• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Istilah New Normal mungkin saja sudah dari dulu digunakan untuk menjelaskan fenomena perubahan di dunia. LaBarre tahun 2003 mengulas pendapat Roger McNamee, bahwa New Normal selalu akan terjadi di sepanjang kehidupan manusia. Oleh karenanya manusia harus secara sabar belajar dan terus beradaptasi untuk mengembangkan respon yang tepat dalam menghadapi tuntutan perubahan yang terjadi. McNamee menambahkan, pengertian “normal” dari new normal berkaitan dengan skala waktu, dimana manusia akan berupaya mengembangkan perilaku yang sesuai untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik dalam jangka panjang. Sedangkan pengertian “new” dari new normal erat kaitannya dengan perkembangan teknologi. Hal ini misalnya terlihat dari buku yang ditulis Peter Hinssen, The New Normal, yang menggambarkan dampak teknologi digital terhadap perubahan proses dan perilaku bisnis. Rich Miller dan Matthew Benjamin juga menyinggung tentang new normal untuk menjelaskan dampak krisis ekonomi dunia 2007-2008 dan kemudian menjadi populer untuk menjelaskan dampak resesi global dan wabah COVID-19. Di dalam new normal hal-hal yang terkesan tidak normal atau belum menjadi kebiasaan menjadi kenormalan baru akibat situasi-situasi tersebut. Terlepas dari makna dan asal usul istilah new normal, atau kenormalan baru, merupakan keniscayaan bahwa kita sedang mempraktekkan perilaku yang tidak biasa kita lakukan sebelum era COVID-19. Perilaku yang kita praktekkan tersebut tidak hanya berupa respon jangka pendek terhadap wabah COVID-19 tetapi lebih luas lagi merupakan respon adaptif yang berjangka panjang. Apabila mengacu pada konsep new normalnya McNamee, Miller dan Matthew Benjamin, dan Hinssen, konsep new normal yang dirancang pemerintah lebih banyak mencakup perubahan perilaku jangka pendek sebagai respon kedaruratan terhadap wabah COVID-19. Perilaku tersebut berkaitan dengan menjaga jarak fisik, menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, menggunakan hand sanitizer, dan menjaga daya tahan tubuh. (Henndy Ginting, 2020)

(2)

Kewirausahaan pertama kali muncul pada abad 18 diawali dengan penemuan- penemuan baru seperti mesin uap, mesin pemintal, dan lain-lain. Tujuan utama mereka adalah pertumbuhan dan perluasan organisasi melalui inovasi dan kreatifitas. Keuntungan dan kekayaan bukan tujuan utama. Secara sederhana arti wirausahawan “entrepreneur” adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan, berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekali pun dalam kondisi tidak pasti (Kasmir, 2007 :18).

Menjadi seorang wirausaha yang handal dipelukan motivasi berwirausaha yang tinggi. Motivasi berwirausaha adalah perhatian, kesenangan, dan kemauan seseorang untuk melakukan kegiatan usaha yang mandiri berdasar pada kemampuan, kekuatan, dan keterampilan yang dimiliki. Motivasi berwirausaha inilah yang akan mengarahkan dan mendorong individu untuk menjalankan dan membangun usahanya sendiri. Dengan motivasi berwirausaha yang tinggi, individu tidak hanya fokus pada keuntungan yang diperoleh melainkan juga pada kepuasan dalam berwirausaha. Namun demikian hal ini masih sangat kurang ditemukan dan diedukasikan pada generasi muda. Hal ini terlihat dari hasil wawancara dengan beberapa orang generasi muda remaja (gen z), dimana mereka jika ditanya lebih memilih untuk bekerja sebagai staf di kantor atau perusahaan. Disisi lain mereka menyadari pendapatan sebagai pegawai tidak mencukupi untuk membiayai kehidupan mereka di masa yang akan datang. Apalagi di masa pandemi dan new normal. Hal ini dikarenakan mereka tidak mendapatkan edukasi, memiliki pengetahuan, dan dorongan untuk memulai suatu usaha. Salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan dan motivasi seseorang yang masih belia adalah melalui pelatihan kewirausahaan muda remaja adalah dengan pendekatan pelatihan atau edukasi melalui kegiatan seminar di kampus. Sebagai suatu disiplin ilmu, maka ilmu kewirausahaan dapat dipelajari dan diajarkan, sehingga setiap individu memiliki peluang untuk tampil sebagai seorang wirausahawan (entrepreneur). Bahkan untuk menjadi wirausahawan sukses, memiliki bakat saja tidak cukup, tetapi juga harus memiliki pengetahuan segala aspek usaha yang akan ditekuninya sejak muda remaja. Pelatihan kewirausahaan yang disesuaikan dengan karakteristik individu diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan motivasi mereka menjadi seorang wirausahawan.

(3)

Fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini sebagian besar para lulusan perguruan tinggi berorientasi masih mencari kerja, bukan menciptakan lapangan kerja (Wijaya, 2007). Hasil survey yang dilakukan Badan Pusat Statistik, menunjukkan makin tinggi tingkat pendidikan, makin rendah kemandirian dan semangat kewirausahaannya. Demikian pula hasil wawancara dan kuesioner Kasmir (2006) kepada sekitar 500 mahasiswa di enam Perguruan Tinggi di Jakarta, menunjukkan sebesar 76 persen memilih menjadi pegawai setelah menjadi sarjana (karyawan), dan hanya sekitar 4% yang memilih berwirausaha. Sarjana di Indonesia masih sangat ketergantungan pada penyedia lapangan pekerjaan seperi perusahaan besar. Seharusnya pola pikir sarjana Indonesia diubah menjadi para penyedia lapangan pekerjaan, seperti memilih untuk berwirausaha untuk mengurangi pengangguran. Kurangnya wirausaha di Indonesia karena tidak adanya motivasi berwirausaha pada diri sarjana-sarjana di Indonesia untuk memilih berwirausaha sebagai tujuan karir.

New normal bukan dalam artian back to normal, namun pemerintah akan menentukan kebijakan yang tepat di waktu yang tepat juga agar bisa kembali beraktivitas lagi meskipun virus ini masih belum berakhir dan diprediksi ada dalam jangka waktu yang panjang, sehingga konsep new normal itu dapat berlaku pada saat dan pasca pandemi berlalu. Penyelesaian PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) pun diharapkan cepat direalisasikan di setiap daerah agar selaras dengan implementasi new normal yang sudah dinanti-nantikan oleh banyak orang (Ningrum, 2020).

Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pemerintah republik indonesia, mendorong generasi milenial untuk menekuni dunia wirausaha. Bagi pemerintah, berani mengambil risiko dengan menjadi wirausahawan merupakan langkah tepat bagi pemuda yang ingin sukses. Kiprah kaum milenial saat ini akan menentukan wajah Indonesia ke depan, termasuk tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik, pada 2020, sekitar 83 juta atau 34 persen dari total penduduk Indonesia adalah milenial, pemerintah juga mengingatkan, dari Gambar1.1 BPS juga mencatat, proporsi anak-anak muda yang menganggur paling banyak lulusan SMA dan perguruan tinggi, masing-masing mencapai 17,4 persen dan 13,1 persen. Ini muncul fenomena pengangguran terdidik di kalangan anak muda harus diantisipasi, salah satunya

(4)

dengan memperbanyak wirausahawan baru, Agar kita bisa memperoleh benefit yang maksimal dari bonus demografi, langkah yang harus kita lakukan adalah kita menjadi Wirausaha dan menciptakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya. Bonus demogafi harus diisi dengan kekuatan jumlah wirausaha (BPS, 2020). Pada Gambar 1.1

Sumber : Data Badan Pusat Statistik 2020-www.bps.go.id

Pemerintah juga menjelaskan, dari tabel 1.1 dijelaskan saat ini tingkat kewirausahaan Indonesia dinilai masih sangat rendah. Berdasarkan data Kementerian Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Jumlah pengusaha di Indonesia baru mencapai 1,65 persen dari jumlah penduduk. Rasio tersebut jauh tertinggal dibanding dengan jumlah pengusaha yang ada di negeri jiran seperti Singapura (7 persen), Malaysia(5 persen), maupun Thailand (3 persen). Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang bahkan memiliki pengusaha lebih dari 10 persen dari jumlah populasi. Sambungnya, Idealnya jumlah pengusaha adalah 2 persen dari total populasi, tetapi untuk mencapai target pendapatan perkapita yang baik diperlukan 6,13 juta pengusaha atau sekitar 2,5 persen dari populasi (Kemenkopukm, 2020)

(5)

Tabel 1.1

Jumlah Pengusaha Di Dunia Berdasarkan Target Pencapaian Perkapita Negara Target (%) dari total

populasi 2020 Indonesia 2.5 1.65 Singapura 2.5 7 Malaysia 2.5 5 Thailand 2.5 3 Amerika Serikat 2.5 10 Jepang 2.5 10 Sumber : https://kemenkopukm.go.id/

Saat ini jumlah wirausaha yang mapan sekitar 4 juta. Oleh karena itu kaum milenial memiliki peran dan fungsi strategis dalam mewujudkan Indonesia yang lebih maju, generasi muda saat ini memiliki karakteristik yang antusias, semangat kompetitif, serta kemampuan beradaptasi yang tinggi dengan perkembangan teknologi sehingga Indonesia siap menghadapi revolusi industri 4.0 dan bisa bersaing secara global. Amin juga mengingatkan agar kaum milenial memperkuat kemampuan atau skill digital. Berdasarkan riset yang dilakukan IDN Research Institute, dalam laporan berjudul “Indonesia Millenial Report 2019”, aktivitas anak muda Indonesia saat ini sangat dipengaruhi dunia digital. Dari kuliner, traveling, hingga mencari kerja dilakukan secara daring, Namun sayangnya, dari 63 juta UMKM di Indonesia, baru 3,97 juta yang menggunakan teknologi, sehingga program seperti ini bisa mendorong sektor tersebut lebih melek digital saat mengembangkan bisnis khususnya dalam hal pemenuhan kebutuhan usaha (sourcing) dan pendanaan (financing).

Pada era new normal saat ini, persaingan dalam dunia bisnis semakin ketat. Hal ini menuntut generasi muda agar bisa lebih terdorong memotivasikan diri untuk berfikir secara kreatif dan inovatif, agar mampu bersaing di pasar dan bisa membantu pemerintah menghadapi bonus demografi saat ini. Oleh karena itu, generasi muda khususnya mahasiswa harus bisa merancang strategi agar bisa memajukan bangsa dengan membuka lapangan pekerjaan.

(6)

Penelitian ini bertujuan untuk menguji kontribusi minat berwirausaha dan self efficacy terhadap kesiapan berwirausaha di era new normal. Seiring dengan perubahan waktu, teknologi yang ada telah semakin berkembang secara pesat hingga saat ini. Teknologi baru seperti internet menjadi titik strategis dalam proses revolusi industri terutama dalam berwirausaha saat ini atau sering disebut sebagai revolusi bisnis secara elektronik atau Electronic-Business. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat berwirausaha dan self efficacy berkontribusi terhadap kesiapan berwirausaha di era new normal.

Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “PENGARUH KEMAMPUAN KREATIVITAS, INOVASI DAN MOTIVASI TERHADAP MINAT USAHA PADA MAHASISWA JURUSAN MANAJEMEN ANGKATAN 2017 UNIVERSITAS PELITA BANGSA DI ERA NEW NORMAL”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan istilah new normal hal-hal yang terkesan tidak normal atau belum menjadi kebiasaan menjadi kenormalan baru akibat situasi-situasi yang mencakup perubahan perilaku jangka pendek sebagai respon kedaruratan terhadap wabah COVID-19 tersebut penyebab yang mempengaruhi Minat Usaha melalui faktor-faktor yaitu Kreatifitas, Inovasi dan Motivasi , maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Apakah kemampuan varibel ( X1) kreatifitas berpengaruh terhadap Variabel (Y)

Minat Berwirausaha pada Mahasiswa ?

2. Apakah pengembangan inovasi varibel ( X2) berpengaruh terhadap Variabel (Y)

Minat Berwirausaha pada Mahasiswa ?

3. Apakah dorongan motivasi varibel ( X3) berpengaruh terhadap Variabel (Y)

(7)

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian karya Ilmiah ini untuk mengetahui pengaruh dari kemampuan kreatifitas, pengembangan inovasi dan dorongan motivasi yang di miliki mahasiswa apakah memiliki pengaruh terhadap minat berwirausaha secara parsial.

1.4 Manfaat Penelitian

Melalui penelitian ini diharapkan dapat diperoleh manfaat sebagai berikut :

1. Manfaat teoritis

Penulis berharap hasil penelitian karya ilmiah ini di harapkan dapat memberikan informasi tambahan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan manajemen dalam bidang kewirausahaan.

2. Manfaat praktis

Penulis berharap hasil penelitian karya ilmiah ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi para pembaca khususnya dalam bidang manajemen kewirausahaan yang berkaitan dengan Minat dalam berwirausaha.

1.5 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi yang akan dilakukan peneliti berdasarkan pada aturan sistematika yang sudah ditetapkan oleh Universitas Pelita Bangsa Fakultas Ekonomi dan Bisnis sehingga dapat diterjemahkan sebagai berikut:

1. Pendahuluan berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

2. Tinjauan Pustaka membahas tentang berbagai teori dan konsep yang berkaitan dengan Minat Usaha, Kemampuan Kreatifitas, Pengembangan Inovasi dan Dorongan Motivasi. Selanjutnya menjelaskan tentang penelitian terdahulu yang relevan dan hipotesis.

(8)

3. Metode Penelitan berisi tentang jenis penelitian & desain penelitian, deskipsi operasional dan pengukuran variable, populasi, sampel, Jenis, sumber dan metode pengumpulan data serta metode analisis data.

4. Hasil Penelitian dan Pembahasan berisi tentang hasil analisis data meliputi uji validasi, uji realibilitas, uji asumsi klasik, uji regresi, dan uji hipotesis, dijelasan pula interprestasi data pembahasan.

Referensi

Dokumen terkait

Yang dimaksud dengan penyesuaian diri pada usia lanjut adalah kemampuan orang yang berusia lanjut untuk menghadapi tekanan atau konflik akibat perubahan-perubahan

Penelitian hukum tidak mengenal istilah data, namun dikenal dengan istilah bahan hukum. Sumber-sumber penelitian hukum dapat dibedakan menjadi sumber-sumber

Hasil dari penelitian mampu menjadi informasi baru bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat Program Sarjana agar memperkaya pengetahuan dan wawasan terkait hubungan

Istilah nilai tambah (vallue added) itu sendiri sebenarnya menggantikan istilah yang ditambahkan pada suatu produk, karena masuknya unsur pengolahan menjadi lebih baik,

Bertujuan dari masalah perubahan kesadaran pada konsumen yang menganggap pakaian sebagai komoditas sekali pakai dan kebiasaan untuk membuang ataupun membakar

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka peneliti tertarik untuk mengangkat situasi yang terjadi pada PT Aston Adhi Jaya tersebut menjadi penelitian yang dapat

Defek aferen absolut adalah istilah yang digunakan bila tidak ada refleks pupil terhadap cahaya pada mata yang buta total.. Penyinaran mata yang normal akan

Perubahan yang terjadi itu sebagai akibat dari kegiatan belajar yang telah dilakukan mahasiswa, perubahan ini adalah hasil yang telah dicapai dari proses belajar,