• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. Sosial

2.21 Birokrasi Yang Terluka

Hampir dua setengah kali kita telah melewati periode pembangunan jangka panjang, ternyata tujuan pembangunan yang sangat mulia untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat baik moril maupun meteriil rasanya belum menampakkan garis finish. Begitu lama waktu yang sudah terlewatkan, begitu lama mainstream masa lalu kelabu, ternyata sampai saat ini belum menunjukkan hasil yang memadai untuk menggilas masa lalu kelabu tersebut. Siapa yang paling bertanggung jawab terhadap fenomena di atas, jawaban yang pasti adalah pemerintah dengan segala perangkat kebijakan dan aparatur pelaksananya.

Sistem ekonomi yang dianut dengan peran pemerintah yang dominan, telah memberi keleluasaan kepada pemerintah untuk menciptakan iklim sedemikian rupa, mengatur, mengarahkan, serta mengendalikan roda pembangunan dengan sasaran utama pembangunan ekonomi di samping pembangunan bidang lainnya. Pemerintah melalui kepanjangan tangan birokrasi dan legeslatif sebagai representasi telah berkolaborasi untuk menciptakan kawah candradimuka di mana proses pembangunan digodok yang mana produknya diharapkan mencapai tujuan di atas tadi. Beberapakali telah terjadi pergantian birokrat, beberapa kali telah terjadi pergantian legeslatif, setiap periode pergantian pejabat, calon pemburu jabatan baru selalu mengusung kecemerlangan visi dan misinya, dengan program-program yang argumentatif, serta statemen simpatik untuk memperbaiki nasib rakyat. Namun sangat disayangkan sampai saat ini masyarakat kebanyakan masih berkeluh kesah tentang kemiskinan, pengangguran, beban hidup yang menghimpit, biaya pendidikan dan pengobatan tidak terjangkau, dan sederet cerita duka jika disebutkan satu persatu.

Lantas di mana kebanggaan para birokrat dengan visi misinya, dengan programnya yang selangit jika masih menyaksikan (kalau punya nurani) derita rakyat yang berkepanjangan. Dan sebenarnya mereka tidak menyadari telah terjadi pengingkaran terhadap makna birokrasi yang diembannya. Birokrat sebagai abdi negara semestinya adalah pelayan masyarakat, memberikan pelayanan yang sebaiknya kepada masyarakat baik yang menyangkut informasi yang dibutuhkan maupun menyangkut pemecahan masalah yang dihadapi. Birokrat semestinya berdaulat kepada rakyat, bukan berdaulat kepada atasan ataupun berdaulat kepada materi. Telinga kita sudah terlalu sering mendengar kekecewaan masyarakat baik terhadap pelayanan maupun terhadap pemecahan masalah yang ditawarkan. Dan anehnya pada even-even tertentu para calo dan calon birokrat masih dengan pongahnya meminta dukungan kepada masyarakat. Dan yang lebih mencengangkan lagi tidak sedikit oknum birokrat berlaku tidak lebih sebagai penjajah. Seolah kekuasaan yang dimiliki runtuh kepangkuannya

dari langit, lupa dan pura-pura lupa akan amanat masyarakat yang ditumpukan dipundaknya.

Hanya kerbau yang melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang. Kesalahan strategi pembangunan hendaknya tidak terjadi secara berulang-ulang. Sekian lama pembangunan yang telah dilakukan yang tujuannya untuk mensejahterakan rakyat, pernahkah mereka bertanya kepada masyarakat apakah sepak terjang yang dilakukan selama ini sudah meneteskan kesejahteraan kepada masyarakat. Berikan masyarakat menjawab sejujurnya tanpa rekayasa dan intimidasi, berikan mereka mengekspresikan suara hatinya, maka mungkin kita akan kaget jika mengetahui bagaimana keadaan mereka sebenarnya. Para pengambil kebijakan terlalu asyik dengan kamuflase permainan angka-angka, terlalu terbius dan dinina bobokkan oleh target-target semu, akhirnya masalah mendasar yang seharusnya perlu penanganan sederhana tanpa perhitungan matematik dan statistik yang nyelimet jadi terbengkalai dan terlupakan untuk sebuah kebanggaan institusi yang semu pula.

Calon birokrat atau birokrat yang sedang mengemban amanat rakyat, mestinya tidak henti-hentinya untuk mulat sarira, keteladan dari pencitraan diri hendaknya mengakar dari konsep kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro: Ing ngarso sung tulodo, Ing madya mangun karsa dan Tut wuri handayani. Konsep ini mengandung filosopi makna tiada tara. Kekayaan Local genius yang paripurna. Jika semua orang melaksanakan konsep ini pada tatanan yang diembannya, sepertinya kita tidak akan mendengar rintihan dan cerita duka masyarakat.

Birokrat yang memangku jabatan sering lupa akan dirinya, merasa paling hebat, merasa diri paling berharga, sehingga penghargaan terhadap orang lain berkurang karena tidak ingin orang lain berharga seperti dirinya. Kalau otaknya sudah diracuni opini seperti ini adalah sangat mustahil bisa menjadi pelayan masyarakat yang baik. Justru dengan bersembunyi dibalik kedok kekuasaan tidak jarang berusaha menghambat sepanjang yang bisa dihambat, membuat jabatannya jadi serem dan kultus, sebenarnya secara tidak langsung mereka telah menghinakan diri sendiri. Perkembangan telah merubah segalanya, roda zaman

telah berputar ke eranya, paradoks pemikiran masa lalu yang picik dan konvensional semestinya sudah ditinggalkan. Kreativitas dapat muncul di mana-mana, ide cemerlang dapat tumbuh setiap saat, karenanya komunikasi dalam koridor dialogis perlu dikembangkan. Sepanjang masih bergerak dalam pencapaian tujuan pimpinan birokrat hendaknya mengakomodasi dan memanfaatkan peluang-peluang tersebut, menuntun dan mengarahkan secara proporsional serta membuka jendela jauhari. Bukan mengunci diri sepertinya birokrasi sesuatu yang sangat sakral sehingga tidak mampu ditembus oleh kue illahi yang menjadi hak setiap orang. Apalagi meredam, mematikan dan mengkebiri ekspresi jiwa untuk sebuah perbaikan, maka hak masyarakat yang sudah terpinggirkan berimplikasi pada sikap acuh tak acuh, memudarnya kepercayaan dan tidak tertutup kemungkinan bermuara pada sikap antipati.

Hal yang paling jauh dari diri setiap orang adalah masa lalu, masa lalu tidak pernah akan dapat digapai. Haruskah masa lalu yang kelabu berulang dan berulang. Akhirnya kita hanya dapat menciptakan masa lalu yang tidak pernah menjadi kebanggaan serta bertutur dalam waktu yang pendek. Mari para birokrat, calon birokrat berlomba-lomba untuk perbaikan kehidupan masyarakat banyak. Masa lalu kelabu boleh diingat tapi jangan diulang. Tunjukkan kepada dunia bahwa kita berhak akan masa depan yang cemerlang. Tinggalkan birokrasi lama nan usang yang telah terluka, berikan terapi yang sesuai untuk kesembuhan total, kita belum terlambat mengibarkan bendera kesejahteraan, berikan masyarakat sesuai dengan haknya, tatalah birokrasi yang menyimpang dari hakikinya maka kedamaian akan tercipta. Hidup birokrasi pengemban amanat rakyat, hidup masyarakat yang masih punya hati nurani, dan isilah kehidupan yang dapat memberikan manfaat kepada diri sendiri dan orang lain serta lingkungan sekitar.