• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata Kunci : strategi, pemimpin, organisasi, multikultural, pendidikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kata Kunci : strategi, pemimpin, organisasi, multikultural, pendidikan"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

163

STRATEGI PEMIMPIN DALAM MEMBANGUN ORGANISASI MULTIKULTURAL DALAM PENDIDIKAN

Devy Habibi Muhammad1 Nur Khosiah2

Email: [email protected]; Email: [email protected]2

1Program PAI STAI Muhammadiyah Probolinggo; 2Program PGMI STAI Muhammadiyah Probolinggo

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi pemimpin dalam membangun organisasi multikultural dalam pendidikan. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis adalah studi literatur, dengan cara menganalisis dan menggali data dari beberapa sumber yang relevan untuk menemukan beberapa strategi pemimpin dalam membangun organisasi multikultural dalam pendidikan.

Secara konseptual organisasi yang memiliki perspektif multikultural perlu memperhatikan beragam latar belakang anggotanya berdasarkan pada keragaman dan realita kemajemukan. Pemimpin juga harus memahami ini dan menerapkan strategi guna mencapai organisasi multikultural yang sesuai harapan. Pemimpin dapat membangunnya dengan melalui strategi pembiasaan, pendidikan, dan keteladanan. Anggota multikultural harus mendapat kesempatan yang sama yang memiliki manfaat bagi setiap individu dan dikembangkan lebih lanjut. Membangun organisasi multikultural pada dasarnya dalah membangun diri, kelompok, organisai pendidikan tanpa didasari beban, tetapi didasarkan kebersamaan untuk membangun organisasi multikultural.

Kata Kunci : strategi, pemimpin, organisasi, multikultural, pendidikan Abstract

The purpose of this research is to find out the leader's strategy in building multicultural organizations in education. The research method used by the author is the study of literature, by analyzing and extracting data from several relevant sources to find a number of leader strategies in building multicultural organizations in education. Conceptually an organization that has a multicultural perspective needs to pay attention to the diverse backgrounds of its members based on diversity and the reality of diversity. Leaders must also understand this and implement strategies to achieve multicultural organizations that are as expected. Leaders can build it through strategies of habituation, education, and example. Multicultural members must get the same opportunities that have benefits for each individual and be further developed. Building multicultural organizations is

(2)

164

basically building themselves, groups, educational organizations without being based on burdens, but based on togetherness to build multicultural organizations.

Keywords: strategy, leader, organization, multicultural, education

PENDAHULUAN

Dalam membangun suatu masyarakat yang pada dasarnya ditujukan dalam meningkatkan mutu kehidupan masyarakat kususnya dalam bidang pendidikan, ekonomi, politik, sosial-budaya. Dalam bidang pendidikan, setiap warga negara di harapkan memiliki ilmu yang bisa di salurkan kepada seseotrang atau kelompok ataupun kepada organisasi baik formal maupun non formal. Di dalam bidang ekonomi, masyarakat diharapkan menjadi manusia yang memiliki kemampuan mengelola ekonomi baik di dalam maupun luar antara lain bisa mandiri, produktif, inovatif, dan memiliki sikap dan berjiwa interpreneurship. Dalam bidang sosial budaya, warga negara diharapkan menjadi manusia yang mempunyai pribadi yang utuh, mempunyai karakter yang baik dan mempunyai perilaku positif di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kususnya dengan masyarakat di sekitar kita. Dalam dunia politik, warga masyarakat diharapkan menyalurkan aspirasinya yang positif dalam membantu pembangunan bangsa, melaksanakan dan memiliki perilaku yang demokratis, bertoleransi, dan saling gotong royong dengan orang lain.

Setiap organisasi terdapat sebuah pemimpin yang membangun arah, tujuan, visi misi, strategi dan target yang sudah direncanakan. Pemimpin berupaya melakukan suatu langkah yang strategis dalam memahami multikultural sumber daya manusia yang dimiliki oleh anggota organisasi tersebut. Sumberdaya manusia tersebut tidak homogen karena organisasi dewasa ini sudah tebuka luas untuk masyarakat umum, mereka datang dari latar belakang etnis, regional, agama dan budaya yang berbeda.

Pengetahuan dan pemahaman pemimpin akan membawa keberhasilan dalam suatu organisasi yang multikultural. Pemimpin yang memiliki pemahaman tentang organisasi multikultural dan secara dewasa melaksanakannya akan memilii kemampuan untuk mengamati hasil dari keputusan untuk memperkecil dan mencegah konsekuensi-konsekuensi yang berdampak pada organisasinya (Kristiawan Kuncono Teguh Yunanto, n.d.).

Pemimpin harus memahami beberapa hal terhadap kepada setiap individu di dalam organisasinya bahwa mereka terlahir dengan karakter berbeda-beda dan unik. Karakter tersebut akan terlihat pada setiap inividu baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Aktifitas pada setiap individu tersebut akan berbeda di dalam organisasinya. Agama, ras, adat istiadat dan perbedaan yang dimiliki setiap individu tidak dapat disangkal

(3)

165 ketika mereka berada dalam suatu organisasi, terutama di lembaga pendidikan. Keragaman budaya yang menjadi milik mereka tidak dapat dipisahkan di dalamnya, karena ia dibentuk dan bergabung sebelum mereka memasuki suatu organisasi. Keragaman mereka akan menjadi tantangan yang akan muncul dalam membangun organisasi.

Dilihat dari kondisi bangsa indonesia dewasa ini yang memiliki letak Wilayah geografis, yang terdiri dari beberapa pulau, memiliki banyak susu dan pertumbuhan demografi yang cepat, pasti setiap individu mempunyai perbedaan satu dengan yang lain. Keanekaragaman masyarakat dengan berbagai kultur tidak dapat disatupadukan begitu saja, apalagi ditinjau dari perbedaas sikap, pemahaman, keyakinan dan pendapat yang juga merupakan bagian dari multikultural yang dimiliki bangsa ini. Kadangkala terjadi konflik, perbedaan pendapat dan toleransi, walaupun sudah di beri pemahan kepada mereka. Makadari itu peran dari pemimpin sangatlah penting bagi mereka untuk diperhatikan agar kecil kemungkinan terjadi konflik, meskipun tidak dapat dihindarkan.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti mengenai gejala yang timbul dalam sutu organisasi antara lain perbedaan pendapat, perdebatan, bahkan terjadi pertengkaran atara idividu akibat dari keanekaragaman tersebut. Namun di sisi lain multikultural memiliki dampak positif terhadap masyarakat yang ada, yaitu saling bertukar pendapat, saling merhargai, dan saling mencintai.

Salah satu elemen yang penting dalam suatu organisasi adalah pemimpin yang bisa membangun agar multikultural lebih arif dan bermakna selanjutnya untuk menjad solusi dari beberapa dampak yang timbul dari multicultural tersebut bagi semua pihak. Pemimpin dalam suatu organisasi kususnya organisasi pendidikanharuslah memahami kosep-konsep, strategi serta ilmu tentang organisasi multikultural sehingga dapat diimplrementasikan dalam organisasi tersebut. Pemimpin diharapkan bisa meningkatkan suber daya manusia secara berkelanjutan. Setiap langkah pemimpin dalam organisasi sangat penting bagi keberhasilan organisasi, langkah yang salah dalam organisasi dapat menyebabkan kegagalan. (Wibowo, 2017).

METODE PENELITIAN

Artikel ini berdasarkan penelitian perpustakaan. Penelitian perpustakaan adalah serangkaian kegiatan penelitian tentang bagaimana dan metode yang tepat dalam mengumpulkan data studi, mencatat, mendaftar, dan menyiapkan komposisi studi yang ditinjau. Ini adalah studi yang menggunakan sumber perpustakaan untuk mendapatkan data penelitian (Suprapto, 2017).

Pada artikel ini, penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kritis kualitatif. Penelitian deskriptif kritis menekankan pada kemampuan untuk menganalisa sumber dan data yang bergantung pada teori dan teks yang

(4)

166

tersedia untuk terjemahan dan berdasarkan pada dasar-dasar tertulis yang mengarah pada diskusi utama. Dasar-dasar di atas berasal dari karya-karya intelektual dan ahli yang kompeten.

Proses mempersiapkan artikel ini dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam artikel. Asumsi dan aturan pemikiran kemudian dilakukan secara teratur mengelompokkan dan mengolah data untuk memberikan penjelasan dan deskripsi dalam bentuk pengumpulan dan pengumpulan data, dan menganalisis dan menafsirkan data untuk menjelaskan fenomena sesuai dengan aturan pemikiran ilmiah, tanpa menggunakan model normatif melalui pengelompokan, mengevaluasi, hubungan dan posisi parameter dengan parameter yang lain.

Penelitian ini dilakukan melalui analisis wacana, sehingga tidak tumpang tindih dalam analisis. Setelah semua data dikumpulkan, data dianalisis untuk sampai pada kesimpulan, teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif. Selain itu, analisis konten dilakukan membandingkan satu studi dengan studi lain di bidang yang sama dengan artikel ini, berdasarkan baik pada perbedaan waktu menulis dan kemampuan penelitian untuk mencapai tujuan sebagai bahan yang disajikan oleh suatu kelompok orang yang menjadi subjek penelitian.

PEMBAHASAN 1. Kepemimpinan

Kepemimpinan dalam kamus besar Bahasa Indonesia, menjelaskan bahwa kata pemimpin sering disebut pemimpin, pemimpin, pelopor, pembimbing, panutan, pembimbing, administrator, penggerak, ketua, kepala, pembimbing, raja, tua-tua, dan sebagainya. Sedangkan istilah lead digunakan dalam konteks hasil penggunaan peran seseorang dalam kaitannya dengan kemampuannya untuk mempengaruhi orang lain dalam berbagai cara. Istilah pemimpin, kepemimpinan, dan kepemimpinan ini awalnya berasal dari kata dasar yang sama. Oleh karena itu, kepemimpinan di sini umumnya diambil dari kata pemimpin yang memiliki kepentingan utama menjadi pemimpin untuk membuat sekelompok orang atau komunitas mencapai tujuan yang diharapkan.

Kinicki and Kreitner berpendapat bahwa kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai proses pengaruh sosial di mana seorang pemimpin mengundang anggotanya untuk berpartisipasi dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Di tingkat individu, misalnya, kepemimpinan di sini termasuk momonitor, membimbing, menginspirasi dan memotivasi (Brury, 2016).

Thoha mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah sebagai salah satu kegiatan untuk mempengaruhi orang atau idividu lain atau cara untuk mempengaruhi perilaku seseorang baik perorangan maupun kelompok (Anggraini & Setiawan, 2018). Kepemimpinan yaitu slah satu upaya untuk

(5)

167 memengaruhi orang tidak dengan paksaan agar termotivasi untuk mencapai tujuan tertentu (Tri Widodo, 2013).

Hersey dan Blanchard bependapat kepemimpinan adalah tentang proses seorng individu dalam mempengaruhi kelompok atau individu untuk mencapai tujuan uyang ditentukan (Dewi, 2014). DuBrin berpendapat kepemimpinan itu adalah cara meyakinkan banyak orang dengan cara berkomunikasi untuk tercapainya tujuan, upaya mempengaruhi idividu atau kelompok melalui perintah atau petunjuk, suatu tindakan sehingga menyebabkan idividu atau kelompok lain melakukan tindakan atau merespon dan menghasilkan perubahan yang positif, memiliki kekuatan yang dinamis penting sehingga memotivasi dan mengkoordinasikan suatu organisasi dalam mencapai tujuan yang diinginkan, kemampuan dalam menciptakan percaya diri dan dukungan yang baik antara anggota agar tercipta tujuan organisasi yang dapat tercapai (Wijaya, 2008).

Pandji Anoraga berpendapat kepemimpinan adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi orang lain dengan cara yang berbeda sehingga orang lain tersebut mau melakukan perintah pemimpin meskipun secara individu hal itu tidak disenanginya (Dewi, 2014). Winardi mengatakan bahwa kepemimpinan merupakan salah satu kemampuan yang dimiliki pada diri seorang pemimpin yang tergantung dari beberapa faktor baik faktor intern atau faktor ekstern (Dewi, 2014). Diharapkan juga bahwa pemimpin dapat menangkap harapan para pengikutnya. Pada dasarnya, pengikut tetap loyal kepada pemimpin ketika harapan terpenuhi. Oleh karena itu, eksekutif harus mempertimbangkan harapan para pengikut sehingga mereka menerima dukungan penuh untuk mencapai tujuan organisasi yang dikaitkan dengan para pemimpin (Wibowo, 2018).

Menurut Yuki kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi orang lain untuk memahami dan menyetujui apa yang perlu dilakukan dan bagaimana tugas itu dilakukan secara efektif, dan proses untuk memfasilitasi upaya individu dan kolektif untuk mencapai tujuan bersama. Menurut Robbins kepemimpinan adalah kemampuan yang dimiliki yang digunakan untuk mempengaruhi suatu organisasi atau kelompok untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Pengertian kepemimpinan yang sangat luas yaitu mencakup proses untuk mempengaruhi dan menentukan tujuan suatu organisasi, memberi motivasi perilaku anggota untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk meningkatkan kualitas kelompok dan budayanya dalam organisasi (Mariam, 2009). Kepemimpinan adalah suatu proses yang dimiliki dan harus digunakan oleh pemimpin untuk menentukan arah organisasi dan memberi contoh berperilaku kepada anggota dalam suatu organisasi.

2. Gaya Kepemimpinan

Gaya kepemimpinan adalah norma atau tuntunan perilaku yang digunakan oleh seseorang untuk mencoba mempengaruhi perilaku orang lain

(6)

168

atau anggotanya. Suatu pemimpin tidak akan bisa menggunakan gaya kepemimpinan yang sama dalam memimpin anggotanya, tapi harus disesuaikan dengan berbagai karakter dan tingkat kemampuan dalam tugas masing-masing anggotanya.

Menurut Miftah Thoha Pemimpin yang efektif dan baik dalam menentukan gaya tertentu di kepemimpinannya pertama harus memahami dan mengenali siapa anggota yang dipimpinnya, memahami kelebihan dan kekurangan anggotanya, dan memahami bagaimana caranya untuk menggunakan kekuatan anggota untuk mengkompensasi kelemahan yang dimiliki oleh anggotanya. pengetian gaya adalah teknik yang digunakan oleh pemimpin untuk mempengaruhi anggota mereka (Mariam, 2009).

Menurut Nawawi gaya kepemimpinan adalah suatu cara atau perilaku yang digunakan oleh pemimpin untuk mempengaruhi sikap, pikiran, perasaan, dan perilaku anggota organisasi. Hubungan antara pimpinan dan anggota biasanya diukur melalui penilaian dalam organisasi, sehingga pemimpin dapat mengarahkan dan membina anggotanya untuk melakukan pekerjaan mereka. Secara khusus, ada beberapa elemen utama kepemimpinan, yaitu: (a) elemen pemimpin atau individu yang mempengaruhi; (b) elemen individu yang dipimpin sebagai pihak yang terkena dampak; (c) elemen interaksi atau aktivitas dan pengaruh proses; (d) elemen tujuan yang ingin dicapai dalam proses mempengaruhi; (e) elemen perilaku atau aktivitas yang dilakukan sebagai pengaruh. Selain itu, fungsi kepemimpinan meliputi: (a) pengambil keputusan; (b) instruktif; (c) konsultatif, (d) partisipatif; dan (e) delegasi (Susanty & Baskoro, 2012).

Jerome Want secara umum ada tiga kategori pemimpin, yaitu pemimpin yang selalu mengatakan: (1) Saya Tidak Tahu (2) Saya tidak tahu caranya (saya tidak tahu bagaimana) (3) Saya tidak peduli. Sangat sedikit yang benar-benar menyadari bagaimana para pemimpin di seluruh organisasi, dan itu membutuhkan pemahaman (Wibowo, 2018). Dalam memandang gaya kepemimpinan, akan berbeda satu sama lain, persepsi individu terhadap gaya kepemimpinan akan mempengaruhi perilaku mereka di tempat kerja. Persepsi anggota digunakan untuk mengevaluasi kemampuan para pemimpin dan untuk menunjukkan peningkatan dan menunjukkan kelemahan (Antou, 2013). Dari uraian diatas landasan teori tentang gaya kepemimpinan dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan adalah interaksi seseorang pemimpin dengan anggotanya. Dalam interaksi ini ada dua orientasi perilaku bagi pemimpin dalam melakukan interaksi dengan anggota, yang pertama adalah orientasi hubungan, yang kedua adalah pada tugas, selain itu perilaku juga mempertimbangkan suatu kondisi dan situasi.

3. Pendidikan Multikultural

Pendidikan multikultural masih banyak penafsiran yang sangat beragam, dan masih belum ada kesepakatan, apakah pendidikan multikultural

(7)

169 yang dimaksud adalah pendidikan tentang keaneka ragaman budaya, atau pendidikan untuk membentuk sikap menghargai keanekaragaman tentang budaya. Kamanto Sunarto mendevinisikan tentang pendidikan multikultural biasanya diartikan sebagai pendidikan keanekaragaman budaya dalam suatu masyarakat, dan juga diartikan sebagai pendidikan yang menawarkan berbagai model keanekaragaman budaya dalam masyarakat, dan terkadang berarti pendidikan untuk menumbuhkan sikap menghargai keanekaragaman budaya masyarakat (Rosyada, 2014).

Pendidikan Multikultural adalah gerakan pembaruan dan proses untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang sama bagi semua siswa. Sebagai gerakan pembaruan, istilah pendidikan multikultural masih dianggap asing bagi masyarakat umum, bahkan interpretasi definisi dan pemahaman pendidikan multikultural juga masih diperdebatkan di kalangan pakar pendidikan. Mahfud berpendapat bahwa bahwa pendidikan multikultural didefinisikan sebagai pendidikan tentang keanekaragaman budaya (Al Arifin, 2012). Hernandes mengemukakan bahwa pendidikan multikultural sebagai perspektif yang mengakui realitas sosial, politik, dan ekonomi yang dialami oleh setiap individu dalam pertemuan manusia yang kompleks dan beragam dalam budaya, dan mencerminkan pentingnya budaya, ras, seksualitas dan gender, etnis, agama, status sosial, ekonomi, dan pengecualian dalam proses pendidikan (Al Arifin, 2012).

Definisi yang diberikan oleh para pakar pendidikan adalah fakta bahwa bangsa Indonesia terdiri dari banyak etnis, dengan keragaman agama, budaya, suku dan bahasa. Indonesia memiliki filosofi etnis, bahasa, suku, agama dan budaya yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang asama, yaitu terwujudnya identitas yang kuat, dihormati oleh bangsa lain, sehingga cita-cita ideal para pendiri bangsa tercapai. maju, adil, makmur. Untuk alasan ini, semua komponen bangsa tanpa memandang suku, agama dan budaya, semua harus bersatu, membangun kekuatan di semua sektor, sehingga kesejahteraan bersama dapat dicapai, memiliki kebanggaan nasional yang tinggi, dan dihormati oleh negara-negara lain di dunia. Karena itu, mereka harus saling menghormati, menghilangkan hambatan agama dan budaya. Hal itu, seperti ditekankan Azyumardi, bukanlah sesuatu yang diterima begitu saja tetapi harus diambil melalui proses pendidikan multikulturalistik, yaitu pendidikan untuk semua, dan pendidikan yang memberi perhatian serius kepada pengembangan toleransi, menghormati perbedaan etnis, budaya dan agama, dan memberikan hak-hak sipil kepada kelompok minoritas (Rosyada, 2014). Dengan demikian, pendidikan multikultural dalam konteks ini ditafsirkan sebagai proses pendidikan yang memberikan kesempatan yang sama kepada semua anak bangsa tanpa membedakan perlakuan karena perbedaan etnis, budaya dan agama, yang menghormati keanekaragaman, dan yang memberikan hak yang sama kepada etnis minoritas, dalam upaya memperkuat

(8)

170

persatuan dan kesatuan, identitas nasional dan citra nasional di mata masyarakat internasional.

4. Organisasi Multikultural Dalam Pendidikan

Organisasi adalah forum untuk sekelompok orang atau kelompok yang bekerja bersama secara rasional dan sistematis yang dibimbing atau dikendalikan untuk mencapai tujuan tertentu dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di dalamnya (salamadian.com). Robbins menyatakan bahwa Organisasi adalah unit sosial yang secara sadar terkoordinasi, dengan batas yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja secara relatif berkelanjutan untuk mencapai tujuan bersama atau kelompok tujuan (id.wikipedia.org).

Multikulturalisme mengandung dua makna yang sangat kompleks, yaitu "multi" yang artinya jamak, "kulturalisme" mengandung pengertian budaya (Ambarudin, 2018).

Multikultural adalah kenyataan, di mana masyarakat majemuk atau beragam etnis. Mereka dapat menerima dan menghormati perbedaan. Misalnya, perbedaan dalam hal budaya, nilai-nilai budaya, pendapat atau ide dan apa pun yang terkait dengan keragaman fisik, sebagai kenyataan yang ada (Supriyanto, 2015). Multikulturalisme adalah sistem kepercayaan dan perilaku yang mengakui dan menghormati kehadiran semua kelompok yang berbeda dalam suatu organisasi atau masyarakat, mengakui dan menghargai perbedaan sosial-budaya mereka, dan mendorong dan memungkinkan kontribusinya yang berkelanjutan dalam konteks budaya inklusif yang memberdayakan semua di dalam organisasi atau masyarakat (Rosado, www//sait.uoregon.edu. diakses pada, 2 mei 2019).

Pendidikan multikultural biasanya ditafsirkan sebagai pendidikan keanekaragaman budaya dalam masyarakat, dan kadang-kadang juga didefinisikan sebagai pendidikan untuk menumbuhkan sikap siswa untuk menghormati keragaman masyarakat. Azra mendefinisikan pendidikan multikulturalisme sebagai pendidikan keanekaragaman budaya sebagai respons terhadap perubahan demografi serta lingkungan budaya masyarakat tertentu atau dunia secara keseluruhan. Ainurrofiq Dawam, melihat pendidikan multikultural sebagai pendidikan yang menganggap serius latar belakang siswa dalam hal keragaman etnis, suku, agama dan budaya (Supriyanto, 2015).

Pendidikan multikultural adalah proses mengembangkan sikap dan perilaku seseorang atau kelompok orang dalam upaya untuk menjadi manusia dewasa melalui pengajaran, pendidikan, pelatihan, proses, tindakan, dan cara-cara mendidik mereka yang menghormati pluralitas dan heterogenitas secara-cara humanistik. Menurut Wibowo organisasi multikultural atau banyak pula disebut sebagai antar budaya atau lintas budaya terjadi apabila dua budaya atau lebih berinteraksi adalam satu organisasi (Wibowo, 2018; Ulil, Hidayah, Benny, 2019; Benny Prasetiya, 2018).

(9)

171 Pendidikan multikultural berarti bahwa proses pendidikan dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran di unit pendidikan, dan selalu memprioritaskan unsur perbedaan seperti biasa, sebagai akibat pendidikan multikultural membawa siswa untuk terbiasa dan tidak membantah perbedaan prinsip dalam menjalin pertemanan dan pertemanan. bergaul dengan siapa pun tanpa membedakan latar belakang budaya, agama, suku, ras, dan adat istiadat (Ambarudin, 2018; Rofi, Prasetiya, & Setiawan, 2019).

Berdasarkan definisi di atas, semuanya maknanya mengarah pada suatu tujuan yang tidak berbeda, yaitu bagaimana melalui pendidikan mampu mewujudkan suatu bangsa yang maju, kuat, adil dan makmur sejahtera tanpa perbedaan etnis, suku, agama dan budaya. Antusiasmenya adalah bagaimana membangun kekuatan di beberapa sektor sehingga kesejahteraan bersama sesuai dengan yang diinginkan, mempunyai harga diri yang tinggi dan dihormati oleh negara lain. Dengan demikian pendidikan multikultural dalam hal ini dapat dijabarkan sebagai suatu proses pendidikan yang memberikan kesempatan yang sama kepada semua anak tanpa perlakuan diskriminasi karena perbedaan etnis, agama, budaya untuk memperkuat persatuan, identitas nasional dan citra nasional di mata masyarakat.

5. Organisasi Multikultural

Organisasi multikultural diberi makna tidak hanya terdiri dari kekuatan kerja, tetapi juga terdiri dari sumber daya manusia dengan latar belakang ras, agama, suku dan gender yang berbeda. Bahkan orang-orang minoritas terintegrasi dengan baik di setiap tingkat organisasi, termasuk dalam posisi manajemen dan eksekutif.

Pernyataan ini sesuai dengan pernyataan investopedia yaitu “Organisasi Multikultural adalah organisasi yang tenaga kerjanya tidak hanya mencakup orang-orang dari beragam ras, agama dan latar belakang gender, tetapi juga organisasi yang di dalamnya minoritas diintegrasikan dengan baik di semua tingkatan perusahaan, termasuk posisi manajemen dan eksekutif” (Supriyanto, 2016).

Dari uraian tersebut dapat diartikan bahwa organisasi multikultural mengacu pada kehadiran anggota dengan beragam latar belakang budaya, teknis, pengalaman yang dapat digunakan untuk berkontribusi pada organisasi, dan pencapaian atau manfaat bagi individu dan organisasi. Hal ini juga dinyatakan dalam Business Dictionary multikultural adalah "Di mana karyawan dari berbagai latar belakang, budaya, etnis, dan pengalaman dapat berkontribusi secara bebas, dan mencapai potensi individu mereka untuk keuntungan mereka sendiri dan organisasi mereka".

Pernyataan yang bisa digunakan sebagai referensi lain adalah Organisasi multikultural adalah organisasi yang berupaya meningkatkan keunggulan kompetitif mereka dengan mengadvokasi dan mempraktikkan keadilan sosial dan keanekaragaman sosial secara internal dan eksternal untuk organisasi,

(10)

172

Jacson dalam (Supriyanto, 2016). Marketing Communications Officer adalah organisasi yang bertujuan untuk memperbaiki anggota dan diri atau meningkatkan keunggulan kompetitif dengan mengadvokasi dan mempraktikkan keadilan sosial dan keanekaragaman sosial didalam atau diluar untuk organisasi. Keberagaman organisasi terjadi apabila di dalam suatu organisasi terdapat variasi sumber daya manusia dilihat dari segi gender, pendidikan, umur, agama, situasi sosial, dan kepercayaan, ras atau suku, serta etnis (Wibowo, 2018).

Multikultural adalah kenyataan di mana orang-orang majemuk atau beragam dalam etnis atau etnis, mereka menerima dan menghargai perbedaan satu sama lain, yang tentunya mengandung perbedaan. Misalnya, perbedaan dalam hal budaya, nilai-nilai budaya, pendapat atau ide dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keragaman fisik, sebagai kenyataan (Supriyanto, 2015).

Berdasarkan beberapa pernyataan tersebut, dapat diartikan bahwa organisasi perspektif multikultural adalah tempat bagi orang untuk melakukan proses manajemen dengan beragam ras, suku, agama dan latar belakang jenis kelamin yang memiliki pengalaman berbeda, memperhatikan keadilan dan keragaman sosial untuk mendukung prestasi.

6. Strategi Membangun Organisasi Multikultural Dalam Pendidikan

Pendidikan multikultural adalah suatu kegiatan belajar mengajar yang mengajarkan pengetahuan, sikap, pemahaman, dan tindakan dalam mengembangkan kondisi keragaman dan kesetaraan anak terkait dengan agama, gender, ras, suku, budaya dan etnis. Proses belajar dan pembelajaran dapat mengembangkan suatu kondisi yang kondusif ta sermelihat keunikan anak didik tanpa membedakan karakteristik dan latar belakang budaya mereka.

Implementasi pendidikan multikultural di sekolah ada beberapa spesifikasi. Bahwa sekolah yang memiliki komitmen untuk mengembangkan keberagaman harus muncul dalam: (1) mengembangkan rasa hormat untuk kegiatan sekolah untuk keragaman etnis, (2) mengembangkan kohesi berdasarkan partisipasi bersama dari beberapa kelompok budaya, (3) memberikan peluang maksimum untuk individu dan kelompok, (4) memfasilitasi perubahan konstruksi yang dapat meningkatkan tingkat martabat dan cita-cita demokrasi (Munandlir, 2016; Bahar Agus Setiawan, Benny Prasetiya, 2019).

Urgensi proses pengajaran dan pembelajaran dilakukan oleh pendidik disekolah perlu memperhatikan beberapa aspek yang diantaranya adalah: pertama, mengajar tidak hanya mengatakan kata-kata, tetapi perlu memberikan siswa kesempatan untuk membangun dan mengembangkan untuk secara aktif mencari dan memproses pengetahuan dan informasi yang didapat, sehingga menjadi pemahaman yang terintegrasi dengan pengetahuan

(11)

173 dan pengalaman yang dimiliki oleh anak didik, kedua pengembangan budaya sehingga dipahami dengan baik dan sesuai dengan realita kebiasaan siswa, ketiga siswa datang ke sekolah dengan pengetahuan mereka, sehingga pembelajaran harus menghubungkan konsep baru dengan pengalaman yang sudah mereka miliki (Prasetiya, Rofi, & Setiawan, 2018).

Kegiatan pembelajaran pendidikan multikultural menurut Zubaidi adalah bahwa pendidik dituntut untuk mau dan mampu melamar belajar strategi kooperatif harus diterapkan, antara lain: keberadaan saling ketergantungan, kehadiran interaksi tatap muka yang konstruktif, akuntabilitas individu, keterampilan sosial dan efektivitas proses pembelajaran dalam kelompok. Sekolah yang mengelola pendidikan didasarkan pada multikultural selalu menghormati, menghargai perbedaan yang ada di komunitas sekolah dengan latar belakang nilai-nilai agama, etnis, ras, bahasa, etnis dan kelas di sekolah, baik untuk siswa, pendidik, karyawan, staf pendidikan dan komite sekolah dan semua komponen yang berkaitan dengan sekolah (Munandlir, 2016).

Realitas praktik pendidikan selama ini memberi kesan bahwa pendidikan mematuhi berorientasi terhadap materi pelajaran yang membebani siswa dengan informasi kognitif dan motorik yang kadang-kadang kurang relevan dengan kebutuhan mereka dan tingkat perkembangan psikologi. Manajemen pembelajaran yang ada memberi kesan terlalu beroriensi pada sains dan teknologi, termasuk keterampilan gerak motorik yang terlalu berorientasi teknis. Prinsip ini memang dapat menghasilkan lulusan yang cerdas, cerdas dan terampil yang tidak seimbang dengan kecerdasan emosional. Dalam upaya menerapkan demokratisasi pendidikan, prinsip-prinsip yang berorientasi pada materi pelajaran dapat diubah berorientasi pada siswa. Orientasi pendidikan ini menekankan pertumbuhan, perkembangan dan kebutuhan siswa secara keseluruhan, baik secara fisik maupun mental. Dalam hal ini kecerdasan otak penting, tetapi kecerdasan lainnya, seperti: kecerdasan spiritual, emosional dan berbagai jenis kecerdasan lainnya.

Pemimpin dalam organisasi multikultural harus memiliki strategi lain, yaitu pembiasaan. Masing-masing lembaga atau unit kerja satu sama lain diberi kesempatan semaksimal mungkin untuk bersaing dalam kebiasaan menjalankan program dengan perspektif multikultural. Biasakan menyiapkan sesuatu, mengimplementasikannya, dan mengevaluasinya dengan perspektif multikultural. Manajemen menengah dan semua anggotanya diberi kebebasan untuk membangun sub-organisasi mereka dengan basis multikultural didalam melakukan kegiatan sehari-hari dengan cara yang bersaing. Implementasinya harus dipantau dengan berkala untuk mendapatkan berbagai hasil dan hambatan. Jika ditemukan masalah, maka perlu segera mencari solusi sehingga tidak menjadi suatu masalah yang berkelanjutan.

(12)

174

Berdasarkan beberapa cara menerapkan pendidikan yang berbasis multikultural, seorang pemimpin harus memahami karakter dari anggotanya, termasuk latar belakang ras, suku, agama dan budaya yang mereka miliki. Mereka tidak hanya menjalankan organisasi secara formal dan memperhatikan bagian luar, tetapi perlu mengeksplorasi apa yang dimiliki anggota terkait dengan multikulturalisme yang dapat disinergikan untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi.

Dalam pendidikan pemimpin adalah sebagai ujung tombak dalam membangun organisasi multikultural, pemimpin harus juga mampu meningkatkan kesadaran bagi organisasi agar selalu bersikap demokratis, humanis dan tidak egois dan menghargai perbedaan pendapat pendapat masing. Pemimpin di suatu organisasi yang berhasil dalam membangun organisasi multikultural akan menjadi panutan bagi anggotanya.

PENUTUP

Secara konseptual organisasi yang memiliki perspektif multikultural perlu memperhatikan beragam latar belakang anggotanya berdasarkan pada keragaman dan realita kemajemukan. Para pemimpin juga harus memahami hal ini dan menerapkan cara untuk mencapai organisasi multikultural yang sesuai harapan. Pemimpin bisa membangunnya dengan menggunakan strategi pendidikan, keteladanan dan pembiasaan. Organisasi multikultural telah terbukti mengurangi tekanan rasial, mengurangi prasangka, dan dapat meningkatkan kinerja anggota minoritas, dan juga dapat membangun organisasi seperti atmosfer dalam keluarga untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Anggota multikultural harus mendapat kesempatan yang sama yang memiliki manfaat bagi setiap individu dan dikembangkan lebih lanjut. Membangun organisasi multikultural pada dasarnya dalah membangun diri, kelompok, organisai pendidikan tanpa didasari beban, tetapi didasarkan kebersamaan untuk membangun organisasi multikultural.

DAFTAR PUSTAKA

Al Arifin, A. H. (2012). The implementation of multicultural education in the educational practices in Indonesia. Jurnal Pembangunan

Pendidikan: Fondasi Dan Aplikasi, 1(1), 72–82.

Ambarudin, R. I. (2018). Pendidikan multikultural untuk membangun bangsa yang nasionalis religius. Jurnal Civics: Media Kajian

Kewarganegaraan, 13(1). https://doi.org/10.21831/civics.v13i1.11075 Anggraini, I., & Setiawan, A. R. (2018). Pengaruh Komitmen Organisasi dan

(13)

175 Kinerja Aparat Pemerintah Daerah. Jurnal Akuntansi Multiparadigma. https://doi.org/10.18202/jamal.2011.08.7122

Antou, D. O. (2013). Gaya Kepemimpinan Dan Budaya Organisasi

Pengaruhnya Terhadap Kinerja Pegawai Kantor Kelurahan Malalayang I Manado. Jurnal EMBA, 1(4), 151–159.

Bahar Agus Setiawan, Benny Prasetiya, S. R. (2019). Implementasi Tasawuf dalam Pendidikan Agama Islam: Independensi, Dialog, dan Integrasi.

POTENSIA, 5(1), 64–78.

Benny Prasetiya, S. R. (2018). Pendidikan Nilai: Konsep Dan

Implementasinya Dalam Dunia Pendidikan. Jurnal Imtiyaz, 2(1), 15–33. Brury, M. (2016). Pengaruh Kepemimpinan, Budaya Organisasi, Motivasi

Kerja Dan Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Pada Kantor SAR Sorong. Jurnal Riset Bisnis Dan Manajemen, 4(1), 1–16.

Dewi, L. (2014). Analisis Pengaruh Kepemimpinan Dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai Dengan Sistem Reward Sebagai Variabel Moderating. Jurnal Riset Akuntansi Dan Bisnis, 14, 77–97.

https://doi.org/10.30596/JRAB.V14I1.157

Kristiawan Kuncono Teguh Yunanto, A. (n.d.). Prosiding Seminar Nasional Peran Budaya Organisasi Terhadap Efektivitas dan Efisiensi

Organisasi Pemimpin, Budaya Organisasi Dan Perilaku Etis. 14. Mariam, R. (2009). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Dan Budaya Organisasi

Terhadap Kinerja Karyawan Melalui Kepuasan Kerja Karyawan Sebagai Variabel Intervening. Universitas Stuttgart.

Munandlir, A. (2016). Strategi Sekolah Dalam Pendidikan MultikulturaL.

Jurnal.

Prasetiya, B., Rofi, S., & Setiawan, B. A. (2018). Penguatan nilai ketauhidan dalam praksis pendidikan islam. Journal of Islamic Education (JIE),

III(1), 1–15.

Rofi, S., Prasetiya, B., & Setiawan, B. A. (2019). Pendidikan Karakter Dengan Pendekatan Tasawuf Modern Hamka dan Transformatif Kontemporer. Intiqad, 11(2), 396–414.

Rosyada, D. (2014). Pendidikan Multikultural Di Indonesia Sebuah Pandangan Konsepsional. SOSIO DIDAKTIKA: Social Science Education Journal, 1(1). https://doi.org/10.15408/sd.v1i1.1200 Suprapto, D. K. dan W. (2017). Membangun kepemimpinan berbasis

nilai-nilai pancasila dalam perspektif masyarakat multikultural. 5740(1). Supriyanto. (2015). Pengembangan Nilai Multikultural Dalam Kurikulum

2013 Supriyanto. 1(1), 120–138.

Supriyanto, A. (2016). Strategi pemimpin dalam membangun organisasi multikultural. 317–326.

Susanty, A., & Baskoro, S. W. (2012). Pengaruh Motivasi Kerja Dan Gaya Kepemimpinan Terhadap Disiplin Kerja Serta Dampaknya Pada Kinerja

(14)

176

Karyawan. Jati UNDIP Semarang, 7(2), 77–84.

Tri Widodo. (2013). Pengaruh Lingkungan Kerja, Budaya Organisasi, Kepemimpinan Terhadap Kinerja (Studi pada Pegawai Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga). Among Makarti, 3(5), 14–35.

Ulil, Hidayah, Benny, P. (2019). Multicultural education in madrasah diniyah as prevention of religious conservatism. Jurnal Tarbiyah, 26(1), 168– 184. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Wijaya, T. (2008). Pengaruh Service Quality Perception and Satisfaction. (2008), 124–135.

Referensi

Dokumen terkait

◦ Bahan Kimia Daftar 3 adalah bahan kimia yang dapat diproduksi menjadi senjata kimia (prekursor), tetapi dapat dimanfaatkan untuk keperluan komersial. contoh:

Hubungan Faktor Resiko Diabetes Mellitus dan Lama Operasi dengan Kejadian Infeksi Luka Operasi Orthopaedi Kriteria Bersih di RSUP H Adam Malik. Ichsan Fahmi 1

Keputusan Gubernur Sumatera Selatan Nomor 85/KPTS/BPBD- SS/2017 tentang Status Keadaan Siaga Darurat Bencana Asap Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi

Ini berarti bahwa hasil perhitungan tersebut tidak berhasil mendukung Ha2 yang diajukan, sehingga dari hasil penelitian terbukti bahwa beban pajak tangguhan secara

STUDI POLA PENGGUNAAN RUANG BERBAGAI KELAS UMUR BIAWAK KOMODO (Varanus komodoensis Ouwens) DI LOH BUAYA-PULAU RINCA TAMAN NASIONAL KOMODO,.. NUSA

Untuk dapat membuat aplikasi penjualan yang dapat diinstall di media smartphone, diperlukan sebuah framework aplikasi mobile hybrid dan encapsulator Apache Cordova untuk

Namun seiring dengan semakin menurunnya cadangan minyak bumi dan untuk meminimalisir pengaruh emisi karbon dioksida yang timbul pada proses pembuatan kompon karet

Frekuensi aplikasi PGPR paling rendah dapat meningkatkan hasil produksi tanaman padi varietas Diah Suci, sehingga untuk hasil produksi tanaman padi yang lebih tinggi lagi