S
EFISIENSI PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) PADA
PEMERINTAH KABUPATEN MOROWALI
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI ENAM-ENAM
(STIE-66)
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Arson Abd. Rasyid Nunu
NPM : 0 7 6 6 0 1 0 9 8
Jurusan/Program Studi : Manjemen Keuangan dan Perbankan
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar
merupakan hasil karya sendiri.
Apabilah di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini ciplakan
maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.
Kendari,...2011
Yang membuat pernyataan,
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur hanya kepada Allah SWT semata, atas segala
keridohan-Nya, sehingga penulis mampu menyusun dan menyeleaikan skripsi
ini sesuai dengan harapan penulis. Salawat dan Taslim hanya tercurahkan
kepada Beliau Baginda Nabi Besar Rasullulah Muhamad SAW yang
membimbing dan mengantarkan umat manusia dari zaman kejahiliaan menuju
pada kehidupan yang penuh dengan petunjuk-petunjuk kebenaran.
Ucapan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
Ayahanda (Abd. Rasyid Nunu), dan Ibunda (Sahara, L) yang penulis tidak akan
mampu membayar atas segalah Do’a, kesabaran, membesarkan dan menuntun
penulis hingga dewasa seperti sediakalah dengan penuh perhatian dan
penantian panjang menanti penulis hingga selesai kuliah di STIE-66 Kendari.
Dalam penyusunan skripsi dengan judul “Analisis Tingkat
Kemandirian, Efektivitas dan Efisiensi Pendapatan Asli Daerah Pada
Pemerintah Kabupaten Morowali”, penulis banyak menemui hambatan mulai
dari tahap penyusunan proposal, penelitian sampai pada penyusunan hasil.
Namun atas izin Allah SWT ditambah keteguhan, kesabaran dan komitmen
penulis mampu melalui semua itu.
Melalui kesempatan ini, penulis menghanturkan rasa terima kasih
yang setinggi-tingginya kepada:
2. Bapak Sudarmanto, SE, M.Si, selaku Ketua STIE-66 Kendari.
3. Bapak Bakhtiar Abbas, SE, M.Si, selaku Wakil Ketua STIE-66 Kendari.
4. Muh. Nur, SE.,M.Si, selaku Ketua Program Studi Manajemen STIE-66
Kendari.
5. Bapak Jamal Nasir Baso, SE, M.Si, selaku Pembimbing I penulis yang
banyak memberikan masukan dan arahan demi kesempurnaan karya tulis
ini
6. Bapak Akri Eko Yulianto, SE, M.Si, selaku Pembimbing II Penulis yang
banyak memberikan masukan dan arahan demi kesempurnaan karya tulis
ini.
7. Para Dosen Penguji, yang telah memberikan masukan dan koreksi yang
sifatnya positif demi kesempurnaan karya tulis ilmiah ini.
8. Bapak H. Azis Muthalib, SE, M.Si, selaku Kepala P3M STIE-66 Kendari
9. Bapak Muh. Armawaddin, SE, M.Si, selaku Kepala Bidang Penelitian,
Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (P3M) STIE-66 Kendari
10. Kawan-kawan seperjuangan mahasiswa (Saudara Taswan/Orator
Lapangan, Abdul Zipur, Ahmadi Sidik dan Heriswanto yang Inya Allah
akan menahkodai Badan Esekutif Mahasiswa STIE-66 Kendari pada
masa-masa yang akan datang). Amin ...!!!
Akhir kata dari penulis “Tak ada gading yang tidak bisa patah”,
olehnya itu penulis dengan terbuka menerima saran, kritikan dan masukan
Kendari, ...2011
ABSTRAK
Arson Abd. Rasyid Nunu, 2011. Analisis Tingkat Kemandirian, Efektivitas dan Efisiensi Pendapatan Asli Daerah Pada Pemerintah Kabupaten Morowali. Hasil Penelitian. Jurusan Manajemen Keuangan, Program Sarjana, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Enam-Enam Kendari. Pembimbing: I: Jamal Nasir Baso, dan II: Akri Eko Yulianto.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat Kemandirian, Efektivitas dan Efisiensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pada Pemerintah Kabupaten Morowali dari tahun 2007 s/d 2009. Analisi yang digunakan adalah analisi rasio keuangan daerah dengan dasar-dasar kriteria tertentu.
Dimana kriteria kemandirian daerah adalah jika nilai rasio 0%-25% (rendah sekali), 25%-50% (rendah), 50%-75% (sedang), dan 75%-100% (tinggi). Kriteria efektivitas yaitu jika nilai rasio X<100% (tidak efektif), X=100% (efektivitas berimbang), dan X>100% (efektif). Sementara kriteria efesiensi yaitu apabila nilai rasio yang dicapai kurang dari 1 (satu) atau X<100% (dikatakan efisien).
Adapun jenis data yang digunakan adalah data primer (data yang di peroleh melalui hasil wawancara) dan data sekunder (data laporan Realisasi APBD Pemerinta Kabupaten Morowali). Sementara prosedur dalam penelitian ini adalah mengurus surat penelitian pada Kantor KESBANG Pemerintah Kabupaten Morowali, pendokumentasian, dan interview.
Bedasarkan hasil analisis rasio yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa tingkat kemandirian rata-rata Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kabupaten Morowali dari tahun 2007 s/d 2009 rendah sekali yaitu berada pada kisaran 0%-25% atau 1,67<100%. Tingkat kemampuan Pemerintah Kabupaten Morowali dalam mencapai target (efketivitas) Pendapatan Asli Daerah secara rata-rata dari tahun 2007 s/d 2009 dapat dikatakan tidak efektif yaitu hanya 53,07% atau X<100%. Sementara tingkat kemampuan Pemerintah Kabupaten Morowali dalam menekan biaya pemungutan (efisiensi) Pendapatan Asli Daerah secara rata-rata dari tahun 2007 s/d 2009 dikatakan efisien yaitu 2,81% atau X<100%.
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PERSETUJUAN ... i
PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN SKRIPSI ... . ii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... iii KATA PENGANTAR ... iv ABSTRAK ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR SKEMA ... ix
DAFTAR TABEL ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang ... 1
1.2Perumusan Masalah ... 5
1.3Tujuan Penelitian ... 5
1.4Manfaat Penelitian ... 5
1.5Ruang Lingkup Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu ... 7
2.2 Dasar Hukum Pengelolaan Keuangan Dearah ... 8
2.3 Struktur APBD ... 11
2.4 Sumber-sumber Pendapatan dan Pembiayaan Daerah ... 12
2.5 Pendapatan Asli Daerah (PAD) ... 13
2.7 Kerangka Pikir ... 26
2.8 Hipotesis ……….. 27
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian ... 28
3.2 Jenis dan Sumber Data ... 28
3.3 Instrumen Penelitian ... 29
3.4 Prosedur Pengumpulan Data ... 29
3.5 Analisis Data ... 30
3.6 Defenisi Operasional Variabel ... 32
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum ... 34
4.2 Analisis Deskriptif ... 41
4.3 Kajian Analisis Tingkat Rasio Keuangan Kabupaten Morowali ... 45
4.4 Pembahasan ... 49
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 60
5.2 Saran ... 61
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR SKEMA
Skema Halaman
2.1 Skema Kerangka Pikir Penelitian ...
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1.1 Tingkat Pendapatan Kabupaten Morowali Setelah Perubahan
... 4
2.1 Pola Hubungan dan Tingkat Kemandirian Daerah
... 22
2.2 Biaya Target, dan Realisasi Penerimaan Pajak, dan Retribusi Daerah yang Dilaksanakan DISPEMDA Kabupaten Bayolali Tahun Anggaran 1998/1999 dan 1999/2000
... 25
4.1 Registrasi Penduduk Daerah Kabupaten Morowali Tahun 2004 s/d 2009
... 37
4.2 Biaya-Biaya Dalam Memungut PAD Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun 2007 s/d 2009
... 40
4.3 Penerimaan Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun Anggaran 2007
...
41
4.4 Penerimaan Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun Anggaran 2008
... 42
4.5 Penerimaan Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun Anggaran 2009
... 43
4.6 Tingkat Rata-rata Kemandirian, Efektivitas dan Efisiensi PAD Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun Anggaran 2007 s/d
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak di berlakukanya Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009
tentang Otonomi Daerah yang diberlakukan mulai Tahun 2000 adalah
merupakan angin segar bagi masyarakat Indonesia secara umum terutama
Pemerintah Daerah dalam mengurusi daerahnya sendiri. (Halim, 2007:1).
Seiring dengan berjalanya agenda reformasi, sistem otonomi
daerah semakin di pertajam yaitu dengan diberlakukannya Undang
Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah yang
menghendaki penyelenggaraan otonomi secara luas, nyata, dan
bertanggungjawab. Disamping itu juga penyelenggaraan otonomi daerah
harus didasarkan pada prinsip-prinsip demokrasi, peran serta, musyawarah,
pemerataan dan keadilan, serta memperhatikan potensi dan keaneka
ragaman daerah. (Abdullah, 2003:18).
Pada dasarnya terkandung tiga misi utama pelaksanaan otonomi
daerah dan desentralisasi fisikal yaitu: (1) Meningkatkan kualitas dan
kuantitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat, (2) Menciptakan
efisiensi dan efektifitas pengelolaan sumber daya daerah, dan (3)
Memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat (publik) untuk
berpartisipasi dalam pembangunan. (Mardiasmo, 2002:59).
Tujuan otonomi daerah di bedakan dari dua sisi kepentingan yaitu
Pusat adalah pendidikan, politik, pelatihan kepemimpinan, menciptakan
stabilitas politik dan mewujudkan demokrasi sistem pemerintah di daerah.
Sementara dari sisi kepentingan Pemerintah Daerah yaitu:
1. Untuk mewujudkan political equality, yaitu melalui otonomi daerah
diharapkan akan lebih membuka kesempatan bagi masyarakat untuk
berpartisipasi dalam berbagai aktivitas politik di tingkat lokal atau
daerah
2. Menciptakan local accontability, yaitu melalui otonomi daerah akan
meningkatkan kemampuan pemerintah dalam memperhatikan hak-hak
masyarakat, dan
3. Untuk mewujudkan local resposiveness, artinya dengan otonomi
daerah diharapkan akan mempermudah antisipasi berbagai masalah
yang muncul dan sekaligus meningkatkan akselerasi pembangunan
nasional dan ekonomi daerah. (Halim, 2004:23 dalam Smith, 1985).
Untuk menjamin terselenggarakannya sistem otonomi di daerah
dengan baik, maka kosekuensinya adalah diberlakukannya Undang
Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Daerah. Hal ini sangat membuka kesempatan yang
luas bagi pemerintah daerah dalam mengurusi daerahnya secara mandiri.
(Halim, 2004:1).
Pada lembaran negara Tahun 1956 Nomor 77 Perimbagan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sebenarnya
pada kenyataanya tidak begitu berkembang dikarenakan belum siapnya
Daerah-daerah mengadakan aparatur sendiri. (Abdillah, 2003:137 dalam
Muslim, 1960).
Suatu daerah dapat dikatakan mandiri, Pertama jika daerah tidak
lagi bergantung pada dana bantuan dan intervensi dari pemerintah pusat.
Kedua, jika daerah mampu membiayai penyelenggaraan pemerintahan
melalui dana yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) tersebut.
Berbagai penelitian empiris hingga saat ini masih membuktikan bahwa
angka ketergantungan daerah pemerintah pusat (khususnya dalam hal
pendanaan APBD) masih tinggi.
(http://chasism.blogspot.com/2010/08/otonomi-daerah-sebagai-peluang.html).
Disamping itu Pemerintah sangat mengharapakan daerah Provinsi
dan Kabupaten/Kota yang telah dimekarkan dapat menggali dan mengelola
sumber-sumber Pendapatan Asli Daerahnya mampu secara efektif dan
efisien.
Harapan besar Pemerintah Daerah untuk dapat membangun
daerah berdasarkan kemampuan dan kehendak daerah sendiri ternyata dari
tahun ketahun dirasakan oleh beberapa daerah otonom jauh dari harapan,
malah yang terjadi adalah wujud ketergantungan fiskal dan subsidi serta
bantuan Pemerintah Pusat yang merupakan cerminan atas ketidak
berdayaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam membiayai Belanja
Pengalaman menunjukan bahwa hampir semua daerah persentase
Pendapatan Asli Daerah (PAD) relatif kecil. Umumnya APBD suatu
daerah di Indonesia didominasi oleh sumbangan Pemerintah Pusat dan
Sumbangan Lain-lain yang diatur dalam Perundang-undangan. Hal ini
menyebabkan daerah sangat tergantung pada Pemerintah Pusat, sehingga
kemampuan daerah untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki
menjadi sangat terbatas. (Mahai, 2000:58).
Kabupaten Morowali adalah salah-satu daerah Kabupaten/Kota di
Provinsi Sulawesi Tengah yang pemekaran daerahnya berdasarkan
Undang Undang Nomor 15 Tahun 1999, Ibu Kota Kabupaten terletak di
Bungku. (Freewebs, 2011).
Berikut tingkat Pendapatan Kabupaten Morowali setelah
Perubahan Anggaran, mulai dari Tahun Anggaran 2007 s/d Tahun
Anggaran 2009 dapat di sajikan pada tabel 1.1 sebagai berikut:
Tabel 1.1 Tingkat Pendapatan Kabupaten Morowali Setelah Perubahan Tahun 2007 s/d 2009.
No. Uaraian Tahun Anggaran
2007 2008 2009
Berdasarkan uraian latar belakang yang ada, penulis berkeinginan
untuk melakukan penelitian di Kabupaten Morowali dengan judul A alisis
Tingkat Kemandirian, Efektifitas, dan Efisiensi Pendapatan Asli Daerah Pada
Pemerintah Kabupaten Morowali .
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka permasalahan dalam
pe elitia i i adalah Bagai a a Tingkat Kemandirian, Efektifitas, dan Efisiensi
Pendapatan Asli Daerah Pada Pemerintah Kabupaten Morowali, Tahun Anggaran
2007 s/d Tahun 2009? .
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah
untuk menganalisis Tingkat Kemandirian, Efektivitas, dan Efisiensi
Pendapatan Asli Daerah Pada Pemerintah Kabupaten Morowali”, Tahun
Anggaran 2007 s/d Tahun 2009.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapakan dari penulis dalam penelitian
ini diuraikan sebagai berikut:
1. Bagi penulis adalah sebagai jalan untuk memperluas wawasan atas
pengaplikasian ilmu yang di pelajari.
2. Bagi peneliti selanjutnya, dapat dijadikan sebagai dasar acuan dalam
3. Bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali khususnya instansi
terkait sebagai dasar acuan dalam mengambilan suatu kebijakan
daerah.
1.5 Ruang lingkup penelitian
Agar penelitian yang dilakukan dapat lebih terarah, maka penulis
membatasi ruang lingkup penelitian ini sebagai berikut:
1. Tingkat kemandirian, dipandang dari tingkat kemampuan Pendapatan
Asli Daerah (PAD) dalam membiayai urusan Pemerintahan,
Pembangunan, dan Pelayanan pada masyarakat Pemerintah Kabupaten
Morowali Tahun 2007 s/d 2009.
2. Tingkat efektivitas, dipandang dari tingkat kemampuannya dalam
merealisasikan target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang telah
ditetapkan Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun 2007 s/d 2009.
3. Tingkat efisiensi, dipandang dari tingkat kemampuanya menekan
biaya yang di keluarkan dalam memungut Pendapatan Asli Daerah
(PAD) yang dicapai Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun 2007 s/d
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Suprapto,
2006 dengan judul “Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah
Kabupaten Sleman Dalam Masa Otonomi Daerah Tahun Anggaran
2000-2004”, dengan kesimpulan sebagai berikut:
1. Tingkat kemandirian Pemda Kabupaten Sleman hanya memcapai
rata-rata 11,99% sehingga pola hubungan tingkat kemandirian daerah
adalah interuktif .
2. Rasio efektivitas pendapatan daerah Kabupatan Sleman rata-rata
sebesar 117,65% dengan demikian pemungutan Pendapatan Asli
Daerah cenderung efektif, karena kontribusi diberikan terhadap target
yang di inginkan lebih dari 100%.
3. Rasio efisiensi pungutan Pendapata Asli Daerah Kabupaten Sleman
rata-rata sebesar 6,7% dan setiap tahun anggaran mengalami
penurunan sebesar 1,384%. Hal ini menunjukan bahwa pemungutan
Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Sleman dari tahun ketahun
semakin efisien.
Persamaan penelitian yang dilakukan penulis dengan penelitian
kemandirian, rasio efektivitas dan rasio efesiensi. Sedangkan letak
perbedaan yaitu pada lokasi penelitian yaitu pada Kabupaten Morowali.
2.2 Dasar Hukum Pengelolaan Keuangan Daerah
Menurut Pasal 1 ayat (6) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun
2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Berikut dasar hukum
pengelolaan keuangan daerah adalah sebagai berikut:
Undang-Undang
1. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak dan Retribusi
Daerah.
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.
4. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. (Darise, 2009:26).
Peraturan Pemerintah
1. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2005 tentang Tata Cara
Penghapusan Piutang Negara/Daerah.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
5. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman
Daerah.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana
Perimbangan.
7. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi
Keuangan Daerah.
8. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah.
9. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan
Barang Milik Daerah/Negara.
10.Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Laporan Keuangan
dan Kinerja Instansi Pemerintah.
11.Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Tata Cara
Penyelesaian Ganti Kerugian Negara Terhadap Bendahara.
12.Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan
Penyelenggaraan Pemerintah Daerah kepada Pemerintah, Laporan
Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah, dan informasi Laporan Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah Kepada Masyarakat.
13.Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan, antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah
14.Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
Uang Negara/Daerah.
15.Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi
Perangkat Daerah.
16.Peraturan Pemerintah Nomor 50 tahun 2007 tentang Tata Cara
Pelaksanaan Kerja Sama Daerah.
17.Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 tentang perubahan atas
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan
Barang Milik Negara/Daerah. (Darise, 2009:26-27).
Peraturan Menteri Dalam Negeri
1. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.
2. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang
Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah.
3. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2007 tentang
Pengelompokan Kemampuan Keuangan Daerah, Penganggaran dan
Pertanggungjawaban Penggunaan Belanja Penunjang Operasional
Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah serta Tata Cara
Pengembalian Tunjangan Komunikasi Intensif Dan Dana Operasional.
4. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 23 Tahun 2007 tentang
Pedoman Tata Cara Pengawasan atas Penyelenggaraan Pemerintahan
5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 30 Tahun 2007 tentang
Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman Penyusunan
Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2008.
6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun
2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Negara.
7. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007 tentang
Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum.
8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2009 tentang
perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 23 Tahun
2007 tentang Pedoman Tata Cara Pengawasan Atas Penyelenggaraan
Pemerintah Daerah.
2.3 Struktur APBD
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, yang selanjutnya
disingkat APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintah daerah
yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD,
dan ditetapkan dengan peraturan daerah. (Darise, 2009:129).
Adapun struktur APBD adalah merupakan suatu kesatuan yang
terdiri dari:
1. Pendapatan Daerah;
2. Belanja Daerah; dan
Sedangkan selisih antara Anggaran Pendapatan Daerah dan
Belanja Daerah dapat mengakibatkan terjadinya surplus atau defisit.
(Darise, 2008:124).
Pendapatan daerah adalah meliputi semua penerimaan uang
melalui Rekening Kas Umum Daerah, yang menambah ekuitas dana
lancar, yang merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak
perlu dibayar kembali oleh daerah. (Darise, 2009:130).
Belanja daerah adalah meliputi semua pengeluaran dari rekening
Kas Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar, yang merupakan
kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh
pembayarannya kembali oleh Daerah. Belanja daerah dapat dikelompokan
menjadi dua kelompok belanja yaitu belanja langsung dan belanja tidak
langsung. Belanja langsung adalah belanja yang penganggarannya
dipengaruhi secara langsung oleh adanya program atau kegiatan.
Sedangkan belanja tidak langsung adalah belanja yang penganggarannya
tidak dipengaruhi secara langsung oleh adanya usulan program atau
kegiatan. (Darise, 2009:131).
2.4 Sumber-Sumber Pendapatan dan Pembiayaan Daerah
Menurut Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah,
sumber Pendapatan daerah terdiri atas:
2. Dana Perimbangan
3. Lain-lain pendapatan daerah yang sah.
4. SILPA
5. Pinjaman
6. Cadangan
7. Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang dipisahkan. (Darise, 2008:45).
2.5 Pendapatan Asli Daerah
Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan daerah yang
berasal dari sumber-sumber keuangan daerah, retribusi daerah, bagian laba
BUMN, penerimaan Dinas-Dinas dan penerimaan lain-lain.
(Widarta,2000:4).
Sedangkan PerMandagri Tahun 2006 menjelaskan bahwa
Pendapatan Asil Daerah meliputi :
a. Pendapatan Pajak Daerah
b. Pendapatan Retribusi Daerah
c. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan
d. Lain-lain Pendapatan Asil Daerah yang sah, yang Meliputi:
(1) Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan
(2) Hasil pendapatan atau pendayagunaan kekayaan daerah yang tidak
dipisahkan
(3) Jasa Giro
(5) Tuntutan Ganti Rugi
(6) Keuntungan Selisih Nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing,
dan
(7) Komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari
penjualan dan /atau pengadaan barang dan jasa oleh daerah.
Selain itu dikeluarkan PP Nomor 66 tentang retribusi daerah yang
memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk memumgut 11
jenis pajak (kecuali Provinsi) dan retribusi lainnya sesuai kriteria-kriteria
tertentu yang di tetapkan dalam Undang-Undang. (Prakosa,2005:25)
2.5.1 Pajak Daerah
Secara umum (Resmi, 2009:1-2) pajak terdapat beberapa
pendefinisian yaitu sebagai berikut :
Definisi pajak yang dikemukakan oleh Rochamat Soemitra:
Pajak adalah iuran rakyat kepada Kas Negara berdasarkan
undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak
mendapatkan jasa timbal balik (Kontraprestasi) yang
langsung dapat ditunjukan, dan digunakan untuk membayar
pengeluaran umum.
Definisi pajak yang dikemukakan oleh Djajadiningrat:
Pajak sebagai suatu kewajiban menyerahkan sebagian dari
Kejadiaan dan perbuatan dan memberikan kedudukan
tertentu, tetapi bukan sebagai hukuman, menurut peraturan
yang ditetapkan pemerintah serta dapat dipaksa, tetapi tidak
ada jasa timbal balik dari Negara secara langsung, untuk
memelihara kesejahteraan umum
Definisi pajak yang dikemukan oleh Feldman:
Pajak adalah prestasi yang secara sepihak oleh dan terutama
kepada penguasa (Menurut norma-norma yang ditetapkan
secara umum), tanpa adanya kontarpretasi, dan semata-mata
digunakan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran umum.
Sementara dalam konteks daerah, pajak daerah adalah
pajak-pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah (misal:
Provinsi, Kabupaten/Kota) yang diatur berdasarkan peraturan
daerah masin-masing dan hasil pungutannya digunakan untuk
pembiayaan rumah tangga daerah. (Prokosa, 2005:1)
Menurut Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 yang
merupakan pembaharuan dari Undang Undang Nomor 18 Tahun
1997, Pajak Daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang
pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang
Pemberian kewenangan dalam pengenaan pajak dan
ritribusi daerah, diharapkan dapat lebih mendorong Pemerintah
Daerah dalam mengoptimalkan Pendapatan Asil Daerah (PAD)-nya
dalam membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan daerah, khususnya yang berasal dari pajak daerah
dan retribusi daerah. (Sidik, 2006: 2).
Pajak Provinsi ditetapkan sebanyak 4 (empat) jenis pajak,
yaitu:
i. Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air (OKB
& KAA)
ii. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas
Air (BBNKB & KAA);
iii. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB);
iv. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah tanah dan
Air Permukaan (P3ABT & AP).
Sedangkan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
diberikan kewenangan untuk memungut 7 (tujuh) jenis pajak
, yaitu:
i. Pajak Hotel
ii. Pajak Restoran
iii. Pajak Hiburan
v. Pajak Penerangan Jalan
vi. Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C, dan
vii. Pajak Parkir; (Sidik, 2006:5)
2.5.2 Retribusi Daerah
Retribusi daerah yang selanjutnya disebut retribusi adalah
pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin
tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh
pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
Retribusi dikelompokan menjadi:
(1) Retribusi Jasa Umum, yaitu retribusi atas jasa yang disediakan
atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk tujuan
kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh
orang pribadi atau badan.
(2) Retribusi Jasa Usaha, yaitu retribusi atas jasa yang disediakan
atau diberikan oleh pemerintah daerah dengan menganut
prinsip komersial karena pada dasarnya dapat pula disediakan
oleh sektor swasta.
(3) Retribusi Perizinan Tertentu, yaitu retribusi atas kegiatan
tertentu pemerintah daerah dalam rangka pemberian izin
kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk
pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas
kegiatan pemanfaatan ruang, pengguaan sumber daya alam,
melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian
lingkungan. (Darise, 2009:67).
Retribusi (Resmi 2009:2) adalah pungutan yang dikenakan
sehubungan dengan suatu jasa atau fasilitas yang diberikan oleh
pemerintah secara langsung dan nyata kepada pembayaran.
Contohnya: Parkir, Pasar, jalan tol, dan lain-lain.
2.5.3 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan
Berdasarkan Undang-Undang tentang Keuangan Negara,
kekuasaan atas pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan,
dilaksanakan oleh wakil pemerintah. Kepemilikan kekayaan negara
yang dipisahkan yaitu dikuasakan kepada Menteri Keuangan.
Sedangkan pengelolaan dananya bersumber dari APBD, yang
diserahkan kepada Gubernur/Bupati/Walikota selaku Kepala
Pemerintahan daerah sehingga timbul hak dan kewajiban daerah
terhadap BUMD/BUMN.
Terdapat dua aspek dalam pengelolaan kekayaan negara
yang dipisahkan yaitu (1) Kekayaan negara di kelolah secara
tersendiri menurut ketentuan yang berlaku bagi suatu perusahaan
oleh manajemen BUMN/BUMD, dan (2) Berkenaan dengan
pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan ini, pemerintah
bertindak sebagai pemegang saham yang memiliki perwakilan
Jenis hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan
terdiri dari:
1. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik
daerah/BUMD;
2. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik
pemerintah/BUMN; dan
3. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik
swasta atau kelompok usaha masyarakat; (Darise, 2009:72).
2.5.4 Lain-lain PAD Yang Sah
Jenis Lain-lain Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sah
antara lain:
1. Hasil penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan secara tunai
atau angsuran;
2. Hasil pemanfaatan atau pendayagunaan kekayaan daerah yang
tidak dipisahkan;
3. Jasa giro;
4. Pendapatan bunga;
5. Penerimaan atas tuntutan ganti rugi;
6. Penerimaan komisi, potongan ataupun bentuk lain sebagai
akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa
oleh daerah;
7. Penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiah terhadap
8. Pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan;
9. Pendapatan denda pajak dan retribusi;
10. Pendapatan hasil eksekusi atas jaminan;
11. Pendapatan dari pengembalian;
12. Fasilitas sosial dan fasilitas umum;
13. Pendapatan dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan;
14. Pendapatan dari Badan Layanan Umum Daerah (BUMD).
(Darise, 2009:73).
Sementara dalam PerMendagri Tahun 2006 menyebutkan
bahwa “Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah”, meliputi:
(1) Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan;
(2) Hasil pemanfaatan atau pendayagunaan kekayaan daerah yang
tidak dipisahkan;
(3) Jasa giro;
(4) Pendapatan bunga;
(5) Tuntutan ganti rugi;
(6) Keuntungan selisi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing;
dan
(7) Komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari
penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh
daerah.
2.6.1 Rasio Kemandirian Keuangan Daerah
Kemandirian keuangan daerah (otonomi fiskal)
menunjukan kemampuan Pemerintah Daerah dalam membiayai
sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan
kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi dan
sumber-sumber pendapatan lain yang sah sebagai sumber
pendapatan yang di perlukan daerah. Kemandirian keuangan daerah
ditunjukan oleh besar kecilnya Pendapat Asli Daerah (PAD) di
bandingkan dengan pendapatan daerah yang berasal dari sumber
yang lain misal, bantuan Pemerintah Pusat atau dari Pinjaman.
(Halim, 2004:284).
Pendapat Asli Daerah (PAD) masih belum bisa
diandalkannya sebagai sumber pembiayaan desentralisasi
dikarenakan beberapa hal yaitu:
1. Relatif besarnya basis pajak/retribusi daerah.
2. Perannya yang tergolong kecil dalam total penerimaan daerah.
3. Kemampuan administrasi pemungutan di daerah yang masih
rendah.
4. Kemampuan perencanaan dan pengawasan keuangan yang
lemah. (Mahai, 2000:59).
Semakin tingginya rasio kemandirian mengandung arti
bahwa tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak
dan demikian juga sebaliknya. Rasio kemandirian dapat di
Sebuah pedoman dalam melihat pola hubungan daerah
dari sisi keuangan dapat dikemukakan pada tabel berikut:
Tabel 2.1 Pola Hubungan dan Tingkat Kemampuan Daerah
Kemampuan
Keuangan
Kemandirian (%) Pola Hubungan
Rendah Sekali
Sumber: (Halim, 2010:34 dalam Nadeak, 2003).
Berpatokan pada Undang Undang Nomor 33 Tahun 2004
tentang “Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
hubungan situasional yang dapat digunakan dalam pelaksanaan
otonomi daerah yang berkaitan dengan tingkat kemandirian daerah
yaitu:
1. Pola hubungan instruktif, yaitu peran Pemerintah Pusat lebih
dominan dari pada kemandirian Pemerintah Daerah.
2. Pola hubungan konsultatif, yaitu campur tangan Pemerintah
Pusat sudah mulai berkurang, karena daerah telah dianggap
mampu melaksanakan otonomi daerah.
3. Pola hubungan partisipatif, yaitu peran Pemerintah Pusat
semakin berkurang mengingat daerah yang bersagkutan tingkat
kemandiriannya mendekati mampu melaksanakan otonomi
daerah.
4. Pola hubungan delegatif, yaitu campur tangan Pemerintah
Pusat sudah tidak ada karena daerah telah benar-benar mandiri
dalam melaksanakan otonomi daerah. (Halim, 2002:169).
2.6.2 Rasio Efektivitas Pendapatan Asli Daerah
Efektivitas adalah pemanfaatan sumber daya, sarana dan
prasarana, dalam jumlah tertentu yang secara sadar di tetapkan
sebelumnya untuk menghasilkan sejumlah barang atas jasa
kegiatan yang dijalankan. Efektivitas menunjukan keberhasilan dari
segi tercapai dan tidaknya sasaran yang telah ditetapkan. Jika hasil
kegiatan semakin mendekati sasaran, berarti semakin tinggi
Sedangkan Abdurahmat (2003), efektivitas adalah
pemantapan sumber daya, sarana dan prasarana dalam jumlah
tertentu yang secara sadar ditetapkan sebelumnya untuk
menghasilkan sejumlah pekerjaan tepat pada waktunya. (Yozerizal,
2011:1).
Rasio efektivitas menggambarkan kemampuan Pemerintah
Daerah dalam merealisasikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang
direncanakan dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan
berdasarkan potensi ril daerah. Kemampuan daerah dalam
menjalankan tugas dikategorikan efektif apabila rasio yang dicapai
minimal 1 (satu) atau 100 persen. Namun demikian semakin tinggi
rasio efektivitas menggambarkan kemampuan daerah yang semakin
baik.
Rumus:
(Halim, 2004:285).
Berikut dasar untuk menentukan tingkat efektifitas
Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah dengan kriteria sebagai
berikut:
1. Jika diperoleh nilai kurang dari 100% (X<100%), berarti tidak
2. Jika diperoleh nilai sama dengan 100% (X =100%), efektivitas
berimbang.
3. Jika diperoleh nilai lebih dari 100% (X>100%), berarti efektif.
(Hasmiati, 2010:44 dalam Halim, 2011:129).
2.6.3 Rasio Efisiensi Pendapatan Asli Daerah
Efisiensi untuk memperoleh ukuran rasio efektivitas
daerah yang lebih baik, perlu diperbandingkan dengan rasio
efisiensi adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara
besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh Pendapatan
Asli Daerah (PAD) dengan realisasi Pendapatan Asli Daerah
(PAD) yang diterima. (Yoserizal, 2010:36 dalam Halim 2001).
Sebagai contoh, dalam penelitian ini diberikan
perhitungan rasio efektivitas dan rasio efisiensi yang dicapai oleh
Dinas Pendapatan Daerah yang tugas pokok dan fungsinya
melakukan pemungutan pajak dan retribusi adalah sebagai berikut:
Tabel 2.2 Biaya, Target dan Realisasi Penerimaan Pajak dan Retribusi Daerah Yang Dilakukan DISPEMDA Kabupaten
Bayolali Tahun Anggaran 1998/1999 dan 1999/2000
No. Keterangan T.A 1998/1999 1999/200
Target Realisasi Target Realisasi
(Halim, 2004:186).
Rasio perbandingan dapat dikategorikan efisien apabilah
rasio yang dicapai kurang dari 1 (satu) atau dibawah 100%.
Semakin kecil rasio efisiensi berarti kinerja Pemerintah Daerah
semakin baik.
Rasio efisiensi diilustrasikan dengan rumus:
2.7 Kerangka Pikir
Adapun kerangka pikir dalam penelitian ini disajikan dalam
bentuk skema berikut:
Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir
Keterangan: = Fokus Penelitian
= Tidak Diteliti
Rasio Kemandirian Rasio Efektivitas Rasio Efisiensi
Analisis Data Deskriptif
2.8Hipotesis
Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka, maka hipotesis
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
“Diduga Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Morowali belum
mencapai tingkat kemandirian, efektivitas dan efisiensi yang baik” sesuai
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
Secara umum objek dalam penelitian ini adalah Laporan Realisasi
Anggaran APBD Pemerintah Kabupaten Morowali dan secara spesifik
adalah data tentang Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta biaya-biaya yang
dikeluarkan dalam memungut Pendapatan Asli Daerah (PAD), Pemerintah
Kabupaten Morowali Tahun 2007 s/d 2009.
3.2 Jenis dan Sumber Data
3.2.1 Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Data Sekunder yaitu berupa data kuantitatif dalam bentuk
angka antara lain data laporan Realisasi Anggaran APBD dan
Biaya-biaya yang dalam pemungutan Pendapatan Asli Daerah
(PAD), Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun 2007 s/d
2009.
2. Data Primer yaitu kualitatif berupa data tentang hasil
penjelasan dari Pimpinan dan Staf yang memberikan informasi
baik lisan maupun tertulis yang berhubungan dengan
3.2.2 Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
bersumber dari:
1. Dinas Pengelolaan Pendapatan dan Aset Daerah (PPKAD)
Kabupaten Morowali, berupa laporan Realisasi Anggaran
Tahun 2007 s/d 2009 dan biaya-biaya yang di keluarkan dalam
memungut Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kabupaten
Morowali.
2. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Morowali, berupa data
mengenai profil, jumlah penduduk, dan potensi potensi alam
Kabupaten Morowali
3.3 Instrumen Penelitian
Adapun instrumen atau alat pengumpulan data yang digunakan
agar penelitian ini dapat diakui keabsahanya, maka digunakan sebuah alat
perekam yang berfungsi untuk mendokumentasikan bukti-bukti penelitian
di Kabupaten Morowali.
3.4 Prosedur Pengumpulan Data
Adapun prosedur pengumpulan data dalam penlitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Mengurus surat penelitian dari kampus, ditujukan pada instansi terkait
yaitu Dinas Pengeloaan Pendapatan dan Aset Daerah (PPKAD)
2. Interview berupa wawancara dan tatap muka langsung dengan Kepala
Dinas atau Pegawai di Instansi terkait.
3. Dokumentasi, yaitu pengumpulan data-data yang dibutuhkan dalam
penelitian sebagai bahan dokumentasi
4. Waktu yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah selama tiga minggu
(Mulai tanggal 30 Mei s/d 24 Juni 2011).
3.5 Analisis Data
Untuk menjawab permasalahan yang telah dikemukakan dan
dirumuskan, maka metode analisis yang digunakan adalah metode Analisis
Rasio Keuangan Daerah yang ditunjang dengan data-data kualitatif dan
kuatitatif yang ada.
3.5.1 Rasio Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah
Berikut rumus yang digunakan dalam menghitung tingkat
kemandirian Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemerintah
Kabupaten Morowali sebagai berikut:
Rumus:
Adapun kriteria tingkat rasio kemandirian daerah adalah
sebagai berikut:
1. Apabila tingkat kemandirian 0% - 25%, berarti tingkat
2. Apabila tingkat kemandirian 25% - 50%, berarti tingkat
kemandirian daerah rendah.
3. Apabila tingkat kemandirian 50% - 75%, berarti tingkat
kemandirian daerah sedang.
4. Apabila tingkat kemandirian 75% - 100%, berarti tingkat
kemandirian daerah tinggi. (Hasmiati, 2010:34 dalam Nadeak,
2003).
3.5.2 Rasio Tingkat Efektivitas Keuangan Daerah
Adapun rumus yang digunakan dalam menghitung tingkat
rasio efektivitas Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah sebagai
berikut:
Rumus:
Berikut dasar untuk menentukan tingkat efektivitas
Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah dengan kriteria sebagai
berikut:
4. Jika diperoleh nilai kurang dari 100% (X<100%), berarti tidak
efektif.
5. Jika diperoleh nilai sama dengan 100% (X =100%), efektivitas
berimbang.
6. Jika diperoleh nilai lebih dari 100% (X>100%), berarti efektif.
3.5.3 Rasio Tingkat Efisiensi Keuangan Daerah
Rumus:
(Halim, 2004:286).
Adapun kriteria dalam menentukan tingkat rasio efisiensi
Pendapatan Asli Daerah (PAD) yaitu suatu daerah dapat dikatakan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) efisien apabila nilai rasionya
kurang dari 1 (satu) atau kurang dari 100% . (Halim, 2004:286).
3.6 Defenisi Operasional
Untuk memperjelas arah penelitian ini, penulis memberikan
defenisi operasional sebagai berikut:
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah semua penerimaan Pemerintah
Kabupaten Morowali yang terdiri dari Pajak daerah, Retribusi daerah,
Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan Lain-lain
PAD yang sah.
2. Rasio Kemandirian daerah adalah tingkat kemampuan Pendapatan
Asli Daerah (PAD) Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali dalam
membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan
3. Rasio efektivitas Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah tingkat
pencapaian target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang ditetapkan
Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali Tahun Anggaran 2007 s/d
2009.
4. Rasio efisiensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah tingkat biaya
yang dikeluarkan Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali dalam
memungut Rasio efisiensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum
Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah otonomi
terbentuk bersama dengan 2 (dua) Kabupaten lainya di Provinsi Sulawesi
Tengah berdasarkan Undang Undang Nomor 51 tahun 1999, tentang
Pembentukan Kabupaten Buol, Kabupaten Morowali, dan Kabupaten
Banggai yang dimana awalnya merupakan wilayah Kabupaten Poso.
Kabupaten Morowali resmi menjadi Kabupaten pada Tanggal 12 Oktober
1999 yang terdiri dari 8 (delapan) Kecamatan dengan Bupati terpilih
Bapak Drs. Andi Muhamad. Secara administratif luas wilayah Kabupaten
Morowali adalah +15.490,12 km2.
Pada Tahun 2003 Kabupaten Morowali dimekarkan menjadi 10
(sepuluh) Kecamatan, Tahun 2004 mengalami pemekaran sehingga
kecamatan yang semua berjumlah 10 (sepuluh) Kecamatan menjadi 13
(Tiga belas) Kecamatan, dan hingga pada Tahun 2009 dalam
kepemimpinan Bapak Bupati Terpilih Drs. Anwar Hafid Kabupaten
Morowali mengalami Pemekaran menjadi 14 (empat belas) Kecamatan .
Daerah Kabupaten Morowali dalam menyelenggarakan tugas
dan fungsi pemerintahan dibentuk beberapa Dinas Daerah dan Lembaga
menyelenggarakan pemerintahan yang disesuaikan dengan kebutuhan
daerah yaitu sebagai berikut:
a. Organisasi Dinas Daerah Kabupaten Morowali
1. Dinas Pendidikan Daerah Kabupaten Morowali
2. Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Morowali
3. Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah
Kabupaten Morowali
4. Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Kabupaten Morowali
5. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Daerah Kabupaten
Morowali
6. Dinas Pertanian, Peternakan, dan Kesehatan Hewan Daerah
Kabupaten Morowali
7. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Daerah Kabupaten Morowali
8. Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Daerah Kabupaten
Morowali
9. Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Daerah
Kabupaten Morowali
10.Dinas Perhubungan, komunikasi dan Informatika Daerah
Kabupaten Morowali
11.Dinas Pekerjaan Umum Daerah Kabupaten Morowali
12.Dinas Perumahan dan Penataan Ruang Daerah Kabupaten
13.Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Daerah Kabupaten
Morowali
14.Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata Daerah
Kabupaten Morowali.
b. Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Morowali
1. Inspektorat Daerah Kabupaten Morowali
2. Badan Perencanaan, Penelitian dan Pembangunan Daerah
Kabupaten Morowali
3. Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat
Daerah Kabupaten Morowali
4. Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa Daerah
Kabupaten Morowali
5. Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Daerah
Kabupaten Morowali
6. Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Daerah Kabupaten
Morowali
7. Badan Ketahanan Pangan Daerah Kabupaten Morowali
8. Badan Penanaman Modal dan Promosi Daerah Kabupaten
Morowali
9. Badan Pelaksanaan Penyuluhan Penelitian, Perikanan dan
Kehutanan Daerah Kabupaten Morowali
10.Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Morowali
12.Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Daerah Kabupaten
Morowali
13.Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Daerah Kabupaten Morowali
14.Kantor Perizinan dan Pelayanan Terpadu Daerah Kabupaten
Morowali
15.Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Morowali
c. Organisasi Kecamatan Daerah Kabupaten Morowali
1. Menui Kepulauan
2. Bungku Selatan
3. Bahodopi
4. Bungku Tengah
5. Bungku Barat
6. Bumi Raya
7. Witaponda
8. Lembo
9. Mori atas
10.Mori Utara
11.Petasia
12.Soyo Jaya
13.Bungku Utara, dan
14. Mamosalao. (BPS Kabupaten Morowali Dalam Angka Tahun
Secara administratif Kabupaten Morowali memiliki batas-batas
wilayah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Berbatasan dengan wilayah Kabupaten Tojo
Una-Una
Sebelah Selatan : Berbatasan dengan wilayah Provinsi Sulawesi
Tenggara dan Sulawesi Selatan.
Sebelah Timur : Berbatasan dengan wilayah Kabupaten Banggai
dan
Perairan Teluk Tolok.
Sebelah Barat : Berbatasan dengan wilayah Provinsi Sulawesi
Selatan,
Sulawesi Tenggara, Kabupaten Poso dan
Kabupaten
Tojo Una-Una.
(BPS. 2009 Pemerintah Kabupaten Morowali).
Jumlah penduduk Kabupaten Morowali dari hasil registrasi
kependudukan menunjukan bahwa setiap tahunnnya selalu bertambah.
Berikut hasil registrasi penduduk dari tahun 2004 s/d 2009 disajikan dalam
Tabel 4.1 Registrasi Penduduk Daerah Kabupaten Morowali
(Sumber: BPS Kabupaten Morowali Dalam Angka Tahun 2009).
Dari potensi sumber daya alam, Kabupaten Morowali menyimpan
banyak potensi alam yang tidak terhingga nilai dan jumlahnya jika
dikelolah secara baik, yaitu dapat di kelompokan sebagai berikut:
1. Pertanian:
- Tanaman Padi: (Padi sawah dan padi ladang)
- Tanaman palawija; (jagung, ketela pohon, ketela rambat, kacang
tanah, kacang kedelai, dan kacang hijau).
- Buah-buahan; (jeruk, nanas, pisang, salak, jambu dan langsat)
- Sayur-sayuran; (ketimun, kacang-kacangan, lombok, terong, bayam,
kangkung, sawi, tomat dan bawang merah).
2. Potensi sektor pertambangan:
- Golongan A; (minyak bumi, nikel dan batu bara).
- Golongan B; (kromit, besi, calkopirit, pirit dan galena).
3. Perkebunan;
- Perkebunan besar; (kelapa sawit)
- Perkebunan rakyat; (tanaman kelapa, cengkeh, kopi, kelapa sawit,
pala, lada, coklat, karet, jambu mente, vanili, sagu, kapuk dan
kemiri)
4. Kehutanan;
- Kawasan lindung
- Hutan suaka alam wisata
- Hutan lindung
- Kawasan budidaya/hutan produksi
- Hutan produksi biasa
- Hutan produksi yang dapat dikonversi
5. Perikanan dan Kelautan;
- Perairan Teluk tolo Kabupaten Morowali memiliki potensi biotik
yang jenis dan jumlahnya cukup banyak terdiri dari berbagai jenis
ikan, lobster, kepiting bakau, cumi-cumi, gurita, rumput laut, dan
kerang mutiara.
- Sedangkan untuk perikanan budidaya antara lain tambak dan kolam
dengan jenis potensi udang windu, bandeng, ikan mas, nila dan
udang gaja.
6. Ternak
- Ternak besar; (sapi, kerbau, kuda)
- Ternak unggas; (ayam kampung dan ayam potong, dan itik)
7. Pariwisata
- Objek wisata alam/cagar alam morowali; (danau Lowo, danau Tiu,
permandian Air Panas (lembo), Permandian Panapa (lembo),
permandian korowalelo (lembo), Permandian Gontara (Mori Atas),
Air Terjun Wosu (Bungku Barat), air terjun mempueno, permandian
tumpukan (Bungku Tengah), Permandian Ulunipa (Menui
Kepulauan)).
- Objek Wisata Pulau dan Pantai; (pulau Rumba, Pulau Pengia,
pantai/permandian jompi, teluk tomori (batu payung), lokasi marga
satwa pantai burung maleo (bungku barat), pantai siliti (Bungku
utara), pulau langata (bungku selatan), pulau tiga (Menui
kepulauan), tanjung batu manu, tanaman laut pulau tokobae, situs
lambolo, situs tebing tappohulu, situs batu puti, situs P. Ulu, situs
pengia)
- Objek wisata agro; (perkebunan kelapa sawit di kecamatan bungku
barat dan mori atas).
- Objek wisata budaya; (situs raja mori kecamatan petasia, mesjid tua
bungku Kec. Bungku tengah, makam raja bungku Kec. Bungku
tengah, situs ruma zending lemo Kec. Bungku utara)
8. Perdagangan
- Ekspor
- Dolog
4.2 Analisis Deskriptif
4.2.1 Biaya-biaya Yang Dikeluarkan Memungut PAD
Biaya yang dikeluarkan Pemerintah Kabupaten Morowali dalam
memungut Pendapatan Asli Daerah (PAD), Tahun Anggaran 2007 s/d
2009 dapat disajikan dalam tabel 4.2 adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2 Biaya-biaya Dalam Memungut PAD Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun 2007 s/d 2009.
No. Uraian Biaya Tahun
Jumlah 160.337.000,00 258.200.000,00 256.620.000,00
(Sumber: Data Primer Pada Dinas PPKAD Kabupaten Morowali,
2007-2009).
Penerimaan dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah merupakan
suatu refleksi dari 4 (empat) jenis pungutan yaitu Pajak Daerah, Retribusi
daerah, Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan Lain-lain
PAD yang sah.
4.2.2 Penerimaan Pemerintah Kabupten Morowali Tahun 2007
Berikut penerimaan Anggaran Pemerintah Kabupaten Morowali
Tahun 2007 dapat di sajikan dalam bentuk tabel 4.3 adalah sebagai
Tabel 4.3 Penerimaan Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun Angaran Tahu 2007
(Sumber: Dinas PPKAD Pemerintah Kabupaten Morowali, 2007 lampiran 1).
1. Analisis Rasio Kemandirian Daerah
Rumus:
2. Analisis Rasio Efektivitas
Rumus:
atau X = 57,93 %
3. Analisis Rasio Efisiensi No. Uraian
atau X = 3,14 %
4.2.3 Penerimaan Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun 2008
Adapun penerimaan Pendapatan Pemerintah Kabupaten Morowali
Tahun Anggaran 2008, dapat disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 4.4 Penerimaan Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun 2008
(Sumber: Dinas PPKAD Pemerintah Kabupaten Morowali, 2008 lampiran 2).
1. Analisi Rasio Kemandirian Daerah
2. Analisis Rasio Efektivitas
atau X = 57,88 %
3. Anlisis Rasio Efisiensi
atau X = 3,34 %
4.2.4 Penerimaan Pemerintah Kabupten Morowali Tahun 2009
Untuk Tahun 2009 Penerimaan Pendapatan Pemerintah Kabupaten
Morowali adalah sebagai berikut:
Tabel 4.5Penerimaan Pemerintah Kabupaten Morowali Tahun 2009
(Sumber: Dinas PPKAD Pemerintah Kabupaten Morowali, 2009 lampiran 3). No. Uraian
1. Analisis Rasio Kemandirian Daerah
atau X = 2,56 %
2. Analisis Rasio Efektivitas
atau X = 43,41 %
3. Analisis Rasio Efisiensi
atau X = 1,94 %
4.3 Kajian Analisis Tingkat Rasio Keuangan Daerah Kabupaten
4.3.1 Rata-rata Tingkat Kemandirian, Efektifitas dan Efisiensi PAD Pemerintah Kabupaten Morowali
Berikut hasil analisis tingkat kemandirian, efektivitas dan
efisiensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemerintah Kabupaten
Morowali, jika di rata-ratakan dalam tabel 4.6 sebagai berikut:
Tabel 4.6 Tingkat Rata-rata Kemandirian, Efektivitas dan Efisiensi PAD Pemerintah Kabupaten Morowali
Tahun Anggaran 2007 s/d 2009
No. Uraian Tahun Anggran Nilai Anggaran Kabupaten Morowali Tahun 2007 s/d 2009).
4.3.2 Analisis Tingkat Kemandirian PAD Pemerintah Kabupaten
Morowali
Pengujian masalah tingkat kemandirian PAD Pemerintah
7. Apabila tingkat kemandirian 50% - 75%, berarti tingkat
kemandirian daerah sedang.
8. Apabila tingkat kemandirian 75% - 100%, berarti tingkat
kemandirian daerah tinggi. (Hasmiati, 2010:34 dalam
Nadeak, 2003).
Tingkat Kemadirian PAD Pemerintah Kabupaten Morowali:
Diketahui; X Tahun Anggaran 2007 = 1,01 %
X Tahun Anggaran 2008 = 1,45 %
X Tahun Anggaran 2009 = 2,56 %
X Rata-rata = 1,67 %
Keputusan:
Karena nilai rata-rata tingkat kemandirian (X) Pendapatan Asli
Daerah (PAD) Kabupaten Morowali, Tahun Anggran 2007 s/d
2009 adalah 1,67% maka, tingkat kemandirian Pendapatan
Asli Daerah (PAD) Kabupaten Morowali dapat dikatakan
rendah sekali atau berada pada kisaran 0% - 25% (instruktif).
4.3.3 Analisis Tingkat Efektivitas PAD Pemerintah Kabupaten
Morowali
Pengujian masalah tingkat efektivitas PAD Pemerintah
Kabupaten Morowali sebagai berikut:
Kriteria tingkat efektivitas PAD:
7. Jika diperoleh nilai kurang dari 100% (X<100%), berarti
8. Jika diperoleh nilai sama dengan 100% (X =100%),
efektifitas berimbang.
9. Jika diperoleh nilai lebih dari 100% (X>100%), berarti
efektif.
(Hasmiati, 2010:44 dalam Halim, 2011:129).
Tingkat Efektivitas PAD Pemerintah Kabupaten Morowali:
Diketahui; X Tahun Anggaran 2007 = 57,93 %
X Tahun Anggaran 2008 = 58,88 %
X Tahun Anggaran 2009 = 43,41 %
X Rata-rata = 53,07 %
Keputusan:
Karena nilai rata-rata tingkat efektivitas (X) Pendapatan Asli
Daerah (PAD) Pemerintah Kabupaten Morowali, Tahun
Anggaran 2007 s/d 2009 adalah 53,07% maka, tingkat
efektivitas Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten
Morowali dapat dikatakan belum efektif, karena X<100% atau
53,07<100%.
4.3.4 Analisis Tingkat Efisiensi PAD Pemerintah Kabupaten
Pengujian masalah tingkat efektivitas PAD Pemerintah
Kabupaten Morowali sebagai berikut:
Kriteria Tingkat efisiensi PAD:
Adapun kriteria dalam menentukan tingkat rasio efisiensi
Pendapatan Asli Daerah (PAD) yaitu suatu daerah dapat
dikatakan Pendapatan Asli Daerah (PAD) efisien apabila nilai
rasionya kurang dari 1 (satu) atau kurang dari 100% . (Halim,
2004:286).
Tingkat efisiensi PAD Pemerintah Kabupaten Morowali:
Diketahui; X Tahun Anggaran 2007 = 3,14 %
X Tahun Anggaran 2008 = 3,34 %
X Tahun Anggaran 2009 = 1,94 %
X Rata-rata = 2,81 %
Keputusan:
Karena nilai rata-rata tingkat efisiensi (X) Pendapatan Asli
Daerah (PAD) Kabupaten Morowali, Tahun Anggaran 2007
s/d 2009 adalah 2,81% maka, tingkat efisiensi Pendapatan Asli
Daerah (PAD) Kabupaten Morowali dikatakan efisien karena,
X<100% atau 2,81<100%.
4.4 Pembahasan
4.4.1 Penjelasana Umum
Daerah Kabupaten Morowali dalam melaksanakan perannya
2004 tentang Pemerintah Daerah yang telah dirubah dengan
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 menyatakan, pemberian otonomi daerah
kepada daerah di dasarkan atas asas desentralisasi dalam wujud otonomi
daerah yang luas, nyata dan bertanggungjawab.
Salah satu syarat yang diperlukan untuk melaksanakan
kewenangan atas dasar desentralisasi adalah tersedianya sumber-sumber
pembiayaan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun
2004 tentang, Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Daerah. Tentunya dengan adanya Undang-Undang tersebut memberikan
keleluasaan bagi daerah Kabupaten Morowali dalam mengelola keuangan
secara otonom, karena dianggap lebih memahami daeranya sendiri.
Agar daerah mampu menjalankan perannya, daerah diberikan
kewenangan yang seluas-luasnya disertai dengan pemberian hak dan
kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem
penyelenggaraan pemerintahan negara. Dalam hal ini daerah diberi hak
untuk mendapatakan sumber-sumber penerimaan keuangan sesuai dengan
urusan pemerintah yang diserahkan dalam hal ini Pemerintah menetapkan
prinsip-prinsip uang mengikuti fungsi.
Pendapatan Asli Daerah yang selanjutnya disingkat PAD adalah
pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan
daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang merupakan sumber
sebagian beban belanja yang diperlukan untuk penyelenggaraan
pemerintahan dan kegiatan pembangunan yang setiap tahunya meningkat
sehingga kemandirian otonomi daerah yang luas, nyata, dan
bertanggungjawab dapat dilaksanakan sebagaimana diatur dalam pasal 6
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2000.
Adapun sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pemerintah Kabupaten Morowali terdiri dari:
a. Pajak daerah
b. Retribusi daerah
c. Hasil pengelolaan kekayaan yang dipisahkan
d. Lain-lain pendapatan asli daerah yang dipisahkan.
4.4.2 Tingkat Kemandirian PAD Pemerintah Kabupaten Morowali
Berbicara kemandirian keuangan suatu daerah tentunya tidak
terlepas dari kemampuan aparatur daerah sebagai penyelenggara
pemerintahan dalam mengalokasikan keuangan daerahnya yang tepat pada
sasaran, terarah dan berkesinambungan sehingga dapat menciptakan dan
meningkatkan sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang baru.
Dalam hal ini bahwa pemerintah daerah dalam menyelenggarakan
urusan-urusan pemerintahan ditekankan untuk tidak terlalu mengandalkan
sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang telah ada akan tetapi
pemerintah daerah dituntut untuk selalu berinovasi dalam menciptakan
Kemandirian keuangan daerah (otonomi fiskal) menunjukan
kemampuan Pemerintah Daerah dalam membiayai sendiri kegiatan
pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat yang
bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Untuk melihat atau menentukan tingkat kemandiri Pendapatan Asli
Daerah (PAD) suatu daerah dalam hal ini daerah Kabupaten/Kota, dapat
dilihat dari kemandirian keuangan daerahnya yang ditunjukan oleh besar
kecilnya Pendapat Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari pajak daerah,
retribusi daerah, hasil pemngelolaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain
PAD yang sah dibandingkan dengan pendapatan daerah yang berasal dari
sumber yang lain misal, bantuan Pemerintah Pusat dan Pinjaman.
Semakin tingginya rasio kemandirian suatu daerah mengandung
arti bahwa tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak ekstern
(terutama Pemerintah Pusat dan Provinsi) semakin kecil, dan demikian
juga sebaliknya.
Tingkat kemandirian Pendapatan Asli Daerah (PAD) suatu daerah
dapat ditentukan dengan dasar kriteria tertentu. Tingkat kemandirian
antara 0%-25% menunjukan tingkat kemandiriannya rendah sekali, tingkat
kemandirian 25%-50% dikategorikan rendah, 50%-75% dikatakan tingkat
kemandiriannya sedang, dan 75%-100% tingkat kemandirian
dikategorikan tingkat kemandiriannya tergolong tinggi.
Pemerintah Kabupaten Morowali pada Tahun 2007 kontribusi
pembangunan daerahnya sebesar 57,93%, Pada tahun 2008 tingkat
kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD)-nya 57,88% dan pada tahun
2009 mengalami penurunan yaitu hanya 43,41% kontribusinya dalam
mebiayai urusan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan pada
masyarakat Kabupaten Morowali dan apabilah dirata-ratakan mulai dari
tahun 2007 s/d 2009 kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemerintah
Kabupaten Morowali yang diberikan adalah 53,07%.
Sedangkan bantuan pendanaan yang bersumber di luar dari
Pendapatan Asli Daerah (PAD) yaitu pada tahun 2007 (Transfer 96,42%
dan lain-lain pendapatan yang sah 93,46%), pada Tahun 2008 (Tranfer
97,64% dan lain-lain pendapatan yang sah 99,98%), dan pada tahun 2009
(pendapatan transfer adalah 99,18% dan lain-lain pendapatan yang sah
102,79%). Jika dirata-ratakan kontribusi pendapatan diluar dari
Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah 98,25%.
Melihat dari pada tingkat kemandirian daerah Kabupaten Morowali
selama 3 (tiga) Tahun masa anggaran yaitu dari Tahun 2007 s/d 2009
berdasarkan hasil analisis terlihat bahwa sangat tidak stabil dan belum bisa
dikatakan mandiri. Hal tersebut dapat dilihat dengan membandingkan dari
tingkat kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) antara Pemerintah
Kabupaten Morowali dan Pusat atau Provinsi pada Tahun 2007 s/d 2009
dalam membiayai urusan pemerintahan di daerahnya.
Secara rasio tingkat kemandirian daerah Kabupaten Morowali Pada
pemerintahan di daerahnya yaitu 1,01%, Tahun 2008 1,45% dan 2,56%
pada Tahun 2009. Jika dirata-ratakan tingkat Pendapatan Asli Daerah
(PAD) Kabupaten Morowali dari Tahun 2007 s/d 2009 hanya mencapai
1,67% dalam hal ini bahwa tingkat kemandiriannya masuk dalam kategori
rendah sekali (instruktif), yaitu tingkat kemadirian daerah Kabupaten
Morowali berada pada kisaran 0% - 25%. Hal ini menunjukan tingkat
ketergantungan daerah Kabupaten Morowali terhadap Pemerintah Pusat
dan Provinsi atau bantuan dari pihak lain masih tergolong tinggi dan masih
jauh dari standar kemandirian daerah.
Menaggapi hal tersebut Pemerintah Kabupaten Morowali penulis
menyarankan mulai sekarang harus mengambil langkah-langkah
intensifikasi dan ekstensifikasi secara efektif agar Pendapatan Asli Daerah
Kabupaten Morowali pada masa-masa yang akan datang menjadi
meningkat guna mencapai derah otonomi yang lebih mandiri.
Secara intensifikasi dan ekstensifikasi dimaksudkan yaitu agar
Pemerintah Kabupaten Morowali untuk terus memacu melakukan
perubahan-perubahan mendasar dan mendalam baik secara internal
maupun eksternal seperti pembenahan Sumber Daya Manusia (SDM)
berkualitas dan memilki disiplin ilmu yang tinggi di bidang manajemen
keuangan daerah di tataran birokrasi agar apa yang menjadi harapan
pemerintah daerah untuk menjadi sebuah daerah yang mandiri dapat
tercapai.