• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK. Kata kunci : CD4, HIV, obat antiretroviral Kepustakaan : 15 ( )

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ABSTRAK. Kata kunci : CD4, HIV, obat antiretroviral Kepustakaan : 15 ( )"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN KADAR CD4 SEBELUM DAN SESUDAH PENGGUNAAN

ANTI RETROVIRAL TERAPI PADA PENDERITA HIV DI WILAYAH

KERJA PUSKESMAS KAHURIPAN KECAMATAN TAWANG

KOTA TASIKMALAYA TAHUN 2014

Prayitno) Hidayanti2)

Program Studi Fakultas Ilmu kesehatan Siliwangi Universitas Tasikmalaya

Jl. Siliwangi No. 24 Kotak Pos 164 Tlp (0265) 330634 Tasikmalaya 46115 e-mail: [email protected]

ABSTRAK

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat jumlah penderita HIV-AIDS di seluruh dunia meningkat jumlahnya hingga mencapai 5,2 juta jiwa. AIDS telah merupakan penyebab kematian nomor 4 di dunia setelah penyakit jantung, hipertensi atau stroke, dan infeksi saluran pernapasan. Kombinasi antiretroviral merupakan dasar penatalaksanaan pemberian antiretroviral terhadap pasien HIV/AIDS, karena dapat mengurangi resistensi, menekan replikasi HIV secara efektif sehingga penularan, infeksi oportunistik dan komplikasi lainnya dapat dihindari serta meningkatkan kualitas dan harapan hidup dari pasien HIV/AIDS. Tujuan penelitian ini adalah untuk perbedaan kadar CD4 sebelum dan sesudah penggunaan anti retroviral therapy pada penderita HIV di Wilayah Kerja Puskesmas Kahuripan Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya tahun 2014. Metode penelitian ini eksperimen dengan rancangan One Group Pretest-Postest. Analisa data menggunakan uji t berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata CD4 pada penderita HIV/AIDS sebelum diberikan terapi Antiretroviral di Wilayah Kerja Puskesmas Kahuripan Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya sebesar 144 sel/l, sedangkan setelah terapi sebesar 274,4 sel/l. Ada perbedaan CD4 pada penderita HIV/AIDS sebelum dan sesudah diberikan terapi Antiretroviral di Wilayah Kerja Puskesmas Kahuripan Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya dengan nilai p sebesar 0,000. Perlu penelitian lebih luas di beberapa rumah sakit dengan jumlah pasien lebih banyak, untuk menilai keamanan dan efikasi kombinasi obat antiretroviral mengingat obat-obat ini harus diberikan seumur hidup, sehingga profil keamanan menjadi penting selain profil efikasinya.

Kata kunci : CD4, HIV, obat antiretroviral Kepustakaan : 15 (2002-2011)

(2)

LATAR BELAKANG MASALAH

HIV-AIDS telah melanda dunia, tidak terkecuali Indonesia. Secara nasional kejadian HIV-AIDS di Indonesia mungkin masih tergolong rendah dibandingkan dengan banyak negara lainnya. Perkembangan kasus yang muncul dalam beberapa tahun terakhir ini sungguh sangat mengkhawatirkan, data Kemenkes tahun 2011 didapatkan jumlah kumulatif kasus HIV dari tahun 1987 sampai tahun 2011 adalah 26.483 dan terdapat kasus baru pada tahun 2011 sebanyak 2.352 kasus. Sebanyak 78% diantaranya berusia reproduksi aktif yaitu 20-39 tahun (Kemenkes, 2011).

Jawa Barat merupakan salah satu provinsi setelah Papua yang memiliki HIV-AIDS terbanyak dengan jumlah ODHA sebanyak 23.413. Faktor penularan terbanyak melalui penasun 70,03%, heteroseksual 21,02%, perinatal 3,47%, homoseksual 2,20%. Kelompok umur terbanyak 20-29 tahun 56,96%, 30-39 tahun 31,35%, 40-49 tahun 4,38%, 1-4 tahun 2,12%. Jumlah perempuan yang tertular HIV/AIDS di provinsi Jawa Barat diperkirakan mencapai 1.548 (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2011).

Kota Tasikmalaya merupakan salah satu kota di Jawa Barat sebagai penyumbang HIV-AIDS. Kasus HIV-AIDS di Kota Tasikmalaya sampai Desember tahun 2011 ini mencapai 209 orang dengan kasus HIV sebanyak 78 orang dan kasus AIDS sebanyak 131 orang. Kasus terbaru ditemukan 67 orang yang terinfeksi HIV-AIDS, di antaranya 14 orang adalah ibu rumah tangga (Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, 2011).

Kombinasi antiretroviral merupakan dasar penatalaksanaan pemberian antiretroviral terhadap pasien HIV/AIDS, karena dapat mengurangi resistensi, menekan replikasi HIV secara efektif sehingga penularan, infeksi oportunistik dan komplikasi lainnya dapat dihindari serta meningkatkan kualitas dan harapan hidup dari pasien HIV/AIDS. Terapi secara dini dapat melindungi sistem kekebalan tubuh dari kerusakan oleh HIV. Kerusakan kekebalan dialami sebagai jumlah Cluster of Differentiation 4 (CD4) yang lebih rendah dan viral load (VL) yang lebih tinggi (Mc Evoy, 2004).

Saat yang paling tepat untuk memulai pengobatan dengan antiretroviral (ARV) adalah sebelum pasien jatuh sakit atau munculnya infeksi oportunistik (IO) yang pertama. Perkembangan penyakit akan lebih cepat apabila terapi ARV dimulai saat CD4 < 200 sel/ mm3 dibandingkan bila terapi dimulai pada CD4 di

(3)

atas jumlah tersebut (WHO, 2004). Pedoman WHO tahun 2008 merekomendasikan ARV diberikan jika CD4 kurang dari 350 sel/ mm3.

Studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada bulan Januari tahun 2014 di Wilayah Kerja Puskesmas Kahuripan Kota Tasikmalaya diperoleh bahwa sebanyak 11 orang klien baru yang didiagnosa mengalami HIV/AIDS.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian eksperimen. Rancangan penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan rancangan One Group Pretest-Postest

.

HASIL PENELITIAN

1. Karakteristik Responden

Karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi : jenis kelamin, status perkawinan, status pekerjaan, dan umur responden semenjak terjangkit penyakit HIV/AIDS dan mendapatkan perawatan dengan pemberian obat ARV, berikut umur penderita HIV/AIDS dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

a. Jenis Kelamin Responden

Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut ini :

Tabel 4.2

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Wilayah Kerja Puskesmas Kahuripan Kecamatan Tawang

Kota Tasikmalaya

Jenis Kelamin Frekuensi Persentase

Laki-laki 7 63,6

Perempuan 4 36,4

Jumlah 11 100

Berdasarkan Tabel 4.2 menunjukkan bahwa sebagian besar jenis kelamin yang mengalami HIV/ AIDS di Wilayah Kerja Puskesmas Kahuripan Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya adalah laki-laki yaitu sebanyak 7 orang (63,6%), sedangkan sebagian kecil adalah perempuan yaitu sebanyak 4 orang (36,4%).

(4)

b. Status Perkawinan

Karakteristik responden berdasarkan status perkawinan dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut ini :

Tabel 4.3

Karakteristik Responden Berdasarkan Status Perkawainan di Wilayah Kerja Puskesmas Kahuripan Kecamatan Tawang

Kota Tasikmalaya

Status Perkawinan Frekuensi Persentase

Menikah 8 72,7

Belum Menikah 3 27,3

Jumlah 11 100

Berdasarkan Tabel 4.3 menunjukkan bahwa sebagian besar status perkawiinan yang mengalami HIV/ AIDS di Wilayah Kerja Puskesmas Kahuripan Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya adalah menikah yaitu sebanyak 8 orang (72,7%), sedangkan sebagian kecil adalah belum menikah yaitu sebanyak 3 orang (27,3%).

c. Status Pekerjaan

Karakteristik responden berdasarkan status pekerjaan dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut ini :

Tabel 4.4

Karakteristik Responden Berdasarkan Status Pekerjaan di Wilayah Kerja Puskesmas Kahuripan Kecamatan Tawang

Kota Tasikmalaya

Status Pekerjaan Frekuensi Persentase

Bekerja 6 54,5

Tidak bekerja 5 45,5

Jumlah 11 100

Berdasarkan Tabel 4.4 menunjukkan bahwa sebagian besar status pekerjaan yang mengalami HIV/ AIDS di Wilayah Kerja Puskesmas Kahuripan Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya adalah bekerja yaitu sebanyak 6 orang (54,5%), sedangkan sebagian kecil adalah tidak bekerja yaitu sebanyak 5 orang (45,5%).

(5)

d. Umur Responden

Karakteristik responden berdasarkan umur responden semenjak terjangkit penyakit HID/AIDS dan mendapatkan perawatan dengan pemberian obat ARV dapat dilihat pada Tabel 4.5 berikut ini :

Tabel 4.5

Karakteristik Responden Berdasarkan Umur di Wilayah Kerja Puskesmas Kahuripan Kecamatan Tawang

Kota Tasikmalaya

Nilai Statistik Nilai

Mean 32,1

SD 5,6

Minimal 22

Maksimal 40

Berdasarkan Tabel 4.5 menunjukkan bahwa rata-rata umur responden penderita HIV/AIDS adalah 32,1 tahun, standar deviasi sebesar 5,6, dengan umur minimum 22 tahun dan umur maksimum 40 tahun.

2. Analisis Univariat

Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan variabel-variabel penelitian, dalam penelitian ini adalah kadar CD4 sebelum dan sesudah diberikan obat ARV. Berikut hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.6 berikut ini :

Tabel 4.6

Kadar CD4 Sebelum dan Sesudah Terapi Antiretroviral pada Penderita HIV/AIDS Di Wilayah Kerja Puskesmas Kahuripan

Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya

No Resp Sebelum (sel/l) Sesudah (sel/l) 1 151 266 2 103 293 3 174 292 4 176 310 5 179 234 6 165 251 7 119 233

(6)

8 146 273

9 120 294

10 121 293

11 130 279

Berdasarkan Tabel 4.6 menunjukkan bahwa kadar CD4 paling rendah pada penderita HIV/AIDS sebelum diberikan terapi ARV sebesar 103 sel /l, sedangkan kadar CD4 paling tinggi sebesar 179 sel/l. Kadar CD4 paling rendah pada penderita HIV/AIDS setelah diberikan terapi ARV sebesar 233 sel/l, sedangkan kadar CD4 paling tinggi sebesar 310 sel/l.

Berikut rata-rata peningkatan kadar CD4 sebelum dan sesudah diberikan terapi ARV dapat dilihat pada Tabel 4.7 berikut ini :

Tabel 4.7

Rata-rata Kadar CD4 sebelum dan sesudah Terapi ARV pada Penderita HIV/AIDS di Wilayah Kerja Puskesmas Kahuripan

Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya

Status Nilai Sebelum Sesudah Mean 114 274,4 SD 26,9 25,8 Minimal 103 233 Maksimal 179 310

Berdasarkan Tabel 4.7 menunjukkan bahwa rata-rata kadar CD4 sebelum terapi ARV sebesar 114 sel/l, sedangkan sesudah diberikan terapi ARV sebesar 274,4 sel/l. Nilai minimal kadar CD4 pada penderita HIV/AIDS sebelum diberikan terapi ARV sebesar 103 sel/l dan nilai maksimal sebesar sel/l, sedangkan setelah diberikan terapi ARV nilai minimal sebesar 233 sel/l dan nilai maksimal sebesar 310 sel/l. Berdasarkan hasil tersebut dapat dibuat diagram sebagai berikut :

(7)

0 50 100 150 200 250 300 350 CD4 Sebelum CD4 Sesudah Grafik 4.1.

Rata-rata Kadar CD4 Sebelum dan Sesudah Terapi ARV pada Penderita HIV/AIDS di Wilayah Kerja Puskesmas Kahuripan

Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya 3. Perbedaan Kadar CD4 Sebelum dan Sesudah Terapi ARV

Hasil penelitian mengenai perbedaan CD4 pada penderita HIV/AIDS sebelum dan sesudah terapi ARV dapat dilihat pada Tabel 4.7 berikut ini :

Tabel 4.8

Perbedaan Kadar CD4 Penderita HIV/AIDS Sebelum dan Sesudah Terapi ARV di Wilayah Kerja Puskesmas Kahuripan Kecamatan Tawang

Kota Tasikmalaya

Perlakuan

Rata-rata SD t hitung t tabel Df Sig

Kadar CD4 sebelum pemberian ARV 144 26,9 17,68 2,262 10 0,000 Kadar CD 4 setelah pemberian ARV 274,4 25,8 35,25 2,262 10 0,000

Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji t-test diperoleh bahwa nilai signifikan hitung untuk kadar CD4 sebelum pemberian ARV sebesar 0,000 dan nilai thitung sebesar 17,68, sedangkan nilai thitung untuk

kadar CD4 setelah pemberian ARV sebesar 35,25. Jika nilai hitung kadar CD4 sebelum pemberian ARV dibandingkan dengan kadar CD4 setelah

(8)

pemberian ARV, maka nilai thitung setelah pemberian ARV lebih besar

dibandingkan dengan nilai thitung sebelum pemberian ARV (35,25 > 17,68),

artinya bahwa ada perbedaan CD4 pada penderita HIV/AIDS di Wilayah Kerja Puskesmas Kahuripan Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan kadar CD4 pada penderita HIV/AIDS sebelum dan sesudah dilakukan terapi obat antiretroviral (ARV). Hal ini disebabkan karena pemberian terapi ARV dapat meningkatkan jumlah CD4 pada penderita HIV/AIDS. Antiretroviral (ARV) adalah obat yang menghambat replikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV) (DepKes, 2006). Pengobatan infeksi HIV dengan antiretroviral digunakan untuk memelihara fungsi kekebalan tubuh mendekati keadaan normal, mencegah perkembangan penyakit, memperpanjang harapan hidup dan memelihara kualitas hidup dengan cara menghambat replikasi virus HIV. Karena replikasi aktif HIV menyebabkan kerusakan progresif sistem imun, menyebabkan berkembangnya infeksi oportunistik, keganasan (malignasi), penyakit neurologi, penurunan berat badan yang akhirnya mendorong ke arah kematian (Schifitto dkk, 2002; Simpson dkk, 2006; Nasronudin, 2007).

Respon virologi dan imunologi terhadap Highly Active Antiretroviral

Therapy (HAART) tergantung dari VL dan jumlah CD4. Semakin tinggi CD4 Odha

(orang dengan HIV AIDS) ketika memulai pengobatan HIV semakin tinggi jumlah CD4 mereka (Evans, 2007). Pasien yang memulai terapi dengan jumlah CD4 kurang dari 200 cel/mm3 hampir mendekati dua kali (HR:1,9) kegagalan pengobatan dibandingkan dengan pasien yang memulai terapi dengan CD4 lebih dari 200 cel/mm3 (Robbin, 2007). Dimana respon yang cukup dari pasien yang mendapat terapi ARV didefinisikan sebagai peningkatan CD4 antara 50-150 sel/mm3, dengan respon cepat pada 3 bulan pertama pengobatan (WHO,2009). Menurut Hughes (2007) pasien yang terinfeksi HIV yang diberi obat ARV saat CD4-nya kurang dari 350 sel/mm3 lebih cepat meningkat CD4-nya hingga di atas 500 sel/mm3. Jika CD4 pasien bisa bertahan di atas 500 sel/mm3 selama lebih dari lima tahun, kemampuannya bertahan hidup hampir sama dengan orang yang tidak terinfeksi HIV.

(9)

Sampai saat ini belum ada informasi kombinasi obat antiretroviral mana yang paling baik (Burnet, 2005). Penelitian yang membandingkan efektifitas kombinasi ARV terhadap peningkatan CD4 telah dilakukan oleh Rahmadini (2006), secara retrospektif di RS Kanker Darmais Jakarta dengan pemeriksaan CD4 bervariasi selama 6-12 bulan, menyatakan bahwa kombinasi Stavudin + Zidovudin + Nevirapin meningkatkan CD4 rata-rata lebih tinggi dibanding dengan tiga kombinasi lainnya ( Lamivudin + Zidovudin + Nevirapin, Lamivudin + Zidovudin + Efavirenz dan Stavudin + Zidovudin + Efavirenz). Untuk memperoleh informasi yang lebih terpercaya mengenai kombinasi ARV mana yang mempengaruhi kenaikan CD4 lebih tinggi pada pasien HIV, diperlukan penelitian lebih luas di beberapa rumah sakit, terutama rumah sakit rujukan untuk terapi HIV.

Terapi tunggal ARV menyebabkan kemunculan cepat mutan HIV yang resisten terhadap obat. Kombinasi obat antiretroviral merupakan strategi yang menjanjikan secara klinik, ditunjuk sebagai terapi antiretroviral yang sangat aktif (HAART). Kombinasi ini mempunyai target multi langkah pada reflikasi virus sehingga memperlambat seleksi mutan HIV. Tetapi HAART tidak dapat menyembuhkan infeksi HIV, karena virus menetap pada reservoir yang berumur panjang pada sel-sel yang terinfeksi, termasuk sel T CD4 memori, sehingga ketika HAART dihentikan atau terdapat kegagalan terapi , produksi virus kembali meningkat (Jawetz, 2005).

Saat yang paling tepat untuk memulai terapi ARV adalah sebelum pasien jatuh sakit atau munculnya IO yang pertama. Perkembangan penyakit akan lebih cepat apabila terapi ARV dimulai pada saat CD4 < 200 sel/mm3 dibandingkan bila terapi dimulai pada CD4 di atas jumlah tersebut. Apabila tersedia sarana tes CD4 maka terapi ARV sebaiknya dimulai sebelum CD4 kurang dari 200 sel/mm3Terapi ARV dianjurkan pada pasien dengan TB paru atau infeksi bakterial berat dan CD4 < 350 sel/mm3. Juga pada ibu hamil stadium klinis manapun dengan CD4 < 350 sel/mm3 (Depkes, 2007).

Keberhasilan terapi ARV selain ditentukan oleh perbaikan imunitas berdasarkan penilaian kenaikan CD4 juga ditentukan berdasarkan respon virologis berdasarkan pemeriksaan viral load. WHO menyatakan bahwa tujuan utama dari terapi ARV adalah penekanan virus sampai ditemukan dibawah batas (40-75 kopi/ml). Pada banyak pasien yang patuh terhadap pengobatan ARV dan

(10)

tidak terjadi resistensi, umumnya virus berhasil ditekan pada 12-24 minggu, walaupun pada beberapa pasien memerlukan waktu yang lebih lama.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmadini tahun 2006, secara retrospektif di RS Kanker Darmais Jakarta dengan jumlah pasien 198 dan pemeriksaan CD4 bervariasi selama 6-12 bulan, menyatakan bahwa terdapat perbedaan bermakna dari keempat kombinasi ARV terhadap kenaikan CD4 rata-rata pasien. Kombinasi 3TC+d4T+NVP meningkatkan CD4 rata-rata lebih tinggi dibanding dengan tiga kombinasi lainnya (3TC+AZT+NVP, 3TC+AZT+EFV dan 3TC+d4T+EFV). Perbedaan hasil penelitian ini dapat disebabkan karena perbedaan jumlah pasien yang dianalisis dan perbedaan waktu pengukuran CD4. Pada hasil penelitian ini sampel yang diuji lebih sedikit (n=73 pasien), dan waktu pemeriksaan CD4 lebih cepat dengan rentang waktu pengukuran relatif sama yaitu antara 3 sampai 4 bulan, sehingga jumlah obat ARV yang digunakan pasien dari tiap kombinasi ARV relatif sama.

SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Rata-rata CD4 pada penderita HIV/AIDS sebelum diberikan terapi Antiretroviral di Wilayah Kerja Puskesmas Kahuripan Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya sebesar 144 sel/l.

2. Rata-rata CD4 pada penderita HIV/AIDS setelah diberikan terapi Antiretroviral di Wilayah Kerja Puskesmas Kahuripan Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya sebesar 274,4 sel/l.

3. Ada perbedaan CD4 pada penderita HIV/AIDS sebelum dan sesudah diberikan terapi Antiretroviral di Wilayah Kerja Puskesmas Kahuripan Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya dengan nilai p sebesar 0,000.

B. Saran

1. Perlu penelitian lebih luas di beberapa rumah sakit dengan jumlah pasien lebih banyak, untuk menilai keamanan dan efikasi kombinasi obat

(11)

antiretroviral mengingat obat-obat ini harus diberikan seumur hidup, sehingga profil keamanan menjadi penting selain profil efikasinya.

2. Perlu penelitian lebih lanjut untuk menilai keberhasilan terapi ARV berdasarkan respon virologi berdasarkan pemeriksaan viral load.

3. Peran Farmasis (apoteker) sangat diperlukan untuk memberikan informasi tentang obat, terutama konseling kepatuhan karena keberhasilan terapi ARV sangat ditentukan oleh kepatuhan pasien minum obat.

DAFTAR PUSTAKA

Burnet, 2005 The Leeds assessment of neuropathic pain symtoms and sign, Pain, 92: 147-157

Cherry dkk, 2009. Nucleoside analogues and HIV: the combined cost to mitochondria, Journal of Antimicrobial Chemotheraphy, 51: 1091-1093. Depkes, 2007. AIDS dan Penanggulangannya. Jakarta.

Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, 2011 Profil Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya. Tasikmalaya.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2011. Profil Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Bandung.

Evans, 2007 Peripheral neuropathy in HIV: prevalence and risk factors, AIDS, 25:919–928.

Fevrier, 2011. CD4+ T Cell Depletion in Human Imunodefficiency Virus (HIV) Infection: Role of Apoptosis, Viruses, 3: 586-612.

Kemenkes, 2011. Rencana Strategis Kementrian Kesehatan Tahun 2010-2014. Jakarta.

Kresno, 2001. Uji Serologi Infeksi HIV. Imunologi : Diagnosis dan Prosedur

Laboratorium, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. pp.369-377.

Li dkk, 2011 CD4+ T-cell counts and plasma HIV-1 RNA levels beyond 5 years of highly active antiretroviral therapy (HAART), J Acquir Immune Defic Syndr, 57(5): 421-428.

(12)

Lichtenstein dkk, 2005; Cornblath dan Hoke, 2006. Modification of the Incidence of Drug-Associated Symmetrical Peripheral Neuropathy by Host and Disease Factors in the HIV Outpatient Study Cohort, Clinical Infectious Diseases, 40:148–57.

Nasronudin, 2007. Dasar Virologi dan Infeksi HIV, Dalam: Barakbah, J.,Soewandojo, E., Suharto, Hadi, U., Astuti, W.D., (editor), HIV dan AIDS: Pendekatan Biologi Molekuler, Klinis dan Sosial, Airlangga University Press,Surabaya, pp. 1-9.

Schifitto dkk, 2002; Simpson dkk, 2006; Nasronudin, 2007

Steven, 2009 MDGs. http://www.wikipedia.org. Diakses tanggal 14 April 2012. Syahlan dkk. 2007. Seksualitas Anak dan Remaja. Grasindo. Semarang.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut bahwa terdapat 64,29% krim pemutih yang diperoleh dari Minimarket Wilayah

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan bahan yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang manajemen pemasaran yang berkaitan dengan media sosial

Di Tana Toraja, Jumlah angkatan kerja berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional tahun 2015 sebanyak 126.148 orang atau sekitar 82,79 persen dari penduduk usia kerja (15

Penelitian ini menunjukkan bahwa sorbitol merupakan sumber karbon tambahan yang bersifat non-represif, yaitu dapat meningkatkan pertumbuhan dan tidak menghambat ekspresi

Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Tahun 2015-2019 ini disusun dengan maksud agar tersedianya dokumen panduan dan

DAFTAR PERATURAN PERUNDANG - UNDANGAN Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Staatsblad Tahun 1847 Nomor 23 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan

Berdasarkan permasalahan yang ada pada latar belakang masalah kiranya menjadi masalah inti adalah kurangnya motifasi dan minat belajar siswa di SMA Negeri 2

Diawal dijelaskan bahwa teknologi ZigBee hadir karena tidak adanya standar yang mengakomodasi kebutuhan khusus dari sebagian besar aplikasi kontrol dan sebagian