• Tidak ada hasil yang ditemukan

REFORMASI DAN REORIENTASI KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH Oleh : Dhani Kurniawan*

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "REFORMASI DAN REORIENTASI KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH Oleh : Dhani Kurniawan*"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

REFORMASI DAN REORIENTASI KEBIJAKAN

OTONOMI DAERAH

Oleh :

Dhani Kurniawan*

ABSTRACT

Reformation instituion region in Indonesian must be understand that reformation is a kind of change of change to be a good. Purpose, without anarcy and keep continuity with system institution in powerty for getting a freedom implementation institution region, every policy of otonomy region must be based on (a) self regulating power (b) self modifiying power, (c) local political support, (d) financial resources and (e) developing brain power. It’s based on UU no. 22 Tahun 1999. Connected with that purpose policy every region give space to management their importance. It’s means that reformation give opportunity institution region to formulation. Process implementation policy in sector development and social.

Keywords : Reformation, UU NO. 22 TAHUN 1999, policy

A. PENDAHULUAN

Dengan telah disahkannya Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah mengisyaratkan adanya secercah harapan bagi daerah terhadap reformasi penyelenggaraan pemerintahan Daerah di Indonesia, dari kondisi yang selama ini kurang memberikan ruang yang cukup bagi daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di daerah, menjadikan daerah sedikit terlepas dari kungkungan Pemerintah Pusat dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah.

Dalam kaitan dengan implementasi kebijakan reformasi penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia, yang harus dipahami semua pihak adalah makna dan arti reformasi itu sendiri secara benar, yaitu reformasi sebagai suatu langkah perubahan kearah perbaikan tanpa merusak atau seraya memelihara dengan diprakarsai oleh

(2)

mereka yang memimpin suatu sistem. Hal ini perlu disadari bahwa tanpa reformasi sistem itu bisa goyah, atau dengan kata lain sebaiknya reformasi itu diprakarsai dari sistem itu sendiri sehingga metode reformasi akandapat bersifat gradual, bertahap dan berkesinambungan (Faisal Tamin, 1998:2).

Karenanya, arah kebijakan reformasi dan reorientasi dalam penyelenggaraan Pemerintah Daerah di Indonesia seharusnya mengacu kepada berbagai permasalahan yang selama ini selalu dijadikan bahan perdebatan dalam melakukan kajian terhadap hubungan Pemerintah Pusat dan Daerah antara lain adalah :

a. Distribusi kewenangan yang tergambar sebagai piramida terbalik, dimana kewenangan ditingkat pusat sangat besar dan di tingkat daerah semakin mengecil terlebih lebih pada Daerah Tingkat II. Kondisi ini akibat adanya alasan pembenar yang berasumsi bahwa Pemerintah Daerah belum dianggap mampu untuk melaksanakan sebagian besar urusan-urusan pemerintah, karena dihadapkan pada Sumber Daya Manusia yang terbatas.

b. Hubungan Kepala Daerah dan DPRD yang kurang serasi, akibat kedudukan DPRD berada di bawah bayang-bayang Kepala Daerah. Dengan demikian DPRD menjadi sulit untuk dapat bergerak secara proporsional dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai lembaga perwakilan rakyat yang bertugas mengawasi dan mengontrol penyelenggaraan pemerintahan, serta sebagai tempat untuk me-nyalurkan aspirasi masyarakat.

c. Pendapatan daerah yang kecil menghambat bagi Pemerintah Daerah untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan yang terus semakin meningkat untuk memberipkan pelayanan kepada masyarakat. Kecilnya pendapatan daerah seringkali disebabkan oleh lapangan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sangat terbatas. Kondisi seperti ini masih diper-buruk dengan kebijakan pengaturan perimbangan keuangan pusat dan daerah yang masih menggunakan polapola bagi hasil pajak dan non pajak, subsidi daerah otonom (SDO) yang dipandang kurang menguntungkan daerah.

(3)

d. Kelembagaan Pemerintah Daerah dengan Dinas-Dinas Daerahnya, belum mencerminkan adanya suatu Lembaga yang benar-benar dibentuk atas pertimbangan beban kerja atau volume kerja sebagai bagian dari pelaksanaan distribusi kewenangan, sehingga tercermin tidak efisien baik dari segi pembiayaan maupun pengisian personilnya. Terdapat kecenderungan bahwa nomenklatur pembentukan kelembagaan Dinas Daerah sebagai perangkat Pemerintah Daerah diatur secara seragam baik jumlah jabatannya maupun nomenklaturnya, sehingga tidak sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah yang bersangkutan.

e. Tersumbatnya partisipasi dan peran serta masyarakat diakibatkan adanya kecenderungan dan anggapan yang kuat bahwa pemerintahlah yang memiliki tanggungjawab yang besar dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan pembangunan dan kebijakan-kebijakan publik. Akibatnya, banyak kegiatan-kegiatan pembangunan dan pelayanan publik yang seharusnya dapat diserahkan kepada kekuatan di luar pemerintahan seperti LSM atau pihak Swasta, masih sepenuhnya dilakukan oleh Pemerintah termasuk Pemerintah Daerah.

Dengan adanya berbagai permasalahan otonomi daerah sebagaimana yang telah dikemukakan, pemerintah melalui Undang-Undang No.22 Tahun 1999 telah memperluas kewenangan pelaksanaan otonomi daerah dengan menyerahkan sepenuhnya beberapa bidang (desentralisasi politik dan administratif) urusan pemerintahanan kepada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota.

Bidang-bidang pemerintahan yang wajib dilak-sanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi Pekerjaan Umum, Kesehatan, Pendidikan dan Kebudayaan, Pertanian, Perhubungan, Industri dan Perdagangan, Penanaman Modal, Lingkungan Hidup, Pertanahan, Koperasi, dan Tenaga Kerja. Sementara itu kewenangan Pemerintah Pusat terbatas pada penanganan Bidang Politik Luar Negeri, Hankam, Peradilan, Moneter/ Fiskal dan Agama, serta bidang-bidang tertentu seperti : Kebijakan Perencanaan Nasional, Dana Perimbangan, Sistem Administrasi Negara, Pembinaan dan

(4)

Pemberdayaan Sumberdaya Manusia dan Pemberdayaan Sumber Daya Alam dan teknologi tinggi yang strategis, Konservasi dan Standarisasi Nasional.

Sedangkan kewenangan Propinsi baik sebagai Daerah Otonom maupun Wilayah Administratif diberikan batasan kewenangan, yaitu hanya menyelenggarakan bidang-bidang urusan pemerintahan yang tidak mampu ditangani oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Daerah Kota, atau bidang-bidang urusan Pemerintahan yang sifatnya lintas Daerah Kabupaten/Kota.

Sebagai konsekwensi atas perluasan pelimpahan kewenangan kepada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota pada sebagian besar bidang pemerintahan tersebut, membawa konsekwensi terhadap kesiapan Daerah untuk menerima peningkatan tugas dan tanggung jawab yang harus diembannya.

B. PEMBAHASAN

1. Kebijakan Mendasar Dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah

Untuk dapat mewujudkan otonomi bagi Daerah agar memiliki keleluasaan dalam penyelenggaraan pemerintahan di Daerah, maka menurut Agus Syamsuddin (1999: 5) terkait dengan beberapa hal sebagai berikut :

Pertama, Self Regulating Power, yaitu kemampuan mengatur dan melaksanakan otonomi Daerah demi kesejahteraan masyarakat di daerahnya.

Kedua, Self Modifying Power, yaitu kemampuan melakukan penyesuaian-penyesuaian dari peraturan yang ditetapkan secara nasional dengan kondisi daerah. Ketiga, Local Political Support, yaitu menyelenggarakan pemerintahan daerah yang mempunyai legitimasi luas dari masyarakat baik pada posisi Kepala Daerah sebagai unsur eksekutif maupu DPRD sebagai unsur legislatif. Dukungan politik local ini akan sekaligus menjamin efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.

Keempat, Financial Recources, yaitu mengembangkan kemampuan dalam mengelola sumber-sumber penghasilan dan keuangan yang memadai untuk membiayai kegiatan-kegiatan

(5)

pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat yang segera menjadi kebutuhannya.

Kelima, Developing Brain Power, yaitu membangun sumberdaya manusia aparatur pemerintah dan masyarakat yang handal yang bertumpu pada kapabilitas intelektual dalam menyelesaikan berbagai masalah.

2. Prinsip-Prinsip Otonomi Daerah Dalam Uu. No. 22/1999

Prinsip-prinsip otonomi daerah yang dijadikan pedoman dalam implementasi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dapat dikemukakan sebagai berikut :

a. Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi, keadilan, pemerataan, serta potensi dan keanekaragaman Daerah.

b. Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada prinsip-prinsip otonomi luas, dinamis, nyata dan bertanggungjawab dalam kerangka negara kesatuan.

c. Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh Diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Kota, sedangkan otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas.

d. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan Konstitusi Negara, sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta antar Daerah.

e. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan kemandirian Daerah Otonom, karenanya dalam suatu Daerah Kabupaten dan Kota tidak ada lagi Wilayah Administrasi.

f. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif DPRD, baik sebagai fungsi legislasi, fungsi pengawasan maupun fungsi anggaran atas penyelenggaran Pemerintahan Daerah.

g. Pelaksanaan asas Dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Propinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintah tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah.

(6)

h. Pelaksanaan tugas pembantuan dimungkinkan, tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah, tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah kepada Desa dengan disertai pembiayaan, sarana dan prasarana, serta mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya.

Dengan telah dikeluarkannyanya beberapa macam Peraturan Pemerintah (PP) pada tanggal 6 Mei 2000, sebagai tindak lanjut pelaksanaan Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, maka Bentuk dan Susunan Pemerintahan Daerah akan diwujudkan sebagai berikut :

a) Di Daerah dibentuk DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah dan Pemerintah Daerah sebagai Badan Eksekutif Daerah.

b) Pemerintah Daerah terdiri atas Kepala Daerah beserta perangkat daerah lainnya seperti Dinas-Dinas Daerah. c) Setiap Daerah dipimpin oleh Kepala Daerah sebagai

kepala eksekutif, yang dalam bertugas dibantu oleh seorang Wakil Kepala Daerah.

d) Kepala Daerah Propinsi disebut Gubernur yang karena jabatannya merangkap sebagai Kepala Wilayah yang merupakan wakil pemerintah.

1) Dalam menjalankan tugas dan kewenangannya sebagai Kepala Daerah, Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD.

2) Dalam kedudukan sebagai wakil Pemerintah, Gubernur berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.

e) Kepala Daerah Kabupaten disebut Bupati dan Kepala Daerah Kota disebut Walikota. sedangkan dalam menjalankan tugas dan wewenangnya selaku Kepala Daerah, Bupati/ Walikota bertanggungjawab kepada DPRD.

f) Perangkat Daerah terdiri dari Sekretaris Daerah, Dinas-Dinas Daerah dan lembaga Tehnis Daerah lainnya sesuai dengan kebutuhan Daerah.

g) Sekertariat Daerah.

1) Sekretariat daerah dipimpin oleh seorang Sekretaris Daerah.

(7)

2) Sekretaris daerah Propinsi diangkat oleh Gubernur atas persetujuan pimpinan DPRD dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat.

3) Sekretaris Propinsi karena jabatannya sekaligus merangkap sebagai Sekertaris Wilayah.

4) Sekretaris Daerah Kabupaten atau Sekretaris Daerah Kota diangkat oleh Bupati atau Walikota atas persetujuan Pimpinan DPRD dari PNS yang memenu-hi syarat.

5) Sekretaris Daerah bertanggungjawab kepada Kepala aerah yang mengangkat-nya.

6) Apabila Sekretaris daerah berhalangan dalam melaksanakan tugasnya, maka tugas Sekretaris Daerah dapat dilaksanakan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah.

h) Dinas Daerah merupakan unsur pelaksana Pemerintah Daerah. Dinas Daerah dipimpin oleh Kepala Dinas yang diangkat oleh Kepala Daerah dari PNS. yang memenuhi syarat atas usul Sekertaris Daerah. Kepala Dinas bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah.

i) Penyelenggaraan wewenang yang dilimpahkan oleh Pemerintah (Pusat) kepada Gubernur (Propinsi) selaku Wakil Pemerintah dalam rangka asas Dekonsentrasi, dilaksanakan sepenuhnya oleh Dinas Propinsi.

j) Kecamatan.

1) Kecamatan merupakan perangkat Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang dipimpin oleh Kepala Kecamatan (Camat).

2) Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Sekretaris Daerah Kabupaten/ Kota dari PNS, yang memenuhi syarat.

3) Camat bertanggungjawab kepada Bupati/Walikota k) Kelurahan.

1) Kelurahan merupakan perangkat Kecamatan yang dipimpin oleh Kepala Kelurahan (Lurah)

2) Lurah diangkat dari PNS. Yang memenuhi syarat oleh Walikota/ Bupati atas usul Camat

(8)

3) Lurah dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada Camat.

l) Pemerintahan Desa.

1) Pemerintah Desa terdiri atas Kepala Desa yang disebut dengan nama lain dan Perangkat Desa.

2) Kepala Desa dipilih langsung oleh penduduk Desa dari calon yang memenuhi syarat

3) Calon Kepala Desa yang terpilih dengan suara terbanyak, ditetapkan oleh Badan Perwakilan Desa (BPD), dan disyahkan oleh Bupati.

4) Masa jabatan Kepala Desa paling lama 10 tahun atau dua kali masa jabatan.

5) Badan Perwakilan Desa atau yang disebut dengan nama lain berfungsi mengayomi adat istiadat, membuat Peraturan Desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Desa.

3. Reorientasi Dan Perspektif Pelaksanaan Otonomi Daerah

Perluasan Otonomi Daerah sebagaimana tercermin dalam kebijakan pemerintah melalui Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah merupakan suatu peluang untuk memberdayakan daerah dalam melaksanakan tugas pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan. Namun demikian dalam pelaksanaannya akan banyak ditemukan masalah dan kendala antara lain sebagai berikut :

a. Otonomi Daerah yang berarti kepemilikan kewenangan atau otoritas lokal oleh daerah yang bersangkutan. Pada hakekatnya hal ini merupakan pengembalian hak daerah untuk mengambil inisiatif dan prakarsa kreatif bagi kepentingan masyarakat. Dalam hal ini berarti pula secara administratif dan politis, maka daerah harus dapat secara terkendali dapat menyelenggarakan kekuasa-annya tanpa banyak campur tangan Pemerintah Pusat. Hal ini penting oleh karena untuk menghindari bias operasional dari implementasi UU. No. 22/1999 akan muncul baik pada Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Bias operasional ini dapat berupa

(9)

ketidakjelasan atau kerancuan mekanisme dilapangan maupun ketumpang tindihan fungsional kelembagaan.

b. Otonomi daerah harus diimplementasikan dalam kerangka orientasi agar daerah benar-benar mampu mengambil inisiatif dan prakarsa kreatif menuju keberlangsungan dan keberhasilan pembangunan daerah yang pada gilirannya nanti, inisiatif dan prakarsa kreatif daerah itu akan dilaksanakan sendiri dan penentuan hasilnya juga akan kembali kepada daerah yang bersangkutan.

c. Implementasi otonomi daerah harus di-dukung oleh segenap kemampuan Pemerintah Daerah, struktur kelembagaannya dan masyarakat daerah itu sendiri. Kemampuan tersebut secara nyata harus memiliki tiga komponen dasar berupa kemampuan perencanaan, kemampuan pelaksanaan dan kemampuan kontrol atau pengawasan. Sehingga dengan demikian ke tiga demensi ini yang akan dapat menggerakkan roda pembangunan di daerah secara otonom dan berorientasi pada kepentingan masyarakat. d. Pemerintah Daerah harus melakukan penataan

restrukturisasi kelembagaan daerah agar kondusif bagi pelaksanaan otonomi. Karenanya, arah restrukturisasi harus ditujukan pada penataan kelembagaan sesuai kebutuhan daerah setempat seperti dalam membentuk Dinas Daerah atau penyatuan kelembagaan Kanwil/Kandep kedalam Dinas Daerah menuju kelembagaan yang efektifitas dan efisien sehingga tidak terjebak pada terjadinya keruwetan-keruwetan birokratis pasca perluasan otonomi daerah.

e. Proses restrukturisasi kelembagaan daerah harus diiringi dengan penyiapan aparatur Pemerintah sebagai sumberdaya manusia yang benar-benar profesional dan visioner. Sumber Daya Manusia ini nantinya harus dapat diatur dan dikelola secara tepat dalam suatu iklim kerja yang dinamis dan demokratis, baik menyangkut rekruitmen, seleksi dan penempatan maupun pengembangan karier serta komposisi prestasi. Dengan demikian aparatur Pemerintah ini akan dapat menggerakkan lembaga-lembaga daerah melalui ide dan

(10)

prakarsa-prakarsa kreatif menuju terwujudnya otonomi daerah sebagaimana yang diharapkan.

f. Untuk dapat tercapainya otonomi daerah sebagaimana yang diharapkan tersebut, maka yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan adalah diperlukan adanya persepsi yang sama dari semua pihak, baik para pengambil keputusan dan pelaksananya, serta masyarakat luas terutama masyarakat di daerah yang nantinya akan merasakan hasilnya melalui pemberdayaan dalam kerangka mencapai masyarakat madani yang diharapkan bersama akan segera dapat terwujud. Implikasi dari kebijaksanaan reformasi penyelenggaraan pemerintahan sebagaimana diatur dalam UU. No. 22/1999 tentang Pemerintah Daerah sebagai berikut :

1) Demokratisasi akan berjalan secara lebih transparan penuh keterbukaan dan semakin menumbuhkan peran dan kemampuan masyarakat untuk melibatkan dirinya dalam proses pengambilan keputusan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.

2) Kemandirian daerah dalam menyelenggarakan urusan rumah tangganya akan semakin terwujud sehingga mampu menghadapi segenap tantangan, hambatan, gangguan dan ancaman yang akan selalu menghadang pada masa-masa mendatang.

3) Terwujudnya efisiensi dan efektivitas dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang dapat memberdayakan kemampuan pemerintah daerah dalam menyelenggarakan urusan rumah tangga daerahnya.

4) Pelimpahan kewenangan kepada Daerah dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan akan diberikan secara luas, meskipun masih dalam bingkai negara kesatuan. Dalam hal ini distribusi kewenangan yang jelas kepada Daerah menjadi hal yang penting dibanding jenis urusan itu sendiri.

5) Pelimpahan kewenangan harus terwujud dengan adanya pendekatan pengambilan keputusan atas sesuatu kegiatan pemerintahan dan pembangunan pada pemerintahan Daerah Kabupaten dan Kota, terutama

(11)

dalam proses-proses pemberian perijinan yang mendorong terwujudnya iklim investasi yang kompetitif.

6) Mendorong adanya privatisasi penyelenggaraan sebagian urusan pemerintah (desentralisasi pelayanan publik) kepada pihak swasta dan LSM/NGO secara bertahap dengan secara cermat harus tetap memperhatikan kondisi dan kemampuan masyarakat.

C. PENUTUP

Dengan uraian yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa paradigma otonomi daerah menuntut suatu arah kebijakan reformasi penyelenggaraan pemerintahan, pada upaya memberi ruang pada daerah yang memungkinkan peran serta aktif masyarakat dalam proses-proses kebijakan pemerintahan dan pembangunan.

* Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Sultan Fatah Demak

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Halim, 2001, Manajemen Keuangan Daerah, Yogyakarta : AMP YKPN

Faisal Tamin, 1998, Reformasi dan Reorientasi Paradigma

Otonomi Daerah (Makalah), Seminar HMI Cab. Malang

Mardiasmo, 2002, Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah, Yogyakarta : Penerbit Andi

Moch. Mafud MD. 2000, Reformasi Tatanan Penyelenggaraan

Pemerintah Daerah (Makalah), Seminar Otonomi Daerah

Unibraw

Republik Indonesia, “Undang-undang No.22 Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah”

Republik Indonesia, “Undang-undang No.25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusar dan Daerah”

Syamsuddin Agus, 2000, Mengenal Otonomi Daerah Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Makalah), Seminar Kadin-PWI Kabupaten Bondowoso

Trilaksono N., 2000, Prospek Otonomi Daerah : Implementasi Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah (Makalah), Pentaloka DPRD Kotamadya Pasuruan

Referensi

Dokumen terkait

PARA CALON GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR PADA PEMILIHAN KEPALA DAERAH JAWA BARAT.

Laporan penerimaan dan penggunaan dana kampanye Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, selanjutnya disebut LPPDK, adalah laporan yang dibuat dan/atau dicatat oleh

Alamat tempat tinggal : ... Mengajukan diri sebagai calon anggota Panitia Pemungutan Suara Pemilihan Umum Kepala Daerah Dan Wakil Kepala Daerah Propinsi Jawa Timur

a) Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah sebanyak 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun, termasuk keluarga (satu istri/suami dan dua anak), dianggarkan dalam bentuk

Selain itu, sistem pemilihan kepala daerah (Gubernur, Bupati, Walikota, dan Kepala Desa/Lurah) hingga pemerintah yang ada pada unit terkecil harus dilakukan dengan cara

1) Ketua merangkap anggota yaitu Kepla LKD Kepala LKD menjadi ketua panitia karena Kepala LKD adalah pimpinan unit kearsipan Pemerintah Daerah yang memiliki fungsi

Walaupun pemerintah daerah propinsi dan kabupaten/kota diberikan kewenangan yang bersifat wajib dan sukarela dalam melaksanakan perjajian internasional, tetap harus

Bahkan, tidak hanya itu, tetapi posisi mereka sebagai orang “dropping” dari atas menjadi Pj kepala daerah sambil merangkap jabatan struktural aparatur sipil negara ASN, tidak ada wakil