i
PERBEDAAN TINGKAT DEPRESI DI USIA DEWASA AWAL
DI TINJAU DARI KELEKATAN OBJEK TRANSISI
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Disusun Oleh:
Bernadeta Dwi Hapsari
099114063
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
iv
“Apa saja yang kamu minta di dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya”
-Matius 21:22-
“Aku ada bukan untuk merubah, tetapi untuk menyempurnakan” -BDH-
Love is patient, love is kind, It does not envy, It does not boast, It is not proud, It is not rade, It is not self-seeking, It is not easily engered, It keeps no record of wrong, Love does not delight in evil, But rejoices with the truth, It always protects, always trust, always hope, Always perseveres, LOVE NEVER FAILS. - 1 Corinthians 13:4-8 –
“Kita melihat kebahagiaan itu seperti pelangi, tidak pernah berada di atas kepala kita sendiri,
tetapi berada di atas kepala orang lain –Marcus Aurelius”
Pandai bersyukur, itulah salah satu cara menikmati indahnya kehidupan -BDH-
v
Karya ini kupersembahkan untuk:
Tuhan Yesus Kristus
Bunda Maria
Kedua Orang tua ku tercinta, Bapak R.H Baskoro dan Mama Agustina Isti.N
Kakakku tersayang, Mas Ian
Sepupu-sepupuku, dik Tita, Rara, Tea, dll
Sahabat-sahabatku, Christi, Keket, Yanti, Stenny, Imu, Devi, Mitha, Andri, Fia, Resti, Wulan
Teman-temanku
vi
PERNYATAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 25 Febuari 2014
vii
PERBEDAAN TINGKAT DEPRESI DI USIA DEWASA AWAL DITINJAU DARI KELAKATAN OBJEK TRANSISI
Bernadeta Dwi Hapsari
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan dalam tingkat depresi di usia dewasa awal berdasarkan kelekatan pada objek transisi. Kelekatan objek transisi adalah kepemilikikan suatu benda lembut seperti boneka, selimut, potongan kain, dan mainan lembut yang dibutuhkan ketika hendak tidur dan dapat memberikan kenyamanan serta mengurangi kecemasan. Kelekatan objek transisi di usia dewasa awal mengindikasi adanya gangguan psikopatologi, misalnya gangguan emosional atau depresi. Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat depresi pada individu dewasa awal yang memiliki dan yang tidak memiliki kelekatan objek transisi. Subjek penelitian berjumlah 50 orang yang dikelompokkan ke dalam dua kelompok berdasarkan kelekatan objek transisi, yaitu 28 orang masuk ke dalam kelompok yang tidak memiliki kelekatan objek tansisi dan 9 orang masuk ke dalam kelompok yang memiliki kelekatan objek transisi. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan bentuk skala, yaitu Skala Beck Depresi (Beck Depression Inventory) dan Skala Kelekatan Objek Transisi. Uji reliabilitas skala menggunakan teknik Alpha Cronbach dengan hasil Skala Beck Depresi memiliki reliabilitas 0,757 dan Skala Kelakatan Objek Transisi memiliki reliabilitas 0,690. Analisis data dilakukan dengan teknik statistik Independent sample T-Test. Analisis data menghasilkan nilai t = 0,007 dengan nilai p = 0,016 (p > 0,05) yang berarti tidak ada perbedaan yang siginifikan antara tingkat depresi di usia dewasa awal berdasarkan kelekatan objek transisi. Hal tersebut menunjukkan bahwa hipotesis penelitian ini ditolak.
viii
DIFFERENCES OF DEPRESSION IN ADULTS AGES EARLY IN TERMS TRANSITIONAL OBJECT ATTACHMENT
Bernadeta Dwi Hapsari
ABSTRACT
This study aims to determine the differences in rates of depression in early adulthood by attachment to transitional objects . Stickiness is a transition object controlling interest in a soft object such as dolls , blankets , pieces of cloth , and soft toys are needed when going to sleep and can provide comfort and reduce anxiety . Transitional object attachment in early adulthood indicates a disorder psychopathology , such as emotional disorders or depression . The hypothesis of this study is that there is a significant difference between the level of depression in early adult individuals who have and who do not have a transitional object attachment . Subjects numbered 50 were classified into two groups based on the attachment object transitions , 28 people into the group that does not have the attachment object tansisi and 9 people get into a group that has a transitional object attachment . Methods of data collection in this study using a form of the scale , the Beck Depression Scale ( Beck Depression Inventory ) and the Transitional Object Attachment Scale . Scale reliability test using Cronbach Alpha with the results of Beck Depression Scale has a reliability of 0.757 and the Transitional Object Scale Kelakatan has reliability 0.690 . Data analysis was performed with statistical techniques Independent sample T-Test . Analysis of the data produced by the value of t = 0.007 p = 0.016 ( p > 0.05 ) which means that there is no significant difference between the level of depression in early adulthood based transitional object attachment . This shows that the hypothesis is rejected .
ix
LEMBAR PENYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Bernadeta Dwi Hapsari
NIM : 099114063
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:
“Perbedaan Tingkat Depresi di Usia Dewasa Awal di Tinjau dari Kelekatan Objek Transisi”
Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta
Pada tanggal 25 Febuari 2014 Yang menyatakan
x
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas karunia, berkat dan bimbingan-Nya sehingga saya dapat mengerjakan dan menyelesaikan penyusunan
skripsi dengan judul “Perbedaan Tingkat Depresi di Usia Dewasa Awal di Tinjau
dari Kelekatan Objek”.
Penulis menyadari penyusunan Skripsi ini tidak akan berhasil tanpa bantuan, dukungan, bimbingan serta doa dari pihak-pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang setulusnya kepada:
1. Tuhan Yesus Kristus Mahakasih, yang sudah memberikan anugrah dan berkat sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini.
2. Ibu Ratri Sunar Astuti, S.Psi,. M.Psi selaku dosen pembimbing skripsi yang telah membimbing dan membantu dalam penulisan skripsi.
3. Ibu Agnes Indar dan Bu Lusia P selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dan saran untuk skripsi saya.
4. Suster Wina dan Pak Landung selaku dosen matakuliah Statistik di Fakultas Psikologi yang telah memberikan arahan dan masukan dalam penulisan skripsi.
xi
6. Seluruh Staf karyawan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, Mas Gandung, Bu Nanik, Mas Doni, Mas Muji dan Pak Gik yang telah membantu penulis dalam menjalani studi di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.
7. Bapak Robertus Hari Baskoro dan Mama Agustina Isti Nurani yang telah memberikan semangat, nasehat, doa dan dukungan baik dalam bentuk materi, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan baik. You are my everything mom, dad.. thanks for your love, I’ll give the best for you.. and I’ll make you proud ! and I LOVE YOU..
8. Kakakku Agustinus Kristian Adhi Nugroho yang telah memberikan semangat, bantuan dan dukungan selama penulis menyelesaikan penulisan skripsi. Thanks a lot.. I pray for you, for your life and your carrier, do the best for mom and dad, okay ?!
9. Untuk sepupu-sepupuku tersayang,dik Tita, om Inand, Rara, Tea, Manda, mas-mas dan mbak-mbak sepupu yang telah memberikan semangat dan keceriaan ketika penulis merasakan kebosanan dan kejenuhan selama menyelesaikan penulisan skripsi ini. Thanks my sistaa and brother, we are family..
xii
11. Sahabat-sahabatku Imu, Devi, Mitha, Resti, Andri, Fia dan Amel yang telah memberikan doa dan semangat jarak jauh. Terimakasih karena kalian telah membantuku menyelesaikan permasalahan yang membuat aku bertahan hingga sekarang. I miss you so badly, guys..
12. Om Bulik, Pakde Budhe yang telah memberikan doa sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi ini. Tuhan jaga mereka selalu.. 13. Untuk Dimas yang telah memberikan waktu, perhatian dan kesediaan
telinga untuk mendengarkan keluh kesah ketika penulis merasa terbebani dalam proses menyelesaikan skripsi ini. God Blessing you, always.. keep fighting, and keep smile. Thanks for beautiful moment..
14. Untuk Andredan mas Anggit, terimakasih untuk dukungan, doa serta semangatnya sehingga peneliti bisa menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Dan terimakasih karena sudah menjadi bagian dalam hidupku. Success for you, guys..
15. Untuk seluruh mahasiswa fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma khususnya angkatan 2009. Terimakasih atas kerjasamanya selama studi di fakultas ini, dan terimakasih atas dukungan serta doanya. Semoga kalian selalu sukses kedepannya, amin..
xiii
17. Untuk subjek-subjekku, terimakasih atas kesediaan kalian dalam memberikan data-data yang peneliti butuhkan, tanpa kalian skripsi ini pun tidak akan terselesaikan dengan baik.
18. Dan untuk pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan, terimakasih atas bantuan dan kerjasamanya. Tuhan memberkati..
Tidak cukup ucapan kata terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini, semoga Berkat Tuhan selalu melimpah dalam kehidupan kita semua.
Akhir kata, semoga karya ilmiah bermanfaat bagi yang membacanya.
Yogyakarta,
xiv
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT... viii
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiv
DAFTAR TABEL ... xviii
DAFTAR LAMPIRAN ... xx
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 5
1. Manfaat Teoritis ... 5
xv
BAB II TINJAUAN TEORI ... 7
A. Depresi pada Masa Dewasa Awal ... 7
1. Pengertian Depresi ... 7
2. Gejala-gejala Depresi ... 8
3. Faktor yang Mempengaruhi Depresi ... 13
4. Teori-teori Depresi ... 19
B. Kelekatan Objek Transisi ... 21
1. Definisi Kelekatan Objek Transisi ... 21
2. Karakteristik Kelekatan Objek Transisi ... 22
3. Objek Transisi di Usia Dewasa ... 25
C. Perkembangan Dewasa Awal ... 26
D. Dinamika Perbedaan Tingkat Depresi di Usia Dewasa Awal BerdasarkanKelekatan Objek Transisi... 29
E. Kerangka Berpikir ... 32
F. Hipotesis ... 32
BAB III METODE PENELITIAN ... 33
A. Jenis Penelitian ... 33
B. Identifikasi Variabel Penelitian ... 33
C. Definisi Operasional Variabel ... 33
1. Definisi Depresi ... 33
2. Definisi Kelekatan Objek Transisi ... 34
D. Subjek Penelitian ... 35
xvi
1. Skala Depresi pada Masa Dewasa... 36
2. Skala Kelakatan Objek Transisi ... 42
F. Uji Coba Alat Ukur ... 44
1. Estimasi Validitas... 44
2. Uji Daya Deskriminasi Item ... 45
3. Estimasi Reliabilitas ... 48
G. Metode Analisis Data ... 49
1. Uji Asumsi ... 49
2. Uji Hipotesis ... 50
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAAN ... 51
A. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian ... 51
1. Persiapan Penelitian ... 51
2. Pelaksanaan Penelitian ... 52
3. Data Demografis Subjek Penelitian ... 52
B. Hasil Penelitian ... 54
1. Kategorisasi Pengelompokkan Subjek Berdasarkan Kelekatan Objek Transisi ... 54
2. Uji Asumsi ... 55
3. Uji Hipotesis ... 57
C. Pembahasan ... 59
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 64
xvii
B. Saran ... 64
1. Bagi Individu yang Memiliki dan Tidak Memiliki Kelekatan Objek Transisi ... 64
2. Bagi Penelitian Selanjutnya ... 65
DAFTAR PUSTAKA ... 66
xviii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Distribus Item Beck Depression Inventory Item sebelum
Uji Coba... 37
Tabel 3.2 Distribusi Dan Jumlah Item Skala Kelekatan Objek Transisi sebelum Uji Coba ... 43
Tabel 3.3 Distribusi Item Beck Depression Inventory Item setelah Uji Coba ... 47
Tabel 3.4 Distribusi dan Jumlah Item Skala Kelekatan Objek Transisi setelah Uji Coba ... 48
Tabel 4.1 Deskripsi Data Demografis Berdasarkan Usia ... 53
Tabel 4.2 Deskripsi Data Demografis Berdasarkan Pekerjaan ... 53
Tabel 4.3 Norma Kategorisasi ... 54
Tabel 4.4 Hasil Analisis Kategorisasi ... 54
Tabel 4.5 Hasil Kategorisasi Item Kelekatan Objek Transisi ... 55
Tabel 4.6 Rangkuman Hasil Uji Normalitas ... 56
Tabel 4.7 Rangkuman Hasil Uji Homogenitas ... 57
xix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Eksplikasi Konstruk Item Skala Kelekatan Objek
Transisi sebelum Uji Coba... 70
Lampiran 2. Item Skala Kelekatan Objek Transisi sebelum Uji Coba... 72
Lampiran 3. Item Skala Kelekatan Objek Transisi setelah Uji Coba ... 74
Lampiran 4. Skala Kelekatan Objek Transisi ... 76
Lampiran 5. Skala Beck Depression Inventory versi Bahasa Indonesia ... 83
Lampiran 6. Skala Beck Depression Inventory versi Bahasa Inggris ... 92
Lampiran 7. Hasil Uji Daya Deskriminasi Item dan Reliabilitas Skala... 95
Lampiran 8. Hasil Uji Normalitas ... 102
Lampiran 9. Hasil Uji Asumsi dan Hipotesis ... 104
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kelekatan objek transisi masih terjadi pada individu dewasa awal. Kelekatan objek transisierat kaitannya dengan perkembangan kelekatan antara ibu dan bayi. Ketika sang ibu tidak memberikan kenyamanan pada bayi, atau bayi mengalami kecemasan akibat keterpisahan dari sang ibu, maka bayi akan mengembangkan kelekatan objek. Winniccot (1953) menyebutkan fenomena tersebut sebagai kelekatan objek transisi. Bayi dan anak-anak sering membentuk sebuah kelekatan yang kuat pada objek lembut, misalnya selimut, teddy bear, bantal dan boneka. Kelekatan objek transisi di masa anak-anak merupakan hal yang normal terjadi. Menurut Winnicott (1953), kelekatan objek transisi membantu bayi untuk belajar memahami kehidupan
di luar dari dirinya: memainkan peran pertama pada kepemilikan “bukan aku”
dan membantu bayi untuk membangun dirinya setelah proses keterpisahan dari ibunya.
rasa kehilangan pengasuh utama sehingga kurangnya pemenuhan kebutuhan oral dan rasa aman.
Perasaan kehilangan mengakibatkan individu mengembangkan keterikatan emosional terhadap benda-benda transisi atau benda lembutnya dimasa dewasa (dalam Hooley, DPhil, dan Murphy, 2012). Selain itu, pengalaman masa kecil yang kurang optimal memungkinkan individu mengalami kesulitan untuk menemukan dan memelihara hubungan emosional, sehingga menggunakan objek transisi tersebut untuk mengisi kekosongan tersebut (dalam Hooley, DPhil, dan Murphy, 2012).
Menurut psikodinamika, seseorang yang mengalami depresi menjadi lebih dipengaruhi pada penilaian dan persetujuan orang lain dalam membentuk harga diri (King, 2010b).Selain itu, kemunculan depresi kemungkinan besar akibat dari masalah-masalah yang dihadapi dalam hubungannya dengan orang lain (Constantine, 2006; Gladstone, et al, 2007 dalam A. King 2010b).
Menurut King (2010b) pengalaman dalam hubungannya dengan orang lain biasanya berkaitan dengan pengalaman yang baru terjadi (misal, konflik pernikahan) dan pengalaman yang sudah terjadi di masa lalu (misalnya, hubungan dengan orang tua yang tidak cukup baik).
baik dengan orang lain. Kesepian adalah salah satu akibat dari stres (Noi & Smith, 1991).
Menurut Beck (1985), depresi merupakan kesedihan yang berkepanjangan dan keadaan jiwa yang apatis, cara berpikir yang salah dalam memandang realitas di luar dan di dalam diri sendiri sehingga terbentuk konsep yang negatif yang berlanjut pada perasaan rendah diri (dalam Qonitatin, Widyawati & Asih, 2011). Menurut teori humanistik, depresi adalah hasil dari rendahnya konsep diri dan self-esteem yang diakibatkan dari kehilangan (Wahyuni, 2010). Hal ini memungkinkan individu merasa kesepian karena ketidakmampuan untuk membangun relasi yang baru.
Berdasarkan penelitian Katon dan Sullivan (dalam Lubis, 2009) diperkirakan 15 sampai 33 persen orang yang pergi kedokter sebenarnya menderita penyakit karena sebab emosional: stres, khawatir, ketakutan, frustrasi, dan rasa tidak aman. Berawal dari stres yang tidak diatasi, maka seseorang bisa jatuh ke fase depresi (Wahyuni, 2010). Selain itu, individu yang mengalami kecemasan, merasakan kekosongan, tidak berdaya, insomnia, pesimis, kurang dapat berkonsentrasi, dan sebagainya, merupakan simptom-simptom yang mengarah pada depresi (Lemme, 1947).
2012). Hal ini didukung oleh pernyataan Supriyanto, Direktur Jendral Bina Upaya Kesehatan, yang menyatakan bahwa dari populasi orang dewasa di Indonesia yang mencapai sekitar 150 juta jiwa, sekitar 11,6% atau 17,4 juta jiwa mengalami gangguan emosional atau gangguan kecemasan dan depresi (Hidayat, 2011).
Banyak penelitian tentang kelekatan objek transisi yang telah dilakukan pada individu usia remaja dan dewasa. Meskipun penelitian dengan tema ini sudah banyak di lakukan di negara-negara barat, namun di Indonesia sangat jarangdilakukan. Berdasarkan hasil survei awal yang dilakukan pada perempuan antara usia 18-23 tahun, 43,34% dari 30 subjek menunjukkan memiliki kelekatan objek transisi pada masa dewasa awal.
adanya simptom depresi, seperti kesedihan dan rendahnya kepercayaan diri (Erkolahti &Nystrom, 2009).
Hal tersebut menjadi bahan pertimbangan peneliti untuk masih melakukan penelitian ini. Peneliti ingin melihat apakah perkembangan kelekatan objek transisi di Indonesia sama dengan perkembangan kelekatan objek transisi di usia dewasa awal di negara-negara barat terhadap tingkat depresi di usia dewasa awal. Peneliti ingin membandingkan tingkat depresi pada individu dewasa awal berdasarkan kelekatan objek transisi.
B.
Rumusan MasalahApakah terdapat perbedaan tingkat depresi di usia dewasa awal berdasarkan kelekatan pada objek transisi?
C. Tujuan
Mengetahui adanya perbedaan dalam tingkat depresi di usia dewasa awal berdasarkan kelekatan pada objek transisi.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
b. Memberikan wawasan tambahan dalam bidang psikologi klinis dan kesehatan mental untuk melihat simptom-simptom depresi dan kaitannya dengan kelekatan objek transisi.
2. Manfaat Praktis
7
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Depresi pada Masa Dewasa Awal
1. Pengertian Depresi
Depresi adalah suatu gangguan yang berlangsung cukup lama di sertai gejala-gejala dan tanda-tanda spesifik yang secara substansial mengganggu kewajaran sikap dan tindakan seseorang atau yang menyebabkan kesedihan yang amat sangat, dan bisa juga kedua-duanya (Greist, John, H.& Jefferson, James, W. 1987). Menurut Atkinson (dalam Lubis, 2009) depresi sebagai suatu gangguan mood yang dicirikan tak ada harapan dan patah hati, ketidakberdayaan yang berlebihan, tak mampu mengambil keputusan memulai suatu kegiatan, tak mampu berkonsentrasi, tak punya semangat hidup, dan mencoba bunuh diri. Rathus (dalam Lubis, 2009)menyatakan orang yang mengalami depresi umumnya mengalami gangguan yang meliputi keadaan emosi, motivasi, fungsional, dan gerakan tingkah laku serta kognisi. Depresi mayor (major depression) adalah suatu gangguan suasana hati (a mood disorder) dimana individu merasa sangat tidak bahagia, kehilangan semangat (demoralized), merasa terhina (seft-deragatory), dan bosan (Santrock, 2002b). Selain itu, individu yang
Dalam hal ini, peneliti lebih mengacu pada teori depresi berdasarkan Beck. Depresi merupakan kesedihan yang berkepanjangan dan keadaan jiwa yang apatis, cara berpikir yang salah dalam memandang realitas di luar dan di dalam diri sendiri sehingga terbentuk konsep yang negatif yang berlanjut pada perasaan rendah diri.
Beck (1985) mengemukakan depresi sebagai suatu keadaan dengan ciri sebagai berikut :
a. Perubahan suasana hati yang spesifik, seperti kesedihan, kesepian, dan apatis.
b. Keinginan-keinginan menghukum diri sendiri, seperti keinginan untuk menghindar,bersembunyi, keinginan untuk bunuh diri.
c. Konsep diri negatif yang berhubungan dengan penyalahan diri dan mencela diri.
d. Perubahan dalam fungsi fisik, seperti anoreksia, insomnia, hipersomnia danhilangnya nafsu makan.
e. Perubahan dalam tingkat aktifitas, seperti menurunnya aktifitas motorik ataupun mudah lelah.
2. Gejala-gejala Depresi
Menurut King (2010b), terdapat sembilan gejala yang mencirikan episode depresi utama (diantaranya, harus muncul minimal 5 gejala pada rentang waktu 2minggu), yaitu:
b. Kurangnya minat atau kesenangan pada semua atau sebagian aktivitas
c. Berkurangnya atau meningkatnya berat badan secara signifikan atau penuruan minat makan
d. Kesulitan tidur atau tidur terlalu banyak
e. Agitasi psikomotor atau kemunduran dalam psikomotorik f. Kelelahan atau kehilangan energi
g. Perasaan tidak berharga atau bersalah tidak tepat atau berlebihan h. Permasalahan dalam proses berpikir, berkonsentrasi, atau membuat
keputusan
i. Pikiran berulang tentang kematian atau bunuh diri
Menurut Lubis (2009), terdapat gejala-gejala yang dibedakan ke dalam beberapa kategori, yaitu:
a. Gejala fisik
Gejala fisik umum yang relatif mudah di deteksi, misalnya :
1) Gangguan pola tidur. Misalnya, sulit tidur, terlalu banyak atau terlalu sedikit tidur.
2) Menurunnya tingkat aktivitas. Misalnya, menunjukkan perilaku yang pasif, menyukai kegiatan yang tidak melibatkan orang lain seperti menonton TV, makan, dan tidur.
pekerjaan. Seseorang yang mengalami depresi cara kerjanya yang kurang terstruktur, kacau atau menjadi lamban.
4) Menurunnya produktivitas kerja. Orang yang terkena depresi akan kehilangan sebagian atau seluruh motivasi kerjanya.
5) Mudah merasa letih dan sakit. Depresi merupakan perasaan negatif, sehingga ketika seseorang mengalami depresi mudah merasa letih karena perasaan negatif tersebut membebani pikiran dan perasaan setiap waktu.
b. Gejala psikis
Gejala psisik dari depresi mempunyai tanda-tanda seperti dibawah ini:
1) Kehilangan rasa percaya diri. Orang yang mengalami depresi cenderung memandang segala suatu dari sisi negatif, termasuk menilai diri sendiri.
3) Merasa diri tidak berguna. Perasaan tidak berguna ini muncul karena mereka merasa menjadi orang yang gagal di dalam situasi yang seharunya mereka tangani.
4) Perasaan bersalah. Mereka memandang suatu kejadian yang menimpa dirinya sebagai suatu hukuman arau akibat dari kegagalan mereka melaksanakan tanggung jawab yang seharusnya dikerjakan.
5) Perasaan terbebani. Banyak orang yang menyalahkan orang lain arat kesusahan yang dialaminya. Mereka merasa terbeban berat karena merasa terlalu dibebani tanggung jawab yang berat.
c. Gejala sosial
Gejala sosial yang nampak dari seseorang yang menderita depresi adalah perasaan minder, malu, cemas ketika berada di dalam sebuah kelompok dan merasa tidak nyaman. Merasa tidak mampu untuk bersikap terbuka dan secara aktif menjalin hubungan dengan lingkungan sekalipun ada kesempatan.
Selain itu, Beck (1976) mengemukakan simptom-simptom dari depresi, yaitu:
a. Simptom emosional
tidak lagi merasakan kepuasan, menangis, hilang respons yang menggembirakan.
b. Simptom kognitif
Menurut Beck simptom kognitif yang muncul pada seseorang yang mengalami depresi, yakni penilaian diri sendiri yang rendah, harapan-harapan yang negatif, menyalahkan serta mengkritik diri
sendiri tidak dapat membuat keputusan, distorsi “body image”.
c. Simptom motivasional
Penderita depresi memiliki masalah besar dalam memobilisasi dirinya untuk menjalankan aktivitas-aktivitas yang paling dasar seperti makan, minum, dan buang air. Selain itu, keinginan untuk menyimpang dari pola hidup sehari-hari, cenderung menunda kegiatan yang tidak memberi kepuasan segera, lebih sering melamun daripada mengerjakan sesuatu. Disamping itu, simptom motivasional lainnya adalah keinginan bunuh diri misalnya muncul pada pikiran berulang kali.
d. Simptom fisik
Simptom fisik menurut Beck misalnya, kehilangan nafsu makan, gangguan tidur, mudah lelah dan kehilangan libido.
Beck sudah mencakup simptom emosional, kognitif, motivasional dan fisik yang sesuai dengan konsep depresi yang dibutuhkan oleh peneliti.
3. Faktor yang Mempengaruhi Depresi
a. Faktor fisik 1) Faktor genetik
Menurut Wahyuni (2010) seseorang yang mengalami gangguan depresi erat kaitannya dengan pengalaman keluarga (baik orang tua maupun saudara kandung) yang juga mengalami gangguan depresi. Hal ini berkaitan dengan gen (faktor keturunan) yang ada di dalam tubuh manusia. Meskipun belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa faktor keturunan merupakan penyebab munculnya depresi, tetapi faktor risiko merupakan salah satu penyebab munculnya depresi. Faktor risiko nampak pada kembar identik yang terkena depresi. Hal ini juga masih menjadi kesulitan tersendiri untuk menunjukkan bahwa faktor keturunan merupakan pemicu munculnya depresi, karena tingkat resiko akibat pengaruh dari gen berbeda untuk tiap tipe depresi.
2) Faktor usia
prevalensi yang tinggi dari gejala-gejala depresi pada golongan usia dewasa muda yaitu 18-44 tahun (Wilkinson, dalam Wahyuni, 2010).
3) Gender
Menurut Inaba (dalam King, 2010b) wanita hampir dua kali lebih rentan terhadap depresi dibandingkan dengan pria dan perbedaan gender ini terjadi pada banyak negara. Selain itu, menurut Whiffen dan Demidenko (dalam King, 2010b), pada wanita yang tidak menikah yang menjadi kepala keluarga dan wanita yang menikah muda bekerja pada pekerjaan yang tidak memuaskan dan tidak mendapatkan pengembangan karir menunjukkan tingkat depresi yang sangat tinggi. Menurut Rice dan Else-Quest (dalam King, 2010b) menyebutkan bahwa di dalam sebuah pernikahan yang tidak bahagia, wanita tiga kali lebih rentan mengalami depresi. Dari data-data diatas menunjukkan bahwa perempuan lebih rentan mengalami depresi dari pada laki-laki. 4) Gaya hidup
b. Faktor psikologis
Faktor psikologi yang mempengaruhi munculnya depresi, yaitu: 1) Kepribadian
Retnowati (1990) dan Culbertson (1997) individu-individu yang lebih rentan terhadap depresi, yaitu yang mempunyai konsep diri serta pola pikir yang negatif, pesimis, juga tipe kepribadian introvert (dalam Wahyuni, 2010).
2) Harga diri
Menurut Blascovich dan Tomaka (dalam Robinson, 1991) self-esteem adalah pandangan individu terhadap nilai dirinya atau bagaimana seseorang menilai, mengakui, menghargai, atau menyukai dirinya sendiri.
3) Stres
dapat terjadi beberapa bulan sesudah peristiwa itu terjadi (Wahyuni, 2010).
Kemampuan untuk mengontrol situasi sosial dan kemampuan untuk mengatasi tekanan merupakan salah satu cara untuk mengurangi stres. Individu yang merasa cemas tanpa alasan yang jelas dan mengganggap segala sesuatu merupakan hal yang negatif mengakibatkan kehilangan harapan dan kehilangan kontrol diri, maka individu tersebut memasuki tahap depresi (Durand & Barlow, 2006).
Respon-respon akibat stres mencakup respon emosional, respon sikap dan respon mental. Respon emosional seperti merasa tidak bahagia, merasa tidak puas, mengalami kecemasan, kemarahan dan ketakutan (Noi & Smith, 1991). Respon sikap membentuk individu menjadi lebih berdiam diri, murung dan aktifitas yang tidak terkoordini (Noi & Smith, 1991). Selain itu, respon mental berupa perasaan putus asa, patah semangat, murung, mengkritik diri sendiri, dan pesimis (Noi & Smith, 1991). Respon-respon stres tersebut perlu dikendalikan agar tidak berlanjut pada tahap depresi.
berkaitan dengan usaha untuk menyesuaikan diri dengan stres. Strategi coping stres bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) berfokus pada masalah, yaitu bertujuan menghilangkan, mengatur atau memperbaiki kondisi yang menekan, (2) berfokus pada emosi, yaitu mengelola, atau mengatur respon emosional terhadap situasi yang menekan untuk meringankan pengaruh fisik dan psikologinya (Papalia, et,al. 2008).
4) Hubungan interpesonal
Individu yang berada pada situasi baru kerap kali mengalami kesepian. Hal ini dikarenakan dirinya merasa kehilangan orang-orang yang disayangi. Individu akan merasa khawatir jika kesepian dan tidak mempunyai teman sebagai tempat curahan hati (Noi & Smith, 1991). Selain itu, kesepian akan mengakibatkan individu merasa rendah diri karena tidak mampu menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Kesepian adalah salah satu akibat dari stres (Noi & Smith, 1991).
lalu (misalnya, hubungan dengan orang tua yang tidak cukup baik).
Menurut teori psikodinamika, depresi muncul akibat pengalaman masa kecil yang kurang optimal (King, 2010b). Hal ini disebabkan pada masa kanak-kanak kebutuhan akan cinta mengalami hambatan dan memunculkan perasaan kehilangan. Perasaan kehilangan dimasa kecil mengakibatkan individu mengembangkan keterikatan emosional terhadap benda-benda transisi atau benda lembutnya dimasa dewasa (dalam Hooley, DPhil, dan Murphy, 2012). Selain itu, pengalaman masa kecil yang kurang optimal memungkinkan individu mengalami kesulitan untuk menemukan dan memelihara hubungan emosional, sehingga menggunakan objek transisi tersebut untuk mengisi kekosongan tersebut (dalam Hooley, DPhil, dan Murphy, 2012).
Individu yang tidak mampu membentuk hubungan yang baik dengan orang lain atau tidak mampu menghadirkan figur yang mampu meredam perasaan cemas maupun stres, maka menggantikannya dengan objek transisi. Hal ini dikarenakan adanya dorongan dalam pemenuhan kebutuhan rasa aman.
4. Teori-teori Depresi
a. Teori psikodinamika
b. Teori behaviorisme
Menurut Lewinshon dan Gotlib (dalam King, 2010a), stres kehidupan dapat mengarah pada depresi dengan mengurangi penguatan positif dalam kehidupan seseorang. Seseorang yang mengalami depresi akan berusaha menarik diri dari situasi yang memunculkan stres. Hal ini yang mengakibatkan seseorang mengalami penguatan dari depresi yang dialaminya (Feldman, 2012). Selain itu, perasaan akan ketidarbedayaan sering kali muncul ketika seseorang mengalami depresi dan tidak mau berusaha untuk mengubah situasi yang tidak menyenangkan tersebut. Martin Seligman (dalam King, 2010a) menyatakan bahwa perasaan tidak berdaya yang dipelajari adalah satu alasan bahwa beberapa individu menjadi depresi. Ketidakberdayaan yang dipelajari adalah harapan bahwa kejadian dalam kehidupan seseorang tidak dapat dikontrol dan tidak ada seorang pun yang dapat melepaskan diri dari situasi tersebut (Feldman, 2012).
c. Teori kognitif
perasaan dperesi. Susan Hoeksema (1995, 2000, 2003; Nolen-Hoeksema, et, al 2007) menemukan bahwa beberapa individu yang depresi menggunakan cara mengatasi masalah ruminatif, dimana mereka memusatkan perhatian dengan sengaja pada apa yang mereka rasakan (misalnya, perasaan sedih dan putus asa), dan tidak mencoba untuk melakukan apapun berkaitan dengan perasaan yang dialaminya (King, 2010b).
B. Kelekatan Objek Transisi
1. Definisi Kelekatan Objek Transisi
D.H. Lawrence dan D.W. Winnicott(dalam Erkolahti dan Marjana, 2009) mendefinisikan objek transisi sebagai simbol yang menjadi perantara bayi yang memiliki ikatan dengan ibu untuk memahami suatu keadaan di luardan terpisah dari dirinya sendiri.Menurut Winnicott, kelekatan objek transisi membantu bayi untuk belajar memahami kehidupan di luar dari dirinya: memainkan peran pertama pada
kepemilikan “bukan aku” dan membantu bayi untuk membangun dirinya
setelah proses keterpisahan dari ibunya Menurut Winnicott (1971), benda lembut seperti selimut, boneka, potongan kain, dan bundelan kain wol yang digunakan bayi ketika hendak tidur dan dapat mengurangi kecemasandisebut sebagai objek transisi.
nilai dari benda tersebut (Winnicott, 1971). Ketika bayi memiliki kelekatan dengan objek transisi, maka benda tersebut akan menjadi lebih penting daripada sang ibu karena mampu memberikan kenyamanan. Menurut Winnicot (1971), objek transisi digunakan untuk mengisi kebutuhan emosional dan berpindah dari kepuasan fantasi dan menuju realitas. Ciri objek transisi: anak harus sepenuhnya memiliki dan menguasai benda tersebut, tentunya memiliki perasaan yang inten, baik positif maupun negatif, memberikan suatu kehangatan dan perasaan nyata akan dirinya.
Jadi, definisi objek transisi adalah suatu benda lembut seperti boneka, selimut, potongan kain yang merupakan simbol dari hadirnya figur aman, mampu memberikan kehangatan, dibutuhkan ketika hendak tidur yang dapat mengurangi kecemasan dan memberikan kenyamanan. Hal ini berlaku untuk kelekatan objek transisi di usia dewasa yang diperkuat dengan hasil penelitian Ocvitasari (2009), yang mengatakan kelekatan objek transisi di usia dewasa awal memberikan efek lekas tidur, efek kenyamanan, aman dan ketenangan.
2. Karakteristik Kelekatan Objek Transisi
Karakteristik dari kelekatan objek transisi menurut Busch (dalam Litt, 1986):
b. Itu harus tahan lama, misalnya 1 tahun atau lebih
c. Kehadiran objek menenangkan dan menurunkan kecemasan
d. Objek tidak memenuhi kebutuhan oral langsung atau kebutuhan libido (misalnya, botol atau payudara)
e. Objek harus dibuat oleh bayi dan bukan salah satu yang disediakan langsung oleh orangtua
f. Objek bukan hanya bagian dari tubuh bayi (jempol, jari)
Ciri-ciri objek transisi menurut Winnicott:
a. Objek kesayangan terbentuk dengan penuh semangat cinta b. Objek tidak pernah berubah kecuali diubah (diganti) oleh bayi
c. Objek harus bertahan secara insting mencintai dan juga membenci dan penuh agresi
d. Namun, tampaknya bayi harus memiliki ketahanan atau realitasnya sendiri
e. Hal itu datang tanpa maupun dengan; itu bukan halusinasi
f. Kelekatan pada objek transisi secara umum terjadi pada kesehatan anak
g. Kelekatan pada objek transisi berkembang pada anak yang
mengalami pengalaman diperhatikan “cukup baik” oleh ibu
Berdasarkan uraian diatas, penelitian merasa bahwa kelekatan objek transisi di usia dewasa memiliki ciri-ciri dan karakteristik yang sama dengan objek transisi yang terjadi di usia anak-anak. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Ocvitasari (2009) yang mengatakan bahwa individu memiliki objek transisi dikarenakan adanya rasa kehilangan pengasuh utama sehingga kurangnya pemenuhan kebutuhan oral dan rasa aman. Berdasarkan teori diatas, peneliti merangkum aspek-aspek dari adanya kelekatan objek transisi, yaitu:
1) Benda yang memberikan kenyamanan
a) Merasa nyaman ketika berada didekat benda favorit (boneka, selimut, potongan kain, teddy bear, mainan lembut, dll)
b) Merasa tenang ketika bisa menggenggam benda favorit 2) Benda yang bertahan sejak kecil
a) memiliki benda favorit seperti selimut, boneka, potongan kain, teddy bear, mainan lembut dll sejak kecil dan sebagai benda
favorit
b) Memiliki benda favorit yang dimiliki sejak kecil c) Tidak pernah mencuci benda tersebut dari kecil
d) Tidak menggantikan benda tersebut dengan benda yang sejenis e) Benda tersebut terlihat kotor dan bau
3) Benda yang mengurangi kecemasan
a) Merasa takut ketika tidur sendiri dan harus ada benda tersebut disamping tempat tidur
b) Kesulitan untuk tidur ketika benda tersebut tidak ada
3. Objek Transisi di Usia Dewasa
pengasuh utama sehingga kurangnya pemenuhan kebutuhan oral dan rasa aman.
Proses pengasuhan yang kurang optimal di masa kecil membentuk individu memiliki karakteristik pribadi yang kurang percaya diri, merasa kurang berharga, dan memandang orang lain mempunyai komitmen rendah dalam hubungan interpersonal (Simpson, dalam Helmi 2004), kurang asertif dan merasa tidak dicintai orang lain (Collins & Read, dalam Helmi 2004). Hal-hal tersebut mengakibatkan individu memiliki konsep diri yang negatif. Individu yang memiliki konsep diri negatif memandang dunia luar sebagai situasi yan mengancam (Helmi, 2004). Menurut Beck, hal tersebut merupakan simptom adanya depresi (Beck, 1985).
C. Perkembangan Dewasa Awal
mengalami tekanan dan depresi (Santrock, 2002b). Mahasiswa lebih banyak mengalami tekanan dan depresi akibat dari ketakutan akan kegagalan masa depan (Santrock, 2002b). Selain itu, dalam masa muda individu mulai mengarahkan dirinya untuk lebih mandiri dan terlibat secara sosial (Santrock, 2002a). Hal ini mengakibatkan individu pada masa muda membutuhkan dukungan yang mampu menguatkan sikap dan perilaku mereka (Santrock, 2002a).
Santrock (2002b), menganggap bahwa individu yang berada pada masa dewasa awal lebih memiliki hubungan dekat dengan orang-orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Selain itu, pada masa dewasa seseorang akan mulai mengenal wajah cinta dalam banyak hal. Menurut Santrock (2002b), wajah cinta terbagi dalam tiga hal, yaitu:
1. Persahabatan
Suatu bentuk hubungan yang melibatkan kenikmatan, penerimaan, kepercayaan, saling menghormati, saling menolong, tempat untuk menceritakan rahasia, saling mengerti dan spontanitas.
2. Cinta yang romantis atau bergairah
3. Cinta yang penuh afeksi
Cinta yang penuh kebersamaan, yaitu suatu hubungan yang melibatkan perasaan yang dalam dan sayang terhadap orang yang berada di dekat kita.
Menurut Erikson (1968), masa dewasa memasuki masa intimacy vs isolation. Keintiman terjadi ketika individu memiliki hubungan yang intim
dengan orang lain dan menemukan bagian dari dirinya di dalam diri orang lain (King, 2010b). Ketika seseorang tidak memiliki keintiman dengan orang lain, maka individu tersebut akan mengalami isolasi yang kemudian akan membuat dirinya menolak, mengabaikan dan menyerang orang lain (Santrock, 2002a).
D. Dinamika Perbedaan Tingkat Depresi di Usia Dewasa Awal Berdasarkan
Kelekatan Objek Transisi
Individu yang berada pada situasi baru kerap kali mengalami kesepian. Hal ini dikarenakan dirinya merasa kehilangan orang-orang yang disayangi. Individu akan merasa khawatir jika kesepian dan tidak mempunyai teman sebagai tempat curahan hati (Noi & Smith, 1991). Selain itu, kesepian akan mengakibatkan individu merasa rendah diri karena tidak mampu menjalin hubungan yang baik dengan orang lain.
Perasaan kesepian dan kehilangan figur aman mengakibatkan individu memiliki kelekatan objek transisi. Menurut Ocvitasari (2009) penyebab dari individu memiliki objek transisi dikarenakan adanya rasa kehilangan pengasuh utama sehingga kurangnya pemenuhan kebutuhan oral dan rasa aman.
Kemunculan depresi kemungkinan besar juga akibat dari masalah-masalah yang dihadapi dalam hubungan dengan orang lain (Constantine, 2006; Gladstone, et al, 2007 dalam A. King 2010)2. Menurut King (2010)2 pengalaman dalam hubungannya dengan orang lain biasanya berkaitan dengan pengalaman yang baru terjadi (misal, konflik pernikahan) dan pengalaman yang sudah terjadi di masa lalu (misalnya, hubungan dengan orang tua yang tidak cukup baik).
pengalaman masa kecil yang kurang optimal memungkinkan individu mengalami kesulitan untuk menemukan dan memelihara hubungan emosional, sehingga menggunakan objek transisi tersebut untuk mengisi kekosongan tersebut (dalam Hooley, DPhil, dan Murphy, 2012).
Proses pengasuhan yang kurang optimal di masa kecil membentuk individu memiliki karakteristik pribadi yang kurang percaya diri, merasa kurang berharga, dan memandang orang lain mempunyai komitmen rendah dalam hubungan interpersonal (Simpson, dalam Helmi 2004), kurang asertif dan merasa tidak dicintai orang lain (Collins & Read, dalam Helmi 2004). Hal-hal tersebut mengakibatkan individu memiliki konsep diri yang negatif. Individu yang memiliki konsep diri negatif memandang dunia luar sebagai situasi yang mengancam (Helmi, 2004). Menurut Beck, hal tersebut merupakan simptom adanya depresi (Beck, 1985).
Menurut psikodinamika, seseorang yang mengalami depresi menjadi lebih dipengaruhi pada penilaian dan persetujuan orang lain dalam membentuk harga diri (King 2010)2.Selain itu, kemunculan depresi kemungkinan besar akibat dari masalah-masalah yang dihadapi dalam hubungannya dengan orang lain (Constantine, 2006; Gladstone, et al, 2007 dalam A. King 2010)2.
(Lazarus & Cohen, 1977) dan tanpa koping yang efektif dan sesuai bisa mengakibatkan masalah serius (Singer & Davidson, dalam Lazarus & Cohen, 1977).
Sedangkan, individu dewasa yang tidak memiliki kelekatan objek transisi memiliki proses pengasuhan di masa kanak-kanak yang cukup optimal dari orang tuanya. Proses pengasuhan yang optimal biasanya dicirikan dengan terbentuk kelekatan yang positif antara ibu dan anak. Kelekatan yang positif nampak dari hadirnya figur lekat ketika anak membutuhkannya, sehingga anak akan mempunyai keyakinan diri sebagai orang yang dapat dipercaya, memandang diri secara positif, mampu menghargai dirinya dan memiliki konsep diri yang baik (Helmi, 1999). Selain itu, anak-anak yang mengalami kelekatan yang positif akan lebih mampu menangani tugas yang sulit dan tidak cepat berputus asa (Grosman&Grosman, dalam Sutcliffe, 2002). Kelekatan yang positif di masa kanak-kanak menjadi dasar perkembangan yang positif di masa dewasa.
E. Kerangka Berpikir
Bagan
Kerangka Berpikir Penelitian
F. Hipotesis
Berdasarkan uraian tinjauan pustaka yang telah dijabarkan di atas, maka dapat diambil hipotesis sebagai berikut:
33
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini bersifat penelitian kuantitatif. Desain penelitian yang digunakan bersifat penelitian kausal komparatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan diantara dua sampel atau kelompok (Hadi, 1991). Selain itu, penelitian kausal komparatif bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat (Suryabrata, 2008). Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan tingkat depresi berdasarkan kelekatan objek transisi diusia dewasa awal.
B. Identfikasi Variabel Penelitian
Variabel-variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini : 1. Variabel independent : Kelekatan objek transisi (X) 2. Variabel dependent : Tingkat depresi (Y)
C. Definisi Operasional Variabel
1. Definisi Depresi
digunakan dalam penelitian ini mencakup simptom emosional, kognitif, motivasional dan fisik. Di dalam penelitian ini, tingkat depresi diukur dengan menggunakan skala Beck Depression Inventory (BDI).
2. Definisi Kelekatan Objek Transisi
Definisi operasional objek transisi adalah suatu benda lembut (boneka, selimut, potongan kain, teddy bear, bantal, selimut, dll) yang dibutuhkan ketika hendak tidur yang dapat mengurangi kecemasan dan memberikan kenyamanan. Benda yangdisebut sebagai objek transisi memiliki kriteria sebagai berikut:
1) Benda yang memberikan kenyamanan
a) Merasa nyaman ketika berada didekat benda favorit (boneka, selimut, potongan kain, teddy bear, mainan lembut, dll)
b) Merasa tenang ketika bisa menggenggam benda favorit 2) Benda yang bertahan sejak kecil
a) Memiliki benda favorit seperti selimut, boneka, potongan kain, teddy bear, mainan lembut dll sejak kecil dan sebagai benda
favorit
b) Memiliki benda favorit yang dimiliki sejak kecil c) Tidak pernah mencuci benda tersebut dari kecil
d) Tidak menggantikan benda tersebut dengan benda yang sejenis e) Benda tersebut terlihat kotor dan bau
g) Menyukai tekstur dari benda yang lembut 3) Benda yang mengurangi kecemasan
a) Merasa takut ketika tidur sendiri dan harus ada benda tersebut disamping tempat tidur
b) Kesulitan untuk tidur ketika benda tersebut tidak ada
Di dalam penelitian ini, kelekatan pada objek transisi diukur dengan menggunakan skala Kelekatan Objek Transisi (KOT). Kelekatan objek transisi pada subjek dilihat dari tinggi rendahnya skor total yang diperoleh subjek berdasarkan Skala Kelekatan Objek Transisi.
D. Subjek Penelitian
Jumlah sampel subjek dalam penelitian ini secara keselurahan adalah 50 subjek. Dari 50 subjek, akan dibagi ke dalam 2 kelompok berdasarkan rata-rata dari skor total. Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih mengikuti prosedur tertentu sehingga dapat mewakili populasinya (Suryabrata, 2008& Purwanto & Sulistyastuti, 2007). Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling.
E. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data di dalam penelitian menggunakan skala. Skala merupakan kumpulan dari kalimat-kalimat yang menjadi acuan variabel yang diukur yang menghasilkan data kuantitatif dan dapat diubah ke dalam bentuk angka (Hasan, 2002).
Skala yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari Skala Beck Depression Inventory (BDI) dan skala kelekatan objek transisi (KOT).
1. Skala Depresi pada Masa Dewasa
a. Penyusunan item
Beck Depression Inventory merupakan instrumen untuk
hubungan sosial, (13) tak mampu mengambil keputusan, (14) merasa tidak berharga, (15) kehilangan energi, (16) perubahan pola tidur, (17) mudah marah, (18) perubahan nafsu makan, (19) kesulitan dalam berkonsentrasi, (20) merasa lelah, (21) kehilangan libido (Beck, 1996). Di dalam Beck Depression Inventory terdiri dari empat pernyataan untuk setiap kategori item dan setiap itempernyataan memiliki nilai yang berbeda yaitu 0,1,2 dan 3. Subjek diminta untuk melingkari nomor di sebelah jawaban yang paling mencerminkan keadaan yang sebenarnya, jika lebih dari satu jawaban yang cocok maka subjek melingkari nomor yang paling tinggi.
Tabel 3.1
Distribus Item Beck Depression Inventory Item sebelum Uji Coba
1) Perasaan sedih :
0. Saya tidak merasa sedih. 1. Saya merasa sedih.
2. Sepanjang waktu saya sedih 3. Saya demikian sedih atau tidak
bahagia sehingga saya tidak tahan lagi rasanya. 2. Saya kehilangan hampir
seluruh minat saya pada orang lain dan aktifitasnya.
3. Saya telah kehilangan seluruh minat saya pada apapun.
2. Saya merasa bahwa tidak ada
1. Saya menunda mengambil keputusan-keputusan lebih sering dari yang biasa saya lakukan.
2. Saya mengalami kesulitan lebih besar dalam mengambil keputusan-keputusan dari
0. Saya tidak mengganggapdiri saya sebagai orang yang gagal.
1. Saya merasa bahwa saya telah gagal lebih daripada kebanyakan orang.
2. Saat saya menengok ke masa lalu, maka yang terlihat oleh saya permanen dalam penampilan saya sehingga membuat saya tampak tidak menarik.
3. Saya yakin bahwa saya tampak jelek.
4) Perasaan tidak puas:
0. Saya memperoleh banyak kepuasan dari hal-hal yang saya lakukan, sama seperti sebelumnya.
1. Saya tidak lagi menikmati berbagai hal, seperti yang pernah saya rasakan dulu.
2. Saya tidak memperoleh kepuasan dari apapun lagi.
3. Saya tidak puas atau bosan dengan segalanya.
15) Kehilangan energi:
0. Saya dapat bekerja sama baiknya dengan waktu-waktu sebelumnya.
5) Perasaan bersalah:
0. Saya tidak terlalu merasa bersalah.
1. Saya merasa bersalah dihampir seluruh waktu.
2. Saya agak merasa bersalah disebagian besar waktu.
3. Saya merasa bersalah sepanjang waktu.
16) Perubahan pola tidur:
0. Saya tidak mengalami perubahan dalam pola tidur saya.
1. 1a. Saya dapat tidur lebih dari biasanya.
3. 3a. Saya tidur sepanjang hari. 3b. Saya terbangun 1-2 jam
2. Saya pikir saya akan dihukum. 3. Saya merasa bahwa saya sedang
2. Saya jauh lebih mudah marah daripada biasanya.
3. Saya mudah marah sepanjang waktu.
3. Saya membenci diri saya sendiri.
18) Perubahan nafsu makan:
makan sepanjang waktu. 3b. Saya menginginkan makanan sepanjang waktu. sepanjang waktu karena kesalahan-kesalahan saya. 3. Saya menyalahkan diri saya untuk
semua hal buruk yang terjadi.
19) Kesulitan dalam berkonsentrasi:
0. Saya dapat berkonsentrasi dengan baik setiap saat. 1. Saya tidak dapat
berkonsentrasi seperti biasanya.
2. Sangat sulit untuk mempertahankan pikiran saya pada hal apapun dalam waktu yang lama.
3. Saya tidak dapat berkonsentrasi pada hal apapun.
9) Keinginan bunuh diri:
0. Saya tidak punya sedikit pun pikiran untuk bunuh diri.
1. Saya mempunyai pikiran-pikiran untuk bunuh diri, namun saya tidak akan melakukannya. 2. Saya ingin bunuh diri.
3. Saya akan bunuh diri jika saya
untuk melakukan sebagian hal. 10) Mudah menangis:
0. Saya tidak lebih banyak menangis dibandingkan biasanya. namun saya tidak dapat menangis walaupun saya menginginkannya. dibidang seks dibandingkan biasanya.
2. Saya sangat kurang berminat terhadap seks.
11) Mudah tersinggung:
0. Saya tidak lebih terganggu oleh berbagai hal dibandingkan biasanya.
1. Kini saya sedikit lebih pemarah daripada biasanya.
2. Saya agak jengkel atau terganggu dan membuat saya sulit untuk bertahan.
3. Saya merasa jengkel atau terganggu ketika melakukan sesuatu.
b. Penskoran item
Interpretasi pengukuran Beck Depression Inventory(dalam Burns, 1988) adalah sebagai berikut:
1) Nilai 1-9 menunjukkan naik turunnya perasaan yang tergolong wajar.
2) Nilai 10-16 menunjukkan gangguan “mood” atau rasa murung yang ringan.
2. Skala Kelekatan Objek Transisi
a. Metode skala
Skala kelekatan objek transisi merupakan skala untuk mengukur apakah seseorang lekat atau tidak dengan objek tertentu. Skala kelekatan objek menggunakan jenis skala guttman. Kategori pilihan untuk setiap pernyataan terdiri dari pilihan “YA” atau
“TIDAK”. Pilihan jawaban “Ya” jika subjek menunjukkan
kesetujuan pada pernyataan yang diberikan. Sedangkan, pilihan
jawaban “Tidak” jika subjek tidak menunjukkan kesetujuan pada
pernyataan yang diberikan.
b. Penyusunan item
Di dalam skala kelekatan objek transisi, terdapat 28 pernyataan mengenai kelekatan objek transisi. Aspek yang diungkap dalam skala kelekatan objek transisi terdiri dari:
1) Benda yang memberikan kenyamanan
a) Merasa nyaman ketika berada didekat benda favorit (boneka, selimut, potongan kain, teddy bear, mainan lembut, dll) b) Merasa tenang ketika bisa menggenggam benda favorit 2) Benda yang bertahan sejak kecil
b) Memiliki benda favorit yang dimiliki sejak kecil c) Tidak pernah mencuci benda tersebut dari kecil
d) Tidak menggantikan benda tersebut dengan benda yang sejenis
e) Benda tersebut terlihat kotor dan bau f) Diri sendiri yang memilih benda itu sendiri g) Menyukai tekstur dari benda yang lembut 3) Benda yang mengurangi kecemasan
a) Merasa takut ketika tidur sendiri dan harus ada benda tersebut disamping tempat tidur
b) Kesulitan untuk tidur ketika benda tersebut tidak ada Tabel 3.2
Distribusi Dan Jumlah Item Skala Kelekatan Objek Transisi
sebelum Uji Coba
Aspek sejenis Nomor item Total presentase
1) Benda yang bertahan
*untuk nomor yang diberi garis bawah “_” merupakan pernyataan
c. Penskoran item
Penskoran dalam skala ini, memiliki dua penilaian. Skor untuk kelompok yang memiliki kelekatan objek transisi berada pada rentang angka 1 sampai 0, yaitu untuk pernyataan favorabel skor 1 (Ya/Sesuai) dan skor 0 (Tidak/Tidak Sesuai), kemudian untuk pernyataan unfavorabel skor 0 (Ya/Sesuai) dan skor 1 (Tidak/Tidak Sesuai). Sedangkan untuk penskoran kelompok yang tidak memiliki kelekatan objek transisi berada pada rentang angka 0 hingga 1, yaitu untuk pernyataan favorabel skor 0 (Ya/Sesuai) dan skor 1 (Tidak/Tidak Sesuai), kemudian untuk pernyataan unfavorabel skor 1 (Ya/Sesuai) dan skor 0 (Tidak/Tidak sesuai).
Subjek yang memiliki skor total sama dengan atau di atas rata-rata, akan masuk dalam kelompok yang memiliki kelekatan objek transisi. Sedangkan, subjek yang memiliki skor total di bawah rata-rata, akan masuk dalam kelompok yang tidak memiliki kelekatan objek transisi.
F. Uji Coba Alat Ukur
1. Estimasi Validitas
menggunakan validitas isi. Validitas isi merupakan validitas yang memberikan gambaran sejauh mana aitem-aitem dalam alat ukur mencakup keseluruhan hal yang akan hendak diukur (Azwar, 1997). Di dalam validitas isi, pengujjian kesesuaian hal yang akan diukur dengan alat ukur yang digunakan menggunakan professional judgment. Professional judgment yang digunakan dalam penelitian melalui dosen pembimbing. Dosen pembimbing mengecek kesesuaian aitem-aitem yang digunakan dengan melihat aspek-aspek yang akan diukur di dalam blue print.
2. Uji Daya Deskriminasi Item
dengan skor skala berarti semakin tinggi konsistensi antara aitem dengan skala secara kesulurahan berarti semakin tinggi daya bedanya (Azwar, 1999). Sedangkan, bila koefisien korelasinya rendah mendekati nol berarti fungsi aitem tersebut tidak cocok dengan fungsi ukur skala dan daya bedanya tidak baik (Azwar, 1999). Semakin baik daya diskriminasi aitem maka koefisien korelasinya semakin mendekati angka 1,00. Sedangkan kriteria pemilihan aitem berdasar korelasi aitem-total, biasanya memiliki batasan rix ≥ 0,30 dan semua aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal 0,30 daya pembedanya dianggap memuaskan, sedangkan yang memiliki koefisien korelasi aitem-total (rix) kurang dari 0,30 memiliki daya deskriminasi rendah (Azwar, 1999).
Berikut ini adalah hasil uji coba skala depresi beck (Beck Depression Inventory)dan skala kelekatan objek.
a. Beck Depression Inventory
b. Skala kelekatan objek
Item pada skala kelakatan objek terdiri dari 28 item dan disajikan pada 25 subjek yang sesuai dengan kriteria penelitian. Kriteria pemilihan aitem berdasar korelasi aitem-total, biasanya memiliki batasan rix ≥ 0,30 dan semua aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal 0,30 daya pembedanya dianggap memuaskan, sedangkan yang memiliki koefisien korelasi aitem-total (rix) kurang dari 0,30 memiliki daya deskriminasi rendah (Azwar, 1999). Berikut ini adalah distribusi item kelekatan objek transisi setelah uji coba:
Table3.3
Distribusi Dan Jumlah Item Skala Kelekatan Objek Transisi
setelah Uji Coba
Aspek sejenis Nomor item
Berdasarkan korelasi item total, diperoleh 18 item untuk skala kelekatan objek dan 10 item gugur dan tidak dapat disertakan dalam skala penelitian. Item yang gugur merupakan item-item
yang terdapat pada aspek “benda yang bertahan sejak kecil”(aspek
1) sejumlah 9 item dan item gugur sejumlah 1 item merupakan
item dari aspek “benda yang memberikan kenyamanan) (aspek 2).
Berikut adalah distribusi item skala kelekatan objek yang digunakan dalam penelitian.
Table3.4
Distribusi dan Jumlah Item Skala Kelekatan Objek Transisi
setelah Uji Coba
Aspek sejenis Nomor item Total Presentase
1) Benda yang bertahan
Reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas (rxx1) yang memiliki
rentang angka dimulai dari 0 sampai 1,00 (Azwar, 1999). Semakin tinggi koefisien reliabilitas mendekati angka 1,00 semakin tinggi reliabilitasnya, sedangkan koefisien reliabilitas yang semakin mendekati angka 0 berarti semakin rendah reliabilitasnya (Azwar, 1999). Untuk menguji reliabilitas dalam penelitian ini, menggunakan pendekatan koefisien Alpha (α). Hal ini dikarenakan, dalam penelitian ini dilakukan satu kali penyajian pada sekelompok responden (Azwar, 1999). Batas minimal Alpha Cronbach sebagai persyaratan reliabilitas suatu skala adalah 0,90 (Azwar, 2008).
Hasil perhitungan reliabilitas dengan menggunakan teknik Alpha Cronbach menggunakan SPSS for windows versi 16 menunjukkan bahwa
Beck Depression Inventory menunjukkan koefisien Alpha Cronbach sebesar 0,757. Sedangkan, skala kelekatan objek menunjukkan koefisienAlpha Cronbach sebesar 0,690. Hasil dari koefisien Alpha CronbachBeck Depression Inventory dan skala kelekatan objek menunjukkan bahwa skala tersebut reliable.
G. Metode Analisis Data
1. Uji Asumsi
a. Uji Normalitas
penelitian ini menggunakan metode Kolmogorov-smirnov untuk menguji normalitas data. Kriteria untuk menguji sebaran data normalitas adalah p > 0,10 maka sebaran data besifat normal, sedangkan jika sebaran data nomalitas menunjukkan p < 0,10 maka sebaran data bersifat tidak normal (Santoso, 2010).
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas adalah merupakan uji perbedaan antara dua kelompok dengan melihat skor varian dari dua kelompok tersebut (Santoso, 2010). Di dalam penelitian menggunakan metode Levene Test untuk menguji homogenitas varian dari kelompok. Kriteria pengujian homogenitas adalah p > 0,05 maka skor varian dari kelompok bersifat homogen (Santoso, 2010).
2. Uji Hipotesis
51
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Persiapan dan Pelaksaan Penelitian
1. Persiapan Penelitian
Sebelum melakukan penelitian, peneliti melakukan uji coba skala kelekatan objek dan skala depresi beck (Beck Depression Inventory). Uji coba skala ini dalam rangka untuk melihat kualitas
item-item skala yang telah dibuat oleh peneliti apakah layak untuk dipakai pada saat penelitian dilakukan. Kedua skala tersebut diberikan kepada 30 subjek perempuan dewasa awal dengan kriteria 15 subjek yang memiliki kelekatan dan 15 subjek yang tidak memiliki kelekatan. Skala ini diberikan pada subjek yang berada disekitar provinsi DI. Yogyakarta, yaitu daerah Paingan.
2. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian dilakukan pada tanggal 16 september 2013 hingga 23 september 2013. Peneliti menyebarkan 50 skala kepada perempuan dewasa awal. Penyebaran skala tersebut dilakukan dibeberapa tempat di daerah provinsi DI. Yogyakarta, antara lain daerah Paingan (kampus III Universitas Sanata Dharma), Mrican (kampus pusat Universitas Sanata Dharma), daerah Sagan (asrama Syantikara). Selain itu, penyebaran skala yang dilakukan secara individual dan dibantu oleh beberapa rekan peneliti dilakukan pada subjek yang berdomisili di Solo, Wonosobo dan Jakarta.
Dari ke 50 skala yang disebarkan, peneliti menerima kembali semua skala dengan jumlah yang sama pada saat penyebaran dilakukan. Berdasarkan olah data yang dilakukan, sebanyak 9 subjek masuk dalam kategori memiliki kelekatan objek dan 28 subjek masuk dalam kategori tidak memiliki kelekatan objek
3. Data Demografis Subjek Penelitian
Tabel 4.1
Deskripsi Data Demografis Berdasarkan Usia
Usia Jumlah Persen(%)
19 2 4%
20 13 26%
21 22 44%
22 9 18%
23 1 2%
25 2 4%
27 1 2%
TOTAL 50 100%
Subjek penelitian memiliki rentang usia dari 19 tahun sampai 27 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa subjek penelitian berada pada tahap perkembangan usia dewasa awal. Dengan prosentase 44% berada pada usia 21 tahun.
Tabel 4.2
Deskripsi Data Demografis Berdasarkan Pekerjaan
Pekerjaan Jumlah Persen (%)
Mahasiswa 49 98%
Karyawan 1 2%
Subjek penelitian sebesar 98% merupakan mahasiswa dan subjek sebesar 2% merupakan karyawan. Jenis pekerjaan yang paling banyak adalah mahasiswa dengan prosentase 98%.
B. Hasil Penelitian
1. Kategorisasi Pengelompokkan Subjek Berdasarkan Kelekatan
Objek Transisi
Norma berdasarkan pembagian wilayah dalam distribusi norma: Tabel 4.3
Norma Kategorisasi
Kategori Rentan
Sangat Lekat (M + 1,50 SD) < X
Lekat (M + 0,50 SD) < X ≤ (M + 1,50 SD)
Normal (M – 0,50 SD) < X ≤ (M + 0,50 SD)
Tidak Lekat (M – 1,50 SD) < X ≤ (M – 0,50 SD)
Sangat Tidak lekat X ≤ M – 1,50 SD
Tabel 4.4
Hasil Analisi Kategorisasi
N Minimun Maximum Mean Std.
Deviation
kot 50 4 16 10.96 3.257
td 50 0 32 9.42 6.034
Valin N
(listwise)
Tabel 4.5
Hasil Kategorisasi Item Kelekatan Objek Transisi
Kategori Rentan Jumlah
subjek Persentase Sangat Lekat 15,873< X 0 orang 0%
Lekat 12,588< X ≤ 15,873 9 orang 18%
Normal 9,332 < X ≤ 12,588 13 orang 26%
Tidak lekat 6,047 < X ≤ 9,332 9 orang 18%
Sangat Tidak
Lekat X ≤ 6,047 19 orang 38%
Berdasarkan hasil kategorisasi, diketahui bahwa kelekatan objek transisi di usia dewasa awal, dari 50 subjek didapatkan 0 subjek (0%) berada pada kategori sangat lekat, 9 subjek (18%) berada pada kategori lekat, 13 subjek (26%) berada pada kategori normal, 9 subjek (18%) berada pada kategori tidak lekat dan 19 subjek (38%) berada pada kategori sangat tidak lekat. Didapatkan kesimpulan bahwa subjek yang masuk dalam kelompok lekat objek sebanyak 9 orang dan subjek yang masuk dalam kelompok tidak lekat objek sebanyak 28 orang. Subjek yang berada dalam kategori normal akan dibuang.
2. Uji Asumsi
a. Uji Normalitas
metode One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test untuk menguji normalitas data. Kriteria untuk menguji sebaran data normalitas adalah p > 0,10 maka sebaran data besifat normal, sedangkan jika sebaran data nomalitas menunjukkan p < 0,10 maka sebaran data bersifat tidak normal (Santoso, 2010).
Hasil sebaran data dalam penelitian ini tampak bahwa p = 0,645 untuk kelompok yang tidak memiliki kelekatan objek. Hal ini menunjukkan bahwa taraf signifikansi tingkat depresi pada kelompok tidak memiliki kelekatan objek bersifat normal karena p = 0,645> 0,05 (p > 0,05). Sedangkan, hasil sebaran data untuk kelompok yang memiliki kelekatan objek adalah p = 0,250. Hal ini menunjukkan bahwa taraf signifikansi tingkat depresi pada kelompok yang memiliki kelekatan objek bersifat normal karena p = 0,250 > 0,05 (p > 0,05). Data rangkuman uji normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.6