• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI DESKRIPTIF NASYID PADA PONDOK PESANTREN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STUDI DESKRIPTIF NASYID PADA PONDOK PESANTREN"

Copied!
183
0
0

Teks penuh

(1)

i

STUDI DESKRIPTIF

NASYID

PADA PONDOK PESANTREN

RAUDHATUL HASANAH

DI MEDAN

SKRIPSI SARJANA

DIKERJAKAN

O

L

E

H

KIKI ALPINSYAH

NIM : 070707002

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

DEPARTEMEN ETNOMUSIKOLOGI

MEDAN

2013

(2)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Islam berasal dari bahasa Arab, yang artinya “memelihara dalam keadaan

selamat dan sentosa”, atau berarti juga menyerahkan diri, tunduk patuh dan taat

kepada Allah SWT (Razak, 1971:56). Agama Islam merupakan salah satu agama

yang diakui di Indonesia dan merupakan mayoritas terbesar ummat Muslim di

dunia. Ada sekitar 85,2% atau 199.959.285 jiwa dari total 234.693.997 jiwa

penduduk.1 Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan nama muslim yang berarti “seorang yang tunduk kepada Tuhan”, atau lebih lengkapnya adalah

muslimin bagi laki-laki dan muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurun kan firman-Nya kepada manusia melaluli para Nabi dan Rasul

utusannya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah

Nabi dan Rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah SWT.2

Murodi (1977:113), menjelaskan bahwa Islam yang sudah berkembang di

kawasan Timur Tengah, telah masuk ke Indonesia pada abad ke-1 Hijriah3 (pada

abad ke -7 Masehi). Selanjutnya, agama Islam secara resmi masuk ke Sumatera,

yaitu wilayah Aceh pada abad ke-7 hijriah (pertengahan abad ke-12 Masehi). Hal

1

htt p:/ / id.wikipedia.org/ wiki/ islam

2

Ibid.,

3

(3)

2

ini terbukti dengan datangya seorang mubaligh yang bernama Abdul Arief, pada

tahun 1151 masehi ke wilayah itu, untuk menyebarkan agama Islam.

Kesenian adalah satu di antara hal yang sangat berpengaruh terhadap

kebudayaan tertentu. Kesenian erat kaitannya dengan budaya karena kedua hal

tersebut saling berdampingan satu sama lain. Tanpa kebudayaan, kesenian tidak

berjalan dengan lancar. Begitu juga tanpa kesenian, kebudayaan tidak akan

menjadi lengkap. Oleh karena itu, setiap hal yang muncul di dalam wacana

kebudayaan senantiasa erat kaitannya dengan kesenian.

Perkembangan agama pun tidak lepas dari perkembangan kesenian dan

kebudayaan. Tanpa kebudayaan, agama tidak akan bisa menyebar dan menjadi

panutan bagi masyarakat. Oleh sebab itu, kesenian juga merupakan salah satu

faktor pendukung yang memiliki peranan untuk bisa menyebarluaskan suatu

agama dan kepercayaan. Misalnya saja, kesenian yang hidup dalam suasana

budaya agama tertentu akan senantiasa berkembang searah dengan perkembangan

agama.

Dari berbagai macam kesenian yang berkembang di Islam, diantaranya

yaitu nasyid. Nasyid merupakan salah satu jenis musik yang berasal dari tradisi Islam yang syair lagunya mengandung kata-kata, nasehat-nasehat, do’a, kisah para

nabi, serta pujian-pujian kepada Allah SWT dan Rasulnya (Muhammad SAW).

Istilah Nasyid berasal dari bahasa Arab, “ansyada-yunsyidu”, artinya

bersenandung. Definisi nasyid sebagai format kesenian adalah senandung yang

berisi syair-syair keagamaan4. Akan tetapi, ada banyak versi mengenai pengertian

nasyid itu sendiri.

4

(4)

3

Di versi yang lain mengatakan bahwa nasyid atau anasyid (jamak di dalam bahasa Arab) artinya bacaan atau lantunan. Ansyadahu asy syira artinya dia membacakan syairnya kepada seseorang. Munsyid artinya orang yang membacakan dan melantunkan syairnya kepada seseorang. Pembacaan syair

merupakan aktivitas yang telah lama sekali dilakukan manusia. Sebelum Nabi

Muhammad SAW (sekitar abad ke-6 M) di utus bangsa Arab telah hidup dengan

tradisi syair.5

Pada awalnya nasyid hanya dibawakan dengan musik yang sederhana

sekali, bahkan ada yang tanpa musik sama sekali. Namun pada saat sekarang ini

nasyid terus berkembang baik dari penyajiannya maupun alat-alat musiknya.

Untuk alirannya sendiri, nasyid terus berkembang seiring dengan perkembangan

warna musik di tempat dimana nasyid itu berada. Sehingga, warna aliran dalam

nasyid saat ini berbagai macam. Mulai dari yang murni “acappella” (tanpa iringan musik) hingga “Full Insrument” (diiringi dengan banyak alat musik). Namun, ada berapa komunitas yang tidak memilih untuk menggunakan alat musik modern,

dikarenakan banyak ulama Islam yang melarang penggunaan alat musik kecuali

Perkusi.

Sejak jaman Rasulullah SAW (Sekitar abad ke 6 Masehi) nasyid telah ada.

Biasanya tentara-tentara Islam melantunkan nasyid sebelum berangkat perang,

(5)

4

kami) yang kini kerap dinyanyikan oleh tim qasidah7, adalah syair yang dinyanyikan kaum muslimin saat menyambut kedatangan Rasulullah SAW ketika

pertama kali hijrah ke Madinah. Kemudian nasyid pun mulai berkembang sesuai

dengan kondisi dunia, terbukti dengan perkembangan nasyid di Timur Tengah

yang lebih bermakana tentang jihad dan perlawanan terhadap imperialisme Israel

pada saat itu.

Di Indonesia sendiri nasyid mulai merambah sekitar tahun 80-an yang

dimulai oleh aktivis-aktivis Islam yang berada di kampus-kampus. Aliran nasyid

yang dilantunkan pada umumnya adalah lagu-lagu yang berbahasa Arab, dan terus

berkembang dengan munculnya munsyid-munsyid kreatif yang membuat nasyid memiliki warna musik yang beragam. Sampai saat tulisan ini dibuat, tema lagu

yang dikandung dalam nasyid di Indonesia tidak hanya berisi tentang jihad, tetapi

banyak juga yang bertema walimahan, cinta kepada makhluk, keimanan dan

banyak lagi.

Namun, kini nasyid telah dikembangkan sebagai media dakwah yang

diharapkan dapat diterima oleh masyarakat umum. Dan hal ini juga selalu

dilakukan oleh pemuda muslim yang belajar di Pondok Pesantren. Oleh karena itu

di sebagian pesantren-pesantren di Indonesia ini memasukan nasyid sebagai

pendidikan luar sekolah, atau yang disebut program ekstrakurikuler sekolah.

Pondok Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah Medan merupakan institusi

pendidikan Islam yang mengajarkan pendidikan umum, pendidikan agama Islam,

dan akhlak. Para pelajar yang menuntut ilmu disebut santri bagi laki-laki dan

santriwati bagi perempuan. Materi ajaran yang campuran antara pendidikan ilmu

7

(6)

5

formal dan ilmu agama Islam ini para santri belajar seperti di sekolah umum atau

madrasah seperti yang. untuk tingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama) dikenal

dengan nama “Madrasah Tsanawiyah” (MTs), sedangkan untuk tingkat SMA

(Sekolah Menengah Atas) dengan nama “Madrasah Aliyah” (MA). Namun,

perbedaan pesantren dan madrasah terletak pada sistemnya. Pesantren

memasukkan santrinya ke dalam asrama, sementara dalam madrasah tidak.Oleh

karana itu pesantren Raudhatul Hasanah ini disebut juga dengan istilah pondok pesantren modern, Karena telah memasukan pelajaran-pelajaran umum sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan pemerintah. Namun tetap menekankan

nilai-nilai dari kesederhanaan, keikhlasan, kemandirian, dan pengendalian diri.

Nasyid merupakan salah satu program ekstrakurikuler8 yang terdapat di

pondok pesantren Raudatul Hasanah. Yang tujuannya ialah mendidik siswa agar

bisa mempertunjukan musik nasyid dengan baik, yang dapat menghibur dan

mengandung dakwah islam, dengan menampilkan lagu-lagu dengan syair-syair

yang bertemakan dakwah Islam. Serta diiringi dengan alat-alat musik yang

merupakan cirri khas kebudayaan Islam.Para santri yang mendiami pondok

pesantren tersebut menampilkan lagu yang islami, dengan mengambil

lagu-lagu religus Islam yang komersial. Seperti lagu-lagu-lagu-lagu yang diciptakan oleh

musisi-musisi terkenal saat ini, diantaranya seperti; Raihan, Opick, Snada, Maher Zain,

Yusuf Islam, dan lain-lain.

Para santri biasanya memainkan lagu-lagu religi yang telah mereka

sepakati bersama. Tergantung dari lagu yang menurut mereka enak dan layak

8

(7)

6

untuk ditampilkan, juga enak di dengar dengan mengandung lirik-lirik yang

mengandung unsur dakwah Islam, sehingga dapat menambah kecintaan mereka

kepada Allah dan Rasulnya.

Nasyid itu sendiri telah banyak menampilkan pertunjukan-pertunjukan

musiknya di berbagai acara, baik di dalam maupun di luar lokasi pesantren itu

sendiri. dilakukan ketika memperingati hari-hari besar Islam, seperti Idul Adha,

Maulid Nabi, Nujulul Qur’an, Isra’ Miraz dan lain-lain. Kemudian nasyid raudhah

juga tampil pada acara-acara pelantikan, penyambutan tamu-tamu penting, dan

acara-acara yang diselenggarakan oleh santri dan santriwati itu sendiri. Dan

kemudian nasyid pesantren juga turut serta dalam berbagai ajang perlombaan

nasyid yang di selenggarakan di dalam dan di luar pesantren. Bahkan nasyid

raudhah itu sendiri sering memperoleh prestasi yang gemilang di berbagai

perlombaan baik dari tinggkat lokal hingga nasional, seperti halnya pada

POSPENAS tahun 2007 di Kalimantan Timur dan tahun 2010 di Jawa Timur

meraih juara I di tingkat Nasional.

Nasyid di pondok pesantren ini terdiri dari beberapa pemain yang

membentuk suatu grup, Terdiri dari 10 sampai 14 orang. Alat music yang

digunakan yaitu sejumlah rebana, kencer/kerincing, tamborin, dan di campur

dengan alat music modern seperti gitar, gitar bass, drum, keyboard, vocal. Dan

terkadang mereka juga menambah/memasukan alat-alat musik yang lain sesuai

dengan kesepakatan bersama dalam suatu grup.

Oleh karena itu penulis tertarik untuk membahas masalah ini, yaitu

(8)

7

mengidentifikasi musiknya. Dengan itu penulis mengambil judul “Studi

Deskriptif Nasyid pada Pondok Pesantren Raudhatul Hasanah di Medan”.

1.2 Pokok Permasalahan

Berdasarkan uraian pada latar belakang yang tertera diatas maka penulis

menemukan beberapa pokok permasalahan yang akan dibahas pada tulisan ini,

diantaranya adalah:

1. Bagaimana Pertunjukan Nasyid dan unsur-unsur pendukungnya yang disajikan oleh santri Pondok Pesantren Rhaudhatul Hasanah Medan. 2. Bagaimanakah aspek musikal dari Pertunjukan Nasyid di Pondok

Pesantren Rhaudhatul Hasanah Medan.

3. Apakah fungsi Nasyid tersebut bagi Santri dan santriwati di Pondok Pesantren Rhaudhatul Hasanah Medan tersebut.

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Setiap penelitian yang dilakukan mempunyai tujuan yang harus dicapai

pada ahirnya, Di dalam penulisan ini terdapat beberapa tujuan dan manfaat yang

ingin di capai, disesuaikan dengan latar belakang serta pokok permasalahan yang

sudah ada. Adapun tujuan dan manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.3.1 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

(9)

8

2. Untuk mengetahui seluruh aspek musikal dari Pertunjukan Nasyid di Pondok Pesantren Rhaudhatul Hasanah Medan tersebut.

3. Untuk mengetahui fungsi Nasyid tersebut bagi Santri dan santriwati di Pondok Pesantren Rhaudhatul Hasanah Medan tersebut.

1.3.2 Manfaat Penelitian

1. Sebagai bahan pengetahuan tentang keberadaan dan proses

Pertunjukan Nasyid dan unsur-unsur pendukung pertunjukan Nasyid tersebut di Pondok Pesantren Rhaudhatul Hasanah Medan. 2. Merupakan bentuk pengaplikasian ilmu yang diperoleh penulis

selama studi di Departemen Etnomusikologi, Fakultas Ilmu

Budaya, Universitas Sumatera Utara

3. Untuk menambah wawasan dan menambah referensi di kampus

tentang Pertunjukan Nasyid dan unsur-unsur pendukungnya .

1.4 Konsep dan Teori

1.4.1 Konsep

Konsep merupakan defenisi dari apa yang kita amati, konsep menentukan

antara variable-variabel mana yang kita ingin menentukan hubungan empiris

(Mely, 1990:21). Maka dari itu penulis memberikan pengertian dari beberapa

istilah yang terdapat dalam judul tulisan ini.

Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk

mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun

fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas,

(10)

9

yang satu dengan fenomena lainnya (Sukmadinata, 2006:72). Penelitian deskriptif

merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan

sesuatu, misalnya kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang,

proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang

kecendrungan yang tengah berlangsung.

Furchan (2004:447) menjelaskan bahwa penelitian deskriptif adalah

penelitian yang dirancang untuk memperoleh informasi tentang status suatu gejala

saat penelitian dilakukan. Lebih lanjut dijelaskan, dalam penelitian deskriptif tidak

ada perlakuan yang diberikan atau dikendalikan serta tidak ada uji hipotesis

sebagaimana yang terdapat pada penelitian eksperiman.

Penelitian deskriptif mempunyai karakteristik-karakteristik seperti yang

dikemukakan Furchan (2004) bahwa (1) penelitian deskriptif cendrung

menggambarkan suatu fenomena apa adanya dengan cara menelaah secara

teratur-ketat, mengutamakan obyektivitas, dan dilakukan secara cermat. (2) tidak adanya

perlakuan yang diberikan atau dikendalikan, dan (3) tidak adanya uji hipotesis.

Kata Nasyid berasal dari bahasa Arab, ansyada-yunsyidu, artinya “bersenandung”. Definisi nasyid sebagai format kesenian adalah senandung yang

berisi syair-syair keagamaan. Akan tetapi, ada banyak versi mengenai pengertian

nasyid itu sendiri. Misalnya dari sebuah artikel disebutkan bahwa arti nasyid atau anasyid (jamak) itu sendiri adalah lantunan atau bacaan, sementara istilah nyanyian dalam bahasa Arab adalah Al-Ghina, bukan nasyid.9

Pondok menurut Dhofier (1983:18) ialah rumah atau tempat tinggal

sederhana yang terbuat dari bamboo. Disamping itu kata pondok mungkin berasal

9

(11)

10

dari bahasa Arab “Funduq” yang berarti “Hotel atau Asrama”. Dengan kata lain

Pondok merupakan tempat penampungan sederhana bagi para pelajar yang jauh

dari asalnya, dan merupakan tempat tinggal kyai bersama santrinya, dengan

demikian para santri dapat mengikuti pelajaran yang diberikan kyai dengan baik

dan pondok juga dapat dijadikan tempat training atau latihan bagi santri agar

mampu hidup mandiri dalam masyarakat.

Menurut Mujamil Qamar (2005:2) ia menyimpulkan bahwa “pesantren”

didefenisikan sebagai suatu tempat pendidikan dan pengajaran yang menekankan

pelajaran agama Islam dan didukung asrama sebagai tempat tinggal santri yang

bersifat permanen. Maka pesantren kilat atau pesantren ramadhan yang diadakan

di sekolah-sekolah umum misalnya tidak termasuk dalam pengertian ini.

Terdapat pula beberapa defenisi lain mengenai pesantren yang

dikemukakan oleh para ahli, seperti defenisi yang diberikan oleh Mastuhu.

“Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari,

memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan

menekankan pentingya moral keagamaan sebagai pedoman prilaku sehari-hari”.

Defenisi lain yang diberikan oleh Sudjoko Prasodjo, “Pesantren adalah

lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara nonklasikan,

di mana seorang kyai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri

berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama abad

pertengahan, dan para santri biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren

tersebut.

(12)

11

para pendiri pesantren tersebut. Dan dicetuskan pada tahun 1982, yaitu ketika

pesantren itu berdiri.10

1.4.2 Teori

Teori adalah salah satu acuan yang digunakan oleh penulis untuk

menjawab masalah-masalah yang timbul dalam tulisan ini atau dengan kata lain

teori adalah landasan berfikir dalam pembahasan. Pengetahuan tersebut diperoleh

dari buku-buku dan dokumen-dokumen. Menurut Snelbecker (1974:31) teori

adalah sebagai seperangkat proposisi yang terintegrasi secara sintaksis (yaitu

yang memiliki aturan tertentu yang dapat dihubungkan secara logis satu dengan

yang lainya dengan data dasar yang diamati) dan berfungsi sebagai wahana untuk

meramalkan dan menjelaskan fenomena yang diamati (baca Lexi J.Moleong

dalam buku yang berjudul Metodologi Penelitian Kualitatif 2000:34).

Dengan ini maka penulis akan menggunakan beberapa teori yang berkaitan

dengan masalah penelitian, diantaranya sebagai berikut: Pertama, dalam

menganalisi aspek musikologis, penulis menggunakan teori Weighted Scale yang dikemukakan oleh William P. Malm (1977:8) bahwa terdapat 8 unsur yang harus

diperhatikan: (1) tangga nada, (2) nada dasar, (3) wilayah nada, (4) jumlah

masing-masing nada, (5) interval yang dipakai, (6) pola-pola kadensa, (7) formula

melodi, (8) kontur.

Kedua, untuk melihat perkembangan yang terjadi dalam nasyid sebagai

suatu kebudayaan, penulis menggunakan teori perubahan oleh Kingsley David; ia

berpendapat bahwa perubahan sosial merupakan bgian dari perubahan-perubahan

10

(13)

12

kebudayaan. Perubahan kebudayaan mencakup bagian kesenian, ilmu

pengetahuan, teknologi, dan filsafat. Pengertian kebudayaan mencakup bagian

kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, dan filsafat. Pengertian kebudayaan itu

mencakup segenap cara berfikir, tingkah laku yang timbul karena interaksi yang

bersifat komunikatif seperti menyampaikan buah pirikan atau ide secara simbolis.

Salah satu faktor yang mendorong jalanya proses perubahan adalah kontak dengan

kebudayaan lain (baca Shin Nagawa, dalam bukunya “music dan Kosmos :

Sebuah Pengantar Etnomusikologi 2000).

Ketiga, Menurut Koentjaraningrat (1996 : 142) semua konsep yang kita

perlukan untuk menganalisa proses-proses pergeseran masyarakat dan

kebudayaan disebut sebagai dinamika sosial. Beberapa konsep tersebut antara lain

adalah: (1) proses belajar kebudayaan sendiri, yang terdiri dari internalisasi,

sosialisasi, dan enkulturasi, (2) Evolusi kebudayaan dan difusi, (3) Proses

pengenalan unsur-unsur kebudayaan asing, yang meliputi: akulturasi dan

asimilasi; dan, (4) proses pembaruan atau inovasi atau penemuan baru.

Untuk mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan dan fungsi

musik tersebut penulis mengacu kepada teori penggunaan dan fungsi musik. Teori

ini seperti yang dikemukakan oleh Merriam, (1964:219-222) mengatakan secara

implisit bahwa penggunaan (uses) dilakukan dalam konteks upacara, yang dapat dilihat saat itu juga, sedangkan fungsi (function) mempunyai dampak yang lebih jauh dan dalam. Merriam menawarkan ada sepuluh fungsi musik antara lain : (1)

fungsi pengungkapan emosional, (2) fungsi penghayatan estetika, (3) fungsi

(14)

13

komunikasi, (7) fungsi kesinambungan kebudayaan, (8) fungsi yang berkaitan

dengan norma sosial, (9) fungsi pengesahan

Untuk menganalisis hubungan musik dengan teksnya, penulis

menggunakan teori dari Alan P Merriam. Penulis mengacu pada teorinya yang

mengatakan salah satu sumber pokok yang dapat kita pakai untuk memperdalam

pengertian perilaku manusia dalam hubungannya dengan musik adalah pada teks

nyanyian. Teks merupakan bahasa, bukan musik. Tetapi teks merupakan bagian

integral dari musik. Bahasa yang digunakan berbeda dengan bahasa yang

digunakan sehari-hari. Unsur teks yang akan dianalisis adalah makna denotatif

(sebenarnya), konotatif (kiasan), dan gaya bahasanya.

Untuk melihat hubungan antara teks dengan melodi, penulis

menggunakan teori Malm, (1977:8) mengatakan apabila setiap nada dipakai

untuk setiap silabel (suku kata), gaya ini disebut silabis, sebaliknya bila suatu silabel dinyanyikan dengan nada-nada yang berjumlah banyak disebut melismatis. Kedua teori ini penulis gunakan untuk menganalisis melodi musik nasyid.

Dalam hal transkripsi terhadap nasyid, penulis berpedoman kepada teori

Nettl, (1964:98) yang memberikan dua pendekatan yaitu :

1. Kita dapat menguraikan dan menganalisis apa yang kita dengar.

2. Kita dapat menulis apa yang kita dengar tersebut di atas kertas, dan kita

mendeskripsikan apa yang kita lihat tersebut. Dalam hal notasi musik,

penulis mengacu kepada tulisan Charles Seeger, (1971:24-34), yang

mengemukakan bahwa ada dua jenis notasi yang dibedakan menurut

(15)

14

Pertama adalah notasi preskriptif, yaitu notasi untuk seorang penyaji (bagaimana ia harus menyajikan sebuah komposisi musik), selanjutnya dikatakan

notasi ini merupakan pedoman tentang bagaimana musik tertentu itu dapat

diwujudkan oleh pemain musik.

Kedua adalah notasi deskriptif, yaitu suatu laporan yang disertai notasi secara lengkap tentang bagaimana sebenarnya suatu musikal dalam suatu

pertunjukan diwujudkan. Transkripsi ini digunakan untuk analisis. Untuk

pendekatan analisis, penulis menggunakan dan membuat transkripsi yang

deskriptif.

Untuk mendukung pembahasan dari segi musikologis tersebut diperlukan

suatu transkripsi. Menurut Nettl, (1964:99) bahwa pengertian transkripsi adalah

proses menotasikan bunyi, membuat bunyi menjadi sumber visual. Dalam

membicarakan pendeskripsian dari ritem, analisis bentuk, frase dan motif-motif.

Selanjutnya, Nettl, (1964:148-150) menyarankan bahwa untuk

mendeskripsikan ritem sebaiknya dimulai dengan membentuk harga-harga not

yang dipakai dalam sebuah komposisi dan menerangkan fungsi dan konteks

masing-masing nada. Selanjutnya pola ritem yang sering diulang, sebaiknya

dicatat.

Merriam membagi penggunaan musik kedalam 5 (lima) kategori, yaitu: 1)

Hubungan musik dengan kebudayaan material, 2) Hubungan musik dengan

kelembagaan sosial, 3) Hubungan musik dengan manusia dan alam, 4) Hubungan

musik dengan nilai-nilai estetika, 5) hubungan musik dengan bahasa. Penggunaan

(uses) musik berhubungan dengan kebiasaan-kebiasaan (folkways) memainkan musik tersebut, baik sebagai aktifitas yang berdiri sendiri atau dalam aktifitas

(16)

15

1.5 Metode Penelitian

Metode penelitian adalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang

menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Untuk meneliti pertunjukan Musik

Nasyid ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Sesuai dengan apa

yang dikemukakan oleh Kirk Miller dalam Moleong, (1990:3) yang mengatakan:

“Penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam

kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang dalam bahasa dan

peristilahannya”.

Penelitian dilakukan mengacu pada pengetahuan tentang musik nasyid di

pondok pesantren Raudatul Hasanah yang menjadi studi kasus penelitian ini.

Dalam penelitian ini penulis melakukan beberapa tahapan penelitian; (1) melihat

tulsan-tulisan yang berkaitan dengan objek penelitian. (2) mengumpulkan

data-data di lapangan yang diperoleh melalui wawancara, dokumentasi, dan observasi.

(3) penelitian di laboratium, yaitu menganalisis data yang diperoleh di lapangan.

1.5.1 Studi Kepustakaan

Maksud dari studi kepustakaan ialah studi yang dilakukan untuk

memperoleh data berupa tulisan-tulisan yang berasal dari buku-buku, jurnal,

majalah, skripsi-skripsi sarjana yang berbubungan dengan objek penelitian. Di

sini penulis akan membaca dan mencari istilah-istilah penting yang berkaitan

dengan tulisan tersebut, dan mengambil data-data yang sesuai untuk melengkapi

tulisan. Diantaranya yaitu buku yang di tulis oleh Oemar Amin Housin denga

(17)

16

dalam Dunia Internasional. Buku ini menjelaskan tentang

kebudayaan-kebudayaan Islam yang berpengaruh terhadap dunia internasional, baik berupa

ilmu filsafat, ilmu kedokteran, ilmu perbintangan dan matematika, arsitektur, seni

sastra, seni ukiran dan tenun, dan seni musik, yang di produksi oleh umat Islam,

H. Abuddin Nata dengan judul, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan

Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia. Buku ini menjelaskan tentang

sejarah perkembangan pendidikan islam di Indonesia yaitu dari awal masuknya

Islam di Indonesia dan ketika itu lembaga-lembaga pendidikan islam yang

didirikan masih sederhana hingga munculnya lembaga-lembaga pendidikan islam

modrn, baik berupa pesantren dan kampus-kampus Islam.

Mujamil Qomar dengan judul, Manajemen Pendidikan Islam. Buku ini

membahas tentang hal-hal seputar karakter, prinsip, dan mekanisme manajemen

pendidikan Islam, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (Setingkat dengan Sekolah

Dasar) hingga perguruan tinggi dan pesantren.

Kemudian buku ini menguraikan tentang;

- manajemen komponen-komponen dasar pendidikan Islam, termasuk

personalia, kesiswaan, kurikulum, keuangan, serta sarana da prasarana.

- Manajemen komponen penyempurnaan pendidikan Islam, termasuk ,

layanan, mutu, struktur, konflik, hingga komunikasi.

- Kepempinan pendidika Islam, pengambilan keputusan, dan

peningkatan produktivitas.

Selain itu penulis juga mengambil bahan-bahan lain, yaitu berupa literatur,

makalah, tulisan ilmiah, dan berbagai catatan-catatan yang berkaitan dengan judul

(18)

17

1.5.2 Pengumpulan Data di Lapangan 1.5.2.1 observasi

Dalam pengumpulan data di lapangan penulisan meilhat langsung

kejadian-kejadian di lapangan yaitu berupa kegiatan-kegiatan yang

dilakukan oleh santri dan santriwati di dalam pesantren dan juga melihat

pertunjukan nasyid tersebut. Baik disaat mereka latihan maupun di saat

berlangsungya pertunjukan nasyid tersebut yang dilakukan oleh para

santri. Kemudian penulis juga akan melihat bagaimana proses

pembelajaran yang dilakukan di dalam pesantren tersebut.

1.5.2.2. wawancara

Wawancara ini bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi secara lisan dari para informan. Dalam melakukan wawancara tersebut, penulis berpedoman pada metode wawancara yang dikemukankan oleh

Lin Tri Rahayu dan Tristiadi Ardi Ardani (2004:73) dalam bukunya yang

berjudul “Observasi dan Wawancara” dimana disebutkan bahwa metode wawancara memiliki empat jenis yaitu wawancara tidak terstruktur

(wawancara tidak terpimpin), wawancara terstruktur (wawancara

terpimpin), wawancara bebas terpimpin dan wawancara pribadi dan

kelompok.

Sesuai dengan pendapat di atas, sebelum penulis melakukan

wawancara terlebih dahulu penulis membuat daftar-daftar pertanyaan. Hal

tersebut dilakukan guna memperoleh informasi sebanyak-banyaknya

tentang masalah-masalah yang menyangkut pokok permasalahan yang

dibahas. Dalam hal ini penulis langsung melakukan wawancara dengan

(19)

18

santri dan ia merupakan pelatih atau instruktur nasyid di pondok pesantren

tersebut. Namun selain hal itu penulis juga melakukan wawancara dengan

informan-informan lainnya yang berkaitan dengan objek penelitian.

diantaranya ialah para santri selaku pemain nasyid dan para pengasuh

pesantren itu sendiri yang membimbing dan mendukung kegiatan nasyid

tersebut.

1.5.2.3 Rekaman

Dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa instrument

pendukung diantaranya yaitu berupa Handycam merk Sony tipe

DCR-SX20. Melalui alat-alat tersebut penulis akan mengambil data-data yang

diperlukan baik berupa audio (rekaman suara), visual (gambar), dan audio

visual (rekaman video) sebagai bukti penelitan yang kemudian dianalisis

di laboratorium.

1.5.3 Kerja Laboratorium

Kerja laboratorium merupakan proses penganalisisan data-data yang telah

didapat dari lapangan. Pada tahap kerja laboratorium, seluruh hasil kerja yang

telah diperoleh dari studi kepustakaan dan dari hasil penelitian di lapangan di

olah, diseleksi, disaring untuk dijadikan data dalam penulisan skripsi ini. Data

yang dipergunakan dalam penulisan ini merupakan data-data yang bersangkutan

dengan penelitian yang dilakukan.

Menurut Soetandyo Wignjosoebroto dalam Metode-Metode Penelitian

Masyarakat oleh Koentjaraningrat, (1981:328), setelah data selesai dikumpulkan

(20)

19

adalah tahap analisa. Pada akhirnya hasil dari pengolahan data dan penganalisaan

disusun secara sistematis dengan mengikuti kerangka penulisan.

Analisis hasil penelitian yang digunakan untuk mengerjakan penelitian ini

ialah analisis kualitatif dan yang menjadi teknik penyajian dalam bentuk tulisan

ialah deskriptif. Dengan menggunakan teknik analisis ini, hasil penelitian akan

dijelaskan dan digambarkan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh. Analisis

kualitatif yang digunakan oleh penulis selanjutnya dipakai untuk membahas

komponen pendukung pertunjukan nasyid oleh para santri pondok pesantren

Ar-Raudhatul Hasanah Medan.

Dan juga penulisan akan menyusun kembali data-data yang merupakan

hasil penelitian sehingga dapat tersusun dengan baik.

1.6 Lokasi Penelitian

Penulis menentukan objek dan lokasi penelitian yang tidak jauh dari

kediaman peniliti, yang berada di Pondok Pesantren Raudhatul Hasanah Simpang

Selayang Medan, Jl. Letjend. Djamin Ginting Km. 11 / Jl. Setia Budi Simpang

Selayang 20135 Medan - Sumatera Utara - Indonesia. Sedangkan kediaman peneliti sendiri berada di Pandang Bulan Medan. Hal ini dimaksudkan untuk

memudahkan pelaksanaan penelitian jika jarak lokasi dengan peneliti dekat.

Sehingga penulis dapat sesering mungkin melakukan observasi dilapangan,

sehingga memperoleh data yang lebih akurat dan juga dapat mengumpulkan

data-data sebanyak-banyaknya yang kiranya untuk dikumpulkan dan kemudian disusun

(21)

20

BAB II

SEJARAH ISLAM

Sejarah telah mencatat bahwa semua agama baik agama samawi atau

agama wad’i disiarkan dan dikembangkan oleh para pembawanya yang disebut

utusan Tuhan dan oleh para pengikutnya. Mereka yakin bahwa kebenaran dari

Tuhan itu harus disampaikan kepada umat manusia untuk menjadi pedoman

hidup. Para penyebar agama banyak yang menempuh perjalanan jarak jauh dari

tempat kelahirannya sendiri demi untuk menyampaika ajarannya. Misalnya Nabi

Ibrahim berhijrah dari Babylonia menuju Palestina, Mesir dan Makkah. Nabi

Musa pergi dan kembali lagi dari Mesir ke Palestina, Nabi Isa hijrah dari Bait

Lahm ke Yerusalem, dan Nabi Muhammad hijrah dari Makkah ke Madinah. Para

pemeluk agama menyebarkannya lagi ke tempat-tempat yang lebih jauh secara

langsung atau secara beranting (estafet), sehingga agama-agama sekarang telah

tersebar ke seluruh pelosok dunia.

Diantara agama-agama besar di dunia adalah Yahudi, Nasrani, Islam,

Hindu dan Budha, tetapi yang paling luas dan paling banyak pengikutnya ialah

Nasrani dan Islam. Hal tersebut tentu berhubungan dengan usaha penyiarannya

oleh para pemeluknya.

Usaha penyiaran agama pasti menghadapi rintangan, hambatan, gangguan

bahkan ancaman yang berat. Itulah sebabnya maka kadang-kadang penyiaran

suatu agama berjalan dengan lancar, kadang tersendat-sendat dan

(22)

21

Pengembangan dan penyiaran agama Islam termasuk yang paling dinamis

dan cepat dibandingkan dengan agama-agama lainnya.11 Hal itu diukur dengan

dengan kurun waktu yang sebanding dan dengan situasi dan kondisi, alat

komunikasi dan transportasi yang sepadan. Catatan sejarah telah membuktikan

bahwa Islam dalam waktu 23 tahun dari kelahirannya sudah menjadi tuan di

negrinya sendiri, yaitu jazirah Arabia. Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab,

Islam masuk secara potensial di Syam Palestina, Mesir dan Iraq. Pada zaman

Usman bin Affan, Islam telah masuk di negri-negri bagian Timur sampai ke

Tiongkok dibawa oleh para pedagang zaman dinasti Tang. Kesimpulannya ialah,

Islam telah tersebar jauh sampai ke Tiongkok, ke Afrika bagian Utara, ke Asia

Kecil dan ke Asia bagian Utara (Lembah Sungai Everat dan Tigris). Sedangkan

agama-agama lain memerlukan beberapa abad untuk dapat menyeber ke luar

negrinya dalam jarak yang jauh dan daerah yang luas atau untuk menjadi tuan di

negrinya sendiri.

Pengertian Islam

2.1 Pengertian Islam

Kata “Islam” berasal dari kata aslama artinya berserah diri. Ia tidak hanya berarti kedamaian, keselamatan, berserah diri kepada Allah, tetapi juga berarti

berbuat kebajikan. Orang-orang yang mengakui agama Islam disebut Muslim

(Mahmudunnasir, 2005:3).

11

(23)

22

Sedangkan defenisi Islam, secara etimologi asal kata dari Aslama, kata dasarnya adalah salima, yang berarti sejahtera. Dari kata ini terjadi kata masdar selamat. Ada juga yang menganggap Islam itu salam yang berarti sejahtera, selamat, damai dan seimbang.

Secara istilah, Islam adalah patuh dan berserah diri pada Allah. Dengan

patuh dan berserah diri pada Allah akan terwujud kehidupan damai dunia

akhirat.12

2.1.1 Sistem Kepercayaan

Ajaran yang utama di dalam Islam adalah beriman kepada Allah

Yang Mahakuasa, yang dengan kuat ditegakan oleh Nabi Muhammad

SAW sebagai penerima wahyu yaitu berupa Al-Qur’an. Dan karenanya

hal itu menjadi dasar bagi semua ajaran Islam.

Beriman kepada Allah merupakan ajaran yang paling pokok dan

paling mendasar. Hal ini dinyatakan di dalam kalimat yang pertama

yaitu ”Tidak ada Tuhan kecuali Allah”. Itulah jalan yang ditempuh

semua ajaran Islam. Umat Islam pada pokoknya diwajibkan

melaksanakan shalat lima kali setiap hari, dan dalam shalat mereka

selalu berkata kepada Tuhan mereka: “Kepada Engkaulah kami menyembah, dan kepada Engkaulah kami minta pertolongan”.

12Sidi Gazalba,

(24)

23

Arti kalimat la ilaha illallah akan sangat membantu di dalam memahami pengaruh yang baik dari idiologi tauhid, yaitu keesaan

Allah. Maulana Maududi menerangkan kalimat itu sebagai berikut:

Dalam bahasa Arab kata illah berarti “sesuatu yang disembah”, yaitu suatu zat yang karena keagungan dan kekuatannya dianggap tepat

untuk disembah, dipuja dengan merendahkan dan menundukan diri.

Sesuatu atau zat yang memiliki kekuatan terlalu besar untuk dapat

dipahami oleh manusia juga disebut illah. Pengertian Illah mencakup juga pemilikan kekuasaan yang tidak terbatas. Kata illah juga mengandung pengertian kegaiban dan misteri, yaitu kata illah adalah zat yang tak terlihat dan tidak teramati. Kata khuda dalam bahasa

Persa, deva dalam bahasa Hindi, dan God dalam bahasa Inggris, kurang

lebih mengandung makna yang sama. Bahasa-bahasa lainya di dunia

juga mengandung makna dan arti yang sama (baca dalam

Mahmudunnasir yang diterjemahkan oleh Adang affandi yang berjudul

“Islam Konsepsi dan Sejarahnya”, 2005:55-56).

Di pihak lain, kata Allah adalah nama diri yang pokok bagi Tuhan.

La Illaha Illallah secara harfiah berarti “tidak ada illah selain Zat Yang Tunggal dan Agung yang dikenal dengan nama Allah”. Hal itu berarti

bahwa di seluruh alam semesta tidak ada zat yang patut disembah selain

Allah, bahwa hanya kepada Dialah kepala-kepala harus ditundukan

dalam pengabdian, bahwa hanya Dialah zat yang memiliki segala

kekuasaan, bahwa semua makhluk memerlukan karuniaNya, dan bahwa

(25)

24

dari indera kita, dan kecerdasan kita tidak mampu mengamati apa Dia

itu.

Ajaran yang terpenting dalam Islam adalah ajaran tauhid. Ajaran

ini yang menjadi dasar dari segala dasar yaitu pengakuan tentang

adanya Tuhan yang Maha Esa. Ajaran yang di bawa Nabi Muhammad

wajib di percaya oleh umat Islam. Hubungan manusia dengan manusia,

hubungan manusia dengan pencipta, akhir hidup manusia di surga

ataupun neraka, semuanya merupakan ajaran dari Islam. Di dalam Islam

juga tersimpul nilai ibadat seperti halnya shalat, puasa, zakat, dan haji

serta mengenal moral dan akhlak, yang kesemua itu merupakan aspek

penting dalamIslam.

Mengenai Tauhid, Maulana Maududi telah mengemukakan

pendapatnya di dalam bukunya, Towars Understanding Islam, bahwa tauhid adalah konsepsi tertinggi dari ketuhanan, yang untuk

mengetahuinya Allah telah mengutus kepada umat manusia

nabi-nabinya disegala zaman. Pengetahuan inilah yang pada zaman

permulaan dibawa oleh Adam ke bumi, juga disampaikan kepada Nuh,

Ibrahim, Musa, dan Isa. Pengetahuan ini pulalah yang menyebabkan

Muhammad diutus kepada umat manusia (ibid).

Islam meyakini bahwa Nabi Muhammad merupakan utusan Allah

yang terakhir, dan tidak ada nabi-nabi lain sesudahnya. Sebagai bukti

akan kepenutupan nabi itu terdapat dalam wahyu terakhir yang

(26)

25

“hari ini telah Aku sempurnakan agamamu bagimu, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kamu, dan telah Aku pilih bagi kamu suatu undang-undang kehidupan – al-Islam.”

“Muhammad bukanlah bapak seseorang diatara kamu, tetapi dia adalah rasul Allah dan penutup nabi-nabi.

Ringkasnya Islam memiliki Idiologi-idiologi sebagai berikut:

- Islam menekankan kepada kesaan Allah dalam zat-Nya dan

sifat-sifat-Nya. Di dalam Islam sekalipun Nabi Muhammad yang dianggap

sebagai manusia paling mulia sepanjang masa, dia tidak lain dari pada

manusia biasa pula dan menjadi hamba Tuhan.

- Ajaran-ajaran nabi terdahulu telah mencapai kesempurnaannya dalam

ajaran-ajaran Nabi Muhammad.

- Ajaran Nabi Muhammad itu telah diyakini merupakan ajaran yang

terpelihara (keasliannya) untuk petunjuk bagi manusia hingga akhir

dunia.

- Islam meyakini bahwa Nabi dikirim untuk menjadi pembimbing

seluruh umat manusia hingga akhir zaman.

- Nabi Muhammad diutus sebagai Nabi terakhir.

2.1.2 Al-Qur’an Sebagai Kitab Suci

Al-Qur'an adalah kitab suci ummat Islam yang diwahyukan Allah

kepada Muhammad melalui perantaraan Malaikat Jibril. Secara harfiah

Qur'an berarti bacaan. Namun walau terdengar merujuk ke sebuah

(27)

kata-26

kata atau kalimat di dalamnya, bukan pada bentuk fisiknya sebagai hasil

cetakan.

Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an disampaikan kepada

Muhammad melalui malaikat Jibril. Penurunannya sendiri terjadi secara

bertahap antara tahun 610 hingga hingga wafatnya beliau 632 M. Walau

Al-Qur'an lebih banyak ditransfer melalui hafalan, namun sebagai

tambahan banyak pengikut Islam pada masa itu yang menuliskannya

pada tulang, batu-batu dan dedaunan.

Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an yang ada saat ini persis sama

dengan yang disampaikan kepada Muhammad, kemudian disampaikan

lagi kepada pengikutnya, yang kemudian menghapalkan dan menulis isi

Al Qur'an tersebut. Secara umum para ulama menyepakati bahwa versi

Al-Qur'an yang ada saat ini pertama kali dikompilasi pada masa

kekhalifahan Utsman bin Affan (khalifah Islam ke-3) yang berkisar

antara 650 hingga 656 M. Utsman bin Affan kemudian mengirimkan

duplikat dari versi kompilasi ini ke seluruh penjuru kekuasaan Islam

pada masa itu dan memerintahkan agar semua versi selain itu

dimusnahkan untuk keseragaman.13

Al-Qur'an memiliki 114 surah , dan sejumlah 6.236 ayat (terdapat

perbedaan tergantung cara menghitung).14 Hampir semua Muslim

menghafal setidaknya beberapa bagian dari keseluruhan Al-Qur'an,

13

Al-Qat hthan, Syaikh M anna’ Khalil. M ahabit s Fi ‘Ulum Al-Qur’an (Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an), Pust aka Al-Kaut sar, 2006, Jakart a. (dalam sit us: Wikipedia.org)

14

(28)

27

mereka yang menghafal keseluruhan Al-Qur'an dikenal sebagai hafiz

(jamak:huffaz). Pencapaian ini bukanlah sesuatu yang jarang,

dipercayai bahwa saat ini terdapat jutaan penghapal Al-Qur'an diseluruh

dunia. Di Indonesia ada lomba Musabaqah Tilawatil Qur'an yaitu lomba

membaca Al-Qur'an dengan tartil atau baik dan benar. Yang

membacakan disebut Qari (pria) atau Qariah (wanita).

Muslim juga percaya bahwa Al-Qur'an hanya berbahasa Arab.

Hasil terjemahan dari Al-Qur'an ke berbagai bahasa tidak merupakan

Al-Qur'an itu sendiri. Oleh karena itu terjemahan hanya memiliki

kedudukan sebagai komentar terhadap Al-Qur'an ataupun bentuk usaha

untuk mencari makna Al-Qur'an, tetapi bukan Al-Qur'an itu sendiri.

Adapun sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur'an, umat Islam juga

diwajibkan untuk beriman dan meyakini kebenaran kitab suci dan

firman-Nya yang diturunkan sebelum al-Qur'an (Zabur, Taurat, Injil

dan suhuf para nabi-nabi yang lain) melalui nabi dan rasul terdahulu

sebelum Muhammad.15 Umat Islam juga percaya bahwa selain

al-Qur'an, seluruh firman Allah terdahulu telah mengalami perubahan oleh

manusia. Mengacu pada kalimat di atas, maka umat Islam meyakini

bahwa al-Qur'an adalah satu-satunya kitab Allah yang benar-benar asli

dan sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya.

Umat Islam meyakini bahwa agama yang dianut oleh seluruh nabi

dan rasul utusan Allah sejak masa Adam adalah satu agama yang sama

15

(29)

28

dengan tauhid (satu Tuhan yang sama), dengan demikian tentu saja Ibrahim juga menganut ketauhidan secara hanif (murni) yang menjadikannya seorang muslim.16 Pandangan ini meletakkan Islam

bersama agama Yahudi dan Kristen dalam rumpun agama yang

mempercayai Nabi Ibrahim as. Di dalam al-Qur'an, penganut Yahudi

dan Kristen sering direferensikan sebagai Ahli Kitab atau orang-orang

yang diberi kitab.

2.1.3 Praktek-praktek Islam

Islam telah memasukan kewajiban-kewajiban praktis tertentu ke

dalam ajaran-ajarannya. Diantaranya yaitu:

1. Shalat

Nilai shalat dianggap sebagai alat peningkatan moral dan

penyucian batin, seperti yang telah dinyatakan dalam Al-Qur’an.

“Bacalah apa yang telah diturunkan kepadamu dari al-kitab, dan dirikanlah shalat, karena itu mencegah perbuatan-perbuatan keji dan munkar, dan mengingati Allah benar-benar merupakan

Waktu-waktu shalat telah ditetapkan, dan terdapat lima

shalat yang dianggap wajib. Yaitu Shubuh, Dzuhur, Ashar,

Magrib, dan Isya.

2. Puasa

16

(30)

29

Puasa di dalam Islam mempunyai tujuan yang sah untuk

menahan nafsu-nafsu dengan pantangan untuk waktu yang

terbatas dan tertentu dari segala yang memuaskan indera-indera,

dan mengarahkan luapan nafsu hewani ke dalam saluran sehat.

Puasa ditetapkan bagi mereka yang mampu dan kuat. Bagi

orang-orang yang lemah, sakit, yang sedang berpergian, siswa

atau mahasiswa yang sibuk menuntut ilmu, tentara yang sedang

berjuang, dan kaum wanita yang sedang haid, puasa tidak

diizinkan. Namun dalam puasa bulan ramadhan, apabila terdapat

puasa-puasa yang tidak terlaksana akibat masalah tersebut diatas

wajib digantikan di hari yang lain sebanyak yang

ditinggalkannya, dan bagi mereka yang merasa sukar

melaksanakannya, dapat membayar fidyah.

3. Zakat

Menurut hukum Islam, setiap orang harus mengeluarkan

sebagian dari hartanya untuk membantu tetangga-tetangganya

yang miskin. Bagian ini biasanya 2 ½ persen dari nilai seluruh

barang. Akan tetapi, zakat itu harus dikeluarkan hanya apabila

kekayaan tersebut mencapai nilai tertentu dan telah dan telah

dimiliki seseorang selama satu tahun.

4. Ibadah Haji

(31)

30

berbagai penjuru dunia ke Ka’bah di Mekkah dikenal dengan

sebutan haji. Haji wajib dilakukan bagi orang-orang yang

sanggup melakukan perjalanan kesana.

Kebudayaan Islam menganggap bahwa seni, sebagai nilai

tempat bergantungnya seluruh validitas Islam. Karena nilai seni

keindahan Al-Qur’an, merupakan Hujjah untuk kebenaran dari

Illahi.17 Dalam konteks pemikiran dan kebudayaan, seni Islam

telah diakuisebagai bagian dari aktifitas religius.18Contoh saja,

bacaan Shalawat Nabi, yang dilantunkan dengan berbagai

macam lagu, dimana hal tersebut sudah menjadi kebudayaan

religius dalam masyarakat. Oleh karena itu seni dianggap

sebagai salah satu pokok dari kebudayaan, yang merupakan

salah satu aspek dari agama Islam.

2.2 Sejarah Peradaban Islam di Timur Tengah

Sebelum membahas sejarah Islam terlebih dahulu perlu disinggung kondisi

sosial bangsa Arab sebelum kedatangan Islam. Hal ini untuk mengetahui latar

belakang sosial bangsa Arab ketika Islam datang, sehingga dengan mudah

memperbandingkan antara kondisi Arab sebelum dan sesuadah kedatangan

Islam.

17

Ismail Buah Faruqi, Islam Dan Kebudayaan, (Bandung : M izan, 1984), hlm. 69

18

(32)

31 2.2.1 Zaman Sebelum Kedatangan Islam

Sebelum Islam datang wilayah sekitar semenanjung Arabia di latar

belakangi oleh dua imperium, Romawi Timur di sebelah Barat dan imperium Persia di sebelah timur. Wilayah utama Romawi Timur sangat luas meliputi Syiria, Palestina, Mesir, Turki, Asia kecil, dan

sebagian kecil Eropa.

Romawi Timur mengalami puncak kejayaannya setelah masa

Konstantin Agung (280-337 M), ketika dipengang oleh Yustinus

(483-565 M), Di masa ini wilayah terus diperluas; pertanian, perdagangan

dan perusahaan maju pesat. Namun karena keinginannya untuk

ekspansi , menjadikan imperium ini harus berhadapan dengan imperium Persia, dimana peperangan terus terjadi. Pemerintahan yang kacau,

perbudakan tumbuh subur, dan peperangan dengan Persia tidak dapat ia

hindari, bahkan ketika Islam datang dan kuat, maka wilayahnya banyak

yang masuk ke dalam pemerintahan Islam hingga akhirnya runtuh.

Kristen merupakan salah satu agama besar yang dianut oleh

masyarakat imperium Romawi. Meskipun mendapat perlawanan dari

berbagai kaisar Romawi, namun masyarakat Kristen mulai

menampakan pengaruhnya terhadap Negara yang pada akhirnya agama

ini berkembang. Namun, ketika Islam yang baru lahir dan sempat

mulain berkembang di romawi, maka Kaisar Konstantin memberikan

pengakuan yang sah terhadap agama yang mulai banyak diminati oleh

(33)

32

Sementara itu imperium Persia di bagian timur mulai dikenal pada 226 M dengan kaisar Ardesir sebagai pendirinya. Ia mencoba

membangun militer yang kuat, dan melakukan ekspansi wilayah. Shapur Agung memimpin (309-379) Persia paling lama dan berhasil

secara gemilang, namun ia terlibat peperangan dengan romawi. Kaisar

Parwiz (590) merupakan penguasa terakhir yang sejaman dengan

Heraclius di Imperium Bizantine. Kekuasaannya sangat absolute, ia mencintai kekuasaan, kemewahan, kekayaan dan istrinya yang

beragama Kristen. Ia pernah merobek surat Nabi Muhammad yang

dikirim melalui utusannya dan mengusirnya. Pada masa Yazdigard III

(634-652) kekuasaan Persia baru dapat ditaklukan oleh pasukan Muslim

Arab.

Agama bangsa Persia adalah Zoroaster. Agama ini sangat berpengaruh kepada peradaban dunia dari pada agama-agama kuno

lainnya. Ia bukan hanya agama bangsa Persia saja, tetapi juga

berpengaruh sebagian ajarannya kepada para pemeluk agama Yahudi

dan Nasrani. Namun tidak berpengaruh terhadap kaum Muslim, kecuali

sebagian terkecil dari para mu’allaf.

Hubungan antara Imperium Romawi (Bezantine) dengan imperium

Persia (sasania) adalah hubungan relativitas, peperangan demi

peperangan terus terjadi di kedua belah pihak. Hingga pasukan kalum

muslimin memasuki wilayah-wilayah di bawah kekuasaan kedua

(34)

33

Kondisi sosial politik internal wilayah Arabia di masa menjelang

kedatangan Islam pada dasarnya terpecah-pecah, tidak mengenal

kepemimpinan sentral ataupun persatuan. Kepemimpinan politik di sana

didasarkan pada suku-suku atau kabilah-kabilah guna mempertahankan

diri dari serangan suku-suku yang lain. Ikatan sosial dibuat berdasarkan

hubungan darah dan kepentingan mempertahankan diri.

2.2.1.1 Kondisi Sosial-Ekonomi

Kondisi alam Arabia gersang dan tandus karena terdiri dari

padang pasir dan batu-batuan. Terletak di bagian barat daya

Asia. Secara umum iklim di jazirah Arab amat panas, bahkan

termasuk yang paling panas dan paling kering di muka bumi.

Air merupakan kebutuhan primer yang sulit diperoleh secara

melimpah seperti sekarang. Karena itu, pertanian tidak

berkembang. Salah satu pencaharian yang mungkin pada saat itu

adalah beternak dan berdagang.

Gustave Le Bon menulis dalam bukunya The World of Islamic Civilization (1974) bahwa orang-orang Arab pintar berdagang. Sebelum orang-orang Eropa membuka jalur

perdagangan keluar, orang-orang Arab telah membuka jalur

perdagangan dengan India, Cina, Afrika, dan sebagian Eropa

seperti sekarang masuk wilayah Rusia, Swedia dan Denmark.

Bahkan setelah Islam menguasai Timur Tengah, perdaganga

(35)

34

melalui Cina dan India. Menurut beberapa teori, karena

memanfaatkan jalur dan media perdagangan ini. Bahkan,

masuknya Islam ke Indonesia diakui banyak kalangan

sejarahwan melalui para pedagang Gujarat di India, di samping

melalui cara-cara yang lain seperti pengajaran oleh para guru

sufi dari Arab secara langsung.19

2.2.1.2 Kondisi Sosial dan Moral

Memang pada dasarnya masyarakat Arab memiliki

sejumlah sifat-sifat positif dan kelebihan-kelebihan. Seperti sifat

dermawan, pemberani, setia, ramah sederhana, serta cinta

kebebesan, ingatannya kuat, dan pandai bersyair.

Kehidupan masyarakat Arab berpindah-pindah dari satu ke

lain tempat yang dianggap dapat memberikan kemudahan untuk

hidup. Kondisi alam seperti ini membuat mereka bersikap

sebagai pemberani dan bersikap keras dalam mempertahankan

prinsip dan kepercayaan.

Masa sebelum lahir Islam disebut jaman jahiliah. Kata jahiliah berasal dari kata jahl, tetapi yang dimaksud disini bukan jahl lawan dari ilm, melainkan lawan dari hilm, yaitu mereka yang pada saat itu dianggap mengalami kemerosotan moral.

19

(36)

35

Struktur masyarakat menempatkan perempuan pada posisi

yang rendah, tidak diperbolehkan untuk tampil sebagaimana

laki-laki, karenanya mereka tidak mempunyai

keterampilan-keterampilan dalam sector public seperti memimpin peperangan

dan mencari nafkah. Hal ini membuat tradisi menanam anak

perempuan yang baru dilahirkan.

Struktur masyarakat Arab pra Islam juga mengikuti sistem

perbudakan sebagaimana itu telah menjadi tradisi kuat

bangsa-bangsa seluruh dunia saat itu termasuk Yunani yang terkenal

sistem perbudakannya itu. Sistem perbudakan berlaku dan

berkembang di kalangan bangsa Arab. Mereka dipekerjakan

dengan sekehendak majikan, dan diperjual belikan serta ditukar

dengan barang sebagai layaknya pedagang melakukan transaksi

jual beli secara barter.

Selanjutnya, struktur sosial membedakan kelas papan atas

dari kaum bangsawan dengan kelas papan bawah dari rakyat

jelata. Diantara dua kelas ini terjadi perbedaan yang sangat

tajam sehingga melahirkan jarak dan kerawanan sosial.

2.2.1.3 Kondisi Sosial-budaya

Salah satu kelebihan bangsa Arab adalah terletak pada

bahasanya. Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa rumpun

yang paling sempurna dan mampu bertahan dari seleksi alam

(37)

36

sangat pesat karenanya. Sehingga, Philip K. Hitti dalam

bukunya A History of the Arabs memberika penilaian, bahwa keberhasilan penyebaran Islam di antaranya didukung oleh

keluasan bahasa Arab, khususnya bahasa Arab Al-Qur’an (Hitti,

1973).

2.2.1.4 Sistem Kepercayaan dan Agama

Bangsa Arab pra Islam percaya dan mewarisi mitos-mitos

dari nenek moyang yang bertumpu pada sistem kepercayaan

watsaniyah (paganisme)20. Seperti kepercayaan terhadap dewa,

hantu, roh jahat, azimat, tuah, dan lain sebagainya, di mana hal ini sering disinyalir oleh Al-Qur’an sebagai kemusyrikan21 yang

amat dilarang dalam Islam.

Mayoritas bangsa Arab pra Islam menyembah berhala

kecuali para penganut Yahudi dan Nasrani yang jumlahnya

kecil. Selain itu mereka menyembah matahari, bintang dan

angin. Bahkan terkadang ada yang menyembah batu-batu kecil

dan pohon-pohon keramat. Mereka mempunyai berhala-berhala

sesembahan, dan yang paling besar lagi terkenal adalah Lata, Mana, ‘Uzza dan Hubal. Disekeliling ka’bah terdapat sekitar

20

Paganisme adalah sebuah kepercayaan/ praktik spirit ual penyembahan t erhadap berhala yang pengikutnya disebut Pagan. Pagan pada zaman kuno percaya bahw a t erdapat lebih dari sat u dew a dan dew i dan unt uk menyembahnya mereka menyembah pat ung, cont oh M esir Kuno, Yunani Kuno, Romawi Kuno,

dan lain-lain.

21

(38)

37

360 berhala yang setiap tahun mereka kunjungi untuk disembah

bersamaan dengan diselenggarakan pecan raya Ukadz.

Namun demikian, di sisi lain terdapat sejumlah orang dari

kalangan Yahudi dan Nasrani yang masih mempertahankan

ajaran-ajaran agamanya seperti ajaran tentang ke-Esaan Tuhan

(monotheisme).

2.2.2 Masa Awal Kedatangan Islam

2.2.2.1 Nabi Muhammad

Nabi Muhammad lahir dari kalangan bangsawan Quraisy.22

Ayahnya bernama Abdullah ibn al-Muthalib dan ibunya

bernama Aminah binti Wahab. Apabila silsilahnya ditarik ke

atas beliau samapai kepada Ismail as.

Muhammad saw dilahirkan sebagai yatim pada 12 Rabi’ul

Awal Tahun Gajah, bertepatan dengan 20 April 571. Ketika

berumur 40 tahun dia dianggkat menjadi Rasul dengan turunnya

wahyu pertama oleh Allah melalui malaikat Jibril yaitu Surat

al-Alaq ayat 1-5.

Dakwah beliau pertama kali kepada bangsa Quraisy di

Makkah adalah mengenalkannya Allah yang Maha Esa (tauhid).

22

(39)

38

Allah adalah pencipta alam semesta, pemberi kehidupan dan

penentu kematian, pemberi rizki, dll. Selanjutnya, mula-mula

misi itu disampaikan kepada keluarga terdekat secara

diam-diam, kemudian kepada masyarakat umum secara

terang-terangan setelah kondisi memungkinkan. Sebahagian kecil

masyarakat menerima dakwahnya, seperti Khadijah istri nabi,

Abu Bakar, dan Ali, karena mereka mengetahui kebenaran akan

kerasulan Muhammad itu melalui Kitab-kitab suci terdahulu.

Namun, sebagian banyak diantara mereka menolak dakawah

nabi tersebut, karena tauhid yag dibawakannya dianggap sangat

bertolak belakang dari kepercayaan dan agama-agama yan

selama ini mereka ikuti.

Penolakan demi penolakan atas dakwah Muhammad

dilakukan oleh kaum Quraisy hingga mereka menyakiti dan

menganiaya Muhammad serta orang-orang yag mengikutinya.

Beberapa strategi dakwah yang dilakukan Muhammad

ialah:

Pertama, nabi memperkenalkan tauhid kepada Allah sebagai pondasi kehidupan dalam arti yang menyeluruh. Dalam

arti, setelah seseorang beriman kepada Allah, maka sekaligus

sikap keimanan tersebut diaplikasikan dalam bentuk kehidupan

sehari-hari dan perjuangan membela agama Allah. Maka,

(40)

39

bersedia berjuang mati-matian serta berkorban untuk

kepentingan dakwah.

Kedua, nabi menggunakan strategi pertahapan yang jelas. Dimulai dari dakwah di lingkungan keluarga serta masyarakat

sekitar yang mempunyai potensi untuk dapat dipergunakan

dalam membantu dakwah. Seperti beliau mengajak Ali putra

pamannya, melibatkan Abu Bakar sebagai mertua, mengawini

Khadijah yang setia dan kaya, serta Umar pemimpin Quraisy

yang sangat disegani.

Ketiga, nabi mendayagunakan berbagai macam sumber potensi manusia secara efektif. Sahabat yang mempunyai

kekayaan lebih seperti Khadijah, Abu Bakar dan Usman untuk

mendanai dakwah. Mereka yang mempunyai pengaruh besar di

kalangan Quraisy seperti Umar bin Khattab dan Hamzah yang

Muslim, menyiapkan diri untuk menjadi perisai Nabi dari

serangan-serangan musuh besarnya. Sebagai para sahabat yang

mempunyai kelebihan dalam bidang intelektualitas seperti Ali

bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud dan Zaid bin Tsabit

menjalankan misi dalam pengembangan ilmu-ilmu agama dan

lain sebagainya.

Selanjutnya setelah Muhammad telah hijrah ke madinah dan

menjalankan dakwahnya, telah terjadi beberapa peperangan,

(41)

40

Pertama, Perang Badar, terjadi setelah kurang lebih satu tahun Nabi di Madinah. Peperangan terjadi antara Nabi dan

kaum Quraisy di Makkah. Peperangan ini akhirnya

dimenangkan oleh pihak Nabi.

Kedua, Perang Uhud, terjadi di tahun ke tiga Hijriah antara pasuka nabi dan penduduk mekah, 70 pasukan Muslim gugur,

sedangkan penduduk mekah sebanyak 23 jiwa.

Ketiga, perang khadaq, Muslim diikuti 3000 pasukan dengan 10.000 pasuka gabungan antara penduduk mekah,

suku-suku Badui sekitar Madinah, dan Yahudi dari Bani Nazir di

Madinah. Peperangan ini dimenangkan oleh pihak Muslim

berkat strategi berupa penggalian parit yang mengelilingi

wilayah kota.

Keempat, perang Khaibar, yaitu penaklukan tanah khaibar oleh kaum Muslimin dengan 1600 pasukan untuk menyerbu

Yahudi di tanah itu secara tiba-tiba. Kelima, perang Mu’tah,

terjadi antara pasukan kaum Muslimin dengan pasukan Kristen

yang dipimpin oleh Surabhil di Mu’tah perbatasan kekuasaan

Romawi saat itu. Dan Nabi memerintahkan Khalid bin Walid

untuk memimpin penyerangan hingga akhirnya dapat

memenangkan pertempuran.

(42)

41

berdamai, tetapi mereka menolak. Akhirnya Nabi mengirimkan

sebanyak 10.000 pasukan dari Madinah yang beliau pimpin

sendiri.

Nabi Muhammad wafat pada tahun 632, hampir semua suku

Arab telah bergabung dan masuk Islam tanpa paksaan. Dan

konflik yang sebelumnya terus terjadi di kalangan Arab telah

berakhir.

2.2.2.2 Kulafaur-Rasyidin

Pengganti Muhammad bukan nabi, tetapi harus

mengandalkan pandangan manusia yang ada pada dirinya.

Bagaimana mereka akan menjamin kalau umat Islam terus

mematuhi perintah-perintah Islam.

Empat khalifah pertama yang menggantikan Muhammad

adalah sahabat-sahabat terdekat Nabi dan memainkan peran

penting di Mekkah dan Madinah. Periode pemerintahan mereka

sama formatnya dengan masa Nabi sendiri.

Yang menjadi khalifah pertama pada saat itu ialah Abu

bakar yang dipilih berdasarkan suara terbanyak. Masa

pemerintahannya singkat (632-634) tetapi sangat penting.

Terutama dalam berperang melawat riddah (kemurtadan) ketika beberapa suku mencoba melepaskan diri dari umat dan

menegaskan lagi kemerdekaan mereka. Pemberontakan terjadi,

(43)

42

tertarik dengan agama Muhammad. Beberapa kepala suku

menganggap perjanjian mereka hanya berlaku dengan

Muhammad dan tidak dengan penerusnya, sehingga setelah

wafatnya, mereka bebas menyerbu suku-suku lain dalam Islam.

Abu Bakar memadamkan pemberontakan-pemberontakan

dengan kebijaksanaan dan pengampunan. Dia menangani

keluhan-keluhan pemberontak dengan baik, sehingga tidak akan

ada pembalasan bagi pemberontak yang kembali ke masyarakat.

Sebagian terpikat kembali ke Islam.

Khalifah yang kedua ialah Umar ibnu Khathab (634-644).

Di bawah kepemimpina Umar orang-orang Arab menyerbu Iraq,

Syiria, dan Mesir dan mencapai serangkaian kemenangan besar.

Mereka mengalahkan pasukan Persia dalam perang Qadisiyyah

(637), yang menyebabkan runtuhnya ibukota Persia Sanssanid di

Ctesiphon. Segera setelah pasukan mereka terkumpul,

orang-orang Muslim bisa menduduki Kekaisaran Persia secara

keseluruhan. Mereka mengahadapi pertahanan yang lebih kuat

di Kekaisaran Byzantium, dan tidak berhasil menaklukan

wilayah pusat kekuatan Byzantium di Anatolia. Namun, Muslim

menang di Perang Yarmuk (636) di palestina utara, menaklukan

Jerusalem pada tahun 638 dan menguasai seluruh Syiria,

Palestina, dan Mesir. Pada tahun 641, pasukan Muslim merebut

(44)

43

setelah perang Badar, orang-orang Arab telah menjadi penakluk

kerajaan lain yang lebih lemah. Ekspansi ini terus berlanjut.

Satu abad setelah nabi wafat, kerajaan Islam meluas dari

Pyrenees sampai Himalaya. Sementara sebelum datangnya

Islam, orang Arab adalah kelompok yang dipandag rendah;

tetapi hanya dalam waktu yang cukup singkat mereka telah

mengalahkan dua kerajaan dunia.

Telah sering kita dengar perkataan orang Barat yang

menganggap Islam sebagai kepercayaan yang kejam dan

militeristik yang dipaksakan pada orang-orang dengan ancaman

pedang. Sementara Umar sendiri tidak merasa mendapatkan

mandat dari Tuhan untuk menaklukan dunia. Tujuan Umar dan

para pejuangnya ialah menginginkan harta rampasan dan

melakukan kegiatan yang biasa mereka lakukuan untuk

mempertahankan kesatuan Islam.

Periode Umar berakhir ketika di ditikam di masjid Madinah

oleh seorang tawanan perang Persia yang mempunyai dendam

pribadi dengannya (644 M). dan kemudian Utsman ibnu Affan

dipilih sebagai khalifah ketiga oleh enam orang sahabat Nabi.

Karakternya lebih lemah daripada pendahulu-pendahulunya,

tetapi selama enam tahun kepemimpinannya, umat tetap hidup

sejahtera. Utsman memerintah dengan baik dan menaklukan

(45)

44

akhirnya mengusir mereka dari Mediterania timur dan di Afrika

Utara pasukan mencapai Tripoli yang sekarang menjadi Libya.

Di timur, pasukan Muslim merebut sebagian besar Armenia,

menyusup ke Kaukasus dan membangun kekuasaan Muslim

sampai di Sungai Oxus di Iran, Heart di Afganistan, dan Sind di

anak benua India.

Di balik kemengan-kemengan itu, para prajurit merasa

tidak puas. Mereka sudah mengalami perubahan besar-besaran.

Dalam waktu sekitar sepuluh tahun, mereka telah merubah

sistem ketentaraan menjadi tentara professional. Ustma

melarang kepada komandan dan keluarga-keluarga kaya Mekah

untuk membangun pemukiman pribadi di Negara-negara yang

baru ditaklukan, ini membuatnya tidak disenangi. Mereka

menuduhnya menganut nepotisme, misalnya ia telah menunjuk

Muawiyah, anak lelaki Abu Sufyan musuh lama Muhammad,

sebagai gubernur Syiria. Dia adalah seorang Muslim yang taat

dan ahli administrasi yang handal. Tetapi, pemilihan itu tamapak

salah di mata Muslim Madinah. Para pemimpin keagaamaan,

sangat marah saat utsaman bersikeras hanya ada satu versi kitab

suci yang boleh digunakan, dan memusnakan variasi-variasi

yang banyak. Orang yang tidak puas memihak Ali ibnu Thalib,

sepupu Nabi, yang sepertinya tidak menyetujui kebijaksanaan

Umar dan Utsman, dia mendukung hak prajurit melawan

(46)

45

Pada tahun 656, ketidakpuasan memuncak dalam

pemberontakan. Sekelompok prajurit Arab dari Fustat pulang ke

Madinah untuk menuntut hak mereka dan ketika ditolak, mereka

mengepung rumah sederhana Utsman, menyerbu masuk, dan

membunuhnya. Para pemberontak mengangkat Ali sebagai

Khalifah baru.

Ali tumbuh dalam rumah tangga Nabi dan diilhami ide-ide

yang dikembangkan Muhammad. Dia adalah prajurit terbaik dan

dia menulis surat-surat yang menyemangati para prajuritnya.

Walaupun dekat dengan Nabi, kepemimpinannya tidak diterima

semua orang. Ali didukung kaum Anshar madinah, dan orang-orang Mekkah yang menolak kebangkitan Umayyah. Tetapi

pembunuhan Utsman, sebagaimana Ali sendiri, adalah menantu

Muhammad dan merupakan orang-orang pertama yang masuk

Islam, menjadi peristiwa yang mengejutkan dan menyebabkan

perang saudara selama lima tahun, yang dikenal sebagai fitnah, periode ujian. hal itu disebabkan karena Ali tidak menghukum

pembunuh Utsman.

Ali berada di posisi sulit. Dia sendiri terguncang oleh

pembunuhan Utsman yang tidak bisa dimaafkan. Tetapi

pendukungnya bersikeras bahwa Utsman memang layak

dibunuh karena dia tidak memerintah dengan baik dan tidak

sesuai dengan cita-cita Al-Qur’an. Pemerintahan Ali juga tidak

(47)

46

Muawiyah meningkat di ibukota Damaskus. Utsman adalah

keluarganya, dan sebagai pimpinan baru keluarga Umayyah,

tugasnya sebagai kepala suku Arab untuk membalas kematian

Utsman.

Muawiyah terus memperoleh simpatisan, sementara banyak

warga Arab yang tetap netral. Sementara Ali mulai hilang

pendukungnya. Tentara Muawiyyah mengalahkan pertahanan

kepemimpinan Ali di Arab, dan pada tahun 661, Ali dibunuh

oleh Khawarij23. Orang-orang yang tetap setia pada tujuan Ali di

Kufah mengangkat anaknya, Hasan, sebagai pemimpin, tetapi

Hasan kemudia membuat perjanjian dengan Muawiyah dan

dengan pertimbangan keuangan, dia mundur dan menyerahkan

kekuasaanya kepada Muawiyah, sementara ia tinggal di

Madinah tanpa terlibat gerakan politik apapun sampai wafatnya

pada tahun 669.

2.2.3 Masa Perkembangan Islam

2.2.3.1 Dinasti Umayah

Dalam literatur sejarah, Dinasti Umayah selalu dibedakan

menjadi dua: pertama, Dinasti Umayah yang didirikan oleh

Muawiyah Ibn Abi Sufyan yang berpusat di Damaskus (Syiria).

Fase ini berlangsung sekitar satu abad dan mengubah sistem

23

Referensi

Dokumen terkait

Pembentukan status ethnic identity pada anggota kelompok suku Batak gabungan mahasiswa Sumatera Utara di Universitas “X” Bandung ditentukan oleh dimensi eksplorasi

Universitas Kristen Maranatha interaksi dengan orang lain, misalnya komunitas suku Papua usia dewasa awal yang tetap mempertahankan nilai-nilai budaya Papua dan ia

Selain itu juga, individu suku Batak Toba usia dewasa awal yang sudah relatif cukup lama tinggal di kota Medan dan tidak mendapatkan ajaran tentang adat dari orang tua

Data tersebut dianalisis untuk mengungkapkan makna esensial dari situasi dan kondisi alamiah dengan tidak mengabaikan aspek budaya, historis, geografis, psikologis,

life skill menerima dan mengikuti kelas life skill .Bagi mereka hal tersebut juga hal baru dalam kegiatan belajar di sekolah.Karena keseharian mereka dalam mengikuti

Sedangkan untuk dimensi-dimensi religiusitas pada santri berusia 16-18 tahun di Pondok Pesantren “X” di Kota Tasikmalaya bila diurutkan dari persentase tertinggi

Sesuai hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti dalam rangka memenuhi tugas kuliah yaitu skripsi dengan judul problematika sumber daya manusia pondok

Sehingga dapat disimpulkan bahwa, Guru-guru di PPIQ sudah menghayati pekerjaan mereka memiliki banyak makna yang positif, makna-makna tersebut antara lain : mereka