MAHKAMAH KONSTITUSI
REPUBLIK INDONESIA
---
RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 72/PUU-XIII/2015
PERIHAL
PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003
TENTANG KETENAGAKERJAAN
TERHADAP UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA
REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
ACARA
MENDENGARKAN KETERANGAN PRESIDEN DAN DPR
(III)
J A K A R T A
KAMIS, 30 JULI 2015
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
--- RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 72/PUU-XIII/2015 PERIHAL
Pengujian Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan [Pasal 90 ayat (2) beserta Penjelasan] terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
PEMOHON 1. Sukarya
2. Siti Nurrofiqoh ACARA
Mendengarkan Keterangan Presiden dan DPR (III) Kamis, 30 Juli 2015 Pukul 14.15 – 14.40 WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat
SUSUNAN PERSIDANGAN
1) Arief Hidayat (Ketua)
2) Anwar Usman (Anggota)
3) Maria Farida Indrati (Anggota)
4) Aswanto (Anggota)
5) Wahiduddin Adams (Anggota)
6) Suhartoyo (Anggota)
7) Patrialis Akbar (Anggota)
8) Manahan MP Sitompul (Anggota)
Pihak yang Hadir:
A. Kuasa Hukum Pemohon: 1. Pelikson Silitonga
2. Nikson Gans Lalu 3. Mesry Rumahorbo 4. Endang Rohani
5. Johny Nelson Simanjuntak 6. Rohana Sirait B. Pemerintah: 1. Mualimin Abdi 2. Wicipto Setiadi 3. Nasrudin 4. Haiyani Rumondang 5. Budiman
1. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Bismillahirrahmaanirrahiim. Sidang dalam Perkara Nomor 72/PUU-XIII/2015 dengan ini dibuka dan terbuka untuk umum.
Saya cek kehadirannya, yang hadir Pemohon, siapa? Saya persilakan.
2. KUASA HUKUM PEMOHON: PELIKSON SILITONGA
Terima kasih, Yang Mulia. Kami dari Tim Advokasi Tolak Penurunan Upah yang hadir di sini saya Pelikson Silitonga.
3. KUASA HUKUM PEMOHON: MESRY RUMAHORBO
Selamat siang. Saya Mesry Rumahorbo.
4. KUASA HUKUM PEMOHON: NIKSON GANS LALU
Terima kasih, Yang Mulia, saya Nikson Gans Lalu.
5. KUASA HUKUM PEMOHON: ENDANG ROHANI
Selamat siang, saya Endang Rohani.
6. KUASA HUKUM PEMOHON: ROHANA SIRAIT
Terima kasih, Yang Mulia, saya Rohana Sirait.
7. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik. Yang di belakang Pemohon Prinsipal, ya? Baik.
Dari Pemerintah yang mewakili Presiden, yang hadir lengkap ini?
8. PEMERINTAH: NASRUDIN
Terima kasih, Yang Mulia. Dari Pemerintah mewakili Presiden dari ujung sebelah kiri saya, Ibu Dra. Haiyani Rumondang, Dirjen PHI dan Jaminan Sosial, Kementerian Tenaga Kerja yang sekaligus nanti akan membacakan keterangan Presiden. Dan Bapak Budiman, Kepala Biro
SIDANG DIBUKA PUKUL 14.15 WIB
Hukum Kementerian Tenaga Kerja. Saya sendiri Nasrudin. Sebelah kanan saya, Bapak Dr. Wicipto Setiadi dan Bapak Mualimin Abdi dari Kementerian Hukum dan HAM.
Terima kasih, Yang Mulia.
9. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik. Dengan dikawal oleh di belakangnya, ya.
Baik pada siang hari ini agenda persidangan kita Sidang Pleno yang pertama adalah Mendengarkan Keterangan DPR dan Presiden. DPR masih reses, jadi tidak hadir, hanya keterangan Presiden. Saya persilakan yang mewakili Presiden, siapa yang akan membacakan? 10. PEMERINTAH: HAIYANI RUMONDANG
Bismillahirrahmaanirrahiim. Yang Terhormat Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, para Pemohon. Assalamualaikum wr. wb. Salam sejahtera untuk kita semua dan selamat sore.
Pertama-tama, kami mengucapkan terima kasih kepada Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang telah memberikan kesempatan kepada Pemerintah untuk memberikan keterangan dan penjelasan terkait Permohonan Uji Materiil Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang diajukan oleh Para Pemohon. Untuk itu, kami mohon izin kepada Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi untuk membacakan keterangan Presiden atas Permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Kepada Yang Terhormat Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia di Jakarta.
Dengan hormat, yang bertandatangan di bawah ini: 1. Nama: Yasonna H. Laoly, Menteri Hukum dan HAM. 2. Nama: M. Hanif Dhakiri, Menteri Ketenagakerjaan.
Dalam hal ini, baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri bertindak untuk dan atas nama Presiden Republik Indonesia, selanjutnya disebut sebagai Pemerintah. Perkenankanlah kami menyampaikan keterangan Pemerintah, baik lisan maupun tertulis yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan atas permohonan pengujian constitutional review Ketentuan Pasal 90 ayat (2) dan Penjelasannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan untuk selanjutnya disebut Undang-Undang Ketenagakerjaan terhadap Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, selanjutnya disebut Undang-Undang Dasar
Tahun 1945. Yang dimohonkan oleh Gabungan Serikat Buruh Mandiri (DPP GSBM) diwakili oleh Sukarya dan Serikat Buruh Bangkit (DPP SBB) diwakili oleh Siti Nurrofiqoh, dalam hal ini memberikan Kuasa Hukum kepada Pelikson Silitonga, dan kawan-kawan yang untuk selanjutnya disebut Para Pemohon. Sesuai permohonan registrasi di Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Nomor 72/PUU-XIII/2015, tanggal 27 Mei 2015 dengan perbaikan tanggal 29 Juni 2015.
Selanjutnya, perkenankanlah Pemerintah menyampaikan
keterangan atas Pengujian Undang-Undang Ketenagakerjaan sebagai berikut.
I. Pokok permohonan Para Pemohon
1. Bahwa Pasal 90 ayat (2) dan penjelasannya dalam undang-undang a quo memberikan kesempatan kepada pengusaha yang tidak mampu membayar upah minimum dapat melakukan
penangguhan. Dalam penjelasannya dikatakan bahwa
penangguhan ini berbatas waktu tertentu. Jika jangka waktu yang diberikan sudah habis, maka pengusaha wajib melaksanakan upah minimum yang berlaku pada saat itu.
2. Menurut Para Pemohon, adanya kebijakan penangguhan upah pada pasal a quo telah melahirkan ketidakpastian, dimana upah minimum yang telah ditetapkan oleh Pemerintah merupakan jaring pengaman atau safety net menjadi tidak pasti karena dimungkinkan untuk menyimpangi ketentuan tersebut, sehingga upah yang diterima oleh pekerja buruh menjadi di bawah standar kebutuhan hidup layak. Sehingga hal ini bertentangan dengan ketentuan Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Tahun 1945.
II. Kedudukan Hukum (legal standing) Para Pemohon
Bahwa menurut Pemerintah, mohon kiranya Para Pemohon dapat membuktikan terlebih dahulu, apakah benar sebagai pihak yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan atas berlakunya Ketentuan Pasal 90 dan penjelasannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, sebagaimana ditentukan ... ditentukan oleh Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011, serta berdasarkan putusan-putusan Mahkamah Konstitusi terdahulu sejak Putusan Nomor 006/PUU-III/2005 dan Putusan Nomor 11/PUU-V/2007.
Bahwa menurut Pemerintah, norma ketentuan undang-undang a quo justru memberikan keseimbangan terhadap pekerja dan pengusaha. Sedangkan argumentasi Para Pemohon lebih terkait dengan implementasi pelaksanaan ketentuan a quo bukan
merupakan permasalahan konstitusionalitas keberlakuan suatu norma.
III. Penjelasan Pemerintah terhadap materi yang dimohonkan oleh Para Pemohon
Sebelum Pemerintah memberikan keterangan atas materi yang dimohonkan untuk diuji, perkenankanlah Pemerintah menerangkan hal-hal sebagai berikut.
1. Terhadap permohonan a quo, menurut Pemerintah sebelumnya pernah dilakukan pengujian terhadap Nomor Perkara 61/PUU-VIII/2011 dengan amaran ... mohon maaf, dengan amar putusan MK yang menyatakan, ”Menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya.”
2. Terhadap dalil Para Pemohon yang menguraikan permohonannya yang maksud dan tujuannya sama dengan Perkara Register Nomor 61/PUU-VIII/2010 yang telah diputus oleh Mahkamah Konstitusi walaupun seolah-olah memiliki maksud dan tujuan yang berbeda dengan batu uji yang sama dan isu konstitusional yang sama.
3. Sesuai dengan Ketentuan Pasal 60 Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang menyatakan, ”Terhadap materi muatan ayat, pasal dan/atau bagian dalam undang-undang yang telah diuji, tidak dapat dimohonkan kembali.” Pemerintah berpendapat bahwa terhadap dalil Pemohon dapat dinyatakan nebis in idem. Sehingga, untuk sepatutnyalah jika Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi secara bijaksana menyatakan permohonan Pemohon tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard).
Berdasarkan uraian di atas, Pemerintah memberikan keterangannya sebagai satu kesatuan dengan keterangan Perkara Nomor 61/PUU-VI/2010. Namun, apabila Mahkamah Konstitusi berpendapat berbeda, Pemerintah memberikan keterangan tambahan sebagai berikut.
Bahwa filosofi upah minimum sebagai perlindungan dasar pekerja/buruh dan jaring pengaman (safety net) yang dimaksudkan agar upah tidak jatuh merosot ke level terendah. Berdasarkan filosofi tersebut, perlu adanya kebijakan pengupahan yang antara lain meliputi kebijakan upah minimum, sebagaimana yang diamanatkan Pasal 88 ayat (3) huruf a Undang-Undang Ketenagakerjaan.
Bahwa upah minimum adalah upah yang terendah, sehingga pada prinsipnya, pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh gubernur dengan ancaman sanksi pidana dan/atau denda yang merupakan tindak pidana kejahatan, vide Pasal 90 ayat (1) juncto Pasal 89 ayat (3) dari Pasal 185 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13/Tahun 2003.
Namun di dalam kenyataannya karena kondisi kemampuan keuangan perusahaan untuk membayar upah minimum tidak semua sama, perlu adanya suatu ketentuan untuk memberikan kepastian hukum terhadap pelaksanaan upah minimum tersebut. Bahwa bagi pengusaha yang tidak mampu membayar upah minimum sebagaimana yang telah ditetapkan oleh gubernur, Undang-Undang Ketenagakerjaan memberikan pengecualian dengan cara melakukan penangguhan upah minimum, sebagaimana ditentukan dalam Ketentuan Pasal 90 undang-undang a quo.
Selanjutnya, dalam ketentuan a quo yang mengatur mengenai adanya penangguhan pembayaran upah minimum adalah dalam rangka memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk memberikan kewajiban membayar upah sesuai dengan kemampuan pada periode tertentu atau kurun waktu tertentu.
Dengan demikian, penangguhan pembayaran upah minimum kepada pekerja buruh oleh perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan, justru memberikan perlindungan kepada pekerja buruh untuk tetap bekerja pada perusahaan tersebut, juga ketentuan a quo dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum mengenai keberlangsungan hubungan kerja.
Bahwa mekanisme penangguhan upah minimum harus dilakukan sesuai dengan ketentuan, maaf .... Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Nomor Kep.231/MEN/2003 tentang Tata Cara Penangguhan Pelaksanaan Upah Minimum, selanjutnya disebut Kemenakertrans Nomor 231/MEN/2003. Persyaratan permohonan penangguhan upah minimum dalam Kemenakertrans Nomor231/MEN/2003 a quo didasarkan atas kesepakatan tertulis yang merupakan hasil perundingan secara mendalam, jujur, dan terbuka antara pengusaha dengan pekerja buruh, atau serikat pekerja, serikat buruh, Pasal 3 ayat (2) dan ayat (8) Kemenakertrans Nomor231/MEN/2003.
Dengan kata lain, tidak mungkin diajukan permohonan penangguhan upah minimum tanpa ada dokumen kesepakatan di antara para pihak. Kesepakatan ini merupakan lembaga pelepasan hak atau (suara tidak terdengar jelas) yang dimungkinkan dalam hubungan keperdataan.
Bahwa persyaratan lainnya dalam permohonan penangguhan pelaksanaan upah minimum harus disertai dengan:
a. Naskah asli kesepakatan antara pengusaha dengan serikat pekerja/serikat buruh, atau pekerja buruh.
b. Laporan keuangan perusahaan yang terdiri dari neraca, penghitungan rugi-laba, beserta penjelasan-penjelasannya untuk dua tahun terakhir, dengan catatan bahwa dalam hal perusahaan berbadan hukum, legal entity telah diaudit oleh akuntan publik. c. Salinan akte pendirian perusahan.
d. Data upah menurut jabatan pekerja buruh.
e. Jumlah pekerja buruh yang dipekerjakan dan jumlah pekerja buruh yang dimohonkan penangguhan.
f. Perkembangan produksi dan pemasaran untuk dua tahun terakhir, serta rencana produksi dan pemasaran untuk dua tahun yang akan datang, Pasal 4 ayat (1) Kemenakertrans Nomor 231/MEN/2003.
IV. Kesimpulan.
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, maka lembaga penangguhan upah minimum adalah wajar dan beralasan, dan apabila dikaitkan dengan Perkara Nomor 61/PUU-VIII/2010 menurut Pemerintah, ketentuan ini adalah dalam rangka memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk memenuhi kewajiban membayar upah sesuai dengan kemampuan pada periode tertentu atau kurun waktu tertentu, vide Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 61/PUU-VIII/2010 halaman 33.
Dengan demikian, Ketentuan Pasal 90 ayat (2) Undang-Undang Ketenagakerjaan ditujukan dalam rangka menjembatani perusahaan dengan pekerja buruh, sehingga mampu memberikan kesinambungan, keseimbangan, dan perlindungan, baik terhadap pekerja buruh maupun perusahaan.
V. Petitum
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, Pemerintah memohon kepada Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia yang memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dapat memberikan putusan sebagai berikut.
1. Menyatakan bahwa Para Pemohon tidak mempunyai kedudukan hukum (legal standing).
2. Menyatakan permohonan Para Pemohon adalah nebis in idem dengan Putusan Perkara Nomor 61/PUU-VIII/2010 tanggal 14 November 2011.
3. Menolak permohonan pengujian Para Pemohon seluruhnya atau setidak-tidaknya menyatakan permohonan pengujian Para Pemohon tidak dapat diterima, niet ontvankelijk verklaard.
4. Menerima keterangan Pemerintah secara keseluruhan.
5. Menyatakan ketentuan Pasal 90 ayat (2) dan penjelasannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan tidak bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Tahun 1945.
Atas perhatian Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia diucapkan terima kasih.
Jakarta, Juli 2015. Hormat kami, Kuasa hukum Presiden Republik Indonesia, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna H. Laoly, Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri.
Terima kasih, wassalamualaikum wr. wb. 11. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Waalaikumsalam. Terima kasih, Ibu.
Berikutnya, saya persilakan, apa ada yang mau dimintakan klarifikasi dan pendalaman dari Hakim? Enggak ada, cukup ya? Cukup.
Baik, sebelum saya akhiri persidangan ini. Saya menanyakan kepada Pemohon, apakah akan mengajukan Ahli atau Saksi dalam perkara ini?
12. KUASA HUKUM PEMOHON: PELIKSON SILITONGA
Terima kasih, Yang Mulia. Sebelum kami mengajukan saksi dan ahli, ada yang perlu kami klarifikasi dari permohonan kami, yaitu menyangkut soal pasal yang … batu uji yang kami cantumkan. Karena di dalam perbaikan kami tanggal 29 itu, yang diuji adalah Pasal 28D ayat (2), ayat (1)-nya tidak ikut.
13. KETUA: ARIEF HIDAYAT Oh, baik, ya.
14. KUASA HUKUM PEMOHON: PELIKSON SILITONGA
Yang kedua, kami akan mengajukan saksi dan ahli. Ahli ada 1 orang.
15. KETUA: ARIEF HIDAYAT Satu ahli, he em.
16. KUASA HUKUM PEMOHON: PELIKSON SILITONGA Dan saksi fakta itu 2 orang, Yang Mulia.
17. KETUA: ARIEF HIDAYAT 2 orang saksi ya?
18. KUASA HUKUM PEMOHON: PELIKSON SILITONGA Terima kasih, Yang Mulia.
19. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Kalau begitu, nanti 1 ahli dan 2 faktanya nanti diajukan ke persidangan yang akan datang, ya. Baik, persidangan yang akan datang akan diadakan pada hari Rabu, 12 Agustus 2015 pada pukul 11.00 WIB. Dengan agenda untuk mendengarkan keterangan DPR dan keterangan ahli dan saksi dari Pemohon.
Ya, baik. Ada lagi yang akan dikemukakan? Cukup? Cukup. Dari Pemerintah cukup? Baik. Sidang selesai dan ditutup.
Jakarta, 30 Juli 2015
Kepala Sub Bagian Risalah, t.t.d
Rudy Heryanto
NIP. 19730601 200604 1 004
SIDANG DITUTUP PUKUL 14.40WIB
KETUK PALU 3X