• Tidak ada hasil yang ditemukan

Agroindustri Perspektif Teknologi Budidaya

Menyadari lambannya pertumbuhan sektor pertanian dibandingkan dengan sektor lainnya, ditambah lagi dengan semakin menyusutnya lahan pertanian produktif dari masa ke masa maka praktis kontribusi sektor pertanian

terhadap perolehan produk Domestik bruto semakin menurun. Bercermin dari fenomena seperti ini, maka telah digalakkan agroindustri yaitu industri yang mengolah hasil-hasil pertanian guna dapat memberikan nilai yang lebih tinggi. Usaha ini merupakan konsekuensi logis dari menyusutnya hasil produk pertanian hasil yang semakin kecil tersebut dapat diciptakan perolehan yang semakin besar, salah satunya dengan memproses produk tersebut lebih lanjut agar dapat memberikan daya guna yang lebih tinggi plus memberikan perolehan yang lebih besar. Strategi tersebut di samping untuk meningkatkan aktivitas perekonomian juga sebagai tindakan antisipatif terhadap semakin berkurangnya lahan pertanian produktif.

Berkurangnya lahan pertanian produktif akibat pemanfaatan untuk aktivitas lainnya di luar pertanian, sementara ini pembukaan lahan pertanian baru yang pertumbuhannya tidak seimbang dengan menyusutnya lahan yang telah ada jika tidak dipikirkan secara serius akan membawa petaka di kemudian hari.

Sebagaimana kita sama-sama menyadari bahwa lahan pertanian yang semakin menyempit di satu pihak tidak disertai dengan adanya peningkatan dalam teknologi budidaya, dapat dibayangkan apa yang akan terjadi dari kondisi seperti itu. Perkembangan teknologi budidaya yang tidak maksimal dengan kondisi pertanian saat ini, jelas tidak akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, apabila ini terus berlanjut maka swasembada beras yang menjadi maskot keberhasilan pertanian tanaman pangan mustahil dapat dipertahankan.

Menyadari pentingnya perkembangan teknologi di bidang pendidikan budidaya, maka bagian riset dan pengembangan (research and development) teknologi budidaya, harusnya bekerja ekstra untuk dapat menjembatani kecendrungan tersebut. Dengan karakteristik yang dimiliki oleh sektor pertanian yang sangat berbeda sekali dengan sektor lainnya, jelas memerlukan penanganan yang berbeda pula. Tanah sebagai proses awal di mana sektor pertanian tersebut dapat dilaksanakan saat ini sangat langka, dengan kelangkaan seperti itu jika tidak ditunjang oleh teknologi budidaya yang canggih jelas akan memberikan keluaran yang tidak memuaskan.

Berangkat dari keadaan seperti ini maka agroindustri yang merupakan ketergantungan satu-satunya dari produk hasil pertanian, yang diharapkan dapat tumbuh dengan cukup pesat, harus diimbangi ketersediaan produk pertanian sehingga prospek dari perkembangan agroindustri seimbang denga ketersediaan bahan yang diperlukan yaitu produk pertanian. Menyadari keterkaitan ini mau tidak mau maka langkah yang masih terbuka untuk dikembangkan adalah mengembangkan secara besar-besaran teknologi budidaya tersebut agar dapat menopang kebutuhan produk sektor pertanian. Bukan itu saja dengan semakin lesunya aktivitas sektor pertanian, maka agribisnis yang menghasilkan input-input seperti pupuk, obat-obatan dan sebagainya juga akan mengalami krisis. Asal tidak saja yang sebaliknya terjadi seperti baru-baru ini dengan mana pupuk yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produksi petani tahu-tahu sirna dari pasaran dan begitu nongol harganya sudah melambung tinggi yang tentu saja tidak menguntungkan petani, masih mending petani tetap melaksanakan kegiatan usahataninya walaupun dengan gerutu mekanisme distribusi seperti apa sebenarnya dianut oleh perekonomian kita sehingga tetap saja memberi distorsi yang dapat menguntungkan beberapa pihak atau golongan di atas kesengsaraan masyarakat sekitarnya. Kalau kita mau jujur dan berkata dengan hati nurani yang bersih sistem yang ada tidak jarang sudah ada di luar Demokrasi Ekonomi Pancasila yang kita agung-agungkan, semakin banyaknya campur tangan pihak-pihak tertentu membuat mekanisme menjadi semakin parah., justru dari campur tangan tersebut bukannya memulihkan dan menyehatkan mekanisme yang ada bahkan dengan tanpa rasa berdosa mereka mengeruk keuntungan dari campur tangan tersebut sehingga buntutnya memperparah mekanisme yang sudah blingsatan serta bermuara pada apa yang kita hadapi sekarang ini.

Kembali pada masalah peningkatan peran sektor pertanian dalam menunjang pertumbuhan ekonomi nasional ada beberapa hal yang perlu dipertegas lagi sesuai dengan fungsi yang diembannya, yaitu: Pertama, mengaktifkan dan mempertegas lagi peranan tenaga penyuluh pertanian sesuai dengan fungsi yang diembannya yang merupakan ujung tombak dalam

mengenalkan teknologi baru kepada petani. Seringkali teknologi budidaya petani yang tradisional dan telah usang masih tetap dipertahankan sehingga hasil yang diperoleh tidak memuaskan, di pihak lain tidak adanya upaya dan inisiatif dari pihak penyuluh pertanian yang selalu mendampingi petani untuk memperkenalkan tehnik-tehnik budidaya yang baru yang lebih efisien sehingga kemitraan ini berjalan sendiri-sendiri, petani berjalan dengan perilakunya sendiri dan penyuluh asyik dengan laporan-laporan seadanya, sehingga praktis momen yang baik ini tidak termanfaatkan secara optimal. Kedua, peranan lembaga penelitian dan pengembangan teknologi budidaya lebih ditingkatkan, ditambah lagi dengan disertai publikasi hasil temuan yang seluas-luasnya yang dapat menjangkau masyarakat tani sampai di pelosok-pelosok pedesaan, karena tidak jarang hasil riset dan pengembangan hanya berupa referensi yang memenuhi rak-rak buku sebagai pajangan tanpa sempat diketahui oleh masyarak-rakat. Sebagaimana dilansir oleh Mosher bahwa syarat-syarat pokok pembangunan pertanian yang esensial adalah adanya teknologi yang senantiasa berubah. Agar pembangunan pertanian dapat berjalan terus haruslah terjadi perubahan, apabila perubahan ini terhenti maka pembangunan pertanianpun akan terhenti, produksi akan terhenti kenaikannya, lebih-lebih dengan menyusutnya tanah maka perubahan teknologi budidaya harus selalu menyertainya. Ketiga, agroindustri sebagai pengguna komoditas pertanian hendaknya dapat memberikan kepastian harga dan menyerap produk yang dihasilkan petani, karena bargaining power petani yang lemah agroindustri tidak jarang mempermainkan harga. Hal ini harus diakhiri sedemikian rupa dan dibuatkan suatu model kerjasama antara petani dan agroindustri yang dapat memberikan keuntungan kedua belah pihak. Keempat, agribisnis penghasil input-input pertanian hendaknya dapat menyediakan sarana produksi yang dibutuhkan petani tepat waktu dan dengan harga yang sesuai, juga pihak agribisnis memikirkan sistem distribusi yang paling akurat sehingga tidak terlalu banyak memberatkan pihak petani. Namun karena produk pertanian sangat tergantung pada musim maka penyediaan sarana produksi tepat waktu menjadi variabel yang dominan yang perlu diperhatikan oleh agribisnis tersebut.

Untuk itu perlu sekali diperhatikan tersedianya sarana produksi di tempat petani atau di pedesaan dalam jumlah yang memadai untuk memenuhi kebutuhan tiap petani yang memerlukannya, sudah barang tentu kondisi seperti ini didukung oleh sarana transportasi dan komunikasi yang memadai.

Terakhir adalah komitmen pemerintah yang konsen terhadap perkembangan sektor pertanian yang diaplikasikan dalam penciptaan iklim yang sehat dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, juga tak lupa memberikan kebijaksanaan yang berkaitan dengan penentuan baik harga input dan harga output yang dapat mendorong gairah petani untuk meningkatkan usahanya. Sebab sementara ini kita tahu bahwa gairah petani untuk mengembangkan usahanya semakin menurun akibat besarnya resiko dan ketidakpastian yang dihadapinya, bukan saja resiko alam yang jarang dapat dikendalikan bahkan resiko harga yang dapat dikendalikan melalui kebijakan pemerintah sering memberikan ketidakpastian. Oleh karenanya sebelum menjadi kronis perlu upaya perbaikan untuk menumbuhkembangkan kembali gairah petani untuk berproduksi dengan cara menegakkan kembali rambu-rambu yang ada secara proporsional serta menambahkan hal-hal yang belum ada sehingga tercipta iklim yang benar-benar sehat bagi petani.

Dari perbandingan harga input dan output yang menguntungkan, pelaksanaan bagi hasil yang wajar serta tersedianya barang dan jasa yang dibutuhkan oleh petani beserta keluarganya, maka apabila kombinasi kecendrungan ekonomis seperti ini dapat diciptakan maka tidak mustahil pendapatan petani terus naik, serta secara tidak langsung akan membangkitkan gairah petani untuk berproduksi serta menekuni sector pertanian.