa mengumpulkan LKS yang telah dikerjakan

2. Guru memberikan kesimpulan 2. Siswa memperhatikan kesimpulan yang diberikan guru

(46)

30

3. Guru memberikan sol tes akhir (postes) pada

pertemuan ke II

3. Siswa mengerjakan soal tes akhir (postes)

E. Jenis Data dan Teknik Pengumpulan Data

Jenis dan teknik pengambilan data pada penelitian ini adalah: 1. Jenis Data

a. Data Kuantitatif

Data kuantitatif yaitu berupa hasil belajar siswa pada materi pokok peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi

pencemaran dan kerusakan lingkungan yang diperoleh dari nilai pretes dan postes. Kemudian dihitung selisih antara nilai pretes dengan postes, lalu dianalisis secara statistik. Untuk mendapatkan skor N-gain

menggunakan rumus Meltzer, dalam Coletta dan Phillips (2005: 1172) yaitu: Skor N-gain = 100 Y Z Y X  

Keterangan : X = nilai postes; Y = nilai pretes; Z = skor maksimal.

b. Data Kualitatif

Data kualitatif berupa data aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung merupakan data yang diambil melalui observasi. Data tersebut dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dengan menghitung persentase aktivitas belajar siswa

(47)

31

2. TeknikPengambilan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini sebagai berikut: a. Pretes dan Postes

Data kemampuan hasil belajar berupa nilai pretes dan postes. Nilai pretes diambil pada pertemuan pertama setiap kelas, baik eksperimen maupun kontrol, sedangkan nilai postes diambil di akhir pembelajaran pada pertemuan kedua setiap kelas, baik eksperimen maupun kontrol. Bentuk soal yang diberikan adalah berupa soal uraian.

Teknik penskoran nilai pretes dan postes yaitu S = 100

N

R

Keterangan : S = Nilai yang diharapkan (dicari); R = jumlah skor dari item atau soal yang dijawab benar; N = jumlah skor maksimum dari tes tersebut (Purwanto, 2008 : 112).

b. Lembar Observasi Aktivitas Siswa

Lembar observasi aktivitas siswa berisi semua aspek kegiatan yang diamati pada saat proses pembelajaran. Setiap siswa diamati poin kegiatan yang dilakukan dengan cara memberi tanda (√ ) pada lembar observasi sesuai dengan aspek yang telah ditentukan. Aspek yang diamati yaitu: (1) aktivitas siswa bekerjasama dalam kelompok, (2) mempresentasikan hasil diskusi kelompok (3) mengajukan pertanyaan, (4) membuat kesimpulan.

(48)

32

F. Teknik Analisis Data

Data penelitian berupa nilai pretes, postes, dan skor N-gain. Untuk

mendapatkan skor N-gain menggunakan rumus Meltzer (dalam Coletta dan Phillips, 2005: 1)

Nilai pretest, posttest, dan skor N-gain pada kelompok kontrol dan eksperimen dianalisis menggunakan uji t dengan program SPSS versi 17, yang sebelumnya dilakukan uji prasyarat berupa:

1. Uji Normalitas Data

Uji normalitas data dilakukan menggunakan uji Lilliefors dengan program SPSS versi 17.

a. Hipotesis

Ho : Sampel berdistribusi normal H1 : Sampel tidak berdistribusi normal b. Kriteria Pengujian

Terima Ho jika Lhitung < Ltabel atau p-value > 0,05, tolak Ho untuk harga yang lainnya (Pratisto, 2004: 5).

2. Kesamaan Dua Varian (Uji Homogenitas)

Apabila masing masing data berdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan uji kesamaan dua varian dengan dengan menggunakan program SPSS versi 17.

a. Hipotesis

Ho : Kedua sampel mempunyai varian sama

(49)

33

b. Kriteria Uji

- Jika Fhitung< Ftabel atau probabilitasnya > 0,05 maka Ho diterima - Jika Fhitung> Ftabel atau probabilitasnya < 0,05 maka Ho ditolak (Pratisto, 2004: 71).

3. Pengujian Hipotesis

Setelah prasyarat terpenuhi maka dilakukan uji lanjutan, yakni pengujian hipotesis. Untuk menguji hipotesis digunakan uji t yang meliputi uji kesamaan dua rata-rata dan uji perbedaan dua rata-rata atau menggunakan uji U. Uji t digunakan apabila sampel berdistribusi normal, sedangkan uji U digunakan apabila sampel tidak berdistribusi normal. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 17.

1. Uji Hipotesis Dengan Uji t

a). Uji Kesamaan Dua Rata-rata 1. Hipotesis

H0 : μ1 = μ2 : rata-rata N-gain pada kelas eksperimen dengan kelas kontrol sama.

H1 : μ1 ≠ μ2 : rata- rata N-gain pada kelas eksperimen dengan kelas kontrol tidak sama.

2. Kriteria Uji

- Jika –t tabel< t hitung< t tabel atau probabilitasnya > 0,05 maka H0 diterima.

- Jika t hitung< –t tabel atau t hitung> t tabel atau probabilitasnya < 0,05 maka H0 ditolak (Pratisto, 2004: 12).

(50)

34

b). Uji Perbedaan Dua Rata-Rata

Apabila H0 ditolak maka dilanjutkan dengan uji perbedaan dua rata-rata.

1. Hipotesis

H0 : μ1 = μ2 : rata-rata N-gain pada kelas eksperimen sama dengan kelas kontrol.

H1 : μ1> μ2 : rata-rata N-gain pada kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol.

2. Kriteria Uji :

- Jika –t tabel < t hitung< t tabel, maka H0 diterima.

- Jika t hitung< –t tabel atau t hitung> t tabel, maka H0 ditolak (Pratisto, 2004: 12).

2. Uji Hipotesis Dengan Uji U

Uji U digunakan apabila data tidak berdistribusi normal a. Hipotesis

H0 = μ1 = μ2 : rata-rata N-gain pada kelas eksperimen sama dengan rata-rata N-gain pada kelas kontrol.

H1 = μ1 ≠ μ2 : rata-rata N-gain pada kelas eksperimen tidak sama dengan rata-rata N-gain pada kelas kontrol.

b. Kriteria Uji

Jika p-value < 0,05 maka H0 ditolak dan jika p-value ≥ 0,05 maka H0 tidak dapat ditolak (Uyanto, 2006: 288).

(51)

35

Data aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung merupakan data yang diambil melalui observasi. Data tersebut dianalisis

menggunakan indeks aktivitas siswa. Langkah-langkah yang dilakukan yaitu:

a. Menghitung Skor rata-rata aktivitas belajar siswa

Tabel 2. Lembar Observasi Aktivitas Siswa

No Nama Skor Aspek Aktivitas Belajar Siswa

A B C D 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 dst Jumlah skor Skor maksimum Persentase Kriteria

Keterangan kriteria penilaian aktivitas siswa pada materi pengelolaan lingkungan

A. Bekerjasama dalam kelompok

Skor Indikator

1 Tidak bekerjasama dalam kelompok

2 Bekerjasama dalam kelompok hanya 1-2 anggota saja 3 Bekerjasama dalam kelompok dengan semua anggota

B. Mempersentasikan hasil diskusi

Skor Indikator

1 Siswa mempersentasikan hasil diskusi kelompok dengan cara yang kurang sistematis, dan tidak dapat menjawab pertanyaan

2 Siswa mempersentasika hasil diskusi kelompok dengan cara yang kurang sistematis tetapi dapat menjawab pertanyaan dengan benar

3 Siswa dapat mempersentasikan hasil diskusi kelompok dengan sistematis dan dapat menjawab pertanyaan dengan benar

(52)

36

C. Mengajukan pertanyaan

Skor Indikator

1 Tidak mengajukan pertanyaan

2 Mengajukan pertanyaan tetapi tidak mengarah pada permasalahan

3 Mengajukan pertanyaan yang mengarah dan sesuai dengan permasalahan

D. Membuat kesimpulan

Skor Indikator

1 Tidak membuat kesimpulan

2 Membuat kesimpulan tetapi tidak lengkap dan tidak sesuai dengan hasil diskusi

3 Membuat kesimpulan lengkap dan sesuai dengan hasil diskusi

b. Menafsirkan atau menentukan katagori Indeks Aktivitas Siswa sesuai pada Tabel 3.

Tabel 3. Interprestasi Indeks Aktivitas Siswa

Sumber: Hidayati (2011: 17).

Kategori indeks aktivitas siswa Interprestasi

0,00 – 29,99 Sangat Rendah

30,00 – 54,99 Rendah

55,00 – 74,99 Sedang

75,00 – 89,99 Tinggi

(53)

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka diperoleh simpulan sebagai berikut:

1. Penggunaan model PBL dapat berpengaruh terhadap aktivitas belajar siswa pada materi pengelolaan lingkungan

2. Penggunaan model PBL berpengaruh signifikan dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pengelolaan lingkungan

B. Saran

Saran yang dapat disampaikan dari penelitian ini sebagai berikut:

1. Peneliti diharapkan lebih memahami sintak model pembelajaran PBL supaya dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model PBL lebih efektif dan efisien.

2. Guru dan peneliti lain yang akan menerapkan model pembelajaran PBL agar memperhatikan waktu yang tepat dalam proses

pembelajaran, supaya pembelajaran dengan model PBL dapat diterapkan dengan baik.

(54)

46

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman dan Mulyono. 2009, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Rineka Cipta. Jakarta. 252 hlm.

Amir, 2010. Inovasi Pendidikan melalui Problem Based Learning: Bagaimana Pendidik Memberdayakan Pemelajar di Era Pengetahuan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 282 hlm.

Arends, R. I. 2008. Learning To Teach Belajar Untuk Mengajar. Edisi Ketujuh. Buku Dua. Terj. Helly Prajitno Soetjipto & Sri Mulyantini Soetjipto. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Arends. 1997. Classroom Instruction and Management. USA: the Mc.Graw-Hill Companies.

Badri. 2012. Metode Statistik untuk Penelitian Kuantitatif. Penerbit Ombak. Yogyakarta. 170 hlm.

Baharuddin. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Ar-Ruzz Media. Yogyakarta. 200 hlm.

BNSP. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SMP/MTS. Jakart Colleta, V. P. dan J. A. Phillips. 2005. Interpreting FCI scores: Normalized gain,

preinstruction scores, and scientific reasoning ability. California: Department of Physics, Loyola Marymount University.

Depdiknas. 2006. BSNP. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Depdiknas: Jakarta.

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar Dan Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta. 298 hlm

Eggen, P. dan D. Kauchak. 2012. Strategi dan Model Pembelajaran:

Mengajarkan Konten dan Keterampilan Berpikir. Indeks. Jakarta. 436 hlm. Gie. 1985. Pengertian Aktivitas Belajar (online)

http://www.definisionline.com/2011/06/pengertian-aktivitasbelajarhtml(diakses23november2014).

(55)

47

Gunawan. 2013. Statistik Kependidikan Sekolah Dasar. Penerbit Ombak. Yogyakarta. 311 hlm.

Hamalik, O. 2001. Kurikulum dan Pembelajaran. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta. 117 hlm.

2004. Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara. Jakarta. 196 hlm.

Hidayati, A.N. 2011. Training of Trainer Brorientasi Higer Order Learning Skills dan Pengaruhnya pada Prestasi serta Performance Guru. (Prosiding Seminar Nasional Pendidikan 2011). Kerjasama FKIP Unila HEPI. Bandar Lampung.

Hoffiman, B., dan D, Ritchie. 1997. Using multimedia to overcome the problems with problem-based learning. Intructional Sciences, 25 (2), 97-115. Larkin, M. 2002. Using Scaffolding Instruction to Optimize Learning (ERIC

Digest) Arlington, VA : ERIC Clearinghouse on Disabilities and Gifted Education. (ERIC Document Reproduction Service No.ED474301) Lange, V.L. 2002. Instructional scaffolding. Retrieved on September 25, 2007.

(http://condor.admin,ccny,cuny,edu/-group4/Cano/Cano%20Paper.doc diakses 20 november 2014)

Mulyana. 2012. Aktivitas Belajar.

http://ainamulyana.blogspot.com/2012/02/aktivitas-belajar.html (diakses 21/11/2014).

Peraturan Menteri Nomor 69 Tahun 2013 tentang Kurikulum SMP-MTs. Jakarta Pratisto, A. 2004. Cara Mudah Mengatasi Masalah Statistik dan Rancangan

Percobaan dengan SPSS 12. Gramedia. Jakarta. 281 hlm.

Purwanto, N. 2008. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Penerbit Remaja Rosdakarya. Bandung. 165 hlm.

Relista, R. 2011 Pengaruh Penggunaan Media Komik Melalui Model Problem Based Learning (PBL) Terhadap Kemampuan Berpikir Siswa Pada Materi Pokok Struktur Dan Pungsi Tumbuh Tumbuhan. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 418 hlm.

Rusmono. 2012. Strategi Pembelajaran Problem Based Learning Itu Perlu: Untuk Meningkatkan Profesionalitas Guru. Bogor: Ghalia Indonesia. 128 hlm

(56)

48

Sardiman. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. 246 hlm.

Selcuk, S, G., Caliskan, S, M, Erol. 2008. Pedagogi pemecahan masalah. (http: //sondangrina.blogspot.com/20013/03/pedagogi pemecahan-masalah.html. diakses 7 desember 2014.

Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta. Jakarta. 54 hlm.

Standar Nasional Pendidikan. 2009. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005. Fokusmedia. Bandung

Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Tarsito. Bandung. 508 hlm.

Sudijono, A. 2008. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 488 hlm.

Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kencana. Jakarta. 271 hlm.

Thoha, M. 1994. Teknik Evaluasi Pendidikan. Grafindo Persada. Jakarta. 57 hlm. Yorek, N. 2009. “A comparision of problem based learning and traditional

lecture students” expectations and course grades in an introductory physics classroom” Scientific Research and Essay. 4, (8), 754

Figure

Diagram Pemikiran Variabel Bebas model PBL (X) terhadap Variabel Terikat   aktivitas (Y 1 ) dan hasil belajar (Y 2 )

Diagram Pemikiran

Variabel Bebas model PBL (X) terhadap Variabel Terikat aktivitas (Y 1 ) dan hasil belajar (Y 2 ) p.35
Tabel 2. Lembar Observasi Aktivitas Siswa

Tabel 2.

Lembar Observasi Aktivitas Siswa p.51

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in