i
STUDI DESKRIPTIF
NASYID
PADA PONDOK PESANTREN
RAUDHATUL HASANAH
DI MEDAN
SKRIPSI SARJANA
DIKERJAKAN
O
L
E
H
KIKI ALPINSYAH
NIM : 070707002
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
DEPARTEMEN ETNOMUSIKOLOGI
MEDAN
2013
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Islam berasal dari bahasa Arab, yang artinya “memelihara dalam keadaan
selamat dan sentosa”, atau berarti juga menyerahkan diri, tunduk patuh dan taat
kepada Allah SWT (Razak, 1971:56). Agama Islam merupakan salah satu agama
yang diakui di Indonesia dan merupakan mayoritas terbesar ummat Muslim di
dunia. Ada sekitar 85,2% atau 199.959.285 jiwa dari total 234.693.997 jiwa
penduduk.1 Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan nama muslim yang berarti “seorang yang tunduk kepada Tuhan”, atau lebih lengkapnya adalah
muslimin bagi laki-laki dan muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurun kan firman-Nya kepada manusia melaluli para Nabi dan Rasul
utusannya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah
Nabi dan Rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah SWT.2
Murodi (1977:113), menjelaskan bahwa Islam yang sudah berkembang di
kawasan Timur Tengah, telah masuk ke Indonesia pada abad ke-1 Hijriah3 (pada
abad ke -7 Masehi). Selanjutnya, agama Islam secara resmi masuk ke Sumatera,
yaitu wilayah Aceh pada abad ke-7 hijriah (pertengahan abad ke-12 Masehi). Hal
1
htt p:/ / id.wikipedia.org/ wiki/ islam
2
Ibid.,
3
2
ini terbukti dengan datangya seorang mubaligh yang bernama Abdul Arief, pada
tahun 1151 masehi ke wilayah itu, untuk menyebarkan agama Islam.
Kesenian adalah satu di antara hal yang sangat berpengaruh terhadap
kebudayaan tertentu. Kesenian erat kaitannya dengan budaya karena kedua hal
tersebut saling berdampingan satu sama lain. Tanpa kebudayaan, kesenian tidak
berjalan dengan lancar. Begitu juga tanpa kesenian, kebudayaan tidak akan
menjadi lengkap. Oleh karena itu, setiap hal yang muncul di dalam wacana
kebudayaan senantiasa erat kaitannya dengan kesenian.
Perkembangan agama pun tidak lepas dari perkembangan kesenian dan
kebudayaan. Tanpa kebudayaan, agama tidak akan bisa menyebar dan menjadi
panutan bagi masyarakat. Oleh sebab itu, kesenian juga merupakan salah satu
faktor pendukung yang memiliki peranan untuk bisa menyebarluaskan suatu
agama dan kepercayaan. Misalnya saja, kesenian yang hidup dalam suasana
budaya agama tertentu akan senantiasa berkembang searah dengan perkembangan
agama.
Dari berbagai macam kesenian yang berkembang di Islam, diantaranya
yaitu nasyid. Nasyid merupakan salah satu jenis musik yang berasal dari tradisi Islam yang syair lagunya mengandung kata-kata, nasehat-nasehat, do’a, kisah para
nabi, serta pujian-pujian kepada Allah SWT dan Rasulnya (Muhammad SAW).
Istilah Nasyid berasal dari bahasa Arab, “ansyada-yunsyidu”, artinya
bersenandung. Definisi nasyid sebagai format kesenian adalah senandung yang
berisi syair-syair keagamaan4. Akan tetapi, ada banyak versi mengenai pengertian
nasyid itu sendiri.
4
3
Di versi yang lain mengatakan bahwa nasyid atau anasyid (jamak di dalam bahasa Arab) artinya bacaan atau lantunan. Ansyadahu asy syira artinya dia membacakan syairnya kepada seseorang. Munsyid artinya orang yang membacakan dan melantunkan syairnya kepada seseorang. Pembacaan syair
merupakan aktivitas yang telah lama sekali dilakukan manusia. Sebelum Nabi
Muhammad SAW (sekitar abad ke-6 M) di utus bangsa Arab telah hidup dengan
tradisi syair.5
Pada awalnya nasyid hanya dibawakan dengan musik yang sederhana
sekali, bahkan ada yang tanpa musik sama sekali. Namun pada saat sekarang ini
nasyid terus berkembang baik dari penyajiannya maupun alat-alat musiknya.
Untuk alirannya sendiri, nasyid terus berkembang seiring dengan perkembangan
warna musik di tempat dimana nasyid itu berada. Sehingga, warna aliran dalam
nasyid saat ini berbagai macam. Mulai dari yang murni “acappella” (tanpa iringan musik) hingga “Full Insrument” (diiringi dengan banyak alat musik). Namun, ada berapa komunitas yang tidak memilih untuk menggunakan alat musik modern,
dikarenakan banyak ulama Islam yang melarang penggunaan alat musik kecuali
Perkusi.
Sejak jaman Rasulullah SAW (Sekitar abad ke 6 Masehi) nasyid telah ada.
Biasanya tentara-tentara Islam melantunkan nasyid sebelum berangkat perang,
4
kami) yang kini kerap dinyanyikan oleh tim qasidah7, adalah syair yang dinyanyikan kaum muslimin saat menyambut kedatangan Rasulullah SAW ketika
pertama kali hijrah ke Madinah. Kemudian nasyid pun mulai berkembang sesuai
dengan kondisi dunia, terbukti dengan perkembangan nasyid di Timur Tengah
yang lebih bermakana tentang jihad dan perlawanan terhadap imperialisme Israel
pada saat itu.
Di Indonesia sendiri nasyid mulai merambah sekitar tahun 80-an yang
dimulai oleh aktivis-aktivis Islam yang berada di kampus-kampus. Aliran nasyid
yang dilantunkan pada umumnya adalah lagu-lagu yang berbahasa Arab, dan terus
berkembang dengan munculnya munsyid-munsyid kreatif yang membuat nasyid memiliki warna musik yang beragam. Sampai saat tulisan ini dibuat, tema lagu
yang dikandung dalam nasyid di Indonesia tidak hanya berisi tentang jihad, tetapi
banyak juga yang bertema walimahan, cinta kepada makhluk, keimanan dan
banyak lagi.
Namun, kini nasyid telah dikembangkan sebagai media dakwah yang
diharapkan dapat diterima oleh masyarakat umum. Dan hal ini juga selalu
dilakukan oleh pemuda muslim yang belajar di Pondok Pesantren. Oleh karena itu
di sebagian pesantren-pesantren di Indonesia ini memasukan nasyid sebagai
pendidikan luar sekolah, atau yang disebut program ekstrakurikuler sekolah.
Pondok Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah Medan merupakan institusi
pendidikan Islam yang mengajarkan pendidikan umum, pendidikan agama Islam,
dan akhlak. Para pelajar yang menuntut ilmu disebut santri bagi laki-laki dan
santriwati bagi perempuan. Materi ajaran yang campuran antara pendidikan ilmu
7
5
formal dan ilmu agama Islam ini para santri belajar seperti di sekolah umum atau
madrasah seperti yang. untuk tingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama) dikenal
dengan nama “Madrasah Tsanawiyah” (MTs), sedangkan untuk tingkat SMA
(Sekolah Menengah Atas) dengan nama “Madrasah Aliyah” (MA). Namun,
perbedaan pesantren dan madrasah terletak pada sistemnya. Pesantren
memasukkan santrinya ke dalam asrama, sementara dalam madrasah tidak.Oleh
karana itu pesantren Raudhatul Hasanah ini disebut juga dengan istilah pondok pesantren modern, Karena telah memasukan pelajaran-pelajaran umum sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan pemerintah. Namun tetap menekankan
nilai-nilai dari kesederhanaan, keikhlasan, kemandirian, dan pengendalian diri.
Nasyid merupakan salah satu program ekstrakurikuler8 yang terdapat di
pondok pesantren Raudatul Hasanah. Yang tujuannya ialah mendidik siswa agar
bisa mempertunjukan musik nasyid dengan baik, yang dapat menghibur dan
mengandung dakwah islam, dengan menampilkan lagu-lagu dengan syair-syair
yang bertemakan dakwah Islam. Serta diiringi dengan alat-alat musik yang
merupakan cirri khas kebudayaan Islam.Para santri yang mendiami pondok
pesantren tersebut menampilkan lagu yang islami, dengan mengambil
lagu-lagu religus Islam yang komersial. Seperti lagu-lagu-lagu-lagu yang diciptakan oleh
musisi-musisi terkenal saat ini, diantaranya seperti; Raihan, Opick, Snada, Maher Zain,
Yusuf Islam, dan lain-lain.
Para santri biasanya memainkan lagu-lagu religi yang telah mereka
sepakati bersama. Tergantung dari lagu yang menurut mereka enak dan layak
8
6
untuk ditampilkan, juga enak di dengar dengan mengandung lirik-lirik yang
mengandung unsur dakwah Islam, sehingga dapat menambah kecintaan mereka
kepada Allah dan Rasulnya.
Nasyid itu sendiri telah banyak menampilkan pertunjukan-pertunjukan
musiknya di berbagai acara, baik di dalam maupun di luar lokasi pesantren itu
sendiri. dilakukan ketika memperingati hari-hari besar Islam, seperti Idul Adha,
Maulid Nabi, Nujulul Qur’an, Isra’ Miraz dan lain-lain. Kemudian nasyid raudhah
juga tampil pada acara-acara pelantikan, penyambutan tamu-tamu penting, dan
acara-acara yang diselenggarakan oleh santri dan santriwati itu sendiri. Dan
kemudian nasyid pesantren juga turut serta dalam berbagai ajang perlombaan
nasyid yang di selenggarakan di dalam dan di luar pesantren. Bahkan nasyid
raudhah itu sendiri sering memperoleh prestasi yang gemilang di berbagai
perlombaan baik dari tinggkat lokal hingga nasional, seperti halnya pada
POSPENAS tahun 2007 di Kalimantan Timur dan tahun 2010 di Jawa Timur
meraih juara I di tingkat Nasional.
Nasyid di pondok pesantren ini terdiri dari beberapa pemain yang
membentuk suatu grup, Terdiri dari 10 sampai 14 orang. Alat music yang
digunakan yaitu sejumlah rebana, kencer/kerincing, tamborin, dan di campur
dengan alat music modern seperti gitar, gitar bass, drum, keyboard, vocal. Dan
terkadang mereka juga menambah/memasukan alat-alat musik yang lain sesuai
dengan kesepakatan bersama dalam suatu grup.
Oleh karena itu penulis tertarik untuk membahas masalah ini, yaitu
7
mengidentifikasi musiknya. Dengan itu penulis mengambil judul “Studi
Deskriptif Nasyid pada Pondok Pesantren Raudhatul Hasanah di Medan”.
1.2 Pokok Permasalahan
Berdasarkan uraian pada latar belakang yang tertera diatas maka penulis
menemukan beberapa pokok permasalahan yang akan dibahas pada tulisan ini,
diantaranya adalah:
1. Bagaimana Pertunjukan Nasyid dan unsur-unsur pendukungnya yang disajikan oleh santri Pondok Pesantren Rhaudhatul Hasanah Medan. 2. Bagaimanakah aspek musikal dari Pertunjukan Nasyid di Pondok
Pesantren Rhaudhatul Hasanah Medan.
3. Apakah fungsi Nasyid tersebut bagi Santri dan santriwati di Pondok Pesantren Rhaudhatul Hasanah Medan tersebut.
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Setiap penelitian yang dilakukan mempunyai tujuan yang harus dicapai
pada ahirnya, Di dalam penulisan ini terdapat beberapa tujuan dan manfaat yang
ingin di capai, disesuaikan dengan latar belakang serta pokok permasalahan yang
sudah ada. Adapun tujuan dan manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.3.1 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
8
2. Untuk mengetahui seluruh aspek musikal dari Pertunjukan Nasyid di Pondok Pesantren Rhaudhatul Hasanah Medan tersebut.
3. Untuk mengetahui fungsi Nasyid tersebut bagi Santri dan santriwati di Pondok Pesantren Rhaudhatul Hasanah Medan tersebut.
1.3.2 Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan pengetahuan tentang keberadaan dan proses
Pertunjukan Nasyid dan unsur-unsur pendukung pertunjukan Nasyid tersebut di Pondok Pesantren Rhaudhatul Hasanah Medan. 2. Merupakan bentuk pengaplikasian ilmu yang diperoleh penulis
selama studi di Departemen Etnomusikologi, Fakultas Ilmu
Budaya, Universitas Sumatera Utara
3. Untuk menambah wawasan dan menambah referensi di kampus
tentang Pertunjukan Nasyid dan unsur-unsur pendukungnya .
1.4 Konsep dan Teori
1.4.1 Konsep
Konsep merupakan defenisi dari apa yang kita amati, konsep menentukan
antara variable-variabel mana yang kita ingin menentukan hubungan empiris
(Mely, 1990:21). Maka dari itu penulis memberikan pengertian dari beberapa
istilah yang terdapat dalam judul tulisan ini.
Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk
mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun
fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas,
9
yang satu dengan fenomena lainnya (Sukmadinata, 2006:72). Penelitian deskriptif
merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan
sesuatu, misalnya kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang,
proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang
kecendrungan yang tengah berlangsung.
Furchan (2004:447) menjelaskan bahwa penelitian deskriptif adalah
penelitian yang dirancang untuk memperoleh informasi tentang status suatu gejala
saat penelitian dilakukan. Lebih lanjut dijelaskan, dalam penelitian deskriptif tidak
ada perlakuan yang diberikan atau dikendalikan serta tidak ada uji hipotesis
sebagaimana yang terdapat pada penelitian eksperiman.
Penelitian deskriptif mempunyai karakteristik-karakteristik seperti yang
dikemukakan Furchan (2004) bahwa (1) penelitian deskriptif cendrung
menggambarkan suatu fenomena apa adanya dengan cara menelaah secara
teratur-ketat, mengutamakan obyektivitas, dan dilakukan secara cermat. (2) tidak adanya
perlakuan yang diberikan atau dikendalikan, dan (3) tidak adanya uji hipotesis.
Kata Nasyid berasal dari bahasa Arab, ansyada-yunsyidu, artinya “bersenandung”. Definisi nasyid sebagai format kesenian adalah senandung yang
berisi syair-syair keagamaan. Akan tetapi, ada banyak versi mengenai pengertian
nasyid itu sendiri. Misalnya dari sebuah artikel disebutkan bahwa arti nasyid atau anasyid (jamak) itu sendiri adalah lantunan atau bacaan, sementara istilah nyanyian dalam bahasa Arab adalah Al-Ghina, bukan nasyid.9
Pondok menurut Dhofier (1983:18) ialah rumah atau tempat tinggal
sederhana yang terbuat dari bamboo. Disamping itu kata pondok mungkin berasal
9
10
dari bahasa Arab “Funduq” yang berarti “Hotel atau Asrama”. Dengan kata lain
Pondok merupakan tempat penampungan sederhana bagi para pelajar yang jauh
dari asalnya, dan merupakan tempat tinggal kyai bersama santrinya, dengan
demikian para santri dapat mengikuti pelajaran yang diberikan kyai dengan baik
dan pondok juga dapat dijadikan tempat training atau latihan bagi santri agar
mampu hidup mandiri dalam masyarakat.
Menurut Mujamil Qamar (2005:2) ia menyimpulkan bahwa “pesantren”
didefenisikan sebagai suatu tempat pendidikan dan pengajaran yang menekankan
pelajaran agama Islam dan didukung asrama sebagai tempat tinggal santri yang
bersifat permanen. Maka pesantren kilat atau pesantren ramadhan yang diadakan
di sekolah-sekolah umum misalnya tidak termasuk dalam pengertian ini.
Terdapat pula beberapa defenisi lain mengenai pesantren yang
dikemukakan oleh para ahli, seperti defenisi yang diberikan oleh Mastuhu.
“Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari,
memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan
menekankan pentingya moral keagamaan sebagai pedoman prilaku sehari-hari”.
Defenisi lain yang diberikan oleh Sudjoko Prasodjo, “Pesantren adalah
lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara nonklasikan,
di mana seorang kyai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri
berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama abad
pertengahan, dan para santri biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren
tersebut.
11
para pendiri pesantren tersebut. Dan dicetuskan pada tahun 1982, yaitu ketika
pesantren itu berdiri.10
1.4.2 Teori
Teori adalah salah satu acuan yang digunakan oleh penulis untuk
menjawab masalah-masalah yang timbul dalam tulisan ini atau dengan kata lain
teori adalah landasan berfikir dalam pembahasan. Pengetahuan tersebut diperoleh
dari buku-buku dan dokumen-dokumen. Menurut Snelbecker (1974:31) teori
adalah sebagai seperangkat proposisi yang terintegrasi secara sintaksis (yaitu
yang memiliki aturan tertentu yang dapat dihubungkan secara logis satu dengan
yang lainya dengan data dasar yang diamati) dan berfungsi sebagai wahana untuk
meramalkan dan menjelaskan fenomena yang diamati (baca Lexi J.Moleong
dalam buku yang berjudul Metodologi Penelitian Kualitatif 2000:34).
Dengan ini maka penulis akan menggunakan beberapa teori yang berkaitan
dengan masalah penelitian, diantaranya sebagai berikut: Pertama, dalam
menganalisi aspek musikologis, penulis menggunakan teori Weighted Scale yang dikemukakan oleh William P. Malm (1977:8) bahwa terdapat 8 unsur yang harus
diperhatikan: (1) tangga nada, (2) nada dasar, (3) wilayah nada, (4) jumlah
masing-masing nada, (5) interval yang dipakai, (6) pola-pola kadensa, (7) formula
melodi, (8) kontur.
Kedua, untuk melihat perkembangan yang terjadi dalam nasyid sebagai
suatu kebudayaan, penulis menggunakan teori perubahan oleh Kingsley David; ia
berpendapat bahwa perubahan sosial merupakan bgian dari perubahan-perubahan
10
12
kebudayaan. Perubahan kebudayaan mencakup bagian kesenian, ilmu
pengetahuan, teknologi, dan filsafat. Pengertian kebudayaan mencakup bagian
kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, dan filsafat. Pengertian kebudayaan itu
mencakup segenap cara berfikir, tingkah laku yang timbul karena interaksi yang
bersifat komunikatif seperti menyampaikan buah pirikan atau ide secara simbolis.
Salah satu faktor yang mendorong jalanya proses perubahan adalah kontak dengan
kebudayaan lain (baca Shin Nagawa, dalam bukunya “music dan Kosmos :
Sebuah Pengantar Etnomusikologi 2000).
Ketiga, Menurut Koentjaraningrat (1996 : 142) semua konsep yang kita
perlukan untuk menganalisa proses-proses pergeseran masyarakat dan
kebudayaan disebut sebagai dinamika sosial. Beberapa konsep tersebut antara lain
adalah: (1) proses belajar kebudayaan sendiri, yang terdiri dari internalisasi,
sosialisasi, dan enkulturasi, (2) Evolusi kebudayaan dan difusi, (3) Proses
pengenalan unsur-unsur kebudayaan asing, yang meliputi: akulturasi dan
asimilasi; dan, (4) proses pembaruan atau inovasi atau penemuan baru.
Untuk mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan dan fungsi
musik tersebut penulis mengacu kepada teori penggunaan dan fungsi musik. Teori
ini seperti yang dikemukakan oleh Merriam, (1964:219-222) mengatakan secara
implisit bahwa penggunaan (uses) dilakukan dalam konteks upacara, yang dapat dilihat saat itu juga, sedangkan fungsi (function) mempunyai dampak yang lebih jauh dan dalam. Merriam menawarkan ada sepuluh fungsi musik antara lain : (1)
fungsi pengungkapan emosional, (2) fungsi penghayatan estetika, (3) fungsi
13
komunikasi, (7) fungsi kesinambungan kebudayaan, (8) fungsi yang berkaitan
dengan norma sosial, (9) fungsi pengesahan
Untuk menganalisis hubungan musik dengan teksnya, penulis
menggunakan teori dari Alan P Merriam. Penulis mengacu pada teorinya yang
mengatakan salah satu sumber pokok yang dapat kita pakai untuk memperdalam
pengertian perilaku manusia dalam hubungannya dengan musik adalah pada teks
nyanyian. Teks merupakan bahasa, bukan musik. Tetapi teks merupakan bagian
integral dari musik. Bahasa yang digunakan berbeda dengan bahasa yang
digunakan sehari-hari. Unsur teks yang akan dianalisis adalah makna denotatif
(sebenarnya), konotatif (kiasan), dan gaya bahasanya.
Untuk melihat hubungan antara teks dengan melodi, penulis
menggunakan teori Malm, (1977:8) mengatakan apabila setiap nada dipakai
untuk setiap silabel (suku kata), gaya ini disebut silabis, sebaliknya bila suatu silabel dinyanyikan dengan nada-nada yang berjumlah banyak disebut melismatis. Kedua teori ini penulis gunakan untuk menganalisis melodi musik nasyid.
Dalam hal transkripsi terhadap nasyid, penulis berpedoman kepada teori
Nettl, (1964:98) yang memberikan dua pendekatan yaitu :
1. Kita dapat menguraikan dan menganalisis apa yang kita dengar.
2. Kita dapat menulis apa yang kita dengar tersebut di atas kertas, dan kita
mendeskripsikan apa yang kita lihat tersebut. Dalam hal notasi musik,
penulis mengacu kepada tulisan Charles Seeger, (1971:24-34), yang
mengemukakan bahwa ada dua jenis notasi yang dibedakan menurut
14
Pertama adalah notasi preskriptif, yaitu notasi untuk seorang penyaji (bagaimana ia harus menyajikan sebuah komposisi musik), selanjutnya dikatakan
notasi ini merupakan pedoman tentang bagaimana musik tertentu itu dapat
diwujudkan oleh pemain musik.
Kedua adalah notasi deskriptif, yaitu suatu laporan yang disertai notasi secara lengkap tentang bagaimana sebenarnya suatu musikal dalam suatu
pertunjukan diwujudkan. Transkripsi ini digunakan untuk analisis. Untuk
pendekatan analisis, penulis menggunakan dan membuat transkripsi yang
deskriptif.
Untuk mendukung pembahasan dari segi musikologis tersebut diperlukan
suatu transkripsi. Menurut Nettl, (1964:99) bahwa pengertian transkripsi adalah
proses menotasikan bunyi, membuat bunyi menjadi sumber visual. Dalam
membicarakan pendeskripsian dari ritem, analisis bentuk, frase dan motif-motif.
Selanjutnya, Nettl, (1964:148-150) menyarankan bahwa untuk
mendeskripsikan ritem sebaiknya dimulai dengan membentuk harga-harga not
yang dipakai dalam sebuah komposisi dan menerangkan fungsi dan konteks
masing-masing nada. Selanjutnya pola ritem yang sering diulang, sebaiknya
dicatat.
Merriam membagi penggunaan musik kedalam 5 (lima) kategori, yaitu: 1)
Hubungan musik dengan kebudayaan material, 2) Hubungan musik dengan
kelembagaan sosial, 3) Hubungan musik dengan manusia dan alam, 4) Hubungan
musik dengan nilai-nilai estetika, 5) hubungan musik dengan bahasa. Penggunaan
(uses) musik berhubungan dengan kebiasaan-kebiasaan (folkways) memainkan musik tersebut, baik sebagai aktifitas yang berdiri sendiri atau dalam aktifitas
15
1.5 Metode Penelitian
Metode penelitian adalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang
menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Untuk meneliti pertunjukan Musik
Nasyid ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Sesuai dengan apa
yang dikemukakan oleh Kirk Miller dalam Moleong, (1990:3) yang mengatakan:
“Penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam
kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang dalam bahasa dan
peristilahannya”.
Penelitian dilakukan mengacu pada pengetahuan tentang musik nasyid di
pondok pesantren Raudatul Hasanah yang menjadi studi kasus penelitian ini.
Dalam penelitian ini penulis melakukan beberapa tahapan penelitian; (1) melihat
tulsan-tulisan yang berkaitan dengan objek penelitian. (2) mengumpulkan
data-data di lapangan yang diperoleh melalui wawancara, dokumentasi, dan observasi.
(3) penelitian di laboratium, yaitu menganalisis data yang diperoleh di lapangan.
1.5.1 Studi Kepustakaan
Maksud dari studi kepustakaan ialah studi yang dilakukan untuk
memperoleh data berupa tulisan-tulisan yang berasal dari buku-buku, jurnal,
majalah, skripsi-skripsi sarjana yang berbubungan dengan objek penelitian. Di
sini penulis akan membaca dan mencari istilah-istilah penting yang berkaitan
dengan tulisan tersebut, dan mengambil data-data yang sesuai untuk melengkapi
tulisan. Diantaranya yaitu buku yang di tulis oleh Oemar Amin Housin denga
16
dalam Dunia Internasional. Buku ini menjelaskan tentang
kebudayaan-kebudayaan Islam yang berpengaruh terhadap dunia internasional, baik berupa
ilmu filsafat, ilmu kedokteran, ilmu perbintangan dan matematika, arsitektur, seni
sastra, seni ukiran dan tenun, dan seni musik, yang di produksi oleh umat Islam,
H. Abuddin Nata dengan judul, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan
Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia. Buku ini menjelaskan tentang
sejarah perkembangan pendidikan islam di Indonesia yaitu dari awal masuknya
Islam di Indonesia dan ketika itu lembaga-lembaga pendidikan islam yang
didirikan masih sederhana hingga munculnya lembaga-lembaga pendidikan islam
modrn, baik berupa pesantren dan kampus-kampus Islam.
Mujamil Qomar dengan judul, Manajemen Pendidikan Islam. Buku ini
membahas tentang hal-hal seputar karakter, prinsip, dan mekanisme manajemen
pendidikan Islam, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (Setingkat dengan Sekolah
Dasar) hingga perguruan tinggi dan pesantren.
Kemudian buku ini menguraikan tentang;
- manajemen komponen-komponen dasar pendidikan Islam, termasuk
personalia, kesiswaan, kurikulum, keuangan, serta sarana da prasarana.
- Manajemen komponen penyempurnaan pendidikan Islam, termasuk ,
layanan, mutu, struktur, konflik, hingga komunikasi.
- Kepempinan pendidika Islam, pengambilan keputusan, dan
peningkatan produktivitas.
Selain itu penulis juga mengambil bahan-bahan lain, yaitu berupa literatur,
makalah, tulisan ilmiah, dan berbagai catatan-catatan yang berkaitan dengan judul
17
1.5.2 Pengumpulan Data di Lapangan 1.5.2.1 observasi
Dalam pengumpulan data di lapangan penulisan meilhat langsung
kejadian-kejadian di lapangan yaitu berupa kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh santri dan santriwati di dalam pesantren dan juga melihat
pertunjukan nasyid tersebut. Baik disaat mereka latihan maupun di saat
berlangsungya pertunjukan nasyid tersebut yang dilakukan oleh para
santri. Kemudian penulis juga akan melihat bagaimana proses
pembelajaran yang dilakukan di dalam pesantren tersebut.
1.5.2.2. wawancara
Wawancara ini bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi secara lisan dari para informan. Dalam melakukan wawancara tersebut, penulis berpedoman pada metode wawancara yang dikemukankan oleh
Lin Tri Rahayu dan Tristiadi Ardi Ardani (2004:73) dalam bukunya yang
berjudul “Observasi dan Wawancara” dimana disebutkan bahwa metode wawancara memiliki empat jenis yaitu wawancara tidak terstruktur
(wawancara tidak terpimpin), wawancara terstruktur (wawancara
terpimpin), wawancara bebas terpimpin dan wawancara pribadi dan
kelompok.
Sesuai dengan pendapat di atas, sebelum penulis melakukan
wawancara terlebih dahulu penulis membuat daftar-daftar pertanyaan. Hal
tersebut dilakukan guna memperoleh informasi sebanyak-banyaknya
tentang masalah-masalah yang menyangkut pokok permasalahan yang
dibahas. Dalam hal ini penulis langsung melakukan wawancara dengan
18
santri dan ia merupakan pelatih atau instruktur nasyid di pondok pesantren
tersebut. Namun selain hal itu penulis juga melakukan wawancara dengan
informan-informan lainnya yang berkaitan dengan objek penelitian.
diantaranya ialah para santri selaku pemain nasyid dan para pengasuh
pesantren itu sendiri yang membimbing dan mendukung kegiatan nasyid
tersebut.
1.5.2.3 Rekaman
Dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa instrument
pendukung diantaranya yaitu berupa Handycam merk Sony tipe
DCR-SX20. Melalui alat-alat tersebut penulis akan mengambil data-data yang
diperlukan baik berupa audio (rekaman suara), visual (gambar), dan audio
visual (rekaman video) sebagai bukti penelitan yang kemudian dianalisis
di laboratorium.
1.5.3 Kerja Laboratorium
Kerja laboratorium merupakan proses penganalisisan data-data yang telah
didapat dari lapangan. Pada tahap kerja laboratorium, seluruh hasil kerja yang
telah diperoleh dari studi kepustakaan dan dari hasil penelitian di lapangan di
olah, diseleksi, disaring untuk dijadikan data dalam penulisan skripsi ini. Data
yang dipergunakan dalam penulisan ini merupakan data-data yang bersangkutan
dengan penelitian yang dilakukan.
Menurut Soetandyo Wignjosoebroto dalam Metode-Metode Penelitian
Masyarakat oleh Koentjaraningrat, (1981:328), setelah data selesai dikumpulkan
19
adalah tahap analisa. Pada akhirnya hasil dari pengolahan data dan penganalisaan
disusun secara sistematis dengan mengikuti kerangka penulisan.
Analisis hasil penelitian yang digunakan untuk mengerjakan penelitian ini
ialah analisis kualitatif dan yang menjadi teknik penyajian dalam bentuk tulisan
ialah deskriptif. Dengan menggunakan teknik analisis ini, hasil penelitian akan
dijelaskan dan digambarkan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh. Analisis
kualitatif yang digunakan oleh penulis selanjutnya dipakai untuk membahas
komponen pendukung pertunjukan nasyid oleh para santri pondok pesantren
Ar-Raudhatul Hasanah Medan.
Dan juga penulisan akan menyusun kembali data-data yang merupakan
hasil penelitian sehingga dapat tersusun dengan baik.
1.6 Lokasi Penelitian
Penulis menentukan objek dan lokasi penelitian yang tidak jauh dari
kediaman peniliti, yang berada di Pondok Pesantren Raudhatul Hasanah Simpang
Selayang Medan, Jl. Letjend. Djamin Ginting Km. 11 / Jl. Setia Budi Simpang
Selayang 20135 Medan - Sumatera Utara - Indonesia. Sedangkan kediaman peneliti sendiri berada di Pandang Bulan Medan. Hal ini dimaksudkan untuk
memudahkan pelaksanaan penelitian jika jarak lokasi dengan peneliti dekat.
Sehingga penulis dapat sesering mungkin melakukan observasi dilapangan,
sehingga memperoleh data yang lebih akurat dan juga dapat mengumpulkan
data-data sebanyak-banyaknya yang kiranya untuk dikumpulkan dan kemudian disusun
20
BAB II
SEJARAH ISLAM
Sejarah telah mencatat bahwa semua agama baik agama samawi atau
agama wad’i disiarkan dan dikembangkan oleh para pembawanya yang disebut
utusan Tuhan dan oleh para pengikutnya. Mereka yakin bahwa kebenaran dari
Tuhan itu harus disampaikan kepada umat manusia untuk menjadi pedoman
hidup. Para penyebar agama banyak yang menempuh perjalanan jarak jauh dari
tempat kelahirannya sendiri demi untuk menyampaika ajarannya. Misalnya Nabi
Ibrahim berhijrah dari Babylonia menuju Palestina, Mesir dan Makkah. Nabi
Musa pergi dan kembali lagi dari Mesir ke Palestina, Nabi Isa hijrah dari Bait
Lahm ke Yerusalem, dan Nabi Muhammad hijrah dari Makkah ke Madinah. Para
pemeluk agama menyebarkannya lagi ke tempat-tempat yang lebih jauh secara
langsung atau secara beranting (estafet), sehingga agama-agama sekarang telah
tersebar ke seluruh pelosok dunia.
Diantara agama-agama besar di dunia adalah Yahudi, Nasrani, Islam,
Hindu dan Budha, tetapi yang paling luas dan paling banyak pengikutnya ialah
Nasrani dan Islam. Hal tersebut tentu berhubungan dengan usaha penyiarannya
oleh para pemeluknya.
Usaha penyiaran agama pasti menghadapi rintangan, hambatan, gangguan
bahkan ancaman yang berat. Itulah sebabnya maka kadang-kadang penyiaran
suatu agama berjalan dengan lancar, kadang tersendat-sendat dan
21
Pengembangan dan penyiaran agama Islam termasuk yang paling dinamis
dan cepat dibandingkan dengan agama-agama lainnya.11 Hal itu diukur dengan
dengan kurun waktu yang sebanding dan dengan situasi dan kondisi, alat
komunikasi dan transportasi yang sepadan. Catatan sejarah telah membuktikan
bahwa Islam dalam waktu 23 tahun dari kelahirannya sudah menjadi tuan di
negrinya sendiri, yaitu jazirah Arabia. Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab,
Islam masuk secara potensial di Syam Palestina, Mesir dan Iraq. Pada zaman
Usman bin Affan, Islam telah masuk di negri-negri bagian Timur sampai ke
Tiongkok dibawa oleh para pedagang zaman dinasti Tang. Kesimpulannya ialah,
Islam telah tersebar jauh sampai ke Tiongkok, ke Afrika bagian Utara, ke Asia
Kecil dan ke Asia bagian Utara (Lembah Sungai Everat dan Tigris). Sedangkan
agama-agama lain memerlukan beberapa abad untuk dapat menyeber ke luar
negrinya dalam jarak yang jauh dan daerah yang luas atau untuk menjadi tuan di
negrinya sendiri.
Pengertian Islam
2.1 Pengertian Islam
Kata “Islam” berasal dari kata aslama artinya berserah diri. Ia tidak hanya berarti kedamaian, keselamatan, berserah diri kepada Allah, tetapi juga berarti
berbuat kebajikan. Orang-orang yang mengakui agama Islam disebut Muslim
(Mahmudunnasir, 2005:3).
11
22
Sedangkan defenisi Islam, secara etimologi asal kata dari Aslama, kata dasarnya adalah salima, yang berarti sejahtera. Dari kata ini terjadi kata masdar selamat. Ada juga yang menganggap Islam itu salam yang berarti sejahtera, selamat, damai dan seimbang.
Secara istilah, Islam adalah patuh dan berserah diri pada Allah. Dengan
patuh dan berserah diri pada Allah akan terwujud kehidupan damai dunia
akhirat.12
2.1.1 Sistem Kepercayaan
Ajaran yang utama di dalam Islam adalah beriman kepada Allah
Yang Mahakuasa, yang dengan kuat ditegakan oleh Nabi Muhammad
SAW sebagai penerima wahyu yaitu berupa Al-Qur’an. Dan karenanya
hal itu menjadi dasar bagi semua ajaran Islam.
Beriman kepada Allah merupakan ajaran yang paling pokok dan
paling mendasar. Hal ini dinyatakan di dalam kalimat yang pertama
yaitu ”Tidak ada Tuhan kecuali Allah”. Itulah jalan yang ditempuh
semua ajaran Islam. Umat Islam pada pokoknya diwajibkan
melaksanakan shalat lima kali setiap hari, dan dalam shalat mereka
selalu berkata kepada Tuhan mereka: “Kepada Engkaulah kami menyembah, dan kepada Engkaulah kami minta pertolongan”.
12Sidi Gazalba,
23
Arti kalimat la ilaha illallah akan sangat membantu di dalam memahami pengaruh yang baik dari idiologi tauhid, yaitu keesaan
Allah. Maulana Maududi menerangkan kalimat itu sebagai berikut:
Dalam bahasa Arab kata illah berarti “sesuatu yang disembah”, yaitu suatu zat yang karena keagungan dan kekuatannya dianggap tepat
untuk disembah, dipuja dengan merendahkan dan menundukan diri.
Sesuatu atau zat yang memiliki kekuatan terlalu besar untuk dapat
dipahami oleh manusia juga disebut illah. Pengertian Illah mencakup juga pemilikan kekuasaan yang tidak terbatas. Kata illah juga mengandung pengertian kegaiban dan misteri, yaitu kata illah adalah zat yang tak terlihat dan tidak teramati. Kata khuda dalam bahasa
Persa, deva dalam bahasa Hindi, dan God dalam bahasa Inggris, kurang
lebih mengandung makna yang sama. Bahasa-bahasa lainya di dunia
juga mengandung makna dan arti yang sama (baca dalam
Mahmudunnasir yang diterjemahkan oleh Adang affandi yang berjudul
“Islam Konsepsi dan Sejarahnya”, 2005:55-56).
Di pihak lain, kata Allah adalah nama diri yang pokok bagi Tuhan.
La Illaha Illallah secara harfiah berarti “tidak ada illah selain Zat Yang Tunggal dan Agung yang dikenal dengan nama Allah”. Hal itu berarti
bahwa di seluruh alam semesta tidak ada zat yang patut disembah selain
Allah, bahwa hanya kepada Dialah kepala-kepala harus ditundukan
dalam pengabdian, bahwa hanya Dialah zat yang memiliki segala
kekuasaan, bahwa semua makhluk memerlukan karuniaNya, dan bahwa
24
dari indera kita, dan kecerdasan kita tidak mampu mengamati apa Dia
itu.
Ajaran yang terpenting dalam Islam adalah ajaran tauhid. Ajaran
ini yang menjadi dasar dari segala dasar yaitu pengakuan tentang
adanya Tuhan yang Maha Esa. Ajaran yang di bawa Nabi Muhammad
wajib di percaya oleh umat Islam. Hubungan manusia dengan manusia,
hubungan manusia dengan pencipta, akhir hidup manusia di surga
ataupun neraka, semuanya merupakan ajaran dari Islam. Di dalam Islam
juga tersimpul nilai ibadat seperti halnya shalat, puasa, zakat, dan haji
serta mengenal moral dan akhlak, yang kesemua itu merupakan aspek
penting dalamIslam.
Mengenai Tauhid, Maulana Maududi telah mengemukakan
pendapatnya di dalam bukunya, Towars Understanding Islam, bahwa tauhid adalah konsepsi tertinggi dari ketuhanan, yang untuk
mengetahuinya Allah telah mengutus kepada umat manusia
nabi-nabinya disegala zaman. Pengetahuan inilah yang pada zaman
permulaan dibawa oleh Adam ke bumi, juga disampaikan kepada Nuh,
Ibrahim, Musa, dan Isa. Pengetahuan ini pulalah yang menyebabkan
Muhammad diutus kepada umat manusia (ibid).
Islam meyakini bahwa Nabi Muhammad merupakan utusan Allah
yang terakhir, dan tidak ada nabi-nabi lain sesudahnya. Sebagai bukti
akan kepenutupan nabi itu terdapat dalam wahyu terakhir yang
25
“hari ini telah Aku sempurnakan agamamu bagimu, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kamu, dan telah Aku pilih bagi kamu suatu undang-undang kehidupan – al-Islam.”
“Muhammad bukanlah bapak seseorang diatara kamu, tetapi dia adalah rasul Allah dan penutup nabi-nabi.
Ringkasnya Islam memiliki Idiologi-idiologi sebagai berikut:
- Islam menekankan kepada kesaan Allah dalam zat-Nya dan
sifat-sifat-Nya. Di dalam Islam sekalipun Nabi Muhammad yang dianggap
sebagai manusia paling mulia sepanjang masa, dia tidak lain dari pada
manusia biasa pula dan menjadi hamba Tuhan.
- Ajaran-ajaran nabi terdahulu telah mencapai kesempurnaannya dalam
ajaran-ajaran Nabi Muhammad.
- Ajaran Nabi Muhammad itu telah diyakini merupakan ajaran yang
terpelihara (keasliannya) untuk petunjuk bagi manusia hingga akhir
dunia.
- Islam meyakini bahwa Nabi dikirim untuk menjadi pembimbing
seluruh umat manusia hingga akhir zaman.
- Nabi Muhammad diutus sebagai Nabi terakhir.
2.1.2 Al-Qur’an Sebagai Kitab Suci
Al-Qur'an adalah kitab suci ummat Islam yang diwahyukan Allah
kepada Muhammad melalui perantaraan Malaikat Jibril. Secara harfiah
Qur'an berarti bacaan. Namun walau terdengar merujuk ke sebuah
kata-26
kata atau kalimat di dalamnya, bukan pada bentuk fisiknya sebagai hasil
cetakan.
Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an disampaikan kepada
Muhammad melalui malaikat Jibril. Penurunannya sendiri terjadi secara
bertahap antara tahun 610 hingga hingga wafatnya beliau 632 M. Walau
Al-Qur'an lebih banyak ditransfer melalui hafalan, namun sebagai
tambahan banyak pengikut Islam pada masa itu yang menuliskannya
pada tulang, batu-batu dan dedaunan.
Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an yang ada saat ini persis sama
dengan yang disampaikan kepada Muhammad, kemudian disampaikan
lagi kepada pengikutnya, yang kemudian menghapalkan dan menulis isi
Al Qur'an tersebut. Secara umum para ulama menyepakati bahwa versi
Al-Qur'an yang ada saat ini pertama kali dikompilasi pada masa
kekhalifahan Utsman bin Affan (khalifah Islam ke-3) yang berkisar
antara 650 hingga 656 M. Utsman bin Affan kemudian mengirimkan
duplikat dari versi kompilasi ini ke seluruh penjuru kekuasaan Islam
pada masa itu dan memerintahkan agar semua versi selain itu
dimusnahkan untuk keseragaman.13
Al-Qur'an memiliki 114 surah , dan sejumlah 6.236 ayat (terdapat
perbedaan tergantung cara menghitung).14 Hampir semua Muslim
menghafal setidaknya beberapa bagian dari keseluruhan Al-Qur'an,
13
Al-Qat hthan, Syaikh M anna’ Khalil. M ahabit s Fi ‘Ulum Al-Qur’an (Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an), Pust aka Al-Kaut sar, 2006, Jakart a. (dalam sit us: Wikipedia.org)
14
27
mereka yang menghafal keseluruhan Al-Qur'an dikenal sebagai hafiz
(jamak:huffaz). Pencapaian ini bukanlah sesuatu yang jarang,
dipercayai bahwa saat ini terdapat jutaan penghapal Al-Qur'an diseluruh
dunia. Di Indonesia ada lomba Musabaqah Tilawatil Qur'an yaitu lomba
membaca Al-Qur'an dengan tartil atau baik dan benar. Yang
membacakan disebut Qari (pria) atau Qariah (wanita).
Muslim juga percaya bahwa Al-Qur'an hanya berbahasa Arab.
Hasil terjemahan dari Al-Qur'an ke berbagai bahasa tidak merupakan
Al-Qur'an itu sendiri. Oleh karena itu terjemahan hanya memiliki
kedudukan sebagai komentar terhadap Al-Qur'an ataupun bentuk usaha
untuk mencari makna Al-Qur'an, tetapi bukan Al-Qur'an itu sendiri.
Adapun sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur'an, umat Islam juga
diwajibkan untuk beriman dan meyakini kebenaran kitab suci dan
firman-Nya yang diturunkan sebelum al-Qur'an (Zabur, Taurat, Injil
dan suhuf para nabi-nabi yang lain) melalui nabi dan rasul terdahulu
sebelum Muhammad.15 Umat Islam juga percaya bahwa selain
al-Qur'an, seluruh firman Allah terdahulu telah mengalami perubahan oleh
manusia. Mengacu pada kalimat di atas, maka umat Islam meyakini
bahwa al-Qur'an adalah satu-satunya kitab Allah yang benar-benar asli
dan sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya.
Umat Islam meyakini bahwa agama yang dianut oleh seluruh nabi
dan rasul utusan Allah sejak masa Adam adalah satu agama yang sama
15
28
dengan tauhid (satu Tuhan yang sama), dengan demikian tentu saja Ibrahim juga menganut ketauhidan secara hanif (murni) yang menjadikannya seorang muslim.16 Pandangan ini meletakkan Islam
bersama agama Yahudi dan Kristen dalam rumpun agama yang
mempercayai Nabi Ibrahim as. Di dalam al-Qur'an, penganut Yahudi
dan Kristen sering direferensikan sebagai Ahli Kitab atau orang-orang
yang diberi kitab.
2.1.3 Praktek-praktek Islam
Islam telah memasukan kewajiban-kewajiban praktis tertentu ke
dalam ajaran-ajarannya. Diantaranya yaitu:
1. Shalat
Nilai shalat dianggap sebagai alat peningkatan moral dan
penyucian batin, seperti yang telah dinyatakan dalam Al-Qur’an.
“Bacalah apa yang telah diturunkan kepadamu dari al-kitab, dan dirikanlah shalat, karena itu mencegah perbuatan-perbuatan keji dan munkar, dan mengingati Allah benar-benar merupakan
Waktu-waktu shalat telah ditetapkan, dan terdapat lima
shalat yang dianggap wajib. Yaitu Shubuh, Dzuhur, Ashar,
Magrib, dan Isya.
2. Puasa
16
29
Puasa di dalam Islam mempunyai tujuan yang sah untuk
menahan nafsu-nafsu dengan pantangan untuk waktu yang
terbatas dan tertentu dari segala yang memuaskan indera-indera,
dan mengarahkan luapan nafsu hewani ke dalam saluran sehat.
Puasa ditetapkan bagi mereka yang mampu dan kuat. Bagi
orang-orang yang lemah, sakit, yang sedang berpergian, siswa
atau mahasiswa yang sibuk menuntut ilmu, tentara yang sedang
berjuang, dan kaum wanita yang sedang haid, puasa tidak
diizinkan. Namun dalam puasa bulan ramadhan, apabila terdapat
puasa-puasa yang tidak terlaksana akibat masalah tersebut diatas
wajib digantikan di hari yang lain sebanyak yang
ditinggalkannya, dan bagi mereka yang merasa sukar
melaksanakannya, dapat membayar fidyah.
3. Zakat
Menurut hukum Islam, setiap orang harus mengeluarkan
sebagian dari hartanya untuk membantu tetangga-tetangganya
yang miskin. Bagian ini biasanya 2 ½ persen dari nilai seluruh
barang. Akan tetapi, zakat itu harus dikeluarkan hanya apabila
kekayaan tersebut mencapai nilai tertentu dan telah dan telah
dimiliki seseorang selama satu tahun.
4. Ibadah Haji
30
berbagai penjuru dunia ke Ka’bah di Mekkah dikenal dengan
sebutan haji. Haji wajib dilakukan bagi orang-orang yang
sanggup melakukan perjalanan kesana.
Kebudayaan Islam menganggap bahwa seni, sebagai nilai
tempat bergantungnya seluruh validitas Islam. Karena nilai seni
keindahan Al-Qur’an, merupakan Hujjah untuk kebenaran dari
Illahi.17 Dalam konteks pemikiran dan kebudayaan, seni Islam
telah diakuisebagai bagian dari aktifitas religius.18Contoh saja,
bacaan Shalawat Nabi, yang dilantunkan dengan berbagai
macam lagu, dimana hal tersebut sudah menjadi kebudayaan
religius dalam masyarakat. Oleh karena itu seni dianggap
sebagai salah satu pokok dari kebudayaan, yang merupakan
salah satu aspek dari agama Islam.
2.2 Sejarah Peradaban Islam di Timur Tengah
Sebelum membahas sejarah Islam terlebih dahulu perlu disinggung kondisi
sosial bangsa Arab sebelum kedatangan Islam. Hal ini untuk mengetahui latar
belakang sosial bangsa Arab ketika Islam datang, sehingga dengan mudah
memperbandingkan antara kondisi Arab sebelum dan sesuadah kedatangan
Islam.
17
Ismail Buah Faruqi, Islam Dan Kebudayaan, (Bandung : M izan, 1984), hlm. 69
18
31 2.2.1 Zaman Sebelum Kedatangan Islam
Sebelum Islam datang wilayah sekitar semenanjung Arabia di latar
belakangi oleh dua imperium, Romawi Timur di sebelah Barat dan imperium Persia di sebelah timur. Wilayah utama Romawi Timur sangat luas meliputi Syiria, Palestina, Mesir, Turki, Asia kecil, dan
sebagian kecil Eropa.
Romawi Timur mengalami puncak kejayaannya setelah masa
Konstantin Agung (280-337 M), ketika dipengang oleh Yustinus
(483-565 M), Di masa ini wilayah terus diperluas; pertanian, perdagangan
dan perusahaan maju pesat. Namun karena keinginannya untuk
ekspansi , menjadikan imperium ini harus berhadapan dengan imperium Persia, dimana peperangan terus terjadi. Pemerintahan yang kacau,
perbudakan tumbuh subur, dan peperangan dengan Persia tidak dapat ia
hindari, bahkan ketika Islam datang dan kuat, maka wilayahnya banyak
yang masuk ke dalam pemerintahan Islam hingga akhirnya runtuh.
Kristen merupakan salah satu agama besar yang dianut oleh
masyarakat imperium Romawi. Meskipun mendapat perlawanan dari
berbagai kaisar Romawi, namun masyarakat Kristen mulai
menampakan pengaruhnya terhadap Negara yang pada akhirnya agama
ini berkembang. Namun, ketika Islam yang baru lahir dan sempat
mulain berkembang di romawi, maka Kaisar Konstantin memberikan
pengakuan yang sah terhadap agama yang mulai banyak diminati oleh
32
Sementara itu imperium Persia di bagian timur mulai dikenal pada 226 M dengan kaisar Ardesir sebagai pendirinya. Ia mencoba
membangun militer yang kuat, dan melakukan ekspansi wilayah. Shapur Agung memimpin (309-379) Persia paling lama dan berhasil
secara gemilang, namun ia terlibat peperangan dengan romawi. Kaisar
Parwiz (590) merupakan penguasa terakhir yang sejaman dengan
Heraclius di Imperium Bizantine. Kekuasaannya sangat absolute, ia mencintai kekuasaan, kemewahan, kekayaan dan istrinya yang
beragama Kristen. Ia pernah merobek surat Nabi Muhammad yang
dikirim melalui utusannya dan mengusirnya. Pada masa Yazdigard III
(634-652) kekuasaan Persia baru dapat ditaklukan oleh pasukan Muslim
Arab.
Agama bangsa Persia adalah Zoroaster. Agama ini sangat berpengaruh kepada peradaban dunia dari pada agama-agama kuno
lainnya. Ia bukan hanya agama bangsa Persia saja, tetapi juga
berpengaruh sebagian ajarannya kepada para pemeluk agama Yahudi
dan Nasrani. Namun tidak berpengaruh terhadap kaum Muslim, kecuali
sebagian terkecil dari para mu’allaf.
Hubungan antara Imperium Romawi (Bezantine) dengan imperium
Persia (sasania) adalah hubungan relativitas, peperangan demi
peperangan terus terjadi di kedua belah pihak. Hingga pasukan kalum
muslimin memasuki wilayah-wilayah di bawah kekuasaan kedua
33
Kondisi sosial politik internal wilayah Arabia di masa menjelang
kedatangan Islam pada dasarnya terpecah-pecah, tidak mengenal
kepemimpinan sentral ataupun persatuan. Kepemimpinan politik di sana
didasarkan pada suku-suku atau kabilah-kabilah guna mempertahankan
diri dari serangan suku-suku yang lain. Ikatan sosial dibuat berdasarkan
hubungan darah dan kepentingan mempertahankan diri.
2.2.1.1 Kondisi Sosial-Ekonomi
Kondisi alam Arabia gersang dan tandus karena terdiri dari
padang pasir dan batu-batuan. Terletak di bagian barat daya
Asia. Secara umum iklim di jazirah Arab amat panas, bahkan
termasuk yang paling panas dan paling kering di muka bumi.
Air merupakan kebutuhan primer yang sulit diperoleh secara
melimpah seperti sekarang. Karena itu, pertanian tidak
berkembang. Salah satu pencaharian yang mungkin pada saat itu
adalah beternak dan berdagang.
Gustave Le Bon menulis dalam bukunya The World of Islamic Civilization (1974) bahwa orang-orang Arab pintar berdagang. Sebelum orang-orang Eropa membuka jalur
perdagangan keluar, orang-orang Arab telah membuka jalur
perdagangan dengan India, Cina, Afrika, dan sebagian Eropa
seperti sekarang masuk wilayah Rusia, Swedia dan Denmark.
Bahkan setelah Islam menguasai Timur Tengah, perdaganga
34
melalui Cina dan India. Menurut beberapa teori, karena
memanfaatkan jalur dan media perdagangan ini. Bahkan,
masuknya Islam ke Indonesia diakui banyak kalangan
sejarahwan melalui para pedagang Gujarat di India, di samping
melalui cara-cara yang lain seperti pengajaran oleh para guru
sufi dari Arab secara langsung.19
2.2.1.2 Kondisi Sosial dan Moral
Memang pada dasarnya masyarakat Arab memiliki
sejumlah sifat-sifat positif dan kelebihan-kelebihan. Seperti sifat
dermawan, pemberani, setia, ramah sederhana, serta cinta
kebebesan, ingatannya kuat, dan pandai bersyair.
Kehidupan masyarakat Arab berpindah-pindah dari satu ke
lain tempat yang dianggap dapat memberikan kemudahan untuk
hidup. Kondisi alam seperti ini membuat mereka bersikap
sebagai pemberani dan bersikap keras dalam mempertahankan
prinsip dan kepercayaan.
Masa sebelum lahir Islam disebut jaman jahiliah. Kata jahiliah berasal dari kata jahl, tetapi yang dimaksud disini bukan jahl lawan dari ilm, melainkan lawan dari hilm, yaitu mereka yang pada saat itu dianggap mengalami kemerosotan moral.
19
35
Struktur masyarakat menempatkan perempuan pada posisi
yang rendah, tidak diperbolehkan untuk tampil sebagaimana
laki-laki, karenanya mereka tidak mempunyai
keterampilan-keterampilan dalam sector public seperti memimpin peperangan
dan mencari nafkah. Hal ini membuat tradisi menanam anak
perempuan yang baru dilahirkan.
Struktur masyarakat Arab pra Islam juga mengikuti sistem
perbudakan sebagaimana itu telah menjadi tradisi kuat
bangsa-bangsa seluruh dunia saat itu termasuk Yunani yang terkenal
sistem perbudakannya itu. Sistem perbudakan berlaku dan
berkembang di kalangan bangsa Arab. Mereka dipekerjakan
dengan sekehendak majikan, dan diperjual belikan serta ditukar
dengan barang sebagai layaknya pedagang melakukan transaksi
jual beli secara barter.
Selanjutnya, struktur sosial membedakan kelas papan atas
dari kaum bangsawan dengan kelas papan bawah dari rakyat
jelata. Diantara dua kelas ini terjadi perbedaan yang sangat
tajam sehingga melahirkan jarak dan kerawanan sosial.
2.2.1.3 Kondisi Sosial-budaya
Salah satu kelebihan bangsa Arab adalah terletak pada
bahasanya. Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa rumpun
yang paling sempurna dan mampu bertahan dari seleksi alam
36
sangat pesat karenanya. Sehingga, Philip K. Hitti dalam
bukunya A History of the Arabs memberika penilaian, bahwa keberhasilan penyebaran Islam di antaranya didukung oleh
keluasan bahasa Arab, khususnya bahasa Arab Al-Qur’an (Hitti,
1973).
2.2.1.4 Sistem Kepercayaan dan Agama
Bangsa Arab pra Islam percaya dan mewarisi mitos-mitos
dari nenek moyang yang bertumpu pada sistem kepercayaan
watsaniyah (paganisme)20. Seperti kepercayaan terhadap dewa,
hantu, roh jahat, azimat, tuah, dan lain sebagainya, di mana hal ini sering disinyalir oleh Al-Qur’an sebagai kemusyrikan21 yang
amat dilarang dalam Islam.
Mayoritas bangsa Arab pra Islam menyembah berhala
kecuali para penganut Yahudi dan Nasrani yang jumlahnya
kecil. Selain itu mereka menyembah matahari, bintang dan
angin. Bahkan terkadang ada yang menyembah batu-batu kecil
dan pohon-pohon keramat. Mereka mempunyai berhala-berhala
sesembahan, dan yang paling besar lagi terkenal adalah Lata, Mana, ‘Uzza dan Hubal. Disekeliling ka’bah terdapat sekitar
20
Paganisme adalah sebuah kepercayaan/ praktik spirit ual penyembahan t erhadap berhala yang pengikutnya disebut Pagan. Pagan pada zaman kuno percaya bahw a t erdapat lebih dari sat u dew a dan dew i dan unt uk menyembahnya mereka menyembah pat ung, cont oh M esir Kuno, Yunani Kuno, Romawi Kuno,
dan lain-lain.
21
37
360 berhala yang setiap tahun mereka kunjungi untuk disembah
bersamaan dengan diselenggarakan pecan raya Ukadz.
Namun demikian, di sisi lain terdapat sejumlah orang dari
kalangan Yahudi dan Nasrani yang masih mempertahankan
ajaran-ajaran agamanya seperti ajaran tentang ke-Esaan Tuhan
(monotheisme).
2.2.2 Masa Awal Kedatangan Islam
2.2.2.1 Nabi Muhammad
Nabi Muhammad lahir dari kalangan bangsawan Quraisy.22
Ayahnya bernama Abdullah ibn al-Muthalib dan ibunya
bernama Aminah binti Wahab. Apabila silsilahnya ditarik ke
atas beliau samapai kepada Ismail as.
Muhammad saw dilahirkan sebagai yatim pada 12 Rabi’ul
Awal Tahun Gajah, bertepatan dengan 20 April 571. Ketika
berumur 40 tahun dia dianggkat menjadi Rasul dengan turunnya
wahyu pertama oleh Allah melalui malaikat Jibril yaitu Surat
al-Alaq ayat 1-5.
Dakwah beliau pertama kali kepada bangsa Quraisy di
Makkah adalah mengenalkannya Allah yang Maha Esa (tauhid).
22
38
Allah adalah pencipta alam semesta, pemberi kehidupan dan
penentu kematian, pemberi rizki, dll. Selanjutnya, mula-mula
misi itu disampaikan kepada keluarga terdekat secara
diam-diam, kemudian kepada masyarakat umum secara
terang-terangan setelah kondisi memungkinkan. Sebahagian kecil
masyarakat menerima dakwahnya, seperti Khadijah istri nabi,
Abu Bakar, dan Ali, karena mereka mengetahui kebenaran akan
kerasulan Muhammad itu melalui Kitab-kitab suci terdahulu.
Namun, sebagian banyak diantara mereka menolak dakawah
nabi tersebut, karena tauhid yag dibawakannya dianggap sangat
bertolak belakang dari kepercayaan dan agama-agama yan
selama ini mereka ikuti.
Penolakan demi penolakan atas dakwah Muhammad
dilakukan oleh kaum Quraisy hingga mereka menyakiti dan
menganiaya Muhammad serta orang-orang yag mengikutinya.
Beberapa strategi dakwah yang dilakukan Muhammad
ialah:
Pertama, nabi memperkenalkan tauhid kepada Allah sebagai pondasi kehidupan dalam arti yang menyeluruh. Dalam
arti, setelah seseorang beriman kepada Allah, maka sekaligus
sikap keimanan tersebut diaplikasikan dalam bentuk kehidupan
sehari-hari dan perjuangan membela agama Allah. Maka,
39
bersedia berjuang mati-matian serta berkorban untuk
kepentingan dakwah.
Kedua, nabi menggunakan strategi pertahapan yang jelas. Dimulai dari dakwah di lingkungan keluarga serta masyarakat
sekitar yang mempunyai potensi untuk dapat dipergunakan
dalam membantu dakwah. Seperti beliau mengajak Ali putra
pamannya, melibatkan Abu Bakar sebagai mertua, mengawini
Khadijah yang setia dan kaya, serta Umar pemimpin Quraisy
yang sangat disegani.
Ketiga, nabi mendayagunakan berbagai macam sumber potensi manusia secara efektif. Sahabat yang mempunyai
kekayaan lebih seperti Khadijah, Abu Bakar dan Usman untuk
mendanai dakwah. Mereka yang mempunyai pengaruh besar di
kalangan Quraisy seperti Umar bin Khattab dan Hamzah yang
Muslim, menyiapkan diri untuk menjadi perisai Nabi dari
serangan-serangan musuh besarnya. Sebagai para sahabat yang
mempunyai kelebihan dalam bidang intelektualitas seperti Ali
bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud dan Zaid bin Tsabit
menjalankan misi dalam pengembangan ilmu-ilmu agama dan
lain sebagainya.
Selanjutnya setelah Muhammad telah hijrah ke madinah dan
menjalankan dakwahnya, telah terjadi beberapa peperangan,
40
Pertama, Perang Badar, terjadi setelah kurang lebih satu tahun Nabi di Madinah. Peperangan terjadi antara Nabi dan
kaum Quraisy di Makkah. Peperangan ini akhirnya
dimenangkan oleh pihak Nabi.
Kedua, Perang Uhud, terjadi di tahun ke tiga Hijriah antara pasuka nabi dan penduduk mekah, 70 pasukan Muslim gugur,
sedangkan penduduk mekah sebanyak 23 jiwa.
Ketiga, perang khadaq, Muslim diikuti 3000 pasukan dengan 10.000 pasuka gabungan antara penduduk mekah,
suku-suku Badui sekitar Madinah, dan Yahudi dari Bani Nazir di
Madinah. Peperangan ini dimenangkan oleh pihak Muslim
berkat strategi berupa penggalian parit yang mengelilingi
wilayah kota.
Keempat, perang Khaibar, yaitu penaklukan tanah khaibar oleh kaum Muslimin dengan 1600 pasukan untuk menyerbu
Yahudi di tanah itu secara tiba-tiba. Kelima, perang Mu’tah,
terjadi antara pasukan kaum Muslimin dengan pasukan Kristen
yang dipimpin oleh Surabhil di Mu’tah perbatasan kekuasaan
Romawi saat itu. Dan Nabi memerintahkan Khalid bin Walid
untuk memimpin penyerangan hingga akhirnya dapat
memenangkan pertempuran.
41
berdamai, tetapi mereka menolak. Akhirnya Nabi mengirimkan
sebanyak 10.000 pasukan dari Madinah yang beliau pimpin
sendiri.
Nabi Muhammad wafat pada tahun 632, hampir semua suku
Arab telah bergabung dan masuk Islam tanpa paksaan. Dan
konflik yang sebelumnya terus terjadi di kalangan Arab telah
berakhir.
2.2.2.2 Kulafaur-Rasyidin
Pengganti Muhammad bukan nabi, tetapi harus
mengandalkan pandangan manusia yang ada pada dirinya.
Bagaimana mereka akan menjamin kalau umat Islam terus
mematuhi perintah-perintah Islam.
Empat khalifah pertama yang menggantikan Muhammad
adalah sahabat-sahabat terdekat Nabi dan memainkan peran
penting di Mekkah dan Madinah. Periode pemerintahan mereka
sama formatnya dengan masa Nabi sendiri.
Yang menjadi khalifah pertama pada saat itu ialah Abu
bakar yang dipilih berdasarkan suara terbanyak. Masa
pemerintahannya singkat (632-634) tetapi sangat penting.
Terutama dalam berperang melawat riddah (kemurtadan) ketika beberapa suku mencoba melepaskan diri dari umat dan
menegaskan lagi kemerdekaan mereka. Pemberontakan terjadi,
42
tertarik dengan agama Muhammad. Beberapa kepala suku
menganggap perjanjian mereka hanya berlaku dengan
Muhammad dan tidak dengan penerusnya, sehingga setelah
wafatnya, mereka bebas menyerbu suku-suku lain dalam Islam.
Abu Bakar memadamkan pemberontakan-pemberontakan
dengan kebijaksanaan dan pengampunan. Dia menangani
keluhan-keluhan pemberontak dengan baik, sehingga tidak akan
ada pembalasan bagi pemberontak yang kembali ke masyarakat.
Sebagian terpikat kembali ke Islam.
Khalifah yang kedua ialah Umar ibnu Khathab (634-644).
Di bawah kepemimpina Umar orang-orang Arab menyerbu Iraq,
Syiria, dan Mesir dan mencapai serangkaian kemenangan besar.
Mereka mengalahkan pasukan Persia dalam perang Qadisiyyah
(637), yang menyebabkan runtuhnya ibukota Persia Sanssanid di
Ctesiphon. Segera setelah pasukan mereka terkumpul,
orang-orang Muslim bisa menduduki Kekaisaran Persia secara
keseluruhan. Mereka mengahadapi pertahanan yang lebih kuat
di Kekaisaran Byzantium, dan tidak berhasil menaklukan
wilayah pusat kekuatan Byzantium di Anatolia. Namun, Muslim
menang di Perang Yarmuk (636) di palestina utara, menaklukan
Jerusalem pada tahun 638 dan menguasai seluruh Syiria,
Palestina, dan Mesir. Pada tahun 641, pasukan Muslim merebut
43
setelah perang Badar, orang-orang Arab telah menjadi penakluk
kerajaan lain yang lebih lemah. Ekspansi ini terus berlanjut.
Satu abad setelah nabi wafat, kerajaan Islam meluas dari
Pyrenees sampai Himalaya. Sementara sebelum datangnya
Islam, orang Arab adalah kelompok yang dipandag rendah;
tetapi hanya dalam waktu yang cukup singkat mereka telah
mengalahkan dua kerajaan dunia.
Telah sering kita dengar perkataan orang Barat yang
menganggap Islam sebagai kepercayaan yang kejam dan
militeristik yang dipaksakan pada orang-orang dengan ancaman
pedang. Sementara Umar sendiri tidak merasa mendapatkan
mandat dari Tuhan untuk menaklukan dunia. Tujuan Umar dan
para pejuangnya ialah menginginkan harta rampasan dan
melakukan kegiatan yang biasa mereka lakukuan untuk
mempertahankan kesatuan Islam.
Periode Umar berakhir ketika di ditikam di masjid Madinah
oleh seorang tawanan perang Persia yang mempunyai dendam
pribadi dengannya (644 M). dan kemudian Utsman ibnu Affan
dipilih sebagai khalifah ketiga oleh enam orang sahabat Nabi.
Karakternya lebih lemah daripada pendahulu-pendahulunya,
tetapi selama enam tahun kepemimpinannya, umat tetap hidup
sejahtera. Utsman memerintah dengan baik dan menaklukan
44
akhirnya mengusir mereka dari Mediterania timur dan di Afrika
Utara pasukan mencapai Tripoli yang sekarang menjadi Libya.
Di timur, pasukan Muslim merebut sebagian besar Armenia,
menyusup ke Kaukasus dan membangun kekuasaan Muslim
sampai di Sungai Oxus di Iran, Heart di Afganistan, dan Sind di
anak benua India.
Di balik kemengan-kemengan itu, para prajurit merasa
tidak puas. Mereka sudah mengalami perubahan besar-besaran.
Dalam waktu sekitar sepuluh tahun, mereka telah merubah
sistem ketentaraan menjadi tentara professional. Ustma
melarang kepada komandan dan keluarga-keluarga kaya Mekah
untuk membangun pemukiman pribadi di Negara-negara yang
baru ditaklukan, ini membuatnya tidak disenangi. Mereka
menuduhnya menganut nepotisme, misalnya ia telah menunjuk
Muawiyah, anak lelaki Abu Sufyan musuh lama Muhammad,
sebagai gubernur Syiria. Dia adalah seorang Muslim yang taat
dan ahli administrasi yang handal. Tetapi, pemilihan itu tamapak
salah di mata Muslim Madinah. Para pemimpin keagaamaan,
sangat marah saat utsaman bersikeras hanya ada satu versi kitab
suci yang boleh digunakan, dan memusnakan variasi-variasi
yang banyak. Orang yang tidak puas memihak Ali ibnu Thalib,
sepupu Nabi, yang sepertinya tidak menyetujui kebijaksanaan
Umar dan Utsman, dia mendukung hak prajurit melawan
45
Pada tahun 656, ketidakpuasan memuncak dalam
pemberontakan. Sekelompok prajurit Arab dari Fustat pulang ke
Madinah untuk menuntut hak mereka dan ketika ditolak, mereka
mengepung rumah sederhana Utsman, menyerbu masuk, dan
membunuhnya. Para pemberontak mengangkat Ali sebagai
Khalifah baru.
Ali tumbuh dalam rumah tangga Nabi dan diilhami ide-ide
yang dikembangkan Muhammad. Dia adalah prajurit terbaik dan
dia menulis surat-surat yang menyemangati para prajuritnya.
Walaupun dekat dengan Nabi, kepemimpinannya tidak diterima
semua orang. Ali didukung kaum Anshar madinah, dan orang-orang Mekkah yang menolak kebangkitan Umayyah. Tetapi
pembunuhan Utsman, sebagaimana Ali sendiri, adalah menantu
Muhammad dan merupakan orang-orang pertama yang masuk
Islam, menjadi peristiwa yang mengejutkan dan menyebabkan
perang saudara selama lima tahun, yang dikenal sebagai fitnah, periode ujian. hal itu disebabkan karena Ali tidak menghukum
pembunuh Utsman.
Ali berada di posisi sulit. Dia sendiri terguncang oleh
pembunuhan Utsman yang tidak bisa dimaafkan. Tetapi
pendukungnya bersikeras bahwa Utsman memang layak
dibunuh karena dia tidak memerintah dengan baik dan tidak
sesuai dengan cita-cita Al-Qur’an. Pemerintahan Ali juga tidak
46
Muawiyah meningkat di ibukota Damaskus. Utsman adalah
keluarganya, dan sebagai pimpinan baru keluarga Umayyah,
tugasnya sebagai kepala suku Arab untuk membalas kematian
Utsman.
Muawiyah terus memperoleh simpatisan, sementara banyak
warga Arab yang tetap netral. Sementara Ali mulai hilang
pendukungnya. Tentara Muawiyyah mengalahkan pertahanan
kepemimpinan Ali di Arab, dan pada tahun 661, Ali dibunuh
oleh Khawarij23. Orang-orang yang tetap setia pada tujuan Ali di
Kufah mengangkat anaknya, Hasan, sebagai pemimpin, tetapi
Hasan kemudia membuat perjanjian dengan Muawiyah dan
dengan pertimbangan keuangan, dia mundur dan menyerahkan
kekuasaanya kepada Muawiyah, sementara ia tinggal di
Madinah tanpa terlibat gerakan politik apapun sampai wafatnya
pada tahun 669.
2.2.3 Masa Perkembangan Islam
2.2.3.1 Dinasti Umayah
Dalam literatur sejarah, Dinasti Umayah selalu dibedakan
menjadi dua: pertama, Dinasti Umayah yang didirikan oleh
Muawiyah Ibn Abi Sufyan yang berpusat di Damaskus (Syiria).
Fase ini berlangsung sekitar satu abad dan mengubah sistem
23