• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

PROVINSI MALUKU UTARA

(2)

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

PROVINSI MALUKU UTARA

BANK INDONESIA TERNATE Jl. Jos Sudarso No.1 Tenate Telp. 62-921-3121217 Fax : 62-921-31-24017

(3)

VISI BANK INDONESIA

Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya

secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan stabil”

MISI BANK INDONESIA

“Mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pemeliharaan kestabilan moneter dan pengembangan stabilitas sistem keuangan untuk pembangunan jangka panjang

negara Indonesia yang berkesinambungan”

TUGAS BANK INDONESIA

(Pasal 8 UU No. 23 Tahun 1999)

1. Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, 2. Mengatur dan menjaga kelancaran system pembayaran, 3. Mengatur dan mengawasi bank.

Kritik, saran dan komentar dapat disampaikan kepada :

Redaksi :

Kelompok Kajian, Statistik, Survey dan Pengawasan Bank Kantor Bank Indonesia Ternate

Jl. Jos Sudarso No. 1, Ternate Telp : (0921) 3121217 Fax : (0921) 3124017

(4)

KATA PENGANTAR

Tugas Bank Indonesia berdasarkan UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia

sebagaimana telah diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004 adalah menetapkan dan

melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran system pembayaran

serta mengatur dan mengawasi bank dalam rangka mencapai dan memelihara kestabilan

nilai rupiah.

Sejalan dengan undang-undang tersebut, keberadaan Kantor Bank Indonesia di

daerah merupakan bagian dari jaringan kerja Kantor Pusat Bank Indonesia yang berperan

sebagai pelaksana kebijakan Bank Indonesia dan tugas-tugas pendukung lainnya di daerah.

Sebagai jaringan kerja Kantor Pusat Bank Indonesia di bidang ekonomi dan

moneter, Bank Indonesia Ternate berperan memberikan masukan dengan menyusun dan

menerbitkan suatu produk yaitu Laporan Perkembangan Ekonomi, Kinerja Perbankan dan

Sistem Pembayaran Provinsi Maluku Utara. Laporan ini diolah berdasarkan data dan

informasi di daerah untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan kebijakan moneter Bank

Indonesia dan diharapkan dapat menjadi salah satu bahan informasi bagi penentu

kebijakan di daerah. Laporan Triwulan ini meliputi perkembangan inflasi regional; ekonomi,

moneter dan Perbankan; sistem pembayaran dan prospek ekonomi.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih menemui beberapa

kendala. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati kami senantiasa mengharapkan

kritik dan saran serta kerjasama dari semua pihak agar kualitas dan manfaat laporan ini

menjadi lebih baik di waktu yang akan datang.

Akhirnya, kepada pihak-pihak yang membantu tersusunnya laporan ini, kami

sampaikan penghargaan dan ucapkan terima kasih.

Ternate, 5 Mei 2009 BANK INDONESIA TERNATE

(5)

ii

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

DAFTAR TABEL iv

DAFTAR GAMBAR v

TABEL INDIKATOR EKONOMI TERPILIH vii

RINGKASAN EKSEKUTIF ix

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO 1

1.1 Gambaran Umum 1

1.2 Perkembangan PDRB dari Sisi Permintaan 2

1.3 Perkembangan Ekonomi dari Sisi Penawaran 8

BOKS 1 Maluku & Maluku Utara Investment Day 2010 20

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI REGIONAL 25

2.1 Gambaran Umum 25

2.2 Inflasi Triwulanan 26

2.3 Inflasi Tahunan 30

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN 35

3.1 Perkembangan Perbankan 35

a. Perkembangan Aset Bank Umum 35

b. Penghimpunan Dana Bank Umum 37

c. Penyaluran Kredit 39

c.1. Penyaluran Kredit Berdasarkan Bank Pelapor 39

d. Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Umum 41

e. Non Performing Loans (NPLs) Bank Umum 42

BAB IV PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH 44

4.1 Gambaran Umum 44

4.2 Pendapatan Daerah 45

4.3 Belanja Daerah 47

4.4 Kapasitas Fiskal 48

BOKS 2 Efisiensi Keuangan Daerah di Maluku Utara 50

BAB V PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN 53

5.1 Transaksi Tunai 53

5.2 Transaksi Non Tunai 58

BAB VI PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAERAH 60

6.1 Kondisi Umum 60

6.2 Lapangan Pekerjaan Utama 61

(6)

6.4 Upah 62

BAB VII PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH 64

7.1 Prospek Pertumbuhan Ekonomi 64

(7)

iv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Komposisi Kepemilikan Aset Bank Umum di Maluku Utara (Milyar Rp) 37

Tabel 3.2 Perkembangan Kredit Bank Umum di Maluku Utara (Miliar rupiah) 40

Tabel 4.1 Nilai Dana Alokasi Umum (Milyar Rupiah) 46

Tabel 4.2 Kapasitas Fiskal Provinsi Malut 48

Tabel 5.1 Kegiatan Kas Keliling BI Ternate 56

Tabel 5.2 Perkembangan Pemusnahan Uang Kertas Di bank Indonesia Ternate

(Miliar Rp)

57

Tabel 5.3 Kegiatan Sosialisasi Keaslian Uang Rupiah 57

Tabel 5.4 Perkembangan Kliring Perbankan 59

Tabel 5.5 Penyelesaian transaksi RTGS Kota Ternate 59

Tabel 6.1 Tenaga Kerja Berdasarkan Sektor Ekonomi 61

Tabel 6.2 Tenaga Kerja Bedasarkan Status Pekerjaan (Ribu orang) 62

(8)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1.1 Perkembangan PDRB Riil Maluku Utara 1

Gambar 1.2 Pertumbuhan PDRB Malut Sisi Permintaan dan Kontribusinya (y-o-y) 2

Gambar 1.3 Perkembangan Konsumsi Riil Maluku Utara 3

Gambar 1.4 Perkembangan Penyaluran Kredit Konsumsi Oleh Perbankan di Malut 3

Gambar 1.5 Konsumsi Riil Masyarakat Maluku Utara (Milyar Rupiah) 4

Gambar 1.6 Perkembangan Investasi Riil Maluku Utara 4

Gambar 1.7 Perkembangan Kredit Investasi Oleh Perbankan di Malut 5

Gambar 1.8 Perkembangan Riil Pengeluaran Pemerintah 5

Gambar 1.9 Perkembangan Ekspor Riil 6

Gambar 1.10 Realisasi Ekspor Nickel Maluku Utara 7

Gambar 1.11 Perkembangan Impor Maluku Utara 7

Gambar 1.12 Pertumbuhan PDRB Malut Sisi Penawaran dan Kontribusinya (y-o-y) 8

Gambar 1.13 Perkembangan PDRB Riil Sektor Pertanian 9

Gambar 1.14 Volume Produksi Ikan di PPN Ternate (Ton) 10

Gambar 1.15 Perkembangan PDRB Riil Sektor Pertambangan dan Penggalian 11

Gambar 1.16 Produksi Tambang PT NHM 11

Gambar 1.17 Perkembangan PDRB Riil Sektor Industri Pengolahan 12

Gambar 1.18 Perkembangan PDRB Riil Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih 13

Gambar 1.19 Konsumsi Listrik Maluku Utara (MWh) 14

Gambar 1.20 Produksi, Distribusi dan Air Terjual 14

Gambar 1.21 Perkembangan PDRB Riil Sektor Bangunan 15

Gambar 1.22 Perkembangan PDRB Riil Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran 15

Gambar 1.23 Perkembangan PDRB Riil Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 16

Gambar 1.24 Lalu Lintas Angkutan Udara 17

Gambar 1.25 Perkembangan PDRB Riil Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa

Perusahaan

18

Gambar 1.26 Perkembangan PDRB Riil Sektor Jasa-jasa 18

Gambar 2.1 Perbandingan Triwulanan dan Tahunan Inflasi Ternate Terhadap

Nasional

(9)

vi

Gambar 2.3 Inflasi Sub Kelompok Bahan Makanan (q-t-q) 27

Gambar 2.4 Inflasi Sub Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau

(q-t-q)

27

Gambar 2.5 Inflasi Sub Kelompok Perumahan, Listrik, Air, Gas dan Bahan Bakar

(q-t-q)

28

Gambar 2.6 Inflasi Sub Kelompok Sandang, Air, Gas dan Bahan Bakar (q-t-q) 28

Gambar 2.7 Inflasi Sub Kelompok Kesehatan (q-t-q) 29

Gambar 2.8 Inflasi Sub Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga (q-t-q) 29

Gambar 2.9 Inflasi Sub Kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan

(q-t-q)

30

Gambar 2.10 Inflasi Sub Kelompok Bahan Makanan (y-o-y) 31

Gambar 2.11 Inflasi Sub Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau

(y-o-y)

31

Gambar 2.12 Inflasi Sub Kelompok Perumahan, Listrik, Air, Gas dan Bahan Bakar

(y-o-y)

32

Gambar 2.13 Inflasi Sub Kelompok Sandang, Air, Gas dan Bahan Bakar (y-o-y) 33

Gambar 2.14 Inflasi Sub Kelompok Kesehatan (y-o-y) 33

Gambar 2.15 Inflasi Sub Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga (y-o-y) 33

Gambar 2.16 Inflasi Sub Kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan

(y-o-y)

34

Gambar 3.1 Perkembangan Aset Bank Umum di Maluku Utara 36

Gambar 3.2 Perkembangan Aset Bank Umum Valuta Asing di Maluku Utara 37

Gambar 3.3 Perkembangan DPK Perbankan 39

Gambar 3.4 Perkembangan LDR Bank Umum di Maluku Utara 42

Gambar 3.5 Perkembangan NPL’s Perbankan Daerah 43

Gambar 4.1 Perkembangan APBD Maluku Utara 45

Gambar 4.2 Perkembangan Penerimaan Daerah 46

Gambar 4.3 Perkembangan Indeks Kapasitas Fiskal Malut 49

Gambar 5.1 Perkembangan Kegiatan Kas Bank Indonesia Ternate (Milyar Rupiah) 54

Gambar 5.2 Perkembangan Kegiatan Kas Keliling BI Ternate 55

Gambar 5.3 Rata-rata Harian Transaksi Kliring 58

(10)

TABEL INDIKATOR EKONOMI TERPILIH

INFLASI & PDRB

INDIKATOR TAHUN 2009 TAHUN 2010

Tw. I MAKRO

Indeks Harga Konsumen (Kota Ternate) 120,38 122,53

Laju Inflasi Tahunan (yoy %) 3,88 4,43

PDRB - harga konstan (miliar Rp)

- Pertanian 996.835,99 253.750,78

- Pertambangan & Penggalian 114.391,76 30.529,27

- Industri Pengolahan 351.854,73 91.087,93

- Listrik, Gas & Air Bersih 13.163,75 3.388,23

- Bangunan 50.798,64 13.295,66

- Perdagangan, Hotel & Restoran 734.592,56 197.290,73

- Pengangkutan & Komunikasi 228.831,21 59.398,63

- Keuangan, Persewaaan & Jasa 101.673,46 26.307,33

- Jasa 218.071,06 57.427,63

Pertumbuhan PDRB (yoy %) 6,01 9,35

Nilai Ekspor Nonmigas (USD Juta) 115,64 3,132

Volume Ekspor Nonmigas (ribu ton) 3.221,16 77,54

Nilai Impor Nonmigas (USD Juta) 0,25 2,2

Volume Impor Nonmigas (ribu ton) 0,07 0,13

Keterangan

(11)

viii  

INDIKATOR TAHUN 2009 TAHUN 2010

Tw. I

PERBANKAN Bank Umum:

Total Aset (Rp triliun) 3,04 3,08

DPK (Rp triliun) 2,67 2,69

- Giro 0,51 0,68

- Tabungan 1,56 1,40

- Deposito 0,60 0,62

Kredit (Rp triliun) 1,69 1,84

- Modal Kerja 0,55 0,58

- Investasi 0,16 0,18

- Konsumsi 0,98 1,08

LDR 63,11% 68,41%

Kredit UMKM (Rp juta)

Kredit Mikro (Rp juta) 686,376 n.a.

- Modal Kerja 58,280 n.a.

- Investasi 11,225 n.a.

- Konsumsi 616,871 n.a.

Kredit Kecil (Rp juta) 543,775 n.a.

- Modal Kerja 167,085 n.a.

- Investasi 50,769 n.a.

- Konsumsi 325,921 n.a.

Kredit Menengah (Rp juta) 380,512 n.a.

- Modal Kerja 259,053 n.a.

- Investasi 84,273 n.a.

- Konsumsi 37,86 n.a.

Total Kredit MKM (Rp juta) 1.610,663 n.a.

NPL MKM (%) 2,92 n.a.

Keterangan:  

Kredit Mikro (< Rp50 juta)  

Kredit Kecil (Rp50 juta < X ≤ Rp500 juta)  

(12)

Ringkasan Eksekutif

GAMBARAN UMUM

Kondisi perekonomian Maluku Utara pada triwulan

I-2010 masih menunjukan kinerja positif dibandingkan periode

yang sama tahun sebelumnya. Secara tahunan tercatat angka

pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) atas

dasar harga konstan pada triwulan I-2010 adalah 9,35%

(y-o-y). Tingkat pertumbuhan ini merupakan tingkat

pertumbuhan tahunan tertinggi sejak dimekarkannya Provinsi

Maluku Utara.

Tingkat inflasi di Kota Ternate sebagai representasi

tingkat harga di Maluku Utara pada Triwulan I-2010

mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan yang

sama tahun sebelumnya, namun mengalami peningkatan bila

dibandingkan dengan tingkat harga pada Triwulan IV-2009.

Secara triwulanan perkembangan harga di Ternate pada

triwulan I-2010 tercatat mengalami inflasi sebesar 1,79%

(q-t-q), sedangkan secara tahunan pada triwulan laporan terjadi

inflasi sebesar 4,43% (y-o-y).

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO

Perkembangan ekonomi Maluku Utara pada triwulan

I-2010 secara dominan masih digerakan oleh konsumsi

masyarakat. Konsumsi masyarakat memberikan kontribusi

terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan I-2010 sebesar

7,45%. Meningkatnya kinerja ekspor juga memberikan

kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi pada

triwulan laporan, dimana kontribusi ekspor terhadap

pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 2,63%. Jika

dibandingkan pertumbuhannya, komponen PDRB sisi Perekonomian Provinsi

Maluku Utara pada triwulan I-2010 mengalami

pertumbuhan 9,35% (y-o-y).

Tingkat inflasi tahunan Maluku Utara tercatat 3,88% ...

(13)

permintaan yang mengalami pertumbuhan tahunan tertinggi

adalah impor yang tumbuh sebesar 18,29% (y-o-y).

Dari sisi penawaran, seluruh sektor perekonomian di

Maluku Utara pada triwulan I-2010 menunjukan kinerja yang

positif. Pertumbuhan tertinggi dialami oleh sektor

perdagangan, hotel dan restoran, lalu sektor pertambangan

dan penggalian juga sektor jasa-jasa yang seluruhnya tumbuh

diatas 10%. Sektor yang memberikan kontribusi paling besar

terhadap pertumbuhan ekonomi pada periode laporan

adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran.

INFLASI REGIONAL

Tingkat inflasi di Kota Ternate pada triwulan I-2010

secara triwulanan (q-t-q) mengalami peningkatan, sedangkan

secara tahunan (y-o-y) terjadi penurunan. Pada triwulan

I-2010 tingkat inflasi di Kota Ternate tercatat sebesar 1,79%

(q-t-q), sedangkan pada triwulan IV-2009 tingkat inflasinya

sebesar 1,54% (q-t-q). Secara tahunan tingkat inflasi pada

triwulan I-2010 adalah 4,43% (y-o-y), dimana pada triwulan

yang sama tahun sebelumnya tingkat inflasi yang terjadi

adalah 7,64% (y-o-y).

Jika dibandingkan terhadap inflasi nasional, inflasi

yang terjadi di Kota Ternate lebih tinggi, baik itu secara

triwulanan maupun secara tahunan. Inflasi nasional pada

triwulan IV-2009 adalah 0,99% (q-t-q), sedangkan secara

tahunan inflasi yang terjadi adalah 3,45% (y-o-y).

Jika dianalisa secara tahunan, inflasi tertinggi terjadi

pada kelompok bahan makanan yaitu sebesar 6,96%,

sedangkan penurunan harga terjadi pada kelompok transpor,

komunikasi dan jasa keuangan sebesar minus0,24%.

PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH

Secara umum kinerja perbankan pada triwulan

IV-2009 mengalami peningkatan. Total aset bank umum di Inflasi tahunan menurun

sedangkan inflasi triwulanan meningkat…

Inflasi Ternate lebih tinggi dari nasional…

Inflasi tertinggi terjadi pada kelompok bahan

makanan…

Kinerja perbankan

mengalami peningkatan… Sektor ekonomi yang memberikan kontribusi terbesar adalah

(14)

wilayah kerja Bank Indonesia Ternate tumbuh sebesar 2,01%

(y-o-y), mengalami peningkatan dibandingkan triwulan

sebelumnya. Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) oleh

perbankan menurun sebesar minus 4,72% (y-o-y). Kegiatan

penyaluran kredit kepada masyarakat tumbuh sebesar

33,17% (y-o-y), mengalami peningkatan ibandingkan

triwulan sebelumnya. Pada triwulan IV-2009 kegiatan

intermediasi perbankan mengalami peningkatan dimana LDR

bank umum tercatat sebesar 68,41%. Jumlah kredit

bermasalah pada triwulan II-2009 mengalami penurunan jika

dibandingkan dengan triwulan sebelumnya dari 2,79% pada

triwulan IV-2009 menjadi 2,62% pada triwulan I-2010.

KEUANGAN DAERAH

Pada tahun 2010 dana alokasi umum yang diberikan

kepada pemerintah Provinsi Maluku Utara mengalami

kenaikan 4,63%. Daerah yang mengalami penurunan DAU

adalah Kabupaten Halmahera Tengah dan Kabupaten

Halmahera Utara, yaitu masing-masing sebesar minus 9,29%

dan minus 24,80%. Kota Ternate mengalami kenaikan DAU

sebanyak 7,32%; lalu Kabupaten Halmahera Barat naik

sebanyak 8,66%; Kabupaten Halmahera Timur kenaikannya

sebesar 6,67%; Kabupaten Halmahera Selatan mengalami

peningkatan 1,20%; Kabupaten Kepulauan Sula naik 1%;

dan kenaikan tertinggi terjadi pada Kota Tidore Kepulauan

dengan kenaikan 14,40%.

SISTEM PEMBAYARAN

Pada triwulan I-2010 jumlah uang kartal yang masuk

ke Bank Indonesia Ternate tercatat sebesar Rp 84,6 miliar,

dimana pada triwulan IV-2009 jumlahnya adalah Rp 65,6

miliar. Dengan demikian terjadi peningkatan aliran masuk

uang kartal sebanyak 28,98% (q-t-q) pada triwulan I-2010.

Secara bulanan puncak aliran uang kartal di triwulan I-2010 DAU Pemprov Malut naik

4,63% ...

(15)

terjadi pada bulan Januari dengan jumlah mencapai Rp 47,8

miliar.

Disisi lain terjadi penurunan aliran uang keluar

sebanyak minus 34,87% (q-t-q), dimana jumlah uang kartal

yang keluar dari Bank Indonesia Ternate pada triwulan I-2010

adalah Rp 159,3 miliar, sedangkan pada triwulan IV-2009

jumlah uang kartal yang keluar adalah Rp 244,6 miliar rupiah.

Apabila dilihat secara bulanan, puncak outflow pada triwulan

I-2010 terjadi di bulan Januari dan Maret, dengan jumlah

masing-masing mencapai Rp 65,9 miliar dan Rp 76,9 miliar.

Pada triwulan I-2010 rata-rata penyelesaian transaksi

harian melalui kliring mengalami peningkatan. Nilai rata-rata

harian transaksi kliring pada triwulan laporan adalah Rp 2,94

miliar, mengalami kenaikan 11,57% (q-t-q) dibandingkan

posisi triwulan IV-2009 yang jumlahnya adalah Rp 2,64 miliar.

Penyelesaian transaksi ekonomi pada triwulan I-2010

melalui sarana RTGS mengalami penurunan. Transaksi

ekonomi melalui sarana RTGS keluar wilayah Maluku Utara

(outflow), kedalam wilayah Maluku Utara (inflow), maupun

antar bank di wilayah Maluku Utara (from-to) secara nominal

dan volume seluruhnya mengalami penurunan.

TENAGA KERJA

Jumlah angkatan kerja dan penduduk yang bekerja di

Ternate sampai dengan bulan Agustus 2009 secara tahunan

mengalami penurunan, serta diikuti dengan peningkatan

tingkat pengangguran terbuka. Pada posisi bulan Agustus

2009 jumlah angkatan kerja di Ternate adalah 402 ribu jiwa

atau mengalami penurunan sebesar minus 4,71% (y-o-y)

dimana jumlah angkatan kerja pada posisi Agustus 2008

adalah 421,9 ribu jiwa.

Proporsi sektor primer dalam menyerap tenaga kerja

secara tahunan mengalami penurunan. Pada Agustus 2008

sektor primer mampu menyerap sebanyak 60,92% seluruh Penduduk usia kerja di

Maluku Utara mengalami penurunan ...

Penyelesaian transaksi melalui kliring mengalami

peningkatan ...

Aliran uang kartal yang keluar melalui BI menurun...

(16)

tenaga kerja yang ada di Maluku Utara, namun pada Agustus

2009 sektor ini hanya menyerap 57,03%.

Proporsi sektor formal dalam menyerap tenaga kerja

mengalami peningkatan dibandingkan sektor informal.

Berdasarkan posisi Agustus 2009, sector formal mampu

menyerap sebanyak 31,34% seluruh tenaga kerja, sedangkan

pada Agustus 2008 penyerapan tenaga kerja di sektor ini

adalah 22,91%.

PROSPEK EKONOMI REGIONAL

Pada triwulan II-2010 perekonomian Maluku Utara

diperkirakan akan mengalami pertumbuhan sebesar 8,8% ±

1% (y-o-y). Munculnya panen raya cengkih, dan membaiknya

kondisi cuaca merupakan faktor pendorong pertumbuhan

pada triwulan II-2010. Pelaksanaan pemilihan kepala daerah

juga dipercaya akan menjadi faktor pendorong lainnya.

Pada triwulan I-2010 inflasi diproyeksikan akan

berada pada tingkat 4,25% ± 1% (y-o-y). Tingginya inflasi

diperkirakan akan dipengaruhi oleh naiknya permintaan

masyarakat, sehubungan dengan masa liburan sekolah. Pertumbuhan ekonomi

diperkirakan akan melambat pada triwulan I-2010 ...

(17)

Perkembangan

Ekonomi Makro

1.1 Gambaran Umum

Kondisi perekonomian Maluku Utara pada triwulan I-2010 masih

menunjukkan kinerja positif dibandingkan periode yang sama tahun

sebelumnya. Secara tahunan tercatat angka pertumbuhan produk domestik

regional bruto (PDRB) atas dasar harga konstan pada triwulan I-2010 adalah 9,35%

(y-o-y). Tingkat pertumbuhan ini merupakan tingkat pertumbuhan tahunan tertinggi

sejak dimekarkannya Provinsi Maluku Utara. Meskipun kinerja perekonomian

sempat mengalami perlambatan pada triwulan IV-2008, namun pada

triwulan-triwulan berikutnya kinerja perekonomian terus mengalami peningkatan.

Gambar 1.1

Perkembangan PDRB Riil Maluku Utara

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Maluku Utara

pada triwulan I-2010 secara dominan masih ditopang oleh kegiatan

konsumsi masyarakat. Terus membaiknya kinerja ekspor juga memberikan

kontribusi positif dalam pertumbuhan ekonomi pada periode ini. ‐

2007 2008 2009 2010

PDRB (Milyar Rp) Pertumbuhan (y‐o‐y)

Bab

(18)

Dari sisi penawaran, seluruh sektor perekonomian di Maluku Utara pada

triwulan I-2010 menunjukkan kinerja yang positif. Sektor yang memberikan

kontribusi paling besar terhadap pertumbuhan ekonomi pada periode laporan

adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran.

1.2 Perkembangan PDRB dari Sisi Permintaan

Perkembangan ekonomi Maluku Utara pada triwulan I-2010 secara dominan masih

digerakan oleh konsumsi masyarakat. Seperti yang tampak pada gambar 1.2.,

konsumsi masyarakat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi

triwulan I-2010 sebesar 7,45%. Artinya dari angka pertumbuhan sebesar 9,35%

(y-o-y), sebanyak 7,45% berasal dari konsumsi. Meningkatnya kinerja ekspor juga

memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi pada triwulan

laporan, dimana kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar

2,63%. Jika dibandingkan pertumbuhannya, komponen PDRB sisi permintaan yang

mengalami pertumbuhan tahunan tertinggi adalah impor yang tumbuh sebesar

18,29% (y-o-y).

Gambar 1.2

Pertumbuhan PDRB Malut Sisi Permintaan dan Kontribusinya (y-o-y)

Pertumbuhan PDRB Kontribusi Pertumbuhan

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

A.Konsumsi

Konsumsi masyarakat yang terdiri dari konsumsi rumah tangga dan

konsumsi swasta di Maluku Utara pada triwulan I-2010 masih menunjukkan

kinerja positif meskipun mengalami perlambatan pertumbuhan. Pada

triwulan I-2010 konsumsi tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 9,28% (y-o-y),

(19)

mengalami perlambatan dibandingkan pertumbuhan yang terjadi pada triwulan

sebelumnya yaitu 12,19% (y-o-y). Melambatnya pertumbuhan konsumsi ini lebih

banyak dipengaruhi faktor musiman, dimana pada triwulan IV-2009 konsumsi

masyarakat memang lebih tinggi, seiring adanya perayaan maupun event-event di

akhir tahun. Kinerja positif konsumsi ini didukung pula oleh pertumbuhan kredit

konsumsi yang pertumbuhannya masih cukup tinggi.

Gambar 1.3

Perkembangan Konsumsi Riil Maluku Utara

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

Gambar 1.4

Perkembangan Penyaluran Kredit Konsumsi Oleh Perbankan di Malut

Kinerja positif konsumsi pada triwulan laporan didorong oleh kinerja positif

konsumsi rumah tangga dan konsumsi swasta. Meskipun pertumbuhannya

melambat dibandingkan periode triwulan sebelumnya, namun konsumsi rumah

0

2006 2007 2008 2009 2010

Konsumsi (Milyar Rp) Pertumbuhan (y‐o‐y)

(20)

tangga masih tumbuh secara positif dengan angka sebesar 9,35% (y-o-y). Konsumsi

swasta tumbuh 2,83% (y-o-y) dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya.

Gambar 1.5

Konsumsi Riil Masyarakat Maluku Utara (Milyar Rupiah)

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

B. Investasi

Pada triwulan I-2010 investasi di Maluku Utara tumbuh 9,35% (y-o-y).

Meskipun masih tumbuh secara positif, namun pertumbuhannya mengalami

perlambatan. Seperti yang terlihat pada gambar dibawah, sejak triwulan II-2009

kinerja investasi terus mengalami perlambatan. Meskipun sempat mengalami

peningkatan di akhir tahun 2009, namun pada awal tahun 2010 kinerjanya kembali

melambat.Masih positifnya kinerja ekspor didukung pula oleh perkembangan kredit

investasi yang masih bergerak positif.

Gambar 1.6

Perkembangan Investasi Riil Maluku Utara

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

2007 2008 2009 2010

Kons. RT (milyar rupiah) g (y‐o‐y)

2007 2008 2009 2010

Kons. Sws (milyar rupiah) g (y‐o‐y)

2006 2007 2008 2009 2010

(21)

Gambar 1.7

Perkembangan Kredit Investasi Oleh Perbankan di Malut

Sumber: Bank Indonesia Ternate

C. Pengeluaran Pemerintah

Pertumbuhan pengeluaran pemerintah pada triwulan I-2010 tercatat

sebesar 9,35% (y-o-y). Angka pertumbuhan ini masih lebih rendah dibandingkan

pertumbuhan yang terjadi pada triwulan sebelumnya. Secara musiman pada awal

tahun umumnya pengeluaran pemerintah relatif lebih lamban, apalagi pada tahun

2010 ini dana APBD memang belum cair sehingga ikut mempengaruhi tingkat

pengeluran pmerintah.

Gambar 1.8

Perkembangan Riil Pengeluaran Pemerintah

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

0

KI (Miliar Rupiah) g_KI

2006 2007 2008 2009 2010

(22)

D.Kegiatan Ekspor dan Impor

Pertumbuhan ekspor bersih pada triwulan I-2010 masih mengalami

kontraksi, namun tidak sedalam triwulan sebelumnya. Pada triwulan laporan

ekspor bersih tercatat mengalami kontraksi sebesar minus 33,30% (y-o-y).

Meskipun ekspor tumbuh, namun peningkatan ekspor yang lebih kecil

dibandingkan peningkatan impor, belum dapat mendongkrak kinerja ekspor bersih

untuk kembali tumbuh positif.

Ekspor Malut tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 9,35% (y-o-y), mengalami

peningkatan dibandingkan pertumbuhan yang terjadi pada triwulan sebelumnya

yaitu sebesar 6,05% (y-o-y). Positifnya pertumbuhan ekspor ini dikonfirmasi oleh

data ekspor nickel, dimana ekspor pada triwulan I-2010 memang mengalami

peningkatan dibandingkan ekspor pada triwulan I-2009.

Gambar 1.9 Perkembangan Ekspor Riil

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

50  100  150  200  250  300 

‐30%

‐25%

‐20%

‐15%

‐10%

‐5% 0% 5% 10% 15% 20%

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I

2006 2007 2008 2009 2010

(23)

Gambar 1.10

Realisasi Ekspor Nickel Maluku Utara

Sumber: Bank Mandiri, diolah

Impor Maluku Utara pada triwulan I-2010 masih menunjukkan pertumbuhan tinggi

yaitu sebesar 18,29% (y-o-y). Kondisi impor ini sebenarnya lebih banyak berupa

impor antar pulau, dimana pertumbuhannya pada triwulan I-2010 mencapai

18,83% o-y). Disisi lain pertumbuhan impor luar negeri hanya sebesar 3,27%

(y-o-y).

Gambar 1.11

Perkembangan Impor Maluku Utara

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

Pada triwulan laporan tercatat adanya impor barang modal berupa mesin.

Berdasarkan informasi dari Kantor Beacukai, mesin tersebut merupakan mesin untuk

pertambangan, sehingga diharapkan produksi sektor pertambangan kedepan akan

mengalami peningkatan.

2006 2007 2008 2009 2010

(24)

1.3 Perkembangan Ekonomi dari Sisi Penawaran

Dari sisi penawaran, seluruh sektor perekonomian di Maluku Utara pada

triwulan I-2010 menunjukkan kinerja yang positif. Pertumbuhan tertinggi

dialami oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran, lalu sektor pertambangan dan

penggalian juga sektor jasa-jasa yang seluruhnya tumbuh diatas 10%. Sektor yang

memberikan kontribusi paling besar terhadap pertumbuhan ekonomi pada periode

laporan adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran.

Gambar 1.12

Pertumbuhan PDRB Malut Sisi Penawaran dan Kontribusinya Tw I-2010 (y-o-y)

Pertumbuhan PDRB Kontribusi Pertumbuhan

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

A.Pertanian

Sektor pertanian tumbuh 5,00% (y-o-y) pada triwulan I-2010. Seluruh

subsektor yang ada menunjukkan kinerja positif, dengan pertumbuhan tertinggi

dialami oleh subsektor perikanan, dan pertumbuhan terkecil dialami oleh sub sektor

kehutanan. Meskipun sejak triwulan III-2008 mengalami perlambatan dan berlanjut

hingga ke triwulan III-2009, akan tetapi sejak triwulan IV-2009 kinerja sektor ini

terus menunjukkan peningkatan hingga pada triwulan laporan.

9,35%

Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Bersih Bangunan

Perdagangan, Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan & Js. Prsh.

Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Bersih Bangunan

(25)

Gambar 1.13

Perkembangan PDRB Riil Sektor Pertanian

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

Subsektor tanaman bahan makanan tumbuh 4,46% (y-o-y). Angka pertumbuhan ini

masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan yang terjadi di triwulan IV-2009 yaitu

sebesar 1,88% (y-o-y). Secara siklus, kondisi pada triwulan I biasanya memang lebih

tinggi dibandingkan dengan kondisi triwulan IV, dimana pola pertanian tanaman

bahan makanan di Maluku Utara adalah dua kali panen, yang terjadi pada triwulan I

dan III, sedangkan triwulan II dan IV merupakan periode tanam.

Pada subsektor tanaman perkebunan, pertumbuhan yang terjadi pada triwulan

I-2010 adalah 4,50% (y-o-y). Hasil tanaman perkebunan ini didominasi oleh kopra

yang banyak diproduksi di Halmahera Utara dan Halmahera Selatan.

Subsektor peternakan dan hasil-hasilnya tumbuh 3,84% (y-o-y). Meskipun secara

triwulanan subsektor ini sebenarnya mengalami kontraksi sebesar minus 0,35%

(q-t-q) yang disebabkan oleh penurunan produksi daging, akan tetapi secara tahunan

kinerja sektor ini pada triwulan laporan masih lebih baik dibandingkan dengan

kinerjanya pada triwulan yang sama tahun lalu.

Subsektor kehutanan tumbuh 0,55% (y-o-y). Meskipun demikian sebenarnya secara

triwulanan subsektor ini mengalami kontraksi sebesar minus 0,17% (q-t-q).

Penurunan kinerja secara triwulanan ini sangat dipengaruhi oleh pola aktivitas

kontraktor, dimana pada awal tahun aktivitas pembangunan memang belum 0

2006 2007 2008 2009 2010

(26)

banyak terjadi, sehingga permintaan terhadap hasil hutan juga menurun, dan

akhirnya juga berpengaruh terhadap produksi.

Subsektor perikanan tumbuh 10,67% (y-o-y). Peningkatan kinerja subsektor

perikanan yang tinggi ini dikonfirmasi dengan pergerakan data produksi ikan di PPN

Ternate. Meskipun belum mencakup produksi seluruh Maluku Utara, namun

setidaknya hal ini memberikan gambaran tentang produksi ikan yang ada.

Dibandingkan dengan produksi di triwulan I-2009, pada triwulan I-2010 memang

produksi ikan mengalami peningkatan yang signifikan.

Gambar 1.14

Volume Produksi Ikan di PPN Ternate (Ton)

Sumber: DKP, diolah

B. Pertambangan & Penggalian

Perkembangan sektor pertambangan dan penggalian pada triwulan I-2010

menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan kondisi triwulan yang

sama tahun sebelumnya. Pada triwulan laporan tercatat sektor ini tumbuh

13,07% (y-o-y). Sejak mengalami kontraksi pada triwulan II-2008, kinerja sektor ini

terus mengalami penurunan, dan baru pada triwulan II-2009 kinerja sektor ini mulai

meningkat kembali. 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600

I II III IV I

(27)

Gambar 1.15

Perkembangan PDRB Riil Sektor Pertambangan dan Penggalian

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

Pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian ini disebabkan oleh tumbuhnya

dua subsektor yang ada, yaitu subsektor pertambangan dan subsektor penggalian.

Pada triwulan I-2010 tercatat subsektor pertambangan tumbuh 13,10% (y-o-y),

dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Disisi lain secara triwulanan

subsektor ini sebenarnya mengalami kontraksi sebesar minus 0,44% (q-t-q).

Penurunan secara triwulanan ini merupakan bagian dari siklus produksi

pertambangan, dimana biasanya produksi meningkat sekitar pertengahan tahun.

Gambar 1.16 Produksi Tambang PT NHM

Sumber: Departemen ESDM, diolah

0

2006 2007 2008 2009 2010

(28)

Kondisi ini dikonfirmasi dengan data produksi tambang PT Nusa Halmahera

Minerals. Pada triwulan I-2010 data produksi baru mencakup bulan Januari dan

Februari saja, namun demikian diperkirakan produksi pada triwulan I-2010 tidak

akan melebihi produksi pada triwulan IV-2009. Disamping itu kondisi serupa juga

terjadi pada PT Aneka Tambang, dimana menurut data ekspor nickel, kondisi pada

triwulan I-2010 memang lebih rendah dibandingkan kondisi triwulan IV-2009.

Subsektor penggalian tumbuh sebesar 12,83% (y-o-y) dibandingkan triwulan yang

sama tahun sebelumnya. Subsektor penggalian ini masih didominasi oleh galian tipe

C seperti pasir. Secara triwulanan subsektor ini mengalami kontraksi sebesar minus

0,14% (q-t-q), karena permintaan di subsektor ini mengikuti pola aktivitas

pembangunan, yang cenderung menurun di awal tahun.

C. Industri Pengolahan

Sektor industri pengolahan pada triwulan I-2010 tumbuh 8,80% (y-o-y)

dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan tidak adanya

industri migas di Maluku Utara, maka industri non migas merupakan satu-satunya

industri pendukung. Dua subsektor yang ada, yaitu sub sektor makanan, minuman,

dan tembakau serta sub sektor barang kayu dan hasil hutan lainnya sama-sama

menunjukkan kinerja positif.

Gambar 1.17

Perkembangan PDRB Riil Sektor Industri Pengolahan

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

74

2006 2007 2008 2009 2010

(29)

Subsektor makanan, minuman, dan tembakau tumbuh 7,10% (y-o-y). Secara

triwulanan subsektor ini sebenarnya mengalami kontraksi sebesar minus 0,12%

(q-t-q), dimana hal ini terjadi sebagai dampak musiman, karena relatif tingginya

permintaan pada triwulan IV-2009 seiring adanya beberapa hari raya di akhir tahun

seperti hari raya Idul Adha, Natal dan tahun baru. Selain itu permasalahan bahan

baku juga menjadi pemicu menurunnya kinerja subsektor ini.

Sub sektor barang kayu dan hasil hutan lainnya tumbuh 9,44% (y-o-y) pada

triwulan I-2010 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara

triwulanan subsektor ini mengalami kontraksi, seiring kontraksi yang terjadi pada

subsektor kehutanan sebagai subsektor pendukung.

D.Listrik, Gas & Air Bersih

Pada triwulan I-2010 sektor listrik, gas dan air bersih tumbuh 5,87% (y-o-y)

dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan kinerja

sektor ini disebabkan oleh peningkatan produksi pada dua subsektor yang ada,

yaitu subsektor listrik dan subsektor air bersih.

Gambar 1.18

Perkembangan PDRB Riil Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

Pada triwulan laporan subsektor listrik tumbuh 7,22% (y-o-y). Apabila dibandingkan

antara produksi listrik pada triwulan I-2010 dengan triwulan I-2009 memang terjadi

peningkatan dari sisi daya terpasang maupun daya mampu. Dari sisi pelanggan juga

telah terjadi peningkatan, dimana jumlah pelanggan pemerintah naik 1,47% (y-o-y),

2,5

2006 2007 2008 2009 2010

(30)

lalu jumlah pelanggan bisnis naik 2,26% (y-o-y), sedangkan jumlah pelanggan

rumah tangga naik 1,01% (y-o-y).

Gambar 1.19

Konsumsi Listrik Maluku Utara (MWh)

Sumber: PLN Ternate

Subsektor air bersi tumbuh 4,39% (y-o-y). Peningkatan kinerja subsektor ini

disebabkan oleh peningkatan produksi, juga adanya penambahan pelanggan baru.

Gambar 1.20

Produksi, Distribusi dan Air Terjual

Sumber: PDAM Kota Ternate

E. Bangunan

Sektor bangunan tumbuh 10,18% (y-o-y) pada triwulan I-2010 dibandingkan

triwulan yang sama tahun sebelumnya. Jika dibandingkan secara triwulanan,

sektor ini sebenarnya mengalami kontraksi sebesar minus 0,20% (q-t-q). Pada awal

tahun sektor ini memang biasanya mengalami penurunan, dimana aktivitas

pembangunan akan mulai meningkat pada pertengahan tahun.

0 10 20 30 40 50 60 70

I II III IV I

2009 2010

Daya Terpasang Daya Mampu Beban Puncak

500.000  1.000.000  1.500.000  2.000.000  2.500.000 

I II III IV I II III IV

2008 2009

(31)

Gambar 1.21

Perkembangan PDRB Riil Sektor Bangunan

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

F. Perdagangan, Hotel & Restoran

Pada triwulan I-2010 sektor perdagangan, hotel dan restoran tumbuh

14,71% (y-o-y) dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ini lebih lambat dibandingkan triwulan sebelumnya, dimana

pertumbuhan yang terjadi adalah 16,05% (y-o-y). Perlambatan ini terjadi karena

pada triwulan IV-2009 permintaan masyarakat masih lebih tinggi seiring adanya

beberapa hari raya di akhir tahun seperti hari raya Idul Adha, Natal dan tahun baru.

Gambar 1.22

Perkembangan PDRB Riil Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

0

2006 2007 2008 2009 2010

Bangunan (Milyar Rp) Pertumbuhan (y‐o‐y)

2006 2007 2008 2009 2010

(32)

Subsektor perdagangan besar dan eceran mencatatkan pertumbuhan tertinggi pada

sektor ini, dimana pertumbuhan yang terjadi adalah 14,85% (y-o-y). Subsektor hotel

tumbuh 7,62% (y-o-y), sedangkan subsektor restoran tumbuh 6,04% (y-o-y).

G.Pengangkutan & Komunikasi

Sektor pengangkutan dan komunikasi tumbuh 8,56% (y-o-y) pada triwulan

I-2010 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja positif

ditunjukkan baik pada sisi pengangkutan maupun komunikasi. Meskipun masih

tumbuh, akan tetapi kinerja komunikasi mengalami perlambatan pertumbuhan.

Pengangkutan tumbuh 8,42% (y-o-y), dimana subsektor angkutan udara

mencatatkan pertumbuhan tertinggi hingga mencapai 11,97% (y-o-y). Peningkatan

kinerja subsektor ini dapat dilihat dari perkembangan jumlah penerbangan dan

jumlah penumpang, baik itu yang tiba ataupun berangkat. Dibandingkan dengan

triwulan IV-2009, jumlah penerbangan pada triwulan I-2010 meningkat 13,21%

(y-o-y), sedangkan jumlah penumpang meningkat 67,28% (y-o-y). Dengan terus

dikembangkannya fasilitas dan sarana bandara, diharapkan akan terus terjadi

peningkatan.

Gambar 1.23

Perkembangan PDRB Riil Sektor Pengangkutan dan Komunikasi

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

0

2006 2007 2008 2009 2010

(33)

Gambar 1.24 Lalu Lintas Angkutan Udara

Sumber: Bandara Sultan Babullah, diolah

Subsektor angkutan jalan raya tumbuh 6,83% (y-o-y), dibandingkan triwulan yang

sama tahun sebelumnya. Angkutan laut tumbuh 8,20% (y-o-y) pada triwulan

I-2010. Angkutan sungai, danau dan penyeberangan tumbuh 9,23% (y-o-y).

Sedangkan jasa penunjang angkutan tumbuh 6,67% (y-o-y).

Komunikasi seluruhnya masih ditopang oleh subsektor pos dan telekomunikasi.

Subsektor ini tumbuh 8,83% (y-o-y) dibandingkan triwulan yang sama tahun

sebelumnya.

H.Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan

Pada triwulan I-2010 sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan

tumbuh 7,83% (y-o-y) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Subsektorbank mencatatkan pertumbuhan tertinggi hingga mencapai 15,25%

(y-o-y). Subsektor lembaga keuangan non bank juga mengalami pertumbuhan yang

tinggi hingga mencapai 14,40% (y-o-y). Sewa bangunan menunjukkan kinerja

positif dengan angka pertumbuhan sebesar 4,48% (y-o-y). Sedangkan jasa

(34)

Gambar 1.25

Perkembangan PDRB Riil Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

I. Jasa-jasa

Pertumbuhan sektor jasa-jasa pada triwulan I-2010 tercatat sebesar 12,41%

(y-o-y). Pertumbuhan yang tinggi ini terutama dipicu oleh pertumbuhan pada jasa

pemerintahan dan umum, khususnya pada administrasi pemerintahan dan

pertahanan yang tumbuh 15,62% (y-o-y).

Gambar 1.26

Perkembangan PDRB Riil Sektor Jasa-jasa

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

Jasa swasta juga masih menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan sebesar

4,33% (y-o-y). Masing-masing subsektor yang ada tumbuh positif, dengan

0

2006 2007 2008 2009 2010

Keuangan, Persewaan & Js Prshn (Milyar Rp) Pertumbuhan (y‐o‐y)

2006 2007 2008 2009 2010

(35)

pertumbuhan tertinggi dialami oleh subsektor jasa perorangan dan rumah tangga

yang tumbuh 5,32% (y-o-y). Jasa sosial kemasyarakatan tumbuh 3,90% (y-o-y),

(36)

20 Tahun 2010 ini Provinsi Maluku Utara memasuki usia ke 11 tahun sejak dimekarkan pada tahun 1999. Dari tahun ke tahun kegiatan perekonomian di Maluku Utara terus menunjukkan pertumbuhan, meskipun bila dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia terutama di wilayah Indonesia bagian barat, Maluku Utara masih tergolong provinsi yang tertinggal dalam hal pembangunan ekonomi. Untuk itu, berbagai upaya terus dilakukan untuk mengejar ketertinggalan pembangunan atau mensejajarkan diri dengan wilayah lain di Indonesia.

Salah satu upaya nyata dukungan pembangunan perekonomian daerah dilaksanakan oleh Bank Mandiri, yaitu dengan menggelar Maluku & Maluku Utara Investment Day pada tanggal 12 -13 April 2010 di Jakarta. Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian; Hatta Rajasa dampingi oleh Menteri Negara BUMN; Mustafa Abubakar dan Menteri Negara PPN/Bappenas; Armida Alisjahbana, Menteri Pekerjaan Umum; Djoko Kirmanto, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata; Jero Wacik, serta Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad. Selain menghadirkan wakil pemerintah pusat dan daerah, hadir pula pimpinan Instansi/lembaga terkait termasuk Bank Indonesia serta para investor.

Dalam forum Maluku & Maluku Utara Investment Day tersebut, wakil pemerintah daerah Maluku dan Maluku Utara berkesempatan mempresentasikan potensi wilayahnya di hadapan wakil pemerintah dan para investor. Dengan demikian, pemerintah pusat memperoleh informasi mengenai fasilitas/kebijakan apa yang dibutuhkan daerah dan para investor mengetahui potensi-potensi yang bisa dikembangkan untuk perluasan usaha. Acara tersebut berkonsep One-on-One Meeting, sehingga antara Gubernur Maluku, Gubernur Maluku Utara, serta Bupati/Walikota yang

hadir dapat bertemu langsung dengan 143 investor dan melakukan negosiasi langsung. Dengan begitu, kedua provinsi tersebut diharapkan bisa menjadi wilayah yang maju dan sejahtera di Kawasan Timur Indonesia.

(37)

21  

2) inclusive yaitu pembangunan ekonomi harus bersifat inklusif dengan mengedepankan pembangunan ekonomi yang adil, merata dan berdimensi kewilayahan;

3) sustainable yaitu pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhitungkan dampak lingkungan hidup.

Penjabaran dari ketiga prinsip tersebut telah dituangkan dalam Peratutan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang RPJMN 2010 - 2014. Sebagai wujud pelaksanaannya untuk pembangunan wilayah Maluku & Maluku Utara diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah di bidang perkebunan, peternakan, perikanan, pertambangan, pariwisata dengan memperhatikan keterkaitan wilayah-wilayah pulau. Pada penataan ruang, pengembangan wilayah kedua provinsi diarahkan pada pengembangan kota-kota pesisir sebagai pusat pelayanan kegiatan industri kemaritiman terpadu yang merupakan sektor basis dengan dukungan parsarana dan sarana yang memadai, khususnya trasportasi, energi, dan sumber daya air.

Gubernur Maluku Utara Thaib Armaiyn menyatakan bahwa transportasi merupakan kunci pengembangan kawasan yang berbentuk kepulauan, baik jalan, pelabuhan maupun bandara. Akan tetapi kondisi di Maluku Utara dengan jarak melintang sepanjang 770 kilometer (km) dan membujur sepanjang 660 km, dengan 805 pulau besar dan kecil, (hanya 82 pulau yang dihuni) saat ini belum semuanya terhubung oleh sarana transportasi. Pekerjaan rumah pemda di kawasan Maluku Utara bukan hanya mencari sumber pembiayaan baru namun juga mengoptimalkan anggaran yang sudah disusun. Pasalnya, penggunaan pembiayaan yang ada belum maksimal, tercatat realisasi APBD masih kurang dari 70% dari alokasi yang ada. Di sisi lain, rasio kredit terhadap simpanan (LDR) bank di Maluku Utara baru berada pada kisaran 60%, sehingga pembiayaan pembangunan dari perbankan masih berpotensi besar.

(38)

22 seperti Maluku & Maluku Utara Investment Day.

Moment pertemuan dengan calon investor dalam Maluku & Maluku Investment Day tersebut, secara tidak langsung sejalan dengan perkembangan di daerah. Penyelenggaraan Pemilukada Kota Ternate pada tanggal 22 April 2010 yang berjalan dengan aman dan lancar diharapkan menjadi salah satu daya tarik bagi investor untuk berinvestasi di Maluku Utara. Kondisi ini menggambarkan masyarakat di Maluku Utara sudah semakin dewasa dalam menyikapi perkembangan politik di daerah. Disamping itu peningkatan aktivitas penerbangan di Bandara Babullah Ternate, baik dengan penambahan jumlah rute penerbangan maupun penambahan maskapai yang melayani penumpang ke/dari Maluku Utara akan mempermudah mobilitas investor.

Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari pelaksanaan Maluku & Maluku Utara Investment Day antara lain:

1) Penegasan dan penjabaran visi-misi pembangunan daerah melalui RTRWP harus dipahami dan didukung oleh semua elemen masyarakat di Maluku Utara;

2) Pemerintah daerah harus lebih proaktif dalam menggelar dan memanfaatkan pertemuan dengan calon investor. Pemda sebaiknya memiliki agenda rutin mempertemukan calon investor dengan pemerintah daerah maupun pihak terkait lainnya. Disamping itu lokasi penyelenggaraan sebaiknya dilakukan pula di Maluku Utara sehingga calon investor akan memperoleh informasi dan gambaran kondisi riil di lapangan;

3) Untuk pencapaian tiga prinsip pokok pembangunan, perkembangan kesejahteraan masyarakat (salah satu indikatornya adalah daya beli masyarakat) harus ditingkatkan dengan mengupayakan tingkat perkembangan harga barang dan jasa (inflasi) yang rendah dan stabil.

(39)

23  

PT. GLORY PEARL NUSANTARA 211/I/PMA/2006 Jasa Penyimpanan BBM $758,500 Eksplorasi Menara KADIN Indonesia Lt. 11, R IIC tgl. 24 Februari 2006 Halsel

Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 2‐3 Jaksel 12950

PT. AGC INDONESIA 241/I/PMA/2006 Pertambangan Umum $500,000 Eksplorasi Gedung One Stop Sukses Lt. 2 tgl. 3 Maret 2006 Halsel

Jl. T.B. Simatupang Kav. 15 Cilandak, Jaksel 1256

PT. AGB ENERGI 325/II/PMA/2006 Industri Kimia Dasar $12,000,000 Eksplorasi Plaza Mutiara Lt.3, Suite 301 tgl. 6 September 2006 Organik dari Hasil Pertanian

Jl. Lingkar Mega kuningan Kav. E.12 Tobelo‐Halut No. 1‐2 Jaksel

PT. ASG HARITA MINNING SERVICE 1184/I/PMA/2006 Pertambangan Umum $1,000,000 Eksplorasi Perkantoran Hijau Arkadia, Tower C tgl. 7 November 2006 Halsel

Lt. 8, Jl. TB. Simatupang Kav. 88 Jakarta 12520

PT. AGB PLANTATION 1276/I/PMA/2006 Perkebunan Jarak $9,000,000 Eksplorasi Jl. Gurah Tengah tgl. 28 November 2006 Tobelo‐Halut

Tobelo, Halut

$23,258,500

PT. PRIMA REVA INDO 65/I/PMDN/2006 Industri Pembekuan Ikan Rp5,000,000,000 Eksplorasi Jl. Kertajaya No. 48 Penjaringan tgl 2 Mei 2006 Posi‐Posi Rao ‐ Morotai

Jakarta Utara

PT. CAKRAWALA ANDALAS TELEVISI (ANTV) Jasa Penyiaran Rp2,500,000,000,000 Jl. H.R. Rasuna Said Kav. X‐6 No. 8

Karet Kuningan, Setiabudi Jaksel

Rp2,505,000,000,000

PT. HAI SUNG CORE 330/III/PMA/2007 Jasa Kontraktor, $1,800,000 $1,800,000 Jl. Dermaga Baru, Kav I, Muara Angke tgl. 13 Maret 2007 Pertambangan Umum & Furniture

Pluit, Jakarta Utara Halsel

PT. B.B. LAMO 374/I/PMA/2007 Ind. Komponen Bahan Bangunan $1,800,000 Jl. Jumati Lalamali No. 7 Kel. Gosoma tgl. 30 Maret 2007 dari Bambu dan Kayu serta Furniture

Tobelo, Halut

PT. LATIVI MEDIAKARYA 77/V/PMA/2007 Jasa Penyiaran $6,748,019,877 Kawasan Industri Pulo Gadung tgl. 27 April 2007 Kota Ternate

Jl. Rawa Terate II No. 2 Jaktim 13250

PT. ALLESTARI MINING INDONESIA 967/I/PMA/2007 Jasa Penunjang Pertambangan Umum $10,000,000 $10,000,000 Menara batavia Lt. 25 tgl. 30 Juli 2007 Mabapura ‐ Haltim

Jl. KH. Mansyur Kav. 126 Jakpus 10220

PT. HENG FUNG MINING INDONESIA 967/I/PMA/2007 Jasa Penunjang Pertambangan Umum $10,000,000 $10,000,000 Menara batavia Lt. 25 tgl. 30 Juli 2007 Mabapura ‐ Haltim

Jl. KH. Mansyur Kav. 126 Jakpus 10220

$6,771,619,877 $21,800,000

(40)

24 Sumber: BKPMD Provinsi Maluku Utara

PT. SNNK NICKEL INDONESIA 967/I/PMA/2008 Jasa Penunjang Pertambangan Umum       1,000,000 The Energy Building, Lt. 19 Lot 11A tgl. 12 Juni 2008 & Perdagangan Ekspor

Jl. Jenderal Sudirman Kav. 52 ‐ 53 Haltim Kebayoran Baru ‐ Jaksel 

PT. SOLWAY MINING INDONESIA 1087/I/PMA/2008 Jasa Penunjang Pertambangan Umum       4,000,000 Indonesia Stock Exchange Tower 2, Lt. 17 tgl. 7 Juli 2008 Haltim

Jl. Jenderal Sudirman Kav. 52 ‐ 53 Jaksel 

PT. BUKU MUST INDONESIA 1919/I/PMA/2008 Jasa Penunjang Pertambangan Umum       1,400,000 Taman Palem Lestari No. 9 Blok W tgl. 27 November 2008

Cengkareng ‐ Jakbar

PT. HENG XIN MINING EXPLORATION 2008/I/PMA/2008 Jasa Penunjang Pertambangan Umum       1,000,000 JL. Zainal Arifin, Komp. Ketapang Indah tgl. 17 Desember 2008

Blok B, No. 30‐31 Jakbar

$6,800,000

PT. LESTARI MANISE ABADI 226/I/PMDN/2008 Pembangkit Tenaga Listrik       28,504,300,000 Pembangunan Jl. St. Babullah, SK4/21 tgl. 18 November 2008

Waihoang, Nusaniwe Ambon

Rp28,504,300,000

PT. SERVINDO JAYA UTAMA 914/I/PMA/2009 Jasa Penunjang Pertambangan Umum       5,000,000 Gd. Plaza Sentral, Lt. 18 tgl. 30 juli 2009 Halsel

Jl Jend. Sudirman No. 47 Jaksel

PT. KEMAKMURAN HAOTIAN NIKEL INDUSTRI 927/I/PMA/2009 Industri Pembuat Pertambangan Umum       5,000,000 Desa Loleba, Kec Wasile tgl. 3 Agustus 2009 Dasar Bukan Besi

Haltim Haltim

(41)

Perkembangan

Inflasi Regional

2.1. Gambaran Umum

Tingkat inflasi di Kota Ternate pada triwulan I-2010 secara triwulanan

(q-t-q) mengalami peningkatan, sedangkan secara tahunan (y-o-y) terjadi penurunan. Pada triwulan I-2010 tingkat inflasi di Kota Ternate tercatat sebesar 1,79% (q-t-q), sedangkan pada triwulan IV-2009 tingkat inflasinya sebesar 1,54% (q-t-q). Secara tahunan tingkat inflasi pada triwulan I-2010 adalah 4,43% (y-o-y), dimana pada triwulan yang sama tahun sebelumnya tingkat inflasi yang terjadi adalah 7,64% (y-o-y).

Jika dibandingkan terhadap inflasi nasional, inflasi yang terjadi di Kota Ternate lebih tinggi, baik itu secara triwulanan maupun secara tahunan.

Inflasi nasional pada triwulan IV-2009 adalah 0,99% (q-t-q), sedangkan secara tahunan inflasi yang terjadi adalah 3,45% (y-o-y).

Gambar 2.1

Perbandingan Triwulanan dan Tahunan Inflasi Ternate Terhadap Nasional

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

Jika dibandingkan dengan wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua), secara triwulanan Manokwari, Palu dan Kendari merupakan daerah yang mengalami deflasi masing-masing sebesar minus 0,64% (q-t-q), minus 0,44% (q-t-q) dan minus 0,2% (q-t-q). Inflasi tertinggi terjadi di Kota Ambon dengan angka inflasi sebesar

Bab

(42)

2,84% (q-t-q). Secara tahunan Ambon juga merupakan kota yang memiliki tingkat inflasi tertinggi hingga mencapai 7,08% (y-o-y), sedangkan inflasi terendah terjadi pada Kota Kendari yaitu sebesar 1,36% (y-o-y

Gambar 2.2.

Perbandingan Inflasi Triwulanan dan Tahunan Wilayah Sulampua

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

2.2. Inflasi Triwulanan

Inflasi tertinggi pada triwulan ini terjadi pada kelompok bahan makanan dengan inflasi sebesar 4,12% (q-t-q). Adapun sub kelompok yang mengalami inflasi tertinggi pada kelompok ini adalah sub kelompok ikan segar yang inflasinya mencapai 21,38%. Dari tiga sub kelompok yang mengalami deflasi, sub kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan merupakan sub kelompok yang deflasinya terbesar yaitu mencapai minus 1,21% (q-t-q). Kondisi ini terutama dipicu oleh deflasi pada sub kelompok transport.

A. Kelompok Bahan Makanan

(43)

Gambar 2.3

Inflasi Kelompok Bahan Makanan (q-t-q)

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

B. Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau

Inflasi kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau pada triwulan I-2010 tercatat sebesar 1,26% (q-t-q), meningkat dibandingkan inflasi yang terjadi pada triwulan IV-2009 yang sebesar 0,46% (q-t-q). Peningkatan inflasi ini didorong oleh kenaikan harga pada sub kelompok tembakau & minuman beralkohol serta minuman tidak beralkohol, sedangkan sub kelompok makanan jadi mengalami deflasi sebesar minus 0,01%.

Gambar 2.4

Inflasi Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau (q-t-q)

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

C. Kelompok Perumahan, Listrik, Air, Gas dan Bahan Bakar

(44)

pada sub kelompok biaya tempat tinggal yang mengalami inflasi hingga 3,88% (q-t-q), dimana pada triwulan IV-2009 sub kelompok ini tercatat mengalami deflasi sebesar minus 0,14% (q-t-q).

Gambar 2.5

Inflasi Kelompok Perumahan, Listrik, Air, Gas dan Bahan Bakar (q-t-q)

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

D. Kelompok Sandang

Pergerakan harga pada kelompok sandang di triwulan I-2010 mengalami penurunan dibandingkan triwulan IV-2009. Pada triwulan laporan tercatat kelompok ini mengalami deflasi sebesar minus 0,48% (q-t-q), dimana pada triwulan IV-2009 kelompok ini mengalami inflasi sebesar 2,06% (q-t-q). Penurunan harga ini terutama disebabkan oleh penurunan harga pada sub kelompok barang pribadi dan sandang lainnya yang mengalami deflasi sebesar minus 3,55% (q-t-q), dimana pada triwulan IV-2009 kelompok ini mencatatkan inflasi yang cukup tinggi yaitu sebesar 9,70% (q-t-q).

Gambar 2.6

Inflasi Kelompok Sandang (q-t-q)

(45)

E. Kelompok Kesehatan

Pada triwulan I-2010 kelompok kesehatan tercatat mengalami deflasi sebesar minus 0,30% (q-t-q), atau masih melanjutkan trend penurunan harga yang dimulai sejak triwulan III-2009. Pada triwulan laporan, penurunan harga ini disebabkan oleh deflasi yang terjadi pada sub kelompok perawatan jasmani & kosmetika serta sub kelompok obat-obatan.

Gambar 2.7

Inflasi Kelompok Kesehatan (q-t-q)

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

F. Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga

Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga tercatat mengalami inflasi sebesar minus 0,01% (q-t-q) pada triwulan I-2010, mengalami peningkatan dibandingkan kondisi triwulan IV-2009. Inflasi ini didorong oleh kenaikan harga pada sub kelompok olahraga yang mengalami inflasi sebesar 0,65% (q-t-q).

Gambar 2.8

Inflasi Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga (q-t-q)

(46)

G. Kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan

Kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan tercatat mengalami deflasi sebesar minus 1,21% (q-t-q), masih melanjutkan trend penurunan harga yang dimulai pada triwulan III-2009. Faktor utama terjadinya deflasi ini adalah terjadinya penurunan harga pada sub kelompok transport yang mengalami deflasi sebesar minus 1,79% (q-t-q).

Gambar 2.9

Inflasi Kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan (q-t-q)

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

2.3. Inflasi Tahunan (y-o-y)

Jika dianalisa secara tahunan, inflasi tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan yaitu sebesar 6,96%, sedangkan penurunan harga terjadi pada

kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar minus0,24%.

A. Kelompok Bahan Makanan

(47)

Gambar 2.10

Inflasi Kelompok Bahan Makanan (y-o-y)

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

B. Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau

Sejak triwulan IV-2008, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau secara gradual menunjukkan trend penurunan inflasi. Pada triwulan I-2010 tercatat kelompok ini mengalami inflasi sebesar 4,74% (y-o-y). Meskipun demikian sub kelompok minuman tidak beralkohol mengalami inflasi yang cukup tinggi yaitu 13,26% (y-o-y).

Gambar 2.11

Inflasi Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau (y-o-y)

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

C. Kelompok Perumahan, Listrik, Air, Gas dan Bahan Bakar

(48)

terendah adalah pada sub kelompok penyelenggaraan rumah tangga dengan inflasi sebesar 0,54% (y-o-y).

Gambar 2.12

Inflasi Kelompok Perumahan, Listrik, Air, Gas dan Bahan Bakar (y-o-y)

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

D. Kelompok Sandang

Selama setahun terakhir, inflasi pada kelompok sandang terus menunjukkan trend penurunan. Pada triwulan I-2010 tercatat inflasi yang terjadi pada kelompok ini sebesar 0,11% (y-o-y). Kondisi ini terutama dipicu oleh deflasi yang terjadi pada sub kelompok barang pribadi dan sandang lain, meskipun sub kelompok sandang laki-laki, sandang wanita dan sandang anak-anak masih mengalami kenaikan harga.

Gambar 2.13

Inflasi Kelompok Sandang (y-o-y)

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

E. Kelompok Kesehatan

(49)

5,48% (y-o-y). Inflasi terendah dialami oleh sub kelompok jasa perawatan jasmani dimana inflasinya pada triwulan laporan tercatat sebesar 0,39% (y-o-y).

Gambar 2.14

Inflasi Kelompok Kesehatan (y-o-y)

Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

F. Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga

Pada triwulan I-2010 inflasi kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga masih sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan IV-2009. Pada triwulan laporan tercatat inflasi kelompok ini adalah 5,76%, dimana pada triwulan sebelumnya inflasi yang terjadi adalah 5,68% (y-o-y). Inflasi tertinggi dialami oleh sub sektor pendidikan, sedangkan sub sektor kursus-kursus/pelatihan tidak mengalami perubahan harga.

Gambar 2.15

Inflasi Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga (y-o-y)

(50)

G. Kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan

Pergerakan harga pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan masih menunjukkan terjadinya deflasi. Pada triwulan I-2010 tercatat deflasi yang terjadi adalah minus 0,24% (y-o-y). Meskipun secara umum mengalami deflasi, namun pada sub kelompok sarana penunjang transport terjadi inflasi sebesar minus 1,30% (y-o-y), juga pada sub kelompok jasa keuangan sebesar 0,32% (y-o-y).

Gambar 2.16

Inflasi Kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan (q-t-q)

(51)

Perkembangan

Perbankan Daerah

3.1 Perkembangan Perbankan

Secara umum kinerja perbankan pada triwulan IV-2009 mengalami

peningkatan. Total aset bank umum di wilayah kerja Bank Indonesia Ternate

tumbuh sebesar 2,01% (y-o-y), mengalami peningkatan dibandingkan triwulan

sebelumnya. Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) oleh perbankan menurun

sebesar minus 4,72% (y-o-y). Kegiatan penyaluran kredit kepada masyarakat

tumbuh sebesar 33,17% (y-o-y), mengalami peningkatan ibandingkan triwulan

sebelumnya. Pada triwulan IV-2009 kegiatan intermediasi perbankan mengalami

peningkatan dimana LDR bank umum tercatat sebesar 68,41%. Jumlah kredit

bermasalah pada triwulan II-2009 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan

triwulan sebelumnya dari 2,79% pada triwulan IV-2009 menjadi 2,62% pada

triwulan I-2010.

a. Perkembangan Aset Bank Umum

Total aset bank umum di wilayah kerja Bank Indonesia Ternate1

pada akhir

Triwulan I-2010 mengalami peningkatan. Pada triwulan laporan tercatat total

aset bank umum sebesar Rp 3,075 triliun, atau mengalami peningkatan sebesar

2,01% (y-o-y) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Bank pemerintah masih mendominasi penguasaan aset perbankan di Maluku Utara

dengan proporsi sebesar 86,54%, mengalami peningkatan dibandingkan kondisi

triwulan IV-2009, dimana persentase aset bank pemerintah terhadap total aset

adalah 85,23%.

Pada triwulan I-2010 perkembangan aset bank pemerintah menunjukkan performa

tahunan yang lebih baik dibandingkan dengan bank swasta, dimana secara tahunan

1

Tidak termasuk KCP BCA karena laporan bulanannya menginduk ke KC di Manado

Bab

(52)

aset bank pemerintah tumbuh secara positif, sedangkan aset bank swasta terus

menunjukkan perlambatan pertumbuhan. Aset bank pemerintah tumbuh 1,77%

(y-o-y), dimana pada triwulan sebelumnya sempat mengalami penurunan sebesar

minus 2,00% (y-o-y). Disisi lain aset bank swasta meskipun masih tumbuh sebesar

3,63% (y-o-y), namun pertumbuhan ini masih lebih lambat dibandingkan periode

triwulan sebelumnya dimana pertumbuhan yang terjadi adalah 13,83% (y-o-y).

Gambar 3.1

Perkembangan Aset Bank Umum di Maluku Utara

Sumber: LBU, diolah

Penyebaran aset bank umum di Maluku Utara pada triwulan I-2010 mayoritas masih

berada di Kota Ternate dengan proporsi sebesar 80,83%, mengalami penurunan

dibandingkan triwulan IV-2009 dimana proporsinya sebesar 81,96%. Proporsi aset

perbankan di Kabupaten Halmahera Tengah pada triwulan laporan adalah 9,44%,

menurun jika dibandingkan triwulan sebelumnya dengan porsi sebesar 10,13%.

Adapun sisanya yaitu sebanyak 9,73% tersebar di Kabupaten dan Kota lainnya di

Maluku Utara. Dengan melihat kecenderungan ini tampaknya pertumbuhan aset

perbankan diluar Kota Ternate dan Kabupaten Halmahera Tengah semakin

meningkat, dan kondisi inilah yang memang diharapkan terjadi, mengingat saat ini

ruang ekspansi untuk Kota Ternate relatif terbatas, sementara di Kabupaten/Kota

(53)

Tabel 3.1

Komposisi Kepemilikan Bank Umum di Maluku Utara (Milyar Rp)

Keterangan 2009 2010

I II III IV I

Jenis Bank 3.014,40 3.175,53 3.008,33 3.044,54 3.075,05

Pemerintah 2.614,98 2.763,03 2.582,73 2.594,74 2.661,14

Swasta 399,42 412,51 425,60 449,80 413,91

Dati II 3.014,40 3.175,53 3.008,33 3.044,54 3.075,05

Ternate 2.264,59 2.398,24 2.328,39 2.495,25 2.485,44

Maluku Utara 320,12 331,80 289,80 240,83 299,20

Halteng 429,70 445,49 390,14 308,46 290,41

Jenis Valuta 3.014,40 3.175,53 3.008,33 3.044,54 3.075,05

Rupiah 2.947,12 3.084,56 2.983,80 2.987,84 3.041,62

Valas 67,29 90,98 24,53 56,70 33,43

Sumber: LBU, diolah

Proporsi aset perbankan dalam bentuk valuta asing pada triwulan I-2010 mengalami

penurunan dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Proporsi aset valas

pada triwulan laporan tercatat sebesar 1,09%, mengalami penurunan sebesar

minus 50,32% (y-o-y) dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Gambar 3.2

Perkembangan Aset Bank Umum Valuta Asing di Maluku Utara

Sumber: LBU, diolah

b. Penghimpunan Dana Bank Umum

Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) oleh perbankan di Maluku Utara

(54)

berhasil dihimpun oleh perbankan pada triwulan laporan adalah Rp 2,694 triliun,

mengalami penurunan sebesar minus 4,72% (y-o-y) dibandingkan dengan periode

yang sama tahun sebelumnya. Kontraksi ini masih melanjutkan trend kontraksi yang

telah dimulai sejak triwulan III-2009.

Jika dilihat masing-masing komponennya, DPK dalam bentuk giro masih terus

menunjukkan penurunan. Setelah pada triwulan IV-2009 mengalami penurunan

mencapai minus 36,04% (y-o-y), pada triwulan I-2010 giro kembali mengalami

penurunan sebesar minus 32,45% (y-o-y). Penurunan giro ini disebabkan oleh

penarikan dana khususnya pada rekening milik pemerintah pusat, pemerintah

daerah, lembaga pemerintahan, juga pada BUMN dan BUMD. Dengan belum

cairnya anggaran tahun 2010, pembangunan masih dilanjutkan dengan dana sisa

tahun anggaran sebelumnya.

Disisi lain jumlah DPK dalam bentuk tabungan pada triwulan laporan mengalami

pertumbuhan sebesar 11,35% (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan yang

terjadi pada triwulan sebelumnya yaitu sebesar 6,18% (y-o-y). Meskipun masih

tumbuh sebesar 9,05% (y-o-y), peningkatan dana masyarakat dalam bentuk

deposito pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan triwulan IV-2009 yang

tumbuh sebesar 13,75% (y-o-y).

Apabila dilihat komposisinya, pada triwulan laporan porsi dana masyarakat dalam

bentuk giro mengalami peningkatan dibandingkan triwulan IV-2009. Porsi giro

dalam penghimpunan dana perbankan adalah 25,56%, dimana pada triwulan

sebelumnya hanya sebesar 19,23%. Deposito juga mengalami peningkatan

meskipun tidak signifikan, dimana porsinya pada triwulan IV-2009 22,41%,

(55)

Gambar 3.3

Perkembangan DPK Perbankan

Sumber: LBU, diolah

Jika dibandingkan berdasarkan lokasi penghimpunan dana, Kota Ternate masih

menjadi pusat penghimpunan dana di Malut, dimana 82,68% dana perbankan di

Malut berasal dari Kota Ternate. Kemudian sebanyak 10,45% dana berasal dari

Kabupaten Halmahera Tengah, dan sisanya sebanyak 6,88% tersebar di wilayah

Malut lainnya. Apabila dibandingkan dengan triwulan IV-2009,

c. Penyaluran Kredit

c.1.Penyaluran Kredit Berdasarkan Bank Pelapor

Penyaluran kredit kepada masyarakat oleh perbankan di Malut masih

menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi, dan sedikit meningkat

dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan IV-2009 tercatat

pertumbuhan kredit sebesar 32,88% (y-o-y), sedangkan pada triwulan I-2010

pertumbuhan yang terjadi adalah 33,17% (y-o-y).

Dari sisi penggunaan, kredit konsumsi masih mendominasi penyaluran kredit

dengan porsi sebesar 58,81%, diikuti oleh kredit modal kerja sebanyak 31,62%,

dan sisanya sebesar 9,57% diberikan untuk kredit investasi. Jika dilihat

pertumbuhan masing-masing kredit tersebut, kredit investasi mencatatkan

pertumbuhan tertinggi hingga mencapai 62,11% (y-o-y), lalu kredit konsumsi

Gambar

Gambar 1.19
Gambar 1.22
Gambar 1.23
Gambar 1.24
+7

Referensi

Dokumen terkait

Uang palsu yang ditemukan perbankan Jawa Timur pada triwulan III-2008 tercatat sebanyak 3.778 lembar, lebih tinggi dibandingkan pada triwulan II-2008 yang tercatat sebanyak

Jumlah uang palsu yang ditemukan oleh KBI Banda Aceh pada triwulan IV- 2008 mengalami peningkatan signifikan dibanding triwulan - triwulan sebelumnya.. Perkembangan

Kinerja BPR selama triwulan III-2009 secara umum jika dibandingkan baik dengan periode yang sama tahun lalu dan triwulan sebelumnya mengalami peningkatan tercermin

Pada triwulan III 2008 terjadi outflow sebesar Rp1,52 triliun atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan triwulan II 2008 yang tercatat sebesar Rp791 miliar. Sementara itu

Perekonomian daerah Sulawesi Selatan pada triwulan II-2008 mengalami pertumbuhan sebesar 7,86% (y.o.y), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan tahunan triwulan

Perkembangan inflasi di berbagai daerah pada akhir triwulan I-2010 relatif masih.. cukup rendah, setelah sempat mengalami tekanan terutama pada awal

Laju inflasi di wilayah Jakarta pada akhir triwulan II 2010 mulai mengalami peningkatan meskipun dengan intensitas yang relatif masih terkendali.. Tekanan

Inflasi volatile food pada bulan Februari 2009 tercatat 12,90% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 14,21% (yoy).. Inflasi volatile food