• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS TINGKAT KEMANDIRIAN EFEKTIVITAS dan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS TINGKAT KEMANDIRIAN EFEKTIVITAS dan"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

S

EFISIENSI PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) PADA

PEMERINTAH KABUPATEN MOROWALI

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI ENAM-ENAM

(STIE-66)

(2)

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Arson Abd. Rasyid Nunu

NPM : 0 7 6 6 0 1 0 9 8

Jurusan/Program Studi : Manjemen Keuangan dan Perbankan

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar

merupakan hasil karya sendiri.

Apabilah di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini ciplakan

maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Kendari,...2011

Yang membuat pernyataan,

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur hanya kepada Allah SWT semata, atas segala

keridohan-Nya, sehingga penulis mampu menyusun dan menyeleaikan skripsi

ini sesuai dengan harapan penulis. Salawat dan Taslim hanya tercurahkan

kepada Beliau Baginda Nabi Besar Rasullulah Muhamad SAW yang

membimbing dan mengantarkan umat manusia dari zaman kejahiliaan menuju

pada kehidupan yang penuh dengan petunjuk-petunjuk kebenaran.

Ucapan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada

Ayahanda (Abd. Rasyid Nunu), dan Ibunda (Sahara, L) yang penulis tidak akan

mampu membayar atas segalah Do’a, kesabaran, membesarkan dan menuntun

penulis hingga dewasa seperti sediakalah dengan penuh perhatian dan

penantian panjang menanti penulis hingga selesai kuliah di STIE-66 Kendari.

Dalam penyusunan skripsi dengan judul “Analisis Tingkat

Kemandirian, Efektivitas dan Efisiensi Pendapatan Asli Daerah Pada

Pemerintah Kabupaten Morowali”, penulis banyak menemui hambatan mulai

dari tahap penyusunan proposal, penelitian sampai pada penyusunan hasil.

Namun atas izin Allah SWT ditambah keteguhan, kesabaran dan komitmen

penulis mampu melalui semua itu.

Melalui kesempatan ini, penulis menghanturkan rasa terima kasih

yang setinggi-tingginya kepada:

(4)

2. Bapak Sudarmanto, SE, M.Si, selaku Ketua STIE-66 Kendari.

3. Bapak Bakhtiar Abbas, SE, M.Si, selaku Wakil Ketua STIE-66 Kendari.

4. Muh. Nur, SE.,M.Si, selaku Ketua Program Studi Manajemen STIE-66

Kendari.

5. Bapak Jamal Nasir Baso, SE, M.Si, selaku Pembimbing I penulis yang

banyak memberikan masukan dan arahan demi kesempurnaan karya tulis

ini

6. Bapak Akri Eko Yulianto, SE, M.Si, selaku Pembimbing II Penulis yang

banyak memberikan masukan dan arahan demi kesempurnaan karya tulis

ini.

7. Para Dosen Penguji, yang telah memberikan masukan dan koreksi yang

sifatnya positif demi kesempurnaan karya tulis ilmiah ini.

8. Bapak H. Azis Muthalib, SE, M.Si, selaku Kepala P3M STIE-66 Kendari

9. Bapak Muh. Armawaddin, SE, M.Si, selaku Kepala Bidang Penelitian,

Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (P3M) STIE-66 Kendari

10. Kawan-kawan seperjuangan mahasiswa (Saudara Taswan/Orator

Lapangan, Abdul Zipur, Ahmadi Sidik dan Heriswanto yang Inya Allah

akan menahkodai Badan Esekutif Mahasiswa STIE-66 Kendari pada

masa-masa yang akan datang). Amin ...!!!

Akhir kata dari penulis “Tak ada gading yang tidak bisa patah”,

olehnya itu penulis dengan terbuka menerima saran, kritikan dan masukan

(5)

Kendari, ...2011

(6)

ABSTRAK

Arson Abd. Rasyid Nunu, 2011. Analisis Tingkat Kemandirian, Efektivitas dan Efisiensi Pendapatan Asli Daerah Pada Pemerintah Kabupaten Morowali. Hasil Penelitian. Jurusan Manajemen Keuangan, Program Sarjana, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Enam-Enam Kendari. Pembimbing: I: Jamal Nasir Baso, dan II: Akri Eko Yulianto.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat Kemandirian, Efektivitas dan Efisiensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pada Pemerintah Kabupaten Morowali dari tahun 2007 s/d 2009. Analisi yang digunakan adalah analisi rasio keuangan daerah dengan dasar-dasar kriteria tertentu.

Dimana kriteria kemandirian daerah adalah jika nilai rasio 0%-25% (rendah sekali), 25%-50% (rendah), 50%-75% (sedang), dan 75%-100% (tinggi). Kriteria efektivitas yaitu jika nilai rasio X<100% (tidak efektif), X=100% (efektivitas berimbang), dan X>100% (efektif). Sementara kriteria efesiensi yaitu apabila nilai rasio yang dicapai kurang dari 1 (satu) atau X<100% (dikatakan efisien).

Adapun jenis data yang digunakan adalah data primer (data yang di peroleh melalui hasil wawancara) dan data sekunder (data laporan Realisasi APBD Pemerinta Kabupaten Morowali). Sementara prosedur dalam penelitian ini adalah mengurus surat penelitian pada Kantor KESBANG Pemerintah Kabupaten Morowali, pendokumentasian, dan interview.

Bedasarkan hasil analisis rasio yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa tingkat kemandirian rata-rata Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kabupaten Morowali dari tahun 2007 s/d 2009 rendah sekali yaitu berada pada kisaran 0%-25% atau 1,67<100%. Tingkat kemampuan Pemerintah Kabupaten Morowali dalam mencapai target (efketivitas) Pendapatan Asli Daerah secara rata-rata dari tahun 2007 s/d 2009 dapat dikatakan tidak efektif yaitu hanya 53,07% atau X<100%. Sementara tingkat kemampuan Pemerintah Kabupaten Morowali dalam menekan biaya pemungutan (efisiensi) Pendapatan Asli Daerah secara rata-rata dari tahun 2007 s/d 2009 dikatakan efisien yaitu 2,81% atau X<100%.

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN PERSETUJUAN ... i

PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN SKRIPSI ... . ii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... iii KATA PENGANTAR ... iv ABSTRAK ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR SKEMA ... ix

DAFTAR TABEL ... x

BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang ... 1

1.2Perumusan Masalah ... 5

1.3Tujuan Penelitian ... 5

1.4Manfaat Penelitian ... 5

1.5Ruang Lingkup Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu ... 7

2.2 Dasar Hukum Pengelolaan Keuangan Dearah ... 8

2.3 Struktur APBD ... 11

2.4 Sumber-sumber Pendapatan dan Pembiayaan Daerah ... 12

2.5 Pendapatan Asli Daerah (PAD) ... 13

(8)

2.7 Kerangka Pikir ... 26

2.8 Hipotesis ……….. 27

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian ... 28

3.2 Jenis dan Sumber Data ... 28

3.3 Instrumen Penelitian ... 29

3.4 Prosedur Pengumpulan Data ... 29

3.5 Analisis Data ... 30

3.6 Defenisi Operasional Variabel ... 32

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum ... 34

4.2 Analisis Deskriptif ... 41

4.3 Kajian Analisis Tingkat Rasio Keuangan Kabupaten Morowali ... 45

4.4 Pembahasan ... 49

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 60

5.2 Saran ... 61

DAFTAR PUSTAKA

(9)

DAFTAR SKEMA

Skema Halaman

2.1 Skema Kerangka Pikir Penelitian ...

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1.1 Tingkat Pendapatan Kabupaten Morowali Setelah Perubahan

... 4

2.1 Pola Hubungan dan Tingkat Kemandirian Daerah

... 22

2.2 Biaya Target, dan Realisasi Penerimaan Pajak, dan Retribusi Daerah yang Dilaksanakan DISPEMDA Kabupaten Bayolali Tahun Anggaran 1998/1999 dan 1999/2000

... 25

4.1 Registrasi Penduduk Daerah Kabupaten Morowali Tahun 2004 s/d 2009

... 37

4.2 Biaya-Biaya Dalam Memungut PAD Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun 2007 s/d 2009

... 40

4.3 Penerimaan Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun Anggaran 2007

...

41

4.4 Penerimaan Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun Anggaran 2008

... 42

4.5 Penerimaan Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun Anggaran 2009

... 43

4.6 Tingkat Rata-rata Kemandirian, Efektivitas dan Efisiensi PAD Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun Anggaran 2007 s/d

(11)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejak di berlakukanya Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009

tentang Otonomi Daerah yang diberlakukan mulai Tahun 2000 adalah

merupakan angin segar bagi masyarakat Indonesia secara umum terutama

Pemerintah Daerah dalam mengurusi daerahnya sendiri. (Halim, 2007:1).

Seiring dengan berjalanya agenda reformasi, sistem otonomi

daerah semakin di pertajam yaitu dengan diberlakukannya Undang

Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah yang

menghendaki penyelenggaraan otonomi secara luas, nyata, dan

bertanggungjawab. Disamping itu juga penyelenggaraan otonomi daerah

harus didasarkan pada prinsip-prinsip demokrasi, peran serta, musyawarah,

pemerataan dan keadilan, serta memperhatikan potensi dan keaneka

ragaman daerah. (Abdullah, 2003:18).

Pada dasarnya terkandung tiga misi utama pelaksanaan otonomi

daerah dan desentralisasi fisikal yaitu: (1) Meningkatkan kualitas dan

kuantitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat, (2) Menciptakan

efisiensi dan efektifitas pengelolaan sumber daya daerah, dan (3)

Memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat (publik) untuk

berpartisipasi dalam pembangunan. (Mardiasmo, 2002:59).

Tujuan otonomi daerah di bedakan dari dua sisi kepentingan yaitu

(12)

Pusat adalah pendidikan, politik, pelatihan kepemimpinan, menciptakan

stabilitas politik dan mewujudkan demokrasi sistem pemerintah di daerah.

Sementara dari sisi kepentingan Pemerintah Daerah yaitu:

1. Untuk mewujudkan political equality, yaitu melalui otonomi daerah

diharapkan akan lebih membuka kesempatan bagi masyarakat untuk

berpartisipasi dalam berbagai aktivitas politik di tingkat lokal atau

daerah

2. Menciptakan local accontability, yaitu melalui otonomi daerah akan

meningkatkan kemampuan pemerintah dalam memperhatikan hak-hak

masyarakat, dan

3. Untuk mewujudkan local resposiveness, artinya dengan otonomi

daerah diharapkan akan mempermudah antisipasi berbagai masalah

yang muncul dan sekaligus meningkatkan akselerasi pembangunan

nasional dan ekonomi daerah. (Halim, 2004:23 dalam Smith, 1985).

Untuk menjamin terselenggarakannya sistem otonomi di daerah

dengan baik, maka kosekuensinya adalah diberlakukannya Undang

Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara

Pemerintah Pusat dan Daerah. Hal ini sangat membuka kesempatan yang

luas bagi pemerintah daerah dalam mengurusi daerahnya secara mandiri.

(Halim, 2004:1).

Pada lembaran negara Tahun 1956 Nomor 77 Perimbagan

Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sebenarnya

(13)

pada kenyataanya tidak begitu berkembang dikarenakan belum siapnya

Daerah-daerah mengadakan aparatur sendiri. (Abdillah, 2003:137 dalam

Muslim, 1960).

Suatu daerah dapat dikatakan mandiri, Pertama jika daerah tidak

lagi bergantung pada dana bantuan dan intervensi dari pemerintah pusat.

Kedua, jika daerah mampu membiayai penyelenggaraan pemerintahan

melalui dana yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) tersebut.

Berbagai penelitian empiris hingga saat ini masih membuktikan bahwa

angka ketergantungan daerah pemerintah pusat (khususnya dalam hal

pendanaan APBD) masih tinggi.

(http://chasism.blogspot.com/2010/08/otonomi-daerah-sebagai-peluang.html).

Disamping itu Pemerintah sangat mengharapakan daerah Provinsi

dan Kabupaten/Kota yang telah dimekarkan dapat menggali dan mengelola

sumber-sumber Pendapatan Asli Daerahnya mampu secara efektif dan

efisien.

Harapan besar Pemerintah Daerah untuk dapat membangun

daerah berdasarkan kemampuan dan kehendak daerah sendiri ternyata dari

tahun ketahun dirasakan oleh beberapa daerah otonom jauh dari harapan,

malah yang terjadi adalah wujud ketergantungan fiskal dan subsidi serta

bantuan Pemerintah Pusat yang merupakan cerminan atas ketidak

berdayaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam membiayai Belanja

(14)

Pengalaman menunjukan bahwa hampir semua daerah persentase

Pendapatan Asli Daerah (PAD) relatif kecil. Umumnya APBD suatu

daerah di Indonesia didominasi oleh sumbangan Pemerintah Pusat dan

Sumbangan Lain-lain yang diatur dalam Perundang-undangan. Hal ini

menyebabkan daerah sangat tergantung pada Pemerintah Pusat, sehingga

kemampuan daerah untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki

menjadi sangat terbatas. (Mahai, 2000:58).

Kabupaten Morowali adalah salah-satu daerah Kabupaten/Kota di

Provinsi Sulawesi Tengah yang pemekaran daerahnya berdasarkan

Undang Undang Nomor 15 Tahun 1999, Ibu Kota Kabupaten terletak di

Bungku. (Freewebs, 2011).

Berikut tingkat Pendapatan Kabupaten Morowali setelah

Perubahan Anggaran, mulai dari Tahun Anggaran 2007 s/d Tahun

Anggaran 2009 dapat di sajikan pada tabel 1.1 sebagai berikut:

Tabel 1.1 Tingkat Pendapatan Kabupaten Morowali Setelah Perubahan Tahun 2007 s/d 2009.

No. Uaraian Tahun Anggaran

2007 2008 2009

(15)

Berdasarkan uraian latar belakang yang ada, penulis berkeinginan

untuk melakukan penelitian di Kabupaten Morowali dengan judul A alisis

Tingkat Kemandirian, Efektifitas, dan Efisiensi Pendapatan Asli Daerah Pada

Pemerintah Kabupaten Morowali .

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang, maka permasalahan dalam

pe elitia i i adalah Bagai a a Tingkat Kemandirian, Efektifitas, dan Efisiensi

Pendapatan Asli Daerah Pada Pemerintah Kabupaten Morowali, Tahun Anggaran

2007 s/d Tahun 2009? .

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah

untuk menganalisis Tingkat Kemandirian, Efektivitas, dan Efisiensi

Pendapatan Asli Daerah Pada Pemerintah Kabupaten Morowali”, Tahun

Anggaran 2007 s/d Tahun 2009.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapakan dari penulis dalam penelitian

ini diuraikan sebagai berikut:

1. Bagi penulis adalah sebagai jalan untuk memperluas wawasan atas

pengaplikasian ilmu yang di pelajari.

2. Bagi peneliti selanjutnya, dapat dijadikan sebagai dasar acuan dalam

(16)

3. Bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali khususnya instansi

terkait sebagai dasar acuan dalam mengambilan suatu kebijakan

daerah.

1.5 Ruang lingkup penelitian

Agar penelitian yang dilakukan dapat lebih terarah, maka penulis

membatasi ruang lingkup penelitian ini sebagai berikut:

1. Tingkat kemandirian, dipandang dari tingkat kemampuan Pendapatan

Asli Daerah (PAD) dalam membiayai urusan Pemerintahan,

Pembangunan, dan Pelayanan pada masyarakat Pemerintah Kabupaten

Morowali Tahun 2007 s/d 2009.

2. Tingkat efektivitas, dipandang dari tingkat kemampuannya dalam

merealisasikan target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang telah

ditetapkan Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun 2007 s/d 2009.

3. Tingkat efisiensi, dipandang dari tingkat kemampuanya menekan

biaya yang di keluarkan dalam memungut Pendapatan Asli Daerah

(PAD) yang dicapai Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun 2007 s/d

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Suprapto,

2006 dengan judul “Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah

Kabupaten Sleman Dalam Masa Otonomi Daerah Tahun Anggaran

2000-2004”, dengan kesimpulan sebagai berikut:

1. Tingkat kemandirian Pemda Kabupaten Sleman hanya memcapai

rata-rata 11,99% sehingga pola hubungan tingkat kemandirian daerah

adalah interuktif .

2. Rasio efektivitas pendapatan daerah Kabupatan Sleman rata-rata

sebesar 117,65% dengan demikian pemungutan Pendapatan Asli

Daerah cenderung efektif, karena kontribusi diberikan terhadap target

yang di inginkan lebih dari 100%.

3. Rasio efisiensi pungutan Pendapata Asli Daerah Kabupaten Sleman

rata-rata sebesar 6,7% dan setiap tahun anggaran mengalami

penurunan sebesar 1,384%. Hal ini menunjukan bahwa pemungutan

Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Sleman dari tahun ketahun

semakin efisien.

Persamaan penelitian yang dilakukan penulis dengan penelitian

(18)

kemandirian, rasio efektivitas dan rasio efesiensi. Sedangkan letak

perbedaan yaitu pada lokasi penelitian yaitu pada Kabupaten Morowali.

2.2 Dasar Hukum Pengelolaan Keuangan Daerah

Menurut Pasal 1 ayat (6) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun

2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Berikut dasar hukum

pengelolaan keuangan daerah adalah sebagai berikut:

Undang-Undang

1. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak dan Retribusi

Daerah.

2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.

4. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan

Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. (Darise, 2009:26).

Peraturan Pemerintah

1. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah.

2. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah.

3. Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2005 tentang Tata Cara

Penghapusan Piutang Negara/Daerah.

4. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan

(19)

5. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman

Daerah.

6. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana

Perimbangan.

7. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi

Keuangan Daerah.

8. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan

Keuangan Daerah.

9. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan

Barang Milik Daerah/Negara.

10.Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Laporan Keuangan

dan Kinerja Instansi Pemerintah.

11.Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Tata Cara

Penyelesaian Ganti Kerugian Negara Terhadap Bendahara.

12.Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan

Penyelenggaraan Pemerintah Daerah kepada Pemerintah, Laporan

Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada Dewan

Perwakilan Rakyat Daerah, dan informasi Laporan Penyelenggaraan

Pemerintahan Daerah Kepada Masyarakat.

13.Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian

Urusan Pemerintahan, antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah

(20)

14.Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan

Uang Negara/Daerah.

15.Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi

Perangkat Daerah.

16.Peraturan Pemerintah Nomor 50 tahun 2007 tentang Tata Cara

Pelaksanaan Kerja Sama Daerah.

17.Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 tentang perubahan atas

Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan

Barang Milik Negara/Daerah. (Darise, 2009:26-27).

Peraturan Menteri Dalam Negeri

1. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006 tentang

Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

2. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang

Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah.

3. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2007 tentang

Pengelompokan Kemampuan Keuangan Daerah, Penganggaran dan

Pertanggungjawaban Penggunaan Belanja Penunjang Operasional

Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah serta Tata Cara

Pengembalian Tunjangan Komunikasi Intensif Dan Dana Operasional.

4. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 23 Tahun 2007 tentang

Pedoman Tata Cara Pengawasan atas Penyelenggaraan Pemerintahan

(21)

5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 30 Tahun 2007 tentang

Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman Penyusunan

Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2008.

6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang

Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun

2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Negara.

7. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007 tentang

Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum.

8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2009 tentang

perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 23 Tahun

2007 tentang Pedoman Tata Cara Pengawasan Atas Penyelenggaraan

Pemerintah Daerah.

2.3 Struktur APBD

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, yang selanjutnya

disingkat APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintah daerah

yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD,

dan ditetapkan dengan peraturan daerah. (Darise, 2009:129).

Adapun struktur APBD adalah merupakan suatu kesatuan yang

terdiri dari:

1. Pendapatan Daerah;

2. Belanja Daerah; dan

(22)

Sedangkan selisih antara Anggaran Pendapatan Daerah dan

Belanja Daerah dapat mengakibatkan terjadinya surplus atau defisit.

(Darise, 2008:124).

Pendapatan daerah adalah meliputi semua penerimaan uang

melalui Rekening Kas Umum Daerah, yang menambah ekuitas dana

lancar, yang merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak

perlu dibayar kembali oleh daerah. (Darise, 2009:130).

Belanja daerah adalah meliputi semua pengeluaran dari rekening

Kas Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar, yang merupakan

kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh

pembayarannya kembali oleh Daerah. Belanja daerah dapat dikelompokan

menjadi dua kelompok belanja yaitu belanja langsung dan belanja tidak

langsung. Belanja langsung adalah belanja yang penganggarannya

dipengaruhi secara langsung oleh adanya program atau kegiatan.

Sedangkan belanja tidak langsung adalah belanja yang penganggarannya

tidak dipengaruhi secara langsung oleh adanya usulan program atau

kegiatan. (Darise, 2009:131).

2.4 Sumber-Sumber Pendapatan dan Pembiayaan Daerah

Menurut Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang

Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang

Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah,

sumber Pendapatan daerah terdiri atas:

(23)

2. Dana Perimbangan

3. Lain-lain pendapatan daerah yang sah.

4. SILPA

5. Pinjaman

6. Cadangan

7. Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang dipisahkan. (Darise, 2008:45).

2.5 Pendapatan Asli Daerah

Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan daerah yang

berasal dari sumber-sumber keuangan daerah, retribusi daerah, bagian laba

BUMN, penerimaan Dinas-Dinas dan penerimaan lain-lain.

(Widarta,2000:4).

Sedangkan PerMandagri Tahun 2006 menjelaskan bahwa

Pendapatan Asil Daerah meliputi :

a. Pendapatan Pajak Daerah

b. Pendapatan Retribusi Daerah

c. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan

d. Lain-lain Pendapatan Asil Daerah yang sah, yang Meliputi:

(1) Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan

(2) Hasil pendapatan atau pendayagunaan kekayaan daerah yang tidak

dipisahkan

(3) Jasa Giro

(24)

(5) Tuntutan Ganti Rugi

(6) Keuntungan Selisih Nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing,

dan

(7) Komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari

penjualan dan /atau pengadaan barang dan jasa oleh daerah.

Selain itu dikeluarkan PP Nomor 66 tentang retribusi daerah yang

memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk memumgut 11

jenis pajak (kecuali Provinsi) dan retribusi lainnya sesuai kriteria-kriteria

tertentu yang di tetapkan dalam Undang-Undang. (Prakosa,2005:25)

2.5.1 Pajak Daerah

Secara umum (Resmi, 2009:1-2) pajak terdapat beberapa

pendefinisian yaitu sebagai berikut :

Definisi pajak yang dikemukakan oleh Rochamat Soemitra:

Pajak adalah iuran rakyat kepada Kas Negara berdasarkan

undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak

mendapatkan jasa timbal balik (Kontraprestasi) yang

langsung dapat ditunjukan, dan digunakan untuk membayar

pengeluaran umum.

Definisi pajak yang dikemukakan oleh Djajadiningrat:

Pajak sebagai suatu kewajiban menyerahkan sebagian dari

(25)

Kejadiaan dan perbuatan dan memberikan kedudukan

tertentu, tetapi bukan sebagai hukuman, menurut peraturan

yang ditetapkan pemerintah serta dapat dipaksa, tetapi tidak

ada jasa timbal balik dari Negara secara langsung, untuk

memelihara kesejahteraan umum

Definisi pajak yang dikemukan oleh Feldman:

Pajak adalah prestasi yang secara sepihak oleh dan terutama

kepada penguasa (Menurut norma-norma yang ditetapkan

secara umum), tanpa adanya kontarpretasi, dan semata-mata

digunakan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran umum.

Sementara dalam konteks daerah, pajak daerah adalah

pajak-pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah (misal:

Provinsi, Kabupaten/Kota) yang diatur berdasarkan peraturan

daerah masin-masing dan hasil pungutannya digunakan untuk

pembiayaan rumah tangga daerah. (Prokosa, 2005:1)

Menurut Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 yang

merupakan pembaharuan dari Undang Undang Nomor 18 Tahun

1997, Pajak Daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang

pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang

(26)

Pemberian kewenangan dalam pengenaan pajak dan

ritribusi daerah, diharapkan dapat lebih mendorong Pemerintah

Daerah dalam mengoptimalkan Pendapatan Asil Daerah (PAD)-nya

dalam membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan

pembangunan daerah, khususnya yang berasal dari pajak daerah

dan retribusi daerah. (Sidik, 2006: 2).

Pajak Provinsi ditetapkan sebanyak 4 (empat) jenis pajak,

yaitu:

i. Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air (OKB

& KAA)

ii. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas

Air (BBNKB & KAA);

iii. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB);

iv. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah tanah dan

Air Permukaan (P3ABT & AP).

Sedangkan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota

diberikan kewenangan untuk memungut 7 (tujuh) jenis pajak

, yaitu:

i. Pajak Hotel

ii. Pajak Restoran

iii. Pajak Hiburan

(27)

v. Pajak Penerangan Jalan

vi. Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C, dan

vii. Pajak Parkir; (Sidik, 2006:5)

2.5.2 Retribusi Daerah

Retribusi daerah yang selanjutnya disebut retribusi adalah

pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin

tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh

pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

Retribusi dikelompokan menjadi:

(1) Retribusi Jasa Umum, yaitu retribusi atas jasa yang disediakan

atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk tujuan

kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh

orang pribadi atau badan.

(2) Retribusi Jasa Usaha, yaitu retribusi atas jasa yang disediakan

atau diberikan oleh pemerintah daerah dengan menganut

prinsip komersial karena pada dasarnya dapat pula disediakan

oleh sektor swasta.

(3) Retribusi Perizinan Tertentu, yaitu retribusi atas kegiatan

tertentu pemerintah daerah dalam rangka pemberian izin

kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk

pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas

kegiatan pemanfaatan ruang, pengguaan sumber daya alam,

(28)

melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian

lingkungan. (Darise, 2009:67).

Retribusi (Resmi 2009:2) adalah pungutan yang dikenakan

sehubungan dengan suatu jasa atau fasilitas yang diberikan oleh

pemerintah secara langsung dan nyata kepada pembayaran.

Contohnya: Parkir, Pasar, jalan tol, dan lain-lain.

2.5.3 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan

Berdasarkan Undang-Undang tentang Keuangan Negara,

kekuasaan atas pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan,

dilaksanakan oleh wakil pemerintah. Kepemilikan kekayaan negara

yang dipisahkan yaitu dikuasakan kepada Menteri Keuangan.

Sedangkan pengelolaan dananya bersumber dari APBD, yang

diserahkan kepada Gubernur/Bupati/Walikota selaku Kepala

Pemerintahan daerah sehingga timbul hak dan kewajiban daerah

terhadap BUMD/BUMN.

Terdapat dua aspek dalam pengelolaan kekayaan negara

yang dipisahkan yaitu (1) Kekayaan negara di kelolah secara

tersendiri menurut ketentuan yang berlaku bagi suatu perusahaan

oleh manajemen BUMN/BUMD, dan (2) Berkenaan dengan

pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan ini, pemerintah

bertindak sebagai pemegang saham yang memiliki perwakilan

(29)

Jenis hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan

terdiri dari:

1. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik

daerah/BUMD;

2. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik

pemerintah/BUMN; dan

3. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik

swasta atau kelompok usaha masyarakat; (Darise, 2009:72).

2.5.4 Lain-lain PAD Yang Sah

Jenis Lain-lain Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sah

antara lain:

1. Hasil penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan secara tunai

atau angsuran;

2. Hasil pemanfaatan atau pendayagunaan kekayaan daerah yang

tidak dipisahkan;

3. Jasa giro;

4. Pendapatan bunga;

5. Penerimaan atas tuntutan ganti rugi;

6. Penerimaan komisi, potongan ataupun bentuk lain sebagai

akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa

oleh daerah;

7. Penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiah terhadap

(30)

8. Pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan;

9. Pendapatan denda pajak dan retribusi;

10. Pendapatan hasil eksekusi atas jaminan;

11. Pendapatan dari pengembalian;

12. Fasilitas sosial dan fasilitas umum;

13. Pendapatan dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan;

14. Pendapatan dari Badan Layanan Umum Daerah (BUMD).

(Darise, 2009:73).

Sementara dalam PerMendagri Tahun 2006 menyebutkan

bahwa “Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah”, meliputi:

(1) Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan;

(2) Hasil pemanfaatan atau pendayagunaan kekayaan daerah yang

tidak dipisahkan;

(3) Jasa giro;

(4) Pendapatan bunga;

(5) Tuntutan ganti rugi;

(6) Keuntungan selisi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing;

dan

(7) Komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari

penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh

daerah.

(31)

2.6.1 Rasio Kemandirian Keuangan Daerah

Kemandirian keuangan daerah (otonomi fiskal)

menunjukan kemampuan Pemerintah Daerah dalam membiayai

sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan

kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi dan

sumber-sumber pendapatan lain yang sah sebagai sumber

pendapatan yang di perlukan daerah. Kemandirian keuangan daerah

ditunjukan oleh besar kecilnya Pendapat Asli Daerah (PAD) di

bandingkan dengan pendapatan daerah yang berasal dari sumber

yang lain misal, bantuan Pemerintah Pusat atau dari Pinjaman.

(Halim, 2004:284).

Pendapat Asli Daerah (PAD) masih belum bisa

diandalkannya sebagai sumber pembiayaan desentralisasi

dikarenakan beberapa hal yaitu:

1. Relatif besarnya basis pajak/retribusi daerah.

2. Perannya yang tergolong kecil dalam total penerimaan daerah.

3. Kemampuan administrasi pemungutan di daerah yang masih

rendah.

4. Kemampuan perencanaan dan pengawasan keuangan yang

lemah. (Mahai, 2000:59).

Semakin tingginya rasio kemandirian mengandung arti

bahwa tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak

(32)

dan demikian juga sebaliknya. Rasio kemandirian dapat di

Sebuah pedoman dalam melihat pola hubungan daerah

dari sisi keuangan dapat dikemukakan pada tabel berikut:

Tabel 2.1 Pola Hubungan dan Tingkat Kemampuan Daerah

Kemampuan

Keuangan

Kemandirian (%) Pola Hubungan

Rendah Sekali

Sumber: (Halim, 2010:34 dalam Nadeak, 2003).

Berpatokan pada Undang Undang Nomor 33 Tahun 2004

tentang “Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan

(33)

hubungan situasional yang dapat digunakan dalam pelaksanaan

otonomi daerah yang berkaitan dengan tingkat kemandirian daerah

yaitu:

1. Pola hubungan instruktif, yaitu peran Pemerintah Pusat lebih

dominan dari pada kemandirian Pemerintah Daerah.

2. Pola hubungan konsultatif, yaitu campur tangan Pemerintah

Pusat sudah mulai berkurang, karena daerah telah dianggap

mampu melaksanakan otonomi daerah.

3. Pola hubungan partisipatif, yaitu peran Pemerintah Pusat

semakin berkurang mengingat daerah yang bersagkutan tingkat

kemandiriannya mendekati mampu melaksanakan otonomi

daerah.

4. Pola hubungan delegatif, yaitu campur tangan Pemerintah

Pusat sudah tidak ada karena daerah telah benar-benar mandiri

dalam melaksanakan otonomi daerah. (Halim, 2002:169).

2.6.2 Rasio Efektivitas Pendapatan Asli Daerah

Efektivitas adalah pemanfaatan sumber daya, sarana dan

prasarana, dalam jumlah tertentu yang secara sadar di tetapkan

sebelumnya untuk menghasilkan sejumlah barang atas jasa

kegiatan yang dijalankan. Efektivitas menunjukan keberhasilan dari

segi tercapai dan tidaknya sasaran yang telah ditetapkan. Jika hasil

kegiatan semakin mendekati sasaran, berarti semakin tinggi

(34)

Sedangkan Abdurahmat (2003), efektivitas adalah

pemantapan sumber daya, sarana dan prasarana dalam jumlah

tertentu yang secara sadar ditetapkan sebelumnya untuk

menghasilkan sejumlah pekerjaan tepat pada waktunya. (Yozerizal,

2011:1).

Rasio efektivitas menggambarkan kemampuan Pemerintah

Daerah dalam merealisasikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang

direncanakan dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan

berdasarkan potensi ril daerah. Kemampuan daerah dalam

menjalankan tugas dikategorikan efektif apabila rasio yang dicapai

minimal 1 (satu) atau 100 persen. Namun demikian semakin tinggi

rasio efektivitas menggambarkan kemampuan daerah yang semakin

baik.

Rumus:

(Halim, 2004:285).

Berikut dasar untuk menentukan tingkat efektifitas

Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah dengan kriteria sebagai

berikut:

1. Jika diperoleh nilai kurang dari 100% (X<100%), berarti tidak

(35)

2. Jika diperoleh nilai sama dengan 100% (X =100%), efektivitas

berimbang.

3. Jika diperoleh nilai lebih dari 100% (X>100%), berarti efektif.

(Hasmiati, 2010:44 dalam Halim, 2011:129).

2.6.3 Rasio Efisiensi Pendapatan Asli Daerah

Efisiensi untuk memperoleh ukuran rasio efektivitas

daerah yang lebih baik, perlu diperbandingkan dengan rasio

efisiensi adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara

besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh Pendapatan

Asli Daerah (PAD) dengan realisasi Pendapatan Asli Daerah

(PAD) yang diterima. (Yoserizal, 2010:36 dalam Halim 2001).

Sebagai contoh, dalam penelitian ini diberikan

perhitungan rasio efektivitas dan rasio efisiensi yang dicapai oleh

Dinas Pendapatan Daerah yang tugas pokok dan fungsinya

melakukan pemungutan pajak dan retribusi adalah sebagai berikut:

Tabel 2.2 Biaya, Target dan Realisasi Penerimaan Pajak dan Retribusi Daerah Yang Dilakukan DISPEMDA Kabupaten

Bayolali Tahun Anggaran 1998/1999 dan 1999/2000

No. Keterangan T.A 1998/1999 1999/200

Target Realisasi Target Realisasi

(36)

(Halim, 2004:186).

Rasio perbandingan dapat dikategorikan efisien apabilah

rasio yang dicapai kurang dari 1 (satu) atau dibawah 100%.

Semakin kecil rasio efisiensi berarti kinerja Pemerintah Daerah

semakin baik.

Rasio efisiensi diilustrasikan dengan rumus:

(37)

2.7 Kerangka Pikir

Adapun kerangka pikir dalam penelitian ini disajikan dalam

bentuk skema berikut:

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir

Keterangan: = Fokus Penelitian

= Tidak Diteliti

Rasio Kemandirian Rasio Efektivitas Rasio Efisiensi

Analisis Data Deskriptif

(38)

2.8Hipotesis

Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka, maka hipotesis

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

“Diduga Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Morowali belum

mencapai tingkat kemandirian, efektivitas dan efisiensi yang baik” sesuai

(39)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian

Secara umum objek dalam penelitian ini adalah Laporan Realisasi

Anggaran APBD Pemerintah Kabupaten Morowali dan secara spesifik

adalah data tentang Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta biaya-biaya yang

dikeluarkan dalam memungut Pendapatan Asli Daerah (PAD), Pemerintah

Kabupaten Morowali Tahun 2007 s/d 2009.

3.2 Jenis dan Sumber Data

3.2.1 Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Data Sekunder yaitu berupa data kuantitatif dalam bentuk

angka antara lain data laporan Realisasi Anggaran APBD dan

Biaya-biaya yang dalam pemungutan Pendapatan Asli Daerah

(PAD), Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun 2007 s/d

2009.

2. Data Primer yaitu kualitatif berupa data tentang hasil

penjelasan dari Pimpinan dan Staf yang memberikan informasi

baik lisan maupun tertulis yang berhubungan dengan

(40)

3.2.2 Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

bersumber dari:

1. Dinas Pengelolaan Pendapatan dan Aset Daerah (PPKAD)

Kabupaten Morowali, berupa laporan Realisasi Anggaran

Tahun 2007 s/d 2009 dan biaya-biaya yang di keluarkan dalam

memungut Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kabupaten

Morowali.

2. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Morowali, berupa data

mengenai profil, jumlah penduduk, dan potensi potensi alam

Kabupaten Morowali

3.3 Instrumen Penelitian

Adapun instrumen atau alat pengumpulan data yang digunakan

agar penelitian ini dapat diakui keabsahanya, maka digunakan sebuah alat

perekam yang berfungsi untuk mendokumentasikan bukti-bukti penelitian

di Kabupaten Morowali.

3.4 Prosedur Pengumpulan Data

Adapun prosedur pengumpulan data dalam penlitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Mengurus surat penelitian dari kampus, ditujukan pada instansi terkait

yaitu Dinas Pengeloaan Pendapatan dan Aset Daerah (PPKAD)

(41)

2. Interview berupa wawancara dan tatap muka langsung dengan Kepala

Dinas atau Pegawai di Instansi terkait.

3. Dokumentasi, yaitu pengumpulan data-data yang dibutuhkan dalam

penelitian sebagai bahan dokumentasi

4. Waktu yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah selama tiga minggu

(Mulai tanggal 30 Mei s/d 24 Juni 2011).

3.5 Analisis Data

Untuk menjawab permasalahan yang telah dikemukakan dan

dirumuskan, maka metode analisis yang digunakan adalah metode Analisis

Rasio Keuangan Daerah yang ditunjang dengan data-data kualitatif dan

kuatitatif yang ada.

3.5.1 Rasio Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah

Berikut rumus yang digunakan dalam menghitung tingkat

kemandirian Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemerintah

Kabupaten Morowali sebagai berikut:

Rumus:

Adapun kriteria tingkat rasio kemandirian daerah adalah

sebagai berikut:

1. Apabila tingkat kemandirian 0% - 25%, berarti tingkat

(42)

2. Apabila tingkat kemandirian 25% - 50%, berarti tingkat

kemandirian daerah rendah.

3. Apabila tingkat kemandirian 50% - 75%, berarti tingkat

kemandirian daerah sedang.

4. Apabila tingkat kemandirian 75% - 100%, berarti tingkat

kemandirian daerah tinggi. (Hasmiati, 2010:34 dalam Nadeak,

2003).

3.5.2 Rasio Tingkat Efektivitas Keuangan Daerah

Adapun rumus yang digunakan dalam menghitung tingkat

rasio efektivitas Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah sebagai

berikut:

Rumus:

Berikut dasar untuk menentukan tingkat efektivitas

Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah dengan kriteria sebagai

berikut:

4. Jika diperoleh nilai kurang dari 100% (X<100%), berarti tidak

efektif.

5. Jika diperoleh nilai sama dengan 100% (X =100%), efektivitas

berimbang.

6. Jika diperoleh nilai lebih dari 100% (X>100%), berarti efektif.

(43)

3.5.3 Rasio Tingkat Efisiensi Keuangan Daerah

Rumus:

(Halim, 2004:286).

Adapun kriteria dalam menentukan tingkat rasio efisiensi

Pendapatan Asli Daerah (PAD) yaitu suatu daerah dapat dikatakan

Pendapatan Asli Daerah (PAD) efisien apabila nilai rasionya

kurang dari 1 (satu) atau kurang dari 100% . (Halim, 2004:286).

3.6 Defenisi Operasional

Untuk memperjelas arah penelitian ini, penulis memberikan

defenisi operasional sebagai berikut:

1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah semua penerimaan Pemerintah

Kabupaten Morowali yang terdiri dari Pajak daerah, Retribusi daerah,

Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan Lain-lain

PAD yang sah.

2. Rasio Kemandirian daerah adalah tingkat kemampuan Pendapatan

Asli Daerah (PAD) Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali dalam

membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan

(44)

3. Rasio efektivitas Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah tingkat

pencapaian target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang ditetapkan

Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali Tahun Anggaran 2007 s/d

2009.

4. Rasio efisiensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah tingkat biaya

yang dikeluarkan Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali dalam

memungut Rasio efisiensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam

(45)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum

Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah otonomi

terbentuk bersama dengan 2 (dua) Kabupaten lainya di Provinsi Sulawesi

Tengah berdasarkan Undang Undang Nomor 51 tahun 1999, tentang

Pembentukan Kabupaten Buol, Kabupaten Morowali, dan Kabupaten

Banggai yang dimana awalnya merupakan wilayah Kabupaten Poso.

Kabupaten Morowali resmi menjadi Kabupaten pada Tanggal 12 Oktober

1999 yang terdiri dari 8 (delapan) Kecamatan dengan Bupati terpilih

Bapak Drs. Andi Muhamad. Secara administratif luas wilayah Kabupaten

Morowali adalah +15.490,12 km2.

Pada Tahun 2003 Kabupaten Morowali dimekarkan menjadi 10

(sepuluh) Kecamatan, Tahun 2004 mengalami pemekaran sehingga

kecamatan yang semua berjumlah 10 (sepuluh) Kecamatan menjadi 13

(Tiga belas) Kecamatan, dan hingga pada Tahun 2009 dalam

kepemimpinan Bapak Bupati Terpilih Drs. Anwar Hafid Kabupaten

Morowali mengalami Pemekaran menjadi 14 (empat belas) Kecamatan .

Daerah Kabupaten Morowali dalam menyelenggarakan tugas

dan fungsi pemerintahan dibentuk beberapa Dinas Daerah dan Lembaga

(46)

menyelenggarakan pemerintahan yang disesuaikan dengan kebutuhan

daerah yaitu sebagai berikut:

a. Organisasi Dinas Daerah Kabupaten Morowali

1. Dinas Pendidikan Daerah Kabupaten Morowali

2. Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Morowali

3. Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah

Kabupaten Morowali

4. Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Kabupaten Morowali

5. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Daerah Kabupaten

Morowali

6. Dinas Pertanian, Peternakan, dan Kesehatan Hewan Daerah

Kabupaten Morowali

7. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Daerah Kabupaten Morowali

8. Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Daerah Kabupaten

Morowali

9. Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Daerah

Kabupaten Morowali

10.Dinas Perhubungan, komunikasi dan Informatika Daerah

Kabupaten Morowali

11.Dinas Pekerjaan Umum Daerah Kabupaten Morowali

12.Dinas Perumahan dan Penataan Ruang Daerah Kabupaten

(47)

13.Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Daerah Kabupaten

Morowali

14.Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata Daerah

Kabupaten Morowali.

b. Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Morowali

1. Inspektorat Daerah Kabupaten Morowali

2. Badan Perencanaan, Penelitian dan Pembangunan Daerah

Kabupaten Morowali

3. Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat

Daerah Kabupaten Morowali

4. Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa Daerah

Kabupaten Morowali

5. Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Daerah

Kabupaten Morowali

6. Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Daerah Kabupaten

Morowali

7. Badan Ketahanan Pangan Daerah Kabupaten Morowali

8. Badan Penanaman Modal dan Promosi Daerah Kabupaten

Morowali

9. Badan Pelaksanaan Penyuluhan Penelitian, Perikanan dan

Kehutanan Daerah Kabupaten Morowali

10.Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Morowali

(48)

12.Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Daerah Kabupaten

Morowali

13.Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Daerah Kabupaten Morowali

14.Kantor Perizinan dan Pelayanan Terpadu Daerah Kabupaten

Morowali

15.Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Morowali

c. Organisasi Kecamatan Daerah Kabupaten Morowali

1. Menui Kepulauan

2. Bungku Selatan

3. Bahodopi

4. Bungku Tengah

5. Bungku Barat

6. Bumi Raya

7. Witaponda

8. Lembo

9. Mori atas

10.Mori Utara

11.Petasia

12.Soyo Jaya

13.Bungku Utara, dan

14. Mamosalao. (BPS Kabupaten Morowali Dalam Angka Tahun

(49)

Secara administratif Kabupaten Morowali memiliki batas-batas

wilayah sebagai berikut:

Sebelah Utara : Berbatasan dengan wilayah Kabupaten Tojo

Una-Una

Sebelah Selatan : Berbatasan dengan wilayah Provinsi Sulawesi

Tenggara dan Sulawesi Selatan.

Sebelah Timur : Berbatasan dengan wilayah Kabupaten Banggai

dan

Perairan Teluk Tolok.

Sebelah Barat : Berbatasan dengan wilayah Provinsi Sulawesi

Selatan,

Sulawesi Tenggara, Kabupaten Poso dan

Kabupaten

Tojo Una-Una.

(BPS. 2009 Pemerintah Kabupaten Morowali).

Jumlah penduduk Kabupaten Morowali dari hasil registrasi

kependudukan menunjukan bahwa setiap tahunnnya selalu bertambah.

Berikut hasil registrasi penduduk dari tahun 2004 s/d 2009 disajikan dalam

(50)

Tabel 4.1 Registrasi Penduduk Daerah Kabupaten Morowali

(Sumber: BPS Kabupaten Morowali Dalam Angka Tahun 2009).

Dari potensi sumber daya alam, Kabupaten Morowali menyimpan

banyak potensi alam yang tidak terhingga nilai dan jumlahnya jika

dikelolah secara baik, yaitu dapat di kelompokan sebagai berikut:

1. Pertanian:

- Tanaman Padi: (Padi sawah dan padi ladang)

- Tanaman palawija; (jagung, ketela pohon, ketela rambat, kacang

tanah, kacang kedelai, dan kacang hijau).

- Buah-buahan; (jeruk, nanas, pisang, salak, jambu dan langsat)

- Sayur-sayuran; (ketimun, kacang-kacangan, lombok, terong, bayam,

kangkung, sawi, tomat dan bawang merah).

2. Potensi sektor pertambangan:

- Golongan A; (minyak bumi, nikel dan batu bara).

- Golongan B; (kromit, besi, calkopirit, pirit dan galena).

(51)

3. Perkebunan;

- Perkebunan besar; (kelapa sawit)

- Perkebunan rakyat; (tanaman kelapa, cengkeh, kopi, kelapa sawit,

pala, lada, coklat, karet, jambu mente, vanili, sagu, kapuk dan

kemiri)

4. Kehutanan;

- Kawasan lindung

- Hutan suaka alam wisata

- Hutan lindung

- Kawasan budidaya/hutan produksi

- Hutan produksi biasa

- Hutan produksi yang dapat dikonversi

5. Perikanan dan Kelautan;

- Perairan Teluk tolo Kabupaten Morowali memiliki potensi biotik

yang jenis dan jumlahnya cukup banyak terdiri dari berbagai jenis

ikan, lobster, kepiting bakau, cumi-cumi, gurita, rumput laut, dan

kerang mutiara.

- Sedangkan untuk perikanan budidaya antara lain tambak dan kolam

dengan jenis potensi udang windu, bandeng, ikan mas, nila dan

udang gaja.

6. Ternak

- Ternak besar; (sapi, kerbau, kuda)

(52)

- Ternak unggas; (ayam kampung dan ayam potong, dan itik)

7. Pariwisata

- Objek wisata alam/cagar alam morowali; (danau Lowo, danau Tiu,

permandian Air Panas (lembo), Permandian Panapa (lembo),

permandian korowalelo (lembo), Permandian Gontara (Mori Atas),

Air Terjun Wosu (Bungku Barat), air terjun mempueno, permandian

tumpukan (Bungku Tengah), Permandian Ulunipa (Menui

Kepulauan)).

- Objek Wisata Pulau dan Pantai; (pulau Rumba, Pulau Pengia,

pantai/permandian jompi, teluk tomori (batu payung), lokasi marga

satwa pantai burung maleo (bungku barat), pantai siliti (Bungku

utara), pulau langata (bungku selatan), pulau tiga (Menui

kepulauan), tanjung batu manu, tanaman laut pulau tokobae, situs

lambolo, situs tebing tappohulu, situs batu puti, situs P. Ulu, situs

pengia)

- Objek wisata agro; (perkebunan kelapa sawit di kecamatan bungku

barat dan mori atas).

- Objek wisata budaya; (situs raja mori kecamatan petasia, mesjid tua

bungku Kec. Bungku tengah, makam raja bungku Kec. Bungku

tengah, situs ruma zending lemo Kec. Bungku utara)

8. Perdagangan

- Ekspor

(53)

- Dolog

4.2 Analisis Deskriptif

4.2.1 Biaya-biaya Yang Dikeluarkan Memungut PAD

Biaya yang dikeluarkan Pemerintah Kabupaten Morowali dalam

memungut Pendapatan Asli Daerah (PAD), Tahun Anggaran 2007 s/d

2009 dapat disajikan dalam tabel 4.2 adalah sebagai berikut:

Tabel 4.2 Biaya-biaya Dalam Memungut PAD Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun 2007 s/d 2009.

No. Uraian Biaya Tahun

Jumlah 160.337.000,00 258.200.000,00 256.620.000,00

(Sumber: Data Primer Pada Dinas PPKAD Kabupaten Morowali,

2007-2009).

Penerimaan dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah merupakan

suatu refleksi dari 4 (empat) jenis pungutan yaitu Pajak Daerah, Retribusi

daerah, Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan Lain-lain

PAD yang sah.

4.2.2 Penerimaan Pemerintah Kabupten Morowali Tahun 2007

Berikut penerimaan Anggaran Pemerintah Kabupaten Morowali

Tahun 2007 dapat di sajikan dalam bentuk tabel 4.3 adalah sebagai

(54)

Tabel 4.3 Penerimaan Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun Angaran Tahu 2007

(Sumber: Dinas PPKAD Pemerintah Kabupaten Morowali, 2007 lampiran 1).

1. Analisis Rasio Kemandirian Daerah

Rumus:

2. Analisis Rasio Efektivitas

Rumus:

atau X = 57,93 %

3. Analisis Rasio Efisiensi No. Uraian

(55)

atau X = 3,14 %

4.2.3 Penerimaan Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun 2008

Adapun penerimaan Pendapatan Pemerintah Kabupaten Morowali

Tahun Anggaran 2008, dapat disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 4.4 Penerimaan Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun 2008

(Sumber: Dinas PPKAD Pemerintah Kabupaten Morowali, 2008 lampiran 2).

1. Analisi Rasio Kemandirian Daerah

(56)

2. Analisis Rasio Efektivitas

atau X = 57,88 %

3. Anlisis Rasio Efisiensi

atau X = 3,34 %

4.2.4 Penerimaan Pemerintah Kabupten Morowali Tahun 2009

Untuk Tahun 2009 Penerimaan Pendapatan Pemerintah Kabupaten

Morowali adalah sebagai berikut:

Tabel 4.5Penerimaan Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun 2009

(Sumber: Dinas PPKAD Pemerintah Kabupaten Morowali, 2009 lampiran 3). No. Uraian

(57)

1. Analisis Rasio Kemandirian Daerah

atau X = 2,56 %

2. Analisis Rasio Efektivitas

atau X = 43,41 %

3. Analisis Rasio Efisiensi

atau X = 1,94 %

4.3 Kajian Analisis Tingkat Rasio Keuangan Daerah Kabupaten

(58)

4.3.1 Rata-rata Tingkat Kemandirian, Efektifitas dan Efisiensi PAD Pemerintah Kabupaten Morowali

Berikut hasil analisis tingkat kemandirian, efektivitas dan

efisiensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemerintah Kabupaten

Morowali, jika di rata-ratakan dalam tabel 4.6 sebagai berikut:

Tabel 4.6 Tingkat Rata-rata Kemandirian, Efektivitas dan Efisiensi PAD Pemerintah Kabupaten Morowali

Tahun Anggaran 2007 s/d 2009

No. Uraian Tahun Anggran Nilai Anggaran Kabupaten Morowali Tahun 2007 s/d 2009).

4.3.2 Analisis Tingkat Kemandirian PAD Pemerintah Kabupaten

Morowali

Pengujian masalah tingkat kemandirian PAD Pemerintah

(59)

7. Apabila tingkat kemandirian 50% - 75%, berarti tingkat

kemandirian daerah sedang.

8. Apabila tingkat kemandirian 75% - 100%, berarti tingkat

kemandirian daerah tinggi. (Hasmiati, 2010:34 dalam

Nadeak, 2003).

 Tingkat Kemadirian PAD Pemerintah Kabupaten Morowali:

Diketahui; X Tahun Anggaran 2007 = 1,01 %

X Tahun Anggaran 2008 = 1,45 %

X Tahun Anggaran 2009 = 2,56 %

X Rata-rata = 1,67 %

 Keputusan:

Karena nilai rata-rata tingkat kemandirian (X) Pendapatan Asli

Daerah (PAD) Kabupaten Morowali, Tahun Anggran 2007 s/d

2009 adalah 1,67% maka, tingkat kemandirian Pendapatan

Asli Daerah (PAD) Kabupaten Morowali dapat dikatakan

rendah sekali atau berada pada kisaran 0% - 25% (instruktif).

4.3.3 Analisis Tingkat Efektivitas PAD Pemerintah Kabupaten

Morowali

Pengujian masalah tingkat efektivitas PAD Pemerintah

Kabupaten Morowali sebagai berikut:

 Kriteria tingkat efektivitas PAD:

7. Jika diperoleh nilai kurang dari 100% (X<100%), berarti

(60)

8. Jika diperoleh nilai sama dengan 100% (X =100%),

efektifitas berimbang.

9. Jika diperoleh nilai lebih dari 100% (X>100%), berarti

efektif.

(Hasmiati, 2010:44 dalam Halim, 2011:129).

 Tingkat Efektivitas PAD Pemerintah Kabupaten Morowali:

Diketahui; X Tahun Anggaran 2007 = 57,93 %

X Tahun Anggaran 2008 = 58,88 %

X Tahun Anggaran 2009 = 43,41 %

X Rata-rata = 53,07 %

 Keputusan:

Karena nilai rata-rata tingkat efektivitas (X) Pendapatan Asli

Daerah (PAD) Pemerintah Kabupaten Morowali, Tahun

Anggaran 2007 s/d 2009 adalah 53,07% maka, tingkat

efektivitas Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten

Morowali dapat dikatakan belum efektif, karena X<100% atau

53,07<100%.

4.3.4 Analisis Tingkat Efisiensi PAD Pemerintah Kabupaten

(61)

Pengujian masalah tingkat efektivitas PAD Pemerintah

Kabupaten Morowali sebagai berikut:

Kriteria Tingkat efisiensi PAD:

Adapun kriteria dalam menentukan tingkat rasio efisiensi

Pendapatan Asli Daerah (PAD) yaitu suatu daerah dapat

dikatakan Pendapatan Asli Daerah (PAD) efisien apabila nilai

rasionya kurang dari 1 (satu) atau kurang dari 100% . (Halim,

2004:286).

Tingkat efisiensi PAD Pemerintah Kabupaten Morowali:

Diketahui; X Tahun Anggaran 2007 = 3,14 %

X Tahun Anggaran 2008 = 3,34 %

X Tahun Anggaran 2009 = 1,94 %

X Rata-rata = 2,81 %

Keputusan:

Karena nilai rata-rata tingkat efisiensi (X) Pendapatan Asli

Daerah (PAD) Kabupaten Morowali, Tahun Anggaran 2007

s/d 2009 adalah 2,81% maka, tingkat efisiensi Pendapatan Asli

Daerah (PAD) Kabupaten Morowali dikatakan efisien karena,

X<100% atau 2,81<100%.

4.4 Pembahasan

4.4.1 Penjelasana Umum

Daerah Kabupaten Morowali dalam melaksanakan perannya

(62)

2004 tentang Pemerintah Daerah yang telah dirubah dengan

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 menyatakan, pemberian otonomi daerah

kepada daerah di dasarkan atas asas desentralisasi dalam wujud otonomi

daerah yang luas, nyata dan bertanggungjawab.

Salah satu syarat yang diperlukan untuk melaksanakan

kewenangan atas dasar desentralisasi adalah tersedianya sumber-sumber

pembiayaan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun

2004 tentang, Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan

Daerah. Tentunya dengan adanya Undang-Undang tersebut memberikan

keleluasaan bagi daerah Kabupaten Morowali dalam mengelola keuangan

secara otonom, karena dianggap lebih memahami daeranya sendiri.

Agar daerah mampu menjalankan perannya, daerah diberikan

kewenangan yang seluas-luasnya disertai dengan pemberian hak dan

kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem

penyelenggaraan pemerintahan negara. Dalam hal ini daerah diberi hak

untuk mendapatakan sumber-sumber penerimaan keuangan sesuai dengan

urusan pemerintah yang diserahkan dalam hal ini Pemerintah menetapkan

prinsip-prinsip uang mengikuti fungsi.

Pendapatan Asli Daerah yang selanjutnya disingkat PAD adalah

pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan

daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang merupakan sumber

(63)

sebagian beban belanja yang diperlukan untuk penyelenggaraan

pemerintahan dan kegiatan pembangunan yang setiap tahunya meningkat

sehingga kemandirian otonomi daerah yang luas, nyata, dan

bertanggungjawab dapat dilaksanakan sebagaimana diatur dalam pasal 6

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2000.

Adapun sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Pemerintah Kabupaten Morowali terdiri dari:

a. Pajak daerah

b. Retribusi daerah

c. Hasil pengelolaan kekayaan yang dipisahkan

d. Lain-lain pendapatan asli daerah yang dipisahkan.

4.4.2 Tingkat Kemandirian PAD Pemerintah Kabupaten Morowali

Berbicara kemandirian keuangan suatu daerah tentunya tidak

terlepas dari kemampuan aparatur daerah sebagai penyelenggara

pemerintahan dalam mengalokasikan keuangan daerahnya yang tepat pada

sasaran, terarah dan berkesinambungan sehingga dapat menciptakan dan

meningkatkan sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang baru.

Dalam hal ini bahwa pemerintah daerah dalam menyelenggarakan

urusan-urusan pemerintahan ditekankan untuk tidak terlalu mengandalkan

sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang telah ada akan tetapi

pemerintah daerah dituntut untuk selalu berinovasi dalam menciptakan

(64)

Kemandirian keuangan daerah (otonomi fiskal) menunjukan

kemampuan Pemerintah Daerah dalam membiayai sendiri kegiatan

pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat yang

bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Untuk melihat atau menentukan tingkat kemandiri Pendapatan Asli

Daerah (PAD) suatu daerah dalam hal ini daerah Kabupaten/Kota, dapat

dilihat dari kemandirian keuangan daerahnya yang ditunjukan oleh besar

kecilnya Pendapat Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari pajak daerah,

retribusi daerah, hasil pemngelolaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain

PAD yang sah dibandingkan dengan pendapatan daerah yang berasal dari

sumber yang lain misal, bantuan Pemerintah Pusat dan Pinjaman.

Semakin tingginya rasio kemandirian suatu daerah mengandung

arti bahwa tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak ekstern

(terutama Pemerintah Pusat dan Provinsi) semakin kecil, dan demikian

juga sebaliknya.

Tingkat kemandirian Pendapatan Asli Daerah (PAD) suatu daerah

dapat ditentukan dengan dasar kriteria tertentu. Tingkat kemandirian

antara 0%-25% menunjukan tingkat kemandiriannya rendah sekali, tingkat

kemandirian 25%-50% dikategorikan rendah, 50%-75% dikatakan tingkat

kemandiriannya sedang, dan 75%-100% tingkat kemandirian

dikategorikan tingkat kemandiriannya tergolong tinggi.

Pemerintah Kabupaten Morowali pada Tahun 2007 kontribusi

(65)

pembangunan daerahnya sebesar 57,93%, Pada tahun 2008 tingkat

kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD)-nya 57,88% dan pada tahun

2009 mengalami penurunan yaitu hanya 43,41% kontribusinya dalam

mebiayai urusan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan pada

masyarakat Kabupaten Morowali dan apabilah dirata-ratakan mulai dari

tahun 2007 s/d 2009 kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemerintah

Kabupaten Morowali yang diberikan adalah 53,07%.

Sedangkan bantuan pendanaan yang bersumber di luar dari

Pendapatan Asli Daerah (PAD) yaitu pada tahun 2007 (Transfer 96,42%

dan lain-lain pendapatan yang sah 93,46%), pada Tahun 2008 (Tranfer

97,64% dan lain-lain pendapatan yang sah 99,98%), dan pada tahun 2009

(pendapatan transfer adalah 99,18% dan lain-lain pendapatan yang sah

102,79%). Jika dirata-ratakan kontribusi pendapatan diluar dari

Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah 98,25%.

Melihat dari pada tingkat kemandirian daerah Kabupaten Morowali

selama 3 (tiga) Tahun masa anggaran yaitu dari Tahun 2007 s/d 2009

berdasarkan hasil analisis terlihat bahwa sangat tidak stabil dan belum bisa

dikatakan mandiri. Hal tersebut dapat dilihat dengan membandingkan dari

tingkat kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) antara Pemerintah

Kabupaten Morowali dan Pusat atau Provinsi pada Tahun 2007 s/d 2009

dalam membiayai urusan pemerintahan di daerahnya.

Secara rasio tingkat kemandirian daerah Kabupaten Morowali Pada

(66)

pemerintahan di daerahnya yaitu 1,01%, Tahun 2008 1,45% dan 2,56%

pada Tahun 2009. Jika dirata-ratakan tingkat Pendapatan Asli Daerah

(PAD) Kabupaten Morowali dari Tahun 2007 s/d 2009 hanya mencapai

1,67% dalam hal ini bahwa tingkat kemandiriannya masuk dalam kategori

rendah sekali (instruktif), yaitu tingkat kemadirian daerah Kabupaten

Morowali berada pada kisaran 0% - 25%. Hal ini menunjukan tingkat

ketergantungan daerah Kabupaten Morowali terhadap Pemerintah Pusat

dan Provinsi atau bantuan dari pihak lain masih tergolong tinggi dan masih

jauh dari standar kemandirian daerah.

Menaggapi hal tersebut Pemerintah Kabupaten Morowali penulis

menyarankan mulai sekarang harus mengambil langkah-langkah

intensifikasi dan ekstensifikasi secara efektif agar Pendapatan Asli Daerah

Kabupaten Morowali pada masa-masa yang akan datang menjadi

meningkat guna mencapai derah otonomi yang lebih mandiri.

Secara intensifikasi dan ekstensifikasi dimaksudkan yaitu agar

Pemerintah Kabupaten Morowali untuk terus memacu melakukan

perubahan-perubahan mendasar dan mendalam baik secara internal

maupun eksternal seperti pembenahan Sumber Daya Manusia (SDM)

berkualitas dan memilki disiplin ilmu yang tinggi di bidang manajemen

keuangan daerah di tataran birokrasi agar apa yang menjadi harapan

pemerintah daerah untuk menjadi sebuah daerah yang mandiri dapat

tercapai.

Gambar

Tabel 1.1 Tingkat Pendapatan Kabupaten Morowali Setelah Perubahan Tahun 2007 s/d 2009
Tabel 2.1 Pola Hubungan dan Tingkat Kemampuan Daerah
Tabel 2.2 Biaya, Target dan Realisasi Penerimaan Pajak dan  Retribusi Daerah Yang Dilakukan DISPEMDA Kabupaten
Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir
+6

Referensi

Dokumen terkait

Adapun kesimpulan dapat menjadi bahan masukan, peneliti mengharapkan dengan melihat praktek gugat cerai istri yang kerap terjadi di Desa Pulau Mandangin Kecamatan

Penelitian mengenai ”Studi Keanekaragaman Bivalvia di Perairan Tanjungbalai Provinsi Sumatera Utara” telah dilakukan pada bulan Oktober.. sampai dengan November

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat studi kasus, yaitu studi kasus instrinsik dengan melibatkan tiga orang penderita kanker yang sedang menjalani

Indofood Sukses Makmur Bogasari Flour Mills (PT.ISMBFM) dengan berdirinya pabrik tepung terigu pada tahun 1972 di Tanjung Priok dan tahun 1974 di Surabaya, perusahaan ini terus

Bagi kebanyakan pasien kanker, hasil akhir yang mereka inginkan dari. pengobatan yang akan dijalani adalah

PLN (PERSERO) yang bergerak dalam Perusahan Listrik Negara, yang menyuplai tenaga listrik hampir ke seluruh wilayah Indonesia merasa dituntut untuk memberikan kualitas listrik,

Oleh karena itu, judul dalam p enelitian ini adalah “ Pengaruh Model Pembelajaran Quantum Teaching and Learning (QTL) Dengan Teknik Mind Mapping Terhadap Hasil

Dalam rangka memenuhi kebutuhan Pejabat Fungsional Calon Widyaiswara pada Badan Pendidikan dan Pelatihan Provinsi DKI Jakarta, dengan ini membuka kesempatan bagi para Pegawai