BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Lamanya kehamilan yang normal adalah 280 hari atau 40 minggu. dihitung dari hari pertama haid yang terakhir (Krisnadi, 2005).

30  Download (0)

Full text

(1)

commit to user 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Teori Medis 1. Kehamilan normal a. Pengertian

Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya kehamilan yang normal adalah 280 hari atau 40 minggu dihitung dari hari pertama haid yang terakhir (Krisnadi, 2005).

b. Tanda-tanda kehamilan

Wiknjosastro (2005) mengatakan bahwa untuk dapat menegakkan diagnosa kehamilan, dapat dilakukan penilaian terhadap beberapa tanda dan gejala kehamilan :

1) Tanda pasti kehamilan

a) Adanya gerakan janin dalam rahim dan teraba bagian kecil janin b) Denyut jantung janin bisa didengar dengan Laenec atau alat

Doppler dan dapat dilihat dengan ultrasonografi.

c) Pemeriksaan dengan alat canggih, yaitu rontgen untuk melihat kerangka janin .

2) Tanda Bahaya Kehamilan

Salmah (2006) menambahkan bahwa tanda bahaya pada masa kehamilan perlu diketahui oleh pasien terutama yang mengancam keselamatan ibu maupun janin yang dikandungnya. Sesuai dengan program di puskesmas, minimal yang perlu diketahui tentang tanda

(2)

commit to user

bahaya kehamilan yaitu perdarahan yang keluar dari jalan lahir, hiperemesis, pre-eklampsi dan eklampsia, ketubah pecah dini, dan gerakan janin yang tidak dirasakan.

2. Perdarahan pada kehamilan muda

Perdarahan merupakan salah satu tanda bahaya dalam kehamilan yang harus diwaspadai oleh ibu hamil. Perdarahan pada kehamilan muda adalah perdarahan pada kehamilan < 22 minggu (Yulaikhah, 2008). Perdarahan yang terjadi saat hamil muda disebabkan oleh beberapa hal, antara lain keguguran (abortus), kehamilan di luar kandungan (Kehamilan Ektopik Terganggu), ataupun hamil anggur (molla hidatidosa).

3. Abortus a. Pengertian

Abortus merupakan kegagalan kehamilan pada tahap awal yang terjadi karena perdarahan dan pengeluaran janin secara spontan atau janin mungkin meninggal dalam kandungan (Wahyuni, Indarwati, 2011). Persentase pada semua kehamilan yang mengalami keguguran mencapai 15% dimana sekitar 30% kehamilan pertama diakhiri dengan keguguran (Bilotta, 2011).

Menurut Yulaikhah (2008) abortus adalah berakhirnya kehamilan (akibat faktor tertentu) pada atau sebelum kehamilan itu berusia 20 minggu dan buah kehamilan belum mampu hidup di luar kandungan. Abortus adalah berakhirnya kehamilan baik secara spontan maupun buatan, sebelum janin mampu bertahan hidup di luar kandungan. Batasan

(3)

commit to user

yang digunakan berdasarkan umur kehamilan dan berat janin. Menurut Salhan S (2011), abortus merupakan penghentian kehamilan dengan umur kehamilan kurang dari 20 minggu dan sebelum fetus dapat hidup di luar uterus atau saat berat fetus kurang dari 500 gram. Abortus dapat menyebabkan kehilangan darah yang cukup bermakna (Cunningham, 2006).

Jadi dapat disimpulkan abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan sebelum usia kehamilan tersebut 20 minggu dengan berat janin kurang dari 500 gram.

Menurut Krisnadi (2005), setengah dari abortus imminens akan menjadi abortus inkomplet atau komplet, sedangkan pada sisanya kehamilan akan terus berlangsung. Tetapi untuk wanita yang telah mengalami abortus 2 kali bahkan sampai 3 kali berturut turut, kemungkinan untuk kembali terjadinya abortus menjadi lebih besar.

Pada abortus spontan, terdapat trias gejala klinik yaitu nyeri atau kram, perdarahan, dan adanya ekspulsi jaringan (Manuaba, 2007).

b. Etiologi

Kebanyakan etiologi bersifat multifaktorial dimana penyebab terjadinya abortus tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan merupakan campuran atau gabungan dari beberapa faktor, misal faktor genetik dan lingkungan (Benson, Pernoll, 2009).

Kemungkinan sebab abortus spontan, yakni abortus yang terjadi tanpa intervensi dari luar dan berlangsung tanpa sebab yang jelas, diantaranya :

(4)

commit to user

1) Penyebab abortus yang berasal dari janin yaitu : a) Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi

Menurut Benson dan Pernoll (2009), produk konsepsi yang abnormal merupakan penyebab terbanyak abortus spontan. Paling sedikit 10% hasil konsepsi manusia mempunyai kelainan kromosom dan sebagian besar akan gugur.

b) Kelainan pada plasenta

Hipertensi menyebabkan gangguan peredaran darah plasenta sehingga menyebabkan keguguran (Yulaikhah, 2008).

2) Faktor maternal juga menjadi penyebab abortus, antara lain :

a) Infeksi misal cytomegalovirus, sifilis, malaria, toxoplasmosis, herpes simplex (Manuaba, 2007).

Virus menginfeksi janin melalui plasenta. Transmisi virus secara transplasental tergantung virus tersebut terdapat di dalam plasma atau dibawa sel darah tepi. Secara umum, virus dapat mengakibatkan beberapa abnormalitas baik struktural maupun fungsional pada janin. Pada kasus abortus, virus menyebabkan abnormalitas pada perkembangan plasenta dan janin (Prasetyo, 2010).

b) Gangguan fisiologis ibu misal gangguan jantung, hipertensi, pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria dan lain-lain (Wiknjosastro, 2007).

(5)

commit to user

c) Kelainan traktus genitalis, misalnya retroversio uteri, mioma uteri, atau kelainan bawaan uterus lainnya (Yulaikhah, 2008).

d) Terpapar faktor fetotoksik misal keracunan logam berat, penyalahgunaan zat-zat (Benson, Pernoll, 2009).

3) Faktor paternal

Tidak banyak diketahui hubungannya dengan abortus. Namun, diduga translokasi kromosom pada sperma, hiperspermatozoa, dan oligospermia dapat menyebabkan abortus (Manuaba, 2007).

4) Faktor psikologi dan aktivitas

Beban pekerjaan sebagai stressor psikologis pada saat kehamilan dapat menyebabkan keadaan fisik ibu menjadi menurun dan berpengaruh terhadap kondisi janin yang sangat rentan terhadap berbagai pengaruh dari luar (Anonim, 2012).

Teguh (2007) menambahkan, hal-hal utama yang sering mengganggu kehamilan pada dasarnya disebabkan oleh dua hal yaitu kelelahan ibu dan kelaparan. Lelah meliputi :

a) Lelah fisik, terutama karena pekerjaan rutin sehari-hari, seperti pekerjaan kantor dan pekerjaan rumah tangga. Kelelahan yang lain juga bisa disebabkan oleh koitus yang terlalu sering, bepergian dan berbagai macam alasan lainnya.

b) Lelah mental, lebih sering disebabkan karena konflik / masalah dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kelelahan mental juga dapat disebabkan karena kecemasan ibu terhadap kehamilannya.

(6)

commit to user

Kelelahan juga dapat menyebabkan kontraksi rahim yang meningkat. Bila kontraksi rahim meningkat tak terkendali, maka akan terjadi pengeluaran buah kehamilan. Pada kehamilan sangat muda disebut abortus. Pada tengah kehamilan disebut premature dan pada akhir kehamilan disebut persalinan biasa. Wahyuni dan Indarwati (2011) menambahkan bahwa kelelahan menyebabkan ibu malas makan, sehingga asupan gizi pada ibu dan janin akan berkurang, yang membuat ibu dan janin menjadi kelaparan. Apabila dibiarkan terus-menerus, janin akan mengalami gangguan pertumbuhan.

Jadi mobilitas/ aktivitas fisik yang berlebihan dan kelelahan akan dapat mengganggu pertumbuhan janin serta meningkatkan kontraksi pada ibu hamil yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya abortus. Cara mengatasinya adalah dengan mengurangi aktivitas selama kehamilan dan jangan sampai kelelahan, serta istirahat kapan saja saat merasa lelah. Makan makanan bergizi juga diperlukan untuk menjaga asupan energi. Tidak ada kegiatan atau aktivitas yang lebih penting dan berharga selain mempertahankan atau menjaga kehamilan agar dapat berlangsung dengan baik dan sehat .

c. Klasifikasi

Secara klinis abortus dibedakan menjadi :

1) Abortus imminens (sinonim : threatened abortion, abortus mengancam) ialah proses awal dari suatu keguguran, yang ditandai

(7)

commit to user

dengan perdarahan pervaginam, sementara ostium uteri eksternum masih tertutup dan janin masih baik intrauterin (Achadiat, 2004). 2) Abortus insipiens (keguguran berlangsung) ialah abortus yang sedang

berlangsung dan tidak dapat dicegah lagi, ostium terbuka, teraba ketuban, berlangsung hanya beberapa jam saja (Krisnadi, 2005). 3) Abortus inkompletus ialah perdarahan dari uterus pada kehamilan

kurang dari 20 minggu disertai keluarnya sebagian hasil konsepsi (sebagian tertinggal di dalam uterus) dan dapat menimbulkan perdarahan yang terkadang dapat menimbulkan syok (Yulaikhah, 2008).

4) Abortus kompletus (keguguran lengkap)

Pada abortus kompletus seluruh buah kehamilan telah dilahirkan dengan lengkap, ostium tertutup lebih kecil dari umur kehamilan atau ostium terbuka, kavum uteri kosong (Krisnadi, 2005).

5) Abortus tertunda (missed abortion) ialah keadaan dimana janin telah mati sebelum minggu ke-20, tetapi bertahan dalam rahim selama beberapa minggu setelah janin mati. Batasan ini berbeda dengan batasan ultrasonografi (Krisnadi, 2005).

6) Abortus Habitualis, yaitu abortus spontan yang terjadi tiga kali atau lebih berturut-turut (Saifuddin, 2009).

7) Abortus terinfeksi ialah abortus yang disertai infeksi pada genitalia interna (Benson, Pernoll, 2009).

(8)

commit to user

8) Abortus sepsis ialah abortus terinfeksi dengan penyebaran bakteri melalui sirkulasi ibu (Benson, Pernoll, 2009). Angka kematian akibat abortus sepsis ini cukup tinggi yaitu sekitar 60% (Achadiat, 2004). 4. Abortus imminens

a. Pengertian

1) Abortus imminens (keguguran mengancam) ialah abortus yang baru mengancam dan masih ada harapan untuk mempertahankannya. Ostium uteri tertutup uterus sesuai umur kehamilan (Krisnadi, 2005). 2) Abortus imminens mengacu ke perdarahan intrauterin pada umur < 20

minggu kehamilan lengkap dengan atau tanpa kontraksi uterus, tanpa dilatasi serviks dan tanpa pengeluaran hasil konsepsi (product of conception, POC) (Benson, Pernoll, 2009).

3) Abortus imminens ialah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks (Wiknjosastro, 2007). 4) Abortus imminens (sinonim : threatened abortion, abortus

mengancam) ialah proses awal dari suatu keguguran, yang ditandai dengan perdarahan pervaginam, sementara ostium uteri eksternum masih tertutup dan janin masih baik intrauterin (Achadiat, 2004). b. Diagnosis dan tanda gejala

Pada abortus imminens terdapat sedikit flek kecoklatan selama beberapa minggu sebelum kram, kemudian baru terjadi perdarahan merah muda selama beberapa hari sebelum kram. Perdarahan per vagina ditemukan selama paruh pertama kehamilan. Sekitar 20% ibu hamil

(9)

commit to user

mengalami bercak darah pada awal masa kehamilan. Dari angka tersebut, 50% nya mengalami abortus (Bilotta, 2011). Tanda lainnya yaitu besar uterus sesuai umur kehamilan, tidak ada jaringan ekspulsi, pada pemeriksaan dalam didapatkan portio tertutup, ostium uteri tertutup, tanda Hegar positif, Piscaceks postif, Chadwieck positif, perdarahan dengan konsistensi encer (Manuaba, 2007).

Krisnadi (2005) menambahkan threatened abortion (ancaman keguguran) didiagnosis bila seorang wanita hamil < 20 minggu mengeluarkan darah sedikit per vaginam. Perdarahan dapat berlanjut beberapa hari atau dapat berulang, dapat pula disertai nyeri perut bawah atau nyeri punggung bawah seperti saat menstruasi.

Dasar diagnosis abortus imminens secara klinis :

1) Anamnesis : perdarahan sedikit dari jalan lahir dan nyeri perut tidak ada atau ringan.

2) Pemeriksaan dalam : perdarahan ada (sedikit), ostium uteri tertutup, dan besar uterus sesuai umur kehamilan.

3) Pemeriksaan penunjang

a) Pemeriksaan laboratorium : dilakukan pemeriksaan darah lengkap dan golongan darah. Pemeriksaan golongan darah dilakukan sebagai antisipasi jika terjadi perdarahan (Benson & Pernoll, 2008). b) Tes kehamilan : tes kehamilan masih memiliki kemungkinan positif, tetapi kehamilan tidak dapat dipertahankan (Manuaba, 2007).

(10)

commit to user

c) Pemeriksaan USG : hasil USG dapat menunjukkan buah kehamilan utuh /ada tanda kehidupan, meragukan, buah kehamilan tidak baik atau janin mati.

c. Diagnosis Banding

Menurut Benson dan Pernoll (2009), diagnosis banding dari abortus imminens yaitu :

1) Kehamilan ektopik dibedakan dengan abortus spontan dengan adanya tanda dan gejala tambahan berupa nyeri pelvis unilateral atau nyeri pada massa adneksa.

2) Mola hidatidosa memiliki gejala hampir sama yaitu perdarahan yang banyak disertai kram atau nyeri perut. Mola hidatidosa biasanya berakhir dengan abortus (<5 bulan) tetapi ditandai dengan kadar hCG yang sangat tinggi dan tidak adanya janin.

d. Patofisiologi

Krisnadi (2005) mengatakan bahwa kebanyakan abortus spontan terjadi segera setelah kematian janin yang diikuti dengan perdarahan ke dalam desidua basalis, lalu terjadi perubahan-perubahan nekrotik pada daerah implementasi, infiltrasi sel-sel peradangan akut, dan akhirnya perdarahan pervaginam. Buah kehamilan terlepas seluruhnya atau sebagian yang diinterpretasikan sebagai benda asing dalam rongga rahim. Hal ini menyebabkan kontraksi uterus dimulai, dan segera setelah itu terjadi pendorongan benda asing itu keluar rongga rahim (ekspulsi).

(11)

commit to user

Sebelum minggu ke-10, biasanya dikeluarkan dengan lengkap. Hal ini disebabkan minggu ke-10 vili korialis belum menanamkan diri dengan erat ke dalam desidua basalis hingga telur mudah terlepas keseluruhannya. Antara minggu ke-10 sampai 12, korion tumbuh dengan cepat dan hubungan vili korialis dengan desidua makin erat hingga mulai saat tersebut sering sisa-sisa korion (plasenta) tertinggal kalau terjadi abortus.

Gambar 2.1

Patofisiologi Abortus imminens

Sumber : diolah dari Krisnadi (2005) dan Winkjosastro (2005) e. Prognosis

Tidak kurang dari 75% keguguran terjadi selama trimester pertama (Bilotta, 2011). Pada wanita yang belum pernah melahirkan bayi hidup Kehamilan

Faktor risiko abortus : 1. Faktor janin

2. Faktor maternal 3. Faktor paternal

Abortus imminens Penembusan vili korialis ke dalam desidua basalis

saat implantasi

1. Perdarahan (sedikit) 2. Kadang disertai kram,

nyeri perut

3. Pada pemeriksaan dalam: OUE tertutup

4. Pada pemeriksaan USG: Hasil konsepsi utuh

(12)

commit to user

dan pernah mengalami paling sedikit satu kali abortus spontan, risiko abortus sebesar 46%. Wanita dengan abortus spontan minimal tiga kali berisiko lebih besar mengalami persalinan preterm, plasenta previa, presentasi bokong, dan malforasi janin pada kehamilan berikutnya (Cunningham, 2005).

Setengah dari abortus imminens akan menjadi abortus incompletus atau completus, sedangkan pada sisanya kehamilan akan terus berlangsung. Beberapa kepustakaan menyebutkan adanya risiko untuk terjadinya prematuritas atau gangguan pertumbuhan dalam rahim (intrauterine growth retardation) pada kasus seperti ini (Krisnadi, 2005).

f. Penatalaksanaan

1) Krisnadi (2005) menyebutkan untuk penatalaksanaan abortus imminens yakni bila kehamilan utuh, ada tanda kehidupan janin, penatalaksanaannya:

a) Bedrest selama 3x24 jam dan pemberian preparat progesteron bila ada indikasi

b) Bila hasil USG meragukan, ulangi pemeriksaan USG 1-2 minggu, kemudian bila hasil USG tidak baik, evakuasi.

2) Manuaba (2004) menambahkan untuk terapi abortus imminens : a) Sebaiknya istirahat total terutama yang pernah abortus b) Terapi medikamintosanya: sedative ringan

(13)

commit to user

3) Istirahat baring yang merupakan unsur terpenting karena menyebabkan peningkatan aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanis, serta terapi Fenobarbital 3x30 mg dapat diberikan untuk menenangkan penderita (Achadiat, 2004).

4) Anjurkan untuk tidak melakukan aktifitas fisik secara berlebihan atau melakukan hubungan seksual (Saifuddin, 2006)

5) Pemeriksaan penunjang dengan USG untuk menentukan apakah janin masih hidup atau tidak (Mansjoer, 2005).

6) Saifudin (2006) menambahkan, bila terjadi perdarahan :

1. Berhenti : lakukan asuhan antenatal terjadwal dan penilaian ulang bila terjadi perdarahan lagi.

2. Terus berlangsung : nilai kondisi janin (uji kehamilan/USG). Lakukan konfirmasi kemungkinan adanya penyebab lain (hamil ektopik atau mola).

3. Pada fasilitas kesehatan dengan sarana terbatas, pemantauan hanya dilakukan melalui gejala klinik dan hasil pemeriksaan ginekologik.

4. Tidak perlu terapi hormonal (estrogen dan progesteron) atau tokolitik seperti salbutamol, karena obat ini tidak dapat mencegah abortus.

(14)

commit to user Gambar 2.2 Penatalaksanaan Abortus

Sumber : diolah dari Manuaba (2007), Krisnadi (2005), dan Saifudin (2006) Kehamilan 1) Perdarahan 2) Nyeri abdomen 3) Tidak ada pembukaan (ostium uteri tertutup) 4) Tidak ada jaringan

ekspulsi

1) Tirah baring 2) Obat :

Penenang Antibiotik

3) Lab. Penunjang: USG Abortus imminens

Perdarahan berhenti Perdarahan tidak berhenti

Kehamilan dapat berlanjut USG Abortus Insipiens Abortus Inkompletus Kehamilan ektopik Molla hidatidosa Lakukan ANC terjadwal

(15)

commit to user g. Komplikasi Abortus

Tidak ada abortus tanpa komplikasi (Achadiat, 2004). Komplikasi-komplikasi yang terjadi pada kasus abortus diantaranya :

1) Perdarahan

Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya (Sujiyatini, 2009).

2) Perforasi

Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita perlu diamati dengan teliti. Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh orang awam menimbulkan persoalan gawat karena perlukaan uterus biasanya luas, mungkin pula terjadi perlukaan pada kandung kemih atau usus (Wiknjosastro, 2007).

3) Infeksi

Umumnya terjadi dari luar (akibat penanganan yang tak memadai, misalnya abortus provokatus oleh dukun), tetapi dapat juga terjadi setelah tindakan di RS. Dalam keadaan infeksi sebaiknya tidak dilakukan evakuasi dulu, sebelum diberikan antibiotika (Achadiat, 2004).

(16)

commit to user 4) Syok

Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat (syok endoseptik) (Mansjoer, 2005).

B. Teori Manajemen Kebidanan

1. Manajemen Kebidanan Berdasarkan 7 Langkah Varney

Manajemen asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan abortus imminens mengacu pada 7 langkah Varney, yaitu :

a. Langkah I: Pengumpulan data dasar secara lengkap

Untuk memperoleh data dasar secara lengkap pada ibu hamil dengan abortus imminens dapat diperoleh melalui:

1) Data Subjektif

a) Biodata atau identitas

Terdiri dari nama untuk mengetahui identitas pasien, umur untuk mengetahui pasien sudah masuk dalam kategori umur reproduktif, agama untuk mempermudah bidan dalam melakukan pendekatan terkait dengan asuhan kebidanan, suku/bangsa untuk mengetahui pengaruh faktor ras dan lingkungan, pendidikan terkait dengan tingkat pengetahuan pasien tentang kesehatan reproduksi, pekerjaan untuk menunjukkan keadaan ekonomi yang mempengaruhi masalah keluarga, dan alamat untuk mengetahui tempat tinggal dan lingkungan tempat tinggal sekitar pasien (Nursalam, 2003).

(17)

commit to user b) Keluhan Utama

Menurut Benson & Pernoll (2009), abortus imminens mengacu ke perdarahan intrauterin pada umur < 20 minggu kehamilan lengkap dengan atau tanpa kontraksi uterus.

Cavendish M (2008) menambahkan bahwa keluhan yang paling umum terjadi pada abortus imminens adalah perdarahan per vaginam, kram perut atau keduanya. Selain itu, Pillitteri A (2010) menjelaskan bahwa abortus imminens juga ditegakkan dengan hasil test kehamilan yang positif, tidak adanya dilatasi uterus pada pemeriksaan dalam, serta didukung oleh pemeriksaan USG yang menunjukkan bahwa fetus berada dalam uterus dan adanya denyut jantung janin.

c) Riwayat Kebidanan

(1) Riwayat menstruasi : dikaji mengenai usia menarche, siklus menstruasi, lama menstruasi, jumlah darah yang keluar, karakteristik darah, ada tidaknya keluhan seperti dismenorea. (Varney, 2007).

(2) Riwayat perkawinan : untuk mengetahui umur ibu saat menikah, merupakan perkawinan yang ke-berapa, lama menikah dan merupakan istri atau suami yang ke-berapa. (3) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas : data ini untuk

mengetahui jumlah abortus yang pernah dialami, riwayat kehamilan yang kurang baik, berat badan dan panjang bayi

(18)

commit to user

serta adanya masalah kehamilan yang terdahulu (Saifuddin, 2007).

(4) Riwayat kehamilan sekarang : untuk mengetahui terjadinya perdarahan dan nyeri dari kehamilan sekarang

(5) Riwayat keluarga berencana : sampai saat ini belum terdapat bukti yang mendukung bahwa kontrasepsi oral atau spermisida dapat meningkatkan insidensi abortus (Cunningham, 2006). d) Riwayat kehamilan dan persalinan

Semakin muda kehamilan, semakin mungkin terjadi abortus. Sekitar 75% abortus terjadi sebelum umur 16 minggu, dan kira-kira 60% terjadi sebelum 12 minggu (Benson, Pernoll, 2009).

e) Riwayat kesehatan

Terdiri dari riwayat kesehatan sekarang, riwayat kesehatan dahulu, riwayat kesehatan keluarga, riwayat psikososial. Data kesehatan mengacu pada alasan masuk rumah sakit (Susilowati, 2008).

f) Pola kebiasaan sehari-hari

Littler (2008) menambahkan data kebiasaan sehari-hari berkaitan dengan kebiasaan, baik sebelum hamil maupun saat hamil. Hal ini meliputi :

(1) Nutrisi dikaji untuk mengetahui status gizi pasien sebelum dan selama hamil apakah mengalami perubahan. Pada saat ini, tampak bahwa hanya malnutrisi umum yang berat merupakan predisposisi meningkatnya kemungkinan abortus imminens (Susilowati, 2008).

(19)

commit to user

(2) Eliminasi menggambarkan pola eliminasi meliputi kebiasaan BAB dan BAK serta masalah yang dialami atau dikeluhkan selama kehamilan.

(3) Istirahat dan aktivitas perlu dikaji untuk mengetahui kegiatan ibu dalam kesehariannya, karena pola istirahat dan aktivitas ibu hamil sangat mempengaruhi perkembangan janinnya. Sulistyawati (2009) menambahkan bahwa aktivitas ibu hamil yang padat dan berat serta kurangnya waktu istirahat dapat memicu terjadinya kontraksi hingga terjadinya abortus dan persalinan preterm.

(4) Personal hygiene perlu ditanyakan untuk mengetahui kebersihan tubuh dan cara membersihkan alat genetalianya (Saifuddin, 2007). Keputihan (leukore) yang terjadi selama kehamilan adalah normal, tapi bila keputihan dengan rasa gatal, berbau dengan jumlah sangat banyak merupakan tanda infeksi bila tidak segera ditangani akan terjadi perlunakan leher rahim yang akan berlanjut pada timbulnya kontraksi hingga abortus maka ibu hamil harus selalu menjaga kebersihan dan kelembaban daerah vaginanya (Indriarti, 2008).

(5) Perilaku seks meliputi frekuensi melakukan hubungan seks dengan pasangan dan masalah yang dikeluhkan. Pada ibu hamil dengan riwayat perdarahan atau abortus dianjurkan untuk tidak melakukan hubungan seks terlebih dahulu karena

(20)

commit to user

dapat menyebabkan timbul kontraksi hingga abortus (Littler, 2008).

g) Data psikososial dan agama

Rasa bersalah, cemas akan kondisi kematian janin pada trimester pertama kehamilan adalah hal yang bisa saja terjadi dan pendekatan sesuai dengan agama atau keyakinan yang dianut merupakan salah satu bentuk dukungan yang diharapkan (Varney, 2007).

2) Data Objektif

Data objektif diperoleh melalui pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang dilakukan, terdiri dari :

a) Pemeriksaan Umum

Pada pemeriksaan umum dilakukan untuk mengetahui kesadaran dan keadaan umum pasien. Pemeriksaan fisik yang meliputi : (1) Tanda-tanda vital meliputi keadaan umum, kesadaran, tekanan

darah, nadi, suhu dan pernafasan.

(2) Kepala : meliputi keadaan rambut, mudah rontok atau tidak, warna dan kebersihannya. Hal ini digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi ibu hamil.

(3) Muka dan mata: meliputi pucat tidaknya wajah serta conjunctiva pucat atau tidak untuk memperkirakan adanya tanda anemia.

(21)

commit to user

(5) Mulut/gigi : meliputi ada tidaknya stomatitis, keadaan gusi, gigi, lidah bersih atau kotor, untuk mengetahui kecukupan vitamin dan mineral.

(6) Leher : ada tidaknya pembesaran kelenjar thyroid dan kelenjar getah bening.

(7) Dada : pemeriksaan payudara meliputi bentuk, warna dan keadaan puting susu, ada tidaknya massa serta ada tidaknya pengeluaran serta pemeriksaan axilla meliputi ada tidaknya pembesaran pada kelenjar limfe dan ada tidaknya nyeri tekan. (8) Abdomen : dilakukan dengan 2 cara yaitu inspeksi dan palpasi.

Inspeksi untuk menilai kemungkinan adanya pembesaran abnormal pada daerah abdomen, ada tidaknya bekas operasi.

Menurut Varney (2007), selama evaluasi perdarahan trimester pertama dilakukan di klinik, bidan harus melakukan pemeriksaan abdomen yaitu palpasi untuk nyeri tekan yang hilang timbul (intermitten) atau terus-menerus, mengukur tinggi fundus atau memeriksa massa lain. Yulaikhah (2008) menambahkan bahwa pada kasus abortus imminens, tinggi fundus uteri ibu sesuai dengan usia kehamilannya serta terdapat kram perut bagian bawah.

(9) Genetalia : dilakukan dengan 2 cara yaitu inspeksi dan pemeriksaan dalam.

(22)

commit to user

Inspeksi untuk mengetahui keadaan dan kebersihan genetalia, vulva, labia mayor, labia minor, pengeluaran pervaginam seperti darah (seberapa banyak). Achadiat (2004) menambahkan pada inspeksi vulva, perdarahan pervaginam (biasanya sedikit, berwarna merah, cepat berhenti), ada atau tidaknya jaringan hasil konsepsi, tercium atau tidak bau busuk dari vulva.

Manuaba (2007) menambahkan pada pemeriksaan dalam untuk abortus imminens dapat diketahui adanya ostium uteri eksterna atau ostium uteri interna yang masih tertutup, tidak teraba jaringan dalam kavum uteri, besar uterus sesuai usia kehamilan.

(10) Ekstremitas : adakah oedema, keadaan kuku pucat atau tidak untuk mengetahui apakah ibu anemia atau tidak, bagaimana gerakannya, kelengkapan jari-jari dan ada tidaknya kelainan lainnya.

3) Pemeriksaan penunjang

a) Tes Kehamilan : pada abortus imminens menunjukkan hasil pemeriksaan tes kehamilan masih positif (Mansjoer, 2007).

b) Pemeriksaan USG : hasil USG pada abortus imminens harus memperlihatkan hasil adanya janin yang masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan misal denyut jantung atau gerakan janin (Benson dan Pernoll, 2009).

(23)

commit to user b. Langkah II: Interpretasi data dasar

Langkah intepretasi data dasar ini meliputi : 1) Diagnosa Kebidanan

Diagnosa kebidanan pada ibu hamil dengan abortus imminens adalah Ny. X GxPxAx umur X tahun hamil X minggu dengan abortus imminens. Diagnosa tersebut ditegakkan berdasarkan data subjektif, objektif, dan pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan.

2) Masalah

Bidan melakukan identifikasi yang akurat atas masalah atau diagnosa serta kebutuhan perawatan kesehatan yang diidentifikasi khusus, masalah sering kali berkaitan dengan bagaimana ibu menghadapi kenyataan diagnosanya dan ini sering kali bisa diidentifikasi berdasarkan pengalaman bidan dalam mengenali masalah seseorang (Varney, 2007).

Masalah yang muncul pada ibu hamil dengan abortus imminens biasanya berkaitan dengan kecemasan pasien terhadap perdarahan yang dialaminya saat hamil muda (Indriarti, 2008), kecemasan terhadap kondisi kehamilan dan janinnya.

3) Kebutuhan

Kebutuhan muncul setelah dilakukan pengkajian. Menurut Saifuddin (2009), salah satu rencana asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan abortus imminens adalah memberikan informasi kepada ibu dan keluarga mengenai keadaan kehamilan dan tindakan yang

(24)

commit to user

mungkin dilakukan. Pemberian dukungan pada ibu bertujuan agar tidak terjadi gangguan psikis dan mengembalikan kepercayaan diri pada ibu.

c. Langkah III : Identifikasi diagnosa potensial dan mengantisipasi penanganannya

Diagnosa potensial yang akan terjadi pada ibu hamil dengan abortus imminens yaitu abortus incompletus bila kram dan nyeri menetap, serta perdarahan pervaginam meningkat (Marmi, 2011).

Untuk mengantisipasi terjadinya diagnosa potensial tersebut, bidan perlu mengobservasi keadaan umum dan vital sign ibu serta pemberian asupan nutrisi (Sulistyawati, 2009). Selain itu, antisipasi penanganannya adalah dengan bedrest total dan terapi sedative (Manuaba, 2004).

d. Langkah IV: Kebutuhan terhadap tindakan segera

Tindakan segera dibutuhkan bila pada pasien abortus imminens adalah mengalami tanda-tanda pada tahap kejadian abortus insipiens yaitu perdarahan lebih banyak, perut mules lebih hebat, kanalis servikalis terbuka dan jaringan atau hasil konsepsi dapat diraba. Manuaba (2008) menjelaskan bahwa kebutuhan segera yang dibutuhkan pada kasus abortus imminens adalah melaksanakan konsultasi / kolaborasi dengan dokter SpOG untuk pemberian terapi, yaitu pemberian infus dan obat tokolitik.

e. Langkah V: Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh

Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Mengembangkan sebuah rencana

(25)

commit to user

asuhan yang menyeluruh ditentukan dengan mengacu pada hasil langkah sebelumnya dan sesuai dengan hasil pembahasan bersama pasien (Varney, 2007).

Rencana asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan abortus imminens menurut Saifuddin (2009) dan Varney (2006) antara lain :

1) Berikan informasi kepada ibu dan keluarga mengenai keadaan kehamilan dan tindakan yang mungkin dilakukan

2) Berikan dukungan moril kepada ibu dengan melibatkan suami atau keluarga dalam perawatan

Menurut Saifuddin (2009), pemberian dukungan pada ibu bertujuan agar tidak terjadi gangguan psikis dan mengembalikan kepercayaan diri pada ibu.

3) Observasi keadaan umum, vital sign, dan pengeluaran pervaginam Manuaba (2008) menambahkan observasi keadaan umum ibu dan tanda-tanda vital (meliputi tekanan darah, nadi, suhu, respirasi) untuk mengetahui keadaan umum pasien dan untuk mendektesi adanya perubahan sistem tubuh apabila terdapat penyimpangan dari hasil yang diharapkan.

4) Anjurkan ibu istirahat total sampai perdarahan berhenti

Achadiat (2004) menjelaskan bahwa istirahat baring merupakan unsur terpenting karena menyebabkan peningkatan aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanis.

(26)

commit to user

5) Kolaborasi dengan dokter SpOG dalam pemberian terapi.

Berdasarkan protap asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan abortus imminens di RSUD Karanganyar (2010), dokter memberikan terapi cairan intravena, antibiotik dan asam traneksamat sebagai obat anti perdarahannya.

Mansjoer (2005) menjelaskan bahwa pemeriksaan penunjang dengan USG untuk menentukan apakah janin masih hidup atau tidak. Bila perdarahan berhenti maka bidan melakukan asuhan antenatal seperti biasa dan melakukan penilaian jika perdarahan terjadi lagi

Saifuddin (2004).

f. Langkah VI: Pelaksanaan langsung asuhan dengan efisien dan aman Langkah ini dapat dilakukan secara keseluruhan oleh bidan atau dilakukan sebagian oleh ibu atau orang tua, bidan, atau anggota tim kesehatan lain. Apabila tidak dapat melakukannya sendiri, bidan bertanggung jawab untuk memastikan bahwa implementasi benar – benar dilakukan (Varney, 2008).

Pada kasus abortus imminens, bidan melakukan asuhan yang menyeluruh, mengacu pada langkah kelima yang telah disetujui klien : 1) Memberikan informasi tentang keadaan kehamilan dan tindakan yang

mungkin dilakukan kepada ibu dan keluarga serta memberikan dukungan moril kepada ibu dengan melibatkan suami atau keluarga.

(27)

commit to user

Penjelasan dan persetujuan tindakan pasien dilakukan dengan komunikasi melalui dialog yang didasari keterbukaan (Sastrawinata, 2004; Sofyan, 2006).

Melibatkan pendamping terutama suami atau keluarga untuk aktif dalam asuhan dengan memberi kesempatan pendamping memberikan perhatian pada ibu (Saifuddin, 2007; Varney, 2006).

2) Melakukan observasi keadaan umum, vital sign, dan pengeluaran pervaginam

Menurut Protap pemeriksaan nadi dan pernafasan di RSUD Karanganyar (2009), pemeriksaan nadi dilakukan dengan meraba denyut nadi pasien menggunakan 2 jari (telunjuk dan tengah) dan menghitungnya sekurang-kurangnya selama 1/2 menit. Untuk pemeriksaan pernafasan dilakukan dengan mengamati gerakan dada/perut pasien selama 1 menit. Pengeluaran pervaginam diobservasi dengan cara inspeksi (Manuaba, 2008).

3) Menganjurkan ibu istirahat total sampai perdarahan berhenti

4) Melakukan kolaborasi dengan dokter SpOG dalam pemberian terapi. Berdasarkan Protap asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan abortus imminens di RSUD Karanganyar (2010), dokter memberikan terapi cairan intravena, antibiotik dan asam traneksamat sebagai obat anti perdarahannya.

(28)

commit to user g. Langkah VII : Evaluasi

Menurut Manuaba (2008), evaluasi dilakukan untuk menindaklanjuti kemungkinan yang akan terjadi pada pasien dengan abortus imminens. Evaluasi juga digunakan untuk mengetahui efektivitas asuhan sesuai dengan kebutuhan yang telah diidentifikasi di dalam diagnosis dan masalah pada abortus imminens.

Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan abortus imminens adalah pasien menerima kondisinya dan diharapkan kondisinya baik dari segi fisik maupun psikologi (Varney, 2007).

2. Follow Up Data Perkembangan Kondisi Pasien

Dalam pendokumentasian pada asuhan kebidanan ibu hamil dengan abortus imminens, penulis menggunakan metode pendokumentasian yang disebut dengan SOAP.

SOAP merupakan inti dari proses pemikiran penatalaksanaan kebidanan yang dipakai untuk mendokumentasikan asuhan pasien dalam rekam medis pasien sebagai catatan kemajuan atau perkembangan. SOAP terdiri dari: S : Subjektif

Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data pasien melalui anamnesa keluhan yang dirasakan pasien dengan abortus imminens sebagai langkah I Varney.

(29)

commit to user

Data subjektif pada kasus ibu hamil dengan abortus imminens, didapatkan dari hasil wawancara dengan ibu mengenai perubahan setelah dilakukan evaluasi.

O : Objektif

Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik pasien, hasil laboratorium dan tes diagnostik lain pada pasien dengan abortus imminens yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung asuhan sebagai langkah I Varney.

Data objektif pada kasus ibu hamil dengan abortus imminens berupa hasil observasi keadaan umum baik, kesadaran composmentis, vital sign dalam batas normal, perdarahan pervaginam, pemeriksaan penunjang, dan terapi dari dokter SpOG harus sudah dilaksanakan semua dengan baik.

A : Analisis

Menggambarkan pendokumentasian hasil analisis dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam dalam kasus abortus imminens, sebagai langkah II Varney.

Pada kasus ibu hamil dengan abortus imminens, diagnosa yang dapat ditegakkan berdasarkan data subjektif dan objektif adalah Ny. M G2P1A0 umur 28 tahun hamil 9+3 minggu dengan abortus imminens. Masalah yang dialami pasien biasanya yakni kecemasan pasien terhadap kondisi kehamilan dan janinnya. Anonim (2012)

(30)

commit to user

menambahkan, hal ini bisa muncul karena kurangnya pengetahuan ibu tentang kehamilan.

P : Perencanaan

Mencatat seluruh perencanaan dan penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti tindakan antisipatif, tindakan segera, tindakan secara komprehensif, penyuluhan, dukungan, kolaborasi, evaluasi atau follow up pada pasien dengan abortus imminens sebagai langkah III,IV,V,VI dan VII Varney.

Penatalaksanaan pada kasus abortus imminens yakni istirahat total, pemeriksaan USG, dan pemberian terapi sedative.

percentage of women who miscarriage in indonesia

Figure

Updating...

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in