• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRA PERADILAN DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA DI INDONESIA; KAJIAN KRITIS TERHADAP PUTUSAN PRA PERADILAN KASUS BUDI GUNAWAN - Test Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PRA PERADILAN DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA DI INDONESIA; KAJIAN KRITIS TERHADAP PUTUSAN PRA PERADILAN KASUS BUDI GUNAWAN - Test Repository"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

“PRA PERADILAN DALAM SISTEM PERADILAN

PIDANA DI INDONESIA; KAJIAN KRITIS TERHADAP

PUTUSAN PRA PERADILAN KASUS BUDI GUNAWAN

Diajukan Oleh:

Farkhani, S.H., S.HI., M.H.

NIP. 197605242006041002

FAKULTAS SYARI’AH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SALATIGA

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Harus diakui bahwa aliran hukum positivisme yang berkembang pesat antara abad 16 sampai 19 sangat mempengaruhi sistem hukum dan sistem peradilan di Indonesia. Kisaran abad itulah Indonesia berada dalam permulaan dan akhir penjajahan Indonesia oleh bangsa-bangsa Eropa, mulai dari Portugis, Belanda dan Inggris. Belanda yang terlama selama 350 tahun.

Masa penjajahan yang panjang oleh negara dengan sistem hukum bercorak Eropa Kontinental jelas tegas mewarnai sistem hukum Indonesia dari berbagai aspeknya. Hukum adat sebagai hukum yang asli hidup dalam masyarakat Indonesia dan Hukum Islam yang memberi corak hukum-hukum adat sebelum kedatangan penjajah dipersempit peran dan perkembangan. Upaya itu sejatinya nyata dengan dikebirinya kekuasaan raja-raja Islam Nusantara, teori receptie dan pembagian subyek hukum dalam masa penjajahan Belanda, serta konkordasi hukum Belanda di Hindia Belanda (Indonesia) semakin nyata akan sistem positivisme hukum dalam hukum Indonesia. Parahnya, setelah Indonesia merdeka warisan hukum penjajah Belanda belum sepenuhnya hilang dari peraturan perundang-undangan bumi pertiwi. Bahkan itu berada dalam urat nadi sistem hukum, upaya penggantiannya agar lebih berkarakter hukum keindonesiaan belum berhasil.

(3)

Sungguh kondisi yang demikan telah disadari oleh para pakar hukum belakangan. Berbagai upaya dilakukan untuk pembangunan hukum yang berkeindonesiaan. Sedikit demi sedikit hukum warisan Belanda dikikis, berbagai upaya pembangunan hukum dilakukan, pemikiran hukum berkarakter keindonesiaan terus dibangun, living law diakomodasi. Arah kiblat hukum mulai bergeser, tipologi hukum Eropa Kontinental memang masih dominan tetapi tipologi hukum Anglo Saxon mulai diakomodir. Hukum Islam telah lebih dahulu diakomodir namun pasca reformasi lebih massif di berbagai daerah dengan perda-perda bernuansa syari’ah dan terbuka peluang pembelakuan Syariat Islam walau baru di Nangro Aceh.

Lebih menggembirakan, bersamaan dengan pada akhir abad 20, muncul gerakan hukum progressif yang di pelopori oleh begawan hukum Satjipto Rahardjo. Ide dan gagasan hukum progresifnya yang kental beraliran filsafat hukum utilitarianisme

dan sibghah spiritualitas keagamaannya (Islam) (lihat Sajtipto

Raharjo, 2007), beliau ajarkan kepada para mahasiswanya yang berasal dari berbagai kalangan, tidak hanya para akademisi, para praktisi hukum dan penegak hukum banyak menjadi mahasiswanya. Pemikirannya cukup dapat diterima, hingga muncul perkumpulan hakim progresif dan bahkan organisasi yang secara khusus menebarkan gagasan-gagasannya.

Upaya-upaya yang dilakukan di atas dan berbagai upaya lain yang belum tersebutkan, susungguhnya cita-cita yang ingin dicapai adalah bagaimana keadilan yang menjadi ruh sekaligus tujuan dari hukum itu sendiri benar-benar terwujud secara hakiki, baik dalam pembentukan hukum, penemuan hukum, penciptaan norma hukum dan penegakan hukumnya.

(4)

responsif dalam hal ini adalah diposisikannya hukum sebagai fasilitator dari respon terhadap kebutuhan-kebutuhan sosial dan aspirasi-aspirasi sosial. Hukum dimaknai lebih luas, mencakup pengalaman-pengalaman hukum yang beraneka ragam dengan tidak meleburkan konsep hukum terhadap konsep kontrol sosial yang lebih luas.

Melihat pada pemaknaan hukum responsif yang demikian tersebut, tersirat jelas bahwa konsep hukum responsif adalah hasil evolusi dari dua konsep sebelumnya, represif dan otonom (A.A.G. Peters dan Koesriani Siswosoebroto, 1990, 164-165). Karena ia merupakan evolusi, maka butuh waktu, dan beragam konsekuensi logis atas berjalannya waktu tersebut. Sehingga wajar dapat dikatakan bahwa dengan argumen sederhana dimuka, Indonesia sedang bergerak menuju hukum yang responsif, walau kadang pada kasus tertentu, Indonesia terkesan sedang bergerak mundur menuju kembali pada hukum yang represif. Beruntungnya sensitifitas kontrol sosial masyarakat Indonesia sudah mulai muncul dan dibantu dengan tata hukum dan tata kelembagaan hukum yang lebih baik dapat mencegah keterpurukan itu.

Pada persoalan ini, Satjipto Rahardjo (2007: 87-88) menegaskan bahwa kontrol masyarakat yang seperti itu adalah bukti bahwa masyarakat memiliki kekuatan otonom. Kekuatan otonom itu bisa membuat masyarakat dapat menata dirinya sendiri walaupun tanpa kehadiran undang-undang. Kekuatan masyarakat yang bersifat otonom itu pada tahap tertentu dapat bergerak atau digerakkan menjadi kekuatan dahsyat yang dapat menggulingkan kekuasaan yang despotik, otoriter dan tiranik. Itulah yang disebut rakyat yang berdaulat atau kedaulatan rakyat.

(5)

upaya penegakan hukum. Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial adalah dua lembaga negara baru yang muncul secara langsung atas amanat hasil amandemen konstitusi tersebut. Komisi Pemberantasan Korupsi muncul tidak lama setelah itu. Mulanya sebagai respon atas berbagai kasus korupsi yang kurang membanggakan progressnya ketika ditangani oleh kejaksaan.

Setelah tiga lembaga baru ini terbentuk, harapan baru dilambungkan untuk merubah bopeng wajah penegakan hukum di Indonesia. Secara cepat dua, lembaga penegakan hukum (MK dan KPK) dan lembaga pengawas perilaku hakim (KY), karena kinerjanya merebut hati rakyat. Rakyat bangga dengan capaian kedua lembaga tersebut. Mahkamah Konstitusi menjelma menjadi pemegang kekuasaan yudikatif yang berwibawa. KPK menjelma menjadi lembaga kuat yang bisa menjerat dan memenjarakan para koruptor yang sebelumnya tidak pernah tersentuh oleh kejaksaan.

Lembaga negara yang lahir setelah reformasi dan atas amanat butir-butir reformasi adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Lembaga ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Tugas KPK adalah melakukan pemberantasan korupsi secara profesional, intensif, dan berkesinambungan. Sifat kelembagaanya independen. Independen yang dimaksudkan adalah bebas dari kekuasaan manapun dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya.

(6)

proposionalitas. KPK bertanggung jawab kepada publik dan menyampaikan laporannya secara terbuka dan berkala kepada presiden, DPR, dan BPK (http://www.kpk.go.id).

Sekilas menilik sejarahnya, KPK adalah satu-satunya lembaga negara yang lahir karena amanat reformasi. Satu diktum yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari korupsi menjadi point penting dalam amanat reformasi, karena regim yang ditumbangkan lewat gerakan reformasi 1998 itu dituduh korup dan membudayakan tindakan korupsi disemua lini penyelenggara negara.

Oleh karenanya, kehadiran KPK disambut dengan gembira dan langsung mendapatkan pendukung dan pembela fanatik terhadap lembaga ini. Terpuruknya legitimasi polisi dan kejaksaan agung dalam penangan kasus korupsi, kewenangan yang sangat besar yang diberikan oleh undang-undang, gebrakan-gebrakan dan prestasi kinerja KPK yang mengagumkan dan dukungan rakyat yang totalitas merubah lembaga baru ini menjadi tren dan tumpuan harapan pemberantasan korupsi.

Dukungan, simpati, empati yang loyalitas kecintaan dari rakyat semakin besar tatakala KPK berhasil menjerat dan memenjarakan orang-orang dengan pangkat dan jabatan tinggi yang pada zaman orde baru tidak pernah tersentuh. Para menteri, jenderal polisi dan TNI, akademisi bergelar profesor, anggota legislatif pusat dan daerah, penguasa-penguasa ekskekutif daerah dan pengusaha-pengusaha hitam banyak yang dijeblokan ke penjara oleh KPK karena kasus korupsi dan pengembalian uang negara yang cukup besar menambah dukungan rakyat semakin besar atas lembaga anti rasuah ini.

(7)

Proses menjadikan KPK sebagai lembaga bersih dan antibodi sangat penjang dan melelahkan. Saat pelaku koruptor dicaci massa dan dijebloskan ke penjara, dua petinggi KPK justeru mendapatkan dukungan massa. Kasus yang menimpa Chandra Hamzah dan Bibit Waluyo justru dinilai sebagai upaya kriminalisasi kepolisian terhadap mereka, hingga muncul istilah Cicak VS Buaya. Dukungan terhadap keduanya pun semakin menguat, hingga akhirnya dibebaskan. Saat dukungan terhadap KPK semakin menguat, terhadap kepolisian sebaliknya. Begitu pula, saat rencana pembangunan gedung DPR dicemooh rakyat, KPK justreru mendapatkan dukungan penuh plus sumbangan dana dari masyarakat untuk membangun gedung baru. Belum lagi upaya pemandulan wewenang KPK melalui revisi UU yang pada akhirnya batal (http://nahakunaon.blogspot.com). Kasus yang terbaru, pada saat “perang” antara KPK dengan Polisi jilid II, KPK mendapat dukungan penuh dari rakyat. Pada saat para penyidik KPK diperkarakan oleh Polisi, TNI bersedia memberikan bantuan personil professionalnya untuk menjadi penyidik-penyidik KPK. Walaupun kasus KPK tidak menjadikan Budiono (mantan meneteri keuangan dan wakil presiden) menjadi tersangka mendapat sorotan tajam, tapi dukungan publik terhadap lembaga ini tidak pudar. Dukungan terhadap Abraham Samad dan Bambang Widjoyanto menjadi bukti atas kecintaan rakyat pada lembaga ini.

(8)

status yang ditetapkan (tersangka) oleh KPK, mengajukan pra peradilan ke Pengadilan Jakarta Selatan.

Hasilnya, putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang dibacakan oleh hakim Sarpin Rizaldi menyatakan bahwa gugatan pra peradilan atas penetapan tersangka Budi Gunawan di terima. Putusan ini berarti menghapuskan penetapan tersangka atas Budi Gunawan atas perkara yang dituduh. KPK kalah!

Secepat kilat, putusan hakim Sarpin menjadi trending topic. Berbagai pendapat bermunculan, sebagian memandang bahwa putusan Sarpin kebablasan, meruntuhkan sendi-sendi sistem hukum dan pandangan miring lainnya, sebagian yang lain menyanjung bahwa Sarpin telah melakukan terobosan hukum. Tidak berselang lama, putusan Mahkamah Konstitusi muncul yang menyatakan bahwa penetapan tersangka dapat menjadi obyek pra peradilan.

Ditambah dengan munculnya putusan MK tersebut muncul kekhawatiran baru bagi lembaga penegak hukum, yaitu banjirnya gugatan pra peradilan kepada tiga lembaga penegakan hukum di Indonesia, baik KPK, Kejaksaan dan Kepolisian yang diajukan oleh para tersangka pelanggar hukum.

(9)

Kasus putusan hakim Sarpin dan lahirnya putusan MK tentang pra peradilan menjadi heboh dan menjadi perbincangan dikalangan para akademisi hukum, praktisi dan penegak hukum, khususnya dalam ranah hukum pidana. Kasus itu merubah tatanan hukum acara pidana yang telah eksis dan establis dalam beberapa dasawarsa. Karena alasan tersebut penulis berminat untuk melakukan penelitian terhadap dua persoalan tersebut dengan judul PRA PERADILAN DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA DI INDONESIA; KAJIAN KRITIS TERHADAP PUTUSAN PRA PERADILAN KASUS BUDI GUNAWAN.

Pengkajian terhadap persoalan urgen di awal proses peradilan sistem peradilan pidana penting dilakukan karena persoalan itu terdapat hak-hak warga negara yang negara wajib memberikan jaminan atas pemenuhannya. Hak warga negara atau hak asasi manusia dalam proses tribunal yang adil dijamin secara tegas dalam dokemen ICCPR dan Konstitusi Negara Republik Indonesia UUD 1945. Di samping itu dengan mengkaji persoalan tersebut apakah akan terjadi gelombang pra peradilan yang akan merubah wajah penegakan hukum di Indonesia, terkhusus di bidang hukum acara pidana. Perubahan menuju kebaikan atau sebaliknya.

B. Rumusan Masalah

Berdasar pada latar belakang masalah yang disampaikan tersebut di atas, muncul beberapa pertanyaan yang dapat dijadikan rumusan masalah untuk kepentingan penelitian ini, yaitu;

1. Bagaimanakah upaya perlindungan hukum terhadap warga negara yang menjadi tersangka dan/atau terpidana dalam sistem hukum pidana?

(10)

3. Apa akibat dari putusan pra peradilan dalam kasus Budi Gunawan dan putusan Mahkamah Konstitusi tentang pra peradilan pada sistem peradilan pidana?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah; 1. Untuk mengetahui apa saja upaya perlindungan hukum terhadap warga negara yang menjadi tersangka dan/atau terpidana dalam sistem hukum pidana.

2. Untuk mengetahui bagaimanakonsep dan pengaturan pra peradilan dalam sistem peradilan pidana.

3. Untuk mengetahui pa akibat dari putusan pra peradilan dalam kasus Budi Gunawan dan putusan Mahkamah Konstitusi tentang pra peradilan pada sistem peradilan pidana.

D. Kerangka Teori

Pra peradilan adalah bagian dari sistem peradilan pidana, sedangkan sistem peradilan pidana sangat identik dengan penegakan hukum. Sistem penegakan hukum pada dasarnya merupakan sistem kekuasaan atau kewenangan menegakkan hukum, istilah ini identik pula dengan kekuasaan kehakiman. Dan sistem kekuasaan kehakiman dalam hukum pidana diimplementasikan dalam 4 (empat) subsistem;

1. Kekuasaan penyidikan oleh lembaga penyidik

2. Kekuasaan penentutan oleh lembaga penuntut umum 3. Kekuasaan mengadili/menjatuhkan putusan oleh

lembaga peradilan dan

4. Kekuasaan pelaksanaan hukum pidana oleh aparat pelaksana eksekusi (Barda Nawawi Arif, 2007).

(11)

aparatur kepolisian dan kejaksaan pada tindakan hukum yang disebut sebagai upaya paksa. Pada awalnya dan pada kebiasaan yang telah berlangsung lama yang dimaksud upaya paksa yang dilakukan aparatur penegak hukum adalah penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan dan penyadapan. Upaya-upaya paksa itu jelas merupakan perampasan hak atas seseorang yang dilindungi oleh hukum dan bagian dari hak asasi manusia. Disini kepastian hukum sangat ditekankan dan menjadi dasar utama bagi para aparatur penegak hukum dalam menjalankan tugasnya.

Seperti yang sudah diketahui, demi untuk terlaksananya kepentingan pemeriksaan tindak pidana, undang-undang memberikan kewenangan kepada penyidik dan penuntut umum untuk melakukantindakan upaya paksa berupa penangkapan, penahanan, penyitaan dan sebagainya. Setiap upaya paksa yang dilakukan pejabat penyidik atau penuntut umum terhadap tersangka, pada hakikatnya merupakan

Perlakuan yang bersifat :

1. Tindakanpaksa yang dibenarkanundang-undang demi kepentinganpemeriksaantindakpidana yang disangkakankepadatersangka ;

2. Sebagaitindakanpaksa yang

dibenarkanhukumdanundang-undang,

setiaptindakanpaksadengansendirinyamerupakanperamp asankemerdekaandankebebasansertapembatasanterhadap hakasasi (I Gede Yuliarta, 2009).

(12)

Di Indonesia jaminan ketersediaan lembaga ini diakomodir dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) terutama pada pasal 77 – 83. Secara garis besar bahwa yang dimaksud dengan lembaga pra peradilan adalah sebuah mekanisme tribunal guna menguji akan keabsahan atas segala tindakan yang dilakukan oleh penyidik dan/atau penuntut umum yang dilakukan secara paksa atas status seseorang di mata hukum. Yang dimaksu pada penjelasan dimuka adalah tindakan penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan (KUHAP pasal 77 huruf a).

Dalam perkembangannya, materi praperadilan tidak terbatas pada apa yang sudah tertera dalam KUHAP sebagaimana tersebutkan dimuka. Pada kasus penetapan tersangka Komjen. Budi Gunawan oleh KPK, KPK di gugat lewat lembaga pra peradilan atas penetapan tersangkanya tersebut. Padahal kita ketahui bahwa KUHAP sama sekali tidak memasukan sebagai materi pra peradilan dan belum ada kasus sebelumnya yang semisal perkara yang dimaksud itu. Namun setelah beberapa bulan kasus tersebut bergulir terbitlah Putusan MK Nomor 21/PUU-XII/2015 yang intinya memberikan penjelasan lebih lanjut (tafsir) bahwa ketentuan yang terdapat di dalam pasal 77 KUHAP termasuk didalamnya adalah penetapan tersangka.

E. Signifikansi

Signifikansi dari penelitianiniadalah: 1. Teoritik:

(13)

kedudukannya dimuka hukum dan mendapatkan perlakuan yang adil dalam sistem peradilan pidana di Indonesia.

Pra peradilan sebelum kasus Budi Gunawan tidak pernah dilakukan oleh para pelaku kejahatan yang telah mendapat status penetapan sebagai tersangka baik oleh Komisi Pemberantasan Korupsi maupun Kepolisian. Perlawanan Budi Gunawan perlu dikaji secara teoritik dan mencari legalitas hukum yang dapat dijadikan sandaran mengapa hal itu dapat terjadi.

Adapun peninjauan kembali terhadap kasus yang telah mendapatkan kekuatan hukum yang tetap (incraht van guisde) sebelumnya terpidana dan/atau ahli warisnya hanya diperbolehkan mengajukan satu kali, tetapi setelah putusan Mahkamah Konstitusi dapat diajukan beberapa kali dan dalam pelaksaannya penuntut umumpun dapat mengajukan peninjauan kembali bahkan pada kasus yang telah diputus bebas. Pergesaran-pergesaran teori dan penajaman atas asas-asas dalam hukum pidana perlu diketahui sebagai upaya pengembangan dan memperkaya khazanah ilmiah dan praksis dalam ranah hukum pidana.

Bekal pengetahuan dan pengayaan terhadap teori-teori maupun praksis di lapangan hukum pidana harus disosialisasikan agar para pemerhati maupun mahasiswa yang belajar hukum dapat mengetahui dari awal sampai pada perkembangan yang paling kontemporer.

2. Praktis:

a. Bagi STAIN Salatiga

(14)

akademisinya tidak henti melakukan salah satu tanggung jawab tri darma perguruan tinggi, yakni di bidang penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Penelian ini diharapkan akan menjadi pemicu untuk lahirnya karya-karya baru yang sejenis atau bahkan muncul variasi lain yang akan memperkaya khazanah keilmuan di IAIN Salatiga, memunculkan sifat kritis dalam bentuk falsifikasi, negasi atau bentuk penguatan dari penelitian ini.

Hasil dari penelitian ini bisa juga dijadikan bukti tertulis, bahwa di IAIN Salatiga ada dosen yang cukup konsen dan kompeten dalam bidang hukum. Show of force kompetensi keilmuan dari para dosen diharapkan dapat dijadikan entry point sebagai pendulang banyaknya masyarakat Salatiga dan sekitarnya atau bahkan seluruh Indonesia tertarik untuk kuliah di IAIN Salatiga.

b. Bagi Masyarakat

Masyarakat akan mengetahui, mengerti dan menyadari hak-haknya sebagai warga negara apabila tersangkut masalah hukum. Pengetahuan yang masyarakat tetang pra peradilan diharapkan masyarakat akan berani melakukan perlawanan apabila diperlakukan secara sewenang-wenang dari para penegak hukum dan mengerti bagaimana melakukannya supaya tetap dalam koridor ketaatan terhadap hukum.

F. Tinjauan Pustaka

(15)

1. Tesis karya I Gede Yuliartha, mahasiswa pasca sarjana Universitas Dipenogoro dengan judul “Lembaga Pra Peradilan dalam Perspektif Kini dan Masa Mendatang dalam Hubungannya dengan Hak Asasi Manusia” (2013). Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa pengaturan lembaga praperadilan dalam hukum positif Indonesia terdapat dalam Bab X Bagian Kesatu dari Pasal 77 sampai dengan Pasal 83 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.Dalam penerapannya masih terdapat permasalahan terutama mengenai gugurnya permohonan praperadilan yang disebabkan oleh mulainya pemeriksaan perkara pidana di sidang pengadilan. Dengan alasan tersebut, obyek permohonan praperadilan tidak diperiksa secara tuntas melalui suatu putusan praperadilan yang mempertimbangkan sah atau tidaknya permohonan dimaksud.

Diperlukan adanya pembaharuan hukum (kebijakan) terhadap aturan Lembaga Praperadilan secara ideal dengan menitik beratkan perlindungan terhadap hak asasi manusia baik terhadap tersangka maupun korban. Pembaharuan hukum lembaga praperadilan dari segi substansi maupun struktur dengan jalan mengganti yang telah ada bukan merupakan jalan terbaik, namun yang lebih terpenting adalah pembaharuan dari segi budaya hukum, etika moral hukum dan ilmu pendidikan hukum. 2. Penelitian yang dilakukan oleh Made Wire Darme

(16)

penyidikan bukan hanya di tangan penuntut umum saja, tetapi diperluas jangkauannya samapai pada pihak ketiga (saksi) (jurnal.hukum.uns.ac.id)

G. Metodologi 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk dalam kateogori penelitian pustaka (library research), atau penelitian hukum doktrinal atau yuridis normatif dengan menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengambilan data melalui pengumpulan informasi melalui berbagai karya ilmiah maupun peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia. Yang utama adalah Putusan Pra Peradilan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atas kasus Budi Gunawan. Jadi obyek yang diteliti adalah dokumen putusan lembaga penegak hukum Indonesia.

2. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi, yaitu suatu cara untuk memperoleh data dengan mempelajari buku-buku, catatan, peraturan-peraturan dan catatan-catatan lainnya yang berupa hukum primer maupun bahan-bahan hukum sekunder. Adapun bahan hukum primer ini adalahPutusan pada lembaga peradilan sebagimana tersebut di atas, sedangkan bahan hukum sekunder adalah Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), dan peraturan perundangan yang terkait dengan persoalan yang sedang diteliti.

3. TeknikAnalisis

(17)

mengkajinyaatau menganalisisnya sesuai dengan kebutuhan dari penelitian, kemudian dianalisis berdasarkan dari teori-teori yang ada (integrated criminal

justice system) untuk memecahkan

permasalahan-permasalahan dalam penelitian ini (Bambang Waluyo, 2002: 50). Yakni menggambarkan aturan umum yang berkaitan dengan pra peradilan dalam sistem peradilan di Indonesia.

Pisau analisisnya menggunakan critical legal studies theory yang diantaranya dipopulerkan oleh Roberto M. Unger (2012), seorang filosof hukum modern dari Amerika Serikat. Penggunaan critical legal studies theory sebagai alat analisi diharapkan akan menemukan hasil yang lebih komprehensif dalam pengkajian hukum karena inti ide dari teori ini menolak dengan tegas tesis yang mengatakan hukum adalah hukum, hukum harus terbebas dari segala persoalan yang bukan hukum, baik politik, ekonomi, sosial, agama, moral atau hal lainnya. Dapat pula dikatakan bahwa hukum itu tidak otonom, lahir dari drinya sendiri dan untuk dirinya sendiri. Oleh karenanya penggunaan alat analisis ini tidak sekedar berhenti memperhatikan pada putusan-putusan yang akan diteliti, tetapi melihat pula pada aspek-aspek lain yang dimungkinkan turut dalam proses pemikiran dan pembentukan putusan pada saat itu bahkan pada sesuatu yang terjadi setelah putusan dikeluarkan.

H. Sistematika Pembahasan

Laporan penelitian yang akan disampaikan adalah menurut sistematika sebagai berikut:

(18)

Selanjutnya rumusan masalah yang ada yang menjadi obyek eksplorasi yang urgen untuk dijawab dalam pembahasan penelitian selanjutnya yang harus dijawab, tujuan dan manfaat dari penelitian, kajian pustaka, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.

Bab dua, pada bab ini akan di bahas kewajiban negara dalam memberikan jaminan perlindungan hukum terhadap warga negaranya.

Bab tiga, pada bab ini akan dibahas Pra peradilan dan peninjauan kembali dalam sistem peradilan pidana di Indonesia dari mulai teori sampai praktik, sejarah dan perbagai persoalan yang melingkupinya.

Bab empat, berisi tentang hasil penelitian, pengkajian dan analisis terhadap Putusan Pra Peradilan Jakarta Selatan pada kasus Komjend. Budi Gunawan.

(19)

BAB II

NEGARA HUKUM DAN KEWAJIBAN MEMBERIKAN JAMINAN PERLINDUNGAN TERHADAP WARGA

NEGARANYA

A. Negara Hukum

Istilah negara, mulai muncul pada zaman renaissance di Eropa pada abad 15. Istilah yang saat itu muncul adalah Lo Stato yang berasal dari bahasa Italia dalam buku Il Principe karangan Niccolo Macchiavelli, kemudian menjelma menjadi Le 'Etat' dalam bahasa Prancis, The State dalam bahasa Inggris, Der Staat dalam bahasa Jerman dan De Staat dalam bahasa Belanda. Dalam perkembangannya orang mulai banyak mempertanyakan apakah sebenarnya negara? Setelah itu munculah berbagai definisi dari negara sebanyak para pemikir yang memberikan definisi tentangnya, diantaranya;

1. Plato mendefinisikan negara sebagai suatu sistem pelayanan yang mengharuskan setiap warga negara bertanggung jawab saling mengisi, saling memberi dan menerima, saling menukar jasa, saling memperhatikan kebutuhan sesame warga, dan saling membangun.

2. Menurut J.H.A. Logemann, negara adalah organisasi kekuasaan/kewibawaan.

3. Menurut Aristoteles, negara adalah satu persekutuan hidup politis.

4. R. Djokosutono memberikan definisi bahwa negara adalah suatu organisasi manusia atau kumpulan manusia-manusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama.

(20)

dan rakyat yang hidup dengan teratur sehingga merupakan suatu bangsa (Farkhani, 2014: 129).

Negara dan hukum merupakan dua konsep yang kait mengait antara satu dengan yang lainnya, boleh dikatakan sebagai dua sayap yang saling mengisi eksistensi antara satu dengan yang lainnya. Walaupun dalam sejarah perkembangannya hukum lebih dahulu muncul sebelum terbentuknya negara dalam bentuk yang tidak sederhana dan modern. Teori hukum alam, teori historis dan hukum wahyu adalah sebagian dari teori terbentuknya hukum yang paling tepat untuk menggambarkan bahwa keberadaan hukum lebih awal eksis dari pada kekuasaan negara.

Dari paradigma awal tersebut, sudah selayaknya apabila hukum menjadi core utama dalam menjalankan roda pemerintahan sebuah negara. Simplikasinya, negara hukum adalah negara yang menjalankan hukum bahkan negara sendiri harus tunduk oleh hukum. Lebih rinci Sumali (2002: 11) menegaskan bahwa negara hukum secara esensi bermakna bahwa hukum adalah supreme dan kewajiban bagi setiap penyelenggara negara atau pemerintahan untuk tunduk pada hukum (subject to the law), tidak ada kekuasaan di atas hukum (above the law), semuanya di bawah hukum (under the rule of law). Dengan kedudukan ini tidak boleh ada kekuasaan yang sewenang-wenang (arbitary power) atau atau penyalahgunaan kekuasaan (misuse of power).

(21)

negara, menjadi Plato berpikir secara sungguh-sungguh tentang konsep negara yang menurutnya ideal dan dapat dijalankan dengan tidak melahirkan para penguasa diktator di kemudian hari (J.H. Rapar, 2001).

Bagi Plato negara dan manusia memiliki kesamaan, oleh karena masalah moralitas harus dikedepankan dalam kehidupan negara, bahkan harus menjadi yang paling hakiki dalam kehidupan negara itu sendiri. Karena moral menjadi sesuatu yang paling hakiki dalam negara, maka menurut Plato, para penguasa negara dan rakyatnya pun harus berada pada posisi menunjung nilai moral dalam bernegara. Dan nilai moral yang paling dikedapankan Plato adalah kebajikan. Kebajikan akan diperoleh bila para penguasa negaranya mengerti betul tentang nilai-nilai kebajikan. Pengertian tersebut hanya akan diperoleh apabila penguasa itu memiliki ilmu yang luas. Untuk menjembatani ketersediaan calon penguasa yang berwawasan luas adalah tersedianya lembaga pendidikan yang memadai.

Kondisi yang demikian mendorong Plato menulis sebuah buku yang diberi judul ‘Politea’. Ide utama dari buku ini berkenaan dengan awal konsep negara hukum adalah bahwa sebuah negara akan menjadi baik apabila pemimpin negara diamanahkan kepada para filsuf (sebagai opsi terakhir). Alasan sederhananya karena filsuf sangat mencintai kebenaran dan kebijaksanaan, menghargai humanisme dan manusia yang memiliki pengetahuan yang tinggi.

(22)

usia senja, dengan banyak pengalaman sebelumnya ia lebih tegas menyatakan bahwa penyelenggaraan pemerintah yang baik ialah yang diatur oleh hukum (Romi Libriyanto, 2008: 10-11).

Ide dan praktek negara hukum ini sempat menghilang dan ditinggalkan orang. Ide ini kembali muncul di Barat pada abad XVII. Munculnya kembali ide ini ternyata dilatarbelakangi oleh kondisi kekuasaan negara yang persis sama (absolutisme negara) seperti pada zaman Plato dan Aristoteles ketika untuk pertama kali melontarkan gagasan tentang negara hukum. Pemikiran-pemikiran yang muncul pada abad XVII ini menjadi embrio konsep negara hukum yang berkembang pesat di abad XIX dan mengilhami tokoh semacam Jhon Lock, Montesquieu dan Rousseau (Romi Libriyanto, 2008: 10-11). Jhon Locke dan Montesquieu dapat disimpulkan memiliki ide yang sama dengan bahasa yang sedikit berbeda, yakni ide tentang pembagian dan keseimbangan antara tiga poros kekuasaan penyelenggara negara (eksekutif, legislatif dan yudikatif). Adapun JJ. Rousseau dengan ide kontrak sosialnya, idenya ini juga menggiring pada pemikiran bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh negara merupakan hasil kontrak (kesepahaman perjanjian) yang kedaulatannya diamanatkan kepada para penguasa untuk menjalankan negara atas kesepakatan yang telah dilakukan. Artinya negara dalam kerjanya harus tunduk pada hukum yang dibuat.

(23)

kedaulatan hukum atau prinsip hukum sebagai kekuasaan tertinggi. Dalam istilah Inggris yang dikembangkan oleh A.V. Dicey, hal itu dapat dikaitkan dengan prinsip rule of law yang berkembang di Amerika Serikat menjadi jargon the Rule of Law, and not of Man,yang sesungguhnya dianggap sebagai pemimpin adalah hukum itu sendiri, bukan orang.

Negara hukum merupakan terjemahan langsung dari

rechtsstaat dan dipersamakan arti dengan rule of law. Dalam

perdebatan akademis, tiga istilah (negara hukum, rechtsstaat dan rule of law), ada yang mempersamakannya dan ada pula yang mebedakannya. Diantara tokoh yang tidak membedakan tiga istilah tersebut adalah M. Yamin, Ismail Sunny, Sudargo Gautama, Notohamidjojo, Djokosoetono dan Sumrah. Sedang yang menganggapnya berbeda adalah Phillipus M. Hadjon. Menurutnya konsep rechtsstaat dan rule of law juga berbeda, berdasar pada latar belakang dan sistem hukum yang menopangnya. Konsep rechtsstaat lahir dari suatu perjuangan menentang absolutisme sehingga sifatnya revolusioner, sedangkan the rule of law berkembang secara evolusioner. Konsep rechtsstaat bertumpu pada sistem hukum kontinental yang disebut civil law, sedangkan the rule of law bertumpu di atas sistem common law (Azhari, 1995: 30-33).

(24)

keadilan kepada warga negaranya. Peraturan hukum yang ada pada suatu negaradimaksudkan untuk melindungi hak-hak negara dari tindakan penguasa. Begitu pula dalam sebuah negara hukum dibuat peraturan untuk mencegah kekuasaan absolut demi pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia.

(25)

BAB III PRAPERADILAN

DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA DI INDONESIA

A. Dinamika Institusi Hukum

Harus diakui bahwa aliran hukum positivisme yang berkembang pesat antara abad 16 sampai 19 sangat mempengaruhi sistem hukum dan sistem peradilan di Indonesia. Kisaran abad itulah Indonesia berada dalam permulaan dan akhir penjajahan Indonesia oleh bangsa-bangsa Eropa, mulai dari Portugis, Belanda dan Inggris. Belanda yang terlama selama 350 tahun.

Masa penjajahan yang panjang oleh negara dengan sistem hukum bercorak Eropa Kontinental jelas tegas mewarnai sistem hukum Indonesia dari berbagai aspeknya. Hukum adat sebagai hukum yang asli hidup dalam masyarakat Indonesia dan Hukum Islam yang memberi corak hukum-hukum adat sebelum kedatangan penjajah dipersempit peran dan perkembangan. Upaya itu sejatinya nyata dengan dikebirinya kekuasaan raja-raja Islam Nusantara, teori receptie dan pembagian subyek hukum dalam masa penjajahan Belanda, serta konkordasi hukum Belanda di Hindia Belanda (Indonesia) semakin nyata akan sistem positivisme hukum dalam hukum Indonesia. Parahnya, setelah Indonesia merdeka warisan hukum penjajah Belanda belum sepenuhnya hilang dari peraturan perundang-undangan bumi pertiwi. Bahkan itu berada dalam urat nadi sistem hukum, upaya penggantiannya agar lebih berkarakter hukum keindonesiaan belum berhasil.

(26)

Sungguh kondisi yang demikan telah disadari oleh para pakar hukum belakangan. Berbagai upaya dilakukan untuk pembangunan hukum yang berkeindonesiaan. Sedikit demi sedikit hukum warisan Belanda dikikis, berbagai upaya pembangunan hukum dilakukan, pemikiran hukum berkarakter keindonesiaan terus dibangun, living law diakomodasi. Arah kiblat hukum mulai bergeser, tipologi hukum Eropa Kontinental memang masih dominan tetapi tipologi hukum Anglo Saxon mulai diakomodir. Hukum Islam telah lebih dahulu diakomodir namun pasca reformasi lebih massif di berbagai daerah dengan perda-perda bernuansa syari’ah dan terbuka peluang pembelakuan Syariat Islam walau baru di Nangro Aceh.

Lebih menggembirakan, bersamaan dengan pada akhir abad 20, muncul gerakan hukum progressif yang di pelopori oleh begawan hukum Satjipto Rahardjo. Ide dan gagasan hukum progresifnya yang kental beraliran filsafat hukum utilitarianisme

dan sibghah spiritualitas keagamaannya (Islam) (lihat Sajtipto

Raharjo, 2007), beliau ajarkan kepada para mahasiswanya yang berasal dari berbagai kalangan, tidak hanya para akademisi, para praktisi hukum dan penegak hukum banyak menjadi mahasiswanya. Pemikirannya cukup dapat diterima, hingga muncul perkumpulan hakim progresif dan bahkan organisasi yang secara khusus menebarkan gagasan-gagasannya.

Upaya-upaya yang dilakukan di atas dan berbagai upaya lain yang belum tersebutkan, susungguhnya cita-cita yang ingin dicapai adalah bagaimana keadilan yang menjadi ruh sekaligus tujuan dari hukum itu sendiri benar-benar terwujud secara hakiki, baik dalam pembentukan hukum, penemuan hukum, penciptaan norma hukum dan penegakan hukumnya.

(27)

responsif dalam hal ini adalah diposisikannya hukum sebagai fasilitator dari respon terhadap kebutuhan-kebutuhan sosial dan aspirasi-aspirasi sosial. Hukum dimaknai lebih luas, mencakup pengalaman-pengalaman hukum yang beraneka ragam dengan tidak meleburkan konsep hukum terhadap konsep kontrol sosial yang lebih luas.

Melihat pada pemaknaan hukum responsif yang demikian tersebut, tersirat jelas bahwa konsep hukum responsif adalah hasil evolusi dari dua konsep sebelumnya, represif dan otonom (A.A.G. Peters dan Koesriani Siswosoebroto, 1990, 164-165). Karena ia merupakan evolusi, maka butuh waktu, dan beragam konsekuensi logis atas berjalannya waktu tersebut. Sehingga wajar dapat dikatakan bahwa dengan argumen sederhana dimuka, Indonesia sedang bergerak menuju hukum yang responsif, walau kadang pada kasus tertentu, Indonesia terkesan sedang bergerak mundur menuju kembali pada hukum yang represif. Beruntungnya sensitifitas kontrol sosial masyarakat Indonesia sudah mulai muncul dan dibantu dengan tata hukum dan tata kelembagaan hukum yang lebih baik dapat mencegah keterpurukan itu.

Pada persoalan ini, Satjipto Rahardjo (2007: 87-88) menegaskan bahwa kontrol masyarakat yang seperti itu adalah bukti bahwa masyarakat memiliki kekuatan otonom. Kekuatan otonom itu bisa membuat masyarakat dapat menata dirinya sendiri walaupun tanpa kehadiran undang-undang. Kekuatan masyarakat yang bersifat otonom itu pada tahap tertentu dapat bergerak atau digerakkan menjadi kekuatan dahsyat yang dapat menggulingkan kekuasaan yang despotik, otoriter dan tiranik. Itulah yang disebut rakyat yang berdaulat atau kedaulatan rakyat.

(28)

upaya penegakan hukum. Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial adalah dua lembaga negara baru yang muncul secara langsung atas amanat hasil amandemen konstitusi tersebut. Komisi Pemberantasan Korupsi muncul tidak lama setelah itu. Mulanya sebagai respon atas berbagai kasus korupsi yang kurang membanggakan progressnya ketika ditangani oleh kejaksaan.

Setelah tiga lembaga baru ini terbentuk, harapan baru dilambungkan untuk merubah bopeng wajah penegakan hukum di Indonesia. Secara cepat dua, lembaga penegakan hukum (MK dan KPK) dan lembaga pengawas perilaku hakim (KY), karena kinerjanya merebut hati rakyat. Rakyat bangga dengan capaian kedua lembaga tersebut. Mahkamah Konstitusi menjelma menjadi pemegang kekuasaan yudikatif yang berwibawa. KPK menjelma menjadi lembaga kuat yang bisa menjerat dan memenjarakan para koruptor yang sebelumnya tidak pernah tersentuh oleh kejaksaan.

Lembaga negara yang lahir setelah reformasi dan atas amanat butir-butir reformasi adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Lembaga ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Tugas KPK adalah melakukan pemberantasan korupsi secara profesional, intensif, dan berkesinambungan. Sifat kelembagaanya independen. Independen yang dimaksudkan adalah bebas dari kekuasaan manapun dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya.

(29)

proposionalitas. KPK bertanggung jawab kepada publik dan menyampaikan laporannya secara terbuka dan berkala kepada presiden, DPR, dan BPK (http://www.kpk.go.id).

Sekilas menilik sejarahnya, KPK adalah satu-satunya lembaga negara yang lahir karena amanat reformasi. Satu diktum yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari korupsi menjadi point penting dalam amanat reformasi, karena regim yang ditumbangkan lewat gerakan reformasi 1998 itu dituduh korup dan membudayakan tindakan korupsi disemua lini penyelenggara negara.

Oleh karenanya, kehadiran KPK disambut dengan gembira dan langsung mendapatkan pendukung dan pembela fanatik terhadap lembaga ini. Terpuruknya legitimasi polisi dan kejaksaan agung dalam penangan kasus korupsi, kewenangan yang sangat besar yang diberikan oleh undang-undang, gebrakan-gebrakan dan prestasi kinerja KPK yang mengagumkan dan dukungan rakyat yang totalitas merubah lembaga baru ini menjadi tren dan tumpuan harapan pemberantasan korupsi.

Dukungan, simpati, empati yang loyalitas kecintaan dari rakyat semakin besar tatakala KPK berhasil menjerat dan memenjarakan orang-orang dengan pangkat dan jabatan tinggi yang pada zaman orde baru tidak pernah tersentuh. Para menteri, jenderal polisi dan TNI, akademisi bergelar profesor, anggota legislatif pusat dan daerah, penguasa-penguasa ekskekutif daerah dan pengusaha-pengusaha hitam banyak yang dijeblokan ke penjara oleh KPK karena kasus korupsi dan pengembalian uang negara yang cukup besar menambah dukungan rakyat semakin besar atas lembaga anti rasuah ini.

(30)

Proses menjadikan KPK sebagai lembaga bersih dan antibodi sangat penjang dan melelahkan. Saat pelaku koruptor dicaci massa dan dijebloskan ke penjara, dua petinggi KPK justeru mendapatkan dukungan massa. Kasus yang menimpa Chandra Hamzah dan Bibit Waluyo justru dinilai sebagai upaya kriminalisasi kepolisian terhadap mereka, hingga muncul istilah Cicak VS Buaya. Dukungan terhadap keduanya pun semakin menguat, hingga akhirnya dibebaskan. Saat dukungan terhadap KPK semakin menguat, terhadap kepolisian sebaliknya. Begitu pula, saat rencana pembangunan gedung DPR dicemooh rakyat, KPK justreru mendapatkan dukungan penuh plus sumbangan dana dari masyarakat untuk membangun gedung baru. Belum lagi upaya pemandulan wewenang KPK melalui revisi UU yang pada akhirnya batal (http://nahakunaon.blogspot.com). Kasus yang terbaru, pada saat “perang” antara KPK dengan Polisi jilid II, KPK mendapat dukungan penuh dari rakyat. Pada saat para penyidik KPK diperkarakan oleh Polisi, TNI bersedia memberikan bantuan personil professionalnya untuk menjadi penyidik-penyidik KPK. Walaupun kasus KPK tidak menjadikan Budiono (mantan meneteri keuangan dan wakil presiden) menjadi tersangka mendapat sorotan tajam, tapi dukungan publik terhadap lembaga ini tidak pudar. Dukungan terhadap Abraham Samad dan Bambang Widjoyanto menjadi bukti atas kecintaan rakyat pada lembaga ini.

(31)

status yang ditetapkan (tersangka) oleh KPK, mengajukan pra peradilan ke Pengadilan Jakarta Selatan.

Hasilnya, putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang dibacakan oleh hakim Sarpin Rizaldi menyatakan bahwa gugatan pra peradilan atas penetapan tersangka Budi Gunawan di terima. Putusan ini berarti menghapuskan penetapan tersangka atas Budi Gunawan atas perkara yang dituduh. KPK kalah!

Secepat kilat, putusan hakim Sarpin menjadi trending topic. Berbagai pendapat bermunculan, sebagian memandang bahwa putusan Sarpin kebablasan, meruntuhkan sendi-sendi sistem hukum dan pandangan miring lainnya, sebagian yang lain menyanjung bahwa Sarpin telah melakukan terobosan hukum. Tidak berselang lama, putusan Mahkamah Konstitusi muncul yang menyatakan bahwa penetapan tersangka dapat menjadi obyek pra peradilan.

Ditambah dengan munculnya putusan MK tersebut muncul kekhawatiran baru bagi lembaga penegak hukum, yaitu banjirnya gugatan pra peradilan kepada tiga lembaga penegakan hukum di Indonesia, baik KPK, Kejaksaan dan Kepolisian yang diajukan oleh para tersangka pelanggar hukum.

(32)

B. Pengertian dan Sejarah Perkembangan Praperadilan di Indonesia

Hak untuk mendapatkan perlindungan adalah hak mutlak bagi warga negara dari negaranya, perlindungan dari apapun agar seseorang tersebut merasa nyaman, aman bertempat tinggal dan menjadi suatu warga negara yang berada pada suatu wilayah atau negara yang dilindungi oleh hukum dan pemerintah.

Perlindungan yang diberikan pemerintah itu tidak mengenal status atau kedudukan seseorang dalam strata sosial, politik, ekonomi, dan yang lainnya, yang pasti setiap warga negara harus dan wajib hukumnya berada pada lindungan pemerintah dalam bentuk apapun perlindungan itu. Bahkan perlindungan itu sampai pada titik dimana seorang warga negara disangkakan telah melakukan suatu tindak pidana.

Dalam konteks hak asasi manusia, negara menjadi subyek hukum utama, karena negara merupakan entitas utama yang bertanggung jawab melindungi, menegakkan, dan memajukan hak asasi manusia, setidaknya untuk waga negaranya masing-masing. Ironisnya, sejarah mencatat pelanggaran hak asasi manusia biasanya justru dilakukan oleh negara, baik secara langsung melalui tindakan-tindakan yang termasuk pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga negaranya atau warga negara lain, maupun secara tidak langsung melalui kebijakan-kebijakan ekonomi dan politik baik di level nasional maupun internasional yang berdampak pada tidak dipenuhinya atau ditiadakannya hak asasi manusia warga negaranya atau warga negara lain (Knut D. Asplund, Suparman Marzuki, Eko Riyadi (Ed.), 2008: 53).

(33)

telah diatur dalam peraturan perundangan di negara berhukum. Negara hukum yang memiliki tujuan menjaga melindungi seluruh warga negaranya berhak melakukan satu tindakan yang dibenarkan oleh hukum terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh warga negaranya. Walaupun begitu segala tindakan negara (organ) yang merampas hak warga negaranya harus sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku, walaupun sering kali organ negara karena untuk kepentingan tertentu melakukan tindakan kurang cermat atau tidak sesuai dengan ketentuan hukum bahkan pelannggaran terhadap hukum.

Bagi warga negara yang merasa diperlakukan sewenang-wenang oleh organ negara, negara memberikan ruang untuk melakukan pembelaan diri sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Karena para penegak hukum dalam melaksanakan tugasnya tidak terlepas dari kemungkinan melakukan tindakan yang bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku sehingga terlanggarlah hak-hak asasi warga negara (tersangka atau terdakwa) dalam proses peradilan pidana. Salah satu upaya untuk perlindungan hak dalam proses peradilan pidana adalah melalui lembaga praperadilanyang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘pra’ berarti awalan yang bermakna sebelum atau dimuka. Sedangkan praperadilan adalah sesuatu mengenai perkara pengadilan atau lembaga hukum bertugas memperbaiki (Badudu dan Zein, 1999: 236). Praperadilan dalam bahasa yang sederhana berarti sebelum pemeriksaan di sidang pengadilan (Andi Hamzah, 2012: 188). Arti kata secara bahasa ini berbeda dengan pengertian praperadilan dalam konsep peraturan perundang-undangan atau praktik yang dilakukan dalam lembaga peradilan.

(34)

1. Sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan atas permintaan tersangka atau keluarganya atau pihak lain atau kuasa tersangka;

2. Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan demi tegaknya hukum dan keadilan;

3. Permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasanya yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan.

Dari pengertian resmi menurut undang-undang ini, menunjukan bahwa praperadilan merupakan wewenang (kompetensi) absolut dari Pengadilan Negeri. Dengan ketentuan tersebut, keberadaan lembaga pra peradilan bukan lembaga tersendiri yang terpisah dari lembaga peradilan, melainkan sebagai sebuah bagian dari proses peradilan atau bagian dari satu sistem peradilan.

Praperadilan pada mulanya menjadi bagian dari pemeriksaan sebelum dimulainya persidangan, biasa disebut sebagai pemeriksaan pendahuluan yang dilakukan oleh hakim Pengadilan Negeri atas permintaan pihak yang merasa haknya terampas oleh tindakan yang dilakukan oleh penegak hukum (polisi dan/atau jaksa).

Untuk memahami lebih jauh tentang praperadilan, menilik sejarah munculnya praperadilan dalam sistem peradilan pidana di Indonesia sangat penting dilakukan, dari mulai kapan kemunculannya sampai pada perkembangan mutakhir.

(35)

dalam InlandReglement maupun HerzieneIndische Reglement (HIR), golongan pribumi kedudukannya sebagai warganegara di negara jajahan (Salman Luthan dkk, 2014: 29).

HIR diberlakukan bagi pribumi yang tinggal di kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Malang dan lain-lain, sedangkan IR diberlakukan bagi daerah-daerah lainnya. Baik dalam IR maupun HIR tidak dikenal istilah praperadilan, yang ada untuk urusan pemeriksaan awal adalah hakim komisaris.

Hakim komisaris bekerja aktif, bekerja sebagai bagian dari eksekutif, berbeda dengan hakim biasa yang memeriksa perkara pada sidang-sidang seperti biasanya. Hakim komisaris berperan sebagai pengawas pada tahap pemeriksaan pendahuluan dari serangkaian tahapan proses peradilan pidana. Lembaga ini juga dapat melakukan tindakan eksekutif seperti memanggil orang, baik para saksi (Pasal 46) maupun tersangka (Pasal 47), mendatangi rumah para saksi maupun tersangka (Pasal 56), dan juga memeriksa serta mengadakan penahanan sementara terhadap tersangka (Pasal 62). Tindakan hakim komisaris yang termasuk tindakan eksekutif tersebut menunjukan bahwa kedudukannya bersikap aktif dan memiliki tanggung jawab pengawasan yang besar pada tahap pemeriksaan awal (Salman Luthan dkk, 2014: 30).

Hukum-hukum buatan penjajah Belanda semuanya telah establish di seluruh tanah jajahan Indonesia. Tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka, masa itu adalah tonggak awal tata hukum Indonesia mulai disusun. Dengan argumentasi untuk menghindari kekosongan hukum (facum of law), dalam konstitusi itu tetap memberikan peluang masih berlakukanya peraturan-peraturan yang pernah berlaku dalam masa jajahan Belanda, yakni melalui Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945.

(36)

UU No. 1 Drt/195, yang dimaksudkan untuk mengadakan unifikasi dalam bidang hukum acara pidana, yang sebelumnya terdiri dari dua hal, yakni hukum acara pidana bagi Landraad serta hukum acara pidana bagi Raad van Justice. Dualisme hukum acara pidana adalah akibat perbedaan antara peradilan bagi golongan Bumi Putra dan bagi golongan Eropa (Salman Luthan dkk, 2014: 31).

Pada akhir tahun 1979 Menteri Kehakiman Mudjono mewakili Pemerintah mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) Hukum Acara Pidana ke DPR. Pada masa itu pemerintah beranggapan bahwa HIR warisan Belanda sudah tidak relevan lagi setelah sekian puluh tahun Indonesia merdeka. Saat itu muncul gerakan penolakan RUU Hukum Acara Pidana dari kalangan LBH/YLBHI, Persatuan Advokat Indonesia (Peradin), akademisi dan kalangan pers. Mereka beranggapan bahwa RUU tersebut amat buruk bahkan lebih buruk dari HIR warisan Belanda yang akan digantikannya. Rancangan itu dianggap masih saja berorientasi pada kekuasaan dan tidak cukup melindungi hak-hak asasi tersangka ataupun terdakwa yang selama berpuluh-puluh tahun tidak dilindungi oleh HIR. Kemudian muncul draf-draf RUU tandingan dan sembari terus melakukan perlawanan terhadap usulan pemerintah. Pemerintah tidak mengendurkan semangatnya untuk menggati HIR dengan RUU Hukum Acara yang dibuatnya, namun menyetujui untuk membuat draf yang baru bersama DPR dengan masukan-masukan baik dari Komite Aksi Pembela Pancasila, Peradin maupun lembaga-lembaga lainnya. Maka RUU Hukum Acara Pidana yang diajukan ke DPR benar-benar rancangan baru yang dibuat oleh Pansus DPR dengan masukan-masukan dari steakholder.

(37)

Lembaga ini lahir dari pemikiran untuk mengadakan tindakan pengawasan terhadap aparat penegak hukum agar dalam melaksanankan tugasnya tidak menyalahgunakan wewenang. Karena pengawasan internal yang selama ini dilakukan dirasa kurang cukup sebab bisa saja ada faktor psikologis dan ikatan emosional antara pejabat negara yang bertugas dilembaga tersebut untuk men-judge teman seprofesinya. Untuk kepeningan fair prosses due of law dibutuhkan pengawasan silang antara sesama aparat penegak hukum.

RUU Hukum Acara Pidana yang sama sekali baru dan berbeda dengan RUU versi pemerintah akhirnya disahkan dalam sidang Paripurna DPR dan menjadi Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, kemudian Undang-Undang tersebut dikenal dengan sebutan KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana). Pada saat itu, menurut beberapa pakar KUHAP ini dianggap sebagai karya besar bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari sistem hukum acara warisan penjajah Belanda, HIR dan IR.

Dalam KUHAP buatan asli Indonesia yang mengatur praperadilan terinspirasi dari prinsip-prinsip hukum di negara bersistem hukum Anglo Saxon, yaitu hak habeas corpus act. Habeas corpus act memberikan hak pada seseorang melalui suatu perintah pengadilan menuntut pejabat yang melaksanakan hukum pidana formil agar tidak melanggar hukum (illegal) atau tegasnya melaksanakan hukum pidana formil tersebut benar-benar sah sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku (Putusan Mahkamah Agung.go.id).

(38)

penahanan merupakan upaya paksa yang dapat dilakukan oleh pejabat penegak hukum. Dan upaya paksa tersebut sangat mungkin melanggar hak asasi warga negara. Pada sistem hukum pidana Indonesia menganut asas presumtion of innocence (pra duga tak bersalah) yang artinya seseorang wajib dianggap tidak bersalah sampai dibuktikan kesalahannya oleh suatu putusan pengadilan yang terbuka, bebas dan tidak memihak. Asas ini jelas menjunjung dan melindungi hak asasi warga negara serta menjadi asumsi awal bagi para hakim dalam memeriksa perkara.

Aturan tersebut telah lebih dari 4 (empat) dasawarsa berjalan tanpa ada riak-riak yang cukup berarti muncul dipermukaan. Upaya paksa berupa penangkapan dan penahanan yang tidak prosedural dan merampas hak asasi manusia pernah beberapa kali terjadi, yang cukup mendapatkan perhatian adalah kasus Abu Bakar Ba’asyir dan tersangka kasus teroris. Namun kasus-kasus tersebut tidak sampai pada munculnya kegaduhan hukum, baik dalam wacana hukum maupun praktik hingga muncul satu putusan hukum atas peristiwa itu, disamping tidak adanya perlawanan yang berusaha keluar dari aturan hukum yang telah ada.

Berbeda dengan kasus yang menjerat Komjen Pol. Budi Gunawan, yang ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka korupsi. Budi Gunawan melakukan perlawanan hukum atas penetapannya sebagai tersangka korupsi, dengan mengajukan gugatan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

(39)

kepadanyadalam persidangan. Penolakan hakim terhadap persoalan perkara yang diajukan padanya justru dinilai sebagai pelanggaran terhadap undang-undang dan dapat dipidanakan.

Hakim Sarpin yang menjadi hakim tunggal pada persidangan pra peradilan tentang gugatan status tersangka Budi Gunawan oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), dalam putusannya dengan berbagai argumentasi mengabulkan (memenangkan) gugatan Penggugat dan menyatakan bahwa penetapan tersangka pada Penggugat (Budi Gunawan) oleh tergugat (KPK) dinyatakan tidak sah dan tersangka bukan termasuk penegak hukum. Argumentasi Hakim Sarpin tertuang dalam putusan perkara nomor 04/Pid/Prap/2015/PN Jkt Sel, dengan naskah setebal 244 halaman.

Setelah putusan tersebut, dunia hukum Indonesia gempar. Karena baru pertama kali dalam sejarah KPK menetapkan seseorang menjadi tersangka koruptor bisa lepas dari jerat hukum yang dipasang KPK. Syak wasangka, pro dan kontra bermunculan, diskusi warung jalan, media elektronik, media cetak, media sosial (facebook, twittwer, instagram dll), kajian, penelitian ilmiah dan bincang-bincang hukum ramai membahas putusan Hakim Sarpin. Bahkan Komisi Yudisial mengadukan Sarpin ke Mahkamah Agung dan merekomendasikan untuk mengeksaminasi serta mengevaluasi Hakim Sarpin. Ada pula yang mengusulkan KPK untuk mengajukan PK (Peninjauan Kembali) terhadap putusan Pengadilan Negeri tersebut.

(40)

Perdebatan apakah lembaga praperadilan berwenang untuk memeriksa dan memutus sah atau tidaknya penetapan tersangka akhirnya terjawab sudah, Mahkamah Konstitusi (MK) pada tanggal 28 April 2015 melalui Putusan Nomor 21/PUU-XII/2014 (Putusan MK) telah memutus diantaranya bahwa lingkup kewenangan praperadilan yang diatur dalam Pasal 77 huruf (a) UU HAP mencakup juga sah atau tidaknyapenetapan tersangka (halaman 110 Putusan MK). Putusan MK ini artinya telah memperluas kewenangan praperadilan itu sendiri, yang dahulu mencakup sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan, atau penghentian penuntutan, saat ini diperluas diantaranya pula mencakup mengenai memeriksa dan memutus sah atau tidaknya penetapan status tersangka seseorang (Zaqiu Rahman, 2015).

Pasca putusan MK tersebut beberapa tersangka koruptor melakukan perlawanan hukum terhadap KPK, diantaranya mantan Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin dan Mantan Dirjen Pajak Hadi Purnomo yang dimenangkan dalam sidang praperadilan dan beberapa kasus lainnya. Atas beberapa kasus tersebut, banyak orang menyimpulkan bahwa peristiwa itu adalah bentuk perlawanan balik dari para koruptor terhadap usaha-usaha pemberantasan korupsi yang selama ini dilakukan oleh para penegak hukum, terutama KPK.

C. Fungsi, Tujuan dan Wewenang Praperadilan

(41)

Putusan tersebut menuntut pada pejabat penyidik, baik dari kepolisian, kejaksaan maupun KPK harus lebih professional lagi, lebih cermat, lebih ketat prosedur dan memenuhi betul batas maksimal alat bukti untuk memberikan pada seseorang status sebagai tersangka suatu tindak pidana.

Semua itu harus ketat dilaksanakan karena sesorang wajib dianggap tidak bersalah (presumption of innocence).Semakin menegaskan bahwa hukum acara pidana tidak lagi memandang tersangka atau terdakwa sebagai obyek hukum tetapi sebagai subyek hukum. Hal ini tercermin dengan adanya jaminan perlindungan hak-hak tersangka atau terdakwa yang tercantum secara tegas dalam pasal-pasal KUHAP dan telah sesuai dengan tujuan hukum acara pidana itu sendiri, yaitu mencari kebenaran materiil dalam proses pemeriksaan perkara pidana.

Menjadi jelas bahwa nilai yang ingin dibawa dalam lembaga praperadilan adalah membantu apa yang menjadi tujuan negara hukum demokratis, menjunjung tinggi dan menjamin harkat dan martabat manusia dan hak asasinya.KUHAP telah mengangkat dan menempatkan tersangka atau terdakwa dalam kedudukan yang berderajat, sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang memiliki harkat dan martabat kemanusiaan yang utuh. “Tersangka atau terdakwa tersebut telah ditempatkan oleh KUHAP dalam posisi his entity and dignity as a human being yang harus diperlakukan sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan”(Yahya Harahap, 2001 : 6).

(42)

praperadilan untuk checks and balances serta pengawasan horizontal antara penegak hukum.

Sepertiyangtelahdiketahui,demi untuk terlaksananya kepentingan pemeriksaan tindak pidana, maka para penegak hukum diberi kewenangan oleh undang-undang untuk untuk melakukan tindakan upaya paksa berupa penangkapan, penahanan, penyitaan ataupun tindakan lainnya terhadap tersangka yang diduga keras telah melakukan tindak pidana. Karena tindakan upaya paksa yang dikenakan instansi penegak hukum merupakan pengurangan dan pembatasan kemerdekaan atas hak asasi manusia, maka tindakan tersebut harus dilakukan secara bertanggung jawab menurut ketentuan hukum dan undang-undang yang berlaku.

Oleh karenanya, di dalam pedoman pelaksanaan KUHAP, Keputusan Menteri Kehakiman RI No. M.01.PW.07.03 tahun 1982 dinyatakan bahwa penegak hukum merupakan salah satu untuk menciptakan tata tertib, keamanan dan ketenteraman dalam masyarakat, baik itu usaha pencegahan maupun merupakan pemberantasan atau penindakan setelah terjadinya pelanggaran hukum, dengan kata lain usaha preventif maupun represif.Sedangkan sifat praperadilan secara khusus akan berfungsi sebagai pencegahan terhadap upaya paksa sebelum seseorang diputus oleh Pengadilan, pencegahan yang dimaksud disini dapat berupa pencegahan terhadap tindakan yang merampas hak kemerdekaan setiap warga negara serta pencegahan terhadap tindakan yang melanggar hak asasi tersangka atau terdakwa, agar segala sesuatunya berjalan atau berlangsung sesuai dengan aturan hukum dan perundang-undangan yang berlaku dan sesuai dengan aturan.

(43)

terdakwa. Dari berawalnya perlawanan hukum dari Komjen Pol. Budi Gunawan atas penetapan tersangka oleh KPK melalui lembaga praperadilan, dan putusannya menjadikannya terbebas dari penetepan tersangka yang dianggap tidak prosedural atau sewenang-wenang, ditambah dengan putusan Mahkamah Konsitusi Nomor 21/PUU-XII/2014 kewenangan praperadilan menjadi bertambah, termasuk penetapan tersangka. Intinya sekarang bahwa yang dimaksud dengan criminal justice process dimulai dari penetapan tersangka, proses penangkapan, penggeledahan, penahanan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan.

D. Pra Peradilan; Sebuah Upaya Perlindungan Terhadap Subyek Hukum

Pra peradilan adalah bagian dari sistem peradilan pidana, sedangkan sistem peradilan pidana sangat identik dengan penegakan hukum. Sistem penegakan hukum pada dasarnya merupakan sistem kekuasaan atau kewenangan menegakkan hukum, istilah ini identik pula dengan kekuasaan kehakiman. Dan sistem kekuasaan kehakiman dalam hukum pidana diimplementasikan dalam 4 (empat) subsistem;

5. Kekuasaan penyidikan oleh lembaga penyidik

6. Kekuasaan penentutan oleh lembaga penuntut umum 7. Kekuasaan mengadili/menjatuhkan putusan oleh

lembaga peradilan dan

8. Kekuasaan pelaksanaan hukum pidana oleh aparat pelaksana eksekusi (Barda Nawawi Arif, 2007).

(44)

dilakukan aparatur penegak hukum adalah penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan dan penyadapan. Upaya-upaya paksa itu jelas merupakan perampasan hak atas seseorang yang dilindungi oleh hukum dan bagian dari hak asasi manusia. Disini kepastian hukum sangat ditekankan dan menjadi dasar utama bagi para aparatur penegak hukum dalam menjalankan tugasnya.

Seperti yang sudah diketahui, demi untuk terlaksananya kepentingan pemeriksaan tindak pidana, undang-undang memberikan kewenangan kepada penyidik dan penuntut umum untuk melakukan tindakan upaya paksa berupa penangkapan, penahanan, penyitaan dan sebagainya. Setiap upaya paksa yang dilakukan pejabat penyidik atau penuntut umum terhadap tersangka, pada hakikatnya merupakan

Perlakuan yang bersifat :

3. Tindakan paksa yang dibenarkan undang-undang demi kepentingan pemeriksaan tindak pidana yang disangkakan kepada tersangka ;

4. Sebagai tindakan paksa yang dibenarkan hukum dan undang-undang, setiap tindakan paksa dengan sendirinya merupakan perampasan kemerdekaan dan kebebasan serta pembatasan terhadap hak asasi (I Gede Yuliarta, 2009).

Sepintas dari penjelasan dimuka bahwa upaya paksa dalam penegakkan hukum harus jelas landasan hukumnya sekaligus jelas pula siapa petugas yang berwenangnya. Di Amerika lembaga praperadilan ini disebut pre trial, sebuah mekanisme tribunal yang disediakan dan jaminan oleh pemerintah dalam rangka melindungi setiap hak dari warga negera atas kemerdekaannya (penerapan prinsip Habeas Corpus).

(45)

yang dimaksud dengan lembaga pra peradilan adalah sebuah mekanisme tribunal guna menguji akan keabsahan atas segala tindakan yang dilakukan oleh penyidik dan/atau penuntut umum yang dilakukan secara paksa atas status seseorang di mata hukum. Yang dimaksu pada penjelasan dimuka adalah tindakan penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan (KUHAP pasal 77 huruf a).

Dalam perkembangannya, materi praperadilan tidak terbatas pada apa yang sudah tertera dalam KUHAP sebagaimana tersebutkan dimuka. Pada kasus penetapan tersangka Komjen. Budi Gunawan oleh KPK, KPK di gugat lewat lembaga pra peradilan atas penetapan tersangkanya tersebut. Padahal kita ketahui bahwa KUHAP sama sekali tidak memasukan sebagai materi pra peradilan dan belum ada kasus sebelumnya yang semisal perkara yang dimaksud itu. Namun setelah beberapa bulan kasus tersebut bergulir terbitlah Putusan MK Nomor 21/PUU-XII/2015 yang intinya memberikan penjelasan lebih lanjut (tafsir) bahwa ketentuan yang terdapat di dalam pasal 77 KUHAP termasuk didalamnya adalah penetapan tersangka.

E. Kebebasan Hakim dalam Pembuatan Putusan

(46)

Hakim disebut sebagai aparatur penegak hukum yang diberi kedudukan tinggi dan wewenang oleh undang-undang diharapkan memberikan putusan yang seadil-adilnya, memberi kepastian dan manfaat hukum yang tepat untuk setiap kasus yang diajukan padanya.

Agar kedudukan hakim tetap pada pada posisinya yang mulia, berbagai “rekayasa” agar kemuliaan hakim terjaga. Mulai dari sitem seleksi calon hakim yang diperbaiki dari waktu ke waktu, ruang sidang dan peraturan dalam ruang sidang yang dikondisikan sedemikian rupa, kesejahteraan hakim diperhatikan, kemampuan dan professionalitasnya terus ditingkatkan dan perilakunya diawasi.

Namun hakim adalah manusia yang sangat mungkin memiliki kelemahan, kekurangan dan kesalahan. Pada posisi seperti itu ditangkap dengan jeli oleh para perongrong hukum untuk menjadikan putusan hakim tidak berdiri di atas kebenaran dan keadilan.

Menurut Soerjono Soekanto (1982: 51) pada diri seseorang memiliki faktor-faktor yang dapat mempengaruhi karakter dan kepribadiannya, yaitu;

1. Raw in put yaitu faktor-faktor individual dan latar

belakang kehidupan yang bersangkutan, misalnya pengaruh orang tua,

2. Instrumental in put yaitu faktor-faktor pendidikan formal,

misalnya pengaruh sekolah,

3. Environmental in put yaitu faktor-fakor yang berasal dari

lingkungan sosialnya secara luas.

Turut menguatkan apa yang disampaikan Soerjono Soekanto, Bismar Siregar (1986: 51) mengatakan bahwa “kemandirian dan kebebasan hakim sangat bergantung pada pribadinya dan kemandirian hakim bukan terletak pada jaminan undang-undang tapi iman”.

(47)

merdeka guna menegakkan hukum dan keadilan terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah sebagaimana dikehendaki oleh Pasal 24 UUD 1945 banyak yang menafsirkan bahwa dalam perkataan merdeka dan terlepas dari ‘pengaruh’ kekuasaan pemerintah itu, terkandung pengertian yang bersifat fungsional dan sekaligus institusional. Tetapi, ada yang hanya membatasi pengertian perkataan itu secara fungsional saja, yaitu bahwa kekuasaan pemerintah tidak boleh melakukan intervensi yang bersifat mempengaruhi jalannya proses pengambilan keputusan dalam penyelesaian perkara yang dihadapi oleh hakim.

Hal ini berarti kekuasaan kehakiman yang merdeka atau independensi kekuasaan kehakiman, telah diatur secara konstitusional dalam UUD 1945. Dari konsep negara hukum seperti yang digariskan oleh konstitusi, maka dalam rangka melaksanakan Pasal 24 UUD 1945, harus secara tegas melarang kekuasaan pemerintahan negara (eksekutif) untuk membatasi atau mengurangi wewenang kekuasaan kehakiman yang merdeka yang telah dijamin oleh konstitusi tersebut. Dengan demikian kekuasaan kehakiman yang merdeka terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah, sebagai upaya untuk menjamin dan melindungi kebebasan rakyat dari kemungkinan tindakan

sewenang-wenang dari pemerintah

(https://kgsc.wordpress.com/).

Produk kekuasaan kehakiman yang harus nir dari interfensi kekuasaan, kepentingan modal atau yang lainnya adalah putusan, penetapan dan akta perdamaian. Terkhusus yang menjadi sorotan dalam penetian ini adalah Putusan.

(48)

hukum (legal studies responsibility). Mengingat beratnya tanggung jawab itu maka adanya profesionalisme dan integritas pribadi belumlah cukup, melainkan hakim juga harus mempunyai iman dan taqwa yang baik, mampu berkomunikasi serta menjaga peran, kewibawaan dan statusnya dihadapan masyarakat, memiliki kemampuan multiple intelegent, IQ, EQ dan SQ.

Membuat putusan menjadi kerjaan rutin setiap kali menangani perkara, namun yang rutin itu wajib bersifat ilmiah. Artinya bahwa setiap produk putusan hakim adalah semacam karya ilmiah yang menuntut keilmiahan pada tiap-tiap landasan pijak hukum dan berbagai argumentasinya. Bedanya dengan karya ilmiah-karya ilmiah produk akademisi adalah produk putusan hakim menjadi hukum (jurisprudensi) yang bisa merampas hak asasi atau melindungi hak asasi. Oleh karena sifat tugas hakim yang demikian ini, membawa konsekuensi bahwa hakim harus selalu mendalami perkembangan ilmu hukum dan kebutuhan hukum masyarakat. Dengan cara itu, akan memantapkan pertimbangan-pertimbangan sebagai dasar penyusunan putusannya. Dengan cara ini pula hakim dapat berperan aktif dalam reformasi hukum yang sedang dituntut oleh masyarakat saat ini.

Terkadang tugasnya menjadi sangat berat, menurut UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman pasal 10 hakim “pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya.” Pasal ini adalah imperatif bagi hakim untuk kreatif dan inovatif, merumuskan hukum dengan cara interpretasi hukum, terobosan hukum atau penemuan hukum yang sama sekali baru yang tidak tercantum dalam ragam peraturan perundangan yang ada sebelumnya.

(49)

pada kasus yang tidak atau belum diatur dalam peraturan perundangan. Kontroversi bisa saja muncul, hujatan bisa datang, eksaminasi bisa menghadang, dievaluasi menjadi tantangan.

Untuk menghindari putusan yang tidak berkualitas, hendaknya setiap putusan hakim memperhatikan beberapa hal berikut;

1. Putusan hakim harus memperhatikan kondisi sosial masyarakat, terutama yang terkait dengan kasus yang dihadapinya. Dengan adanya penilaian dari masyaraka tmengenai output pengadilan berarti telah terjadi persinggungan antara lembaga peradilan dengan masyarakat di mana lingkungan peradilan itu berada. Implikasi dari penilaian masyarakat terhadap putusan pengadilan tersebut mengandung makna, bahwa pengadilan bukanlah lembaga yang terisolir dari masyarakatnya. Pengadilan tidak boleh memalingkan muka dari rasa keadilan dan nilai-nilai hukum yang hidup dan berkembang. Para hakim senantiasa dituntut untuk menggali dan memahami hukum yang hidupd alam masyarakatnya (Zudan Arif Fakrulloh dalam http://www.indomedia.com/bernas).

Referensi

Dokumen terkait

Selan itu, dalam ayat (4) “Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengajukan keberatan terhadap dokumen amdal” juga tidak diikuti penjelasan, sehingga dapat

Obligasi ini tidak dijamin dengan suatu agunan khusus dan tidak dijamin oleh pihak ketiga manapun dan tidak termasuk dalam Program Jaminan Pemerintah Terhadap

dosen pembimbing Muhammad Herlangga, Doranda, Siaturi, Lira Sutira, dan Therecia Simanjuntak yang selalu berbagi informasi, tempat bertukar pikiran, Kepada sahabat

Dari hasil pembahasan dan hasil penelitian yang sudah dilakukan dapat dilihat bahwa perilaku buang air besar pada Ibu rumah tangga di pengaruhi oleh beberapa hal seperti sikap ibu

Dimensi-dimensi teknis pada kapal ikan tipe pole and line yang dibuat di galangan kapal tradisional kelurahan Tandurusa Kota Bitung terdiri dari lunas, linggi

- Menjelaskan pengertian sifat wajib bagi Allah - Menyebutkan lima sifat wajib bagi Allah SWT.. - Menunjukkan perbedaan sifat Allah SWT dengan makhluknya 2.2 Mengartikan lima

Jika terdapat indikasi tersebut atau pada saat pengujian penurunan nilai aset (seperti aset tak berwujud dengan umur manfaat tidak terbatas. aset tak berwujud

3.500,- dengan rata-rata produksi yang dihasilkan per tahun sebanyak 16.000 Kg/tahun, sehingga total rata- rata penerimaan petani per tahun di Kecamatan Rimba