• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "V. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Keadaan Umum Kota Dumai

Pada tahun 1999, Kota Administratif Dumai berubah status menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Dumai sesuai dengan undang-undang nomor 16 Tahun 1999 Tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Dumai, wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Dumai mempunyai batas-batas sebagai berikut: a. Sebelah utara berbatasan dengan Selat Rupat; b. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Daerah Tingkat II Bengkalis; c. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Mandau dan Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Daerah Tingkat II Bengkalis; d. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Tanah Putih dan Kecamatan Bangko Kabupaten Daerah Tingkat II Bengkalis.

Mayoritas atau sekitar 82,9 persen luas lahan ditanami kelapa sawit yang diyakini punya nilai ekonomis tinggi. Selama tahun 2002, 46.000 ton kelapa sawit dipanen dan kemudian dikirim ke Kabupaten Rokan Hilir untuk diolah di Pengolahan Kelapa Sawit (PKS). Walaupun telah ada pabrik penghasil minyak sawit mentah atau crude palm oil, kota yang iklimnya dipengaruhi oleh laut ini tak mempunyai PKS. Oleh sebab itu, petani sawit terpaksa mengirim hasil panen sawit ke daerah tetangga, Kabupaten Rokan Hilir, untuk diolah. Dengan tingkat produksi sawit sebesar itu semestinya diperlukan kehadiran dua pengolahan kelapa sawit berkapasitas sekitar 8.000 ton per hari. Nantinya, petani tak perlu lagi ke luar kota, dan kemudian dikirim kembali ke Dumai untuk diolah di tiga pabrik pengolahan inti sawit. PT Bukit Kapur Raya, pabrik berkapasitas produksi terbesar dan memperkerjakan 175 pegawai, mampu menghasilkan tak kurang dari 2 juta ton minyak sawit mentah per tahun yang dikirim ke Eropa, Amerika Selatan, dan juga berbagai negara di Asia.

Belum cukup dengan tiga pabrik besar penghasil CPO, Pemerintah Kota masih mengharapkan para pemodal menanamkan investasinya di kota yang memiliki jenis tanah rawa bergambut, terutama di bidang agroindustri. Harapan ini tak berlebihan mengingat industri diimpikan menjadi bagian dari tulang punggung perekonomian serta dukungan pasokan bahan baku dari daerah sekitar

(2)

yang berfungsi wilayah belakang. Untuk merealisasikan harapan ini, pemerintah kota menyediakan setidaknya tiga kawasan industri di Lubuk Gaung, Kecamatan Sungai Sembilan, 1.450 hektar, di Pelintung, Kecamatan Medang Kampai, 500 hektar, dan di Bagan Besar, Kecamatan Bukit Kapur, 500 hektar. Hanya saja, pembenahan infrastruktur seperti jalan harus dilakukan. Contoh nyata, kondisi jalan ke Pelintung buruk dan sukar dilewati saat hujan turun. Di samping itu, konflik antara manusia dan binatang liar yang sering terjadi di lokasi kawasan industri harus segera dicari jalan keluarnya. Daya tarik utama investor sebenarnya adalah pelabuhan yang berakses langsung ke jalur Selat Malaka, serta terlindung oleh Pulau Rupat milik Kabupaten Bengkalis. Tak hanya menjadi senjata utama, pelabuhan bahkan telah menjadi jantung perekonomian.

Partisipasi aktivitas ini terhadap nilai perekonomian total, 24,11 persen di tahun 2001. Nilai yang cukup tinggi dibandingkan lapangan usaha lainnya. Lebih dari itu, tempat labuh merupakan bagian sejarah terpenting dari daerah yang memiliki 16 sungai ini, yang dimulai saat PT Caltex Pacifix Indonesia (CPI) memindahkan pelabuhannya ke kota ini. Jalan tembus dari daerah penghasil minyak di Kabupaten Bengkalis, Duri, ke pantai yang berjarak 93 mil dari Malaysia ini segera dibangun. Pipa-pipa raksasa untuk mengalirkan minyak mentah membentang sepanjang 900 kilometer di tepi jalan raya. Tahun 1959, pelabuhan minyak selesai didirikan dan mulai digunakan. Melihat perkembangan positif yang terjadi, Pertamina UP II pun memanfaatkan wilayah sekitar pelabuhan sebagai lokasi pengilangan minyak, Kilang Minyak Putri Tujuh.

Dampak langsung keberadaan pelabuhan ini adalah meningkatnya sektor tersier perdagangan dan jasa. Dengan memanfaatkan pelabuhan, tempat keluar masuk manusia serta bongkar muat barang, rezeki pun diraup. Apalagi komoditas perdagangan yang ada cukup beragam, mulai dari sembako hingga pengiriman minyak mentah. Sepanjang tahun 2002, penjualan minyak mentah yang dibukukan oleh dua perusahaan besar minyak di salah satu gerbang Sumatera bagian timur ini nilainya 2 miliar dollar AS. Jumlah itu adalah nilai dari hampir 103 juta barrel minyak jenis low sulphur waxy residue, Sumatera light crude, Duri crude oil, dan green coke. Jutaan barrel minyak ini dikirim ke berbagai negara antara lain

(3)

Amerika Serikat, Australia, Cina, Korea Selatan, Filipina, Malaysia, dan Singapura.

Karakterisik Masyarakat

Dari struktur sosial masyarakat di lokasi penelitian, kehidupan masyarakat di daerah ini masih berbasis pada sumberdaya agraris yaitu sektor pertanian dan nelayan. Secara umum ditemukan tiga kelompok sumber pendapatan masyarakat Kecamatan Medang Kampai Kota Dumai antara lain, 987 orang bekerja di sektor perdagangan, 368 orang bekerja di sektor informal dan sebanyak 416 orang bekerja sebagai montir bengkel. Namun secara lebih rinci lagi, kelompok masyarakat Kota Dumai dibagi menjadi sepuluh kelompok pekerjaan, yaitu kelompok petani, nelayan, peternak, pedagang, guru/PNS/ABRI, buruh, buruh tani, BUMD/BUMN/swasta, pengerajin, dan kelompok pekerja lainnya. Dari kelompok masyarakat tersebut, yang paling dominan di lokasi penelitian adalah masyarakat yang berprofesi sebagai buruh, seperti yang terlihat pada gambar berikut: 0 5 10 15 20 25 30 35 40 peta ni nela yan pet erna k ped agng guru /PN S/AB RI buru h buruh tani BUM D/B UMN /Sw asta Peng era jin Lain nya jumlah

Gambar 9 Struktur Pekerjaan Masyarakat Kota Dumai Tahun 2006

Kelompok masyarakat di atas merupakan kelompok masyarakat yang menjadi responden dalam penelitian ini. Sampel yang diambil sebagai responden dalam penelitian ini semuanya berjumlah 30 orang, dimana sampel tersebut ditentukan secara purposive sampling dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.

(4)

Kelompok masyarakat inilah yang terkena langsung dampak dari adanya pencemaran di Kecamatan Medang Kampai Kota Dumai. Umumnya mereka tinggal di daerah pesisir pantai Kecamatan Medangka Kampai. Karakteristik responden yang diamati adalah tingkat pendidikan, rata-rata tingkat pendapatan perbulan, jenis kelamin, tingkat umur, jenis pekerjaan, jumlah tanggungan dalam keluarga.

Jenis Penyakit Akibat Pencemaran

Akibat terjadinya pencemaran di sekitar pesisir Kecamatan Medang Kampai, telah menimbulkan beberapa jenis penyakit yang diderita masyarakat sekitarnya. Menurut data Puskesmas Pembantu Jaya Mukti dan Puskesmas Dumai Timur, terdapat sepuluh jenis penyakit tertinggi di Puskesmas tersebut antara lain penyakit ISPA, Hipertensi, Febris, Kulit Alergi, dan penyakit lainnya yang muncul akibat adanya pencemaran. Data dari kedua Puskesmas ini menjadi gambaran penyakit-penyakit yang diderita masyarakat di Kota Dumai, termasuk di Kecamatan Medang Kampai. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 7 Sepuluh Jenis Penyakit Tertinggi di Puskesmas Pembantu Jaya Mukti Kecamatan Dumai Timur Tahun 2004

Puskesmas

Puskesmas Dumai Timur Puskesmas Pembantu Jaya Mukti No. Jenis Penyakit Jumlah (%) Jenis Penyakit Jumlah (%)

1 ISPA 6,213 (38,9) ISPA 3.638 (24,70)

2 Hipertensi 3,170 (19,64) Gasritis 2.604 (17,68) 3 Febris 1,580 (4,79) Infeksi Kulit 1.394 (9,47) 4 Kulit Alergi 1,140 (7,06) Rheumatik 1.392 (9,45)

5 Rhematik 1,112 (6,89) Asma 1.304 (8,86)

6 Gasritis 862 (5,35) Hipertensi 1.128 (7,66) 7 Diare 774 (4,79) Alegri Kulit 1.118 (7,59)

8 Kulit Infeksi 665 (4,12) Jamur 863 (5,86)

9 Asma 322 (1,99) Scabies 649 (4,41)

10 Diabetes 303 (1,87) Cacar air 635 (4,31)

Jumlah 16,141.00 (100) Jumlah 14.725 (100) Sumber: Puslit. Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian Universitas Riau (2005)

Dari jenis penyakit yang diderita oleh masyarakat tersebut kemudian diambil beberapa sampel untuk dijadikan responden dalam penelitian ini. Tetapi tidak semua jenis penyakit dijadikan sampel mengingat keterbatasan waktu dan

(5)

dana dalam penelitian ini. Sehingga yang dijadikan sampel adalah penyakit yang mayoritas diderita oleh masyakat dan telah dipastikan disebabkan oleh pencemaran lingkungan. Dalam penelitian ini, ada juga masyarakat yang terkena penyakit namun tidak berobat ke dokter dan hanya menggunakan obat tradisional. Namun dalam penelitian ini, tetap dilakukan valuasi untuk mengetahui tingkat kerugian rata-rata masyarakat, bukan mengetahui kerugian ekonomi secara total.

Referensi

Dokumen terkait

Sampel masyarakat Desa Palasari yang diambil yaitu sebanyak 30 responden. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan Purposive Sampling. 124)

Dalam hal karakteristik responden, tingkat pendidikan juga mempengaruhi persepsi responden terhadap perubahan guna lahan yang berdampak pada mata pencaharian dan

Jumlah pengunjung /wisatawan yang datang dijadikan sampel penelitian (responden) yang dipilih secara acak, kemudian melalui lembar pernyataan (kuisioner) mereka

Sampel masyarakat Desa Cicadas yang diambil yaitu sebanyak 30 responden. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan Purposive Sampling. 124)

Jumlah responden Giant Hypermarket dengan pekerjaan pegawai swasta adalah sebanyak 14 responden atau 31,11 persen, dari data tersebut terdapat 5 responden dengan

Dari hasil penelitian ini ternyata status gizi batita indikator BB/U memiliki hubungan yang signifikan dengan penyakit infeksi, pemanfaatan pelayanan penimbangan, penyuluhan dan

Pada penelitian dashboard dapat digunakan untuk melakukan analisa cara pembayaran, jenis penyakit, dan perbandingan jumlah penderita penyakit yang diderita oleh

Tinggal di hunian bertingkat (rumah susun) yang belum belum menjadi kebiasaan bagi masyarakat Indonesia, turun-naik tangga untuk melaksanakan kegiatan rumah tangga sehari-hari