• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI SIFAT MEKANIK DINDING PERAHU NELAYAN BERBAHAN BAMBU YANG DILAPISI FIBER KOMPOSIT DENGAN POSISI SERAT HORIZONTAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UJI SIFAT MEKANIK DINDING PERAHU NELAYAN BERBAHAN BAMBU YANG DILAPISI FIBER KOMPOSIT DENGAN POSISI SERAT HORIZONTAL"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

UJI SIFAT MEKANIK DINDING PERAHU NELAYAN BERBAHAN BAMBU YANG DILAPISI FIBER KOMPOSIT DENGAN POSISI SERAT

HORIZONTAL

Erinaldi, Duskiardi, Kaidir,

Program Studi Teknik Mesin-Fakultas Teknologi Industri-Universitas Bung Hatta Jl. Gajah Mada No.19 Olo Nanggalo Padang 25143

Telp. 0751-7054257 Fax. 0751-7051341

Email :[email protected] [email protected]@gmail.com

ABSTRAK

Indonesia merupakan negara maritim.Negara yang sebagian besar daerahnya merupakan pulau-pulau yang terpisahkan oleh lautan.Karena itu kapal sabagai sarana angkut dan saran kerja dilaut sudah dikenal dan dikembangkan dari jaman dahulu hingga sekarang.Pemerintah dewasa ini perlu merencanakan industri dibidang maritim secara lebih efektif. Maka dari itu Skripsi ini, fokus pada perencanaan pembuatan kapal di Indonesia akan dicoba menggunakan material komposit sebagai bahan utama untuk melapisi dinding kapal dengan serat tulang bambu yaitu dengan menguji sifat mekanik dinding perahu memakai material bambu yang dilapisi dengan fiber yang disebut dengan komposit dengan serat tulang bambu, katalis, mack, roving, dan resin untuk pembuatan kapal yang lebih moderen dan efektif. Pengujian Kekerasan dilakukan untuk melihat ketahanan resin terhadap hantaman ombak, data yang diperoleh pada spesimen satu 73 shore, berbeda selisih nilai kekerasannya, yaitu 73, 72, 74,6, dan 74. Pengujian Impak dilakukan untuk melihat ketahanan resin terhadap hantaman karang, data yang diperoleh pada spesimen satu 0,203 J/mm² berbeda dejauh dengan spesimen dua yaitu 0,252 j/mm²

Kata Kunci : Sifat Mekanik, Fiber, Komposit, Bambu, Mat, Roving, Katalis, Impak, Kekerasan.

(2)

ABSTRACT

Indonesia is a maritime country. State that most of the regions are islands separated by oceans. Because the ship sabagai means of conveyance and advice of employment at sea is already known and developed from antiquity to the present. The government today in the field of maritime industry needs to plan more effectively. Therefore this thesis, focusing on the planning of shipbuilding in Indonesia will try to use composite materials as the main material for lining the walls of the vessel with bone bamboo fiber is to test the mechanical properties of the walls of the boat wearing bamboo material which is coated with a so-called composite fiber with fiber bone bamboo, catalysts, mack, rovings, and resin for shipbuilding more modern and effective. Hardness testing is done to see the resilience of the resin to hit the waves, the data obtained on specimens of 73 shore, distinct difference in hardness values, namely 73, 72, 74.6, and 74. Impact Tests performed to see the resilience of the resin to hit the reef, the data obtained on specimens of 0.203 J / mm² different dejauh the two specimens is 0.252 J / mm²

Keywords: Mechanical Properties, Fiber, Composite, Bamboo, Mat, Roving, Catalysts, Impact, Violence

1. Pendahuluan

Indonesia merupakan negara maritim.Negara yang sebagian besardaerahnya merupakan pulau-pulau yang terpisahkan oleh lautan. Kapal tradisional adalah sebagai alat angkutan utama, modal transportasi laut, dan alat utama bagi nelayan untuk menangkap ikan di laut serta memiliki nilai penting dalamperekonomian Indonesia.

Potensi perairan yang ada di Indonesia diperkirakan mencapai 1 juta ton ikan pertahun dan kalau ditambah dengan kawasan ZEE (Zone Ekonomi Eksklusive), jumlahnya mencapai 6 juta ton pertahun.

Tetapi pemanfaatan potensi tersebut sampai sekarang masih sangat minim dan diperkirakan hanya sepertiga dari potensi yang

ada.Salah satu kendala pemanfaatan yang relatif masih kecil tersebut masih disebabkan oleh keterbatasan sarana untuk mendayakan potensi perairan berupa kapal ikan, baik dalam jumlah maupun ukuran serta peralatan yang dimiliki.

Karena itu kapal sabagai sarana angkut dan saran kerja dilaut sudah dikenal dan dikembangkan dari jaman dahulu hingga sekarang. Kapal kayu sebagai sarana transportasi laut yang paling banyak digunakan di Indonesia baik sebagai kapal ikan, kapal barang (armada pelayaran rakyat), bus air (untuk daerah sumatera, Kalimantan) dan pulau-pulau lain di indonesia.

Pemerintah dewasa ini perlu merencanakan industri dibidang maritim secara lebih efektif. Maka dari itu Skripsi ini, fokus pada

(3)

perencanaan pembuatan kapal tradisional dari material kayu yang digunakan oleh masyarakat luas selama ini yaitu antara lain pelaku usaha perkapalan di Indonesia akan dicoba menggunakan material komposit sebagai bahan utama untuk melapisi dinding kapal dengan serat tulang bambu yaitu dengan menguji sifat mekanik dinding perahu memakai material bambu yang dilapisi dengan fiber yang disebut dengan komposit dengan serat tulang bambu, katalis, mack dan resin untuk pembuatan kapal yang lebih moderen dan efektif.

Oleh karena itu perlu dipikirkan dan dicari bahanbaku alternatif untuk menggantikan bahan kayusebagai bahan baku pembuatan kapal dengan bahanbaku lain untuk armada kapal-kapal rakyat maupunkapal-kapal perikanan yang beroperasi didaearah Indonesia. Maka perlu kita merencanakan pembuatan kekuatan material komposit yang kitainginkan dengan cara mengatur komposisi darimaterial pembentuknya. Pada umumnya kompositdibetuk dari dua jenis material yaitu pertama Matriks,umumnya lebih ductile tetapi mempunyai kekuatandan rigiditas yang lebih rendah, kedua Penguat(reinforcement), umumnya berbentuk serat yangmempunyai sifat kurang ductile tetapi lebih rigit danlebih kuat.

1.1 Tujuan

Untuk mendapatkan sifat mekanik dari material bambu , yang dilapisi fiber Komposit terhadap lapisan pada awal pemotongan vertikal

dengan pengujian Impak dan kekerasan.

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Teori Dasar Material Perkembangan komposit saat ini sudah mulaimengarah pada pemanfaatan komposit sebagaipanel sekaligus struktur utama dari suatu komponen tertentu.Bahan komposit tidakhanya digunakan dalam bidang transportasi saja tetapi juga sudah digunakan dalam bidanglainnya, seperti bidang property, arsitektur danlain sebagainya.Hal ini disebabkan olehadanya keuntungankeuntungan yang lebihbesar atas penggunaan bahan komposit, seperti konstruksi ringan, kuat dan tidak terpengaruholeh korosi.

Kegiatan pemilihan material dan proses manufacturing/fabrikasi adalah merupakanbagian yang terintegrasi dalam perancangan mesin. Jadi kemampuan dalammengeksploitasi potensi dan karakteristik serta sifat-sifat material adalah essensial bagiinsinyur perancangan produk yang akan kita buat dan menjelaskan hubungan yang menunjukkanintegrasi antara desain, pemilihan material dan proses produksi dalam pengembangan peralatan produk yang di hasilkan.

2.2. Klasifikasi Material

Pengeringan material baik kayu mapun bamboo adalah suatu prose salami maupun buatan yang bertujuan untuk mengeluarkan

(4)

sebagian air yang terkandung dalam struktur bambu sehingga mempunyai kadar air sesuai yang dikehendaki. Pengeringan buatan merupakan hasil perkembangan teknologi untuk meningkatkan jumlah material yang berkualitas tinggi dari hasil pengeringan. Bambu jenis betung mempunyai diameter dapat mencapai 15 cm dengan tebal dinding antara 0.5 sampai 1.5 cm. pada bamboo jenis ini pembelahannya dapat dilakukan ketika masih basah sebab jika telah kering akan lebih sulit dilakukan. Pembelahan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu manual atau menggunakan alat bantu.

2.3. Sifat Mekanik Material

Pemahaman yang

menyeluruh mengenai sifat-sifat material, perlakuan, dan prosespembuatannya sangat penting untuk perancangan produk yang baik. Sifat materialumumnya diklasifikasikan menjadi sifat mekanik, sifat fisik, sifat kimiawi. Di dalam bab inikita hanya membahas sifat-sifat mekanik.

Sifat mekanik secara umum ditentukan melalui pengujian destruktif dari sampel materialpada kondisi pembebanan yang terkontrol.Sifat mekanik yang paling baik adalah didapatdengan melakukan pengujian prototipe atau desain sebenarnya dengan aplikasipembebanan yang sebenarnya.Namun data spesifik seperti ini tidak mudah diperolehsehingga umumnya digunakan data hasil pengujian standar seperti yang telahdipublikasikan oleh ASTM

(American Society of Mechanical

Engineer).

2.4. Komposit

2.4.1. Pengertian dari Komposit ( Fiber ).Sifat Mekanik Komposit yang Diproduksi oleh Suatu Instansi atau Pabrik

Komposit yang diproduksi oleh suatu instansi atau pabrik biasanya dapat diprediksi sifat mekanik dari bahan komposit berdasarkan bahan matrik dan bahan penguatnya (Callister, 2007).Adapun beberapa sifat mekanik yang dapat diprediksi dari komposit yaitu kekuatan tarik dan kelayakan sebagai material komposit (validitas komposit).Dalam komposit kekuatan tarik dipengaruhi oleh kekuatan

interface-nya. Dari pengujian kekuatan interface sangat sulit ditentukan karena prosesnya yang tidak sederhana. Sehingga hasil pengujian juga sangat sulit ditentukan karena adanya faktor teknis pembuatan spesimen. Untuk komposit polimer/serat , perbedaan campuran unsur matrik dan perbedaan serat juga menghasilkan kekuatan adhesive yang berbeda sehingga tidak jarang serat akan putus sebelum terlepas dari matriknya (Matthew, 1999).

Adapun besarnya kekuatan tarik yang dihasilkan oleh komposit polimer/serat dapat prediksi dengan menggunakan persamaan 2.1.Berdasarkan persamaan ini dapat digunakan oleh peneliti sejauh untuk mengetahui sejauh mana besarnya kekuatan tarik yang dihasilkan oleh komposit berdasarkan matrik dan penguat penyusunnya.

(5)

Penguat komposit pada umumnya mempunyai sifat kurang ulet tetapi lebih kaku serta lebih kuat. Fungsi utama dari penguat adalah sebagai penopang kekuatan dari komposit, sehingga tinggi rendahnya kekuatan komposit sangat tergantung dari penguat yang digunakan, karena tegangan yang dikenakan pada komposit mulanya diterima oleh matrik akan diteruskan kepada penguat, sehingga penguat akan menahan beban sampai beban maksimum. Oleh karena itu penguat harus mempunyai tegangan tarik dan modulus elastisitas yang lebih tinggi daripada matrik penyusun komposit. refrigerant meninggalkan evaporator dalam fase uap jenuh.Proses ini berlangsung secara reversible dan pada tekanan yang konstan.

2.4.2. Tujuan Pembutan Komposit

Tujuan dibuatnya komposit yaitu :

a. Memperbaiki sifat mekanik atau sifat spesifik tertentu b. Mempermudah

desain yang sulit pada manufaktur c. Keleluasaan dalam

bentuk atau desain

yang dapat

menghemat biaya produksi, dan

d. Menjadikan bahan lebih ringan.

2.4.4. Jenis – Jenis Komposit 1. Berdasarkan Bentuk Penguatnya

Berdasarkan bentuk penguatnya, secara garis besar komposit diklasifikasikan menjadi

tiga macam (Jones, 1975), yaitu: komposit partikel, komposit serat dan komposit lapis.

2.4.5. Klasifikasi Jenis Komposit

Bahan komposit dapat diklasifikasikan dalam beberapa jenis, tergantung geometri dan jenis seratnya.Hal ini dapat dimengerti, karena serat merupakan unsur utama dalam bahan komposit tersebut. Secara umum klasifikasi komposit ditunjukkan seperti pada Gambar (Kismono, 2000):

2.5. Material Komposit Dibagi Dua Bagian

Adapun golongan jenis material komposit yang digunakan yaitu diantaranya :

Material Inti / The Main Of Material

Matriks merupakan material pengikat serat penguat pada komposit, sifat dari matriks umumnya ductile dan mempunyai kekuatan yang lebih rendah dibandingkan dengan material penguatnya. Bahan yang umumnya dipakai sebagai matriks adalah resin atau polimer.

Bahan pembuat komposit 1. Resin

1. Polyester (orthopthalic)

Resin type ini sangat tahan terhadap proses korosi air laut dan asam encer. Adapun spesifikasi teknis adalah sebagai berikut ; Massa jenis = 1,23 gr / cm3, -Modolus

(6)

Young : 3,2 Gpa, Angka poison : 0,36, - Kekuatan Tarik : 65 Mpa.

2. Fiberglass

Fiberglass adalah pencampuran Resin dengan Katalis/Hardener yang harus dijadikan polymer. Hardener ini yang akan membantu resin mejadi polymer dan menjadi keras. Untuk memperkuatnya ditambahkan fiber (woven roving/mat) didalam adonan resin + hardener = jadilah apa yang biasanya disebut fiberglass meskipun lebih tepatnya GFRP.

3. Bambu

Bambu merupakan tanaman yang mudah ditemukan di daerah tropis terutama bambu yang memiliki genus Bambusa. Hal ini didasarkan pada survei statistik oleh ilmuwan yang bernama Ucimura (1980) yang menyatakan 80% bambu dunia berada di kawasan di Asia Selatan dan Asia Tenggara dan jenis bambu dari genus Bambusa adalah yang paling banyak dan mudah ditemukan di daerah tropis. Tanaman bambu sebagai salah satu tanaman yang jumlahnya melimpah di Indonesia, merupakan salah satu tanaman yang seratnya dapat digunakan sebagai bahan dasar material komposit.Bambu yang memiliki bentuk batang yang terdiri dari serat-serat panjang dan beruas-ruas memungkinkan bambu untuk dapat berdiri tegak.Hal ini lah yang dapat membuat bambu merupakan suatu material yang kokoh, kuat sekaligus ringan.

METODOLOGI PENELITIAN

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian 1. Bahan pembuatan komposit Bahan baku yang digunakan pada penelitian ini antara lain :

1. Bambu sebagai bahan utama

Bambu yang digunakan adalah bambu apo yang di ambil dari alam, pertamabambu yang sudah tua setelah itu dibersihkan dari material – material yg tidak berguna dan ranting – ranting yang menempel, kemudian bambu di potong sesuai ukuran cetakan yaitu 1 m x 1 m

Gambar 3.2 Bambu 2. Resin sebagai bahan

(7)

Resin yang digunakan adalah resin polister, resin polister didapat dari toko kimia penggunaan atau pemakaian resin 1 liter per lapisan.

Gambar 3.3 Resin Polister 3. Katalis sebagai bahan

pengeras

Katalis yang digunakan adalah katalis polister, katalis didapat dari toko kimia waktu pembelian resin lansung dengan katalis nya penggunaa atau pemakaian katalis yaitu 1 liter resin 25 cc katalis nya.

Gambar 3.4 Katalis polister 3.4 Alat yang digunakan dalam

pembuatan komposit.

Dalam pembuatan komposit menggunakan beberapa alat Adapun peralatan yang digunakan untuk pembuatan komposit:

1. Gergaji besi

Gergaji besi selain digunakan untuk memotong besi juga dapat

digunakan untukmemotong kayu atau benda lainnya.Oleh karena itu penggunaan gergaji besi dalam pembuatan komposit ini untuk memotong bambu karena pemakanan gergaji besi tidak terlalu besar dan dapat menghemat bambu.

Gambar 3.5 Gergaji Besi. 2. Pisau

Untuk mendapatkan ukuran bambu yang di inginkan dalam pembuatan komposit ini digunakan pisau untuk meraut bambu, ukuran bambu yang di iginkan yaitu 5mm x 5mm dan 1cm x 5mm.

Gambar 3.6 Pisau 3. Jangka sorong

Jangka sorong digunakan sebagai alat ukur untuk mengukur ketebalan bambu dan lebar dari bambu.

Gambar 3.7 Jangka Sorong 4. Cetakan

(8)

Cetakan dalam pembuatan komposit ini menggunakan papan tipis atau di sebut dengan triplex dengan ukuran 1200mm x 1200mm dan ditepinya diberi pembatas atau reng supaya resin yang di beri di atas bambu tidak keluar dari cetakan, dengan tinggi pembatas yaitu 3cm

Gambar 3.8 Cetakan 6. Gelas Ukur

Gelas Ukur ini digunakan untuk mengukur volume resin yang akan dituangkan kedalam cetakan sekaligus sebagai tempat untuk mengaduk Resin dan Katalis. Gelas ukur tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 3.9 Gelas Ukur 3.5 Proses pembuatan komposit

Penelitian ini bertujuan untuk mencari kekuatan dari komposit dengan berpenguat bambu, adapun proses pembuatan nya di bawah ini:

1. Menyiapkan bahan-bahan dan peralatan yang akan diperlukan dalam pengerjaan pembuatan material komposit.

2. Bambu yang telah diambil dari kebun dan di bersihkan, kemudian di potong sesuai ukuran

3. Kemudian bambu yang sesuai ukuran di letakan diatas cetakan.

4. Setelah bambu disusun, kemudian bambu di siram dengan resin yang telah dicampur katalis

5. Kemudian diatas bambu yang telah diberi resin tersebut dilapisi dengan Mat serat, setalah itu di sirami lagi dengan resin, kemudian dilapisi dengan serat Roving, dan diatas nya diberi lagi dengan resin.

6. Kegiatan itu dilakukan timbal balik, dan berulang – ulang sampai dengan tiga lapis. 7. Setelah itu komposit di bawa

keluar dan di jemur

8. Setelah kering baru dilakukan pemotongan sesuai dengan ukuran spesimen pengujian.

Gambar 3.10 contoh Spesimen

3.6 Prosedur pengujian 3.6.1 Pengujian Impak

Pemotongan spesimen uji impak dilakukan menggunakan gergaji besi, sesuai dengan standar

(9)

pengujian kekuatan impak dengan standar ASTM E23

Gambar 3.11

SkemaStandarPengujian kekuatan Impak DenganStandar ASTM E23

Gambar 3.12 Alat uji Impak dengan metode Charpy (hartono

Yudo,dkk.2008)

Gambar 3.13 Spesimen setelah pengujian Impak Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa bentuk spesimen setelah di uji impak mengalami patahan tetapi tidak putus

dikarenakan serat roving dan mat tidak putus mungkin pemasangan resin yang tidak merata. Atau sifat resin yang getas.

ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisa dan Hasil Pembahasan

Dari hasil pengujian kekerasan dan impak yang telah dilakukan pada bulan desember 2014, di dapatkan data sebagai berikut :

A. Pengujian Kekerasan Data hasil pengujian kekuatan kekerasan komposit Serat alam (Bambu Apus) yang dilapisi dengan material (fiber glass) matriks polimer (resin polyester+Katalis)

B. Pengujian Impak

Data hasil pengukuran pengujian kekuatan impak komposit Serat alam (Bambu Apus) yang dilapisi dengan material (fiber glass) matriks polimer (resin polyester+Katalis) dapat dilihat pada tabel 4.2.Ukuran sampel yang digunakan Standart ASTM E23 dengan metode Charpy (hartono Yudo,dkk.2008)

4.2 Pembahasan Hasil Pengujian

4.2.1 Pengujian Kekerasan

Pengujian kekerasan tidak terlalu memerlukan banyak spesimen bentuk spesimen uji kekerasan kurang lebih sama besar dengan uji bending yaitu 40 cm x 5,5 cm. Alat uji yang dipakai adalah alat uji kekerasaan Sceloroscope.

(10)

Tabel 4.3 Grafik Nilai Kekerasan Jumlah Pengujian Nilai Rata-rata Kekerasan (shore) 1 73 2 67 3 73 4 71 5 74,6 6 74

Gambar 4.1 Grafik Nilai Rata – rata Kekerasan komposit dengan serat

bambu Apus

Berdasarkan gambar grafik 4.1 dapat di dilihat bahwa:

1. Nilai kekerasan lapisan satu yang Lebar 5mm lebih keras dari nilai kekerasan yang Lebar 1 cm, mungkin dikarenakan pemasangan resin yang tidak merata. 2. Nilai kekerasan lapisan dua

yang lebar 5mm tidak jauh berbeda dengan kekerasan lapisan dua lebar 1 cm, dikarenakan pemasangan resin waktu mencetak merata. 3. Nilai kekerasan lapisan tiga yang lebar 5mm juga tidak jauh berbeda dengan kekerasan lapisan dua lebar 1 cm, dikarenakan pemasangan resin waktu mencetak merata. 4. 4.2.2 Pengujian Impak 1. Pada pengujian impak bahan

utama yang digunakan adalah komposit dengan serat bambu apus. Pengujian ini dilakukan dengan membandingan antara lebar bambu

2. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan kekuatan impak dari komposit berpenguat bambu apus. Dari pengujian di dapatkan sudut ayunan setelah terjadi Impak (β) pada komposit serat bambu apus.

Tabel 4.10. Grafik Nilai Impak Specimen Rata-rata Nilai

Impak J/mm² 1 0,203 2 0,252 3 0,236 4 0,323 5 0,472 6 0,305 60 80 1 2 3 4 5 6

Grafik Kekerasan …

Kekerasa n (shore) 0 0.5 1 2 3 4 5 6

Rata-rata Nilai

Impak J/mm²

Rata-rata Nilai Impak J/mm²

(11)

Gambar 4.2 Grafik Nilai Rata-rata Uji Impak Komposit Dengan serat bambu Apus

Berdasarkan gambar grafik 4.2 dapat di dilihat bahwa harga impak pada tiap – tiap spesimen serat bambu, harga impak (HI) tetinggi terjadi pada spesimen lima yaitu mencapai 0,472 j/mm dengan komposisi tiga lapis tebal 5mm, lebar dan terjadi penurunan grafik terjadi pada spesimen satu 0,203 dan tiga 0,236 J/mm dengan lapis satu dengan komposisi tebal 5mm, lebar 5mm dan komposisi dua lapis tebal 5mm, lebar 1 cm mungkin dikarenakan penyusunan bambu yang tidak merata atau waktu pemasangan resin yang tidak merata.

Tabel 4.11 Perbandingan Nilai Kekerasan Horizontal dan Vertikal

Gambar 4.3 Grafik Perbandingan Vertik al Dan Horizo ntal Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa perban dingan nilai vertikal dan horizontal terlihat tidak terlalu jauh mungkin dikarenakan pemasangan resin dan pemotongan yang kurang maksimal. 4.5 Pembahasan Nilai Horizontal Nilai Vertikal 73 68 67 73,3 73 66,7 71 73 74,6 67,3 74 64 1 2 3 4 5 6 Series1 73 67 73 71 74. 74 Series2 68 73. 66. 73 67. 64 55 60 65 70 75 80 Ni la i R at a -r at a

Grafik

perbandingan

Vertikal dan

Horizontal

(12)

Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan komposit ini adalah Bambu, Resin polister, katalis polister, Mat serat, dan Roving. Pengujian yang dilakukan adalah pengujian Impak dan pengujian kekerasan, yang dilakukan di UNP ( universitas negri padang ) Oleh karena itu agar bahan komposit ini dapat digunakan dalam pembuat dinding kapal perahu nelayan, maka dilakukan pengujian untuk melihat kekuatan atau ketahanan dalam kemampuan menahan hantaman ombak dan karang.

Pengujian Kekerasan dilakukan untuk melihat ketahanan resin terhadap hantaman ombak, dari pengujian didapat hasil yang kurang maksimal mungkin dikarenakan pemasangan resin yang kurang maksimal, data yang diperoleh pada spesimen satu 73 shore berbeda dejauh dengan spesimen dua yaitu 63 shore, kalau spesimen tiga, empat , lima, dan enam yang tidak berbeda selisih nilai kekerasannya, yaitu 73, 72, 74,6, dan 74.

Pengujian Impak dilakukan untuk melihat ketahanan bambu terhadap hantaman karang atau ombak, dari pengujian ini didapat hasil yang memuaskan dikarenakan kenaikan harga impak nya sesuai dengan rata – rata perlapisannya,

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Penelitian tentang material komposit dengan variasi ketebalan lapisan resin yang di susun sejajar

dalammatrik resin

polyesterinimemberikankesimpulans

ebagaiberikut:

a. Pengujian Kekerasan dilakukan untuk melihat ketahanan resin terhadap hantaman ombak, dari pengujian didapat hasil yang kurang maksimal mungkin dikarenakan pemasangan resin yang kurang maksimal, data yang diperoleh pada spesimen satu 73 shore berbeda dejauh dengan spesimen dua yaitu 63 shore, kalau spesimen tiga, empat , lima, dan enam yang tidak berbeda selisih nilai kekerasannya, yaitu 73, 72, 74,6, dan 74.

b. Pengujian Impak dilakukan untuk melihat ketahanan resin terhadap hantaman ombak, dan hantaman karang dari pengujian didapat hasil yang memuaskan mungkin dikarenakan pemasangan resin yang merata, data yang diperoleh pada spesimen satu 0,203 J/mm² berbeda dejauh dengan spesimen dua yaitu 0,252 j/mm², begitu seterusnya sampai dengan spesimen ke lima mengalami kenaikan yaitu 0,472 J/mm²sesuai dengan lapisannya kecuali di spesimen nomor enam mengalami penururan yaitu 0,305 J/mm², penurunan tersebut tidak terlalu signifikan mungkin resin yang terpasang tidak merata atau waktu pemotongan spesimen terlalu ketepi. 5.2 Saran

Berdasarkanpenelitian yang telahdilakukanmakadapatdiberikan

(13)

saran kepadapenelitiselanjutnyadenganme mperhatikanhal-halberikut: a. Untukpembuatanspesimenbendauj idengansusunanserat yang sejajarinimasihdilakukansecara manual denganmetodehand lay up yang

sangattergantungpadakemampuan penelitidenganmenggunakanperal atan yang sederhana.

b. Proses penekananpadasaatpencetakanhar usdilakukansecaramerata agar cetakanterisidengan resin danseratsecaramenyeluruhuntukm engurangiterjadinyavoid. c. Pencampuranperbandingan

volume antara resin dankatalisharussesuaikarenaapabil akatalisterlalubanyakakanmenyeb abkan material bendaujimenjadigetasdanrapuh. d. Lakukanpenyusunanserat yang baiksehinggamendapatkankompos it yang homogen, haltersebutsangatperludiperhatika nuntukmendapatkansifatmekanik yang baik. DAFTAR PUSTAKA (Jones, 1975), (Kismono, 2000), (Schwartz, 1984) (http://www.onkian.com/2009/10/skr ipsi-pengaruh-lebar-spesimen pada_6420.html

)

(Ellyawan, 2008), .(http: //www.onkian.com/2009/10/skri psi-pengaruh- campuran-spesimen-pada_6420.html) (Sudira, 1985), Ucimura (1980), (Richy, 2009), Ginoga (1977), PT. Carita Boat Indonesia.

Nugroho Adi Prayoga, dkk, 2006. ’’Analisa Sifat Mekanik Komposit Serat Tebu DenganMatrik Resin Epoxy’’.

Jurusan Teknik Mesin.Fakultas Teknik Universitas Pancasakti Tegal.

Van Vlack, L. H, 1992. “Ilmu dan

Teknologi Bahan”.Edisi ke-5,

Erlangga, Bandung.

Surdia,T, 2000, Pengetahuan

Bahan Teknik, Jakarta: Pradnya

Paramita.

Lokantara Putu, 2012. “Analisis

Kekuatan Impact Komposit Polyester-Serat Tapis Kelapa Dengan Variasi Panjang Dan Fraksi Volume Serat Yang

Diberi Perlakuan

NaOH”.Fakultas Teknik, Universitas Udayana, Kampus Bukit Jimbaran, Bali, Indonesia. Schwartz, M.M. (1984). Composite

Materials Handbook.New

York:McGraw-Hill Inc.

Gurning Nuria, 2013. “Pembuatan Beton Serat Tandan Kosong Kelapa Sawit” Program Studi Magister Ilmu Fisika – Usu, Medan.

ASTM, 2006, Standards and

Literature References for Composite Materials,

“American Society for Testing

and Materials”,Philadelphia,

PA.Callister.2010, Materials Science and Engineering an Introduction, Wiley & Sons.

(14)

Chawla,K.K.,1987. “ Composite

Materials ”. Springer – Verlag

New York Inc, Germany.

Nurdin Bukit. (2006). Beberapa Pengujian Sifat Mekanik dari Komposit yang Diperkuat dengan Serat Gelas.Skripsi.USU Medan.

Yudo Hartono, dkk.2008. “Analisa Teknis Kekuatan Mekanis Material Komposit berpenguat Serat Ampas Tebu (Baggase) Ditinjau dari Kekuatan Tarik dan Impak”. Program Studi Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Gambar

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian  1. Bahan pembuatan komposit   Bahan baku yang digunakan pada  penelitian ini antara lain :
Gambar 3.3 Resin Polister  3.  Katalis sebagai bahan
Gambar 3.9 Gelas Ukur  3.5 Proses pembuatan komposit
Tabel  4.3  Grafik  Nilai  Kekerasan  Jumlah  Pengujian  Nilai  Rata-rata  Kekerasan  (shore)  1  73  2  67  3  73  4  71  5  74,6  6  74
+2

Referensi

Dokumen terkait

Kami haturkan terima kasih kepada Pusat Kurikulum dan Perbukuan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang telah memberi kesempatan kepada kami

Efek sistemik yang bisa muncul antara lain : peningkatan tekanan vena sentral, peningkatan tekanan arteri sistolik (tourniquet induced hypertension), peningkatan ETCO2 (end-tidal

Grafik Pengaruh Proporsi Na- CMC dan Tapioka terhadap Rerata Tekstur Bumbu Lembar Perbedaan nilai tekanan bumbu lembar disebabkan oleh kemampuan Na-CMC membentuk

Pensyarah juga dapat mengajar dengan lebih teratur kerana setiap bahagian dalam MPK ini telah dipecahkan kepada unit-unit kecil yang membolehkan pelajar belajar dengan mudah dan

Hasil analisis statistik dengan menggunakan two-ways anova diperoleh hasil bahwa laju pertumbuhan diameter karang Montipora digitata pada perlakuan kedalaman 3 m

Untuk  meningkatkan  efektifitas  pemanfaatan  pinjaman/hibah  luar  negeri  (PHLN),  perencanaan  kegiatan  yang  akan  dibiayai  dengan  PHLN  dilakukan 

Setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda kepada Republik Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949, Kesultanan Sambas menjadi bagian dari Negara