• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTEMUAN PENINGKATAN KEMAMPUAN KELUARGA (P2K2) PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PERTEMUAN PENINGKATAN KEMAMPUAN KELUARGA (P2K2) PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH)"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL

KESEJAHTERAAN

SOSIAL

DISABILITAS & LANSIA

PERTEMUAN PENINGKATAN

KEMAMPUAN KELUARGA (P2K2)

PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH)

(2)
(3)

Glosarium 4

Akronim 6

SESI 13 Pelayanan Bagi Penyandang Disabilitas Berat 7

Kompetensi Dasar Dan Indikator Keberhasilan 9

Struktur Pelatihan 11

Langkah-langkah 13

Lembar Kerja Sesi 13 19

Lembar Evaluasi Sesi 13 27

Flipchart 28

Bahan Bacaan Sesi 13 31

SESI 14 Pentingnya Kesejahteraan Lanjut Usia 43

Glosarium 44

Akronim 45

Kompetensi Dasar Dan Indikator Keberhasilan 47

Struktur Pelatihan 49

Langkah-langkah 51

Lembar Kerja Sesi 14 57

Lembar Evaluasi Sesi 14 61

Flipchart 62

Bahan Bacaan Sesi 14 66

(4)

Disabilitas Setiap orang yang mengalami keterbatasan

fisik, intelektual, mental dan/atau sensorik dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif. Anak Istimewa Anak yang memiliki keterbatasan fisik, mental,

intelektual atau sensorik dalam jangka waktu lama, memilki keterbatasan melakukan aktivitas kehidupannya sehari-hari, serta tidak dapat berpartisipasi penuh dan efektif dalam masyarakat berdasarkan kesetaraan dengan yang lainnya.

Disabilitas Berat Kedisabilitasannya sudah tidak dapat direhabilitasi, tidak dapat melakukan aktivitas kehidupannya sehari-hari dan/atau sepanjang hidupnya tergantung pada bantuan orang lain, dan tidak mampu menghidupi diri sendiri.

Fasilitator Memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran. Ice-breaking Suatu aktivitas kecil dalam suatu acara yang

bertujuan agar peserta acara mengenal peserta lain dan merasa nyaman dengan lingkungan barunya.

Refleksi Suatu kegiatan yang dilakukan dalam proses belajar mengajar pada prinsipnya merupakan kegiatan untuk nilai peserta didik kepada pendidik.

(5)

Keterbatasan Fisik Berkurangnya suatu fungsi yang secara objektif dapat diukur/dilihat, karena adanya kehilangan/kelainan dari bagian tubuh/organ seseorang.

Intelektual Kombinasi sifat-sifat manusia yang terlihat dalam kemampuan memahami hubungan yang lebih kompleks, semua proses berpikir abstrak, menyesuaikan diri dalam pemecahan masalah dan kemampuan memperoleh kemampuan baru.

Mental Yang berhubungan dengan pikiran, akal, ingatan atau proses ingatan yang berasosiasi dengan pikiran, akal dan ingatan.

Sensorik Stimulus atau rangsang yang datang dari dalam maupun luar tubuh.

Rehabilitasi Proses penting dalam pemulihan hak-hak manusia baik secara psikis maupun fisik. Psikologis Faktor yang berasal dari dalam individu

(6)

Kemsos Kementerian Sosial

Keppres Keputusan Presiden

P2K2 Pertemuan Peningkatan Kemampuan

Keluarga

PKH Program Keluarga Harapan

Pusdiklat Kesos Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan

Sosial

Diklat Pendidikan Dan Pelatihan

KPM Keluarga Penerima Manfaat

(7)

PELAYANAN

BAGI

PENYANDANG

DISABILITAS

BERAT

(120 menit)

(8)

LATAR BELAKANG

(9)

KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR KEBERHASILAN

Setelah mempelajari sesi ini, fasilitator mampu memahami, menjelaskan, mengidentifikasi dan memberikan contoh-contoh konkret mengenai pelayanan terhadap disabilitas berat baik di dalam keluarga ataupun masyarakat.

Adapun indikator keberhasilan materi ini jika fasilitator mampu menyampaikan pengetahuan dan mengajarkan keterampilan kepada pendamping mengenai:

1

2

3

4

5

Pengertian Penyandang Disabilitas.

Hak-Hak Penyandang Disabilitas.

Ragam dan Tingkatan Disabilitas.

Pelayanan bagi Disabilitas Berat di dalam Keluarga.

(10)

METODA

MEDIA

Bermain peran

Ceramah

Diskusi

Flipchart

Buku Pintar

Film/video

Alat bantu seperti: penutup

mata, tali, alat tulis

1

1

2

2

3

(11)

PEMBUKAAN bertujuan untuk membangkitkan motivasi dan minat peserta. Dalam langkah ini juga dilakukan review materi ke-4 modul yang telah dibahas pada pertemuan sebelumnya, khususnya materi anak istimewa yang ada pada sesi 11 modul perlindungan anak dan dihubungkan dengan materi yang akan dibahas.

Materi ini memberikan gambaran kepada peserta tentang penyandang disabilitas yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya penyandang disabilitas berat. Proses pembelajaran menggunakan metode film agar peserta mendapat gambaran tentang penyandang disabilitas yang ada di dalam masyarakat dan menggunakan permainan untuk menggambarkan kesulitan penyandang disabilitas untuk berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari.

Materi ini membahas hak-hak penyandang disabilitas. Proses pembelajaran ini menggunakan metode permainan.

STRUKTUR PELATIHAN

(12)

RAGAM DAN TINGKATAN DISABILITAS

PELAYANAN BAGI PENYANDANG

DISABILITAS BERAT DI DALAM KELUARGA

PELAYANAN BAGI PENYANDANG DISABILITAS BERAT DI MASYARAKAT

PENUTUP

15

20

20

10

M E N I T

M E N I T

M E N I T

M E N I T

Materi ini membahas ragam disabilitas dan tingkatannya. Materi ini disampaikan dengan menggunakan metode film dan diskusi kelompok.

Materi ini membahas cara memberikan pelayanan

terhadap penyandang disabilitas berat di dalam keluarga.

Materi ini memberikan gambaran kepada peserta

(sebagai anggota masyarakat) tentang pelayanan

terhadap penyandang disabilitas berat.

Materi ini berisi penyampaian pesan kunci, dan penugasan kepada peserta yang terkait dengan materi pembelajaran untuk dikerjakan di rumah.

LANGKAH 4

LANGKAH 5

LANGKAH 6

(13)

LANGKAH-LANGKAH

PEMBUKAAN

LANGKAH 1

5

M E N I T

Sesi pembukaan dimulai setelah semua materi dan peralatan pembelajaran tersedia.

1. Fasilitator mengucapkan salam dan memperkenalkan diri.

2. Fasilitator memastikan bahwa peserta sudah memiliki bahan ajar Sesi 13.

3. Fasilitator meminta salah satu peserta memimpin ice-breaking untuk mencairkan suasana dan membangkitkan motivasi peserta. Jika tidak ada peserta yang bersedia memimpin, maka permainan dipimpin oleh fasilitator.

4. Fasilitator mengajak peserta mereview materi sebelumnya tentang Perlindungan terhadap Anak. Tanyakan kepada peserta: “Apa yang telah dipelajari di pertemuan sebelumnya?”.

5. Jika peserta tidak dapat mengingat materi maka fasilitator yang menyampaikan dan merangsang peserta agar dapat mengingat kembali.

6. Fasilitator menghubungkan materi sebelumnya dengan materi pelayanan terhadap penyandang disabilitas yang akan dibahas.

PENGERTIAN PENYANDANG DISABILITAS

LANGKAH 2

M E N I T

1. Fasilitator memulai dengan bertanya mengenai pemahaman peserta tentang penyandang disabilitas, "Apakah ibu-ibu mengetahui apa itu penyandang disabilitas?”

2. Fasilitator mengingatkan kembali film tentang “Getun-anak istimewa”.

(14)

3. Setelah mereview film Getun, fasilitator menyampaikan kepada seluruh peserta bahwa penyandang disabilitas sama dengan anak istimewa. 4. Fasilitator meminta peserta untuk duduk berpasangan.

5. Fasilitator mengajak peserta untuk bermain sesuai dengan LK 13.1 6. Setelah bermain fasilitator menanyakan kepada peserta:

• Apa yang dirasakan oleh peserta 1?

• Apakah peserta 1 sulit menyampaikan pesannya? • Apa yang dirasakan oleh peserta 2?

• Apakah peserta 2 sulit menerima pesan dari peserta 1? 7. Fasilitator menuliskan jawaban peserta pada kertas plano.

8. Fasilitator menyimpulkan jawaban peserta dan menyampaikan kepada peserta bahwa penyandang disabilitas adalah “setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya”, dengan menunjukkan Flipchart 1: Pengertian Disabilitas.

CATATAN:

(15)

HAK-HAK PENYANDANG DISABILITAS

LANGKAH 3

25

M E N I T 1. Fasilitator mengajak peserta bermain “Perbedaan dan Persamaan” LK 13.2

2. Fasilitator melakukan refleksi dan menanyakan kepada peserta: • Apa yang dipelajari dari permainan ini?

• Hal apa yang ibu-ibu miliki dan mempunyai kesamaan dengan orang lain?

• Hal apa yang ibu-ibu miliki dan berbeda dengan orang lain? • Apa jadinya dunia ini jika semuanya sama?

3. Fasilitator menyimpulkan dan menyampaikan kepada peserta bahwa "penyandang disibilitas merupakan bentuk keragaman manusia. Penyandang disabilitas juga memiliki hak yang sama dengan warga negara lainnya”

4. Fasilitator merefleksi dengan menanyakan kepada peserta “Bagaimana jika dunia ini kita balik, kita masyarakat umum adalah penyandang disabilitas, akankah kita berusaha agar hak-hak kita terpenuhi?” 5. Fasilitator menanyakan kepada peserta apa saja yang berhak

didapatkan oleh penyandang disabilitas dalam kehidupan sehari-hari? 6. Fasilitator mengajak peserta bermain sesuai LK 13.3

7. Fasilitator menjelaskan hak-hak penyandang disabilitas dengan menggunakan Flipchart 2: Hak-hak Penyandang Disabilitas. 8. Fasilitator menanyakan kepada peserta :

• Apakah di sekitar ibu-ibu terdapat penyandang disabilitas? • Bagaimana kondisi mereka?

• Bagaimana perlakuan keluarga terhadap mereka? • Bagaimana perlakuan masyarakat terhadap mereka?

(16)

dan kita semua mempunyai kewajiban agar hak-hak penyandang disabilitas terpenuhi”

CATATAN:

Pada poin ini fasilitator menekankan bahwa penyandang disabilitas harus diperlakukan sama, tidak boleh diskriminasi dan dikucilkan.

RAGAM DAN TINGKATAN DISABILITAS

15

M E N I T 1. Fasilitator memeperlihatkan beberapa gambar

penyandang disabilitas dengan menunjukkan Flipchart 3: Jenis Disabilitas.

LANGKAH 4

2. Fasilitator menjelaskan kondisi psikologis dari penyandang disabilitas jika tidak mendapat dukungan dari lingkungannya seperti rasa rendah diri, sensitif, tidak bersemangat dan lain sebagainya.

(17)

PELAYANAN BAGI PENYANDANG

DISABILITAS BERAT DI DALAM KELUARGA

20

M E N I T 1. Fasilitator menyampaikan kepada peserta bahwa jika diantara peserta terdapat keluarganya yang menjadi penyandang disabilitas berat, maka tugas peserta untuk memberikan pelayanan/ pengasuhan agar penyandang disabilitas berat tetap mendapatkan hak-haknya.

LANGKAH 5

2. Fasilitator meminta peserta untuk meminta peserta menonton film “miris, bocah tanpa tangan dengan kaki yang hanya menggelinding” 3. Fasilitator meminta peserta untuk membentuk kelompok 4 orang 4. Fasilitator meminta masing-masing kelompok mendiskusikan dan

menuliskan apa yang harus dilakukan keluarga terhadap kasus tersebut 5. Fasilitator menyimpulkan dan menyampaikan hal-hal yang dapat

dilakukan keluarga bagi penyandang disabilitas berat dengan menunjukkan menunjukkan Flipchart 5: Pelayanan Disabilitas oleh keluarga. Tunjukkan informasi tersebut ada pada Buku Pintar halaman 7.

PELAYANAN BAGI PENYANDANG DISABILITAS BERAT DI MASYARAKAT

20

M E N I T 1. Fasilitator meminta peserta untuk membentuk kelompok terdiri dari 4 orang (masih kelompok

yang sama) LANGKAH 6

2. Fasilitator memainkan permainan “peta peduli disabilitas” (Minta peserta membuka Buku Pintar halaman 10-12).

3. Setelah selesai, fasilitator melakukan refleksi

(18)

PENUTUP

10

M E N I T 1. Hal yang paling sederhana yang bisa dilakukan siapa saja adalah berhenti mengejek penyandang disabilitas, tidak melakukan penelantaran dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas.

LANGKAH 7

Fasilitator memotivasi peserta banyak hal yang bisa dilakukan untuk peduli terhadap penyandang disabilitas melalui film “Disabilitas: Jangan Kucilkan Mereka” UNICEF.

2. Fasilitator menanyakan kepada peserta apa yang dipahami dari film tersebut?

3. Selanjutnya fasilitator memutarkan film “success story disabilitas” 4. Fasilitator menyimpulkan dari hasil pemutaran film.

5. Fasilitator menyampaikan “Pesan-pesan Kunci” pembelajaran dengan menggunakan Flipchart 8: Pesan Kunci, ada dalam Buku Pintar halaman 13.

(19)

LEMBAR KERJA SESI 13

PERLINDUNGAN

PENYANDANG DISABILITAS

Nama permainan : Pelengkapan :

Durasi :

Pemain :

“Tanpa tangan..tanpa suara”

Kain untuk mengikat tangan dan mata, kertas, Pulpen/Pensil Lama

5 menit

Seluruh Peserta

Langkah-Langkah:

1. Fasilitator mengajak peserta untuk duduk berpasangan 2. Fasilitator meminta masing-masing pasangan untuk

menentukan siapa yang menjadi peserta 1 dan siapa yang menjadi peserta 2.

3. Fasilitator meminta peserta 2 untuk diiikat tangannya dan peserta 1 untuk menutup mulutnya.

4. Fasilitator menyampaikan cara permainan:

Peserta 1 diminta untuk menyampaikan kalimat ( LK 13.1a) yang sudah diberikan kepada peserta 2 tanpa mengucapkan ataupun menuliskan kalimat tersebut (hanya boleh memperagakan). Peserta 2 diharuskan untuk menuliskan kata tersebut (di sebuah kertas yang telah dibagikan) tanpa menggunakan tangan dalam waktu 1 menit.

(20)

5. Setelah selesai, fasilitator melakukan refleksi dengan menanyakan:

• Apakah semua pasangan berhasil menyelesaikan tugasnya?

• Apa yang dirasakan oleh peserta 1?

• Apakah peserta 1 sulit menyampaikan pesannya? • Apa yang dirasakan oleh peserta 2?

• Apakah peserta 2 sulit menerima pesan dari peserta 1?

1. Fasilitator membagikan 1 lembar kertas dan pulpen kepada masing-masing peserta.

2. Fasilitator menjelaskan aturan permainan:

Fasilitator membacakan pertanyaan dan meminta peserta untuk menuliskan jawabannya di kertas tersebut:

Pertanyaan: “Sebutkan makanan kesukaan ibu-ibu”

Setelah selesai menuliskan, peserta diminta untuk berkeliling dan mencari peserta dengan jawaban yang sama. Peserta dengan jawaban yang sama berkumpul

LEMBAR KERJA (LK): 13.2

Nama permainan : Pelengkapan : Durasi :

Pemain :

“Perbedaan dan Persamaan” Pulpen, kertas

5 menit

(21)

membentuk kelompok. Kelompok dengan jumlah anggota yang paling banyak dinyatakan sebagai pemenang.

3. Fasilitator meminta peserta yang tidak memiliki jawaban yang sama dengan yang lain diminta untuk memisahkan diri.

4. Fasilitator melakukan refleksi.

Nama permainan : Pelengkapan : Durasi :

Pemain :

“Hak- Hak Kami....” Tanda

5 menit

Seluruh Peserta

Langkah-Langkah:

1. Fasilitator menjelaskan aturan permainan, yaitu:

• Fasilitator akan membacakan sejumlah pernyataan yang harus direspon oleh semua peserta.

LEMBAR KERJA (LK): 13.3

• Jika peserta berpendapat bahwa pernyataan yang disebutkan oleh fasilitator salah maka peserta bergerak menuju tanda silang (X) • Jika peserta berpendapat bahwa pernyataan

yang disebutkan oleh fasilitator benar maka peserta bergerak menuju tanda centang (V)

(22)

3. Setelah semua peserta bergerak (menentukan pilihan) fasilitator menanyakan alasan peserta mengapa memilih benar/salah.

4. Fasilitator mengulangi proses di atas untuk pernyataan demi pernyataan selanjutnya sampai seluruh pernyataan selesai dibacakan atau sesuai waktu yang tersedia (tergantung waktu yang tersedia, fasilitator dapat memilih beberapa pernyataan (dan tidak harus membacakan semua).

5. Fasilitator menutup permainan dengan melakukan ulasan

(debriefing) yang telah dipelajari.

LEMBAR KERJA (LK): 13.3A

No Pernyataan Jawaban

1 Anak disabilitas tidak perlu sekolah karena akan kesulitan ketika belajar di sekolah

Salah

2 Penyandang disabilitas harus cukup gizinya Betul 3 Anak Tuna Netra tidak akan bisa membaca jadi

tidak perlu disekolahkan

Salah

4 Anak Tuna Wicara perlu sering diajak bicara Betul 5 Jika sakit, penyandang disabilitas tidak perlu

dibawa ke rumah sakit karena tidak akan bisa sembuh

Salah

6 Anak yang memakai kursi roda tidak perlu bermain dengan teman-temannya karena dia sulit berjalan

(23)

No Pernyataan Jawaban

7 Penyandang disabilitas tidak akan bisa mengikuti kegiatan-kegiatan di lingkungan rumah seperti, karang taruna, pengajian.

Salah

Nama permainan : Pelengkapan : Durasi :

Pemain :

“Peta Peduli Disabilitas”

-15 menit

Seluruh Peserta

Langkah-Langkah:

1. Fasilitator membagi peserta menjadi 3 kelompok.

2. Fasilitator membagikan peta peduli disabilitas (LK 13.4a) kepada masing-masing kelompok.

3. Fasilitator meminta tiap-tiap kelompok memecahkan permasalahan yang ada di dalam tiap gambar. Peserta diminta untuk membuat tanda panah ke lembaga apa klien tersebut dapat dirujuk. Peserta dapat membuat panah lebih dari 1.

4. Setelah selesai, fasilitator meminta tiap-tiap kelompok menempelkan peta tersebut di dinding.

5. Fasilitator meminta masing-masing peserta untuk menjelaskan apa yang ada sudah dikerjakan.

6. Fasilitator melakukan refleksi.

(24)

• Tangan, kaki kaku dan kecil. • Bila berbicara tidak jelas, hanya

bisa berkomunikasi dengan keluarga dekat atau orang-orang di sekitarnya.

• Tidak bersekolah

• Kurang mendapat perhatian dari orang tua

• Tidak diperbolehkan bermain dengan teman sebayanya • Dikurung di kamar sendirian

LEMBAR KERJA (LK): 13.4

Pak RT

Kelurahan

Puskesmas

Posyandu

Sekolah

Dinas Sosial Rehabilitasi

Berbasis Masyarakat (RBM) untuk penyandang disabilitas

Pendamping PKH

(25)

Pak RT

• Hidrocepalus atau kepala besar, kaki dan tangan nya mengecil • Sulit melihat ke kiri dan kanan

secara langsung karena kepala susah dan/atau tidak bisa digerakkan.

• Tidak bisa melihat sama sekali, serta tidak bisa bicara.

• Pada saat lahir normal, kecacatan ini baru ketahuan setelah

beberapa bulan atau pada usia kira-kira 3 bulan ke atas. • Belum memiliki akte kelahiran • Baru satu kali diperiksa ke rumah

sakit karena kesulitan biaya Gambar 2

(26)

Pak RT

Kelurahan

Puskesmas

Posyandu

Sekolah

Dinas Sosial Rehabilitasi

Berbasis Masyarakat (RBM) untuk penyandang disabilitas

Pendamping PKH

• Paraplegia berat disebabkan karena kecelakaan atau jatuh • Tulang punggungnya rusak dan

mempengaruhi syaraf-syaraf

anggota gerak

• Hanya bisa berbaring saja • Tidak bersih, jarang mandi • Sering murung dan menangis

Gambar 3

(27)

LEMBAR EVALUASI SESI 13

PELAYANAN PENYANDANG

DISABILITAS BERAT

LEMBAR KERJA (LE): 13.1

1. Apa yang dimaksud dengan penyandang disabilitas menurut UU No 8/2016?

2. Sebutkan hak-hak penyandang disabilitas menurut UU No 8/2016!

3. Sebutkan 4 ragam disabilitas! Jelaskan!

4. Apa yang dimaksud dengan penyandang disabilitas ringan? Berikan contoh!

5. Apa yang dimaksud dengan penyandang disabilitas berat? Berikan contoh!

6. Bagaimana pengasuhan yang baik bagi penyandang disabilitas berat yang ada di dalam keluarga? Berikan contoh minimal 5!

(28)

FLIPCHART

(29)
(30)
(31)

BAHAN BACAAN

PELAYANAN PENYANDANG

DISABILITAS BERAT

DISABILITAS

01

Apa yang dimaksud dengan penyandang disabilitas?

Menurut Convention On The Rights of Persons With Disabilities

(Konvensi Mengenai Hak-hak Penyandang Disabilitas) yang telah disahkan dengan UU No 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Convention On The Rights of Persons With Disabilities (Konvensi Mengenai Hak-hak Penyandang Disabilitas), penyandang disabilitas termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau sensorik dalam jangka waktu lama di mana ketika berhadapan dengan berbagai hambatan, hal ini dapat menghalangi partisipasi penuh dan efektif mereka dalam masyarakat berdasarkan kesetaraan dengan yang lainnya. Sedangkan menurut UU No 8/2016, penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

(32)

02

Hak-hak penyandang disabilitas

Di beberapa tempat, penyandang disabilitas masih banyak yang berada dalam kondisi ditelantarkan, ditinggalkan, diskriminasi, atau bahkan banyak yang mengalami perlakuan salah lainnya seperti kekerasan seksual dan eksploitasi karena kedisabilitasan yang dimilikinya. Para penyandang disabilitas kerap menghadapi berbagai bentuk pengucilan dan hal itu mempengaruhi mereka dalam berbagai tindakan tergantung dari jenis disabilitas yang mereka alami, dimana mereka tinggal dan budaya yang berlaku di tempat tersebut (UNICEF: 2013).

Pemerintah di beberapa negara mencoba memperjuangkan hak-hak para penyandang disabilitas dengan bersama-bersama menetapkan Konvensi Hak Penyandang Disabilitas (KHPD)/Convention on the Rights of Persons with Dissabilities (CRPD). Konvensi ini dibuat agar para penyandang disabilitas bisa menikmati hak-hak mereka tanpa diskriminasi apa pun. Selain itu, konvensi ini juga menegaskan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama seperti warga negara di Indonesia, hak-hak penyandang disabilitas diatur di dalam UU No. 8 Tahun 2016 yang meliputi:

1. Hidup

2. Bebas dari stigma 3. Privasi

4. Keadilan dan perlindungan hukum 5. Pendidikan

6. Pekerjaan, kewirausahaan, koperasi 7. Kesehatan

8. Politik

9. Keagamaan

10. Keolahragaan

(33)

Aku Berhak ...

Hidup

Bebas dari cercaan Mendapat perlindungan Mendapat bantuan hukum Bersekolah

Bekerja Hidup sehat Beribadah Berekreasi Berolahraga

Bebas dari kekerasan, eksploitasi

Tidak dikucilkan

Diperlakukan sama dengan

orang lain

14. Pelayanan publik

15. Perlindungan dari bencana 16. Habilitasi dan rehabilitasi 17. Konsesi

18. Hidup secara mandiri dan dilibatkan dalam masyarakat 19. Berekspresi, berkomunikasi dan memperoleh informasi 20. Berpindah tempat dan kewarganegaraan

21. Bebas dari tindakan diskriminasi, penelantaran, penyiksaan dan

(34)

03

Ragam disabilitas & tingkatannya

Menurut UU Nomor 8 Tahun 2016, Ragam Disabilitas dibagi menjadi empat, yaitu:

A. PENYANDANG DISABILITAS FISIK

Disabilitas ini berhubungan dengan kerusakan atau kelainan pada tulang, sendi, dan otot/sistem syaraf. Secara garis besar disabilitas fisik terdiri atas:

1. Disabilitas tubuh/daksa

• Kehilangan anggota tubuh akibat amputasi

• Celebral palsy (kerusakan fungsi otak yang menyebabkan gangguan pergerakan, keseimbangan dan kejang otot), yang terdiri dari:

° Hemiplegia (gangguan pada fungsi separuh/sebagian gerak

pada bagian kanan atau kiri tubuh)

° Diplegia (gangguan minimal pada fungsi gerak bagian atas

tubuh dan domain pada ekstremitas gerak bawah tubuh)

° Quadryplegia (kelumpuhan pada tangan dan kaki secara

keseluruhan)

• Polio (kelainan pada anggota tubuh seperti kaki kecil sebelah atau lumpuh sebagai akibat terserang virus polio)

• Meninghitis (peradangan pada otak yang mengakibatkan terganggunya fungsi otak sehingga anak mengalami kecacatan seperti lumpuh, kemunduran mental)

• Muscular Distropy (pengecilan/pengerutan otot karena

masalah genetik)

• Multiple scelerosis (layuh otot)

• Spinabifida (kelainan pada hidrocepalus dan kelemahan/ kelumpuhan pada kedua tungkai yang disertai dengan gangguan pada BAB dan BAK)

(35)

• Rasa ingin disayang yang berlebihan dan mengarah

over protection;

• Rendah diri; • Kurang percaya diri;

• Mengisolir diri; emosional labil; • Cenderung hidup senasib; • Agresif; ada perasaan tidak aman; • Cepat menyerah;

• Apatis;

• Kekanak-kanakan dan

• Melakukan mekanisme pertahanan diri.

2. Disabilitas netra (penglihatan)

Disabilitas netra adalah individu yang mengalami gangguan penglihatan secara total maupun sebagian

• Total blind/buta total (kehilangan kemampuan penglihatan

secara total)

• Low vision/kurang awas pada jarak pandang tertentu atau masih memiliki sisa penglihatan disabilitas

3. Disabilitas Rungu-Wicara

• Disabilitas rungu yaitu individu yang mengalami kerusakan alat dan organ pendengaran yang menyebabkan kehilangan kemampuan menerima atau menangkap bunyi atau suara • Disabilitas wicara yaitu individu yang mengalami kerusakan atau

kehilangan kemampuan berbahasa, mengucapkan kata-kata, ketepatan dan kecepatan berbicara serta produksi suara. Adapun ciri-cirinya adalah: 1) tidak dapat memproduksi suara atau bunyi; 2) kurang atau tidak menguasai perbendaharaan kata; 3) gagap/ starting; dan 4) berkomunikasi dengan menggunakan gerakan tubuh atau simbol.

(36)

Penyandang disabilitas rungu wicara, yang terdiri dari cacat rungu total dan kurang dengar, memiliki karakteristik sebagai berikut:

Pada waktu bicara, tidak jelas kata/ kalimat yang diucapkan.

B. PENYANDANG DISABILITAS INTELEKTUAL

Mencakup berbagai kekurangan intelektual. Contohnya, anak yang mengalami down syndrome.

C. PENYANDANG DISABILITAS MENTAL

Disabilitas mental mengacu pada ketidakberfungsian intelektual yang disertai ketidakmampuan adaptasi perilaku dan terjadi selama

masa perkembangan

• Kemampuan perilaku (menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-V-TR)

• Menurut gangguan perkembangan

• ADD/ADHD (Attention defisit disorder/ attention deficit hyperactivity disorders) gangguan pemusatan perhatian dan

hiperaktivitas)

D. EKS PSIKOTIK (DERAJAT GANGGUAN MENTAL DAN ATAU PSIKOLOGIS BERAT)

E. PENYANDANG DISABILITAS SENSORIK

Disabilitas mental mengacu pada ketidakberfungsian intelektual yang disertai ketidakmampuan adaptasi perilaku dan terjadi selama

masa perkembangan

TINGKATAN DISABILITAS

• Penyandang disabilitas berat

(37)

• Penyandang disabilitas sedang

adalah orang yang mengalami kelainan fisik, mental (mampu latih), fisik dan mental (ganda) misalnya keadaan tubuh dengan amputasi dua tangan atas siku, amputasi kaki atas lutut, atas paha, tuna rungu, tuna netra, dan sebagainya. Penyandang disabilitas tersebut selain mampu melakukan aktivitas sehari-hari sendiri dan tidak sepenuhnya memerlukan pertolongan orang lain, juga masih bisa diberdayakan/direhabilitasi.

• Penyandang disabilitas ringan

adalah orang yang mengalami kelainan fisik, mental (mampu didik dan mampu latih) misalnya keadaan tubuh dengan amputasi tangan atau kaki, salah satu kaki layuh, tangan/kaki bengkok. Penyandang disabilitas tersebut mampu melakukan aktivitas sehari-hari sendiri dan tidak memerlukan pertolongan orang lain, juga masih bisa diberdayakan/direhabilitasi.

Ragam Penyandang Disabilitas dapat dialami secara tunggal, ganda atau multi dalam jangka waktu lama yang ditetapkan oleh tenaga medis.

Penyandang disabilitas ganda adalah seseorang yang menyandang lebih dari satu disabilitas

04

Penanganan penyandang disabilitas di dalam keluarga

Pengasuhan yang baik bagi penyandang disabilitas adalah dengan cara:

1. Mengikuti proses perkembangan anak (apabila masih usia anak) 2. Memberikan perawatan dasar, misalnya: makanan, pakaian, alas tidur

• Memberikan nutrisi tambahan (untuk anak yang kekurangan nutrisi) • Selalu mengganti pakaian yang bersih

• Menjemur anak agar mendapatkan sinar matahari yang cukup • Menjaga kesehatan (pemeriksaan rutin ke Puskesmas dan

(38)

3. Memberikan kasih sayang dan perhatian 4. Memberikan rasa aman dan nyaman

5. Memberikan stimulasi, misalnya diajak bicara, merespon keinginan 6. Memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas berat untuk

tetap memperoleh pelayanan sosial dasar (akte kelahiran, kesehatan)

7. Memberikan kesempatan berinteraksi dengan lingkungan

tempat tinggal

8. Penyandang disabilitas diasuh oleh keluarga inti

9. Memberikan bimbingan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) • Makan minum

• Melatih membersihkan diri (mandi, sikat gigi, cuci rambut, menggunakan kamar kecil/WC, berpakaian, merias diri dan menggunakan alas kaki)

• Meningkatkan minat dan potensi anak (bernyanyi, bermusik, olah raga dan menari)

10. Memberikan terapi oleh keluarga. Keluarga dapat memberikan terapi kepada para penyandang disabilitas berat sesuai dengan kebutuhannya. Keluarga dapat memberikan terapi atas saran dan keterampilan yang diperoleh oleh terapis, seperti:

Disabilitas Daksa dan Celebral Palsy

Orangtua/ anggota keluarga lainnya melatih menggerakkan tangan penyandang disabilitas fisik atau melatih gerak anggota tubuh lainnya

11. Menjaga keamanan dan keselamatan anak dari tindakan kekerasan, eksploitasi, perlakuan salah dan penelantaran

(39)

• Penerimaan, keluarga menerima penyandang disabilitas (PD) apa adanya sebagai anugerah Tuhan • Individualisasi, keluarga memandang PD sebagai

individu yang unik, berbeda dengan yang lainnya • Keterbukaan dan tanpa diskriminasi, keluarga

bersikap terbuka dan tidak menutup-nutupi serta tidak menyembunyikan PD

• Komunikasi, keluarga melakukan komunikasi efektif dengan PD

• Partisipasi, kelurga melibatkan PD dalam seluruh aktivitas keluarga dan masyarakat

• Tidak menghakimi, keluarga tidak memberikan stigma kepada PD

• Kesetaraan hak, keluarga memperlakukan PD setara dengan anggota keluarga lain

• Penghormatan, keluarga menghormati PD

AKSESIBILITAS DALAM RUMAH TANGGA

PERABOT

• Penataan ruang harus menyisakan/memberikan ruang gerak dan sirkulasi yang cukup bagi PD

• Perabot dalam rumah (lemari pakaian, lemari pakaian, lemari buku, rak piring, rak sepatu) harus dapat diakses PD

• Peletakan dan penataan barang-barang jangan dipindah-pindah, apabila akan dipindahkan harus diinformasikan kepada PD

(40)

PENGGUNAAN TANDA/PETUNJUK

Tanda yang dibutuhkan PD untuk aktivitas sehari-hari agar dapat memberi arah pada PD harus mudah diakses. Seperti: KM/WC, telpon, kamar tidur, kamar makan, tempat bermain, ruang belajar dll.

Penempatan petunjuk/tanda tersebut harus sesuai dan tepat serta bebas pandang tanpa penghalang. Cukup mendapat pencahayaan, termasuk penambahan lampu pada saat gelap.

• Perlengkapan, peralatan yang diperlukan PD dalam melakukan kegiatan sehari-hari seperti tombol/stop kontak dan pencahayaan harus dipasang dekat tempat tidur PD untuk mempermudah PD menggunakannya.

• Tombol dan stop kontak dipasang pada tempat yang posisi dan tingginya sesuai dan mudah dijangkau PD.

• Untuk penyandang disabilitas sensori, pengaturan tingkat pencahayaan dan level suara diperlukan.

05

Masyarakat memiliki peran dan tanggung jawab terhadap pemenuhan hak-hak Penyandang Disabilitas Berat.

Unsur masyarakat diharapkan dapat:

1. Membantu jika ada penyandang disabilitas berat yang membutuhkan pertolongan/bantuan

2. Memberi kemudahan penyandang disabilitas berat untuk mendapat kemudahan dalam penggunaan sarana/prasarana umum di masyarakat

3. Memberi kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk mengikuti kegiatan kemasyarakatan di lingkungan

4. Memberikan informasi jika terdapat keluarga dan/ penyandang disabilitas memerlukan infomasi rujukan

(41)

5. Menghimbau kepada keluarga yang memiliki penyandang disabilitas berat agar penyandang disabilitas berat terpenuhi haknya

6. Menginformasi kepada pihak terkait/tokoh masyarakat jika terdapat penyandang disabilitas berat yang belum mendapatkan hak-haknya.

• Memudahkan penyandang disabilitas dalam pembuatan akte kelahiran, KTP, BPJS Kesehatan.

• Memberi kemudahan penyandang disabilitas berat untuk menggunakan sarana/prasarana umum di

masyarakat

• Mengikutkan penyandang disabilitas pada kegiatan kemasyarakatan di lingkungan (pentas seni, arisan, karang taruna dll)

• Memberikan informasi tentang dinas sosial, lembaga

masyarakat

• Tidak memberikan stigma dengan cara mengungkit-ungkit orang yang mengalami disabilitas berat

• Melibatkan orang disabilitas dalam kegiatan posyandu • Membantu keluarga disabilitas berat dalam menjaga

kebersihan dan menyediakan sarana-prasarana yang dapat diakses oleh orang disabilitas berat

• Membawa penyandang disabilitas berat keluar rumah untuk bersosialisasi

APA YANG BISA DILAKUKAN

SEBAGAI ANGGOTA MASYARAKAT??

° Masjid/mushola/gereja yang dapat dilalui oleh difabel ° Parkir tempat umum khusus difabel

° Pintu mudah dibuka, ditutup dan dilalui oleh difabel ° Pembuatan Ram

(42)

Repu blik Indonesia. 2016. Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Jakarta.

Repu blik Indonesia. 2011. Undang-undang Nomor 19 Tahun 2011

tentang Pengesahan Convention on The Rights of Persons with Disabilities (Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas). Jakarta

Direk torat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Kementerian Sosial. 2015. Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Pemberian Asistensi Sosial bagi Penyandang Disabilitas Berat. Jakarta

Direk torat Kesejahteraan Sosial Anak Kementerian Sosial. 2015. Model Perlindungan dan rehabilitasi Sosial Anak Penyandang Disabilitas Berbasis Keluarga dan Masyarakat. Jakarta

Direk torat Kesejahteraan Sosial Anak Kementerian Sosial. 2015. Aksesibilitas Anak Penyandang Disabilitas. Jakarta

(43)

PENTINGNYA

KESEJAHTERAAN

LANJUT USIA

(120 menit)

(44)

Lanjut Usia Seseorang yang telah mencapai usia di atas 70 tahun.

Psikososial Suatu kondisi terjadi pada individu yang mencangkup aspek psikis dan sosial atau sebaliknya secara terintergrasi.

Spiritual Kebutuhan dasar dan pencapaian tertinggi seorang manusia dalam kehidupannya tanpa memandang suku atau asal-usul.

Peran Keluarga Tindakan dalam merawat dan memperhatikan keberadaan lanjut usia di lingkungan keluarga.

Peran Masyarakat Tindakan yang memperhatikan lanjut usia yang terlantar ataupun lanjut usia yang mengalami kekerasan di lingkungan masyarakat.

Biopsikososial Metode dengan interaksi biologi, psikologi dan faktor sosial untuk mengobati penyakit dan meningkatkan kesehatan yang lebih baik. Ini adalah kombinasi dari tubuh, pikiran dan lingkungan bukan hanya tubuh dan medis atau biomedis.

Vokasional Kemampuan dalam melakukan eksplorasi terhadap masalah pendidikan dan pekerjaan, penilaian terhadap kemampuan diri.

(45)

Kemsos Kementerian Sosial

Keppres Keputusan Presiden

P2K2 Pertemuan Peningkatan Kemampuan

Keluarga

PKH Program Keluarga Harapan

Pusdiklat Kesos Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan

Sosial

TOT Training of Trainers

Diklat Pendidikan Dan Pelatihan

(46)

LATAR BELAKANG

(47)

KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR KEBERHASILAN

Setelah mengikuti Sesi 14 ini, peserta memahami dan memberikan deskripsi serta contoh-contoh konkret mengenai berbagai hal terkait dinamika Lansia.

INDIKATOR KEBERHASILAN: FASILITATOR MAMPU MENINGKATKAN PENGETAHUAN SERTA KETERAMPILAN MENJELASKAN BAGI PENDAMPING TENTANG :

1

2

3

4

5

6

Pengertian Lansia

Kondisi Dan Permasalahan Umum Lansia

Prinsip Melayani Lansia

Tipe/Sifat Umum Lansia

Kekerasan dan Penelantaran Terhadap Lansia

(48)

METODA

MEDIA

Bermain peran

Ceramah

Diskusi

Tanya jawab

Gambar Lansia

Bahan tayang/flipchart

Alat tulis

Tali

1

1

2

2

3

4

(49)

PEMBUKAAN

PENGERTIAN LANSIA

KONDISI DAN PERMASALAHAN UMUM LANSIA, CONTOH TIPE DAN PRINSIP MELAYANI LANSIA

KEKERASAN DAN PENELANTARAN TERHADAP LANSIA

LANGKAH 1

10

M E N I T Materi ini berisi perkenalan dan membangun suasana kondusif, nyaman untuk mengantarkan peserta pada proses pembelajaran. Selanjutnya menyampaikan tujuan, metoda pembelajaran yang akan digunakan.

Materi ini mengantarkan peserta untuk memahami Lansia sesuai dengan pengertian dan definisi menurut WHO dan Undang-Undang No.13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.

Materi ini mengantarkan peserta untuk memahami Lansia sesuai dengan pengertian dan definisi menurut WHO dan Undang-Undang No.13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.

(50)

UPAYA PENINGKATAN KUALITAS KESEJAHTERAAN LANSIA

PENUTUP

LANGKAH 5

20

M E N I T

LANGKAH 6

10

M E N I T

Materi ini memberikan pemahaman kepada peserta tentang upaya peningkatan kualitas kesejahteraan Lansia, baik yang dilakukan oleh pemerintah, keluarga maupun masyarakat dimana Lansia berada.

Materi ini mengulas kembali butir-butir penting, sekaligus sebagai proses evaluasi bagi peserta terhadap pemahaman materi yang sudah dibahas. Di akhir sesi, fasilitator memberi penegasan tentang “pesan-pesan kunci”, dan memberikan “penugasan” yang harus dilakukan peserta setelah pulang ke rumah.

(51)

1. Fasilitator memastikan bahwa peserta sudah memasang Name Tag 2. Fasilitator mengucapkan salam dan doa, serta memperkenalkan diri. 3. Fasilitator mencairkan suasana melalui permainan yang menarik untuk

memusatkan konsentrasi belajar peserta. Fasilitator menyampaikan materi pertemuan kali ini adalah tentang bagaimana memahami lansia dan meningkatkan kualitas kesejahteraan lansia.

1. Fasilitator minta kepada peserta untuk menyampaikan pendapat mereka tentang “lanjut usia” selama 5 menit, fasilitator menuliskannya di kertas plano. Dapat didahului misalnya dengan pertanyaan umum:

“Ibu-ibu, siapa saja yang tinggal di rumah kita?”

“Oh..ada nenek, kakek, mbah, aki juga ya.. (Sesuaikan dengan nama panggilan daerah setempat)

“Nah jadi nenek, kakek, mbah inilah yang kita sebut apa? Ya betul… lansia….”

“ Ibu-ibu… lansia ini berada di mana saja….” Teruskan pertanyaan sampai pada peserta paham:

Siapa yang disebut lansia? Di mana ada lansia? Secara umum,

LANGKAH-LANGKAH

PEMBUKAAN

LANGKAH 1

10

M E N I T Sesi pembukaan dimulai setelah semua materi dan peralatan pembelajaran tersedia.

PENGERTIAN LANSIA

LANGKAH 2

(52)

MEMAHAMI LANSIA

LANGKAH 3

60

1. Fasilitator menyampaikan ada tiga kondisi lansia yang akan kita pelajari secara umum yaitu kondisi fisik, kondisi psikososial (diri dan hubungan

dengan orang lain), dan kondisi spiritual (kerohanian). Gunakan bahasa yang mudah dipahami peserta tentang ketiga istilah kondisi tersebut.

2. Peserta dibagi 3 kelompok (kelompok 1: kondisi fisik, kelompok 2: psikososial, kelompok 3: spiritual). Kartu bergambar ada di Buku

Pintar halaman 25

3. Masing-masing kelompok memperhatikan kondisi tersebut dan mendiskusikan permasalahan umum apa yang dapat terjadi dengan kondisi tersebut sekitar 5-7 menit.

4. Fasilitator meminta perwakilan peserta untuk menjelaskan hasil diskusi kelompoknya.

5. Fasilitator meminta peserta lain di luar kelompok penyaji, untuk memberi komentar. Sebagai kesimpulan, fasilitator menayangkan

M E N I T

bagaimana keadaan/kondisi lansia?

Fasilitator menuliskannya di kertas plano.

2. Fasilitator menjelaskan tentang Definisi Lanjut Usia menurut UU Nomor 13 Tahun 1998 tentang Perlindungan Terhadap Lanjut Usia dan memperjelas keadaan lansia gunakan Flipchart 1: Pengertian Lansia. 3. Sampaikan juga bahwa lansia yang mendapat bantuan PKH saat ini adalah lansia yang berusia 70 tahun ke atas. Namun untuk pertemuan kelompok bulanan ini, tetap akan membahas lansia secara umum tanpa usia tertentu.

(53)

Flipchart 3a, 3b, 3c: Kondisi dan Permasalahan Lansia.

6. Setelah mengetahui permasalahan yang umum dialami lansia, selanjutnya akan dibahas bagaimana mengatasi permasalahan yang mungkin terjadi akibat kondisi tersebut. Lanjutkan diskusi dengan kelompok yang sama:

(Kel. 1) Apa yang sebaiknya dilakukan pada lansia agar lansia sehat dan bahagia?

(Kel. 2 ) Hal-hal apa yang tidak boleh dilakukan pada lansia? (Kel. 3 ) Bagaimana menghadapi lansia yang “sulit” perilakunya? 7. Fasilitator memberi sedikit ulasan dan sebagai kesimpulan untuk

hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan terhadap lansia,

tayangkan Flipchart 4: Prinsip melayani lansia dan Flipchart 5: Cara menghadapi lansia yang “sulit” perilakunya.

8. Selanjutnya, tambahkan informasi yang juga dapat dilakukan untuk memahami lansia yaitu dengan memahami tipe lansia.

9. Sampaikan:

• Tiap lansia dapat saja mengalami permasalahan yang sama namun berbeda penanganan.

• Penanganan permasalahan disesuaikan dengan tipe lansia dan disesuaikan kondisi lansia secara fisik maupun psikisnya.

10. Lansia juga ada yang mengalami kekerasan, yang biasanya dilakukan oleh orang sekitarnya seperti anak, menantu, tetangga ataupun orang asing. Fasilitator memberikan waktu pada beberapa peserta untuk mendengarkan beberapa kasus yang mereka pernah lihat/dengar tentang lansia yang mengalami kekerasan.

11. Lanjutkan dengan melakukan diskusi dengan menggunakan lembar kasus Nenek A. Gunakan Lembar Kerja 1_Nenek A. Beri waktu sekitar 5 menit untuk berdiskusi dan berikan waktu untuk tiap wakil kelompok menyampaikan pendapat. Kelompok lain diperbolehkan memberi tanggapan.

(54)

UPAYA PENINGKATAN KUALITAS KESEJAHTERAAN LANSIA

LANGKAH 4

25

M E N I T 1. Sampaikan berikutnya kita akan belajar bersama bagaimana meningkatkan kualitas kesejahteraan lansia. Salah satunya adalah dengan mengupayakan lansia agar tetap sehat. Tanyakan pendapat peserta olahraga apa saja

yang dapat dilakukan lansia? Olahraga ringan seperti jalan, senam, dll disesuaikan dengan kondisi lansia dan keamanan lansia agar tidak sampai cidera, mengingat lansia mudah cidera.

2. Ajak peserta melakukan salah satu contoh. Lampiran Sesi 14 Lansia/ SENAM LANSIA.mp4

3. Dalam rangka meningkatkan kualitas kesejahteraan lansia diperlukan peran berbagai pihak seperti: peran pemerintah, peran keluarga dan peran masyarakat.

14. Tanyakan pendapat peserta tentang permainan yang dilakukan. • Sampaikan: yang terikat tersebut adalah gambaran lansia yang

sudah mengalami keterbatasan yang kadang kadang berada di dalam situasi yang kurang nyaman karena hak-haknya dilanggar oleh orang-orang yang kurang

menyadari keterbatasan dan kebutuhan lansia.

(55)

4. Sampaikan informasi peran pemerintah dalam mengupayakan kesejahteraan lansia seperti memberikan bantuan sosial kepada lansia yang kurang mampu, penyediaan panti bagi lansia khususnya lansia yang terlantar, melindungi lansia dengan peraturan yang mengakomodasi kebutuhan lansia tentang aksesibilitas, kemudahan sarana dan prasarana, kemudahan dalam pelayanan (administrasi dan kesehatan), dll. Tunjukkan Flipchart 8: Peran Pemerintah. 5. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri melindungi dan meningkatkan

kesejahteraan lansia. Keluarga dan masyarakat juga bertanggung jawab untuk hal itu. Fasilitator melakukan curah pendapat tentang hal yang dapat diupayakan agar kualitas kesejahteraan lansia meningkat • Apa yang dapat keluarga lakukan?

• Apa yang masyarakat dapat lakukan?

6. Tayangkan Flipchart 9: Yuk, peduli lansia. Selanjutnya fasilitator memberikan ulasan bagaimana agar upaya meningkatkan kesejahteran lansia dengan melibatkan masyarakat. Gunakan Fipchart 10: Peran serta masyarakat.

PENUTUP

LANGKAH 5

15

M E N I T 1. Fasilitator mengajak peserta menonton video puisi tentang lansia (Surat untuk anakku) Lampiran Sesi 14 Lansia/Video Lansia Pusdiklat Kessos. mp4. Dapat dibacakan oleh salah satu peserta atau fasilitator.

2. Fasilitator bertanya apa hal yang didapat dari puisi tersebut.

3. Fasilitator berterima kasih dan mengajak peserta untuk mengulas kembali poin-poin penting materi perlindungan terhadap lanjut usia. Dapat ditambahkan dengan:

(56)

• Mari beri dukungan dan semangat kepada lansia agar lansia tetap bahagia dan berkarya.

• Lansia Indonesia harus sehat dan bahagia.

4. Sebelum mengakhiri pertemuan, minta kesepakatan dengan peserta, misalnya dengan menanyakan:

5. “ Apakah yang semua dibicarakan pada pertemuan ini penting untuk dilakukan?”

“ Apakah kita dapat mempraktikkannya?”

6. Fasilitator mengingatkan untuk menyampaikan hasil pembelajaran kepada keluarga dan lingkungan tetangga serta mempraktikkan hasil pertemuan.

(57)

LEMBAR KERJA SESI 14

PENINGKATAN KESEJAHTERAAN

LANJUT USIA

Nama permainan : Pelengkapan : Durasi :

Pemain :

Menceritakan gambar 3 set gambar

10 menit

Seluruh Peserta

Langkah-Langkah:

1. Fasilitator menyampaikan bahwa ada 3 (tiga) kondisi permasalahan umum yang dialami lansia yaitu: kondisi fisik, kondisi psikososial (diri dan hubungan dengan orang lain) dan kondisi spiritual (kerohanian). Sebaiknya menggunakan bahasa yang mudah dipahami peserta tentang ketiga istilah kondisi tersebut.

2. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dibagikan satu set kartu bergambar kondisi lansia.

3. Masing-masing kelompok dipersilahkan memperhatikan kartu tersebut dan mendiskusikan permasalahan umum yang dapat terjadi pada lansia sekitar 5-7 menit.

4. Fasilitator mempersilahkan perwakilan kelompok untuk menjelaskan hasil diskusi kelompoknya, selanjutnya kelompok lain menanggapi.

(58)

Nama permainan : Pelengkapan : Durasi :

Pemain : Diskusi Kasus

Kasus Nenek A, spidol, solatif, kertas plano.

10 menit

Seluruh Peserta (3 kelompok)

Langkah-Langkah:

KASUS NENEK A

Nenek A berumur 76 tahun, suaminya meninggal sejak tahun 2004. Ia mempunyai 4 (empat) orang anak yang semuanya sudah berumah tangga. Nenek A tinggal bersama anak bungsunya yang sudah beristri dan mempunyai anak dua 1. Fasilitator membagi peserta menjadi 3 kelompok dan

membagikan lembar kasus (Nenek A).

2. Setiap kelompok bertugas mendiskusikan pertanyaan yang menjadi tugas untuk kelompoknya.

3. Pertanyaan:

• Kelompok 1: Termasuk lanjut usia yang seperti apakah nenek tersebut, apa ciri-cirinya?

• Kelompok 2: Apakah nenek tersebut mengalami kekerasan ? Jika iya, kekerasan apa yang dilakukan oleh anak/keluarganya?

• Kelompok 3: Apa yang dapat dilakukan oleh anak/ keluarga atau orang terdekat jika menghadapi lanjut usia yang demikian.

(59)

orang semuanya laki-laki. Namun saat ini anak laki-laki nenek tersebut pindah bekerja di luar kota dan pulang ke rumah seminggu sekali, sehingga di rumah hanya dengan menantu dan kedua cucunya serta. Menantunya sering bersikap tidak sopan terhadap Nenek A, seperti sering membentak, tidak peduli dan pernah beberapa kali tidak menyiapkan makanan. Kegiatan nenek sehari-harinya menjaga ruko miliknya, namun akhir-akhir ini ia sering ditipu oleh pembeli orang yang mengatasnamakan menantunya untuk mengambil barang dagangan (jika menantunya sedang tidak ada di rumah). Bahkan terakhir kali si nenek tertipu oleh orang yang mengambil barang dagangan sekitar Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah). Memperhatikan kondisi demikian, maka anak-anaknya menyarankan, agar si nenek berhenti berjualan, namun nenek tidak mau karena lumayan menghasilkan. Nenek A sering mengeluh dan mengatakan bahwa anak-anaknya tidak sayang padanya (karena sering berselisih paham), padahal anak-anaknya semua sayang kepada nenek tersebut, dengan memenuhi kebutuhan nenek seperti:, misalnya membelikan baju, membawakan makanan, menemani bercerita meski tidak dapat

setiap hari.

(60)

Nama permainan : Pelengkapan : Durasi :

Pemain :

Berebut Tempat duduk Tali kain, kursi.

5 menit

4 (empat) orang peserta.

Langkah-Langkah:

1. Fasilitator meminta 7 orang menjadi relawan untuk bermain di area yang dikosongkan.

2. Salah seorang peserta diikat kakinya dengan tali atau kain. 3. Ketujuh peserta tersebut akan berebut sebuah tempat

duduk (kursi atau alas untuk duduk) yang sudah disesuaikan jaraknya dengan kondisi tempat pertemuan.

4. Peserta lain yang tidak terikat diperbolehkan melakukan gerakan saling mendorong yang tidak membahayakan. PERHATIKAN KESELAMATAN SELURUH PESERTA SAAT MENSIMULASIKAN.

5. Fasilitator memberikan aba-aba dan mulai lomba ke tempat duduk yang disiapkan.

6. Peserta diberikan kesempatan untuk menanggapi permainan yang sudah dilakukan.

7. Fasilitator mennyampaikan bahwa: yang terikat tersebut adalah gambaran lansia yang mengalami keterbatasan, yang seringkali hak-haknya dilanggar oleh orang-orang yang kurang memahami keterbatasan dan kebutuhan lansia.

(61)

LEMBAR EVALUASI SESI 14

PENINGKATAN KESEJAHTERAAN

LANJUT USIA

Langkah/Materi : Bentuk Kegiatan : Pemain : Perlengkapan : Lama kegiatan :

Langkah 1 (perlindungan Lanjut usia) Dikusi perlindungan bagi Lanjut Usia Seluruh peserta

Kertas Plano, Spidol, Solatif

10 menit

Berikut ini pertanyaan yang dapat ditanyakan pada peserta untuk mengetahui kemampuan peserta dalam memahami materi perlindungan lanjut usia. Pertanyaan dapat ditanyakan kembali segera setelah sub materi terkait atau setelah keseluruhan materi selesai.

1. Apa pengertian lanjut usia?

2. Tahukan Anda tipe-tipe lanjut usia? Berikan contohnya. 3. Apa yang saudara pahami tentang kondisi dan permasalahan

yang umumnya dialami oleh para lanjut usia?

4. Upaya aja saja yang dapat dilakukan agar tidak terjadi kekerasan pada lanjut usia?

5. Berikan contoh upaya yang dilakukan anak/keluarga agar lanjut usia bahagia dan sejahtera?

6. Berikan contoh upaya yang dapat dilakukan pemerintah, keluarga dan masyarakat dalam menghadapi lanjut usia.

(62)

FLIPCHART

(63)
(64)
(65)
(66)

BAHAN BACAAN SESI 14

MODUL PENINGKATAN

KESEJAHTERAAN SOSIAL LANJUT USIA

01

Pengertian Lanjut Usia.

Penuaan adalah sebuah proses kehidupan semua mahluk hidup dimuka bumi ini termasuk manusia. Kondisi tua atau lanjut usia sesungguhnya tidak perlu ditakuti karena semua orang akan mengalaminya, namun ada hal yang lebih penting untuk dipersiapkan yaitu apa cara yang dapat dilakukan sehingga setiap lanjut usia dapat menjalani proses tersebut dengan penuh makna.

Bicara tentang lanjut usia, Neugarten (1968) dan Chalhoun (1995), menjelaskan bahwa masa tua adalah suatu masa dimana orang dapat merasa puas dengan keberhasilannya tetapi bagi orang lain, periode ini adalah permulaan kemunduran. Usia tua dipandang sebagai masa kemunduran, masa kelemahan manusiawi dan sosial sangat tersebar luas dewasa ini. Selanjutnya Bustan (2000) menyampaikan bahwa usia lanjut adalah golongan penduduk atau populasi berumur 60 tahun atau lebih, dan usia lanjut adalah masa yang dimulai sekitar usia 60 hingga 65 tahun dan berlanjut hingga akhir kehidupan (Stolte, 2003).

Dari sudut pandang kesehatan, istilah menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Nugroho, 2000). World Health Organization (WHO) memberikan batasan terhadap lanjut usia dalam empat golongan, yaitu :

(67)

02

Kondisi Lanjut Usia dan Permasalahannya.

Sebelum menjalankan tugasnya maka pendamping PKH harus memahami kondisi masalah dan kebutuhan lanjut usia secara komprehensif terkait dengan biopsikososial dan spiritualnya.

A. PERUBAHAN FISIK

Terjadinya perubahan fungsi organ tubuh seperti:

• Jantung mengecil, konstraksi jantung menurun menyebabkan denyut jantung meningkat dan tekanan darah menjadi naik. • Menurunnya konstraksi otot paru-paru menyebabkan gangguan

pernapasan sehingga sulit bernapas.

• Saluran kemih sehingga sering tidak mampu mengontrol untuk buang air kecil.

• Gangguan sistem syaraf menyebabkan mudah lupa bahkan menjadi kepikunan, stroke.

• Gangguan gerakan akibat radang sendi.

• Gigi mulai goyah dan tanggal sehingga sulit mengunyah 3. Lanjut Usia tua (old) 75-90 tahun;

4. Lanjut usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun.

Menurut Undang - Undang Nomor 13 Tahun 1998, ketentuan umum pasal 1: (ayat 2) bahwa Lanjut Usia adalah seseorang yang telah mencapai usia di atas 60 tahun; (ayat 3) bahwa Lanjut Usia Potensial adalah lanjut usia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang dan/atau jasa; (ayat 4) Lanjut Usia Tidak Potensial adalah lanjut usia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.

(68)

• Gangguan pencernaan sehingga nafsu makan mulai berkurang, terjadi gangguan sembelit dan mencret.

• Gangguan indera: gangguan pada

° Mata berdampak pada terganggunya penglihatan

seperti: katarak.

° Telinga menyebabkan penurunan fungsi pendengaran. ° Hidung menyebabkan menurunnya fungsi penciuman. ° Lidah menyebabkan menurunnya fungsi pengecapan. ° Kulit menyebabkan terganggunya fungsi perasa.

• Perubahan suhu tubuh.

• Kulit menjadi keriput, muncul bintik-bintik hitam tipis. • Rambut beruban dan rontok.

• Tulang mulai rapuh dan mudah patah. B. PERUBAHAN PSIKOSOSIAL

Lanjut usia mengalami perubahan dalam beberapa aspek psikologis antara lain: (1) kemampuan berpikir; (2) emosi/perasaan; dan (3) perubahan sikap dan perilaku

1. Perubahan pada aspek kemampuan berpikir’

Kondisi fisik dan pathologis lanjut usia, akan mempengaruhi terhadap perubahan aspek kemampuan berpikirnya, sehingga menyebabkan menurunnya antara lain:

• Kemampuan belajar, menyebabkan tidak bertambahnya pengetahuan lanjut usia.

• Daya ingat/memori (kemampuan untuk menerima, mencamkan, menyimpan dan menghadirkan kembali rangsangan/peristiwa yang pernah dialami seseorang), sehinggga menyebabkan:

° Menurunnya pengetahuan bagi lanjut usia. ° Lupa mengingat waktu dan orang.

° Menurunnya pemahaman terhadap masalah dan situasi akibat

terganggunya fungsi pendengarannya. • Kinerja/aktivitas sehari-hari.

(69)

• Motivasi diri (sesuatu yang mendorong lanjut usia untuk tetap bersemangat dalam menjalani hidupnya).

• Kemampuan pengambilan keputusan.

2. Perubahan pada aspek emosi/perasaan lanjut usia

Emosi/perasaan merupakan fenomena yang dihayati secara subyektif oleh seseorang sebagai sesuatu yang menimbulkan perasaan senang atau sedih. Bagi lanjut usia yang tidak mengalami banyak masalah, ia akan menjalani kehidupan dengan penuh semangat/optimis dan bahagia karena selalu berpikir positif dan mampu menerima kondisi ketuaannya sebagai bagian yang harus dijalani. Namun tidak semua mampu menerima penuaan tersebut dengan positif sehingga muncul perasaan-perasan seperti:

• Depresi (rasa sedih, cemas, gelisah dengan penderitaan yang dialaminya), ditandai sebagai berikut:

° Pandangan kosong,

° Tidak perhatian terhadap dirinya sendiri (tidak mau mandi,

tidak mau makan, dll), dan tidak perhatian terhadap lingkungan (bersikap masa bodoh).

° Mengeluh tidak bisa tidur. ° Tidak semangat

° Konsentrasi dan aktivitas menurun. ° Cenderung menarik diri.

• Agresif

° Marah-marah.

(70)

3. Perubahan sikap dan perilaku

Beberapa perubahan yang dialami lanjut usia terkait dengan sikap dan perilaku antara lain:

• Gerakan-gerakan tubuhnya menjadi kaku dan lamban sehingga tidak leluasa pergi jauh dan sendiri karena berbahaya baginya. • Kemunduran fisik sehingga merasa dirinya tidak menarik,

tidak berguna lagi, sehingga muncul kecemasan (biasanya perempuan), akhirnya ia lebih menarik diri untuk diam di rumah. • Perubahan dalam menjalin hubungan sosial:

° Cenderung mencari orang-orang seusianya, ° Mengurangi partisipasi dalam hubungan sosial ° Banyak lanjut usia lebih banyak diam di rumah.

• Memimpikan dan berorientasi pada masa lampaunya dengan kenangan-kenangan yang menyenangkan; kejayaan, keunggulan dan keberhasilan, sehingga banyak lanjut usia yang ingin didengarkan tentang cerita masa lalunya yang sangat heroik, keberhasilan-keberhasilannya.

D. VOKASIONAL

Usia lanjut memiliki keterbatasan-keterbasan termasuk vokasional: • Aktivitas sehari-hari berkurang karena pensiun atau berhenti bekerja. • Pemasukan keuangan berkurang.

• Penurunan semangat hidup karena terbiasa berkerja.

E. SPIRITUAL

(71)

Hal tersebut dapat dimaknai bahwa seseorang yang memiliki tingkat spiritual baik biasanya mampu mengelola diri dalam menghadapi setiap kehidupannya, karena setiap ia menghadapi hambatan/ permaalahan maka ia lebih memilih instrospeksi diri dari pada menyalahkan orang lain. Ia selalu menyikapi setiap kehidupan dengan penuh rasa syukur, sehingga ia mampu mengisi setiap kehiduannya dengan penuh kegembiraan, suka cita walaupun tidak selamanya kondisi kehidupannyapun selalu menyenangkan. Orang demikian, ia dapat selalu berdamai dengan hatinya.

Selanjutnya, Piedmont (2001) mendefinisikan spiritualitas sebagai usaha individu untuk memahami sebuah makna yang luas akan pemaknaan pribadi dalam konteks kehidupan setelah mati (eschatological). Hal ini berarti bahwa sebagai manusia, kita sepenuhnya sadar akan kematian (mortality). Dengan demikian, kita akan mencoba sekuat tenaga untuk membangun beberapa pemahaman akan tujuan dan pemaknaan akan hidup yang sedang kita jalani untuk bekal pada kehidupan setelah kematian.

Pendapat para ahli di atas diperkuat dengan penelitian yang menyatakan bahwa lanjut usia yang baik penghayatan keagamaan menunjukkan tingkatan yang tinggi dalam hal kepuasan hidup, harga diri dan optimisme. Kebutuhan spiritual (keagamaan) sangat berperan memberikan ketenangan batiniah, khususnya bagi para lanjut usia. Penelitian yang dilakukan oleh Hawari (1997) menyebutkan bahwa religiusitas atau penghayatan keagamaan besar pengaruhnya terhadap taraf kesehatan fisik maupun kesehatan mental dan bahwa: 1. Lanjut usia yang nonreligius angka kematiannya dua kali lebih

besar daripada orang yang religius.

2. Lanjut usia yang religius penyembuhan penyakitnya lebih cepat dibandingkan yang non religius.

3. Lanjut usia yang religius lebih kebal dan tenang menghadapi operasi atau masalah hidup lainnya.

(72)

5. Lanjut usia yang religius tabah dan tenang menghadapi saat-saat terakhir (kematian) daripada yang nonreligius.

6. Bagi lanjut usia yang mampu memaknai kehidupannya, maka perubahan- perubahan yang terjadi pada dirinya termasuk gangguan penyakit yang dirasakannya, maka ia dapat menerimanya dengan penuh kepasrahan dan kesabaran sehingga kondisi demikian akan membuat batinnya menjadi tenang dan selalu optimis dalam menjalani kehidupan. Berbeda dengan lanjut usia yang kurang dapat memaknai kehidupannya, jika dihadapkan problema , maka ia tidak mampu mengelola hidupnya, sehingga muncul berbagai persoalan seperti :

• Marah-marah, bahkan marah tanpa sebab yang jelas.

• Sering bermasalah/konflik dengan keluarganya

• Wajahnya tampak murung • Sering berkeluh kesah

sehingga membosankan bagi

yang mendengarnya.

• Hubungan dengan

tetangganya kurang baik baik. • Merasakan ketidakpuasan diri. • Selalu menunjukkan super

powernya dan menganggap diri selalu benar.

Kondisi seperti contoh-contoh di atas, akan membuat lanjut uisa kehilangan momen-momen kebahagiaan yang harusnya didapat bagi setiap lanjut usia.

(73)

Namun ada hal lain yang juga penting mengapa keluarga atau orang disekitar lanjut usia perlu memperhatikan lanjut usia :

• Amanat Undang-Undang No 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia. Dalam Undang-undang tersebut disebut lanjut usia memiliki hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

• Angka Harapan Hidup menjadi salah satu indikator kemajuan sebuah negara, karena menunjukkan tingkat kesehatan negara tersebut. Artinya, semakin panjang usia penduduk suatu negara maka semakin baiklah tingkat kesehatannya. Sayangnya, banyak dari jumlah tersebut telah jauh menurun produktivitasnya karena tingkat kesehatan yang juga menurun.

• Lanjut usia adalah orangtua kita. Orangtua telah mengorbankan banyak hal dan memperjuangkan yang terbaik untuk anaknya. Sebanyak apapun harta tidak akan pernah dapat menggantikan jasa mereka. Bakti kepada orangtua adalah salah satu cara kita berterima kasih kepada mereka.

• Peran lanjut usia yang dibutuhkan kerena memiliki figur kuat dalam masyarakat dan dianggap sebagai pemelihara kesatuan. Lanjut usia tidak hanya orangtua kita tapi orang lanjut usia yang ada di sekitar kita. Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari tentang lanjut usia dalam budaya, misalnya budaya Jawa tentang lanjut usia dinyatakan dalam 3 ur : tutur (pengetahuan) karena lanjut usia sudah berpengalaman dalam asam garam kehidupan, wuwur (uang) namun yang paling berharga ataupun menjadi tujuan hidup tidak lagi uang akan tetapi aktualisasi diri sebagai lanjut usia yang arif dan bijaksana, sembur (moral) karena banyak cerita moral yang bisa dipetik dari pengalaman mereka untuk dibagikan kepada generasi muda. Seahli apapun kita dengan keilmuan kita, kita tetap saja memerlukan orangtua seperti memerlukan nasihatnya ataupun kasih sayangnya.

(74)

• Meningkatnya jumlah lanjut usia yang terlantar (Kemensos, 2015). Dari 16.000.000 juta lanjut usia tersebut, sedikitnya ada 2,8 juta lanjut usia yang terlantar dan ada 4,6 juta lanjut usia yang potensial terlantar. Hal ini salah satunya disebabkan karena lanjut usia di Indonesia kurang mendapatkan tempat. Jumlah panti terbatas dan masalah lanjut usia masih belum mendapat perhatian semua pihak termasuk keluarga dan masyarakat. • Isu kekerasan pada lanjut usia bertambah. Lanjut usia yang

terlibat hukum hanya karena kasus sepele, ada pula kasus kekerasan lanjut usia anak yang dilakukan anaknya atau orang terdekatnya.

Terkait tentang kekerasan, kekerasan dapat terjadi pada siapa saja termasuk pada lanjut usia. Meningkatnya jumlah lanjut usia yang mengalami kekerasan menjadi hal patut segera ditindaklanjuti. Lanjut usia rentan mengalami kekerasan karena beberapa faktor, misalnya karena isolasi sosial yang dilakukan masyarakat bahkan keluarga. Faktor lainnya adalah penurunan daya ingat ataupun penyakit yang diderita lanjut usia sehingga lanjut usia menjadi lamban baik secara fisik maupun cara berpikirnya. Hal-hal ini yang membuat lanjut usia kerap dianggap sebagai beban dan membuat kekerasan mengalami kekerasan.

Ada beberapa kekerasan yang dialami lanjut usia seperti :

1. Kekerasan secara fisik: Kekerasan yang dilakukan sehingga menyebabkan rasa sakit, luka, cacat atau penyakit. Dalam kasus ini, kekerasan dilakukan karena orang yang lanjut usia tidak memiliki kemampuan untuk melawan dan hanya bisa menerima. Contoh kekerasan yang dialami: dicubit, dipukul, didorong, sampai tindakan pemerkosaan.

(75)

3. Kekerasan secara finansial (keuangan): Kekerasan ini biasanya tidak menimbulkan tanda-tanda atau gejala. Hal ini sering terjadi pada orang lanjut usia yang mempunyai penghasilan cukup (bisa dari uang pensiun, usaha dagang atau pemberian dari anak-anaknya) dan tinggal dengan anak yang sudah berkeluarga namun tidak mempunyai penghasilan. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, anak ini biasanya akan meminta uang kepada orang tuanya. 4. Mengancam untuk tidak akan merawatnya atau mengancam

dengan cara-cara tertentu, dan ini bisa berlangsung lama. Bentuk yang lain adalah penyalahgunaan harta para lanjut usia untuk kepentingan orang lain. Misalnya menggunakan uang lanjut usia untuk kepentingan orang lain, sehingga kebutuhan pokok lanjut usia tidak bisa terpenuhi.

5. Kekerasan secara emosional/psikologis: Bentuk kekerasan ini termasuk penelantaran. Contohnya: Tidak lagi memberikan perawatan, meninggalkan lanjut usia sendirian, dilupakan, menghentikan kebutuhan seperti makanan, obat-obatan, pakaian, peralatan mandi, dan lain sebagainya. Jenis lainnya adalah Isolasi. Mereka dilarang untuk melakukan kegiatan rutin, bertemu dan berbicara dengan orang lain. Hidup mereka dibatasi, sehingga membuat mereka menjadi tertekan dan tidak berarti. Perlu kita ketahui, kebanyakan korban mengalami lebih dari satu jenis perlakuan kekerasan. Beberapa korban mengalami rasa malu, takut, malu, kecemasan, kebingungan, penarikan, dan depresi. Mereka menutup diri dan sulit untuk berinteraksi dengan orang lain. (http:// www.kompasiana.com/rumahshine/kekerasan-terhadap- orang-lanjut usia-orang-lanjut-usia_5500e040a33311376f51269a).

(76)
(77)

03

Tipe Lanjut Usia.

Ada beberapa orang sekitar lanjut usia yang menganggap lanjut usia menjadi beban karena kondisi lanjut usia yang secara fisik menurun sehingga harus membutuhkan bantuan orang lain. Kekerasan yang dialami lanjut usia salah satunya disebabkan oleh ketidakpahaman orang di sekitar lanjut usia terhadap lanjut usia. Untuk memahami lanjut usia kita perlu memahami tipe lanjut usia. Ada beberapa pendapat tentang tipe lanjut usia. Menurut Nugroho (2000) ada beberapa tipe lanjut usia:

1. Tipe arif bijaksana

Kaya dengan hikmah pengalaman, menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati, sederhana, dermawan, memenuhi undangan, dan menjadi panutan.

2. Tipe mandiri

Mengganti kegiatan-kegiatan yang hilang dengan kegiatan-kegiatan baru, selektif dalam mencari pekerjaan, teman pergaulan, serta memenuhi undangan.

3. Tipe tidak puas

Konflik lahir batin menentang proses ketuaan, yang menyebabkan kehilangan kecantikan, kehilangan daya tarik jasmaniah, kehilangan kekuasaan, status, teman yang disayanginya, pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, menuntut, sulit dilayani dan pengkritik.

4. Tipe pasrah

Menerima dan menunggu nasib baik, mempunyai konsep habis gelap datang terang, mengikuti kegiatan beribadat, ringan kaki, pekerjaan apa saja dilakukan.

5. Tipe bingung

Gambar

Gambar 1Pendamping PKH
Gambar 2Pendamping PKH
Gambar 3Pendamping PKH
Gambar Lansia

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian definisi operasional merupakan penetapan dari indikator-indikator yang akan di pelajari dan di analisa, sehingga nantinya dapat diperoleh gambaran yang

Isi kebijakan harus jelas dan memiliki tujuan. Dalam isi kebijakan, kekurangan sumber daya-sumber daya pembantu, misalnya yang menyangkut waktu, biaya/dana dan tenaga

Hasil penelitian tentang hubungan status pekerja- an usia lanjut dengan kemampuan keluarga merawat usia lanjut di rumah. Usia lanjut yang bekerja 37 orang, sejumlah

memenuhi minimal satu kriteria sbb: Komponen Kesehatan Ibu Hamil/Nifas Anak usia di bawah 6 tahun Komponen Pendidikan SD SMP SMA Komponen Kesejahteraan Sosial Disabilitas Berat

Berdasarkan hasil wawancara dari penelitian yang telah dilaksanakan, maka peneliti menarik kesimpulan bahwa dalam evaluasi Program Keluarga Harapan (PKH) di desa Batu

Penelitan ini menunjukan bahwa pemerintah desa bekerjasama dengan agen BRI link untuk memudahkan keluarga miskin dalam mencairkan bantuan tanpa harus kekantor pos untuk pencairan

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran Pendamping Program Keluarga Harapan PKH dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Bukit Bestari Kota

Komunikasi Antar-organisasi dan Aktivitas Pelaksana Implementasi Program Keluarga Harapan oleh Pendamping Program Keluarga Harapan dalam dimensi komunikasi antar-organisasi dan