Modul
perlindungan anak
Pertemuan Peningkatan
kemamPuan keluarga (P2k2)
Program keluarga HaraPan (PkH)
Panduan teknis Pelaksanaan P2k2
3 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
glosarium
aids : Acquired Immunodeficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV.
akta kelahiran : Catatan otentik negara tentang nama anak, tempat dan waktu kelahiran anak, dan nama orangtua secara lengkap dan jelas serta status kewarganegaraan anak.
Bullying : Penindasan atau penggunaan kekerasan, ancaman atau paksaan untuk mengintimidasi atau memperdayai seseorang.
gender : Sekumpulan ciri khas yang dikaitkan dengan jenis kelamin seseorang dan diarahkan pada peran sosial dan/atau identitasnya dalam masyarakat.
HiV : Human Immunodeficiency Virus atau virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS.
Human trafficking : Tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan, atau posisi rentan, penjeratan hutang, atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan, dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi. konvensi : Suatu kesepakatan internasional yang mengikat negara
penandatangan baik secara yuridis maupun politis. narkotika : Zat-zat alamiah maupun sintetik yang mempunyai pengaruh
terhadap sistem syaraf pusat dan menimbulkan efek negatif baik secara fisik, mental dan sosial bagi pengguna. Pekerjaan terburuk : Segala jenis pekerjaan dalam bentuk perbudakan, pekerjaan
yang memanfaatkan, menyediakan atau menawarkan anak untuk pelacuran, produksi pornografi, pertunjukan porno atau perjudian. Pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan, atau melibatkan anak untuk produksi dan perdagangan minuman keras, narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya. Segala pekerjaan yang membahayakan kesehatan, keselamatan atau moral anak.
4 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
akronim
kemsos : Kementerian Sosial RI keppres : Keputusan Presiden kHa : Konvensi Hak Anak
P2k2 : Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga P2tP2a : Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan
dan Anak
Permeneg PP &Pa : Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
PkH : Program Keluarga Harapan Pms : Penyakit Menular Seksual
PPa : Perlindungan Perempuan dan Anak PPt : Powerpoint (Slide)
Pusdiklat kesos : Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial ran PPkta : Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanganan
Kekerasan Terhadap Anak
rPtC : Rumah Perlindungan Trauma Centre tot : Training of Trainers
uniCeF : United Nations International Children’s Fund
Pms : Penyakit Menular Seksual yaitu penyakit kelamin yang dapat menular, termasuk kepada anak-anak.
Psikotropika : Suatu zat/obat, baik alamiah atau sintetik bukan narkotika, yang mempengaruhi sistem syaraf pusat yang mempengaruhi persepsi, perasaan dan cara berpikir seseorang.
5 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
daftar isi
uPaya PenCegaHan kekerasan & Perlakuan salaH Pada anak 1.1. DeSKRIPSI
1.2. KoMPeTeNSI DASAR 1.3. INDIKAToR KebeRHASIlAN 1.4. PoKoK bAHASAN
1.5. MeToDA PeMbelAjARAN 1.6. MeDIA PeMbelAjARAN 1.7. lANGKAH PeMbelAjARAN SAlAH (KARTU GAMbAR jeMPol)
• langkah 4: jeNIS DAN CoNToH KeKeRASAN DAN PeRlAKUAN SAlAH (body mapping) • langkah 5: DeTeKSI DINI KeKeRASAN SeKSUAl • langkah 6: CARA PeNCeGAHAN KeKeRASAN
DI KelUARGA DAN DI MASyARAKAT • langkah 7: PeNCeGAHAN KeKeRASAN
PADA ANAK ISTMewA • langkah 8: PeNUTUP
6 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
1.9 bAHAN bACAAN: PeNCeGAHAN KeKeRASAN TeRHADAP ANAK
1.9.1. PeNGeRTIAN ANAK DAN HAK ANAK
1.9.2. jeNIS DAN CoNToH KeKeRASAN DAN PeRlAKUAN SAlAH (MAlTReATMeNT) TeRHADAP ANAK
1.9.3. AKIbAT bURUK KeKeRASAN DAN PeRlAKUAN SAlAH TeRHADAP ANAK
1.9.4. TINGKAT KePARAHAN AKIbAT KeKeRASAN DAN PeRlAKUAN SAlAH TeRHADAP ANAK
1.9.5. DeTeKSI DINI KeKeRASAN DAN PeRlAKUAN SAlAH 1.9.6. PeNCeGAHAN KeKeRASAN DAN PeRlAKUAN SAlAH
TeRHADAP ANAK
1.9.7. ANAK ISTIMewA DAN KeKeRASAN 1.10.lITeRATUR
1.11.eVAlUASI PeMbelAjARAN 1.12.leMbAR KeRjA
sesi 12
Penelantaran & eksPloitasi terHadaP anak 1.1. DeSKRIPSI
1.2. KoMPeTeNSI DASAR 1.3. INDIKAToR KebeRHASIlAN 1.4. PoKoK bAHASAN
1.5. MeToDA PeMbelAjARAN 1.6. MeDIA PeMbelAjARAN 1.7. lANGKAH PeMbelAjARAN 1.8. PRoSeS PeMbelAjARAN
• langkah 1: PeMbUKAAN
• langkah 2: PeNGeRTIAN PeNelANTARAN • langkah 3: CoNToH-CoNToH PeNelANTARAN
7 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI • langkah 4: CARA MeNCeGAH PeNelANTARAN
1.9. bAHAN bACAAN: PeNCeGAHAN PeNelANTARAN DAN eKSPloITASI eRHADAP ANAK
1.9.1. PeNCeGAHAN PeNelANTARAN TeRHADAP ANAK 1.9.2. PeNCeGAHAN eKSPloITASI TeRHADAP ANAK 1.10. lITeRATUR
1.11. eVAlUASI PeMbelAjARAN 1.12. leMbAR KeRjA
Permainan
energizer & iCe Breaking games PeRMAINAN-PeRMAINAN UjI KoNSeNTRASI
uPaya
PenCegaHan
kekerasan
& Perlakuan
salaH Pada
anak
sesi 11
9 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
1.1. deskriPsi
Mata Diklat ini membahas tentang: Pengertian anak, hak-hak anak, pengertian kekerasan dan perlakuan salah, jenis dan bentuk kekerasan dan perlakuan salah, deteksi dini kekerasan seskusal, serta cara pencegahan kekerasan dan perlakuan salah di lingkungan keluarga maupun di lingkungan masyarakat, termasuk pengertian anak istimewa dan pencegahan kekerasan terhadap anak istimewa.
1.2. komPetensi dasar
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta mampu melakukan pencegahan kekerasan dan perlakuan salah terhadap anak, termasuk pencegahan terhadap anak istimewa.
1.3. indikator keBerHasilan
Peserta mampu:
1. Menjelaskkan tentang pengertian anak dan hak-hak anak. 2. Menjelaskan pengertian kekerasan dan perlakuan salah terhadap
anak.
3. Menjelaskan jenis, contoh dan akibat kekerasan dan perlakuan salah terhadap anak.
4. Menjelaskan cara deteksi dini kekerasan seksual.
5. Mempraktekkan pencegahan kekerasan dan perlakuan salah terhadap anak dan anak istimewa.
10 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
1.4. Pokok BaHasan
1. Definisi anak dan hak-hak anak.
2. Pengertian kekerasan dan perlakuan salah dan terhadap anak. 3. jenis, contoh dan akibat kekerasan dan perlakuan salah terhadap
anak.
4. Deteksi dini kekerasan seksual pada anak.
5. Cara pencegahan kekerasan dan perlakuan salah terhadap anak. 6. Pengertian anak istimewa
7. Cara pencegahan kekerasan dan perlakuan salah terhadap anak istimewa.
1.5. metoda PemBelajaran 1. Ceramah
2. Tanya jawab 3. Diskusi kelompok 4. Curah pendapat
5. bermain gambar kartu dan gambar 6. Pemecahan kasus
7. Role play
1.6. media PemBelajaran: 1. whiteboard
2. Spidol, ketras plano 3. Kartu Hak anak
4. Kartu gambar kekerasan 5. body mapping
6. Kasus
11 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
1.7. langkaH PemBelajaran
PemBukaan
TUjUAN PeMbelAjARAN
10 menit 20 menit
langkaH
1
3
Bermain gamBar Perilaku Baik &
Buruk
jeNIS & CoNToH KeKeRASAN & PeRlAKUAN SAlAH
langkaH
alur kegiatan PemBelajaran
SeSI 1.1: PeNCeGAHAN KeKeRASAN & PeRlAKUAN SAlAH
12 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI langkaH ke 1
PeMbUKAAN (10’)
langkah ini berisi tentang ucapan selamat datang dan doa, serta kegiatan untuk membangkitkan motivasi dan minat peserta melalui permainan (ice breacking). Dalam langkah ini juga dilakukan review materi sebelumnya dan dihubungkan dengan materi yang akan dibahas sekarang
langkaH ke 2 PeNGeRTIAN ANAK
DAN HAK-HAK ANAK (15’)
langkah ini membahas tentang pengertian anak dan hak-hak anak, serta menjelaskan bahwa setiap anak mempunyai hak-hak yang harus dipenuhi oleh orangtuanya. Dalam pembelajaran ini menggunakan teknik bermain (kartu gambar “Hak Anak”).
langkaH ke 3 PeNGeRTIAN KeKeRASAN DAN PeRlAKUAN SAlAH
(20’)
langkah ini menjelaskan tentang pengertian kekerasan dan perlakuan salah pada anak, menggunakan kartu gambar perilaku baik dan perilaku tidak baik yang ditempatkan
langkah ini membahas materi tentang jenis, contoh kekerasan yang dirasakan pada anak, dengan menggunakan alat bantu” body maping”, dilanjutkan pembahasannya menggunakan matrik tentang contoh kekerasan, penyebabnya, dan pelaku kekerasan tersebut.
13 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI langkaH 5
DeTeKSI DINI KeKeRASAN
SeKSUAl (30’)
langkah ini menjelaskan tentang cara-cara deteksi dini terhadap kekerasan khususnya kekerasan seksual pada anak maupun remaja, dan bagaimana mengatasinya.
langkah ini membahas tentang cara-cara pencegahan kekerasan terhadap anak dilingkungan keluarga dan masyarakat, dengan menggunakan teknik pembelajaran pemecahan kasus “Nina” dan pemutaran film si “Aska” dan si “Geni”.
langkaH 7 PeNCeGAHAN KeKeRASAN PADA
ANAK ISTIMewA (20’)
langkah ini membahas tentang pengertian anak istimewa, jenis-jenis anak istimewa, kondisi anak istimewa yang sering terpinggirkan karean stigma masyarakat, serta upaya mencegah kekerasan pada anak istimewa.
langkaH 8
Penutup (5’) Materi ini berisi rangkuman keseluruhan substansi materi, dan menutup sesi dengan memastikan bahwa peserta mamahami isi modul yang telah disajikan..
14 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
1.8. Proses PemBelajaran
3. bina suasana melalui permainan yang menarik untuk memusatkan
konsentrasi belajar peserta (pilih ice breaking padabuku ice breaking games)
4. Review materi sebelumnya (bulan lalu)
5. Sampaikan tujuan pembelajaran dengan menggunakan Flipchart 1.
1. jelaskan “Pengertian anak” dan “batasan Usia Anak” menurut
Undang-undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014 pengganti Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 menggunakan Flipchart 2 dan buku Pintar halaman 6.
2. jelaskan pengertian Hak Anak menggunakan Flipchart 2 dan buku
Pintar hal 6.
3. Tanyakan kepada peserta “Apa saja hak-hak anak?”, jawaban ditulis
pada kertas plano.
4. bermain “Pengelompokan gambar klaster hak anak”, lihat lK: 11.1
dan buku Pintar halaman 7.
5. berdasarkan pengelompokkan hak anak di lK 11.1, tanyakan pada
peserta “cara yang harus dilakukan orangtua untuk memenuhi hak anak?”.
6. Respon jawaban peserta, buat kesimpulan tentang “hak-hak anak yang harus dipenuhi oleh orangtuanya”, Flipchart 3 dan buku Pintar halaman 7 dan 8.
7. Menegaskan melalui pesan kunci bahwa setiap anak mempunyai hak
yang harus dipenuhi orangtua. PemBukaan langkaH
1
langkaH
2
1. Pastikan bahwa peserta sudah memasang name Tag, memiliki bahan ajar sesi 11 dan atau buku Pintar.
2. Ucapkan salam dan doa.
Pengertian anak & Hak-Hak anak (klaster Hak anak)
15 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
1. bagi peserta menjadi 4 kelompok (maksimal 5 orang perkelompok)
2. Minta peserta untuk mengerjakan lK 11.2 (Permainan pengelompokan
gambar perilaku baik dan perilaku buruk)
3. Minta kepada salah satu perwakilan kelompok untuk kedepan
menjelaskan “mengapa gambar tersebut termasuk perlakuan baik atau perlakuan buruk”.
4. Peserta diluar kelompok penyaji:
• Masing-masing kelompok ikut memperhatikan dan membandingkan gambarnya dengan gambar kelompok yang sedang dipaparkan.
• jika penempatan gambarnya sama, maka tidak perlu dikomentari. • jika penempatan gambarnya berbeda, maka minta dijelaskan
alasannya.
5. Ulas kembali kata-kata dari peserta, bahwa perlakuan baik adalah
mereka yang melakukan tindakan sesuai tanggung jawab/ kewajibannya dan perlakuan buruk adalah tindakan yang merugikan kepentingan anak.
6. Tegaskan pengertian kekerasan terhadap anak, gunakan Flipchart 5
dan buku Pintar halaman 10.
1. Pasang flipchat Body maping di papan tulis.
2. Fasilitator mengambil gambar perlakuan buruk pada kartu jempol ke
bawah. dan Perlakuan salaH (kartu gamBar jemPol)
jenis dan ContoH
kekerasan dan Perlakuan salaH (Body mapping)
16 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
oleh anak. Selanjutnya, minta kepada peserta yang menjawab untuk menandai dengan spidol atau menempel kertas warna pada body mapping yang dirasakan
4. Tanyakan ke peserta, adakah kekerasan lain yang dialami anak selain
yang sudah ditandai di body mapping tersebut, arahkan ke kekerasan seksual.
5. Pertanyaan lanjutan, coba perhatikan di body mapping, adakah bagian tubuh yang tidak tersentuh dengan kekerasan? jika “ada” maka fasilitator menanggapi dan meluruskan.
6. Fasilitator menyimpulkan bahwa: semua bagian tubuh anak dapat
menjadi sasaran kekerasan, baik fisik maupun non fisik, Flipchart 6
dan 7, buku Pintar halaman 14-17 tentang contoh kekerasan.
7. Minta peserta untuk mengerjakan tugas terkait jenis, contoh dan dampak serta pelaku kekerasan dan perlakuan salah, menggunakan LK.11.3: matrik (Contoh, Jenis, pelaku dan akibat Kekerasan terhadap anak) yang sudah disiapkan.
1. bagi peserta potongan kertas kertas bertuliskan” gejala-gejala anak yang mengalami kekerasan seksual” (Gunakan lK.11.4: Deteksi dini kekerasan seksual)
2. Tugas peserta adalah menempatkan potongan-potongan kertas
tersebut sesuai gejalanya antara lain: • Gerakan-gerakan tak wajar • Gejala/tanda-tanda fisik • Gejala/tanda-tanda psikis
3. Klarifikasi penempatan tersebut, jika tidak pas maka dikomentari oleh fasilitator.
4. Selanjutnya, tanyakan ke peserta “apa yang dilakukan jika mendapati anak kita/saudara kita mengalami kekerasan seksual”, beri kesempatan kepada 2 atau 3 orang untuk menjawab.
5. Selanjutnya simpulkan dengan menggunakan Flipchart 9 dan 10
langkaH
5
deteksi dinikekerasan seksual
17 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
1. Minta peserta untuk menyimak cerita: “anak tidak mau sekolah?”
pada lK: 11.4 / buku Pintar halaman 22, dan fasilitator membacakannya/ ditawarkan ke peserta.
2. Tanyakan ke peserta: “Apakah cerita tersebut juga terjadi di sekitar peserta?”, minta kepada peserta untuk menceritakan pengalamannya.
3. Tanyakan kepada peserta, jika terjadi kasus seperti “Nina”, apa yang harus dilakukan oleh ibu-ibu sebagai orangtua. jawaban peserta ditulis pada kertas plano yang sudah disiapkan, selanjutnya berikan tanggapan terhadap jawaban peserta.
4. Tanyakan kepada peserta, apa yang harus dilakukan oleh peserta sebagai anggota masyarakat. jawaban peserta ditulis pada kertas plano yang sudah disiapkan, selanjutnya berikan tanggapan/komentar terhadap jawaban peserta.
5. Putar film “Kisah si Aska” (Film 11.1) dan “Kisah si Geni (Film 11.2), dan buka buku Pintar halaman 25.
6. Minta tanggapan peserta atas film tersebut.
7. buat kesimpulan “Upaya pencegahan kekerasan dalam keluarga dan
masyarakat”, menggunakan Flipchart 15 dan buku Pintar hal 23, 24 dan 26.
langkaH
6
Cara PenCegaHankekerasan di keluarga dan di masyarakat
tentang Gejala-gejala/tanda kekerasan.
6. jika terjadi “Tanda-tanda tersebut”, apa kira-kira yang akan saudara lakukan?, minta pendapat ke 2 atau 3 orang.
7. jelaskan menggunakan Flipchart 12.
18 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
1. Gali pemahaman peserta tentang “Anak istimewa”, selanjutnya tunjukkan melalui Flipchart 17 (Pengertian anak istimewa).
2. Putar film anak istimewa (Film 11.3 : Getun / buku Pintar halaman 27.
3. Minta peserta mengomentari film tersebut dan tanyakan: “potensi apa yang dapat dilihat dari getun”.
4. Tanyakan ke peserta, apakah di tempat peserta terdapat anak-anak
yang kondisinya seperti “Getun?”
5. jelaskan bahwa “Getun” adalah contoh anak istimewa. Istilah anak
dengan kecacatan = disabilitas dapat disebut sebagai anak istimewa. Ajak pesera mengambil hikmah dari cerita “Getun”
6. jelaskan, siapa saja yang termasuk anak istimewa, gunakan Flipchart
18 dan buku Pintar halaman 28.
7. jelaskan bahwa anak istimewa “rentan mendapatkan kekerasan”, sehingga perlu mendapatkan perlindungan, berikan contoh-contohnya di keluarga: sering melihat dan mendengar jika punya anak istimewa disembunyikan karena malu, bahkan tidak disekolahkan.
8. Minta kepada peserta untuk mengemukakan cara pencegahan terhadap anak istimewa, fasilitator menuliskan di kertas plano.
9. berikan komentar dan paparkan cara pencegahan kekerasan terhadap anak istimewa menggunakan Flipchart 19 dan buku Pintar halaman 29.
10. Sampaikan pesan kunci sebagai berikut (Flipchart 20 dan buku Pintar
halaman 30.
• Anak istimewa adalah anak yang membutuhkan perhatian khusus dan mempunyai potensi yang dapat dikembangkan.
• Pengembangkan potensi yang ada pada anak istimewa membutuhkan motivasi, dukungan, kasih sayang dan perhatian. • Anak istimewa rentan/mudah mendapatkan kekerasan, sehingga
perlu dicegah dari kekerasan. langkaH
7
PenCegaHan kekerasan Pada anak istmewa19 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI langkaH
8
PenutuP11. Sampaikan informasi kepada peserta tentang lembaga-lembaga layanan yang dapat dijangkau, jika menemukan anak-anak istimewa dan/atau anak lainnya menjadi korban kekerasan (Flipchart 21 dan buku Pintar halaman 29).
1. Sampaikan kesimpulan pembelajaran dengan menggunakan
Flipchart 22 dan buku Pintar halaman 30.
2. berikan tugas rumah untuk: (1) menyampaikan hasil pembelajaran kepada keluarga dan lingkungan tetangga; (2) mengerjakan pekerjaan rumah yang ada dalam buku Pintar halaman 31.
3. berikan semangat kepada peserta: untuk melindungi anak, dan
menyampaikan bahwa pada pertemuan berikutnya akan membahas sesi 12 tentang Penelantaran dan eksploitasi.
4. Akhiri pertemuan dengan ucapan terima kasih dan salam penutup.
20 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI lemBar kerja (lk): 11.1
langkah/materi : langkah 2 (Pengertian Anak dan Hak-hak Anak)
Bentuk kegiatan : Pengelompokkan Gambar Hak Anak Pemain : Seluruh peserta
Perlengkapan : • Matrik Klaster Hak Anak (tercetak)
• Gambar Hak-hak Anak (tercetak)
• Solatif
lama kegiatan : 10 menit
langkaH-langkaH:
1
Fasilitator mempersiapkan Matrik Klaster Hak Anak (tercetak) dan menempelkannya pada dinding yang terjangkau oleh peserta, sebagaimana contoh berikut:matrik kluster Hak anak
HAK KelUARGA
&
PeNGASUHAN
AlTeRNATIF
KeSeHATAN &
KeSejAHTeRAAN
SoSIAl
HAK SIPIl
PeNDIDIKAN,
wAKTU lUANG
& KeGIATAN
bUDAyA
PeRlINDUNGAN
KHUSUS
21 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI lemBar kerja (lk): 11.2
langkah/materi : langkah 3 (Pengertian Kekerasan) Bentuk kegiatan : Memilah-milah Gambar (pile sorting)
Pemain : 3 kelompok Perlengkapan :
• Matrik jempol (tercetak), sebanyak 4 lembar
• Gambar Perilaku baik (tercetak), sebanyak 4 set
• Gambar Perilaku buruk (tercetak), sebanyak 4 set
• Solatif
lama kegiatan : 10 menit
2
Fasilitator meminta peserta untuk mengambil “Kartu Gambar Hak-hak Anak”, dan setiap peserta mendapatkan satu gambar tersebut. bagi peserta yang tidak mendapatkan kartu gambar, bergabung dengan peserta lain yang mendapatkan gambar.3
Fasilitator meminta peserta mengamati gambar dan berfikir sejenak, selanjutnya menempatkan gambar tersebut sesuai dengan matrik klaster hak-hak anak yang telah tersedia pendapat masing-masing.langkaH-langkaH:
1
Fasilitator mempersiapkan Matrik jempol (tercetak) sebanyak 4 lembar dan menempelkannya pada dinding yang terjangkau oleh peserta, sebagaimana contoh berikut :22 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
matrik jemPol
Baik Buruk
2
Fasilitator membagikan 2 set gambar yang telah diacak (1 set “Gambar Perilaku baik” dan 1 set “Gambar Perilaku buruk”) kepada setiap kelompok.3
Setelah gambar dibagikan, maka fasilitator:a. Meminta kelompok untuk memperhatikan dan mendiskusikan isi gambar-gambar tersebut.
b. Meminta kelompok memilah-milah gambar tersebut, dan menempatkannya sesuai dengan pemikiran mereka.
4
jika gambar tersebut dinilai “perilaku baik” maka ditempatkan pada “Gambar jempol keatas”, dan jika dinilai gambar tersebut sebagai perilaku tidak baik, maka penempatannya di “Gambar jempol ke bawah".23 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI lemBar kerja (lk): 11.3
langkah/materi : langkah 5 (Contoh, jenis, Pelaku dan Akibat Kekerasan terhadap Anak)
Bentuk kegiatan : Diskusi Kelompok
Pemain : 4 kelompok Perlengkapan :
• Matrik jenis Kekerasan (tercetak), sebanyak 4 set.
• Kertas metaplan • Solatif
lama kegiatan : 15 menit
no Contoh kekerasan akibat kekerasan Pelaku
no Contoh kekerasan akibat kekerasan Pelaku
langkaH-langkaH:
Fasilitator mempersiapkan Matrik jenis Kekerasan (tercetak) sebanyak 4 set dan menempelkannya pada dinding yang terjangkau oleh peserta, sebagaimana contoh berikut:
KeloMPoK 1 kekerasan Fisik
KeloMPoK 2 kekerasan Psikis
24 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
no Contoh kekerasan akibat kekerasan Pelaku
no Contoh kekerasan akibat kekerasan Pelaku
KeloMPoK 3
kekerasan seksual
KeloMPoK 4
kekerasan sosial
lemBar kerja (lk): 11.5
langkah/materi : langkah 7 (Deteksi Dini Kekerasan Seksual)
Bentuk kegiatan : Pengelompokkan Gejala/Tanda2 Kekerasan Seksual
Pemain : Fasilitator
Perlengkapan :
• Kartu Gejala/tanda Kekerasan Seksual • Solatif
lama kegiatan : 3 menit
langkaH-langkaH:
1
Siapkan 3 buah kelompok kartu gejala (Gejala dilihat dari gerakan, gejala fisik dan gejala psikis)2
bagikan ke peserta masing-masing 1 kartu gejala, selanjutnya mereka diminta mencocokkan kartu dengan kelompok gejala yang sudah dipasang pada PAPAN TUlIS/DINDING/lANTAI.25 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI gerakan-gerakan
3
Tempelkan/pasangkan kartu tersebut sesuai dengan KeloMPoK GejAlA .4
Minta perwakilan peserta untuk menjelaskan dalam penempatan tersebut.5
Fasilitator mereview hasil penempelan/encocokan kartu tersebut, dan menyimpulkan.KEDUA TANGAN DAN KAKI MENYIMPUL ERAT
SAKIT JIKA MEMAKAI CELANA DALAM
KEPALA TERTUNDUK KE DALAM KESAKITAN SAAT BAB DAN BAK
LUTUT TERTEKUK KE DALAM
CEDERA PADA BUAH DADA, BOKONG, PERUT BAGIAN BAWAH,
PAHA
TUBUH MENEKUK SEKITAR ALAT KELAMIN ATAU DUBUR
MATA BERKEDIP-KEDIP MEMAR DI BAGIAN TUBUH
WAJAH PUCAT PASI GIGI TANGGAL
DITEMUKAN BEKAS BERCAK DARAH ATAU CAIRAN DI CELANA
DALAM ANAK,
RASA PANAS DAN NYERI PADA BAGIAN GENITAL DAN
SAKIT JIKA DISENTUH
PAKAIAN ROBEK/KANCING LEPAS CARA JALAN YANG TAK WAJAR, AGAK MENGANGKANG
26 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
TIBA-TIBA JADI PENDIAM, GELISAH, CEMAS
MENGELUH TAPI TIDAK BISA JELASKAN ALASANNYA (MULES,
PUSING)
MENGURUNG DIRI DAN TAKUT DITINGGALKAN
SULIT KONSENTRASI DAN MENHGERJAKAN TUGAS TIDAK
SELESAI
NGOMPOL MENGHISAP IBU JARI
lemBar kerja (lk): 11.5
langkah/materi : langkah 6
(Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak)
Bentuk kegiatan : Membacakan Kasus Pemain : Fasilitator
Perlengkapan :
• lembar Ulasan Cerita “Anak tidak mau sekolah”
lama kegiatan : 3 menit
ulasan Cerita “anak tidak mau sekolaH”
Kisah ini bercerita tentang seorang anak kelas 1 SD yang tidak mau berangkat sekolah. Dia bernama Nina, anak dari Ibu edah.
Suatu hari, Nina, menangis tersedu-sedu di depan rumahnya karena tidak mau berangkat sekolah.
Di saat Nina sedang menangis, seorang ibu, bernama Ibu Ati bersama anaknya berjalan melawati dan menghampiri Nina. Sebagai tetangga, Ibu Ati berusaha memenangkan Nina dan mengajak Nina pergi sekolah bersamanya.
27 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI Namun, di saat Ibu
Ati sedang berusaha m e n d i a m k a n tangisan Nina, tiba-tiba, Ibu edah (Ibu dari Nina) keluar dari rumahnya dengan wajah marah. Ibu edah memang tampaknya tidak terima dengan sikap Ibu Ati, dia marah-marah pada Ibu Ati. Ibu edah m e n g a n g g a p perbuatan Ibu Ati tersebut telah ikut campur dalam urusan keluarganya. Sebuah
kata yang pedas meluncur dari mulut Ibu edah : “Hei bu Ati, ngapain ngurusin urusan anak orang. Urus saja anak ibu sendiri!”.
Ibu edah pun segera menarik Nina masuk ke dalam rumahnya dengan terus memarahi anaknya tersebut.
Dan ..
Ibu Ati hanya termenung, dia hanya bisa mengelus dada. Dalam hatinya bertanya, “apa yang harus dilakukan melihat perbuatan Ibu edah yang sering memarahi, bahkan memukul anaknya itu?”
Itulah akhir cerita yang harus kita renungkan, “apa yang harus kita lakukan menyaksikan perbuatan seorang ibu yang sering melakukan kekerasan terhadap anaknya ?”
28 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
29 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
30 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
31 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
32 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
33 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
34 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
1.9. BaHan BaCaan:
PenCegaHan kekerasan terHadaP anak.
1.9.1.
Pengertian anak dan Hak anak
Undang-undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak pasal 1 menyatakan bahwa “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan”. Masa kanak-kanak sering disebut dengan “golden age periode”. Menurut ahli, pada masa itu pertumbuhan inteletual terjadi 40 % pada anak usia 0-4 tahun, meningkat menjadi 80 % pada usia anak 8 tahun, dan selanjutnya menjadi 100 % pada usia 18 tahun. Pada rentang usia tersebut, khususnya 0-8 tahun, orangtua hendaknya berhati-hati memperlakukan anaknya, jangan sampai terjadi goresan-goresan yang melukai anak baik fisik maupun psikisnya yang berdampak terhadap
tumbuh kembang anak.
Pada saat anak belum mencapai usia 18 tahun, maka ada hak-hak anak yang harus dipenuhi oleh orangtua atau oleh orang-orang yang memiliki tanggung jawab terhadap anak tersebut. Menurut ahli hak anak adalah “hak-hak dasar yang dimiliki setiap pribadi manusia sebagai anugerah Tuhan yang dibawa sejak lahir”, selanjutnya hak anak merupakan hak azasi manusia (Ham) dan menurut perserikatan bangsa-bangsa (Pbb) hak adalah yang melekat dengan kemanusiaan kita sendiri, yang tanpa hak itu
35 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI kita mustahil hidup sebagai manusia. Menurut oemar Seno Adji yang dimaksud dengan hak-hak asasi manusia ialah hak yang melekat pada martabat manusia sebagai insan ciptaan Tuhan yang Maha esa yang sifatnya tidak boleh dilanggar oleh siapapun, dan yang seolah-olah merupakan suatu holy area.
Dengan demikian hak anak adalah sebagai hak azasi, artinya hak tersebut melekat pada diri anak dimana orang lain tidak boleh melanggarnya, dan setiap orangtua yang memiliki anak/orang yang bertanggung jawab terhadap anak maka hukumnya wajib untuk memenuhi haknya tersebut. oleh karena hak anak sama dengan kewajiban orangtua atau siapapun bertanggung jawab memberikan perlindungan dengan cara memenuhi seluruh kebutuhan dasarnya agar anak hidup sehat jasmani, rohani dan sosialnya tanpa memperoleh kekerasan dan perlakuan salah serta penelantaran dan eksploitasi.
Untuk mewujudkan perlindungan tersebut, maka hak-hak anak dikelompokkan menjadi 5 klaster (Konvensi Hak Anak) antara lain:
1. Hak sipil dan kebebasan yakni hak untuk memiliki akte kelahiran,
kebebasan memeluk agama dan kepercayaan serta beribadat menurut keyakinan masing-masing.
2. Hak keluarga dan pengasuhan alternatif, yakni ketahanan
keluarga kita di tengah arus informasi dan ancaman-ancaman bagi anak serta ketidakpahaman orangtua/wali
3. kesehatan dan kesejahteraan sosial yakni untuk anak-anak
telantar dan yang memerlukan perlindungan khusus
4. Pendidikan, waktu luang dan kegiatan budaya
5. Perlindungan khusus terutama bagi anak-anak berkebutuhan
khusus, berhadapan masalah hukum, korban kekerasan, korban
bencana
Tidak hanya orangtua, tetapi negarapun bertanggung jawab dalam perlindungan anak tersebut, atas dasar mandat UUD 1945 serta Konvensi Pbb tentang Hak-hak Anak (KHA) yang telah diratifikasi melalui Kepres Nomor 36 Tahun 1990. Dalam KHA dikenal 4 (empat) prinsip utama untuk melindungi anak, yaitu:
36 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
1. non-diskriminasi: anak tidak dibeda-bedakan berdasarkan latar
belakang suku, ras, agama, warga negara, latar belakang politik oragtua, dan kemampuannya (disabilitasnya).
2. kepentingan terbaik bagi anak:agar setiap keputusan publik yang
diambil oleh negara dan pemerintah harus mempertimbangkan kepentingan terbaik anak dahulu.
3. Hak-hak anak untuk hidup, tumbuh, dan berkembang: bahwa
keberadaan anak tidak sekadar hidup, tetapi memiliki hak memperoleh perawatan dan pengasuhan yang baik agar dapat tumbuh dan berkembang secara wajar dan menikmati hidup yang berkualitas.
4. menghormati pandangan anak: pendapat dan padangan anak
patut dihargai, dihormati, dan benar-benar diperhatikan sesuai dengan kemampuan dan tingkat perkembangan anak.
1.9.2.
Jenis dan contoh Kekerasan
dan Perlakuan salah (maltreatment) terhadap anak
Perlakuan salah dapat kita pahami sebagai: segala bentuk perlakuan yang tidak sepatutnya dilakukan oleh orang-orang yang diberi tanggung jawab (kuasa atas) dan mempunyai kewajiban untuk memelihara dan merawat anak yang dapat berpotensi merugikan
sementara atau permanen, melukai, menimbulkan kecacatan, bahkan dapat mengancam jiwa anak (Permeneg PP&PA No. 2 Tahun 2010)
jenis-jenis Kekerasan dan perlakuan salah dibagi ke dalam empat (4) bentuk kekerasan yaitu:
1. Kekerasan fisik yaitu
penggunaan hukuman fisik
(memukul, mencubit, menampar, menyabet, membanting,
37 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI menyundut, menendang
menusuk, dan lain-lain)
2. kekerasan emosional/psikis
yaitu penggunaan ungkapan untuk mengecilkan arti atau citra diri anak (mengatakan anak “bodoh”, “tuli”, “tidak tahu diri”, “berandal”, “anak pungut”, memelototi, menghardik dll. Hal ini membuat anak sangat tidak nyaman dengan dirinya dan membuat dia sedih).
3. kekerasan sosial yaitu ketika anak tidak diperlakukan sama
dengan anak lain baik karena keadaan fisiknya, latar belakang keluarganya (politik, agama, ras, suku, kepercayaan) atau kemiskinan keluarganya – sehingga anak terasing dan merasa rendah diri.
4. kekerasan seksual yaitu perlakuan meraba sampai dengan
penetrasi terhadap organ-organ tubuh yang bersifat pribadi, terutama organ seksual anak.
Kekerasan anak seringkali pelakunya adalah orang terdekat atau orang yang dikenal anak seperti: pembantu, satpam, guru, bahkan bisa dilakukan orangtuanya sendiri. orangtua seringkali menerjemahkan kekerasan yang dilakukannya sebagai bentuk kasih sayang atau salah satu cara mendisiplinkan anak. Selanjutnya, kekerasan tersebut dianggap sebagai “urusan keluarga” karena anak adalah “milik” orangtuanya, sehingga orang lain/orang luar tidak boleh ikut campur, yang akhirnya kekerasan di dalam rumah tangga serigkali dan sulit untuk dicegah karena berada di area pribadi.
oleh karena itu, sosialisasi tentang Undang-undang Perlindungan Anak dan Undang-undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga,
38 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
sangat diperlukan, agar para orang tua dan pelaku kekerasan memahami bahwa apa yang dilakukannya adalah termasuk tindak pidana.
1.9.3.
akibat buruk kekerasan
dan perlakuan salah terhadap anak
1. Akibat fisik dan mental
Kekerasan baik fisik maupun seksual, eksploitasi, dan penelantaran dapat menimbulkan akibat fisik dan mental yang berdampak jangka panjang seperti pelukaan, kecacatan, infeksi penyakit mematikan, Penyakit Menular Seksual (PMS), HIV/AIDS, tidak berkembangnya otak sehingga kemampuan berbahasa, intelektual dan motorik terganggu dan tidak dapat diperbaiki, terutama jika anak dibiarkan kurang gizi, kurang kasih sayang dan rangsangan intelektual.
2. akibat emosional/psikis
Semua jenis perlakuan salah dan kekerasan mengakibatkan terganggunya emosi dan fungsi psikis anak sehingga anak menjadi rendah diri, kehilangan percaya diri, tidak dapat percaya pada orang lain, tidak dapat mengendalikan emosi, dan mengalami ganguan mental.
3.akibat sosial dan perilaku
Akibat sosial dari perlakuan salah dan kekerasan terlihat ketika anak senang menyendiri, tidak mempunyai teman bermain, tidak bersemangat, mudah menyerah dan putus asa, cengeng, agresif, antisosial, mudah menipu dan berpura-pura, dan lain-lain.
39 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI Perlakuan salah dan kekerasan tidak selalu berakibat tunggal, bahkan sering menimbulkan akibat yang lebih kompleks dan berjangka panjang. jika kekerasan sering terjadi maka anak beranggapan bahwa kekerasan itu merupakan perlakuan
yang biasa untuk menyelesaikan masalah tertentu dan akan cenderung ditirunya jika ia mengalami masalah.
1.9.4.
tingkat keparahan akibat
kekerasan
dan perlakuan salah
terhadap anak
Tingkat keparahan akibat dari kekerasan dan perlakuan salah, ditentukan oleh beberapa hal, antara lain:
1. Pelaku: semakin dekat hubungannya dengan anak (misal: orangtua)
akan semakin parah akibatnya karena anak dihadapkan pada masalah kepercayaan bahwa orangtua seharusnya melindungi dan mengasihi dirinya.
2. jenis dan bentuk: kekerasan dan perlakuan salah dianggap
paling parah akibatnya walaupun keparahan masih ditentukan oleh faktor-faktor lainnya.
3. keseringan (frekuensi): semakin sering perlakuan salah atau
kekerasan dilakukan, semakin parah akibat-akibatnya.
4. lama berlakunya tindakan (durasi): semakin lama tindakan itu
terjadi pada anak, akan semakin serius tingkat keparahannya.
40 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
1.9.5.
deteksi dini kekerasan dan Perlakuan salah
Gejala-gejala kekerasan seksual pada anak sangat traumatis, sehingga orang tua perlu waspada dengan melakukan deteksi dini kekerasan tersebut. Deteksi dini terhadap kekerasan seksual, dapat dipelajari dengan melihat sikap dan perilaku
korban. Menurut Frederick Anderman dan eva Andermann di bukunya movement disorders in neurology and neuropsychiatri 1992, disampaikan oleh Nunki, bahwa korban yang mengalami serangan seksual secara mendadak atau diluar kehendaknya dapat menunjukan bahasa tubuh yang sangat jelas dan mudah di deteksi. Refleks kecemasan (startle reflex) sebagai respons akibat serangan mendadak tak terduga dan tak dikehendaki yang membuat fisik, jiwa dan emosional korban terancam”.
1. gerakan berlebihan tak wajar, antara lain:
a. Kedua bahu terangkat sehingga menutupi leher b. Kepala tertunduk ke dalam
c. Kedua tangan dan kedua kaki menyimpul erat
d. lutut tertekuk ke dalam
e. Tubuh menekuk f. Mata berkedip kedip
g. wajah pucat pasi h. dan lain-lainnya.
2. Gejala fisik terjadinya kekerasan seksual:
a. Sakit jika memakai celana dalam, dan mengeluh kesulitan atau
kesakitan saat bAb dan bAK
b. Cedera pada buah dada, bokong, perut bagian bawah, paha,
41 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI sekitar alat kelamin atau dubur.
c. Memar di bagian tubuh atau gigi yang cedera atau tanggal saat pelaku menyergap dan memaksa korban merapat di dinding dan korban melawan (David Givens seorang peneliti bahasa tubuh).
d. Rasa panas dan nyeri di area genital dan terasa sakit jika
disentuh.
e. Cara jalan yang tak wajar, agak mengangkang.
f. Ditemukan bekas bercak darah atau cairan di celana dalam anak, dan kemungkinan ditemukan bagian pakaian yang robek atau kancing yang lepas karena ditarik paksa.
g. Cekalan dan cengkeraman erat tangan pelaku sehingga kuku
menembus ke kulit pada lengan anak untuk mencegah anak meronta biasanya meninggalkan bekas di lengan bagian dalam (joe Navarro seorang agen FbI spesialis komunikasi non-verbal).
3. gejala Psikis pada umumnya:
a. Anak berubah ekspresi: pendiam, cemas, takut bertemu orang sehingga lebih banyak mengurung diri di kamar, takut ditinggalkan sendirian.
b. Anak yang semula tidak mengompol menjadi mengompol baik
di malam hari maupun saat di sekolahnya.
c. Menunjukkan keluhan-keluhan fisik yang tidak dapat
dijelaskan penyebabnya, seperti pusing, sakit perut, atau masalah makan.
d. Sulit tidur dan bermimpi buruk diikuti mengigau.
e. Sulit konsentrasi, sehingga sulit belajar dan gelisah, sehingga tidak mampu menyelesaikan tugasnya.
f. Perilaku kemunduran seperti: mengisap ibu jari, kemunduran kemampuan bicara.
42 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
g. Pada saat pelaku bertemu pelaku, secara refleks anak menjauhkan bagian depan tubuhnya atau menekuk tubuhnya diikuti kedua bahu menaik. Ini adalah gerak refleks yang tersimpan di sistem limbik di otak untuk menjaga tubuh dari serangan berikutnya dari orang-orang yang punya riwayat menyerang anak.
4. gejala psikhis pada anak usia 13-18 tahun
a. Merusak diri sendiri, remaja dapat melakukan tindakan yang merusak diri sendiri sebagai cara mengatasi rasa marah dan depresi.
b. Melakukan perbuatan berisiko tinggi seperti berontak
terhadap orang-orang yang mempunyai wibawa, terlibat dalam penyalahgunakan NAPZA, bergabung dengan para pencuri dan menjarah.
c. Depresif, Sebaliknya dapat juga terjadi sikap menutup atau menarik diri, curiga terhadap orang lain dan berpikir bahwa hal buruk akan menimpa mereka lagi.
Hal- hal praktis yang bisa dilakukan orangtua untuk menjaga ketahanan keluarga dan menjalin
komunikasi yang baik dalam keluarga:
• Menjadi pendengar yang baik • Berlaku sebagai sahabat anak • Menyediakan waktu yang
berkualitas untuk anak • Mengenali
pergaulan/teman-teman anak
• Melakukan kegiatan bersama termasuk beribadah
• Terlibat dalam kegiatan di sekolah anak
• Mengikuti perkembangan informasi Teknologi
43 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
d. Keluhan fisik yang tidak jelas penyebabnya, kecemasan yang terus menerus serta kegugupan dan keluhan fisik yang tidak jelas.
e. penyebabnya juga cukup umum terjadi pada kelompok usia ini.
5. apa yang harus dilakukan oleh orangtua/pengasuh?
jika menemukan kondisi/gejala-gejala seperti tersebut di atas, maka sebagai orangtua harus waspada, dan berikan dukungan:
a. Peluklah mereka erat-erat bahwa Anda sangat menyayangi
mereka.
b. Sampaikan bahwa tidak ada satau orangpun yang boleh
menyakiti mereka, dan apapun yang terjadi, akan tetap memberikan perlindungan.
c. jadilah pendengar aktif tentang cerita dan pendapatnya
d. Mintalah pertolongan ahli (bawa ke Rumah Sakit RSCM atau
RS-Polri)
e. laporkan ke polisi.
1.9.6.
Pencegahan Kekerasandan Perlakuan Salah
terhadap anak
Kekerasan dapat terjadi di dalam rumah/lingkungan keluarga, dan dapat juga terjadi di luar rumah seperti sekolah dan lingkungan masyarakat.
1. Pencegahan kekerasan di dalam rumah/keluarga
a. Memahami pertumbuhan, perkembangan dan perilaku anak
sesuai usianya.
b. Mengenalkan anak tentang kesehatan reproduksi termasuk
mengenali bagian-bagian tubuhnya serta fungsi bagian tubuh tersebut. bagian tubuh pribadi seperti alat kelamin, pantat, penis, anus, payudara dan vagina.
c. berikan pengertian tentang sentuhan yang harus dihindari oleh anak-anak. Pada setiap bagian tubuh yang pribadi, jelaskan sentuhan yang salah dan buruk. Sentuhan yang menyenangkan dan baik adalah ciuman pipi antara orangtua dan anak saat pamit ke sekolah atau kalau berpergian, berpelukan dengan
44 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
saudara jika bertemu dan berpisah, dan berjabat tangan dengan orang lain.
d. Ajarkan pada anak agar 5 (lima) bagian tubuh di bawah ini tidak boleh disentuh orang lain kecuali orangtua anak & dokter serta pengasuh lainnya dengan didampingi orangtua, antara lain: leher, mulut, dada, alat kelamin, daerah untuk buang air besar. Ajarkan anak untuk menolak dan mengatakan TIDAK saat menerima sentuhan buruk dan tidak nyaman dan mewaspadai tawaran atau diiming-imingi sesuatu.
e. Membangun komunikasi terbuka dengan anak dan menjadi
pendengar yang baik.
f. Mintalah anak untuk tidak takut memberitahu orangtua atau
guru jika terjadi kekerasan seksual kepadanya.
g. Aktif berdiskusi dengan guru untuk mengetahui
perkembangan anak di sekolah.
2. Pencegahan kekerasan di luar rumah:
a. jangan malu, ragu, takut untuk melindungi atau melapor
pada yang berwajib jika melihat, mendengar adanya tindak kekerasan pada anak.
b. jangan panik jika mendapatkan informasi kekerasan pada anak.
c. Segera mencari bantuan kepada saudara, teman, rumah sakit jika mengetahui anak mendapatkan tindak kekerasan.
d. Segera melaporkan ke RT, Rw, kelurahan, satpam, polisi jika mengetahui adanya tindak kekerasan pada anak.
e. Melaporkan ke lembaga yang memberikan perlindungan anak:
Melapor Polisi (110) TePSA (1500771)
P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak)
PPA ( Perlindungan Perempuan dan Anak) Rumah Perlindungan dan Trauma Center (RPTC) Komnas Perlindungan Anak
Dan lembaga layanan lainnya yang ada di masyarakat
45 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
1.9.7.
anak istimewa dan kekerasan
1. Pengertian
Anak istimewa adalah anak yang mengalami keterbatasan fisik atau mental yang sesungguhnya mempunyai potensi istimewa yang dapat dikembangkan sehingga anak tetap dapat berpartisipasi secara bermakna dengan lingkungan sosialnya.
Dalam pengertian legal-formal kita dapat mengutip pasal 3 ayat (1) dan (2) Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 dinyatakan bahwa Anak berkebutuhan Khusus dikategorikan menjadi:
a. Memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial atau memiliki
potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berhak mengikuti pendidikan secara inklusif pada satuan pendidikan tertentu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.
b. Mengalami kelainan seperti: (1) Tunanetra; (2) Tunarungu; (3) Tunawicara; (4) Tunagrahita; (5) Tunadaksa; (6) Tunalaras; (7) berkesulitan belajar;(8) lambat belajar; (9) Mengalami spektrum autisma; (10) memiliki gangguan motorik; (11) menjadi korban penyalahgunaan narkoba obat terlarang dan zat adiktif lainnya; (12) Memiliki kelainan lainnya; (13) Tunaganda.
jika dilihat dari jenisnya, maka tiap anak istimewa memiliki tingkat kerentanan
46 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
yang berbeda-beda sehingga membutuhkan perhatian yang berbeda pula oleh orang tua atau orang yang terdekatnya.
2. kekerasan terhadap anak istimewa
Kekerasan terhadap anak istimewa terjadi karena beberapa faktor berikut:
a. Adanya anggapan (stigma) negatif tentang keterbatasan atau
kecacatan yang dialaminya sehingga orangtua merasa malu mempunyai anak istimewa.
b. Adanya anggapan bahwa anak istimewa tidak dapat belajar dan
melakukan kegiatan sehari-hari seperti anak lain.
c. Anggapan bahwa anak istimewa tidak mempunyai potensi yang dapat dikembangkan.
d. Adanya pemahaman salah terhadap anak yang mengalami
kesulitan belajar dan hiperaktif sebagai anak bodoh, anak nakal atau anak aneh.
e. orangtua dan guru tidak tahu bagaimana sebaiknya
memperlakukan anak-anak istimewa ini.
f. Akibatnya, anak-anak istimewa banyak yang ditelantarkan, dipasung, atau dieksploitasi untuk memperoleh keuntungan berdasarkan rasa kasihan orang lain. Padahal, jika diperhatikan dan dilatih sejak kecil, maka anak-anak ini mempunyai
kemampuan yang istimewa. Agar orangtua dapat melakukan pencegahan terhadap kekerasan terhadap anak-anak istimewa maka diperlukan:
Kesadaran orangtua bahwa anak adalah amanah dari Tuhan yMe, sehingga orang tua berkewajiban menjaganya dengan baik termasuk anak-anak istimewa. Perlu diingat bahwa anak istimewa memiliki tingkat kerentanan dari kekerasan eksploitasi dan penelantaran.
47 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI orangtua tidak merasa malu memiliki anak istimewa, karena
ia memiliki potensi untuk berkembang dan berprestasi, jika lingkungan keluarga memberikan ia kasih sayang dan dukungan untuk kemandiriannya.
orangtua harus memfasilitasi anak istimewa untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.
orangtua berkewajiban memenuhi hak pendidikan anak istimewa seperti anak lainnya. bagi anak-anak istimewa, pendidikan inklusi sangat disarankan agar anak bisa bersosialisasi dan adaptasi dengan anak-anak lainnya.
orangtua ikut serta dalam forum orangtua anak istimewa. Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan pada
keluarga yang memiliki anak istimewa dengan memperhatikan, melindungi, menyelenggarakan sekolah inklusi, lingkungan bebas hambatan, dan perlindungan sosial serta perawatan.
48 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
1.10. literatur
1. Suyanto bagong, Masalah Sosial Anak, Kencana Prenada Media Group, 2013, jakarta.
2. wyckoff jedery, Unell barbara C, Disiplin Tanpa Kekersan atau Pukulan, Penyelesaian Praktis Untuk Masalah PerilakuAnak-anak Usia Pra Sekolah Modul Kekerasan Anak, Suhadi, Unicef, 2013.
3. Psikhologi Perkembangan, Hurlock
4. http://umum-pengertian.blogspot.co.id/2016/01/pengertian-hak-asasi-manusia-ham-umum.html
5. http://dampakkekerasanterhadapanak.blogspot.com/ 6. Materi Prof. Irwanto, Universitas Atmajaya, jakarta, 2014. 7. UNICeF Fact Sheet
8. http://tipswanitacepathamil.com/mencegah-pelecehan-seksualpada-anak.html
9. https://pixabay.com/en/boy-girl-hand-in-hand-kids-school-160168/
1.11. eValuasi PemBelajaran
1. Tanya jawab secara insidentil selama proses pembelajaran. 2. Pre Test dan Post Test
3. evaluasi pada saat Diskusi.
4. evaluasi pada saat bermain gambar.
1.12. lemBar kerja
1. lembar Kerja (lK.11.1) – Pengelompokan Hak-hak Anak (Kartu Hak Anak)
2. lembar Kerja (lK.11.2) – Perlakuan baik dan perlakuan tidak baik (memilah-milah gambar)
3. lembar Kerja (lK.11.3) – jenis dan contoh, Akibat dan pelaku kekerasan (matrik)
4. lembar Kerja (lK.11.4) – Deteksi dini kekrasan seksual
5. lembar Kerja (lK.11.5) - Pencegahan kekerasan di dalam kelarga dan masyarakat.
49 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
Penelantaran
& eksPloitasi
teradaP anak
sesi 12
50 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
1.1. deskriPsi
Mata Diklat ini membahas tentang pengertian eksploitasi dan penelantaran, contoh penelantaran dan eksploitasi dan upaya-upaya pencegahan penelantaran dan eksploitasi terhadap anak.
1.2. komPetensi dasar
Setelah mengikuti diklat ini, peserta diharapkan mampu memahami, menjelaskan, mengidentifikasi serta memberikan contoh konkret mengenai cara mencegah penelantaran dan eksploitasi terhadap anak.
1.3. indikator keBerHasilan
Peserta mampu:
1. Menjelaskan tentang pengertian penelantaran terhadap anak. 2. Menjelaskan tentang contoh dan akibat penelantaran terhadap anak. 3. Mempraktekkan cara mencegah penelantaran terhadap anak.
4. Menlesakan tentang pengertian dan contoh dan akibat eksploitasi terhadap anak.
5. Menjelaskan tentang akibat eksploitasi terhadap anak. 6. Mejelaskan tentang cara mencegah eksploitasi terhadap anak.
1.4. Pokok BaHasan
1. Pengertian penelantaran terhadap anak. 2. Contoh dan akibat penelantaran anak. 3. Cara mencegah penelantaran anak.
4. Pengertian dan contoh-contoh eksploitasi anak. 5. Akibat eksploitasi terhadap anak.
6. Cara mencegah eksploitasi terhadap anak.
1.5. metoda
1. brainstorming 2. Ceramah singkat 3. Tanya jawab 4. Memberikan tugas
5. Permainan (Gambar, bendera) 6. Pemecahan Kasus
7. Pemutaran Film
1.6. media
51 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
1.7. langkaH PemBelajaran
CoNToH & AKIbAT PeNelANTARAN
10 menit 20 menit 15 menit
15 menit
52 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI langkaH 1
PeMbUKAAN (10’)
langkah ini berisi tentang ucapan selamat datang dan doa, serta kegiatan untuk membangkitkan motivasi dan minat peserta melalui permainan (Ice breacking). Dalam langkah ini juga
dilakukan review materi sebelumnya dan dihubungkan dengan materi yang akan dibahas sekarang
Materi ini memberikan gambaran kepada peserta tentang penelantaran yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan mengarahkan peserta kepada definisi penelantaran. Proses pembelajaran dilalui dengan menggunakan metode “studi kasus” sehingga peserta mendapat gambaran apa yang dimaksud dengan penelantaran.
lang
k
aH 3 CoNToH DAN AKIbATPeNelANTARAN TeRHADAP ANAK
(15')
Materi ini membahas contoh penelantaran di dalam keluarga yang kerap terjadi terhadap anak dan akibat dari penelantaran yang mungkin akan terjadi. Proses pembelajaran ini menggunakan metode diskusi kelompok. mencegah penelantaran terhadap anak. Melalui permainan “bola keberuntungan”, berbagai alternatif cara mencegah penelantaran terhadap anak diharapkan dapat muncul dari para peserta sebelum fasilitator memaparkan cara mencegah penelantaran apa saja yang dapat dilakukan oleh orang tua.
53 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI langkaH 5
Materi ini memberikan definisi dan contoh-contoh eksploitasi terhadap anak melalui pemutaran “Film Pekerja Anak di Nias”. Film ini akan membantu peserta memahami definisi dan contoh-contoh eksploitasi.
langkaH 6 AKIbAT eKSPloITASI
(20 MeNIT)
Materi ini memberikan gambaran kepada peserta tentang akibat eksploitasi terhadap anak dengan metode ”menceritakan gambar”.
Materi ini membahas cara mencegah eksploitasi terhadap anak yang dilakukan dengan menggunakan “permainan bendera”.
langkaH 8 PeNUTUP (10 MeNIT
)
Materi ini berisi pemberian lembar penugasan yang harus diisi di rumah oleh kedua orang tua atau pengasuh. Rangkuman keseluruhan terhadap substansi materi juga dilakukan pada langkah ini.
54 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI langkaH
1
langkaH
2
PemBukaan
Pengertian Penelantaran
1.8. Proses PemBelajaran
1. Ucapkan salam
2. Pastikan bahwa peserta sudah memiliki bahan ajar Sesi 12.
3. bina suasana untuk membangkitkan motivasi peserta dalam menerima
materi.
4. Ajak peserta mereview materi sebelumnya tentang Pencegahan
Kekerasan terhadap Anak, dan tanyakan kepada peserta: apa yang telah dipelajari di pertemuan sebelumnya?
5. Memotivasi peserta untuk mengingat materi sebelumnya, hubungkan materi sebelumnya dengan materi yang akan dibahas (pencegahan penelantaran dan eksploitasi).
1. Gali pemahaman peserta sekedarnya saja dengan pertanyaan
“Apakah ibu-ibu mengetahui tentang penelantaran terhadap anak?"
2. Minta peserta untuk membaca kasus “Tasripin” di lK 12.1 / buku
Pintar halaman 33. jika peserta tidak dapat membaca maka dibantu oleh pendamping.
3. Setelah kasus dibacakan, fasilitator menanyakan kepada seluruh peserta:
• Apa saja pekerjaan dan tanggung jawab yang dilakukan oleh Tasripin dalam menghidupi adik-adiknya?
• Apakah yang dilakukan tersebut layak dilakukan oleh anak seusia Tasripin?
55 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI langkaH
3
ContoH-ContoHPenelantaran
• Apa yang seharusnya dilakukan oleh Ayah/kerabatnya terhadap Tasripin dan adik-adiknya?
4. Tuliskan jawaban peserta pada kertas plano.
5. Simpulkan jawaban peserta dan sampaikan bahwa hal-hal yang
dilakukan oleh ayah Tasripin merupakan tindakan penelantaran.
6. Sampaikan pula bahwa penelantaran adalah tidak dilakukannya
kewajiban dan tanggung jawab orang tua dalam memenuhi kebutuhan dasar anak, termasuk kasih sayang dan perhatian, dengan menunjukkan Flipchart 2 dan buku Pintar halaman 35 tentang Pengertian Penelantaran.
1. Minta peserta untuk membentuk kelompok terdiri dari 5-7 orang. 2. beri waktu lebih kurang 5 menit untuk berdiskusi tentang
contoh-contoh penelantaran yang sering terjadi di lingkungannya. Tanyakan ke peserta: “Contoh-contoh tindakan penelantaran seperti apa yang sering terjadi di lingkungan rumah ibu-ibu?“
3. Minta ke masing-masing kelompok untuk presentasi/paparan hasil diskusi.
4. bahas kembali dan perkaya dengan contoh-contoh yang sudah dikemukakan peserta, dengan menggunakan Flipchart 3 dan buku Pintar halaman 36.
5. Tanyakan kepada peserta “Akibat penelantaran yang terjadi dari
contoh-contoh yang sudah dikemukakan?"
6. Simpulkan dan sampaikan kepada peserta bahwa penelantaran dapat
membawa akibat buruk pada anak, dengan menunjukkan Flipchart 8
dan buku Pintar halaman 37 tentang Akibat Penelantaran.
56 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI langkaH
4
langkaH
5
Cara menCegaH Penelantaran terHadaP anak
Pengertian dan ContoH eksPloitasi terHadaP anak
1. Sampaikan kepada peserta bahwa kita akan diskusi cara mencegah penelantaran terhadap anak, melalui permainan “bola keberuntungan”(lihat lK 12.2)
2. jika sudah cukup tergali dari peserta, maka permainan dihentkan. 3. bahas kembali dan perkaya jawaban-jawaban dari peserta yang
sudah tertulis di kertas plano.
4. Simpulkan dan sampaikan contoh-contoh cara mencegah penelantaran dengan menggunakan Flipchart 4 dan buku Pintar halaman 38.
1. Sampaikan pertanyaan kepada peserta:
• Apakah ibu-ibu pernah menyuruh anak membantu keluarga? jika pernah dalam bentuk apa?
• Apakah ibu-ibu pernah menyuruh anaknya untuk membantu mencari uang? jika pernah dalam bentuk apa?
2. Putarkan film dokumenter tentang eksploitasi anak berjudul: “Pekerja Anak di Pulau Nias” (F.12.1) atau menggunakan film lain yang sesuai dengan kondisi setempat/ buka buku Pintar halaman 39.
3. Tanyakan kepada peserta:
“ibu-ibu.... film tadi menceritakan tentang apa?” (Peserta diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya).
4. Tanyakan kepada 1-2 orang peserta, “Apakah pernah melihat/ mengalami hal yang serupa dengan film yang telah diputar".
57 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI langkaH
6
akiBat eksPloitasi terHadaP anak1. Sampaikan kepada peserta bahwa kita akan bermain “cerita
bergambar” (buka lK.14.2)
2. Minta perwakilan kelompok untuk paparan dan kelompok lain
memberikan tanggapan/komentar.
3. berikan ulasan pada masing-masing paparan yang telah disampaikan
oleh kelompok.
4. jelaskan kepada peserta bahwa eksploitasi dapat berakibat buruk
bagi anak-anak dengan menggunakan Flipchart 6 dan buku Pintar halaman 41 (Akibat eksploitasi).
5. Simpulkan jawaban peserta dan arahkan kepada definisi eksploitasi.
6. Sampaikan kepada peserta bahwa memanfaatkan anak untuk
mendapatkan keuntungan baik materi maupun non-materi merupakan tindakan eksploitasi (Flipchart 6 dan buku Pintar halaman 41).
7. Minta peserta untuk menyebutkan contoh-contoh eksploitasi yang
memanfaatkan tubuh anak, tenaga anak dan keluguan anak maupun pengalihan tanggung jawab orang tua terhadap anak. Sesuai dengan dengan pemahaman, pengalaman yang pernah dialami oleh peserta dalam kehidupan sehari-hari.
8. Perdalam pemahaman peserta, gunakan Flipchart 5 dan buku Pintar halaman 41 (contoh ekploitasi) atau bacakan/ceritakan contoh-contoh kasus yag ada pada lK.12.3.
9. buat kesimpulan bersama peserta: apapun bentuk eksploitasi, untuk
tujuan keuntungan sosial dan ekonomi, atau keuntungan lain, tidak dibenarkan.
58 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI langkaH
7
Cara PenCegaHan eksPloitasiterHadaP anak
1. Ajak peserta bermain “permainan bendera” untuk mendiskusikan pencegahan eksploitasi terhadap anak, dengan menggunakan lK 12.5a dan lK 12.5b
2. Simpulkan cara-cara yang dapat dilakukan oleh orangtua untuk mencegah eksploitasi terhadap anak, menggunakan Flipchart 7 dan buku Pintar hal 48.
3. Tanyakan kepada peserta:
• Siapa diantara peserta yang anaknya belum memiliki akte kelahiran? • Apakah mencatatkan kelahiran anak itu penting?
• Apa manfaat memiliki akte kelahiran?
4. Fasilitator menyampaikan kepada peserta bahwa pencatatan kelahiran (memiliki akte kelahiran, mendaftarkan anak pada Kartu Keluarga) merupakan salah satu cara mencegah eksploitasi terhadap anak.
5. Simpulkan dengan menggunakan Flipchart 8 dan buku Pintar halaman 49.
59 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI 1. berikan motivasi ke KPM untuk
tidak melakukan penelantaran dan eksploitasi, putarkan film “Raeni Putri Tukang becak yang lulus Cum laude”.
2. Simpulkan hasil dari pemutaran film bahwa: “Keterbatasan
ekonomi keluarga, anak tetap dapat berpretasi".
3. Sampaikan pesan kunci pembelajaran, Flipchart 8 dan buku Pintar halaman 51.
4. bagikan lembar penugasan kepada peserta (lK 12.7/buku Pintar halaman 53.
5. jelaskan tata cara pengisian lembar penugasan (lK.12.7).
6. Minta kepada peserta untuk mengisi lembar penugasan tersebut di rumah bersama keluarga.
7. Tutup pertemuan dengan mengucapkan salam dan doa serta ucapan terima kasih.
langkaH
8
PenutuP60 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI lemBar kerja (lk): 12.1
kisaH tasriPin, BoCaH 12 taHun yang Harus mengHiduPi ketiga adiknya
jakarta - jauh di sebuah Dusun di Desa Gunung lurah, Kecamatan Cilongok, banyumas, jawa Tengah, Tasripin (12) bocah tanggung dari Dusun Pesawahan harus hidup sendiri dan mencari nafkah untuk menghidupi ketiga adiknya
Dandi (9) Riyanti (7) dan Daryo (5). Tasripin harus bekerja di sawah agar adik-adiknya tetap bisa makan.
Di rumah bilik kayu dengan luas 5x7 meter persegi dengan satu ruang kamar luas 3x3 meter persegi dan sebuah dapur dengan tungku kayu bakar serta isi perabotan yang sangat sederhana dan hanya terdapat dua buah kursi panjang dan satu meja, beralaskan lantai semen yang sudah pecah, hidup empat bocah sebatang kara. Ayah mereka pergi bekerja di Kalimantan bersama kakak tertuanya, sementara ibunya meninggal akibat tertimbun longsor saat sedang mencari pasir satu tahun lalu.
Kini bocah-bocah tersebut harus hidup sebatang kara dan tidur dalam satu kamar dengan kasur dan bantal yang sudah tampak lusuh dengan ditutupi matras. Ketiga adiknya sangat mengandalkan kakak kedua mereka, Tasripin, yang setiap hari harus bekerja di sawah dengan mencangkul, membersihkan sisa-sisa padi serta menanam padi bersama warga desa pada saat masa tanam ”Ibu sudah meninggal dan bapak bekerja di Kalimantan bersama kakak",kata Tasripin, jumat (12/4/2013).
kasus
61 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI Hampir setiap hari, Tasripin mesti pergi ke sawah untuk mencari uang demi menghidupi ketiga adiknya. Para tetangga sekitar yang simpati dengan keadaan Tasripin pun kadang sering membantu menberikan nasi maupun lauk pauk bagi bocah-bocah tersebut. Tak jarang mereka hanya makan dengan nasi seadanya namun tampak nikmat. “Kalau berangkat ke sawah jam 7 pagi dan pulang jam 12 siang. Kadang sehari dapet Rp. 30 - 40 ribu sehari. Itu beli beras dan sayur. Sisanya untuk jajan adik,” jelas bocah yang telah putus sekolah itu. Pagi sebelum dia berangkat ke sawah, Tasripin harus memasak nasi dan sayur untuk adik-adiknya. Selain memasak, dia juga harus mencuci pakaian, menyapu serta memandikan adik-adiknya. Tapi bukan hanya sekedar memandikan dan memberikan makan untuk adiknya, dia pun bertanggung jawab terhadap akhlak adik-adiknya dengan mengajak adik-adik-adiknya salat dan mengaji di musala depan rumahnya.
Sumber: http://news.detik.com/read/2013/04/13/060333/2219273/10/kisah-tasripin-bocah-12-tahun-yang-harus-menghidupi-ketiga-adiknya
lemBar kerja (lk): 12.2
nama Permainan : Permainan “bola Keberuntungan”
Perlengkapan : bola, Kertas plano (sudah ditempel
di tembok), spidol
lama permainan : 10 menit Pemain : Seluruh Peserta
1. Fasilitator mengajak peserta untuk membuat lingkaran dan fasilitator berdirimenyatu dalam lingkaran.
2. Fasilitator menyediakan bola atau membuat benda seperti bola yang disebut dengan bola keberuntungan.
3. Fasilitator meminta peserta yang dapat menulis untuk maju ke depan untuk menuliskan apa yang disebutkan oleh peserta lain yang mendapatkan bola keberuntungan dan menuliskannya di kertas plano kosong yang sudah disediakan.
langkaH-langkaH:
62 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI
4. Fasilitator menjelaskan aturan permainan:
bola dilempar ke salah satu peserta dengan menyebutkan nama yang dituju. Peserta yang dituju wajib menangkap bola yang dilempar.
bagi peserta yang mendapatkan bola, diminta menyebutkan salah satu cara mencegah penelantaran terhadap anak.
Setelah peserta menyebutkan cara mencegah tersebut, peserta harus segera melemparkan bola ke peserta lain yang belum memperoleh bola.
Fasilitator akan memberikan kesempatan kepada peserta (menunggu) untuk tetap menjawab, apapun jawabannya. Tidak ada jawaban yang salah.
TRIbUNNewS.CoM, jAKARTA: IbU KANDUNG MelACURKAN ANAK— eksploitasi yang dilakukan ibu kandung terhadap anaknya yang terjadi di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau akhirnya dilaporkan ke Mabes Polri setelah sebelumnya mengadu ke Komnas Perlindungan Anak.
Seorang anak perempuan berusia 16 tahun sebut saja eS didamping ayah kandungnya dan pengacaranya melaporkan ibu kandungnya berinisial jan dengan pasal 88 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. laporannya yang dibuat ayah kandungnya tersebut lemBar kerja (lk): 12.3
kasus 1
63 Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI diterima polisi dengan nomor laporanTbl/70/II/2014/bareskrim tertanggal 12 Februari 2014.Kuasa hukum eS, Riki Rikardo Manik mengungkapkan kasus eksploitasi anak tersebut bermula saat orangtua kandung eS bercerai pada 2011 silam.
eS pun atas permintaan ibunya diasuh ibu kandungnya. Tetapi bukan kasih sayang yang eS dapatkan, justru eS dijadikan mesin uang dengan menjadi penyanyi di sejumlah kafe di Tanjung Pinang. Dengan berpakaian seksi, eS dijadikan sang ibu sebagai penyanyi kafe, bahkan ia pun harus melayani tamu-tamu hidung belang di kafe seusai menyanyi. Meskipun eS bisa menjaga dan menolak ajakan nafsu birahi para pria yang berkunjung ke kafe, tetapi ia kerap diraba-raba pria-pria nakal bahkan pada bagian tubuh sensitifnya. Sang ibu disebutkan selalu menemaninya di kafe dan melihat anaknya digoda para pria hidung belang.”Dia terpaksa untuk mengikuti keinginan ibunya untuk bernyanyi di cafe sampai larut malam dengan baju yang seksi dan mengenakan rok mini, setelah itu menemani tamu-tamu kafe,” kata Riki saat ditemui di Gedung bareskrim, Rabu (12/2014). Ia tidak bisa berbuat apa-apa dan bingung harus kemana mengadu ditengah tekanan sang ibu. bila menolak, maka kekerasan yang akan diberikan sang ibu kepadanya. bahkan suatu saat pernah rambutnya dijambak sang ibu hingga rambutnya lepas dan kepalanya berdarah.
Perlakuan sang ibu, membuat eS pun harus berhenti dari sekolah. Uang yang ia dapatkan setiap malam antara Rp 3 juta hingga Rp 4 juta harus disetorkan seluruhnya kepada sang ibu tanpa tahu digunakan untuk apa. Di rumah pun eS tidak bisa keluar masuk rumah secara bebas karena pintu rumah selalu digembok sang ibu. Dua tahun lebih, eS hidup dalam penderitaan, akhirnya ia pun melarikan diri dari rumah ibunya dan pergi ke rumah temannya pada oktober 2013. Ia pun kemudian mencari perlindungan di Rumah Perlindungan Sosial Anak di Tanjung Pinang.
Setelah itu, barulah eS diserahkan kepada ayah kandungnya berinisial HN.Tidak terima perlakukan ibu kandung eS yang memanfaatkan