EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR “Istilah dan Definisi Penyakit Menular”
Disusun Oleh :
Widyasmara Nur T 122110101085 Rizki Afriliana 142110101018
Maulidia Nur Rohma 142110101019
Nurul Fasilah 142110101025
Nurul Khotimah 142110101037
Faza Qonitatul’An 142110101042 Siti Indriyatul Affierni142110101078
Yuniar Rofiqotul M 142110101104 Octavia Panca Puspita Sari 152110101005 Tahta Alfiani Wuri S 152110101006
Ika Amaliya 152110101008
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS JEMBER
2017
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Epidemiologi Penyakit Menular tentang “Istilah dan Definisi Penyakit Menular”. Alasan utama terbentuknya makalah ini adalah guna melengkapi tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Epidemiologi Penyakit Menular.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat berguna dan memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
Jember, 17 Februari 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iii
BAB I PENDAHULUAN...iv
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Rumusan Masalah...2
1.3 Tujuan...2
1.3.1 Tujuan Umum...2
1.3.2 Tujuan Khusus...2
BAB II PEMBAHASAN...3
2.1 Sejarah Epidemiologi...3
1. Generasi Pertama...3
2.2 Pengertian Epidemiologi Penyakit Menular...6
2.3 Manfaat epidemiologi dalam kesehatan masyarakat...6
2.4 Tujuan...8
2.5 Istilah...9
BAB III PENUTUP...31
3.1 Kesimpulan...31
3.2 Saran...31
DAFTAR PUSTAKA...32
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pencapaian Indeks Pembangunan Manusia di berbagai negara termasuk di Indonesia tidak dapat terlepas dari segi peningkatan kualitas kesehatan. Tujuan utama dari pembangunan tersebut yaitu terciptanya lingkungan yang memungkinkan bagi masyarakat Indonesia untuk menikmati umur yang panjang, sehat serta dapat menjalankan kehidupan yang produktif (Moeloek,2015:2). Dilihat dari hal tersebut, kesehatan merupakan salah satu aspek yang penting dalam pembangunan masyarakat. Namun, hingga saat ini permasalahan kesehatan mengenai penyakit menular di Indonesia masih tergolong tinggi.
Berdasarkan data Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2015;133-134), proporsi pasien baru BTA positif diantara seluruh kasus TB paru belum mencapai target yang diharapkan yaitu minimal 65%. Pada tahun 2014 ditemukan jumlah kasus baru BTA+ sebanyak 176.677 kasus, menurun bila dibandingkan kasus baru BTA+ yang ditemukan tahun 2013 yang sebesar 196.310 kasus. Menurut jenis kelamin, kasus BTA+ pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan yaitu 1,5 kali dibandingkan kasus BTA+ pada perempuan. Pada masing-masing provinsi di seluruh Indonesia kasus BTA+ lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Disparitas paling tinggi antara laki-laki dan perempuan terjadi di Kep. Bangka Belitung, kasus pada laki-laki hampir dua kali lipat dari kasus pada perempuan. Menurut kelompok umur, kasus baru paling banyak ditemukan pada kelompok umur 25- 34 tahun yaitu sebesar 20,76% diikuti kelompok umur 45-54 tahun sebesar 19,57% dan pada kelompok umur 35-44 tahun sebesar 19,24%.
sebesar 81,3%, diikuti oleh homoseksual sebesar 5,1% dan perinatal sebesar 3,5%. Penyakit AIDS dilaporkan bersamaan dengan penyakit penyerta. Pada tahun 2014 penyakit kandidiasis, tuberkulosis, dan diare merupakan penyakit penyerta AIDS tertinggi masing-masing sebesar 1.316 kasus, 1.085 kasus, dan 1.036 kasus (Profil Kesehatan Indonesia,2015;139-140).
Berdasarkan data dan permasalan tersebut, penerapan ilmu epidemiologi penyakit menular sangat penting dalam menanggulangi dan mencegah penyebaran penyakit menular di Indonesia. Epidemiologi sendiri merupakan ilmu yang mempelajari distribusi, determinan, frekuensi penyakit, dan faktor yang mempengaruhi status kesehatan pada populasi manusia (Rajab,2009;2). Oleh karena itu, penulis tertari untuk menulis makalah dengan judul “Istilah dan Definisi Epidemiologi Penyakit Menular”.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah apa yang dimaksud dengan epidemiologi penyakit menular serta istilah dari epidemilogi penyakit menular ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui definisi beserta istilah-istilah mengenai epidemiologi penyakit menular.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui sejarah mengenai epidemiologi penyakit menular. b. Mengetahui mengenai manfaat epidemiologi penyakit menular. c. Mengetahui mengenai tujuan epidemiologi penyakit menular.
d. Mengetahui berbagai istilah mengenai epidemiologi penyakit menular.
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Sejarah Epidemiologi
Dipelopori oleh Hippocrates (bapak kedokteran modern) yang dianggap sebagai epidemiologispertama yang mengemukakan teori tentang penyebab penyakit. Ia berpendapat bahwa penyakitterjadi karena adanya kontak dengan jasad hidup yang tidak terlihat oleh mata dan penyakit berkaitan dengan lingkungan eksternal dan internal. Ia juga menduga adanya hubungan antara berbagai penyakit dan faktor tempat tinggal, geografis, kondisi air, iklim, kebiasaan makan yang mempengaruhi keseimbangan cairan tubuh. Ia juga memperkenalkan istilah epidemik dan endemik.
Selain Hippocrates, tokoh lain yang memiliki pengaruh adalah Galen, seorang ahli bedah Romawi yang dianggap sebagai bapak fisiologi eksperimental. Ia berpendapat bahwa cara hidup dan kondisi cairan tubuh diduga berhubungan dan mempengaruhi kesehatan serta timbulnya penyakit.
Thomas Sydenham (1624-1689), dianggap Hippocrates-nya orang Inggris dan dianggap sebagai bapak epidemiologi Inggris. Thomas menghubungkan terjadinya penyakit dengan udara, air, dan tempat. Noah Webster (1758-1843), seorang epidemiologis Amerika yang terkenal, berpendapat bahwa wabah berkaitan dengan faktor lingkungan tertentu.
2. Konsep Contagion Germ
Zaman ini merupakan era keemasan teori kuman. Para ilmuwan berhasil membuktikan mikroba sebagai etiologi (penyebab). Penemuan ini tidak terlepas dengan penemuan mikroskop oleh Antonio Lawenhock sehingga para ilmuwan berlomba melakukan penelitian tentang penyakit yang disebabkan oleh mikroba. Beberapa tokoh yang terkenal pada zaman ini adalah:
Hieronymous Fracastorius (1478-1553), adalah seorang dokter dan sastrawan Italia yang mempopulerkan teori konsep kuman tersebut. ia berpendapat bahwa penyakit ditularkan dari orang ke orang melalui partikel kecil yang tidak dapat dilihat.
nosokomial). Sehingga dapat disimpulkan bahwa deman “child bed fever” dapat dikurangi jika dokter yang menolong persalinan membasuh tangannya.
Edward Jenner (1749-1823), berjasa dalam penemuan vaksin cacar yang efektif.
Louis Pasteur (1822-1895), mendemonstrasikan imunisasi rabies yang efektif.
Robert Koch (1843-1910), berjasa dalam penemuan vaksin BCG.
3. Kelahiran Statistik Kehidupan
Dekade ini merupakan awal ditemukannya ilmu statistik yang sangat dibutuhkan oleh epidemiolog. Dengan pengamatan dan pencatatan data suatu kejadian penyakit, dapat diambil suatu kesimpulan atau prediksi/estimasi tentang kejadian dari awal sampai akhir penyakit tersebut. tokoh yang terkenal pada era ini adalah:
John Graunt (1622), adalah orang terpenting yang berkontribusi bagi ilmu epidemiologi pada tahap awal. Beliau merupakan penjual pakaian di kota London yang menjadi orang pertama kali mengkuantitatifkan pola penyakit penduduk. John Graunt pula yang menekankan pentingnya pengumpulan data secara rutin, sehingga pendapatnya menjadikan dasar epidemiologi modern. Hal tersebut menjadikan John Graunt sebagai pencipta dasar statistik estimasi populasi dan konstruksi life table
William Farr (1880), adalah ahli statistik Inggris yang dianggap sebagai bapak statistik kehidupan dan surveilans modern. William Farr berhasil mengembangkan analisis dari statistik kematian yang digunakan untuk mengevaluasi masalah kesehatan penduduk. Selain itu ia mengembangkan konsep populasi berisiko yang hasilnya terkenal dengan metode pemilihan kasus dan kontrol.
4. Epidemiologi Klasik
John Snow (1813-1858), terkenal sebagai bapak epidemiologi lapangan karena hasil penelusuran atau investigasinya mengenai penyebab kematian yang disebabkan oleh muntah-berak dan berhasil menyusun postulat bahwa kolera ditularkan melalui air yang tercemar. Metode investigasinya merupakan landasan langkah investigasi wabah.
P.L.Panum, dikenal karena berhasil melakukan penelitian dalam studi epidemiologi klasik tentang campak.
5. Epidemiologi Modern
Perkembangan pada bagian ini mengarah pada pemahaman hubungan sebab-akibat terhadap berbagai peristiwa penyakit serta gangguan kesehatan. Hal ini lebih menuntun para ahli untuk menggunakan model pendekatan sistem. Analisis didasarkan pada sekelompok faktor yang saling berkaitan erat dalam bentuk hubungan yang konsisten. Tokoh yang menonjol pada era ini adalah:
Doll dan Hill (1950), melalui studinya mengenai hubungan merokok dan kanker paru dan sampai sekarang ini tidak ada yang menyangkal hasil studinya bahwa merokok dapat mengakibatkan kanker paru.
Salk melakukan studi uji komunitas vaksin polio dan Framingham heart study, terkenal dengan studi Kohort penyakit kardiovaskuler.
Dari berbagai perkembangan tersebut di atas, para ahli kesehatan masyarakat khususnya epidemiologi mulai mengembangkan metode epidemiologi, yaitu suatu metode pendekatan ilmiah yang diarahkan pada analisis faktor penyebab serta hubungan sebab-akibat. Di samping itu dikembangkan epidemiologi sebagai bagian dari ilmu kesehatan masyarakat.
2.2 Pengertian Epidemiologi Penyakit Menular a. Pengertian epidemiologi
Jadi epidemilogi adalah ilmu yang mempelajari tentang penduduk. sedangkan dalam pengertian modern pada saat ini epidemiologi adalah : “ilmu yang mempelajari tentang frekuensi dan distribusi (penyebaran) serta determinat masalah kesehatan pada sekelompok orang/masyarakat serta determinannya (faktor – factor yang mempengaruhinya).
b. Pengertian penyakit menular
Penyakit yang disebabkan oleh penularan dari suatu agent infeksi atau produk racunnya dari orang atau hewan yang terinfeksi ke penjamu yang peka baik secara langsung maupun tidak. Tiga Kelompok utama penyakit menular yaitu :
1. Penyakit yang sangat berbahaya karena angka kematian cukup tinggi. 2. Penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan kematian dan
cacat, walaupun akibatnya lebih ringan dari yang pertama
3. Penyakit menular yang jarang menimbulkan kematian dan cacat tetapi dapat mewabah yang menimbulkan kerugian materi.
c. Pengertian Epidemiologi Penyakit Menular
Merupakan studi epidemiologi yang berfokus pada distribusi dan determinan penyakit menular.
2.3 Manfaat epidemiologi dalam kesehatan masyarakat 1. Membantu pekerjaan administrasi kesehatan
Membantu pekerjaan dalam perencanaan (Planing) dari pelayanan kesehatan, pemantauan (Monitoring), dan penilaian (Evaluation) suatu upaya kesehatan. 2. Menerangkan penyebab suatu masalah kesehatan
Dengan diketahuinya penyebab masalah kesehatan maka dapat disusun langkah-langkah penanggulang\]an selanjutnya, baik bersifat pencegahan ataupun bersifat pengobatan.
3. Menerangkan perkembangan alamiah suatu penyakit
Melalui pemanfaatan keterangan tentang frekuensi dan penyebaran penyakit terutama penyebaran penyakit menurut waktu. Dengan diketahuinya waktu muncul dan berakhirnya suatu penyakit, maka dapatlah diperkirakan perkembangan penyakit tersebut.
4. Untuk mempelajari riwayat penyakit
a. Epidemiologi mempelajari tren penyakit untuk memprediksi tren penyakit yang mungkin akan terjadi.
5. Diagnosis masyarakat
a. Memberikan gambaran Penyakit, kondisi, cedera, gangguan, ketidakmampuan, defek/cacat apa sajakah yang menyebabkan kesakitan, masalah kesehatan, atau kematian di dalam suatu komunitas atau wilayah 6. Mengkaji risiko yang ada pada setiap individu karena mereka dapat
mempengaruhi kelompok maupun populasi
a. Faktor risiko, masalah, dan perilaku apa sajakah yang dapat mempengaruhi kelompok atau populasi.
b. Setiap kelompok dikaji dengan melakukan pengkajian terhadap faktor risiko dan menggunakan tekhnik pemeriksaan kesehatan, misalnya risiko kesehatan, pemeriksaan , skrining kesehatan, tes kesehatan, dll.
7. Pengkajian, evaluasi, dan penelitian
a. Memberikan manfaat dan menilai sebaik apa pelayanan kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan dalam mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhan populasi atau kelompok.
b. Untuk mengkaji keefektifan, efisiensi, kualitas, kuantitas, akses, ketersediaan layanan untuk mengobati, mengendalikan atau mencegah penyakit, cedera, ketidakmampuan atau kematian.
8. Melengkapi gambaran klinis
a. Berguna dalam Proses identifikasi dan diagnosis untuk menetapkan bahwa suatu kondisi memang ada atau bahwa seseorang memang menderita sindrom, misalnya sindrom down, fetal alcohol, kematian mendadak pada bayi.
10. Menentukan penyebab dan sumber penyakit
a. Temuan epidemiologi memungkinkan memberi manfaat dalam dilakukannya pengendalian, pencegahan, dan pemusnahan penyebab penyakit, kondisi, cedera, ketidakmampuan atau kematian. (Timmreck, 2004)
2.4 Tujuan
1. Untuk mengetahui berbagai fakta dan data tentang berbagai masalah yang ada dalam masyarakat.
3. Untuk mengetahui dalam merencanakan pemecahan masalah dan evaluasi aktivitas pelaksanannya.
4. Untuk mengetahui status kesehatan penduduk, dan menetapkan prioritas masalah dalam perencanaan.
5. Untuk mengetahui riwayat alamiah suatu penyakit atau masalah kesehatan, upaya bagi pencegahan, dan mekanisme pengendalian.
6. Untuk mengetahui penyebab faktor resiko suatu penyakit.
7. Untuk mengetahui sistem pengendalian dan pemberantasan penyakit dalam suatu sistem administrasi.
2.5 Istilah
1. “Carrier”
Orang atau binatang yang mengandung bibit penyekit tertentu tanpa menunjukkan gejala klinis yangjelas dan berpotensi sebagai sumber penularan penyakit. Status sebagai “carrier” bisa bertahan dalam individu dalam waktu yang lama dalam perjalanan penyakit tanpa menunjukkan gejala klinis yang jelas, (dikenal sebagai carrier sehat atau “asymptomatic carrier”). Bisa juga status “carrier” ini terjadi pada waktu masa inkubasi, pada masa “convalescence” atau sesudah masa “convalescence” dimana disini gejala klinis penyakitnya jelas (dikenal sebagai “carrier” inkubasi atau “concalescence carrier”). Dari berbagai jenis “carrier” diatas, status “carrier” bisa pendek bisa sangat panjang (disebuat sebagai “carrier” sementara atau “transient carrier” atau “carrier” kronis).
2. “Case Fataly Rate”
(Angka Kematian Kasus) : Biasanya dinyatakan dalam presentase orang yang didiagnosa dengan penyakit tertentu kemudian meninggal karena penyakit tersebut dalam kururn waktu tertentu.
3. “Chemoprophylaxis”
penularan penyakit kepada orang lain. Sedangkan “Chemotherapy” dimaksudkan pemberian bahan kimia dengan tujuan untuk mengobati suatu penyakit yang secara klinis sudah manifes dan untuk mencegaj perkembangan penyakit lebih lanjut.
4. Pembersihan
Menghilangkan bahan organic atau bahan infeksius dri suatu permukaan dengan cara mencuci dan menggosok menggunakan deterjen atau pembersih vacuum dimana agen infeksi ini kemungkinan tempat yang cocok untuk hidup dan berkembang biak pada permukaan tersebut.
5. Penyakit Menular
Penyakit yang disebabkan oleh bibit penyakit tertentu atau oleh produk toxin yang didapatkan melalui penularan bibit penyakit atau toxin yang diproduksi oleh bibit penyakit tersebut dari orang yang terinfeksi, dari binatang atau dari reservoir kepada orang yang rentan; baik secara langsung maupun tidak langsung melalui tumbuh-tumbuhan atau binatang pejamu, melalui vector atau melalui lingkungan.penyakit yang dapat ditularkan atau berpindah dari orang yang sakit ke orang yang sehat atau belum terkena penyakit menular tersebut. Penularan penyakit tersebut dapat terjadi baik melalui perantara maupun secara langsung.
6. Masa Penularan
penularannya berlangsung lama dan terkadang intermiten pada saat lesi kronis secara terus menerus mengeluarkan cairan yang infeksius dari permukaan atau lubang-lubang tubuh.
Untuk penyakit yang ditularkan oleh arthropoda seperti malaria, demam kuning, masa penularannya atau masa infektivitasnya adalah pada saat bibit penyakit ada dalam jumlah cukup dalam tubuh manusia baik itu dalam darah maupun jaringan tubuh lainnya dari orang yang terinfeksi sehingga memungkinkan vector terinfeksi dan menularkannya kepada orang lain.
Masa penularan untuk vector arthropoda yaitu pada saat bibit penyakit dapat disemikan dalam jaringan tubuh arthropoda dalam bentuk tertentu dalam jaringan tertentu (stadium infektif) sehingga dapat ditularkan.
7. Kontak
Orang atau binatang sedemikian rupa mempunyai hubungan dengan orang atau binatang yang sakit atau dengan lingkungan yang tercemar yang menyebabkan mereka kemungkinan besar terkena infeksi
8. Kontaminasi
Ditemukannya bibit penyakit dipermukaan tubuh, pakaian, tempat tidur, mainan anak-anak, instrumen, duk atau pada benda-benad lainnya termasuk air dan makanan. Polusi berbeda dengan kontaminasi, dimana polusi diartikan adanya bahan pencemar dalam jumlah yang berlebihan di dalam lingkungan dan tidak harus berupa agen insfeksius. Kontaminasi permukaan tubuh manusia tidak berati orang tersebut berperan sebagai “carrier”.
9. Disinfektan
Upaya untuk membunuh bibit penyakit di luar tubuh manusia dengan menggunakan bahan kimia atau bahan fisis. Disinfektan pada tingkat yang tinggi akan membunuh semua mikro organisme kecuali spora. Diperlukan upaya lebih jauh untuk membunuh spora dari bakteri.
selama 30 menit 75o C (167o F) atau dengan menggunakan disinfektan yang sudah direkomendasikan oleh EPA.
Disinfektasi Segera, adalah disinfektasi yang dilakukan segera setelah lingkungan tercemar oleh cairan tubuh dari orang yang sakit atau suatu barang yang tercemar oleh bahan infeksius. Sebelum dilakukan disinfektasi terhadap barang atau lingkungan maka upayakan agar sesedikit mungkin kontak dengan cairan tubuh atau barang-barang yang terkontaminasi tersebut.
Disinfektasi Terminal, adalah upaya disinfektasi yang dilakukkan setelah penderita meninggal, atau setelah penderita dikirm ke Rumah Sakit, atau setelah penderita berhenti sebagai sumber infeksi, atau setelah dilakukan isolasi di Rumah Sakit atau setelah tindakan-tindakan lain dihentikan. Disinfektasi terminal jarang dilakukan; biasanya melakukan pemebersihan terminal sudah mencukupi dilakukan bersama-sama dengan aerasi kamar serta membiarkan sinar matahari masuk kamar sebanya-banyaknya menyinari ruangan tempat tidur dan meja kursi. Disinfektasi hanya diperlukan untuk penyakit yang ditularkan secara tidak langsung; sentralisasi dengan uap atau Insenerasi tempat tidur dan peralatan lain dianjurkan untuk penyakit demam Lassa atau penyakit yang sangat infeksius lainnya.
Sterilisasi, adalah penghancuran semua bentuk dari bibit penyakit baik dengan cara memanaskan, penyinaran, menggunakan gas (ethylene oksida, formaldehyde) atau denganpemberian bahan kimia.
10. Disnfestasi
Tindakan yang dilakukan baik fisis maupun kimiawi dengan maksud untuk menghancurkan atau menghilangkan binatang-binatang kecil yang tidak diinginkan khususnya arthropoda atau rodensia yang hadir di lingkungan manusia, binatang peliharaan, dipakaian (lihat Insektisida dan Rodentisida).
Disinfestasi termasuk menghilangkan kutu yaitu Pediculus humanus, pada manusia.
Synonim dari disinfestsai adalah disinseksi, disinsektisasi jika yang dihilangkan hanya insekta.
11. Endemis
Hyperendemis adalah keadaan diman penyakit tertentu selalu ditemukan di suatu wilayah dengan insiden yang tinggi. Dan Holoendemis adalah keadaan dimana suatu penyakit selalau ditemukan di suatu wilayah dengan prevalensi yang tinggi, awalnya menyerang penduduk usia muda dan menimpa sebagian besar penduduk contohnya malaria di daerah tertentu (lihat zoonosis).
12. Epidemi (Wabah)
Timbulnya suatu penyakit yang menimpa sekelompok masyarakat atau suatu wilayah dengan angka kejadian yang melebihi angka normal dari kejadian penyakit tersebut. Beberapa jumlah penderita untuk bisa dikatakan telah terjadi Epidemi sangat tergantung dari jenis penyakit, jumlah dan tipe penduduk yang tertimpa, pengalaman masa lalau, jarangnya terpajan dengan penyakit tersebut, waktu dan tempat kejadian. Dengan demikian epidemisitas sangat relatif tergantung kepada bagaumana kejadian biasanya dari penyakit tersebut di suatu wilayah yang sama, pada penduduk tertentu pada musim yang sama.
Sebagai contoh satu kasus penyakit tertentu yang lama tidak muncul kemudian tiba-tiba muncul atau suatu kasus penyakit yang sebelumnya belum pernah dikenal, muncul maka segera harus dilakukan penyelidikan epidemiologis dan juika kemudian penyakit tersebut menjadi dua kasus dalam waktu yang cepat di tempat tersebut maka ini sebagai bukti telah terjadi penularan dan dianggap telah terjadi epidemi (lihat laporan suatu penyakit dan zoonosis).
13. Penyinaran Makanan
Adalah teknologi tertentu yang dapat memberikan dosis spesifik dari radiasi pengion dari suatu sumber radio isotope (Cobalt 60) atau dari mesin yang dapat menghasilkan sinar electron atau sinar X. Dosis yang diperlukan untuk penyinaran makanan dan alat-alat : rendah yaitu sekitar 1 kilo Grays (kGy) atau kurang, digunakan untuk sisinfeksi insekta dari buah-buahan, bumbu atau biji-bijian; disinfeksi parasit dari ikan dan daging; medium 1 – 10 kGy (biasanya 1-4 kGy), dipakai untuk pasteurisasi dan untuk menghancurkan bakteri dan jamur, dan tinggi 10 – 15 kGy, digunakan untuk sterilisasi makanan, peralatan medis dn alat kesehatan (cairan iv, implan, semprit, jarum suntik, benang, klip, jas operasi, duk).
Adalah proses yang ditujukan untik membunuh binatang tertentu seperti arthropoda dan rodensia dengan menggunakan gas kimia (lihat insektisida dan rodentisida).
15. Penyuluhan Kesehatan
Adalah suatu proses yang ditujukan kepada individu atau kelompok penduduk agar mereka bisa berperilaku sehat dalam menjaga dan memelihara kesehatan mereka. Penyuluhan kesehatan dimulai dari masyarakat dalam keadaan seperti apa adanya yaitu pandangan mereka selama ini terhadap masalah kesehatan. Dengan memebrikan penyuluhan kesehatan kepada mereka dimaksudkan untuk mengembangkan sikap dan tanggung jawab sebagai individu, anggota keluarga, anggota masyarakat dalam masalah kesehatan. Khusus kaitannya dengan pemberantasan penyakit menular maka penyuluhan kesehatan ditujukan kepada upaya peningkatan pengetahuan masyarakat tentang penyakit menular, penilaian terhadap perilaku masyarakat yang ada kaitannya dengan penyebaran serta peningkatan frekuensi penyakit menular, pengenalan cara-cara pengobatan (Synonim : pendidikan penderita, pendidikan untuk kesehatan, pendidikan kepada masyarakat, pendidikan kesehatan masyarakat). 16. Kekebalan Kelompok (Herd inmunixty)
Adalah kekebalan dari sekelompk orang atau masyarakat. Kemampuan dari sekelompok orang untuk menanngkal invasi atau penyebaran suatu penyakit infeksi jika mereka yang kebal mencapai proporsi yang cukup tinggi di masyarakat.
17. Pejamu/Tuan Rumah/Inang
18. Individu yang Kebal
Adalah orang atau binatang yang memiliki antibody spesifik dan atau memiliki antibody seluler akibat infeksi atau pemberian imunisasi yang dialami sebelumnya. Atau suatu kondisi sebagai akibat pengalaman spesifik sebelumnya sebagai suatu respons sedemikian rupa yang mencegah berkembangnya penyakit terhadap reinfeksi dari bibit penyakit tertentu. Tingkat imunitas seseorang sangat relatif; tingkat perlindungan tertentu mungkin cukup kuat terhadap infeksi yang biasanya tetapi tidak mencukupi untuk infeksi yang berat atau infeksi yang melewati “Port d’entre” yang tidak biasanya; Daya lindung juga berkurang pada pemberian pengobatan “immumosuppressive” atau karena menderita penyakit lain dan proses ketuaan (lihat Resistensi).
19. Imunitas
Adalah kekebalan yang dikaitkan dengan adanya antibody atau sel yang mempunyai tanggap kebal terhadap mikro organisme dari penyakit infeksi tertentu atau terhadap toksinnya. Kekeblan yang efektif meliputi kekebalan seluler berkaitan dengan sentisisai T-Lymphocite dan atau imunitas humoral yang didasarkan kepada reaksi B-Lymphocite.
Kekebalan Pasif di dapat baik secara alamiah maupun didapat dari ibu melalui ari ari, atau didapat secara buatan dengan memberikan suntikan zat kebal (dari serum binatang yang sudah dikebalkan, serum hiperium dari orang yang baru sembuh dari penyakit tertentu atau “human immune serum globulin”; kekebalan yang diberikan relatif pendek (beberapa hari atau beberapa).
Imunitas humorial aktif, hilang setelah beberapa tahun yang didapat baik secara alamiah karena infeksi dengan atau tanpa gejala klinis atau diperoleh secara buatan dengan menyuntikkan agen infeksi yang sudah dibunuh atau dilemahkan atau dalam bentuk vaksinnya ke dalam tubuh manusia.
20. Infeksi yang tidak kelihatan (Inapparent Infection)
Adalah terjadinya infeksi pada pejamu tanpa disertai dengan gejala klinis yang jelas. Infeksi ini hanya bisa diketahui melalui pemeriksaan laboratorium seperti melalui pemeriksaan darah, skin test (Synonim; asymptomatik, subklinis, “occult infection”)
21. Angka Insidensi (Incidence Rate)
penyakit tersebut berjanngkit. Biasanya dinyatakan dalam jumlah kasus per 1000 dtau per 100.000 penduduk per tahun. Angka ini bisa diberlakukan bagi umur tertentu, jenis kelamin tertentu atau karakteristik spesifik dari penduduk. (lihat Angka morbiditas, Angka Prevalensi).
“Attack rate” atau “Case Rate” adalah proporsi yang menggambarkan insidensi kumulatif dari kelompok tertentu, yang diamati dalam waktu yang terbatas dalam situasi tertentu misalnya pada waktu terjadi kejadian luar biasa atau wabah. Dinyatakan dalam prosentase (jumlah kasus per 100 penduduk).
Sedangkan “Attack rate” Sekunder adalah jumlah penderita baru yang terjadi dalam keluarga atau institusi dalam periode masa inkubasi tertentu setelah terjadi kontak dengan kasus primer, dihubungkan dengan total keseluruhan kontak; deniominatornya/penyebutnya bisa terbatas hanya kepada kontak yang rentan saja jika hal ini diketahui dengan jelas.
Angka Infeksi adalah proporsi yang menggambarkan insidensi dari semua infeksi yang terjadi baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. 22. Masa Inkubasi
Interval waktu antara kontak awal dengan bibit penyakit dan awal munculnya gejala penyakit yang dikaitkan dengan infeksi tersebut. Didalam tubuh vector adalah waktu antara msauknya mikro organisme ke dalam tubuh vector dan waktu dimana vector tersebut mampu menyebarkan penyakit (Masa Inkubasi Ekstrinsik).
Waktu antara orang terpajan dengan parasit sampai ditemukannya parasit tersebut dalam darah atau feces dinamakan masa percobaan.
23. Orang yang terinfeksi
Adalah seseorang atau binatang yang mengandung bibit penyakit baik dia menunjukkan gejala klinis maupun tidak (lihat pasien atau orang sakit), atau infeksi yang tidak kelihatan (lihat Carrier). Orang atau binatang yang infeksius adalah dari mana bibit penyakit secara alamiah bisa didapat.
24. Infeksi
permukaan tubuh, dipermukaan alat-alat, pada alat-alat yang tercemar tanah disebut sebagai kontaminasi (lihat infestrasi dan kontaminasi) bukan infeksi. 25. Agen Infeksius
Adalah organisme (virus, rickettsia, bacteria, fungus, protozoa, cacing) yang bisa menimbulkan infeksi atau penyakit infeksi.
26. Infektivitas
Menunjukkan kemampuan dari agen infeksius untuk masuk, hidup dan berkembang biak di dalam tubuh pejamu; contohnya Rabies : melalui gigitan binatang.
27. Tingkat infeksius
Adalah tingkat kemudahan dari bibit penyakit tertentu ditularkan dari satu pejamu ke pajamu lain. Contohnya terdapat arga yang terkena flu dan batuk hal ini bisa menular ke orang lain bisa melalui kontak langsung seperti melalui sentuhan percikan pada waktu orang lain bersin, batuk.
28. Penyakit Infeksius
Penyakit pada manusia atau binatang yang manifes secara klinis sebagai akibat dari infeksi. Contoh yang disebabkan oleh Bakteri, TBC : ditularkan memalui udara, Tetanus : melalui luka yang kotor, Mencret : lalat, air dan jari yang kotor, Pneumonia : lewat batuk (udara). Disebabkan oleh Virus, Selesma, influenza, campak, gondok : ditularkan melalui udara, batuk, ataupun lalat, Rabies : melalui gigitan binatang, Penyakit kulit : melalui sentuhan. Disebabkan oleh Jamur Kurap, kutu air, dan gatal pada lipatan paha : ditularkan melalui sentuhan atau dari pakaian yang di pakai secara bergantian. Disebabkan oleh Parasit internal (hewan berbahaya yang hidup di dalam tubuh) Malaria : malalui gigitan nyamuk.
29. Infeksi Nosokomial
Infeksi yang terjadi pada pnederita yang sedang dirawat di Rumah Sakit dimana infeksi ini belum ada pada waktu penderita masuk ke Rumah Sakit; atau infeksi residual pada waktu dirawat di Rumah Sakit sebelumnya. Termasuk juga infeksi yang muncul setelah penderita keluar Rumah Sakit, dan juga infeksi yang mengenai staf dan fsailitas Rumah Sakit (synonym : infeksi yang didapat di Rumah Sakit).
30. Infestasi
tempat atau peralatan yang terinfestasi adalah apabila alat atau tenpat tersebut memberikan tempat berteduh bagi arthropoda atau rodensia.
31. Insektisida
Bahan kimia yang dipakai untuk memusnahkan insekta, pemakaiannya bisa dalam bentuk tepung, cairan, cairan yang dibuat menjadi pertikel, aerosol, disemprotkan baik yang menggunakan residu maupun tidak. Contoh produk pembasmi serangga atau insektisida digunakan untuk membunuh serangga yang merusak atau mengganggu manusia, seperti nyamuk, lalat, dan kecoa.
32. Larvasida
Istilah yang digunakan bagi bahan kimia yang dipakai untuk bahan kimia yang digunakan untuk membunuh bentuk dewasa dari arthropoda. Istilah Insektisida kerap dipakai untuk membunuh kutu dan agas.
33. Isolasi
Dilakukan terhadap penderita, isolasi menggambarkan pemisahan penderita atau pemisahan orang atau binatang yang terinfeksi selama masa inkubasi dengan kondisi tertentu untuk mencegah/mengurangi terjadinya penularan baik langsung maupun tidak langsung dari orang atau binatang yang rentan.
34. Moluskasida
Bahan kimia yang dipakai untuk membunuh keong dan mollusca lainnya. 35. Angka Kesakitan
Adalah angka insidensi yang dipakai untuk menyatakan jumlah keseluruhan orang yang menderita penyakit yang menimpa sekelompok penduduk pada periode waktu tertentu. Sekelompok penduduk bisa mengacu pada jenis kelamin tertentu, umur tertentu atau yang mempunyai cirri-ciri tertentu.
36. Angka Kematian
Angka yang perhitungannya sama dengan perhitungan angka insidensi yaitu pembilangnya (Numerator) adalah jumlah mereka yang mati pada periode waktu tertentu yang menimpa sekelompok penduduk, biasanya dalam satu tahun, sedangkan penyebutnya (Denominator) adalah jumlah orang yang mempunyai resiko mati pada paeriode yang sama.
37. Angka Kematian Kasar
Untuk penyakit tertentu adalah jumlah kematian oleh sebab penyakit tertentu saja, biasanya terhadap 100.000 penduduk. Penduduk bisa dirujuk berdasarkan umur, jenis kelamin atau ciri-ciri lainya
39. Patogenisitas
Adalah kemampuan yang dimiliki oleh bibit penyakit untuk membuat orang menjadi sakit, atau untuk membuat sekelompok penduduk yang terinfeksi menjadi sakit.
40. Penderita atau Orang Sakit
Adalah orang yang menderita suatu penyakit. 41. Higiene Perorangan
Dalam bidang peberantasan penyakit menular maka upaya untuk mellindungi diri terhadap penyakit menjadi tanggung jawab individu dalam menjaga kesehatan mereka dan mengurangi penyebaran penyakit, terutama penyakit yang ditularkan melalui kontak langsung.
42. Angka Prevalensi
Jumlah keseluruhan orang yang sakit yang menggambarkan kondisi tertentu yang menimpa sekelompok penduduk tertentu pada titik waktu tertentu (Point Prevalence), atau pada periode waktu tertentu (Period Prevalence), tanpa melihat kapan penyakit itu mulai dibagi dengan jumlah penduduk yang mempunyai resiko tertimpa penyakit pada titik waktu tertentu atau periode waktu tertentu.
43. Karantina
Pembatasan aktivitas yang ditujukan terhadap orang atau binatang yang telah kont ak dengan orang/binatang yang menderita penyakit menular pada masa penularan (lihat Kontak). Tujuannya adalah untuk mencegah penularan penyakit pada masa inkubasi jika penyakit tersebut benar-benar diduga akan terjadi. Ada dua jenis tindakan karantina yaitu :
a. Karantina Absolut atau Karantina Lengkap : ialah pembatasan ruang gerak terhadap mereka yang telah terpajan dengan penderita penyakit menular. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk mencegah orang ini kontak dengan orang-orang lain yang belum terpajan.
untuk menghadapi situasi tertentu. Sebagai contoh misalnya melarang anak-anak tertentu masuk sekolah. Pengecualian terhadap anak-anak-anak-anak yang sudah dianggap kebal terhadap tindakan-tindakan tertentu yang ditujukan kepada anak-anak yang rentan. Pembatasan yang dilakukan terhadap annggota militer pada pos-pos atau asrama-asrama militer.
44. Surveilans Individu
Pengamatan medis yang ketat dilakukan terhadap individu yang diduga terpajan dengan sumber penyakit agar timbulnya gejala penyakit dapat segera diketahui tanpa membatasi ruang gerak mereka.
45. Repelan
Adalah bahan kimia yang digosokkan di kulit, pakaian atau tempat lain dengan maksud mencegah serangga menggigit/menyerang, pencegah larva cacing masuk melalui kulit. Contoh ketika kita memakai autan dengan maksud agar tidak digigit nyamuk.
46. Pelaporan Penyakit
Pelaporan penyakit adalah laporan resmi yang ditujukan kepada pejabat kesehatan yang berwenang berisikan kejadian penyakit yang menimpa orang atau binatang. Penyakit yang menimpa manusia dilaporkan ke Dinas Kesehatan setempat sedangkan penyakit yang menyerang binatang/ternak dilaporkan kepada Dinas Pertanian/Dinas Peternakan. Pejabat Kesehatan yang berwenang akan menerbitkan daftar dari penyakit-penyakit yang harus dilaporkan sesuai dengan keperluan. Laporan penyakit juga meliputi penyakit-penyakit yang diduga memerlukan tindakan investigasi atau pemberantasan tertentu jika seseorang mendapatkan infeksi daerah tertentu sedangkan laporan penyakitnya dilaporkan di daerah lain, dan kemudian pemberitahuan mengenai asal daerah penyakit tersebut. Hal ini penting dilakukan terutama jika diperlukan pemeriksaan kontak (contact person), pemeriksaan makanan atau jika diperlukan pemeriksaan air atau barang-barang lain yang diduga sebagai sumber infeksi (Kandun, 2000 : xliv).
Pelapoan khusus yang diperlukan dalam IHR (International Health Regulation) tercantum dalam Pelaporan Penyakit Menular (Kandun, 2000 : xlv).
47. Reservoir (dari penyakit infeksi)
Reservoir (dari penyakit infeksi) merupakan tempat perkembangbiakan dan bertahan hidup serta sangat tergantung dengan inang tempatnya menumpang. Bibit penyakit tersebut berkembang biak sedemikian rupa sehingga dapat ditularkan kepada inang lain yang rentan. Terdapat ada 2 tipe reservoir yaitu pada manusia dan hewan (Kandun, 2000 : xlv).
a. Reservoir pada Manusia
Pada penyakit menular, sumber infeksi berasal dari orang yang sedang mengalami infeksi dapat berupa kasus atau karier. Karier terjadi karena proses penyembuhan tidak sempurna dan secara bakteriologis agen penyakit masih ada dalam tubuh. Contohnya; penyakit demam tifoid (Chandra, 2009:23).
Kasus dapat berbentuk subklinis dan klinis. Pada kasus subklinis tidak ditemukan gejala penyakit atau bersifat asimtomatis tetapi berpotensi untuk menularkan infeksi kepada orang lain. Contoh; penyakit poliomyelitis (Chandra, 2009:23).
b. Reservoir Hewan
Sumber infeksi dapat berasal dari hewan atau burung dan berupa kasus atau karier seperti pada manusia (Chandra, 2009:23).
48. Resistensi
Resistensi merupakan resultante dari mekanisme tubuh yang dapat menghalangi atau mencegah invasi, multiplikasi dari bibit penyakit ke dalam tubuh atau mencegah terjadinya kerusakan jaringan yang diakibatkan oleh racun yang dikeluarkan oleh bibit penyakit (Kandun, 2000 : xlv).
a. Resistensi Inheren
daya tahan ini biasanya dalam bentuk struktur anatomis dan fisiologis yang menjadi ciri individu dan didapatkan secara genetis baik bersifat permanen ataupun temporer (Kandun, 2000 : xlv).
49. Rodentisia
Rodentisia merupakan suatu bahan kimia yang dipergunakan untuk membunuh rodent, umumnya setelah ditelan oleh rodent tersebut (Kandun, 2000 : xlvi).
50. Sumber Infeksi
Sumber infeksi merupakan orang, binatang, barang/bahan yang menjadi bibit penyakit ditularkan kepada orang lain. Sumber infeksi harus dibedakan dengan sumber kontaminasi ialah sebagai contoh septic tank yang meluap mencemari sumber air (Kandun, 2000 : xlvi).
51. Surveilans Penyakit
Surveilans penyakit merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus dengan melihat seluruh aspek dari muncul dan menyebarnya suatu penyakit agar dapat dilakukan penanggulangan yang efektif (Kandun, 2000 : xlvi).
a. Surveilans Serologis ialah kegiatan yang mengidentifikasi pola infeksi masa lalu sampai saat ini dengan menggunakan pemeriksaan serologis (Kandun, 2000 : xlvi).
Didalam surveilans penyakit meliputi pengumpulan secara sistematik dan evaluasi dari;
1. Laporan kesakitan dan kematian.
2. Laporan khusus dari hasil investigasi atau dari perseorangan. 3. Isolasi dan identifikasi dari bahan infeksius oleh laboratorium.
4. Data tentang ketersediaan dan pemakaian serta dampak dari pemakaian vaksin dan toxoids, globulin imun, insektisida dan bahan-bahan yang digunakan dalam pemberantasan.
5. Informasi yang berkaitan dengan tingkat imunitas dari segmen masyarakat tertentu.
b. Surveilans epidemiologi
Penelitian atau survei di lapangan terhadap segala sesuatu yang diduga penyebab terjadinya penyakit (Chandra, 2009:36).
52. Susceptible (Retan)
Susceptible (Retan) merupakan seseorang atau binatang yang tidak memiliki daya tahan cukup untuk melawan bibit penyakit tertentu untuk mencegah dirinya tertulari jika mereka terpajan dengan bibit penyakit tersebut serologis (Kandun, 2000 : xlvii).
53. Tersangka
Tersangka merupakan arti tersangka dalam pemberantasan penyakit menular dimaksudkan adalah kesakitan yang diderita seseorang dimana gejala dan perjalanan penyakitnya mengidentifikasi bahwa mereka kemungkinan menderita sesuatu penyakit menular tertentu serologis (Kandun, 2000 : xlvi). 54. Penularan Penyakit Infeksi
Penularan penyakit infeksi merupakan mekanisme penyakit infeksi ditularkan dari suatu sumber atau reservoir kepada seseorang. Mekanisme tersebut adalah sebagai berikut;
a. Penularan Langsung merupakan mekanisme menularkan bibit penyakit langsung dari sumbernya kepada orang atau binatang lain melalui “Port d’entre”. Penularannya melalui kontak langsung sepeti sentuhan, gigitan, ciuman, hubungan seksual, percikan yang mengenai conjunctiva, selaput lender dari mata, hidung atau mulut pada waktu yang lain bersin, batuk, meludah, atau saat berbicara serologis (Kandun, 2000 : xlvii). Jenis penyakit yang ditularkan, antara lain; penyakit kelamin, trakoma, antraks, penyakit pada kaki dan mulut, HIV (AIDS), Skabies, Gas-gangrean, Rabies, dan Erispelas (Chandra, 2009:25).
b. Penularan Tidak Langsung merupakan penularan yang ditularkan melalui perantara antara lain yaitu;
1. Penularan melalui alat-alat/barang yang terkontaminasi
duk; air, makanan, susu, produk biologi seperti darah, serum, plasma,jaringan organ tubuh kemudian menjadi perantara untuk mengangkut atau membawa bibit penyakit kepada orang/binatang yang rentan dan masuk melalui “Port d’entre” yang sesuai. Bibit penyakit dapat juga berkembang biak tidak pada alat sebelum ditularkan pada orang/ binatang yang rentan (Kandun, 2000 : xlix).
2. Penularan melalui vektor
Penularan melalui vektor atau Arthroped-borne disease dan sering juga disebut vector-borne disease merupakan penyakit penting yang bersifat endemis maupun epidemis dan sering menimbulkan bahaya kematian (Chandra, 2009:27).
Secara umum ada 3 cara transmisi Arthroped-borne disease pada manusia yaitu melalui; (Chandra, 2009:30).
a) Transmisi secara langsung
Arthropoda secara langsung memindahkan penyakit atau infestasi dari satu orang ke orang lain melalui ontak lansung. Contoh: Skabies,Pedikulus).
b) Transmisi secara mekanik
Arthropoda sebagai vektor mekanik membawa agen penyakit dari manusia, yaitu dari tinja, darah, ulkus superfisial atau eksudat. Kontaminasi bisa hanya dari permukaaan turbuh arthropoda tapi juga bisa dari sesuatu yang sudah dicernakan dan kemudian dimuntahkan atau dikeluarkan melalui tinja vektor (30). Selain itu juga ditularkan dengan cara terbawanya bibit penyakit pada saat merayap di tanah baik.
55. Penularan Penyakit Infeksi
Penularan penyakit infeksi merupakan mekanisme penyakit infeksi ditularkan dari suatu sumber atau reservoir kepada seseorang. Mekanisme tersebut adalah sebagai berikut;
ciuman, hubungan seksual, percikan yang mengenai conjunctiva, selaput lender dari mata, hidung atau mulut pada waktu yang lain bersin, batuk, meludah, atau saat berbicara serologis (Kandun, 2000 : xlvii). Jenis penyakit yang ditularkan, antara lain; penyakit kelamin, trakoma, antraks, penyakit pada kaki dan mulut, HIV (AIDS), Skabies, Gas-gangrean, Rabies, dan Erispelas (Chandra, 2009:25).
d. Penularan Tidak Langsung merupakan penularan yang ditularkan melalui perantara antara lain yaitu;
1. Penularan melalui alat-alat/barang yang terkontaminasi
Penularan dapat berasal dari mainan anak, sapu tangan, kain kotor, tempat tidur, alat masak atau alat makan, instrument bedah atau duk; air, makanan, susu, produk biologi seperti darah, serum, plasma,jaringan organ tubuh kemudian menjadi perantara untuk mengangkut atau membawa bibit penyakit kepada orang/binatang yang rentan dan masuk melalui “Port d’entre” yang sesuai. Bibit penyakit dapat juga berkembang biak tidak pada alat sebelum ditularkan pada orang/ binatang yang rentan (Kandun, 2000 : xlix).
2. Penularan melalui vektor
Penularan melalui vektor atau Arthroped-borne disease dan sering juga disebut vector-borne disease merupakan penyakit penting yang bersifat endemis maupun epidemis dan sering menimbulkan bahaya kematian (Chandra, 2009:27).
Secara umum ada 3 cara transmisi Arthroped-borne disease pada manusia yaitu melalui; (Chandra, 2009:30).
c) Transmisi secara langsung
Arthropoda secara langsung memindahkan penyakit atau infestasi dari satu orang ke orang lain melalui ontak lansung. Contoh: Skabies,Pedikulus).
d) Transmisi secara mekanik
Kontaminasi bisa hanya dari permukaaan turbuh arthropoda tapi juga bisa dari sesuatu yang sudah dicernakan dan kemudian dimuntahkan atau dikeluarkan melalui tinja vektor (30). Selain itu juga ditularkan dengan cara terbawanya bibit penyakit pada saat merayap di tanah baik terbawa pada kaki dan juga pada saluran pencernaan serangga. (Kandun, 2000 : xlviii).
Agen penyakit yang paling banyak ditularkan melalui arthropoda adalah bakteri enteric yang ditularkan oleh lalat rumah (Chandra, 2009:30).
e) Transmisi secara biologi
Bila agen penyakit bermultiplikasi atau mengalami beberapa perubahan dan perkembangan tanpa adanya multiplikasi di dalm tubuh arthropoda maka disebut sebagai transmisi biologis. Ada tiga cara transmisi secara biologis, yaitu;
i. Propagatif
Bila agen penyakit tidak mengalami perubahan siklus, tetapi bermultiplikasi di dalam tubuh vektor. Contoh; plague bacilli pada kutu tikus.
ii. Cyclo-propagative
Agen penyakit mengalami perubahan siklus dan multiplikasi di dalam tubuh arthropoda. Contoh; parasite malaria pada nyamuk anopheles.
iii. Cyclo-deveplomental
Bila agen penyakit mengalami perubahan siklus, tetapi tidak mengalami multiplikasi di dalam tubuh arthropoda. Contoh parasite filarial pada nyamuk culex dan cacing pita pada Cyclops.
3. Penularan Melalui Udara (Airborne disease)
yang lama sebagian infektif dan sebagian juga ada yang kehilangan virulensinya. Partikel yang ditularkan melalui udara yaiu;
1. Droplet Nuclei yaitu berupa residu ukuran kecil sebagai hasil penguapan dari cairan percikan yang dikeluarkan oleh inang yang terinfeksi. Droplet Nuclei bisa secara sengaja dibuat dengan semacam alat atau tidak sengaja yang terjadi di laboratorium mikrobiologi dan tempat pemotongan hewan.
2. Debu merupakan partikel dengan ukuran yang berbeda yang muncul dari tanah (misalnya spora jamur yang dipisahkan dari tanah oleh udara atau secara mekanisme) dari pakaian, tempat tidur atau kutu yang tercemar. Penyakit yang tergolong antara lain; TBC Paru, Varicella, Difteri, Influenza, Variola, Morbili, Meningitis, Demam scarlet, Mumps, Rubella, dan Pertussis (Chandra, 2009:26).
4. Penularan Melalui Air
Penyakit dapat menular dan menyebar secara langsung maupun tidak langsung melalui air. Penyakit yang ditularkan melalui air disebut sebagai water borne disease atau water related disease (Chandra, 2009:28).
Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air, dapat dibagi dalam empat kelompok menurut cara penularannya :
1. Water borne mechanism
Kuman patogen yang berada dalam air dapat menyebabkan penyakit pada manusia, ditularkan melalui mulut atau sister pencernaan. Contoh; kolera, tifoid, hepatitis virus, disenteri basiller atau poliomyelitis.
2. Water washed mechanism
Jenis penyakit yang berkaitan dengan kebersihan individu dan umum dapat berupa:
b. Infeksi melalui kulit dan mata, seperti scabies dan trakoma.
c. Penyakit melalui gigitan binatang pengerat, seperti leptospirosis.
3. Water based mechanism
Jenis penyakit dengan agen penyakit yang menjalani sebagian siklus hidupnya di dalam tubuh vektor atau sebagai penjmu intermediet yang hidup di dalam air. Contoh : Skitosomiasisis.
4. Water related insect vector mechanism
Jenis penyakit yang ditularkan melalui gigitan serangga yang berkembang biak di air. Contoh: filariasis, dengue, malaria, dan demam kuning (yellow fever).
56. Kewaspadaan Universal
Kewaspadaan Universal merupakan kewaspadaan secara menyeluruh terhadap darah dan cairan (Kandun, 2000 : xlix).
57. Perioditas Berjangkitnya Penyakit
Perioditas berjangkitnya penyakit terdiri beberapa istilah seperti berikut; (Chandra, 2009:23).
a. Sporadik
Jenis penyakit yang tidak tersebar merata pada tempat dan waktu yang tidak sama, pada suatu saat dapat terjadi epidemik. Contoh: penyakit malaria dan kaki gajah.
b. Pandemik
Jenis penyakit yang berjangkit dalam waktu cepat dan terjadi bersamaan di berbagai tempat di seluruh dunia. Contoh: penyakit influenza, dan kolera.
c. Klaster
d. Eksotik
Jenis penyakit yang berasal dari Negara lain dan berjangkit di suatu negara. Contoh: demam kuning.
e. Zoonosis
Penyakit atau infeksi yang ditularkan oleh hewan bertulang belakang ke manusia. Contoh: rabies, antraks.
f. Epizoonosis
Penyakit zoonosis yang berjangkit secara epidemik pada hewan. Contoh: penyakit pes pada tikus.
g. Enzoonosis
Penyakit zoonosis yang berjangkit secara endemic pada hewan. Contoh: penyakit bovine tbc pada sapi.
58. Virulensi
BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
Chandra, Budiman. 2009. Ilmu Kedokteran Pencegahan dan Komunitas. Kedokteran EGC : Jakarta.
Chin , James. (2000). Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Edisi (17). Kandun, I Nyoman. Halaman : (38-44). Tersedia :
https://agus34drajat.files.wordpress.com/2010/10/buku-pedoman-manual_pmbrantasan_penyakit_menular.pdf (Diakses 22 Februari, Pukul 13.27)
Depkes RI.2015. Profil Kesehatan Indonesia 2014. Tersedia:
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/profil-kesehatan-indonesia-2014.pdf
Oktaviana, Firma. 2008. Pola Cedera Kecelakaan. FKM UI
Widoyono. 2008. Penyakit Tropis: Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, dan Pemberantasannya .Jakarta: Penerbit Erlangga