• Tidak ada hasil yang ditemukan

42055 ID the role of religion in voters preference during general election 2014 in centra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "42055 ID the role of religion in voters preference during general election 2014 in centra"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

A b

s

t

r

a

c

t

M uslim s are the largest part of Indon esian society , but in the history of election s, Islam ic political parties hav e nev er w on. The n ation alist party ten ded to be a stron g party , w hereas religion-based party ten d to be a w eak party . This study aim s to

a na ly ze how the i nl uence of r eli g i on v a lues on v oti ng beha v i or dur i ng leg i sla ti v e election s in the Cen tral Jav a. This study w as con ducted in 10 electoral districts in Cen tral Jav a and it in v olv ed 40 0 responden ts. This research used a qualitativ e an d a quan titativ e m ethod. The result depicted that religious v alues w ere used by v oters as

r efer ence i n a ssessi ng poli ti ca l i g ur es w hether they a r e g ood or ba d, w i thout looki ng a t the ba ckg r ound of pa r ti es a nd i deolog i es. V oter s a r e mor e i nl uenced by r a ti ona l and pragm atic con siderations than the leaders or religious organ ization .

Key w ords: gen eral election , religion, v oting behav ior, Cen tral Jav a

A b

s

t

r

a

k

Um at Islam adalah bagian terbesar m asy arakat In don esia, n am un dalam sejarah pem ilu partai politik y an g berhaluan Islam belum pern ah m en an g. Partai n asionalis cenderun g kuat dan partai berbasis agam a cenderung lem ah. Pen elitian in i bertu-juan m en gan alisis bagaim an a pen garuh nilai-n ilai agam a terhadap perilaku m e-m ilih dalae-m pee-m ilu legislatif di Jaw a Tengah. Pen elitian in i dilakukan di 10 daerah pem ilihan di Jaw a Ten gah dan m elibatkan 40 0 respon den . M etode pen elitian in i adalah deskriptif den gan pen dekatan cam puran kualitatif dan kuan titatif. Kesim -pulan penelitian ini m enun jukkan bahw a n ilai-n ilai agam a m enjadi landasan dan

r ujuka n da la m meni la i i g ur e poli ti k y a ng ba i k da n bur uk, ta npa meli ha t la ta r be -lakang partai dan ideologin y a. Pem ilih dipen garuhi oleh pertim bangan rasionalitas diri sen diri dibandin g tokoh atau organisasi agam a.

Kata kunci: Pem ilihan um um , agam a, perilaku pem ilih, Jaw a Ten gah

Balitbang Provinsi Jawa Tengah Jl. Imam Bonjol 190 Semarang, Jawa Tengah. Telp. 024 3540025

E mail: areef_ soiant@ yahoo.com

Naskah diterima : 29 Juli 2015 Naskah direvisi : 9 – 11 November 2015 Naskah disetujui : 4 Desember 2015

PERAN AGAMA TERH ADAP PERILAKU PEMILIH

DALAM PEMILU LEGISLATIF 2 0 14 DI JAW A TEN GAH

Th e R o le o f R e lig io n in Vo t e r s ’ Pr e fe r e n ce D u r in g Ge n e r a l Ele ct io n

2 0 14 in Ce n t r a l Ja v a

ARIF SOFIANTO

P

EN D AH U LU AN

Berbagai isu dalam tatanan kehidupan negara dan m asyarakat Indonesia kini dikaitkan dengan dem okrasi. Dem okrasi m enurut Schum peter (Agustino, 20 0 7:139-140 ) m erupakan kehendak rakyat dan kebaikan bersam a. Mayo (Budiardjo, 20 0 8:17) berpendapat bahwa dem okrasi adalah ketika kebijakan um um ditentukan atas dasar m ayoritas oleh wakil-wakil yang dipilih oleh rakyat dalam pem ilihan, sem entara Huntington

(2)

seseorang, karakter sosial seseorang, dan faktor situasi atau lingkungan. Mas’oed dan MacAndrews (20 0 6:37-40 ) m enyatakan bahwa keluarga, sekolah, kelom pok pergaulan, pekerjaan, m edia m assa dan kontak-kontak politik langsung m erupakan faktor yang berpengaruh.

Sebuah fenom ena m enarik di Indonesia terkait dengan pem ilu dan dem okrasi adalah bahwa m eskipun um at Islam adalah bagian terbesar dari bangsa Indonesia, nam un dalam sejarah pem ilu belum satupun partai politik berhaluan Islam yang m em enangi pem ilu. Dem ikian juga dalam m em aknai sistem pem erintahan yang baik, m eskipun m ayoritas Islam , nam un sistem politik yang dianggap paling baik adalah dem okrasi ala barat yang sekuler.

Survei yang dilakukan oleh Sharm a, et al (20 10 ) yang difasilitasi IFES (International

Foundation for Electoral Sy stem s) m engenai

pem ilu terhadap m asyarakat Indonesia tahun 20 10 m enghasilkan beberapa tem uan penting. Terkait dengan pengaruh nilai-nilai dan norm a terhadap dem okrasi, 62% orang Indonesia m engatakan bahwa agam a m em iliki pengaruh penting terhadap politik, yang m em pengaruhi keputusan sam pai batas tertentu (44%) atau terhadap sebagian besar keputusan m ereka (18%), dan sisanya 38% m engatakan agam a tidak berpengaruh. Pengaruh agam a terhadap pengam bilan keputusan politik telah m enurun dibanding tahun 20 0 8, yaitu sebesar 79% (49% sam pai batas tertentu dan sebagian besar 30 %).

Studi lainnya dilakukan oleh Mujani dan Liddle (20 10 ) dengan judul “I ndonesia; per sonalities,

parties, and voters” yang m enghasilkan beberapa

tem uan berbeda. Penelitian tersebut m enem ukan bahwa telah tum buh rasionalitas pem ilih, dim ana pem ilih sem akin “rasional.” Pem ilih telah m enetapkan standar tujuan atau prioritas keberhasilan pem im pin berupa: pertum buhan ekonom i, kem akm uran, persatuan nasional, pendidikan, dan penegakan hukum . Untuk m ewujudkan hal tersebut, m asyarakat lebih percaya pada individu-individu ketim bang partai politik, dengan standar individu berupa integritas pribadi, kepedulian sosial, dan kom petensi Sejalan dengan teori budaya politik Alm ond

dan Verba (Chilcolte, 20 0 7: 30 2), ada 3 tipe budaya politik. Pertam a, adalah budaya politik parokial, yaitu rendahnya pengharapan dan kepedulian individu-individu terhadap pem erintah. Kedua, budaya politik subjek di m ana individu-individu peduli dengan keluaran yang dicapai pem erintah nam un tidak berpartisipasi dalam proses. Ketiga, adalah budaya politik partisipan di m ana individu-individu bersikap aktif dan terlibat dengan sistem secara utuh yang m enunjukkan tingkatan tertinggi yang dicapai dalam m asyarakat m odern.

Masyarakat Indonesia m asih berada pada tahap lebih m engutam akan form alitas atau prosedur sem ata. Seperti halnya disam paikan Haynes (20 0 0 :147), dem okrasi di kebanyakan negara dunia ketiga lebih m em perlihatkan sisi form alitas, yang terpusat pada prosedur dan tata kelem bagaan, dan lebih khusus lagi terfokus pada pem ilihan um um . Survei Lem baga Survei Indonesia (20 11) m enunjukkan bahwa sebagian besar orang Indonesia (77,3%) percaya dem okrasi adalah sistem terbaik untuk Indonesia, dan m am pu m enyelesaikan m asalah (67,9%). Lebih lanjut Marcus Mietzner (20 0 9) m encatat bahwa dem okratisasi di Indonesia lebih m enam pilkan

wajah popularitas i gur di hadapan rakyat.

Pem aknaan dem okrasi jauh dari persoalan kinerja politik, nam un m engarah pada perform a individu.

Dem okrasi dan pem ilu sering dikaitkan dengan partisipasi politik, yang m enurut Budiardjo (20 0 8:367) adalah kegiatan orang atau sekelom pok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik. Ram lan

Surbakti ( Gatara, 20 0 9:317) mendei nisikan

partisipasi politik sebagai keikutsertaan warga biasa dalam penentuan keputusan m enyangkut kepentingannya nam un kegiatan tersebut tidak selalu m encerm inkan sikap dan orentasi pelaku. Ada beberapa alasan seseorang berpartisipasi atau tidak dalam politik. Menurut Frank Lindenfeld (Maran, 20 0 7:156), faktor utam a pendorong

partisipasi politik adalah kepuasan i nansial.

(3)

profesional. Agam a dan etnis saat ini tidak m enjadi faktor utam a, identitas agam a atau etnis tidak m em berikan pengaruh utam a dalam orientasi pem ilih.

Penelitian lain tentang pem ilu di Indonesia dilakukan oleh Marcus Mietzner (20 0 9), berjudul

“Political opinion polling in post-authoritarian Indonesia cataly st or obstacle to dem ocratic consolidation?” Tem uan utam a dari penelitian

tersebut adalah terjadinya lom patan besar dalam politik Indonesia sebagai wujud konsolidasi dem okrasi, yaitu kecenderungan baru partai untuk m encalonkan orang yang populer. Popularitas individual adalah senjata paling am puh yang ditem ukan partai politik selam a puluhan tahun berjibaku dalam pem ilu. Dalam konteks ini, ada sebuah pertanyaan, apakah seseorang populer karena track record yang bersih, kem am puan,

ai liasi etnis dan agama, atau hanya strategi

pem asaran politik yang sukses. Di sisi lain, partai-partai berhaluan Islam m asih tetap optim is m eraih dukungan, m eskipun di satu sisi ada rasionalitas yang m enguat, serta kecenderungan

kuatnya pengaruh i gur dibanding partai politik

dan ideologinya. Banyaknya partai Islam juga m enandakan terpecahnya kekuatan Islam .

Reform asi politik tahun 1998 m erupakan pintu bagi m eningkatkanya pem bentukan partai politik berbasiskan agam a (terutam a Islam ) setelah sebelum nya dikekang Orde Baru dengan paham tungal Pancasila (Rom li, 20 0 4;36). Kenyataannya, hasil pem ilu pascareform asi m enunjukkan kekalahan partai-partai Islam m eskipun m ayoritas penduduk Indonesia beragam a Islam yang diakibatkan oleh banyaknya partai, aliran politik yang lebih nasionalis-religius dan pluralis, serta perubahan ideologi m asyarakat yang lebih m em entingkan substansi Islam daripada form alism e Islam dalam bentuk partai Islam (Rom li, 20 0 4:47).

Di J awa Tengah, pada tahun 20 0 9 perolehan partai-partai beraliran agam a jauh di bawah partai nasionalis. PDIP m em peroleh 22,98 persen, Partai Dem okrat 15,74 persen, dan Golkar sebanyak 11,54 persen, sem entara partai berbasiskan agam a yaitu

PKB m em perolah 7,85 persen, PKS sebesar 7,19 persen, PAN sebanyak 6,71 persen, PPP sebanyak 6,21 persen, PKNU sebanyak 1,83 persen, dan Partai Dam ai Sejahtera (PDS) sebagai partai berhaluan agam a non-Islam hanya m em peroleh 0 ,57 persen saja. Pada Pem ilu 20 0 9, partai Islam yang unggul adalah yang lebih condong berhaluan nasionalis-religius dan hanya ungul di 3 daerah, yaitu Kabupaten Pekalongan (PKB), Kabupaten Dem ak (PKB) dan Kabupaten Banjarnegara (PAN). Sesuai hasil penelitian Basyar (J urnal Penelitian Politika, 20 0 4:60 ) keunggulan partai Islam tahun 20 0 4 di Pekalongan belum serta m erta berarti kem enangan sim bol “hijau” atau Islam . Masyarakat dan wakilnya lebih m elihat kepentingan yang pragm atis, kurang peduli pada sim bol “hijau”.

Berdasarkan penjelasan di atas, penting untuk m engkaji bagaim ana agam a m em berikan arahan dan tuntunan dalam m enentukan pilihan. Apakah agam a m asih m em iliki peran tertentu bagi pem ilih dalam m enentukan pilihannya. Artikel ini m erupakan bagian dari penelitian m engenai perilaku pem ilih dalam pem ilu legislatif tahun 20 14 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengem bangan Provinsi J awa Tengah. Fokus tulisan ini adalah m engkaji peran agam a dalam m em pengaruhi perilaku pem ilih di J awa Tengah.

M

ETOD E

P

EN ELITIAN

(4)

dari kepada desa/ lurah, LKMD/ LPMK serta tokoh m asyarakat dari unsur lainnya.

Responden berasal dari para pem ilih yang tersebar di seluruh Dapil sebesar 40 0 orang. Besar sam pel ditentukan dengan rum us Slovin, sebagai berikut: n= N/ N.d2+1, dengan ketentuan: n=

jumlah sampel, N= populasi, d= taraf signii kansi. J um lah pem ilih di J awa Tengah tercatat sebanyak 26.190 .629 orang (m enurut data KPU), dan dengan m enggunakan taraf kepercayaan 95%, atau tingkat kesalahan 5% (0 ,0 5), m aka rum us tersebut dapat diaplikasikan sebagai berikut: n = 26.190 .629 / (26.190 .629 x 0 ,0 0 25+1)= 399,99 (dibulatkan = 40 0 )

Pengam bilan sam pel dari populasi dilakukan berdasarkan karakteristik kewilayahan, yaitu terdiri dari wilayah pantura, tengah (pedalam an), dan pantai selatan. Masing-m asing wilayah juga terbagi m enjadi letaknya, yaitu m ewakili tim ur, tengah dan barat. Sam pel Wilayah pantura adalah Kabupaten J epara (Dapil II), Kabupaten Kendal (Dapil I), Kota Pekalongan (Dapil X), dan Kabupaten Brebes (Dapil IX). Wilayah tengah atau pedalam an diwakili oleh Kabupaten Blora (Dapil III), Kota Surakarta (Dapil V), dan Kabupaten Banjarnegara (Dapil VII). Wilayah selatan diwakili oleh Kabupaten Wonogiri (Dapil IV), Kabupaten Purworejo (Dapil VI), dan Kabupaten Cilacap (Dapil VIII). Di setiap kabupaten/ kota dipilih beberapa kecam atan/ dapil sebagai area yang ditentukan berdasarkan karakteristik khas setiap wilayah yang juga m enunjukkan pusat pertarungan politik di wilayah tersebut. Di setiap kecam atan/ dapil, responden diam bil dari m asing-m asing desa/ kelurahan atau TPS sesuai data yang tersedia.

Penelitian ini m elibatkan 40 0 responden di 10 Dapil J awa Tengah. Dari jum lah tersebut, 95,2% adalah beragam a Islam dan sisanya Katolik 3% dan Protestan1,8%. J um lah tersebut m enyesuaikan kom posisi pem eluk agam a yang dom inan di J awa Tengah serta keterlibatan kelom pok pem eluk agam a tersebut dalam politik.

Instrum en yang digunakan dalam penelitian ini ialah panduan wawancara m endalam untuk

inform an serta daftar pertanyaan tertutup atau kuesioner untuk responden. Penelitian ini m enggunakan teknik analisis yang m erupakan kom binasi antara m etode kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan dengan m odel interaktif sebagaim ana yang dikem bangkan oleh Miles dan Huberm an dengan adanya 3 kegiatan pengum pulan data, reduksi data, penyajian data dan kesim pulan yang saling terkait (Husaini dan Purnom o, 20 0 8: 88). Analisis kuantitatif dilakukan dengan m elakukan perhitungan frekuensi, rerata, tabulasi silang dan persentase. Analisis kualitatif dilakukan m enggunakan teknik deskriptif analitis.

H

ASIL D AN

P

EMBAH ASAN Gam baran U m u m

Berdasarkan tipologi perwilayahan, J awa

T engah dapat diklasii kasikan menjadi wilayah pantura, wilayah tengah dan selatan. Wilayah pantura secara historis identik dengan wilayah santri, yang pada m asa Orde Baru identik dengan pem ilih hijau. Partai-partai berbasiskan agam a (Islam ) m endapatkan suara yang cukup besar di daerah Pantura. Seiring perkem bangan politik, dom inasi tersebut m ulai berkurang dan partai-partai berhaluan nasionalis m ulai m endapatkan tem pat di wilayah Pantura. Wilayah tengah dan selatan m em iliki tipologi yang ham pir sam a, yakni suara didom inasi oleh partai-partai nasionalis. Pem ilih lebih loyal kepada partai politik berhaluan nasionalis, terutam a partai yang sudah cukup lam a berdiri. Secara um um , partai-partai berhaluan nasional m endom inasi perolehan suara, 3 besar pertam a adalah PDIP, Dem orat dan Golkar, seperti tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1 Perolehan Suara Partai Pada Pem ilu 20 0 9 di J awa Tengah (10 besar)

No Partai DPR RI DPRD 1 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 21.93 22.98 2 Partai Demokrat (PD) 15.95 15.74 3 Partai Golongan Karya (GOLKAR) 12.76 11.54 4 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 7.87 7.85 5 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 7.14 7.19 6 Partai Amanat Nasional (PAN) 6.95 6.71 7 Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 6.15 6.21 8 Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA) 4.96 5.35 9 Partai Hati Nurani Rakyat (HANURA) 3.4 3.09 10 Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) 1.82 1.83

(5)

Partai Islam relatif m endapat dukungan di Pantura, sedangkan di wilayah tengah dan selatan lebih dom inan partai berbasis nasionalis. Akan tetapi saat ini telah terjadi beberapa pergeseran dim ana partai berbasis agam a (Islam ) di daerah Pantura sudah sem akin m enurun dan m enguatnya partai nasionalis. Di sisi lain wilayah yang dianggap nasionalis justru kekuatan antara PDI Perjuangan dan PAN ham pir seim bang, m isalnya di Kabupaten Banjarnegara. Di Kabupaten J epara, kekuatan PDI Perjuangan lebih unggul dibanding PPP yang sebelum nya dom inan. Meskipun dem ikian, di beberapa wilayah secara garis besar peta belum berubah, m isalnya di Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Dem ak, suara PKB relatif m asih dom inan, tidak berbeda dengan pem ilu sebelum nya. Begitu juga di Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyum as, Kota Surakarta, perolehan suara PDI Perjuangan tetap tinggi. Di Kabupetan Purworejo kekuatan Golkar juga m asih unggul.

Di sebagian wilayah m ulai terjadi pergeseran di m ana pem ilih tidak lagi setia terhadap partai, nam un lebih condong untuk m em perhatikan

i gur calon anggota legislatif. Berdasarkan

keterangan para inform an di 10 Dapil, politik uang pada pem ilu 20 0 9 sem akin m enguat, di sisi lain loyalitas terhadap partai m enurun

dan i gur caleg menjadi lebih penting. Peran

tokoh agam a dan tokoh m asyarakat dalam m engarahkan pilihan sudah sangat berkurang dan pengaruh m edia m assa sem akin kuat dalam m em pengaruhi orientasi pem ilih. Masyarakat kini sem akin kritis m enyikapi situasi politik yang akan m em pengaruhi orientasi m em ilihnya. Di sisi lain, pada beberapa kasus di beberapa daerah, m asih terlihat adanya loyalitas terhadap partai, terutam a yang berhaluan nasionalis. Peta perolehan suara di setiap daerah pada pem ilu 20 0 9 m enunjukkan adanya kecenderungan pergeseran tersebut, di sisi lain juga m enunjukkan adanya loyalitas pem ilih terhadap partai politik tertentu.

Berdasarkan studi sebelum nya terjadi kecenderungan pergeseran secara um um di J awa Tengah dim ana orientasi pem ilih dari pem ilih yang loyal terhadap partai yang berbasiskan

agam a di Pantura dan nasionalis di tengah dan selatan m enjadi pem ilih yang rasional pragm atis

dan kedudukan i gur menjadi penting. F enomena ini juga terjadi pada partai-partai berbasiskan agam a (Islam ), dim ana loyalitas pem ilih terhadap partai politik dan aliran tertentu m enurun, justru kecenderungan m enguatnya tokoh individu atau

i gur. M enurut penuturan para informan, peran

pem uka agam a dalam m em pengaruhi um at sem akin m elem ah karena adanya pergeseran pem ilih yang sem akin rasional dan pragm atis, serta cenderung individualis dalam m enentukan pilihan. Akibatnya terjadi pergeseran perolehan suara dan kursi di DPRD. Kebanyakan partai Islam m engalam i penurunan, kecuali PKS, sebagaim ana tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Perolehan Kursi Anggota DPRD J ateng dalam pem ilu 20 0 4 dan 20 0 9 di J awa Tengah

No Partai 2004 2009 +/-1 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 31 23 - 8 2 Partai Demokrat (PD) 10 16 6 3 Partai Golongan Karya (GOLKAR) 17 11 - 4 4 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 7 10 3 5 Partai Amanat Nasional (PAN) 10 10 0 6 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 15 9 - 4 7 Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA) 9 9 8 Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 10 7 -3 9 Partai Hati Nurani Rakyat (HANURA) 4 4 10 Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) 1 1

Jumlah 100 100

Sum ber: KPUD J ateng

Fenom ena tersebut juga dipengaruhi oleh perubahan sistem pem ilihan um um dari daftar tertutup m enjadi daftar terbuka. Sistem pem ilihan dengan daftar terbuka, dim ana pem ilih bisa m enentukan langsung calon yang dipilih m em buka persaingan yang ketat antar caleg. Setiap caleg m eskipun dari partai yang sam a saling bersaing m em peroleh suara. Akibatnya kekuatan partai politik dalam m enggalang pem ilih yang ideologis berkurang, digantikan oleh kekuatan pribadi para caleg.

(6)

dilakukan oleh partai politik lem ah, penegasan ideologi m enjadi kabur dan m em buat partai-partai kehilangan identitasnya. Di sisi lain para caleg yang kebanyakan bukan kader partai m enggunakan berbagai m acam cara yang tidak sesuai dengan ideologi partai. Para caleg m enggunakan kekuatan uang untuk m enarik dukungan dari pem ilih. Oleh sebab itu politik uang sudah dianggap sebagai kewajaran bagi pem ilih.

Fenom ena inilah yang m em unculkan karakteristik pem ilih yang rasional, lebih m elihat

pada i gur, mengabaikan ideologi partai serta

sangat pragm atis. Di satu sisi pem ilih dihadapkan

pada kesempatan memilih i gur yang menurut

m ereka kom peten, di sisi lain dihadapkan pada kesem patan m endapatkan uang dari para caleg.

Karakte ris tik Pe m ilih Be rd as arkan Agam a

Perilaku politik para pem ilih dari agam a yang berbeda-beda tidak terlalu m enunjukkan perbedaan m endasar. Keselarasan antara agam a dan aliran partai tidak begitu kentara, dim ana pem ilih Islam juga tidak selalu m em ilih partai berbasis agam a (Islam ), karena sekarang kecenderungan nasionalism e m enguat.

Pada pem ilu tahun 20 0 9 banyak pem ilih yang bim bang m enentukan pilihan caleg, sehingga sebagian besar m ereka m enentukan pilihannya pada partai politik. Sebagian besar um at Islam m enentukan pilihannya baik untuk partai politik m aupun calegnya. Sebagian besar um at Katolik, lebih m enyerahkan pilihan m ereka pada partai politik, sebagaim an gam bar 1 di bawah ini.

Gam bar 1. Agam a dan pilihan dalam pem ilu 20 0 9

Di banyak tem pat, peran tokoh agam a cenderung m enurun di hadapan um atnya, sehingga

orientasi pilihan pem ilih pun tidak selalu berbasis agam a. Hanya partai berbasis agam a yang terbilang m odern saja yang m am pu m em pertahankan suaranya, dengan m engedepankan rasionalitas seperti PKS. Hal ini seiring dengan kecenderungan pem ilih yang sem akin rasional.

Pem ilih Islam cenderung tersebar dalam m em ilih partainya. Partai besar berhaluan nasionalis seperti PDI Perjuangan, Dem okrat dan Golkar dipilih oleh sem ua kelom pok agam a, sedangkan Gerindra m enjadi partai baru yang juga diterim a sem ua kalangan, sebagaim ana gam bar 2 di bawah ini.

Gam bar 2. Agam a dan partai pilihan dalam pem ilu 20 0 9

Terhadap pem ilu 20 14, m ayoritas orang beragam a Islam relatif rendah loyalitasnya terhadap partai berbasiskan Islam dan cenderung m asih bim bang m enentukan pilihan. Kesetiaan terhadap partai politik di kalangan Islam relatif rendah kesetiaannya dibanding m ereka yang beragam a Kristen Protestan, sebagaim ana gam bar 3 di bawah ini.

Gam bar 3. Perilaku m em ilih berdasarkan agam a

(7)

rakyat paling rendah, begitu juga dengan tingkat kesiapan m ereka m enghadapi pem ilu. Um at Islam tergolong m asih bim bang dalam m enentukan pilihan baik caleg m aupun partai politik.

Para pem ilih dari berbagai kalangan agam a di tahun 20 14 cenderung m em ilih Gerindra dan Nasdem , setelah itu PDIP. Pem ilih Katolik cenderung m endukung PDIP sebagai partai pilihan m ereka. Pem ilih yang beragam a Protestan lebih condong m em ilih Gerindra. Pem ilih Islam tersebar di banyak partai nasionalis m aupun berbasiskan Islam , seperti gam bar 4 di bawah ini.

Gam bar 4. Agam a dan partai pilihan dalam pem ilu 20 14

Untuk harapan terhadap caleg dan juga partainya yang terpilih, sem ua kalangan setuju untuk m em ilih m ereka yang m em perjuangkan hak. Mereka yang beragam a Kristen Protestan lebih m em ilih wakil yang jujur dan transparan, sedangkan m ereka yang beragam a Islam dan Katolik banyak yang m em ilih caleg yang diharapkan m em bawa perubahan sebagaim ana gam bar 5 di bawah ini.

Gam bar 5. Agam a dan harapan terhadap caleg yang terpilih dalam pem ilu

Mereka yang beragam a Kristen Protestan lebih banyak m em ilih karena pertim bangan ideologis dan pro rakyat. Mereka yang beragam a Islam dan

Katolik lebih m em ilih dengan pertim bangan pro rakyat dan kinerja. Meraka yang beragam a Islam juga lebih m em ilih dengan pertim bangan visi sejalan, citra dan ketokohan seperti terlihat pada gam bar 6 di bawah ini.

Gam bar 6. Agam a dan pertim bangan m em ilih dalam pem ilu

Untuk alasan berpartisipasi dalam pem ilu, lebih banyak responden m em andang sebagai hak dan keinginan m ewujudkan dem okrasi, sedangkan alasan sebagai kewajiban lebih banyak diyakini oleh m ereka yang beragam a Islam . Sebagian besar um at Protestan m em andang pem ilu sebagai hak, sedangkan sebagian um at Katolik m em andang m em ilih m erupakan hak dan sarana m ewujudkan dem okrasi. Sebagian kecil dari um at Kristen Protestan dan Islam m em andang pem ilu sebagai pelaksanaan dem okrasi dan m enyalurkan aspirasi sebagaim ana gam bar 7 berikut.

Gam bar 7. Agam a dan alasan berpartisipasi dalam pem ilu

(8)

tetap mempertimbangkan latar belakang i gur

atau calon yang akan dipilih dari sisi agam anya sebagaim ana gam bar 8 di bawah ini.

Gam bar 8. Mem ilih calon yang sam a agam anya

Begitu juga dengan nilai-nilai yang m elandasi seseorang berpartisipasi. Meskipun ada studi yang m enyebutkan m enurunnya peran agam a, nam un penelitian ini m enem ukan bahwa 41,5% responden setuju dan 8% sangat setuju m ereka m enggunakan agam a sebagai landasan tata nilai dalam berpartisipasi, m enentukan m ana yang baik dan tidak. Agam a m em bim bing seseorang untuk m em ilih, m enentukan m ana yang baik dan tidak baik dalam m em ilih calon legislatif.

Gam bar 9. Nilai agam a sebagai landasan berpartisipasi

Responden yang m engatakan tidak setuju atau kurang setuju ada beberapa alasan. Pertam a, adalah m asalah substansial pem ilu, agam a bukanlah alat yang bisa dilibatkan dalam proses dem okrasi m aupun pem ilu. Agam a tidak ada kaitannya dengan dem okrasi, agam a adalah sebuah keyakinan religius sedang pem ilu kebutuhan dunia. Kedua, karena dapat m em ecah belah persatuan, karena Indonesia adalah negara beragam . Ketiga, adalah pihak yang m enem patkan agam a tidak ada hubungannya dengan pem ilu

nam un m erupakan persoalan sensitif yang perlu m endapatkan perhatian pem erintah.

Bagi m ereka yang setuju, agam a m erupakan landasan m ental spiritual yang sangat kuat, bagi um atnya berguna untuk m enilai m ana yang baik dan tidak, m ana pem im pin yang baik dan tidak. Pem im pin m erupakan panutan m ereka, m aka m ereka akan m em ilih orang yang beragam a sam a.

Sebagian besar pem ilih (46%) lebih m engutam akan m em ilih dari orang yang beragam a sam a, alasannya adalah karena orang yang seagam a m em punyai ukuran kebenaran yang sam a, hukum yang sam a, jika berbeda agam a m aka akan berbeda pola pikirnya. Sem entara m ereka yang kurang dan tidak setuju harus selalu m em ilih dari agam a sam a m em iliki pendapat bahwa agam a bukan m enjadi jam inan kinerja seseorang bagus, yang m ereka pilih adalah orang yang kapabel tidak berm asalah jika agam anya berbeda. Karakter

pribadi seorang i gur lebih menonjol ketimbang latar belakang agam anya. Peduli pada rakyat, visi-m isi atau progravisi-m dan kevisi-m avisi-m puan visi-m enghadapi m asalah m enjadi pertim bangan utam a pem ilih, sebagaim ana gam bar 10 di bawah ini.

Gam bar 10 . Alasan m em ilih partai atau calon tertentu pada tahun 20 14

Me d ia Po litik

(9)

paling utam a sebagai sum ber inform asi (37%),

keluarga/ teman ( 26%) , poster/ billboard/ paml et

(18%), dan Kepala RT (12%). Di tingkat lokal, spanduk atau papan reklam e dan sejenisnya m enjadi m edia utam a pengenalan caleg dan visi m isi m ereka. Poster yang dipasang di pinggir jalan, ditem pelkan di pohon, tem bok dan tem pat um um lainnya m erupakan m edia kam panye utam a para kandidat.

Ketika ditanyakan kepada responden, sum ber pengetahuan/ pendidikan politik m asyarakat saat ini ternyata sebagian besar berasal dari perbincangan m asyarakat di sekitar lingkungan tem pat tinggal. Sum ber kedua adalah pengetahuan yang diperoleh secara m andiri, baik m elalui bahan bacaan m aupun pengetahuan lainnya. Kem udian sum ber dom inan lainnya adalah m edia eletronik (televisi) dan surat kabar.

Gam bar 11. Sum ber pengetahuan politik pem ilih

Dari berbagai m edia dan sum ber yang ada, berdasarkan tanggapan responden m edia-m edia tersebut telah m em pengaruhi m ereka untuk m enentukan pilihannya. Sebanyak 34% orang Indonesia m engatakan iklan kam panye di TV adalah cara yang paling efektif m endorong m ereka untuk m em ilih, kem udian acara dialog di televisi atau radio (12%), inform asi dari m ulut ke m ulut (12%), pertem uan agam a (12%), pertem uan inform al (12%), debat antara kandidat (7%), atau poster/ spanduk (5%).

Dari jawaban responden di atas, bahwasanya pertem uan atau lem baga-lem baga agam a ternyata m asih m enjadi salah satu event penting dalam m enggali dukungan. Baik dalam acara peribadatan, pengajian atau acara sejenisnya m enjadi salah satu m edia yang digunakan untuk

m enggali dukungan. Dengan dem ikian, m eskipun latar belakang agam a cenderung rendah, nam un m asih m em buka peluang untuk dijadikan pintu m asuk bagi caleg untuk m eraih dukungan.

Dem ikian juga peran tokoh agam a dan tokoh m asyarakat dalam m engarahkan pilihan terhadap m asyarakat sudah sangat berkurang perannya. Di sisi lain, pengaruh m edia m assa sem akin kuat dalam m em pengaruhi orientasi pem ilih. Masyarakat kini sem akin kritis m enyikapi situasi politik yang akan m em pengaruhi orientasi m em ilihnya.

Melem ahnya peran tokoh agam a dan m enguatnya peran m edia dapat dilihat dari sum ber-sum ber penentu keputusan politik. Ketika responden dim inta m enjawab pertanyaan siapa pihak yang paling berpengaruh dalam m enentukan keputusan, jawaban terbesar adalah diri sendiri, kem udian m asyarakat sekitar dan keluarga, sebagaim ana gam bar 12 di bawah ini.

Gam bar 12. pihak yang berpengaruh dalam keputusan m em ilih

Dari data di atas, terlihat bahwasannya keputusan seseorang m em ilih adalah keputusan diri sendiri. Hal tersebut m enandakan pem ilih sudah sem akin rasional dan pengaruh berbagai lingkungan sem akin m enurun, term asuk lem baga dan tokoh agam a.

Te m u an Pe n tin g

(10)

orang sungkan m au m elaporkan karena kenal dengan pelakunya, tidak enak, dan sebagainya. Fenom ena lainnya adalah perjudian atau botoh, dim ana seseorang berjudi m endukung atau tidak m endukung seorang caleg. Hal tersebut m erupakan dam pak dari pilkades yang m em ang terdapat fenom ena tersebut.

Fenom ena unik lainnya yang m uncul adalah pergeseran pola politik uang. Perubahan pola pem ilihan yang m enggunakan sistem daftar terbuka m em ungkinkan persaingan antara caleg sem akin tinggi. Persaingan terjadi tidak hanya dari caleg antar partai yang berbeda, tetapi dari caleg dalam satu partai. Akibat persaingan yang tinggi m aka politik uang juga berkem bang sem akin m assif. Metode yang digunakan para caleg dapat dikelom pokkan m enjadi 2 aras, yaitu aras kom unal dan aras personal. Aras kom unal dilakukan antara lain m elalui sum bangan infrastruktur atau sarana

i sik berupa jalan, jembatan, tempat ibadah,

atau fasilitas um um lainnya. Ada juga caleg yang m em berikan bantuan peralatan seperti kendaraan, tenda dan sebagainya untuk kepentingan warga. Antara caleg dan m asyarakat terdapat kesepakatan perolehan suara caleg dengan m inim al jum lah tertentu (m ayoritas). Ada kalanya ketika warga gagal m em enuhi target, m isalnya suara kurang dari yang diharapkan, m aka caleg m em batalkan kesepakatan atau m enarik kem bali sum bangannya.

Pada aras individu, m oney politics berupa pem berian uang langsung dengan jum lah tertentu. Pem berian uang di perkotaan jum lahnya lebih besar daripada di desa. Setiap wilayah juga berbeda besaran jum lahnya, tergantung dari situasi persaingan dan tingkat perekonom ian di suatu daerah.

Money politics pada aras individu ini cukup

beragam kasusnya di beberapa daerah. Di banyak daerah, seorang warga seringkali m endapatkan pem berian uang dari beberapa caleg secara bersam aan. Dalam m enyikapi pem berian ini, ada beberapa fenom ena unik. Ham pir sem ua pem ilih yang m endapatkan uang dari beberapa caleg akan m ereka terim a sem ua.

Kecenderungan pertam a, ialah seorang pem ilih yang m enerim a uang dari beberapa caleg akan m enentukan pilihannya berdasarkan jum lah uang yang diberikan, siapa yang paling banyak itulah yang dipilih. Kecenderungan kedua adalah pem ilih akan m enentukan berdasarkan pilihan hati nurani, tidak terkait dengan jum lah uang. Siapa yang paling m ereka sukai, paling dekat, kerabat atau sepaham yang akan m ereka pilih m eskipun m ereka m enerim a uang dari beberapa caleg. Kecenderungan ketiga adalah bahwa seseorang akan m em ilih siapapun yang m em berikan uang terakhir kalinya, siapapun yang m em berikan uang terakhir itulah yang berpeluang dipilih.

Dari kecenderungan terakhir itulah m uncul istilah “serangan fajar” untuk m enunjukkan adanya politik uang dibagikan hari terkahir m enjelang pem ilihan. Tim sukses akan m em bagikan uang pada dini hari atau setelah subuh. Sem akin ketatnya persaingan antar caleg, kini m em unculkan istilah baru, yaitu “serangan dhuha”. Istilah tersebut untuk m enunjukkan bahwasannya pem berian uang dilakukan pada m enit-m enit terakhir pem ungutan suara atau waktu dhuha. Serangan dhuha ini terkait dengan taktik untuk m enjaring pem ilih yang m endasarkan pada pertim bangan siapa yang m em brikan uang terakhir kalinya. Bahkan di beberapa kawasan pantura ditem ukan bahwa pem berian uang dilakukan tidak jauh dari TPS.

(11)

Berdasarkan tanggapan responden serta beberapa fenom ena tersebut, ada beberapa fenom ena m enarik lainnya terkait dengan kecenderungan um um partai politik dan pem ilih, antara lain:

Berdasarkan perolehan suara dan kursi legislatif dalam pem ilu, terdapat kecenderungan m asih kuatnya partai nasionalis dan partai-partai berbasis agam a (Islam ) m asih belum m am pu m eraih suara optim al dari pem eluk Islam ;

Agam a m asih m enjadi landasan untuk m enilai m ana yang baik dan tidak, m ana pem im pin yang baik dan tidak, nam un m asyarakat cenderung m em isahkan kehidupan agam a dari politik, partai politik Islam belum dipandang sebagai m edia m enyalurkan aspirasi politik.

Berdasarkan pertim bangan m em ilih para responden, m ereka lebih m em percayai rasionalitas diri sendiri, dim ana sebagian besar responden m enyatakan bahwa penentu m em ilih adalah diri sendiri.

F aktor i gur politik lebih menonjol dibanding

partai politik atau ideologi/ aliran, m asyarakat lebih m em andang kiprah individu caleg dibanding ideolog partai.

Media m assa (televisi) m erupakan sarana paling efektif untuk m elakukan kam panye, selain itu m edia tradisional di m asyarakat seperti pertem uan, om ong-om ong m asih cukup berpengaruh;

Politik uang sudah m enjadi hal um um dalam pem ilu baik bagi m asyarakat m aupun caleg, sehingga sangat sulit dicegah jika penegakan hukum tidak diupayakan secara serius. Kekuatan uang sangat berpengaruh dalam politik di sem ua level, dengan istilah “keuangan yang m aha kuasa”;

S

IMPU LAN

Berdasarkan penjelasan di atas, dalam m enentukan pilihannya m asyarakat lebih dipengaruhi dari pertim bangan rasionalitas diri sendiri yang lebih bersifat pragm atis. Peran agam a pada perilaku politik seorang ialah m em berikan batasan m ana yang baik dan tidak baik, m enilai

seorang i gur dalam koridor nilai- nilai atau norma

agam a. Agam a m enjadi landasan dan rujukan nilai dalam m em ilih caleg yang baik dan tidak. Sebagian besar pem ilih tidak m elihat latar belakang aliran dan ideologinya, tidak harus beraliran agam a, yang penting dalam penilaian pem ilih seorang

i gur memenuhi kriteria yang mereka anggap

baik berdasarkan pertim bangan diri sendiri untuk m enjalankan am anah sebagai wakil rakyat.

Sebagian pem ilih m em andang agam a terpisah dari kenegaraan, tidak m encam purkan agam a dalam kehidupan politik, sehingga partai berbasiskan agam a kurang m endapatkan dukungan. Meskipun partai nasionalis lebih dom inan, nam un pada saat m enentukan caleg yang dipilihnya, kesam aan agam a m asih m enjadi pertim bangan. Media-m edia pertem uan keagam aan m asih digunakan untuk m enjaring perm ilih baik oleh partai berhaluan agam a m aupun nasionalis.

Menguatnya rasionalitas individu berdasarkan sum ber inform asi m edia m assa di satu sisi m enurunkan peran tokoh agam a dalam m enentukan pilihan. Akan tetapi, rasionalitas individu yang terbangun lebih kearah rasionalitas ekonom is, m em ilih berdasarkan pertim bangan keuntungan ekonom i karena diperkuat dengan m araknya m oney politics.

D

AFTAR

P

U STAKA

Agustino, Leo. 20 0 7. Perihal Ilm u Politik; Sebuah

Bahasan Mem aham i Ilm u Politik. Yogyakarta

: Graha Ilm u.

Basyar, M. Ham dan. 20 0 4. ”Pem ilih ”Hijau” di Kota Santri: Kasus Pem ilu 20 0 4 di Pekalongan”, Jurnal Penelitian Politik Vol. 1 No. 1, 20 0 4, Hal. 49-60 , Pusat Penelitian Politik- LIPI

Budiardjo, Miriam , 20 0 8. Dasar-dasar Ilm u

Politik (Edisi Revisi). J akarta: Gram edia

Pustaka Utam a.

Chilcote, Ronald H. 20 0 7. Teori Perbandingan

(12)

diterjem ahkan dari judul asli “Theories of Com parative Politics The Search for a Freedom ” oleh Haris Munandar dan Dudi

Priatna. J akarta: R ajagrai ndo Persada.

Gatara, AA, Sahid. 20 0 9. Ilm u Politik; M emahami

dan Menerapkan. Bandung: Pustaka Setia.

H aynes, J ef. 20 0 0 . Dem okrasi dan Masy arakat

Sipil di Dunia Ketiga: Gerakan Politik Baru Kaum Terpinggir, diterjem ahkan dari judul

asli ”Dem ocracy and Civil Society in the Third World Politics and New Political Movem ent” oleh P, Soem itro. J akarta: Yayasan Obor Indonesia.

Lem baga Survey Indonesia. 20 11. Pem ilih

Mengam bang Dan Prospek Perubahan Kekuatan Partai Politik, Rilis tahun 20 11

Mas’oed, Mohtar dan Colin, Mac Andrews. 20 0 6.

Perbandingan Sistem Politik. Yogyakarta:

Gadjah Mada University Press.

Maran, Rafael Raga. 20 0 7. Pengantar Sosiologi

Politik. J akarta: Rineka Cipta.

Mietzner, Marcus, 20 0 9. Political opinion polling

in post-authoritarian Indonesia Cataly st or obstacle to dem ocratic consolidation?,

Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Vol. 165, no. 1 (20 0 9), pp. 95– 126, http:/ / www.kitlv-journals.nl/ index.php/ btlv

Mujani, Saiful and R. William Liddle. 20 10 . Indonesia; personalities parties, and voters,

Journal of Dem ocracy Volum e 21, Num ber 2

April 20 10 .

Pam ungkas, Sigit. 20 0 9. Perihal Pem ilu, Jurusan

Ilm u Pem erintahan. J ogjakarta: UGM.

Rom li, Lili, 20 0 4. ”Partai Islam dan Pem ilih Islam di Indonesia”, Jurnal Penelitian Politik Vol. 1 No. 1, 20 0 4, Hal. 29-48.

Sharm a, Rakesh Lauren Serpe, and Astri Suryandari. 20 10 . Indonesia Electoral Survey

20 10 Novem ber 20 10 , IFES (International

Foundation for Electoral System s) for the Australian Agency for International Developm ent

Sugiyono. 20 0 9. Metode Penelitian Kuantitatif

Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Usm an, Husaini Prof. Dr. dan Purnom o Setiady Akbar, M.Pd. 20 0 8. Metodologi Penelitian

Sosial. J akarta: Bum i Akasara.

Zuhro, R, Siti, dkk. 20 0 9. Dem okrasi Lokal:

Perubahan dan Kesinam bungan N ilai-nilai Buday a politik di Jaw a Tim ur, Sum atera Barat, Sulaw esi Selatan dan Bali. Yogyakarta:

Om bak.

Bas is D ata Tan p a Pe n u lis

KPU, Pem ilu Tahun 20 0 9 Dalam Angka, www. kpu.go.id

KPUD J awa Tengah, 20 0 5, Pem ilu Dalam Angka 20 0 4 - 20 0 5

Gambar

Tabel 1 Perolehan Suara Partai Pada Pemilu 2009 di Jawa Tengah (10 besar)
Tabel 2. Perolehan Kursi Anggota DPRD Jateng dalam pemilu 2004 dan 2009 di Jawa Tengah
Gambar 2. Agama dan partai pilihan dalam
Gambar 6. Agama dan pertimbangan
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pokja ULP Pengawasan Rehabilitasi Gedung DPRD Kota Banjarmasin Dinas Cipta Karya dan Perumahan Kota Banjarmasin akan melaksanakan e-Seleksi Sederhana dengan Pasca Kualifikasi

9,15 Pada penelitian ini, tidak terdapatnya kebermaknaan hubungan antara ketersediaan sarana dengan perilaku petugas dikarenakan keadaan ketersediaan sarana yang sudah

Kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan sinergi dari pihak universitas, sekolah dan mahasiswa.Tentunya peran mahasiswa dalam kegiatan ini adalah mampu

tubuh dan instrumen kepercayaan diri yang berupa angket dengan menggunakan. skala Likert.

PENDEKATAN SAVI (SOMATIC, AUDITORY, VISUAL DAN INTELEKTUAL) UNTUK MENIGKATKAN KREATIVITAS SISWA DALAM PEMBELAJARAN SENI TARI DI SMA NEGERI 8 BANDUNG.. Universitas Pendidikan

Pertama, bahwa mitos atau cerita tidur di atas kasur merupakan satu cerita yang pada dasarnya diusung bersama, baik yang pro, Wartilah dengan Sunan Kalijaga, Suharso

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dan status imunisasi dengan kejadian infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) pada Balita di Wilayah Kerja

Reading practice will consistently lead people not to completely satisfied reading Here's Looking At You By Mhairi McFarlane , an e-book, 10 publication, hundreds books, and more..