• Tidak ada hasil yang ditemukan

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

iv

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT

Yang bertandatangan di bawah ini, saya penulis disertasi:

Nama : Syafruddin

NIM : 1490671012

Program Studi : Ilmu Ekonomi Program Doktor Pascasarjana Universitas Udayana

Alamat : Jl. Semangka No. 66, Kelurahan Seketeng Sumbawa Besar Telepon : 085338662631

Email : [email protected] [email protected]

Dengan ini menyatakan bahwa karya ilmiah disertasi dengan judul “Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi, Faktor Sosial Demografi dan Modal Sosial Terhadap Kinerja Usahatani serta Kesejahteraan Petani Desa Persawahan di Kabupaten Sumbawa” ini bebas dari plagiat. Apabila dikemudian hari terbukti ada plagiasi dalam karya ilmiah ini, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai Peraturan Mendiknas Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan jujur dan penuh rasa tanggung jawab, untuk selanjutnya dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Denpasar, Januari 2018 Yang Membuat Pernyataan,

Syafruddin NIM 1490671012

(2)

v

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta‟ala, Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya disertasi yang berjudul “Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi, Faktor Sosial Demografi dan Modal Sosial Terhadap Kinerja Usahatani serta Kesejahteraan Petani Desa Persawahan di Kabupaten Sumbawa” dapat diselesaikan dengan baik. Tuntasnya disertasi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, baik dalam bentuk material dan non-material yang diberikan secara langsung ataupun tidak langsung. Bantuan tersebut yang memungkinkan disertasi ini dapat diselesaikan dengan baik. Untuk itu penulis dengan penuh syukur dan ketulusan hati menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya.

Kepada Rektor Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K) beserta para Pembantu Rektor, penulis ucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan dan fasilitas yang disediakan untuk dapat menyelesaikan studi dan disertasi ini.

Kepada Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, Dr. I Nyoman Mahaendra Yasa, S.E., M.Si. yang telah memberikan pengarahan

dan motivasi bagi penulis untuk segera menyelesaikan disertasi ini dengan penuh ketekunan. Penulis menyampaikan terima kasih kepada para Wakil Dekan, yaitu Wakil Dekan I, Prof. Dr. Ni Nyoman Kerti Yasa, S.E., M.S., Wakil Dekan II, prof. Dr. Ni Luh Putu Wiagustini, S.E., M.Si. dan Wakil Dekan III, Dr. I Dewa Gde Dharma Suputra, S.E., M.Si., Ak.

(3)

vi

Ucapan terima kasih kepada Koordinator Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univesitas Udayana, Prof. Dr. Made Suyana Utama, S.E., M.S. sekaligus selaku Promotor yang selalu memberikan semangat dan motivasi kepada penulis untuk dapat segera menyelesaikan Program Doktor. Ucapan terima kasih dan penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Dr. I G.W. Murjana Yasa, SE., M.Si. selaku Ko Promotor I, dan Ibu Dr. A.A.I.N. Marhaeni, S.E., M.S., selaku Ko Promotor II. Penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas bimbingan, arahan, semangat, dan motivasi yang diberikan kepada penulis sehingga terselesaikannya disertasi ini.

Para dosen pengajar Program Doktor Ilmu Ekonomi Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana yang tidak dapat Penulis sebutkan satu per satu, ucapan terima kasih penulis sampaikan dengan tulus atas semua peran dalam memberikan pengetahuan maupun meletakkan dasar keilmuan secara kritis dan inovatif, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan ini dengan baik.

Kepada staf Program Doktor Ilmu Ekonomi, Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, Ni Komang Sri Mariatini, S.E., Ni Putu Sri Suarningsih, S.E., dan I Nyoman Suwendra, S.E., terima kasih atas bantuan dan fasilitasnya kepada penulis selama masa perkuliahan dan penyelesaian disertasi ini. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih juga kepada rekan-rekan di IDEYANA, Prof. Dr. Drs. Made Kembar Sri Budhi, M.P., Dr. Ir. Paulus Kurniawan, MBA., Dr. Ni Putu Nina Eka Lestari, S.E., M.M., beserta staf Komang Arsini, atas dukungannya yang tulus dan ikhlas.

(4)

vii

Dengan rasa hormat dan bakti serta terima kasih disampaikan kepada Bapak Rektor Universitas Samawa (UNSA) Prof. Dr. Syaifuddin Iskandar M.Pd, atas doa, motivasi dan kepercayaan kepada penulis. Dukungan dan doa dari Wakil Rektor I, Wakil Rektor II, Wakil Rektor III, Dekan F. Hukum, Dekan F. ISIPOL, Dekan F. Teknik, Dekan F. Pertanian, Dekan F. Peternakan, Dekan F. KIP, Pengurus LPMU, Pengurus LPPM, serta segenap Dosen dan staf di lingkup Universitas Samawa. Khusus sejawatku di Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Wakil Dekan, Kaprodi Ekonomi Pembangunan, Kaprodi Keuangan dan Perbankan, Kaprodi Manajemen, Pengurus SPMF, Pengurus Pusat Studi serta para Dosen dan Staf, terutama Bapak Suprianto, SE., ME. yang telah berkonstribusi sangat besar dalam menyelesaikan disertasi ini.

Kepada istriku Yayat Fitriani, SE., M.M. dan anak-anakku yang sangat ku cintai yang menjadi nafas dan jiwaku, yang telah mengorbankan kebersamaan terpisah ruang dan waktu dalam rasa jiwa dan raga, selama menempuh proses studi. Serta segenap keluarga besar ku yang telah memberikan dukungan semangat dengan penuh kasih sayang.

Seluruh teman Angkatan VI Program Doktor Ilmu Ekonomi Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, yang selalu memberikan dukungan dan saling memberikan masukan dan informasi dalam proses menempuh dan menyelesaikan studi.

Penulis mengucapkan terima kasih yang tulus pula kepada semua pihak yang telah memberi bantuan dan tidak sempat penulis sebutkan satu persatu. Semoga segala bantuan dan amal perbuatan Bapak, Ibu dan Saudara sekalian

(5)

viii

mendapatkan balasan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Akhir kata, penulis bersyukur dapat menyelesaikan disertasi ini dan semoga karya ilmiah ini dapat memberi secercah manfaat kepada pembaca dan perkembangan ilmu.

Denpasar, Januari 2018 Penulis

(6)

ix ABSTRAK

Karakteristik utama dari perekonomian desa persawahan di Sumbawa adalah petani sawah. Sektor pertanian lahan sawah merupakan sektor yang paling banyak menghidupi masyarakatnya. Usahatani sawah merupakan segmen yang paling besar di perdesaan di Sumbawa, mereka mendapatkan pendapatan dari usahatani dan juga merupakan sumber pangan yang paling utama. Produktifitas petani sawah menjadi salah satu ukuran keberhasilan pembangunan perekonomian perdesaan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh faktor sosial ekonomi, faktor sosial demografi dan modal sosial terhadap kinerja usahatani serta kesejahteraan petani desa persawahan di Kabupaten Sumbawa. Penelitian ini dilaksanakan secara survei di 20 desa dari 2 kecamatan di Kabupaten Sumbawa. Sampel yang digunakan sebanyak 375 rumah tangga. Analisis ini dilakukan dengan metode menggunakan PLS (Partial Least Square).

Hasil penelitian dan analisis data menunjukan bahwa sosial ekonomi dan sosial demografi berpengaruh positif dan signifikan terhadap modal sosial di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa. Sosial ekonomi, sosial demografi dan modal sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja usahatani di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa. Sosial ekonomi, sosial demografi dan modal sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan petani di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa. Sosial ekonomi dan sosial demografi secara tidak langsung berpengaruh signifikan terhadap kinerja usahatani melalui modal sosial di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa. Sosial ekonomi dan sosial demografi secara tidak langsung berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan petani melalui modal sosial dan kinerja usahatani di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa. Modal sosial secara tidak langsung berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan petani melalui kinerja usahatani di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disarankan hal-hal sebagai berikut. Pertama, pemerintah perlu memfasilitasi upaya peningkatan kemampuan kondisi ekonomi petani, seperti kredit bunga rendah atau tanpa agunan untuk kegiatan pertanian. Kedua, petani perlu memperkuat kelembagaan petani yang dapat menjadi media bagi petani untuk menyalurkan aspirasi maupun melakukan tindakan kolektif, apalagi bagi petani yang berskala kecil. Ketiga, untuk menunjang kondisi demografi, kiranya pemerintah dapat menata infrastruktur maupun suprastruktur yang dapat memudahkan petani dalam menyalurkan hasil produksinya.

Kata kunci: Sosial Ekonomi, Sosial Demografi, Modal Sosial, Kinerja Usahatani dan Kesejahteraan

(7)

x

ABSTRACT

The main characteristics of the economy of the village rice paddies on Sumbawa was farmers rice fields. The agricultural sector is the sector that paddy fields at most live people. Rice farming is the largest segment in the village on Sumbawa, they get their income from farming and is also the main source of food. Rice farmer productivity becomes one measure of success the construction of the rural economy.

The purpose of this study was to analyze the influence of socio-economic factors, demographic factors and social capital on performance of farming as well as the welfare of farmers rice village in Sumbawa district. This research was carried out in a survey in 20 villages of Sumbawa island in 2. The sample used as many as 375 households. This analysis is carried out by methods using PLS (Partial Least Square).

The results of research and analysis of the data indicates that the social economy and social demographics of positive and significant effect against the social capital in the village of rice paddies in Sumbawa district. Social economy and social capital the positive and significant effect on performance of farming, but the social demographics of insignificant effect on performance at the village rice farmer in Sumbawa district. Social economic and social demographics of positive and significant effect against the welfare of farmers, however, social capital and the performance of the farming effect positively and significantly to the well-being of farmers in the rice field in the village of Sumbawa district. Social economic and social demographics indirectly effect insignificant against the performance of the farmer through social capital in the village of rice paddies in Sumbawa district. Social economic and social demographics indirectly effect significantly to the welfare of farmers through the social capital and the performance of the farmer in the village of rice paddies in Sumbawa district. Social capital indirectly effect significantly to the welfare of farmers through the performance of farming in the village of rice paddies in Sumbawa district. Based on the results of this research, then be advised things as follows. First, the Government needs to facilitate the efforts of increasing the ability of peasant economic conditions, such as low interest or credit without collateral for agricultural activities. Second, farmers need to form an institutional media can be a farmer for farmers to channel aspirations nor do collective action, especially for small-scale farmers. Third, to support the demographic conditions, may the Government can organize a superstructure or infrastructure can make it easier to transmit the results of its farmers.

Keywords: Social Economy, Social Demography, Social Capital, The Performance of Farming and Welfare

(8)

xi

RINGKASAN

Pertanian merupakan salah satu sektor ekonomi yang strategis di Kabupaten Sumbawa. Perkembangan produksi pertanian di Kabupaten Sumbawa tidak lepas dari struktur ekonomi desa-desa yang didominasi oleh sektor pertanian. Aktivitas pertanian yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat desa di Kabupaten Sumbawa adalah pertanian tanaman pangan (padi, kacang tanah, kedelai, kacang hijau dan jagung). Aktivitas pertanian tanaman pangan (padi) mempunyai produksi lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman lainnya. Hal ini disebabkan, lahan berupa wilayah persawahan untuk tanaman padi lebih luas dan memiliki tanah yang cocok untuk tanaman tersebut. Sektor pertanian lahan sawah merupakan sektor yang paling banyak menghidupi masyarakatnya. Petani sawah merupakan segmen yang paling besar di perdesaan di Sumbawa, mereka mendapatkan pendapatan dari usahatani dan juga merupakan sumber pangan yang paling utama. Petani sawah sebagai penghasil output pertanian terbesar yang paling dominan mengharuskan menjadi basis produsen pangan nasional. Sektor pertanian ini selain dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi, sosial demografi, juga sudah tentu membutuhkan pembentukan modal sosial yang memadai demi perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. Pertama, bagaimanakah pengaruh faktor sosial ekonomi, dan sosial demografi terhadap modal sosial di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa? Kedua, bagaimanakah pengaruh faktor sosial ekonomi, sosial demografi dan modal sosial terhadap kinerja usahatani di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa? Ketiga, bagaimanakah faktor pengaruh sosial ekonomi, sosial demografi, modal sosial dan kinerja usahatani terhadap kesejahteraan petani di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa? Keempat, adakah faktor pengaruh tidak langsung sosial ekonomi, dan sosial demografi terhadap kinerja usahatani melalui modal sosial di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa? Kelima, adakah pengaruh tidak langsung faktor sosial ekonomi, dan sosial demografi terhadap kesejahteraan petani melalui modal sosial dan kinerja usahatani di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa? Keenam, Adakah pengaruh tidak langsung faktor modal sosial terhadap kesejahteraan petani melalui kinerja usahatani di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa?

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis: (1) pengaruh pengaruh sosial ekonomi dan sosial demografi terhadap modal sosial di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa; (2) pengaruh sosial ekonomi, sosial demografi, dan modal sosial terhadap kinerja usahatani di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa; (3) pengaruh sosial ekonomi, sosial demografi, modal sosial dan kinerja usahatani terhadap kesejahteraan petani di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa; (4) adakah pengaruh tidak langsung sosial ekonomi, dan

(9)

xii

sosial demografi terhadap kinerja usahatani melalui modal sosial di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa; (5) adakah pengaruh tidak langsung sosial ekonomi, dan sosial demografi terhadap kesejahteraan petani melalui modal sosial dan kinerja usahatani di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa; (6) adakah pengaruh tidak langsung modal sosial terhadap kesejahteraan petani melalui kinerja usahatani di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa.

Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Sumbawa. Daerah penelitian (desa sampel) ditentukan dengan cara purposive sampling yaitu kecamatan terdekat dengan desa persawahan terbanyak: (1) Kecamatan Moyo Hulu: Desa Batubulan, Desa Batutering, Desa Leseng, Desa Lito, Desa Maman, Desa Marga Karya, Desa Mokong, Desa Pernek, Desa Sebasang, Desa Semamung; (2) Kecamatan Moyo Hilir: Desa Batu Bangka, Desa Berare, Desa Kakiang, Desa Moyo, Desa Moyo Mekar, Desa Ngeru, Desa Poto, Desa Serading. Populasi dalam penelitian ini adalah semua rumah tangga yang bermata pencaharian petani dan aktif dalam kelembagaan kelompok tani yang ada di wilayah penelitian, yaitu sebanyak 5875 rumah tangga petani. Selanjutnya dengan rumus Slovin diperoleh sampel sebanyak 375, yang dipilih secara acak sederhana (simple random sampling). Analisa data dalam penelitian ini menggunakan PLS (Partial Least Square).

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa: (1) Sosial ekonomi dan sosial demografi berpengaruh positif dan signifikan terhadap modal sosial di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa; (2) Sosial ekonomi dan modal sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja usahatani; (3) Sosial ekonomi dan sosial demografi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan petani; (4) Modal sosial dan kinerja usahatani berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan petani di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa; (5) Sosial ekonomi dan sosial demografi secara tidak langsung berpengaruh signifikan terhadap kinerja usahatani melalui modal sosial di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa; (5) Sosial ekonomi dan sosial demografi secara tidak langsung berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan petani melalui modal sosial dan kinerja usahatani di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa; dan (6) Modal sosial secara tidak langsung berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan petani melalui kinerja usahatani di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa.

Studi ini berhasil menemukan beberapa temuan penting, yaitu sebagai berikut. Temuan Pertama, faktor sosial ekonomi dan sosial demografi bersifat non mediasi terhadap kesejahteraan petani di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa. Hal ini menunjukan bahwa kondisi sosial ekonomi maupun demografi secara langsung dapat begitu saja menentukan tingkat kesejahteraan. Tidak memerlukan peran mediasi faktor lain, dimana dalam hal ini adalah modal sosial dan kinerja usahatani. Temuan Kedua, faktor modal sosial dan kinerja usahatani menjadi variabel mediator penguat terhadap kesejahteraan petani desa persawahan

(10)

xiii

di Kabupaten Sumbawa. Petani di desa persawahan di Kabupaten Sumbawa memiliki kemampuan membentuk jaringan yang kuat dan konsisten membuat petani sawah di Sumbawa mampu bertahan dan berkelanjutan dalam pola pertanian sekarang sehingga nilai tawar produksi usahatani masih cukup stabil. Temuan Ketiga, pendidikan formal tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan produktivitas usahatani sawah.

Terdapat beberapa keterbatasan pada penelitian ini, yaitu sebagai berikut (1) Indikator sosial ekonomi dan sosial demografi yang dianalisis pada penelitian ini masih terbatas pada beberapa indikator dasar; (2) Kinerja usahatani yang disoroti hanya pada pertanian padi sawah, meskipun ada petani yang memiliki usahatani lain, atau pertanian dalam arti luas.

Beberapa hal yang disarankan sebagai tindak lanjut hasil penelitian, yaitu sebagai berikut; (1) Pemerintah perlu memfasilitasi upaya pemberdayaan dan peningkatan kapasitas kelompok tani dan gabungan kelompok tani menjadi lembaga yang kuat dalam melakukan tindakan kolektif untuk mendorong petani sawah subsisten berubah menjadi usahatani sawah diversifikasi menuju usahatani sawah modern; (2) Eksistensi dan keberlanjutan usahatani sebagai usaha yang potensial bagi masyarakata desa sebuah keniscayaan utk ditumbuh kembangkan lewat dukungan fasilitas lembaga keuangan yang memberikan pinjaman bunga rendah atau bahkan tanpa bunga untuk kebutuhan modal kerja usahatani; 3) Untuk menunjang kondisi demografi, kiranya pemerintah dapat menata infrastruktur maupun suprastruktur yang dapat memudahkan petani sawah dalam melakukan usahanya dan mengurangi biaya transaksi usahatani.

(11)

xiv DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM ... i

PRASYARAT GELAR ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN ... iii

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT... iv

UCAPAN TERIMA KASIH ... v

ABSTRAK ... ix

ABSTRACT ... x

RINGKASAN ... xi

DAFTAR ISI ... xiv

DAFTAR TABEL ... xvii

DAFTAR GAMBAR ... xix

DAFTAR LAMPIRAN ... xxi

DAFTAR SINGKATAN ... xxii

BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 26 1.3 Tujuan Penelitian ... 27 1.4 Manfaat Penelitian ... 28 1.4.1 Manfaat Teoritis ... 28 1.4.2 Manfaat Praktis ... 29

BAB II TINJAUAN TEORITIS ... 30

2.1 Konsep Kesejahteraan ... 30

2.1.1 Pengurangan Kemiskinan dan Pembangunan Perdesaan ... 33

2.1.2 Paradigma Pembangunan Perdesaan ... 36

2.1.3 Isu Penting Pembangunan Perdesaan ... 38

2.1.4 Kendala-Kendala Pembangunan Perdesaan ... 40

2.2 Konsep Usahatani ... 43

2.2.1 Kesejahteraan dan Revitalisasi Sektor Pertanian 48 2.2.2 Pola Pertanian ... 53

2.2.3 Peranan Pertanian dalam Pembangunan Ekonomi ... 56

2.3 Konsep Modal Sosial ... 58

2.3.1 Modal Sosial Dalam Menciptakan Modal Manusia ... 66

2.3.2 Modal Sosial dan Pembangunan Ekonomi ... 67

2.3.3 Keterkaitan Modal Sosial dan Kegiatan Pertanian ... 71

2.4 Faktor Sosial Ekonomi ... 77

2.5 Faktor Sosial Demografi ... 81

2.6 Pertumbuhan Ekonomi ... 85

(12)

xv

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS

PENELITIAN ... 93

3.1 Kerangka Berpikir ... 93

3.2 Konsep Penelitian ... 99

3.3 Hipotesis Penelitian ... 104

BAB IV METODE PENELITIAN ... 106

4.1 Rancangan Penelitian ... 106

4.2 Lokasi Penelitian ... 107

4.3 Jenis dan Sumber Data ... 107

4.3.1 Jenis Data ... 107

4.3.2 Sumber Data ... 108

4.4 Variabel Penelitian ... 109

4.4.1 Identifikasi Variabel ... 109

4.4.2 Definisi Operasional Variabel ... 109

4.5 Populasi dan Sampel ... 110

4.6 Metode Pengumpulan Data ... 115

4.7 Pengukuran Variabel Penelitian ... 116

4.8 Teknik Analisa Data ... 117

4.8.1 Model SEM yang Digunakan ... 118

4.8.2 Langkah-langkah Analisis SEM PLS ... 119

4.8.3 Inner Model ... 120

4.8.4 Persamaan Outer Model ... 121

4.8.5 Evaluasi Goodness of Fit ... 124

4.8.6 Pengujian Hipotesis ... 125

4.8.7 Interpretasi Hasil ... 126

BAB V HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA ... 127

5.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian ... 127

5.1.1 Profil Kabupaten Sumbawa ... 127

5.1.2 Geografis ... 134

5.1.3 Demografi ... 5.1.4 Topografi ... 136

5.1.5 Iklim dan Curah Hujan ... 136

5.1.6 Kondisi Pertanian di Kabupaten Sumbawa ... 137

5.1.7 Penggunaan Lahan ... 145

5.1.8 Lahan Sawah ... 146

5.1.9 Lahan Bukan Sawah ... 147

5.1.10 Sosial Budaya ... 149

5.2 Karakteristik Responden ... 172

5.2.1 Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin ... 172

5.2.2 Distribusi Responden Menurut Status Lahan ... 173 5.2.3 Distribusi Responden Menurut Jenis Tanaman . 174 5.2.4 Distribusi Responden Menurut Kategori Sawah . 176

(13)

xvi

5.3 Deskripsi Variabel Penelitian ... 177

5.3.1 Deskripsi Variabel Modal Sosial ... 178

5.3.2 Deskripsi Variabel Faktor Sosial Ekonomi ... 180

5.3.3 Deskripsi Variabel Faktor Sosial Demografi ... 183

5.3.4 Deskripsi Variabel Kinerja Usahatani ... 185

5.3.5 Deskripsi Variabel Kesejahteraan Petani ... 189

5.4 Hasil Analisis Statistik ... 190

5.4.1 Uji Validitas Outer Model ... 191

5.4.2 Evaluasi Model Struktural atau Inner Model ... 196

5.4.3 Hasil Uji Statistik Pengaruh Langsung, Pengaruh Tidak Langsung, dan Pengaruh Total . 197 5.4.4 Pengujian Hipotesis ... 201

BAB VI PEMBAHASAN ... 219

6.1 Pengaruh Sosial Ekonomi dan Sosial Demografi Terhadap Modal Sosial di Desa Persawahan di Kabupaten Sumbawa ... 220

6.2 Pengaruh Sosial Ekonomi, Sosial Demografi, dan Modal Sosial Terhadap Kinerja Usahatani di Desa Persawahan di Kabupaten Sumbawa ... 224

6.3 Pengaruh Sosial Ekonomi, Sosial Demografi, Modal Sosial, dan Kinerja Usahatani Terhadap Kesejahteraan Petani di Desa Persawahan di Kabupaten Sumbawa ... 231

6.4 Pengaruh Sosial Ekonomi dan Sosial Demografi Secara Tidak Langsung Terhadap Kinerja Usahatani Melalui Modal Sosial di Desa Persawahan di Kabupaten Sumbawa ... 233

6.5 Pengaruh Sosial Ekonomi dan Sosial Demografi Secara Tidak Langsung Terhadap Kesejahteraan Petani Melalui Modal Sosial dan Kinerja Usahatani di Desa Persawahan di Kabupaten Sumbawa ... 239

6.6 Pengaruh Modal Sosial Secara Tidak Langsung Terhadap Kesejahteraan Petani Melalui Kinerja Usahatani di Desa Persawahan di Kabupaten Sumbawa 242 6.7 Temuan Penelitian ... 244

6.8 Keterbatasan Penelitian ... 245

BAB VII PENUTUP ... 246

7.1 Simpulan ... 246

7.2 Saran ... 247

DAFTAR PUSTAKA ... 248

(14)

xvii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1.1 Produksi Pertanian di Kabupaten Sumbawa Tahun 2013-2015 ... 22

1.2 Jumlah Desa di Kabupaten Sumbawa ... 23

4.1 Jumlah Populasi Penelitian ... 111

4.2 Jumlah Sampel Berdasarkan Desa Usahatani ... 113

4.3 Indikator Masing-Masing Variabel Penelitian ... 116

5.1 Pembagian dan Luas Wilayah Administrasi ... 135

5.2 Data Produksi Pertanian Di Kabupaten Sumbawa Tahun 2014-2016 ... 138

5.3 Perkembangan Populasi Ternak di Kabupaten Sumbawa Tahun 2014-2016 ... 139

5.4 Perkembangan Populasi Unggas di Kabupaten Sumbawa Tahun 2014-2016 ... 139

5.5 Luas Lahan Sawah Irigasi Menurut Banyak Kali Tanam dan Sawah Tanah Hujan di Kecamatan Moyohilir Keadaan Tahun 2016 ... 140

5.6 Jumlah Organisasi Pertanian Menurut Jenis di Kecamatan Moyohilir Per Desa Tahun 2016 ... 141

5.7 Komoditi Hewan di Kecamatan Moyohilir Tahun 2016 ... 142

5.8 Luas dan Penggunaan Lahan di Kecamatan Moyohulu Tahun 2016 ... 143

5.9 Jumlah Organisasi Pertanian Menurut Jenisnya di Kecamatan Moyohulu Dirinci Per Desa Tahun 2016 ... 143

5.10 Jumlah Ternak Menurut Jenis dan Penggaduhnya Dirinci Per Desa di Kecamatan Moyohulu Tahun 2016 ... 144

5.11 Realisasi Investasi Tahun 2011-2015 Di Kabupaten Sumbawa (Milyar Rupiah) ... 163

5.12 Perkembangan Jumlah Pelaku Usaha Perdagangan Menurut Besaran Usahanya Di Kabupaten Sumbawa Tahun 2011-2015 ... 166

5.13 Jumlah Koperasi, Koperasi RAT dan Hasil Pemeringkatan Koperasi Tahun 2011-2015 di Kabupaten Sumbawa ... 167

5.14 Perkembangan Jumlah Bank dan Kantor Bank di Kabupaten Sumbawa ... 168

5.15 PDRB dan Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Sumbawa Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan 2010 Tahun 2011–2015 ... 169

5.16 Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin ... 172

5.17 Distribusi Responden Menurut Status Lahan ... 173

5.18 Distribusi Responden Menurut Jenis Tanaman ... 175

5.19 Distribusi Responden Menurut Kategori Sawah ... 176

5.20 Persepsi Responden Terhadap Variabel Modal Sosial ... 176

5.21 Deskripsi Responden Menurut Modal Kerja ... 180

(15)

xviii

5.23 Deskripsi Responden Menurut Lama Bekerja Sebagai Petani ... 182

5.24 Distribusi Responden Menurut Usia ... 183

5.25 Distribusi Responden Menurut Pendidikan ... 184

5.26 Deskripsi Responden Menurut Jumlah Anggota Keluarga ... 185

5.27 Deskripsi Responden Menurut Nilai Hasil Produksi Tani ... 186

5.28 Deskripsi Responden Menurut Penerimaan Usahatani ... 187

5.29 Deskripsi Responden Menurut Tingkat Efisiensi ... 188

5.30 Persepsi Responden Terhadap Variabel Kesejahteraan Petani ... 189

5.31 Outer Loading Indikator Terhadap Masing-masing Konstruknya .. 191

5.32 Outer Loading Indikator Terhadap Masing-masing Konstruknya (Setelah Eliminasi SD2) ... 195

5.33 Cross Loadings Indikator Terhadap Variabel Laten ... 194

5.34 Average Variance Extracted (AVE), Composite Reliability (CR), dan Cronbach Alpha pada Masing-masing Variabel Penelitian ... 195

5.35 R Square Konstruk Dependen ... 196

5.36 Pengaruh Langsung ... 199

5.37 Nilai Indirect Effects ... 200

5.38 Ringkasan Pengaruh Langsung, Pengaruh Tidak Langsung, dan Pengaruh Total Antarvariabel ... 201

5.39 Pengujian Hipotesis 1 ... 202 5.40 Pengujian Hipotesis 2 ... 203 5.41 Pengujian Hipotesis 3 ... 204 5.42 Pengujian Hipotesis 4 ... 205 5.43 Pengujian Hipotesis 5 ... 206 5.44 Pengujian Hipotesis 6 ... 207 5.45 Pengujian Hipotesis 7 ... 208 5.46 Pengujian Hipotesis 8 ... 209 5.47 Pengujian Hipotesis 9 ... 210 5.48 Pengujian Hipotesis 10 ... 211 5.49 Pengujian Hipotesis 11 ... 213 5.50 Pengujian Hipotesis 12 ... 214 5.51 Pengujian Hipotesis 13 ... 216 5.52 Pengujian Hipotesis 14 ... 217

(16)

xix

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1.1 Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Sumbawa, Tahun 2011

– 2015 ... 9

1.2 Persentase Penduduk Usia 15+ yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha dan Jenis Kelamin Kabupaten Sumbawa Tahun 2015 ... 24

3.1 Kerangka Berpikir Pengaruh Sosial Ekonomi, Sosial Demografi dan Modal Sosial Terhadap Kinerja Usahatani Serta Kesejahteraan Petani Desa Persawahan di Kabupaten Sumbawa .. 98

3.2 Sosial Ekonomi, Sosial Demografi, Modal Sosial, Kinerja Usahatani dan Kesejahteraan Petani ... 100

4.1 Langkah-langkah Analisis SEM PLS ... 119

4.2 Pengaruh Sosial Ekonomi, Sosial Demografi danModal Sosial Terhadap Kinerja Usahatani serta Kesejahteraan Petani Desa Persawahan Di Kabupaten Sumbawa ... 120

5.1 Peta Kabupaten Sumbawa ... 135

5.2 Peta Kecamatan Moyohilir ... 137

5.3 Peta Kecamatan Moyohulu ... 138

5.4 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin ... 150

5.5 Sebaran Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan (%) ... 151

5.6 Persentase Penduduk 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Sumbawa Tahun 2016 ... 153

5.7 Jumlah Pengiriman Tenaga Kerja Kabupaten Sumbawa Ke Luar Negeri dari Tahun 2011 – 2015 ... 154

5.8 Persentase Tingkat Kemiskinan di Kabupaten Sumbawa Tahun 2011-2015 ... 156

5.9 Tingkat Kemiskinan di Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2014 – 2015 ... 157

5.10 Angka Partisipasi Murni (APM) Pendidikan di Kabupaten Sumbawa Tahun 2011-2015 ... 159

5.11 Perkembangan APK TK/RA, SD/MI, SMP/MTs dan SM di Kabupaten Sumbawa Tahun 2011-2015 ... 160

5.12 Konstribusi Kategori Lapangan Usaha Terhadap PDRB di Kabupaten Sumbawa ADH Berlaku Tahun 2015 (Persen) ... 170

5.13 PDRB Per Kapita dan Laju Pertumbuhan PDRB Per Kapita ADH Konstan di Kabupaten Sumbawa Tahun 2011-2015 ... 171

5.14 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 173

5.15 Distribusi Responden Berdasarkan Status Lahan ... 174

5.16 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Tanaman ... 175

5.17 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Sawah ... 177

5.18 Full Model Pengaruh Sosial Ekonomi, Sosial Demografi dan Modal Sosial Terhadap Kinerja Usahatani serta Kesejahteraan Petani di Desa Persawahan di Kabupaten Sumbawa ... 190

(17)

xx

5.19 Full Model dari Peranan Mediasi Modal Sosial dan Kinerja

Usahatani dari Sosial Ekonomi dan Sosial Demografi Terhadap Kesejahteraan Petani di Kabupaten Sumbawa (Setelah Eliminasi

Indikator SD2) ... 192

5.20 Full Model dengan Coefficient dan p-value Antar Variabel Penelitian ... 198

5.21 Koefisien Antar Variabel Laten Penelitian ... 199

5.22 Hubungan Antar Variabel Pada Hipotesis 1 ... 202

5.23 Hubungan Antar Variabel Pada Hipotesis 2 ... 203

5.24 Hubungan Antar Variabel Pada Hipotesis 3 ... 204

5.25 Hubungan Antar Variabel Pada Hipotesis 4 ... 205

5.26 Hubungan Antar Variabel Pada Hipotesis 5 ... 206

5.27 Hubungan Antar Variabel Pada Hipotesis 6 ... 207

5.28 Hubungan Antar Variabel Pada Hipotesis 7 ... 208

5.29 Hubungan Antar Variabel Pada Hipotesis 8 ... 209

5.30 Hubungan Antar Variabel Pada Hipotesis 9 ... 210

5.31 Hubungan Antar Variabel Pada Hipotesis 10 ... 211

5.32 Hubungan Antar Variabel Pada Hipotesis 11 ... 212

5.33 Hubungan Antar Variabel Pada Hipotesis 12 ... 214

5.34 Hubungan Antar Variabel Pada Hipotesis 13 ... 215

(18)

xxi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Kuesioner ... 257 2. Identitas Responden ... 261 3. Tabulasi Data Penelitian ... 280 4. Hasil Evaluasi Model Pengukuran (Outer Model) dan Model

Struktural (Inner Model) ... 298 5. Hasil Bootstrapping SEM-PLS ... 304

(19)

xxii

DAFTAR SINGKATAN

KTP2D : Kawasan Terpilih Pusat Pengembangan Desa

NTB : Nusa Tenggara Barat

IPM : Indeks Pembangunan Manusia

PPL : Penyuluh Pertanian Lapangan

P3A : Petani Petugas Pengguna Air

MDGs : The Millenium Development Goals

BLM-KIP : Bantuan Langsung Masyarakat untuk Keringanan Investasi Pertanian

KKP-E : Kredit Ketahanan Pangan dan Energi

PDRB : Produk Domestik Regional Bruto

SEM-PLS : Structural Equation Model-Partial Least Square

PLS : Partial Least Square

CV : Convergent Validity

DV : Discrimanant Validity

AVE : Average Variance Extracted

PMKS : Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial

MP3EI : Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia

TPAK : Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja APBD : Anggaran Pendapatan Belanja Daerah

PMA : Penanaman Modal Asing

ILMEA : Industri Logam, Mesin, Elektronika dan Aneka

UKM : Usaha Kecil dan Menengah

BPR : Bank Perkreditan Rakyat

PAD : Pendapatan Asli Daerah

(20)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berdasarkan komoditas basis pertanian dan kegiatan mayoritas petani pada desa, terdapat sembilan tipologi desa tertinggal. Kesembilan karakteristik desa yaitu desa persawahan, desa lahan kering, desa perkebunan, desa peternakan, desa nelayan, desa hutan, desa industri kecil, desa buruh industri, serta desa jasa dan perdagangan (Mubyarto, 1994). Sedangkan Soedrajad (1997) membagi tipologi desa ke dalam 4 kategori, yaitu: (a) Desa pantai adalah desa yang kegiatan utamanya alam penangkapan ikan. (b) Desa persawahan adalah desa yang mayoritas penggunaan lahan untuk persawahan terutama tergantung pada produktivitas penanaman padi. (c) Desa perkebunan adalah desa yang mayoritas penggunaan lahannya untuk perkebunan. (d) Desa perladangan adalah desa yang kegiatan utamanya adalah perladangan (menanam tanaman pangan tadah hujan dan palawija). Sementara itu berdasarkan kriteria Kawasan Terpilih Pusat Pengembangan Desa (KTP2D), tipologi desa dibagi ke dalam enam tipologi berdasarkan kegiatan ekonominya, yaitu desa industri, desa pertanian tanaman pangan, desa perkebunan, desa perikanan, desa pariwisata atau jasa dan desa peternakan (Direktorat Permukiman dan Perumahan BAPPENAS).

Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa belum ada keseragaman dalam penentuan tipologi desa. Namun terdapat kesamaan pandangan dalam penentuan tipologi desa yaitu didasarkan pada kegiatan perekonomian yang utama dari desa tersebut. Dengan mengetahui komponen utama dari aktivitas ekonomi suatu desa,

(21)

2

maka kebijakan dan perencanaan pembangunan desa dapat disesuaikan dengan tipologi desa tersebut.

Sekitar 65 persen dari total penduduk Indonesia (220 juta jiwa), yaitu sebanyak 143 juta jiwa bermukim di daerah perdesaan, yang mempunyai mata pencaharian utama pada sektor pertanian dalam arti luas (meliputi sub-sub sektor tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan). Wilayah perdesaan sangatlah luas, jumlah penduduknya sangat banyak, tingkat pendapatan, pendidikan dan derajat kesehatan adalah rendah, ditambah lagi aksesibilitas terhadap faktor-faktor produktif, modal usaha dan investasi, dan memperoleh informasi sangat lemah, sehingga kemajuan dan kesejahteraan masyarakat perdesaan jauh tertinggal dibandingkan masyarakat perkotaan. Terdapat kesenjangan atau ketimpangan sosial dan ekonomi antara daerah perkotaan dengan daerah perdesaan. Dimana daerah perdesaan mempunyai peranan dan fungsi yang sangat penting, menghasilkan berbagai jenis komoditas pertanian (beras, hasil perkebunan, peternakan dan lainnya) untuk memenuhi kebutuhan penduduk perkotaan, sebagai bahan baku untuk industri dan sebagian adalah untuk ekspor.

Permasalahan yang ada di perdesaan pada dasarnya sangat banyak dan kompleks. Jika dikelompokan secara lebih rinci, maka setidaknya ada empat masalah pokok pembangunan perdesaan yang saling terkait satu sama lain ibarat lingkaran yang tak berujung pangkal (vicious circle). Adapun masalah yang dimaksud yaitu masalah kemiskinan, masalah kependudukan dan ketenagakerjaan, masalah keterbatasan infrastruktur, dan masalah kelembagaan. Masalah

(22)

3

pokok yang pertama adalah masalah kemiskinan baik kemiskinan absolut maupun kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut bermakna bahwa ketidak mampuan masyarakat perdesaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak berdasarkan garis kemiskinan yang telah ditentukan. Sementara kemiskinan relatif berkaitan dengan ketidakmerataan kepemilikan asset dan pendapatan di wilayah perdesaan yang sering kali juga memperburuk kondisi masyarakat yang mengalami kemiskinan absolut dan berpotensi menimbulkan masalah-masalah sosial lainnya, seperti kecemburuan dan keresahan sosial.

Masalah pokok yang kedua adalah masalah yang berkaitan dengan sumber daya manusia yaitu masalah tekanan penduduk dan ketenagakerjaan. Masalah sumber daya manusia berhubungan dengan tingkat pertumbuhan alami, tingkat kesehatan, tingkat pendidikan, tingkat produktivitas yang rendah dan tingkat pengangguran di perdesaan. Daerah perdesaan masih ditandai oleh tingkat kelahiran dan kematian bayi yang masih relatif tinggi. Kedua hal tersebut berkaitan erat dengan kondisi sarana dan prasarana kesehatan yang relatif terbatas di daerah perdesaan yang berakibat juga pada tingkat kesehatan secara umum rendah. Tingkat kesehatan yang rendah tersebut bersamaan dengan tingkat pendidikan rendah berakibat pada tingkat produktivitas SDM yang rendah yang pada gilirannya menyebabkan tingkat pendapatan rendah dan pengangguran karena keterampilan yang terbatas yang pada akhirnya menyebabkan masalah kemiskinan. Ini yang sering disebut dengan lingkaran kemiskinan (vicious circle

(23)

4

Masalah pokok yang ketiga adalah keterbatasan infrastruktur perdesaan. Keterbatasan infrastruktur fisik, ekonomi dan sosial di daerah perdesaan memang sudah menjadi masalah klasik dalam pembangunan perdesaan, tetapi sampai saat ini masalah tersebut belum terselesaikan juga dengan baik. Penyediaan infrastruktur ini harus didasarkan pada prinsip kebutuhan (local needs) dan ketepatgunaan (appropriateness).

Masalah pokok keempat adalah masalah kelembagaan. Menurut Nort (1990) sebagaimana dikutip oleh Arsyad dkk. (2011), kelembagaan mencakup aturan main (rule of the game) atau prosedur yang mengatur bagaimana agen (masyarakat) berinteraksi dan organisasi (players) yang mengimplementasikan aturan-aturan tersebut untuk mencapai hasil yang diinginkan. Aturan main ini mencakup peraturan perundang-undangan pemerintah, aturan-aturan tertulis yang digunakan oleh organisai-organisasi privat, dan organisasi-organisasi publik dan privat yang beroperasi di bawah hukum publik (institusi formal) dan aturan prilaku sosial tak tertulis seperti norma sosial, sanksi sosial, adat istiadat dan budaya masyarakat (institusi informal). Masalah ini tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan lembaga-lembaga di bidang ekonomi, sosial, politik, dan budaya tetapi juga yang lebih penting adalah apakah lembaga-lembaga tersebut berfungsi dengan baik ataukah tidak. Selain itu, perhatian dan penghargaan terhadap modal sosial (mutual trust, co-operativeness, networks) – yang merupakan aspek budaya yang mendukung proses pembangunan – yang selama ini rendah atau bahkan kadang-kadang diabaikan sama sekali harus segera diakhiri. Pembangunan bukan dilakukan di ruang hampa tetapi di dalam suatu wilayah yang memiliki selain

(24)

5

manusia dan sumber daya fisikal juga memiliki sistem nilai, adat istiadat, dan budaya.

Sebagaimana diungkapkan oleh Yustika (2002), dalam Sun‟an dan Senuk, (2015) bahwa jika pembangunan dimaksudkan untuk menyejahterakan kehidupan rakyat, maka dalam konteks negara Indonesia pembangunan harus ditekankan pada wilayah perdesaan, lebih khusus lagi rakyat yang bergulat pada kegiatan pertanian. Hal ini disebabkan (1) sektor pertanian merupakan sektor yang bertanggung jawab menyediakan kebutuhan pangan masyarakat sehingga eksistensinya mutlak diperlukan, (2) sektor pertanian ikut menyediakan bahan baku (raw material) bagi sektor industri (agroindustri) sehingga proses aktivitas produksi industri dapat terus berlangsung. (3) sektor pertanian turut memberikan kontribusi meningkatkan besarnya devisa negara dengan komoditas yang diekspor. (4) pertanian merupakan sektor yang menyediakan kesempatan kerja bagi tenaga kerja perdesaan, 51 persen dari seluruh angkatan kerja Indonesia bekerja di sektor pertanian.

Pertanian adalah mata pencaharian utama di negara berkembang termasuk Indonesia dan memberikan sumbangan yang cukup signifikan terhadap pembentukan pendapatan nasional. Walaupun demikian, pertanian tetap berada dalam keadaan stagnasi. Pendapatan Nasional yang dihasilkan tidak sepadan bila dibandingkan dengan jumlah orang yang terlibat di dalamnya. Rendahnya produktivitas karena petani pemilik/penggarap tanah tidak ekonomis, fragmentasi pemilikan lahan, sistem pengolahan tanah kurang baik, sewa tanah tinggi,

(25)

6

pengolahan tanah yang tidak aman, kurangnya fasilitas kredit yang memadai, tingginya utang pada rentenir, buruknya fasilitas irigasi, ketergantungan pada turunya hujan, penggunaan metode produksi yang usang dan semakin sempitnya lahan pertanian produktif akibat pembangunan kawasan perumahan, dan industri. Memerlukan kebijakan pemerintah untuk mengadakan perbaikan lahan dan menyiapkan strategi pembangunan pertanian yang mampu meningkatkan produktivitas pertanian. Kenaikan produksi pertanian adalah penting untuk memenuhi bahan mentah keperluan industri, untuk mencapai swasembada pangan, untuk mengendalikan harga, untuk memperbesar sumber-sumber bagi keperluan pembangunan, dan untuk memanfaatkan secara efektif sumber tenaga kerja yang kurang atau tidak dimanfaatkan dalam perekonomian, serta yang tidak kalah penting untuk meningkatkan kesejahteraan petani itu sendiri.

Kondisi petani lokal perdesaan di Indonesia ibarat orang yang selamanya sudah hampir tenggelam. Pembangunan perdesaan yang petani sebagai aktor sosial tidak hanya dilihat sebagai objek pasif dari sebuah intervensi tetapi sebagai partisipan aktif yang memproses informasi dan ikut membentuk strategi dalam menghadapi berbagai aktor dan institusi atau personel luar. Kebijakan pemerintah (aras makro) yang berhubungan dengan petani sebagai pelaksana lapangan (aras mikro) tidak terbatas pada intervensi model top down pemerintah, juga melihat aras mikro dimana petani sebagai aktor.

Sebagaimana disampaikan oleh Levien (2015) untuk kasus perdesaan di India, adalah peranan tengkulak atau ijon sebagai penyandang dana kebutuhan

(26)

7

petani, yang dalam praktek sangat merugikan petani ketika hasil pertanian mereka diwajibkan atau setidaknya tidak dapat dijual kepada pihak lain, dan menerima harga yang ditetapkan oleh tengkulak selaku pembeli tunggal. Fakta ini tidak jauh berbeda dengan tipologi perdesaan di sejumlah wilayah di Indonesia, dimana kehadiran ijon telah menjerat kesejahtraan petani. Di Indonesia, sebagaimana disampaikan oleh Priyantono (2014), bahwa sistem ijon telah merusak sendi-sendi pembangunan pertanian. Kepemilikan lahan petani yang sempit, menjadi penyebab rentannya para petani dalam meghadapi para tengkulak, karena keterbatasan modal usaha menyebabkan petani dengan mudah terjerat kepada para tengkulak.

Lebih lanjut disampaikan oleh Karmana, dkk. (2012), bahwa kemiskinan di agro ekosistem sawah atau petani disebabkan berbagai hal yaitu adanya fenomena ijon yang menciptakan interlocking market, tidak terwujudnya sharing

management yang adil pada sistem sakap, periode kesempatan berburuh pada

kelompok buruh tani yang singkat selama tenaga mereka dibutuhkan, serta usaha pertanian subsisten yang diusahakan kurang intensif karena keterbatasan modal dan teknologi. Selain itu, pengusaan lahan yang sempit pada lahan padi sawah mengakibatkan return on investment tidak menghasilkan surplus yang memadai sehingga kehidupan petani tetap miskin. Kondisi-kondisi tersebut di atas semakin memperburuk kesejahteraan petani di Indonesia.

Pembangunan nasional harus dimulai dari perdesaan. Dalam konteks ini berarti 74.000 desa di negeri ini dan petani di dalamnya menjadi subjek pembangunan untuk dapat terangkat dari kubang kemiskinan permanen. Karena

(27)

8

itu penting bagi pemerintah untuk mengeluaran kebijakan yang pro terhadap pembangunan perdesaan. Desa harus diperkuat, dimodernisasi karena desa adalah ujung tombak pembangunan nasional. Alokasi dana APBN untuk desa yang memadai sangat penting untuk membangun infrastruktur dasar dan penunjang di perdesaan (Limbong, 2013).

Menurut Todaro dan Smith (2011), pembangunan desa, meskipun sangat tergantung pada kemajuan pertanian kecil, menyiratkan hal yang lain, yang meliputi (a) upaya-upaya untuk meningkatkan riil perdesaan, baik di sektor pertanian maupun non pertanian, melalui penciptaan lapangan kerja, industrialisasi di perdesaan, dan peluang non pertanian lainnya serta penyediaan sarana pendidikan, kesehatan dan gizi penduduk, dan penyediaan berbagai layanan sosial dan kesejahteraan terkait; (b) berkurangnya ketimpangan distribusi pendapatan di perdesaan serta berkurangnya ketimpangan pendapatan dan kesempatan ekonomi di antara perdesaan dengan perkotaan; (c) perhatian khusus pada kebutuhan pelestarian lingkungan – membatasi perluasan lahan pertanian ke areal hutan dan daerah rentan lain, mendorong konservasi, dan mencegah penggunaan bahan kimia, dan input lainnya; (d) pengembangan kapasitas sektor perdesaan guna dan memperlancar langkah-langkah perbaikan tersebut dari waktu ke waktu.

Sebagian besar wilayah perdesaan di Indonesia jumlah penduduknya sangat banyak, tingkat pendapatan, pendidikan dan derajat kesehatan adalah rendah, ditambah lagi aksesibilitas terhadap faktor-faktor produktif, modal usaha

(28)

9

dan investasi, dan memperoleh informasi sangat lemah, sehingga kemajuan dan kesejahteraan masyarakat perdesaan jauh tertinggal dibandingkan masyarakat perkotaan. Terdapat kesenjangan atau ketimpangan sosial dan ekonomi antara daerah perkotaan dengan daerah perdesaan. Kondisi-kondisi tersebut di atas tidak jauh berbeda dengan kondisi petani di Kabupaten Sumbawa. Hal ini tercermin dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Purwadinata (2014) yang menunjukkan tingginya ketimpangan distribusi pendapatan di antara para petani di Kabupaten Sumbawa. Ketimpangan tersebut mengindikasikan bahwa kesejahteraan petani di Kabupaten Sumbawa belum merata. Kesenjangan distribusi pendapatan berimplikasi pada masih tingginya angka kemiskinan di Kabupaten Sumbawa.

Hal yang dimaksud di atas tercermin dari angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Sumbawa yang cenderung berjalan lambat dalam rentang waktu tahun 2011-2015 (Gambar 1.1).

Gambar 1.1

Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Sumbawa, Tahun 2011 - 2015 Sumber: BPS Kabupaten Sumbawa, 2016

(29)

10

Kabupaten Sumbawa memiliki lahan sawah tadah hujan yang cukup luas, menyebabkan area tersebut sangat rentan terjadi gagal panen. Kerentanan tersebut disebabkan oleh musim kemarau berkepanjangan yang dapat mengancam minimnya hari hujan. Curah hujan rendah juga menyebabkan kurangnya volume air pada bendungan-bendungan di Kabupaten Sumbawa yang mempengaruhi pola atau waktu tanam. Perubahan iklim menjadi satu-satunya alasan dari fenomena tersebut. Sebagian besar petani sawah menganggap perubahan iklim dan cuaca merupakan bencana yang menyeramkan. Kejadian yang dimaksud tidak hanya dianggap sebagai persoalan pada menurunnya kuantitas produksi, tapi juga mengancam kesejahteraan seluruh petani. Peningkatan maupun penurunan kinerja usahatani sawah tidak hanya disebabkan oleh ketidakpastian iklim, juga karena beberapa aspek lain yang secara nyata berperan sebagai pendorong maupun perusak dalam mengukur kesejahteraan petani.

Infrastruktur pendukung seperti saluran irigasi, bendungan atau waduk, luas areal teririgasi, dan jalan usahatani kondisinya masih tidak seimbang. Ketidakseimbangan tersebut ditunjukkan oleh rasio jumlah waduk atau embung dengan luas lahan. Kondisi saluran irigasi yang terabaikan boleh jadi menyebabkan terjadinya fluktuasi produksi padi petani. Secara nyata dapat dikatakan bahwa kondisi tersebut menunjukkan ketidakmampuan aspek infrastruktur mendukung pertanian.

Masyarakat petani Indonesia termasuk di wilayah Sumbawa memiliki keterbatasan sarana modal, terbatasnya akses informasi pasar serta rendahnya

(30)

11

mengelola produksi dan pemahaman terhadap produksi yang berorientasi kepada pasar. Masyarakat desa di Indonesia termasuk di wilayah Kabupaten Sumbawa yang umumnya sebagai petani pada dasarnya memiliki modal sosial yang potensial untuk dikembangkan. Inayah (2012) menyebutkan budaya gotong-royong, tolong menolong, saling mengingatkan antar individu dalam entitas masyarakat desa merefleksikan semangat saling memberi (reciprocity), saling percaya (trust), dan adanya jaringan-jaringan sosial (sosial networking). Hal ini membangun kekompakan pada masyarakat desa untuk bersama-sama dalam memulai bercocok tanam bersama-sama untuk menghindari hama, membentuk kelompok tani untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan dan mencari solusi bersama dalam rangka meningkatkan perekonomian pertanian.

Terminologi yang digunakan dalam penelitian kesejahteraan adalah

standard living, well-being, welfare dan quality of life (Fergusson et al., 1981;

Martin, 2006). Tingkat kesejahteraan merupakan kepuasan yang diperoleh seseorang dari hasil mengkonsumsi pendapatan yang diterima. Tingkat kesejahteraan merupakan sesuatu yang relatif karena tergantung dari kepuasaan (Sawidak, 1985). Tingkat individu, perasaan bahagia atau sedih, kedamaian atau kecemasan jiwa, kepuasan atau ketidakpuasan merupakan indikator subyektif dari kualiatas hidup. Pada tingkat keluarga, kecukupan kondisi perumahan (indikator subyektif), adanya air bersih (indikator obyektif), sedangkan pada tingkat masyarakat, angka kematian bayi, angka pengangguran dan tuna wisma adalah indikator obyektif. Petani pada umumnya memiliki persepsi tentang kesejahteraan secara subyektif maupun obyektif tergantung pedoman, tujuan dan cara hidupnya.

(31)

12

Muasal teori modal sosial pertama kali sesungguhnya dipicu oleh tulisan Pierre Bourdieu yang dipublikasikan pada akhir 1970-an yang berjudul “Le

Capital Social: Notes Provisoires”, yang diterbitkan dalam “Actes de la Recherche en Sciences Social” (1980). Bourdieu sebagai peletak pondasi konsep

modal sosial mendifinisikan modal sosial sebagai „agregat sumber daya actual ataupun potensial yang diikat untuk mewujudkan jaringan yang awet (durable) sehingga menginstitusionalisasikan hubungan persahabatan (acquaintance) yang saling menguntungkan‟. Melalui pemaknaan tersebut, Bourdieu berkeyakinan bahwa jaringan sosial (social network) tidaklah alami (natural given), melainkan dikonstruksi melalui strategi investasi yang berorientasi kepada pelembagaan hubungan-hungan kelompok (group relations), yang bisa dipakai sebagai sumber terpercaya untuk meraih keuntungan (benefits). Sementara itu Coleman (1988) menyebutkan setidaknya terdapat tiga bentuk dari modal sosial. Pertama, struktur kewajiban (obligations), ekspektasi (expectations), dan kepercayaan (trust

worthiness). Kedua, jaringan informasi (information channels). Ketiga, norma dan

sanksi yang efektif (norms and effective sanctions).

Sejak tahun 1990-an, Bank Dunia telah memperkenalkan social network dan

norms sebagai sebagai kerangka model pembinaan kepada kelompok miskin dan

warga perdesaan di sejumlah negara berkembang (World Bank, 2008). Dalam berbagai kegiatan pemberdayaan dan bantuan fasilitas pendanaan Bank Dunia,

social network dan norms diharapkan dapat menjadi asset warga perdesaan untuk

bangkit dalam kebersamaan membangun masa depan. Putnam (1995) menyatakan bahwa sebuah organisasi kemasyarakatan memiliki potensi network, norms dan

(32)

13

social trust yang seharusnya dikembangkan dalam rangka memperkuat

kebersamaan dalam mencapai kesejahtraan warga perdesaan menjadi lebih baik.

Social capital sebagai kekuatan sosial kemasyarakatan dalam membangun

kekuatan dari dalam masyarakat itu sendiri telah kehilangan link dengan ditengah masyarakat sebagai upaya pengembangan potensi non capital untuk mengerakkan pertumbuhan produksi dan kesejahteraan (Grootaert, 1997). Pemberdayaan Bank Dunia tentang relevansi social capital sebagai penggerak kekuatan organisasi kemasyarakat wilayah perdesaan di sejumlah negara berkembang, serta gagasan Putnam yang menginspirasikan tentang kekuatan modal sosial sebagai penggerak organisasi kemasyarakat diluar kekuatan sarana modal ekonomi, adalah kerangka model yang diharapkan dapat diterjemahkan menjadi kekuatan nyata bagi masyarakat perdesaan, terutama di Indonesia termasuk di wilayah pulau Sumbawa yang sebagian besar penduduknya bermukim di wilayah perdesaan dengan mata pencaharian sebagai petani.

Selanjutnya Sawitri dan Soepriadi (2014) melakukan studi tentang modal sosial di Indonesia dimana hasil temuan studi mereka menunjukan wilayah dengan tingkat perkembangan industri yang lebih tinggi memiliki modal sosial petani yang lebih kuat dibandingkan dengan wilayah dengan tingkat perkembangan industri yang lebih rendah. Hal ini tidak berarti bahwa industrialisasi mampu memupuk modal sosial petani namun ditemukan bahwa hubungan tingkat industrialisasi dan keberadaan modal sosial petani tersebut tidak terjadi secara langsung. Hasil studi ini sejalan dengan Studi terdahulu yang dilakukan Miguel et al. (2003) di Indonesia yang menunjukkan bahwa

(33)

14

industrialisasi tidak menurunkan modal sosial masyarakat secara nasional di Indonesia.

Berdasarkan penjelasan di atas, modal sosial memiliki peranan penting dalam pembangunan. Modal sosial yang tidak berkembang akan menyebabkan sulitnya masyarakat keluar dari kondisi keterpurukan. Hasbullah (2006) menambahkan, masalah mendasar yang perlu dikaji tentang kegagalan program dan kebijakan terkait dengan kesejahteraan selama ini, adalah lengah dalam mengindentifikasi faktor yang sangat menentukan yaitu modal sosial masyarakat. Di samping itu, menyadari akan lemahnya posisi para petani sawah, maka diperlukan pengembangan studi modal sosial sebagai penggerak kekuatan petani dari dalam, yaitu kualitas network, social trust dan norma social kemasyaratan sebagaimana digagas oleh Putnam (1993).

Modal sosial dapat mempengaruhi perubahan ekonomi dengan dua cara, yaitu: kepercayaan dan ikatan emosional terhadap kelompok atau perkumpulan yang dapat meningkatkan efisiensi dan memfasilitasi kerja sama yang lebih luas terhadap pelayanan manfaat kelompok, masyarakat atau perkumpulan, (Fafchamps dan Minten, 1999). Modal sosial dalam kegiatan transaksi bisa menjadi basis sumber daya ekonomi (economic resource). Modal sosial menjadi alternatif yang memungkinkan alokasi kegiatan ekonomi secara efisien karena kegiatan ekonomi selalu dalam bentuk kerjasama (baik berupa persaingan maupun saling bantu-membantu) antar pelakunya, apapun motif yang ada di balik itu. Adanya kerjasama akan membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi sehingga tujuan pembangunan yang diharapkan akan tercapai.

(34)

15

Pentingnya modal sosial harus mendapat perhatian serius dalam pembangunan perdesaan termasuk di Kabupaten Sumbawa.

Salah satu bentuk modal sosial dalam masyarakat desa di Kabupaten Sumbawa terdapat dalam budaya “Basiru” yaitu budaya gotong-royong, tolong menolong yang merefleksikan semangat saling memberi (reciprocity). Budaya “Basiru” pada dasarnya juga dapat menjadi suatu modal sosial yang tergolong dalam bentuk jaringan hubungan antar individu dan hubungan keluarga. Namun saat ini dalam aktivitas pertanian di beberapa wilayah perdesaan di Kabupaten Sumbawa, budaya “Basiru” sudah mulai terkikis oleh perkembangan dunia modern. Tidak sedikit masyarakat petani yang mulai meninggalkan kebudayaan tersebut terutama desa-desa yang dekat dengan wilayah perkotaan. Sulitnya menentukan lahan siapa yang pertama untuk digarap dan perbedaan luas lahan yang dimiliki antar individu menjadi salah satu penyebab semakin sulitnya budaya ini diterapkan. Individu dengan lahan lebih luas tentu akan diuntungkan sedangkan individu dengan luas lahan yang sedikit akan merasa dirugikan karena lebih banyak tenaga yang dikeluarkan dibandingkan dengan imbal hasil yang diperoleh.

Mulai memudarnya budaya “Basiru” dalam aktivitas pertanian masyarakat perdesaan di Kabupaten Sumbawa juga tidak terlepas dari waktu pelaksanaan usaha pertanian itu sendiri di mana dalam satu desa memiliki waktu pengolahan lahan, penanaman, dan waktu panen yang bersamaan sehingga tentu akan membutuhkan penggunaan sumber daya manusia yang bersamaan. Para petani sawah dengan lahan yang cukup luas biasanya akan memilih untuk menggunakan

(35)

16

dan menyewa sumber daya manusia atau tenaga kerja dari luar desa yang berasal dari Kabupaten Bima, Kabupaten Lombok Tengah dan kabupaten Lombok Timur. Hal ini mendorong sumber daya tenaga kerja lokal (buruh tanam dan buruh panen) menuntut perlakuan yang sama serta upah yang sama dengan tenaga kerja dari luar (buruh tani). Hal tersebut di atas menjadi tantangan dan peluang dalam memperkuat modal social dalam masyarakat petani desa sawah di Sumbawa.

Studi empiris tentang modal sosial telah banyak dilakukan dengan berbagai indikator yang digunakan untuk merefleksikan modal sosial tersebut. Hofferth dan Iceland (1998) menggunakan norma dan kelembagaan sebagai modal sosial. Mereka menyebutkan bahwa, kunci perbedaan masyarakat perkotaan-perdesaan merefleksikan perbedaan norma dan ketersediaan pelayanan pendukung kelembagaan dalam wilayah berbeda. Selanjutnya, Svendsen dan Sorensen (2006) menjelaskan modal sosial diukur dengan nilai kepadatan asosiasi sukarela dan hasil studi empirisnya menyimpulkan bahwa kepadatan asosiasi sukarela tidak mempengaruhi kinerja ekonomi. Selain itu, Bolton (2011) menggambarkan modal sosial sebagai suatu keterhubungan sosial dan keterlibatan dalam masyarakat dimana ras/etnis, pendidikan, dan pendapatan menjadi prediktor terkuat keterhubungan sosial dan keterlibatan masyarakat. Penelitian Ohama (2001) di Luzon Tengah (Filipina), menemukan bahwa kerja kolektif tidak hanya mengentaskan komunitas petani dari perangkap kemiskinan, melainkan berhasil juga mengkreasi sebuah modal sosial (social capital) dalam bentuk berkembangnya organisasi rakyat “Ugnayang Magsasakang San Siomon

(36)

17

Modal sosial dalam kegiatan transaksi bisa menjadi basis sumber daya ekonomi (economic resource). Modal sosial bisa menjadi alternatif yang memungkinkan alokasi kegiatan ekonomi secara efisien karena kegiatan ekonomi selalu dalam bentuk kerjasama (baik berupa persaingan maupun saling bantu-membantu) antar pelakunya, apapun motif yang ada di balik itu.Kerjasama akan membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi sehingga tujuan pembangunan yang diharapkan akan tercapai. Pentingnya modal sosial harus mendapat perhatian serius dalam pembangunan perdesaan persawahan di Kabupaten Sumbawa.

Faktor sosial ekonomi turut menentukan pembangunan pertanian di perdesaan. Faktor sosial ekonomi termasuk dalam faktor penentu peningkatan produksi hasil pertanian, yang juga akan membawa pengaruh secara tidak langsung terhadap perbaikan tingkat kesejahteraan petani. Wahyuningdyawati, Kasijadi dan Heriyanto (2003) dalam penelitiannya memberikan kesimpulan bahwa faktor sosial ekonomi dapat mempengaruhi kinerja usahatani (tingkat produksi). Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Femi Oluwatusin dan G. Shittu (2014) menunjukan bahwa faktor sosial ekonomi yang terdiri dari usia, tingkat pendidikan, pengalaman bertani, jarak pertanian dan tingkat pendapatan petani adalah penentu utama kinerja usahatani atau produksi pertanian. Variabel-variabel tersebut memiliki koefisien positif serta signifikan secara statistik. Sementara itu faktor ukuran rumah tangga memiliki koefisien negatif namun tidak signifikan secara statistik.

(37)

18

Sulandjari (1997) mengemukakan bahwa sumber ekonomi terdiri atas pendapatan anggota rumah tangga dan kekayaan yang berupa simpanan/tabungan dan barang yang cepat laku atau yang langsung bisa dikonsumsi misalnya hasil bumi. Hasil bumi dari sawah, ladang, pekarangan sangat berarti untuk menopang kebutuhan rumah tangga masyarkat perdesaan yang pada umumnya petani. Pendapatan untuk perdesaan pada umumnya hanya mempunyai faktor produksi tenaga kerja, sehingga besarnya pendapatan rumah tangga ditentukan oleh jumlah anggota rumah tangga yang bekerja dengan tingkat upah. Diharapkan pendapatan tambahan yang diperoleh dari aktivitas non-pertanian dapat mengurangi ketimpangan distribusi pendapatan yang ada pada rumah tangga.

Ellis (2000) mengelompokkan pendapatan menjadi pendapatan uang tunai (in cash) atau bentuk kontribusi lain (in kind) untuk kesejahteraan material individu atau keluarga yang diperoleh dari berbagai kegiatan memenuhi kehidupan rumah tangga. Bentuk pendapatan tunai meliputi penjualan tanaman atau ternak, gaji atau upah, sewa dan kiriman uang (remittance). Pendapatan dalam bentuk lain mengacu pada konsumsi pada produk tanaman sendiri, pembayaran dalam bentuk barang, dan transfer atau pertukaran barang konsumsi antara rumah tangga dalam komunitas desa atau antara rumah tangga desa dan kota. Menurut Yunus (2006), rendahnya tingkat pendapatan dan pendidikan masyarakat, mempunyai pengaruh yang sangat luas terhadap perilaku sosial ekonomi dan kultural terutama dari segi pemenuhan kebutuhan pemukiman. Adapun beberapa strategi pemenuhan kebutuhan yang telah diterapkan oleh rumah tangga miskin, tentu sangat berpengaruh pada lokasi sumberdaya ekonomi

(38)

19

rumah tangga, baik pengeluaran untuk perumahan, kegiatan sosial ekonomi dan kesenangan.

Pendapatan rumah tangga petani merupakan keuntungan yang diperoleh oleh rumah tangga atas aktivitas dalam mendapatkan penghasilan seperti dalam menggarap lahan, beternak atau aktivitas non pertanian. Keuntungan yang diperoleh rumah tangga dapat berupa keuntungan material atau non material (barang atau jasa). Pendapatan rumah tangga dapat berfluktuasi, terkadang ada terkadang pula tidak ada hal ini tergantung dari kondisi ataupun situasi dalam melaksanakan aktifitas mencari nafkah. Sebagaimana ditegaskan Yunus (2006), bahwa tingkat pendapatan petani dari sektor pertanian akan mengalami penurunan, karena terjadinya penyusutan lahan garapan, atau mungkin pula adanya penurunan produktivitas lahan. Namun bagi rumahtangga petani yang masih mempertahankan kegiatan pertaniannya, juga mempunyai usaha di luar sektor pertanian, justru mengalami kenaikan pendapatan. Hal ini karena golongan rumahtangga ini mempunyai sumber penghasilan dari dua sektor, yaitu sektor pertanian dan sektor non pertanian. Walaupun penghasilan dari sektor pertanian menurun, namun terimbangi dari sumber diluar sektor pertanian, karena banyak rumahtangga petani yang menjual sebagian lahan pertaniannya untuk membuka usaha tertentu, seperti tempat kost, kios berjualan barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Pada sektor pertanian, faktor sosial demografi juga turut mempengaruhi strategi penduduk dalam kelangsungan hidupnya termasuk dalam menentukan kinerja usahatani (produksi pertanian). Faktor demografi antara lain usia

(39)

20

berpengaruh terhadap banyak hal, seperti pada pola berpikir, kestabilan mental, kekuatan fisik, dan juga beragamnya pengalaman hidup. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap strategi yang dilakukan oleh individu ataupun rumahtangga setiap golongan usia. Bagi para individu yang masih muda, semangat dan kegigihan untuk melakukan berbagai macam usaha masih sangat lekat. Hal ini disebabkan berbagai faktor, salah satunya adalah pandangan akan masa depan yang masih panjang dan banyak hal yang harus diraih karena usia masih relatif muda, baik untuk dirinya sendiri, anak dan keluarga, sehingga memancing adanya kesadaran akan perlunya perjuangan yang keras.

Menurut Hetler (dalam Boedirochminarni, 1990), semakin tinggi umur seseorang semakin berpengaruh dalam rumah tangga, karena semakin memiliki kemampuan untuk mengatur rumah tangganya. Komposisi umur penting dalam kaitannya dengan ukuran dan komposisi rumah tangga, karena umur erat kaitannya dengan perbedaan-perbedaan dengan siklus hidup dalam hal kemampuan untuk bekerja dan mendukung rumah tangganya. Rumah tangga yang dikepalai oleh orang yang lebih tua cenderung menjadikan anaknya sebagai pekerja keluarga.

Penelitian yang dilakukan oleh MD Sikandar Azam (2015) menunjukkan bahwa faktor sosial demografi mempengaruhi adopsi pertanian organik oleh petani. Tingkat pendidikan, pelatihan, mode transportasi dan perilaku konsumen (bagi petani yang menjual produk mereka) merupakan faktor yang lebih berpengaruh dalam mengadopsi pertanian organik. Namun, pengalaman pertanian, pola tanah menunjukan pengaruh yang tidak signifikan dalam pengambilan

(40)

21

keputusan. Aspek pemasaran dan harga yang tepat menjadi tantangan lain bagi para petani di mana perantara mengeksploitasi petani dengan harga yang lebih rendah. Hal ini dikarenakan tidak tersedianya transportasi berarti bagi petani untuk dapat menuju ke pasar yang tepat. Sementara itu hasil penelitian Bekele (2008), bahwa ukuran keluarga secara positif mempengaruhi pilihan strategi

livelihood. Sedangkan umur kepala rumah tangga, jenis kelamin kepala rumah

tangga, dan rasio ketergantungan mempunyai hubungan negatif dalam menentukan pilihan pertanian dan non pertanian sebagai strategi livelihood. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka aspek demografi yang dapat digunakan untuk melihat profil petani di antaranya adalah usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pengalaman bertani.

Pertanian merupakan salah satu sektor ekonomi yang strategis di Kabupaten Sumbawa. Penyerapan tenaga kerja pada sektor ini cukup tinggi. Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup besar dalam pembentukan PDRB Kabupaten Sumbawa, dengan konstribusi hampir mencapai 40 persen dan sekitar 50 persennya adalah pertanian tanaman pangan (padi dan palawija). Pada periode 2013-2015 produksi padi sebagai barometer pertanian tanaman pangan mengalami penurunan yaitu dari 484.174 ton tahun 2013, menjadi 449.223 ton pada tahun 2014. Pada tahun 2015, produksi padi mengalami peningkatan sebesar 7,06 persen menjadi 480.924 ton yang terdiri dari 440.576 ton padi sawah dan 40.348 ton padi ladang. Kenaikan produksi padi pada tahun 2015 ini disebabkan oleh faktor penambahan luas lahan tanam. Berikut disajikan data produksi padi dan palawija di Kabupaten Sumbawa pada Tabel 1.1.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif secara signifikan terhadap nilai perusahaan, namun struktur modal

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa 1) pertumbuhan Penjualan berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal pada

Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel sosial demografi dan sikap keuangan berpengaruh positif signifikan terhadap perilaku investasi keuangan individu pada

Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel sosial demografi dan sikap keuangan berpengaruh positif signifikan terhadap perilaku investasi keuangan individu pada

berpengaruh positif tidak signifikan terhadap perilaku pengelolaan keuangan keluarga, faktor demografi pendidikan berpengaruh positif signifikan terhadap perilaku

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa 1) pertumbuhan Penjualan berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal pada

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa perubahan Corporate Sosial responsibility dimensi ekonomi mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap

Berdasarkan data yang dihimpun Kepolisian Daerah Bali (2014) tampak bahwa banyak sengketa adat yang tidak dapat diselesaikan secara efektif sehingga timbul pertanyaan: (1)