V. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN
Pada bagian ini akan disajikan gambaran mengenai lokasi penelitian untuk mendapatkan data primer tentang perilaku ekonomi usaha kecil, yang meliputi tiga Kabupaten yaitu: Semarang, Magelang dan Klaten. Serta seluruh Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah, yang berjumlah 29 Kabupaten untuk mendapatkan data sekunder tentang peranan lembaga keuangan mikro. Guna memperoleh gambaran umum wilayah penelitian, maka akan disajikan keadaan umum masing-masing wilayah penelitian.
5.1. Keadaan Umum Wilayah Kabupaten Penelitian
Kabupaten Semarang memiliki luas wilayah 94 686 hektar secara administratif terbagi menjadi 18 Kecamatan dan terdiri dari 208 Desa dan 27 Kelurahan. Pada tahun 2006 jumlah penduduk tercatat 894 018 jiwa dengan kepadatan penduduk 944 jiwa per km2. Letak wilayah Kabupaten Semarang, disebelah utara berbatasan dengan Kota Semarang, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Demak dan Grobogan, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Boyolali dan Magelang, dan disebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Kendal.
Kabupaten Magelang memiliki luas wilayah 108 573 hektar yang terbagi menjadi 21 Kecamatan terdiri dari 367 Desa dan 5 Kelurahan. Jumlah penduduk tercatat 1 169 638 jiwa dengan kepadatan penduduk 1 077 jiwa per km2. Wilayah Kabupaten Magelang di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Semarang dan Temanggung, di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Boyolali, di
sebelah selatan berbatasan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta, dan di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Purworejo dan Wonosobo.
Sedangkan Kabupaten Klaten memiliki luas wilayah 65 556 hektar yang secara administratif terbagi menjadi 26 Kecamatan terdiri dari 391 Desa dan 10 Kelurahan. Jumlah penduduk 1 139 218 jiwa dengan kepadatan penduduk 1 737 jiwa per km2. Letak wilayah Kabupaten Klaten di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Semarang dan Grobogan, di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sragen, Karanganyar dan Sukoharjo, di sebelah selatan dan barat berbatasan dengan Daerah Istimewa Yoyakarta.
Tiga kabupaten ini secara topografis sebagian besar terletak di wilayah kaki Gunung Merapi dan Merbabu yang berada di tengah-tengahnya. Sedangkan secara ekonomi tiga kabupaten ini berada dalam wilayah pengembangan kawasan segitiga Jogya-Solo-Semarang (JOGLOSEMAR), dan sering disebut juga kawasan strategis pengembangan ekonomi (Special Economic Growth Zones) yang bertumpu pada potensi pertanian dan industri rakyat.
5.2. Keadaan Umum Wilayah Provinsi Penelitian
Jawa Tengah secara administratif Provinsi Jawa Tengah terbagi menjadi 29 kabupaten dan 6 kota, dengan luas wilayah 3 254 412 hektar (sekitar 25.04 persen dari luas pulau Jawa atau 1.7 persen dari luas Indonesia). Jumlah penduduk pada tahun 2006 tercatat 32 908 850 jiwa dengan kepadatan sekitar 1 011 jiwa per km2. Gambaran umum menyangkut aspek kependudukan,geografi, sosial, dan ekonomi, dari 29 Kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.
Tabel 2. Beberapa Indikator Makro Ekonomi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2005
Luas Jumlah PDRB Jumlah
Posisi Kredit No Kabupaten Wilayah (ha)
Penduduk (jiwa) Harga konstan (juta Rp) BPR (unit) Bank Umum (juta Rp) 1 Cilacap 213 851 1 674 210 21 729 328.83 24 1 331 499 2 Banyumas 132 759 1 531 737 3 598 399.16 30 1 703 555 3 Purbalingga 77 765 863 478 1 921 653.92 2 572 582 4 Banjarnegara 106 974 903 919 2 321 117.64 2 502 358 5 Kebumen 128 274 1 208 486 2 360 449.90 24 485 946 6 Purworejo 103 482 712 003 2 321 543.04 3 496 725 7 Wonosobo 98 468 779 919 1 570 347.69 13 392 208 8 Magelang 108 573 1 169 638 3 245 978.82 24 1 227 831 9 Boyolali 101 507 941 624 3 456 062.13 9 595 032 10 Klaten 65 556 1 139 218 4 160 938.70 19 1 112 476 11 Sukoharjo 46 666 838 149 3 941 788.46 24 1 819 205 12 Wonogiri 182 237 1 010 456 2 426 197.98 3 567 877 13 Karanganyar 77 220 834 265 4 188 330.48 16 1 799 967 14 Sragen 94 649 868 036 2 322 239.43 8 948 336 15 Grobogan 197 585 1 334 380 2 579 283.26 7 742 263 16 Blora 179 440 840 729 1 731 375.93 6 545 261 17 Rembang 101 410 588 320 1 633 176.71 3 409 844 18 Pati 149 120 1 213 664 3 786 140.34 13 1 149 769 19 Kudus 42 517 759 267 10 630 188.11 16 4 836 906 20 Jepara 100 416 1 077 586 3 411 159.47 4 853 861 21 Demak 89 743 1 071 487 2 470 777.08 10 766 993 22 Semarang 94 686 894 018 4 484 189.54 20 2 733 248 23 Temanggung 87 023 717 486 1 994 172.89 8 570 709 24 Kendal 100 227 897 560 4 279 793.99 30 597 128 25 Batang 78 895 712 542 1 972 776.84 10 506 917 26 Pekalongan 83 613 858 650 2 587 305.96 12 594 918 27 Pemalang 101 190 1 371 943 2 770 157.15 10 526 622 28 Tegal 87 970 1 471 043 2 808 153.13 16 1 333 371 29 Brebes 165 773 1 814 274 4 318 218.90 9 918 691
Dearah Tingkat II Lainnya *) 56 823 2 810 763 24 581 418.32 33 18 245 576
Jumlah 3 254 412 32 908 850 135 602 663.80 408 48 887 674
Sumber: BPS Semarang, 2006 (diolah)
Keterangan: *) Meliputi Data 6 Kota di Jawa Tengah
**) Data Tahun 2004
Luas wilayah kabupaten di Jawa Tengah rata-rata sekitar 100 000 hektar, Kabupaten Cilacap memiliki wilayah paling luas 213 851 hektar dan Kabupaten Sukoharjo memiliki wilayah paling sempit 46 666 hektar. Jumlah penduduk di Kabupaten Cilacap juga tercatat paling banyak yaitu 1 674 210 jiwa, sedangkan
Kabupaten Purworejo tercatat memiliki jumlah penduduk paling sedikit yaitu sebanyak 712 003 jiwa. Untuk angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Cilacap dan Kudus tercatat paling, dua kabupaten ini merupakan daerah industri yang berbasis minyak dan gas, dan industri rokok. Di bidang ekonomi jumlah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) masing-masing kabupaten jumlahnya sangat bervariasi terendah 2 unit BPR di Kabupaten Purbalingga dan Banjarnegara, dan tertinggi 30 unit BPR di Kabupaten Banyumas dan Kendal. Lokasi kantor dan unit dari BPR umumnya adalah di wilayah kecamatan, yang tingkat aktivitas perekonomian tinggi dan umumnya ditandai dengan aktivitas pasar yang cukup intensif. Posisi kredit yang disalurkan dari bank umum yang disalurkan ke masyarakat, tercatat Kabupaten Wonosobo paling rendah dengan posisi kredit Rp 392.21 miliar dan tertinggi di Kabupaten Semarang sebesar Rp 2 733.25 miliar. Dari tabel diatas variasi jumlah unit BPR dan posisi kredit dari bank umum diantara kabupaten-kabupaten cukup tinggi, hal ini menggambarkan pula adanya tingkat kesenjangan indikator ekonomi antar kabupaten di Jawa Tengah cukup tinggi pula, karena tidak semua kabupaten memiliki kecamatan dengan aktivitas perekonomian yang berkembang maju.
5.3. Keragaan UsahaKecil
Keadaan keragaan contoh (sampel) usaha kecil dari tiga kabupaten yaitu: Kabupaten Semarang, Kabupaten Magelang dan Kabupaten Klaten ini diharapkan dapat mewakili perilaku ekonomi usaha kecil dari usaha kecil yang ada di Jawa Tengah, terutama yang menyangkut karateristik sosial-ekonomi, jenis usaha kecil, karakteristik kredit kecil, serta pemasaran produk.
5.3.1. Karateristik Sosial Ekonomi
Kegiatan usaha kecil yang dilakukan oleh contoh (sampling) di tiga wilayah kabupaten mempunyai keragaan yang cukup tinggi, baik dari umur kepala keluarga, jenis kelamin, maupun tingkat pendidikan, seperti pada Tabel 3. Tabel 3. Karakteristik Rumah Tangga Usaha Kecil
Kabupaten Jumlah
Diskripsi Semarang Magelang Klaten
1. Jumlah Contoh (KK) 15 50 25 90 2. Umur: 15 - 30 tahun 1 4 2 7 31 - 45 tahun 10 21 9 40 46 - 60 tahun 4 25 14 43 3. Jenis kelamin: Laki-laki 9 33 24 66 Perempuan 6 17 1 24 4. Pendidikan: SD 4 16 6 26 SMP 5 17 5 27 SMA 5 13 13 31 D3 / Perguruan Tinggi 1 4 1 6
Sumber : Data Primer (diolah)
Dari Tabel 3. diatas dapat dilihat umur kepala keluarga sebagai pelaku utama, sekaligus pemilik usaha kecil di tiga kabupaten sebagian besar berumur antara 31 – 45 tahun dan 46 – 60 tahun, dimana jumlahnya mencapai 83 contoh dari total 90 contoh (sekitar 92 persen). Untuk Kabupaten Klaten bahkan 14 contoh dari 25 contoh (sekitar 56 persen) berumur antara 46–60 tahun. Sementara pelaku usaha kecil yang berumur antara 15–30 tahun di tiga kabupaten ini hanya tercatat 7 contoh (sekitar 8 persen), hal ini tentu cukup merisaukan apabila dilihat dari aspek upaya pengembangan dam keberlanjutan usaha kecil yang sedang digelutinya.
Dilihat dari sisi gender pelaku usaha kecil di tiga kebupaten ini juga sebagian besar adalah laki-laki, dimana jumlahnya mencapai 66 contoh (sekitar 73
persen), dan hanya 24 contoh (sekitar 27 persen) adalah perempuan. Sedangkan dari sisi tingkat pendidikan cukup merata, dimana pelaku usaha kecil berpendidikan antara SD, SMP, dan SMA. Hanya ada 6 contoh (sekitar 7 persen) yang berpendidikan D3 / Perguruan Tinggi. Bila dilihat dari sisi wilayah, Kabupaten Klaten memiliki sumber daya manusia yang paling baik karena jumlah contoh (sampel) yang berpendidikan SMA keatas mencapai 14 contoh dari 25 contoh (56 persen), padahal sebagian besar berumur antara 46–60 tahun.
5.3.2. Jenis Usaha Kecil
Walaupun usaha kecil yang menjadi kajian adalah kelompok usaha makanan, namun ternyata jenis-jenis usaha dilakukan 50 contoh (sampel) usaha kecil cukup beragam terutama usaha kecil di wilayah Kabupaten Magelang yang merupakan jumlah terbesar contoh yang diambil. Hal ini dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Jenis Usaha Kecil yang Dilakukan
Kabupaten Jumlah
Diskripsi Semarang Magelang Klaten
1. Jumlah Contoh (KK) 15 50 25 90 2. Jenis-jenis Usaha: Krupuk kedelai 15 15 Kripik tempe 14 14 Ceriping(pisang,ketela,getuk) 13 13 Rengginang ketan 3 3 Slondok ketela 7 7 Krupuk rambak 13 10 23 Soun mie 15 15 3. Jenis Produk:
Produk jadi (siap konsumsi) 50 10 60
Produk setengah jadi (siap olah) 15 15 30
Sumber : Data Primer (diolah)
Dari Tabel 4 diatas terlihat bahwa keragaan jenis usaha yang dilakukan oleh contoh cukup bervariasi. Di kabupaten Semarang 15 contoh merupakan usaha kecil makanan krupuk kedelai, diproduksi di Kecamatan Tuntang yang
merupakan sentra usaha krupuk kedelai dan terletak pada jalur jalan raya Solo - Semarang. Sentra usaha krupuk kedelai ini sudah ada sejak 30 tahun yang lalu dan saat ini ada sekitar 50 pengrajin usaha kecil makanan krupuk kedelai yang beroperasi. Produk krupuk kedelai ini merupakan makanan setengah jadi, karena krupuk kedelai ini masih mentah dan harus dijemur terlebih dahulu sebelum digoreng untuk dikonsumsi.
Di Kabupaten Magelang, jenis usaha kecil yang dilakukan responden jenis usaha yang dilakukan beragam dan tersebar di beberapa desa disekitar Kecamatan Tegalrejo, Kecamatan Grabag, Kecamatan Candirejo, dan Kecamatan Mertoyudan. Dari 50 contoh usaha kecil, terdapat 14 usaha kecil penghasil kripik tempe, 13 usaha kecil krupuk rambak, 13 usaha kecil ceriping pisang dan ceriping ketela, 7 usaha kecil slondok ketela, 3 usaha kecil penghasil rengginang ketan, dan 2 usaha kecil penghasil marning jagung. Semua usaha kecil ini membuat makanan ringan jadi yang siap untuk dikonsumsi.
Untuk Kabupaten Klaten, 25 contoh usaha kecil ada di 2 kecamatan, yaitu: 15 usaha kecil mie soun di Kecamatan Ngawen yang merupakan produk setangah jadi yang siap diolah, dan 10 usaha kecil krupuk rambak di Kecamatan Jogonalan yang merupakan produk jadi siap dikonsumsi.
Secara historis usaha kecil makanan olahan berupa krupuk kedelai di wilayah Tuntang Kabupaten Semarang ini telah ada sejak tahun 1970-an akhir, yang berawal dari usaha perorangan oleh seorang pengasuh pesantren yang membuat krupuk kedelai dan kemudian diikuti oleh usaha perorangan lainnya yang sebelumnya juga bekerja di tempat tersebut. Usaha ini semakin berkembang sejak tahun 1980-an yang antara karena kemudahan akses transportasi yang
berada di tepi jalan raya nasional dan mengalami pasang surut terutama pada periode krisis moneter tahun 1997, namun demikian usaha ini berhasil melewati masa sulit tersebut dan terus berkembang hingga sekarang. Karena adanya budaya lokal yang lekat dengan pesantren, usaha kecil disini umumnya kurang berinisiatif dan kurang dekat dengan lembaga bank. Namun apabila pihak perbankan cukup aktif untuk melayani kelompok ini, maka alternatif pembiayaan lainnya dari bank masih dapat dilakukan.
Untuk wilayah Kabupaten Magelang, usaha kecil yang ada telah berkembang sejak lama. Pada periode tahun 1960-an telah berkembang usaha kecil makanan olahan terutama yang berbasis bahan baku lokal dari ketela pohon (singkong) dan lainnya, mulai dari: getuk, ceriping ketela, ceriping getuk, slondok ketela, ceriping pisang, kripik tempe, krupuk rambak, dan rengginang ketan. Usaha kecil ini tersebar di beberapa perdesaan di wilayah kecamatan, seperti: Tegalrejo, Grabag, Candimulyo, Secang, Mertoyudan, dan Borobudur. Usaha kecil ini terus berkembang hingga sekarang dan telah menjadi salah satu ikon produk makanan khas dari Magelang. Pada awalnya sumber pembiayaan dari bank berupa kredit umumnya diperoleh dari Bank Pasar (BP) yang kemudian diikuti bank umum seperti BRI Unit. Sedangkan usaha kecil lainnya dibawah binaan dinas terkait memperoleh memperoleh pinjaman dari program, yang kemudian berkembang menjadi kredit bergulir (revolving funds) dari program dinas terkait dan Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang saat ini sebagian juga telah berkembang menjadi program Corporate Social Responsibility (CSR) dari BUMN.
Sedangkan usaha kecil di wilayah Jogonalan dan Ngawen di Kabupaten Klaten juga telah berkembang sejak lama. Untuk produk krupuk rambak di Jogonalan telah ada sejak tahun 1970-an hingga berkembang sekarang ini, karena antara lain diuntungkan dengan lokasinya yang berada di tepi jalan raya Solo – Yogyakarta dan rel kereta api lintas selatan, sehingga pemasaran produk ke Yogyakarta dan daerah lainnya menjadi sangat mudah dan menguntungkan.
Untuk produk mie soun di Ngawen telah ada sejak awal tahun 1960-an, yang berawal dari pekerja yang berkerja pabrik soun di Klaten kota. Pabrik soun di kota tutup dan pekerja kemudian merintis usaha mie soun sendiri di wilayah Ngawen dan terus berkembang hingga sekarang ini, terutama sejak krisis moneter tahun 1997. Pada awalnya usaha mie soun yang pemasaran hingga Jawa Timur ini, tidak dilirik sama sekali oleh perbankan bahkan pengusaha mie soun ini sulit sekali untuk mendapat kredit, walaupun usahanya sangat feasible. Namun setelah krisis moneter, beberapa bank mulai mendatangi pengusaha mie soun dan menawarkan kredit, ini dilakukan antara lain karena ketika krisis moneter terjadi usaha ini masih tetap bertahan dan bahkan beberapa usaha kecil justru lebih berkembang.
5.3.3. Karakteristik Kredit Mikro dan Kecil
Karakteristik kredit mikro dan kecil dari contoh (sampel), baik yang berasal dari perbankan, maupun kredit atau pinjaman dari koperasi simpan pinjam, dan sumber-sumber lainnya, masing-masing memiliki keragaan yang cukup tinggi, baik pagu kredit, tingkat bunga, dan jenis agunan seperti terlihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Karateristik Kredit dan Pinjaman yang Diambil Usaha Kecil
Diskripsi Semarang Magelang Klaten Kabupaten Jumlah
1. Jumlah contoh (KK) 15 50 25 90
2. Sumber Pinjaman:
Bank (BRI, BNI, Mandiri, BPD) - 10 13 23
BPR - 10 2 12 Koperasi - 2 9 11 Sumber lainnya 15 28 1 44 3. Pengambilan Kredit: ≤ 5 juta rupiah 15 25 9 49 5 s/d 50 juta rupiah - 24 9 33 > 50 juta rupiah - 1 7 8
4. Tingkat Bunga Pinjaman:
≤ 12 persen per tahun - 22 7 29
12 s/d 18 persen per tahun - 5 5 10
18 s/d 24 persen per tahun - 20 13 33
24 persen per tahun 15 3 - 18
5. Jenis Agunan:
Sertifikat Tanah - 22 15 37
BPKB - 9 - 9
Tanpa Agunan 15 19 10 44
Sumber : Data Primer (diolah)
Terdapat 15 contoh usaha kecil di Kabupaten Semarang, yang merupakan sentra usaha kerupuk kedelai di wilayah Kecamatan Tuntang, belum menggunakan sumber kredit formal dari lembaga keuangan formal, seperti bank umum, bank perkreditan rakyat, ataupun koperasi. Seluruh usaha kecil masih memanfatkan kredit atau pinjaman informal dari perorangan, kelompok, terutama untuk membayar bahan baku terutama tepung terigu, tapioka, kedelai, serta sebagian kecil untuk membayar tenaga kerja dan membeli kayu bakar. Pinjaman informal ini selain berasal dari perorangan dan kelompok, ada pula yang berasal dari pedagang yang mensuplai bahan baku tepung tapioka. Namun pinjaman-pinjaman informal ini umumnya bersifat jangka pendek dan tidak berkelanjutan (unsustainable) seperti pada sumber kredit formal dari bank atau koperasi. Usaha kecil di wilayah Tuntang ini walaupun usahanya feasible namun belum bankable.
Sedangkan di wilayah Kabupaten Magelang dari 50 contoh usaha kecil, terdapat 10 usaha kecil yang telah memanfaatkan bank umum, seperti BRI dan BPD Jateng untuk mendapatkan kredit dengan agunan sertifikat tanah dan surat BPKB kendaraan bermotor, terutama kendaraan bermotor roda 4 (empat). Selain dari BRI dan BPD, ada pula 10 usaha kecil yang mendapatkan kredit dari BPR, dan umumnya adalah Bank Pasar (BP) milik pemerintah daerah kabupaten Magelang. Disamping itu tercatat sebanyak 22 usaha kecil memanfaatkan kredit bergulir dari dinas perindustrian dan perdagangan (non bank) yang nilai kreditnya masih di bawah Rp 10 000 000. Sedangkan yang lainnya tercatat ada 2 usaha kecil yang memperoleh pinjaman koperasi simpan pinjam, serta ada 6 usaha kecil yang memperoleh pinjaman informal dari perorangan dan kelompok, atau dari Baitul Mal wat Tamwil (BMT). Usaha kecil di wilayah Kabupaten Magelang walaupun sangat feasible namun sebagian besar masih belum bankable.
Untuk wilayah Kabupaten Klaten dari 25 contoh usaha kecil sebagian besar telah memanfaatkan bank umum dan koperasi untuk mendapatkan kredit bagi usahanya. Tercatat 13 usaha kecil produsen mie soun di Kecamatan Ngawen yang memperoleh kredit dari bank umum seperti bank BNI, BRI, dan Mandiri, terdapat 2 usaha kecil yang memperoleh kredit dari bank perkreditan rakyat (BPR), serta ada 9 usaha kecil produsen krupuk rambak di kecamatan Jogonalan yang memperoleh kredit dari koperasi. Disamping itu tercatat 1 usaha kecil yang mendapatkan pinjaman dari lembaga bank dan koperasi. Untuk wilayah Klaten semua usaha kecil telah feasible dan sebagian besar usaha kecil juga telah bankable. Karena itu usaha kecil yang mendapatkan kredit dari bank pemerintah
ada pula memanfaatkan kredit komersial, tapi mendapatkan fasilitas pelayan perbankan yang baik.
Dari uraian diatas dapat beberapa catatan dalam kaitannya dengan hubungan antara usaha kecil dan bank atau sumber pinjaman lainnya, (1) ada usaha kecil yang telah feasible dan bankable, (2) ada usaha kecil yang telah feasible tapi belum bankable, dan (3) sebenarnya masih terdapat pula usaha kecil dan mikro lainnya yang belum terlalu feasible, tapi produktif dalam arti mampu memberikan nilai tambah.
Pengambilan kredit oleh usaha kecil cukup bervariasi, namun sebagian besar contoh memperoleh kredit di bawah Rp 5 000 000 seperti terlihat di Kabupaten Semarang. Di Kabupaten Magelang dari 50 contoh usaha kecil, terdapat 25 usaha kecil yang memperoleh kredit di bawah Rp 5 000 000 dan ada 25 usaha kecil lainnya yang mendapatkan kredit diatas nilai Rp 5 000 000. Kredit dengan nilai di bawah Rp 5 000 000 umumnya merupakan kredit mikro dan berasal dari dana bergulir, lembaga kredit non formal lainnya, dan hanya sedikit yang berasal dari bank umum, bank perkreditan rakyat, atau koperasi simpan pinjam. Untuk Kabupaten Klaten agak berbeda karena dari 15 contoh usaha kecil terdapat 13 usaha kecil produsen mie soun mendapatkan kredit dari bank umum yang nilainya antara Rp 10 000 000 sampai dengan Rp 200 000 000.
Jumlah usaha kecil yang mengakses kredit dari bank umum dan BPR tercatat 35 contoh usaha kecil dengan nilai rata-rata pinjaman Rp 28 000 000. Sedangkan usaha kecil yang mengakses kredit atau pinjaman dari koperasi dan lembaga lain non bank tercatat 55 contoh usaha kecil dengan nilai rata-rata pinjaman sekitar Rp 8 827 000.
Untuk tingkat bunga kredit, kredit dari lembaga formal seperti bank umum, bank perkreditan rakyat, dan koperasi mengenakan tingkat bunga kredit yang lebih rendah dibandingkan lembaga kredit informal seperti perorangan, kelompok, atau pedagang. Tingkat bunga kredit yang dikenakan oleh lembaga kredit formal (bank dan koperasi) dan lembaga kredit non formal (perorangan, kelompok atau pedagang) sangat bervariasi nilainya. Lembaga kredit formal (bank dan koperasi) mengenakan tingkat bunga kredit antara 6 persen sampai dengan 30 persen per tahun, sedangkan kredit informal mengenakan tingkat bunga pinjaman diatas 30 persen per tahun.
5.3.4. Karakteristik Perijinan dan Pemasaran Produk
Dalam melakukan kegiatan produksi, usaha kecil juga dihadapkan pada persoalan aspek formal usaha yaitu berupa perijinan dari dinas kesehatan, dinas perindustri dan perdagangan. Selain itu karakteristik pemasaran usaha kecil juga cukup menarik untuk disimak. Jenis perijinan yang dimiliki usaha kecil terdiri dari: ijin Depkes, SIUP, TDI dan TDP. Di Kabupaten Semarang dari 15 contoh usaha kecil terdapat 8 usaha kecil yang memiliki ijin Depkes dan ijin dari disperindag (SIUP, TDI, TDP). Di Kabupaten Magelang dari 50 contoh usaha kecil terdapat 20 usaha kecil yang memiliki ijin Depkes dan ijin dari disperindag, namun demikian ada 16 usaha kecil yang sama sekali belum memiliki perijinan usaha. Untuk Kabupaten Klaten dari 25 contoh usaha kecil, di Kecamatan Ngawen terdapat 13 usaha kecil yang memiliki ijin dari disperindag (SIUP, TDI dan TDP) dan 12 usaha kecil di Kecamatan Jogonalan yang sama sekali belum memiliki ijin seperti terlihat pada Tabel 6. Perijinan ini dalam jangka panjang akan memberikan keuntungan bagi usaha kecil dalam hal akses pasar, apabila
ingin melakukan deversifikasi produk dan menembus pasar nasional dan luar negeri.
Tabel 6. Karakteristik Perijinan dan Pemasaran Produk
Kabupaten Jumlah
Diskripsi Semarang Magelang Klaten
1. Jumlah contoh (KK) 15 50 25 90
2. Jenis-jenis Ijin Usaha:
Depkes - 7 - 37
Deperindag 3 7 13 22
Depkes dan Deperindag 8 20 - 28
Belum ada ijin usaha 4 16 12 24
3. Lokasi Pemasaran:
Lokal (Jateng dan DIY) 7 25 10 42
Jawa Barat 1 7 1 9
Jakarta 7 18 5 30
Jawa Timur - - 9 9
4. Cara Pembayaran:
Secara tunai 12 41 9 62
Secara kredit (konsinyasi) 3 9 16 28
Sumber : Data Primer (diolah)
Dari Tabel 6 terlihat umumnya ijin Depkes hanya dimiliki oleh usaha kecil penghasil makanan jadi yang siap dikonsumsi, sedangkan usaha kecil produsen makanan setengah jadi yang siap diolah hanya membutuhkan ijin dari disperindag seperti terjadi di sentra usaha mie soun di Ngawen Kabupaten Klaten. Karena itu tidak semua usaha kecil penghasil makanan olahan membutuhkan ijin dari Depkes, namun demikian perijinan dari Depkes sangatlah dibutuhkan agar ke depan usaha kecil ini sudah siap untuk melakukan diversifikasi produk, dengan memproduksi makanan olahan jadi yang siap dikonsumsi.
Untuk lokasi pemasaran, 8 contoh (sampel) usaha kecil di Kabupaten Semarang memasarkan ke Jawa Barat, Jakarta dan sekitarnya, sedangkan usaha kecil di Kabupaten Magelang 25 contoh usaha kecil memasarkan produknya secara lokal di sekitar Yogyakarta dan Jawa Tengah dan 25 contoh lainnya
memasarkan hingga Jawa Barat, Jakarta dan sekitarnya. Di Kabupaten Klaten terdapat 10 contoh usaha kecil yang memasarkan produknya secara lokal di sekitar Yogyakarta dan Jawa Tengah, namun demikian agak berbeda dengan contoh di Kabupaten Semarang dan Magelang, produsen mie soun di Kecamatan Ngawen secara tradisional memiliki pasar di Jawa Timur, tercatat ada 9 contoh usaha kecil. Sementara cara pembayaran produknya yang dijual ke pasar, terdapat 62 contoh usaha kecil memperoleh pembayaran secara tunai dan 28 contoh usaha kecil yang menjual dengan cara non-tunai atau dikenal dengan cara konsinyasi.
5.4. Perkembangan Indikator Makro di Provinsi Jawa Tengah
Setelah terjadi krisis ekonomi di Indonesia tahun 1998, dalam perkembangannya di Provinsi Jawa Tengah sejak tahun 2000 beberapa indikator ekonomi menunjukkan bahwa proses pemulihan ekonomi yang semakin membaik. Hal menonjol yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah diantaranya adalah berkembangnya peranan lembaga keuangan mikro, baik dari perbankan maupun non perbankan. Pada tahun 2003 jumlah kantor Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit yang ada di 29 kabupaten dan 7 kota, tercatat sebanyak 362 kantor BRI unit atau sekitar 9.1 persen dari 3 982 kantor BRI unit di seluruh Indonesia.
Untuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR) pada tahun 2003 tercatat 580 BPR atau sekitar 17.6 persen dari 3 299 BPR yang ada di seluruh Indonesia. Sedangkan lembaga Non BPR pada tahun 2003 tercatat 3 786 unit yang terdiri dari Badan Kredit Desa (BKD) dan Lembaga Dana Kredit Pedesaan (LDKP). Untuk memperoleh gambaran tentang peranan lembaga keuangan mikro terhadap perekonomian di Provinsi Jawa Tengah, berikut ini diuraikan gambaran umum perkembangan indikator ekonomi makro yang digunakan dalam penelitian ini.
5.4.1. Kredit Koperasi Simpan Pinjam
Kredit atau pinjaman dari Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dalam kegiatan operasional sehari-hari dikenal sebagai volume usaha koperasi. Jumlah kredit yang menggambarkan volume usaha koperasi simpan pinjam ini pada umumnya dari tahun ke tahun sejak tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 terus meningkat. Peningkatan ini cukup merata di 29 Kabupaten di Jawa Tengah, lihat Tabel 7. Tabel 7. Jumlah Kredit Koperasi Simpan Pinjam Tingkat Kabupaten
di Jawa Tengah Tahun 2001 - 2005 No Kabupaten Tahun (Rp. Juta) 2001 2002 2003 2004 2005 1 Cilacap 53 022 80 085 88 773 88 773 121 276 2 Banyumas 65 339 65 739 65 739 151 388 172 659 3 Purbalingga 19 368 28 074 31 104 55 145 57 478 4 Banjarnegara 21 192 32 168 36 371 37 354 55 316 5 Kebumen 42 552 43 352 54 414 77 003 81 176 6 Purworejo 21 373 34 787 36 490 62 983 82 081 7 Wonosobo 18 032 37 335 52 657 84 947 84 947 8 Magelang 28 506 37 457 62 495 62 495 66 782 9 Boyolali 28 583 43 428 45 553 47 411 80 447 10 Klaten 28 881 39 238 43 918 59 217 69 719 11 Sukoharjo 28 319 29 479 45 458 44 179 58 998 12 Wonogiri 39 652 61 602 60 886 127 001 137 584 13 Karanganyar 23 151 39 973 40 973 55 950 65 768 14 Sragen 86 454 61 750 61 750 61 750 110 039 15 Grobogan 44 305 209 056 223 968 223 968 245 653 16 Blora 33 015 63 970 53 432 53 432 64 868 17 Rembang 47 227 96 815 96 815 96 815 104 983 18 Pati 82 815 98 416 103 404 103 404 144 682 19 Kudus 36 958 88 076 175 500 175 500 126 224 20 Jepara 31 835 42 976 42 976 62 871 122 047 21 Demak 7 486 27 308 28 236 28 232 38 694 22 Semarang 15 023 34 722 34 722 34 722 45 671 23 Temanggung 12 126 36 003 41 197 56 971 57 898 24 Kendal 38 859 41 493 41 493 41 493 42 152 25 Batang 14 139 18 941 38 781 15 710 43 221 26 Pekalongan 31 716 28 912 30 296 45 339 48 131 27 Pemalang 8 826 38 821 41 634 50 325 50 394 28 Tegal 21 282 34 877 57 225 57 225 71 687 29 Brebes 29 723 37 065 43 336 48 351 59 923 Jumlah 959 759 1 531 918 1 779 596 2 109 954 2 510 498
Di Kabupaten Cilacap yang merupakan salah satu kabupaten dengan penduduk terbanyak dan wilayah terluas di Jawa Tengah, kenaikan volume usaha KSP dari tahun 2001 sampai tahun 2005 meningkat lebih dari 200 persen, dari angka Rp 53.02 miliar naik menjadi Rp 121.28 miliar. Pertumbuhan volume usaha ini juga hampir sama terjadi di wilayah Kabupaten Banyumas yang merupakan kabupaten tetangga. Angka kenaikan volume usaha KSP paling menonjol terjadi di Kabupaten Grobogan, meningkat lebih 500 persen selama kurun waktu 5 (lima) tahun dari Rp 44.31 miliar pada tahun 2001 naik menjadi Rp 245.65 di tahun 2005. Kenaikan ini menunjukkan aktivitas operasional koperasi simpan pinjam di wilayah tersebut sangat dinamis. Kanaikan yang tinggi ini bila disertai dengan tingkat pengembalian pinjaman yang lancar tentu akan membuat kenaikan pada nilai Sisa Hasil Usaha (SHU) yang diterima oleh anggota koperasi.
5.4.2. Kredit Dari Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
Kredit dari Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dikategorikan sebagai kredit mikro dan kecil kepada masyarakat berdasarkan aktivitas operasionalnya yang berada di wilayah kecamatan-kecamatan di seluruh kabupaten di Jawa tengah. Pada Tabel 8 tersaji data jumlah kredit BPR berdasarkan sektor ekonomi yaitu: pertanian, industri pengolahan, perdagangan, dan jasa-jasa tahun 2005. Jumlah tertinggi penyaluran kredit berada di sektor perdagangan, terjadi di seluruh kabupaten di Jawa Tengah kecuali Kabupaten Grobogan yang penyaluran kredit dari BPR tertinggi berada di sektor pertanian. Angka tertinggi jika dibandingkan dengan keadaan di 28 kabupaten yang lainnya ini, diduga terjadi karena tingginya intensitas penanaman komoditas pangan salah satunya adalah tanaman jagung hibrida.
Tabel 8. Jumlah Penyaluran Kredit BPR Sektoral Tingkat Kabupaten di Jawa Tengah Tahun 2005
No Kabupaten Tahun 2005 (Rp ribu)
Pertanian Industri Perdagangan Jasa-Jasa
1 Cilacap 769 189 1 910 475 30 152 633 210 737 2 Banyumas 1773 955 1 193 967 60 221 173 10 408 799 3 Purbalingga 6104 960 12 666 51 422 134 958 786 4 Banjarnegara 20 956 369 691 078 86 197 703 33 045 202 5 Kebumen 1 484 227 330 712 37 362 527 7 647 350 6 Purworejo 5 206 403 2 360 19 265 997 394 435 7 Wonosobo 2 889 773 63 276 35 276 218 1 504 551 8 Magelang 11 366 260 1 402 539 85 824 876 20 280 683 9 Boyolali 6 811 430 572 346 52 827 550 4 790 831 10 Klaten 5 293 872 5 779 315 52 669 685 22 628 263 11 Sukoharjo 9 774 924 6 490 613 73 331 291 13 540 731 12 Wonogiri 2 123 347 1 388 671 34 992 602 8 202 267 13 Karanganyar 17 406 310 4 963 519 101 683 276 18 747 550 14 Sragen 15 719 813 1 113 324 60 605 443 6 658 938 15 Grobogan 54 142 409 1 787 647 40 332 960 3 749 136 16 Blora 21 146 940 55 303 17 569 471 1 932 393 17 Rembang 10 241 173 97 374 34 277 060 904 350 18 Pati 36 103 333 7 445 279 83 916 975 5 430 028 19 Kudus 5 800 011 3 831 804 33 124 043 6 682 124 20 Jepara 2 611 229 5 432 974 36 037 787 3959 465 21 Demak 3 389 480 407 139 34 591 211 14 714535 22 Semarang 3 023 797 1 212 046 76 465 872 24 278 034 23 Temanggung 4 821 556 567 809 44 578 904 6 872 261 24 Kendal 25 761 360 1 012 360 73 246 475 13 159 062 25 Batang 744 914 16 697 18 359 219 2 686 933 26 Pekalongan 89 957 1 904 529 17 606 880 673 552 27 Pemalang 1 872 357 22 079 13 740 535 1 191 850 28 Tegal 3 078 241 2 562 354 31 525 469 6 774 989 29 Brebes 2 475 495 1 882 451 46 688 223 1 701 112 Jumlah 282 983 084 541 527 062 1 383 894 192 28 2983 084
Sumber : BI Semarang, 2007 (data primer diolah)
Sektor pertanian di Kabupaten Grobogan menunjukkan aktivitas yang tinggi dalam aksesibilitas sumber kredit formal dari perbankan terutama BPR. Jumlah kredit ke sektor pertanian mencapai Rp 54.14 miliar sementara sektor perdagangan menyerap kredit BPR sebesar Rp 40.33 miliar. Hal ini diduga juga karena jumlah BPR di wilayah kecamatan lebih dominan dibandingkan yang ada di ibukota kabupaten, sehingga penyaluran pada kegiatan pertanian baik on farm maupun off farm, seperti komoditi jagung dan olahannya. Angka tinggi untuk
penyaluran kredit di sektor pertanian juga terlihat di Kabupaten Kendal, Pati, Blora, dan Banjarnegara.
5.4.3. Kredit Kupedes BRI Unit
Penyaluran kredit Kupedes dari BRI unit ditujukan untuk melayani masyarakat perdesaan yang membutuhkan modal usaha baik untuk kegiatan di pertanian, industri pengolahan, maupun perdagangan seperti terlihat pada Tabel 9. Tabel 9. Jumlah Penyaluran Kredit Kupedes BRI Tingkat Kabupaten
di Jawa Tengah Tahun 2002 - 2005
No Kabupaten Tahun (Rp ribu)
2002 2003 2004 2005 1 Cilacap 69 248 000 7 9643 000 97 806 000 105 819 000 2 Banyumas 98 183 450 11 6494 000 138 976 000 170 708 000 3 Purbalingga 47 270 000 5 4289 000 67 087 000 77 380 000 4 Banjarnegara 62 248 000 6 4867 000 72 919 000 85 923 000 5 Kebumen 59 496 000 6 4233 000 68 942 000 81 029 000 6 Purworejo 64 373 000 7 3840 000 90 155 000 108 550 000 7 Wonosobo 35 126 000 4 2522 000 47 117 000 51 655 000 8 Magelang 67 706 000 7 1642 000 94 057 000 111 707 000 9 Boyolali 96 123 000 10 2224 000 110 245 000 120 523 000 10 Klaten 99 144 000 11 2624 000 125 209 000 146 959 000 11 Sukoharjo 77 926 000 9 1145 000 105 646 000 121 939 000 12 Wonogiri 107 935 000 12 1537 000 145 674 000 161 315 000 13 Karanganyar 91 358 000 10 7090 000 122 785 000 141 186 000 14 Sragen 121 531 000 14 7615 000 172 477 000 199 229 000 15 Grobogan 96 921 597 12 2399 000 149 807 000 184 253 000 16 Blora 74 229 298 8 1899 000 96 861 000 125 761 000 17 Rembang 36 762 290 4 4101 000 55 060 000 70 875 000 18 Pati 106 523 779 12 4404 000 141 237 000 160 006 000 19 Kudus 44 693 818 5 6289000 64 505 000 79 646 000 20 Jepara 57 720 194 64 396 000 73 616 000 91 076 000 21 Demak 50 365 055 57 417 000 62 533 000 73 565 000 22 Semarang 45 599 643 53 538 000 65 945 000 79 979 000 23 Temanggung 23 927 000 30 014 000 32 849 000 35 725 000 24 Kendal 48 651 316 57 217 000 71 416 000 94 472 000 25 Batang 47 481 704 56 565 000 67 148 000 82 797 000 26 Pekalongan 42 733 699 47 680 000 56 380 000 70 654 000 27 Pemalang 49 086 407 56 149 000 65 917 000 84 122 000 28 Tegal 104 797 409 118 015 000 139 138 000 173 296 000 29 Brebes 71 147 300 84 975 000 98 072 000 118 274 000 Jumlah 1 998 307 959 2 304 823 000 2 699 579 000 3 208 423 000
Saat ini jangkau (outreach) dari BRI unit adalah yang paling luas diantara lembaga bank yang ada. Di Jawa Tengah pada tahun 2005 tercatat 688 kantor BRI unit atau rata-rata setiap kabupaten terdapat 23 kantor BRI unit. Dengan jumlah 545 kecamatan di seluruh Jawa Tengah, maka ada lebih 100 kecamatan memiliki 2 kantor BRI unit, angka akan memberikan keunggulan bagi BRI unit dalam menyalurkan kredit ke nasabah. Total penyaluran kredit Kupedes di Jawa Tengah tahun 2005 mencapai Rp 3.21 triliun dengan jumlah nasabah 640 255 debitor, sehingga rata-rata per nasabah meminjam sekitar Rp 5 000 000. Angka ini menunjukkan tingkat penetrasi pasar kredit yang kuat dari BRI unit di wilayah perdesaan.
5.4.4. Kredit Usaha Kecil
Penyaluran Kredit Usaha Kecil (KUK) di Provinsi Jawa Tengah yang dilakukan oleh perbankan menunjukkan perkembangan yang pesat sejak tahun 2002 hingga tahun 2005. Sampai dengan tahun 2005 penyaluran KUK tercatat Rp 7.11 triliun, angka ini naik dari tahun 2004 yang mencapai Rp 5.99 triliun atau naik hampir 19 persen.
Kredit Usaha Kecil (KUK) meliputi KUK yang disalurkan oleh bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR), dengan plafon kredit sampai dengan sejumlah Rp 200 juta mempunyai perkembangan yang prospektif terutama jika dibandingkan dengan keadaan perekonomian setelah krisis ekonomi yang pernah terjadi pada tahun 1998 yang lalu. Hal ini juga didukung dengan terus menurunnya tingkat suku bunga kredit dari bank perkreditan rakyat, sejalan dengan membaiknya perekonomian di Jawa Tengah.
Tabel 10. Jumlah Penyaluran Kredit Usaha Kecil (KUK) Tingkat Kabupaten di Jawa Tengah Tahun 2002 - 2005
No Kabupaten Tahun (Rp juta)
2002 2003 2004 2005 1 Cilacap 277 928 342 957 374 477 379 998 2 Banyumas 255 035 306 402 239 686 432 521 3 Purbalingga 136 802 167 737 195 896 206 492 4 Banjarnegara 153 083 174 700 135 705 127 741 5 Kebumen 139 943 165 501 191 805 208 013 6 Purworejo 119 130 134 537 115 171 121 319 7 Wonosobo 88 589 116 510 132 671 149 475 8 Magelang 379 671 416 331 542 928 581 704 9 Boyolali 145 547 192 157 226 592 209 381 10 Klaten 262 212 299 550 346 927 395 182 11 Sukoharjo 117 010 55 587 156 208 178 895 12 Wonogiri 175 377 188 963 251 572 293 523 13 Karanganyar 169 105 186 232 228 501 267 376 14 Sragen 228 694 285 268 290 849 337 031 15 Grobogan 198 892 275 736 339 014 361 043 16 Blora 160 977 200 098 140 485 283 004 17 Rembang 67 169 92 697 106 856 106 793 18 Pati 121 910 129 475 188 276 187 656 19 Kudus 116 152 147 682 309 932 256 404 20 Jepara 229 420 204 448 199 475 226 663 21 Demak 100 898 139 634 52 806 183 222 22 Semarang 37 877 31 628 50 859 53 590 23 Temanggung 99 874 105 252 81 307 86 195 24 Kendal 114 503 153 481 171 994 203 511 25 Batang 122 548 126 524 158 118 187 927 26 Pekalongan 184 510 221 669 129 799 230 927 27 Pemalang 133 844 197 214 186 624 243 444 28 Tegal 133 747 225 625 358 645 286 313 29 Brebes 174 408 207 236 88 744 321 480 Jumlah 4 644 855 5 490 831 5 991 922 7 106 823
Sumber : BI Semarang, 2007 (data primer diolah)
Perkembangan kredit untuk kegiatan usaha kecil yang terus bertumbuh di Jawa Tengah ini tidak terlepas dari dua kondisi, pertama kegiatan usaha mikro dan kecil relatif stabil dan tahan terhadap gejolak krisis ekonomi, kedua terus berkembangnya lembaga keuangan (perbankan) yang melayani kegiatan usaha mikro dan kecil dan ini ditandai misalnya oleh bertambahnya jumlah jumlah kantor BRI unit dan kantor BPR. Kondisi ini tentu saja diharapkan akan memberikan dampak yang positif terhadap pekembangan perekonomian yang
tercermin dari membaiknya indikator-indikator makro ekonomi yang ada di Provinsi Jawa Tengah.
5.5. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sektoral
Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Provinsi Jawa Tengah juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik. PDRB tahun 2005 sektor pertanian tercatat Rp 28.85 triliun Stabilitas perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian di propinsi Jawa Tengah ditunjukkan tabel dibawah ini. Secara sektoral pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 didorong oleh kenaikan kinerja sektor primer terutama pertanian, sektor sekunder terutama industri pengolahan (manufacturing), dan sektor tertier terutama perdagangan, pengangkutan, dan jasa-jasa, juga terus mengalami peningkatan, dan merata di semua kabupaten.
Untuk tahun 2005 sektor pertanian PDRB tertinggi dicatat oleh Kabupaten Brebes dan Kabupaten Cilacap dengan nilai PDRB masing-masing mencapai Rp 2.55 triliun dan Rp 2.70 triliun. Sedangkan PDRB sektor pertanian tathun 2005 terendah dialami Kabupaten Kudus yang mencatat Rp 356 miliar, sedangkan rata-rata kabupaten lainnya berada pada kisaran Rp 600 miliar sampai dengan Rp 800 miliar. Kabupaten lain yang mencatat angkat PDRB sektor pertanian diatas Rp 1 triliun adalah Kabupaten Magelang, Boyolali, Wonogiri, Grobogan, Pati, Demak, dan Kendal. Secara sektoral pertanian di Jawa Tengah mempunyai kontribusi terhadap total PDRB sekitar 14 persen. Untuk Kabupaten Brebes PDRB sektor pertanian banyak ditopang oleh komoditas pangan dan hortikultura, sedangkan untuk Kabupaten Cilacap banyak ditopang komoditas pangan dan perkebunan.
Tabel 11. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 di Jawa Tengah Tahun 2003–2005 Sektor Pertanian
No Kabupaten 2003 Tahun (Rp. Ribu) 2004 2005
1 Cilacap 2 584 061 970 2 636 952 300 2 694 008 840 2 Banyumas 787 619 380 800 977 120 814 815 100 3 Purbalingga 664 957 930 683 446 090 704 461 820 4 Banjarnegara 852 506 690 879 834 480 904 050 750 5 Kebumen 901 935 380 943 303 430 964 550 410 6 Purworejo 811 620 380 845 048 740 877 629 930 7 Wonosobo 744 675 560 770 044 510 795 766 960 8 Magelang 986 624 090 1 007 979 850 1 031 805 690 9 Boyolali 1 214 789 230 1 270 600 780 1 290 672 180 10 Klaten 898 771 870 918 295 980 943 060 850 11 Sukoharjo 757 823 020 802 838 940 832 383 240 12 Wonogiri 1 191 544 800 1 244 637 980 1 298 364 330 13 Karanganyar 781 354 130 824 366 100 858 106 420 14 Sragen 803 047 000 837 968 070 863 187 170 15 Grobogan 1 021 487 750 1 074 228 960 1 121 448 200 16 Blora 911 217 290 941 881 880 970 592 710 17 Rembang 882 051 900 899 634 700 942 463 410 18 Pati 1 207 698 630 1 234 422 100 1 267 468 620 19 Kudus 352 662 260 340 618 200 356 087 470 20 Jepara 809 671 470 844 812 030 850 186 980 21 Demak 1 027 740 620 1 061 200 530 1 099 489 170 22 Semarang 609 055 350 596 026 280 616 562 830 23 Temanggung 618 319 480 650 067 470 659 400 700 24 Kendal 1 027 499 910 1 027 494 450 1 084 453 830 25 Batang 518 432 690 528 506 920 541 316 970 26 Pekalongan 539 376 230 572 144 760 599 481 870 27 Pemalang 763 124 390 778 734 600 782 843 740 28 Tegal 540 822 090 543 124 790 542 269 450 29 Brebes 2 361 301 800 2 445 412 490 2 546 227 290 Jumlah 27 171 793 290 28 004 604 530 28 853 156 930
Sumber : BPS Semarang, 2007 (diolah)
Untuk sektor industri pengolahan perkembangan PDRB di semua kabupaten mencatat angka yang terus meningkat dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2005, sektor industri pengolahan (manufacturing) di Kabupaten Kudus pada tahun 2005 mencatat angka Rp 6.69 triliun tertinggi diantara 29 Kabupaten di Jawa Tengah. Hal ini karena Kabupaten Kudus merupakan sentra industri rokok terbesar di Jawa Tengah, juga sentra industri lainnya seperti konveksi dan kerajinan tas banyak terdapat di Kabupaten Kudus, seperti terlihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan Th 2000 di Jawa Tengah Tahun 2003–2005 Sektor Industri Pengolahan No Kabupaten Tahun (Rp. ribu) 2003 2004 2005 1 Cilacap 1 432 526 430 1 484 045 380 1 540 964 360 2 Banyumas 602 635 190 617 386 780 637 418 510 3 Purbalingga 178 341 110 187 909 660 199 967 030 4 Banjarnegara 325 862 770 329 889 550 338 493 740 5 Kebumen 224 663 320 223 916 160 233 872 860 6 Purworejo 202 877 810 220 886 950 233 649 630 7 Wonosobo 171 598 490 174 839 370 179 686 680 8 Magelang 598 422 750 624 775 500 653 952 510 9 Boyolali 561 277 890 563 954 900 582 759 030 10 Klaten 855 226 780 896 705 600 841 653 960 11 Sukoharjo 1 162 044 500 1 202 242 450 1 248 116 200 12 Wonogiri 103 068 040 107 776 650 117 307 140 13 Karanganyar 2 065 453 010 2 201 053 310 2 320 190 580 14 Sragen 473 230 440 500 203 790 532 376 530 15 Grobogan 85 445 750 88 705 550 91 130 330 16 Blora 99 929 830 106 826 320 112 851 640 17 Rembang 69 647 750 73 250 200 77 118 240 18 Pati 686 367 530 722 697 350 763 160 400 19 Kudus 6 226 357 350 6 557 621 250 6 689 910 120 20 Jepara 901 598 320 931 381 970 977 008 570 21 Demak 260 160 510 279 777 910 283 160 990 22 Semarang 2 013 627 490 2 108 699 270 2 177 770 350 23 Temanggung 386 711 140 400 966 970 419 532 730 24 Kendal 1 641 119 880 1 716 524 190 1 456 426 890 25 Batang 565 348 100 580 360 540 583 043 710 26 Pekalongan 702 043 120 716 467 960 740 214 600 27 Pemalang 607 140 320 630 560 330 657 076 240 28 Tegal 729 093 800 781 586 480 849 310 160 29 Brebes 403 146 230 440 160 170 476 796 230 Jumlah 24 334 965 650 25 471 172 510 26 014 919 960
Sumber : BPS Semarang, 2007 (diolah)
Keragaan PDRB sektor perdagangan di Jawa Tengah hampir sama dengan keragaan sektor industri pengolahan (manufacturing), dimana Kabupaten Kudus mencatat nilai PDRB pada tahun 2005 sebesar Rp 2.99 triliun angka ini juga tertinggi diantara kabupaten di Jawa Tengah, kemudian disusul 4 (tiga) kabupaten lain yang mencatat angka PDRB diatas Rp 1 triliun yaitu Kabupaten Cilacap, Klaten, Sukoharjo, dan Semarang, seperti terlihat pada Tabel 13 berikut. Tingginya PDRB di sektor perdagangan di lima kabupaten tadi sebenarnya juga
menunjukkan, besarnya jumlah usaha mikro dan kecil di kabupaten tersebut. Hal ini juga sedikit banyak berkaitan dengan PDRB di sektor industri yang ada di lima kabupaten tersebut.
Tabel 13. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 di Jawa Tengah Tahun 2003–2005 Sektor Perdagangan
No Kabupaten Tahun (Rp. ribu) 2003 2004 2005 1 Cilacap 1 470953 880 1 526 623 780 1 582 293 680 2 Banyumas 506 180 250 525 396 980 560 700 320 3 Purbalingga 338 140 900 350 704 220 366 848 030 4 Banjarnegara 291 650 610 298 122 990 306 521 120 5 Kebumen 258 962 780 268 324 150 282 502 480 6 Purworejo 367 783 060 390 922 100 409 476 490 7 Wonosobo 176 510 430 182 891 390 190 268 790 8 Magelang 466 706 360 486 160 330 506 570 020 9 Boyolali 863 855 670 897 510 190 917 695 400 10 Klaten 1 083 938 750 1 140 169 480 1 191 778 730 11 Sukoharjo 1 057 987 100 1 100 398 760 1 148 044 090 12 Wonogiri 306 364 060 320 939 620 332 906 890 13 Karanganyar 416 747 710 432 760 220 451 040 340 14 Sragen 396 565 230 417 946 950 441 797 650 15 Grobogan 437 549 780 460 263 400 483 072 190 16 Blora 236 076 290 248 814 950 261 674 210 17 Rembang 288 992 420 304 631 060 322 564 880 18 Pati 676 784 930 69 9747430 728 568 000 19 Kudus 2 831 449 550 291 5874 160 2 987 781 040 20 Jepara 721 304 620 74 8785 340 771 685 930 21 Demak 481 847 170 50 0715 220 514 949 190 22 Semarang 949 558 870 97 5945 490 1 017 185 170 23 Temanggung 316 417 280 33 3645 250 349 645 720 24 Kendal 759 013 360 78 7077 770 810 089 670 25 Batang 321 473 630 32 9633 500 337 360 560 26 Pekalongan 489 425 330 50 3236 240 522 413 230 27 Pemalang 697 179 350 74 2903 340 785 627 420 28 Tegal 703 157 720 75 0703 650 799 383 220 29 Brebes 848 279 250 89 0368 960 931 282 400 Jumlah 18 760 856 340 1 953 1216 920 20 311 726 860
Sumber : BPS Semarang, 2007 (diolah)
Terakhir untuk sektor jasa-jasa yang juga merupakan sektor tertier, keragaan PDRB tahun 2005 di tingkat kabupaten lebih merata, tidak ada kabupaten yang mencapai Rp 600 miliar. Hal ini juga mengindikasikan bahwa sektor jasa-jasa belum merupakan sektor unggulan di kabupaten-kabupaten di
Jawa Tengah. Ini juga menunjukkan bahwa basis perekonomian kabupaten-kabupaten di Jawa Tengah umumnya masih bertumpu pada sektor primer dan sektor sekunder, sedangkan untuk sektor tertier pada lapangan usaha jasa-jasa belum berkembang dengan baik. Menjadi tugas bersama antara pemerintah dan pelaku usaha, terutama usaha kecil untuk menggali dan memanfaatkan peluang usaha baru di sektor jasa-jasa, terutama dengan mengembangkan usaha kecil pada kegiatan industri kreatif.
Tabel 14. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 di Jawa Tengah Tahun 2003–2005 Sektor Jasa-Jasa No Kabupaten Tahun (Rp. ribu) 2003 2004 2005 1 Cilacap 577 110 870 587 439 750 594 641 850 2 Banyumas 541 416 620 560 589 880 598 156 750 3 Purbalingga 295 770 540 312 872 390 337 378 740 4 Banjarnegara 347 835 330 385 063 670 414 431 740 5 Kebumen 451 241 570 462 350 860 481 544 760 6 Purworejo 412 360 750 418 583 040 441 505 360 7 Wonosobo 162 176 940 167 406 220 172 668 430 8 Magelang 457 035 170 496 214 620 541 448 170 9 Boyolali 237 836 810 265 456 400 314 005 260 10 Klaten 520 496 090 541 227 360 567 326 970 11 Sukoharjo 302 817 380 306 511 300 330 749 110 12 Wonogiri 276 409 370 285 366 530 293 431 840 13 Karanganyar 319 787 820 324 006 650 346 592 580 14 Sragen 247 403 680 264 605 480 283 940 010 15 Grobogan 436 430 390 450 373 300 459 633 870 16 Blora 125 115 060 130 922 170 134 306 740 17 Rembang 217 659 820 226 611 490 243 577 550 18 Pati 259 332 540 272 015 730 287 031 730 19 Kudus 210 370 040 212 781 250 223 751 620 20 Jepara 291 192 170 301 509 830 322 648 850 21 Demak 237 678 650 245 129 930 277 358 190 22 Semarang 352 317 820 354 843 470 372 811 270 23 Temanggung 281 015 490 281 515 480 291 903 630 24 Kendal 334 328 840 336 447 630 334 616 020 25 Batang 223 150 630 232 963 630 244 412 620 26 Pekalongan 368 304 300 393 548 110 414 400 900 27 Pemalang 255 967 700 264 978 030 281 309 160 28 Tegal 182 989 300 187 306 940 191 238 530 29 Brebes 164 603 800 178 314 260 184 727 670 Jumlah 9 090 155 490 9 446 955 400 9 981 549 920
Sedangkan data mengenai porsi (share) Kredit Usaha Kecil (KUK) dari bank umum, kredit dari Bank Perkreditan Rakyat (BPR), dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) untuk masing-masing sektor yang meliputi: pertanian, industri pengolahan, perdagangan, jasa-jasa, dan sektor lainnya, menunjukkan adanya keragaan yang cukup besar seperti terlihat pada Tabel 15 berikut ini.
Tabel 15. Porsi Kredit Mikro dan Kecil serta Nilai PDRB per Sektor Ekonomi Tahun 2005
Sektor Ekonomi
Porsi Kredit Usaha Kecil (KUK) Bank Umum (persen) Porsi Kredit dari BPR (persen) Porsi PDRB (persen) Pertanian 22.61 8.38 28.73 Industri Pengolahan 3.11 1.60 25.91 Perdagangan 57.77 40.99 20.23 Jasa-Jasa 7.08 7.22 9.94 Sektor Lainnya *) 9.43 41.81 15.19 Jumlah 100.00 100.00 100.00
*) Sektor: Pertambangan, Listrik dan Air, Bangunan, Transportasi, dan Keuangan
Sumber: BPS Semarang, 2007 (diolah)
Untuk Kredit Usaha Kecil (KUK) dari bank umum dengan menggunakan data tahun 2005, porsi terbesar disalurkan untuk sektor perdagangan sebesar 55.77 persen diikuti sektor pertanian, jasa-jasa, dan industri pengolahan, sedangkan empat sektor lainnya (pertambangan, listrik dan air, bangunan, transportasi dan komunikasi, dan keuangan) menyerap 9.43 persen. Ini juga mengindikasikan bahwa usaha kecil di sektor perdagangan paling siap dan paling tinggi mengakses kredit dari perbankan. Secara tidak langsung juga menunjukkan bahwa usaha kecil di sektor perdagangan adalah paling bankable. Hal ini juga tidak terlepas dari karakteristik usaha kecil di sektor perdagangan yang pada umumnya memiliki tingkat perputaran usaha (turn over) yang tinggi, sehingga menuntut adanya modal kerja yang lebih tinggi pula.
Hal yang hampir sama juga terjadi pada kredit mikro dan kecil dari Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang disalurkan untuk masing-masing sektor ekonomi jumlah paling besar disalurkan untuk sektor perdagangan sebesar 40.99 persen selanjutnya dikuti sektor pertanian, jasa-jasa, dan industri pengolahan, serta sektor lainnya sebesar 41.81 persen. Keberadaan lokasi BPR di Jawa Tengah umumnya berada di kecamatan-kecamatan, sehingga BPR ini keberadaannya adalah menunjang usaha kecil yang bergerak pada lapangan usaha perdagangan yang aktivitasnya banyak dilakukan pasar-pasar di tingkat kecamatan. Saat ini BPR yang ada di kecamatan dengan tingkat perdagangan yang tinggi umumnya cenderung mengumpul, menjadi semacam klaster lembaga keuangan di tingkat kecamatan.
Data tentang porsi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektoral untuk kabupaten-kabupaten di wilayah Jawa Tengah tahun 2005 masih di dominasi sektor pertanian dengan 28.73 persen, diikuti sektor industri pengolahan 25.91 persen, sektor perdagangan 20.23 persen, untuk sektor jasa-jasa dan sektor lainnya masing-masing 9.94 persen dan 15.19 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa PDRB Jawa Tengah masih berbasis pada kegiatan sektor primer da sekunder, yaitu pertanian dan industri pengolahan dengan total kontribusi 54.64 persen, karena itu pengembangan usaha kecil termasuk didalamnya usaha mikro perlu terus dilakukan.
Sedangkan data mengenai kontribusi dari kegiatan usaha mikro, kecil dan menengah terhadap PDRB untuk kabupaten-kabupaten di wilayah Jawa Tengah belum tersedia datanya. Untuk melihat kontribusi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah terhadap PDRB kabupaten-kabupaten di wilayah Jawa Tengah
digunakan data Nasional. Kontribusi nilai Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2007 atas dasar harga konstan 2000 menurut skala usaha, tercatat skala usaha mikro sebesar 32.95 persen, usaha kecil 10.83 persen, dan usaha menengah 14.62 persen, dan sisanya sebesar 41.60 persen adalah kontribusi dari usaha besar (Kemenkop dan UKM, 2009).
Berdasarkan data tahun 2007 (Kemenkop dan UKM, 2007), porsi atau kontribusi usaha mikro terhadap PDB, tercatat sebesar 32.95 persen, dengan kontribusi sektor pertanian menempati urutan paling tinggi sebesar 38.00 persen, dikuti sektor perdagangan 29.50 persen, sektor industri pengolahan 9.67 persen, sektor jasa-jasa 10.07 persen, dan sektor-sektor lainnya 12.76 persen. Ini juga mengindikasikan pula bahwa PDB sektor pertanian masih cukup dominan di bentuk oleh usaha mikro, hal ini merupakan kelebihan sekaligus juga kelemahan karena usaha mikro masih menumpuk di sektor pertanian yang umumnya usaha mikro tersebut belum mampu mengakses perbankan dengan baik atau belum bankable.
Sedangkan dari kontribusi usaha kecil terhadap PDB sebesar 10.83 persen, dengan kontribusi sektor pertanian sebesar 0.28 persen, sektor perdagangan memiliki kontribusi paling tinggi 49.30 persen, sektor industri pengolahan 21.00 persen, sektor jasa-jasa 10.85 persen, dan sektor-sektor lainnya 18.57 persen. Ini menunjukkan bahwa PDB sektor perdagangan cukup dominan di bentuk oleh usaha kecil, hal ini menunjukkan kelebihan sektor perdagangan karena umumnya usaha kecil ini telah mampu mengakses sumber kredit dari perbankan atau telah bankable.
Sementara dari porsi usaha menengah terhadap PDB sebesar 14.62 persen, dengan kontribusi sektor pertanian sebesar 8.60 persen, sektor perdagangan 15.22 persen, sektor industri pengolahan (manufacturing) memiliki kontribusi paling tinggi 23.60 persen, sektor jasa-jasa 4.40 persen, dan sektor-sektor lainnya 48.18 persen. Ini menunjukkan bahwa PDB sektor industri pengolahan cukup dominan di bentuk oleh usaha menengah. Pada sisi lain, hal ini menunjukkan kelemahan karena sektor industri pengolahan yang seharusnya menjadi batu loncatan untuk “naik kelas” dari usaha mikro ke usaha kecil ternyata masih di dominasi oleh usaha menengah, sehingga usaha mikro dan kecil akan cenderung masih tertahan di sektor primer terutama di pertanian.
Secara ringkas dapat dicatat hal yang menarik, (1) untuk skala usaha mikro kontribusi sektoral terhadap PDB relatif di dominasi sektor pertanian dan sektor perdagangan, (2) untuk skala usaha kecil kontribusi sektoral terhadap PDB di dominasi sektor perdagangan, dan sektor industri pengolahan, tetapi dsangat timpang di sektor pertanian, dan (3) untuk skala usaha menengah kontribusi sektoral terhadap PDB di dominasi sektor industri pengolahan, dan sektor perdagangan.