• Tidak ada hasil yang ditemukan

kajian gender dalam masyarakat keturunan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "kajian gender dalam masyarakat keturunan"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN GENDER DALAM MASYARAKAT INDONESIA KETURUNAN ARAB: KAJIAN DI SURAKARTA JAWA TENGAH

Pendahuluan

Memerangi ketidakadilan sosial sepanjang sejarah kemanusiaan selalu menjadi hal yang menarik dan tetap akan menjadi tema penting dalam setiap pemikiran dan konsepsi tentang kemasyarakatan di masa mendatang. Dalam memerangi ketidakadilan sosial, sejarah manusia telah melahirkan analisis dan teori sodial yang sangat berpengaruh dalam membentuk sistem kemasyarakatan umat manusia. Misalnya, Antonio Gramsci dan Louis Althusser membahas idiologi dan cultural serta menggugat keduanya karena diangggap sebagai alat dan bagian dari mereka yang diuntungkan untuk melanggengkan ketidakadilan. Para supporter dari teori kritis Frankfurt mempersoalkan metodologi dan epistimologi sebagai salah satu sumber ketidakadilan. Bahkan ilmu pengetahuan dan wacana yang selama ini dianggap netral juga telah mempertanyakan ketidakadilan. Menurut pandangan mereka, ilmu pengetahuan bisa dan telah menjadi alat untuk melanggengkan ketidakadilan sosial. Dari berbagai gugatan ketidakadilan tersebut, terdapat salah satu analisis yang mempertanyakan ketidakadilan sosial dari aspek hubungan antar jenis kelamin yang belum pernah disingggung oleh teori-teori di atas. Analisis yang dimaksud adalah analisis gender, suatu analisis yang menjdi alat bagi gerakan feminisme.

Kajian gender pada dekade terakhir mulai semakin semarak seiring dengan menggemanya repertoir perbedaan gender. Hal ini dibuktikan dengan semakin menggaungnya perbincangan bahkan studi tentang perempuan diberbagi kalangan. Yang lebih menggembirakan lagi adalah semakin banyaknya bermunculan pusat kajian atau studi wanita, yang populer dengan studi gender di perguruan tinggi bahkan lembaga-lembaga yang lainnya, terutama di Indonesia.

Indonesia merupakan suatu negara kesatuan yang terdiriatas bermacam-macam suku, golongan, adat, budaya, agama bahkan kepulauan. Dengan semakin beraggamnya suatu penduduk berarti mereka mempunyai aturan-aturan sosial dan budaya yang berbeda-beda pula, terutama tata aturan ihwal perbedaan gender. Masyarakat terkadang memandang perbedaan gender dengan dipengaruhi oleh konsep syariat suatu agama meskipun tidak secara menyeluruh, misalnya Islam. Dalam syariat Islam sebenarnya tidak ada ketentuan yang mengihtilafkan kedudukan pria dan wanita. Kedudukan dan hak wanita dalam syariat Islam sebenarnya setara dengan pria. Selain itu, wanita sebagai manusia telah dilimpahi daya kemampuan dan yang tidak terbatas dalam ranah spiritual dan intelektual. Pandangan terhadap perbedaan gender yang mengatasnamakan konsep syariat suatu agama juga bermunculan bahkan telah abadi sampai sekarang dalam masyarakat Indonesia keturunan Arab.

(2)

keturunan Arab di Surakarta merupakan suatu kajian yang sangat menarik untuk digali lebih mendalam. Mengapa demikian? Karena walupun kehidupan wanita keturunan Arab di Surakarta dipengaruhi oleh perbedaan gender akan tetapi mereka masih tetap ikut serta dan berperan aktif dalam semua kehidupan bermasyarakat.

Pemilihan Surakarta sebagai objek penelitian ini didasari adanya beberpa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain, Surakarta pada zaman dahulu merupakan suatu kasultanan, Surakarta merupakan pusat kebudayaan. Yang tak kalah pentingnya, di Surakarta berdiam masyrakat Indonesia keturunan Arab yang jumlahnya sangat besar tatkala dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. Beranjak dari persepsi umum tentang perbedaan gender di atas, menarik sekali dilakukan penelaahan yang lebih jauh mengenai peran wanita dalam ranah sosial dan aktifitasnya dalam kehidupan wanita keturunan Arab di Surakarta. Sehubungan dengan pembahasan ini, jangkauan penelaahan dalam penelitian ini yang perlu dibatasi menyangkut (a) peran wanita dan (b) aktifitas wanita. Peran wanita dalam penelitian ini diarahkan pada pembahasan gender dan pengaruhnya pada kehidupan sosial dan budaya wanita Indonesia keturunan Arab di Surakarta. Adapun aktifitas wanita dalam penelitian ini dibatasi dalam perihal aktifitas kehidupan wanita Indonesia keturunan Arab di Surakarta.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal seperti, peran wanita Indonesia keturunan Arab di Surakarta dalam ranah sosial dan budaya, dan aktifitas kehidupan wanita keturunan Arab di Surakarta dalam kehidupan bermasyarakat. Selain perihal tujuan penelitian, ada juga kontribusi dari penelitian ini adalah bertalian dengan pemahaman masyarakat. Melaui peneliotian diharapkan adanya pemahaman masyarakat yang memadai terhadap keberadaan wanita Indonesia keturunan Arab dalam kehidupan bermasyarakat. Lebih jauh lagi melaui pemahaman yang memadai, diharapkan pula masyarakat dapat bersikap dan bertindak lebih bijaksana terhadap keberadaan dan peran wanita.

Gender menurut Oakley (dalam Fakih:1997:71) mendefinisikan bahwa gender adalah perbedaan yang bukan biologis dan bukan kodrat Tuhan. Perbedaaan biologis ya’ni perbedaan jenis kelamin adalah kodrat dan oleh karenanya secara permansn berbeda. Dari definisi iru gender dapat dipahami sebagi perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan yang dikontruksi secara soaial, yaitu perbedaan bukan kodrat Tuhan melainkan diciptakan oleh manusia melaui proses sosial dan kultur yang panjang.

(3)

nilai-nilai dan norma-norma sosial dari negara asalnya dan juga dipengaruhi oleh situasi sosial dan politik pada masa itu. Setalh itu, menghubungkan peran gender dalam ihwal perkawinan dan pendidikan serta pengaruhnya.

Cara kerja pengkajian dalam penelitian adalah dengan memanfaatkan teori melalui pendekatan kesyariatan agama Islam, teori historis, dan dan teori budaya. Pada tahap pertama adalah mencari hubungan-hubungan yanga ada antara peran gender dengan tata aturan yang berlaku dalam syariat Islam. Tahap kedua adalah mendalami perkembangan perbendaan gender dengan meruntut sejarah kedatangan orang Arab ke Indonesia dan perkembangan historis dari keturunan Arab di Indonesia. Tahap ketiga adalah mendekati perbedaan gender melalui pendekatan budaya, adat dan kebiasasaan dari masyarakat keturunan Arab di Surakarta dalam kehidupannya sehari-hari. Penggunaan pendekatan budaya ini berdasarkan dari fakta bahwa masyarakat keturunan masih mengikuti adat istiadat, tata cara, nilai-nilai sosial dari negara asalnya. Selain, itu pendekatan ini juga menggali peran sosial, politik, pendidikan, serta aktifitas kehidupan wanita Indonesia keturunan Arab. Semakin berkembangnya peran sosial, politik, ekonomi, pendidikan, budaya serta aktifitas dari mereka akan semakin membuka adanya perubahan budaya.

Metode penelitian

penilitian ini merupakan hasil dari penelitian deskriptif tentang kajian gender dalam masyarakat keturunan Arab di Pasarkliwon Surakarta Jawa Tengah. Oleh karena itu, setelah dipaparkan perihal pendekatan, teori serta analisis yang digunakan dalam penelitian ini, metode penelitian perlu dikedepankan guna memperdalam pendekatan, dan teori yang dimanfaatkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif persepsional. Metode pendekatan deskriptif persepsional dapat dipahami sebagai suatu metode yang digunakan untuk menggambarkan fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antarfenomena yang diselidiki secara sistematis, faktual, dan akurat dari sampel penelitian melalui persepsi yang tepat. Selain itu, juga menggunakan metode kualitatif, pengolahan data yang disesuaikan dengan jenis dan sifatnya. Pengolahan data atau analisi data dimaksudkan untuk membantu pemunculan temuan baru yang berasal dari data empirik.

(4)

sekunder didapatkan dari sumber-sumber tertulis, baik berupa buku-buku, laporan-laporan penelitian. Dokumen-dokumen, majalah-majalah dan sebagainya Perihal variabel yang dimanfaatkan dalam penelitian ini adalah, jumlah wanita Indonesia keturunan Arab yang bekerja diluar rumah, jumlah wanita Indonesia keturunan Arab yang tidak bekerja, usia produktif jumlah wanita Indonesia keturunan Arab (25-50 tahun), jumlah pria yang mendukung kegiatan istri di bidang sosial, ekonomi, poltik, dan budaya, jumlah pria yang tidak mendukung kegiatan istri di bidang sosial, ekonomi, poltik, dan budaya, pendidikan yang diperoleh wanita Indonesia keturunan Arab, nilai-nilai budaya yang dianut oleh keluarga keturunan Arab.

Setelah data-data di atas terkumpul, diadakan pengklasifikasian data menurut pemerian yang disesuaikan dengan variabel yang dimanfaatkan dalam penelitian ini. Hasil dari pengklasifikasian ini kemudian dianalisis dengan memanfaatkan analisis deskriptif dan kuantitatif. Akhirnya, pelaporan ini disajikan dalam bentuk pelaporan nonformal.

Bahan dan Alat Penelitian

Instrumen Pelaksanaan yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain:Tape Recorder, Kaset, CD, Baterai, Kertas, Buku tulis, Alat tulis, Komputer, Kamera, Tinta Sprinter, dan lain-lain

Pembahasan

Analisis gender dalam sejarah pemikiran manusia tentang ketidakadilan sosial dianggap suatu analisis baru, dan mendapat sambutan akhir-akhir ini. Analisis gender inilah yang telah membantu mempertajam analisis kritis sosial yang sudah ada. Analisis kritik sosial ini mencoba mendalami perihal ketidakadilan gender dalam ranah kehidupan sosial, dan budaya.

A. Gender dan pengaruh pada kehidupan sosial dan budaya wanita Indonesia keturunan Arab di Surakarta

Analisis gender merupakan suatu analisis ketidakadilan gender diantara mahluk tuhan berkelamin laki-laki dan perempuan. Ketidakadilan ini bukan mengarah pada persamaan jenis kelamin seseorang atau seksualitas. Ketidakadilan ini adalah seperangkat peran yang menunjukkan jenis kelamin (dibaca gender). Ketidakadilan yang dimaksudkan ya’ni ketidakadilan dalam ihwal peran yang ditimpakan kepada wanita dalam kehidupan sosial dan budaya. Peran gender ini sangat dipengaruhi oleh tingkat sosial, usia seta latar belakang budaya dan etnis.

Tingkat sosial, usia, serta latar belakang budaya dan etnis adalah jantung dalam analisis gender. Dalam kehidupan wanita Indoneisa keturunan Arab di Surakarta, analis gender membutuhkan penarikan benang-benang kusut ihwal ajaran agama Islam dan pengaruhnya dalam peran gender, latar belakang budaya keturunan Arab Indonesia di Surakarta dan pengaruhnya dalam peran gender, dan pendidikan wanita Indonesia Keturunan Arab di Surakarta dan pengaruhnya dalam peran gender.

(5)

1. ajaran agama Islam dan pengaruhnya dalam peran gender

Penduduk Indonesia keturunan Arab di Surakarta kebanyakan memeluk agama Islam. Islam adalah suatu agama yang mengatur umatnya dengan syariat-syariatnya. Salah satu bagian tata aturan syariat Islam adalah ihwal persamaan hak dan kewajiban antara pria dan wanita. Dalam syariat Islam persamaan hak dan kewajiban antara pria dan wanita telah ditetapkan dengan jelas dalam kitab suci Al-Qur’an maupun hadist rasulnya. Persamaan hak dan kewajiban antara pria dan wanita terlihat dalam hal-hal yang berhubungan dengan pertanggung jawaban manusia secara umum serta berhubungan antara sesama manusia seperti ketaqwaan, keimanan, dakwah, hubungan muamalah, dan menuntut Ilmu. Selain persamaan, syariat Islam juga mengatur perihal perbedaan hak dan kewajiban antara pria dan wanita. Perbedaan hak dan kewajiban pria dan wanita ini berhubungan dengan kodrati kelamin. Kodrat kelamin mencakup tata aturan dalam term kodrat pria dan wanita. Kodrat ini adakalnya tentang kedudukan, fungsi, maupun status atau posisi dalam masyarakat. Perbedaan ini tampak dalam pembagian warisan, berpakaian, dan rumah tangga.

Tata aturan syariat Islam yang mengkaji hak dan kewajiban antara pria dan wanita ini sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Indonesia keturunan Arab di Surakarta. Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan hak dan kewajiban antara pria dan wanita menjadi hal yang menonjol dalam kehidupan mereka. Mereka masih mengganggap wanita adalah berstreotip lemah. Streotip ini ditunjukkan dengan perlambangan bahwa wanita itu slalu menjadi mahluk kedua setelah pria. Wanita harus mematuhi keinginan orang tuanya atau mengiyakan keinginan suaminya. Wanita Indonesia keturunan Arab di Surakarta akan mendapatkan warisan yang lebih kecil apabila dibandingkan dengan pria. Fungsi mereka hanyalah sebagai rumah tangga dan pengatur rumah tangga. Kedudukan pria selalu menjadi pemimpin dalam rumah tangga. Hasalahnya, kehidupan wanita keturunan Arab itu menempati fungsi, posisi atau status setelah pria dalam kehidupan masyarakat. Perbedaan gender ini sangat dipengaruhi oleh tata aturan syariat agama yang mereka yakini.

2. latar belakang budaya keturunan Arab Indonesia di Surakarta dan pengaruhnya dalam peran gender

Dari observasi yang dilakukan, perbedaan gender masyarakat indonesia keturunan Arab di Surakarta selain dipengaruhi oleh syariat Islam, juga dipengaruhi oleh latar belakang budaya mereka. Latar belakang budaya mereka yang masih menaati dan mengikuti nilai-nilai dan norma-norma sosial dari negara asalnya. Selain latar belakang budaya mereka, perbedaan gender juga dipengaruhi oleh situasi politik pada saat itu. Diakar dari sejarah, orang-orang Arab yang datang ke Indonesia sejak beberapa abad yang lalu adalah berasal dari para pedagang yang berasal dari Hadramaut Zaman. Maskat, Persia, Mesir, Oman, dan Bahrain.

(6)

menikahi wanita-wanita pribumi. Perkawinan ini menyebabkan asimilasi kebudayaan dan interaksi sosial yang erat. Walaupun mereka telah lama menetap dan berasimilasi kebudayaan, mereka dalam beberapa hal masih tetap mentaati dan menjunjung tinggi tata cara dan nilai-nilai sosial dari negara asalnya. Ihwal ini, dapat didapati dalam stratifikasi sosial yang berdasarkan nasab, pekerjaan seseorang.

Pada masa lalu, masyarakat Hadramaut terbagi kedalam beberapa golongan, yaitu Sayyid (keturunan Nabi Muhammad dari putrinya Fatimah), Syaih (ketunan Sahabat), al-Qerwan (tukang kayu, pandai besi, tukang emas, penyamak kulit), fallah (petani), dan golongan-golongan yang lainnya. Golongan-golangan tersebut di atas pada dasarnya penamaannya menggunakan nama-nama keluarga yang khas.

Di Indonesia pada umumnya dan Surakarta pada khususnya, terdapat bermacam-macam golongan. Stratifikasi masyarakat di Surakarta lebih sederhan. Hal ini berdasarkan penamaannya yang berasal dari asalnya. Misalnya, berdasarkan asal keturunannya, melahirkan Sayyid dan Ba’alwi atau disebut juga golongan manasib dan bukan manasib (Noer, 1992:67). Penamaan golongan juga ada yang berdasarkan tempat kelahiran mereka yaitu Wulaiti dan Muwalat. Selain itu, penamaan golongan ada yang berdasarkan pekerjaan mereka, yaitu ada

Selain stratifikasi sosial, masyarakat Indonesia keturunan juga masih melestarikan pemakaian nama keluarga yang berdasarkan atas garis nasab dari pihak laki-laki. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan fungsi, dan posisi atau kedudukan mereka sebagai keturunan Arab. Nama-nama nasab ini dapat menjadi rujukan dalam penulususran dari golongan manakah mereka berasal. Penggambaran ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat Indonesia keturunan Arab di Surakarta kaum prialah yang paling dominan dalam kehidupan sodialnya.

3. pendidikan wanita Indonesia Keturunan Arab di Surakarta dan pengaruhnya dalam peran gender

Memasuki abad ke-20, fungsi, posisi atau kedudukan wanita Indonesia keturunan Arab mulai menunjukkan grafik perubahan. Perubahan ini dipengaruhi oleh politik etis yang dicanangkan oleh penjajah Belanda. Masyarakat Ibdonesia keturunan Arab kemudian mendirikan ormas yang bergerak diranah pendidikan. Hal ini dilaksanakan guna mengimbangi lembaga pendidikan yang diprakarsai oleh Belanda. Organisasi masyarakat yang bergerak di ranah pendidikan ini membentuk Ja’iyyat al-Khairiyah pada 17 Juli 1905. Setelah terjadi perpecahan dalam lembaga ini, mereka mendirikan Jam’iyyat al-Islam wa al-Irsyad pada tahun 1915 serta Jam’iyat Rabithah al-Alawaliyah pada 1928. Setelah berjalan dalam kurun waktu 6 tahun, muncullah organisasi Persatuan Arab Indonesia (PAI) pada 4 Oktober 1934 di Semarang.

(7)

keturunan Arab, misalnya munculnya Barkah Salim Nahdi NSI (persatuan Istri PAI). NSI bertujuan melepaskan diri kunkungan adat yang merendahkan wania, membangkitkan kesadaran akan ihtamnya pendidikan, serta berusaha memperjuangkan persamaan gender antara wanita dan pria.

Pembentukan PAI ini juga membawa dampaknya sampai ke wanita Indonesia keturunan Arab di Surakarta. Dampak yang terjadi baik dalam bidang sosial, ekonomi, politik maupun budaya. Perubahan dibidang sosial dapat ditemukan dari keberhasilan PAI untuk menyadarkan akan ihtamnya pendidikan. Wanita-wanita Indonesia keturunan di Surakarta telah berusaha memberikan pendidikan setingginya kepada putri-putranya. Dalam bidang ekonomi, perubahan ditandai dengan munculnya pendidikan dan kursus-kursus ketrampilan yang menjadi modal mereka dalam mengembangkan diri. Kegiatan mereka dibidang ekonomi telah merubah paradigma dalam perbedaan gender. Mereka juga berkesempatan mencari nafkah guna menambah penghasilan rumahj tangga melalui profesi mereka masing-masing. Dalam bidang politik, mereka telah banyak berpartisipasi dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Behkan pada masa sekarang, mereka telah bebas dalam menyalurkan aspirasinya. Serta dalam bidang budaya, perubahan adat mulai bermunculan, antara lain kebiasaan memingit mulai memudar, dan mereka mulai diijinkan untuk mengembangkan wawasannya dengan mengikuti kegiatan diluar rumah. Akan tetapi penjodohan masih dominan terutama bila perkawinannya dengan nasab yang berbeda apalagi dengan orang bukan keturunan Arab.

B. Aktifitas wanita Indonesia keturunan Arab di Surakarta dan perannya

Kemunculan organisasi istri Persatuan Arab Indonesia (PAI) pada 1940 telah membawa cahaya cerah dalam merubah kehidupan sosial masyarakat Indonesia keturunan Arab di Surakarta. Kemunculan organisasi itu juga meberikan angin segar perihal kesadaran akan ihtamnya persamaan hak antara pria dan wanita dalam berbagai bidang kehidupan dan ihtamnya peningkatan kedudukan wanita Indonesia keturunan di Surakarta. Upaya itu antara lain direalisasikan dengan melebarkan sayap kesempatan untuk memperoleh pendidikan bagi mereka. Dari 50 responden yang mengisi kuisioner prosentasenya adalah sebagaimana di bawah ini,

Pendidikan yang ditempuh Prosentase Pendidikan Formal

SD 18%

SLTP 22%

SLTA 36%

Perguruan Tinggi 24%

Tabel 1

(8)

berlaku pada masa lalu, yaitu larangan untuk bertemu dengan pria yang bukan muhrimnya. Hal ini terlihat dari sebagian besar responden (80%) menempuh pendidikan pada sekolah-sekolah yang muridnya hanya wanita saja. Hanya 20% responden yang menempuh pendidikan pada sekolah-sekolah umum, antara murid pria dan wanita dicampur.

Ganbaran perihal pendidikan di atas tampaknya ada korelasi antara tingkat pendidikan orang tua responden dengan pandangannnya bahwa anak-anak wanitanya hanya diperbolehkan bersekolah di sekolah khusus wanita. Dari penelitian lapangan yang dilakukan diperoleh data sebagaimana di bawah ini:

Pendidikan yang ditempuh Prosentase Pendidikan Formal

SD 26%

SLTP 48%

SLTA 16%

Perguruan Tinggi 10%

Tabel 2

Dari tabel 2 dapat diambil pemahaman bahwa pendidikan pada masyarakat Indonesia keturunan Arab di Surakarta menunjukkan grafik cukup positif. Dari hasil observasi yang dilakukan menunjukkan perihal latar belakang mereka menyeklolahkan anak wanitanya di sekolahan khusus wanita adalah dikarenakan aturan yang berlaku dalam masyarakat memang demikian dan untuk menjaga agar anak-anak wanitanya tidak terpengaruh oleh pergaulan yang tidak positif. Selanjutnya, alasan mereka menyekolahkan anak wanitanya di sekolahan yang mencampur antara laki-laki dan perempuan adalah tidak ingin membedakan antara wanita dan pria, serta agar anak-anak mereka dapat tumbuh bergaul dengan wajar.

Kesempatan yang dimiliki oleh wanita Indonesia keturunan Arab dalam memilih pendidikan tidak diimbangi dengan kebebasan mereka dalam memilih jodoh. Masalah ini dari tahun ke tahun tidak mengalami perubahan. Faktor pendidikan tidak memiliki pengaruh dalam ihwal pernikahan. Walaupun pendidikan orangtuanya tinggi, pernikahan itu selalu ditentukan oleh keluarga besar. Hal ini terbukti dari hasil penelitian pada tabel di bawah ini,

Keterangan Prosentase

Memilih jodohnya sendiri 16% Dipilihkan jodohnya 84%

Tabel 3

(9)

Calon Suami Prosentase

Keturunan Arab 58%

Nonketurunan Arab 32% Keturunan Arab dan Nonketurunan Arab

10%

Tabel 4

Dari tabel 4 dapat diambil pemahaman bahwa wanita Indonesia keturunan Arab dalam memilih calon suaminya itu ada 3 kemungkinan. Pertama, mereka berpendapat bahwa calon suaminya nanti itu harus berasal dari golongan atau keturunan Arab juga dan seagama. Kedua, mereka berpendapat bahwa calon suaminya kelak tidak harus berasal dari keturunan Arab. Mereka lebih menekankan bahwa calon suaminya kelak haruslah seagama walupun dia tidak keturunan Arab. Ketiga, mereka berpendapat bahwa calon suaminya kelak baik berasal dari keturunan maupun tidak segolongan itu bukanlah hal yang mendasar. Menurut mereka calon suaminya kelak haruslah seagama dengan mereka dan tergantung dari mereka yang menjalani.

Dari ketiga asumsi tersebut pendapat yang pertamalah yang memperoleh prosentase yang paling besar apabila dibandingkan dengan dua asumsi lainnya. Hal itu dikarenakan bahwa ketaatan mereka tau berbakti mereka kepada kepada orang tunya yang utama.

Dalam bebapa hal kedudukan wanita Indonesia keturunan Arab slalu dibedakan dengan kaum laki-laki. Namun, dalam hal memenuhi kebutuhan keluarga, kedudukan mereka sejajar dengan pria. Kesejajaran tersebut terlihat dalam hal mencari nafkah. Perihal kesejajaran dalam mencari nafkah tampak dalam tabel 5 di bawah ini,

Keterangan Prosentase

Mencari nafkah 86%

Tidak Mencari nafkah 14%

Tabel 5

(10)

ditunjukkan dengan bekerjanya mereka di instansi-instansi pemerintah maupun instansi-instansi swasta.

Selain disibukkan dengan urusan rumah tangga, keluarga, dan kesibukan menambah nafkah keluarga, wanita Indonesia keturunan Arab juga mempunyai kegiatan dalam bermacam-macam organisasi. Data observasi perihal organisasi-organisasi yang mereka ikuti sebagaimana pada tabel 6 di bawah ini,

Nama organisasi Prosentase Pendidikan Formal

Darma wanita 52%

PKK 6%

Organisasi sosial 4%

Organisasi lain 38%

Tabel 6

Dari tabel 6 di atas dapat diambil kesimpulan bahwa wanita Indonesia keturunan Arab turut juga berpartisipasi dalam berbagai organisasi. Kebanyakan dari mereka hanya berpartisipasi pada organisasi-organisasi sosial. Mereka kurang tampaknya kurang berminat pada organisasi-organisasi massa. Kekurang minatan mereka terhadap sosial didasari atas pandangan bahwa bidang tersebut kurang menarik dan tidak menguntungkan pada segi apapun.

Dalam rangka mencari nafkah maupun mengembangkan diri atau bersosialisasi ada beberapa faktor yang melatarbelakangi wanita Indonesia keturunan Arab ikut kegiatan tersebut. Faktor-faktor tersebut antara lain permintaan ijin kepada suami, dan dukungan dari suami, atau ijin dari suami dan dukungan dari suami. Dari observasi yang dilakukan diperoleh data sebagaimana tabel 7 di bawah ini,

Keterangan Prosentase Pendidikan Formal

Dukungan suami 26%

Ijin dan dukungan suami 48%

Tabel 7

Kesimpulan

1. Perbedaan gender pada Masyarakat Indonesia keturunan Arab itu dipengaruhi oleh syariat Islam, adat istiadat, budaya dan pendidikan.

2. Peran wanita Indonesia keturunan Arab di Surakarta Jawa Tengah itu telah beragam dan mengalami berbagai perkembangan, diantaranya dalam perihal pendidikan, memilih jodoh atau calon suami, serta peran mereka dalam kehidupan bermasyarakat.

(11)

4. Dalam perihal memilih jodoh, mereka juga mempunyhai beragam kesempatan diantaranya dipilihkan oleh keluarga, dan juga berkesempatan memilih sendiri calon suaminya. Selain itu mereka juga berkesempatan memilih calon suami baik dari golongan mereka maupun di luar golongan mereka.

5. Perihal dalam peran mereka dalam kehidupan bermasyarakat, mereka ikut berpartisipasi dalam berragam organisasi. Guna mendukung kegiatannya tersebut, mereka membutuhkan ijin dan dukungan dari suami mereka.

Daftar Pustaka

Abdullah, Taufik (editor). Islam di Indonesia: Sepintas Lalu Tentang Beberapa Segi. Jakarta: Tintamas Indonesia

Abdurrahman. 1994. Emansipasi Adakah dalam Islam Suatu Tinjauan Syariat Islam Tentang Kehidupan Wanita. Jakarta: Gema Insan Press.

Aidit, Chadidjah.1941. Perempoean dan Masyarakat. Insaf No. 7. September-Oktober. Berg, L.W.C. Van dan . 1989. Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara. Jakarta:

INIS.

Mosse, Yulia Cleves. 1996. Gender dan Pembangunan. Yogyakarta: Rifka ANNISA dan Pustaka Pelajar./

Nahdi, Barkah. 1940. Azaz dan Tujuan PAI Istri. Insaf. No.6-7. September-Oktober. Noer, A.A. 1940.Organisasi PAI Istri. Aliran Baroe. No. 21.

Gambar

Tabel 1
Tabel 2       Dari  tabel  2 dapat  diambil  pemahaman  bahwa pendidikan  pada
Tabel 5       Dari tabel 5 di atas menunjukkan bahwa kesejajaran wanita Indonesia
Tabel 6       Dari tabel 6 di atas dapat diambil kesimpulan bahwa wanita Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai suatu perspektif inti dalam basis pengetahuan pekerjaan sosial sekolah teori sistem membantu pekerja sosial sekolah untuk memahami bahwa sekolah adalah

Adanya akses jasa keuangan bagi keberlangsungan ekonomi, lingkungan, dan agama agar Bank Syariah dapat memberikan kontribusi publik dan menjadi leading industri dalam

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemahaman peserta didik terhadap nilai-nilai multikultural yang didapatkannya dari sekolah dan keluarga, peran sekolah dalam membiasakan

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara

Mendeskripsikan hasil intervensi keperawatan anak dengan pemenuhan kebutuhan dasar thermoregulasi : dengan perbandingan efektifitas pemberian kompres hangat dan tepid

Bagi klien: Penelitian ini merupakan studi kasus seorang klien HNWI, sehingga bagi klien yang menjadi objek penelitian diharapkan akan diberikan manfaat dalam

endekatan tatalaksana multidisiplin san at pentin dia nosis dini dan p oteksi ketat da i pa anan sina mataha i dapat menin katkan kualitas se ta ha apan hidup pende itan a..

Bila nomor tag tsb berbeda ( cache mis )  ambil ( fetch ) satu blok data sesuai dengan nomor tag dan line