• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. Sosial

2.19 Sebening Embun

Betapa ada perasaan hampa manakala ditinggalkan, betapa ada rasa perih jika disakiti, dan betapa ada rasa luka manakala dikhianati. Tapi mungkin semua itu belum seberapa, bahkan yang paling menyakitkan adalah manakala mencintai tapi tidak bisa memiliki. Untaian kata di atas mungkin salah satu, ke dua atau semuanya pernah dirasakan oleh setiap orang. Dalam artian mampu merasakan bagaimana tidak nyamannya jika dihadapkan pada situasi seperti itu. Kalau sudah pernah dan dapat merasakan, harusnya berpikir dua tiga kali untuk melakukan hal yang sama terhadap orang lain. Orang lain juga sama seperti kita, tidak enak jika merasakan hal tersebut. Namun anehnya kejadian seperti itu, entah karena perasaan tidak puas, entah karena mau membalas dendam, entah pula karena tidak suka melihat orang lain bahagia dan berhasil, seolah bagai lingkaran yang tidak pernah putus sehingga selalu saja kita menemukan teman, sahabat, keluarga yang nelangsa akibat ulah ego dan kemunafikan tadi.

Jika pada suatu malam terasa ada sepi yang paling panjang dan menyiksa, ketika pintu tirai hati dibuka, ada siluet bentangan hamparan kehampaan tidak

mampu bercanda dengan bintang dan rembulan, pada saat begini ada kegelisahan setia menyelimuti jiwa, dan praktis bathin terusik yang dapat saja disebabkan oleh hal-hal lain atau fenomena di atas. Rasa bersalah dan berdosa atas tindakan yang sudah dilakukan dapat saja dialami oleh siapapun, walau kadang sulit memberikan penjelasan oleh karenanya terpuruk menyalahkan diri sendiri dan orang lain berlebihan sangatlah tidak bijaksana. Sepanjang ada kesadaran akan kesalahan yang sudah dilakukan, berarti punya banyak waktu dalam mengupayakan untuk memperbaiki di masa mendatang, maka kerinduan akan menyongsong hari-hari dengan senyum semakin terbuka. Kerinduan tersebut tidak berbeda dengan kerinduan sore menapak malam, kerinduan malam akan purnama, atau kerinduan pagi dengan tetesan embun. Waktu tidak dapat bergerak mundur mengulang cerita awal.

Sensitifitas setiap orang sangatlah berbeda, dan memberikan dampak yang berbeda pula. Harumnya bunga dapat dicium, syahdunya simponi dapat dinikmati, begitu naluri tersentuh nestapa, berbohong pada diri sendiri sangatlah sulit kebanyakan berbohong kepada pihak lain adalah biasa dilakukan. Akhirnya daya nalar rasio dihadapkan pada dikotomi yang tidak pernah diketahui maknanya karena sangat biasa diajak untuk hal-hal yang tidak konsisten. Jika saja angin cukup bersahabat untuk membisikkan hal yang sebenarnya kepada telinga, mungkin mata akan terbelalak tanpa sadar, karena ternyata sudah banyak hati yang warnanya tidak lagi merah, telah meredup bagai gulita tanpa lentera. Merahnya hati telah menjadi kelabu seiring dengan banyaknya tindakan yang dikemas di luar kehendak hati, kepentingan telah mengaburkan warnanya karena selalu dibasuh oleh intrik dan rekayasa dan telinga sudah sangat malas mendengar suara hati.

Hidup dan kehidupan mesti diperjuangkan, bahkan oleh orang yang tidak berhak sekalipun. Sangat dirindukan tokoh-tokoh bermunculan yang akan menorehkan semburat kehidupan yang penuh dengan kedamaian dan keharmonisan. Bermimpi sah-sah saja, berikanlah mimipi-mimpi tersebut dengan warna realistis. Bahwa warna ternyata masih lebih kompleks dari hanya sekedar

warna pelangi, jika mampu menuangkan dikanvas hati, betapa berharganya hidup ini. Jangan alergi jika terantuk kerikil sekali duakali, karena masih jauh dari petaka, biarkan langkah-langkah kaki menapaki sejarah yang berharga kepada orang lain, sodorkan waktu yang akan memotret peristiwanya walau hanya sesaat, secukupnya atau selamanya.

Skenario kehidupan penuh dengan misteri, tiap episode kadang tidak sesuai manuskrip dan dapat berubah di luar prediksi, babakan-babakan baru selalu digoreskan dalam antrean panjang kadang dengan senandung sederhana kadang keras dengan segala stanzanya. Tapi apapun itu semuanya dirancang untuk proses kedewasaan dan mempertebal kebijaksanaan. Hanya saja tidak banyak yang mampu memetik pelajaran dari setiap proses sintesa yang ditinggalkan oleh pelajaran hidup. Raga sudah cukup lelah dengan segala kepura-puraan yang lebih menggejala sehingga pelajaran yang sangat berharga tidak pernah mencapai misinya, dan kehidupan akhirnya penuh dengan derita, kegelisahan, kekalutan, ketidak nyamanan serta berbagai ketidak puasan lainnya.

Saat ini seisi alam sudah lelah menyaksikan bagaimana tingkah polah manusia dalam mengejar nilai tambah ekonomi, dengan sangat sedikit memprioritaskan nilai tambah sosial, serta tidak jarang berakhir dengan cerita duka. Pemikiran berlebihan terhadap pencapaian nilai tambah ekonomi telah mendegradasi nilai-nilai kemanusiaan yang bermuara pada penghargaan terhadap sesama semakin menipis. Kalau toh simpati dan kebaikan yang sengaja ditawarkan, selalu sarat dengan pengharapan-pengharapan lebih, tidak ada yang setulus dan sebening embun. Banyak peristiwa, ada yang perlu diingat dan ada yang perlu dilupakan. Yang tidak memberi peningkatan terhadap kualitas hidup tidak berdosa untuk dilupakan, dan yang bermanfaat dalam kehidupan tidak ada salahnya untuk dikenang. Namun terjadi yang sebaliknya, masalah yang menyakitkan, derita yang teraniaya seakan mengendap abadi, sehingga yang muncul kepermukaan hanya perasaan sirik dan balas dendam. Sepanjang dendam masih merajut keseharian dikelopak kehidupan jangan pernah bermimpi kedamaian akan tercipta apalagi berharap seperti Lucy in wonderland.

Suatu saat kita tidak perlu berkata bahwa matapun bisa bicara. kepintaran mulut berbicara sering berucap tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Tapi mata sangat susah untuk berbohong. Kenapa jika berkomunikasi dengan pihak lain tidak dibiasakan untuk menatap bola matanya, karena kebenaran yang sesungguhnya tercermin dari mata tersebut. Jika membiasakan menatap mata lawan bicara, secara etika menunjukkan bahwa kita memang menaruh perhatian sekaligus penghargaan terhadapnya. Sorot mata walau penuh dengan sejuta makna, tapi tidak mudah mengelabui hal yang sebenarnya. Oleh karenanya tidak sedikit orang kadang merasakan ketakutan dan segan jika berbicara secara langsung, tipe begini lebih suka berbicara lewat goresan atau alat komunikasi.

Saat ini saat sulit mendapatkan ketulusan sebening embun, adalah mustahil mencari keadilan dan kejujuran di dunia yang penuh dengan ketidak adilan dan ketidak jujuran. Semuanya sarat dengan selaksa kepentingan, kiblatnya bukan bagaimana ke depan menjadi lebih baik atau minimal bagai angin yang diperlambat untuk anak domba yang baru habis dicukur, tetapi lebih banyak didasarkan pada hantu masa lalu. Yang paling jauh dari kehidupan kita adalah masa lalu. Masa lalu tidak dapat diperbaiki, tidak dapat dirubah walau dengan penyesalan yang sangat mendalam. Jika masa lalu yang kelam selalu menjadi cermin, maka sulit untuk berharap tindakan dan keputusannya akan sebening embun.

Jika sekali waktu masih sempat membangunkan jiwa, mengusik nurani serta menghitung kebijaksanaan atas dasar kesadaran penuh iklas, maka masih banyak waktu tersisa untuk meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan. Kuncinya sangatlah sederhana yakni hanya dengan tersenyum. Dari sudut kesehatan tersenyum menggerakkan otot jauh lebih sedikit dibandingkan dengan cemberut, sehingga orang yang murah senyum akan menjadi lebih sehat dan prima. Patutlah curiga pada sosok yang tidak pernah tersenyum, karena mereka dapat mengatakan bahwa embun itu tidak lagi bening...