BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Setelah seseorang pasien dengan suatu masalah kesihatan telah siap dievaluasi dan diagnosis telah dicapai, dokter biasanya akan memilih salah satu pendekatan terapeutik yang sesuai bagi pasien tersebut. Medikasi, pembedahan, perawatan psikologis, radiasi, terapi fisik, edukasi kesehatan, konseling, konsultasi lebih lanjut atau tidak ada terapi sama sekali merupakan pilihan yang tersedia. Di antara banyak pilihan yang tersedia, terapi dengan menggunakan obat-obatan merupakan pilihan yang sering digunakan oleh para dokter (Katzung dan Lofholm, 2007). Obat merupakan semua bahan tunggal atau campuran yang digunakan oleh semua makhluk (manusia atau hewan) untuk bagian dalam maupun bagian luar, guna mencegah, meringankan, ataupun menyembuhkan penyakit (Syamsuni, 2007). Dalam kebanyakan kasus, pemberian obat-obatan kepada pasien memerlukan penulisan resep dari dokter (Katzung dan Lofholm, 2007).
Setiap negara mempunyai ketentuan sendiri tentang informasi apa yang harus tercantum dalam sebuah resep, juga memiliki perundangan sendiri mengenai obat mana yang harus diperoleh dengan resep dan siapa yang menulis resepnya. Tidak ada sistem baku yang sama di seluruh dunia tentang menulis resep obat karena setiap negara punya pengaturannya sendiri. Yang paling penting
adalah resep tersebut harus ditulis dengan jelas. Resep harus mudah dibaca dan mengungkapkan dengan jelas apa yang harus diberikan (De Vries et al., 1998). Penulisan resep yang baik dan benar mempunyai pengaruh yang kuat terhadap keberkesanan terapi obat-obatan dan kesihatan pasien itu sendiri (Ansari dan Neupane, 2009).
Kesalahan dalam penulisan resep dapat dikategorikan kepada beberapa jenis berdasarkan tinjauan literatur sebelumnya yang dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan sekurang-kurangnya satu dari hal yang berikut: (1) interaksi obat; (2) dosis yang salah; (3) formulasi atau tatanama yang salah; (4) cara pemakaian obat yang tidak sesuai; (5) frekuensi pemakaian yang tidak tepat; (6) duplikasi medikasi; (7) obat yang tidak dululuskan; (8) arahan yang sukar untuk dibaca (Bobb et al., 2004).
Dalam satu penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Universitas Ribat di Sudan diperoleh bahwa dari 1000 resep yang dipilih secara acak hasil dari tulisan 46 orang dokter, sebanyak 18.8% resep yang nama lengkap pasiennya tertulis, 6,7% dari resep mengandungi nama dokter, 59,7% tidak memiliki jumlah obat, 25,7% tidak memiliki durasi pengobatan dan 15,8% sulit untuk dibaca (Yousif et al, 2006).
Di Nepal, suatu penelitian yang dilakukan oleh Ansari M dan Neupane D di Nobel Medical College & Teaching Hospital di Biratnagar, Nepal menyatakan bahwa dari 268 resep yang dikumpul secara acak, ditemui kesalahan dalam penulisan resep dari segi nama dokter (85,4%), kualifikasi dokter (99,6%), nomor registrasi dokter (99,6%), dan paraf dokter (15,7%). Hal yang sama juga berlaku dengan tiadanya simbol Rx sebanyak 66,8%. Tidak adanya pernyataan tentang bentuk sediaan obat sebanyak 12%, jumlah obat sebanyak 60%, dosis obat sebanyak 19%, frekuensi obat sebanyak 10%, dan cara pemakaian obat sebanyak 63%. Tidak adanya kekuatan obat ditemui sebanyak 40%. Penggunaan singkatan yang tidak sah terdapat sebanyak 0,25% dan sebanyak 0,63% tulisan tidak dapat dibaca ( Ansari dan Neupane, 2009).
Sementara di Indonesia pula, suatu penelitian yang dilakukan terhadap resep untuk anak-anak di 2 rumah sakit (RS I: n= 315, RS II: n=1051) dan 10
apotek (n=612) di Yogyakarta oleh Titien Siwi Hartayu dan Aris Widayati mulai September 2004 sehingga Disember 2005 menunjukkan bahwa frekuensi tertinggi ketidaklengkapan resep adalah tidak tercantumnya berat badan (RS I: 65,71%; RS II: 100%; Apotek: 98,53%) dan umur pasien (RS I: 49,84%; RS II: 100%; Apotek: 14,05%). Di RS I: 98,73% tidak terdapat nama orang-tua dan 63,17% tidak ada alamatnya, di RS II: 100,00% tidak ada nama orang-tua maupun alamat, sedangkan di apotek 100,00% tidak ada nama orang-tua dan 81,70% tidak ada alamat pasien. Pada penelitian ditemukan resep di apotek tanpa nama pasien (2,12%) dan penyerahan obat hanya berdasarkan nomor urut yang diberikan apotek. Pada penelitian ini juga ditemukan adanya resep tanpa kekuatan obat (RS I: 3,81%, RS II: 5,80%, Apotek: 48,04 %). Resep tanpa jumlah obat pula ditemui baik di apotek (3,59%) maupun di rumah sakit (RS I; 0,95% dan RS II 0,19%). Resep tanpa signatura pula ditemuka n baik di rumah sakit (RS I: 0,63% dan RS II: 0,38%) maupun di apotek (3,76%). Adanya resep yang tidak mencantumkan petunjuk bentuk sediaan yang diminta yaitu RS I sebanyak 6,67%; RS II sebanyak 61,94% dan apotek sebanyak 22,71%.
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara telah mengadakan perobahan kurikulum pendidikan kedokteran daripada Kurikulum Berbasis Inti (Content Based Curriculum) kepada Kurikulum Berbasis Kompetensi (Competency Based Curriculum) yang dimulai sejak tahun akademik 2006/2007 bagi menyahut pembaharuan konsep kurikulum pendidikan tinggi yang dituangkan dalam Kepmendiknas No. 232/U/2000 dan No. 045/U/2002, yang mengacu kepada konsep pendidikan tinggi abad XXI UNESCO. Jumlah satuan kredit semester (SKS) tetap tidak mengalami perobahan, di mana kedua-dua kurikulum menetapkan bahwa mahasiswa harus mengumpulkan sebanyak 144 SKS sebelum berpindah dari Pendidikan Sarjana Kedokteran ke Pendidikan Profesi Kedokteran (Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, 2010). Namun pada kurikulum yang lama, perkiraan besarnya SKS sebuah mata kuliah lebih banyak ditetapkan atas dasar pengalaman dan terutama menyangkut banyaknya bahan kajian yang harus disampaikan. Dalam kata lain, selain SKS hanya terkait dengan waktu, kurikulum yang dilaksanakan adalah kurikulum
berbasis isi (KBI), di mana kegiatannya lebih banyak berupa kuliah atau ceramah (TCL) menyebabkan besarnya SKS suatu mata kuliah sepertinya menjadi hak dosen, yaitu berdasar pada materi yang ia kuasai dan yang harus ia ajarkan. Dengan paradigma KBK, maka seharusnyalah SKS terkait dengan kompetensi yang harus dicapai yang mana SKS di sini merujuk pada waktu yang dibutuhkan oleh mahasiswa untuk mencapai kompetensi tertentu, dengan melalui suatu bentuk pembelajaran dan bahan kajian tertentu (Direktorat Akademik, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2008).
Kurikulum yang baru ini dilakukan dengan pendekatan sistem blok, di mana dalam satu semester dilaksanakan 2-3 blok utama dan 1-3 blok pendukung atau non blok, yang berbeda dengan KBI yang menerapkan sistem semester. Waktu yang dibutuhkan untuk mahasiswa sistem KBK bagi menyelesaikan program pendidikan sarjana kedokteran adalah lebih pendek berbanding mahasiswa sistem KBI, yaitu hanya selama 7 semester, namun bagi mahasiswa sistem KBI, dibutuhkan waktu selama 8 semester (Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, 2010).
Menurut Kwartolo Y (2002), terdapat beberapa implikasi yang terjadi hasil dari penerapan kurikulum berbasis kompetensi ini, di antaranya adalah (1) jumlah jam berkurang, karena KBK bercirikan pada substansi pelajaran yang sedikit namun mendalam. Ada pengurangan di sana sini atau perampingan materi yang didasarkan pada asas dan manfaat tertentu sahaja yang diyakini akan menunjang pencapaian kompetensi yang diharapkan. (2) tema sajian terpadu, karena ianya bersifat komprehensif dan berkesinambungan. Antara materi yang satu dengan yang lain ada keterpaduan sehingga lebih bermakna. (3) penilaian berbasis kompetensi, yang mana penilaian didasarkan pada kompetensi yang didasarkan pada kompetensi yang dikuasai siswa sesuai dengan jenis dan jenjang pendidikannya. (4) guru berbasis kompetensi, yang mana dengan penerapan KBK ini maka terdapat tuntutan agar guru terus mengasah kompetensinya.
Berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan berdasarkan penelitian yang terdahulu dan kenyataan yang telah disebutkan di atas, jelas bahwa masih terdapat kesalahan dalam penulisan resep di kalangan dokter serta apoteker baik
dari segi tulisannya atau dalam segi mempraktikkan format menulis resep dengan tepat. Atas alasan ini, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang perbandingan tingkat pengetahuan mahasiswa FK USU sistem KBK dan sistem non-KBK yang sedang menjalani kepaniteraan klinik di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik mengenai penulisan resep yang baik dan benar. Hal ini adalah penting karena mereka merupakan calon dokter yang akan mempraktikkan ilmu dan keterampilan yang telah dipelajari dalam usaha untuk menyembuhkan pasien.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, masalah-masalah yang ingin digali di dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimanakah perbandingan tingkat pengetahuan antara mahasiswa FK USU sistem KBK dan non-KBK yang sedang menjalani kepaniteraan klinik di RSUP Haji Adam Malik mengenai penulisan resep yang baik dan benar?
1.1. Tujuan Penelitian 1.1.1. Tujuan Umum
Untuk membandingkan tingkat penguasaan antara mahasiswa FK USU sistem KBK dan non-KBK yang sedang menjalani kepaniteraan klinik di RSUP Haji Adam Malik mengenai penulisan resep secara baik dan benar.
1.1.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui penguasaan mahasiswa FK USU sistem KBK yang sedang menjalani kepaniteraan klinik di RSUP Haji Adam Malik mengenai cara penulisan resep yang baik dan benar.
2. Untuk mengetahui penguasaan mahasiswa FK USU sistem non-KBK yang sedang menjalani kepaniteraan klinik di RSUP Haji Adam Malik mengenai cara penulisan resep yang baik dan benar.
1.2. Manfaat Penelitian
1. Memberikan masukan informasi bagi Unit Farmakologi FK USU mengenai tingkat pengetahuan dan kemampuan sebenar mahasiswa FK USU yang sedang menjalani kepaniteraan klinik di RSUP Haji Adam Malik dalam memahami penulisan resep secara baik dan benar.
2. Dari segi pendidikan kedokteran, diharapkan hasil penemuan ini dapat dijadikan sumber informasi dan pendidikan bagi mahasiswa FK USU yang akan menjalani kepaniteraan klinik untuk memperbaiki penulisan resep bagi mencegah terjadinya kesalahan dalam peresepan karena pada hasil penelitian akan dinyatakan peratus kesalahan yang dapat dikesan pada resep hasil tulisan tangan mahasiswa.
3. Sebagai sumber rujukan data dan informasi bagi peneliti yang ingin membuat penelitian lanjut tentang penulisan resep.
4. Dapat meningkatkan pengetahuan peneliti tentang Kajian Tulis Ilmiah yang dilakukan.