• Tidak ada hasil yang ditemukan

Setiap orang berhak punya mimpi, mimpi indah yang mampu direalisasikan dengan potensi yang dimiliki akan menjadi kebanggaan sekaligus keberhasilan dalam menapaki perjuangan hidup. Mimpi berlebihan yang ingin digapai yang tidak seimbang dengan potensi dapat menyebabkan tindakan diluar nalar dan akal sehat. Mimpi masyarakat dunia adalah sangat mulia sekali, yakni kedamaian dan kesejahteraan hidup. Keduanya tidak datang bersamaan dalam

dunia yang semakin menyempit. Semuanya mesti diperjuangkan dengan mengedepankan harkat kemanusiaan.

Memang disadari setiap individu atau negara tidak dapat mengisolasi diri, saat ini keterbukaan telah melahirkan interaksi yang awalnya dimulai dari transpormasi ekonomi global. Transpormasi ekonomi dimulai dari perkembangan kendaraan bermotor, elektronik, serta mesin-mesin sebagai simbul budaya produk Amerika. Kemajuan yang dicapai negara tersebut membuka mata negara-negara lain untuk mengejar segala ketertinggalannya. Selanjutnya adopsi dan alih teknologi mewarnai perkembangan bangsa-bangsa dalam mengejar ketertinggalan dengan harapan dapat sejajar dengan Amerika. Jepang salah satu negara yang berhasil mewujudkan mimpinya melalui transpormasi ekonomi sehingga mampu sejajar dengan Amerika.

Di lain pihak banyak negara yang terpuruk karena tidak mampu menyesuaikan dengan persyaratan yang dibutuhkan. Teknologi mutahir, managemen global sampai kurikulum pendidikan diadopsi dari luar, sementara sarana prasarana pendukung, sumber daya manusia, keahlian dan disiplin yang sangat tidak memenuhi kualifikasi sehingga akhirnya, hanya dapat memprediksi dengan dasar yang tidak jelas, dan hanya sekedar untuk memberikan kesenangan semu sebagai penghibur diri, dengan naifnya mengklaim bahwa tahun sekian negara kita akan sejajar dengan negara maju tersebut.

Beberapa fenomena kasat mata yang mampu diamati dari tidak siapnya mengadopsi teknologi untuk transpormasi ekonomi diantaranya jauhnya tingkat efisiensi padahal sudah menggunakan teknologi mutakhir, sektor pertanian dengan potensi luar biasa ternyata produk di pasaran lebih banyak dibanjiri oleh produk luar, lulusan dunia pendidikan yang selalu tidak siap berkompetisi dan kalah bersaing, standarisasi nasional dan internasional yang belum menjadi kebutuhan serta masih banyak lagi jika mau disebutkan satu persatunya. Intinya orientasi masih lebih cendrung kepada kuantitas bukan kepada kualitas atau mutu. Rendahnya apresiasi terhadap atribut kualitas sehingga apapun yang dihasilkan akan selalu berhadapan dengan masalah klasik yaitu pemasaran.

Konsumen memkonsumsi produk bukan didasarkan atas selera dan kebutuhannya, melainkan terpaksa karena sadar daya beli mereka rendah. Fenomena tersebut diperparah lagi dengan masih membudayanya koncoisme di segala sektor, maka praktis kerja keras dan persaingan menjadi terabaikan. Lantas sampai generasi keberapa dari masyarakat yang akan dapat menikmamati global

dreams sebagaimana yang diimpikan oleh masyarakat dunia.

Negara maju tidak monopoli dalam memperjuangkan kemajuan, buktinya berbagai bantuan dan pinjaman mengalir ke negara berkembang, tenaga ahli dan managemen yang efisien sudah ditawarkan, pendidikan dan pelatihan magang sudah dibuka seluas-luasnya, namun kesempatan tersebut kurang dimanfaatkan secara maksimal. Bantuan dan pinjaman banyak yang salah sasaran, proses alih keterampilan setengah hati, pelatihan dan magang dimanfaatkan sebagai ajang plesiran. Jadi dapat dibayangkan bagaimana hasil akhir yang diperoleh dari pengorban yang tidak sedikit tersebut.

Salah satu kelemahan yang masih terlihat sampai saat ini adalah rendahnya komitmen nasional. Komitmen nasional seharusnya menjadi gerakan bersama bukan parsial. Saat ini semua asyik dan jalan dengan cirinya sendiri. Birokrasi jalan sendiri, legeslatif jalan sendiri, institusi jalan sendiri, sektoral juga demikian sehingga masyarakat juga akhirnya jalan sendiri berkiblat dari para pemimpinnya. Maka tidak heran banyak kegiatan yang tumpang tindih, banyak kegiatan yang pilih kasih karena tidak adanya komitmen nasional secara komprehensif. Betapa dapat disaksikan bagaimana jalan yang sudah mulus dengan hotmix akhirnya bongkar pasang karena adanya galian silih berganti antar instansi yang berkepentingan untuk itu, ini adalah contoh nyata betapa koordinasi sangat kurang karena masalah utama tidak terciptanya komitmen nasional yang menjadi panduan bersama. Di masa krisis keuangan global tidak sedikit yang berlomba-lomba memborong dolar, aliran dana ke luar negeri semakin besar hanya untuk menyelamatkan kepentingan pribadi atau perusahaan. Ini adalah contoh lain betapa rendahnya komitmen nasional.

Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang esensinya untuk menyelamatkan dan mensejahterakan umat manusia, tidak jarang disalah gunakan dan dinistakan. Keahlian yang semestinya diimplementasikan untuk membatu orang lain berubah menjadi keserakahan. Pembobolan ATM atau kartu kredit, kemampuan merakit bom sebagai ajang membuat kekacauan dan teror, penyampaian aspirasi disertai dengan pemaksaan kehendak dan perusakan, sampai SMS yang dipergunakan untuk wahana penipuan. Betapa nilai kemanusiaan dan mimpi indah itu telah terbelenggu oleh kepentingan pribadi yang di luar kapasitas potensi yang dimiliki.

Pada saat pribadi atau kelompok merasa bahwa mereka lebih penting, lebih berharga dan lebih menentukan dari orang lain maka ketidak seimbangan akan senantiasa tercipta. Aturan dan tatanan yang berlaku di masyarakat tidak ampuh lagi apalagi diiringi dengan penegakan hukum yang tidak tegas. Praktis kesombongan dan keangkuhan akan meraja lela. Setiap perbedaan selalu dianggap lawan dan musuh, maka konsekuensinya harus dibinasakan. Gejala ini membuat pribadi atau kelompok menjadi eksklusif, dan kalau gejala eklusivisme sudah menghinggapi maka di luar kelompoknya bila perlu senantiasa dipecundangi.

Salah satu nilai budaya bangsa yang sangat dibanggakan pihak luar adalah budaya rendah hati dan ramah tamah. Sebenarnya ini menjadi modal dasar untuk mengumandangkan komitmen nasional. Tetapi karena sebagian lupa atau pura-pura lupa untuk mewariskan budaya tersebut. Kiblat dunia barat dengan mekanisme pasarnya telah menciptakan modal sebagai yang berdaulat. Tidak ada partnership, yang ada yang kuat memakan yang lemah tidak sedikitpun tercermin fondasi menjadi kuat bersama-sama. Jika kecendrungan ini terus terjadi tanpa penyadaran maka praktis budaya rendah hati dan ramah tamah perlu dipertanyakan apakah masih dimiliki.

Mimpi tinggal mimpi, kehidupan jalan terus dengan segala riaknya tanpa pernah sadar apa sebenarnya yang diperjuangkan dalam hidup ini. Apakah ada kebanggaan jika mumpuni dari sudut ekonomi, namun kering tanpa sentuhan

kemanusiaan sebagai bagian dari mahluk sosial. Sekali lagi tidak ada kata terlambat untuk memulai asal didasarkan pada niat yang tulus. Global Dreams akankah menjadi kenyamana dalam mengarungi kehidupan, atau hanya menggantung dilasuardi kebimbangan. Bravo Indonesia tercinta.

1.13 KETIKA STATISTIK MAKRO EKONOMI