Daftar Pustaka
• Fitzpatrick's Dermatology, Ninth Edition
1. Nn. D 24 tahun datang dengan keluhan ada
bercak-bercak di wajah. Bercak bewarna cokelat muda nampak hiperpigmentasi, simetris, irregular dan berbatas tegas. Pasien mengatakan dulu ibu pasien juga mengeluhkan keluhan serupa.Pada pemeriksaan dengan lampu Wood nampak lesi lebih kontras dan jelas dibandingkan lesi
sekitarnya. Diangosis yang paling mendekati pada pasien ini adalah
a. Melasma b. Freckles
c. Tinea facialis
d. Pitriasis versicolor e. Kusta
Melasma
• Hipermelanosis didapat terutama di wajah dan leher berwarna coklat muda sampai dengan coklat tua, dipengaruhi oleh faktor
hormonal, pajanan sinar matahari, kehamilan, genetik, pemakaian kontrasepsi oral,
Klinis
• Bercak numular/plakat kecoklatan,
hiperpigmentasi, simetris, ireguler, batas tegas
3 Pola distribusi lesi:
• Pola sentro fasial: meliputi pipi, dahi, bibir atas, hidung dan dagu (63%)
• Pola malar: meliputi pipi dan hidung (21%)
• Pola mandibular: meliputi ramus mandibula (16%)
Tipe letak pigmen (dengan menggunakan lampu
Wood):
• Melasma tipe epidermal: warna lesi tampak lebih kontras dan jelas
dibandingkan dengan kulit sekitarnya
• Melasma tipe dermal:
warna lesi tidak bertambah kontras
• Melasma tipe campuran: lesi ada yang bertambah kontras ada yang tidak
• Predisposisi 1. Genetik
2. Wanita • Pencetus:
1. Pajanan sinar ultraviolet
2. Hormon seks perempuan (estrogen dan progesteron)
3. Kontrasepsi (estradiol dietilstilbestrol) 4. Terapi sulih hormon pada perempuan
postmenopouse 5. Kehamilan
6. Kosmetik
7. Disfungsi tiroid dan ovarium 8. Obat: klorpromazin, hidantoin,
2. Seorang wanita yang menderita melasma ketika disinari dengan lampu wood lesinya
menunjukan gambaran yang lebih kontras dan jelas dibandingkan kulit sekitarnya. Tipe
melasma pada pasien ini adalah a. Tipe epidermal
b. Tipe dermal
c. Tipe campuran d. Tipe ectodermal e. Tipe endoermal
3. Faktor pencetus dari melasma adalah di bawah ini kecuali
a. Pajanan sinar UV b. Hormon seks
c. Kontrasepsi d. Kehamilan e. Menyusui
4. Pola distribusi lesi melasma yang paling
banyak ditemukan pada masyarakat adalah a. Malar
b. Mandibular c. Frontal
d. Aurikular e. Sentrofasial
5. Pada pemeriksaaan biopsy untuk melasma, ditemukan bentukan menyerupai pisang berwana kuning kecoklatan akibat akumulasi dari a. HGA b. HGB c. Asam sistein c. Asam arakidonat e. Deposit IgG Pemeriksaan Penunjang 1. Lampu Wood • Pemeriksaan dengan lampu Wood dapat membedakan
hiperpigmentasi
epidermal dengan dermal 2. Biopsi untuk DD/
okronosis eksogen, di kolagen dermis
didapatkan deposit menyerupai bentuk
pisang berwarna kuning kecoklatan akibat
akumulasi homogentisic
6. Terapi oral pada
melasma diindikasikan ketika pigmentasi
meliputi darah yang luas dan pigmentasi sampai ke a. Epidermis b. Dermis c. Kelenjar sebasea d. Folikel rambut e. Sel saraf Pengobatan oral: • Dianjurkan bila pigmentasi meliputi daerah yang lebih luas dan sampai kedermis: - Asam askorbat
- Glutation - Pycnogenol
7. Pengobatan topical pada melasma dapat dilakukan dengan obat dibawah ini kecuali
a. Hidroquinon b. Asam retinoate c. Asam zelaik d. Asam glikolat e. Asam aksorbat Pengobatan topikal: • Hidroquinon 2-5% (krim, gel, losio)
• Asam retinoat 0,05%-0,1% (krim dan gel) • Asam azelaik 20%
(krim)
• Asam glikolat 8-15% (krim, gel, losio)
8. Pengobatan oral pada melasma dapat
dilakukan dengan obat dibawah ini kecuali a. Asam aksorbat
b. Glutation c. Pycnogenol
d. Proanthocyanidin e. Asam glikolat
9. Pada terapi medikamentosa melasma,
evaluasi umumnya dilakukan setelah lama terapi mencapai a. 2 minggu b. 1 bulan c. 2 bulan d. 1 minggu e. 3 bulan
10. Tn. J 60 tahun, datang dengan keluhan sering gatal pada tangan dan kaki. Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan penyakit kulit primer,
ditemukan xerotic skin, dan ditemukan bekas garukan pada kulit. Pada pemeriksaan fisik dan penunjang tidak ditemukan kelainan. Diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini adalah
a. Pruritus senilis
b. Pruritus demensia c. Icteric skin
d. Emfisema
Pruritus Senilis
• Pruritus/gatal adalah sensasi yang menimbulkan keinginan untuk menggaruk dan merupakan
keluhan kulit tersering pada usia di atas 60 tahun • Faktor yang menyebabkan pruritus pada lansia
antara lain kulit kering (xerosis cutis), penyakit
kulit lain seperti dermatitis dan skabies, penyakit sistemik, serta penggunaan obat tertentu, tetapi seringkali penyebab pruritus tidak diketahui
• Pruritus senilis didefinisikan sebagai pruritus idiopatik pada lansia
Klinis
1. Anamnesis: gatal 2. Pemeriksaan fisik:
• Tidak ada penyakit kulit primer
• Tidak ditemukan xerotic
skin
• Dapat ditemukan bekas garukan/scratch mark dan lesi kulit sekunder lain
• Tidak didapatkan penyakit sistemik
• Diagnosis Banding
1. Pruritus akibat xerotic
skin
2. Pruritus akibat penyakit kulit lain
3. Pruritus akibat penyakit sistemik, seperti gagal ginjal kronik, kolestasis, hipertiroid, kelainan
hematologik, dan keganasan
Penatalaksanaan
• Singkirkan adanya penyakit sistemik
• Konsul ke departemen lain bila ada kecurigaan kelainan sistemik
• Terdapat beberapa obat yang dapat dipilih sesuai dengan indikasi sebagai berikut:
1. Topikal
• Emolien untuk memperbaiki sawar kulit
• Keratolitik topikal, contoh: asam salisilat, meningkatkan hidrasi dan melembutkan stratum korneum dengan
menurunkan pH kulit
• Imunomodulator: takrolimus, pimekrolimus terbukti secara langsung mempengaruhi serabut saraf C yang berperan
pada patofisiologi pruritus
• Bahan pendingin: mentol, capsaicin 2. Sistemik
11. Etiologi dari pruritus senilis adalah a. Idiopatik
b. Perubahan hormonal c. Infeksi jamur
d. Menurunnya kapasitas kelenjar sebasea e. Gangguan ginjal kronik
12. Immunomodulator seperti tacrolimus mengurangi gejala pada pruritus senilis dengan mekanisme
a. Mempengaruhi serabut saraf C b. Memperbaiki barrier kulit
c. Meningkatkan hidrasi kulit
d. Melembutkan stratum korneum e. Menghambat ujung saraf krause
13. Ny. J, 45 tahun datang dengan keluhan bercak putih yang muncul dan menyebar ke beberapa bagian tubuh. Tidak ada keluhan gatal maupun nyeri.Pada
pemeriksaan fisik nampak macula berwarna putih susu berbatas jelas, simetris pada tangan dan kaki. Pasien mengatakan ibu pasien saat muda juga menderita gejala ini. Pasien juga mengatakan bahwa saudara
pasien ada yg menderita lupus. Diagnosis pada pasien ini adalah a. Vitiligo b. Melasma c. Tine fascialis d. SLE e. SCC
Vitiligo
• Vitiligo merupakan penyakit depigmentasi didapat pada kulit, membran mukosa, dan rambut yang memiliki karakteristik lesi khas berupa makula berwarna putih susu
(depigmentasi) dengan batas jelas dan bertambah besar secara progresif akibat hilangnya melanosit fungsional
Klinis
1. Anamnesis
• Timbul bercak putih seperti susu/kapur onset tidak sejak lahir
• Tidak ada gejala subjektif, kadang sedikit terasa gatal
• Progresivitas lesi: dapat bertambah
luas/menyebar, atau lambat/menetap, kadang timbul bercak sewarna putih pada lesi tanpa diberikan pengobatan (repigmentasi spontan) • Bisa didapatkan riwayat vitiligo pada keluarga
(10-20%)
• Bisa didapatkan riwayat penyakit autoimun lain pada pasien atau keluarga (10-25%)
Pemeriksaan Fisik
Terdapat makula depigmentasi berbatas tegas dengan distribusi sesuai klasifikasi sebagai berikut: • Vitiligo nonsegmental
(VNS)/generalisata/vulgaris
- Merupakan bentuk vitiligo paling umum
- Lesi karakteristik berupa makula berwarna putih susu yang berbatas jelas, asimtomatik, melibatkan
beberapa regio tubuh, biasanya simetris
- VNS terdiri dari vitiligo akrofasial, vitiligo mukosal, vitiligo universalis, dan vitiligo tipe campuran yang
berhubungan dengan vitiligo segmental
• Vitiligo segmental (VS)
- Pada tipe ini lesi biasanya muncul pada anak-anak, berkembang
dengan cepat (dalam waktu beberapa minggu atau bulan), kemudian menjadi stabil dan
biasanya lebih resisten terhadap terapi
- Vitiligo tipe ini sering
dihubungkan dengan hipotesis neurokimia.
• Undetermined/unclassified o Vitiligo fokal
- Merupakan lesi patch yang tidak memenuhi kriteria ditribusi
segmental, dan tidak
meluas/berkembang dalam waktu 2 tahun
- Vitiligo tipe ini dapat berkembang menjadi tipe VS maupun VNS.
o Mukosal: hanya lesi di mukosa tanpa lesi di kulit
14. Berikut ini pernyataan yang tepat mengenai vitiligo segmental, kecuali
a. Muncul pada anak-anak
b. Berkembang dengan cepat
c. Lebih resisten terhadap terapi
d. Dihubungkan dengan hipotsesis neurokimia e. Setelah menyebar umumnya penyakit ini
15. Berikut ini merupakan kriteria untuk vitiligo stabil, kecuali
a. Lesi lama tidak bertambah luasdalam 2 tahun b. Tidak ada lesi baru pada periode yang sama c. Tidak ada Riwayat fenomena koebner
d. Beberapa lesi mengalami repigmentasi e. Tes mini grafting positif
Dikenal istilah vitiligo stabil, yaitu bila memenuhi kriteria: 1. Lesi lama tidak berkembang atau bertambah luas
selama 2 tahun terakhir
2. Tidak ada lesi baru yang timbul pada periode yang sama
3. Tidak ada riwayat fenomena Koebner baik
berdasarkan anamnesis maupun tampak secara klinis 4. Tidak ada repigmentasi spontan atau repigmentasi
setelah terapi
5. Tes minigrafting positif dan tidak tampak fenomena Koebnerisasi pada lokasi donor
• Vitiligo stabil ini tidak efektif diterapi dengan berbagai modalitas terapi, sehingga merupakan indikasi utama pembedahan (melanocyte grafting)
16. Evaluasi untuk vitiligo dilakukan dengan
menggunakan Vitiligo Area Scoring Index atau VASI. Pemeriksaan ini dilakukan setiap a. 1 bulan b. 2 minggu c. 3 minggu d. 3 bulan e. 6 bulan Pemeriksaan Penunjang
1. Perhitungan Vitiligo Area
Scoring Index (VASI) atau Vitiligo European Task Force (VETF) untuk menentukan
derajat keparahan, serta pemilihan dan follow up
terapi, yang dievaluasi ulang secara berkala setiap 3 bulan
2. Pemeriksaan menggunakan
lampu Wood untuk
mendapatkan gambaran depigmentasi yang jelas
3. Pemeriksaan laboratorium
untuk penapisan penyakit autoimun lain sesuai
anamnesis dan pemeriksaan fisik, seperti anti-nuclear
antibody (ANA), thyroid
stimulating hormone (TSH), free T4 (FT4), glukosa darah,
17. Berikut ini edukasi yang benar mengenai vitiligo, kecuali
a. Menghindari stres
b. Menghindari pajanan sinar matahari
c. Menghindari pemakaian jam tangan
d. Memakai rok/celana longgar e. Rajin menyisir rambut dan
menggosok area yang berambut
Non-medikamentosa
1. Menghindari trauma fisik baik luka tajam, tumpul, ataupun tekanan repetitif yang menyebabkan
fenomena Koebner, yaitu lesi depigmentasi baru pada lokasi trauma
• Trauma ini terjadi
umumnya pada aktivitas sehari-hari, misalnya
pemakaian jam tangan, celana yang terlalu ketat, menyisir rambut terlalu keras, atau menggosok handuk di punggung 2. Menghindari stres
3. Menghindari pajanan sinar matahari berlebihan
EDUKASI
Menjelaskan bahwa:1. Vitiligo merupakan penyakit kulit kronis, progresif, sulit ditebak perjalanan penyakitnya, tetapi dapat diobati dan tidak menular
2. Lesi baru dapat timbul akibat gesekan, garukan, atau trauma tajam dan trauma tumpul repetitif
3. Respon terapi setiap pasien berbeda-beda, dan
membutuhkan waktu serta tenaga yang tidak sedikit untuk mengetahui terapi yang paling efektif untuk setiap pasien 4. Terapi vitiligo membutuhkan kesabaran karena respons
terapi bisa cepat maupun lambat
5. Vitiligo dapat pula disertai kelainan autoimun lain (20-25%), sehingga bergantung pada anamnesis dan pemeriksaan fisik, dapat diperlukan pemeriksaan laboratorium tambahan
6. Kelainan vitiligo dapat diturunkan (10-15%) baik berupa vitiligo atau manifestasi autoimun lainnya
18. Tatalaksana topical lini kedua untuk vitiligo adalah a. Kortikosteroid
b. Kortikosteroid + antihistamin c. Kortikosteroid + vitamin C
d. Kortikosteroid + analaog vitamin D3 e. Kortikosteroid + takrolimus
19. Berikut ini merupakan indikasi dilakukan terapi pembedahan untuk vitiligo kecuali
a. Vitiligo stabil
b. Bersifat segmental c. Rekalsitran
d. Vitiligo mucosal
e. Respon parsial terhadap terapi non bedah
Lini Ketiga
• Terapi
intervensi/pembedahan: untuk vitiligo stabil,
segmental, rekalsitran, dan yang memberikan respons parsial terhadap terapi non-bedah
• Terapi pembedahan dapat berupa:
1. Minipunch grafting 2. Split-skin graft
3. Suction blister epidermal grafts (SBEG)
• Teknik graft melanosit atau epidermis baik dalam
suspensi epidermis atau spesifik kultur sel primer dari melanosit
20. Berikut ini yang merupakan bentuk vitiligo non segmenetal kecuali
a. Akrofasial b. Mukosal c. Universalis d. Seboroik e. Campuran
21. Ny. J, 60 tahun dirujuk oleh sejawat jantung karena keluhan gatal padatubuh.Ny. J adalah
pasien penyaki tjantung coroner 6 bulan lalu, dan masih kontrol dan minum obatrutin.Pasien
mengeluhkan kulit seperti kering, tertarik, dan
gatal, terutama setelah mandi. Pada pemeriksaan fisik nampak kulit kasar dan kering, dijumpai
skuama halus. Diagnosis yang paling mendekati pada pasien ini adalah, kecuali
a. Xerosis cutis b. TB Cutis
c. Pruritus demensialis
d. Crazy pavement dermatosis e. Dermatosis senilis
Xerosis Kutis Pada Geriatri
• Kondisi kekeringan kulit disertai gangguan fungsi sawar kulit yang diakibatkan hilang atau
berkurangnya kandugan air di dalam stratum korneum yang ditandai dengan garis halus, skuama halus dan kadang disertai rasa gatal • Tanda, gejala dan perjalanan penyakit xerosis
kutis bergantung pada usia dan status kesehatan pasien, serta faktor eksternal misalnya
kelembaban udara sekitar (faktor penuaan intrinsik, genetik dan lingkungan)
Anamnesis
• Kulit terasa seperti kering tertarik terutama sesudah mandi
• Dapat disertai sensasi gatal atau nyeri
Pemeriksaan klinis
• Gambaran klinis xerosis kutis merupakan spektrum, dan umumnya menjadi lebih berat jika kondisi berlangsung
semakin lama
• Kulit teraba kasar dan kering • Dapat dijumpai skuama halus
dan bila lebih berat dapat
dijumpai kelainan klinis iktiotik atau gambaran skuama
menyerupai sisik ikan,
keretakan kulit (erythema craquele/crazy paving
appearance), eritema dan
inflamasi, serta fisura
• Predileksi xerosis kutis: daerah lengan, tungkai bawah, dan sisi lateral abdomen
Penatalaksanaan
• Tubuh:
1. Emolien/moisturizer dengan atau tanpa keratolitik
2. Klasifikasi xerosis ringan-sedang: gunakan humektan kekuatan
ringan, misalnya urea (5-10%), asam glikolat (AG) (4-8%), asam laktat (AL) (5%) atau keratolitik asam salisilat (AS) (1-3%)
3. Klasifikasi xerosis sedang: gunakan humektan kekuatan sedang
misalnya urea 20%, AG 10%, AL 12%, AS 5% (khusus penggunaan asam salisilat jika lesi terlokalisir, karena risiko salisilisme)
• Wajah:
1. Emolien atau moisturizer non komedogenik dan non aknegenik
2. Humektan: urea 5 % (5-10%), AG 4 %, atau AL 5%
• Tangan/ kaki :
1. Emolien/moisturizer dengan atau tanpa keratolitik
2. Klasifikasi xerosis ringan: gunakan barrier cream/unguentum
• Dapat ditambahkan urea, AG, AL, AS kekuatan rendah
3. Klasifikasi xerosis sedang-berat: gunakan humektan kekuatan tinggi
22. Berikut ini obat-obatan yang dapat menyebabkan xerosis cutis, kecuali
a. Anti hiperkolesterol b. Penyekat beta
c. Diuretik
d. Anti androgen e. Cimetidin
Beberapa faktor eksternal yang mempengaruhi kondisi kulit kering, misalnya:
• Obat-obatan: anti
hiperkolesterol, diuretik, anti androgen, dan
cimetidin
• Penyakit sistemik: neuropati diabetik, gangguan ginjal terminal, infeksi HIV,
keganasan dan riwayat radioterapi, dan penyakit obstruksi empedu
• Gangguan metabolik dan nutrisi: defisiensi zinc, asam lemak esensial
23. Lansia merupakan kelompok usia yang rentan terkena xerosis cutis, salah satunya karena masalah gangguan metabolic dan nutrisi. Defisit zat apakah yang juga dapat menyebabkan xerosis cutis
a. Vit A b. Zinc c. Vit D d. Fe
24. Berikut ini merupakan penyakit sistemik yang dapat menyebabkan xerosis cutis,
kecuali
a. Neruopati diabetikum b. Infeksi HIV
c. Keganasan
d. Penyakit obstruksi empedu e. Penyakit jantung koroner
25. Pengukuran derajat kekeringan pada xerosis cutis dapat dilakukan dengan mengukur
a. ABI
b. Trans epidermal water loss
c. Trans dermal water loss d. Epidermal water content e. Endodermal water precentage Pemeriksaan Penunjang 1. Tidak diperlukan pemeriksaan penunjang khusus 2. Pengukuran derajat kekeringan dapat dilakukan secara
objektif dengan alat pengukuran trans
epidermal water loss guna follow up terapi