KATA PENGANTAR
Bermula dari kegemaran penulis untuk membuat artikel di media masa, ditambah dengan pengalaman penulis sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Unud maka lengkaplah hobi tersebut mendapatkan penyalurannya. Budaya menulis belum mengakar dikalangan pendidik di Bali sehingga secara kuantitas dan kualitas masih sangat terbatas sekali. Disadari buku sebagai media informasi sekaligus sebagai implementasi dari buah pikiran penulisnya dapat dipergunakan sebagai alat ukur terhadap kapasitasnya. Sesederhana apapun karya tulis itu perlu disebarkan agar memperoleh masukan untuk membuat menjadi lebih sempurna ke depannya.
Materi dalam buku ini sebagian merangkum beberapa materi publikasi yang pernah penulis terbitkan di media masa seperti Balipost, Denpost, dan Nusa Bali. Untuk itu pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan untuk menerbitkan kembali dalam buku yang mudah-mudahan dapat memberikan manfaat sesuai dengan pengorbanan.
Dalam Edisi Revisi ini, secara gariis besar topiknya dibagi dua klasifikasi. Pertama, yang berkaitan dengan masalah ekonomi, dan yang kedua berhubungan dengan seluk beluk masalah sosial dan kepekaan nurani. Dalam Edisi Revisi ini, banyak tambahan pemikiran disumbangkan oleh Ibu Nina Eka Lestari.
Buku ini sangat layak dibaca siapa saja untuk sekedar dijadikan pembanding dan proses pembelajaran dalam menyikapi hidup dan kehidupan dengan nilai-nilainya yang sudah banyak mengalami pergeseran. Semoga bermanfaat bagi para pembaca.
Denpasar, Juni 2016
Made Kembar Sri Budhi Ni Putu Nina Eka Lestari
DAFTAR ISI
Halaman
1. Ekonomi
1.1 Pasar Lelang Di antara Ekonomi Rakyat ... 1
1.2 Masih Terjajah Secara Ekonomi ... 5
1.3 Perlunya Pebisnis-Pebisnis Mandiri ... 8
1.4 Bangkitkan Potensi Lokal Untuk Pulihkan Ekonomi ... 11
1.5 Keberpihakan Anggaran Pada Rakyat ... 14
1.6 Kesiapan Untuk Standardisasi ... 17
1.7 Pengetatan Anggaran VS Konsumerisme ... 20
1.8 Pola Konsumsi Yang Sarat Dengan Gengsi dan Status ... 25
1.9 Investasi SDM Dalam Mempertahankan Keunggulan Organisasi 29
1.10 Kenapa Harga-Harga Harus Naik ... 34
1.11 Ketakutan Berlebihan Pada Krisis Global ... 38
1.12 Global Dream ... 40
1.13 Ketika Statistik Makro Ekonomi Bicara Kebohongan ... 44
1.14 Alternatif Pemberdayaan UMKM ... 47
1.15 Pilihan Investasi dan Pengelolaan Keuangan di Masa Krisis ... 53
1.16 Penetapan Harga dan Kualitas ... 59
1.17 Seputar Inovasi Pasar ... 63
1.18 Proteksi Dalam Kewirausahaan ... 67
1.19 Kinerja Klasikal Agribisnis ... 71
1.20 Menata Ekspor Komoditas Pertanian ... 75
1.21 Agroindustri Perspektif Teknologi Budidaya ... 79
1.22 Pergeseran Pangsa Pasar Pertanian ... 83
1.23 Dari Krisis Ke Krisis ... 87
1.24 Haruskah Perkembangan Itu Disertai Dengan Merebaknya Kondominium ... 90
1.25 Ketahanan Atau Kelangkaan Pangan ... 94
1.26 Korelasi Pembangunan Dengan Pengentasan Kemiskinan ... 98
1.27 Manfaat Perdagangan Internasional ... 101
1.28 Memaknai Kinerja Indikator Pembangunan ... 104
1.29 Memutus Rantai Ketidakadilan Ekonomi ... 107
1.30 Pembebasan Bea Masuk Produk Pangan ... 110
1.31 Prestasi Pembangunan Yang Menyisakan Penduduk Miskin 32,53 Juta Orang ... 113
1.32 Sulitnya Mencetak Wirausaha Baru ... 116
2. Sosial 2.1 Pemimpin Berbudaya dan Beradab ... 120
2.2 Biaya Pendidikan dan Nilai Kesarjanaan ... 123
2.3 Sentuhan Humanity Dalam Menggairahkan Proses Pembelajaran ... 126
2.4 Tidak Rasional dan Tidak Konsisten Dalam Penanganan
Korupsi ... 128
2.5 Kualifikasi Kualitas Yang Tidak Bermutu ... 130
2.6 Teropong Kedewasaan Demokrasi ... 134
2.7 Masalah Kependudukan Di antara Peluang dan Pendatang ... 138
2.8 Teknologi Tera Sudah Menanti ... 141
2.9 Pembelian Barang Dengan Sistem Kredit ... 144
2.10 Belenggu Itu Bernama Ketakutan ... 148
2.11 Menghitung Rakhmat ... 151
2.12 Bicara Dengan Bahasa Jiwa ... 153
2.13 Mengalahkan Ketidak Mudahan ... 156
2.14 Kesepian Di Tengah Kebisingan ... 159
2.15 Menguak Pintu Ikhlas ... 162
2.16 Kecerdasan Otak VS Kecerdasan Hidup ... 164
2.17 Saat Penghargaan Diri Berlebihan ... 167
2.18 Ketika Harga Diri Sudah Tergadaikan ... 169
2.19 Sebening Embun ... 172
2.20 Ketika Yang Tertinggal Hanya Kegalauan ... 176
2.21 Birokrasi Yang Terluka ... 178
2.22 Budaya Tanggung Jawab ... 182
2.23 Fokuskah Pemerintah Mengurus Rakyat ... 185
2.24 Ketersinggungan Publik Yang Proporsional ... 188
2.25 Ketika Nurani Sebagai Komoditas ... 191
2.26 Reformasi Tanggung Jawab Sesuai Porsi Hak Dan Kewajiban ... 195
1. EKONOMI
1.1 PASAR LELANG DI ANTARA EKONOMI RAKYAT
Fenomena kehidupan bermasyarakat pada saat ini telah diwarnai oleh prilaku yang bersifat individual dan mementingkan diri sendiri atau kelompoknya. Ini sangat transparan sekali terjadi pada masyarakat perkotaan dengan perkembangannya yang pesat sebagi implikasi dari konsep kebebasan berusaha yang merupakan derivat dari konsep pasar bebas yang digembar gemborkan. Bayangan akan suasana kehidupan yang penuh dengan keramahan, tegur sapa yang santun, sudah setipis kulit ari kalau tidak boleh dikatakan pudar. Padahal pada saat tegur sapa dengan keramahan yang santun itu tercipta, maka di sanalah muncul kelembutan. Pada saat kelembutan itu tercipta, di sanalah muncul cinta. Dan pada saat segala sesuatunya dikerjakan dan dilaksanakan dengan penuh rasa cinta maka kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat menjadi sesuatu yang pantas untuk diidolakan.
Sementara orang sibuk berbicara pasar bebas, pasar global dengan segala piranti penndukungnya telah semakin menjauhkan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai sosial. Konsep pasar bebas yang telah muncul sekitar dua ratus lima puluh tahun yang lalu, ternyata sampai saat ini telah menyisakan berbagai ragam persoalan seperti kesenjangan antar negara maju-berkembang, antar kelompok masyarakat dalam suatu negara, antar daerah, distribusi pendapatan yang semakin pincang, inflasi, pengangguran, serta ketimpangan dalam neraca pembayaran. Pasar bebas yang berbasis pada insting kapitalisme yakni concour, control dan ekspansi telah melahirkan kelompok-kelompok penguasa pasar yang mendominasi bekerjanya mekanisme pasar. Kelompok ini yang disebut jango pasar telah mengarahkan mekanisme pasar sedemikian rupa menjadi suatu mekanisme lelang.
Mekanisme lelang sebagaimana pasar lelang pada umumnya dapat dipahami bahwa hanya mereka yang memiliki uang yang mampu mempengaruhi
supply dan demand sehingga mereka yang akan keluar sebagai pemenang,
selebihnya berdiri di luar pagar sebagai penonton. Pasar bebas dengan neo kapitalismenya telah menciptakan aktivitas ekonomi yang immoral. Identifikasi realitas ekonomi yang immoral adalah munculnya tuna wisma, perkulian, perhambaan, pemiskinan, ketidak perdulian dan seterusnya. Mekanisme ini telah membuat kepentingan rakyat menjadi terpinggirkan, muncul paradima baru bahwa pasar yang berdaulat bukan lagi rakyat yang berdaulat. Pasar bebas yang ternyata penuh ketidak bebasan (adanya embargo, quota, lisensi, copy right,
intellectual proverty right) merubah bentuk tingkah laku pelaku pasar yang ganas
dan rakus yang menyebabkan penggusuran dan pelumpuhan terhadap kedaulatan rakyat. Para perencana pembangunan di Republik ini hendaknya semakin sering untuk diingatkan akan platform daripada pembangunan nasional, yakni bertujuan untuk meningkatkan kesejahtraan masyarakat banyak. Oleh karenanya setiap kebijakan yang ke luar dari platform ini seharusnya mendapatkan
warning dari semua pihak yang peduli akan pentingnya pemberdayaan rakyat.
Pertumbuhan ekonomi sebagai suatu kebanggaan strategi pembangunan telah menunjukkan kelemahannya yang sangat esensial. Pendapatan per kapita sebagai salah satu indikator keberhasilan pembangunan ekonomi tidak lebih sebagai kebohongan statistik secara turun temurun. Peningkatan dalam pendapatan per kapita tidak mampu mencerminkan kondisi yang sebenarnya Tidak jarang peningkatan tersebut terjadi dengan drastis pada sekelompok kecil masyarakat, tetapi sebagian besar kelompok masyarakat bahkan pendapatannya menurun, walaupun secara nasional pendapatan per kapita naik. Inilah salah satu kebohongan yang selama ini dibanggakan hanya untuk meningkatkan prestise tanpa peduli terhadap sebagian besar rakyat yang meringis karena ketidak berdayaannya.
Rakyat banyak sepanjang proses pembangunan ini hanya diharapkan untuk berpartisipasi, tanpa pernah diberikan konpensasi yang sesuai dengan partisipasinya. Buruh dibayar upahnya di bawah upah minimum, buruh tani produktivitasnya dihargai di bawah produktivitas marginalnya dan seterusnya.
Sepanjang fenomena ini tidak mendapatkan pembenahan yang semestinya, maka dikotomi kaya-miskin, majikan-buruh, tuan tanah-buruh tani, kota-desa akan menjadi warna yang tidak pernah pudar dalam struktur ekonomi nasional. Untuk itu peranan pemerintah masih sangat diperlukan untuk membenahinya dengan cara mengangkat martabat kelompok sekunder ini melalui penerapan dan menumbuh kembangkan partisipasi dengan emansipasi. Dalam bentuk partnership atau kemitraan yang memiliki nilai kemanusiaan berdiri setara di atas kaki yang sama.
Konsep tentang partipasi dengan emansipasi sebenarnya sudah tercermin secara implisit dalam kehidupan bermasyarakat pada zaman kerajaan dahulu, yang diperkenalkan oleh Pangeran Samber Nyowo (Sri Mangku Negoro I) dengan konsep Tri Dharmanya yang diderivat dari hubungan kekerabatan antara keraton dengan rakyat. Adapun Tri Dharma yang dimaksudkan adalah; Pertama, ikut memiliki yang maksudnya adalah bagaimana pelaku ekonomi khususnya pekerja yang membesarkan perusahaa/industri diberikan kompensasi dalam bentuk sertifikat kepemilikan atau saham, sehingga dengan ikut merasa memiliki maka loyalitas mereka tidak perlu diragukan lagi. Kedua, ikut bertanggung jawab, dengan rasa memiliki sudah barang tentu mereka wajib bertanggung jawab untuk membesarkannya. Dengan demikian tuntutan tanggung jawab akan tumbuh dengan sendirinya tanpa perlu pendiskripsian lagi. Ketiga, mawas diri secara jujur, karena merasa memiliki sekaligus ikut bertanggung jawab sudah tentu segala tenaga dan pikiran akan dicurahkan untuk kebesaran perusahaan/industri dilandasi oleh kejujuran karena besar kecilnya perusahaan mencerminkan besar kecilnya hak mereka di dalam perusahaan. Ternyata konsep yang sangat manusiawi ini tidak dilakukan oleh para pelaku ekonomi di Indonesia, dan ironisnya malah konsep ini diterapkan oleh perusahaan Matsusita di Jepang, sehingga kita hanya dapat tercengang melihat kebesaran perusahaan Matsusita tanpa berupaya untuk melakukan kilas balik untuk memperbaiki kebodohan yang selama ini kita lestarikan.
Jika dikaitkan dengan ekonomi rakyat, keberadaan usaha kecil, menengah dan usaha besar dapat diilustrasikan sebagai berikut:
Tahun 1997 tercatat seluruh pengusaha sebanyak 39.767.202, terdiri atas pengusaha kecil 39.704.661 (99,84%), pengusaha menengah 60.449 (0,15%) serta 2.097 pengusaha besar (0,01%). Tahun 1998 angka-angka tersebut berubah seluruh pengusaha menjadi 36.815.409 yang terdiri atas pengusaha kecil 36.761.689 (99,85%), pengusaha menengah 51.889 (0,14%) dan pengusaha besar 1.831 (0,01%).Dari komposisi penyerapan tenaga kerja sebagai indikator kinerja ekonomi awal krisis tahun 1997 dan 1998, untuk pengusaha kecil, menengah dan pengusaha besar tahun 1997 penyerapan tenaga kerjanya masing-masing 57,48 juta (87,62%), 7,721 juta (11,75%) dan 0,393 juta (0,16%). Tahun 1998 angka tersebut adalah 57,34 juta (88,66%), 6,97 juta (10,78%) dan 0,364 juta (0,56%). Dari angka di atas jelas bahwa pengusaha kecil yang nota bene ekonomi rakyat menampung paling banyak tenaga kerja. Prosentase daya tampung pengusaha kecil dalam krisis ekonomi bahkan meningkat, yang terjadi sebaliknya untuk pengusaha besar. Dengan serangkaian prestasi yang ditampilkan oleh pengusaha kecil dan menengah, ekonomi rakyat dapat menyediakan kehidupan dengan harga murah. Jika diurutkan banyak sekali terapi penyelamat yang ditampilkan oleh ekonomi rakyat. Yang paling mencolok adalah dalam situasi krisis belakangan ini, banyak perusahaan besar yang sebelumnya diagung-agungkan rontok secara perlahan dan juga drastis, namun ekonomi nasional masih dapat tumbuh dengan 3-4 persen tidak lain dari kontribusi yang disumbangkan oleh ekonomi rakyat. Lantas masihkah harus memandang sebelah mata terhadap keberadaan ekonomi rakyat. Kota boleh berkembang, globalisasi boleh menggejala, tapi bagaimana harus menyatukan langkah agar ekonomi rakyat juga mampu memberi warna terhadap arah globalisasi. Swalayan/mall boleh saja didirikan, namun bagaimana agar swalayan/mall tersebut harus menampung hasil usaha ekonomi rakyat, Mc Donald, Kentucky silahkan jalan tapi bagaimana agar bahan baku yang dipergunakan dengan memanfaatkan hasil usaha ekonomi rakyat. Ini dapat terwujud jika pemerintah mau merangkul kepentingan rakyat. Maka di sinilah soko guru ekonomi rakyat juga dapat berperan dalam arah pasar bebas atau pasar lelang tersebut.
1.2 MASIH TERJAJAH SECARA EKONOMI
Jika diperhatikan beberapa indikator dunia seperti tingkat kemiskinan dan pengangguran, kesehatan, pendidikan, pelayanan dan birokrasi, hutang luar negeri, pelanggaran HAM, korupsi dan seterusnya urutan Indonesia termasuk kategori yang sangat memprihatinkan. Berapakali strategi pembangunan telah direvisi, berapakali pergantian pimpinan sudah dilakukan, ternyata urutan keterpurukan Indonesia belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Sebenarnya berkaca pada kelemahan-kelemahan di atas masyarakat dunia tahu bagaimana kualitas sumber daya manusia Indonesia khususnya pemimpin yang mempunyai kaitan terhadap arah pembangunan bangsa.
Tidak banyak tipe pemimpin yang secara tulus dan iklas untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat banyak, tidak sedikit yang kemaruk akan prestise kekuasaan dan harta, sehingga belenggu korupsi, kolusi, nepotisme dan koncoisme kalau mau jujur mengakuinya masih membudaya dilingkungan masyarakat. Kalau mau berbicara tentang kualitas, tidak sedikit pendidikan formal dan informal berkembang baik diselenggarakan oleh pemerintah maupun yang dikelola oleh pihak swasta. Pra sekolah sampai dengan universitas pencetak doktor, dengan biaya pendidikan selangit jika dibandingkan dengan daya beli masyarakat selalu menjadi rebutan setiap tahunnya. Ribuan sarjana bahkan mungkin jutaan dicetak setiap tahunnya oleh lembaga pendidikan yang katanya telah menerapkan kurikulum sesuai tuntutan zaman. Namun selalu saja dihadapkan pada fenomena semakin bertambahnya pengangguran intelektual, lulusan yang tidak siap pakai dan seabrek kekurangan jika disebutkan satu persatu.
Yang menjadi pertanyaan mendasar adalah hanya sebegitukah kualitas yang dapat dihasilkan oleh lembaga pendidikan, yang masih dengan pongahnya mengusung icon kualitas melalui berbagai media promosi. Kalau hanya sampai di sana pemahanan akan makna kualitas, maka terjadi pemisah yang amat tipis antara pemaknaan kualitas dan kuantitas. Nampaknya akan terus berlanjut
sehingga tidak heran jika bangsa ini tidak pernah berubah urutan dalam berbagai dimensi keterpurukan.
Kualitas kehidupan dapat diamati dari berbagai aspek kegiatan. Kualitas yang tidak lain adalah berbagai atribut yang melekat pada suatu produk yang dapat memenuhi berbagai keinginan konsumen. Dalam bidang ekonomi terutama yang berkaitan dengan proses produksi kualitas tersebut dapat dengan mudah dicermati. Produk akhir sebagai cerminan kualitas keseluruhan meliputi kualitas bahan baku, proses, managemen, sumber daya manusia serta lingkungan. Jika coba dicermati kualitas produk yang dihasilkan oleh anak bangsa, pertama tidak jarang terdengar belum apa-apa sudah kalah bersaing dengan produk yang dihasilkan negara lain. Inefisiensi terjadi pada semua lini, kasus-kasus produk yang tidak sehat mengandung bahan pewarna, formalin, zat aditif lainnya, kedaluarsa hampir setiap hari menghiasi laporan media massa. Jadi dapat dibayangkan bagaimana kualitas produsen dalam menghasilkan produk untuk kebutuhan konsumsi masyarakat. Secara tidak langsung telah meracuni kehidupan yang sangat berharga ini.
Perilaku konsumen yang kurang memperhatikan fungsi produk yang sebenarnya, lebih diwarnai oleh keinginan pisik semata seperti mode, selalu berkiblat pada produk baru yang kadang fungsinya tidak berbeda dengan produk lama. Tidak heran jika produsen luar negeri menjajah dengan produk-produknya dengan sedikit modifikasi sehingga mampu mengeruk saku masyarakat konsumen. Para pemimpin hanya bisa beropini bahwa kita secara ekonomi masih dijajah oleh negara lain tanpa berupaya untuk memperbaiki serta belajar dari sejarah. Yah Cuma itu kualitas konsumen. Penjajahan apapun bentuknya dibenci oleh setiap masyarakat yang punya nurani, tapi nurani sering terbelenggu oleh prestise dan kemunafikan sehingga penjajahan selamanya bercokol di bumi persada ini.
Kualitas para pemimpin dapat dilihat dari produk kebijakan yang diciptakan dan dihasilkan. Kebijakan yang dilakukan sering mengadopsi dari luar tapi masih sangat parsial, bagian-bagian yang menguntungkan secara pribadi
maupun kelompok sering dihalalkan dan diadopsi membabi buta untuk dilaksanakan tanpa pernah mengkomunikasikan terhadap unit atau orang yang akan menerima dan melaksanakan konsekwensi dari kebijakan tersebut. Namun jika tidak mengakomodasi kepentingannya walaupun secara keseluruhan lebih bermanfaat, tidak jarang dengan kedok musyawarah untuk mufakat, pertimbangan tim ahli dan second opinion, tidak mendapatkan rekomendasi untuk dilaksanakan. Fungsi mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar dapat memahami yang mana kepentingan dan yang mana keyakinan. Satu orang yang mempunyai keyakinan lebih berharga dari seribu orang yang sarat dengan kepentingan. Jika kebijakan pemimpin merangkul kepentingan maka sudah dapat ditakar bagaimana kualitas kepemimpinan yang dilaksanakan.
Upaya perbaikan kualitas diberbagai bidang kehidupan sah-sah saja, masalahnya apakah semua orang mengacu pada perbaikan kualitas dan ada komitmen dari bawah sampai yang paling atas. Tunjukkan keikhlasan bahwa sesuatu yang lebih berkualitas itu dapat muncul kapan saja dan di mana saja. Kualitas dapat muncul di tingkat atas maupun di tingkat bawah dan menengah. Harusnya diciptakan iklim yang kondusif untuk menumbuh kembangkan kearah perbaikan kualitas. Bukan justru sebaliknya mengekang dengan kebijakan atasan yang tidak pernah dikompromikan. Sebuah kekuasaan akan menimbulkan keseganan apabila pengemban kekuasaan dapat bersikap teduh. Pernyataan maupun statemen yang dikeluarkan dapat memberikan kesejukan, mengakomodasi berbagai permasalahan yang dihadapi setiap unit, dan mendiskusikan untuk mencari pemecahan dan jalan keluar yang terbaik bagi semua pihak. Biarkan semua argumen berkembang dan kaji secara rasional plus minus dari setiap upaya pemecahan masalah untuk mendapatkan perbaikan hasil yang berkualitas. Serta yang terpenting adalah bagaimana memposisikan diri untuk tidak pernah mencampur adukkan antara masalah pribadi dengan masalah jabatan dan pekerjaan.
Dapat disadari bahwa perbaikan kualitas disetiap aspek kehidupan harus sudah menjadi kebutuhan bersama untuk dilakukan. Suatu saat akan muncul
kebanggaan jika mendengar akan predikat bangsa yang menduduki ranking terbaik untuk setiap indikator dunia, yang sudah terbebas dari belenggu lilitan hutang luar negeri, terbebas dari buta aksara, terbebas dari kemiskinan dan pengangguran, tanpa ada korupsi karena semua sudah berkecukupan. Masyarakatnya yang sejahtera dengan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi, pada saat itu akan menjadi bangsa yang bermartabat dengan memiliki harkat nasionalisme tinggi. Jadi tinggal menunggu siapa yang menjadi pelopor, siapa yang berani mengumandangkan kepedulian tersebut, apakah masyarakat bawah dengan buta aksaranya, masyarakat marginal, atau para pemimpin yang menjadi teladan silahkan waktu akan memberi jawaban siapa sebenarnya yang lebih bermartabat.
1.3 PERLUNYA PEBISNIS-PEBISNIS MANDIRI
Presiden dalam rangka pembukaan musyawarah nasional VII wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) di Jakarta melontarkan pernyataan bahwa bisnis yang mengandalkan fasilitas dan kongkalikong sudah tamat (BP, 15/11/07). Sebenarnya pernyataan tersebut sudah sangat terlambat jika melihat perkembangan sumbangan dunia bisnis terhadap perekonomian Indonesia. Sejak krisis multi dimensi tahun 1997-an dapat diamati bagaimana perusahaan-perusahaan besar konglomerasi berguguran, bahkan memberikan pertumbuhan negatif jika dibandingkan dengan perusahaan kecil menengah dan koperasi, yang masih mampu memberikan andil positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini menunjukkan betapa kemandirian dan keandalan usaha kecil dan menengah telah mampu melewati ujian berat, telah mampu menunjukkan eksistensinya dalam kancah dunia perbisnisan di Indonesia.
Hancur dan rontoknya perusahaan-perusahaan besar dan konglomerasi jika diamati dengan lebih seksama, ternyata terlalu banyak mengadopsi kebohongan public untuk sebuah prestise semu, yang membuat landasan ekonomi amat rapuh serta tidak tahan terhadap gejolak. Berbagai kemudahan
yang diberikan dengan adanya patron kedekatan dengan birokrat telah membentuk watak pengusaha besar menjadi manja, kreativitas usaha tidak maksimal karena semua didapat dengan mudah. Akhirnya begitu terjadi keguncangan selanjutnya kalang kabut karena tidak memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap guncangan tersebut. Hal ini sangat masuk akal karena tidak pernah berpikir tentang risiko, tidak memiliki keterampilan untuk menyelamatkan perusahaan kecuali menyusu kepada pemerintah.
Dampak yang paling menonjol adalah terjadinya kredit macet besar-besaran, beban utang luar negeri beserta seluruh kewajiban yang mesti ditanggung semakin menggelembung. Anehnya perilaku pengusaha tipe di atas tidak pernah merasa berdosa terhadap negara, bahkan pertanggunga jawabannya tidak jelas walau telah menyia-nyiakan fasilitas negara atau kekayaan masyarakat.
Ambisi negara untuk dapat sejajar dengan negara lain dengan mengembangkan perusahaan-perusahaan besar, ternyata telah membelalakkan mata karena ternyata yang besar belum menjamin memberikan kontribusi besar. Pengusaha besar di Indonesia, besar karena banyaknya menggunakan fasilitas pemerintah. Karena belas kasihan pemerintah yang berlebihan, sehingga tanggung jawab moral untuk menjamin keberlanjutan usaha serta mengamankan perusahaan tidak dimiliki. Begitu kebangkrutan terjadi tanggung jawab diserahkan kepada pemerintah yang nota bene adalah menyengsarakan masyarakat atas beban yang diberikan kepada pemerintah.
Keputusan pemerintah memberikan fasilitas besar-besaran kepada pengusaha yang dikemas dalam suatu aturan seolah sah dan legal, semestinya disertai dengan kewajiban secara eksplisit yang dapat diketahui dan diawasi masyarakat. Apabila kondisinya transparan sehingga pada saat mereka tidak mampu mengamanatkan tugas yang dibebankan khalayak dapat menilai dan memprediksi hukuman seperti apa yang harus ditimpakan kepada mereka. Hal seperti ini tidak pernah disosialisasikan karena terkait dengan kondisi pemerintah saat itu yang berkaca pada negara maju dengan perusahaan multinasionalnya.
Dampak lain dari kehancuran perusahaan dengan fasilitas pemerintah telah mengakibatkan terjadinya pemutusan hubungan kerja, penurunan pendapatan karyawan, sehingga kemiskinan dan pengangguran menjadi bertambah banyak. Wajah negara dengan kehancuran seperti itu masih terselamatkan oleh peran dan andil perusahaan mikro, kecil dan menengah serta koperasi. Sektor ini telah mampu memberikan sumbangan pertumbuhan positif sehingga perekonomian masih dapat diselamatkan dari keterpurukan yang lebih mendalam.
Saat ini dengan penekanan konsep transparansi, orientasi good corporate
gonernance, pemerintah, birokrat, dewan, dan masyarakat saling kontrol dan
mengamati keputusan, kebijakan dan program yang dilaksanakan. Apapun dalih yang dikatakan, apapun wujud pelaksanaannya pada dasarnya harus mengalir kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat banyak. Apabila hal ini tidak terjadi, maka patut dipertanyakan, patut dicurigai agar tidak terperosok pada lubang yang sama secara berulang-ulang.
Mampu Bertahan
Perusahaan mikro, kecil, menengah dan koperasi mampu bertahan disaat krisis multidimensional tidak lain karena pertama, perusahaan jenis ini mampu menyediakan ekonomi murah dengan biaya yang murah. Keberadaan perusahaan ini mampu mendongkrak kemajuan perusahaan besar melalui penyediaan ekonomi rakyat yang murah. Kedua, modal yang diperlukan relatif kecil dan sebagian besar modal sendiri. KAlau toh memperoleh modal pinjaman, jumlahnya tidak besar dan disertai dengan jaminan. Untuk itu dalam melaksanakan usahanya penuh dengan kehati-hatian, tidak menggunakan managemen yang berbelit-belit, dan yang lebih penting keberlangsungan hidup seluruh keluarga digantungkan pada usaha tersebut.
Usaha ini dapat dilakukan pada berbagai jenis bidang usaha, ini yang membedakan dengan perusahaan besar. Kondisi ini membawa konsekuensi pada keuletan dan kreativitas untuk proses kesinambungannya. Dari awal perusahaan
jenis ini sudah mendapatkan cobaan berat, mulai dari kelangkaan modal, akses ke semua aspek yang terbatas, serta keterampilannya yang sangat sederhana yang sering tidak tersentuh oleh program pemerintah. Oleh karenanya begitu krisis terjadi perusahaan tersebut langsung dapat beradaptasi serta memiliki kemampuan untuk mengatasinya. Hal ini karena dari awal melakukan usaha sudah menghadapi berbagai masalah kalau tidak boleh dikatakan menghadapi krisis.
Dengan keberhasilan perusahaan mikro, kecil menegah dan koperasi ini sepertinya telah membukakan mata pemerintah sehingga hampir disetiap program yang dilaksanakan pemerintah sekarang ini seakan mengakomodasi kepentingan mereka. Implementasi di lapangan belum sederas wacana yang telah dikumandangkan. Usaha kecil telah menunjukkan eksistensinya baik dalam menyediakan ekonomi biaya murah, penyerapan tenaga kerja, diversifikasi usaha, serta menyumbang terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Semestinya tidak ada keraguan lagi untuk berpihak kepada pengusa kecil yang jelas-jelas sudah menunjukkan kinerjanya.
1.4 BANGKITKAN POTENSI LOKAL
UNTUK PULIHKAN EKONOMI
Potensi pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan, buah-buahan serta industri kerajinan yang dimiliki Bali sangat kesohor di mancanegara. Banyak sekali komoditas khas Bali yang tidak bias dikalahkan oleh daerah lain. Di antaranya beras, mangga, durian, anggur, jeruk dan yang lainnya. Dunia internasional mengakui cita rasa khas komoditas made in Bali dengan rasa yang lain jika dibandingkan komoditas sejenis dari Negara lain. Sayang potensi yang besar tersebut belum dimanfaatkan secara optimal oleh pemimpin Bali untuk kemajuan daerah. Kenyataan warga miskin di bali membengkak dari 222.400 jiwa pada Juli 2005 naik menjadi 229.000 jiwa Maret 2007 (data publikasi BPS Bali, BP Kamis, 2/8/2007). Selain kemiskinan, pengangguran, gepeng telah masuk ke desa-desa, degradasi perekonomian membuat pemangku kebijakan harus ekstra keras untuk membangkitkan kembali kejayaan ekonomi Bali.
Bertambahnya masyarakat miskin karena tidak dilibatkan dalam perumusan kebijakan, akibatnya partisipasi mereka sangat kurang dalam pembangunan. Dalam kenyataannya meski dalam masyarakat telah dibentuk kelompok-kelompok seperti kelompok tani, kelompok nelayan, kelompok peternak dan lainnya yang mendapatkan pendampingan dari LSM tidak lebih dari pemanis pembangunan, Tak mengherankan kelompok ini juga menjadi sasaran korupsi seperti dugaan mark up harga ternak, sebuah kelompok ternak di Gianyar menolak bantuan sapi, demikian pula dana jarring pengaman sosial fiktif justru dibuat oleh oknum pembuat kebijakan publik.
Memang tidak mudah menurunkan kemiskinan dalam waktu singkat. Menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran harus dimulai dari membangun kembali kemandirian ekonomi Bali sebagai kekuatan baru pasca krisis ekonomi dan Bom Bali I/II. Pembaharuan ini sangat penting dan urgen karena tantangan yang dihadapi tidak hanya bersifat internal juga tantangan yang bersifat global. Untuk itu pemimpin dan pengambil kebijakan ke depan tidak lagi semata menekankan pada kekuasaan dan jabatan. Pemimpin harus dapat mengantarkan masyarakatnya untuk bangkit bersama, berbenah dalam melaksanakan pembaruan, sehingga mampu mengantarkan rakyat pada perbaikan kualitas hidup yang memadai dalam jangka panjang. Gaya kepemimpinan feodal dengan pendekatan kekuasaan harus dihilangkan. Sebagai pemimpin yang dipilih rakyat secara langsung harus dapat menyesuaikan dengan dukungan agar lebih dinamis dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat.
Untuk menghadapi kapitalisme dan mencegah krisi-krisis ekonomi susulan yang diakibatkan oleh orientasi ekonomi yang lebih menekankan pada pertumbuhan dan pentingnya kapital, serta pengaruh berlebihan dari hubungan global, maka pemimpin sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk bagaimana memperkuat ekonomi melalui pemanfaatan potensi lokal.
Perekonomian Bali yang bersifat agraris harus dibangun kembali ditengah memudar dan ketidak tertarikan generasi muda dalam menggeluti pertanian. Harus diciptakan kepercayaan lagi, agar masyarakat tidak terbelenggu oleh hantu masa lalu berupa agenda krisis ekonomi berkepanjangan. Ditinggalkannya pertanian serta ramai-ramai beralih ke sektor jasa terutama pariwisata, menjadikan ekonomi Bali sangat rentan terhadap isu-isu internal dan eksternal seperti isu penyakit, wabah, kesehatan, keamanan, teror dan hubungan internasional. Ketika bom Bali meledak di Kuta, ekonomi Bali
terpuruk di sudut yang sangat gulita, ribuan pekerja di sektor pariwisata mendapat PHK. Untuk memulihkan kondisi awal perlu waktu panjang, karena membangkitkan kesadaran dunia luar terhadap keamanan Bali perlu terus diupayakan. Untuk itu membangun perekonomian Bali tidak hanya pada satu aspek atau satu sektor saja, melainkan pada seluruh sektor untuk menghindarkan terhadap kekeliruan yang sama.
Pertumbuhan yang tinggi tidak cukup membuat ekonomi menjadi kokoh. Ada dua unsur yang harus menjadi pedoman dalam membangun kembali perekonomian Bali yakni kemandirian dan keadilan berdasarkan konsep keseimbangan Tri Hita Karana.
Sumber Daya Lokal
Undang-Undang Otonomi dan Perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dengan revisi dan berbagai perangkat petunjuk pelaksanaannya, merupakan bagian terpenting dari seluruh kebijakan publik dan strategi dalam kerangka reformasi yang menuntut perubahan-perubahan mendasar. Meski demikian bukan berarti pemimpin boleh arogan dan berpikir sektoral.
Masyarakat bali yang agraris, hampir 70 persen penduduknya hidup dari pertanian. Dengan angka ini semestinya pertanian dalam arti luas merupakan dasar bagi pertumbuhan dan pengembangan sektor-sektor terkait seperti industri, pariwisata, lingkungan dan lainnya. Melihat kenyataan seperti itu, masyarakat maupun pemimpin Bali ke depan harus memberikan perhatian lebih besar kepada masalah kemiskinan, pengangguran, dan kemandirian ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya lokal.
Untuk mencapai hal tersebut, fasilitasi pemimpin yang dibutuhkan yang bukan hanya memiliki kecerdasan isi kepala, yang lebih penting adalah kecerdasan hidup dan kejujuran. Kecerdasan otak identik dengan mesin, kaku dan monoton. Sedangkan kecerdasan hidup paham akan makna hidup dan berperilaku santun, berbudaya, bermartabat serta beradab. Karismatik saja belumlah cukup, yang lebih penting adalah tindakan nyata disertai dengan konsep partisipasi dan emansipasi.
Emansipasi adalah basic instintnya perubahan yang melibatkan semua komponen untuk kemajuan ekonomi Bali. Kurangnya kepekaan para pemimpin tak mengherankan sering mengakibatkan terjadinya konflik dalam pemanfaatan SDA, pembangunan strategis tak terfokus sehingga permasalahan lingkungan berat tak dapat dihindarkan lagi, sehingga Bali yang bopeng semakin nyata terlihat. Berdasarkan atas fenomena yang terjadi, maka
pemimpin beserta masyarakat perlu untuk membangkitkan sektor pertanian lagi, membangun kebijakan di sektor pertanian yang kuat dalam pemulihan perekonomian serta memperbaiki kesejahteraan masyarakat.
Kemajuan ekonomi yang merata dan adil harus mencerminkan konsep sosial ekonomi untuk seluruh masyarakat Bali. Kesenjangan yang semakin melebar, kemiskinan yang meraja lela, dan pengangguran yang meluas merupakan maslah-masalah yang harus menjadi sasaran dalam membangunan kemandirian ekonomi Bali.
1.5 KEBERPIHAKAN ANGGARAN PADA RAKYAT
Jika perhelatan Pilkada (pemilihan kepala daerah) maupun Pilkanas (pemilihan kepala negara) akan dan sedang berlangsung, jauh-jauh sebelumnya banyak visi, misi dan program yang ditebar melalui janji-janji baik oleh kandidat langsung maupun melalui tim sukses yang pada intinya menjual mimpi yang seakan mengakomodasi kepentingan masyarakat banyak. Upaya-upaya untuk mendapatkan simpati masyarakat dilakukan melalui banyak hal, dari yang normatif sampai dengan tindakan tidak etis yang paling sering terjadi dan lagi ngetren lewat politik uang. Harusnya masyarakat sadar bahwa proses pembangunan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat bukan terjadi pada suatu saat saja, dengan glamornya biaya yang dikeluarkan saat pemilihan. Tetapi adalah proses yang berkesinambungan dan menyangkut kepercayaan yang akan dititipkan kepada calon pemimpin dalam jangka panjang.
Sampai saat ini belum ada institusi resmi atau lembaga sosial masyarakat ataupun representasi kelompok masyarakat, yang mempunyai kemampuan untuk menggugat dan mempermasalahkan jika pemimpin yang sudah jadi ternyata menyimpang dari janji-janji yang telah diucapkan. Paling tidak jika terjadi penyimpangan terhadap penggunaan uang negara, beberapa di antaranya sudah ada yang digugat pertanggung jawabannya sampai ada yang mendekam di hotel prodeo, namun tidak sedikit dari mereka masih luput dari sentuhan legalitas. Indikasi jelas merugikan negara, namun beberapa masih sulit disentuh hukum,
program yang diusung sebelumnya, jelas tidak ada jaminan dari siapapun untuk mempermasahkannya. Hanya tanggung jawab moral, tanggung jawab pada diri sendiri dan tanggung jawab pada Tuhan yang diyakini dapat menyadarkan kekeliruan yang sudah berlangsung lama.
Sebagaimana diketahui bahwa setiap tahunnya ada anggaran pendapatan dan belanja daerah atau nasional (APBD/APBN). Ada beberapa indikator yang dapat dipergunakan sebagai acuan untuk melihat apakah kebijakan penganggaran yang dilakukan memihak kepada rakyat atau rakyat sekedar dilewati untuk sebuah prestise semu. Salah satu sumber pendapatan negara adalah berasal dari pajak. Pengenaan pajak kepada masyarakat adalah wajib, namun mekanisme pengenaan pajak dengan undang-undangnya sudahkah proporsional dan berbasiskan pada asas keadilan. Model pajak progresif sukma keadilannya ada, makin tinggi pendapatan, keuntungan dan kekayaan yang dimiliki oleh seseorang berkewajiban membayar pajak lebih besar. Tetapi dengan kecerdasan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam perjalannya sering terjadi rekayasa sehingga pembayaran pajak menjadi tidak progresif lagi. Sementara sebagian masyarakat yang rata-rata tingkat pendidikannya rendah, pemahamannya tentang undang-undang perpajakan minim biasanya kewajiban membayar pajaknya sangat patuh. Sekarang ini contoh nyata pajak yang tidak berpihak pada masyarakat adalah PBB, yang bagaimana dasar perhitungannya hingga menjadi rasional, sehingga dampaknya tidak sedikit masyarakat yang mengeluh dan protes.
Dari sudut pembiayaan alokasi anggaran memang proporsinya sebagian diperuntukkan bagi pengeluaran rutin pemerintah seperti pembayaran gaji pegawai, sisanya ditujukan untuk pengeluaran biaya pembangunan. Pengeluaran rutin selalu mengalami peningkatan, karena kesejahteraan dari pegawai juga perlu ditingkatkan. Berhubung jumlah secara kuantitas pegawai kecil dibandingkan jumlah penduduk, maka tugas mensejahterakan penduduk yang lebih luas merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Jika pengeluaran rutin lebih besar dari pengeluaran pembangunan maka perlu diadakan pengkajian terhadap
sistem kepegawaian. Apakah jumlah pegawai kebanyakan dibandingkan dengan kapasitas pekerjaan yang dilakukan, apakah produktivitas pegawai sudah maksimal atau masih rendah. Jika ada gejala seperti itu maka perekrutan tenaga kerja perlu dibatasi. Bila perlu diadakan rasionalisasi pegawai sesuai dengan kebutuhan dan menyarankan untuk mengambil pensiun muda untuk mereka yang tidak memiliki produktivitas. Tuntutan pegawai untuk kenaikan gaji dan yang lainnya juga harus melihat kondisi di sekitar dari masyarakat. Apakah pantas menuntut kesejahteraan kelompok sementara masyarakat di sekitar hidup dalam keprihatinan dan kenistaan. Pemikiran untuk kelompok perlu didewasakan dengan meningkatkan nilai tambah sosial.
Jika dikaitkan dengan kondisi perekonomian sekarang, beberapa penyakit dan permasalahan sosial yang dihadapi masyarakat seperti pengangguran, kemiskinan, terbatasnya kesempatan kerja, rendahnya pendapatan masyarakat, distribusi pendapatan melenceng, kesehatan, lingkungan, lesunya kegiatan produksi dan sederet permasalahan yang tidak mungkin disebutkan. Untuk itu sistem penganggaran semestinya alokasinya mengacu kepada permasalahan mendasar yang dihadapi masyarakat.
Kasus daerah atau negara yang menghadapi masalah pengangguran, mau tidak mau teknis produksi yang dilaksanakan harus bersifat padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja. Proyek-proyek yang dibiayai pemerintah yang diprioritaskan hendaknya menggunakan tenaga kerja lebih banyak dibandingkan modal. Kondisi seperti ini bukan berarti anti teknologi baru yang pada umumnya padat modal, teknologi tetap diperlukan namun diarahkan kepada teknologi tepat guna sesuai dengan kemampuan sumber daya yang ada. Hindarkan penggunaan teknologi yang disertai dengan tenaga ahli dari luar karena dalam jangka panjang akan merugikan.
Pembangunan sarana dan prasarana penunjang kegiatan ekonomi harusnya diarahkan dan melalui daerah lebih terkebelakang. Dengan demikian aktivitas di daerah tersebut akan meningkat, nilai ekonomis tanah dan bangunan di daerah tersebut akan meningkat. Distribusi sarana dasar seperti air bersih,
listrik, jalan, rumah sakit dan perijinan yang berkaitan dengan pendirian usaha baru agar tersebar lebih merata ke semua daerah.
Pembangunan sektor yang tidak membutuhkan banyak tenaga ahli, penggunaan bahan baku lokal dominan, diberikan prioritaskan untuk memaksimalkan pemanfaatan dan penggunaan potensi yang ada. Perlunya identifikasi karakteristik penduduk berdasarkan lapangan pekerjaan, dominasi penduduk yang bekerja pada suatu sektor semestinya mendapatkan jatah anggaran lebih besar dibandingkan sektor lainnya. Sektor-sektor yang sudah establis bukan hanya merelakan bagian anggarannya untuk pengembangan sektor lain, yang lebih penting menciptakan keterkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga terjadi saling membutuhkan dan saling menunjang antar sektor.
Memberdayakan masyarakat miskin dan penganggur dengan anggaran khusus untuk itu, melalui perbaikan keterampilan dan keahlian mereka sesuai dengan kecendrungan usaha yang berkembang. Hal ini dilakukan secara berkesinambungan serta dijalin hubungan dengan perusahaan yang nantinya akan memanfaatkan tenaga mereka. Konsep ini hendaknya diimbangi oleh dunia usaha dengan merespon upaya yang dilakukan pemerintah. Apabila semua komponen peduli terhadap peran, tugas dan tanggung jawab masing-masing untuk kesejahteraan bersama maka perjuangan mencapai tujuan yang dicita-citakan tidaklah terlalu sulit.
1.6 KESIAPAN UNTUK STANDARDISASI
Secara teoritis, perencanaan yang matang dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap suatu aktivitas, biasanya akan memberikan hasil yang lebih baik ketimbang tidak direncanakan sebelumnya. Kualitas sebuah perencanaan akan sangat tergantung sekali kepada SDM perencana dengan komitmen yang menyertainya. Perencanaan yang mampu disosialisasikan dengan baik kepada seluruh
komponen dan unit yang akan menerima dampak dari perencanaan tersebut mengindikasikan adanya sistem koordinasi dan penerapan fungsi managemen. Managemen sah-sah saja berimprovisasi untuk melaksanakan terobosan-terobosan baru, memprakarsai temuan-temuan baru untuk diimplementasikan, tentunya dengan terlebih dahulu menyesuaikan terhadap kondisi yang ada serta mengakomodasi setiap permasalahan yang berkembang, untuk menghindarkan terjadinya distorsi karena tersumbatnya saluran komunikasi.
Memang pada saat sekarang ini, dengan keterbatasan sumber daya, keterbatasan peluang serta keterbatasan panutan yang dapat dijadikan cermin, telah melahirkan arogansi diberbagai aspek kehidupan. Arogansi dapat terjadi dari pihak yang kaya terhadap yang miskin, pihak atasan kepada bawahan, pihak senioritas kepada yuniornya, pihak yang memiliki upacara terhadap pemakai jalan, iring-iringan pejabat negara, polisi atau pada pihak sesamanya dan sangat banyak jika disebutkan satu persatu. Semuanya seperti logis saja, dengan mengedepankan tameng atribut awig-awig, peraturan dan undang-undang. Sementara itu muatan di dalam peraturan dan awig-awig yang diproklamirkan sarat dengan bisikan kepentingan dan penuh dengan rekayasa. Akhirnya hanya dengan palu kekuasaan memerintahkan untuk mematuhi segala piranti yang ada di dalamnya. Jika produk yang dihasilkan seperti ini maka sangat mendesak dan perlu untuk menetapkan standard kualitas yang semestinya mengakomodasi seluruh fenomena yang berkembang di lingkungannya.
Isu perdagangan bebas, isu lingkungan dan kesehatan yang sudah didengungkan sejak lama, harusnya menjadi tanggung jawab bersama untuk mengantisipasinya. Semua orang mengetahui untuk menghasilkan sebuah produk, diperlukan tenaga kerja, bahan baku, skill, managemen serta aturan yang mengayomi. Adalah tidak berlebihan jika seluruhnya mengayunkan langkah untuk menyongsong bagaimana menstandardisasi pemakaian tenaga kerja, bahan baku, managemen dan yang lainnya tadi. Standar macam apa yang akan diputuskan, inilah yang harus dibicarakan bersama. Dan kalau standar tersebut akan segera diberlakukan, berikan kesempatan kepada pelaku untuk mempelajari,
menyesuaikan, demi kesinambungan sebuah proses tanpa menyisakan kerugian-kerugian yang semestinya dapat dieleminir.
Sebuah ilustrasi yang sederhana, di Bali saat ini berkembang usaha SPA yang nampaknya kecendrungannya semakin dibutuhkan konsumen, baik domestik maupun mancanegara karena memberi dampak pada kesehatan yang nilainya sangat mahal. Beberapa bahan baku untuk usaha SPA yang pada awalnya dapat disupply oleh pengusaha lokal, namun karena keterburu-buruan dalam mengagendakan standardisasi bahan baku SPA, akhirnya bahan baku lokal sepertinya belum memenuhi syarat, dan yang lebih fatal adalah harus segera disupply dari bahan baku luar yang katanya harus sesuai dengan standar yang telah digariskan.
Opini kearah standardisasi tersebut adalah sangat bagus, tetapi sekali lagi perencanaan berkualitas yang mendahuluinya perlu sosialisasi dan akomodasi situasi, sehingga tidak menimbulkan kekagetan dan sock efect. Kejadian seperti ini tidak sedikit membuat pengusaha lokal kalang kabut, pengusaha SPA ketar ketir karena belum mampu memenuhi kriteria yang ditetapkan. Adalah sangat bijaksana jika memberikan tuntunan, pengarahan dan pengetahuan kepada pengusaha lokal agar mampu menyediakan bahan baku sesuai dengan kualitas yang disyaratkan. Memberikan terminologi waktu kepada pengusaha SPA untuk secara perlahan dan bertahap menyesuaikan terhadap standar yang dikehendaki. Jika sangsi yang dikedepankan, mengaburkan moralitas pembinaan dan kurangnya rasa pengayoman dan keteduhan yang diharapkan masyarakat. Lebih-lebih pada saat seperti sekarang ini, di mana mereka akan memperoleh tauladan dan figur-figur yang dapat dipercaya. Apakah jajaran yang bertanggung jawab untuk itu ikut mengombang ambingkan keberadaan mereka yang sedang tumbuh dan mencari jati diri. Sangsi memang perlu, tapi sangsi yang gegabah sering berdampak pada matinya motivasi, kreativitas, serta tertutupnya peluang di depan mata yang seharusnya dinikmati oleh anak bangsa.
Orang bilang kepala boleh sama berbulu, rambut boleh sama hitam, tetapi isi hati siapa yang tahu. Harusnya agar isi hati tidak dicurigai mengemban misi
tertentu, maka sebelumnya ada identifikasi terhadap isi hati seluruh orang yang terlibat di dalamnya selanjutnya dielaborasi untuk menjadi maskot yang akan diperjuangkan demi kepentingan bersama. Di republik tercinta ini tataran konsep dan tataran implementasi sudah terlalu jamak terjadi dengan standarnya masing-masing, pada taraf implementasi bukan hanya standar ganda, bahkan multiplel standar, sehingga hanya menyisakan borok dan cela yang bermuara pada ketidak percayaan. Para pemimpin, para penentu kebijakan, boleh menepuk dada dengan karir yang melesat, akan tetapi sangat disayangkan kesehariannya bagaikan tanpa sukma, tidak ada kehangatan dan seperti melenggang sendiri dalam kesepian ditengah kebisingan dan kehiruk pikukan.
Sebuah wacana adalah awal dari proses berpikir kreatif, kreativitas cermin dari dinamisasi, serta prilaku yang dinamis yang dapat melihat dan menengok kiri kanan dalam artian dapat merasakan pihak lain, maka langkah awal menjadi tokoh tauladan yang punya rasa.
1.7 PENGETATAN ANGGARAN VS KONSUMERISME
Pola dan macam konsumsi yang dilaksanakan oleh masyarakat sangat berkorelasi langsung dengan anggaran untuk memback up kebutuhan konsumsi tersebut. Dalam kenyataan sehari-hari banyak sekali pola konsumsi masyarakat yang tidak rasional, sehingga bukan saja menjadi obyek permainan produsen, juga tidak jarang menghancurkan rencana keuangan keluarga. Hal ini sangat memungkinkan karena sikap dan prilaku masyarakat yang sering keluar dari konstelasi hakikat fungsi konsumen. Dalam situasi ekonomi yang belum kondusif seperti saat ini, bukan saja rumahtangga konsumen bahkan juga pemerintah semestinya memproporsikan anggaran sedemikian rupa agar dimanfaatkan untuk kebutuhan utama dengan optimal.
Kiblat Efisiensi
Pemerintah dewasa ini kelihatannya sudah kalang kabut untuk melaksanakan berbagai pengetatan dan efisiensi dalam rangka menunjang pengeluaran yang setiap tahunnya terus bertambah. Beberapa kebijakan yang sudah dilakukan selain memangkas anggaran departemen, mengurangi perjalanan dinas, juga opini penurunan besarnya subsidi melalui penghematan pemakaian bahan bakar minyak dan PLN. Konsekuensi kebijakan dari dua yang terakhir disebutkan di atas akan membawa dampak pada masyarakat luas dalam akitivitas sehari-hari. Kebijakan tersebut mestinya dikaji lebih mendalam, karena tidak tertutup kemungkinan efisiensi yang diharapkan berubah menjadi inefisiensi secara keseluruhan. Tidak hanya pemerintah mengetatkan ikat pinggang, semestinya juga masyarakat merespon kesulitan yang dihadapi pemerintah. Salah satunya adalah dengan mereview pola konsumsi yang dilakukan, melakukan penghematan dan menyusun prioritas pengeluaran sesuai dengan kebutuhan.
Masalah efisiensi artinya mereduksi pemborosan-pemborosan yang biasa dilakukan. Pemborosan tersebut dapat berupa penggelembungan harga-harga, melaksanakan aktivitas atau perjalanan yang tidak jelas tujuan dan sasarannya, biaya-biaya penggantian peralatan yang disesuaikan dengan umur teknis dan ekonomis, pemborosan waktu yang menghambat pencapaian target sasaran, serta masih banyak yang lainnya. Indikasi yang perlu ditanamkan adalah bagaimana menyelamatkan bangsa dan negara, bukan hanya bagaimana menyelamatkan diri sendiri beserta kelompoknya. Apabila pola pemikiran komprehensif terebut dapat dibudayakan, maka peningkatan kemakmuran sebagai mimpi panjang yang sulit direalisasikan tidak tertutup kemungkinan kisi-kisinya yang penting akan terisi melalui tekad dan keyakinan untuk mengimplementasikannya.
Konsumsi Antara Mendukung Atau Menjerumuskan
Kegiatan konsumsi secara teoritis dibedakan atas, konsumsi untuk produk akhir (habis sekali pakai), serta konsumsi antara yang dipergunakan untuk menghasilkan barang lain. Ke dua jenis konsumsi di atas sangat mendukung terhadap kelancaran produksi. Barang yang diproduksi jika tidak ada yang mengkonsumsi, maka proses produksi akan mengalami kemandegan. Demikian pula konsumsi antara mengakibatkan bertambahnya kegiatan produksi karena bertambahnya volume produk yang tersedia, atau dapat pula berarti semakin bervariasinya kegiatan produksi. Semua kegiatan tersebut bermuara pada peningkatan kualitas dan kuantitas produksi sehingga mempunyai dampak pada pemanfaatan sumber dan bahan baku termasuk tenaga kerja semakin besar. Apabila ritme seperti ini dapat dijaga dinamikanya maka perekonomian bukan saja mengalami perkembangan tetapi sekaligus juga terjadi proses pembangunan ekonomi. Dan dalam kondisi normal idealnya situasi seperti inilah yang diharapkan.
Ada beberapa hal yang dapat mengakibatkan situasinya berbeda dari skenario yang diharapkan, sehingga secara tidak sadar bukan saja mendukung terhadap perkembangan ekonomi, tetapi malahan justru dapat membuat kemandirian perekonomian jadi rapuh. Salah satu yang secara kasat mata dapat dicermati adalah pola konsumsi masyarakat yang keluar dari kontek fungsionalnya sehingga bukan saja membantu ketahanan ekonomi bahkan menjerumuskan dalam pertumbuhan semu.
Pola konsumsi yang tergantung pada produk-produk yang berasal dari luar negeri, entah dengan alasan kualitas yang dapat memenuhi selera dan preferensi konsumen, entah alasan gengsi dan status, atau entah alasan supaya dikatakan modern, jelas-jelas merupakan tindakan yang tidak memberikan motivasi terhadap perkembangan perekonomian daerah/nasional. Hal ini dapat diidentifikasi dari mengalirnya dana ke luar negeri, sekaligus menciptakan efek pendapatan di sana. Sedangkan di dalam negeri dengan glamornya pola konsumsi seperti itu, tidak bayak memberi pengaruh karena porsi yang tertinggal
di dalam negeri sangat sedikit. Penggunaan bahan baku dan bahan penolong lainnya, keuntungan dan hak-hak lainnya mengalir ke luar negeri. Dengan demikian justru meningkatkan aktivitas ekonomi luar negeri. Oleh karenanya gerakan untuk menggalakkan penggunaan produk dalam negeri dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah suatu tindakan yang patut mendapat dukungan dan terus didengungkan dalam setiap kesempatan. Gerakan ini akan lebih mulia apabila dipeloori oleh para pemimpin, penguasa, serta jajaran yang mempunyai kompeten terhadap negeri ini agar dapat menjadi suluh dan tauladan bagi masyarakat banyak. Adanya kebijakan pejabat dan pegawai negeri agar memakai sepatu produksi dalam negeri, adalah contoh riil penyelamatan ekonomi negara. Tetapi tidak cukup hanya sampai di sana, yang lebih penting adalah bagaimana implementasi di lapangan.
Pola konsumerisme dapat ditunjukkan oleh pembelian atau konsumsi barang yang berlebihan yang sudah keluar dari konteks fungsionalnya. Beberapa indikasi yang mencerminkan hal tersebut sangat kentara sekali pada produk-produk tahan lama seperti barang elektronik atau otomotif. Banyak sekali pembelian terhadap produk-produk yang bersangkutan lebih didominasi oleh mode, bukan oleh fungsi yang diemban oleh produk yang bersangkutan. Dapat dicermati bagaimana grafik penjualan dari produk selluler, komputer, Televisi, kendaraan bermotor. Sangat kentara sekali jika masyarakat lebih mengutakan mode terakhir dibandingkan dengan fungsi dari barang tersebut. Mungkin saja tindakan ini hanya untuk menunjukkan klas sosial, atau gengsi berlebihan sehingga secara tidak langsung justru menggerogoti perekonomian daerah.
Merebaknya pola konsumsi yang tidak terarah tersebut, dapat saja disebabkan karena masyarakat tidak pernah merencanakan pola pengeluarannya dengan baik. Kadang tidak disadari bahwa pengeluaran bukan hanya sekedar menghabiskan uang, tetapi perlu perencanaan matang untuk mengalokasikan penggunaan uang tersebut agar salah satunya menghindarkan konsumerisme tadi. Berapa banyak orang yang tadinya bermaksud hanya sekedar jalan-jalan saja pada sebuah swalayan atau mall, jadi kepeincut membeli barang yang sebenarnya
tidak pernah mereka rencanakan sebelumnya. Ini dapat disebabkan karena kemampuan produsen untuk membuat tampilan barang, atau penataan sedemikian rupa sehingga mempunyai daya magnetik buat konsumen. Di samping itu juga kepiawaian sales promotion girl sering mencabik-cabik emosi konsumen untuk membelanjakan uangnya terhadap barang konsumsi yang barangkali pada saat tersebut tidak terlalu mendesak untuk dibeli. Tetapi karena kepintaran bagian pemasaran dengan teknik-teknik mempengaruhi yang tinggi, membuat rasionalitas konsumen hilang, dan akhirnya kepincut untuk membeli barang yang sebenarnya tidak pernah terbayangkan.
Pola konsumerisme ini dapat juga muncul akibat hubungan batiniah dalam sebuah keluarga. Keluarga sekarang dengan rata-rata jumlah anak yang terbatas (2 sampai 3 orang anak) sering membuat rasa sayang orang tua berlebihan, rasa sayang tersebut modifikasinya tidak jarang memberikan yang berlebihan terhadap anak. Kemudian dengan pengaruh situasi lingkungan, si anak juga sering memanfaatkan rasa sayang tersebut dengan permintaan-permintaan yang konyol. Orang tua di satu pihak melalui kasih sayang ingin membahagiakan anak, anak merasa mendapat perhatian lebih menggagas berbagai permintaan, akhirnya dengan kesombongan anak tersebut telah merubah pola konsumsi keluarga terseret pada konsumerisme tinggi.
Anak-anak Sekolah Dasar yang sudah akrab denga handphone, padahal dari sudut keamanan anak yang bersangkutan belum memiliki kemampuan yang cukup untuk mengamankan barang yang dibawanya. Naik setingkat Anak SMP yang dari sudut umur belum berhak untuk mendapatkan ijin mengendarai motor, tetapi sekali lagi dengan alasan kasih sayang tidak sedikit anak-anak SMP membawa sepeda motor atau mobil. Yang jelas di samping sudah melanggar peraturan, ditambah lagi dengan kebiasaan anak-anak yang kurang mengindahkan peraturan, maka praktis masyarakat pengguna jalan yang memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan pribadi dan orang lain hanya dapat sekedar menggelengkan kepala, lebih dari itu tidak punya kemampuan. Bukan itu saja, bahkan kendaraan yang dipakai selalu yang mutakhir turunan
tahun terbaru, karena jika diberikan yang lama bahkan tidak mau dipakai. Sekali lagi aspek fungsional sudah ditinggalkan hanya karena gengsi akan mode dan prestise. Pada saat seperti ini keluarga harusnya bertanggung jawab penuh terhadap pembentukan sikap mereka, minimal dengan memberikan pemahaman terhadap pola konsumsinya yang membawa dampak pada perekonomian dalam jangka panjang.
Saat ini teknologi memang memanjakan umat manusia, apabila tidak disikapi dengan arif tidak tertutup kemungkinan akan menjeruskan keuangan keluarga. Berbagai kemudahan seperti Anjungan Tunai Mandiri (ATM), kartu kredit, dan yang sejenisnya juga merupakan salah satu alat pendorong pola konsumerisme. Kemudahan kartu kredit dapat menarik uang tunai, juga dapat dibelanjakan dengan tagihan pada bulan berikutnya, sering juga mengayun-ayunkan imaginasi konsumen untuk berbelanja lebih dari apa yang sebenarnya dibutuhkan. Sehingga begitu tagihan datang baru biasanya kelabakan karena sebenarnya ada beberapa dari produk yang terlanjur sudah dibeli tidak merupakan kebutuhan yang mendesak. Intinya untuk mengurangi pola konsumsi berlebihan tadi adalah dengan menyusun dan merencanakan pengeluaran secara sistematis sesuai dengan prioritasnya, dan selanjutnya adalah disiplin dalam menjalankan apa yang sudah disusun tersebut. Tekad dan kemauan adalah kuncinya.
1.8 POLA KONSUMSI YANG SARAT DENGAN GENGSI
DAN STATUS
Salah satu yang termasuk kegiatan penting dalam aktivitas ekonomi selain produksi, distribusi adalah kegitan konsumsi. Konsumsi adalah variabel ekonomi makro sebagai unsur pembentuk Produk Domestik Bruto untuk tingkat nasional, atau Produk Domestik Regional Bruto di tingkat daerah. Di samping itu konsumsi juga merupakan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi yang dominan. Masalah konsumsi tidak dapat dipisahkan dari masalah produksi, karena aktivitas
konsumsi baru dapat terealisasi jika ada proses produksi yang mendahuluinya. Kegiatan konsumsi secara teoritis dibedakan atas, konsumsi untuk produk akhir (habis sekali pakai), serta konsumsi antara yang dipergunakan untuk menghasilkan barang lain.
Ke dua jenis konsumsi di atas sangat mendukung terhadap kelancaran produksi. Barang yang diproduksi jika tidak ada yang mengkonsumsi, maka proses produksi akan mengalami kemandegan. Demikian pula konsumsi antara mengakibatkan bertambahnya kegiatan produksi karena bertambahnya volume produksi, atau dapat pula berarti semakin bervariasinya kegiatan produksi. Semua kegiatan tersebut bermuara pada peningkatan kualitas dan kuantitas produksi sehingga mempunyai dampak pada pemanfaatan sumber dan bahan baku termasuk tenaga kerja semakin besar. Apabila ritme seperti ini dapat dijaga dinamikanya maka perekonomian bukan saja mengalami perkembangan tetapi sekaligus juga terjadi proses pembangunan ekonomi. Dan dalam kondisi normal situasi seperti inilah yang diharapkan.
Ada beberapa hal yang dapat mengakibatkan situasinya berbeda dari skenario yang diharapkan, sehingga secara tidak sadar bukan saja mendukung terhadap perkembangan ekonomi, tetapi malahan justru dapat membuat kemandirian perekonomian jadi rapuh. Salah satu yang secara kasat mata dapat dicermati adalah pola konsumsi masyarakat yang keluar dari kontek fungsionalnya sehingga bukan saja membantu ketahanan ekonomi bahkan menjerumuskan dalam pertumbuhan semu.
Pola konsumsi yang tergantung pada produk-produk yang berasal dari luar negeri, entah dengan alasan kualitas yang dapat memenuhi selera dan preferensi konsumen, entah alasan gengsi dan status, atau entah alasan supaya dikatakan modern, jelas-jelas merupakan tindakan yang tidak memeberikan motivasi terhadap perkembangan perekonomian daerah/nasional. Hal ini dapat diidentifikasi dari mengalirnya dana ke luar negeri, sekaligus menciptakan efek pendapatan di sana. Sedangkan di dalam negeri dengan glamornya pola konsumsi seperti itu, tidak banyak memberi pengaruh karena porsi yang
tertinggal di dalam negeri sangat sedikit. Penggunaan bahan baku dan bahan penolong lainnya, keuntungan dan hak-hak lainnya mengalir ke luar negeri. Dengan demikian justru meningkatkan aktivitas ekonomi luar negeri. Oleh karenanya gerakan untuk menggalakkan penggunaan produk dalam negeri dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah suatu tindakan yang patut mendapat dukungan dan terus didengungkan dalam setiap kesempatan. Gerakan ini akan lebih mulia apabila dipelopori oleh para pemimpin, penguasa, serta jajaran yang mempunyai kompeten terhadap negeri ini agar dapat menjadi suluh dan tauladan bagi masyarakat banyak.
Pola konsumerisme dapat ditunjukkan oleh pembelian atau konsumsi barang yang berlebihan yang sudah keluar dari konteks fungsionalnya. Beberapa indikasi yang mencerminkan hal tersebut sangat kentara sekali pada produk-produk tahan lama seperti barang elektronik atau otomotif. Banyak sekali pembelian terhadap produk-produk yang bersangkutan lebih didominasi oleh mode, bukan oleh fungsi yang diemban oleh produk yang bersangkutan. Dapat dicermati bagaimana grafik penjualan dari produk selluler, komputer, Televisi, kendaraan bermotor. Sangat kentara sekali jika masyarakat lebih mengutakan mode terakhir dibandingkan dengan fungsi dari barang tersebut. Mungkin saja tindakan ini hanya untuk sekedar menunjukkan klas sosial, atau gengsi berlebihan sehingga secara tidak langsung justru menggerogoti perekonomian daerah.
Merebaknya pola konsumsi yang tidak terarah tersebut, dapat saja disebabkan karena masyarakat tidak pernah merencanakan pola pengeluarannya dengan baik. Kadang tidak disadari bahwa pengeluaran bukan hanya sekedar menghabiskan uang, tetapi perlu perencanaan matang untuk mengalokasikan penggunaan uang tersebut agar salah satunya menghindarkan konsumerisme tadi. Berapa banyak orang yang tadinya bermaksud hanya sekedar jalan-jalan saja pada sebuah swalayan atau mall, jadi kepincut membeli barang yang sebenarnya tidak pernah mereka rencanakan sebelumnya. Ini dapat disebabkan karena kemampuan produsen untuk membuat tampilan barang, atau ditata sedemikian rupa sehingga mempunyai daya magnetik buat konsumen. Di samping itu juga
kepiawaian sales promotion girl sering mencabik-cabik emosi konsumen untuk membelanjakan uangnya terhadap barang konsumsi yang barangkali pada saat tersebut tidak terlalu mendesak untuk dibeli. Tetapi karena kepintaran bagian pemasaran melalui teknik-teknik mempengaruhi yang jitu, membuat rasionalitas konsumen hilang, dan akhirnya kepincut untuk membeli barang.
Pola konsumerisme ini dapat juga muncul akibat hubungan batiniah dalam sebuah keluarga. Keluarga sekarang dengan rata-rata jumlah anak yang terbatas (2 sampai 3 orang anak) sering membuat rasa sayang orang tua berlebihan, rasa sayang tersebut modifikasinya tidak jarang memberikan yang berlebihan terhadap anak. Kemudian dengan pengaruh situasi lingkungan, si anak juga sering memanfaatkan rasa sayang tersebut dengan permintaan-permintaan yang konyol. Orang tua di satu pihak melalui kasih sayang ingin membahagiakan anak, anak merasa mendapat perhatian lebih menggagas berbagai permintaan, akhirnya dengan kesombongan anak tersebut telah merubah pola konsumsi keluarga terseret pada konsumerisme tinggi.
Anak-anak Sekolah Dasar yang sudah akrab denga handphone, padahal dari sudut keamanan anak yang bersangkutan belum memiliki kemampuan yang cukup untuk mengamankan barang yang dibawanya. Naik setingkat Anak SMP yang dari sudut umur belum berhak untuk mendapatkan ijin mengendarai motor, tetapi sekali lagi dengan alasan kasih sayang tidak sedikit anak-anak SMP membawa sepeda motor atau mobil. Yang jelas di samping sudah melanggar peraturan, ditambah lagi dengan kebiasaan anak-anak yang melaju di jalan sedikit ugal-ugalan, maka praktis masyarakat pengguna jalan yang memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan pribadi dan orang lain hanya bisa sekedar menggelengkan kepala tanpa dapat berbuat banyak. Bukan itu saja, kendaraan yang dipakai selalu yang mutakhir turunan tahun terbaru, karena jika diberikan yang lama bahkan tidak mau dipakai. Sekali lagi aspek fungsional sudah ditinggalkan hanya karena gengsi dan mode. Pada saat seperti ini keluarga harusnya bertanggung jawab penuh terhadap pembentukan sikap mereka,
minimal dengan memberikan pemahaman terhadap pola konsumsinya yang membawa dampak pada perekonomian dalam jangka panjang.
Saat ini teknologi memang memanjakan umat manusia, apabila tidak disikapi dengan arif tidak tertutup kemungkinan akan menjeruskan keuangan keluarga. Berbagai kemudahan seperti Anjungan Tunai Mandiri (ATM), kartu kredit, dan yang sejenisnya juga merupakan salah satu alat mendorong pola konsumerisme. Kemudahan kartu kredit dapat menarik uang tunai, juga dapat dibelanjakan dengan tagihan pada bulan-bulan berikutnya, sering juga mengayun-ayunkan imaginasi konsumen untuk berbelanja lebih dari apa yang sebenarnya dibutuhkan. Sehingga begitu tagihan datang baru biasanya kelabakan karena sebenarnya ada beberapa dari produk yang terlanjur sudah dibeli tidak merupakan kebutuhan yang mendesak. Intinya untuk mengurangi pola konsumsi berlebihan tadi adalah dengan menyusun dan merencanakan pengeluaran secara sistematis sesuai dengan prioritasnya, dan selanjutnya adalah disiplin dalam menjalankan apa yang sudah disusun tersebut. Tekad dan kemauan adalah kuncinya.
1.9 INVESTASI SDM DALAM PERTAHANKAN
KEUNGGULAN ORGANISASI
SDM dalam sebuah organisasi adalah salah satu faktor produksi yang harus dikelola dengan cermat untuk menghasilkan kinerja memadai dari organisasi tersebut. Jika diamati dengan lebih cermat, dalam organisasi apapun terdapat tiga kelompok SDM yang menggerakkan roda suatu organisasi. Ketiga kelompok tersebut dapat digolongkan sebagai SDM super keeper, keeper dan misfit.
Kelompok SDM superkeeper adalah kelompok karyawan yang mampu menghasilkan kinerja unggul di atas dari apa yang diharapkan, serta mampu memberikan inspirasi kepada karyawan lainnya untuk menghasilkan kinerja unggul juga dalam mencapai tujuan organisasi. SDM keeper hanya mampu menghasilkan kinerja sesuai dengan yang diharapkan, serta SDM misfit adalah
mereka yang kinerjanya di bawah dari yang diharapkan organisasi. Pimpinan semestinya dapat memilih dan memilah setiap karyawan termasuk dalam kelompok mana. Karena tiap kelompok memiliki strateginya sendiri-sendiri di dalam pengembangannya dalam rangka mempertahankan agar organisasi tetap unggul.
Ketiga kelompok ini muncul dalam suatu organisasi karena adanya kesalahan mendasar yang diwariskan dari model perekrutan karyawan yang kurang memperhatikan kapabilitas dan kompetensi. Sebelum perekrutan karyawan sebaiknya managemen mensosialisasikan tujuan organisasi serta kinerja seperti apa yang dituntut oleh organisasi, yang selanjutnya disesuaikan dengan kebutuhan akan karyawan yang akan direkrut. Untuk organisasi yang baru akan dijalankan atau beroperasi, kelihatannya sedikit lebih mudah dan sederhana persoalan yang dihadapi, karena dari awal sudah dapat merencanakan secara detail karakteristik karyawan yang dibutuhkan yang benar-benar memenuhi persyaratan. Sedangkan untuk organisasi yang sudah beroperasi, hal ini menjadi lebih rumit karena tidak sedikit dalam organisasi banyak karyawan yang tidak memiliki kapabilitas dan kompetensi yang diharapkan organisasi sudah terlanjur menumpuk dan berkarat di dalam organisasi. Akibatnya bisa ditebak bukan memberikan kinerja unggul sesuai harapan, malahan sebaliknya menggerogoti organisasi dari dalam dengan tindakan dan prilaku yang tidak mendukung kearah pencapaian tujuan organisasi. Lebih-lebih orang seperti itu akan berupaya semakin mengembangkan sayapnya untuk mencari pengaruh dan pengikut, lama-lama akan menjadi parasit penghisap yang akan menodai organisasi secara keseluruhan. Jika keterlanjuran seperti ini sudah tercipta tentu saja tidak akan dibiarkan bersintesa, maka perlu tenaga ekstra dari seorang pimpinan untuk menindak lanjuti dalam upaya mengharmoniskan jalannya organisasi.
Kelompok karyawan misfit memang perlu diberikan investasi pengembangan namun dengan nilai yang tidak terlalu besar. Berbagai macam upaya terus dilakukan untuk meningkatkan kinerjanya dan dievaluasi setiap saat. Karakteristik karyawan seperti ini biasanya motivasi peningkatan kualitas diri
rendah karena watak dan pembawaan, sehingga tidak jarang investasi yang dilakukan untuk pengembangannya menjadi mubasir dan sia-sia. Apabila dalam tahap evaluasi ternyata tidak mampu meningkatkan kinerjanya sesuai dengan yang diharapkan organisasi, managemen hendaknya mengurangi perhitungan toleransi, dan jangan sungkan-sungkan mempertimbangkan untuk mengeluarkan yang bersangkutan dari organisasi. Kelompok-kelompok bebal seperti ini memang memerlukan tindakan tegas, tindakan tegas seperti ini memang mesti dibudayakan dalam setiap organisasi. Tujuan organisasi jauh lebih mulia dari tujuan individu yang tidak mengakomodasi kepentingan organisasi.
Investasi besar hendaknya tidak ragu lagi diberikan kepada kelompok SDM
super keeper karena mereka adalah karyawan yang membentuk dan mewujudkan
kompetensi organisasi. Mereka-mereka ini semestinya menduduki posisi kunci karena memberikan kontribusi tinggi dalam mencapai keunggulan organisasi. Mengembangkan dan menempatkan karyawan yang berkualifikasi tinggi pada posisi kunci akan mampu menempatkan dan menjaga kesinambungan keunggulan organisasi. Kesalahan yang sering terjadi menempatkan orang yang tidak sesuai pada posisi kunci, serta memberikan posisi tersebut kosong dalam jangka waktu lama. Pimpinan yang kompeten tidak akan membiarkan posisi kosong cukup lama, makin cepat makin baik. Dalam masa transisi vakum banyak hal dapat terjadi. Tujuan organisasi dikaburkan hanya untuk menempatkan orang berdasarkan kepentingan bukan didasarkan keyakinan dan kompetensi. Organisasi besar di luar negeri tidak silau dengan pangkat, gelar dan jabatan, mereka lebih salut pada kualifikasi seseorang, sehingga mereka lebih bangga punya karyawan setingkat sarjana namun kompetensinya tinggi dibandinkan magister atau doktor tetapi misfit. Di bumi kita terlalu bangga dengan pangkat dan gelar, mereka terlalu asyik memuji gelarnya sehingga waktunya habis untuk memuji diri sendiri tanpa sempat berkarya. Di saat seperti ini tidak berdosa untuk mengeluarkan karyawan tipe seperti itu dari jajaran organisasi, cuma masalahnya pimpinan punya moral tidak untuk menindak lanjutinya.