• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENDIDIKAN USIA DINI (PAUD) DAN TAMAN KANAK-KANAK (TK)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENDIDIKAN USIA DINI (PAUD) DAN TAMAN KANAK-KANAK (TK)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN 45

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENDIDIKAN USIA DINI (PAUD) DAN

TAMAN KANAK-KANAK (TK)

Kasidi

FPIPS IKIP Veteran Semarang e-mail : [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena telah bermunculan Pedidikan Anak Usia Dini mulai dari play groups sampai dengan taman kanak-kanak di wilayah perkotaan, sementara di wilayah pedesaan seperti di desa Sunggingsari dan desa Glapansari Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung Pendidikan Anak Usia Dini yang ada di wilayah tersebut baru Pendidikan Taman Kanak-Kanak, sedangkan bentuk Pendidikan Anak Usia Dini yang lain seperti play groups dan sejenisnya belum ada. Pendidikan Taman Kanak-Kanak yang sudah adapun proses pembelajarannya tidak bisa berjalan dengan lancar karena adanya kebiasaan masyarakat setempat pada pagi hari anak usia dini mereka bukan dibawa ke sekolah tetapi dibawa ke ladang/sawah dimana orang tua mereka bekerja dengan alasan tidak ada waktu bagi orang tua untuk mengantar dan mengawasi di sekolah. Adapun yang menjadi sasaran penelitian ini adalah masyarakat Desa Sunggingsari dan Desa Glapansari Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung. Responden penelitian ini berjumlah 66 Kepala Keluarga sebagai sampel yang terdiri dari pasangan suami istri. 66 Kepala Keluarga tersebut dipilih sebagai responden karena mereka memiliki anak usia dini, yaitu anak yang berumur antara 3 sampai dengan 6 tahun. Tujuan penelitian ini berfokus pada persepsi masyarakat Desa Sunggingsari dan Desa Glapansari terhadap pentingnya keberadaan Pendidikan Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TK). Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan cara mendistribusikan angket kepada semua Kepala Keluarga di ke dua desa tersebut dan data yang diolah dipilih para Kepala Keluarga yang mempunyai anak usia dini. Dari hasil pengolahan data diketahui bahwa persepsi masyarakat terhadap keberadaan Pendidikan Anak Usia Dini adalah sangat penting. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan responden yang rata-rata menjawab alternatif a dan b (sangat perlu dan perlu). Sedangkan pengolahan dengan rumus chi kwadrat juga tidak ditemukan bukti adanya perbedaan persepsi tentang pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini dan Taman Kanak-Kanak ini antara pihak suami dan pihak istri, terbukti chi kwadrat hitung semuanya berada di bawah chi kwadrat tabel. Artinya baik pihak suami maupun pihak istri sama-sama berpersepsi bahwa Pendidikan Anak Usia Dini dan Taman Kanak-Kanak sangat penting, dan mereka juga berpendapat bahwa anak sebelum masuk Sekolah Dasar wajib mengikuti Pendidikan Anak Usia dini dan Taman Kanak-Kanak.

Kata Kunci : Persepsi, Anak usia Dini, Taman Kanak-kanak

I. Pendahuluan

Sentuhan pendidikan anak sudah dimulai sejak anak berada dalam kandungan ibunya. Orang tua memiliki peran penting untuk menjadi fasilitator perubahan perilaku

(2)

MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN 46 anak berkembang menjadi dewasa dan bertanggung jawab. Pendidikan dalam kandungan ibu dapat dilakukan dengan sentuhan dan rabaan melalui perut ibu, senandung, do’a serta musik yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan kejiwaan janin.

Sentuhan pendidikan anak oleh orang tua ini akan berkesinambungan sampai anak menjadi dewasa dan menyadari akan tanggung jawabnya. Namun yang barangkali perlu diingat adalah bahwa orang tua biasanya tidak mempunyai kesempatan yang cukup untuk melakukan hal itu disebabkan oleh kesibukan orang tua akan berbagai aktivitas kesehariannya. Kondisi ini memerlukan adanya lembaga pendidikan di luar lingkungan keluarga untuk menyambung dan meneruskan pendidikan yang telah dilakukan oleh orang tua di dalam keluarga. Bentuk pendidikan di luar lingkungan keluarga ini dapat diselenggarakan oleh masyarakat secara bersama-sama, perseorangan maupun pemerintah.

Usia dini merupakan periode awal yang sangat penting dan mendasar dalam sepanjang rentang pertumbuhan serta kehidupan manusia. Masa ini ditandai dengan berbagai periode penting yang fundamental dalam kehidupan anak selanjutnya sampai akhir periode perkembangannya. Salah satu periode yang menjadi ciri masa usia dini adalah periode keemasan (the Golden Ages). Banyak konsep dan fakta yang memberikan penjelasan periode keemasan pada masa usia dini, dimana semua potensi anak berkembang sangat optimal dan cepat. Konsep-konsep penting pada masa usia dini adalah masa eksplorasi, masa identifikasi/imitasi, masa peka, masa bermain dan masa trozt alter 1 (masa pembangkangan tahap 1).

Di berbagai daerah terutama daerah perkotaan telah banyak bermunculan taman-taman pendidikan seperti play-groups, pendidikan usia dini (PAUD), tempat penitipan anak (TPA), taman kanak-kanak dan taman bermain lainnya yang sejenis. Namun jika kita tengok di daerah pedesaan jenis pendidikan semacam itu masih sangat jarang dan masyarakat sepertinya belum menyadari akan pentingnya pendidikan usia dini dan taman kanak-kanak ini.

Hasil studi pendahuluan peneliti ke desa Sunggingsari dan desa Glapansari Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah, ternyata di kedua desa tersebut masuk pada kategori desa miskin. Pendidikan anak usia dini di kedua desa ini yang ada baru pendidikan taman kanak-kanak, namun proses pembelajarannya tidak dapat berjalan secara teratur dan berkesinambungan disebabkan adanya kebiasaan orang tua di wilayah tersebut membawa anak-anak mereka yang berusia dini ini ke ladang/sawah agar mereka bisa mengawasi anak-anak usia dini mereka sambil bekerja.

(3)

MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN 47 II. Kajian Pustaka

A. Pentingnya Pendidikan Pra Sekolah Dasar

Perkembangan dan perubahan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi membawa serta perkembangan dan perubahan di dunia pendidikan. Jika pada awal-awal kemerdekaan Indonesia fokus perhatian pemerintah terhadap pendidikan lebih tertuju pada jenjang pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi, maka secara berangsur-angsur pemerintah juga telah memulai memperhatikan proses dan pelaksanaan pendidikan sebelum anak memasuki tingkat satuan pendidikan dasar, yaitu SD dan yang sederajad. Pendidikan anak sebelum anak memasuki jenjang pendidikan dasar ini yang saat ini disebut dengan pendidikan anak usia dini dan taman kanak-kanak.

Hasil-hasil penelitian di bidang neurology mengungkapkan bahwa ukuran otak anak pada usia dua tahun telah mencapai 75% dari ukuran otak orang dewasa, dan pada usia lima tahun telah mencapai 90% dari ukuran otak orang dewasa (Santrock, J.W, 2002, pada http://bintang bangsaku.com).

B. Persepsi

Persepsi diartikan sebagai tanggapan atau penerimaan langsung dari sesuatu obyek atau merupakan proses dari seseorang untuk mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya (Kamus Umum Bahasa Indonesia). Persepsi berarti analisis mengenai cara kita mengintegrasikan pencerapan terhadap hal-hal yang berada di sekeliling kita dengan kesan-kesan atau konsep yang sudah ada dan selanjutnya mengenalinya. Persepsi juga diartikan sebagai proses pemberian makna pada stimuli inderawi.

Persepsi terhadap sesuatu obyek tergantung pada suatu kerangka, ruang dan waktu (Hilgard, 1985 dalam Unti, 1999). Persepsi pendidikan bagi suatu masyarakat akan sangat tergantung pada tingkat pendidikan masyarakat itu sendiri, lingkungan budaya serta norma yang dianut oleh masyarakat setempat.

Robbins (2003) secara implisit menyatakan bahwa persepsi satu individu terhadap satu obyek yang sama sangat mungkin memiliki perbedaan dengan persepsi individu yang lain. Hal ini menurutnya dikarenakan adanya beberapa faktor yang mempengaruhinya, antara lain: karakteristik pribadi pelaku persepsi, target yang dipersepsikan dan lingkungan atau situasi di mana persepsi itu dilakukan

Karakteristik pribadi dari pelaku pemersepsi akan mempengaruhi individu dalam memandang ataupun menafsirkan suatu obyek. Karakteristik pribadi yang relevan mempengaruhi persepsi adalah sikap, motif, kepentingan, pengalaman masa yang lalu dan pengharapan. Karakteristik pribadi termasuk di dalamnya adalah kognisi. Dengan demikian persepsi mencakup penafsiran obyek, tanda atau orang dari pengalaman individu tersebut. Dengan kata lain persepsi mencakup penerimaan stimulus,

(4)

peng-MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN 48 organisasian stimulus dan penterjemahan atau penafsiran stimulus yang telah diorganisasi dengan cara yang dapat mempengaruhi perilaku dan pembentuk sikap.

C. Hakekat Anak Usia Dini

Pada dasarnya setiap anak itu memiliki sifat yang unik. Tidak ada dua anak yang memiliki sifat-sifat dan cirri-ciri yang sama persis walaupun anak tersebut anak kembar siam. Setiap anak terlahir dengan potensi yang berbeda-beda, memiliki kelebihan, bakat dan minat yang berbeda. Ada anak yang berbakat menyanyi, menari, matematika, bahasa, olahraga. Kenyataan menunjukkan bahwa setiap anak tidak sama, ada anak yang sangat cerdas, ada yang biasa-biasa saja dan ada pula yang kurang cerdas. Perilaku anak juga sangat beragam, demikian pula motivasi dalam belajar. Melihat kenyataan itu, maka para pendidik usia dini maupun taman kanak-kanak sangat perlu memahami model pembelajaran untuk anak yang memiliki kebutuhan berbeda tersebut.

Anak usia dini adalah anak yang sedang dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental. Perkembangan pada usia dini merupakan perkembangan yang paling cepat dibandingkan dengan seltelah masa anak-anak. Pertumbuhan dan perkembangan sudah dimulai sejak masa prenatal. Pembentukan sel syaraf otak sebagai modal pembentukan kecerdasan terjadi saat anak dalam kandungan. Setelah anak terlahir tidak terjadi lagi pembentukan sel syaraf otak, tetapi hubungan antar sel syaraf otak terus berkembang. Begitu pentingnya usia dini, sehingga muncul teori yang menyatakan bahwa pada usia empat tahun 50% kecerdasan manusia telah tercapai dan 80% pada usia delapan tahun (http://bintangbangsaku.com), download 21 Maret 2010).

III. Metode Penelitian

A.Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di desa Sunggingsari dan desa Glapansari Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Penelitian dilakukan antara bulan Maret 2010 sampai dengan bulan Oktober 2010. Alasan ke dua desa ini dipilih sebagai tempat penelitian adalah:

a. Pendidikan usia dini yang ada di dua desa itu yang sudah ada baru pendidikan tingkat taman kanak-kanak, sedangkan play group, kelompok bermain dan sejenisnya belum ada.

b. Keberadaan pendidikan taman kanak-kanak di ke dua desa itu proses pembelajarannya belum berjalan secara maksimal.

c. Mata pencaharian penduduk di kedua desa itu kebanyakan adalah petani (petani tembakau, petani sayur). Pada pagi hari anak-anak mereka bukan dimasukkan ke

(5)

MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN 49 sekolah tetapi diajak ke ladang atau sawah tempat mereka bekerja dan anak dibiarkan bermain di tempat kerja tersebut dengan alam. Berbagai alasan yang dikemukakan kenapa anak-anak mereka tidak dimasukkan ke sekolah di antaranya: (a) tidak ada yang mengantar, (b) jarak antara rumah dengan sekolah jauh, (c) lokasi atau medan menuju ke sekolah relatif susah untuk dijangkau oleh anak-anak se-umur mereka karena jalan yang terjal dan berbatu.

B. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif- kuantitatif dengan cara meng-ekplor persepsi masyarakat desa Sunggingsari dan masyarakat Glapansari yang memiliki anak usia tiga sampai enam tahun tentang persepsi mereka terhadap pendidikan usia dini, karena orang tua pada dasarnya mempunyai tanggung jawab penuh untuk menyekolahkan putra-putrinya.

C. Subyek Penelitian

Yang menjadi subyek penelitian adalah masyarakat desa Sunggingsari dan masyarakat desa Glapansari Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Jumlah penduduk di ke dua desa tersebut sebanyak 5.617 jiwa yang terdiri dari 2.866 jiwa laki-laki dan 2.751 jiwa perempuan. Sampel dipilih terhadap orang tua yang memiliki anak usia dini (3 sampai 6 tahun).

D. Obyek Penelitian

Yang menjadi obyek penelitian pada penelitian ini adalah persepsi masyarakat terhadap pendidikan usia dini. Masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat desa Sunggingsari dan masyarakat desa Glapansari Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.

E. Sumber Data

Sumber data utama penelitian ini adalah berasal dari masyarakat desa Sunggingsari dan masyarakat desa Glapansari Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung yang memiliki anak usia antara tiga sampai dengan enam tahun. Disamping masyarakat yang memiliki anak usia antara tiga sampai dengan enam tahun sumber data lain yang dapat mendukung sumber data utama juga diperoleh dari perangkat desa setempat. Pengambilan data persepsi masyarakat tentang pendidikan usia dini dilakukan dengan menyebarkan angket langsung kepada responden yang pengisiannya dipandu oleh petugas pengumpul data. Petugas pengumpul data adalah peneliti yang dibantu oleh para mahasiswa IKIP Veteran Semarang tingkat akhir yang telah memperoleh mata kuliah metode penelitian yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata di wilayah tersebut.

(6)

MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN 50 F. Analisis Data

Analisis data penelitian dilakukan dengan analisis deskritif kuantitatif. Data yang telah terkumpul ditabulasi, dihitung persentasenya tiap-tiap alternatif jawaban untuk setiap pertanyaan kemudian dideskripsikan dalam bentuk narasi. Analisis data dilakukan terhadap setiap pertanyaan, karena alternatif jawaban setiap pertanyaan tidak sama. Jumlah pertanyaan ada 9 pertanyaan ditambah dengan identitas responden. Tiap pertanyaan dihitung jumlah alternatif jawaban masing-masing kemudian dihitung dengan persentase, yaitu jumlah jawaban riil yang diberikan oleh responden dibagi jumlah idealnya dikalikan 100% kemudian dijabarkan dalam bentuk narasi yang menggambarkan kondisi persepsi masyarakat desa Sunggingsari dan masyarakat desa Glapansari terhadap keberadaan pendidikan usia dini (PAUD) utamanya diwilayah ke dua desa tersebut. Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan persepsi antara pihak suami dengan pihak istri menyangkut pendidikan usia dini ini peneliti juga melengkapinya dengan pengolahan data dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rumus chi kwadrad.

IV. Hasil Penelitian

A. Ringkasan Sajian Data Penelitian

Tabel 1: Ringkasan Hasil Tabulasi Angket

No Angket

Jumlah Jawaban Masing-Masing Alternatif

a b c d abstain 2 34 (51,52%) 25 (43,94%) 2 (3,03%) 1 (1,52%) - 3 36 (54,55%) 28 (42,42%) 2 (3,03%) - - 4 60 (90,91%) 4 (6,06%) - - 2 (3,03%) 5 61 (92,42%) 3 (4,55%) - - 2 (3,03%) 6 36 (54,55%) 28 (42,42%) - - 2 (3,03%) 7 46 (69,70%) 18 (27,27%) - - 2 (3,03%) 8 64 69,97%) - - - 2 (3,03%) 9 63 95,46%) - - - 3 (4,55%)

(7)

MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN 51 B. Pembahasan

Angket nomor 1 digunakan untuk mengungkap keluarga yang memiliki anak usia 3 sampai 6 tahun yang dijadikan sebagai responden dalam penelitian ini. Sementara angket nomor 2 mengungkap pendapat suami (bapak) tentang pendidikan usia dini (PAUD). Jawaban tertinggi adalah a dan b yaitu perlu sampai dengan sangat perlu sebesar 95,46%. Angket nomor 3 mengungkap hal yang sama dari pihak istri dengan jawaban tertinggi a dan b sebesar 96,97%.

Tabel 2: Tabel kerja untuk menghitung Chi Kwadrat (Pihak Suami) Kategori fo fh

f

o

f

h 2 h o

f

f

h h o

f

f

f

2 SP 34,00 35,00 -1,00 1,00 0,0286 P 29,00 28,50 0,50 0,25 0,0088 KP 2,00 2,00 0,00 0,00 0,0000 TP 1,00 0,50 0,50 0,25 0,5000 2 0,5374 Tabel 3: Tabel Kerja Untuk Menghitung Chi Kwadrat (Pihak Istri) Kategori fo fh

f

o

f

h 2 h o

f

f

h h o

f

f

f

2 SP 36,00 35,00 1,00 1,00 0,0286 P 28,00 28,50 -0,50 0,25 0,0088 KP 2,00 2,00 0,00 0,00 0,0000 TP 0,00 0,50 -0,50 0,25 0,5000 2 0,5374

0748

,

1

5374

,

0

5374

,

0

2

hitung

tabel

2

dengan db 4 dan alpha 0,05 = 9,488. Kolom = 4

Baris = 2

Jadi db = (4 – 2) x (4 – 2) = 4

Dari hasil perhitungan di atas ternyata chi kwadrat hitung lebih kecil dari chi kwadrat tabel (1,0748 < 9,488), sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan pandangan antara pihak suami dengan pihak istri tentang pendidikan usia dini bagi putra-putri mereka. Artinya mereka sama-sama berpendapat bahwa anak umur 3 sampai dengan 6 tahun sebelum mereka memasukki sekolah dasar harus melalui jenjang pendidikan usia dini (PAUD) terlebih dahulu.

(8)

MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN 52 Angket nomo 4 mengungkap pendapat suami tentang anak umur 3 – 5 tahun bersekolah di PAUD. Jawaban a (harus) adalah sebesar 90,91%, sedangkan dari pihak istri (angket nomor 5) jawaban harus (a) sebesar 92,42%.

Tabel 4: Tabel Kerja Untuk Menghitung Chi Kwadrat (Pihak Suami) Kategori fo fh

f

o

f

h 2 h o

f

f

h h o

f

f

f

2 Harus 60,00 60,50 -0,50 0,25 0,0041 Tidak Perlu 4,00 3,50 0,50 0,25 0,0041 Abstain 2,00 2,00 0,00 0,00 0,0000 2 0,0083

Tabel 5: Tabel Kerja Untuk Menghitung Chi Kwadrat (Pihak Istri) Kategori f o fh

f

o

f

h 2 h o

f

f

h h o

f

f

f

2 Harus 61,00 60,50 0,50 0,25 0,0041 Tidak Perlu 3,00 3,50 -0,50 0,25 0,0041 Abstain 2,00 2,00 0,00 0,00 0,0000 2 0,0083 Kolom = 3 Baris = 2 Db = (3 -1)(2 -1) = 2 Alpha = 0,05

0166

,

0

0083

,

0

0083

,

0

2

hitung

991

,

5

05

,

0

,

,

2 2

alpha

db

tebel

Jadi chi kwadrat hitung lebih kecil dari chi kwadrat tabel, sehingga kesimpulannya sama, bahwa baik dari pihak bapak maupun pihak ibu mempunyai persepsi yang sama, yaitu bahwa anak usia dini yaitu anak yang berumur antara 3 sampai dengan 6 tahun sebelum masuk ke jenjang sekolah dasar harus melalui jenjang pendidikan usia dini (PAUD) terlebih dahulu.

Angket nomor 6 mengungkap pendapat suami tentang anak umur 5 – 6 tahun bersekolah di TK. Dari jawaban yang masuk jawaban tertinggi adalah a dan b (perlu sampai dengan sangat perlu) sebesar 96,97%, sedangkan dari pihak istri (angket nomor 7) jawaban tertinggi juga a dan b sebesar 96,97%.

Tabel 6: Tabel Kerja Untuk Mengerjakan Chi Kwadrad (Pihak Suami)

Kategori fo fh

f

o

f

h 2 h o

f

f

h h o

f

f

f

2 SP 36 41,00 -5,00 25,00 0,61

(9)

MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN 53 P 28 23,00 5,00 25,00 1,09 KP 0 0,00 0,00 0,00 0,00 TP 0 0,00 0,00 0,00 0,00 Abstain 2 2,00 0,00 0,00 0,00 2

1

,

70

Tabel : Tabel Kerja Untuk Mengerjakan Chi Kwadrad (Pihak Istri)

Kategori fo fh

f

o

f

h 2 h o

f

f

h h o

f

f

f

2 SP 46 41,00 5,00 25,00 0,61 P 18 23,00 5,00 25,00 1,09 KP 0 0,00 0,00 0,00 0,00 TP 0 0,00 0,00 0,00 0,00 Abstain 2 2,00 0,00 0,00 0,00 2 hitung = 1,70 + 1,70 = 3,40 2

1

,

70

Kolom = 5; baris = 2, sehingga db = (5 – 1)(2 – 1) = 4 Dengan alpha 0,05 chi kwadrad tabel = 9,488

Dengan demikian chi kwadrad hitung lebih kecil dari chi kwadrad tabel.

Kesimpulannya bahwa tidak terdapat perbedaan pandangan dalam hal kuantitas antara pihak suami maupun pihak istri, bahwa anak usia 5 sampai dengan 6 tahun wajib masukpada jenjang pendidikan taman kanak-kanak (TK). Angket nomor 8 mengungkap pendapat suami tentang anak sebelum masuk SD bersekolah di TK. Dari jawaban yang masuk yang menjawab a (harus) sebesar 96,97%, sedangkan dari pihak istri (angket nomor) yang menjawab harus sebesar 95,46%.

Tabel 8: Tabel Kerja Untuk Menghitung Chi Kwadrat (Pihak Suami) Kategori fo fh

f

o

f

h 2 h o

f

f

h h o

f

f

f

2 Harus 64,00 63,50 0,50 0,25 0,0039 Tidak Perlu 0,00 0,00 0,00 0,00 0,0000 Abstain 2,00 2,50 0,50 0,25 0,1000 2 0,1039

Tabel 9: Tabel Kerja Untuk Menghitung Chi Kwadrat (Pihak Istri) Kategori f o fh

f

o

f

h 2 h o

f

f

h h o

f

f

f

2 Harus 63,00 63,50 0,50 0,25 0,0039 Tidak Perlu 0,00 0,00 0,00 0,00 0,0000 Abstain 3,00 2,50 0,50 0,25 0,1000 2 ,1039

(10)

MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN 54 Kolom = 3

Baris = 2

db = (3 – 1)(2 – 1) = 2 2

0,1039 + 0,1039 = 0,2078 (chi kwadrad hitung)

Sedangkan chi kwadrad table dengan db 2 dan alpha 0,05 adalah 5,991 Jadi chi kwadrad hitung lebih kecil dari chi kwadrad tabel.

V. Kesimpulan

1. Sarana pembelajaran anak usia dini di ke dua desa tersebut yang tersedia baru taman kanak-kanak. Di desa Sunggingsari proses pembelajaran PAUD (TK) sudah lumayan baik dibandingkan dengan di desa Glapansari.

2. Mulai Maret 2010 di desa Glapansari dengan inisiator mahasiswa IKIP Veteran Semarang yang ber KKN di desa tersebut mulai merintis berdirinya kelompok bermain dengan jumlah peserta awal sekitar 42 anak.

3. Dari hasil pembahasan atas jawaban angket yang disebarkan kepada responden berkenaan dengan persepsi mereka terhadap pendidikan usia dini diperoleh hasil bahwa, baik dari pihak suami maupun dari pihak istri menyatakan pendapat yang sama, bahwa pendidikan usia dini (PAUD) adalah penting dan wajib diikuti oleh setiap anak usia dini sebelum mereka memasukki jenjang pendidikan sekolah dasar.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, PAUD Tidak Dapat Diabaikan, http://bintang bangsaku.com (download 21 Maret 2010).

Asri Budianingsih C. 2005, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta.

Beilhaerz, Peter, 2005, Teori-Teori Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Corby, Paul C. 2009, Method in Behavioral Research, edisi 9, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Monks F.J, Dkk. 2002, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

(11)

MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN 55 R. Moeslichatoen, 2004, Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanak, Jakarta: Rineka

Cipta.

Salkind, Neil. J, 2009, Teori-Teori Perkembangan Manusia, Bandung: Nusa Media.

Gambar

Tabel 1: Ringkasan Hasil Tabulasi Angket
Tabel 4: Tabel Kerja Untuk Menghitung  Chi Kwadrat (Pihak Suami)
Tabel 8: Tabel Kerja Untuk Menghitung  Chi Kwadrat (Pihak Suami)

Referensi

Dokumen terkait

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survey.Subjek Penelitian ini adalah masyarakat pengguna pelayanan yaitu sebanyak

Sehingga studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi deskriptif kualitatif untuk menggambarkan persepsi masyarakat Sidoarjo terhadap pemberitaan parkir

Setelah mendapatkan hasil penelitian selanjutnya semua item akan dibahas dengan mengkaitkannya dengan teori dan realitas yang ada di lapangan sehingga dapat ditarik

Penelitian tentang Persepsi Masyarakat dan Pendidikan Lingkungan terhadap Konservasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Desa Timbang Lawan, Langkat, Sumatera

PERSEPSI SISWA TENTANG KEGIATAN STORYTELLING DALAM MENUMBUHKAN KEMAMPUAN LITERASI KRITIS ANAK : Studi Deskriptif Kuantitatif pada Siswa Kelas 3-4 SD di Taman Bacaan Masyarakat

Sehingga studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi deskriptif kualitatif untuk menggambarkan persepsi masyarakat Surabaya sesuai dengan proses penerimaan

Sehingga studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi deskriptif kualitatif untuk menggambarkan persepsi masyarakat Sidoarjo terhadap pemberitaan parkir

Tujuan penelitian adalah mendapatkan informasi dan menganalisis tentang: 1 Persepsi masyarakat desa pemekaran dalam proses pelayanan publik bidang kesehatan, 2 Persepsi masyarakat desa