“Kelas-Kelas Sosial Masyarakat Romawi Abad Pertama”
Dari awal mulanya manusia adalah mahluk sosial, yang berarti bahwa dalam hidupnya dia tidak dapat (atau cenderung memilih) untuk hidup bersama-sama dan menjadi sebuah masyarakat. Masyarakat Romawi pada abad pertama merupakan masyarakat yang sangat besar yang memiliki model pengkelasan sosial yang terstratifikasi secara terbuka1. Terstratifikasi berarti masyarakat tersebut membagi anggotanya kedalam kelas-kelas yang berbeda dan jelas, sedangkan terbuka berarti individu dapat naik dan turun kelas sosial.2 Masyarakat Romawi sangat menyadari mengenai adanya perbedaan kelas ini3. Keberadaan sistem kelas ini pun didukung dengan hukum-hukum yang berlaku4 dan juga adanya pakaian khusus untuk menunjukkan kelas mereka. Ini artinya pembagian kelas dalam masyarakat Romawi merupakan sebuah pengkondisian secara aktif dan sadar.
Dalam masyarakat Romawi, kriteria dasar dalam menentukan kelas sosial adalah kelahiran dan status hukum. Kekayaan menjadi salah satu kriteria yang menentukan juga, misalnya seorang senator atau ksatria (equastrian) yang memiliki standar kekayaan minimal5, walaupun kelahiran dan status hukum seseorang lebih menentukan. Satu unsur lain yang berpengaruh besar dalam menentukan kelas sosial seseorang adalah Kaisar. Kaisar dapat menentukan kualifikasi finansial, membatasi jumlah senator, memberi kewarganegaraan, membuat syarat-syarat orang dapat berpindah kelas sosial, dan menaikkan atau menurunkan kelas sosial seorang individu melalui nominasi6.
Menarik jika kita mencermati bahwa etnis seseorang tidak menentukan kelas sosial seseorang7. Hal ini berarti masyarakat Romawi masa itu menghargai pluralitas etnis atau setidaknya menganggap itu kurang penting. Pendidikan seseorang dalam masyarakat Romawi juga tidak mempengaruhi kelas sosial seseorang. Meskipun begitu kita perlu menyadari bahwa kelas sosial tidak sama dengan status sosial. Kekayaan, etnis, dan pendidikan mungkin tidak berpengaruh pada kelas sosial seseorang, namun hal-hal tersebut dapat mempengaruhi status dan besarnya pengaruh seseorang dalam masyarakat8.
1 E. Ferguson, Backgrounds of Early Christianity, (Michigan: Eerdmans Publishing Co., 2003), h.55 2
https://www.boundless.com/sociology/understanding-stratification-inequality-and-social-class-in-the-u-s/social-mobility/open-versus-closed-stratification-systems/, diunduh 14 April 2014
3Ibid., h.55
4 J.G. Gager, Kingdom and Community: The Social World of Early Christianity, (New Jersey: Prentice-Hall Inc.,
1975), h.97
5Ibid., h.97
Menurut penulis, pengkelasan masyarakat Romawi secara garis besar dapat menghasilkan dua golongan yaitu antara orang bebas dan budak. Selanjutnya orang bebas sendiri dapat dipisahkan menjadi dua yaitu golongan aristokrat dan golongan rakyat jelata. Golongan aristokrat dalam masyarakat romawi terdiri atas beberapa kelompok yaitu golongan senat (senatorial order), golongan ksatria (equestrianorder), dan golongan aristokrat kota.
Golongan senat terdiri atas orang-orang yang menjabat posisi sebagai seorang senator (anggota Senat / majelis tinggi) dan keluarganya. Dalam golongan senat terdapat sebuah kelompok yang lebih elit lagi yang disebut sebagai nobilisi, yaitu keturunan dari orang-orang yang pernah menjadi consul (jabatan tertinggi dalam Senat)9. Seorang senator perlu memiliki kualifikasi harta / properti sebesar minimal 250.000 denarii untuk dapat tetap menjadi seorang senator. Di samping itu terdapat batasan jumlah senator dalam Kekaisaran Romawi sebesar 600 orang10. Para senator dilarang untuk terlibat langsung dalam bisnis terutama bisnis non-agraris, perdagangan, dan kontrak pembangunan publik11. Golongan ini memiliki tanda pengenal khusus berupa garis ungu lebar (latus clavus) pada toga mereka.
Selanjutnya terdapat golongan ksatria, kelompok aristokrat yang lebih besar dengan kualifikasi properti hanya 100.000 denarii. Golongan ksatria lebih rendah dibandingkan golongan senat12. Terdapat beberapa cara agar dapat menjadi golongan Ksatria, (a) lahir dalam keluarga Ksatria, (b) mendapatkan kekayaan yang cukup, atau (c) mendapatkan promosi militer.13 Berbeda dengan golongan senat, golongan ksatria dapat bebas berdagang dan berbisnis. Hal ini ditambah dengan kualifikasi properti yang lebih rendah dibanding golongan senat, serta tiadanya batasan jumlah anggota golongan ini14 membuat golongan ksatria memiliki jumlah yang lebih besar dan berkembang dibanding golongan senat. Golongan ini menggunakan toga dengan garis tipis (angusti clavi)15.
Golongan senat dan ksatria merupakan golongan yang menyediakan individu yang akan menjadi para pejabat atau administrator militer tingkat atas dalam masyarakat Romawi. Mereka dapat menjadi pejabat militer16 sebagai tribune dan komandan legion, komandan
auxilia atau komandan angkatan laut, pejabat Quaestor (bidang keuangan) atau pejabat Praetor (bidang hukum). Mereka juga dapat menjadi gubernur, manajer tambang atau
9 S. R. Joshel, Slavery in the Roman World, (Cambridge University Press, 2010), h.35 10 http://www.pbs.org/empires/romans/empire/senators.html, diunduh 14 April 2014 11 http://www.vroma.org/~bmcmanus/socialclass.html, diunduh 14 April 2014
12 http://www.pbs.org/empires/romans/empire/equestrians.html, diunduh 14 April 2014 13 E. Ferguson, Op.cit., h.57
14 J.G. Gager, Op.cit., h.99
15 http://www.vroma.org/~bmcmanus/socialclass.html, diunduh 14 April 2014
berbagai properti kekaisaran lainnya, sekretaris negara, pemimpin unit polisi dan pemadam kebakaran di kota Roma, bahkan seorang pemimpin Praetorian Guard.17
Golongan aristokrat berikutnya adalah bangsawan-bangsawan di kota-kota di seantero wilayah Romawi. Keberadaan golongan ini berasal dari kebijakan Roma untuk mempertahankan relasi baik dengan orang-orang jajahan, dengan cara menyerahkan pemerintahan lokal kepada orang-orang lokal.18 Dipuncak golongan ini adalah Decurion yaitu senat kota, otoritas lokal tertinggi. Jumlahnya sekitar 100 orang di kota-kota Romawi atau 30 – 500 orang di kota-kota di wilayah Timur. Mereka harus kaya karena mereka ‘membayar’ mahal untuk posisi terhormat mereka dengan cara membiayai pembangunan fasilitas publik, menyediakan makanan di masa bahaya, dan menyiapkan hiburan publik.19
Dari golongan aristokrat, kita berpindah kepada golongan rakyat jelata atau biasa disebut plebeians. Golongan ini mencakup semua orang yang tidak masuk tiga golongan aristokrat di atas20. Kelas dan status sosial mereka lebih tinggi dibandingkan budak dan
freedman namun dari segi perekonomian mereka sepertinya menghadapi kesulitannya sendiri. Dalam perdagangan mereka harus bersaing dengan pedagang asing yang sering memiliki modal lebih besar, sementara untuk pekerjaan-pekerjaan kasar, keberadaan budak menyulitkan mereka untuk mendapat pekerjaan21. Tantangan ini kadang menyebabkan
plebeians mengalami hidup yang susah dan berat.
Plebeians merupakan sebuah kelas sosial dengan jumlah yang banyak sehingga dimasa-masa sukar dan kacau terdapat resiko kelas sosial ini membuat kekacauan dan memberontak kepada kelas atas. Oleh karena itu pemerintah Romawi memiliki kebijakan bread and games22yaitu sebuah kebijakan untuk memberikan gandum secara gratis serta mengadakan
hiburan gratis seperti pertandingan gladiator dan balapan kereta kuda (chariot) di circus dan
amphitheatre23. Kebijakan ini bertujuan menjaga masyarakat untuk merasa puas dan tidak
berpikir untuk memberontak24.
Freedman adalah bekas budak yang dibebaskan atau membeli kebebasannya. Seorang majikan dapat membebaskan budaknya sebagai bentuk kemurahan hati atau dalam rangka
17 E. Ferguson, Op.cit., h.56-57 18 J.G. Gager, Op.cit., h.100 19 E. Ferguson, Op.cit., h.57 20 E. Ferguson, Op.cit., h.58 21 J.G. Gager, Op.cit., h.102 22 E. Ferguson, Op.cit., h.69
menambah jumlah client25 yang dimiliki sang majikan itu26.Seorang budak dari warga negara Roma akan mendapat kewarganegaraan Roma saat dibebaskan. Dengan demikian seorang
freedman mendapat hak-hak kewarganegaraan seperti menikah, memiliki properti, membuat tuntutan dan dituntut secara hukum, mengadakan kontrak atas nama mereka sendiri27. Meskipun begitu terdapat batasan hak terkait jabatan dan kelas sosial. Jabatan magisterium maupun kependetaan tertutup bagi golongan freedman dan sepanjang hidupnya seorang
freedman tetaplah seorang freedman tanpa dapat naik kelas sosial. Meskipun demikian golongan ini hanya terdiri atas satu generasi itu saja28. Anak seorang freedman mendapat kewarganegaraan penuh, dengan demikian otomatis menjadi seorang plebeians dan bebas naik turun kelas sosial. Meskipun demikian mereka mendapat stigma sosial sebagai anak
freedman29, walaupun ini tidak mempengaruhi kelas sosial mereka tetapi cibiran dan
cemoohan akibat stigma tersebut tentulah tidak menyenangkan.
Kelas sosial yang terakhir dan paling rendah adalah para budak. Perbudakan merupakan sebuah hal yang wajar dan menyebar luas dalam masyarakat Romawi. Ada berbagai kondisi yang dapat menjadikan seseorang budak seperti a) hasil / pampasan perang, perompakan dan perampokan, b) lahir dari ibu budak, c) hukuman dari pengadilan, d) menjual diri / anak sebagai pembayaran utang30. Secara status hukum, seorang budak dianggap sebagai properti dari majikannya dan dapat diperlakukan semaunya31.
Terdapat beragam jenis dan macam budak mulai dari budak kerajaan, budak rumah tangga, budak kuil, guru dan perawat sampai dengan budak tambang. Meskipun tidak ada pengkelasan para budak, namun budak-budak tertentu dapat berbangga diri dengan status mereka. Hal ini masuk akal bila melihat adanya perbedaan pekerjaan, jam kerja, perlakuan, dan kekuasan yang dimiliki (misal bandingan budak rumah tangga dengan budak tambang).32
Tanggapan
Peran kelas aristokrat di masa Roma dan masa sekarang itu menarik untuk dibandingkan. Dalam masyarakat Romawi, sekalipun aristokrat membentuk kelas yang terpisah dan mungkin sombong karena posisinya lebih tinggi daripada sebagian besar orang, namun mereka berperan aktif dan bertindak bagi masyarakat luas juga seperti menyumbang
25 Patron – client. Jenis relasi antar orang bebas didalam masyarakat Romawi yang bermanfaat untuk
uang dalam proyek pembangunan, menyediakan makanan, atau mengisi jabatan-jabatan pemerintahan. Kebersamaan dan kontribusi bagi komunitas bersama masih terasa. Hal ini tampak kontras dengan kondisi di masyarakat modern. Golongan atas cenderung lebih bebas (terlepas / tidak terikat) dan bisa bersikap acuh tak acuh bahkan tidak berkontribusi terhadap masyarakat luas. Budaya dan nuansa individualis terasa lebih kental di dunia modern.
Sistem stratifikasi terbuka dalam masyarakat Romawi ini tampaknya mendorong orang untuk berjuang dengan giat agar dapat meraih posisi yang lebih tinggi. Misalkan juga pada para budak, adanya kemungkinan untuk dibebaskan dari perbudakan dapat mendorong para budak untuk menjadi pekerja keras dan taat. Saya rasa sistem ini memiliki nilai positifnya dalam mendorong masyarakat menjadi sebuah masyarakat yang giat dan ulet. Mungkin ini h penyebab masyarakat Romawi menjadi masyarakat yang berhasil, tahan lama dan makmur.
Hal yang menarik untuk didalami adalah apakah tidak terdapat usaha-usaha atau tokoh-tokoh yang menentang sistem pengkelasan ini? Dalam sumber-sumber yang saya baca tidak ditemukan adanya kisah atau catatan mengenai usaha merubah / mereformasi sistem pengkelasan ini baik dari kalangan atas maupun dari kalangan bawah. Apakah sistem ini memang dipercaya sebagai sebuah sistem yang tepat bagi orang kala itu? Ataukah ada usaha mereformasi namun usaha-usaha itu terlalu kecil, sporadis dan tidak signifikan?
Menarik juga jika kita mencermati bahwa penulis-penulis Kristiani pun tampaknya tidak mempersoalkan adanya pengkelasan-pengkelasan tersebut atau minimal menentang adanya budak. Paling tidak mereka hanya mengingatkan bahwa mereka setara didalam Kristus.33 Apakah ini karena mereka merupakan minoritas dan kelompok yang masih kecil, sehingga mereka masih membiarkan pengkelasan itu terjadi untuk menghindari konflik yang tidak perlu? Jikalau demikian apakah memang sistem stratifikasi terbuka dalam masyarakat Romawi ini berakhir ketika Kaisar Konstantine dan penerusnya menjadikan Kristen sebagai agama negara dan mengkristenkan kekaisaran Romawi? Ataukah sistem tersebut hancur bersama dengan hancurnya peradaban Romawi (setidaknya Romawi Barat) dalam invasi orang-orang barbar?
DAFTAR PUSTAKA Sumber Buku
Ferguson, E., Backgrounds of Early Christianity, Michigan: Eerdmans Publishing Co., 2003. Gager, J.G., Kingdom and Community: The Social World of Early Christianity, New Jersey:
Prentice-Hall Inc., 1975
Joshel, S.R., Slavery in the Roman World, Cambridge University Press, 2010
https://www.boundless.com/sociology/understanding-stratification-inequality-and-social-class-in-the-u-s/social-mobility/open-versus-closed-stratification-systems/