• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III: DESKRIPSI PROYEK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III: DESKRIPSI PROYEK"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 12

BAB III: DESKRIPSI PROYEK

3.1 Data Umum Proyek

3.1.1 Deskripsi Proyek

Nama Proyek : Perencanaan Rumah Tinggal Hertasning

Lokasi : Jl. Hertasning Raya No. 12a, Makassar, Sulawesi Selatan

Pemilik/Owner : Bapak Eddy Hardjono & Ibu Anny Tezen Konsultan Arsitektur : PT. Proporsi Bangunkreasi

Penanggung Jawab Arsitektur : Sartono Sabar Perencana Struktur : -

Perencana M & E : -

Quantity Surveyor : Ivan Adriansyah

Gambar 2. Lokasi Perencanaan Rumah Tinggal Hertasning

(2)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 13

Lokasi tapak yang akan dibangun berada di kota Makassar, tepatnya di jalan Hertasning No. 12a, Makassar. Kemudian Pemilik adalah Bapak Eddy Hardjono dan Ibu Anny Tezen.

3.1.2 Fungsi Bangunan

Pemilik adalah seorang pengusaha dan pemegang lisensi distributor yamaha seluruh Indonesia bagian timur. Di rumah yang lama, pemilik merasa kurang akan luasan rumah yang ditinggali, sehingga pemilik mempunyai rencana untuk membangun rumah yang baru, yaitu di kawasan perumahan elit di makassar tepatnya di jalan Hertasning Makassar.

3.1.3 Term Of Reference (TOR)

Secara garis besar pemilik ingin mempunyai rumah yang bisa menampung segala kegiatan, hobi dan kebutuhannya. Pemilik dalam hal ini menjabarkan bahwa rumahnya dapat memiliki ruang yang difungsikan sebagai kandang dan bermain anjing, karena pemilik mempunyai anjing yang terbilang cukup banyak. Disamping itu pada area ground atau basement rumah akan difungsikan sebagai parkiran mobil yang dapat memuat sekitar 11 mobil. Pemilik juga ingin memiliki ruang terbuka dan ruang yang dapat difungsikan untuk membuat acara pertemuan maupun nonton bareng motogp. Pemilik juga berkeinginan rumahnya memiliki bukaan-bukaan yang banyak, sehingga dapat meminimalisir penggunaan energi listrik.

REKAPITULASI RENCANA SATUAN BATASAN KETERANGAN Luas Site 1.552 m ² m ² m ² Luas Daerah Perencanaan 4.200

Koefisien Dasar Bangunan (KDB) 60% Koefisien Lantai Bangunan (KLB) 1,2

Jumlah Parkir

11

Area Terbuka 40%

(3)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 14

Ketinggian Bangunan 3 LT

GSP 13m

GSB 10m

Tabel 2. Rekapitulasi Perencanaan Rumah Tinggal Hertasning

3.1.4 SPK (Surat Perintah Kerja) dan Time Schedule

SPK perencanaan yang terkait dengan aktivitas KP adalah SPK tahap ke 1, seperti yang terlampir dalam laporan ini dengan durasi pelaksanaan selama 60 hari kerja. Adapun lingkup pekerjaan dalam SPK ini dan yang berhubungan dengan penulis selama KP adalah perencanaan konsep bangunan dan gambar kerja bangunan.

Berdasarkan isi SPK, pasal 1.2 tentang dasar kerja mengacu pada “hubungan kerja antara arsitek dan pengguna jasa” yang dikeluarkan oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) tahun 2005.

3.1.5 Alur Perencanaan / Tahapan Pelayanan Proyek

Seperti yang tersebut dalam SPK, pedoman pelaksanaan kerja KwOP, mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2005 Tentang Jasa Konstruksi dinyatakan bahwa, “Perencana konstruksi dan pengawas konstruksi orang perseorangan harus memiliki sertifikat keahlian”. Dalam hal ini, arsitek berada dibawah naungan “Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI)” sebagai organisasi profesi yang mengeluarkan sertifikat keahliaan.

Selanjutnya berdasarkan buku IAI disebutkan, Arsitek sebagai Penyedia Jasa Perencanaan Perancangan1 mengadakan Perjanjian Kerja untuk melakukan Layanan Jasa keahliannya atas penugasan dari pihak Pengguna Jasa, baik atas nama perorangan, kelompok arsitek atau badan usaha. Penyedia jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf b Undang – Undang Jasa Konstruksi, terdiri dari :

(4)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 15

a) perencana konstruksi; b) pelaksana konstruksi; c) pengawas konstruksi.

Dengan demikian dan dengan mengkaitkan pengertian perencanaan konstruksi tersebut di atas, dapat diambil kesetaraan sebutan bahwa arsitek adalah penyedia jasa / konsultan. Sehubungan dengan laporan KP ini, dianggap arsitek sebagai konsultan perencana konstruksi. Sehingga alur perencanaan proyek bisa mengacu pada peraturan atau buku pedoman IAI. Berikut adalah beberapa kutipan dari buku IAI :

http://iai.didiharyadi.com.

3.1.5.1

Kewajiban dan Tanggung Jawab Konsultan Perencana

Dalam melakukan tugas profesi, maka arsitek mempunyai kewajiban antara lain sebagai berikut :

a) Memberikan keahlian dan kemampuannya sesuai dengan standar kinerja keahlian arsitek bersertifikat IAI serta wajib tunduk pada Kode Etik Arsitek dan Kaidah Tata Laku Profesi Arsitek.

b) Memenuhi syarat-syarat Kerangka Acuan Kerja/ KAK Perencanaan Perancangan yang ditentukan oleh Pengguna Jasa pada setiap tahap pekerjaan, kecuali apabila syarat-syarat tersebut tidak dapat dilaksanakan oleh Arsitek dan mengenai hal tersebut telah diberitahukan kepada Pengguna Jasa sebelum atau pada waktu pelaksanaan pekerjaan.

c) Mengindahkan dan menguasai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku bagi terlaksanannya penyelenggaraan konstruksi.

d) Melakukan tugas koordinasi pekerjaan perencanaan perancangan dengan ahli atau sekelompok ahli/ konsultan lainnya, baik yang ditunjuk langsung oleh Pengguna Jasa ataupun oleh Arsitek, agar proses perencanaan perancangan dapat memenuhi sasaran mutu, waktu dan biaya.

e) Ketidaksempurnaan/ kesalahan pekerjaan dalam bidang perencanaan perancangan menjadi tanggungjawab masing-masing ahli/ konsultan bidang yang bersangkutan.

f) Melakukan pengawasan berkala atau pemeriksaan konstruksi, agar konstruksi dilaksanakan sesuai dengan gambar-gambar perencanan perancangan, Rencana Kerja dan Syarat-syarat / RKS serta ketentuan-ketentuan lain yang berlaku.

(5)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 16

3.1.5.2

Hak dan Wewenang Konsultan Perencana Konstruksi

Dalam melakukan tugas profesionalnya, maka Arsitek berhak dan berwenang : a) Mendapatkan Imbalan Jasa atas layanan jasa profesional yang telah

dikerjakan sesuai ketentuan yang berlaku

b) Mendapatkan Imbalan Jasa tambahan apabila Pengguna Jasa melakukan penambahan penugasan atau melakukan permintaan perubahan perencanaan perancangan atas rancangan yang telah disetujui sebelumnya. c) Menolak segala bentuk penilaian estetika atas hasil karyanya oleh Pengawas

Terpadu ataupun oleh Pengguna Jasa.

d) Mengembalikan penugasan yang telah diberikan kepadanya karena alasan-alasan :

• Pertimbangan dalam dirinya

• Akibat hal yang diluar kekuasaan kedua belah pihak (force Majeure)

• Akibat kelalaian Pengguna Jasa

Penyelesaian akibat-akibat yang timbul dari pengembalian tugas tersebut diatur dalam Bab Ketentuan Imbalan Jasa.

e) Mengajukan perubahan perencanaan perancangan dan mengambil tindakan-tindakan yang dianggap perlu untuk memenuhi persyaratan konstruksi dan segera menginformasikan kepada Pengguna Jasa atas perubahan tersebut, termasuk perubahan waktu dan biaya yang diakibatkan atas perubahan tersebut yang akan menjadi beban pihak Pengguna Jasa.

f) Dalam pengawasan berkala arsitektur, maka Arsitek mempunyai hak dan wewenang untuk :

• Memerintahkan Pelaksana Konstruksi secara tertulis melalui Pengawas Terpadu untuk melakukan pekerjaan tersebut dengan persetujuan terlebih dahulu dari Pengguna Jasa, dengan syarat jumlah biaya pekerjaan tambahan tersebut tidak melebihi biaya yang telah dialokasikan untuk pekerjaan tersebut, dan atau tidak melebihi biaya yang dialokasikan untuk pekerjaan tidak terduga, dan atau tidak melebihi 10 % dari biaya konstruksi.

• Menilai pembayaran angsuran tahap pekerjaan konstruksi yang telah diselesaikan dan menjadi hak Pelaksana Konstruksi, sesuai dengan penilaian besarnya bobot prestasi pekerjaan yang telah dilaksanakan sampai dengan waktu tertentu, yang kemudian direkomendasikan

(6)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 17

kepada Pengguna Jasa untuk melaksanakan pembayaran angsuran pekerjaan pelaksanaan konstruksi.

3.1.5.3

Layanan Pendahuluan

Layanan Pendahuluan merupakan jasa/pekerjaan yang dilakukan sebagai pendahuluan sebelum dan agar Layanan Utama Jasa Arsitek dapat dilaksanakan dengan baik, meliputi pekerjaan antara lain :

a) Saran Pendahuluan

b) Kelayakan Perencanaan Perancangan c) Kebutuhan Data Primer dan Sekunder

d) Pengajuan untuk mendapatkan Keterangan Rencana e) Kebutuhan Tenaga Ahli lain

f) Kebutuhan Arsitek Lapangan

3.1.5.4

Tahapan Layanan Utama

Layanan Utama Jasa Arsitek merupakan Pekerjaan Perencanaan Perancangan Arsitektur dan pengelolaan proses pembangunan / konstruksi yang dilaksanakan dalam tahapan pekerjaan sebagai berikut :

1) Pekerjaan Perencanaan Perancangan :

• Konsepsi Perencanaan Perancangan

• Pra-Rancangan / Schematic Design

• Pengembangan Rancangan

• Pembuatan Dokumen Pelaksanaan

• Pelelangan

• Pengawasan Berkala 2) Pekerjaan Pengawasan Terpadu

Pelaksanaan tahapan-tahapan pekerjaan Perencanaan Perancangan Arsitektur dilaksanakan sebagai berikut :

a) Setiap tahapan pekerjaan perencanaan perancangan dapat dilaksanakan jika tahap pekerjaan sebelumnya telah mendapat persetujuan Pengguna Jasa. b) Suatu tugas perencanaan perancangan dapat terdiri dari satu tahap pekerjaan

perencanaan perancangan atau lebih, dan atau menyeluruh.

(7)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 18

3.1.5.5

Program Perencanaan Perancangan

Disusun Arsitek berdasarkan pengolahan data primer maupun sekunder serta informasi lain untuk mencapai batasan tujuan proyek serta kendala persyaratan/ ketentuan pembangunan yang berlaku. Setelah Program Perencanaan Perancangan diperiksa dan mendapat persetujuan Pengguna Jasa, selanjutnya digunakan sebagai dasar atau konsep perencanaan perancangan.

3.1.5.6

Tahap Konsepsi Perencanaan Perancangan

Konsepsi Perencanaan Perancangan yang merupakan dasar pemikiran dan pertimbangan - pertimbangan semua bidang yang melandasi perwujudan gagasan rancangan yang menampung semua aspek, kebutuhan, tujuan dan kendala proyek. Setelah mendapatkan persetujuan dari Pengguna Jasa konsep perencanaan perencangan ini merupakan dasar perencanaan perancangan tahap selanjutnya.

3.1.5.7

Tahap Pra Rancangan

Arsitek menyusun pola dan gubahan bentuk arsitektur yang diwujudkan dalam gambar-gambar. Sedangkan nilai fungsional dalam bentuk diagram-diagram.

Aspek kualitatif lainnya serta aspek kuantitatif seperti perkiraan luas lantai, Informasi penggunaan bahan, sistem konstruksi, biaya dan waktu pelaksanaan pembangunan disajikan dalam bentuk laporan tertulis maupun gambar-gambar.

Setelah diperiksa dan mendapat persetujuan dari Pengguna Jasa, Arsitek akan melakukan kegiatan tahap selanjutnya.Sasaran tahap ini adalah :

• Untuk membantu Pengguna Jasa dalam memperoleh pengertian yang tepat atas Program dan Konsep Rancangan yang telah dirumuskan Arsitek.

• Untuk mendapatkan pola dan gubahan bentuk rancangan yang tepat, waktu pembangunan yang paling singkat, serta biaya yang paling ekonomis.

• Untuk memperoleh kesesuaian pengertian yang lebih tepat atas konsepsi perencanaan perancangan serta pengaruhnya terhadap kelayakan lingkungan.

• Untuk menunjukkan keselarasan dan keterpaduan konsep Perencanaan Perancangan terhadap ketentuan Rencana tata-kota dalam rangka perizinan.

(8)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 19

3.1.5.8

Tahap Pengembangan Rancangan dan Gambar Kerja

A. Uraian pekerjaan :

Arsitek bekerja atas dasar Pra-Rancangan yang telah disetujui oleh Pengguna Jasa untuk menentukan :

• sistem konstruksi/ struktur bangunan dan sistem mekanikal-elektrikal dengan mempertimbangkan kelayakan dan kelaikannya baik terpisah maupun secara terpadu.

• Bahan bangunan akan dijelaskan secara garis besar dengan mempertimbangkan nilai manfaat, ketersediaan bahan, konstruksi dan nilai ekonomi.

• Perkiraan biaya konstruksi akan disusun berdasarkan sistem bangunan, kesemuanya disajikan dalam bentuk gambar-gambar, diagram-diagram sistem dan laporan tertulis.

Setelah diperiksa dan mendapat persetujuan dari Pengguna Jasa, hasil pengembangan rancangan ini dianggap sebagai rancangan akhir dan digunakan oleh Arsitek sebagai dasar untuk memulai tahap selanjutnya.

B. Sasaran / tujuan :

• Untuk memastikan dan menguraikan ukuran serta wujud karakter bangunan secara menyeluruh, pasti dan terpadu.

• Untuk mematangkan konsepsi rancangan secara keseluruhan, terutama ditinjau dari keselarasan sistem-sistem yang terkandung didalamnya baik dari segi kelayakan dan fungsi, estetika, waktu dan ekonomi bangunan.

3.1.5.9

Tahap Penyiapan Dokumen Lelang

A. Dokumen PelaksanaaN

Pada tahap ini, Arsitek menterjemahkan konsepsi rancangan yang terkandung didalam pengembangan rancangan ke dalam Gambar kerja dan Tulisan uraian Rencana Kerja dan Syarat-syarat teknis pelaksanaan pekerjaan-(RKS) secara jelas dan terinci lengkap dan teratur.

Sehingga secara tersendiri maupun keseluruhan dapat mendukung proses :

• Pemilihan pelaksana konstruksi

• Penugasan pelaksana konstruksi

• Pengawasan pelaksanaan konstruksi

(9)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 20

• Perhitungan besaran luas dan volume serta biaya pelaksanaan pembangunan yang jelas.

B. Sasaran / tujuan :

• Untuk mendapatkan kejelasan akan teknik pelaksanaan pembangunan, agar supaya konsep rancangan yang tergambar dan dimaksud dalam rancangan akhir dapat diwujudkan secara fisik dengan mutu yang baik.

• Untuk memperoleh kejelasan kuantitatif, agar besaran biaya dan waktu konstruksi dapat dihitung secara seksama dan dapat dipertanggung jawabkan.

• Untuk mendapat kejelasan dalam bidang administrasi konstruksi dan memenuhi persyaratan legalitas yang terkandung dalam dokumen pelelangan dan dokumen perjanjian/ kontrak kerja konstruksi.

3.1.5.10 Tahap Pelelangan

A. Uraian pekerjaan :

• Pada tahap pelelangan arsitek membantu pengguna jasa secara menyeluruh atau secara sebagian dalam :

• Mempersiapkan dokumen pelelangan;

• Melakukan pra-kualifikasi seleksi pelaksana konstruksi;

• Membagikan dokumen pelelangan kepada peserta/lelang;

• Memberikan penjelasan teknis dan lingkup pekerjaan;

• Menerima penawaran biaya dari pelaksana konstruksi;

• Melakukan penilaian atas penawaran tersebut;

• Memberikan nasehat dan rekomendasi pemilihan pelaksanaan konstruksi kepada pengguna jasa

• Menyusun perjanjian/ kontrak kerja konstruksi antara pengguna jasa dan pelaksana konstruksi

B. Sasaran / tujuan :

Untuk memperoleh penawaran biaya dan waktu konstruksi yang wajar dan memenuhi persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan sehingga konstruksi dapat dipertanggung jawabkan dan dilaksanakan dengan baik dan benar.

3.1.5.11 Tahap Pengawasan Berkala

A.

Uraian pekerjaan :

• Arsitek melakukan peninjauan dan pengawasan secara berkala di lapangan dan mengadakan pertemuan secara teratur dengan Pengguna

(10)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 21

Jasa dan Pelaksana Pengawasan Terpadu atau MK yang ditunjuk oleh Pengguna Jasa.

• Dalam hal ini, Arsitek tidak terlibat dalam kegiatan pengawasan harian atau menerus.

• Penanganan Pekerjaan Pengawasan Berkala dilakukan paling banyak 1 (satu) kali dalam 2 (dua) minggu atau sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam sebulan.

• Apabila lokasi pembangunan berada diluar kota tempat kediaman Arsitek, maka biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan perjalanan Arsitek ke lokasi pembangunan, wajib diganti oleh Pengguna Jasa sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau yang ditetapkan dan disepakati bersama sebelumnya.

B. Sasaran / tujuan :

• Untuk membantu Pengguna Jasa dalam merumuskan kebijaksanaan dan memberikan pertimbangan-pertimbangan untuk mendapatkan keputusan tindakan pada waktu pelaksanaan konstruksi, khususnya masalah-masalah yang erat hubungannya dengan rancangan yang dibuat oleh Arsitek.

• Untuk membantu pengawas terpadu atau MK khususnya dalam menanggulangi masalah-masalah konstruksi yang berhubungan dengan rancangan yang dibuat oleh Arsitek.

• Untuk turut memastikan bahwa pelaksanaan konstruksi dilakukan sesuai dengan ketentuan mutu yang terkandung dalam rancangan yang dibuat oleh Arsitek.

3.2 Konsep Dan Desain Awal

Pada saat praktikan mengikuti proses pendesainan, desain yang awalnya pada tahap conceptual, massa bangunan menjadi 1 kesatuan dan tidak adanya void ruang terbuka di tengah bangunan, sehingga menurut owner bangunannya terkesan seperti penjara. adanya permintaan dari owner agar menghilangkan kolam renang yang berada di lantai paling atas dari rumah. Serta permintaan owner agar merancang rumah dengan banyak bukaan. Keunikan dalam desain pemograman ruang pada rumah ini adalah setiap ruang tidur menjadi ruang tidur utama, ruang tidur pemilik rumah (suami dan istri) dibuat terpisah, dimana ruang tidur suami ada di lantai 1 berdekatan dengan rumah anjing. Sedangkan ruang tidur istri berada pada lantai 2 dengan desain dapat terhubung

(11)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 22

langsung dengan ruang tidur anak. Adapun ruang tidur pembantu perempuan dan pembantu laki-laki yang terpisah, jumlah pembantu yang cukup banyak yaitu 14 pembantu laki-laki dan 10 pembantu perempuan, manjadikan desain ruang pembantu seperti sebuah ruang tidur di asrama. Pada lantai paling atas, atau lantai 3, ruangan seluruhnya berfungsi sebagai ruang bermain anjing. Desain awal ini merupakan desain yang belum di super impose antara gambar Arsitektur dan Struktur maupun Gambar MEP

(mekanikal, elektrikal, dan plumbing), sehingga dalam pengerjaannya desain ini masih dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan dari pihak stuktur maupun dari pihak MEP. (Lihat gambar 3-4)

Gambar 3. Site plan konsep awal perencanaan Rumah Hertasning

Gambar 4. Site plan konsep final perencanaan Rumah Hertasning

(12)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 23

3.3 Analisa Fisik

3.3.1 Kebutuhan Ruang dan Program Ruang

Tabel 3. Tabel Kebutuhan Ruang Rumah Tinggal Hertasning

(13)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 24

Tabel 4. Tabel Kebutuhan Ruang Rumah Tinggal Hertasning

(14)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 25

3.3.2 Site plan dan Block plan

Site plan rumah Bapak Eddy Hardjono ini berada di kawasan Elit di jalan Raya

Hertasning. Site rumah ini berada pada hook jalan, dan mempunyai 2 akses untuk

mencapai ke site. Rumah ini bersebalahan langsung dengan rumah dinas walikota

Makassar. Dengan luas site 1552 m2, dan ukuran 38,85 m x 39,7 m lahan ini terbilang

cukup luas untuk fungsi bangunan sebagai rumah. Pada sisi jalan raya gsb rumah ini sebesar 10 m dan 7 m pada sisi jalan komplek. Lebar jalur utilitas 80 cm dan 50 cm, lebar jalan raya 10 m dan jalan komplek 7 m.

Gambar 5. Blok plan Rumah Hertasning

Site plan rumah hertasning jika dilihat dari atas terkesan biasa, dikarenakan rumah

ini keseluruhan menggunakan atap dak. Pada tengah bangunan terlihat juga terdapat

void area yang cukup luas. Void area tersebut sangat berfungsi untuk mengalirkan

sirkulasi udara dan cahaya. Serta jika owner mengadakan acara, void area tersebut

dapat digunakan sebagai venue.

Akses 1 Akses 2

(15)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 26

3.3.3 Denah dan Zoning

Denah ground difungsikan sebagai area parkir mobil dan area servis Secara garis

besar area servis pada rumah ini terbagi menjadi 3 bagian dan berada di tiap lantai.

• Pada lantai ground area servis terdiri dari ruang panel, ruang server, ruang genset

dan zoning area untuk ruang tidur pembantu laki-laki atau sopir.

• Pada lantai 1 area servis terbagi menjadi beberapa bagian, ruang dapur, ruang makan pembantu, ruang memasak makanan anjing dan ruang tidur penjaga anjing.

• Pada lantai 2 area service difungsikan sebagai ruang cuci dan jemur, serta terdapat zoning area untuk tempat tidur pembantu perempuan dan ruang setrika.

Gambar 6. Denah ground rumah hertasning

(16)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 27

Gambar 7. Zoning ground rumah hertasning

Pada lantai 1 atau lantai utama bangunan rumah ini terbagi oleh area semi publik, privat dan service. Namun terdapat area void yang dimanfaatkan sebagai area hijau,

fungsi dari ruang void ini digunakan untuk memasukkan cahaya alami/matahari ke dalam bangunan sekaligus ruang sirkulasi udara. Disamping itu ruang hijau ini juga digunakan pemilik untuk mengadakan acara.

• Ruang privat pada lantai 1 meliputi ruang tidur Bapak Eddy Hardjono, ruang duduk bapak Eddy Hardjono dan ruang tidur adik bapak Eddy Hardjono. Hal ini didasari dari permintaan bapak Eddy Hardjono, bahwa tempat tidurnya mempunyai ruang duduk sendiri dan dekat atau dapat terkoneksi langsung dengan ruang tidur adiknya.

Area servis pada lantai ground terbagi menjadi area servis untuk mekanikal dan area servis untuk ruang tidur pembantu.

Tangga servis, berfungsi sebagai sirkulasi vertikal untuk pembantu.

Area parkir mobil di rancang cukup luas untuk menampung sekitar 10-12 mobil. Taman kering berfungsi sebagai resapan air hujan yang masuk di area ground. Ruang tidur pembantu dan sopir untuk menampung kurang lebih 14 orang. Dengan sistem tempat tidur susun atau bertingkat.

Lift Lobby yang bersifat semi publik. Terdapat tangga utama dan lift sebagai sirkulasi vertikal utama. Gudang yang berfungsi untuk menyimpan barang-barang yang sudah tidak terpakai merupakan area privat, dimana area ini hanya dibuka saat diperlukan.

Carport dan pintu masuk utama dari sisi jalan raya hertasning merupakan sebuah area publik yang dapat di gunakan oleh siapapun.

Pos satpam termasuk kedalam area semi publik. Area juga terdapat toilet, yang dapat digunakan juga oleh sopir tamu.

Area hijau sebagai resapan dan untuk memenuhi syarat koefisien dasar hijau kota.

(17)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 28

• Ruang semi publik terdiri dari foyer, ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan. Area semi publik ini mempunyai desain struktur balok yang cukup besar, yakni dengan bentang 12 m.

• Area service meliputi dapur kotor, ruang makan pembantu, ruang memasak makanan anjing dan tangga service.

• Pada lantai 1 terdapat void ruang terbuat hijau yang berfungsi sebagai penerima cahaya alami/matahari kedalam bangunan.

Gambar 8. Denah Lantai 1 rumah hertasning

• Terlihat pada zoning denah, area semi publik mendominasi pada lantai 1.

Hal ini bertujuan lantai 1 menjadi tempat untuk berkumpul, baik berkumpul keluarga pemilik rumah, maupun berkumpul acara kolega seperti nonton bareng moto gp.

• Area lift dan tangga yang di ekspose, menjadi aksen desain pada salah satu sisi aksen bangunan.

(18)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 29

Gambar 9. Zoning Lantai 1 rumah hertasning

Zona Lantai 2 terbagi pada zona semi publik, zona privat dan zona service. Pada

lantai 2 didominasi area privat yang berfungsi sebagai ruang tidur ibu Anny (Istri pemilik rumah), ruang tidur anak, ruang tidur tamu dan ruang tidur pembantu perempuan.

• Ruang tidur ibu Anny termasuk ruang tidur yang cukup luas, yang terbagi menjadi area ruang tidur, area studio zumba, walk in closet dan kamar mandi. Ruang tidur

ini juga terkoneksi langsung dnegan ruang tidur anak-anak.

• area privat lainnya yaitu ruang tidur tamu, ruang tidur tamu yang diletakan di area depan bangunan. Adapun ruang privat yang menjadi ruang tidur pembantu perempuan, yang dapat menampung kurang lebih 10 orang.

• Area service pada lantai ini terdiridari area untuk mencuci pakaian, ruang setrika

dan area untuk menjemur pakaian.

• Area semi publik difungsikan sebagai ruang bermain anak-anak dan ruang duduk. Area service pada lantai 1

terdiri dari dapur, tangga service dan dapur untuk memasak makanan anjing.

Ruang privat sebagai ruang tidur Bapak Eddy Hardjono diletakan pada area yang berdekatan dengan rumah anjing dan taman. Serta dapat terkoneksi langsung dengan ruang tidur adiknya melalui taman. Area terbuka hijau atau taman di tengan massa bangunan berfungsi untuk memasukan cahaya alami dan melancarkan sirkulasi udara pada ruang-ruang dalam bangunan Area privat sebagai ruang tidur bapak Eddy Hardjono. Diletakan pada sisi depan massa bangunan. Area semi publik terdiri dari

area foyer, ruang tamu, ruang keluarga dan ruang makan. Area ini cukup luas dan didesain bebas kolom. Sehingga mempunya bentang yang cukup lebar, sekitar 12 m. Area semi publik

juga mempunyai view ke arah jalan komplek hertasning.

(19)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 30

Gambar 10. Denah Lantai 2 rumah hertasning

Gambar 11. Zoning Lantai 2 rumah hertasning Area semi publik berfungsi

sebagai area bermain anak-anak dan ruang duduk.

Area service terbagi menjadi ruang setrika, ruang cuci dan ruang jemur. Ruang privat menjadi ruang tidur pembantu perempuang yang mempunyai kapasitas kurang lebih 10 orang. Dengan sistem tempat tidur bertingkat. Ruang privat sebagai ruang tidur tamu, diletakan di lantai 2. Agar tamu yang datang tetap terpantau jika akan keluar masuk. Ruang privat yang terintegrasi antara ruang tidur anak dan ruang tidur istri pemilik ruamah.

(20)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 31

Zona lantai 3 terdapat ruangan yang difungsikan sebagian besar sebagai area bermain anjing. Ruang bermain ini terbagi menjadi 2, ruang bermain non ac dan ruang bermain ac.

Gambar 12. Denah Lantai 3 rumah hertasning

Gambar 13. Zoning Lantai 3 rumah hertasning

Ruang semi publik yang berfungsi sebagai ruang bermain anjing. Area ruang service yang terdiri dari tangga service dan tempat meletakan tangki air.

http://digilib.mercubuana.ac.id/

(21)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 32

3.3.4 Gambaran Bangunan di sekitar Tapak

Lokasi Site berada di kawasan perumahan elit, terletak di jalan raya hertasning No.12a dan berada di kavling hook. Menjadikan rumah ini mempunyai 2 akses pintu masuk dan keluar.

Gambar 14. Gambaran Bangunan Sekitar Tapak Deskripsi :

• Lokasi Site berada di kawasan perumahan elit

• Terletak di hook dan di lalui 2 jalan • Luas Site yang cukup besar

Tanggapan

• Mengolah massa agar bangunan tidak terlihat terlalu besar

• Merancang 2 akses pintu masuk dan keluar

Akses 1 Akses 2

(22)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 33

3.3.5 Analisa Orientasi Matahari

Berikut merupakan analisa orientasi matahari berdasarkan hasil survey lapangan :

Gambar 15. Orientasi Matahari Pada Bangunan Permasalahan

• Bangunan yang mempunyai 2 sisi tampak. Satu sisi menghadap utara dan satu sisi menghadap timur

• Orientasi matahari pada tapak ini melebar dari sisi Timur dan Barat site. Sehingga paparan sinar dan panas matahari pada area ini cukup tinggi.

Tanggapan

• Orientasi fasade bangunan pada sisi timur akan dibuat memiliki banyak bukaan

• Pada bangunan sisi barat, ditambah dengan sun shading, untuk merngurangi

panas matahari yang langsung masuk ke bangunan.

• Peletakan taman dan inner court pada sisi barat, berguna untuk mengurangi

panas sinar matahari.

(23)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 34

3.3.6 Analisa Kebisingan

Terletak di hook dan berada di jalan raya yang cukup tinggi arus lalu lintasnya,

menimbulkan kebisingan di sekitar site.

Gambar 16. Analisa Kebisingan Pada Bangunan PERMASALAHAN

• Kepadatan arus lalulintas utama pada jalan Hertasning raya sumber kebisingan sangat tinggi.

• Letaknya di pertigaan jalan, menjadikan area sekitar lokasi sebagai sumber kemacetan, karena dipakai angkutan umum untuk nge-time.

TANGGAPAN

• Memundurkan pagar bangunan, dan menambah vegetasi di sisi luar pagar, yang berfungsi sebagai buffer terhadap kebisingan dari luar.

(24)

Muhammad Aditya Iyas | 41213110002 | Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana| 35

3.3.7 Analisa Sirkulasi dan Pencapaian

Letak site yang berada di hook jalan, memberikan sebuah keuntungan dalam hal

pencapaian ke dalam area site, yakni pencapaian dapat dicapai lebih dari 1 pintu.

Gambar 17. Analisa Sirkulasi dan Pencapaian PERMASALAHAN

• Penumpukan kendaraan sering terjadi pada area pintu masuk dan keluar.

• Terdapat 2 pencapaian menuju site, Karena letak site yang berada di kaving hook. • Pencapaian menuju site berada di sisi utara dan timur site.

TANGGAPAN

• Membuat entrance di dalam site dari area utara karena melihat posisi Jalan

Utama yang berada pada sisi utara Site.

• Untuk entrance kedua berada di sisi timur dari site, yang langsung terhubung

dengan jalan komplek perumahan Hertasning 1.

• Sirkulasi di dalam site berada dia area parkir ground.

• Memberikan space tambahan pada area depan sehingga memperlebar bahu jalan.

Akses 1 Akses 2

Gambar

Gambar 2. Lokasi Perencanaan Rumah Tinggal Hertasning
Tabel 2.  Rekapitulasi Perencanaan Rumah Tinggal Hertasning
Gambar 3. Site plan konsep awal perencanaan Rumah Hertasning
Tabel 3.  Tabel Kebutuhan Ruang Rumah Tinggal Hertasning
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara inisiatif mendahului serangan lawan dengan prestasi atlet pencak silat dewasa kategori tanding

Alhamdulillahirobil’alamin puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan Karunia-Nya, karena berkat Rahmat dan Karunia-Nya penulis

Seluruh proses tetap wajib telah mengikuti Penataran Kode Etik dan Kaidah Tata Laku Arsitek yang diselenggarakan oleh Organisasi Profesi Arsitek.. PKB Wajib sesuai ketentuan

Penanggung tidak bertanggung jawab terhadap kerugian kehancuran pada atau kerusakan atas harta benda yang diasuransikan yang secara langsung atau tidak langsung disebabkan oleh

Perbedaan sifat kimia seperti pH tanah dan konsentrasi Al dari tanah yang digunakan dalam percobaan ini menyebabkan perbedaan konsentrasi P tersedia di tanah sehingga terjadi

Industri Kapal Indonesia (Persero) pekerja hanya perlu mematuhi standar yang telah diterapkan pada saat melakukan pekerjaan khususnya pada pekerja pengelasan dan

Namun hanya arsitek yang menjadi anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) saja yang terikat dengan aturan kode etik yang tercurah dalam Kode Etik Arsitek dan Kaidah

Karena arsitek bertanggung jawab secara moril kepada pengguna jasa dan dirinya sendiri, dan dasar hubungan arsitek dengan pengguna jasa adalah kepercayaan, yang