• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Personal Value dengan Safety pe

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Hubungan Personal Value dengan Safety pe"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Hubungan Personal Value dengan Safety performance pada Karyawan PT. Waskita Karya proyek Jembatan Musi

Vania Galih Prinasti

Prof. Dr. Cholichul Hadi, Drs., M.Si., Psikolog Dewi Syarifah, M.Psi., Psikolog

Dr. Fajrianthi, Psikolog

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan personal value dengan safety performance pada karyawan PT. Waskita Karya proyek Jembatan Musi. Personal Values didefinisikan sebagai representasi kognitif kebutuhan universal manusia yang meliputi kebutuhan biologis, kebutuhan sosial, dan tuntutan institusi sosial pada individu (Schwartz & Bilsky 1987). Safety performance adalah perilaku kerja yang relevan terhadap keselamatan yang dapat dikonseptualisasikan sama dengan perilaku kerja lainnya dalam lingkungan kerja (Neal, dkk., 2000).

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik survey pada 65 karyawan PT. Waskita Karya proyek Jembatan Musi. Safety Personal Value diukur dengan menggunakan skala Potrait Value Questionnaire yang dikembangkan oleh Schwartz, dkk.,(2001) yang terdiri atas 40 item. Safety performance diukur dengan menggunakan skala yang dikembangkan oleh Neal, dkk., (2000) yang terdiri atas 18 aitem. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi Pearson product moment dengan bantuan program SPSS versi 20.

Dari hasil analisis data diperoleh nilai korelasi antara variabel personal value dan safety performance adalah sebesar 0,781 dengan taraf signifikansi 0,001 (p<0,05)Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara personal value dengan safety performance pada karyawan PT. Waskita Karya proyek Jembatan Musi.

Kata Kunci : Personal Value, Safety performance

(2)

Moore dkk., 2013; Khosravi dkk., 2014 dalam Mersha, 2016). Dalam industri konstruksi, resiko kematian juga 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan industri manufaktur, sementara resiko kecelakaan utama 2.5 kali lebih tinggi (Sawacha dkk., 1999 dalam Mersha, 2016). Hal ini terjadi karena karyawan di sektor konstruksi lebih terekspos faktor resiko seperti faktor mekanis, biologis dan ergonomis (Mersha, 2016).

Permasalahan terkait keselamatan kerja juga dihadapi oleh banyak perusahaan konstruksi di Indonesia. Hal semacam ini juga ditemukan pada perusahaan konstruksi skala nasional di Indonesia. PT. Waskita Karya merupakan salah satu perusahaan skala nasional yang tidak luput dari permasalahn tersebut. Hal ini dapat telihat dari peningkatan jumlah kecelakaan kerja yang meningkat dari tahun ke tahun.

Salah satu aktivitas pada industri konstruksi yang memiliki resiko bahaya tinggi adalah pembangunan jembatan (Levitt & Samelson, 1993). Karyawan konstruksi jembatan rentan terekspos bahaya seperti jatuh, bersinggungan dengan alat berat, dan. lingkungan kerja yang rawan. Proyek pembangunan Jembatan Musi merupakan salah satu proyek milik PT. Waskita Karya yang mempunyai masalah yang sama terkait keselamatan.

Karyawan harus menampilkan safety performance untuk mendukung usaha perusahaan terkait keselamatan dan keamanan di lingkungan kerja (Sampson, 2013). Neal, dkk., (2000) mendefiniskan safety performance sebagai perilaku kerja yang relevan terhadap keselamatan yang dapat dikonseptualisasikan sama dengan perilaku kerja lainnya dalam lingkungan kerja. Pembahasan lebih lanjut mengenai safety performance khususnya pada industri konstruksi diperlukan karena berhubungan dengan kinerja karyawan dalam menghadapi resiko bahaya yang ada dan dianggap sebagai konstrak yang tepat dalam mengevaluasi kecelakaan kerja di masa lalu dan memprediksi kecelakaan kerja yang dapat terjadi di masa depan (Molsy, 2015; Sampson, 2014; Clarke, 2006).

Salah satu cara untuk meningkatkan safety performance pada karyawan adalah dengan melalui peningkatan terhadap aspek personal value. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hystad & Bye (2013) menemukan bahwa personal value memiliki hubungan yang signifikan terhadap safety performance. Hasil dari penelitian tersebut juga menemukan bahwa personal value merupakan alasan yang tepat dalam memprediksikan perilaku terkait keselamatan pada suatu organisasi karena merupakan motivasi yang bersumber dalam diri individu.

(3)

karyawan yang ditampilkan pada saat mereka bekerja (Rokeach, 1973). Williams (1968) menyatakan bahwa personal value berkedudukan sebagai kriteria atau standar preferensi. Nilai memiliki aspek kognitif, afektif, dan direksional ketika dikonseptualisasikan secara penuh menjadi kriteria untuk membuat penilaian, preferensi, dan pilihan.

Safety Performance

Safety performance merupakan suatu konstrak yang dicetuskan oleh Neal, dkk., (2000) yang berakar pada teori jobperformance. Penelitian mengenai safety performance meningkat karena dinilai mempunyai relasi yang kuat dengan adanya kecelakaan kerja (Clarke, 2006). Neal, dkk., (2000) mendefinisikan safety performance sebagai perilaku kerja yang relevan terhadap keselamatan yang dapat dikonseptualisasikan sama dengan perilaku kerja lainnya dalam lingkungan kerja. Burke (2002, dalam Christian, 2009) juga mendefinisikan safety performance sebagai suatu tindakan atau perilaku yang ditampilkan oleh individu untuk mendukung keamanan dan keselamatan karyawan, klien, masyarakat umum dan juga lingkungan. Dalam penelitiannya, Burke (2002) juga mencantumkan 4 faktor penting dalam safety performance yaitu penggunaan alat pelindung diri (APD), praktik kerja yang mengurangi resiko bahaya, mengkomunikasikan bahaya dan kecelakaan, mensosialisasikan hak dan tanggung jawab karyawan.

Personal Value

Nilai sebagai suatu jenis kesadaran sosial yang memudahkan adaptasi individu terhadap lingkungan (Kahle, 1983).Nilai merupakan kesadaran sosial yang paling abstrak sehingga nilai mencerminkan karakteristik adaptasi paling mendasar (Fritzsche, 1995).Nilai-nilai individual telah lama dihubungkan dengan perilaku keputusan individu.Nilai merupakan aspek kognitif, afektif, dan direksional yang dikonseptualisasikan sebagai kriteria untuk penilaian, preferensi, dan membuat pilihan (Fritzsche, 1995). Untuk menjelaskan personal value, perlu diketahui bagaimana dimensi yang ada untuk menemukan bagaimana personal value dapat dihubungkan dengan kinerja karyawan. Berikut ini adalah penjelasan masing-masing dimensi:

Conformity merupakan dimensi yang dikonseptualisasikan sebagai tindakan individu yang berpartisipasi pada aktivitas keselamatan di lingkungan kerjanya. Dimensiini mempunyai hubungan yang signifikan dengan safety performance(Schwartz, 2011).

(4)

berlaku terkait keselamatan dan keamanan di lingkungan kerja sehingga dapat memunculkan kinerja yang lebih baik. (Schwartz, 2011).

Security dikonseptualisasikan pada nkaryawan yang mempunyai kecenderungan untuk menyukai kegiatan yang stabil dan teratur (Schwartz, dkk., 2001). Karyawan yang memiliki nilai ini akan mempunyai motivasi yang lebih besar untuk menaati peraturan dan regulasi terkait keselamatan yang berlaku di organisasi sehingga ia lebih menjaga aktivitas keselamatan yang ada baik untuk dirinya maupun orang lain (Schwartz, 2011).

Benevolence dikonseptualisasikan pada karyawan yang menjaga keselamatan orang lain yang mempunyai hubungan baik dengan dirinya. Namun pada penelitian ini, tidak ditemukan adanya hubungan antara dimensi ini dengan safety performance (Schwartz, 2011).

Universalism dikonseptualisasikan sebagai nilai yang mendefinisikan sikap karyawan terkait kesejahteraan lingkungan sekitar, toleransi dan apresiasi terhadap orang lain. Karyawan yang memiliki nilai ini akan menganggap bahwa keselamatan di lingkungan kerja adalah suatu kebutuhan dan menjadikan hal tersebut sebagai prioritas utama untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain di lingkungan kerja(Schwartz, 2011).

Hedonism dikonseptualisasikan sebagai sebuah sikap yang menggambarkan individu yang menyukai kesenangan untuk dirinya sendiri dan mempunyai tujuan untuk mendapatkan kepuasan dalam hidupnya (Schwartz, 2012). Karyawan yang mempunyai nilai ini cenderung menampilkan safety performance yang rendah karena cenderung tidak patuh dan egois (Schwartz, 2011).

Stimulation, dikonseptualisasikan sebagai nilai yang mencerminkan seorang individu yang menyukai tantangan dalam hidupnya. Namun hal ini tidak berhubungan dengan safety performance karena nilai ini lebih didominasi oleh tujuan hidup dimana individu yang memilikinya cenderung untuk mempunyai jiwa keberanian (Schwartz, 2012).

Self direction dikonseptualisasikan sebagai nilai dimana individu menyukai kebebasan untuk menentukan tujuan hidupnya sendiri

(5)
(6)

Kerangka Konseptual

Keamanan dan keselamatan pada aktivitas kerja bergantung pada karyawan

Karyawan harus berupaya dengan Maksimal untuk menunjang keselamatan

Safety Performance (Y) (Neal, dkk., 2000)

Safety Compliance

Safety Participation

Personal Value (X) (Schwartz, 2001)

Comformity Tradition

Power

Benevolance Security

Universalism Hedonism Stimulation Self-Direction

(7)

METODE

Sesuai dengan tujuan penelitian yang untuk mencari hubungan antara personal value dengan safety performance maka penelitian ini menggunakan tipe penelitian kuantitatif-eksplanatoris. Penelitian eksplanatoris bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku dan fenomena tertentu dengan menggunakan pengujian teori yang didasarkan pada pertanyaan mengenai penyebab suatu fenomena ataupun perilaku yang kemudian dijelaskan dengan teori yang ada (Neuman, 2007). Berdasarkan dimensi waktunya, penelitian ini memakai metode cross sectional yang bertujuan mengumpulkan data dari beberapa subyek dalam satu waktu (Neuman, 2007).

Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah sesuatu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan bertujuan memperoleh informasi mengenai hal yang ingin diteliti untuk kemudian ditarik kesimpulan berdasarkan hasil penelitian tersebut (Sugiyono, 2010). Terdapat tiga variabel dalam penelitian ini yaitu:

1. Variabel dependen (Terikat / Y) : Safety performance 2. Variabel independen 1 (Bebas / X) : Personal Value

Hubungan antar variabel di dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1. Hubungan antar variabel

Definisi Operasional Variabel Penelitian

Definisi operasional adalah bentuk operasionalisasi definisi konseptual variabel penelitian sehingga dapat diukur atau diobservasi (Neuman, 2007). Tujuan dari adanya definisi operasional adalah untuk menentukan batasan yang jelas terhadap variabel agar sesuai dengan teori yang digunakan. Pada variabel

Personal Value

(8)

personal value, pengukuran menggunakan alat ukur Potrait Value Questionnaire (PVQ) yang dikembangkan oleh Schwartz, dkk., (2001). Alat ukur ini terdiri atas 40 aitem untuk mengukur 11 dimensi yang ada.

Pada konstrak safety performance, pengukuran menggunakan skala yang sesuai dengan teori safety performance milik Neal, dkk., (2000). Alat ukur ini tersusun atas 18 aitem untuk mengukur 2 dimensi yang ada. Terdapat 11 aitem untuk mengukur dimensi safety compliance dan 7 aitem untuk mengukur dimensi safety participation.Pada dimensi safety compliance, aitem yang ada menilai bagaimana karyawan menjalankan pekerjaan utamanya sesuai dengan peraturan terkait keselamatan dan keamanan yang berlaku (Neal, dkk., 2000). Pada dimensi safety participation, aitem yang ada ini menilai bagaimana karyawan berpartisipasi pada setiap aktivitas yang menunjang pekerjaannya yang berhubungan dengan keselamatan dan keamanan kerja (Neal, dkk., 2000).

Subjek Penelitian

Populasi penelitian merupakan keseluruhan dari objek yang akan diteliti (Neuman, 2007). Populasi yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah Karyawan PT. Waskita Karya proyek Jembatan Musi sejumlah 65 orang.

Teknik Pengumpulan data

Pada penelitian ini, penulis menggunakan teknik pengumpulan data dalam bentuk angka atau lebih dikenal sebagai teknik kuantitatif (Neuman, 2007). Penulis menggunakan kuisioner berbentuk self report dengan mengajukan sejumlah pertanyaan tertulis yang sama terhadap sampel sebagai instrument pengumpulan data.

(9)

Penulis menggunakan professional judgement pada alat ukur personal value dan safety performance untuk melihat apakah aitem-aitem dalam tes sesuai dengan indikator perilaku yang akan diukur. Judgement diberikan oleh tenaga ahli yang bekerja di bidang SDM PT. Waskita Karya

Reliabilitas mengacu pada suatu konsistensi yang menunjukkan bahwa pengukuran atribut yang sama dan diulang akan memberikan hasil kondisi yang sangat mirip. (Neuman, 2007). Dalam penelitain kuantitatif, reliabilitas ditunjukkan dengan hasil numerik yang dihasilkan oleh suatu indikator yang sama karena karakteristik dari proses pengukuran atau instrumen dari pengukuran itu sendiri (Neuman, 2007). Pengujian reliabilitas menggunakan pendekatan konsistensi internal dengan teknik Alpha Cronbach melalui perhitungan program SPSS 20 for Windows.

Uji Korelasi Variabel Personal Value dengan Safety Performance

Uji korelasi pada penelitian ini menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Pengukuran ini diperlukan untuk mengetahui ada atau tidak hubungan antar variabel yang dapat dilihat dari nilai p (taraf signifikansi). Selain melihat ada atau tidak hubungan antar variabel, teknik korelasi juga dapat menunjukkan kekuatan hubungan (r).

Pada penelitian ini, korelasi antara variabel personal value dan safety performance memiliki nilai signifikansi sebesar 0,001 dimana jika dilihat dari probabilitas p < 0,05 maka dapat disimpulkan terdapat hubungan antara personal value dengan safety performance. Kekuatan korelasi yang didapat adalah sebesar 0,781. Hal ini menunjukkan, variabel personal value dan safety performance memiliki hubungan yang positif sehingga semakin tinggi nilai dari variabel personal value maka semakin tinggi pula nilai dari variabel safety performance.

Daftar Pustaka

Amstrong, M. (2010). Amstrong's Essentials Human Resource Management Practice. London: Kogan Page.

Griffin, M. A., Neal, A., & Parker, S. K. (2007). Work Performance Scale. Psyctest Dataset.

Hystad, S.W., Bye, H.H. (2013). Safety Behaviour satSea: The Role of Personal Values and Personality Hardiness. Safety Science, 57, 19-26.

(10)

Neuman, (2007).Basics of Social Research Qualitatif and Quantitative Approaches, Second Edition. Boston: Allynand Bacon.

Schwartz, S.H, Melech, G., Lehmann, A., Burgess, S., Harris, M., and Owens. (2001). Extending the Cross-Cultural Validity of the Theory of Basic Human Values with a Different Method of Measurement. Journal of Cross-Cultural Psychology, 32:519.

Schwartz, S. (2012). An Overview of the Schwartz Theoryof Basic Values.Online Readings in Psychology and Culture.

Schwartz, S. (2009). Basic Human Value. Dalam Cross-National Comparison Seminar on the Qualityand Comparability of Measures for Constructs in Comparative Research: Methods and Applications.

Gambar

Gambar 1. Hubungan antar variabel

Referensi

Dokumen terkait

Perlunya penelitian lebih lanjut mengenai konsumsi kopi terhadap kesehatan khususnya yang berhubungan dengan tekanan darah/hipertensi pada kelompok peminum kopi dengan

Performance Appraisal: Sistem yang Tepat untuk Menilai Kinerja Karyawan dan Meningkatkan Daya Saing Perusahaan.. Jakarta: Salemba

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan baik kepada para manajer maupun karyawan dalam peningkatan kinerja guna menghadapi persaingan dalam UMKM khususnya

Berdasarkan uraian di atas, sense of humor dapat dilihat sebagai kemampuan yang diperlukan oleh mahasiswa tahun pertama untuk menghadapi masalah atau kesulitan

Berdasarkan hasil pemaparan analisis kaitan antara kinerja keselamatan (safety performance) dengan iklim keselamatan kerja (safety climate), diketahui bahwa

Pekerja konstruksi di PT X pembangunan gedung Universitas Mulawarman sebagian besar memiliki perilaku aman dan menyatakan kegiatan safety talk, pelatihan, dan pengawasan

144.. dengan produktivitas karyawan. Hal tersebut dapat dikaitkan dengan beberapa pembahasan di atas bahwa variabel- variabel tersebut memiliki keterkaitan yang saling

Tingkat kinerja pribadi karyawan tidak berhubungan dengan penerimaan perilaku disfungsional dalam ruang lingkup audit, dengan kondisi adanya locus of control dan