3. Perkembangan dan Kebijakan
Moneter Triwulan IV-2005
Laju inflasi IHK pada triwulan IV-2005 mengalami peningkatan yang tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Tingginya inflasi tersebut terutama disebabkan oleh tingginya kenaikan harga BBM bulan Oktober 2005 serta masih meningkatnya harga volatile foods karena gangguan pasokan dan distribusi barang dan jasa akibat kelangkakan BBM di berbagai daerah. Peningkatan ekspektasi inflasi yang disebabkan oleh penerapan kebijakan menaikkan harga BBM menjadi penyebab utama terjadinya peningkat pada inflasi inti di triwulan IV-2005. Sementara itu, nilai tukar rupiah pada triwulan IV-2005 bergerak cukup stabil dengan kecenderungan menguat pada bulan terakhir. Beberapa faktor positif yang menyebabkan penguatan nilai tukar tersebut antara lain membaiknya kinerja neraca pembayaran, masuknya aliran dana portofoio asing serta masih tingginya perbedaaan suku bunga (interest rate differential) antara suku bunga dalam negeri terhadap luar negeri dan adanya »honeymoon effect» dari pengumuman reshuffle kabinet.
Dalam upaya mengendalikan sekaligus merespons tekanan inflasi dan mempertimbangkan faktor risiko yang dihadapi dalam jangka pendek, strategi kebijakan moneter cenderung ketat terus dilanjutkan pada triwulan IV-2005. Dalam triwulan laporan, BI Rate telah dinaikkan sebanyak 3 kali (kumulatif sebesar 275 bps) dan diperkuat dengan langkah optimalisasi pengelolaan likuiditas rupiah jangka pendek, yang pada gilirannya mendukung upaya stabilisasi nilai tukar. Sementara itu dari sisi operasional moneter, beberapa upaya penyempurnaan pengelolaan likuiditas rupiah pada triwulan IV-2005 telah dilakukan melalui dinaikkannya remunerasi GWM, penataan berbagai suku bunga instrumen moneter agar selaras dengan BI Rate, penggunaan instrumen fine tune ekspansi (FTE) dan standing deposit facilities melalui pengaktifan kembali instrumen FASBI O/N. Dengan upaya-upaya tersebut pengelolan likuiditas selama triwulan IV-2005 secara umum membaik seperti tercermin dari tetap konvergennya penawaran perbankan dalam lelang SBI 1 bulan pada level BI Rate.
kenaikan suku bunga turut berkontribusi pada pelemahan kinerja pasar modal dan pasar utang.
INFLASI
Inflasi IHK selama triwulan IV-2005 meningkat tajam dibandingkan dengan triwulan Inflasi IHK selama triwulan IV-2005 meningkat tajam dibandingkan dengan triwulan Inflasi IHK selama triwulan IV-2005 meningkat tajam dibandingkan dengan triwulan Inflasi IHK selama triwulan IV-2005 meningkat tajam dibandingkan dengan triwulan Inflasi IHK selama triwulan IV-2005 meningkat tajam dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
sebelumnya. sebelumnya. sebelumnya.
sebelumnya. Inflasi IHK pada akhir triwulan IV-2005 mencapai 17,11% (y-o-y), jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi pada akhir triwulan sebelumnya sebesar 9,06% (y-o-y). Berdasarkan kelompok barang, tingginya inflasi IHK terutama terjadi pada kelompok transportasi dan komunikasi (sebesar 44,75%), kelompok perumahan
(13,94%), kelompok bahan makanan (13,91%)1, serta kelompok makanan jadi,
minuman dan rokok (13,71%). Dilihat dari faktor penyebabnya, tingginya tekanan inflasi terutama disebabkan faktor non-fundamental berupa kenaikan inflasi kelompok administered prices hingga mencapai 42,01% (yoy) akibat kenaikan harga BBM bulan Oktober 2005, serta meningkatnya inflasi volatile foods sebesar 15,18% (yoy) karena terjadi gangguan pasokan serta distribusi barang dan jasa akibat dampak kelangkaan BBM di berbagai daerah. Sementara itu, inflasi inti (core inflation) pada akhir triwulan IV-2005 tercatat sebesar 9,41% (yoy), lebih tinggi
dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 6,7% (yoy).
Tingginya inflasi IHK dari kelompok harga yang diatur Pemerintah Tingginya inflasi IHK dari kelompok harga yang diatur PemerintahTingginya inflasi IHK dari kelompok harga yang diatur Pemerintah Tingginya inflasi IHK dari kelompok harga yang diatur PemerintahTingginya inflasi IHK dari kelompok harga yang diatur Pemerintah (((((administered pricesadministered pricesadministered pricesadministered prices) pada triwulan IV-2005 tidak terlepas dariadministered prices) pada triwulan IV-2005 tidak terlepas dari) pada triwulan IV-2005 tidak terlepas dari) pada triwulan IV-2005 tidak terlepas dari) pada triwulan IV-2005 tidak terlepas dari dampak kenaikan harga BBM.
dampak kenaikan harga BBM. dampak kenaikan harga BBM.
dampak kenaikan harga BBM. dampak kenaikan harga BBM. Membengkaknya subsidi BBM
sebagai akibat peningkatan harga minyak internasional di tengah kondisi terbatasnya kemampuan keuangan negara serta adanya keinginan pemerintah untuk mengalokasikan subsidi BBM agar lebih tepat sasaran, memaksa Pemerintah untuk menaikkan harga BBM dengan rata-rata kenaikan sekitar 100% pada tanggal 1 Oktober 2005. Kenaikan harga BBM tersebut disamping berdampak langsung (first round) pada inflasi sebesar 3,47%, juga memberikan dampak lanjutan (second round) berupa kenaikan tarif angkutan sebesar 2,07% sehingga secara keseluruhan meningkatkan inflasi sebesar 5,54%.
Sementara itu, inflasi Sementara itu, inflasi Sementara itu, inflasi
Sementara itu, inflasi Sementara itu, inflasi volatile foodsvolatile foodsvolatile foodsvolatile foodsvolatile foods meningkat dari 12,5% (yoy) pada meningkat dari 12,5% (yoy) pada meningkat dari 12,5% (yoy) pada meningkat dari 12,5% (yoy) pada meningkat dari 12,5% (yoy) pada
triwulan III-2005 menjadi 15,18% (yoy) pada triwulan IV-2005 triwulan III-2005 menjadi 15,18% (yoy) pada triwulan IV-2005triwulan III-2005 menjadi 15,18% (yoy) pada triwulan IV-2005 triwulan III-2005 menjadi 15,18% (yoy) pada triwulan IV-2005triwulan III-2005 menjadi 15,18% (yoy) pada triwulan IV-2005.
Tingginya inflasi kelompok volatile foods didorong oleh peningkatan
harga bahan makanan, terutama beras dan bumbu-bumbuan, yang disebabkan oleh gangguan pasokan dan distribusi di berbagai daerah, maupun kenaikan biaya transportasi yang terkait dengan penyesuaian harga BBM Oktober 2005. Selain gangguan di sisi suplai, peningkatan harga bumbu-bumbuan terutama komoditas cabe merah juga diakibatkan oleh peningkatan permintaan di tengah
Grafik 3.1
Inflasi IHK, Administered, Inti dan Volatile Foods
Grafik 3.2
Sumbangan Disagregasi Inflasi -13
-11 -9 -7 -5 -3 -1 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25
1 2 3 4 5 6 7 8 9101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9101112
2000 2001 2002 2003 2004 2005
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 IHK
Inti (exclusion) Volatile Food Administered (kanan)
(%) y-o-y (%) y-o-y
6,69 4,00
6,54 1,32
5,42 1,09
9,41 5,62
15,18 3,06
8,45
-2 3 8 13 18 23 28 33 38 43
Inflasi Sumbangan Inflasi Sumbangan Inflasi Sumbangan
%(yoy)
Desember 2005(Inflasi IHK 17,11%, yoy) Desember 2004(Inflasi IHK 6,4%, yoy)
42,01
In
ti
Vo
la
ti
le
Ad
mi
n
ist
e
re
d
pasokan yang terbatas akibat perubahan cuaca.
Inflasi inti pada triwulan IV-2005 mengalami peningkatan yang Inflasi inti pada triwulan IV-2005 mengalami peningkatan yang Inflasi inti pada triwulan IV-2005 mengalami peningkatan yang Inflasi inti pada triwulan IV-2005 mengalami peningkatan yang Inflasi inti pada triwulan IV-2005 mengalami peningkatan yang cukup tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yakni mencapai cukup tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yakni mencapai cukup tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yakni mencapai cukup tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yakni mencapai cukup tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yakni mencapai 9,41%(yoy).
9,41%(yoy). 9,41%(yoy). 9,41%(yoy).
9,41%(yoy). Peningkatan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya ekspektasi inflasi masyarakat akibat kenaikan administered prices, khususnya harga BBM, oleh Pemerintah. Hal ini tidak terlepas dari perilaku pembentukan ekspektasi di masyarakat yang lebih melihat pada realisasi inflasi IHK yang telah terjadi (adaptive inflation expectation) daripada sasaran inflasi yang ditetapkan Pemerintah (forward looking expectation). Hasil survei konsumen dan dan survei pedagang (grafik 3.3 dan grafik 3.4) mengindikasikan terjadinya kenaikan ekspektasi inflasi tersebut. Sementara itu, tekanan inflasi inti dari kesenjangan permintaan dan penawaran (output gap) diperkirakan masih relatif minimal.
NILAI TUKAR RUPIAH
Nilai tukar rupiah di triwulan IV-2005 bergerak cukup stabil Nilai tukar rupiah di triwulan IV-2005 bergerak cukup stabil Nilai tukar rupiah di triwulan IV-2005 bergerak cukup stabil Nilai tukar rupiah di triwulan IV-2005 bergerak cukup stabil Nilai tukar rupiah di triwulan IV-2005 bergerak cukup stabil dengan kecenderungan terapresiasi terutama di bulan terakhir. dengan kecenderungan terapresiasi terutama di bulan terakhir. dengan kecenderungan terapresiasi terutama di bulan terakhir. dengan kecenderungan terapresiasi terutama di bulan terakhir. dengan kecenderungan terapresiasi terutama di bulan terakhir. Secara rata-rata nilai tukar di triwulan IV-2005 mencapai Rp9.991/ USD atau terapresiasi sebesar 2,2 % dibandingkan dengan triwulan III-2005. Rupiah ditutup di level Rp9.831/USD atau terapresiasi 4,5% dibanding akhir triwulan sebelumnya. Dengan demikian, untuk keseluruhan tahun 2005 rata-rata rupiah telah mencapai Rp9.713/USD (terdepresiasi 8,6% dibanding rata-rata 2004). Sementara itu, cukup stabilnya rupiah dengan kecenderungan apresiasi ini tercermin dari tingkat volatilitas yang cenderung menurun di triwulan IV menjadi 1,19% Kestabilan nilai tukar rupiah tersebut tidak terlepas dari membaiknya kembali kepercayaan pasar menyusul kebijakan moneter dan fiskal yang
telah ditempuh Bank Indonesia 2 dan Pemerintah dalam upaya
memelihara stabilitas makro.3
Kestabilan nilai tukar rupiah pada triwulan ini terutama Kestabilan nilai tukar rupiah pada triwulan ini terutama Kestabilan nilai tukar rupiah pada triwulan ini terutama Kestabilan nilai tukar rupiah pada triwulan ini terutama Kestabilan nilai tukar rupiah pada triwulan ini terutama dipengaruhi oleh kondisi internal yang membaik.
dipengaruhi oleh kondisi internal yang membaik. dipengaruhi oleh kondisi internal yang membaik. dipengaruhi oleh kondisi internal yang membaik.
dipengaruhi oleh kondisi internal yang membaik. Di sisi internal, kestabilan nilai tukar rupiah ditopang oleh membaiknya kinerja
neraca pembayaran, imbal hasil rupiah yang masih cukup tinggi serta membaiknya kepercayaan pasar terhadap stabilitas makroekonomi. Tingginya imbal hasil penanaman dana dalam
rupiah tercermin dari perbandingan nominal suku bunga domestik dengan luar
Grafik 3.3
Ekspektasi Inflasi Pedagang
Grafik 3.4
Ekspektasi Inflasi Konsumen
Grafik 3.5
Inflasi IHK, IHPB Impor dan Nilai Tukar 80
2000 2001 2002 2003 2004 2005
Indeks 12 per. Mov. Avg. (Ekspektasi inflasi 1 bln yad) 12 per. Mov. Avg. (Ekspektasi Inflasi 3 bln yad) 12 per. Mov. Avg. (Ekspektasi Inflasi 6 bln yad) 12 per. Mov. Avg. (Inflasi Administered Prices (RHS))
1011121 2 34 5 67 8 91011121 2 34 5 67 8 91011121 2 34 5 67 8 91011121 2 34 5 67 8 91011121 2 34 5 67 8 91011121 2 34 5 67 8 9101112
Ekspektasi harga 6 bl ke depan IHK (yoy)
Survei Konsumen - BI
2002 2003 2004 2005
12
Depresiasi / Apresiasi Rp/USD (LHS) Inflasi IHK
IHPB Impor (yoy) Apresiasi
Depresiasi
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
2 Ketentuan swap hedging.
negeri (uncovered interest rate differential) yang mencapai 9,21%, jauh di atas negara-negara regional lainnya. Sementara itu, kembali membaiknya kepercayaan pasar tercermin dari perbaikan indikator risiko yaitu cenderung menurunnya kembali premi swap seluruh tenor serta menyempitnya yield sperad (Global bond Indonesia dengan US. T Note). Faktor-faktor domestik tersebut merupakan faktor penarik berlanjutnya aliran
dana asing ke Indonesia. . . . Dengan tambahan pasokan valas dari.
aliran dana asing tersebut, secara umum kondisi pasokan dan permintaan valas relatif membaik ditengah masih tetap tingginya permintaan valas pelaku domestik.
Sisi permintaan valas didominasi oleh permintaan pelaku Sisi permintaan valas didominasi oleh permintaan pelakuSisi permintaan valas didominasi oleh permintaan pelaku Sisi permintaan valas didominasi oleh permintaan pelakuSisi permintaan valas didominasi oleh permintaan pelaku domestik terutama sektor korporasi
domestik terutama sektor korporasidomestik terutama sektor korporasi
domestik terutama sektor korporasidomestik terutama sektor korporasi. Secara total, permintaan
valas korporasi mengalami peningkatan dibanding triwulan sebelumnya. Kebijakan pemberian subsidi valas secara langsung guna keperluan impor minyak di triwulan sebelumnya berdampak pada relatif rendahnya permintaan valas di pasar dibanding kebutuhan aktualnya. Sementara di triwulan ini, kebutuhan impor minyak kembali dipenuhi oleh pasar sehingga cenderung meningkatkan permintaan valas. Sementara itu, permintaan korporasi lainnya relatif tidak mengalami perubahan berarti sejalan dengan melambatnya pertumbuhan impor dan kegiatan ekonomi yang mengalami perlambatan di triwulan terakhir. Beberapa kelompok korporasi yang menunjukkan penurunan pembelian valasnya adalah industri otomotif dan industri logam. Di sisi lain, sesuai dengan polanya kebutuhan valas guna keperluan pembayaran ULN swasta di triwulan IV-2005 cenderung lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya.
Sementara itu, sisi pasokan valas masih tetap banyak ditopang oleh aliran dana Sementara itu, sisi pasokan valas masih tetap banyak ditopang oleh aliran dana Sementara itu, sisi pasokan valas masih tetap banyak ditopang oleh aliran dana Sementara itu, sisi pasokan valas masih tetap banyak ditopang oleh aliran dana Sementara itu, sisi pasokan valas masih tetap banyak ditopang oleh aliran dana
asing likuid (investasi portofolio). asing likuid (investasi portofolio). asing likuid (investasi portofolio).
asing likuid (investasi portofolio). asing likuid (investasi portofolio). Pasokan valas tersebut telah
berperan dalam mengimbangi permintaan valas domestik. Dalam triwulan terakhir, transaksi spot bank domestik dengan pihak asing mengindikasikan adanya aliran dana bersih (net capital infllow) yang cukup tinggi setelah mengalami pembalikan yang cukup besar di pertengahan tahun. Aliran dana asing tersebut terutama masuk ke pasar uang dan pasar modal yang cukup likuid, dan sangat sensitif terhadap berbagai faktor sentimen pasar. Imbal hasil rupiah yang masih cukup tinggi merupakan salah satu faktor penarik aliran dana asing. Kendati beberapa negara regional lainnya juga melakukan kebijakan moneter ketat dalam rangka menekan laju inflasi, level uncovered interest rate differential Indonesia masih jauh lebih tinggi bila dibanding negara-negara regional tersebut.
Grafik 3.8
Yield Spread Global Bond RI14
Dengan US T-Notes Jatuh Waktu 2014 3,5
4,0 4,5 5,0 5,5 6,0 6,5 7,0 7,5 8,0
Persen
Global Bond R '14 (jatuh tempo 2014)
US T. Note (jatuh tempo 2014) Yield Spread (2014)
Maret April Mei Juni Juli Agustus September
2005
Spread = 236 bps
Oktober Nopember Desember
Grafik 3.7
Volatilitas Nilai Tukar Rupiah Grafik 3.6
Rata-rata Nilai Tukar Rupiah
10218 10003 9810
8.000 8.500 9.000 9.500 10.000 10.500
Rata-rata Nilai tukar 1 bulan Rata-rata harian selama 1 triwulan
Rp/USD
TW II-2005 9.556
TW IV-2004 9.120
TW I-2005 9.279
TW III-2005 10.013
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9
2004 2005
10 11 12 9852 10042 10085
TW IV-2005 9.991
0 5 10 15 20 25 30
Volatilitas IDR (MA 260) Rata2 Volatilitas Tahunan
3,30
Persen
6,11 10,83
3,97
2001 2002 2003 2004
4,24
KEBIJAKAN MONETER Strategi Kebijakan
Dalam upaya mengendalikan sekaligus merespons tekanan inflasi Dalam upaya mengendalikan sekaligus merespons tekanan inflasi Dalam upaya mengendalikan sekaligus merespons tekanan inflasi Dalam upaya mengendalikan sekaligus merespons tekanan inflasi Dalam upaya mengendalikan sekaligus merespons tekanan inflasi kedepan dan mempertimbangkan faktor risiko yang dihadapi, kedepan dan mempertimbangkan faktor risiko yang dihadapi, kedepan dan mempertimbangkan faktor risiko yang dihadapi, kedepan dan mempertimbangkan faktor risiko yang dihadapi, kedepan dan mempertimbangkan faktor risiko yang dihadapi, strategi kebijakan moneter cenderung ketat terus dilanjutkan strategi kebijakan moneter cenderung ketat terus dilanjutkan strategi kebijakan moneter cenderung ketat terus dilanjutkan strategi kebijakan moneter cenderung ketat terus dilanjutkan strategi kebijakan moneter cenderung ketat terus dilanjutkan pada triwulan IV-2005
pada triwulan IV-2005 pada triwulan IV-2005 pada triwulan IV-2005
pada triwulan IV-2005. Langkah ini telah ditempuh dengan kenaikan suku bunga SBI rate secara bertahap dan terukur, khususnya untuk mengendalikan tekanan inflasi yang berasal dari meningkatnya ekspektasi inflasi. Dalam kaitan ini, pada triwulan laporan Bank Indonesia terus memperkuat sinyal kebijakan moneternya melalui peningkatan suku bunga BI Rate sebanyak 3 kali (kumulatif sebesar 275 bps) menjadi 12,75%3 kali (kumulatif sebesar 275 bps) menjadi 12,75%3 kali (kumulatif sebesar 275 bps) menjadi 12,75%3 kali (kumulatif sebesar 275 bps) menjadi 12,75%3 kali (kumulatif sebesar 275 bps) menjadi 12,75% dan diperkuat dengan langkah optimalisasi pengelolaan likuiditas rupiah jangka pendek. Sementara itu dari sisi operasionalSementara itu dari sisi operasionalSementara itu dari sisi operasionalSementara itu dari sisi operasionalSementara itu dari sisi operasional moneter, kebijakan moneter tersebut diperkuat dengan upaya moneter, kebijakan moneter tersebut diperkuat dengan upaya moneter, kebijakan moneter tersebut diperkuat dengan upaya moneter, kebijakan moneter tersebut diperkuat dengan upaya moneter, kebijakan moneter tersebut diperkuat dengan upaya penyempurnaan pengelolaan likuiditas rupiah.
penyempurnaan pengelolaan likuiditas rupiah. penyempurnaan pengelolaan likuiditas rupiah. penyempurnaan pengelolaan likuiditas rupiah.
penyempurnaan pengelolaan likuiditas rupiah. kebijakan dalam bentuk kenaikan renumerasi GWM, penataan berbagai suku bunga instrumen moneter agar selaras dengan BI Rate,
peluncuran instrumen fine tune ekspansi (FTE), dan melalui
pengaktifan kembali instrumen FASBI O/N sebagai standing
deposit facilities, selaras dengan paradigma baru operasi moneter. Pengendalian inflasi juga dibarengi dengan penguatan koordinasi dengan Pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi yang beranggotakan BI dan departemen teknis untuk merumuskan beberapa langkah kebijakan yang diperlukan untuk mengendalikan dampak lanjutan (second round effect) kenaikan administered prices.
Langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah juga terus Langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah juga terus Langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah juga terus Langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah juga terus Langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah juga terus dilanjutkan untuk mengurangi tekanan inflasi ke depan yang dilanjutkan untuk mengurangi tekanan inflasi ke depan yang dilanjutkan untuk mengurangi tekanan inflasi ke depan yang dilanjutkan untuk mengurangi tekanan inflasi ke depan yang dilanjutkan untuk mengurangi tekanan inflasi ke depan yang bersumber dari pelemahan nilai tukar.
bersumber dari pelemahan nilai tukar. bersumber dari pelemahan nilai tukar. bersumber dari pelemahan nilai tukar.
bersumber dari pelemahan nilai tukar. Beberapa langkah kebijakan yang ditempuh BI dan Pemerintah dalam upaya untuk memelihara kestabilan makroekonomi berdampak signifikan terhadap kestabilan nilai tukar Rupiah dalam triwulan IV-2005. Dari sisi kebijakan moneter, dalam rangka menjaga kestabilan nilai Rupiah, Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan penyempurnaan transaksi devisa melalui ketentuan swap hedging, serta melakukan sterilisasi valas guna mengurangi volatilitas nilai tukar di pasar dan perbaikan manajemen permintaan valas BUMN termasuk permintaan valas dari Pertamina. Sementara itu, disisi kebijakan fiskal, Pemerintah melakukan beberapa upaya untuk memelihara kestabilan dan kesinambungan fiskal sebagai respon tingginya harga minyak dunia.
Grafik 3.9
Perkembangan Berbagai Premi Swap 0,0
Permintaan dan Penawaran Valas Berdasarkan Transaksi Spot
Juta USD Juta USD
BUMN
(Baja, Otomotif ,Migas, Makanan, Telekomunikasi) (Total , BUMN ) Aliran Dana Asing (Net) dari Transaksi Spot
Nilai Tukar Rp/USD (rata-rata bulanan)
Suku Bunga
Penerapan kebijakan moneter yang cenderung ketat diperkuat Penerapan kebijakan moneter yang cenderung ketat diperkuatPenerapan kebijakan moneter yang cenderung ketat diperkuat Penerapan kebijakan moneter yang cenderung ketat diperkuatPenerapan kebijakan moneter yang cenderung ketat diperkuat dengan upaya untuk memperbaiki struktur suku bunga. dengan upaya untuk memperbaiki struktur suku bunga. dengan upaya untuk memperbaiki struktur suku bunga. dengan upaya untuk memperbaiki struktur suku bunga. dengan upaya untuk memperbaiki struktur suku bunga. Seiring dengan langkah menaikkan BI Rate sebanyak 3 kali (kumulatif sebesar 275 bps) menjadi 12,75%, suku bunga FASBI 7 hari juga telah dinaikkan sebanyak 2 kali dengan kumulatif sebesar 175 bps menjadi 10,75%. Sementara itu, suku bunga penjaminan simpanan pihak ketiga rupiah yang di tetapkan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sejak September 2005 naik hingga menjadi 13,00% untuk deposito Rupiah 1 bulan
sedangkan untuk deposito valas 1 bulan tetap 4,25%Ω.
Penerapan kebijakan moneter yang cenderung ketat diikuti pula Penerapan kebijakan moneter yang cenderung ketat diikuti pulaPenerapan kebijakan moneter yang cenderung ketat diikuti pula Penerapan kebijakan moneter yang cenderung ketat diikuti pulaPenerapan kebijakan moneter yang cenderung ketat diikuti pula dengan langkah mengoptimalkan penyerapan ekses likuiditas. dengan langkah mengoptimalkan penyerapan ekses likuiditas.dengan langkah mengoptimalkan penyerapan ekses likuiditas. dengan langkah mengoptimalkan penyerapan ekses likuiditas.dengan langkah mengoptimalkan penyerapan ekses likuiditas.
Terkait dengan hal tersebut Bank Indonesia telah menaikkan renumerasi GWM
menjadi 6,5%4; menyesuaikan suku bunga FASBI 7 hari dan mengaitkannya dengan
BI Rate dengan formula BI Rate √ 200 bps5; memperluas peran FASBI O/N sebagai
standing deposit facilities6 dengan formula BI Rate √ 500 bps, sekaligus
mengembalikan peran FTK sebagai instrumen liquidity adjustment non reguler;
dan melakukan eksekusi perdana instrumen FTE dengan mekanisme fixed rate tender (BI Rate + 200 bps) pada 18 Oktober. Sementara itu instrumen FASBI O/N yang mulai diaktifkan kembali sejak 11 Oktober tercatat mengalami 2 kali peningkatan (kumulatif sebesar 325 bps dari akhir triwulan sebelumnya) sehingga mencapai 7,75%. Apabila sebelumnya, mekanisme penentuan suku bunga FASBI O/N ditentukan sebesar 50% dari suku bunga FASBI 7 hari, maka kemudian diubah menjadi predetermined rate yang mengacu pada BI Rate. Upaya yang telah ditempuh tersebut menjadikan pengelolaan likuiditas rupiah semakin membaik sebagaimana tercermin dari konvergennya suku bunga penawaran perbankan dalam lelang SBI 1 bulan pada level BI Rate. Perbaikan tersebut pada gilirannya memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar dan meningkatkan efektivitas kebijakan moneter.
Kenaikan BI Rate pada periode laporan yang telah diikuti oleh kenaikan suku bunga Kenaikan BI Rate pada periode laporan yang telah diikuti oleh kenaikan suku bunga Kenaikan BI Rate pada periode laporan yang telah diikuti oleh kenaikan suku bunga Kenaikan BI Rate pada periode laporan yang telah diikuti oleh kenaikan suku bunga Kenaikan BI Rate pada periode laporan yang telah diikuti oleh kenaikan suku bunga maksimum penjaminan deposito kemudian ditransmisikan melalui naiknya suku maksimum penjaminan deposito kemudian ditransmisikan melalui naiknya suku maksimum penjaminan deposito kemudian ditransmisikan melalui naiknya suku maksimum penjaminan deposito kemudian ditransmisikan melalui naiknya suku maksimum penjaminan deposito kemudian ditransmisikan melalui naiknya suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) dan suku bunga deposito perbankan bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) dan suku bunga deposito perbankan bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) dan suku bunga deposito perbankan bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) dan suku bunga deposito perbankan bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) dan suku bunga deposito perbankan. Seiring dengan kenaikan BI Rate dan suku bunga penjaminan, rata-rata tertimbang (RRT) suku bunga PUAB O/N pagi dan sore pada triwulan IV-2005 tercatat masing-masing sebesar 8,3% dan 7,4%, atau meningkat dari triwulan sebelumnya (6,9% dan 5,2%). Suku bunga deposito perbankan juga mengalami peningkatan. Pada bulan
NovemberΩ, rata-rata suku bunga deposito 1 dan 3 bulan tercatat sebesar 10,43%
dan 11,46% atau masing-masing meningkat 230 dan 221 bps dari akhir September.
Kenaikan biaya dana mulai ditransmisikan ke suku bunga kredit meskipun dengan Kenaikan biaya dana mulai ditransmisikan ke suku bunga kredit meskipun dengan Kenaikan biaya dana mulai ditransmisikan ke suku bunga kredit meskipun dengan Kenaikan biaya dana mulai ditransmisikan ke suku bunga kredit meskipun dengan Kenaikan biaya dana mulai ditransmisikan ke suku bunga kredit meskipun dengan laju yang terbatas.
laju yang terbatas. laju yang terbatas. laju yang terbatas.
laju yang terbatas. Setelah cenderung menurun sejak 2003, suku bunga kredit
4 Pada September ditetapkan sebesar 5,5%. Sejak November dinaikkan 100 bps menjadi 6,5%. 5 Sejak 12 Oktober 2005.
6 Sejak 1 November 2005 suku bunga FASBI O/N dikaitkan dengan BI Rate (predetermined), window yang diperpanjang, dan otomatis (sejak 11 Oktober 2005).
Grafik 3.11
Suku Bunga Uncovered dan Covered
9,21
3,43 3,22
-4,0 -2,0
0,0 2,0 4,0 6,0 8,0 10,0 12,0
Indonesia Thailand Philipina Korea Malaysia Singapura Australia New Zealand
Persen
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5
2003 2004
perlahan naik mulai Juni (KMK) dan suku bunga dasar kredit (base lending rate) mulai Oktober mengalami akselerasi kenaikan untuk seluruh jenis kredit. Pada akhir Desember, suku bunga KMK, KI dan KK tercatat masing-masing mencapai 16,23%, 15,66%, dan 16,83%, atau masing-masing meningkat 282 bps, 161 bps dan 26 bps dari akhir tahun sebelumnya. Sementara itu, posisi base lending rate pada akhir Desember tercatat sebesar 16,15 persen meningkat dibandingkan bulan sebelumnya (15,86%).
Dana, Kredit, dan Uang Beredar
Kenaikan BI Rate yang diikuti dengan kenaikan suku bunga dana Kenaikan BI Rate yang diikuti dengan kenaikan suku bunga dana Kenaikan BI Rate yang diikuti dengan kenaikan suku bunga dana Kenaikan BI Rate yang diikuti dengan kenaikan suku bunga dana Kenaikan BI Rate yang diikuti dengan kenaikan suku bunga dana Rupiah dan Valas, selanjutnya berpengaruh pada kenaikan Rupiah dan Valas, selanjutnya berpengaruh pada kenaikan Rupiah dan Valas, selanjutnya berpengaruh pada kenaikan Rupiah dan Valas, selanjutnya berpengaruh pada kenaikan Rupiah dan Valas, selanjutnya berpengaruh pada kenaikan volume dana masyarakat.
volume dana masyarakat. volume dana masyarakat. volume dana masyarakat.
volume dana masyarakat. Setelah tumbuh negatif sepanjang 2003-2004, pertumbuhan deposito sejak awal 2005 menunjukkan perkembangan yang positif. Kondisi tersebut mendorong peningkatan yang signifikan pada pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) secara agregat. Secara year to date, sampai dengan akhir 2005, DPK mengalami pertumbuhan sekitar 17,1%, atau lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya (8,4%). Di luar faktor suku bunga, hal lain seperti mulai pahamnya pemilik dana akan risiko investasi pada instrumen invenstasi keuangan seperti reksadana terutama paska berbagai gejolak di pasar SUN yang terjadi pada triwulan II dan awal triwulan III tampaknya cukup berperan dalam mendorong berpindahnya dana-dana perorangan yang sebelumnya ditanamkan di reksa dana tersebut untuk kembali kepada jenis simpanan yang lebih bersifat konvensional, yaitu deposito di perbankan.
Kenaikan suku bunga kredit belum ditransmisikan ke dalam perlambatan Kenaikan suku bunga kredit belum ditransmisikan ke dalam perlambatan Kenaikan suku bunga kredit belum ditransmisikan ke dalam perlambatan Kenaikan suku bunga kredit belum ditransmisikan ke dalam perlambatan Kenaikan suku bunga kredit belum ditransmisikan ke dalam perlambatan
pertumbuhan kredit. pertumbuhan kredit. pertumbuhan kredit. pertumbuhan kredit.
pertumbuhan kredit. Secara year to date, sampai dengan akhir 2005, kredit secara total mengalami pertumbuhan 22,7%, lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya (24,7%). Berdasarkan jenis kredit, pertumbuhan kredit tersebut terutama didominasi oleh pertumbuhan kredit konsumsi. Sementara secara sektoral, kredit tersebut didominasi oleh kredit kepada sektor konstruksi dan pembiayaan konsumen. Dengan perkembangan tersebut, kredit perbankan pada 2005 tumbuh sebesar 22,7% masih berada dalam kisaran proyeksi pertumbuhan penyaluran kredit di awal tahun (20-25%).
Kondisi likuiditas dalam perekonomian terus meningkat seperti Kondisi likuiditas dalam perekonomian terus meningkat seperti Kondisi likuiditas dalam perekonomian terus meningkat seperti Kondisi likuiditas dalam perekonomian terus meningkat seperti Kondisi likuiditas dalam perekonomian terus meningkat seperti
tercermin dari peningkatan uang beredar secara nominal. tercermin dari peningkatan uang beredar secara nominal. tercermin dari peningkatan uang beredar secara nominal. tercermin dari peningkatan uang beredar secara nominal. tercermin dari peningkatan uang beredar secara nominal. Hingga akhir 2005, pertumbuhan tahunan M2 secara nominal tercatat
Grafik 3.14
Feb Mei Ags Nov Feb Mei Ags Nov Feb Mei Ags Nov Feb Mei Ags Total DPK Giro
Tabungan Deposito
2002 2003 2004 2005
Sep Grafik 3.12
Perkembangan Suku Bunga SBI dan Deposito 5,4
SBI 1 bln/BI Rate* Jam,Dep,1 Dep 1 WA SBI 3 bln
mencapai 16,4%, sehingga menjadi Rp1.203,3 triliun atau meningkat Rp169,7 triliun dari akhir tahun sebelumnya, jauh lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Dari sisi komponen peningkatan tersebut terutama disumbang oleh kenaikan komponen M1 baik uang kartal maupun uang giral, dan kuasi Rupiah dalam bentuk deposito, serta simpanan valas. Meningkatnya simpanan berjangka selain karena kapitalisasi bunga juga diperkirakan terjadi pergeseran dari simpanan giro dan tabungan terkait dengan semakin kompetitifnya bunga simpanan berjangka yang ditawarkan oleh perbankan. Dari sisi faktor, peningkatan M2 terutama disumbang oleh masih terus berlangsungnya pemberian kredit Rupiah yang terutama digunakan untuk modal kerja dan konsumsi. Sementara kredit dalam valuta asing dengan menggunakan kurs tetap relatif stabil. Secara sektoral, kredit tersebut dimanfaatkan utamanya oleh sektor lainnya, perdagangan, perindustrian, dan jasa dunia usaha.
Pasar Modal
Kebijakan moneter ketat yang tetap dilakukan selama triwulan Kebijakan moneter ketat yang tetap dilakukan selama triwulanKebijakan moneter ketat yang tetap dilakukan selama triwulan Kebijakan moneter ketat yang tetap dilakukan selama triwulanKebijakan moneter ketat yang tetap dilakukan selama triwulan
IV √ 2005 telah mempengaruhi perilaku para investor pasar IV √ 2005 telah mempengaruhi perilaku para investor pasarIV √ 2005 telah mempengaruhi perilaku para investor pasar IV √ 2005 telah mempengaruhi perilaku para investor pasarIV √ 2005 telah mempengaruhi perilaku para investor pasar saham.
saham. saham.
saham. saham. Kondisi ini tercermin dari pergerakan IHSG yang
terkoreksi ketika level BI Rate dinaikkan sebesar 100 bps menjadi 11% dan kemudian naik kembali menjadi 12,75% terkait dengan pengendalian tekanan inflasi akibat kenaikan harga. Sementara itu, penurunan indeks yang terjadi pada pertengahan triwulan IV lebih dipengaruhi oleh perilaku investor yang menahan aktivitasnya terkait dengan libur panjang hari raya. Menguatnya nilai tukar rupiah pada akhir periode triwulan dan pergantian menteri bidang perekonomian memberikan sentimen positif bagi perdagangan saham sehingga dalam perkembangannya indeks komposit mengalami peningkatan sebesar 118,579 poin menjadi 1162,635.
Selama Oktober √ Desember, aktivitas perdagangan Surat Utang Negara terlihat Selama Oktober √ Desember, aktivitas perdagangan Surat Utang Negara terlihat Selama Oktober √ Desember, aktivitas perdagangan Surat Utang Negara terlihat Selama Oktober √ Desember, aktivitas perdagangan Surat Utang Negara terlihat Selama Oktober √ Desember, aktivitas perdagangan Surat Utang Negara terlihat mengalami penurunan.
mengalami penurunan. mengalami penurunan. mengalami penurunan.
mengalami penurunan. Kondisi pasar yang belum normal akibat penurunan harga
SUN terkait dengan redemption reksa dana menjadi salah satu faktor yang
mempengaruhi perkembangan tersebut. Selain itu, keterbatasan volume penawaran karena pemegang SUN cenderung menahan portofolionya sekalipun menghadapi tingginya holding cost, di tengah permintaan yang cukup besar (namun dengan harga yang rendah), mengakibatkan minimnya transaksi yang terjadi. Sementara itu, semakin pahamnya investor terhadap arah kebijakan peningkatan policy rate dalam rangka pengendalian inflasi serta kondisi terbatasnya investor yang ingin menjual SUN-nya dengan harga saat ini mengakibatkan harga SUN secara gradual mulai meningkat sehingga yield beberapa seri SUN pada periode triwulan IV-2005 cenderung mengalami penurunan.
Grafik 3.16
Pertumbuhan Ekonomi dan Likuiditas Perekonomian -10
-8 -6 -4 -2 0 2 4 6 8 Persen
2001 2002 2003 2004
PDB M2 Riil
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
2005
Grafik 3.15 Pertumbuhan Kredit 0
3 6 9 12 15 18 21 24 27 30 33 36 39 42 45 48 51
100 200 300 400 500 600 700 800 Triliun Rp
Persen
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7
2003 2004 2005
Total KREDIT (RHS) gKMK (%) gKI (%) gKK (%) g Total KREDIT (%)