2. Sosial
2.3 Sentuhan Humanity Dalam Menggairahkan Proses
Meningkatnya angka buta aksara di Bali perlu ditelusuri lebih mendalam lagi, di mana posisi mereka yang mengemban status tersebut jika dilihat dari struktur umur penduduk. Jika jumlah mereka dominan pada struktur umur penduduk manula, mungkin jika dianalisis dari beban ketergantungan ekonomi tidaklah terlalu parah. Mengingat bahwa peningkatan biaya pendidikan baru saja terjadi pada akhir-akhir ini, menunjukkan bahwa mereka belum tersentuh oleh
kebijakan peningkatan biaya tersebut. Hanya saja program pendidikan nonformal semacam kejar paket, yang sudah dicanangkan dari sejak dulu belum menunjukkan hasil yang optimal.
Keberhasilan pendidikan nonformal yang menyasar mereka yang berusia manula, tidaklah semata-mata hanya tergantung pada ketersediaan dana/biaya. Melainkan keberhasilannya lebih ditekankan pada motivasi anak didik serta loyalitas pendidik. Motivasi dan loyalitas ini sangat penting, mengingat mereka tersebut tidak berada pada usia sekolah, sehingga proses yang diperlukan memerlukan nilai lain. Jika nilai tersebut tidak mampu diciptakan oleh sistem, jangan harap ada dorongan motivasi bagi anak didik untuk meningkatkan kualitas diri dalam pendidikan. Dan kondisi ini sekaligus sebagai gambaran ketidak berhasilan program pendidikan non formal.
Jika mereka yang buta aksara tersebut berada pada kelompok usia sekolah, maka kondisi ini bukan saja memalukan baik, bagi pemerintah serta institusi terkait, juga sekaligus menunjukkan bagaimana ketidak seriusan menangani masalah-masalah mendasar di negeri ini. Negara mempunyai kewajiban untuk menyelenggarakan pendidikan, dan anak-anak usia sekolah mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Kalau toh akhirnya ada yang tidak mendapatkan pendidikan, sehingga menyebabkan mereka mengemban buta aksara, ada beberapa kemungkinan yang menjadi alasan pembenarnya. Pertama, alasan ekonomi, mereka membantu orangtua bekerja sehingga tidak sempat untuk mengenyam pendidikan. Mereka yang termasuk pada kelompok ini semestinya tidak usah terjadi, karena pendidikan menyediakan waktu bukan hanya pagi hari, tetapi juga siang dan sore, bahkan malam hari. Sebenarnya meraka dapat memilih dari berbagi alternatif waktu yang ada sehingga tidak berbenturan dengan waktu kerjanya. Tetapi kenapa tidak dimanfaatkan dengan baik, ini tidak lain karena kepedulian keluarga, masyarakat dan pemerintah yang tidak intens terhadap hak pendidikan anak.
Kedua, memang ada sejumlah prilaku anak-anak yang tidak tertarik dengan masalah pendidikan. Untuk kasus seperti ini maka model pendidikan
reguler sangat tidak sesuai bagi mereka. Proses dan model pendidikan untuk kasus seperti ini harus diimplementasikan sedemikian rupa, di mana di dalamnya ada interaksi antara pembelajaran, permainan, hakikat kehidupan, motivasi diri, sampai dengan penghargaan terhadap seseorang. Jika proses tersebut mampu menanamkan pilosofi kehidupan, yakni bagaimana meyakinkan hakikat, bahwa setiap individu sama penting dan sama berartinya dengan individu lain, bahwa individu akan punya arti apabila minimal dapat memberikan manfaat sekecil apapun kepada individu lain. Pada saat anak didik merasa dirinya bermanfaat, maka pada saat itu pendidikan menjadi kebutuhan, bukan ditakuti atau ditinggalkan. Kuncinya sistem dan profesi pendidik memiliki talenta untuk kebangkitan tersebut. Profesi pendidik bukan pelarian karena tidak memperoleh pekerjaan lain, melainkan dorongan nurani untuk mencerdasakan anak bangsa.
2.4 TIDAK RASIONAL DAN TIDAK KONSISTEN DALAM
PENANGANAN KORUPSI
Lambannya penanganan masalah korupsi di negeri ini berangkat dari tidak rasional dan tidak konsistennya para pemangku kepentingan. Salah satu asumsi dari bekerjanya sistem dengan baik, adalah adanya sikap rasional dan konsisten dari para pelakunya. Memudarnya asumsi tersebut membuat tindakan dan pemecahan masalah menjadi tidak normal karena berdasarkan selera atau kepentingan tertentu saja.
Beberapa contoh implementasi penangan masalah korupsi yang tidak rasional di antaranya adalah penggalian kembali masalah-masalah lama, pengusutan terhadap para pejabat periode sebelumnya tidak memiliki termin waktu yang jelas. Apakah pejabat dari presiden yang pertama, presiden kedua, presiden ketiga atau seterusnya. Dan kenapa harus dari pejabat saat presiden yang kesekian, alasan yang bisa diterima dengan kepala dingin tidak ada. Kedua, kalau sudah ditentukan saat pemerintahan siapa, kenapa pada instansi tertentu saja, kenapa tidak pada semua instansi. Ini adalah fenomena betapa tidak
rasionalnya di dalam mengangkat kasus korupsi kerana sebagian ada yang terjangkau perkaranya, sebagian ada yang luput dari proses investigasi.
Selanjutnya masalah inkonsistensi sangat kentara sekali dalam penanganan kasus-kasus korupsi. Seharusnya kasus kecil atau kasus besar sepanjang berbau korupsi yang merugikan keuangan negara memiliki agenda yang jelas di dalam proses penyelesaiannya. Sekarang ini penanganan kasus mengikuti mode. Jika ramai dibicarakan orang, rai diekspose oleh media penanganan kasus sepertinya dilakukan secara maraton. Sebaliknya ada kasus-kasus yang tidak kalah esensinya dibiarkan menumpuk atau selalu ditunda-tunda proses penyelesaiannya. Bagaimanapun juga tindakan seperti ini akan memunculkan pemikiran baru di kalangan masyarakat yang sangat-sangat logis sekali apa yang diindikasikan penanganan yang bersifat tebang pilih. Pola pikir seperti ini adalah sah-sah saja mengingat agenda dari penanganan kasus yang tidak jelas. Yang berikutnya bisa saja karena ada kepentingan pihak-pihak tertentu untuk meredam atau memunculkan kasus sesuai dengan kepentingannya.
Hari Gini Bicara Hati Nurani
Jika saat ini berbicara hati nurani, sepertinya idealisme hati nurani perlu dipertanyakan. Disatu pihak orang menggembar-gemborkan pengambilan keputusan berdasarkan hati nurani, dipihak lain kalau saja mau jujur mengakui banyak pengambilan keputusan mengabaikan suara hati sehingga hasil yang diperoleh sarat dengan kekerabatan, kedekatan bukan sarat dengan kualitas.
Fenomena seperti ini bukan saja terjadi di masyarakat umum yang taraf pendidikan dan pengalamannya sangat heterogenitas, di dunia pendidikan tinggipun tidak ada bedanya. Mereka yang mengusung pendidikan formal sampai tingkat tertinggi, senioritas dan pengalaman yang mumpuni, ternyata di dalam pengambilan keputusan sering sangat malas mendengar suara hati. Jika tradisi seperti ini masih tetap mewarnai maka berbicara tentang penanganan korupsi hanya akan mengupas kulit luarnya saja tanpa pernah menyentuh akar permasalahan yang esensial.
Fenomena lain berkaitan dengan hukuman yang diberikan kepada koruptor tidak memberikan efek jera dan kiblat ketakutan kepada mereka yang baru mencoba-coba untuk korupsi. Hukuman penjara bagi koruptor sering diiringi dengan fasilitas hotel berbintang, yang membuat iri para maling kecil. Kenapa tidak ada hukuman kerja rodi atau dijemur dipanas matahari serta disiarkan keseluruh penjuru negeri, sehingga akan memberikan beban moral bukan saja kepada yang bersangkutan, juga keluarga dan sanak familinya.
Intinya apakah semua masyarakat atau sebagian masyarakat saja yang menghendaki agar korupsi itu dihentikan. Jika semua masyarakat mempunyai pemikiran agar negara bersih dari korupsi, maka beberapa piranti seperti sistem pengangkatan pejabat, sistem penanganan perkara, sistem hukuman, sistem pemaknaan keagamaan, serta sistem lainnya yang tidak mendukung segera dievaluasi kesahihannya. Semoga pesta demokrasi menghasilkan pemimpin yang punya komitmen bukan punya kepentingan, sehingga segera negeri ini terbebas dari korupsi.