Dovi Lbm 4 Enterohepatik

35 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

LBM 4 LBM 4 STEP 1 STEP 1

-- Murphy’s sign : Murphy’s sign : pemeriksaapemeriksaan untuk n untuk menentukan adanya kolelitiasis dan kolesistitis denganmenentukan adanya kolelitiasis dan kolesistitis dengan menggunakan ibu jari atau telunjuk yang diletakkan di tepi kanan dari m.rectus abdominis menggunakan ibu jari atau telunjuk yang diletakkan di tepi kanan dari m.rectus abdominis dan arcus costa setelah itu pasien disuruh bernapas dan apabila nyeri berarti positif  dan arcus costa setelah itu pasien disuruh bernapas dan apabila nyeri berarti positif  STEP 2

STEP 2 1.

1. Mengapa nyeri di kanan atas menjalar Mengapa nyeri di kanan atas menjalar sampai ke bahu atas?sampai ke bahu atas? 2.

2. Apa hubungan konsumsi pil KB dengan penyakit yang diderita?Apa hubungan konsumsi pil KB dengan penyakit yang diderita? 3.

3. Apa hubungannya dengan BB berlebih?Apa hubungannya dengan BB berlebih? 4.

4. Mengapa nyeri dirasakan terus-menerus selama kurang lebih 1 Mengapa nyeri dirasakan terus-menerus selama kurang lebih 1 jam?jam? 5.

5. Apa hubungannya dengan kolesterol darah yang meningkat?Apa hubungannya dengan kolesterol darah yang meningkat? 6.

6. DD?DD? 7.

7. Faktor resiko?Faktor resiko? 8.

8. Pemeriksaan penunjangPemeriksaan penunjang 9.

9. KomplikasiKomplikasi STEP 3

STEP 3 1.

1. Mengapa nyeri di kanan atas menjalar Mengapa nyeri di kanan atas menjalar sampai ke bahu atas?sampai ke bahu atas?

-- Persarafannya sama, ada saraf Cervikal 3,4,5 yang ada di perut kanan atas (di bawahPersarafannya sama, ada saraf Cervikal 3,4,5 yang ada di perut kanan atas (di bawah diafragma, di peritoneum bagian parietal

diafragma, di peritoneum bagian parietal namanya n.phrenicus yg merupakan cabang drnamanya n.phrenicus yg merupakan cabang dr C3,C4,C5 sama dg yang di supra clavicularis yg jg cabang dari C3,C4).

C3,C4,C5 sama dg yang di supra clavicularis yg jg cabang dari C3,C4). -- Disitu ada peradangan yang merangsang n.phrenicusDisitu ada peradangan yang merangsang n.phrenicus

2.

2. Apa hubungan konsumsi pil KB dengan penyakit yang diderita?Apa hubungan konsumsi pil KB dengan penyakit yang diderita?

-- Pil KB mengandung hormon esterogenPil KB mengandung hormon esterogenesterogen meningkatesterogen meningkatmenyebabkan saturasimenyebabkan saturasi cairan empedu meningkat dan menurunkan kadar c

cairan empedu meningkat dan menurunkan kadar c henodeoxicolat (fungsinya untukhenodeoxicolat (fungsinya untuk menurunkan kadar saturasi cairan empedu)

menurunkan kadar saturasi cairan empedu)pengendapanpengendapan

-- Segitiga admiral (ada keseimbangan antara kolesterol, fosfolipid dan lecitin), esterogenSegitiga admiral (ada keseimbangan antara kolesterol, fosfolipid dan lecitin), esterogen berlebihan menyebabkan segitiga admiral tidak seimbang

berlebihan menyebabkan segitiga admiral tidak seimbang kolesterol jenuhkolesterol jenuhharusharus diemulsi

diemulsijadi batujadi batumengkristalmengkristalmengendapmengendap

-- Ada hormon Progesteron juga di pil KBAda hormon Progesteron juga di pil KB menghambat kolesterol menjadi kolesterol estermenghambat kolesterol menjadi kolesterol ester Syarat terjadinya batu empedu :

Syarat terjadinya batu empedu : o

o SupersaturasiSupersaturasi o

o NukleasiNukleasi o

o Disfungsi kantung empeduDisfungsi kantung empedu 3.

3. Apa hubungannya dengan BB berlebih?Apa hubungannya dengan BB berlebih?

-- ObesitasObesitaslemak dalam tubuh meningkatlemak dalam tubuh meningkat hiperlipoproteinemiahiperlipoproteinemiapeningkatan sintesispeningkatan sintesis kolesterol

kolesterolkolesterol meningkatkolesterol meningkatsekresi kolesterol oleh asam empedu sekresi kolesterol oleh asam empedu meningkatmeningkat -- Misel (agregasi dari 2 Misel (agregasi dari 2 atau lebih molekul asam empedu, yang mengikat kolesterol)atau lebih molekul asam empedu, yang mengikat kolesterol) 

kolesterol masuk ke dalam misel (bagian dalam hidrofobik bagian luarnya hidrofilik)

kolesterol masuk ke dalam misel (bagian dalam hidrofobik bagian luarnya hidrofilik) miselmisel kewalahan mengangkut kolesterol

(2)
(3)

-- Rasio normal antara asam empedu dg lecitinRasio normal antara asam empedu dg lecitin jika rasionya lebih besar, maka akan terjadijika rasionya lebih besar, maka akan terjadi batu empedu karena terjadi saturasi

batu empedu karena terjadi saturasi

4.

4. Mengapa nyeri dirasakan terus-menerus selama kurang lebih 1 Mengapa nyeri dirasakan terus-menerus selama kurang lebih 1 jam?jam? -- Termasuk nyeri alihTermasuk nyeri alihdilihat dari masa embriologinya (persarafannya)dilihat dari masa embriologinya (persarafannya)

Persarafan masa embriologi (C3-C5) Persarafan masa embriologi (C3-C5)

-- Nyeri dikarenakan batu empedu yang bisa berjalanNyeri dikarenakan batu empedu yang bisa berjalan nyeri dirangsang oleh makanan yangnyeri dirangsang oleh makanan yang berlemak

berlemakgesekan antara makanan dengan batu empedu tersebut yang menyebabkangesekan antara makanan dengan batu empedu tersebut yang menyebabkan nyeri kurang lebih 1 jam

nyeri kurang lebih 1 jam

5.

5. Apa hubungannya dengan kolesterol darah yang meningkat?Apa hubungannya dengan kolesterol darah yang meningkat?

-- Normalnya kadarnya kolesterol dalam hepar sama dengan kolNormalnya kadarnya kolesterol dalam hepar sama dengan kol esterol dalam darahesterol dalam darah

6.

6. DD?DD?

-- KolelitiasisKolelitiasis Definisi Definisi

Suatu keadaan dimana pada vesica f

Suatu keadaan dimana pada vesica fellea terdapat batu empedu. Batu empedu memilikiellea terdapat batu empedu. Batu empedu memiliki ukuran yang berbeda. Batu empedu komposisinya berbeda juga.

ukuran yang berbeda. Batu empedu komposisinya berbeda juga. Batu empedu ada 2 jenis :

Batu empedu ada 2 jenis : o

o Batu pigmen : berasal dari garam kalsium bilirubinBatu pigmen : berasal dari garam kalsium bilirubin

 Batu pigmen hitam : kecil, banyak, radioopakBatu pigmen hitam : kecil, banyak, radioopak

 Batu pigmen coklat : terjadi karena infeksi, sedikit, radiolusenBatu pigmen coklat : terjadi karena infeksi, sedikit, radiolusen o

o Batu kolesterol : berasal dari asam empeduBatu kolesterol : berasal dari asam empedu Etiologi

Etiologi

-- Peningkatan kolesterolPeningkatan kolesterol

Faktor resiko Faktor resiko -- Usia (>40th)Usia (>40th)

-- Jenis kelamin (wanita)Jenis kelamin (wanita) -- ObesitasObesitas

-- GenetikGenetik

-- Etnik (batu kolesterol lebih meningkat di Etnik (batu kolesterol lebih meningkat di Eropa)Eropa) -- KehamilanKehamilan

-- Nutrisi parenteral totalNutrisi parenteral total -- Anemia hemolitikAnemia hemolitik

Batu kolesterol Batu kolesterol

o

o Di eropaDi eropa o

o Kelainan herediter metabolisme asam empeduKelainan herediter metabolisme asam empedu o

o Syndrome hiperlipidemiaSyndrome hiperlipidemia Batu pigmen

Batu pigmen o

o Di asiaDi asia o

o Karena syndrome hemolitik kronisKarena syndrome hemolitik kronis o

(4)

Patogenesis Patogenesis

o

o Supersaturasi : asam empedu, kolesterol, lecytin (kolesterol terlalu Supersaturasi : asam empedu, kolesterol, lecytin (kolesterol terlalu banyak, segitigabanyak, segitiga admiral tidak seimbang menyebabkan kolesterol mengendap kemudian terjadi admiral tidak seimbang menyebabkan kolesterol mengendap kemudian terjadi pengkristalan dan terjadilah batu empedu)

pengkristalan dan terjadilah batu empedu) o

o Nukleasi : kristal2 menjadi agregasi sendiri yang dibantu oleh alfa 1-acidNukleasi : kristal2 menjadi agregasi sendiri yang dibantu oleh alfa 1-acid

glycoprotein, alfa 1 antichymotripsin dan fosfolipase C (yang membantu untuk glycoprotein, alfa 1 antichymotripsin dan fosfolipase C (yang membantu untuk nukleasi kantung empedunya tersebut)

nukleasi kantung empedunya tersebut) o

o Disfungsi kantung empedu : penurunan kontraktiDisfungsi kantung empedu : penurunan kontrakti litas dari kantung empedu sehinggalitas dari kantung empedu sehingga tidak bisa mengeluarkan isinya

tidak bisa mengeluarkan isinya o

o Epitel kantung empedu terganggu karena pengkristalanEpitel kantung empedu terganggu karena pengkristalan kurang peka dengankurang peka dengan hormon CCK

hormon CCK

Dari segi letak batu empedu : Dari segi letak batu empedu :

 Kolesistolitiasis : di kantung Kolesistolitiasis : di kantung empedunya (ductus cysticus)empedunya (ductus cysticus)  Koledocholitiasis : di saluran empedunya (ductus choledochus)Koledocholitiasis : di saluran empedunya (ductus choledochus) BATU PIGMEN

BATU PIGMEN

o

o Anemia hemolitikAnemia hemolitikkadar B1 meningkatkadar B1 meningkatberikatan dengan kalsium sehinggaberikatan dengan kalsium sehingga batu pigmennya isinya kalsium bilirubinat

batu pigmennya isinya kalsium bilirubinat masuk ke empedumasuk ke empeduwarna pada batuwarna pada batu (hitam)

(hitam) o

o BakteriBakteriinfeksiinfeksimemberi warna batu (coklatmemberi warna batu (coklatdari fosfolipase bakteri dimanadari fosfolipase bakteri dimana fosfolipase dimana fosfolipase mengikat asam palmitat

fosfolipase dimana fosfolipase mengikat asam palmitat dan stearat dari pemecahandan stearat dari pemecahan lecytin)

lecytin) Manifestasi Klinis : Manifestasi Klinis :

o

o nyeri di perut kanan atas yang dijalarkan ke bahunyeri di perut kanan atas yang dijalarkan ke bahu o

o suhu badan meningkatsuhu badan meningkat o

o asimtomatikasimtomatik

Px : Px :

o

o Murphy’s sign : +Murphy’s sign : + o

o Tanda vitalTanda vital o

o USG : tampak gambaran hiperekoik dengan USG : tampak gambaran hiperekoik dengan acoustic shadowacoustic shadow o

o ERCP (endoscopy retrograde cholangio pancreatography) : bisa melihat saluranERCP (endoscopy retrograde cholangio pancreatography) : bisa melihat saluran empedu

empedu o

o ALP 1 alfa 1, GGT : meningkatALP 1 alfa 1, GGT : meningkat o

o Kolesterol darah : meningkatKolesterol darah : meningkat Komplikasi Komplikasi o o KolesistitisKolesistitis o o pancreatitispancreatitis Penatalaksanaan Penatalaksanaan o

(5)

o obat-obatan oral untuk menghancurkan batu empedunya o Antibiotik

o bedah : cholesistectomi laparoscopy

- Kolesistitis

Definisi : radang kandung empedu yang disertai dengan batu empedu Klasifikasi

Ada 3 :

o Mild : terbatas pada vesica fellea dan tidak terjadi disfungsi organ o Moderate : luas pada vesica fellea tanpa disfungsi organ

o Severe : ada disfungsi organ Etiologi :

Kolelitiasis (90-95%) Manifestasi klinis :

o Nyeri perut kanan atas Px :

o Abdomen : nyeri tekan kanan atas dan murphy’s sign positif  o Lab : leukositosis

o USG : double wall dengan acoustic shadow, cairan sekeliling o CT scan o MRCP Penatalaksaan : o Cholesistectomi  Open  Laparoscopy

Metabolisme garam empedu Empiema di vesica fellea hydrops

(6)

STEP 4 Faktor resiko: wanita, >40th, BB tinggi, pil KB Esterogen menigkat Kolesterol meningkat Keseimbangan kolesterol terganggu endapan kolesterol pigmen Kolelitiasis dan kolesistitis

(7)

STEP 7

Metabolisme garam empedu

Vesica fellea berperan sebagai resevoir empedu dengan kapasitas sekitar 50 ml. Vesica fellea mempunya kemampuan memekatkan empedu. Dan untuk membantu proses ini, mukosanya mempunyai lipatan-lipatan permanen yang satu sama lain saling berhubungan. Sehingga permukaanya tampak seperti sarang tawon. Sel- sel thorak yang membatasinya juga mempunyai banyak mikrovilli.

Empedu dibentuk oleh sel-sel hati ditampung di dalam kanalikuli. Kemudian disalurkan ke duktus biliaris terminalis yang terletak di dalam septum interlobaris. Saluran ini kemudian keluar dari hati sebagai duktus hepatikus kanan dan kiri. Kemudian keduanya membentuk duktus biliaris komunis. Pada saluran ini sebelum mencapai doudenum terdapat cabang ke kandung empedu yaitu duktus sistikus yang berfungsi sebagai tempat  penyimpanan empedu sebelum disalurkan ke duodenum.

Gambar 3: Posisi anatomis dari vesica fellea dan organ sekitarnya.

 Pengosongan Kandung Empedu

Empedu dialirkan sebagai akibat kontraksi dan pengosongan parsial kandung empedu. Mekanisme ini diawali dengan masuknya makanan berlemak kedalam duodenum. Lemak menyebabkan pengeluaran hormon kolesistokinin dari mukosa duodenum, hormon kemudian masuk kedalam darah, menyebabkan kandung empedu  berkontraksi. Pada saat yang sama, otot polos yang terletak pada ujung distal duktus coledokus dan ampula relaksasi, sehingga memungkinkan masuknya empedu yang kental ke dalam duodenum. Garam

 – 

garam empedu dalam cairan empedu penting

(8)

untuk emulsifikasi lemak dalam usus halus dan membantu pencernaan dan absorbsi lemak. Proses koordinasi kedua aktifitas ini disebabkan oleh dua hal yaitu:

a) Hormonal: Zat lemak yang terdapat pada makanan setelah sampai duodenum akan merangsang mukosa sehingga hormon Cholecystokinin akan terlepas. Hormon ini yang paling besar peranannya dalam kontraksi kandung empedu.

 b)  Neurogen:

 Stimulasi vagal yang berhubungan dengan fase Cephalik dari sekresi cairan lambung atau dengan refleks intestino-intestinal akan menyebabkan kontraksi dari kandung empedu.

 Rangsangan langsung dari makanan yang masuk sampai ke duodenum dan mengenai Sphincter Oddi. Sehingga pada keadaan dimana kandung empedu lumpuh, cairan empedu akan tetap keluar walaupun sedikit.

Pengosongan empedu yang lambat akibat gangguan neurologis maupun hormonal memegang peran penting dalam perkembangan inti batu.

Komposisi Cairan Empedu

Komponen Dari Hati Dari Kandung Empedu

Air 97,5 gm % 95 gm % Garam Empedu 1,1 gm % 6 gm % Bilirubin 0,04 gm % 0,3 gm % Kolesterol 0,1 gm % 0,3

 – 

0,9 gm % Asam Lemak 0,12 gm % 0,3

 – 

1,2 gm % Lecithin 0,04 gm % 0,3 gm % Elektrolit - -a. Garam Empedu

Asam empedu berasal dari kolesterol. Asam empedu dari hati ada dua macam yaitu : Asam Deoxycholat dan Asam Cholat.

(9)

Fungsi garam empedu adalah:

o Menurunkan tegangan permukaan dari partikel lemak yang terdapat dalam

makanan, sehingga partikel lemak yang besar dapat dipecah menjadi partikel - partikel kecil untuk dapat dicerna lebih lanjut.

o Membantu absorbsi asam lemak, monoglycerid, kolesterol dan vitamin yang

larut dalam lemak.

Garam empedu yang masuk ke dalam lumen usus oleh kerja kuman-kuman usus dirubah menjadi deoxycholat dan lithocholat. Sebagian besar (90 %) garam empedu dalam lumen usus akan diabsorbsi kembali oleh mukosa usus sedangkan sisanya akan dikeluarkan bersama feses dalam bentuk lithocholat. Absorbsi garam empedu tersebut terjadi disegmen distal dari ilium. Sehingga bila ada gangguan pada daerah tersebut misalnya oleh karena radang atau reseksi maka absorbsi garam empedu akan terganggu.

 b. Bilirubin

Hemoglobin yang terlepas dari eritrosit akan pecah menjadi heme dan globin. Heme bersatu membentuk rantai dengan empat inti pyrole menjadi bilverdin yang segera berubah menjadi bilirubin bebas. Zat ini di dalam plasma terikat erat oleh albumin. Sebagian bilirubin bebas diikat oleh zat lain (konjugasi) yaitu 80% oleh glukuronide. Bila terjadi pemecahan sel darah merah berlebihan misalnya pada malaria maka bilirubin yang terbentuk sangat banyak.

Empiema di vesica fellea hydrops

Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita kolelitiasis: a. Asimtomatik 

 b. Obstruksi duktus sistikus c. Kolik bilier  d. Kolesistitis akut  Empiema  Perikolesistitis  Perforasi e. Kolesistitis kronis

(10)

 Empiema kandung empedu  Fistel kolesistoenterik 

 Ileus batu empedu ( gallstone ileus)

Kolesistokinin yang disekresi oleh duodenum karena adanya makanan mengakibatkan/ menghasilkan kontraksi kandung empedu, sehingga batu yang tadi ada dalam kandung empedu terdorong dan dapat menutupi duktus sistikus, batu dapat menetap ataupun dapat terlepas lagi. Apabila batu menutupi duktus sitikus secara menetap maka mungkin akan dapat terjadi mukokel (hydrops), bila terjadi infeksi maka mukokel dapat menjadi suatu empiema, biasanya kandung empedu dikelilingi dan ditutupi oleh alat-alat perut (kolon, omentum), dan dapat juga membentuk suatu fistel kolesistoduodenal. Penyumbatan duktus sistikus dapat juga berakibat terjadinya kolesistitis akut yang dapat sembuh atau dapat mengakibatkan nekrosis sebagian dinding (dapat ditutupi alat sekiatrnya) dan dapat membentuk suatu fistel kolesistoduodenal ataupun dapat terjadi perforasi kandung empedu yang berakibat terjadinya peritonitis generalisata.

Batu kandung empedu dapat maju masuk ke dalam duktus sistikus pada saat kontraksi dari kandung empedu. Batu ini dapat terus maju sampai duktus koledokus kemudian menetap asimtomatis atau kadang dapat menyebabkan kolik. Batu yang menyumbat di duktus koledokus juga berakibat terjadinya ikterus obstruktif, kolangitis, kolangiolitis, dan pankretitis.

Batu kandung empedu dapat lolos ke dalam saluran cerna melalui terbentuknya fistel kolesitoduodenal. Apabila batu empedu cukup besar dapat menyumbat pad bagian tersempit saluran cerna (ileum terminal) dan menimbulkan ileus obstruksi.

Komplikasi dari kolelitiasis diantaranya adalah :

a. Empiema kandung empedu, terjadi akibat perkembangan kolesistitis akut dengan sumbatan duktus sistikus persisten menjadi superinfeksi empedu yang tersumbat disertai kuman kuman pembentuk pus.

b. Hidrops atau mukokel kandung empedu terjadi akibat sumbatan berkepanjangan duktus sitikus.

c. Gangren, gangrene kandung empedu menimbulkan iskemia dinding dan nekrosis  jaringan berbercak atau total.

(11)

d. Perforasi : Perforasi lokal biasanya tertahan oleh adhesi yang ditimbulkan oleh  peradangan berulang kandung empedu. Perforasi bebas lebih jarang terjadi tetapi

mengakibatkan kematian sekitar 30%. e. Pembentukan fistula

f. Ileus batu empedu : obstruksi intestinal mekanik yang diakibatkan oleh lintasan batu empedu yang besar kedalam lumen usus.

g. Empedu limau (susu kalsium) dan kandung empedu porcelain.

1. Mengapa nyeri di kanan atas menjalar sampai ke bahu atas?

Pengertian Nyeri

 Suatu sensori yang tidak menyenangkan dari satu pengalaman emosional yang disertai kerusakan jaringan secara actual/potensial. (Medical Surgical  Nursing )

 Suatu perasaan yang tidak menyenangkan dan disebabkan oleh stimulus spesifik  mekanis, kimia, elektrik pada ujung -ujung syaraf serta tidak dapat diserahterimakan kepada orang lain.

 Sebagai keadaan penderitaan seseorang yang menderita nyeri atau kehilangan, suatau keadaan distres berat yang mengancam keutuhan seseorang ( Rodger dan cowles cit Mander R 2003)

Mekanisme nyeri

Mekanisme nyeri secara sederhana dimulai dari transduksi stimuli akibat kerusakan jaringan dalam saraf sensorik menjadi aktivitas listrik kemudian ditransmisikan melalui serabut saraf  bermielin A delta dan saraf tidak bermielin C ke kornu dorsalis medula spinalis, talamus, dan korteks serebri. Impuls listrik tersebut dipersepsikan dan didiskriminasikan sebagai kualitas dan kuantitas nyeri setelah mengalami modulasi sepanjang saraf perifer dan disusun saraf  pusat.

Pengertian Nyeri Alih

Nyeri Alih terjadi ketika serabut saraf dari daerah input sensoris tinggi  (seperti kulit) dan serabut saraf dari daerah-daerah sensorik biasanya rendah input  (seperti organ-organ internal) terjadi untuk bertemu pada tingkat yang sama dari sumsum tulang belakang .

Nyeri alih terjadi jika suatu segmen persarafan melayani lebih dari satu daerah. Dan otak lebih merespon daerah input sensoris tinggi dibanding dengan daerah asal nyeri. Misalnya, pada kolesistitis akut, nyeri dirasakan di daerah ujung belikat. Pada abses di bawah diafragma atau rangsangan karena radang atau trauma pada permukaan atas limpa atau hati juga dapat mengakibatkan nyeri di bahu.

(12)

Nyeri kolik (otot di VF mengalami kontraksi untuk mengeluarkan cairan empedu, karena ada batu empedu  kontaksi berlebihan. Nyeri dikirim ke saraf  aferen dari plexus coeliacus (dermatom/persarafan yang sama : thoracal VII, VIII, IX)menyebabkan nyeri di kuadran kanan atas.

Peradangan di vesica fellea  dijalarkan ke peritoneum parietal yang subdiafragma (di innervasi oleh : n. spinalis C 3, 4, 5)  dermatom sama untuk  dibawahnya, scapula (segmen C 3, 4. N.supraclavicularis)

Sumber : Ilmu Penyakit Hati

2. Apa hubungan konsumsi pil KB dengan penyakit yang diderita?

Kontrasepsi oral mengandung kombinasi antara esterogen dan progesterone sintetik. Fungsi estrogen adalah menekan FSH, mencegah perkembangan folikel dominan, menstabilisasi bagian dasar endometrium dan memperkuat kerja progesterone.

Progesterone menekan LH sehingga mencegah ovulasi. Progesterone juga menyebabkan penebalan mukus leher rahim dan atrofi endometrium.

Nyeri perut kanan atas :

(13)

Dosis rendah kombinasi kontrasepsi oral mengandung sekitar sepertiga sampai seperempat dosis esterogen dan sepersepuluh dosis progesterone dari pil yang sebelumnya.

Estrogen dan progesteron merupakan hormon steroid, dimana hormon tersebut  pembentuk dasarnya adalah kolesterol. Estrogen menghambat konversi enzematik dari kolesterol jadi asam empedu sehingga menambah saturasi kolesterol dari cairan empedu.

Sedangkan progesteron meningkatkan nafsu makan sehingga meningkatkan BB dan bisa menurunkan kerja kandung empedu dan saluran kemih.

 Pemakaian tablet KB (estrogen) sekresi kolesterol meningkat dan kadar  chenodeoxycholat rendah, padahal chenodeoxycholat efeknya melarutkan  batu kolesterol dan menurunkan saturasi kolesterol. Penelitian lain

menyatakan bahwa tablet KB pengaruhnya hanya sampai tiga tahun.

Sumber : Fang H, Tong W, Shi L, Blair R, Perkins R, Branham W, Hass B, Xie Q, Dial S, Moland C, Sheehan D (2001). "Structure-activity relationships for a large diverse set of natural, synthetic, and environmental estrogens

3. Apa hubungannya dengan BB berlebih?

Berat badan berlebih sering dikaitkan dengan peningkatan kadar kolesterol dalam tubuh terutama kandung empedu yang berhubungan dengan sintesis kolesterol. Ini karenakan dengan tingginya BB maka kadar kolesterol dalam kandung empedu pun tinggi, dan juga mengurasi garam empedu serta mengurangi kontraksi/ pengosongan kandung empedu sehingga mudah menimbulkan sumbatan atau pengendapan.

Sumber : Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2005.hal: 570-579

Kolesterol merupakan komponen utama dalam batu kolesterol. Pada

metabolisme kolesterol yang normal, kolesterol yang disekresi ke dalam

empedu akan terlarut oleh komponen empedu yang memiliki aktivitas

(14)

detergenik seperti garam empedu dan fosfolipid (khususnya lesitin).

Konformasi kolesterol dalam empedu dapat berbentuk misel, vesikel,

campuran misel dan vesikel atau kristal.

Umumnya pada keadaan normal dengan saturasi kolesterol yang rendah,

kolesterol wujud dalam bentuk misel yaitu agregasi lipid dengan komponen

 berpolar lipid seperti senyawa fosfat dan hidroksil terarah keluar dari inti

misel dan tersusun berbatasan dengan fase berair sementara komponen

rantaian hidrofobik bertumpuk di bagian dalam misel.

Semakin meningkat saturasi kolesterol, maka bentuk komposisi

kolesterol yang akan ditemukan terdiri atas campuran dua fase yaitu misel

dan vesikel. Vesikel kolesterol dianggarkan sekitar 10 kali lipat lebih besar

daripada misel dan memiliki fosfolipid dwilapisan tanpa mengandung garam

empedu.

Seperti misel, komponen berpolar vesikel turut diatur mengarah ke

luar vesikel dan berbatasan dengan fase berair ekstenal sementara rantaian

hidrokarbon yang hidrofobik membentuk bagian dalam dari lipid dwilapis.

Diduga <30% kolesterol bilier diangkut dalam bentuk misel, yang mana

selebihnya berada dalam bentuk vesikel. Umumnya, konformasi vesikel

 berpredisposisi terhadap pembentukan batu empedu karena lebih cenderung

untuk beragregasi dan bernukleasi untuk membentuk konformasi kristal.

http://ilmubedah.info/cholelithiasis-patofisiologi-pembentukan-batu-empedu-20110216.html

4. Mengapa nyeri dirasakan terus-menerus selama kurang lebih 1 jam?

Penderita batu kandung empedu baru memberi keluhan bila batu tersebut bermigrasi menyumbat duktus sistikus atau duktus koledokus, sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari yang tanpa gejala (asimptomatik), ringan sampai berat kar ena adanya komplikasi.

Dijumpai nyeri di daerah hipokondrium kanan, yang kadang-kadang disertai kolik   bilier yang timbul menetap/konstan. Rasa nyeri kadang-kadang dijalarkan sampai di daerah

subkapula disertai nausea, vomitus dan dyspepsia, flatulen dan lain-lain. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan hipokondrium kanan, dapat teraba pembesaran kandung empedu

(15)

dan tanda Murphy positif. Dapat juga timbul ikterus. Ikterus dijumpai pada 20 % kasus, umumnya derajat ringan (bilirubin < 4,0 mg/dl). Apabila kadar bilirubin tinggi, perlu dipikirkan adanya batu di saluran empedu ekstra hepatic.

Kolik bilier merupakan keluhan utama pada sebagian besar pasien. Nyeri viseral ini berasal dari spasmetonik akibat obstruksi transient duktus sistikus oleh batu. Dengan istilah kolik bilier tersirat pengertian bahwa mukosa kandung empedu tidak  memperlihatkan inflamasi akut.

Kolik bilier biasanya timbul malam hari atau dini hari, berlangsung lama antara 30

 – 

60 menit, menetap, dan nyeri terutama timbul di daerah epigastrium. Nyeri dapat menjalar ke abdomen kanan, ke pundak, punggung, jarang ke abdomen kiri dan dapat menyerupai angina pektoris. Kolik bilier harus dibedakan dengan gejala dispepsia yang merupakan gejala umum pada banyak pasien dengan atau tanpa kolelitiasis.

Schwartz S, Shires G, Spencer F. 2000. Prinsip-prinsip ilmu bedah (principles of surgery). Edisi 6. Jakarta: EGC.

5. Apa hubungannya dengan kolesterol darah yang meningkat?

Kolesterol merupakan komponen utama dalam batu kolesterol. Pada

metabolisme kolesterol yang normal, kolesterol yang disekresi ke dalam

empedu akan terlarut oleh komponen empedu yang memiliki aktivitas

detergenik seperti garam empedu dan fosfolipid (khususnya lesitin).

Konformasi kolesterol dalam empedu dapat berbentuk misel, vesikel,

campuran misel dan vesikel atau kristal.

Umumnya pada keadaan normal dengan saturasi kolesterol yang rendah,

kolesterol wujud dalam bentuk misel yaitu agregasi lipid dengan komponen

 berpolar lipid seperti senyawa fosfat dan hidroksil terarah keluar dari inti

misel dan tersusun berbatasan dengan fase berair sementara komponen

rantaian hidrofobik bertumpuk di bagian dalam misel.

Semakin meningkat saturasi kolesterol, maka bentuk komposisi

kolesterol yang akan ditemukan terdiri atas campuran dua fase yaitu misel

dan vesikel. Vesikel kolesterol dianggarkan sekitar 10 kali lipat lebih besar

daripada misel dan memiliki fosfolipid dwilapisan tanpa mengandung garam

empedu.

(16)

Seperti misel, komponen berpolar vesikel turut diatur mengarah ke

luar vesikel dan berbatasan dengan fase berair ekstenal sementara rantaian

hidrokarbon yang hidrofobik membentuk bagian dalam dari lipid dwilapis.

Diduga <30% kolesterol bilier diangkut dalam bentuk misel, yang mana

selebihnya berada dalam bentuk vesikel. Umumnya, konformasi vesikel

 berpredisposisi terhadap pembentukan batu empedu karena lebih cenderung

untuk beragregasi dan bernukleasi untuk membentuk konformasi kristal.

http://ilmubedah.info/cholelithiasis-patofisiologi-pembentukan-batu-empedu-20110216.html

6. DD?

Cholelithiasis

2.1 Defenisi

Cholelithiasis merupakan adanya atau pembentukan batu empedu; batu ini mungkin terdapat dalam kandung empedu (cholecystolithiasis) atau dalam ductus choledochus (choledocholithiasis).

Kolelitiasis (kalkuli/kalkulus, batu empedu) merupakan suatu keadaan dimana terdapatnya batu empedu di dalam kandung empedu (vesica fellea) yang memiliki ukuran,bentuk dan komposisi yang bervariasi. Kolelitiasis lebih sering dijumpai pada individu berusia diatas 40 tahun terutama pada wanita dikarenakan memiliki faktor  resiko,yaitu: obesitas, usia lanjut, diet tinggi lemak dan genetik.

Sinonimnya adalah batu empedu,  g allstones , biliary calculus. Istilah kolelitiasis dimaksudkan untuk pembentukan batu di dalam kandung empedu. Batu kandung empedu merupakan gabungan beberapa unsur yang membentuk suatu material mirip batu yang terbentuk di dalam kandung empedu.

(17)

Gambar 1:Batu dalam kandung empedu.

2.4 Klasifikasi

Menurut gambaran makroskopis dan komposisi kimianya, batu empedu di golongkankan atas 3 (tiga) golongan, yaitu:

a) Batu kolesterol

Berbentuk oval, multifokal atau mulberry dan mengandung lebih dari 70% kolesterol.

 b) Batu kalsium bilirubinan (pigmen coklat)

Berwarna coklat atau coklat tua, lunak, mudah dihancurkan dan mengandung kalsium-bilirubinat sebagai komponen utama.

c) Batu pigmen hitam

Berwarna hitam atau hitam kecoklatan, tidak berbentuk, seperti bubuk dan kaya akan sisa zat hitam yang tak terekstraksi.

2.5 Epidemiologi

Insiden kolelitiasis di negara barat adalah 20% dan banyak menyerang orang dewasa dan usia lanjut. Angka kejadian di Indonesia di duga tidak berbeda jauh dengan angka di negara lain di Asia Tenggara dan sejak tahu 1980-an agaknya berkaitan erat dengan cara diagnosis dengan ultrasonografi.

(18)

2.6 Etiologi/Faktor Resiko

Kolelitiasis dapat terjadi dengan atau tanpa faktor resiko dibawah ini. Namun, semakin banyak faktor resiko yang dimiliki seseorang, semakin besar kemungkinan untuk  terjadinya kolelitiasis. Faktor resiko tersebut antara lain:

a. Jenis Kelamin

Wanita mempunyai resiko 3 kali lipat untuk terkena kolelitiasis dibandingkan dengan  pria. Ini dikarenakan oleh hormon esterogen berpengaruh terhadap peningkatan

eskresi kolesterol oleh kandung empedu. Kehamilan, yang menigkatkan kadar  esterogen juga meningkatkan resiko terkena kolelitiasis. Penggunaan pil kontrasepsi dan terapi hormon (esterogen) dapat meningkatkan kolesterol dalam kandung empedu dan penurunan aktivitas pengosongan kandung empedu.

 b. Usia

Resiko untuk terkena kolelitiasis meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Orang dengan usia > 60 tahun lebih cenderung untuk terkena kolelitiasis dibandingkan dengan orang degan usia yang lebih muda.

c. Berat badan (BMI)

Orang dengan Body Mass Index (BMI) tinggi, mempunyai resiko lebih tinggi untuk  terjadi kolelitiasis. Ini karenakan dengan tingginya BMI maka kadar kolesterol dalam kandung empedu pun tinggi, dan juga mengurasi garam empedu serta mengurangi kontraksi/ pengosongan kandung empedu.

d. Makanan

Intake rendah klorida, kehilangan berat badan yang cepat (seperti setelah operasi gatrointestinal) mengakibatkan gangguan terhadap unsur kimia dari empedu dan dapat menyebabkan penurunan kontraksi kandung empedu.

e. Riwayat keluarga

Orang dengan riwayat keluarga kolelitiasis mempunyai resiko lebih besar dibandingn dengan tanpa riwayat keluarga.

f. Aktifitas fisik 

Kurangnya aktifitas fisik berhungan dengan peningkatan resiko terjadinya kolelitiasis. Ini mungkin disebabkan oleh kandung empedu lebih sedikit berkontraksi.

g. Penyakit usus halus

Penyakit yang dilaporkan berhubungan dengan kolelitiasis adalah c rohn disease, diabetes, anemia sel sabit, trauma, dan ileus paralitik.

(19)

 Nutrisi intravena jangka lama mengakibatkan kandung empedu tidak terstimulasi untuk berkontraksi, karena tidak ada makanan/ nutrisi yang melewati intestinal. Sehingga resiko untuk terbentuknya batu menjadi meningkat dalam kandung empedu.

2.7 Manifestasi Klinis

Penderita batu kandung empedu baru memberi keluhan bila batu tersebut bermigrasi menyumbat duktus sistikus atau duktus koledokus, sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari yang tanpa gejala (asimptomatik), ringan sampai berat kar ena adanya komplikasi.

Dijumpai nyeri di daerah hipokondrium kanan, yang kadang-kadang disertai kolik   bilier yang timbul menetap/konstan. Rasa nyeri kadang-kadang dijalarkan sampai di daerah

subkapula disertai nausea, vomitus dan dyspepsia, flatulen dan lain-lain. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan hipokondrium kanan, dapat teraba pembesaran kandung empedu dan tanda Murphy positif. Dapat juga timbul ikterus. Ikterus dijumpai pada 20 % kasus, umumnya derajat ringan (bilirubin < 4,0 mg/dl). Apabila kadar bilirubin tinggi, perlu dipikirkan adanya batu di saluran empedu ekstra hepatic.

Kolik bilier merupakan keluhan utama pada sebagian besar pasien. Nyeri viseral ini  berasal dari spasmetonik akibat obstruksi transient duktus sistikus oleh batu. Dengan istilah kolik bilier tersirat pengertian bahwa mukosa kandung empedu tidak memperlihatkan inflamasi akut.

Kolik bilier biasanya timbul malam hari atau dini hari, berlangsung lama antara 30

 – 

60 menit, menetap, dan nyeri terutama timbul di daerah epigastrium. Nyeri dapat menjalar ke abdomen kanan, ke pundak, punggung, jarang ke abdomen kiri dan dapat menyerupai angina  pektoris. Kolik bilier harus dibedakan dengan gejala dispepsia yang merupakan gejala umum  pada banyak pasien dengan atau tanpa kolelitiasis.

Diagnosis dan pengelolaan yang baik dan tepat dapat mencegah terjadinya komplikasi yang berat. Komplikasi dari batu kandung empedu antara lain kolesistitis akut, kolesistitis kronis, koledokolitiasis, pankreatitis, kolangitis, sirosis bilier sekunder, ileus batu empedu, abses hepatik dan peritonitis karena perforasi kandung empedu. Komplikasi tersebut akan mempersulit penanganannya dan dapat berakibat fatal.

Sebagian besar (90

 – 

95 %) kasus kolesititis akut disertai kolelitiasis dan keadaan ini timbul akibat obstruksi duktus sistikus yang menyebabkan peradangan organ tersebut.

Pasien dengan kolesistitis kronik biasanya mempunyai kolelitiasis dan telah sering mengalami serangan kolik bilier atau kolesistitis akut. Keadaan ini menyebabkan penebalan

(20)

dan fibrosis kandung empedu dan pada 15 % pasien disertai penyakit lain seperti koledo kolitiasis, panleneatitis dan kolongitis.

Batu kandung empedu dapat migrasi masuk ke duktus koledokus melalui duktus sistikus (koledokolitiasis sekunder) atau batu empedu dapat juga terbentuk di dalam saluran empedu (koledokolitiasis primer). Perjalanan penyakit koledokolitiasis sangat bervariasi dan sulit diramalkan yaitu mulai dari tanpa gejala sampai dengan timbulnya ikterus obstruktif  yang nyata.

Batu saluran empedu (BSE) kecil dapat masuk ke duodenum spontan tanpa menimbulkan gejala atau menyebabkan obstruksi temporer di ampula vateri sehingga timbul  pankreatitis akut dan lalu masuk ke duodenum (gallstone pancreatitis). BSE yang tidak keluar 

spontan akan tetap berada dalam saluran empedu dan dapat membesar. Gambaran klinis koledokolitiasis didominasi penyulitnya seperti ikterus obstruktif, kolangitis dan pankreatitis.

Gambar 4: Manifestasi klinis yang umum terjadi

2.8 Patofisiologi

2.8.1 Patogenesis Bentukan Batu Empedu

Avni Sali tahun 1984 membagi batu empedu berdasarkan komponen yang terbesar  yang terkandung di dalamnya. Hal ini sesuai dengan pembagian dari Tetsuo Maki tahun 1995 sebagai berikut:

a) Batu kolesterol dimana paling sedikit 50 % adalah kolesterol. Ini bisa berupa sebagai:

(21)

 Batu Kombinasi

 Batu Campuran (Mixed Stone)

 b) Batu bilirubin dimana garam bilirubin kadarnya paling banyak, kadar kolesterolnya  paling banyak 25 %. Bisa berupa sebagai:

 Batu Ca bilirubinat atau batu pigmen calcium  Batu pigmen murni

c) Batu empedu lain yang jarang

Sebagian ahli lain membagi batu empedu menjadi:  Batu Kolesterol

 Batu Campuran (Mixed Stone)  Batu Pigmen.

 Batu Kolesterol

Pembentukan batu Kolesterol melalui tiga fase: a. Fase Supersaturasi

Kolesterol, phospolipid (lecithin) dan garam empedu adalah komponen yang tak larut dalam air. Ketiga zat ini dalam perbandingan tertentu membentuk  micelle yang mudah larut. Di dalam kandung empedu ketiganya dikonsentrasikan menjadi lima sampai tujuh kali lipat. Pelarutan kolesterol tergantung dari rasio kolesterol terhadap lecithin dan garam empedu, dalam keadaan normal antara 1 : 20 sampai 1 : 30. Pada keadaan supersaturasi dimana kolesterol akan relatif tinggi rasio ini bisa mencapai 1 : 13. Pada rasio seperti ini kolesterol akan mengendap.

Kadar kolesterol akan relatif tinggi pada keadaan sebagai berikut:

 Peradangan dinding kandung empedu, absorbsi air, garam empedu dan lecithin jauh lebih banyak.

 Orang-orang gemuk dimana sekresi kolesterol lebih tinggi sehingga terjadi supersaturasi.

 Diet tinggi kalori dan tinggi kolesterol (western diet).

 Pemakaian obat anti kolesterol sehingga mobilitas kolesterol jaringan tinggi.

 Pool asam empedu dan sekresi asam empedu turun misalnya pada gangguan ileum terminale akibat peradangan atau reseksi (gangguan sirkulasi enterohepatik).

(22)

 Pemakaian tablet KB (estrogen) sekresi kolesterol meningkat dan kadar  chenodeoxycholat rendah, padahal chenodeoxycholat efeknya melarutkan  batu kolesterol dan menurunkan saturasi kolesterol. Penelitian lain

menyatakan bahwa tablet KB pengaruhnya hanya sampai tiga tahun.  b. Fase Pembentukan inti batu

Inti batu yang terjadi pada fase II bisa homogen atau heterogen. Inti batu heterogen bisa berasal dari garam empedu, calcium bilirubinat atau sel-sel yang lepas pada peradangan. Inti batu yang homogen berasal dari kristal kolesterol sendiri yang menghadap karena perubahan rasio dengan asam empedu.

c. Fase Pertumbuhan batu menjadi besar 

Untuk menjadi batu, inti batu yang sudah terbentuk harus cukup waktu untuk   bisa berkembang menjadi besar. Pada keadaan normal dimana kontraksi kandung empedu cukup kuat dan sirkulasi empedu normal, inti batu yang sudah terbentuk akan dipompa keluar ke dalam usus halus. Bila konstruksi kandung empedu lemah, kristal kolesterol yang terjadi akibat supersaturasi akan melekat pada inti batu tersebut. Hal ini mudah terjadi pada penderita Diabetes Mellitus, kehamilan, pada pemberian total parental nutrisi yang lama, setelah operasi trunkal vagotomi, karena pada keadaan tersebut kontraksi kandung empedu kurang baik. Sekresi mucus yang berlebihan dari mukosa kandung empedu akan mengikat kristal kolesterol dan sukar dipompa keluar.

 Batu bilirubin/Batu pigmen

Batu bilirubin dibagi menjadi dua kelompok: a. Batu Calcium bilirubinat (batu infeksi).  b. Batu pigmen murni (batu non infeksi).

Pembentukan batu bilirubin terdiri dari 2 fase: a. Saturasi bilirubin

(23)

Pada keadaan non infeksi, saturasi bilirubin terjadi karena pemecahan eritrosit yang berlebihan, misalnya pada malaria dan penyakit Sicklecell. Pada keadaan infeksi saturasi bilirubin terjadi karena konversi konjugasi bilirubin menjadi unkonjugasi yang sukar larut. Konversi terjadi karena adanya enzim  b glukuronidase yang dihasilkan oleh Escherichia Coli. Pada keadaan normal cairan empedu mengandung glokaro 1,4 lakton yang menghambat kerja glukuronidase.

 b. Pembentukan inti batu

Pembentukan inti batu selain oleh garam-garam calcium dan sel bisa juga oleh bakteri, bagian dari parasit dan telur cacing. Tatsuo Maki melaporkan  bahwa 55 % batu pigmen dengan inti telur atau bagian badan dari cacing ascaris lumbricoides. Sedangkan Tung dari Vietnam mendapatkan 70 % inti  batu adalah dari cacing tambang.

2.8.2 Patofisiologi Umum

Batu empedu yang ditemukan pada kandung empedu di klasifikasikan berdasarkan  bahan pembentuknya sebagai batu kolesterol, batu pigment dan batu campuran. Lebih dari 90% batu empedu adalah kolesterol (batu yang mengandung > 50% kolesterol) atau batu campuran (batu yang mengandung 20-50% kolesterol). Angka 10% sisanya adalah batu jenis  pigmen, yang mana mengandung < 20% kolesterol. Faktor yang mempengaruhi pembentukan  batu antara lain adalah keadaan statis kandung empedu, pengosongan kandung empedu yang

tidak sempurna dan konsentrasi kalsium dalam kandung empedu.

Batu kandung empedu merupakan gabungan material mirip batu yang terbentuk di dalam kandung empedu. Pada keadaan normal, asam empedu, lesitin dan fosfolipid membantu dalam menjaga solubilitas empedu. Bila empedu menjadi bersaturasi tinggi ( supersaturated ) oleh substansi berpengaruh (kolesterol, kalsium, bilirubin), akan  berkristalisasi dan membentuk nidus untuk pembentukan batu. Kristal yang yang terbentuk 

terbak dalam kandung empedu, kemuadian lama-kelamaan kristal tersubut bertambah ukuran,beragregasi, melebur dan membetuk batu. Faktor motilitas kandung empedu, biliary  stasis, dan kandungan empedu merupakan predisposisi pembentukan batu empedu empedu.

2.9 Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita kolelitiasis: f. Asimtomatik 

(24)

g. Obstruksi duktus sistikus h. Kolik bilier  i. Kolesistitis akut  Empiema  Perikolesistitis  Perforasi  j. Kolesistitis kronis

 Hidrop kandung empedu  Empiema kandung empedu  Fistel kolesistoenterik 

 Ileus batu empedu ( gallstone ileus)

Kolesistokinin yang disekresi oleh duodenum karena adanya makanan mengakibatkan/ menghasilkan kontraksi kandung empedu, sehingga batu yang tadi ada dalam kandung empedu terdorong dan dapat menutupi duktus sistikus, batu dapat menetap ataupun dapat terlepas lagi. Apabila batu menutupi duktus sitikus secara menetap maka mungkin akan dapat terjadi mukokel (hydrops), bila terjadi infeksi maka mukokel dapat menjadi suatu empiema, biasanya kandung empedu dikelilingi dan ditutupi oleh alat-alat perut (kolon, omentum), dan dapat juga membentuk suatu fistel kolesistoduodenal. Penyumbatan duktus sistikus dapat juga berakibat terjadinya kolesistitis akut yang dapat sembuh atau dapat mengakibatkan nekrosis sebagian dinding (dapat ditutupi alat sekiatrnya) dan dapat membentuk suatu fistel kolesistoduodenal ataupun dapat terjadi perforasi kandung empedu yang berakibat terjadinya peritonitis generalisata.

Batu kandung empedu dapat maju masuk ke dalam duktus sistikus pada saat kontraksi dari kandung empedu. Batu ini dapat terus maju sampai duktus koledokus kemudian menetap asimtomatis atau kadang dapat menyebabkan kolik. Batu yang menyumbat di duktus koledokus juga berakibat terjadinya ikterus obstruktif, kolangitis, kolangiolitis, dan pankretitis.

Batu kandung empedu dapat lolos ke dalam saluran cerna melalui terbentuknya fistel kolesitoduodenal. Apabila batu empedu cukup besar dapat menyumbat pad bagian tersempit saluran cerna (ileum terminal) dan menimbulkan ileus obstruksi.

(25)

h. Empiema kandung empedu, terjadi akibat perkembangan kolesistitis akut dengan sumbatan duktus sistikus persisten menjadi superinfeksi empedu yang tersumbat disertai kuman kuman pembentuk pus.

i. Hidrops atau mukokel kandung empedu terjadi akibat sumbatan berkepanjangan duktus sitikus.

 j. Gangren, gangrene kandung empedu menimbulkan iskemia dinding dan nekrosis  jaringan berbercak atau total.

k. Perforasi : Perforasi lokal biasanya tertahan oleh adhesi yang ditimbulkan oleh  peradangan berulang kandung empedu. Perforasi bebas lebih jarang terjadi tetapi

mengakibatkan kematian sekitar 30%. l. Pembentukan fistula

m. Ileus batu empedu : obstruksi intestinal mekanik yang diakibatkan oleh lintasan batu empedu yang besar kedalam lumen usus.

n. Empedu limau (susu kalsium) dan kandung empedu porcelain.

2.10 Diagnosis 2.10.1 Anamnesis

Setengah sampai duapertiga penderita kolelitiasis adalah asintomatis. Keluhan yang mungkin timbul adalah dispepdia yang kadang disertai intoleran terhadap makanan berlemak. Pada yang simtomatis, keluhan utama berupa nyeri di daerah epigastrium, kuadran kanan atas atau perikomdrium. Rasa nyeri lainnya adalah kolik bilier yang mungkin berlangsung lebih dari 15 menit, dan kadang baru menghilang beberapa jam kemudian. Timbulnya nyeri kebanyakan perlahan-lahan tetapi pada 30% kasus timbul tiba-tiba.

Penyebaran nyeri pada punggung bagian tengah, skapula, atau ke puncak bahu, disertai mual dan muntah. Lebih kurang seperempat penderita melaporkan bahwa nyeri  berkurang setelah menggunakan antasida. Kalau terjadi kolelitiasis, keluhan nyeri menetap

dan bertambah pada waktu menarik nafas dalam.

2.10.2 Pemeriksaan Fisik 

 Batu kandung empedu

Apabila ditemukan kelainan, biasanya berhubungan dengan komplikasi, seperti kolesistitis akut dengan peritonitis lokal atau umum, hidrop kandung empedu, empiema kandung empedu, atau pangkretitis. Pada pemeriksaan ditemukan nyeri tekan dengan punktum maksimum didaerah letak anatomis kandung empedu.

(26)

Tanda Murphy positif apabila nyeri tekan bertambah sewaktu penderita menarik  nafas panjang karena kandung empedu yang meradang tersentuh ujung jari tangan  pemeriksa dan pasien berhenti menarik nafas.

 Batu saluran empedu

Baru saluran empedu tidak menimbulkan gejala dalam fase tenang. Kadang teraba hatidan sklera ikterik. Perlu diktahui bahwa bila kadar bilirubin darah kurang dari 3 mg/dl, gejal ikterik tidak jelas. Apabila sumbatan saluran empedu bertambah  berat, akan timbul ikterus klinis.

2.10.3 Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan laboratorium

Batu kandung empedu yang asimtomatik umumnya tidak menunjukkan kelainan  pada pemeriksaan laboratorium. Apabila terjadi peradangan akut, dapat terjadi

leukositosis. Apabila terjadi sindroma mirizzi, akan ditemukan kenaikan ringan  bilirubin serum akibat penekanan duktus koledukus oleh batu. Kadar bilirubin serum yang tinggi mungkin disebabkan oleh batu di dalam duktus koledukus. Kadar fosfatase alkali serum dan mungkin juga kadar amilase serum biasanya meningkat sedang setiap setiap kali terjadi serangan akut.

 b. Pemeriksaan radiologis  Foto polos Abdomen

Foto polos abdomen biasanya tidak memberikan gambaran yang khas karena hanya sekitar 10-15% batu kandung empedu yang bersifat radioopak. Kadang kandung empedu yang mengandung cairan empedu berkadar kalsium tinggi dapat dilihat dengan foto polos. Pada peradangan akut dengan kandung empedu yang membesar atau hidrops, kandung empedu kadang terlihat sebagai massa  jaringan lunak di kuadran kanan atas yang menekan gambaran udara dalam usus  besar, di fleksura hepatica.

(27)

Gambar 5: Foto rongent pada kolelitiasis

 Ultrasonografi (USG)

Ultrasonografi mempunyai derajat spesifisitas dan sensitifitas yang tinggi untuk  mendeteksi batu kandung empedu dan pelebaran saluran empedu intrahepatik  maupun ekstra hepatik. Dengan USG juga dapat dilihat dinding kandung empedu yang menebal karena fibrosis atau udem yang diakibatkan oleh  peradangan maupun sebab lain. Batu yang terdapat pada duktus koledukus distal kadang sulit dideteksi karena terhalang oleh udara di dalam usus. Dengan USG  punktum maksimum rasa nyeri pada batu kandung empedu yang ganggren lebih  jelas daripada dengan palpasi biasa.

(28)

Gambar 6: Hasil USG pada kolelitiasis

 Kolesistografi

Untuk penderita tertentu, kolesistografi dengan kontras cukup baik karena relatif  murah, sederhana, dan cukup akurat untuk melihat batu radiolusen sehingga dapat dihitung jumlah dan ukuran batu. Kolesistografi oral akan gagal pada keadaan ileus paralitik, muntah, kadar bilirubun serum diatas 2 mg/dl, okstruksi  pilorus, dan hepatitis karena pada keadaan-keadaan tersebut kontras tidak dapat mencapai hati. Pemeriksaan kolesitografi oral lebih bermakna pada penilaian fungsi kandung empedu.

Gambar 7: Hasil kolesistografi pada kolelitiasis 2.11 Penatalaksanaan

Jika tidak ditemukan gejala, maka tidak perlu dilakukan pengobatan. Nyeri yang hilang-timbul bisa dihindari atau dikurangi dengan menghindari atau mengurangi makanan  berlemak. Pilihan penatalaksanaak antara lain:

a) Kolesistektomi terbuka

Operasi ini merupakan standar terbaik untuk penanganan pasien denga kolelitiasis simtomatik. Komplikasi yang paling bermakna yang dapat terjadi adalah cedera duktus biliaris yang terjadi pada 0,2% pasien. Angka mortalitas yang dilaporkan untuk prosedur ini kurang dari 0,5%. Indikasi yang paling umum untuk kolesistektomi adalah kolik biliaris rekuren, diikuti oleh kolesistitis akut.

 b) Kolesistektomi laparaskopi

Indikasi awal hanya pasien dengan kolelitiasis simtomatik tanpa adanya kolesistitis akut. Karena semakin bertambahnya pengalaman, banyak ahli bedah mulai melakukan prosedur ini pada pasien dengan kolesistitis akut dan pasien dengan batu

(29)

duktus koledokus. Secara teoritis keuntungan tindakan ini dibandingkan prosedur  konvensional adalah dapat mengurangi perawatan di rumah sakit dan biaya yang dikeluarkan, pasien dapat cepat kembali bekerja, nyeri menurun dan perbaikan kosmetik. Masalah yang belum terpecahkan adalah kemanan dari prosedur ini,  berhubungan dengan insiden komplikasi 6r seperti cedera duktus biliaris yang

mungkin dapat terjadi lebih sering selama kolesistektomi laparaskopi.

Gambar 8: Tindakan kolesistektomi

c) Disolusi medis

Masalah umum yang mengganggu semua zat yang pernah digunakan adalah angka kekambuhan yang tinggi dan biaya yang dikeluarkan. Zat disolusi hanya memperlihatkan manfaatnya untuk batu empedu jenis kolesterol. Penelitian prospektif  acak dari asam xenodeoksikolat telah mengindikasikan bahwa disolusi dan hilangnnya batu secara lengkap terjadi sekitar 15%. Jika obat ini dihentikan, kekambuhan batu tejadi pada 50% pasien.

d) Disolusi kontak 

Meskipun pengalaman masih terbatas, infus pelarut kolesterol yang poten (metil-ter- butil-eter (MTBE)) ke dalam kandung empedu melalui kateter yang diletakkan per 

kutan telah terlihat efektif dalam melarutkan batu empedu pada pasien-pasien tertentu. Prosedur ini invasif dan kerugian utamanya adalah angka kekambuhan yang tinggi (50% dalam 5 tahun).

e) Litotripsi Gelombang Elektrosyok (ESWL)

Sangat populer digunakan beberapa tahun yang lalu, analisis biaya-manfaat pad saat ini memperlihatkan bahwa prosedur ini hanya terbatas pada pasien yang telah benar- benar dipertimbangkan untuk menjalani terapi ini.

(30)

Kolesistotomi yang dapat dilakukan dengan anestesia lokal bahkan di samping tempat tidur pasien terus berlanjut sebagai prosedur yang bermanfaat, terutama untuk pasien yang sakitnya kritis.

2.12 Terapi

 Ranitidin

 Komposisi: Ranitidina HCl setara ranitidina 150 mg, 300 mg/tablet, 50 mg/ml injeksi.

 Indikasi: Ulkus lambung termasuk yang sudah resisten terhadap simetidina, ulkus duodenum, hiperekresi asam lambung (Dalam kasus kolelitiasis ranitidin dapat mengatasi rasa mual dan muntah / anti emetik).

 Perhatian: Pengobatan dengan ranitidina dapat menutupi gejala karsinoma lambung, dan tidak dianjurkan untuk wanita hamil.

 Buscopan (analgetik /anti nyeri)

 Komposisi: Hiosina N-bultilbromida 10 mg/tablet, 20 mg/ml injeksi.

 Indikasi: Gangguan kejang gastrointestinum, empedu, saluran kemih wanita.  Kontraindikasi: Glaukoma hipertrofiprostat.

 Buscopan Plus

 Komposisi: Hiosina N-butilbromida 10 mg, parasetamol 500 mg.

 Indikasi: Nyeri paroksimal pada penyakit usus dan lambung, nyeri spastik   pada saluran uriner, bilier, dan organ genital wanita.

  NaCl

 NaCl 0,9 % berisi Sodium Clorida/Natrium Clorida yang dimana kandungan osmolalitasnya sama dengan osmolalitas yang ada di dalam plasma tubuh.  NaCl 3 % berisi Sodium Clorida/Natrium Clorida tetapi kandungan

osmolalitasnya lebih tinggi dibanding osmolalitas yang ada dalam plasma tubuh.

2.13 Penatalaksanaan Diet

Pada kasus kolelitiasis jumlah kolesterol dalam empedu ditentukan oleh jumlah lemak  yang dimakan karena sel-sel hepatik mensintesis kolesterol dari metabolisme lemak, sehingga klien dianjurkan/dibatasi dengan makanan cair rendah lemak. Menghindari kolesterol yang

(31)

tinggi terutama yang berasal dari lemak hewani. Suplemen bubuk tinggi protein dan karbohidrat dapat diaduk ke dalam susu skim dan adapun makanan tambahan seperti: buah yang dimasak, nasi ketela, daging tanpa lemak, sayuran yang tidak membentuk gas, roti, kopi/teh.

CHOLECYSTITIS

1. Kolesistitis Akut

A. Pengertian

Radang kandung empedu (Kolesistitis akut) adalah reaksi inflamasi akut dinding kandung empedu yang disertai keluhan nyeri perut kanan atas, nyeri tekan, dan demam.

B. Etiologi dan Patogenesis

Faktor yang mempengaruhi timbulnya serangan kolesistitis akut adalah statis cairan empedu, infeksi kuman, dan iskemia dinding kandung empedu. Penyebab utama kolesistitis akut adalah batu kandung empedu (90%) yang terletak di duktus sistikus yang menyebabkan statis cairan empedu, sedangkan sebagian kecil kasus timbul tanpa adanya  batu empedu (kolesistitis akut akalkulus). Bagaimana statis di duktus sistikus dapat menyebabkan kolesistitis akut, masih belum jelas. Diperkirakan banyak faktor yang  berpengaruh, seperti kepekatan cairan empedu, kolesterol, lisolesitin, dan prostaglandin yang merusak lapisan mukosa dinding kandung empedu diikuti oleh reaksi inflamasi dan supurasi.

Kolesistitis akut akalkulus dapat timbul pada pasien yang dirawat cukup lama dan mendapat nutrisi secara parenteral, pada sumbatan karena keganasan kandung empedu, batu di saluran empedu, atau merupakan salah satu komplikasi penyakit lain seperti demam tifoid dan diabetes melitus.

C. Gejala Klinis

Keluhan yang agak khas untuk serangan kolesistitis akut adalah kolik perut di sebelah kanan atas epigastrium dan nyeri tekan serta kenaikan suhu tubuh. Kadang-kadang rasa sakit menjalar ke pundak atau skapula kanan dan dapat berlangsung sampai 60 menit

(32)

tanpa reda. Berat ringannya keluhan sangat bervariasi tergantung dari adanya kelainan inflamasi ringan sampai dengan gangren atau perforasi kandung empedu. Penderita kadang mengalami demam, mual, dan muntah, Pada orang lanjut usia, demam sering kali tidak   begitu nyata dan nyeri lebih terlokalisasi hanya pada perut kanan atas.

D. Pemeriksaan Fisik 

Teraba masa kandung empedu, nyeri tekan disertai tanda-tanda peritonitis lokal (tanda Murphy).

E. Laboratorium

 Ikterus dijumpai pada 20% kasus, umumnya derajat ringan (bilirubin <4,0 mg/dl). Apabila konsentrasi bilirubin tinggi, perlu dipikirkan adanya batu di saluran empedu ekstrahepatik.

 Leukositosis

 Peningkatan enzim-enzim hati (SGOT, SGPT, alkali fosfatase, dan bilirubin)  Peninggian transaminase dan fosfatase alkali

F. Radiologi

 Foto polos abdomen tidak dapat memperlihatkan gambaran kolesistitis akut. Hanya  pada 15% pasien kemungkinan dapat terlihat batu tidak tembus pandang

(radioopak) oleh karena mengandung kalsium cukup banyak.

 Kolesistografi oral tidak dapat memperlihatkan gambaran kandung empedu bila ada obstruksi sehingga pemeriksaan ini tidak bermanfaat untuk kolesistitis akut.

 Pemeriksaan ultrasonografi (USG) sebaiknya dikerjakan secara rutin dan sangat  bermanfaat untuk memperlihatkan besar, bentuk, penebalan dinding kandung empedu, batu dan saluran empedu ekstrahepatik. Nilai kepekaan dan ketepatan USG mencapai 90-95%.

 Skintigrafi saluran empedu mempergunakan zat radioaktif HIDA atau 99nTc6 Iminodiacetic acid mempunyai nilai sedikit lebih rendah dari USG tapi teknik ini tidak mudah. Terlihatnya gambaran duktus koledokus tanpa adanya gambaran kandung empedu pada pemeriksaan kolesistografi oral atau scintigrafi sangat menyokong kolesistitis akut.

(33)

 CT Scan abdomen kurang sensitif dan mahal tapi mampu memperlihatkan adanya abses perikolesistik yang masih kecil yang mungkin tidak terlihat pada pemeriksaan USG.

 Kolangiografi transhepatik perkutaneous: Pembedahan gambaran dengan fluoroskopi antara penyakit kandung empedu dan kanker pankreas (bila ikterik  ada).

 MRI

G. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil dari pemeriksaan tertentu. Pemeriksaan USG bisa membantu memperkuat adanya batu empedu dala m kandung empedu dan bisa menunjukkan penebalan pada dinding kandung empedu, dan cairan  peradangan disekitar empedu. ERCP (endoscopic retrograd cholangiopancreatography)  juga dapat dilakukan untuk melihat anatomi saluran empedu, sekaligus untuk mengangkat  batu apabila memungkinkan.

Diagnosis yang paling akurat diperoleh dari pemeriksaan skintigrafi hepatobilier, yang memberikan gambaran dari hati, saluran empedu, kandung empedu dan bagian atas usus halus.

H. Penatalaksanaan

Penderita dengan kolesistitis akut pada umumnya dirawat di rumah sakit, diberikan cairan dan elektrolit intravena dan tidak diperbolehkan makan maupun minum. Mungkin akan dipasang pipa nasogastrik untuk menjaga agar lambung tetap kosong sehingga mengurangi rangsangan terhadap kandung empedu. Antibiotik diberikan sesegera mungkin  jika dicurigai kolesistitis akut.

Jika diagnosis sudah pasti dan resikonya kecil, biasanya dilakukan pembedahan untuk mengangkat kandung empedu pada hari pertama atau kedua. Jika penderita memiliki  penyakit lainnya yang meningkatkan resiko pembedahan, operasi ditunda dan dilakukan  pengobatan terhadap penyakitnya. Jika serangannya mereda, kandung empedu bisa diangkat 6 minggu kemudian atau lebih. Jika terdapat komplikasi (misalnya abses, gangren atau perforasi kandung empedu), diperlukan pembedahan segera.

Sebagian kecil penderita akan merasakan episode nyeri yang baru atau berulang, yang menyerupai serangan kandung empedu, meskipun sudah tidak memiliki kandung

(34)

empedu. Penyebab terjadinya episode ini tidak diketahui, tetapi mungkin merupakan akibat dari fungsi sfingter Oddi yang abnormal. Sfingter Oddi adalah lubang yang mengatur   pengaliran empedu ke dalam usus halus. Rasa nyeri ini mungkin terjadi akibat peningkatan tekanan di dalam saluran yang disebabkan oleh penahanan aliran empedu atau sekresi  pankreas.

Untuk melebarkan sfingter Oddi bisa digunakan endoskopi. Hal ini biasanya akan mengurangi gejala pada penderita yang memiliki kelainan sfingter, tetapi tidak akan membantu penderita yang hanya memiliki nyeri tanpa disertai kelainan pada sfingter.

I. Prognosis

Penyembuhan spontan didapatkan 85% kasus, sekalipun kandung empedu menjadi tebal, fibrotik, penuh dengan batu dan tidak berfungsi lagi. Tidak jarang m enjadi kolesistitis rekuren. Kadang-kadang kolesistitis akut berkembang secara cepat menjadi gangren, empiema dan perforasi kandung empedu, fistel, abses hati atau peritonitis umum. Hal ini dapat dicegah dengan pemberian antibiotik yang adekuat pada awal serangan. Tindakan  bedah akut pada pasien tua (>75th) mempunyai prognosis jelek di samping kemungkinan  banyak timbul komplikasi pasca bedah.

2. Kolesistitis Kronik 

Kolesistitis kronik lebih sering dijumpai di klinis, dan sangat erat hubungannya dengan litiasis dan lebih sering timbulnya perlahan-lahan.

A. Pengertian

Kolesistitis kronis adalah peradangan menahun dari dinding kandung empedu, yang ditandai dengan serangan berulang dari nyeri perut yang tajam dan hebat.

B. Etiologi

Kolesistitis kronis terjadi akibat serangan berulang dari kolesistitis akut, yang menyebabkan terjadinya penebalan dinding kandung empedu dan penciutan kandung empedu. Pada akhirnya kandung empedu tidak mampu menampung empedu.

(35)

Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita dan angka kejadiannya meningkat pada usia diatas 40 tahun. Faktor resiko terjadinya kolesistitis kronis adalah adanya riwayat kolesistitis akut sebelumnya.

C. Gejala Klinis

Timbulnya gejala bisa dipicu oleh makan makanan berlemak. Gejalanya sangat minimal dan tidak menonjol, seperti dispepsia, rasa penuh di epigastrium, dan nausea khususnya setelah makan makanan berlemak tinggi, yang kadang-kadang hilang setelah  bersendawa.

D. Radiologi

 Kolesistografi oral, ultrasonografi, dan kolangiografi dapat memperlihatkan

kolelitiasis dan afungsi kandung empedu. Pada USG, dinding menjadi sangat tebal dan eko cairan lebih terlihat hiperekoik. Sering terdapat pada kolesistitis kronik  lanjut dimana kandung empedu sudah mengisut. Kadang-kadang hanya eko batunya saja yang terlihat.

 Endoscopic retrograde choledochopancreaticography (ERCP) sangat bermanfaat

untuk memperlihatkan adanya batu di kandung empedu dan duktus koledokus.

 Kolesistogram (untuk kolesistitis kronik): Menyatakan batu pada sistem empedu.  CT Scan: Dapat menyatakan kista kandung empedu, dilatasi duktus empedu, dan

membedakan antara ikterik obstruksi /non obstruksi.

 MRI

E. Diagnosis

Diagnosis kolesistitis kronik sering sulit ditegakkan. Riwayat penyakit batu kandung empedu di keluarga, ikterus dan kolik berulang, nyeri lokal di daerah kandung empedu disertai tanda Murphy positif dapat menyokong menegakkan diagnosis.

F. Penatalaksanaan

Pengobatan yang biasa dilakukan adalah pembedahan. Kolesistektomi bisa dilakukan melalui pembedahan perut maupun melalui laparoskopi. Penderita yang memiliki

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :